Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juli 5, 2014

baca sendiri info resmi TRUB

Filed under: Saham Trub — bumi2009fans @ 1:02 am

neh info TRUBA ENGINEERING yang maseh berkibarrrrr

Bisnis.com, JAKARTA—Otoritas bursa memberikan peringatan tertulis III dan denda masing-masing Rp150 juta kepada tujuh emiten yang belum juga menyampaikan laporan keuangan yang berakhir per 31 Maret 2014.

Hal itu tertuang dalam pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis, Jumat (4/7/2014).

Empat dari tujuh emiten itu adalah PT Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA), PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk. (BORN), PT Buana Listya Tama Tbk. (BULL), dan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk. (TRUB).

Keempatnya juga belum menyerahkan laporan keuangan per 31 Desember 2013. PT Tri Banyan Tirta Tbk. (ALTO) sudah menyerahkan laporan keuangan 2013 tapi belum membayar denda.

Selanjutnya, PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS) dan PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) hingga 29 Juni 2014 belum juga menyampaikan laporan keuangan interim kuartal I/2014 yang tidak ditelaah secara terbatas atau yang tidak diaudit oleh akuntan publik.

Sementara itu, PT Graha Layar Prima Tbk. (BLTZ) belum menyampaikan laporan keuangan interim kuartal I/2014 yang diaudit oleh akuntan publik. Akibatnya, perseroan dikenakan peringatan tertulis I.

Bursa mencatat status penyampaian laporan keuangan interim kuartal I/2014, dari total 552 perusahaan tercatat yang ada, sebanyak 478 telah menyampaikan laporan keuangan.

Ada 59 yang tidak wajib menyampaikan laporan keuangan, ada 8 yang belum menyampaikan laporan keuangan, dan ada 7 yang belum wajib menyampaikan laporan keuangan.

 

Editor : Taufik Wisastra

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) menjatuhkan sanksi penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham dua emitan, yakni PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) dan PT Buana Listya Tama Tbk (BULL).

Selain itu, Bursa juga memperpanjang suspensi efek tiga perusahaan tercatat, yakni PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) dan PT Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO).

Dalam keterangan tertulisnya, Senin (30/6/2014), PH Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group I BEI Adi Pratomo Aryanto menjelaskan, lima emiten tersebut belum menyerahkan laporan keuangan audit per 31 Desember 2013, dan atau belum melakukan pebayaran denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan.

1. BLTA belum menyampaikan laporan keuanmgan 2013 dan belum melakukan pembayaran denda. Saham ini telah disuspensi sejak 25 januari 2012.

2. BORN belum menyampaikan laporan keuanmgan 2013.

3. BULL belum menyampaikan laporan keuanmgan 2013 dan belum melakukan pembayaran denda. Saham ini telah disuspensi sejak 25 januari 2012.

4. TRUB belum menyampaikan laporan keuanmgan 2013 dan belum melakukan pembayaran denda. Saham ini telah disuspensi sejak 25 januari 2012. Saham ini disuspensi di pasar reguler dan tunai sejak 1 Juli 2013.

5. ALTO belum melakukan pembayaran denda. Suspensi di seluruh pasar sejak 2 Mei 2014.

http://economy.okezone.com/read/2014/06/30/278/1005897/belum-setor-laporan-keuangan-2013-5-saham-ini-disuspensi-bei

Sumber : OKEZONE.COM

RUGI TRUBA ALAM PER DESEMBER 2012 NAIK JADI Rp814,66 MILIAR

TRUB – IQPlus, (28/08) – PT Truba Alam Manunggal Tbk (TRUB) alami kenaikan rugi yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk per Juni 2013 menjadi Rp814,66 miliar dibandingkan dengan rugi periode sama tahun sebelumnya yang Rp454,75 miliar.nnLaporan keuangan perseroan Rabu ini menyebutkan pendapatan perseroan turun menjadi Rp1,26 triliun dari pendapatan tahun sebelumnya yang Rp1,97 triliun dan beban pendapatan menjadi Rp1,13 triliun dari beban pendapatan tahun sebelumnya Rp1,78 triliun.nnLaba kotor turun menjadi Rp134,22 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya yang Rp180,29 miliar. Sedangkan rugi sebelum pajak meningkat menjadi Rp773,95 miliar dari rugi sebelum pajak periode sama tahun sebelumnya yang Rp410,98 miliar.nnJumlah liabilitas per Desember 2012 mencapai Rp2,29 triliun turun dari jumlah liabilitas per Desember 2011 yang Rp2,63 triliun. Total aset per Desember 2012 mencapai Rp2,78 triliun turun dari total aset per Desember 2011 yang Rp3,97 triliun. (end)

Wednesday 28/Aug/2013 at 15:28
RUGI TRUBA ALAM PER DESEMBER 2012 NAIK JADI Rp814,66 MILIAR.

IQPlus, (28/08) – PT Truba Alam Manunggal Tbk (TRUB) alami kenaikan rugi yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk per Juni 2013 menjadi Rp814,66 miliar dibandingkan dengan rugi periode sama tahun sebelumnya yang Rp454,75 miliar.

Laporan keuangan perseroan Rabu ini menyebutkan pendapatan perseroan turun menjadi Rp1,26 triliun dari pendapatan tahun sebelumnya yang Rp1,97 triliun dan beban pendapatan menjadi Rp1,13 triliun dari beban pendapatan tahun sebelumnya Rp1,78 triliun.

Laba kotor turun menjadi Rp134,22 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya yang Rp180,29 miliar. Sedangkan rugi sebelum pajak meningkat menjadi Rp773,95 miliar dari rugi sebelum pajak periode sama tahun sebelumnya yang Rp410,98 miliar.

Jumlah liabilitas per Desember 2012 mencapai Rp2,29 triliun turun dari jumlah liabilitas per Desember 2011 yang Rp2,63 triliun. Total aset per Desember 2012 mencapai Rp2,78 triliun turun dari total aset per Desember 2011 yang Rp3,97 triliun. (end)

Mei 6, 2014

Bakrie’s GAM3 (10) … 06052014

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:24 am

Gambaran Kinerja Keuangan Grup Bakrie di Lantai Bursa

Angga Aliya – detikfinance
Selasa, 06/05/2014 17:15 WIB
Jakarta -Induk usaha Grup Bakrie, PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), meraup laba Rp 665 milar dalam tiga bulan pertama 2014, melonjak 15.267%. Kinerja positif itu berkat sokongan anak-anak usahanya yang tidak terdaftar di pasar modal.Kinerja ini disumbang dari anak-anak usahanya yang rata-rata sudah tumbuh positif di awal tahun ini. Anak-anak usaha non listed yang membukukan kinerja positif berasal dari berbagai industri.

Mereka di antaranya adalah PT Bakrie Building Industries (BBI) yang memproduksi aneka bahan bangunan untuk kebutuhan usaha properti dan konstruksi, PT Bakrie Autoparts (dahulu bernama PT Bakrie Tosanjaya) yang memproduksi komponen otomotif.

Selain itu ada PT Bakrie Metal Industries (BMI) yang meliputi PT Bakrie Pipe Industries (BPI) yang memproduksi pipa berbahan baku besi dan baja. Selain pipa baja, BMI juga menangani bisnis konstruksi baja dan fabrikasi di bawah unit PT Bakrie Construction (BCons). Di bidang infrastruktur, ada PT Bakrie Oil & Gas Infrastucture dan PT Bakrie Toll Indonesia.

Lalu bagaimana dengan kinerja anak usaha Grup Bakrie yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI)? Simak infografis di bawah ini seperti dirangkum detikFinance, Selasa (6/5/2014).

(ang/hen)

JAKARTA. Meski tengah berkutat dengan defisiensi modal, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tetap ‘berani’ menjanjikan bunga utang tinggi bagi krediturnya. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2014, utang BNBR berdenominasi rupiah saat ini memberikan bunga antara 7,5%-20,5%. Pada periode yang sama tahun 2013, angkanya ada di rentang 12,5% hingga 20%.

Sementara untuk pinjaman berdenominasi dollar AS, BNBR menjanjikan bunga antara 3%-20%. Tahun lalu, batasnya ada di kisaran 7%-17%.

Dari data tersebut terlihat, perusahaan investasi Grup Bakrie ini memberikan bunga utang dengan rentang yang kian lebar. Batas bawah dari rentang bunga utang memang bisa diturunkan. Namun disaat yang sama, batas atas bunga utang justru semakin tinggi.

Masih dari laporan keuangan BNBR kuartal I 2014, pinjaman jangka pendek BNBR di di tiga bulan pertama tahun ini kini tercatat Rp 4,33 triliun. Angka itu tumbuh 21,97% year on year (yoy) dari sebelumnya Rp 3,55 triliun.

Sekedar mengigatkan, BNBR hingga 31 Maret 2014 membukukan defisiensi modal senilai Rp 1,41 triliun. Akhir tahun lalu, angkanya berada di posisi Rp 2,02 triliun.

Akibat pencatatan defisiensi modal itu, Mazars sebagai auditor independen mempertanyakan prospek kelangsungan usaha BNBR. Mazars menyebut BNBR memiliki indikasi ketidak pastian material. “(Hal itu) dapat menyebabkan keraguan yang signifikan atas kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya,” tulis Mazars, dalam laporan keuangan BNBR tahun buku 2013.
Editor: Yuwono Tri
JAKARTA. PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk masih mencatatkan rapor merah pada tahun lalu. Bahkan, dapat dikatakan, kinerja UNSP semakin memburuk. Hal ini dapat dilihat dari kerugian yang dialami emiten dengan kode saham UNSP tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi 2013, UNSP membukukan kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 2,7 triliun. Jumlah kerugian tersebut membengkak hingga 159,3% dari kerugian tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 1,065 triliun.

Salah satu faktor yang menyebabkan memburuknya kinerja UNSP adalah naiknya kerugian selisih kurs yang mencapai Rp 1,101 triliun. Padahal, tahun 2012, kerugian kurs yang dialami UNSP hanya sebesar Rp 201,297 miliar.

Ada pula rugi penurunan nilai goodwill dan pesangon pemutusan hubungan kerja di 2013 yang mencapai Rp 51,090 miliar dan Rp 22,166 miliar. Sementara di tahun 2012, UNSP tidak membukukan kerugian pada kedua pos ini. UNSP juga membukukan lonjakan kerugian lain-lain menjadi Rp 1,233 triliun di 2013 dari sebelumnya Rp 53,625 miliar.

http://investasi.kontan.co.id/news/kerugian-unsp-capai-rp-27-triliun-di-2013

Sumber : KONTAN.CO.ID
Wednesday, Apr 30, 2014
Bakrie & Brothers Kembali Bangkit
by Investor Daily
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kembali bangkit setelah berhasil meraih lonjakan laba bersih sebesar 15.394% menjadi Rp665 miliar, pada kuartal I-2014, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 4,3 milair.

Pendapatan melonjak hingga 291% menjadi Rp2,5 triliun dari Rp 860,9 miliar. Adapun laba bersih persaham meningkat dari Rp 0,05 menjadi Rp7,1. Saat ini harga saham BNBR diperdagangkan pada level Rp50 persaham. Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar mengatakan, lonjakan kinerja keuangan tersebut ditopang bidang usaha berbasis manufaktur dan pengembangan infrastruktur.

“Kedua usaha tersebut menyumbang hingga 82% terhadap total pendapatan dan sebanyak 72% terhadap laba bersih perseroan higga kuartal I-2014,” ujarnya, dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (29/4). Pendapatan dari bisnis manufaktur dan infrastruktur berasal dari kontribusi anak usaha perseroan yaitu PT Bakrie Metal Industries (BMI) dengan pendapatan Rp1,3 triliun, atau tumbuh 277 %, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersihnya juga meningkat hingga 1.836% menjadi Rp181,5 miliar.

Lonjakan kinerja tersebut juga disumbangkan anak usaha perseroan lainnya, PT Bakrie Autoparts, berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 207,6 miliar atau naik 4%, dibandingkan periode sama 2013 sebesar Rp 199,1 miliar. Bakrie Autoparts mencetak laba bersih sebesar Rp 2,7 miliar. Sedangkan PT Bakrie Building Industries (BBI) mencetak pendapatan sebesar Rp 147,5 miliar dan laba bersih sebesar Rp 10,7 miliar. Bahkan, laba tersebut sudah mencerminkan 85% dari target sepanjang tahun 2014.

Kuatnya ekspektasi pertumbuhan bisnis manufaktur dan infrastruktur, menurut dia, mendorong perseroan untuk memfokuskan pengembangan kedua bisnis tersebut dengan harapkan kontribusinya meningkat dalam beberapa tahun ke depan. pihaknya juga akan memfokuskan pengembangan kedua bisnis tersebut ke pasar domestik dan regional, seiring belum pulihnya harga komoditas global. “Fundamental bisnis perseroan, terbukti kuat di sektor tersebut,” ungkap Bobby.

Bobby menambahkan, bisnis manufaktur yang masih menjanjikan adalah industri otomotif, seiring gencarnya pabrikasi otomotif global menambah infestasi di Indonesia. sedangkan pada bidang infrastruktur, perseroan melalui anak usahanya PT Bakrie Oil 7 Gas Infrastructure, telah membangun jaringan pipa tahap pertama di jalur sumur gas Kepodang ke Tambak Lorok, Jawa Tengah.

Perseroan melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia, juga memperkuat bisnis jalan tol dengan memulai tahapan pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol ruas Cimanggis-Cibitung. Bakrie & Brothers melalui anak usahanya PT Bakrie Power juga mengembangkan pembangkit listrik. Proyek yang sedang digarap adalah PLTU Tanjung Jati A.
Transaksi tinggi, tapi saham Grup Bakrie bergeming
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 23 April 2014 | 20:31 WIB

JAKARTA. Hari ini, tiga saham Grup Bakrie masuk ke dalam 10 saham dengan volume transaksi terbesar. Namun, harga sahamnya bergeming, bahkan ada yang turun.
Ketiga saham itu adalah PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). BNBR menduduki posisi pertama dengan total volume transaksi sebanyak 1,18 miliar saham. Jumlah ini mewakili 22,8% dari total volume transaksi saham hari ini.
Lalu, BTEL ada di posisi ke lima dengan 134 juta saham atau 2,6% dari total volume transaksi. Adapun, saham BUMI ditransaksikan dengan volume sebanyak 99 juta saham. Namun, ketiga saham itu tidak berubah.
Bahkan, BUMI justru anjlok 2,84% dari Rp 211 ke harga Rp 205 per saham. Sedangkan saham BNBR dan BTEL tidak bergerak dari batas terendah harga perdagangan saham, yakni Rp 50 per saham.
Editor: Asnil Bambani Amri
Kinerja Triwulan I/2014, BTEL Raih Laba Bersih Rp210,7 Miliar
Gloria Natalia Dolorosa – Rabu, 23 April 2014, 20:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Dulang keuntungan dari selisih kurs, PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) raih laba bersih sebesar Rp210,7 miliar pada triwulan I/2014.

Adapun, pada triwulan I/2013 emiten jasa telekomunikasi code division multiple access (CDMA) itu mendulang rugi bersih Rp97,5 miliar. Menilik laporan keuangan sepanjang Januari-Maret 2014, laba bersih dikantongi BTEL karena perseroan memperoleh laba selisih kurs sebesar Rp440,12 miliar. Pada periode sama tahun sebelumnya, perseroan mendapat rugi selisih kurs Rp23 miliar.

Selain karena dulang keuntungan dari selisih kurs, perseroan meraih laba bersih lantaran mampu menekan beban usaha sebesar 14,26% menjadi Rp456,26 miliar dari beban usaha triwulan I/2013 sebesar Rp532,12 miliar.

Kondisi perolehan bottom line tidak seiring dengan perolehan pendapatan. Sepanjang Januari hingga Maret 2014, BTEL meraih pendapatan usaha sebesar Rp471,13 miliar, merosot 31,12% dari pendapatan usaha Januari-Maret 2013 senilai Rp683,94 miliar. Kinerja perseroan yang merosot terlihat dari rugi usaha yang didapat sebesar Rp65,76 miliar, sedangkan pada triwulan I/2013 perseroan memperoleh laba usaha Rp50,38 miliar. Jumlah pelanggan ESIA per Maret 2014 sebanyak 12,258 juta.

“Peningkatan performa kinerja BTEL tidak terlepas dari efisiensi operasional dan optimalisasi jaringan yang efektif di daerah potensial yang telah kami lakukan dalam program revitalisasi sejak 2012,” kata Bachder Bachtarudin, Director & Chief Financial Officer Bakrie Telecom, dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Rabu, (23/4).

Perseroan berencana meningkatkan layanan melalui program-program inovatif. Sebelumnya, BTEL menjalin kerja sama dengan media sosial global, PATH, untuk pengguna ESIA.

Editor : Martin Sihombing
Anak Bumi Resources Teken Kontrak dengan Perusahaan China
Ardhanareswari AHP – Minggu, 20 April 2014, 19:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Dairi Prima Mineral, anak perusahaan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), telah meneken kontrak membangun cadangan seng dan timah hitam dengan China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering & Construction Co. Ltd. (NFC).

Dalam keterangan resmi dari perseroan yang diterima Bisnis, Minggu (20/4/2014), manajemen BRMS mengatakan kontrak dalam bentuk engineering, procurement, & construction (EPC) tersebut adalah kelanjutan dari kerja sama kedua belah pihak yang diinisiasi Oktober 2013.

Nantinya pertambangan tersebut akan dioperasikan oleh Dairi dari Sumatra Utara. “NFC akan membantu untuk mendapatkan 85% dari pendanaan yang diperlukan untuk membangun lokasi tambang seng dan timah tersebut,” kata manajemen.

Namun, perseroan belum memaparkan besar dana yang diperlukan dalam proyek tersebut. Menurut manajemen jumlah dana yang dibutuhkan akan disampaikan ke publik dalam waktu dekat ini.

NFC berencana membangun infrastruktur dan fasilitas untuk mengolah hingga 1 juta ton bijih per tahun. Rencananya pembangunan fasilitas itu selesai dalam 42 bulan yaitu sekitar penghujung 2017.

Direktur Utama BRMS Suseno Kramadibrata berharap hal ini bisa menjadi nilai tambah. “Kami berahdap untuk dapat memproduksi cadangan seng dan timah hitam yang dioperasikan oleh Dairi pada akhir 2017 sehingga dapat menambah nilai bagi para pemegang saham,” katanya.

Sebagai catatan, saat ini perusahaan di bawah naungan Grup Bakrie itu memiliki 80% saham Dairi. Sementara itu 20% saham lainnya dimiliki oleh PT Aneka Tambang (Perseroan) Tbk. (ANTM).

Editor : Hery Lazuardi
Auditor Meragukan Kelanggengan Usaha BNBR
Oleh Yuwono Triatmodjo – Sabtu, 12 April 2014 | 00:03 WIB

kontan

JAKARTA. Lantaran membukukan defisiensi modal senilai Rp 2,02 triliun hingga 31 Desember 2013, kelangsungan hidup PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) ke depan kini dipertanyakan. Defisiensi modal terjadi lantaran total kewajiban BNBR yang senilai Rp 13,89 triliun, sudah melebihi total aset yang sebesar Rp 11,87 triliun.

Mazars, auditor independen yang memriksa laporan keuangan BNBR tahun 2013, menyatakan perusahaan investasi grup Bakrie itu memiliki indikasi ketidakpastian material. “(hal itu) dapat menyebabkan keraguan yang signifikan atas kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya,” tulis Mazars, dalam laporan keuangan BNBR tahun 2013 yang dirilis Jumat (11/4).

Dalam laporan keuangannya, BNBR menyatakan defisiensi modal terjadi karena rugi penurunan nilai investasi jangka pendek dan perubahan nilai wajar derivatif. Rinciannya, BNBR mencetak rugi penurunan nilai investasi jangka pendek senilai Rp 5,39 triliun di tahun 2013. Padahal pada tahun sebelumnya, pos tersebut bahkan tidak ada.
Sedangkan perubahan nilai wajar derivatif BNBR tahun lalu tercatat minus Rp 2,77 triliun. Pada tahun 2012, angka perubahan nilai wajar derivatif hanya tercatat minus Rp 6,79 miliar.

Sehubungan dengan rangkaian persoalan diatas, BNBR berniat melakukan sejumlah upaya pembenahan. Pertama, BNBR akan merestrukturisasi utang dan mengkonversinya menjadi saham. Kedua, meningkatkan modal melalui penerbitan saham dan penjualan aset.

Ketiga, manajemen BNBR akan mengurangi investasi dalam bentuk saham. Sedangkan upaya keempat adalah fokus mengembangkan kegiatan usaha manufaktur. Dan terakhir, BNBR akan mengembangkan proyek infrastruktur utama untuk mendapatkan sumber pendanaan yang berkelanjutan.
Editor: Yuwono Tri
Indonesia’s Bakrie Vows Protectionism for Natural Resources
By Berni Moestafa and Neil Chatterjee Mar 6, 2014 6:34 PM GMT+0700
Indonesia should keep more resources such as natural gas at home to bolster its domestic industries, according to Aburizal Bakrie, who rates himself the favorite to win a presidential election to be held in July.

Bakrie, chairman of the nation’s second-biggest political party Golkar and whose family coal business has faced financial probes, said Indonesia’s leaders must focus on building infrastructure and deepening the industrial sector.

Indonesia needs “the courage to face and negotiate with parties overseas and the courage to explain to the public about the problems we face,” Bakrie said in an interview with Bloomberg TV Indonesia as he met voters in central Java. “We say thank you for buying our gas. But going forward, I will use this gas first and will only export the rest.”

Bakrie, who dropped out of the Forbes list of the 40 richest Indonesians in 2012, is tapping into a protectionist mood as Southeast Asia’s biggest economy seeks to cut dependence on imports. That may earn him votes in the presidential poll, with another candidate, Prabowo Subianto, calling for a “face off” with foreign investors to “hammer out fair prices and fair terms.”

Golkar is the only one of the country’s three major parties to declare a candidate so far for July. Bakrie led ex-general Subianto, who represents the smaller Gerindra party, and lagged behind Jakarta Governor Joko Widodo, who hasn’t announced plans to run, in a January poll by the Indonesian Survey Circle.

LNG, Coal

“If we are combining both the electability factor and eligibility, then ARB is number one,” Bakrie said in the Feb. 9 interview, referring to his initials. The 67-year-old grandfather said he is fit to contest the election. “I’m used to walking six kilometers (3.7 miles), that’s circling a soccer field 15 times.”

Indonesia, a former Organization of Petroleum Exporting Countries member, was the world’s largest exporter of liquefied natural gas until 2006. Declining output and increasing domestic demand lowered it to the fifth-biggest shipper of the cooled gas by 2012. The country is the largest exporter of thermal coal for power stations, nickel ore and refined tin.

Indonesia’s LNG output is sold mostly under long-term contracts to overseas buyers, mainly Japan and South Korea. Because of the decline in gas production, domestic buyers in the world’s fourth most-populous nation can struggle for supplies.

Red and White

The government of President Susilo Bambang Yudhoyono has made a series of moves to limit exports of resources in a drive to turn the nation from an exporter of raw materials into a producer of higher-value manufactured goods. Indonesia banned exports of raw mineral ores on Jan. 12, and lawmakers on Feb. 11 passed a trade bill that enables the government to restrict exports and imports to protect local industries.

Indonesia will cap coal output this year at about 5 percent less than the level for 2013, to stem declining prices and to control production because the fuel is not a renewable resource, Edi Prasodjo, a director for coal at the energy ministry, said on Feb. 7.

Bakrie’s comments signal a government he led would probably continue Yudhoyono’s policies. He said Indonesia should resist any pressure from foreign trading partners to interfere in policy making.

“The mood pendulum is not exactly moving toward free markets,” said Wellian Wiranto, a Singapore-based economist at Oversea-Chinese Banking Corp. “Whoever comes to power will have to offer enough nationalist shades of red and white,” he said, referring to the colors of Indonesia’s flag.

Infrastructure

Yudhoyono’s government has reduced state debt, winning the country an investment-grade sovereign credit rating in his second term, while struggling to build the roads, ports and airports needed to attract more investors. The rupiah fell 21 percent last year to be Asia’s worst-performing currency on investor concerns with a trade deficit and persistent inflation.

Yudhoyono is barred by law from seeking a third term.

Economic growth this year may slow to the least since 2009, to between 5.5 percent and 5.8 percent, as the government reins in the current-account deficit, Finance Minister Chatib Basri said Feb. 23. That compares 5.8 percent growth in 2013.

The Southeast Asian nation must spend money to develop infrastructure, including oil refineries, and take a more “aggressive” fiscal stance, said Bakrie, the nation’s coordinating minister for economic affairs from 2004 to 2005. Bakrie said he would focus on rural development and making the country’s fuel and food subsidies more targeted.

Debt

As a minister Bakrie favored free-market policies and was opposed to continuing energy subsidies, fighting to achieve two rises in fuel prices, said Keith Loveard, head of risk analysis at Jakarta-based Concord Consulting.

“The major concern is that he would run the country for its business groups, not for the average Indonesian,” Loveard said in an e-mail today. “A Bakrie presidency would be in some ways similar to his businesses, particularly in the willingness to take on debt that then turns out to be a major weight on performance.”

Stoking nationalist sentiment may benefit Bakrie’s businesses, said Dodi Ambardi, a political analyst at Gadjah Mada University. Protectionism would benefit industries such as steel producers while hurting others such as commodity exporters, he said.

‘Bad Image’

The Bakrie family, a palm oil-to-property empire founded in Sumatra in 1942, rose from collapse in the 1998 Asian financial crisis with the purchase of coal mines from BHP Billiton Ltd, Rio Tinto Plc and BP Plc. That created PT Bumi Resources (BUMI), Indonesia’s largest coal producer.

In 2010, the Bakrie Group and U.K. financier Nathaniel Rothschild struck a $3 billion deal to set up a London-listed coal company, only to see the venture unravel three years later amid boardroom infighting, debt concerns and financial probes in the U.K. and Indonesia. Bumi Resources shares have fallen 96 percent from their 2008 record to 319 rupiah ($0.03) today.

“I am not worried about the bad image that people have of me,” said Bakrie, pointing to his popularity in east Java being highest in the town of Sidoarjo, where in 2006 a gas field run at the time by family company PT Energi Mega Persada spewed mud that covered homes and schools, leading the government to pay compensation.
BSD Akuisisi Epiwalk dari Bakrieland
Oleh Jauhari Mahardhika | Selasa, 11 Februari 2014 | 7:40
investor daily
JAKARTA – PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), unit usaha Grup Sinar Mas, mengakuisisi Epicentrum Walk (Epiwalk) dari PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), perusahaan properti milik Grup Bakrie. Nilai akuisisi mal ritel tersebut sebesar Rp 297 miliar.

Epiwalk berlokasi di kompleks Rasuna Epicentrum, kawasan superblok seluas 53,5 hektare (ha) di Kuningan, Jakar ta Selatan. Sebelumnya, Bumi Serpong Damai atau BSD juga mengakuisisi lahan seluas tiga hektare di Rasuna Epicentrum dari Bakrieland. Nilai akuisisi mencapai Rp 868,9 miliar. BSD akan membangun gedung bertingkat kelas premium di lahan tersebut.

Sementara itu, Epiwalk telah beroperasi sejak 2010. Luas bangunan mal tersebut sebesar 14.850 per meter persegi. Dari luas tersebut, ruang yang bisa disewa sekitar 10.722 per meter persegi. Adapun tingkat okupansi mencapai 85%. “Akuisisi ini sejalan dengan strategi BSD untuk meningkatkan porsi pendapatan berkelanjutan (recurring income) menjadi 20:80 dalam lima tahun ke depan,” jelas manajemen BSD dalam keterangan resmi, Senin (10/2).

Sementara itu, berdasarkan catatan Investor Daily, BSD menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 3 triliun atau sama dengan tahun lalu.
Owen Holdings, dari Bakrie ke Capitalinc
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 06 Februari 2014 | 10:00 WIB

kontan

JAKARTA. Ada yang menarik dari aksi korporasi PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN). Perusahaan minyak dan gas (migas) ini berniat melakukan rights issue. Potensi dana yang bakal diraup mencapai Rp 2,78 triliun.
Berdasarkan prospektus ringkas perusahaan, 93,48% atau Rp 2,52 triliun hasil rights issue akan digunakan untuk mengakuisisi 100% saham Owen Hodlings. Masih segar dalam ingatan, nama Owen muncul pada prospektus rights issue PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Namun, aksi pasar modal itu urung dilakukan. Alasannya, pasar tidak kondusif. Namun, seperti yang pernah ditulis KONTAN sebelumnya, salah satu pemilik Owen, yaitu Densel Venture Ltd (DVL), dikendarai oleh PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Namun, manajemen BNBR ketika itu pun mengelak.
Nah, MTFN ini pun kerap dikaitkan dengan keluarga Bakrie. Pasalnya, ketika perusahaan mengubah haluan bisnis dari perusahaan pembiayaan ke perusahaan minyak dan gas (migas), Seng Hoo Ong didapuk menjadi presiden direktur.
Seng adalah menantu keluarga Bakrie. Ia adalah suami dari Adinda Bakrie, putri Indra Bakrie. Namun, kini posisi puncak manajemen ini diisi oleh Srinivasa Bhat Vinayaka Bandagadde. Tambahan informasi, Capitalinc merupakan bagian dari Grup Recapital.
Namun, manajemen MTFN menjelaskan, transaksi ini bukan transaksi terafiliasi. Lebih lanjut, dari prospektus MTFN diketahui telah terjadi perubahan kepemilikan atas Owen. Jika sebelumnya pemegang saham Owen adalah DVL dan ND Owen Holdings Limited, kini posisi ND diganti oleh OG Resources Limited (OGR).
DVL menguasai 69,39%, sedangkan OGR sebesar 30,61%. Asal tahu saja, penilaian atas 100% saham Owen adalah US$ 228,81 juta. Namun, MTFN akan mengeluarkan US$ 225 juta untuk mengakuisisinya.
Disebutkan pula, DVL melakukan pelunasan utang kepada Owen sebesar US$ 80,24 juta atau sekitar Rp 962,27 miliar (1 US$= Rp 12.000). Dana ini akan digunakan untuk melunasi utang Owen yang akan jatuh tempo akhir 2014 dan 2015.
Manajemen MTFN mengatakan, akuisisi Owen bisa meningkatkan investasi dan pendapatan perseroan di sektor migas. Selain itu, “meningkatkan keuangan perseroan, memberi nilai tambah kepada pemegang saham”.
Owen merupakan pemilik 49% saham EMP International Ltd (EIBL). EIBL memiliki 100% saham EMP ONWJ Ltd (EON) yang merupakan pemilik 36,72% working interest di Blok Offshore North-West Java (ONWJ) PSC. Adapun penandatanganan perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) dengan pemilik Owen telah dilakukan pada 30 Januari 2014.
Editor: Asnil Bambani Amri
Bakrie Pangripta Loka Tambah 5 Tower di Sentra Timur
Oktaviano DB Hana – Rabu, 29 Januari 2014, 19:38 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bakrie Pangripta Loka, anak usaha dari PT Bakrieland Development Tbk., berencana memulai pengembangan lanjutan hunian vertikal pada proyek Superblok Sentra Timur dengan membangun lima tower apartemen pada pertengahan 2014.

Direktur Utama PT Bakrie Pangripta Loka Dicky Setiawan mengungkapkan pengembangan lanjutan tersebut akan menyediakan sekitar 2.000 unit apartemen. Menurutnya, hunian tersebut akan terdiri dari tiga tipe, yakni dari tipe studio atau satu kamar hingga dua kamar.

“Kita rencana pertengahan atau akhir tahun launching 5 tower, sekitar 2.000 unit,” ungkapnya di sela-sela media gathering, Rabu (29/1/2014).

