29/06/2009 – 06:44
IHSG: Investor Cermati Hasil Pilpres
Asteria & Natascha
(Foto/Subekti)
INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (29/6) diperkirakan masih bergerak sideways. Saham BUMI dan BRPT disarankan untuk trading. Sedangkan untuk jangka menengah bisa ambil saham perbankan seperti BBRI dan BDMN.
Analis pasar modal dari Ciptadana Sekuritas Syaiful Adrian menuturkan, IHSG akan bergerak dalam rentang terbatas akibat, market yang menipis. Orang mulai antisipasi ke market menunggu hasil pemilihan presiden.
Namun ia menilai kondisi ini hanya untuk antisipasi jangka pendek dalam negeri. ”Karena sentimen positif justru banyak berasal dari eksternal,“ katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Saat ini pasar sedang menunggu hasil pemilihan presiden. Investor pun merealisasikan keuntungan akhir pekan kemarin atas ekspektasi tidak ada lagi kesempatan untuk profit taking, mengingat kemungkinan tidak ada lagi kenaikan yang cukup tinggi pekan ini.
Sementara itu, keputusan suku bunga rendah The Fed menyebabkan banjir likuiditas di pasar valas, sehingga komoditas dijadikan hedging. Hal inilah yang mengangkat harga komoditas dan memicu inflasi. “Inflasi saat ini disebabkan naiknya harga komoditas, paska munculnya hedging,” katanya.
Namun Syaiful menyatakan pasar sebenarnya tidak perlu khawatir kenaikan harga minyak akan memicu inflasi dan bubble, karena ada kegiatan yang mendukung kenaikan harga tersebut.
Sudah ada demand yang mendukung kenaikan harga komoditas, terlihat dari keputusan China untuk mengimpor bahan bakar ini. “Selain itu, kegiatan pengapalan komoditas sudah mulai naik, terlihat dari naiknya harga sewa kapal,” ujarnya.
Sebelum pemilihan presiden, ia menilai tidak banyak investor yang bergerak banyak di pasar. Namun untuk trading, ia masih menyarankan saham dari komoditas seperti PT Bumi Resources (BUMI) dan PT Barito Pacific (BRPT).
Sedangkan untuk jangka menengah, setidaknya hingga setelah pemilihan presiden, ia menyarankan investor masuk ke saham perbankan. Menurutnya, sektor ini masih menarik didukung laporan return on equity (ROE) dan net interest margin (NIM) yang terbaik se-Asia. “Ini menegaskan bahwa sistem finansial Indonesia terisolasi dari dunia,” ucapnya.
Ia menilai, NIM perbankan tumbuh karena penetrasi kredit masih sedikit, padahal BI rate relatif tinggi. Bank pun masih bisa menawarkan bunga kredit yang lebih tinggi ke sektor mikro seperti UMKM karena belum adanya kompetisi suku bunga di sektor pembiayaan. “Meskipun suku bunga masih tinggi, masih bisa diserap sektor ini,” ujarnya.
Ia pun melihat hal ini menguntungkan perbankan yang banyak berkecimpung di sektor ini. Pasalnya perbankan nasional akan naik sejalan dengan tumbuhnya kredit, sehingga banyak bank yang akan menerbitkan right issue dan sub debt.
“Tantangan sektor perbankan adalah siapa yang bisa mencari dana segar untuk menopang CAR (rasio kecukupan modal), karena setelah pilpres, perbankan harus mencari pendanaan baru,” katanya.
Saham perbankanyang disarankan adalah PT Bank Danamon (BDMN) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Menurutnya, kedua emiten ini sudah cukup kuat dan dana ekspansi sudah ada, terutama BDMN yang sudah melakukan right issue. “Saya sarankan buy BBRI dan BDMN,” imbuhnya.
Bursa Wall Street akhir pekan lalu berakhir mixed, seiring kembalinya keraguan akan pemulihan ekonomi. Dow Jones turun 34,01 poin (0,4%) ke level 8.438,39, indeks S&P 500 merosot 1,36 poin (0,15%) ke level 918,90 dan indeks Nasdaq naik 8,68 poin (0,47%) ke level 1.838,22. Sepekan kemarin, Dow Jones anjlok 1,19%, S&P 500 merosot 0,25% dan Nasdaq naik 0,59%.
IHSG pada perdagangan Jumat (26/6) ditutup melemah 3,978 poin (0,19%) ke level 2.040,193. Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp 3,23 triliun, dengan frekuensi 77.517 kali. Sebanyak 80 saham menguat, 105 melemah, 63 ditutup stagnan, serta 211 saham stagnan.
Emiten-emiten yang mengalami koreksi terbesar antara lain PT Gudang Garam (GGRM) turun Rp 350 menjadi Rp 11.650, PT Astra Argo Lestari (AALI) anjlok Rp 300 menjadi Rp 17.500, PT Bank Central Asia (BBCA) merosot Rp 250 ke Rp 3.550, dan PT United Tractors (UNTR) turun Rp 100 menjadi Rp 10.150.
Demikian pula saham PT Bumi Resources (BUMI) turun 2,08% menjadi Rp 1.880, PT Indosat (ISAT) turun Rp 75 ke level Rp 4.975, PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 50 menjadi Rp 3.250 dan PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) melemah Rp 50 ke Rp 19.900.
Sedangkan beberapa emiten yang menguat antara lain PT Astra International (ASII) yang naik Rp 400 menjadi Rp 23.950, PT Unilever (UNVR) naik Rp 300 ke Rp 9.150, PT Indocement (INTP) naik Rp 250 menjadi Rp 7.700, PT Bukit Asam (PTBA) naik Rp 250 ke Rp 11.850, dan PT Holcim (SMGR) naik Rp 100 ke Rp 5.200, dan PT AKR Corporindo (AKRA) naik Rp 70 menjadi Rp 850. [E1]