Untuk pembangunan lima tower tersebut, dia menyatakan pihaknya telah menyiapkan invesatsi sekitar Rp300 miliar. Sementara itu, dia mengatakan unit apartemen tersebut akan dipasarkan pada kisaran harga Rp300 juta-Rp400 juta.

Dicky menambahkan pengembangan tersebut merupakan bagian dari rencana pembangunan 14 tower apartemen di kawasan Superblok Sentra Timur yang digagas bersama Perum Perumnas di atas lahan seluas 40 hektare.

“Sejak 2008, kami telah mengembangkan lima tower apartemen dengan total unit mencapai 2.150,” imbuhnya.

Adapun, proyek Superblok Sentra Timur rencananya dikembangkan menjadi sebuah kawasan pusat bisnis (central business district) hingga 7 tahun ke depan.

Dalam kawasan tersebut telah dikembangkan Sentra Timur Commercial, perumahan Mutiara Platinum dan Mutiara Sanggaha, serta hotel, convention centre dan tower perkantoran yang masih dalam perencanaan.
Fitch: Rating BTEL paling rendah
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 29 Januari 2014 | 15:51 WIB

kontan

JAKARTA. PT Fitch Ratings Indonesia memberikan outlook positif bagi tiga perusahaan perkebunan. Ketiga perusahaan tersebut merupakan afiliasi dari Grup Sinarmas.
Eddy Handali, Direktur Rating Fitch Ratings Indonesia bilang, dari total 78 perusahaan yang diberi peringkat, hanya tiga yang memiliki outlook positif.
“Ketiganya adalah perusahaan perkebunan yang terkait SMART (PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk),” ujarnya, Rabu (29/1).
Alasannya, lanjut Eddy, pihaknya melihat ada sentimen positif dari pasar terhadap kemampuan perusahaan jika ingin menerbitkan obligasi. Selain itu, dukungan dari induk usaha yang mumpuni semakin mengokohkan posisi Sinar Mas.
Adapun, peringkat terendah untuk obligasi dari total perusahaan yang diberi peringkat oleh Fitch adalah PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Pada November 2013 lalu, Fitch menurunkan peringkat obligasi BTEL dari CC ke C
Hal ini lantaran perusahaan dinilai tidak mampu membayar kupon obligasi senilai US$ 21,8 juta. Adapun, total utang obligasi itu mencapai US$ 380 juta.
Editor: Asnil Bambani Amri
Bakrieland Setuju Tanah 600 Hektar Jadi Jaminan Utang ke Bank of New York
Herdaru Purnomo – detikfinance
Minggu, 08/12/2013 14:25 WIB

Jakarta -Para pemegang obligasi (Bondholders) PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melalui Bank of New York Mellon, London, UK (selaku Trustee) mencabut permohonan kasasi perihal Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Hal ini merupakan kasus lanjutan dari Bakrieland telah memenangkan gugatan PKPU di Pengadilan Niaga Jakarta oleh Bank of New York. Bakrieland memiliki total utang obligasi senilai US$ 155 juta (Rp 1,5 triliun) kepada Bank of New York Mellon cabang London, Inggris.

Utang tersebut akan jatuh tempo pada 2015 mendatang. Namun, pihak bondolders meminta kepada Bakrieland untuk mempercepat pembayaran utang tersebut di tahun 2013. Oleh sebab itu, PKPU berlanjut di tingkat kasasi yang pada akhirnya permohonan kasasi dicabut Bank of New York Mellon.

PKPU tersebut diinisiasi oleh Bondholders setelah dianggap upaya restrukturisasi atas obligasi terkait tidak mencapai kesepakatan di antara Bakrieland dan Bondholders.

Dalam keterangan persnya, Minggu (8/12/2013), Chief Corporate Affairs Officer ELTY, Yudy Rizard Hakim menjelaskan Bakrieland telah menyampaikan negosiasi untuk restrukturisasi tidak akan dilakukan kecuali setelah Permohonan Kasasi tersebut dicabut.

“Sebagai langkah awal dengan niat baik, Bondholders setuju untuk mencabut Permohonan Kasasi sehingga dapat duduk bersama kembali guna melakukan negosiasi dengan Bakrieland,” kata Yudi.

Para Pihak memahami bahwa pencabutan atas Permohonan Kasasi tersebut adalah guna memfasilitasi penyelesaian yang baik bagi kedua belah pihak dan tidak diartikan sebagai pengakuan Bondholders atas Putusan Pengadilan Niaga tersebut
“Dalam proses negosiasi, Bakrieland secara prinsip menyetujui untuk menjaminkan asetnya berupa tanah dengan luas sekitar 600 hektar di kawasan Sentul dan atau Bogor yang dinilai cukup menjadi jaminan kepada Bondholders dalam proses restrukturisasi,” kata Yudi lagi.

Serta akan melakukan upaya maksimal untuk menjaga nilai dari aset tersebut hingga finalisasi penyelesaian restrukturisasi obligasi secara komprehensif dalam jangka waktu 2 bulan kedepan dengan catatan jangka waktu tersebut dapat diperpanjang bila diperlukan dan disepakati oleh kedua belah pihak.

Untuk sementara waktu, Bakrieland dan Bondholders akan mengupayakan untuk menyepakati kondisi standstill pada tanggal 19 Desember 2013,termasuk sepakat untuk tidak mengeluarkan pernyataan publik apapun atau disclosure tentang Obligasi terkait dengan pihak manapun kecuali
bila diharuskan oleh Peraturan dan Undang–Undang yang berlaku di Indonesia dan atau telah disepakati bersama sebelumnya oleh kedua belah pihak.

“Telah disepakati bersama pula bahwa kedua belah pihak dapat mencari opsi lain, dalam hal restrukturisasi tidak tercapai,” kata Yudi.
Terlilit Utang, BNBR Gencar Jual Anak Usaha
Editor – Senin, 25 November 2013, 08:02 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk dapat mengurangi jumlah utangnya yang mencapai US$490 juta (atau setara Rp5,39 triliun) dan Rp978 miliar per akhir kuartal III/2013, PT Bakrie & Brothers Tbk diperkirakan akan kembali menjual anak usahanya, selain PT.Bakrie Pipe Industries BPI) yang kini tengah dilego.

Reza Nugraha, analis MNC Securities, memprediksi anak usaha yang akan dilepas kemudian adalah yang tidak tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Adapun, Direktur Utama dan CEO Bakrie & Brothers (BNBR) Bobby Gafur Umar mengatakan perseroan mulai berusaha mengurangi utang sekitar Rp6,7 triliun sejak pertengahan tahun ini.

“Kami berencana menjual aset. Sebanyak 60%-70% utang jangka pendek akan kami perpanjang. Pada tahun depan, kami akan pangkas total utang kami 50% dari jumlah saat ini,” katanya.

BNBR akan menempuh beberapa cara untuk menekan jumlah utangnya yang membengkak. Perseroan bakal menjual kepemilikan sahamnya di BPI, anak usaha yang memproduksi pipa baja untuk sektor minyak dan gas.

Hingga akhir September 2013, pinjaman jangka pendek BNBR ke Credit Suisse AG cabang Singapura sebesar Rp2,25 triliun. Ini nilai pinjaman paling besar dari total pinjaman jangka pendek Rp4,1 triliun. Dana hasil divestasi BPI diprediksi tidak cukup untuk melunasi utang ke Credit Suisse.

BNBR butuh pendapatan besar agar dapat melunasi pinjaman. Untuk itu, perseroan akan menggenjot investasi di sektor manufaktur untuk jangka pendek dan sektor infrastruktur untuk jangka panjang.

Perseroan memiliki proyek raksasa di bawah PT Bakrie Indo Infrastructure, yakni pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Tanjung Jati 2×660 MW di Cirebon, Jawa Barat. Proyek sekitar US$2 miliar itu akan beroperasi 4 tahun mendatang.

April 11, 2014

BABAK baru B-life … 11042014

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 1:30 am

BAKRIE LIFE: Pilih Opsi Diakuisisi Selesaikan Masalah
Yodie Hardiyan – Jum’at, 11 April 2014, 08:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Manajemen PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) mempertimbangkan keberadaan investor baru guna mengambil-alih kepemilikan perusahaan asuransi jiwa itu, kendati penyelesaian kewajiban dengan nasabah masih berlarut hingga sekarang.

Direktur Bakrie Life Timoer Sutanto mengatakan kemungkinan perusahaan itu melakukan divestasi kepemilikan cukup memungkinkan, karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejauh ini tidak memberi sanksi kepada perusahaan.

“Kalau kita nggak selesai , ada investor baru yang masuk dan menyelesaikan kan bisa saja,” ujarnya, seperti dilaporkan Harian Bisnis Indonesia, Jumat (11/4/2014).

Timoer menyatakan pihaknya tidak menawarkan Bakrie Life kepada investor, tetapi perusahaan tersebut dianggap cukup diminati oleh investor lain.

Kendati demikian, Timoer enggan memaparkan identitas investor yang berminat tersebut. “Ambilalih atau kerja sama kita nggak tahu, itu urusan pemegang saham,” katanya.

Pemegang saham mayoritas Bakrie Life yakni PT Bakrie Capital Indonesia dengan kepemilikan sebesar 94,23%, sementara sisanya dimiliki oleh Koperasi Karyawan Mitra Sejahtera per 31 Desember 2012.
Satu Eksekutif Vice President Bakrie Capital Indonesia tercatat atas nama Aga Bakrie. Nama Aga Bakrie juga tercatat sebagai Capital Advisor di Alta Verde Group, perusahaan yang bergerak di bidang real estat dan properti.

Menurutnya, tidak dicabutnya izin itu karena ada perkembangan penyelesaian pembayaran kewajiban. Nilai kewajiban Bakrie Life kepada nasabah mencapai Rp400 miliar ketika kasus ini meledak pada 2008.

Timoer mengklaim pihaknya telah membayar sejumlah kewajiban kepada nasabah sehingga kewajiban Bakrie Life tersisa Rp270 miliar pada saat ini.

Pihaknya berencana menyelesaikan pembayaran kewajiban kepada nasabah tersebut pada Juni tahun ini. Penyelesaian itu merupakan komitmen dari pemegang saham.

Source : Bisnis Indonesia (11/4/2014)
Editor : Nurbaiti

Digugat ke MK, OJK Akan Konsultasi ke Pemerintah
Selasa, 4 Maret 2014 00:43 WITA

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA – Keabsahan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) digugat oleh sejumlah masyarakat yang mengatasnamakan Tim Pembela Kedaulatan Ekonomi Bangsa. Mereka mendaftarkan gugatan uji materi atau judicial review UU OJK itu di Mahkamah Konstitusi (MK) akhir Februari lalu.
Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengaku, telah mendengar mengenai judicial review tersebut. Meski begitu, OJK menanggapi uji materi UU tersebut akan dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada.
“Saya mendengar, tapi ada prosedurnya. Kita tunggu saja prosedur yang ada,” ujar Muliaman di Gedung DPR, Jakarta, Senin (3/3).
Menanggapi gugatan atas UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu, Muliaman bilang akan berkonsultasi dulu dengan pemerintah. “Tentunya kami akan mengikuti ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Konsultasi dengan pemerintah diperlukan karena keberadaan OJK sebagai lembaga lahir melalui kesepakatan berbagai instansi dalam memperbaiki perlindungan terhadap industri keuangan. Keberadaan OJK diperkuat dengan UU nomor 21 tahun 2011.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi XI DPR RI, Olly Dondo Kambey, menuturkan bahwa pembentukan OJK sudah menganut prinsip-prinsip yang baik. Sehingga, kerangka transparansi sudah dibuat matang untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam sistem keuangan.
“Ini kami buat dalam jangka waktu lama untuk membangun indonesia. Pungutan itu ada karena untuk melindungi industri jika kolaps,” kata Olly.
Sebagai catatan, Tim Pembela Kedaulatan Ekonomi Bangsa (TPKEB) mengajukan gugatan ke MK atas keberadaan OJK yang dianggapnya tidak sesuai dengan amanat konstitusi. TPKEB juga meragukan independensi OJK karena rentan dipengaruhi semangat liberalisasi dalam tata kelola industri jasa keuangan. *
Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kontan
OJK: PT Asuransi Jiwa Bakrie tak Punya Aset Lagi
Yodie Hardiyan – Senin, 03 Maret 2014, 18:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan OJK mempersilakan nasabah untuk mengajukan gugatan pailit terhadap PT Asuransi Jiwa Bakrie melalui regulator sebelum dibawa ke Pengadilan Niaga Jakarta.

Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK, mengatakan PT Asuransi Jiwa Bakrie atau dikenal dengan Bakrie Life belum menyelesaikan sejumlah kewajibannya terhadap nasabah sampai sekarang.

“Mereka tidak punya aset lagi,” kata Firdaus di Gedung DPR, Senin (3/3/2014).

Karena persoalan pembayaran kewajiban yang berlarut-larut sekitar 6 tahun itu, sejumlah nasabah asal Jawa Barat dan Jakarta berencana mengajukan gugatan pailit terhadap Bakrie Life dalam waktu dekat ini.

Berdasarkan UU No.37/2004 tentang UU Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator.

Regulasi itu mengatur secara khusus permohonan pailit terhadap perusahaan asuransi.

Dalam pasal 2 ayat 5 disebutkan permohonan pailit terhadap perusahaan asuransi hanya bisa diajukan oleh Menteri Keuangan.

Terkait hal itu, wewenang pengaturan dan pengawasan industri asuransi telah beralih dari Menteri Keuangan (melalui Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan) kepada Otoritas Jasa Keuangan sejak 31 Desember 2012.

Editor : Ismail Fahmi
Lagi-lagi Bakrie Life ingkar janji
Oleh Yuliani Maimuntarsih – Selasa, 10 Desember 2013 | 05:06 WIB
kontan

JAKARTA. Nasabah kembali kecewa dengan janji manajemen Bakrie Life. Untuk kesekian kalinya, jadwal pembayaran kewajiban molor lagi.
Martinus, salah seorang nasabah Bakrie Life kesal, lantaran haknya hingga kini tak kunjung diterima. “Saya sudah sering diingkari janji sejak 2008,” kata dia ke KONTAN, belum lama ini. Martinus adalah nasabah Bakrie Life yang berinvestasi di produk Diamond Investa. Dana miliknya yang belum dibayar Bakrie Life sebesar Rp 1,6 miliar.
Sejatinya, Martinus menerima pembayaran pada bulan Juli tahun ini. Namun sampai November, manajemen Bakrie Life tidak memenuhi kewajibannya kepada nasabah. Hingga awal Desember tahun ini, pembayaran yang sedianya mengucur kembali meleset.
Padahal, Bakrie Life sudah meminta diskon 30% dari total kewajiban. Semula Bakrie harus membayar uang nasabah senilai Rp 260 miliar. Setelah nasabah menyetujui diskon 30%, manajemen Bakrie Life hanya membayar kewajiban sekitar Rp 182 miliar (Harian KONTAN, 29 Juni 2013).
“Seharusnya kami demonstrasi saat Ical (Aburizal Bakrie) kampanye, biar ramai dan dia segera menyelesaikan permasalahan ini,” tegas Martinus.
Selain diskon, disepakati pula Surat Keputusan Bersama (SKB) antara nasabah dan manajemen Bakrie. Menurut SKB tersebut, Bakrie Life harus membayar kewajiban bulan juli sebesar 50%, kemudian pada November membayar 10% serta 10% lagi dipenuhi pada Desember tahun ini.
Salah seorang nasabah Bakrie Life yang enggan disebutkan namanya mengatakan, baru-baru ini nasabah mengadakan pertemuan dengan manajemen Bakrie Life. “Mereka menyampaikan jika pemegang saham ingin membayar setiap bulan sebesar Rp 10 miliar,” papar dia.
Akan tetapi para nasabah menolak usulan tersebut. Sebab, nasabah menilai pernyataan Bakrie Life tidak sesuai dengan SKB tersebut. “Nasabah minta dipertemukan dengan Pak Nirwan Bakrie dalam waktu dekat ini. Kami juga meminta agar hak kami dan wibawa OJK dihormati,” ungkap nasabah itu. Nasabah tak bisa menjamin tidak terjadi unjukrasa lagi apabila tuntutan tersebut tak dihiraukan.
Dumoly Freddy Pardede, Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Industri Keuangan Non Bank, menegaskan OJK masih memantau proses pembayaran klaim Bakrie Life kepada nasabah. “OJK hanya sebatas monitor,” kata dia.
Manajemen Bakrie Life tak bisa konfirmasi terkait masalah ini. Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto, tak menjawab panggilan telepon dan pesan singkat KONTAN.
Editor: Sandy Baskoro
Bakrie Life Janji ke OJK Akan Lunasi Utang Nasabah Bulan Ini
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Kamis, 12/09/2013 09:19 WIB

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali didatangi pihak PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life). Lagi-lagi pihak Bakrie Life mengumbar janji untuk lunasi utang-utangnya kepada nasabah Diamond Investa yang gagal bayar sejak 2008 lalu.

Direktur Eksekutif Pengawasan Lembaga Keuangan Non-Bank OJK Firdaus Djaelani mengatakan, pihak Bakrie Life berjanji akan melunasi sisa dana nasabahnya di bulan September ini.

“Mereka bilang ke kita mau melunasi katanya September ini, ya kita tunggu,” ujar Firdaus saat bincang-bincangnya bersama wartawan, di Kantor OJK, Rabu malam (11/9/2013).

Dia menjelaskan, sebagai otoritas pihaknya hanya bisa melakukan mediasi antara perusahaan dan nasabahnya. Sepenuhnya, hak itu diserahkan kepada masing-masing pihak.

“Dia janji September akan melakukan pembayaran. OJK nungguin, kita lihat saja nanti beneran nggak dilunasi, OJK akan melakukan tindakan kalau ternyata tidak dipenuhi,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jika pihak Bakrie Life belum juga bisa melunasi sisa utang-utangnya kepada nasabah Diamond Investa, maka hal lain yang bisa dilakukan adalah membayar dengan melakukan take over terhadap aset-asetnya.

“Kalau nggak bayar bisa saja take over asset atau bisa juga diganti bisnis, mereka nasabah dikasih bisnis baru. Kita lakukan pendekatan, mereka (nasabah) bilang jangan dicabut izinnya, karena ya nanti nasabah yang akan rugi,” ujar dia.

Perlu diketahui, Bakrie Life mengalami gagal bayar pada tahun 2008 sebesar Rp 360 miliar kepada nasabah Diamond Investa. Seiring dengan perjalanannya utang Bakrie Life ke nasabah tinggal Rp 270 miliar. Namun karena kesulitan likuiditas Bakrie Life belum juga bisa melunasi.

(drk/ang)

November 20, 2013

BAKRIE’s G4M3 (9) … 201113

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:38 am

BUMI sibuk kumpulkan saham BRMS
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 20 November 2013 | 19:02 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah berupaya mengumpulkan saham PT Bumi Resource Minerals Tbk (BRMS). Maklum, BUMI telah menggadaikan saham (repo) BRMS ke sejumlah pihak.

“Saya tidak bisa komentar lebih jauh, yang jelas kami sedang berusaha menyelesaikan (pembelian kembali) saham BRMS,” ujar Andrew Christopher Beckham, Direktur Keuangan BUMI, Rabu (20/11).

Seperti diketahui, dalam rangka penyelesaian utang dengan China Investment Corporation (CIC), salah satu upaya yang dilakukan BUMI adalah menjual 42% atau 10,73 miliar saham BRMS.

Harga jual saham BRMS Rp 268 per saham. Dengan demikian, total nilai penjualan mencapai US$ 257 juta. Namun, berdasarkan data Biro Administrasi Efek (BAE) PT Sinartama Gunita, kepemilikan saham BUMI pada BRMS hanya 26,9%.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengklaim, sisa saham BRMS akan segera diperoleh. Pengalihan 42% saham BRMS tersebut dilakukan berdasarkan suatu perjanjian jual beli bersyarat.

Pada saat penyelesaian (closing date), seluruh saham BRMS akan dialihkan melalui transaksi tutup sendiri (crossing) di pasar negosiasi.

Sejalan dengan hal tersebut, maka akan ada pemindahbukuan atas saham-saham BRMS yang ditransaksikan tersebut dari sub rekening BUMI di kustodian dengan sub rekening atas nama CIC atau afiliasi CIC yang dibuka oleh manajamen BUMI.

Bulan Oktober 2013, telah terjadi crossing saham BRMS sebanyak 2,16 miliar. Total nilai mencapai Rp 579,87 miliar. Dileep enggan menjelaskan, apakah aksi ini cerminan dari upaya perseroan mengumpulkan saham BRMS.
Bakrieland Garap Township Sidoarjo Rp 7 Triliun
Oleh Imam Mudzakir | Selasa, 19 November 2013 | 13:21
investor daily
JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk menggarap proyek hunian (township) di kawasan Sidoarjo, Jawa Timur senilai lebih dari Rp 7 triliun pada akhir 2013. Tahap awal, pengembang properti itu menyiapkan anggaran sebesar Rp 300 miliar.

Direktur PT Bakrieland Development, Agus J Alwi mengatakan, pengembangan kawasan properti di Sidoarjo akan dijadikan pusat bisnis (central business district/CBD) baru di kawasan Jawa Timur. Proyek tersebut bakal mirip dengan kawasan Bintaro dan BSD di Jabodetabek. Sebagai sebuah CBD, proyek tersebut bakal diisi dengan hotel, perkantoran, hunian, tempat komersial, rekreasi, dan shopping center. Total lahan yang dihabiskan untuk proyek itu seluas 500 hektare.

“Akhir tahun ini kami mulai membangun infrastrukturnya, pada tahap awal kami akan sediakan dana sebesar Rp 300 miliar,” kata dia, di Jakarta, beberapa hari lalu.

Menurut dia, pembangunan township ini akan dikerjakan bertahap dan dibagi menjadi dua lokasi. Lokasi pertama akan dibangun di dekat pantai dengan lahan 280 hektare. Sedangkan lokasi kedua dibangun di dekat jalan tol di atas lahan 220 hektare.
Bakrie Telecom Gagal Bayar Bunga Utang Rp 218 Miliar
Angga Aliya – detikfinance
Jumat, 08/11/2013 13:16 WIB

Jakarta -PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) gagal bayar kupon obligasi (bunga surat utang) senilai Rp 218 miliar. Kupon tersebut merupakan bagian dari obligasi perseroan senilai Rp 3,8 triliun yang jatuh tempo Mei 2015.

Seharusnya operator Esia itu membayar kewajibannya pada 7 November 2013 kemarin. Akibatnya, peringkat obligasi perseroan pun turun.

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan peringkat obligasi anak usaha Grup Bakrie itu dari C menjadi CC, seperti dikutip dalam siaran pers, Jumat (8/11/2013). Turunnya peringkat ini juga terjadi pada peringkat utang Bakrie Telecom untuk jangka panjang dalam bentuk rupiah dan dolar.

Meski demikian, Fitch percaya Bakrie Telecom akan mampu melakukan restrukturisasi utangnya dengan mencari sumber pendanaan yang likuid pada masa tenggat setelah jatuh tempo (grace period).

Hingga penutupan perdagangan sesi I, harga saham Bakrie Telecom stagnan di Rp 50 per lembar. Sahamnya sudah hampir tidak bergerak dalam satu tahun terakhir.

(ang/dnl)
Bakrieland akan Bangun Kota Mandiri di Sidoarjo
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 25/10/2013 20:20 WIB

catatan INVESTASI SUPERJANGKAPANJANG @ihsg sejak 2000-2013 sebagai INDIKATOR INVESTASI REKSA DANA SAHAM
Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan mengembangkan lahan tahap awal seluas 30-40 hektar di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur untuk dijadikan Kota Mandiri dengan total lahan 500 hektar.

Direktur Utama ELTY Ambono Janurianto mengatakan dari total lahan yang ada, perseroan akan mengembangkannya menjadi Kota Mandiri yang rencananya akan dilakukan tahun depan.

“Tanah di Sidoarjo ada 500 hektar, gede nggak tanggung-tanggung, duitnya banyak tuh. 500 hektar bisa buat 10 tahun. Untuk tahap awal, kita kembangkan 30-40 hektar dulu, kita siapkan Rp 250 miliar kalau nilai proyeknya Rp 500 miliar,” kata Ambono saat ditemui di Kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Jumat (25/10/2013).

Ia merinci, dari total keseluruhan lahan yang ada pengembangannya akan terbagi 2 bagian. Yang pertama, seluas 280 hektar akan dikembangkan menjadi area wisata air. “Ini nanti kawasannya dekat pantai, ini nanti masih lama,” katanya.

Sementara yang seluas 220 hektar akan digarap menjadi housing theme park dan kawasan komersial termasuk di dalamnya lahan 30-40 hektar yang akan dibangun di tahun depan.

“Nah yang 220 hektar sudah mulai garap housing theme park dan komersial tapi tahap awal 30-40 hektar dulu. Housing segmen menengah atas,” ujar dia.

Ambono mengaku pihaknya akan mengandeng investor lokal untuk sama-sama menggarap rencana bisnisnya ini. “Nanti kita akan cari investor lokal. Itu akan jadi kawasan komersial, area perumahan semacam township,” kata dia.

Dia menambahkan, perseroan telah menyiapkan dana pengembangan proyek tersebut dari internal kas perseroan. “Ini ya dari dalam dananya,” kata Ambono.
(drk/hen)
BRMS punya niat menjual Dairi Prima?
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Rabu, 23 Oktober 2013 | 17:06 WIB

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menandatangani perjanjian strategis (strategic cooperation agreement) dengan korporasi asal China. Perusahaan itu adalah, China Non-Ferrous Metal Industry’s Foreign Engineering And Construction Co. Ltd (NFC).
Muhammad Sulthon, Sekretaris Perusahaan BRMS dalam keterbukaan informasi mengatakan, kejasama dilakukan untuk pengembangan tambang timah dan seng milik PT Dairi Prima Mineral (PTDPM).
“NFC akan membantu perseroan dalam penyediaan dana sebesar 85% dari biaya yang diperlukan untuk pengembangan proyek Dairi,” ujarnya, Rabu (23/10). Keduanya baru akan melakukan studi kelayakan terkait proyek ini.
Selain membantu pendanaan, keduanya juga sepakat bekerja sama untuk keperluan engineering, procurement, dan construction (EPC) untuk proyek Dairi. Selain itu, kerja sama juga dilakukan dalam hal penjualan timah dan seng yang akan diproduksi PTDPM. Tak hanya itu, NFC juga mendapat kesempatan untuk membeli saham PTDPM.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) telah mengakuisisi kontrak konsesi eksplorasi dan produksi
atau Exploration and Production Concession Contract (EPCC) minyak dan gas Blok Buzi di Mozambik,
Afrika, senilai US$ 175 juta atau setara Rp 1,98 triliun.

Sebagaimana diungkapkan dalam keterbukaan informasi Perseroan pada Jumat (18/10), Perseroan
nantinya akan memiliki 75% kepemilikan participating interest sedangkan Pemerintah Mozambik lewat
perusahaan Empressa Nacional de Hidrocarbonetos (ENH) memiliki 25% sisanya.

Wilayah cadangan gas terbukti dan terukur 283 miliar kaki kubik ini ditargetkan memulai produksi
komersil jangka menengahnya pada 2017.(beritasatu/hla)
Laba Perusahaan Energi Bakrie Melonjak 14.480% Jadi Rp 1,7 Triliun
Angga Aliya – detikfinance
Kamis, 17/10/2013 19:42 WIB

Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatat laba bersih US$ 176 juta (Rp 17,6 triliun) di semester pertama 2013. Laba ini melonjak 14.480% dibandingkan posisi pada periode yang sama tahun lalu US$ 1,2 juta (Rp 12 miliar).

“Kenaikan laba bersih perseroan disebabkan penghasilan yang diterima dari penjualan kepemilikan 10% participating interest perseroan di Blok Masela PSC di Laut Arafura,” kata Direktur Utama Energi Mega Imam P Agustino dalam keterangan tertulis, Kamis (17/10/2013).

Selain laba yang melonjak, anak usaha Grup Bakrie itu juga mencatat pertumbuhan penjualan 55% menjadi sebesar US$ 212 juta (Rp 2,12 triliun). Penjualan naik berkat peningkatan produksi minyak dan gas dari sumur-sumur perseroan.

Sumur-sumur itu antara lain blok Kangean PSC (Jawa Timur), ONWJ PSC (Jawa Barat), Bentu PSC (Riau, Sumatera).

“Fokus perseroan saat ini adalah meningkatkan kinerja dari aset-aset yang telah berproduksi dan mengembangkan temuan cadangan pada aset-aset lainnya,” tambahnya.

Ia mengatakan, blok-blok milik perseroan itu akan terus berperan dalam meningkatkan produksi dalam dua tahun ke depan.

(ang/dnl)
Kinerja BUMI Masih Belum Bisa Maksimal

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Kamis, 10 Oktober 2013 | 18:05 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kinerja PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) ke depan masih negatif, dengan harga komoditas di tahun 2014 yang belum pulih.

Dalam risetnya, PT Henan Putihrai masih memberikan outlook negatif terhadap BUMI dengan mempertimbangkan kemungkinan rugi pada laporan keuangan 2013 dan 2014 masih akan terus berlanjut. Walaupun penyelesaian utang adalah langkah yang baik dan berpotensi menaikkan EPS perusahaan pada 2014 atas dasar penurunan porsi beban bunga.

Henan juga mempertimbangkan kemungkinan harga komoditas 2014 yang masih belum pulih. Demikian mengutip hasil risetnya, Kamis (10/10/2013).

Disamping itu, Henan juga mengkhawatirkan isu corporate governance yang akan timbul setelah transaksi swap. Untuk pengurangan utang (deleveraging process) dan efisiensi biaya merupakan hal positif yang masih harus dilakukan Perusahaan di masa mendatang.

Sejak sesi I perdagangan efek Kamis (10/10/2013) hari ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara (suspend) perdagangan saham BUMI dan BRMS. Alasannya kedua saham tersebut telah menandatangani perjanjian untuk menyelesaikan sisa utangnya dengan CIC.

BUMI melakukan penyelesaikan porsi pokok pinjaman sebesar US$1,3 miliar yang akan jatuh tempo pada akhir tahun 2014 dan 2015 kepada China Investment Corporation (CIC). Caranya dalam bentuk penukaran (swap) kepemilikan saham di empat anak usaha BUMI sebesar 42% saham perusahaan di BRMS, dan masing-masing sebesar 19% kepemilikan BUMI di Kaltim Prima Coal KPC, Indocoal Resources Ltd dan Indocoal Kaltim Resources.

BUMI juga akan menerbitkan saham baru senilai US$150 juta atau setara dengan 17% saham baru pada harga sekarang Rp485 per saham. Kemudian sisa pinjamannya akan dikonversikan menjadi pinjaman berjangka waktu 3 tahun pada suku bunga pasar.

Posisi net debt BUMI 1H13 sebesar US$4,5 miliar dengan perkiraan beban bunga pinjaman sebesar US$420 juta per tahun. Walaupun dengan pelunasan hutang pokok sebesar sebesar US$1,3 miliar, porsi hutang BUMI masih tetap besar. [hid]
Saham BUMI dan BRMS Tidak Aktif Sementara

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Kamis, 10 Oktober 2013 | 10:32 WIB

INILAH.COM, Jakarta – BEI menghentikan perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sejak sesi I perdagangan Kamis (10/10/2013).

Langkah BEI tersebut mengacu pada surat BUMI pada 9 Oktober tentang perjanjian untuk menyelesaikan sisa utangnya dengan CIC. Demikian mengutip keterangan resmi BEI, Kamis (10/10/2013).

BEI masih memerlukan informasi lebih lanjut tentang hal tersebut. Langkah ini juga untuk menjaga penyelenggaraan perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien.

Bursa mengharapkan penjelasan dari perseroan dengan keterbukaan informasi tersebut. Saham BUMI saat ini berada di level 485 dan saham BRMS berada di level 275.
Inilah Kesepakatan Pelunasan Utang BUMI

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Kamis, 10 Oktober 2013 | 00:08 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan menyelesaikan utang dengan China Investment Corporation (CIC) dari nilai pokok sebesar US$1,3 miliar.

Kedua pihak telah sepakat untuk mekamisme penyelesaian utang dengan menukar (swap) dengan kepemilikan saham BUMI sebesar 42% di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Untuk 19% kepemilikan saham BUMI pada masing-masing dari PT Kaltim Prima Coal (KPC), Indocoal Resources (Cayman) Ltd dan PT Indocoal Kaltim Resources dan dengan pengeluaran saham baru senilai US$150 juta di dalam BUMI. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Rabu (9/10/2013).

Sementara dengan pinjaman dua tahap (two tranches) yang diterima BUMI dengan jumlah pokok gabungan sebesar US$1,3 miliar (yang akan jatuh tempo pada akhir tahun 2014 dan 2015) akan diselesaikan dan sisanya akan dikonversikan menjadi pinjaman untuk jangka waktu 3 tahun dengan suku bunga yang kompetitif di pasaran.

Dengan penyelesaian ini dapat membuka nilai dan mempercepat pertumbuhan aset sumber daya BUMI. Tujuannya untuk, memenuhi sasaran pengurangan utang (deleveraging objectives), memperkuat struktur permodalan dan keuangan, adanya peluang dan memungkinkan pendanaan yang menguntungkan di masa depan.

VIVA Butuh USD150 Juta untuk Tutup Utangnya
Rabu, 02 Oktober 2013 12:07 wibRezkiana Nisaputra – Okezone Presiden

JAKARTA – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) telah mendapatkan izin dari pemegang sahamnya untuk menjaminkan sebagian besar atau seluruh aset anak usahanya yakni TV One, ANTV dan Vivanews, guna memperoleh pembiayaan.

Presiden Direktur VIVA Erick Thohir mengatakan, hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kondisi perekonomian dunia yang saat ini tidak menentu.

“Perekonomian dunia yang penuh ketidakpastian dan adanya kecenderungan naiknya suku bunga pinjaman internasional,” ujar Erick usai RUPS di studio ANTV, Jakarta, Rabu (2/10/2013).

Menurutnya, VIVA akan mencari pembiayaan di atas USD100 juta dengan bunga yang paling rendah yang diperkirakan hanya 9 persen.

“Kita cari untuk pembiayaan di atas USD100 juta dengan kisaran USD100 juta-USD150 juta. Paling rendah kita dapat bunganya. Kita usahakan bunganya di bawah 9 persen. Dengan persetujuan ini para direksi diberikan mandat untuk bisa mendapatkan pinjaman baru dengan cost of funding yang lebih kompetitif,” tukasnya.

Dia menegaskan, bahwa pihaknya akan melakukan pinjaman pada tiga bank besar di Indonesia. Namun demikian, dirinya belum bisa berkomentar banyak siapa saja bank-bank yang akan ditujunya.

“Dana segar ini nantinya akan digunakan untuk refinancing utang VIVA kepada Deutche Bank yang sebesar USD80 juta, dan sisanya untuk pembangunan convergence media center dalam rangka meningkatkan output inhouse production dan peluncuran platform pay TV Vivasky,” ucapnya.

Adapun hutang yang akan di refinancing tersebut akan jatuh tempo pada Februari 2014.

“Tentu kita berupaya mendapatkan utang yang temponya panjang, bukan short terms dan tentu kita juga berusaha dengan term-term yang lebih baik,” tutup Erick. (wdi)
Kinerja BRMS Semester I Terpuruk
Kamis, 3 Oktober 2013

indofinanz
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada semester pertama 2013 harus menanggung kerugian bersih mencapai US$22.57 juta. Kinerja emiten Group Bakrie itu jelas memburuk dibandingkan periode yang sama tahun 2012 dengan meriah keuntungan bersih US$1.91 juta.

Manajemen BRMS dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia menjelaskan, kerugian disebabkan turunnya pendapatan perseroan dari US#11.96 juta menjadi US$10.31 juta.

Melemahnya penjualan ditambah dengan naiknya beban bunga dan keuangan menjadi US$31.01 juta membuat kinerja semakin terpukul. Bukan itu saja, BRMS juga harus puas menanggung kerugian selisih kurs senilai US$171.23 ribu dari laba forex US$2.53 juta.
Laba Bakrie Sumatera Naik Jadi Rp225,05 M

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Jumat, 27 September 2013 | 17:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) meraih kenaikan laba 98,4% menjadi Rp225,05 miliar pada semester I tahun ini dari periode yang sama tahun 2012 Rp3,5 miliar.

Laba tersebut didukung penurunan beban poko penjualan menjadi Rp667,83 miliar dari Rp1,006 triliun pada semester I 2012. Namun penurunan juga terjadi pada penjualan neto menjadi Rp929,53 miliar dari periode tahun lalu Rp1,5 triliun.

Perseroan juga mengalami penurunan laba bruto menjadi Rp261,7 miliar dari Rp515,9 miliar. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Jumat (27/9/2013).

Namun penguatan terjadi pada laba sebelum pajak menjadi Rp256,6 miliar dari Rp40,2 miliar. Perseroan mencatat penurunan pajak penghasilan menjadi Rp47,8 miliar dari Rp55,4 miliar. Dengan demikian laba bersih mencapai Rp225,05 miliar dari sebelumnya Rp3.5 miliar.

Perseroan mengalami kenaikan tipis untuk aset menjadi Rp19,3 triliun dari Rp18,9 triliun per 31 Desember 2012. Kenaikan juga terjadi pada total liabilitas perseroan menjadi Rp11,6 triliun dari Rp11,06 triliun per 31 Desember 2012.
ELTY Bukukan Laba Rp707,75 Miliar

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Jumat, 27 September 2013 | 09:54 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mencatatkan laba ke pemilik entitas induk mencapai Rp707,75 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp34,58 miliar.

Penghasilan usaha bersih perseroan naik menjadi Rp2,33 triliun pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp926,36 miliar.

Beban pokok penghasilan perseroan naik menjadi Rp865,38 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp452,78 miliar. Laba kotor perseroan naik menjadi Rp1,46 triliun pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp473,57 miliar. Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (27/9/2013).

Perseroan memperoleh laba penjualan dari aset tetap sekitar Rp18,32 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp22 miliar. Total liabilitas perseroan naik menjadi Rp7,31 triliun pada 30 Juni 2013 dari periode 31 Desember 2012 senilai Rp6,07 triliun. Ekuitas perseroan turun menjadi Rp8,02 triliun pada 30 Juni 2013 dari posisi 31 Desember 2012 senilai Rp9,16 triliun. Kas dan setara kas perseroan naik menjadi Rp433,29 miliar pada 30 Juni 2013 dari posisi 31 Desember 2012 senilai Rp268,36 miliar.

Pada perdagangan saham hari ini, saham ELTY bergerak naik 2% ke level Rp51 per saham.

September 24, 2013

bakrie’s GAME (8) (24 September 2013)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — Tag:, — bumi2009fans @ 1:19 am

Para kreditur PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mengatakan bahwa mereka
akan melanjutkan prodesur hukum untuk mendapatkan hasil terbaik dari kasus ini,
berkenaan dengan keputusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang telah menolak
permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap
perusahaan tersebut hari ini. (sindo/dk)
 

Akhirnya nilai akuisisi MNC Land (KPIG) terhadap PT Bali Nirwana Resort, entitas Bakrieland Development (ELTY) diketahui Rp 1,71 triliun, target pendapatan pun diproyeksikan naik minimal 10%. Corporate Secretary MNC Land menyatakan, akuisisi sudah memasuki tahap final, dan sedang menunggu persetujuan dari pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang akan digelar hari ini (19 September). Dana yang digunakan untuk akuisisi sebagian besar berasal dari hasil penawaran umum terbatas (rights issue) pada April 2013. (Bisnis Indonesia)

Sumber : IPS RESEARCH
Selain Bank of New York, Ini Dia Pemberi Utang Bakrieland
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Selasa, 17/09/2013 18:49 WIB

Jakarta – Pihak Bank of New York Mellon selaku penggugat Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atas obligasi yang dikeluarkan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menampik jika permohonan PKPU yang dilayangkan tidak sesuai prosedural resmi. Artinya, tidak mencantumkan nama-nama kreditur pemegang obligasi.

Kuasa Hukum The Bank of New York Mellon Hafzan Taher menyebutkan, adalah fakta yang tak terbantahkan lagi bahwa di samping Bank of New York, Bakrieland juga memiliki kreditur-kreditur lain.

“Kreditur-kreditur itu antara lain PT Bank International Indonesia Tbk, PT Bank Tabungan Negara Tbk, PT Bank Sinarmas Tbk, PT AB Sinar Mas Multifinance, dan Starlights Ltd,” kata Hafzan dalam berkas PKPU seperti yang dikutip detikFinance, Selasa (17/9/2013).

Berdasarkan uraian tersebut, maka terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa syarat Bank of New York dimana Bakrieland mempunyai lebih dari 1 kreditur telah terpenuhi.

Seluruh syarat-syarat untuk mengajukan permohonan PKPU telah dibuktikan secara sederhana. Oleh karenanya, sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Kepailitan, Pengadilan Niaga wajib menjatuhkan PKPU dalam kurun waktu 20 hari sejak permohonan PKPU ini didaftarkan.

“Oleh karena iu kami mohon kepada Majelis Hakim Yang Terhormat untuk mengabulkan permohonan PKPU ini,” ujar dia.

Kuasa hukum Bakrieland yang diwakili Aji Wijaya telah meminta kepada pihak penggugat untuk membuktikan kebenarannya soal kreditur. Hal ini merupakan jurus perseroan. Jika mereka benar-benar pemegang obligasi maka akan ada kejelasan status penggugat.

“Kita minta mereka buktikan di sidang kalau mereka bilang mereka kreditur, selama ini tidak pernah bilang di persidangan kalau mereka kreditur. Harusnya dibuktikan, ini kan harus jelas,” kata Aji.
(drk/dru)
Bakrieland Ingin Tunda Pembayaran Utang, Krediturnya Ogah
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Senin, 16/09/2013 17:44 WIB

Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sudah meminta perpanjangan 60 hari untuk bayar utang obligasi anak usahanya, BLD Investment Pte Ltd, senilai US$ 155 juta (Rp 1,5 triliun). Namun, Bank of New York Mellon selaku kreditur menolak rencana ini.

“Mereka minta sekarang, saya minta 60 hari pembayaran sebagian utang tapi mereka nggak mau,” kata Direktur Utama ELTY Ambono Janurianto dalam media briefing terkait proses hukum PKPU di Hotel Aston Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Senin (16/9/2013).

Anak usaha Grup Bakrie itu sekarang masih menunggu keputusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat soal gugatan Permohonan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang dilayangkan Bank of New York Mellon melalui cabangnya di London, Inggris.

Bakrieland berharap, keputusan yang akan keluar pada 23 September 2013 mendatang akan berpihak padanya. “Keputusan 23 September Senin depan. Kita sih berharap permohonan kita dikabulkan untuk minta diperpanjang pembayaran utangnya,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini para kreditur tetap ngotot untuk meminta pembayaran utang obligasi dipercepat. Utang obligasi ini senilai US$ 155 juta yang akan jatuh tempo pada 2015. Nah, pihak kreditur ingin pembayaran utang Bakrieland ini dipercepat.

Bakrieland masih terus memperjuangkan hak kelonggaran pembayaran utang meskipun negosiasi dengan para kreditur saat ini sudah tidak terjalin lagi.

“Sekarang sih sudah nggak pernah ada pembicaraan lagi dengan mereka. Tapi kita masih berharap keputusannya bisa berpihak kepada kami, mereka memang punya hak untuk PKPU, kami juga punya hak untuk ini,” katanya.

Perusahaan properti Grup Bakrie ini juga sudah berencana menawarkan aset berupa tanah di kawasan Sentul Nirwana, Bogor, seluas 600 hektar untuk pembayaran utang obligasinya itu. Pasalnya, Bakrieland mengaku tak sanggup melunasi utangnya sekaligus.

(ang/dnl)
Terlilit Utang, Perusahaan Properti Bakrie Jual Banyak Aset
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Senin, 16/09/2013 19:02 WIB

Jakarta – Manajemen PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) saat ini tengah fokus untuk bisa melunasi utang-utangnya. Beberapa aset perseroan telah dijual untuk menutupi utang tersebut.

“Kita memang betul-betul akan melakukan divestasi untuk mengurangi utang-utang. Kita menjual beberapa aset,” kata Direktur Utama Bakrieland Ambono Janurianto dalam media briefing dengan manajemen ELTY terkait proses hukum PKPU di Hotel Aston Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Senin (16/9/2013).

Ambono menyebutkan, beberapa aset yang telah dijual menurut pengakuan Ambono yaitu Bakrie Toll Road dan lahan di Sentul Nirwana, Bogor.

“Kita sudah jual aset untuk bayar utang seperti jalan tol dan partisipasi kita di Sentul Nirwana dan memang awalnya hasil penjualan itulah yang akan dialokasikan tapi ada beberapa hal sehingga tidak bisa, sehingga kita lakukan modifikasi dari kesepakatan kita,” kata dia.

Dia merinci, pihaknya telah menjual ruas tol seharga Rp 2,1 triliun. Penjualan tol tersebut sebagian besar uangnya digunakan untuk membayar utang di jalan tol itu sendiri dan utang sindikasi senilai Rp 1,3 triliun.

“Utang bukan hanya di level operation tapi di induknya. Ada juga utang kepada kontraktor dan supplier, dipakai juga untuk utang-utang yang kecil-kecil dan sisanya untuk settlement,” kata dia.

Dia menambahkan, tidak menutup kemungkinan pihaknya juga akan menjual aset-aset lain untuk membayar utang.

“Misalkan kepemilikan di Sentul Nirwana yang sebagian besar profitnya untuk itu untuk bayar utang. Aset-aset kita juga seperti lahan-lahan masih cukup prospektif, landbank ada lebih dari 2.000 hektar, itu nilainya bagus,” ujarnya.

Bakrieland saat ini tengah terlilit pelunasan utang US$ 155 juta (Rp 1,5 triliun). Utang berupa obligasi dari anak usahanya yaitu BLD Investment Pte Ltd ini tengah dituntut untuk dibayar oleh krediturnya. Bakrieland meminta perpanjangan 60 hari untuk pembayaran utang-tersebut. Namun, Bank of New York Mellon selaku kreditur menolak rencana ini.

Mau tahu aset-aset apa saja yang sudah dijual Bakrieland? Ini daftarnya.

(drk/dnl)
Kepemilikan BUMI di BRMS tersisa 26,90%
Oleh Yuwono Triatmodjo – Sabtu, 14 September 2013 | 07:00 WIB

kontan

JAKARTA. Kepemilikan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) atas saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) kembali berubah. Data terakhir, per 10 September 2013 yang direkam biro administrasi efek PT Sinartama Gunita menyebutkan, BUMI hanya memiliki 26,90% saham BRMS. Sementara pemegang saham lain adalah PT Arthatama Duta Lestari (6,14%), PT DMS Investama (8,19%), sisanya masyarakat dengan kepemilikan di bawah 5% (58,77%).

Dalam laporan Sinartama 26 Agustus lalu, BUMI masih menguasai 37,52% saham BRMS. Sementara, kepemilikan PT Arthatama Duta Lestari dan PT DMS Investama relatif sama. Kondisi ini amat timpang jika merujuk pada laporan keuangan BRMS di kuartal I-2013. Saat itu, BUMI tercatat memiliki saham 87,09% saham BRMS.

Manajemen BUMI dalam laporan keuangan akhir tahun 2012 lalu pernah menyebutkan, peralihan saham BRMS yang terjadi hanya sementara. Kala itu, manajemen BUMI menjelaskan, peralihan yang terjadi akibat perjanjian peminjaman saham antara BUMI, PT Long Haul Indonesia dan beberapa pihak lain yang dilakukan tahun 2012.
Energi Mega Persada Habiskan Biaya Eksplorasi US$2,52 Juta
Herdiyan – Kamis, 12 September 2013, 04:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Energi Mega Persaga Tbk (ENRG) telah menghabiskan biaya eksplorasi senilai US$2,52 juta hingga Agustus 2013.

Dalam keterbukaan informasi kepada otoritas bursa, perseroan melakukan tajak sumur seng-2 pada 17 Agustus 2013 dengan mengebor lubang ukuran 8,5 inchi dari permukaan tanah ke kedalaman 587 ft di Blok Bentu PSC, Riau.

Setelah itu, pihaknya melakukan pelebaran lubang menjadi 17,5 inchi, kemudian memasang dan menyemen casing ukuran 13,6 inchi.

Selanjutnya, mengebor tulang ukuran 12,5 inchi hingga kedalaman 830 ft serta memasang dan menyemen casing ukuran 9 5/8 inchi.

“Mengebor lubang ukuran 8,5 inchi dari kedalaman 830 ft hingga kedalaman 1.949 ft dan melakukan electric logging job,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Rabu (11/9/2013).

Editor : Sutarno
Beberapa waktu lalu, BLD Investment Pte Ltd menerbitkan Equity Linked Bonds senilai
155 juta dolar AS dengan suku bunga 8,625 persen per tahun. Obligasi yang akan
jatuh tempo pada 23 Maret 2015 ini dijamin induk usaha BLD Investment Pte Ltd, yaitu
PT Bakrie Development Tbk (ELTY). Namanya juga penjamin (guarantor), artinya ELTY
wajib bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi atas obligasi ini, tak terkecuali urusan pailit.

Mengacu pada keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/9/2013),
Bank of New York cabang London selaku trustee bagi pemegang obligasi yang diterbitkan
BLD Investment Pte Ltd mengajukan gugatan pailit kepada ELTY. Pengajuan pailit
disampaikan melalui Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal
2 September lalu.(tribunnews/az)
Ada Pengajuan PKPU, BEI Suspensi Efek ELTY

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Selasa, 10 September 2013 | 09:41 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek (suspensi) PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) di seluruh pasar mulai sesi pertama perdagangan saham Selasa (10/9/2013).

Hal itu disampaikan Ph. Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Jasa Eddy Nurcahyo dan Ph.Kepala Divisi Perdagangan Saham Rina Hadriyani dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa pekan ini. Suspensi itu dilakukan terkait pengumuman perusahaan mengenai adanya permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) terhadap Perseroan.

Oleh karena itu, untuk menghindari perdagangan yang tidak wajar atas saham Perseroan, BEI memutuskan untuk melakukan suspensi terhadap efek ELTY. Bursa sedang meminta penjelasan lebih lanjut kepada Perseroan. Selain itu, BEI meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh PT Bakrieland Development Tbk.

Sebelumnya, ada permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang yang diajukan oleh The Bank of New York Mellon cabang London terhadap perseroan. Pemohon adalah trustee bagi para pemegang obligasi berdasarkan perjanjian trust pada 23 Maret 2010. Adapun penundaan PKPU yang diajukan itu untuk penerbitan equity linked bond senilai US$155 juta dengan suku bunga 8,625% yang akan jatuh tempo pada 23 Maret 2015.
JAKARTA—PT Bakrieland Development Realty Tbk (ELTY), perusahaan properti milik grup Bakrie menyatakan akan menunda pembayaran bunga obligasi setelah para pemegang obligasi mengajukan exercise put option (percepatan pembayaran).

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (9/9/2013), diketahui The Bank of New York Mellon cabang London, selaku bank trustee (perwakilan pembayaran), mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)  pada Bakrieland melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 2 September 2013.

Adapun bank tersebut ditetapkan menjadi trustee bagi para pemegang obligasi berdasarkan perjanjian trust pada 23 Maret 2010, yang juga memutuskan Bakrieland bertindak menjadi penjamin atas pembayaran obligasi. Sementara BLD Investment Pte Ltd, yang merupakan entitas Bakrieland, bertindak selaku penerbit obligasi.

Seperti diketahui, perjanjian trust tersebut sebagai dasar penerbitan equity-linked bonds atau obligasi berbasis ekuiti senilai US$155 juta dengan suku bunga sebesar 8,625% yang akan jatuh tempo pada 23 Maret 2015.

Menurut perseroan, permohonan PKPU tersebut diajukan sehubungan dengan kewajiban jatuh tempo yang dipercepat. Hal itu karena pemegang obligasi menginginkan agar pembayaran dilakukan lebih awal, yaitu pada 23 Maret 2013.

Sementara itu, pemegang obligasi memiliki hak konversi untuk menukarkan obligasi yang dimilikinya dengan saham perseroan. Konversi dapat dilakukan pemegang obligasi pada atau setelah hari ke-41 setelah tanggal penutupan hingga 7 hari sebelum jatuh tempo obligasi.

Namun, perseroan memiliki hak melunasi jumlah obligasi yang akan dikonversi dengan uang tunai, apabila perseroan tidak memiliki jumlah saham yang cukup untuk dikonversi atau tidak dapat menerbitkan saham yang diperlukan untuk melaksanakan hak konversi.

Lebih lanjut, ini bukan pertama kalinya perseroan menunda pembayaran obligasi. Sebelumnya Bakerieland juga menunda pembayaran obligasi I seri B 2008 yang jatuh tempo 11 Maret 2013.

Saat itu pihak perseroan menuturkan, keterlambatan itu disebabkan program divestasi yang sedang diupayakan perseroan belum dapat diselesaikan sesuai perkiraan semula.

http://bisnis.com/lagi-bakrieland-tunda-pembayaran-obligasi

Sumber : BISNIS.COM
Kisruh obligasi ELTY sampai di pengadilan
Oleh Avanty Nurdiana – Selasa, 10 September 2013 | 06:54 WIB

kontan

JAKARTA. Gara-gara soal utang, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) harus berurusan dengan pengadilan. Emiten Grup Bakrie ini mendapatkan gugatan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Permohonan tersebut datang dari The Bank Of New York Mellon cabang London.
PKPU tersebut, menurut Kurniawati Budiman, Sekretaris Perusahaan ELTY, telah diajukan melalui Pengadilan Jakarta Pusat, 2 September 2013. PKPU tersebut terkait utang obligasi ELTY senilai US$ 155 juta yang terbit pada 23 Maret 2010. “Pemegang obligasi menginginkan obligasi yang dipegang mendapatkan pembayaran lebih awal (exercise put option),” ujarnya di keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/9).
Sejatinya, obligasi bertajuk equity linked bonds senilai US$ 155 juta dan memberi bunga 8,62% per tahun itu, baru akan jatuh tempo pada 23 Maret 2015. Tapi, ELTY mempunyai pilihan untuk mempercepat pelunasan obligasi (put option) sebelum jatuh tempo.
Penerbit obligasi tersebut adalah anak usaha ELTY, BLD Investment Pte. Ltd. ELTY bertindak sebagai penjamin atas obligasi tersebut.
Sebelumnya, manajemen mengaku telah membentuk co-ordinating committee untuk membahas rencana restrukturisasi obligasi tersebut. Dalam proses restrukturisasi tersebut manajemen ELTY, menawarkan perpanjangan utang tiga tahun, dihitung dari saat kreditur mengajukan put option. Jika disetujui, jatuh tempo utang ini menjadi Maret 2016.
Besaran kupon equity linked bond juga dinaikkan sedikit di atas 8,62% per tahun. Bakrieland juga akan menawarkan perubahan bentuk obligasi, dari yang semula tak memiliki jaminan (unsecured loan), menjadi secured loan (atas jaminan).
Ambono Janurianto, Presiden Direktur Bakrieland sebelumnya sangat optimistis, tawaran tersebut bisa membuahkan hasil yang cukup manis.
Namun, ternyata belum juga membuahkan hasil. “Upaya pembahasan restrukturisasi belum berhasil mendapatkan kesepakatan hingga akhir bulan Agustus 2013,” ujar Kurniawati. Namun, dia menegaskan, perusahaan ini sedang membahas intensif dengan co-ordinating committee dalam menyelesaikan permohonan PKPU ini.
Ambono juga pernah mengatakan, jika negosiasi tersebut tidak menemui kata sepakat maka ELTY akan memulai dari awal dan mencicil kewajibannya tersebut. Kreditur yang mengajukan put option mencapai 97,4% dari total obligasi setara US$ 151 juta.
Energi Mega Jual Gas ke Tuah Sekata US$4,7 per MMBtu
Vega Aulia Pradipta – Kamis, 22 Agustus 2013, 15:05 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melalui anak usaha, EMP Bentu Limited telah menandatangani perjanjian jual beli gas dengan Perusahaan Daerah Tuah Sekata terkait penjualan gas dari Blok Bentu seharga US$4,7 per MMBtu.

EMP Bentu Limited adalah anak usaha yang dimiliki 100% oleh Energi Mega Persada, yang sekaligus bertindak sebagai operator di blok yang berada di Riau tersebut.

Perjanjian tersebut berlaku selama 8 tahun sampai dengan Mei 2021. Dalam perjanjian tersebut juga diatur mengenai kenaikan harga jual gas sebesar 3% setiap dua tahun.

Volume produksi gas yang dijual adalah sebesar 3 juta kaki kubik gas per hari (MMscfd), sedangkan total kontraknya adalah hingga sebesar 8,1 miliar kaki kubik gas.

Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino mengatakan SKK Migas sudah menyetujui penjualan gas dari Blok Bentu kepada Perusda Tuah Sekata, yang merupakan BUMD di Kabupaten Pelalawan, Riau.

“Ini menunjukan komitmen yang kuat dari SKK Migas dan EMP Bentu Limited terhadap pengembangan komunitas setempat di Kabupaten Pelalawan,” ujar Imam seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (22/8/2013).

Sepanjang tahun lalu, Blok Bentu memproduksikan gas sebesar 16 MMscfd. Pada semester I/2013, produksi gas meningkat menjadi 28 MMscfd dan diharapkan terus meningkat menjelang akhir tahun ini.

Editor : Ismail Fahmi
Revitalisasi sukses, BTEL cetak laba Rp 101 miliar
Oleh Asnil Bambani Amri – Rabu, 31 Juli 2013 | 16:47 WIB | Sumber Tribunnews

kontan

JAKARTA. Angin segar bagi PT Bakrie Telecom, Tbk (BTEL). Kinerja perusahaan grup Bakrie ini mulai membaik setelah perseroan membukukan laba usaha hingga Rp 101 miliar di semester 1 2013. Kinerja ini cukup signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 yang merugi sebanyak Rp. 287 miliar.
Sementara itu, beban usaha menunjukkan penurunan sebanyak 28% dari Rp 1,4 triliun menjadi Rp 1 triliun di semester 1 tahun 2013. Hal tersebut berimbas positif terhadap peningkatan EBITDA, dari Rp 442 miliar di periode yang sama tahun 2012 menjadi Rp 531 miliar atau naik 20% .
Akan tetapi, karena rugi selisih kurs, beban keuangan dan depresiasi menyebabkan rugi bersih perseroan menjadi Rp 293 miliar. Rugi ini jauh lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 750 miliar.
Menurut Direktur Keuangan BTEL, Bachder Bachtarudin dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (31/7), kinerja BTEL membaik sejalan dengan revitalisasi yang dilakukan BTEL.
“Upaya revitalisasi bisnis dan efisiensi yang kami lakukan berjalan sesuai harapan, kami dapat mempertahankan level pendapatan dan bersamaan dengan menurunnya beban usaha perseroan, sehingga tercapai peningkatan EBITDA yang lebih tinggi pada semester ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya
Dari awal tahun hingga semester 1 tahun 2013, perseroan melakukan berbagai terobosan dalam hal layanan maupun produk, antara lain dengan meluncurkan kampanye dengan muatan lokal : MBOIS untuk daerah Surabaya dan Malang, kampanye Bulan Data Esia untuk mendongkrak jumlah pelanggan data serta peluncuran produk bagi pelanggan voice, pesan singkat maupun data, yakni antara lain MOVI C11, Maxtouch 5.3, Airflash Alcatel One Touch. (Hendra Gunawan/Tribunnews)
Parah, Laba Bakrie & Brothers Nyaris Turun 100%
Rabu, 31 Juli 2013 11:02 wib
Rizkie Fauzian – Okezone

JAKARTA – PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan penurunan laba bersih semester pertama 2013 sebesar 96,0 persen menjadi Rp8,36 miliar dari periode sebelumnya di 2012 yang sebesar Rp214,35 miliar.

Penurunan laba bersih tersebut seiring menurunnya pendapatan selama semester pertama 2013 sebesar Rp1,95 triliun, turun dari perolehan semester pertama 2012 yang mencapai Rp11,39 triliun.

“Memang turun jika dibandingkan dengan perolehan pendapatan semester pertama 2012. Ini disebabkan dekonsolidasi atas anak usaha kami, yakni Bakrie Petroleum International Pte Ltd dan entitas anak,” ujar Direktur Utama Bakrie and Brothers Bobby Gafur, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (31/7/2013).

Adapun perolehan laba perseroan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk menjadi Rp4,86 miliar pada semester pertama 2013 dibandingkan perolehan sebelumnya di 2012 yang sebesar Rp61,23 miliar.

Selain itu, perseroan juga menurunkan porsi utang pada semester pertama 2013. Beban bunga dan keuangan perseroan turun hingga 78 persen atau Rp603 miliar dari Rp775,79 miliar pada semester pertama 2012 menjadi Rp172,78 miliar pada akhir semester pertama 2013.

“Kami berhasil menekan beban-beban secara signifikan, selain kinerja unit-unit usaha manufaktur yang makin cemerlang dan menjadi kontributor utama bagi pendapatan perseroan,” jelasnya.

Sementara itu, anak usaha BNBR, PT Bakrie Building Industries (PT BBI), selama semester pertama 2013 membukukan pendapatan (revenue) sebesar Rp380,73 miliar, meningkat 23 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp308,82 miliar.

Laba bersih sebesar Rp45,82 miliar, naik sebesar 73 persen jika dibandingkan perolehan laba bersih periode yang sama pada 2012 yang mencapai Rp26,48 miliar. “Perolehan laba bersih PT BBI ini bahkan sudah melampaui bujet,” katanya. (wdi)
Lagi, MNC Ambil Alih Aset Bakrie
Senin, 29 Juli 2013 | 20:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Grup Bakrie terus melepas aset-asetnya kepada perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo. Kali ini, PT MNC Land Tbk mengambil alih 19,90 persen saham PT Bali Nirwana Resort dari Sugilite Company Tbk dan PT Bakrie Nirwana Semesta.

Dalam keterbukaan informasi, Senin (29/7/2013) disebutkan bahwa penandatanganan akta jual beli saham telah dilaksanakan pada pekan lalu, tepatnya hari Kamis (25/7/2013). Namun demikian, manajemen MNC Land tidak menyebutkan nilai akuisisi itu.

Terkait dengan pembelian aset milik Grup Bakrie, sebelumnya MNC Land menyatakan bakal mengambil alih utang PT Bakrieland Development Tbk seiring dengan penjualan aset Bakrieland berupa Lido Resort dan lima ruas jalan tol ke Grup MNC.

Chief Corporate Affairs PT Bakrieland Development Yudy Rizard Hakim sebelumnya menjelaskan, penjualan Lido Resort di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan satu kesatuan dengan penjualan saham PT Bakrie Toll Road, anak usaha Bakrieland yang memiliki konsesi atas lima ruas jalan tol.

”Kalau melihat penjualan Lido Resort, harus sepaket dengan jalan tol. Tidak berdiri sendiri. Tujuan penjualan itu adalah untuk mengurangi beban utang perusahaan,” katanya beberapa waktu lalu.
Utang BRMS Tersisa US$336 Juta

Oleh: SenoTri Sulistiyono
pasarmodal – Jumat, 28 Juni 2013 | 15:10 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) menyatakan pada Juni 2013, telah membayar sebagian utangnya sebesar US$100 juta dari total keseluruhan utang sebesar US$436,41 juta.

Setelah membayar sebagian utannya, maka perseroan masih memiliki utang sebesar US$336 juta. Namun, sisa utang tersebut belum dibayarkan perseroan kepada kreditur.

“Memang belum ada transaksi apapun, karena kami mendapat extension hingga September nanti,” kata Investor Relatin BRMS, Herwin Hidayat seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (28/6/2013).

Komut PT Bumi Resources Mineral Tbk, Ari Hudaya mengatakan, utang sebesar US$336 juta diperoleh dari Credit Suisse. Perseroan juga dikabarkan, meminta pihak kreditur untuk mempanjang waktu pembayaran utang atau perseroan melakukan langkah refinancing. [hid]
Nilai Penjualan 10% Blok Masela Capai US$313 Juta
Vega Aulia Pradipta – Jumat, 28 Juni 2013, 19:36 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melalui anak usaha PT EMP Energi Indonesia telah menyelesaikan penjualan 10% kepemilikannya (participating interest/PI) di Blok Masela yang nilainya mencapai US$313 juta.

Perseroan mendivestasikan aset tersebut kepada INPEX Masela Ltd dan Shell Upstream Overseas Services (I) Limited. Berdasarkan catatan Bisnis, angka tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang sebesar US$290 juta atau sekitar Rp2,8 triliun.

Herwin Hidayat, Chief Investor Relations Energi Mega Persada menyatakan harga penjualan aset tersebut merefleksikan nilai pasar dari proyek LNG di Lapangan Abadi, yang berada di blok migas tersebut.

“Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, kami akan menggunakan dana hasil penjualan aset itu untuk melunasi fasilitas pinjaman sebesar US$200 juta dari Credit Suisse, sehingga akan menurunkan beban keuangan perusahaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (28/6/2013).

Selain itu, dana hasil penjualan aset itu juga akan digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja dan belanja modal untuk meningkatkan produksi dari aset-aset yang sudah ada.

Direktur Utama Energi Mega Persada Imam P. Agustino sebelumnya mengatakan memang Blok Masela jika dilihat dari sisi cadangan dan kualitas, itu sangat baik. Namun, karena masih eksplorasi, perseroan juga harus mengeluarkan dana untuk keperluan itu.

“Tapi ini proyek long term, masih eksplorasi. Kebijakan perseroan saat ini fokus pada developing asset dan aset-aset yang sudah berproduksi saja,” jelas Imam.

Adapun, pasca divestasi aset ini, perseroan masih memiliki 215 juta barrel ekuivalen cadangan 2P (dari sebelumnya sebesar lebih dari 500 juta barrel ekuivalen cadangan 2P). Angka itu masih merepresentasikan rata-rata umur produksi migas yang menarik, yaitu lebih dari 15 tahun.

Energi Mega Persada memproduksikan 48.500 barel ekuivalen minyak per harinya sepanjang kuartal pertama tahun ini. Produksi terakhir tertanggal 26 Juni 2013 adalah sebesar 56.340 barel ekuivalen minyak per hari. Saat ini perseroan mengoperasikan total 11 blok minyak, gas, dan gas metana batu bara di wilayah Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.

Editor : Sepudin Zuhri
SELASA, 25 JUNI 2013 | 18:34 WIB
Lepas Blok Masela, Bakrie Untung Dua Kali Lipat

TEMPO.CO, Jakarta – Salah satu unit usaha Grup Bakrie yang bergerak di sektor minyak dan gas, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) bakal memfinalisasi divestasi saham di Blok Masela sebesar 10 persen dalam waktu dekat. Nilai divestasi diperkirakan melonjak hingga lebih dari dua kali lipat ketimbang harga pembelian pada akhir 2010 lalu.

“Nilai divestasi Masela bisa lebih dari US$ 200 juta,” ujar Direktur Keuangan Energi Mega Didit A Ratam yang dijumpai usai Rapat Umum Pemegang Saham perseroan di Hotel Dharmawangsa, Selasa, 25 Juni 2013.

Menurut Didik, valuasi pasti nilai divestasi blok yang memiliki kandungan gas hingga sebesar 13 triliun kaki kubik (TCF) ini baru bisa ditentukan pada saat penekenan divestasi yang kemungkinan berlangsung di akhir bulan ini atau awal bulan depan.

Ia menegaskan, langkah divestasi ini merupakan salah satu strategi perusahaan untuk fokus pada ladang-ladang migas yang sudah masuk tahap pengembangan atau produksi saja. Tidak seperti Blok Masela, yang masih dalam tahap eksplorasi.

Selain itu, dana dari hasil divestasi juga akan digunakan perseroan untuk melunasi utang mereka kepada Credit Suisse yang senilai US$ 228,36 juta yang jatuh tempo pada tahun ini.

Direktur Utama Energi Mega Persada Imam P Agustino menambahkan, dari sisi cadangan jelas investasi di blok gas dengan kapasitas produksi LNG 2,5 juta tahun ini memang cukup menjanjikan dan sayang jika dilepas.

Namun, investasi di blok tersebut nilainya juga tidak kecil apalagi masih dalam tahap eksplorasi alias belum menghasilkan apapun. “Kalau investasi ini kita alihkan pada blok produksi, dalam jangka panjang tambahan volume produksi ini nilainya akan sepadan dan bisa lebih besar,” jelasnya.

Perseroan akan mendivestasikan hak partisipasinya kepada dua pemegang hak partisipasi lainnya yang sudah ada di blok tersebut yaitu Inpex Masela dan Shell Upstream Over Services dengan bagian masing-masing sebanyak 5 persen.

Dengan divestasi ini, maka komposisi pemegang hak partisipasi di blok tersebut menjadi 65 persen untuk Inpex Masela Ltd yang sekaligus merupakan operator dan 35 persen untuk Shell Upstream Over Services.

Energi Mega Persada membeli hak partisipasi Blok Masela sebesar 10 persen dari Inpex Masela senilai US$ 100 juta. Apabila saham partisipasi tersebut dijual dengan harga terakhir sesuai dengan data CLSA Asia Pacific Market, yaitu harga pembelian saham partisipasi Shell kepada Inpex yang senilai US$ 870 juta pada 2011 lalu untuk 30 persen. Diperkirakan, nilai saham divestasi yang dilepas oleh Energi Mega Persada bisa mencapai hingga US$ 290 juta.

GUSTIDHA BUDIARTIE
Bakrie Pipe Industries akan akuisisi tiga pabrik
Oleh Dityasa H Forddanta – Rabu, 12 Juni 2013 | 17:20 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bakrie Pipe Industrie (BPI) bakal gencar berekspansi tahun ini. Anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ini berencana untuk mengakuisisi pabrik berdiameter spesial.

Dibilang pipa berdiameter spesial lantaran pipa ini tidak bisa digantikan dengan pipa jenis PVC. Adapun penggunaan pipa berdiameter 0,5-8 inchi ini nantinya digunakan untuk kebutuhan bangunan-bangunan pencakar langit dan industri energi.

Kendati masih merahasiakan detilnya, tapi Mas Wigrantoro, Chief Executive Officer (CEO) BPI, mengaku, saat ini pihaknya sedang mengincar tiga pabrik pipa baja. “Kami cari yang nilai akuisisinya US$ 10 juta-US$ 20 juta dan berlokasi di pulau Jawa,” imbuhnya, Rabu (12/6).

Dengan akuisi tersebut, manajemen berharap memproduksi pipa baja seberat 143.000 ton hingga akhir tahun nanti. Pada kuartal I 2013, BPI telah memproduksi hingga 93.000 ton. Target produksi itu sebenarnya sudah direvisi dari sebelumnya 113.000 ton.

“Kuartal pertama saja sudah segitu, makanya kami lakukan revisi target,” pungkas Wigrantoro.
JUM’AT, 07 JUNI 2013 | 19:19 WIB
Alasan Anak Usaha Bakrie Belum Laporkan Kinerja

TEMPO.CO, Jakarta – Otoritas Bursa Efek Indonesia pada Rabu, 5 Juni 2013, lalu melaporkan ada 20 emiten yang belum melaporkan laporan keuangan tahunan kepada otoritas hingga batas waktunya akhir Mei lalu.

Dua di antara emiten tersebut yakni anak usaha Grup Bakrie, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).

Sekretaris Perusahaan Bakrieland Kurniawati Budiman, dalam keterangan tertulisnya kepada BEI mengatakan, perseroan saat ini belum dapat mengeluarkan laporan keuangan tahunan 2012 maupun triwulan pertama 2013. Sebab, perseroan masih menunggu laporan keuangan dari Bakrie Toll Road yang sudah didivestasi pada tahun lalu.

Kurniawati menjelaskan, secara pencatatan, laporan buku Bakrie Toll Road hingga Oktober 2012 dikonsolidasikan ke laporan keuangan perseroan. “Namun dengan fakta bahwa secara de facto Bakrie Toll Road telah diambil alih kepemilikannya dan kepengurusan, hingga saat ini belum ada laporan keuangan tahunan maupun per 31 Oktober 2012,” ujarnya.

Dia berjanji akan segera melaporkan laporan keuangan kepada BEI setelah mendapatkan laporan dari Bakrie Toll Road. Meski begitu, Kurniawati tidak menyebutkan kapan pastinya perseroan akan mempublikasikan laporan tersebut.

Sebelumnya BEI memaparkan dari 20 perusahaan yang belum memberikan laporan keuangan, hanya satu emiten yang memberikan informasi kepada Bursa soal keterlambatan penyerahan laporan keuangan mereka, yaitu PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk.

Sedangkan sisanya tidak memberikan informasi apa pun, termasuk di antaranya perusahaan milik Bakrie, seperti Bakrie Sumatra Plantations dan Bakrieland.

Adapun sisa perusahaan yang belum memberi laporan keuangan 2012 antara lain PT Polychem Indonesia, PT Atlas Resources, PT Asia Natural Resources, PT Eksploitasi Energi Indonesia, PT Davomas Abadi.

RIRIN AGUSTIA
Bumi Plc endus keanehan di BRAU
Oleh Agustinus Beo Da Costa – Sabtu, 01 Juni 2013 | 06:10 WIB

Tkontan

JAKARTA. Bumi Plc, pemilik 84,7% PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Jumat (31/5), merilis laporan keuangan tahun 2012. Dalam rilis yang dikeluarkan Bumi Plc, entitas asal Inggris itu mengaku membukukan rugi bersih hingga US$ 2,32 miliar, jauh lebih besar dari kerugian tahun 2011 senilai US$ 337 juta.
Isi laporan keuangan itu kian seru, saat Bumi Plc menyimpulkan adanya penyimpangan keuangan atau financial irregilarities dengan jumlah signifikan pada laporan keuangan dan neraca BRAU. Hal ini terungkap dalam rilis kinerja oleh manajemen Bumi Plc kemarin dalam situs resminya.
Dalam rilis dijelaskan, seiring selesainya proses review pada Mei 2013, tim audit BRAU menyimpulkan ada dua pembayaran (payment) senilai US$ 152 juta di tahun 2012 dan US$ 49 juta di tahun 2011 yang tidak bisa dibuktikan secara jelas tujuan bisnisnya. Karena itu, dewan direksi Bumi Plc lantas menyatakan dua pengeluaran senilai US$ 152 juta di tahun 2012 sebagai pengeluaran lain-lain atau exceptional cost pada laporan keuangannya.
Pengeluaran sebesar US$ 152 juta itu oleh manajemen BRAU sebelumnya dilaporkan sebagai pengeluaran untuk hauling road (jalan tambang) dan konstruksi yang sedang berlangsung senilai US$ 79 juta. Selain itu, BRAU juga mencantumkan transaksi pembayaran tanah sebesar US$ 42 juta serta US$ 5 juta dicatatkan sebagai goodwill. Pengeluaran lainnya senilai US$ 24 juta juga dilaporkan sebagai biaya konsultasi tambahan yang kemudian direklasifikasikan sebagai biaya lain-lain.
Sedangkan, pengeluaran misterius pada tahun 2011 senilai US$ 49 juta, oleh manajemen BRAU, sebanyak US$ 45 juta dilaporkan sebagai reklasifikasi atas harga pokok penjualan (sale cost). Sedangkan, sekitar US$ 4 juta dicatatkan sebagai aset yang sedang dibangun. Sebenarnya masih ada US$ 20 juta sebagai pendapatan pajak tambahan yang kemudian dihapusbukukan (write off).
Padahal pada pertengahan April 2013 lalu, tim audit BRAU hanya mengungkap adanya pengeluaran tahun 2012 senilai US$ 56 juta bagi hauling road dan overburden removal yang tidak memiliki bukti transaksi kuat. Selain itu, masih ada pembayaran kompensasi tanah senilai US$ 38 juta yang tidak bisa divalidasi. Review tersebut juga mengidentifikasi adanya beban-beban yang tidak dimasukkan dalam neraca kas.
Sebagai tindak lanjut, Bumi Plc beserta manajemen baru BRAU di bawah komando Eko Santoso Budianto, akan melaporkan temuan ini kepada Litigation Comitte dan mengambil setiap langkah yang perlu terhadap mereka yang diduga bersalah dalam penyimpangan itu. “Bumi Plc dan Berau akan melakukan semua langkah dan cara yang perlu untuk mendapatkan kembali dan memulihkan semua pengeluaran yang tidak jelas dengan melibatkan badan-badan regulator yang terkait,” terang manajemen Bumi Plc dalam rilsinya.
Sekedar mengingatkan, Eko menduduki Presiden Direktur BRAU, setelah Rosan Perkasa Roeslani menyatakan mundur dari orang nomor satu di BRAU. Pengangkatan Eko disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BRAU, 7 Maret 2013.
Saat dikonfirmasi kemarin, juru bicara BRAU, Bintoro Prabowo mengatakan, kerugian yang muncul dalam laporan keuangan merupakan hasil proses reklasifikasi atas biaya-biaya yang tidak memiliki bukti-bukti memadai. BRAU telah mengklasifikasikan kembali biaya pengeluaran lain dan membebankan pada tahun berjalan.
Menanggapi kisruh ini, Nathaniel Rothschild (Nat Rothschld), yang juga menjadi pemegang saham Bumi Plc mengatakan, pengumuman tersebut merupakan bukti adanya ketidakjujuran yang terjadi akibat inkompetensi dan rasa puas diri. Dalam pernyataan tertulisnya kepada KONTAN, Nat Rothschild mengaku, sudah sejak bulan Desember 2012, ia mengingatkan Direksi Bumi Plc akan adanya penyalahgunaan jabatan yang mengerikan.
Bakrie jual 10% saham Blok Masela
Oleh Azis Husaini – Selasa, 28 Mei 2013 | 12:16 WIB

kontan

JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) hari ini (28/5) melaporkan telah menandatangani perjanjian untuk menjual 10% saham di Blok Masela PSC, proyek Lapangan Abadi, Maluku kepada Inpex Masela Ltd dan Shell Upstream Overseas Limited.

Seperti diketahui sebelumnya, hak kepemilikian Lapangan Abadi sebanyak 60% saham dikuasai Inpex Masela, perusahaan asal Jepang, yang juga bertindak sebagai operator. Selebihnya, sebanyak 30% dipegang oleh perusahaan asal Belanda, Shell Upstream Overseas SEvices Ltd, dan 10% saham dimiliki oleh EMP Energi Indonesia.

Cadangan gas di Lapangan Abadi diproyekasikan mencapai 6,05 triliun kaki kubik (TCF) dengan produksi kondensat mencapai 8.400 barel per hari (bph). Adapun kebutuhan investasi untuk untuk pengembangan blok Masela diperkirakan mencapai sekitar US$ 9-10 miliar.

Menurut keterangan tertulis di situs resmi ENRG, dana hasil penjualan tersebut bakal digunakan untuk mengurangi fasilitas pinjaman luar biasa dan akan digunakan untuk membiayai modal kerja dan belanja modal untuk meningkatkan produksi.
GRUP BAKRIE: Sumatera Plantations Rugi Bersih Rp1,068 triliun
Vega Aulia Pradipta – Jumat, 24 Mei 2013, 19:47 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA-PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatat rugi bersih tahun berjalan selama 2012 sebesar Rp1,068 triliun, anjlok dari 2011 yang masih mencatat laba bersih sebesar Rp746 miliar.

Keterangan resmi perseroan hari ini (24/5/2013) mengungkapkan dari sisi penjualan, penjualan netto mencapai Rp2,485 triliun, turun 31,84% dari 2011 sebesar Rp3,646 triliun.

Seiring dengan penurunan penjualan netto, beban pokok penjualan juga turun 21,54% dari Rp2,214 triliun menjadi Rp1,737 triliun. Perseroan berhasil menekan biaya operasional dari Rp535 miliar, turun 27,47% menjadi Rp388 miliar.

“Meski rugi bersih, tapi secara operasional perseroan masih mencatat keuntungan [operating profit] sebesar Rp361 miliar,” ujar Direktur Utama Bakrie Sumatera Plantations, Bambang Aria Wisena.

Dia menjelaskan rugi bersih tahun lalu lebih disebabkan oleh beban-beban yang sifatnya non-cash. Turunnya kinerja perseroan tahun lalu terutama disebabkan oleh turunnya harga komoditas sawit dan karet serta adanya gangguan logistik di sejumlah pelabuhan pada kuartal IV/2012.

“Tahun lalu bukan tahun yang ringan bagi industri perkebunan sawit dan karet, tidak terkecuali bagi perseroan,” ujarnya.

Meski demikian, perseroan optimistis harga komoditas akan membaik di masa mendatang. Menurutnya, industri perkebunan kelapa sawit dan karet akan tetap tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan global.
Saham Grup Bakrie kompak menguat
Oleh Yuwono Triatmodjo – Selasa, 21 Mei 2013 | 17:54 WIB

kontan

Hari ini (21/5) beberapa saham Grup Bakrie ditutup positif. Lonjakan paling besar dipimpin saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang berakhir di posisi Rp 760 per saham, alias naik 8,57% dari hari sebelumnya. Berikutnya disusul saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang menguat 4,35% menjadi Rp 360 per saham.
Selain itu, ada juga saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) yang berakhir di Rp 53 per saham, atau menanjak 3,92%. Posisi selanjutnya diisi saham PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) yang menguat 3,49% ke level Rp 89 per saham. Dan terakhir saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang naik 2,19% ke posisi Rp 140 per saham.
Khusus BUMI, volume perdagangan emiten gacoan Grup Bakrie itu hari ini diperdagangkan dengan volume 157,15 juta saham. Angka tersebut mencapai dua kali lipat dari rata-rata perdagangan dalam tiga bulan terakhir yang sebesar 96,10 juta saham. Hari ini, RHB OSK Securities Indonesia tercatat sebagai broker yang melakukan pembelian bersih saham BUMI terbesar, dengan nilai Rp 13,14 miliar.
Perusahaan Energi Bakrie Raup Laba Rp 142 Miliar, Naik 30%
Angga Aliya – detikfinance
Senin, 13/05/2013 11:01 WIB

Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatat laba bersih US$ 15 juta (Rp 142,5 miliar) di akhir 2012, laba ini naik 30% dari periode yang sama tahun lalu US$ 11 juta (Rp 104 miliar).

Perseroan juga membukukan penjualan bersih dan EBITDA masing-masing sebesar US$ 654 juta dan US$ 342 juta. Menurut Direktur Utama ENRG Imam Agustino, peningkatan omzet dan laba itu didorong oleh kenaikan harga jual gas, dan peningkatan rata-rata produksi harian.

Ia menambahkan, kepemilikan perseroan di blok ONWJ PSC sebesar 18,73% telah memberikan tambahan produksi sebesar 12.400 barel ekuivalen per hari pada tahun 2012.

“Salah satu blok kami yaitu Kangean PSC juga memberikan kontribusi sebesar 10.400 barel ekuivalen per hari melalui lapangan gas Terang dalam tahun yang sama,” kata Imam dalam siaran pers, Senin (13/5/2013).

Dari Juli sampai Desember 2012 (semester 2 tahun 2012), blok Kangean PSC telah memproduksikan gas rata-rata sebesar 270 juta kaki kubik gas per hari (100% kepemilikan).

Blok tersebut dapat berproduksi sampai dengan maksimum kapasitas 300 juta kaki kubik gas per hari (100% kepemilikan). Kangean PSC dimiliki 50% oleh ENRG, 25% oleh Japex Co., Ltd. (Japan), dan 25% oleh Mitsubishi Corporation (Japan).

(ang/dnl)

Mei 6, 2013

Bakries’ GAME (7) (0605/2013)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:00 am

MINGGU, 05 MEI 2013 | 14:12 WIB
Bakrie Telecom Merugi Rp 97,47 Miliar

TEMPO.CO, Jakarta – Bakrie Telecom Tbk (BTE) mencatatkan rugi bersih pada kuartal pertama 2013 sebesar Rp 97,47 miliar. Angka itu turun dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 355,62 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama perseroan yang belum diaudit, penurunan rugi BTEL didapat dari ditekannya beban usaha menjadi Rp 532,117 miliar dari Rp 696,96 miliar pada tahun sebelumnya. Beban bersih lain-lain juga turun dari Rp 266,365 miliar menjadi Rp 170,91 miliar.

Walau masih merugi, perusahaan yang dipegang oleh Anindya Bakrie ini mencatat kenaikan pendapatan tipis selama Januari-Maret 2013 sebesar Rp 582,49 miliar dari Rp 525,59 miliar pada tahun sebelumnya. Sumbangan terbesar datang dari pendapatan jasa telekomunikasi sebesar Rp 615,98 miliar. Sedangkan sumbangan kedua didapat dari sektor pendapatan jasa interkoneksi Rp 67,96 miliar, sebelum dipotong beban dan potongan harga.

RIRIN AGUSTIA
Laba Perusahaan Media Bakrie Naik 180 Persen
Penulis : Didik Purwanto | Jumat, 3 Mei 2013 | 16:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Laba bersih PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) di kuartal I-2013 naik 180 persen dari Rp 200 juta menjadi Rp 3,6 miliar, yang salah satunya disumbang oleh efisiensi biaya pembuatan program dan penyiaran.

Presiden Direktur VIVA Erick Thohir mengatakan sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, pendapatan perseroan tercatat naik 27,5 persen dari Rp 244,8 miliar menjadi Rp 312,2 miliar.

“Kenaikan kinerja yang positif ini menunjukkan bahwa VIVA sudah berada pada arah yang benar,” kata Erick dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (3/5/2013).

Dalam hal pendapatan sebelum bunga, pajak dan amortisasi (Ebitda), perusahaan ini juga mengalami kenaikan 61,4 persen dari Rp 54,6 miliar menjadiRp 88,1 miliar. Sementara itu, lonjakan marjin Ebitda dipicu oleh stabilnya biaya program dan penyiaran (broadcast) yang hanya meningkat Rp 500 juta menjadi Rp 87,3 miliar, dengan demikian rasio beban pos tersebut menurun dari 35,5 persen menjadi 28 persen.

“Stabilnya biaya program dan broadcast merupakan hasil dari upaya mengkontrol struktur biaya dan sinergi antar entitas anak perusahaan yang semakin solid namun tetap menghasilkan pendapatan yang optimal,” tambahnya.

Ke depannya, Erick menambahkan, VIVA akan terus menerapkan strategi melalui penayangan konten-konten yang berkualitas sehingga dapat menghibur para pemirsa di seluruh tanah air. Pada perdagangan saham VIVA hari ini turun 30 poin (5,36 persen) ke Rp 530 per saham.

Editor :Bambang Priyo Jatmiko

Rapor BRMS kuartal I jeblok
Oleh Dea Chadiza Syafina – Rabu, 01 Mei 2013 | 11:45 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatatkan kerugian pada kuartal I 2013. Rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas (induk) atau rugi bersih BRMS adalah sebesar US$ 7,94 juta. Berbeda dari periode sebelumnya yang untung US$ 62.871.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja negatif BRMS adalah akibat berkurangnya pendapatan dan beban usaha. Pendapatan BRMS mengalami penurunan 10,15% menjadi US$ 6,32 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 7,03 juta.

Padahal, beban usaha turun 26,23% menjadi US$ 2,46 juta dari US$ 3,33 juta. Dengan begitu, laba usaha BRMS hanya naik tipis 5,2% menjadi US$ 3,88 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 3,69 juta.

Dalam laporan keuangan tahun buku kuartal I, BRMS mendapatkan pendapatan bunga signifikan 226,73% menjadi US$ 3,82 juta dari US$ 1,17 juta. Lalu, entitas dengan kode saham BRMS ini justru memperoleh rugi kurs sebesar US$ 1,21 juta dari sebelumnya memperoleh laba kurs US$ 3 juta.

Kinerja anak usaha grup Bakrie ini secara signifikan ditekan oleh beban lain-lain yang melonjak menjadi US$ 19,69 juta dari US$ 9,03 juta.

Hitungan tersebut membuat BRMS rugi konsolidasi sebesar US$ 16,10 juta dari sebelumnya rugi US$ 4,08 juta. Kerugian bersih yang dicatatkan perseroan juga turut mempengaruhi rugi per 1.000 saham dasar US$ 0,31 dari rugi US$ 0,0025.

Sementara itu, ekuitas perseroan juga berkurang 1,12% menjadi US$ 1,44 miliar dari US$ 1,45 miliar di akhir 2012. Aset perusahaan tambang ini meningkat tipis 0,04% menjadi US$ 1,98 miliar di kuartal pertama 2013 dari US$ 1,98 miliar di akhir tahun lalu, namun hal tersebut lebih diakibatkan oleh bertambahnya kewajiban sebesar 3,25% menjadi US$ 546,86 juta dari US$ 529,64 juta.

Energi Mega Tambah Kepemilikan di Blok Tonga
Kepemilikan participating interest menjadi 94,28 persen.
ddd
Jum’at, 19 April 2013, 19:12 Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – PT Energi Mega Persada Tbk menambah kepemilikan participating interest secara tidak langsung sebesar 41 persen di blok Tonga PSC.

Dalam keterangan tertulisnya, Jumat 19 April 2013, manajemen Energi Mega mengatakan, penambahan itu dilakukan melalui pembelian saham milik PT Capitalinc Investment Tbk dan PT Capital Petroline senilai US$41,7 juta.

“Untuk itu, Energi Mega telah efektif menambah kepemilikan participating interest-nya di Blok Tonga PSC dari sebelumnya 53,43 persen menjadi 94,28 persen,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada, Imam Agustino.

Imam menjelaskan, banyak prospek yang dapat dikembangkan dari blok Tonga PSC itu. “Kami berharap dapat memproduksi cadangan dan sumber daya minyaknya dalam waktu dekat,” ujarnya.

Tonga PSC adalah blok minyak yang telah berproduksi dan terletak di Sumatera Utara. Blok tersebut memiliki cadangan minyak terbukti dan terukur (2P) sebanyak 3,54 juta barel dan sumber daya prospektif 61 juta barel.

VIVA Raup Laba Rp 72,9 Miliar
Tribunnews.com – Senin, 8 April 2013 12:30 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) membukukan laba bersih sebesar Rp 72,92 miliar sepanjang 2012. Angka tersebut diketahui naik 177 persen dibandingkan dengan laba bersih 2011 sebesar Rp 26,26 miliar.

Dalam laporan keuangan perseroan, kenaikan laba bersih dipicu kenaikan pendapatan menjadi Rp 1,24 triliun dari sebelumnya pada 2011 sebesar Rp 992,63 miliar.

Sementara, total aset perseroan sepanjang 2012 menyentuh angka Rp 2,99 triliun naik 23 persen dibandingkan total aset 2011 sebesar Rp 2,42 triliun.

Penulis: arif wicaksono | Editor: sanusi
Ada 52 emiten yang belum serahkan lapkeu 2012
Oleh Dea Chadiza Syafina – Senin, 08 April 2013 | 12:32 WIB

kontan

JAKARTA. Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menginformasikan, terdapat 52 emiten yang hingga 1 April 2013 belum juga menyampaikan laporan keuangan audit yang berakhir 31 Desember 2012. Dari daftar nama ke 52 emiten tersebut, tujuh di antaranya berasal dari emiten grup Bakrie.

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Riil BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, dari mereka yang belum menyerahkan laporan keuangannya, baru ada tiga emiten yang menyampaikan informasi penyebab keterlambatan penyampaian laporan keuangan. Sedangkan 49 emiten belum menyampaikan informasi apapun.

Terkait hal tersebut, BEI akan menerapkan sejumlah sanksi kepada emiten tersebut. Sanksi akan mengacu pada ketentuan II.6.1. Peraturan BEI I-H. Berdasarkan peraturan I-H, sanksi peringatan tertulis I tidak menyertakan detil denda yang harus dibayarkan emiten jika terlambat menyampaikan laporan keunagan. Denda hanya diberikan untuk sanksi peringatan tertulis II dan III dengan besaran masing-masing Rp 50 juta dan Rp 150 juta.

“Kami telah memberikan peringatan tertulis I kepada perusahaan tercatat yang tidak memenuhi kewajiban penyampaian laporan keuangan auditan 2012 secara tepat waktu,” kata Nyoman Yetna seperti dikutip dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (8/4).

Selain itu, Yetna juga mengungkapkan, untuk tujuh emiten yang belum wajib menyampaikan laporan keuangan, satu emiten mengikuti aturan Bapepam-LK no X.K.7. tentang Jangka Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Berkala Dan Laporan Tahunan Bagi Emiten dan Perusahaan Publik Yang Efeknya Tercatat Di BEI dan Bursa Efek Negara lain. Di mana dalam aturan tersebut tercantum poin bahwa batas waktu penyampaian laporan keuangan berkala kepada regulator dan otoritas mengikuti ketentuan di negara lain tersebut. Emiten tersebut adalah PT Indosat (Persero) Tbk (ISAT).

Adapun untuk enam emiten lainnya, alasan belum diwajibkannya menyampaikan laporan keuangan 2012 oleh BEI adalah karena adanya perbedaan tahun buku dimana pada PT Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI), PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI), PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) dan PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), tahun buku berakhir pada Maret.

Untuk dua emiten lainnya, PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk (SOBI), tahun buku berakhir pada Mei dan PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) berakhir pada September.

Aburizal Bakrie: Semua Dijual di Harga yang Tepat

Angga Aliya – detikfinance
Rabu, 03/04/2013 11:36 WIB

Jakarta - Pemilik Kelompok Usaha Bakrie sekaligus kandidat calon presiden Republik Indonesia 2014, Aburizal Bakrie, memberi sinyal perusahaan-perusahaannya siap dijual. Penjualan akan dilakukan jika ada harga yang sesuai.

Hal ini terungkap dalam artikel Financial Times yang mewawancarai Aburizal Bakrie soal pencapresan dan situasi bisnisnya. Financial Times membeberkan, Grup Bakrie sedang berencana membeli kembali saham perusahaan tambangnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Bumi Plc, namun masih kekurangan uang.

Sehingga, beberapa analis menilai, Grup Bakrie harus menjual salah satu perusahan medianya demi mendapatkan uang, seperti tertulis dalam artikel Financial Times tersebut.

“Semuanya dijual di harga yang tepat,” katanya seperti dikutip detikFinance dari Financial Times, Rabu (3/4/2013).

Seperti diketahui, beredar kabar Grup Bakrie berniat menjual kepemilikan sahamnya di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), anak usahanya yang bergerak di bidang media massa. Beberapa yang kabarnya melakukan penawaran adalah pengusaha lokal Chairul Tanjung (CT) dan Pemilik Grup MNC Hary Tanoesoedibjo.

Rumor yang beredar, kesepakatan jual beli sudah terjadi dengan CT di harga Rp 1.200 per lembar, jauh lebih tinggi dari harga di pasar yang hanya Rp 650 pada perdagangan kemarin.

Beberapa pelaku pasar menilai rumor itu sengaja disebarkan demi menggenjot harga saham VIVA, karena belum ada kesepakatan atas perjanjian jual beli saham itu.

Untuk melihat aset-aset Bakrie yang sudah dan akan dijual, klik di sini.

(ang/dnl)

Kontribusi Laba Newmont ke Bumi Minerals Turun
Perseroan mencatat pendapatan sebesar US$22,21 juta pada 2012.
ddd
Selasa, 2 April 2013, 17:13 Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – Seperti telah diantisipasi sebelumnya, kontribusi laba bersih dari PT Newmont Nusa Tenggara terhadap PT Bumi Resources Minerals Tbk mengalami penurunan. Kondisi tersebut karena penurunan produksi yang bersifat sementara di lokasi tambang Batu Hijau, akibat pengembangan fase 6 yang tengah berlangsung.

Produksi emas NNT turun dari 308 ribu oz pada 2011 menjadi 68 ribu oz selama 2012.

“Setelah pengembangan fase 6 dapat diselesaikan, NNT diharapkan dapat meningkatkan produksinya secara signifikan pada 2013,” kata Vice President Investor Relations, Bumi Resources Minerals, Herwin W. Hidayat, dalam keterangan tertulis, Selasa 2 April 2013.

Herwin menjelaskan, terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi pada 2012, Bumi Resources Minerals masih dapat mempertahankan rasio pinjaman bersih terhadap modal yang cukup baik, yaitu di bawah 0,3 kali.

Selain itu, dia menambahkan, perusahaan mampu mencapai beberapa kemajuan dalam kinerja operasinya. Pada Juli 2012, perseroan mendapatkan izin eksploitasi melalui penambangan bawah tanah untuk konsesi tambang seng dan timah hitamnya di Sumatera Utara (Dairi Prima Mineral) dari pemerintah.

Selanjutnya, pada Agustus 2012, pimpinan operasi Newmont Asia Pasifik, dalam acara konferensi tambang di Australia, menyampaikan kepada publik bahwa lokasi tambang Elang di NNT memiliki prospek jumlah deposit yang lebih besar dari tambang emas Boddington, yang saat ini memiliki cadangan emas 19,5 juta oz dan tembaga 2,2 miliar lb.

“Pada September 2012, Bumi Resources Minerals juga melaporkan estimasi sumber daya berdasarkan standar JORC sebesar 292 juta ton bijih dari konsesi tambang dan emas di Gorontalo Minerals, Sulawesi,” tuturnya.

Selama 2012, perseroan mencatat pendapatan sebesar US$22,21 juta, atau meningkat dibanding tahun sebelumnya US$20,83 juta. (eh)

Melejit 20,3%, saham VIVA menjadi mover IHSG
Oleh Barratut Taqiyyah – Senin, 01 April 2013 | 09:39 WIB

kontan

JAKARTA. Saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) menjadi masuk salah satu saham mover pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini (1/4). Data RTI menunjukkan, pada pukul 09.32, saham anak usaha Grup Bakrie ini melejit 14,81% menjadi Rp 620. Bahkan, pada transaksi sebelumnya, saham VIVA sempat bertengger di level Rp 650 atau melambung 20,3%.

Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, sejumlah sekuritas yang paling banyak memborong saham ini di antaranya: Indo Premier Securities senilai Rp 10,220 miliar, Waterfront Securities Indonesia senilai Rp 3,642 miliar, dan Phillip Securities senilai Rp 2,161 miliar.

Aksi beli terhadap saham VIVA masih berkaitan dengan rumor akuisisi yang berkembang di market. Dikabarkan, banyak pihak yang berminat untuk mengakuisisi saham VIVA. Salah satunya adalah Chairul Tanjung.

Kepada Reuters, pengusaha yang sedang naik daun itu mengaku memang hendak membeli VIVA dengan dana cash. CT berkata bahwa CT Corp hendak mengakuisisi saham pengendali VIVA seorang diri, tanpa partner manapun.

BNBR kurangi 40% utang, laba bersih masih turun
Oleh Dea Chadiza Syafina – Minggu, 31 Maret 2013 | 21:24 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengklaim dapat terus menekan beban utang di tahun 2013. Direktur Utama & CEO BNBR Bobby Gafur Umar mengatakan bahwa BNBR sudah berhasil mengurangi utang Rp 4,27 triliun di tahun 2012.

Menurut Bobby, posisi akhir utang PT Bakrie & Brothers Tbk sepanjang 2012 sebesar Rp 6,44 triliun. Nilai utang tersebut sudah berkurang dibandingkan 2011 yang mencapai Rp 10,71 triliun. Artinya, utang BNBR berkurang 39,87% dalam setahun.

Bersamaan dengan itu, kata Bobby, beban bunga juga otomatis menyusut. Dari Rp 2 triliun pada 2011, menjadi sebesar Rp 1,19 triliun pada 2012.

“Penurunan beban utang dan bunga pinjaman ini meringankan beban keuangan perseroan sepanjang tahun 2012,” kata Bobby melalui pernyataan tertulis yang diterima KONTAN pada Minggu (31/3).

Laba dan pendapatan merosot

Walaupun begitu, kinerja BNBR sepanjang 2012 tak secepat itu membaik. Bobby mengatakan, BNBR meraup pendapatan Rp 15,48 triliun di 2012. Berdasarkan data keuangan BNBR di Reuters, pendapatannya tahun 2011 mencapai Rp 16,14 triliun. Artinya, pendapatan BNBR tahun lalu merosot 4,09%.

Sedangkan laba bersih BNBR di 2012 mencapai Rp 354,87 miliar, turun 21,47% dari laba bersih Rp 451,89 miliar di 2011.

Namun dalam rilisnya, Bobby tetap mengatakan bahwa unit-unit usaha BNBR dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kinerja yang semakin baik sehingga mendukung pendapatan BNBR. Tahun 2012, unit-unit usaha perseroan menyumbang 66% dari total pendapatan BNBR dengan nilai mencapai Rp 10,11 triliun.

Hary Tanoe pastikan ELTY sudah terima pembayaran
Oleh Issa Almawadi – Rabu, 13 Maret 2013 | 10:30 WIB

kontan

JAKARTA. Hary Tanoesoedibjo menyatakan proses penjualan PT Bakrie Toll Road (BTR) oleh PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) kepada Grup MNC sudah kelar di akhir tahun lalu. ELTY juga sudah menerima pembayaran dari MNC.

Itulah pernyataan Hary Tanoesoedibjo selaku CEO Grup MNC melalui pesan singkat kepada KONTAN, Selasa (12/3). “Sudah selesai,” tulis Hary.

Ia menambahkan, divestasi BTR rampung pada Desember 2012 dan pihak ELTY sudah menerima dananya. Dengan begitu, transaksi tersebut sudah sesuai dengan target yang ditetapkan ELTY pada tahun lalu.

Pada awal Desember 2012, Presiden Direktur ELTY Ambono Janurianto membenarkan bahwa Hary Tanoe akan mengambilalih BTR. Namun saat itu, Ambono bilang, transaksi belum selesai meski keduanya sudah sepakat.

“Masih ada syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti concern dari kreditur sindikasi BRI. Idealnya transaksi bisa selesai tahun 2012 agar utang dari jalan tol tidak terbawa ke tahun depan,” terang Ambono pada saat itu.

Masih pada tahun lalu, Ambono menjelaskan, nilai penjualan BTR melebihi Rp 2 triliun. Ambono yakin pelepasan BTR akan menguntungkan bagi ELTY, karena beban menjadi lebih ringan.

Namun beberapa hari lalu, manajemen ELTY terpaksa menunggak sebagian pokok dan bunga obligasi senilai Rp 280 miliar, yang jatuh tempo pada 11 Maret 2013. Anehnya, manajemen ELTY beralasan, penunggakan pembayaran surat utang yang diterbitkan pada 2008 tersebut karena proses divestasi aset tol belum tuntas.

Tapi tepat di hari jatuh tempo obligasi. Chief Corporate Affairs ELTY Yudy Rizard Hakim mengatakan ELTY telah membayar pokok dan bunga obligasi senilai Rp 280 miliar plus bunga obligasi terakhir sebesar Rp 8,995 miliar.

“Pembayaran dilakukan tepat pada saat jatuh tempo melalui rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI),” papar Yudy.

Bakrieland Bayar Utang Obligasi Rp288,9 Miliar

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Senin, 11 Maret 2013 | 20:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membayar pokok serta Bunga Obligasi I PT Bakrieland Development Tbk Tahun 2008 Seri B terakhir senilai Rp288,9 miliar.

Demikian mengutip keterangan resmi perseroan, Senin (11/3/2013). Untuk pembayaran pokok Obligasi I PT Bakrieland Development Tbk Tahun 2008 Seri B sebesar Rp280 miliar. Sedangkan Bunga Obligasi I PT Bakrieland Development Tbk Tahun 2008 Seri B sebesar Rp8,9 miliar.

Pembayaran melalui rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Pembayaran tepat dilakukan pada hari ini saat jatuh tempo obligasi, Senin (11/3/2013).
BEI akhirnya suspensi obligasi I ELTY
Oleh Rika Theo – Senin, 11 Maret 2013 | 09:39 WIB

kontan

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara obligasi milik PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Ini lantaran ELTY tak sanggup melunasi bunga dan pokok Obligasi I Bakrieland Development yang harusnya dibayar pada hari ini (11/3).

Namun, BEI tetap mempertahankan pencatatan obligasi berkode ELTY01B dengan nilai nominal Rp 280 miliar itu. “Perpanjangan obligasi dilakukan sampai ada penjelasan lebih lebih lanjut dari emiten,” tulis rilis BEI yang diteken oleh Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Surat Utang BEI Saptono Adi Junarso dan P.H Kepala Divisi Perdagangan Surat Utang & Derivatif BEI Andi Priatnakusumah.

Sedangkan suspensi bursa atas obligasi I ELTY seri B itu dilakukan pada sistem Fixed Income Trading System (FITS) mulai hari ini.

Dalam keterbukaan informasi Jumat lalu, ELTY telah meminta penundaan pembayaran obligasi itu. ELTY beralasan, program divestasi jalan tol yang sedang diupayakan ternyata meleset dari perkiraan.

Samin Tan hengkang dari BRMS
Oleh Yuwono Triatmodjo – Kamis, 07 Maret 2013 | 12:59 WIB

kontan

JAKARTA. Presiden Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), Samin Tan, beserta dua Direktur BRMS lainnya, secara mengejutkan mengajukan pengunduran diri dari perusahaan milik PT Bumi Resources Tbk tersebut (BUMI). Hal ini terungkap dalam rilis yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditandatangani oleh Muhammad Sulthon, Sekretaris Perusahaan BRMS, Kamis (7/3).

Selain BRMS terdapat dua nama menjabat BRMS lainnya yang ikut mundur. Mereka adalah Kenneth Raymond Allan dan Hardianto. Surat pengunduran ketiga petinggi BRMS itu disampaikan kepada Dewan Komisaris BRMS pada tanggal 28 Februari 2013.

M. Sulthon mengatakan, atas surat pengunduran diri ketiga petinggi BRMS, pihaknya akan melaksanakan proses sebagaimana yang diatur dalam Anggaran Dasar Perseroan dan peraturan perundang-undangan.
Jual banyak aset, ada apa dengan Grup Bakrie?
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 19 Februari 2013 | 09:34 WIB

kontan

JAKARTA. Perusahaan keluarga Bakrie saat ini dikabarkan sedang menjual beberapa aset unggulnya. Apakah ini mengindikasikan bisnis keluarga Bakrie terpuruk?

Pakar pengelolaan perusahaan keluarga AB Susanto menyayangkan apa yang telah dilakukan keluarga Bakrie selama ini. Padahal bisnis keluarga Bakrie ini sudah menggurita di semua lini bisnis.

“Ada mismatch manajemen di perusahaan keluarga Bakrie, khususnya dalam hal pengelolaan keuangan. Ini yang seharusnya tidak perlu terjadi,” kata Susanto kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (19/2).

Menurut Susanto, pengelolaan keuangan yang dinilai tidak tepat ini disebabkan karena perusahaan memakai utang jangka panjang untuk membiayai usaha yang memiliki jangka pendek. Begitu pula sebaliknya.

Susanto menganggap, hal tersebut lumrah dijalankan oleh perusahaan-perusahaan keluarga Bakrie, khususnya di zaman Orde Baru. Di zaman itu, model-model bisnis seperti ini berkembang pesat. Namun bila diterapkan di zaman demokrasi seperti saat ini, kondisi tersebut sudah kurang tepat.

“Mereka juga terlalu berspekulasi tinggi. Ini yang berbahaya,” tambahnya.

Solusinya, keluarga Bakrie harus segera merevitalisasi keuangannya agar bisnis secara sehat.

Seperti diberitakan, Grup Bakrie telah menetapkan niat hengkang dari Bumi Plc. Namun, ada masalah lagi yang melanda, sebab Grup Bakrie harus menyediakan dana US$ 278 juta untuk membeli kembali saham (buyback) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik Bumi Plc.

Pembayaran buyback harus sudah selesai sebelum Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bumi Plc pada 21 Februari. Karena alasan tersebut, Grup Bakrie gencar mencari dana.

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melalui PT Bakrie Swastika Utama dikabarkan menjual lahan di Rasuna Epicentrum. Total nilainya Rp 2,5 triliun. Selain itu, ELTY juga telah menjual Bakrie Toll Road (BTR) dan Lido senilai Rp 3 triliun. Kemudian PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) telah menjual lahan sawit seluas 16.000 hektar. UNSP juga ingin menjual perusahaan olekimia Grup Domba Mas 470 juta dollar AS. Bakrie juga dikabarkan ingin menjual 51 persen saham di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). (Didik Purwanto/Kompas.com)

Laba Perusahaan Migas Bakrie Melonjak Drastis
Penulis : Didik Purwanto | Jumat, 15 Februari 2013 | 17:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perusahaan minyak bumi dan gas (migas) milik keluarga Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), mencatatkan kenaikan laba bersih hingga kuartal III-2012 sebesar 105 persen dari 6,9 juta dollar AS menjadi 14,15 juta dollar AS. Kenaikan laba ini memang ditopang oleh kenaikan harga jual migas.

“Harga jual migas secara internasional memang naik. Apalagi, kami juga mencatatkan kenaikan rata-rata produksi harian,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (15/2/2013).

Dari sisi penjualan, perseroan mengalami kenaikan 187,07 persen dari 151,39 juta dollar AS menjadi 434,59 juta dollar AS. Namun, beban pokok penjualan perseroan mengalami kenaikan signifikan, yaitu dari 92,8 juta dollar AS menjadi 289,4 juta dollar AS. Dengan demikian, laba bruto perseroan hanya naik dari 58,5 juta dollar AS menjadi 145,1 juta dollar AS.

Sementara laba usaha perseroan masih naik drastis dari 46,9 juta dollar AS menjadi 126,1 juta dollar AS. Padahal, di semester I-2012, laba perseroan mengalami penurunan tipis menjadi 1,25 juta dollar AS dari 1,523 juta dollar AS. Hal itu disebabkan penjualan migas perseroan hanya 242 juta dollar AS.
Editor :
Ana Shofiana Syatiri

Masa Sulit Bisnis Grup Bakrie
Rani Hardjanti – Okezone
Sabtu, 9 Februari 2013 14:53 wib

JAKARTA – Rencana Grup Bakrie yang akan melepas kepemilikannya di sektor media, menjadi topik pembicaraan yang hangat di lantai bursa akhir pekan ini. Apa sebab Bakrie melepas salah satu sektor andalannya? Benarkah Grup Bakrie akan melepas roda bisnisnya?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini Bakrie tengah bersitegang dengan pemegang saham asal London, Nat Rothschild, atas kepemilikannya pada PT Bumi Resources Tbk melalui Bumi Plc. Untuk bisa memperebutkan kembali perusahaan batu bara terbesar di Asia tersebut, Bakrie membutuhkan dana yang sangat besar.

Seperti dikutip Reuters, Sabtu (9/2/2013), salah satu cara yang ditempuh Bakrie dalam mendapatkan uang adalah melepas sebagian kepemilikan mayoritasnya (51 persen) di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA).

Emiten ini menaungi sejumlah media, yakni TVOne, ANTV dan portal berita Vivanews.com. Asumsinya, dengan aksi korporasi ini, perseroan ditaksir akan mendapatkan dana segar sekira USD1,2 miliar – USD2 miliar.

Dengan adanya dana tunai, maka Bakrie akan menukarkan kepemilikan saham Bumi Plc sekira 23,8 persen di Bumi Resources.

“Ini merupakan keputusan yang sulit bagi perusahaan Bakrie. Tetapi grup Bakrie diisi oleh pebisnis yang rasional. Situasi seperti ini bisa menjadi jalan untuk mendapatkan uang dengan meningkatkan pinjaman,” ujar salah satu sumber yang mengetahui rencana penjualan VIVA, demikian diberitakan Reuters.

Seperti diketahui, Bakrie menjalin kerja sama untuk membuat Bumi Plc dengan pebisnis kenamaan asal Inggris, Nat Rothschild, pada 2010. Namun, jalinan bisnis tersebut retak.

Perseteruan terjadi lantaran Nat meminta Macfarlanes, sebuah firma hukum di London, untuk melakukan audit investigasi terhadap Bumi Resources terkait dana pengembangan dan dana operasional. Selain itu, investigasi juga dilakukan pada salah satu aset investasi di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Dalam laporan keuangan Bumi Plc 2011, salah satu aset yang dimiliki Berau tercatat mengalami penurunan nilai hingga mencapai angka nol, kecuali untuk satu investasi yang memiliki nilai sebesar USD39 juta dalam laporan keuangan konsolidasi.

Keluarga Bakrie pun tidak terima, dan menyatakan akan keluar dari Bumi Plc. Bakrie menawarkan akan membeli saham BUMI dan BRAU dari Bumi Plc, dan tidak lagi memiliki hubungan dengan Bumi Plc.

(rhs)
Saham ELTY Kini Layak Untuk Trading

Oleh: Jagad Ananda
pasarmodal – Jumat, 25 Januari 2013 | 05:01 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Properti, memang merupakan sektor yang saham-sahamnya menguat secara nengagumkan di tahun lalu. Tapi, tidak demikain ELTY. Kendati bergerak di bisnis yang sama, saham terbitan Bakrieland Development ini belakangan cenderung terus melemah.

Setelah mencapai puncaknya di Rp147 pada Januari tahun lalu, harga saham ini bermain tak jauh dfari kisaran Rp50–60 per lembar. Kendati demikian, akhir-akhir ini, ada sejumlah analis yang getol merekomendasikan ELTY.

“Untuk trading efek itu cukup menarik,” katanya. Saat ini, paling tidak, ada empat analis dari sekuritas berbeda yang menyarankan hal serupa itu. Pertimbangannya, beban utang perseroan akan menurun seiring tuntasnya penjualan dua aset besar kepada MNC Group.

“Ini merupakan sentimen positif yang akan mendorong harga ELTY ke level Rp63,” kata satu kepala riset sebuah sekuritas asing. Dibanding harga yang terbentuk saat ini (Rp57 pada 23/1/2013), kenaikannya memang cuma Rp6. Tapi itu setara dengan 10,5%.

Seperti diketahui, ELTY kini tengah menuntaskan penjualan PT Bakrie Tol Road) yang memiliki hak kelola atas lima ruas jalan tol yakni Ciawi-Sukabumi, Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Batang-Semarang dan Pasuruan- Probolinggo. Lima konsesi itu dijual kepada MNCD dengan harga Rp2 triliun. Sementara, kepada pembeli yang sama, ELBY melego Lido Resort di Sukabumi dengan harga Rp1 triliun.

Nah, kalau benar uang Rp3 triliun itu akan dipakai untuk membayar utang, maka Debt Equity Ratio (DER) ELTY akan turun dari 0,71 menjadi 0,42 kali. [mdr]
Bayar obligasi, ELTY akan gunakan hasil jual tol
Oleh Issa Almawadi – Jumat, 25 Januari 2013 | 09:29 WIB

kontan

GALI LUBANG tutup lubang, itu keahliannya

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) telah menyiapkan dana sebesar Rp 160 miliar guna melunasi pokok dan bunga obligasi I tahun 2008 seri B. Obligasi yang merupakan bagian dari emisi senilai Rp 500 miliar itu akan jatuh tempo pada 11 Maret 2013.

Dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (23/1), Direktur ELTY Feb Sumandar menjelaskan, dana tersebut akan berasal dari hasil divestasi unit jalan tol. “Penyelesaiannya diharapkan bisa pada Februari mendatang,” kata Feb.

Sampai saat ini ELTY masih menantikan penyelesaian transaksi penjualan jalan tol dan Lido kepada Grup MNC. Kedua pihak sudah sepakat pada November silam, namun masih ada beberapa hal yang mengganjal seperti pengalihan corporate guarantee jalan tol itu dari ELTY ke MNC.

Informasi saja, obligasi senilai Rp 500 miliar diterbitkan ELTY pada 2008 lalu dengan dua seri yakni A dan B. Obligasi seri A ELTY senilai Rp 220 miliar berjangka waktu 3 tahun dengan bunga 11,9% per tahun. Sementara, obligasi seri B senilai Rp 280 miliar dengan jangka waktu 5 tahun mematok bunga 12,5% per tahun.

ENRG Mulai Kembangkan Blok Masela

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Kamis, 24 Januari 2013 | 04:12 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menerangkan Inpex Masela Ltd telah memberikan kontrak untuk Front and Engineering and Design untuk mengembangkan lapangan gas abadi.

Demikian mengutip keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Rabu (23/1/2013). Inpex Masela Ltd yang mengoperasikan dan memiliki 60% di Blok Masela PSC merupakan perusahaan terafiliasi dengan ENRG.

FLNG Feed meliputi desain fasilitas produksi terapung untuk memproses gas dicairkan, disimpan dan didistribusikan. Kontrak tersebut diberikan kepada JGC Corporation dari Jepang. Selain itu juga kepada Saipem SpA, salah satu perusahaan jasa petroleum terkemuka di Italia.

Selain Inpex Masela Ltd, blok tersebut dimiliki Shell Upstream Overseas Services Litmited 30% dan 10% dimiliki PT EMP Energi Indonesia, atau anak usaha ENRG. Blok Masela PSC memiliki cadangan hidrokarbon mencapai 2,5 juta ton LNG untuk 30 tahun lebih. Blok ini juga berpotensi menghasilkan 8.000 barel kondensat per hari.

Ingin ubah Bali Nirwana, Bakrieland cari investor
Oleh Rika Theo – Selasa, 22 Januari 2013 | 19:24 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) punya rencana baru untuk propertinya di pulau Dewata. ELTY hendak mengundang investor baru untuk mengubah konsep Pullman Bali Legian Nirwana dan Pan Pacific Nirwana Bali Resort.

“Kami sedang meninjau ulang model bisnisnya,” kata Ambono Januarianto, Presiden Direktur Bakrieland Development kepada KONTAN hari ini (22/1).

Ia menjelaskan, ketika dibangun, kompleks Bali Nirwana Resort di Tabanan menyasar pasar menengah ke atas. Namun kini, berbagai kawasan di Bali seperti Kuta, Pecatu, dan Nusa Dua, beranjak naik menjadi kelas menengah atas juga. “Kita akan kehilangan pasar karena crowd lari ke sana. Pilihannya adalah kita berubah ke atas atau ke bawah? Menurut kami yang paling bagus adalah naik ke atas,” tuturnya.

Oleh karena itu, ELTY memutuskan akan menjadikan Bali Pullman Bali dan Pan Pacific Nirwana Bali Resort sebagai resort eksklusif.

Sebelumnya, muncul kabar bahwa ELTY akan menjual kedua properti ini. Bahkan sempat muncul kabar kalau Grup Djarum pun mengincarnya. Namun, dengan tegas Ambono membantah kabar tersebut.

“Bali Pullman enggak dijual. Bali Pacific kemungkinan dijual juga kecil sekali. Kami sekarang mau mengajak investor untuk membangun kawasan eksklusif,” ungkapnya.

Sayangnya, ia belum mau mengungkap siapa saja calon investor yang bakal dirangkulnya. “Saat ini pun kami juga sedang sounding,” imbuhnya
Energi Mega Menincar Pendapatan US$ 900 Juta
Oleh Diemas Kresna Duta, Issa Almawadi – Kamis, 03 Januari 2013 | 08:00 WIB

kontan

JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berupaya menggenjot pendapatannya. Itulah sebabnya, tahun ini, Energi Mega menargetkan pendapatan terkonsolidasi perseroan di tahun ini bisa tembus US$ 900 juta atau sekitar Rp 8,64 triliun. Jumlah ini naik dibandingkan dengan proyeksi pendapatan tahun lalu yang diperkirakan bisa mencapai US$ 600 juta .

Investor Relation Energi Mega, Herwin Hidayat, mengatakan, ENRG berani menaikkan target pendapatan hingga 50% ketimbang tahun lalu. Alasannya, target produksi minyak dan gas naik menjadi 50.000 barel oil equivalen per day (boepd).

Tahun lalu, menurut Herwin, produksi migas perusahaan Grup Bakrie tersebut masih sebesar 35.000 boepd. Dia menyatakan, dalam dua tahun terakhir ini, produksi migas Energi Mega menunjukkan tren yang positif. “Terjadi peningkatan lebih dari 100% dari produksi migas tahun 2011 yang cuma sebesar 17.000 boepd menjadi sebesar 35.000 boepd di tahun lalu,” ungkap dia kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Peningkatan produksi migas tersebut, menurut Herwin, berasal dari peningkatan produksi sembilan blok migas yang mulai berproduksi. Blok migas itu adalah Blok Selat Malaka PSC, TAC Gelam di Jambi, Bentu PSC di Riau, Korinci Baru PSC Sumatera, Gebang JOB PSC di Sumatera Utara, dan Tonga PSC di Riau.

Di Kalimantan, Energi Mega juga menguasai Semberah TAC Kalimantan Timur. Selain itu, ENRG juga memiliki Off shore North West Java (ONJW). Untuk Blok ONJW, Energi Mega berbagi kepemilikan dengan Pertamina Hulu Energi ONWJ. Di sekitar Madura, Energi Mega juga menjadi kontraktor untuk Blok Kangean PSC, Jawa Timur.

Tidak hanya itu, Energi Mega juga masih mempunyai tiga blok yang belum berproduksi. Yakni, dua coal bed methane (CBM), yaitu blok Sangatta 2 CBM di Kalimantan Timur dan Tabulako CBM PSC di Kalimantan Selatan, serta Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku.

Sebelumnya, Presiden Direktur ENRG Imam P. Agustino, mengatakan, dari sembilan blok yang telah berproduksi tersebut, sebagian besar target produksi yang akan dicapai pada tahun ini datang dari Blok Kangean PSC. Kontribusi Kangean PSC diperkirakan mencapai 40%.

Blok Kangean PSC memiliki jumlah cadangan terbukti dan terukur sebanyak 9,6 juta barrel minyak dan 1,3 triliun kaki kubik gas. Seperti diketahui, Blok Kangean PSC saat ini dioperasikan oleh Kangean Energy Indonesia Limited. Kepemilikan di Blok Kangean, sebesar 50% milik Energi Mega, 25% oleh grup Mitsubishi (Jepang), dan 25% milik grup Japex (Jepang).

Imam juga mengungkapkan, Energi Mega akan mencari blok migas untuk menyokong pertumbuhan kinerja. “Kami terus terapkan strategy plan melalui akuisisi blok baru dengan kriteria kami yang cukup ketat,” tuturnya.

Untuk itu, Energi Mega menyiapkan dana sebesar US$ 233 juta sebagai anggaran belanja modal (capital expenditure) di tahun ini. Dana tersebut akan digunakan perusahaan untuk pengembangan 12 blok migas. “Sumber pendanaan seluruhnya berasal dari kas internal perseroan,” kata Imam.

Yang jelas, belanja modal Energi Mega di tahun ini lebih besar dibanding tahun lalu. Pada 2012 itu, Energi Mega hanya menyiapkan belanja modal US$ 118 juta.

Imam menyatakan, belanja modal yang disediakan tahun ini di luar dana untuk melakukan akuisisi blok migas. Sebagai informasi, akuisisi blok migas merupakan salah satu strategi dari Energi Mega di tahun 2013. Hanya saja, Imam menolak memberi penjelasan detil mengenai rencana akuisisi maupun jumlah dana yang disiapkan.

Biayai proyek eksplorasi, BRMS akan jual saham

Dana Aditiasari – Sindonews
Kamis, 20 Desember 2012 − 13:44 WIB

Sindonews.com – Guna membiayai tiga proyek eksplorasinya, PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) berencana melepas sebagian dari saham mereka agar bisa melanjutkan proyek tersebut.

Sekretaris Korporat BRMS, Herwin Hidayat menerangkan, salah satu opsi yang akan ditempuh perseroan untuk membiayai tiga proyek eksplorasi mereka yang diproyeksi membutuhkan dana sangat besar, perseroan akan bermitra dengan partner strategis.

“Opsinya adalah kami bakal bermitra dengan beberapa partner strategis untuk tambang-tambang yang sahamnya kami masih mayoritas,” ujarnya di Hotel 4 Season, Kamis (20/12/2012).

Setidaknya, kata dia, ada tiga usaha pertambangan dimana BRMS menjadi pemegang saham mayoritas dan kemungkinan akan dilepas untuk membiayai proyek itu sendiri. Tiga perusahaan itu yakni PT Dairi Prima, PT Gorontalo Mineral dan PT Citra Palu.

“Untuk Dairi Prima dan Gorontalo, BRMS memiliki saham sekitar 80 persen di masing-masing usaha. Sementara di Citra Palu, BRMS memiliki saham sebanyak 96,97 persen,” sambung dia.

Kendati belum mau megungkapkan berapa besaran porsi saham yang akan dilepas, dijelaskan Herwin, saham-saham inilah yang sedianya akan dilepas perseroan. “Yang pasti kami usahakan untuk tetap jadi mayoritas,” tandasnya.

(gpr)

Akhirnya, RUPS Energi Mega Penuhi Kuorum
Rizkie Fauzian – Okezone
Kamis, 20 Desember 2012 16:38 wib

JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dinyatakan korum. Dalam rapat tersebut para pemegang saham menyetujui pembatalan syarat dan ketentuan pelaksanaan penerbitan sahaam baru (NON-HMETD).

Presiden Direktur ENRG Imam P Agustino menjelaskan bahwa pembatalan syarat dan ketentuan tersebut karena sebelumnya harga nominal saham Rp186 per saham, namun dengan adanya peraturan Bapepam minimal 25 hari kerja, maka diputuskan harganya Rp100 per saham.

“Rata-rata harga penutupan saham perseroan selama 25 hari bursa sebelum pengumuman non-HMETD adalah Rp90 per saham. Namun, mengingat harga nominal saham perseroan Rp100, maka harga pelaksanaan sekurang-kurangnya Rp100 itu saja sih,” katanya, dalam konferensi pers di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (20/12/2012).

Selain itu, dalam RUPS-LB tersebut juga mengagendakaan peningkatan modal dasar perseroan. Penambahan modal sebesar Rp100 per saham dengan melepas 4,05 miliar atau 10 persen saham, perseroan akan memperoleh dana Rp405,8 miliar.

“Paling lambat akan direalisasikan dua tahun sejak persetujuan pemegang saham, standarnya dua tahun terhitung Juni,” jelasnya.

Sebelumnya, target dana perseroan tersebut lebih rendah dari rencana semula sebesar Rp754 miliar atau pada harga Rp186 per saham. Penurunan target itu disebabkan oleh kondisi pasar dan penurunan harga saham perseroan. (wdi)
Perusahaan Migas Bakrie Terbitkan Surat Utang USD600 Jt
Rizkie Fauzian – Okezone
Kamis, 20 Desember 2012 16:47 wib

JAKARTA – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana melakukan re-financing dengan menerbitkan global bond. Adapun besaran global bond tersebut USD600 juta.

Menurut Direktur Keuangan ENRG Didit A Ratam saat ini pihaknya telah melakukan roadshow ke Singapura, Hong Kong, London, dan LA. Hal tersebut karena sudah banyaknya peminat.

“Kami akan menerbitkan bond global namun tidak akan lebih dari USD600 juta, untuk investornya kita belum ada, karena kan kita baru minta persetujuan pemegang saham, baru nanti kita melihat potensial investor,” katanya, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (20/12/2012).

Sementara itu total sales revenue anak usaha Grup Bakrie untuk 2012 adalah USD660 juta dan untuk 2013 sebesar USD900 juta, jumlah tersebut setelah menkonsolidasikan 36,7 persen saham di Blok ONWJ dan sesuai peraturan akuntansi PSAK dan yang akan dipublikasikan di laporan keuangan perusahaan nanti. (wdi)
Pasrah, BRMS ikut tersangkut investigasi BUMI
Oleh Issa Almawadi – Kamis, 20 Desember 2012 | 12:17 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) ternyata ikut menjadi obyek yang diperiksa tim audit independen PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pasalnya, BRMS merupakan anak usaha BUMI dengan kepemilikan 87,09%.

“Dari pengadilan negeri Jakarta Selatan, pemeriksaan terhadap BUMI juga terkena kepada kami,” kata Sekretaris Perusahaan BRMS, Muhammad Sulthon di Jakarta, Kamis (20/12).

Namun Sulthon tidak bisa menjelaskan, subyek dari pemeriksaan yang dilakukan tim independen yang diajukan BUMI. Menurut Sulthon, hal tersebut sepenuhnya diserahkan kepada yang berwenang.

“Jika kami diperiksa, ya silahkan diperiksa. Soal subyeknya apa, itu urusan tim independen tersebut,” tegas Sulthon.

Asal tahu saja, 15 Oktober 2012, Komite Audit telah mengajukan permohonan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk meminta penetapan guna melakukan pemeriksaan terhadap perseroan.

Upaya itu dilakukan sesuai ketentuan dalam Pasal 138 Undang-Undang Perseroan Terbatas, agar ditunjuk tim pemeriksa independen untuk melakukan pemeriksaan terhadap BUMI. Penunjukan tim audit independen itu seiring berbagai pemberitaan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik terkait BUMI.

Terakhir, Sulthon menyatakan, selain pemeriksaan itu, tidak ada lagi pemeriksaan yang dilakukan pihak lain kepada BRMS.

Saham Bakrie-Konsumer Berpotensi ‘Rebound’
Selasa, 18 Desember 2012 | 11:27
investor daily

JAKARTA-Beberapa saham grup Bakrie serta sektor konsumer berpotensi mengalami “technical rebound” pada perdagangan Selasa (18/12).

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Yualdo Yudoprawiro, mengatakan “rebound” saham-saham kelompok Bakrie ini didorong oleh kondisi telah mengalami pelemahan pada perdagangan sesi sebelumnya.

“Hal ini juga seiring dengan IHSG yang dibuka pada teritori positif yang dipacu sentimen positif dari bursa global dan regional,” katanya.

Untuk “resistance” indeks pada perdagangan kali ini, lanjutnya, akan berada pada level 4.325.

Pada pembukaan perdagangan sesi I, Rabu, IHSG menguat 4,26 poin (0,10 persen) menjadi 4.320,08, sedangkan indeks saham unggulan LQ45 menguat 0,96 poin (0,13 persen) ke level 738,51.

Untuk kondisi bursa global, setelah melemah dalam tiga hari berturut-turut bursa AS, Senin (17/12), berhasil ditutup menguat sekitar 1 persen, seiring kembali munculnya optimisme kompromi solusi “fiscal cliff” pasca pernyataan Ketua Kongres John Boehner, yang akan menerima kenaikan pajak bagi masyarakat berpenghasilan di atas 1 juta dolar AS per tahun dan menaikkan pagu utang AS selama satu tahun.

Optimisme ini mampu mengompensasi sentimen negatif dari rilis data indeks manufaktur New York yang semakin melemah ke level negatif 8,1 pada Desember 2012.

Sementara bursa Asia pada perdagangan Selasa ini dibuka menguat seiring sentimen positif dari optimisme kompromi “fiscal cliff” (jurang fiskal) serta ekspektasi bank sentral Jepang akan meluncurkan paket stimulus baru pasca kemenangan partai LDP dalam pemilu yang menempatkan kembali Shinzo Abe sebagai perdana menteri Jepang untuk masa jabatan kedua.(ant/hrb)

VIVA bakal menjual obligasi Rp 800 miliar
Oleh Narita Indrastiti, Agung Jatmiko – Rabu, 12 Desember 2012 | 06:40 WIB

kontan

JAKARTA. Emiten sektor media, PT Visi Media Asia Tbk mencari pendanaan yang lebih murah di tahun depan untuk membayar utang. Emiten berkode saham VIVA ini akan menerbitkan obligasi Rp 800 miliar bertenor tiga tahun pada kuartal kedua 2013.
Presiden Direktur VIVA Erick Thohir mengatakan, tingkat bunga yang masih rendah membuat pihaknya memastikan pembayaran utang dari hasil penerbitan obligasi. VIVA berutang US$ 80 juta dari Deutsche Bank AG pada 10 Agustus 2012. Utang ini berbunga 9% per tahun.
Saat ini, VIVA sudah mencari dua penjamin emisi lokal dan satu penjamin emisi dari luar negeri. Erick yakin, pertumbuhan kinerja keuangan yang tinggi dan posisi utang yang rendah akan membuat rating obligasi VIVA menarik. “Kami yakin obligasi menjadi pendanaan paling menguntungkan dan akan diterbitkan dengan denominasi rupiah,” kata Erick, Senin (10/12).
Dari laporan keuangan hingga kuartal III 2012, nilai utang bank dan lembaga keuangan jangka panjang VIVA tercatat Rp 743,42 miliar.
Tahun depan, VIVA yakin masih akan bisa bertumbuh pesat seiring dengan pertumbuhan industri media. Erick bilang, pertumbuhan rata-rata media mencapai 12%, dengan pertumbuhan televisi 16%, internet 36%, serta surat kabar dan radio 5%-9%. Erick yakin pertumbuhan VIVA bisa melampaui pertumbuhan industri media. Dia menargetkan, pendapatan VIVA bisa tumbuh 30% dari target tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun.
Apalagi, tingkat kebutuhan iklan masih sangat tinggi. Makanya, tahun depan, VIVA akan menggelontorkan dana US$ 150 juta untuk produk baru televisi berbayar.
Pengamat pasar obligasi Agus Salim mengatakan, investor harus mencermati peruntukan dana obligasi ini. Selain itu, calon investor harus membaca terlebih dahulu laporan lembaga pemeringkat soal rating VIVA. Agus mengatakan, banyaknya potensi penerbitan obligasi di semester pertama tahun depan belum tentu menjadi saingan penerbitan obligasi VIVA.
Agus menambahkan, VIVA punya peluang besar untuk menarik minat investor. “Industri media masih sangat menjanjikan. Hanya saja, calon investor tetap harus berpedoman pada laporan lembaga pemeringkat mengenai kualitas kredit dan memperhitungkan apakah return sepadan dengan risiko yang bakal dihadapi,” kata Agus.

Desember 11, 2012

bakrie’s GAME (6) … 111212 (Formula AUTO REJECTION)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP, Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 1:30 am

Bakrie & Brother Investasi 175 Juta Dollar AS Bangun Pipa Gas KALIJA
Tribunnews.com – Senin, 10 Desember 2012 15:10 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Bakrie & Brother mengeluarkan investasi 175 juta dollar AS untuk membangun pipa gas transmisi KALIJA yang menghubungkan dari Kepodang menuju Tambak Lorok.

“Investasi bervariasi. Hitungan terakhir kami yang kami invest 175 juta dollar AS,” ujar Direktur Utama PT Bakrie & Brother Gafur Sulistyo Umar di kantor BPH Migas, Senin (10/12/2012).

Proyek pipa gas yang dikelola PT Bakrie & Brother merupakan pelaksanaan kinerja tahap awal dalam mengalokasikan gas dari Kalimantan Timur menuju pulau Jawa. Rencananya panjang dari pipa gas KALIJA sebesar 210 kilometer dari total 1200 kilometer yang akan dialokasikan dari Kalimantan Timur.

“Kita buat pipanya dulu nanti di layout, panjangnya 210 kilometer, bagian dari kalimantan menuju pulau Jawa totalnya 1200 kilometer,”jelas Gafur.

Menurut dia, pembangunan pipa gas ini akan mengurangi beban subsidi listrik yang harus ditanggung pemerintah akibat mahalnya bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit listrik, terutama di pulau Jawa yang 70 persen membutuhkan energi gas untuk pembangkit listrik.

“Nantinya mengalir akhir 2014, maka akan mengurangi beban subsidi pemerintah dan memperkuat infrastruktur jaringan gas,” jelas Gaffur. (*)
JALAN TOL: MNC kuasai Saham Bakrie Toll Road

Dewi Andriani & Ringkang Gumiwang

Selasa, 11 Desember 2012 | 19:59 WIB

bisnis indonesia
JAKARTA—PT Bakrieland Development Tbk sepakat untuk menjual 100% kepemilikan saham anak usahanya yang bergerak di bidang jalan tol, PT Bakrie Toll Road kepada Grup MNC dengan nilai transkasi sekitar Rp2,1 triliun.

Dengan demikian, MNC Grup melalui anak usahanya PT MNC Infrastruktur Utama tidak hanya mengakuisisi konsesi 5 ruas jalan tol yang dimiliki Bakrie Toll Road, tetapi juga termasuk seluruh aset, utang, dan karyawan kecuali dua direksi yang masih dipertahankan di Bakrieland.

Kelima ruas jalan tol tersebut ialah Kanci-Pejagan, ruas Pejagan-Pemalang, ruas Pasuruan-Probolinggo, ruas Cimanggis-Cibitung dan ruas Ciawi-Sukabumi,

Presiden Direktur Bakrieland Development Ambono Janurianto mengatakan pihaknya berharap kesepakatan final bisa terealisasi pada bulan ini, sehingga pembukuan dari penjualan tersebut bisa tercatat pada tahun ini.

“Kami harap bisa tahun ini, sehingga episode terkait jalan tol tidak ada lagi pada tahun depan,” katanya saat paparan publik, Selasa (11/12/2012).

Dari penjualan anak usaha tersebut, lanjutnya, akan digunakan untuk membayar utang perseroan dan sisanya untuk pengembangan industri properti pada tahun mendatang. Adapun nilai utang yang jatuh tempo pada Desember ini sebesar Rp60 miliar.

“Untuk tahun depan yakni Maret 2013, kami juga ada utang jatuh tempo untuk bond sebesar Rp260 miliar dan pada 2015 ada utang sebesar Rp1,5 triliun,” tuturnya.

Ambono mengatakan pertimbangan perseroan melepas kepemilikan anak usaha dengan nilai Rp2,1 triliun merupakan strategi perseroan untuk mendivestasi usaha non properti, sehingga tidak perlu ada recurring lost yang harus ditanggung perseroan setiap tahunnya.

Pasalnya, proyek jalan tol tersebut telah banyak mempengaruhi anggaran perseroan. Dia menambahkan proyek jalan tol tersebut menyumbang sekitar 40% terhadap debt equity ratio (DER) perseroan saat ini sebesar 60%.

“Dari beban bunga yang saja harus dibayar mencapai Rp158 miliar per tahun, padahal pendapatan dari jalan tol tersebut hanya 5% dari Rp2 trilun atau sekitar Rp100 miliar, sehingga kami harus menanggung beban Rp58 miliar,” tuturnya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap DER perseroan setidaknya menjadi 40% usai divestasi tersebut, dan neraca keuangan pada tahun mendatang bisa lebih baik.

Selain jalan tol, MNC Group pun mencaplok 50% kepemilikan saham Bakrieland terhadap Lido Resort dengan nilai kisaran Rp900 miliar-Rp1 triliun.

Resort yang memiliki lahan seluas 1.037 hektare tersebut, katanya, sedang dalam tahap finalisasi, dan diperkirakan akan selesai pada tahun ini.

Dia menjelaskan pihaknya akan fokus pada pengembangan proyek kawasan hunian pada masa mendatang, yang terbukti memiliki pasar dan margin yang signifikan.

Oleh karena itu, perseroan menyiapkan rencana strategis pada masa mendatang a.l pertama, perseroan akan fokus kembali terhadap core bisnisnya industri properti. Salah satu langkah tersebut yakni mendivestasikan aset-aset non properti. (bakrieland.com) (msb)

Tahun Ini, Bakrieland Sudah Siap Rugi

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Selasa, 11 Desember 2012 | 17:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) memperkirakan tahun ini akan mengalami kerugian dari tahun 2011 yang masih untung Rp74,74 miliar.

“Kerugian kemungkinan akan lebih besar pada 2012 dari tahun sebelumnya. Hingga kuartal ketiga 2012 saja, sudah rugi Rp133 miliar. Meski begitu, pendapatan diharapkan sama seperti tahun lalu,” ujar Direktur Utama PT Bakrieland Development Tbk, Ambono Janurianto saat paparan publik perseroan, Selasa (11/12/2012).

Lebih lanjut ia menuturkan, kinerja perseroan tergantung dari penjualan PT Bakrie Toll Road. Bila penjualan Bakrie Toll Road tidak terjadi pada 2012, Ambono menambahkan, kerugian akan lebih sedikit namun ada beban yang akan dibawa pada 2013.

Oleh karena itu manajemen perseroan mengharapkan penjualan Bakrie Toll Road dapat selesai pada 2012. “Kami mengusahakan beban tidak terbawa pada 2013. Penjualan Bakrie Toll Road ini bukan recurring loss tetapi one time loss,” kata Ambono.

Hingga September 2012, perseroan membukukan kerugian Rp133 miliar dari periode sama sebelumnya untung Rp129,2 miliar. Pendapatan perseroan turun menjadi Rp1,31 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp1,44 triliun. [hid]

Energi Mega Terbitkan Obligasi Global Rp 5,7 Triliun
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Selasa, 04/12/2012 16:31 WIB
Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), perusahaan energi kelompok usaha Bakrie, berencana menerbitkan surat utang (obligasi) berdenominasi dolar AS sekitar US$ 600. Perseroan menargetkan obligasi ini meluncur di 2013.

“Global bonds masih, mudah-mudahan (tahun 2013) bisa,” ucap Investor Relation ENRG, Herwin Hidayat di Jakarta, Selasa (4/12/2012).

Ia menjelaskan, penerbitan surat utang dalam dolar AS adalah upaya perseroan menekan biaya bunga dari utang sebelumnya. Refinancing akan dilakukan untuk menutup dua pinjaman dari perbankan, yaitu US$ 222 juta atau setara Rp 2,01 triliun dari ND Owen Holdings Limited, dan US$ 200 juta (Rp 1,813 triliun) dari Credit Suisse Singapura.

Bunga pinjaman kedua bank ini tergolong tinggi. Hingga dengan penerbitan global bonds diharapkan beban perusahaan sedikit berkurang, dan pada akhirnya menguntungkan bagi pemegang saham.

“Bunga bank sekitar 13% dan 18%. Kalau ini diterbitkan refinancing menjadi lebih baik,” tambahnya.

Sebagai catatan, Credit Suisse dan Owen menjadi dua bank yang mengutangi ENRG paling besar. Lebih dari 50% utang jangka panjang perseroan berasal dari mereka, dari total sekitar Rp 5,034 triliun.

Selain itu, perseroan tercatat memiliki pinjaman dari tiga pihak diantaranya Japan Petroleum Exploration Co., Ltd. Rp 1,51 triliun, Kangean Finance Company, Jepang Rp 1,39 triliun dan Mitsubishi Corporation Rp 118,44 miliar.

Menurut Herwin, rencana perseroan untuk menambah modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement belum terlaksana, karena penyelenggaraan RUPS hari ini, tidak tercapai kuorum. Padahal salah satu agenda rapat adalah persetujuan non-HMETD.

Sebelumnya manajemen berencana menerbitkan saham baru sekitar 4,058 miliar lembar, dengan target harga Rp 186 per lembar. Dana hasil penerbitan saham baru ini akan dipakai untuk memperbaiki posisi keuangan perusahaan.

Namun dalam beberapa bulan terakhir saham ENRG terus merosot dan kini terkapar pada level Rp 73 turun 1,35% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Jika aksi ini berjalan lancar maka pemegang saham publik terdilusi 9,09% dari sebelumnya 67,64% menjadi 61,49%.

Herwin juga tak lupa menyampaikan, paska akusisi CNOOC ONWJ Ltd. yang menguasai 36,7% kepemilìkan di blok Offshore Northwest Java PSC (ONWJ), kinerja perseroan terus melaju. Perseroan bahkan percaya diri total pendapatan di 2012 bisa melebihi US$ 350 juta, atau naik dari pencapaian tahun sebelumnya US$ 245 juta.

Pendapatan ENRG juga tahun depan tumbuh menjadi US$ 600 juta. Kenapa bisa demikian? Tidak lain karena peningkatan produksi pada ONWJ.

Di saat perseroan mengakuisisi kepemilikan blok dari CNOOC jatah produksi yang menjadi haknya 23.000 barel ekuivalen per hari (berdasarkan 36,72% kepemilikan). Sedangkan tahun depan, seiring produksi yang meningkat, hak ENRG juga berlipat.

Total jatah yang menjadi hak anak usaha grup Bakrie ini mencapai 55.000 barel ekuivalen per hari.

(wep/ang)
Siarkan Piala Dunia 2014, TV Bakrie Dapat Garansi Bank Rp 102,6 Miliar
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Minggu, 02/12/2012 14:31 WIB

Jakarta – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), perusahaan media holding yang membawahi stasiun televisi ANTV, TV One dan portal Viva telah menandatangani facility agreement pada 23 November 2012, dan diubah berdasarkan amandment pada 27 November 2012 senilai US$ 10,8 juta atau setara Rp 102,6 miliar.

Fasilitas ini merupakan kesepakatan antara perseroan dengan Deutsche Bank AG, Frankfurt a.M., Zweigniederlassung Zurich, Switzerland (DB ZH), yang bertindak sebagai issuing bank (facility agreement). Atas dasar kesepakatan ini VIVA memperoleh fasiltas garansi bank dengan total US$ 10,8 juta.

Chief Counsel & Corporate Secretary VIA, Neil R. Tobing dalam keterangan tertulisnya, seperti dikutip Minggu (2/12/2012) menjelaskan, bank guarantee ini merupakan syarat yang harus penuhi perseroan dalam kapasitasnya sebagai sub-licensee dan atau official broadcasters dari media rights atas XXth Edition of the FIFA World Cup Football Tournament and Certain other FIFA Event.

Ini juga didasarkan atas licence agreement yang disepakati oleh dan antara FIFA dengan PT Inter Sports Marketing (ISM) di 23 Maret 2012 dan sub-license agreement yang ditandatangani ISM dengan ANTY melalui PT Carkrawala Andalas Televisi, dan TV One melalui PT Lativi Mediakarya.

“Transaksi tersebut merupakan kegiatan usaha perseroan dan entitas anak usaha, selaku perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa konten dalam berbagai paltform, termasuk penyiaran televisi swasta,” jelas Neil.

Perusahaan media grup Bakrie ini memang telah membeli hak siar ekslusif siaran Piala Dunia (World Cup) 2014 senilai US$ 61,54 juta atau setara Rp 553,86 miliar.
Atas hak yang diterima tersebut, tiga anak usaha VIVA tersebut harus membayar biaya hak siar US$ 54,1 juta kepada FIFA (Federation Internationale de Football Association), lalu mengganti biaya-biaya yang dikeluarkan oleh ISM sehubungan dengan proses persiapan, negoisasi dan eksekusi licence agreement sebesar US$ 4,44 juta dan membayar biaya konsultasi sebesar US$ 3 juta.

(wep/hen)
Selasa, 20 November 2012 | 05:56 WIB
Bakrie Segera Lepas Proyek Tol

TEMPO.CO , Jakarta:PT Bakrieland Development Tbk menegaskan rencananya untuk melepas saham di beberapa perusahaan mereka. Aset yang akan dilepas adalah antara lain adalah proyek di bidang jalan tol, yang bukan merupakan bisnis utama Bakrieland. Bisnis utama Bakrieland adalahreal estate dan apartemen.

“Kami berencana dan berharap seluruh proses divestasi bisa selesai akhir tahun ini. Kami sih berharap seluruh proyek jalan tol yang kami miliki dapat diivestasi,” kata Head of Investor Relations Bakrieland Nuzirman Nurdin saat dihubungi kemarin.

Menurut Nuzirman, divestasi proyek tol itu dilakukan karena para pemegang saham mayoritas Bakrieland ingin mengembalikan jalur bisnis mereka ke bidang properti seperti real estate, apartemen, hotel, dan perkantoran. “Dari semula fitrah kami adalah bisnis properti real estate. Pemegang saham sebagai pemilik modal kami, ingin agar perusahaan konsentrasi ke unit usaha itu saja,” katanya.

Namun, Nuzirman menambahkan, jika penawaran harga dari perusahaan pembeli dinilai tidak cukup menguntungkan Bakrieland, maka tidak semua proyek tol akan dilepas. “Nilai saham yang akan didivestasi sangat tergantung pada penawaran dari pihak yang berminat. Belum tentu juga 100 persen saham di proyek tol akan dilepas,” katanya.

Hal ini berbeda dengan kabar diterima Direktur Utama PT Jasa Marga Adityawarman yang mendapat informasi dari Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum bahwa Bakrieland Development masih ingin melanjutkan pembangunan tol sendiri.

Saat ini Bakrieland melalui anak usahanya PT Bakrie Toll Road telah mengoperasikan satu ruas jalan tol, yakni Kanci-Pejagan. Selain itu, PT Bakrie Toll Road juga telah tercatat sebagai konsorsium pembangunan enam ruas jalan tol yaitu, Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang (Jawa Tengah), Pasuruan-Probolinggo (Jawa Timur), Batang-Semarang (Jawa Tengah), Cimanggis-Cibitung (Jawa Barat), dan Ciawi-Sukabumi (Jawa Barat). Lima ruas yang disebut terakhir mangkrak.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto berharap, pembangunan lima ruas jalan tol milik Grup Bakrie yang sempat mangkrak kembali diteruskan. Sebab, lima ruas tol itu penting untuk menghubungkan ruas tol lain di Pulau Jawa. “Harus segera ada investor yang melanjutkan pembangunan ini agar penyelesaiannya tidak berlarut-larut,” katanya saat dihubungi.

Catatan Kementerian Pekerjaan Umum, pada September 2012 tol, ruas tol Pejagan-Pemalang baru membebaskan 29 persen lahan. Sedangkan tol Batang-Semarang baru berhasil membebaskan 3,34 persen lahan yang diperlukan untuk konstruksi jalan tol. Ruas tol sepanjang 75 kilometer itu berhenti pengerjaannya sejak Juni 2011 karena ketiadaan dana.

Bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo pekan lalu telah menyatakan siap mengambil alih ruas tol milik Grup Bakrie. Grup MNC siap mengambil alih kepemilikan ruas tol, baik yang sudah maupun belum beroperasi.

RAFIKA AULIA | RAHMA TW
Deal, Hary Tanoe Telah Caplok Tol Milik Bakrie
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Selasa, 13/11/2012 10:32 WIB
Jakarta – Aksi Bos MNC Grup Hary Tanoesoedibjo mengambilalih kepemilikan atas ruas tol milik grup Bakrie, melalui anak usahanya PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sudah mencapai kata sepakat.

Salah seorang sumber yang mengetahui transaksi ini memastikan Hary melalui grup MNC telah menjadi pemilik baru ruas tol Kanci-Pejagan (telah beroperasi), ataupun Pejagan-Pemalang, Pasuruan-Probolinggo, Batang-Semarang, Cimanggis-Cibitung, serta Ciawi-Sukabumi.

“Sudah deal. Transaksinya sudah disepakati. Nggak mungkin Hary Tanoe ngomong, kalau belum deal,” kata sumber yang mengetahui transaksi tersebut kepada detikFinance, Selasa (13/11/2012).

Ia menerangkan, nilai kesepakatan pengalihan aset tol dari Grup Bakrie ke grup MNC akan diumumkan secara resmi dalam waktu dekat.

Sebelumnya Hary Tanoe mengakui berminat mengambilalih seluruh tol milik Bakrie. “Iya (mengambilalih tol milik Bakrie). Seluruhnya. Tapi dananya belumlah,” katanya kemarin.

Manajemen ELTY, melalui Direktur Utama Ambono Janurianto hingga saat ini belum bisa dikonfirmasi terkait telah dilepasnya seluruh aset tol Bakrie. Namun beberapa waktu lalu Ambono Janurianto menegaskan akan menjual anak usaha PT Bakrie Toll Road (BTR) yang bertujuan untuk mengurangi utang yang menumpuk.

“Transaksi ini membuat Bakrie senang, karena Grup MNC merespons dengan cepat. Tentu ini menutup utang Bakrie yang mencapai US$ 1,2 miliar,” imbuh sumber tersebut.

(wep/hen)
Bakrie Life Jadi “PR” Berat Bapepam-LK
Penulis : Didik Purwanto | Kamis, 8 November 2012 | 12:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memiliki sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang cukup berat, yakni menangani lembaga keuangan nonbank yang bermasalah. Targetnya, PR tersebut harus bisa kelar sebelum Bapepam-LK resmi bergabung dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun depan.

“Saat ini, kami sedang menyelesaikan kasus-kasus tersebut, khususnya di Komite Pengenaan Sanksi,” kata Ketua Bapepam-LK Ngalim Sawega di Jakarta, Rabu (7/11/2012).

Menurut Ngalim, saat ini pihaknya tengah menangani sekitar 15 kasus di lembaga yang dibawahkannya. Salah satu yang paling besar adalah kasus penyelesaian gagal bayar di perusahaan asuransi PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life). Hingga saat ini, sekitar 250 nasabah yang menanamkan dana investasi di produk Diamond Investa belum sepenuhnya kembali. Pihak nasabah terus menuntut skema pengembalian dana nasabah secepatnya.

“Untuk masalah ini, kami belum bisa memastikan apakah kasus Bakrie Life ini akan selesai akhir tahun ini,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Bakrie Life belum mengembalikan dana investasi nasabah sebesar Rp 360 miliar pada 2008. Hingga saat ini, Bakrie Life baru melunasi sekitar Rp 90 miliar. Kabar terakhir, Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata menjelaskan, hingga saat ini Bakrie Life dan perwakilan nasabah terus berdiskusi terkait penyelesaian masalah pengembalian dana nasabah.

“Namun, Bakrie Life sempat bilang ada aset yang sudah disediakannya untuk memenuhi kewajiban kepada nasabahnya,” kata Isa di Jakarta, Rabu (17/10/2012).

Menurut Isa, konflik penyelesaian pembayaran dana nasabah ini hingga saat ini belum tuntas. Setiap dua minggu sekali, kedua pihak ini selalu melakukan rapat. Kebetulan Bapepam-LK memfasilitasi tempat rapat di antara kedua pihak tersebut, baik dari Bakrie Life maupun perwakilan nasabah. Namun, belum ada keputusan sepihak dari Bapepam-LK terkait penyelesaian dana nasabah yang belum kunjung usai tersebut.

“Kita tidak pernah bilang akan memutus (Bakrie Life). Mereka masih berdiskusi dan negosiasi,” ujarnya.

Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto menjelaskan, hingga saat ini skema untuk pengembalian dana nasabah belum tuntas. Namun, dia berjanji mengembalikan dana nasabah secepatnya. Dalam pertemuan akhir September lalu, pihak Bakrie Life berjanji memberikan jaminan berupa aset tanah sebesar 77,4 hektar di Makassar untuk membayar kerugian dana nasabah.

Salah satu perwakilan nasabah, Freddy, mengaku hingga saat ini belum mendapat ganti rugi atas dananya yang ditaruh di produk Diamond Investa tersebut. “Jika masalahnya terus berlarut-larut, kami akan mengajukannya ke Pengadilan Niaga,” kata Freddy.

Bakrie Life mengalami gagal bayar dana nasabah senilai Rp 360 miliar pada 2008 dan itu merupakan premi sekaligus investasi yang dihimpun dari ratusan nasabah pembeli produk Diamond Investa. Dari jumlah itu, Bakrie Life sudah mengembalikan dana nasabah sebesar Rp 90 miliar. Bakrie Life masih ada kewajiban pengembalian dana sisa sebesar Rp 270 miliar yang wajib dibayarkan secara dicicil dalam tiga tahun berturut-turut.
Editor :
A. Wisnubrata

Kamis, 01 November 2012 | 16:39 WIB
Tiga Perusahaan Bakrie Merugi di Kuartal III 2012

TEMPO.CO, Jakarta – Tiga perusahaan milik Grup Bakrie mencatatkan kerugian di kuartal III tahun ini. Perusahaan tersebut adalah PT Berau Coal Energy Tbk, PT Bakrieland Development Tbk, dan PT Bakrie Telecom, dengan total kerugian netto yang dapat diatribusikan pada pemilik entitas induk mencapai hingga Rp 1,4 triliun.

Kerugian pertama dialami oleh PT Berau Coal Energy dengan total keugian sebesar US$ 32,65 juta atau setara dengan Rp 300,3 miliar. Ini sangat anjlok jika dibandingkan dengan periode serupa pada tahun lalu yang bahkan bisa mencetak laba hingga US$ 111,51 juta.

Direktur Utama PT Berau Coal Energy, Roslan Perkasa Roeslani, dalam keterangan tertulisnya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, menyatakan laporan keuangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. “Semua informasi dalam laporan keuangan telah dimuat secara lengkap dan benar,” kata dia, Kamis , 1 November 2012.

Dalam laporan, perusahaan merugi karena turunnya penjualan, naiknya beban perseroan, rugi selisih kurs, serta turunnya nilai aset perseroan pada periode tersebut. Belum lagi akibat dari turunnya penjualan selama sembilan bulan berjalan sebanyak 7,13 persen dibandingkan dengan angka penjualan di periode serupa tahun lalu, dari US$ 1,207 miliar menjadi US$ 1,121 miliar.

Kerugian juga tercatat dalam laporan keuangan PT Bakrieland Development (ELTY). ELTY tercatat membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 133,01 miliar hingga kuartal III tahun ini. Merosot jauh ketimbang periode serupa tahun lalu yang sempat mencetak laba hingga sebanyak Rp 129,23 miliar.

Meruginya usaha properti Bakrie tersebut tak lepas dari turunnya pendapatan usaha dari yang semula bisa mencapai hingga Rp 1,4 triliun pada periode serupa di tahun lalu. Tahun ini ELTY hanya bisa membukukan pendapatan sebesar Rp 1,31 triliun. Belum lagi beban pajak perusahaan yang pada tahun ini membubung tinggi dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu, dari Rp 2,8 miliar menjadi Rp 50,24 miliar pada saat ini.

Terakhir, kerugian tercatat pada usaha telekomunikasi PT Bakrie Telecom dengan total mencapai Rp 988,24 miliar. Kerugian ini melonjak 53 persen ketimbang kerugian pada periode serupa tahun lalu yang sebanyak Rp 524,96 miliar.

Ruginya usaha Grup Bakrie di bidang telekomunikasi tersebut tak lepas dari unsur turunnya pendapatan perusahaan dari Rp 1,97 triliun pada periode serupa tahun lalu menjadi hanya Rp 1,77 triliun pada periode kali ini. Sementara itu, beban usahanya melonjak menjadi Rp 2,1 triliun dari sebelumnya hanya sebanyak Rp 2,09 triliun.

GUSTIDHA BUDIARTIE
Rugi Rp 133 M, ELTY anjlok 9% hari ini
Oleh Rika Theo – Kamis, 01 November 2012 | 16:57 WIB | Sumber Reuters

kontan
JAKARTA. Saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sempat anjlok 9,2% hari Kamis (1/11). Perusahaan properti itu melaporkan rugi selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Rugi bersih ELTY mencapai Rp 133,01 miliar sepanjang Januari 2012-September 2012. Padahal di periode yang sama setahun lalu, ELTY masih bisa untung Rp 129,23 miliar.

Kerugian ELTY itu akibat rugi valas yang melonjak, beban bunga, dan beban finansial.

Di akhir perdagangan hari ini, ELTY ditutup terpapas 6,15% ke Rp 61. Namun, ELTY mencatatkan volume transaksi tertinggi yang berjumlah 645,75 juta saham yang berpindah tangan.

Catatan saja, pekan lalu, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengatakan siap untuk mengakuisisi 60% saham PT Bakrie Toll Road, abak usaha Bakrieland.

Tak Lagi Merugi, Bakrie & Brothers Catat Laba Bersih Rp 252 Miliar
Herdaru Purnomo – detikfinance
Rabu, 31/10/2012 17:15 WIB

Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berhasil mencatatkan keuntungan di triwulan III-2012 setelah pada periode yang sama tahun 2011 mengalami kerugian. BNBR mencatat laba bersih Rp 252,7 miliar pada periode triwulan III-2012, sedangkan pada triwulan III-2011 BNBR mencatat kerugian Rp 650 miliar.

Sementara laba bersih per saham juga tercatat positif Rp 0,39. Per triwulan III-2011 perseroan mencatat rugi bersih per saham BNBR Rp 4,95.

Dikutip detikFinance, Rabu (31/10/2012) dari laporan keuangan triwulan III-2012 BNBR, laba bersih perseroan ditopang dari pendapatan bersih yang tumbuh menjadi Rp 13,84 triliun. Sedangkan Laba usaha tercatat Rp 1,6 triliun.

Total aset BNBR pada triwulan III-2012 tercatat Rp 16,96 triliun atau lebih rendah dari triwulan III-2011 yang sebesar Rp 25,21 triliun.

Sampai dengan triwulan III-2012 ini perseroan telah mengalami rugi kurs hingga Rp 151 miliar. Hal ini mengakibatkan membengkaknya beban perseroan yang tercatat Rp 1,2 triliun pada triwulan III-2012.

Bagian usaha dari Grup Bakrie ini belakangan ramai diberitakan. Grup Bakrie menyatakan melalui BNBR siap melepas kepemilikan sahamnya di Bumi Plc dan menawarkan opsi tukar saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

(dru/ang)

Grup Bakrie Siapkan 11 Tower Apartemen di Sentra Timur
Herdaru Purnomo – detikfinance
Minggu, 28/10/2012 13:22 WIB
Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk berencana menambah 11 tower atau sebanyak 5.500 unit di Apartemen Sentra Timur Residence. Perusahaan milik Grup Bakrie ini juga akan menyiapkan infrastruktur pendukung seperti rumah sakit dan pusat belanja di kawasan tersebut.

Dirut unit usaha City Property PT Bakrieland Development Tbk untuk Sentra Timur, Dicky Setiawan menyatakan infrastruktur memang akan menjadi fokus pengembangan Sentra Timur sebagai upaya menyediakan hunian bagi segmen menengah di Jakarta.

“Saat ini tengah diselesaikan pembangunan akses tol Lingkar Luar Jakarta. Pembangunannya sudah 80 persen ditargetkan akhir tahun 2012 sudah dapat dipergunakan,” kata Dicky dalam penjelasannya seperti dikutip detikFinance, Minggu (28/10/2012).

Menurut Dicky saat ini juga tengah dipersiapkan pembangunan terminal terpadu yang dirancang sebagai terbesar di Asia Tenggara, stasiun kereta api, dan membuka busway koridor 11 sampai di kawasan Sentra Timur.

“Rencananya, di lahan seluas 23 hektar di Sentra Timur akan dibangun apartemen, hotel, rumah sakit, pusat belanja, serta hunian tapak (landed house) bagi segmen menengah ke atas. Apartemen Sentra Timur Residence rencananya akan dibangun 11 tower atau 5.500 unit, dan yang telah direalisasikan sebanyak tiga tower sejumlah 1400 unit, serta sudah dihuni 950 unit,” ungkap Dicky.

Dicky mengatakan, Sentra Timur telah menyiapkan pembangunan 3 tower sebanyak 1000 unit lagi yang saat ini memulai tahap konstruksi. Sentra Timur saat ini juga tengah membangun rumah tapak untuk kelas atas Mutiara Platinum.

Hunian mewah ini akan dibangun di lahan seluas 17 hektare (ha), memiliki beberapa tipe yaitu tipe 130m2/160 m2, 130 m2/238 m2 dan 130 m2/259 m2. Pemasaran hunian tapak menengah atas ini akan dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama akan dipasarkan 11 rumah, dan tahap kedua sebanyak 26 unit.

Dengan berbagai jenis properti tersebut, kawasan Sentra Timur dirancang khusus sebagai hunian menengah atas dengan lokasi yang dekat kantor Walikota Jakarta Timur dan beberapa kantor pemerintahan yang bisa dijangkau dalam radius dua kilometer. “Lokasi ini juga sangat dekat dengan kawasan berikat Nusantara dan kawasan industri Bekasi sehingga memang tepat bagi pekerja swasta, BUMN, maupun pegawai negeri,” tegas dia.

(dru/nia)
Rabu, 24 Oktober 2012 | 14:53 WIB
Kurangi Beban Utang
Divestasi Aset Perseroan, Bakrie Brother Jajaki Calon Investor Baru

NERACA

Jakarta – Rencana PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melakukan divestasi terhadap aset-aset perseroan belum bisa dilakukan. Pasalnya, perseroan belum mencapai kesepakatan dengan sejumlah calon pembeli atau mitra usaha dalam investasi.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (24/10). Kata Direktur & Corporate Secretary BNBR, RA Sri Dharmayanti, saat ini perseroan masih dalam tahap penjajakan dengan sejumlah calon pembeli atau mitra, “Informasi detail mengenai divestasi asetakan kami samaikan setelah negosiasi selesai. Saat ini proses tersebut masih berlangsung dan perseoran terikat dengan perjanjian kerahasiaan antar pihak,”ujarnya.

Menurutnya, sebagai perusahaan investasi, perseroan mempertimbangkan setiap peluang yang ada baik dalam investasi maupun divestasi aset-aset perseroan. Perseroan telah beberapa kali melakukan pertemuan dengna para calon pembeli atau mitra usaha yang berminat mengadakan kerja sama. Beberapa diantaranya para calon pembeli atau mitra usaha dari investor dalam dan luar negeri.

Namun perseroan memastikan rencana divestasi terebut tidak termasuk dalam transaksi material. Belum lama ini, Grup Bakrie mengajukan proposal untuk melakukan tukar guling sahamnya di Bumi Plc dengan 29% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Grup Bakrie kini menguasai 23,8% saham Bumi Plc akan menukarnya dengan sekitar 10,3% saham BUMI. Selanjutnya sisa saham BUMI yaitu sekitar 18,7% akan dilunasi grup Bakrie dengan pembayaran tunai.

Sebelumnya, PT Bakrie Land Development juga menyampaikan rencana melepas kepemilikan saham sebagian atau seluruhnya di perusahaan pengelola jalan tol PT Bakrie Toll Road (BTR). Direktur Utama ELTY, Ambono Janurianto pernah bilang, hasil divestasi saham BTR digunakan untuk mengurangi utang perseroan. Pasalnya, pengurangan utang menjadi target manajemen agar tidak membebani kinerja keuangan. “Kami divestasi BTR untuk kurangi utang,”katanya.

Dia menambahkan, manajemen terus bernegosiasi dengan beberapa investor yang meminati saham BTR. Besaran pelepasan saham pengelola Kanci-Pejagan milik ELTY juga masih dibicarakan oleh kedua belah pihak.

Manajemen ELTY dapat menjual seluruh kepemilikan tidak langsung atau melepas sebagian dengan tetap mempertahankan sebagian kepemilikannya.”Kita belum tahu berapa yang dilepas, karena diskusinya masih berlangsung,” paparnya.

Di ELTY, kepemilikan grup Bakrie sudah tidak mayoritas paska masuknya Limitless Limitless World International Services Ltd. Kini, saham Bakrie di perusahaan properti itu hanya tersisa 8%. ELTY yang merupakan salah satu anak usaha group Bakrie bidang properti dan infrastruktur ini, menguasai 69,99% saham di BTR melalui anak usahanya yaitu PT Bakrie Infrastructure. Sementara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai tulang punggung bisnis Bakrie di sektor tambang mencatatkan rugi bersih US$ 334,111 juta atau setara Rp 3,14 Triliun sepanjang semester I-2012. Penyebab utamanya, karena dua hal yakni rugi kurs dan transaksi derivatif.

Mengutip lapora keuangan BUMI 2011, perseroan mencatatkan utang jatuh tempo tahun 2012 mencapai US$638 juta (Rp6,38 triliun). Sementara di tahun 2013 sebesar US$1,1 miliar, 2014 sebesar US$635 juta, 2015 sebesar US$313 juta, 2016 sebesar US$450 juta dan di 2017 sebesar US$700 juta. Maka jika disederhanakan, hingga 2014 BUMI harus melunasi utang jatuh tempo sebesar US$3 miliar (Rp30 triliun). Bani

(Bani)

Bakrie mulai jual aset untuk bayar utang
Reporter: Ririn Radiawati
Jumat, 19 Oktober 2012 08:44:00
Bakrie mulai jual aset untuk bayar utang
merdeka.com

Menumpuknya utang di tubuh perusahaan Bakrie yang berada di bawah Bakrie & Brothers harus direstrukturisasi maupun dilunasi. Hingga semester pertama tahun ini, perusahaan yang mempunyai kode emiten BNBR itu telah mencatat total utang yaitu Rp 10 triliun.

Presiden Direktur BNBR Bobby Gofur Umar mengatakan bahwa salah satu solusi untuk melunasi utang-utang yang menjadi beban perusahaan adalah dengan melepas kepemilikan saham di beberapa perusahaan Bakrie.

“Ada beberapa unit yang sedang dalam taraf pembicaraan dengan calon partner tersebut untuk kepemilikan 40-75 persen di unit manufaktur kami,” ujar Bobby kepada merdeka.com, Jumat (19/10).

Bobby mengatakan bahwa proses divestasi ini sejalan dengan rencana perseroan dengan pola kerja sama rekanan dengan pemain global yaitu Korea, Jepang dan China.

Dia mengatakan, beberapa aset dan unit perusahaan pengolahan yang akan dilepas sahamnya antara lain adalah Seamless Pipe Indonesia Jaya, Bakrie Pipe Indonesia, South East Asian Pipe Indonesia, South East Asian Pipe, Bakrie Construction, Bakrie Building Industries dan lainnya.

“Selain memperkuat lini manufakturnya, juga BNBR bisa mendapatkan dana segar untuk pembayaran utang dan investasi ke depannya di bidang infrastruktur,” ujar dia.

Sayangnya, Bobby enggan menyebutkan berapa total dana yang didapatkan melalui pelepasan saham tersebut. “Saya tidak bisa disclose angkanya karena terkait dengan kontrak kerahasiaan,” kata dia.

Bobby mengatakan, selain akan mendapat dana segar, divestasi ini juga akan menguntungkan pihak perusahaan. “Pola divestasi kepemilikan di unit-unit manufaktur tersebut adalah pola kerjasama strategis untuk pengembangan ke depannya dengan alih teknologi dan penetrasi pasar ekspor di mana calon-calon partnernya adalah pemain kelas dunia dari Korea, Jepang, China,” jelas dia.

Meski begitu, lanjut Bobby, BNBR masih memiliki fokus usaha yang masih ditekuni, yaitu sumber daya alam dan infrastruktur. Kegiatan divestasi tersebut rencananya akan selesai akhir tahun ini hingga kuartal pertama tahun depan.
[rin]

Cadangan BRMS tak sebanding dengan kas perusahaan
Oleh Muhammad Khairul – Selasa, 16 Oktober 2012 | 06:46 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) melaporkan, jumlah cadangan tambang milik PT Gorontalo Minerals lebih besar dari estimasi awal.

Analis Samuel Sekuritas Yualdo T. Prawiro mengatakan, angka cadangan mineral yang dilaporkan Joint Ore Reserve Committe Resources (JORC Resources) ini lebih tinggi 133,6% dari perkiraan awal 125 juta ton. “Ini menghilangkan keraguan terkait deposit mineral di Gorontalo yang selama ini hanya dapat diperkirakan,” kata dia.

Hanya saja, BRMS masih sangat terkendala dalam realisasi produksi dari portofolio aset yang ada. “Karena posisi kas terbatas,” ujar dia. Posisi kas dan setara kas BRMS per Juni hanya US$ 67,24 juta.

BRMS memiliki dua aset terbesar, yakni di Dairi (Sumatera Utara) dan Gorontalo. Dairi membutuhkan sekitar US$ 100 juta per tahun hingga 2014. Sementara proyek Gorontalo telah menghabiskan US$ 75 juta dan masih membutuhkan lebih dari US$ 100 juta sampai produksi di 2015.

Hitungan Yualdo, kas BRMS akan negatif di 2013 dan 2014 apabila harus membiayai kedua proyek. Alternatifnya, emiten harus mencari project financing untuk tiap proyek setidaknya hingga tiga tahun ke depan.

Alternatif lain dengan menjual saham BRMS. Sebelumnya, Presiden Direktur BRMS Samin Tan pernah menyatakan akan menjual 20% saham BRMS dengan target perolehan dana sebesar US$ 400 juta.

Meleset

Anak usaha BRMS yang bisa berproduksi dalam waktu dekat adalah tambang biji besi di Mauritania, Afrika Selatan. “Mauritania baru dapat berkontribusi tahun depan karena belum dapat surat izin ekspor dari pemerintah Mauritania,” ujar Yualdo.

Padahal, rencana awal, tambang ini bisa kontribusi pada pertengahan tahun ini dengan 600.000 ton. Namun, Yualdo menduga, kontribusinya baru terasa di 2013 dengan volume produksi 200.000 ton. Itu berarti, senilai US$ 21,6 juta dengan asumsi harga jual rata-rata US$ 120 per ton.

Akibat penundaan tersebut, Yualdo menurunkan estimasi pendapatan 2012 menjadi US$ 23 juta dari proyeksi sebelumnya US$ 90 juta. Dia juga memperkirakan BRMS masih akan merugi hingga tahun depan akibat beban bunga.

Selain itu, setoran laba dari PT Newmont Nusa Tenggara berkurang menjadi US$ 38 juta di tahun ini dari US$ 112 juta di tahun lalu. Ini karena, produksi emas 2012 turun menjadi 70.000 ons dari sebelumnya 318.000 ons. Produksi tembaga juga turun dari 283 juta pon jadi 170 juta pon.

Reza Priyambada, Head of Research Trust Securities, menilai, secara teknikal harga BRMS di Rp 445 merupakan level menarik untuk akumulasi beli.
Para analis yang dihubungi KONTAN pun masih merekomendasikan beli pada saham BRMS. Reza memasang target di Rp 600 – Rp 650 hingga akhir tahun 2012.

Sementara Yualdo menargetkan Rp 790. “Kami melihat potensi pertumbuhan BRMS dari prospek asetnya,” kata ia. Target tersebut mencerminkan price to book value (PBV) 0,99 kali di 2012.

Hariyanto Wijaya, analis Mandiri Sekuritas, menargetkan Rp 830. Sementara Isnaputra Iskandar dari Nomura proyeksi di Rp 810. Senin (15/10), saham BRMS ditutup turun 2,2% di Rp 445.
Saham-saham Grup Bakrie Bakal Dorong IHSG Naik

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Jumat, 12 Oktober 2012 | 03:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pengamat pasar modal Willy Sanjaya meyakini potensi kenaikan saham-saham grup Bakrie bakal mendorong penguatan IHSG Jumat (12/10/2012). Seperti apa?

Pada perdagangan Kamis (11/10/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat tipis 4,957 poin (0,12%) ke angka 4.284,967. Intraday tertinggi mencapai 4.284,967 dan terendah 4.260,859. Di sisi lain, indeks saham unggulan LQ45 yang justru melemah 0,28 poin (0,04%) ke angka 741,802. Berikut ini wawancara lengkapnya:

IHSG akhirnya mendarat di teritori positif. Apa yang terjadi?

Penguatan IHSG kemarin karena adanya kabar gembira dari pertemuan grup Bakrie dengan BUMI Plc di Singapura yang mendorong kenaikan pesat pada saham-saham di grup ini. Jumat ini pun, saham-saham grup Bakrie bakal mendorong penguatan indeks.

Apa hasil pertemuan itu sehingga bisa membawa IHSG ke zona positif?

Salah satu kesimpulannya adalah BNBR akan mengembalikan kepemilikan BUMI Plc-nya, dan BUMI Plc akan mengembalikan kepemilikan PT BRAU dan BUMI. Tapi, kesepakatan itu masih berjalan di Singapura dan skema seperti apa, pasar belum tahu jelas.

Tapi, sejauh ini, pasar melihat hubungan grup Bakrie dengan Rothschild akhirnya benar-benar kandas setelah BNBR dan Long Haul Holding Limited mengajukan proposal melepas kepemilikan saham di Bumi Plc. Dalam proposal itu disebutkan, BNBR dan Long Haul berniat membatalkan kepemilikan 23,8% saham Bumi Plc.

Kedua perusahaan Group Bakrie ini akan melepas saham Bumi Plc dengan cara menukarnya dengan 10,3% saham BUMI yang dipegang oleh Bumi Plc. Selain itu, Group Bakrie akan membeli secara tunai sisa saham BUMI yang dipegang oleh Bumi Plc paling lambat Natal 2012. Sisa saham yang akan dibeli tunai sebesar 18,9%. Catatan saja, Bumi Plc menguasai 29,18% saham BUMI.

Pasar sudah menyambut positif sehingga saham BRAU mengalami autoreject. Begitu juga dengan BRMS dan BORN yang naik signifikan. Bahkan, hampir semua saham grup Bakrie mengalami kenaikan. Pasar melihat Rothschild ditendang dari BUMI yang sejauh ini memicu segala masalah pada emiten sejuta umat itu. Jika memang skenarionya seperti ini, cukup menggembirakan bagi pemegang saham grup Bakrie.

Kalau begitu, bagaimana Anda melihat arah pergerakan IHSG Jumat (12/10/2012) ini?

Saya melihat terbukanya peluang penguatan indeks akhir pekan ini. IHSG memiliki support 4.244 dan resistance 4.315. Penguatan pada saham-saham grup Bakrie juga akan memicu penguatan pada saham-saham di sektor pertambangan.

Saham-saham pilihan Anda?

Saya rekomendasikan positif 9 sembilan saham sekaligus target harganya untuk jangka pendek. Saham-saham pilihan saya adalah PT Berau Coal Energy (BRAU) dengan target jangka pendek Rp250; PT Bumi Resources (BUMI) Rp750; PT Bumi Resouces Mineral (BRMS) Rp550; PT Vale Indonesia (INCO) yang sudah turun cukup dalam dnegan target Rp3.100;

PT Timah (TINS) yang sudah turun cukup dalam dengan target jangka pendek Rp1.650; Begitu juga dengan PT Aneka Tambang (ANTM) Rp1.400; PT Telkom (TLKM) Rp10.000; PT Indosat (ISAT) dengan target jangka pendek Rp6.500; dan PT Borneo Lumbung Energi (BORN) juga sudah sangat menarik.

Potensi sederet aset itu baru tercantum di kertas
Oleh Yuwono Triatmodjo – Kamis, 11 Oktober 2012 | 16:19 WIB

kontan

Bagai macan ompong, PT Bumi Resources Minerals Tbk punya banyak aset namun belum berproduksi. Sementara penghasilan dari perusahaan asosiasi seperti Newmont Nusa Tenggara merosot tajam. Bagaimana nasib emiten ini di masa depan?

Tahun ini, tampaknya, emiten-emiten yang terafiliasi Grup Bakrie memang menghadapi tantangan berat. Tak terkecuali PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Kinerjanya di semester pertama 2012 anjlok lantaran kontribusi dari perusahaan asosiasi merosot drastis. Di saat yang bersamaan, aset-aset utama emiten bersandi BRMS ini belum juga mulai menghasilkan alias berproduksi.

Cerita kurang manis Bumi Resources Minerals datang saat PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), anak usaha yang dimi-liki secara tidak langsung melalui PT Multi Daerah Bersaing (MBD), mencetak kinerja buruk. Multi Daerah Bersaing adalah pemilik 24% saham Newmont. Lewat kepemilikannya di Multi Daerah Bersaing, Bumi Resources menggenggam secara tak langsung saham Newmont sebesar 18%.

Pada semester I–2012, produksi emas dan tembaga Newmont turun drastis. Produksi emas mereka hanya sebesar 38.000 ons dari 143.000 ons alias turun 73,42% dari periode yang sama tahun 2011. Sementara produksi tembaga mereka susut 39,71% menjadi 85 juta pon dari sebelumnya 141 juta pon.

Kondisi ini jelas memukul kinerja Bumi Resources Minerals yang pada 2011 lalu memperoleh bagian atas laba Newmont senilai US$ 112 juta. Asal tahu saja, pendapatan operasional Bumi Resources Minerals kala itu hanya US$ 3 juta. Karena kontribusi dari Newmont, akhirnya, mereka bisa mencetak laba bersih US$ 76 juta. Terbayang, betapa signifikan kontribusi Newmont pada Bumi Resources. Namun, per Juni 2012, kondisi berbalik. Bumi Resources Minerals justru membukukan kerugian pada anak usahanya itu senilai US$ 4,18 juta.

Analis Samuel Sekuritas Yualdo T. Yudoprawiro memperkirakan, sampai akhir 2012, total produksi emas Newmont cuma 70.000 ons, turun dari produksi 2011 sebanyak 318.000 ons. Sementara, produksi tembaga susut menjadi 170 juta pon, dari sebelumnya 283 pon.

Alhasil, lanjut Yualdo, kontribusi Newmont bagi laporan kinerja keuangan Bumi Resources Minerals tahun ini pun akan susut menjadi US$ 38 juta dari tahun sebelumnya US$ 112 juta. Bumi Resources Minerals pun, menurut hitungan Yualdo, terancam mencatatkan rugi bersih senilai US$ 30 juta.

Anak usaha masih belum berproduksi

Sebenarnya di medio 2012, ada angin segar dari Joint Ore Reserve Committe Resources (JORC Resources), sebuah lembaga standardisasi pelaporan hasil eksplorasi asal Australia. Mereka melaporkan, sumber daya mineral di konsesi Sungai Mak, Gorontalo, milik Bumi Resources Minerals melalui PT Gorontalo Minerals, mencapai 292 juta ton dengan kadar tembaga 0,5% dan emas 0,47 gram per ton. Angka cadangan mineral itu 133,6% lebih tinggi dari perkiraan awal 125 juta ton.
Tak hanya itu, Newmont Mining Corporation juga merilis indikasi cadangan mineral di konsesi Elang sebesar 1.430 juta ton, lebih tinggi 45% dari cadangan Batu Hijau.

Jika kita bongkar laporan keuangan Bumi Resources Minerals medio 2012, pendapatan operasional mereka hanya bergantung pada anak usahanya, Bumi Resources Japan Company Limited, yang memasarkan batubara PT Kaltim Prima Coal (KPC). Bersyukur, kontribusi laba dari entitas asosiasi (Newmont) mampu mengerek kinerja keuangannya.

Yualdo melihat, meski Bumi Resources Minerals punya banyak aset, kebanyakan aset itu masih green field alias belum berproduksi. Dana kas yang terbatas untuk membiayai belanja modal atau capital expenditure (capex) jadi kendalanya.

Posisi kas dan setara kas Bumi Resources Minerals Juni lalu hanya US$ 67,24 juta. Padahal, proyek tambang timah dan seng Dairi, Sumatra Utara, membutuhkan dana US$ 100 juta per tahun, hingga ia berproduksi di tahun 2014. Proyek tambang tembaga dan emas Gorontalo, yang sudah menelan dana US$ 75 juta, juga masih membutuhkan dana segar lebih dari US$ 100 juta hingga bisa berproduksi di tahun 2015.

Anak usaha Bumi Resources Minerals yang bisa berproduksi dalam waktu dekat, kata Yualdo, adalah aset biji besi di Mauritania, Afrika Selatan. Mereka menguasai lewat Bumi Mauritania SA dan Tamagot Bumi SA.

Sebelumnya, Bumi Resources Mineral memprediksi tambang Mauritania berproduksi di medio 2012 sebanyak 600.000 ton. “Namun, kami berasumsi, produksi baru mulai di semester pertama 2013 sebanyak 200.000 ton,” tutur Yualdo.

Dengan asumsi harga jual rata-rata (ASP) bijih besi di 2013 senilai US$ 120 per ton, Bumi Resources Minerals berpotensi meraih pendapatan dari tambang di Mauritania sekitar US$ 21,6 juta.

Masih layak beli

Analis JP Morgan Stevanus Juanda, dalam risetnya akhir Agustus lalu, menyebut, produksi tambang Mauritania akan menjadi kunci penting pengubah persepsi investor. Bumi Resources Minerals akan dinilai mampu mengubah aset green field-nya menjadi berproduksi (monetization).

Setidaknya ada tiga risiko, lanjut Stevanus, yang kini dihadapi investor pemegang saham Bumi Resources Minerals. Pertama adalah potensi penundaan jadwal pengerjaan proyek di anak usaha. Kedua, risiko penurunan laba dan dividen dari Newmont. Dan, ketiga adalah beban obligasi.

Dalam laporan keuangan semester I–2012 Bumi Resources Minerals tercatat, 14 Juni lalu mereka mendapat pinjaman Credit Suisse senilai US$ 100 juta, dengan bunga LIBOR + 6% yang jatuh tempo hingga 19 September 2013. Total utang mereka pun naik menjadi sekitar US$ 476,40 juta. Akibatnya, bunga utang yang harus dibayar BRMS naik 20,23% dari US$ 23,48 juta menjadi US$ 28,23 juta. JP Morgan pun lantas menurunkan target harga saham BRMS dari sebelumnya Rp 710 menjadi Rp 600 per saham hingga 12 bulan mendatang.

Sementara, Yualdo menilai, keluarnya laporan JORC Resources seharusnya membuka peluang Bumi Reources Minerals memperoleh pendanaan eksternal lagi. Salah satu cara yang juga bisa mereka tempuh adalah mencari strategic partner project financing. Jika dihitung, rasio utang terhadap ekuitas (DER) Bumi Resources Minerals saat ini baru 0,3 kali.

Yulado memasang target harga saham BRMS Rp 790 per saham hingga 12 bulan mendatang. Valuasi itu merefleksikan nilai buku per saham (PBV) BRMS tahun 2012 sebesar 1,37 kali. Dia pun merekomendasikan beli saham ini.

Hingga penutupan pasar Kamis (4/10) pekan lalu, harga saham BRMS berakhir di level Rp 510 per saham.

***Sumber : KONTAN MINGGUAN 02 – XVII, 2012 Saham
Senin, 10 September 2012 | 12:59 WIB
Kerugian Bumi Perberat Utang Grup Bakrie

TEMPO.CO, Jakarta – Dunia pasar modal Jakarta mendadak heboh pada akhir Agustus 2012. Sebabnya, sebuah pesan pendek telepon seluler mengabarkan bila grup Bakrie terlilit utang. Awalnya, berita itu bagai sebuah gosip.

Nyatanya, sepekan kemudian, rumor itu seketika menjadi kenyataan. Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian sementara alias suspensi perdagangan saham dan obligasi BTEL, kode untuk Bakrie Telecom.

Penyebabnya, perusahaan operator telepon seluler Esia yang berbasis CDMA itu gagal melunasi utang obligasi BTEL I 2007 yang jatuh tempo.

Tapi apa sebab Grup Bakrie berutang? Kata sumber Tempo, belitan utang terjadi akibat Bumi merugi serta buah dari praktek gadai saham yang ditengarai menjadi modus pencarian dana Grup Bakrie.

Bumi, yang paling “berdaging” dibandingkan dengan perusahaan lainnya, kini kosong kantongnya. “Likuiditas perusahaan Bakrie sudah akut,” kata si sumber dalam laporan majalah Tempo edisi 10 September 2012 berjudul Tsunami Utang Bakrie.

Likuiditas ini sendiri merupakan kunci Bakrie menghadapi utang yang jatuh tempo akibat gadai saham. Dan kata si sumber, semuanya adalah soal momen. Bila pada saat jatuh tempo Bakrie tak punya uang, semua perusahaan bakal kena imbasnya.

Karena itu Bakrie mencari dana dari pelbagai lembaga keuangan dengan cara gadai saham meski dibebani bunga tinggi. Cara ini ditempuh karena tak ada akses ke perbankan. “Gadai saham bisa bikin Grup Bakrie kehilangan Bumi,” katanya.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Bumi, Dileep Srivastava, menolak perusahaannya disebut berada di ambang kebangkrutan. “Bagaimana bisa bangkrut jika dalam setiap kuartal kinerjanya meningkat?” kata Dileep.

Utang Bakrie yang jatuh tempo itu memang tak segelintir. Sekitar Rp 650 miliar, sedangkan Bakrie Telecom hanya memiliki dana Rp 250 miliar. Tak cuma itu. Sepekan sebelum suspensi, Bumi Resources Tbk mengumumkan rugi US$ 322 juta pada semester pertama 2012. Kata Bumi, mereka merugi akibat transaksi derivatif US$ 145,83 juta karena kejatuhan harga saham dan kemerosotan nilai opsi prepayment pinjamannya ke China Investment Corp (CIC) sebesar US$ 1,3 miliar.

Kerugian kemudian membengkak setelah nilai tukar rupiah melemah. Bumi tekor US$ 50,28 juta. Kepercayaan terhadap kinerja Bumi bertambah anjlok lantaran kegagalan mencairkan investasinya di PT Recapital Asset Management sebesar US$ 231 juta. Rencananya, duit itu akan dipakai buat membayar utang tahap kedua sebesar US$ 600 juta ke CIC pada Oktober mendatang. Rentetan kejadian itu sontak direspons dengan rontoknya nilai saham Bumi hingga Rp 630 per lembar

Total utang sepuluh perusahaan yang jatuh tempo pada 2012 mencapai Rp 9,67 triliun. Mereka adalah PT Bakrie & Brothers Tbk, Bumi, Bakrieland Development, Energi Mega Persada, Bakrie Sumatera Plantations, Bakrie Telecom, Berau Coal, Visi Media, serta Darma Henwa. Bumi, contohnya, mesti membayar utang sekitar Rp 573 miliar. Tahun depan, perusahaan-perusahaan itu masih harus melunasi tagihan belasan triliun.

SATWIKA MOVEMENTI | JOBPIE SUGIHARTO | TOMY ARYANTO | CORNILA DESYANA
Bakrie & Brothers Akan Bayar Utang ke Credit Suisse
Pinjaman US$437 juta itu berasal dari Credit Suisse AG, Singapura.
Selasa, 2 Oktober 2012, 09:45 Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – PT Bakrie & Brothers Tbk, Long Haul Holdings Ltd, dan para kreditor menyepakati rencana pembayaran pinjaman senilai US$437 juta. Pinjaman itu berasal dari Credit Suisse AG, cabang Singapura.

“Kami juga sudah membahas status pinjaman Bakrie & Brothers dan Long Haul Holdings itu dengan Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK pada 26 September 2012,” kata Direktur Bakrie & Brothers, RA. Sri Dharmayanti, dalam penjelasan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia di Jakarta.

Menurut Sri Dharmayanti, penjelasan keterbukaan informasi atas pinjaman itu telah disampaikan sebelumnya pada surat perseroan pada 16 Januari 2012.

Seperti diketahui, Bakrie & Brothers dan Long Haul Holdings Ltd menandatangani perjanjian kredit untuk menerima fasilitas pinjaman (term loan facility) sebesar US$437 juta dari Credit Suisse AG, cabang Singapura sebagai structuring agent. Long Haul Holdings adalah perusahaan yang berkedudukan di Nevis, West Indies di Kepulauan Karibia.

Dikutip dari keterangan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia, Selasa, 17 Januari 2012, manajemen Bakrie & Brothers mengungkapkan, dari jumlah pinjaman tersebut, bagian dari fasilitas pinjaman yang tersedia untuk perseroan adalah US$193,9 juta.

“Berdasarkan perjanjian pinjaman, kewajiban perseroan terpisah dari kewajiban Long Haul Holdings,” ujar RA. Sri Dharmayanti.

Manajemen Bakrie & Brothers tidak menjelaskan detail penggunaan fasilitas pinjaman yang disepakati pada 12 Januari 2012 tersebut. Namun, perusahaan memastikan bahwa fasilitas pinjaman tersebut bukan merupakan transaksi terafiliasi seperti diatur dalam ketentuan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Dalam transaksi tersebut, manajemen Bakrie & Brothers menyatakan tidak masuk dalam kategori transaksi material sebagaimana diatur dalam Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.E.2 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.

Ini rincian utang BUMI & anak usaha per Juni 2012
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 02 Oktober 2012 | 06:54 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana menggelar public expose perusahaan pada hari ini (2/10). Salah satu agendanya adalah membahas mengenai posisi keuangan BUMI untuk membantah tudingan penyelewengan keuangan yang dituduhkan Bumi Plc.

Dalam Keterbukaan Informasi di Bursa Efek Indonesia tadi malam, BUMI menjelaskan posisi utang perusahaan per Juni 2012. Ini rinciannya:

PINJAMAN BUMI

- Obligasi Konversi I senilai US$ 364,71 juta yang jatuh tempo Agustus 2014
– Fasilitas UBS AG senilai US$ 25 juta yang jatuh tempo Juli 2012
– Fasilitas Country Forest Limited 2009 senilai US$ 1.281,47 yang jatuh tempo Oktober 2014, 2015
– Guaranteed Senior Secured Notes senilai US$ 296,53 juta yang jatuh tempo November 2016
– Fasilitas Credit Suisse 2010 senilai US$ 147,25 juta yang jatuh tempo Agustus 2013
– Guaranteed Senior Secured Note II senilai US$ 679,60 juta yang jatuh tempo Oktober 2017
– Fasilitas UBS AG senilai US$ 75 juta yang jatuh tempo April 2015
– Fasilitas Axis Bank Limited 2011 senilai US$ 178,95 juta yang jatuh tempo Agustus 2016
– Fasilitas Deutsche Bank 2011 senilai US$ 146,60 juta yang jatuh tempo Oktober 2014
– Fasilitas China Development Bank senilai US$ 594,52 yang jatuh tempo Februari 2016

Dengan demikian, total pinjaman BUMI per Juni 2012 adalah US$ 3.789,63 juta

PINJAMAN ENTITAS ANAK

- Fasilitas Credit Suisse 2012 senilai US$ 97,24 juta yang jatuh tempo Juni 2013
– Fasilitas Credit Suisse 2010 senilai US$ 202,85 juta yang jatuh tempo September 2013
– Fasilitas Pinjaman Nomura senilai US$ 18,46 juta yang jatuh tempo Januari 2016
– Fasilitas PT Bank CIMB Niaga Tbk senilai US$ 2,23 juta yang jatuh tempo Desember 2012
– Fasilitas Bank Bukopin senilai US$ 0,91 juta yang jatuh tempo Juli 2016
– Fasilitas Bank Mualamat senilai US$ 1,72 juta yang jatuh tempo April 2016

Jika ditotal, nilai pinjaman entitas anak usaha senilai US$ 323,41 juta

Bakrie Life Menyatakan akan Mengembalikan Dana Nasabah
AntaraAntara – 17 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) – PT Bakrie Life menyatakan akan mengembalikan dana nasabahnya yang raib di produk Diamond Investa dengan mencairkan aset perusahaan sebagai jaminan.

“Status aset perusahaan bebas dan milik group, dalam bulan ini akan diselesaikan jaminannya dan segera akan dijadikan uang dengan cara apapun. Sekarang bagaimana aset dan kewajiban itu dituntaskan,” ujar Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto di Jakarta, Rabu.

Meski demikian, Timoer belum mengungkapkan skema apa yang dilakukan untuk mencairkan aset perusahaan untuk mengembalikan dana nasabah, pihaknya juga masih akan bertemu dengan nasabah dalam dua minggu ke depan.

“Setiap dua Minggu kita ketemu, semoga dalam pertemuan berikutnya masalah aset bisa diselesaikan,” katanya.

Salah satu nasabah Bakrie Life yang mengatasnamakan Bakrie Life Crisis Center, Freddy mengatakan, jika pihak nasabah belum mendapat ganti rugi atas raibnya dana yang ditaruh di produk Diamond Investa milik Bakrie Life itu, maka pihaknya akan mengajukan gugatan ke pengadilan niaga.

“Peluang untuk ke Pengadilan Niaga itu ada jika masalahnya masih berlarut-larut, sebagian nasabah dari Bandung sudah ada tujuan ke sana,” kata Freddy.

Ia mengatakan, dalam pertemuan dengan manajemen Bakrie Life hari ini (26/9) pihak Bakrie Life menjanjikan jaminan berupa aset tanah sebesar 77,4 hektare di Makasar untuk membayar kerugian dana nasabah.

Sementara, lanjut dia, dari pihak Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dinilai tidak memberikan kontribusinya terhadap kasus yang menimpa nasabah Bakrie Life.

“Asosiasi sudah dihubungi beberapa kali, tapi sepertinya mereka enggan ikut campur tangan, sebenarnya asosiasi cukup mempunyai peran,” katanya.

Ia juga mengatakan, sejauh ini pihak Bapepam-LK juga hanya sebagai “pencatat” saja dalam memediasi kasus ini.

“Bapepam-LK tidak bisa jadi wasit, dan hanya pencatat saja,” kata Freddy saat ditemui di Bapepam-LK, Rabu ini.

Seperti diketahui, Bakrie Life mengalami gagal bayar dana nasabah senilai Rp360 miliar pada 2008 dan itu merupakan premi sekaligus investasi yang dihimpun dari ratusan nasabah pembeli produk Diamond Investa.

Dari jumlah itu, Bakrie Life sudah mengembalikan dana nasabah sebesar Rp90 miliar sehingga ada kewajiban pengembalian dana sisa sebesar Rp270 miliar yang wajib dibayarkan secara dicicil dalam tiga tahun berturut-turut.

Sementara, Kepala Biro Asuransi Bapepam-LK Isa RachmatarwataIsa Rachmatarwata ketika ditanya mengenai kasus Bakrie Life dengan nasabahnya, sama sekali tidak memberikan berkomentar.(rr)

Tak Ada Biaya, 6 Proyek Tol Bakrie Mangkrak
Zulfi Suhendra – detikfinance
Selasa, 25/09/2012 14:59 WIB

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) mencatat proyek-proyek jalan tol yang digarap oleh Grup Bakrie tak berjalan alias mangkrak. Penyebabnya selain pembebasan lahan juga masalah finansial.

“Pokoknya mayoritas tol Bakrie itu sedang istirahat,” ungkap Kasubdit Pengadaan Tanah Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Heri Marzuki saat ditemui di Kantor Kementerian PU, Jakarta, Selasa (25/9/12).

Heri menjelaskan antaralain jalan tol Pejagan-Pemalang yang saat ini proses pembebasan lahannya terhenti. Padahal, menurut Heri, saat ini proses pembebasan lahan untuk rencana pembangunan ruas tol ini sudah mencapai 29%.

“Progres terakhir itu 29%, tapi itu terhenti awal tahun, nggak ada pendanaannya. Mandek dipembiayaan,” jelasnya.

Selain itu, ruas tol Ciawi-Sukabumi yang juga terhenti sejak Agustus kemarin. Harry mengatakan, hanya 6% dari lahan seluas 572 hektar yang telah terbebaskan.

“Ciawi Sukabumi juga terhenti kasusnya sama dengan Pejagan Pemalang, masalah pendanaan, nggak banyak kok cuma Rp 700 miliar. Sejak Puasa dan Lebaran kemarin, tapi sejak Januari dia tidak ada BOP (Biaya Operasional),” tambahnya.

Heri mengatakan, sedikitnya ada 6 ruas tol milik Bakrie yang terhenti proses pengerjaannya karena masalah pendanaan. “Ciawi-Sukabumi, Pejagan- Pemalang, Batang-Semarang 1 dan 2, Pasuruan-Probolinggo, Cimanggis- Cibitung,” tutupnya.

(zul/hen)
Rabu, 12/09/2012 17:48 WIB
KPK Geledah Kantor Bogor Nirwarna Residence Terkait Korupsi Alquran
Danu Mahardika – detikNews
Jakarta KPK hari ini menggeledah kantor PT Bogor Nirwana Residence (BNR) di Bogor, Jawa Barat. Penggeledahan diduga terkait kasus pengadaan Alquran dengan tersangka Zulkarnaen Djabbar.

“Iya benar, pada hari ini KPK melakukan penggeledahan di PT BNR Bogor terkait kasus di Kemenag,” kata Kabag Pemberitaan KPK Priharsa Nugraha, saat dikonfirmasi, Rabu (12/9/2012).

Informasi yang dihimpun, penggeledahan ini digelar sejak siang tadi. Hingga sore ini, tim belum kembali ke KPK.

Saat ditanya lebih jauh soal kaitan PT BNR dengan kasus Alquran, Priharsa belum memberi penjelasan. “Saya harus cek dulu,” imbuhnya.

KPK telah menetapkan dua orang tersangka dalam penyidikan kasus dugaan korupsi proses pembahasan anggaran pengadaan Alquran di Kemenag. Dua tersangka itu ternyata memiliki hubungan ayah dan anak. Kedua tersangka itu adalah anggota Komisi VIII DPR Fraksi Partai Golkar, Zulkarnaen Djabar dan anaknya, Dendi Prasetya yang tercatat sebagai Sekjen Gerakan Muda MKGR. KPK sudah menahan Zulkarnaen. Dia ditahan dalam pemeriksaan perdananya sebagai tersangka.

(mad/ndr)
BRMS ungkapkan potensi tambang miliknya
Oleh Astri Kharina Bangun – Rabu, 12 September 2012 | 15:24 WIB

kontan

JAKARTA. Konsesi tembaga dan emas PT Bumi Resources Tbk (BRMS) di Gorontalo, Sulawesi, diprediksi mengandung sumber daya mineral yang cukup besar. Demikian laporan BRMS atas hasil kajian yang dilakukan SRK Consulting (Australasia) Pty Ltd, Australia (SRK).

SRK melakukan kajian pada 27 Juli 2012 dan 8 Agustus 2012 di Cabang Kiri dan Sungai Mak. Keduanya merupakan bagian dari konsesi tambang yang dioperasikan oleh PT Gorontalo Minerals (GM). BRMS menguasai 80% saham GM, sementara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki 20% sisanya.

Berdasarkan laporan SRK, di tambang Cabang Kiri dan Sungai Mak terdapat total sumber daya bijih sebesar 292 juta ton dengan rata-rata kadar kualitas 0,5% (tembaga) dan 0,47 g/t (emas).

VP Investor Relations Bumi Resources Minerals Herwin Hidayat mengungkapkan, laporan SRK yang sesuai standar Joint Ore Reserve Commitee ini diharapkan dapat menambah nilai terhadap konsesi tambang tembaga dan emas yang dikelola oleh BRMS di Gorontalo.

“Estimasi sumber daya mineral tersebut telah meningkatkan nilai komersial dari tambang tembaga dan emas tersebut,” kata Herwin dalam siaran pers, Rabu (12/9).

Ia menambahkan, selain di Sungai Mak dan Cabang Kiri, ada beberapa potensi sumber daya mineral di beberapa lokasi tambang yang dioperasikan GM. Namun GM masih belum mengekspllorasinya lebih lanjut, yaitu Kayu Bulan, Tubalolo, dan Cabang Kanan.
Senin, 10 September 2012 | 11:24 WIB
Lin Chi Wei: Grup Bakrie Punya 9 Nyawa

TEMPO.CO, Jakarta – Lin Che Wei dari PT Independent Research & Advisory Indonesia juga tak yakin Grup Bakrie bakal ambruk walau mengakui ini krisis terparah yang pernah mereka alami. Demikian terungkap dalam laporan majalah Tempo edisi 10 September 2012 berjudul “Tsunami Utang Bakrie”.

Ia mencatat Bakrie pernah bermasalah dengan Bank Nusa Nasional miliknya pada 1999, lalu luapan lumpur Lapindo pada 2006, dan dua tahun kemudian terjadi persoalan suspensi perdagangan saham Bumi yang menyeret Menteri Keuangan waktu itu, Sri Mulyani Indrawati. “Ibaratnya, kucing bernyawa sembilan, baru mati lima,” ujarnya sambil tertawa Kamis pekan lalu.

Che Wei menuturkan, ketangguhan Bakrie ditopang beberapa hal. Keberuntungan Bakrie tak bisa dilepaskan dari siklus bisnis batu bara. Grup Bakrie juga memiliki daya tawar yang tinggi dalam merestrukturisasi utang karena aset tambang batu bara yang begitu bernilai.

Ia menyebutkan tambang anak usaha Bumi, PT Kaltim Prima Coal, seluas 90.938 hektare merupakan yang terbaik di dunia. Dukungan beberapa partai politik di parlemen pun sangat efektif menyokong bisnisnya. Lewat jejaring politik serta bisnis itu, Bakrie bisa menggerakkan pemerintah daerah. Kemampuan perusahaan Bakrie merawat pasar modal juga mesti diacungi jempol. “Mereka murah hati kepada bro­ker,” tuturnya.

Tapi petinggi Grup Bakrie mungkin harus waspada. Setidaknya diperlukan dana US$ 4 miliar agar keluarga Bakrie tetap memegang kendali perusahaan-perusahaannya. “Kalau tak ada talangan itu, keluarga Bakrie bisa jatuh miskin dalam satu-dua tahun ini,” kata seorang politikus Partai Golkar yang dekat dengan keluarga Bakrie, Rabu pekan lalu.

Sebagai nakhoda utama bisnis keluarga, Nirwan Bakrie kabarnya sudah mendekati banyak pemilik modal besar, baik di dalam maupun luar negeri. Produsen rokok Djarum asal Kudus termasuk yang dilobi, mengingat kelompok usaha itu juga merambah bisnis perbankan dan properti. Djarum disebut-sebut sempat kepincut pada tawaran Nirwan, adik kandung Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. “Keluarga Djarum hanya percaya kepada Nirwan. Mereka tak percaya kepada anak-anak Pak Aburizal.” Toh, pendekatan itu berakhir tanpa hasil.

Seorang analis di perusahaan ekuitas membisikkan bahwa Grup Sinar Mas juga diincar. “Kalau Sinar Mas mau, ini saatnya mereka makan habis Bakrie,” ucapnya. Bahkan kabarnya BTEL sudah ditawarkan kepada perusahaan operator jaringan seharga Rp 500 miliar. Sayangnya, Nirwan dan Indra Bakrie tak bisa memberi penjelasan karena sedang di luar negeri. “Enaknya nanti saya jelaskan secara tatap muka,” tulis Indra Bakrie dalam pesan pendek melalui telepon seluler. Adapun Presiden Komisaris Bumi Samin Tan, ketika ditemui Tempo, tak mau memberi komentar.

JOBPIE SUGIHARTO | TOMI ARYANTO

Senin, 10 September 2012 | 11:59 WIB
Gelombang Badai Utang Bakrie

TEMPO.CO, Jakarta – Gosip panas itu menyebar cepat melalui pesan pendek telepon seluler di kalangan pelaku pasar modal sejak dua pekan lalu. Dalam pesan itu tertera daftar utang sepuluh perusahaan Grup Bakrie yang jatuh tempo tahun ini. Jumlahnya fantastis dan membuat mata mendelik. Demikian terungkap dalam laporan majalah Tempo edisi 10 September 2012 berjudul “Tsunami Utang Bakrie”.

Tak dinyana, awal pekan lalu, Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian sementara alias suspensi perdagangan saham dan obligasi BTEL, kode untuk Bakrie Telecom. Penyebabnya, perusahaan operator telepon seluler Esia yang berbasis CDMA itu gagal melunasi utang obligasi BTEL I 2007 yang jatuh tempo.

“Penghentian sementara akan dilakukan mulai awal perdagangan efek pada Selasa ini hingga penjelasan lebih lanjut,” kata Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Surat Utang Bursa Efek Indonesia Saptono Adi Junarso, Selasa pekan lalu. Utang yang jatuh tempo itu Rp 650 miliar, sedangkan Bakrie Telecom hanya memiliki dana Rp 250 miliar. Esok harinya, suspensi dicabut setelah perusahaan membayar utang pokok berikut bunganya.

Pekan sebelumnya, lantai bursa juga berguncang keras setelah Bumi ­Resources Tbk, perusahaan batu bara andalan Grup Bakrie, mengumumkan rugi US$ 322 juta pada semester pertama 2012. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, mereka masih menangguk untung US$ 232 juta.

Pengumuman itu membuat nilai saham Bumi rontok hingga Rp 630 per lembar. Bumi mengaku rugi akibat transaksi derivatif US$ 145,83 juta karena kejatuhan harga saham dan kemerosotan nilai opsi prepayment pinjamannya ke China Investment Corp (CIC) sebesar US$ 1,3 miliar.

Gagal bayar BTEL dan kerugian Bumi bak membuka kotak pandora. Gelombang tsunami utang yang jatuh tempo terbukti mengintai perusahaan-perusahaan Grup Bakrie. Kendati jumlahnya tak seperti disebut dalam pesan pendek yang beredar di kalangan pelaku bursa, tetap saja nilainya membuat lutut gemetar.

Total utang sepuluh perusahaan yang jatuh tempo pada 2012 mencapai Rp 9,67 triliun. Mereka adalah PT Bakrie & Brothers Tbk, Bumi ­Resources Tbk, Bumi ­Resources Minerals, Bakrieland Development, Energi Mega Persada, Bakrie Sumatera Plantations, Bakrie Telecom, Berau Coal, Visi Media, serta Darma Henwa. Bumi ­Resources Tbk, contohnya, mesti membayar utang sekitar Rp 573 miliar. Tahun depan, perusahaan-perusahaan itu masih harus melunasi tagihan belasan triliun.

Seorang sumber Tempo menyebutkan belitan utang terjadi akibat Bumi merugi serta buah dari praktek gadai saham yang ditengarai menjadi modus pencarian dana Grup Bakrie. Bumi, yang paling “berdaging” dibandingkan dengan perusahaan lainnya, kini kosong kantongnya. “Likuiditas perusahaan Bakrie sudah akut,” ucapnya.

Padahal likuiditas menjadi kunci menghadapi utang yang jatuh tempo akibat gadai saham. “Ini soal momen. Kalau jatuh tempo tak ada uang, ya, semua perusahaan kena.” Menurut dia, Grup Bakrie mencari dana dari berbagai lembaga keuangan dengan cara gadai saham meski dibe­bani bunga tinggi. Cara ini ditempuh karena tak ada akses ke perbankan. “Gadai saham bisa bikin Grup Bakrie kehilangan Bumi,” katanya.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Bumi, Dileep Srivastava, menolak perusahaannya disebut berada di ambang kebangkrutan. “Bagaimana bisa bangkrut jika dalam setiap kuartal kinerjanya meningkat?” ujarnya kepada Satwika Movementi dari Tempo akhir Agustus lalu.

Dileep juga mengklaim pemasukan perusahaan meningkat 9-10 persen dibanding tahun lalu. Dia menjelaskan pula, “Kami masih memiliki aset cadangan sekitar tiga miliar ton batu bara dan nonbatu bara.” Namun profesional berkewarganegaraan India ini mengiyakan soal adanya kemungkinan penjualan aset untuk membayar utang. “Jika harganya tepat,” katanya.

JOBPIE SUGIHARTO | TOMI ARYANTO
Bakrie Makin Getol Garap Bisnis Bahan Bangunan
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Senin, 10/09/2012 14:52 WIB

Jakarta – PT Bakrie Building Industries, anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) terus mengembangkan bisnis bahan bangunan seiring pesatnya industri properti dan konstruksi di Indonesia.

Setelah menyelesaikan ekspansi sarana produksi di Jakarta Barat, perseroan akan mengembangkan sentra produksi baru di beberapa wilayah.

“Industri properti dan konstruksi kita maju pesat. Didukung juga dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kami sangat optimis industri bahan bangunan di dalam negeri akan terus melaju,” ucap CEO BNBR Bobby Gafur Umar dalam keterangan tertulisnya, Senin (10/9/2012).

CEO Bakrie Building Industries, Yogi Pratomo Widhiarto menambahkan, manajemen tengah merancang skema penetrasi pasar bahan bangunan. Namun Yogi belum mau menyebutkan secara rinci.

“Kami perkirakan tahun 2012 ini revenue BBI bisa meningkat 45%,” tambahnya. BBI pun siap menjadi pemain terdepan dalam kualitas, kapasitas dan harga.

“Potensi pasar bahan bangunan masih sangat besar. Kita sedang serius mengadakan mapping pasar agar kami dapat memastikan bahwa pengembangan sentra produksi baru bisa sedekat mungkin dengan daerah yang permintaannya paling tinggi,” katanya.

Ke depan, Bakrie Building Industries membuka diri melakukan akuisisi dalam rangka pengembangan kapasitas. Perseroan pun terus mengembangkan teknologi baru mesin-mesin dan peralatan produksi dalam rangka penumbuhan bisnis bahan bangunan.

Versaboard adalah salah satu varian produk perusahaan yang telah sangat dikenal masyarakat. Ke depan Yogi siap menghadirkan produk turunan Versaboard sebagai solusi total pengganti bahan bangunan berbasis kayu seperti lantai dinding dekoratif, dan beberapa produk lainnya.

Pabrik bahan bangunan BBI di Jakarta Barat kini memiliki kapasitas produksi 300 ribu ton berbagai jenis bahan bangunan per tahun.

(wep/ang)
Willy Sanjaya
Dua Saham Grup Bakrie Sudah Bisa Diakumulasi

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Kamis, 6 September 2012 | 03:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Energi Mega Persada (ENRG) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) dinilai sudah turun cukup dalam. Karena itu, sudah saatnya diakumulasi.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, pelemahan pada saham-saham di grup Bakrie terutama saham ENRG dan BTEL turut berkontribusi pada pelemahan indeks kemarin. Menurutnya, pelemahan saham-saham grup ini dipicu kekhawatiran pasar atas utang-utang grup ini yang akan jatuh tempo.

Banyak investor yang meragukan cara pembayaran utang-utang grup Bakrie. Meski begitu, saham ENRG dan UNSP sudah bisa diakumulasi karena sudah turun cukup dalam. “Meski ada kekhawatiran soal utang yang jatuh tempo, tapi sebenarnya itu tak perlu dikhawatirkan karena kinerja keuangan terutama ENRG masih positif,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Rabu (5/9/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 29,90 poin (0,73%) ke angka 4.075,352 dengan intraday tertinggi 4.105,732 dan terendah 4.065,698. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45 yang turun 6,58 poin (0,93%) ke angka 697,781. Berikut ini wawancara lengkapnya:

IHSG melemah 0,73%. Apa yang terjadi?

Pelemahan IHSG kemarin seiring koreksi yang terjadi di bursa regional yang dimotori oleh penurunan bursa Dow Jones Industrial Average (DJIA). Penurunan tersebut, semata faktor profit taking teknikal dan bukan faktor fundamental.

Sebab, pasar masih tetap wait and see atas pengumuman Quantitative Easing (QE) tahap ketiga dari The Fed pekan depan. Jadi, masa ini merupakan fase konsolidasi bagi indeks domestik.

Selain faktor The Fed?

Selain itu, pelemahan indeks juga seiring pelemahan pada saham-saham di grup Bakrie terutama saham ENRG dan PT Bakrie Telecom (BTEL). Kekhawatiran pasar muncul dipicu oleh utang-utang grup ini yang akan jatuh tempo. Banyak investor yang meragukan cara pembayaran utang-utang grup Bakrie. Penurunan saham-saham di grup Bakrie juga berpengaruh pada penurunan IHSG. Tapi, penurunan IHSG tidak terlalu besar karena saham-saham berkapitalisasi besar masih terjaga seperti ASII danTLKM.

Kalau begitu, bagaimana Anda melihat arahnya Kamis (6/9/2012) ini?

Saya perkirakan, pergerakan IHSG Kamis (6/9/2012) akan konsolidasi dengan kisaran yang tidak terlalu jauh. Naik atau turun dalam kisaran 35 poin dari level 4.070. Jika Dow Jones menguat, IHSG bisa positif. Potensi konsolidasi indeks sudah terbatas.

Adakah sentimen ke pasar terkait kunjungan Hillary Clinton ke Jakarta?

Sentimen dari kunjungan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, pasar masih menunggu komitmen apa yang disepakati secara ekonomi. Pasar belum mendapatkan informasi jelasnya.

Saham-saham pilihan Anda?

Saham PT Telkom (TLKM) yang secara teknikal akan terjaga pada level support-nya di Rp9.200. Begitu juga dengan PT Astra Internasional (ASII) yang akan terjaga di level support Rp6.800. Kedua saham ini telah menjaga posisi indeks dengan baik.

Saya juga rekomendasikan positif saham PT Bank Jabar Banten (BJBR) yang kemarin mengalami penguatan signifikan pada sesi terakhir perdagangan. Saham-saham bank lain pun sudah mulai bisa dilirik karena sudah memasuki kuartal III-2012 yang mungkin akan dirilis dalam sebulan ke depan. Selain BJBR, saya menjagokan saham PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

Bisa dicermati juga saham PT Energi Mega Persada (ENRG) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP). Kedua saham Bakrie bisa diakumulasi karena sudah turun cukup dalam. Meski ada kekhawatiran soal utang yang jatuh tempo, tapi sebenarnya itu tak perlu dikhawatirkan karena kinerja keuangan ENRG masih positif.

Bagaimana strategi trading pada saham-saham tersebut?

Secara umum saya rekomendasikan buy on weakness saham-saham tersebut.

Gandeng China, Bakrie Bangun Pabrik Pipa U$ 25 juta
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Kamis, 06/09/2012 12:41 WIB
Jakarta – Anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Pipe Industries (BPI) menjalin kerja sama dengan China Petroleum Pipeline Coating Engineering Co. Ltd (CPPCE) dalam rencana pembangunan pabrik pelapisan pipa (Coated Pipes) di Lampung. Adapun nilai investasinya sekitar US$ 15-25 juta.

Chief Executive Operation BPI, Mas Wigrantoro mengatakan rencana pembangunan pabrik baru ini seiring dengan tingginya permintaan coated pipes oleh sektor migas di Indonesia, bahkan kawasan Asia Pasifik.

Bagi CPPCE, kerja sama dengan grup Bakrie ini menjadi langkah nyata perusahaan dalam rangka penetrasi ke pasar ASEAN, Timor Timur, Papua New Guinea dan Australia. Penandatanganan kerja sama investasi coating plant juga terselenggaran hari ini, Kamis (6/9/2012) antara BPI dengan CPPCE.

Setelah Letter of Intent ini, keduanya siap membentuk tim dalam tugasnya melakukan kajian lebih rinci baik secara teknologi, legal keuangan, organisasi, dan operasional.

“Dalam waktu enam bulan sejak ditandatanganinya kerja sama ini, perusahaan patungan sudah dapat didirikan,” katanya di Bakrie Tower, Jakarta, Kamis (6/9/2012).

Lampung menjadi pilihan dari alternatif lain yang diajukan BPI di Bekasi. Selatan Sumatera ini merupakan lokasi yang paling ideal dalam rangka pembangunan coating plant.

“Lokasi ini strategis karena langsung persis laut dan ada di kawasan industri pipa lainnya, hingga memudahkan dalam perdagangan,” tambah CEO BNBR Bobby Gafur Umar.

Dengan hadirnya pabrik hasil patungan ini diyakini akan direspon positif oleh pelaku industri migas. Permintaan coated pipes diperkirakan tumbuh lebih 12%.

“Pertumbuhan ini diharapakan akan terus terkadi hingga tiga sampai lima tahun ke depan, seiring meningkatnya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumur-sumur minyak dan gas baru, maupun rencana pembangunan jasa distribusi minyak bumi dan gas nasional,” tutur Mas Wigrantoro.

Pabrik diperkirakan selesai dibangun dan siap beroperasi pada tahun 2013.

(wep/dru)
Bayar Utang, Standard & Poor’s Naikan Peringkat BTEL
Tribunnews.com – Rabu, 5 September 2012 17:59 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Arif Wicaksono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pelunasan obligasi senilai Rp 650 miliar pada 4 September 2012 kemarin, berdampak positif bagi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Hari ini (05/09/2012), lembaga pemeringkat global, Standard & Poor’s (S & P) telah menaikkan peringkat utang perseroan dari semula CCC – menjadi B – dengan outlook stabil. Standard & Poor’s juga menaikkan peringkat Senior Notes BTEL yang jatuh tempo di tahun 2015 dari CCC- menjadi B – dengan outlook stabil.

Dalam penjelasannya S & P menilai bahwa dengan pelunasan obligasi tahun 2007 tersebut, maka selama 12 bulan ke depan kondisi finansial BTEL cukup kuat.

“Dalam 9 – 12 bulan ke depan, BTEL tidak memiliki utang jatuh tempo yang signifikan. Kami percaya bahwa perusahaan memiliki arus kas yang memadai untuk menutupi pembayaran bunga,” jelas Paul Draffin, Primary Credit Analyst Standard & Poors dalam keterangan tertulis yang diterima Tribun, di Jakarta (05/09/2012).

Kebijakan S & P menaikkan peringkat utang BTEL tersebut mendapat sambutan positif dari manajemen BTEL.

“Kita sangat senang karena langkah-langkah strategis dan komitmen yang dilakukan BTEL langsung mendapat respon dan apresiasi dari pelaku pasar,” tambah Anidya N. Bakrie, Presiden Direktur Bakrie Telecom Tbk dalam keterangan tertulisnya. (*)
SUSPENSI SAHAM & OBLIGASI: Bakrie Telecom Klaim Tindakan BEJ Untuk Jaga Spekulasi

Irvin Avriano A.

Selasa, 04 September 2012 | 18:55 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: Hadapi suspensi saham dan obligasi oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bakrie Telecom Tbk mengklaim suspensi dilakukan untuk mencegah spekulasi.

“Kami bisa mengerti kenapa regulator mensuspen perdagangan saham BTEL untuk mencegah spekulasi sambil menunggu sisa pembayaran utang obligasi yang total nilainya Rp 650 miliar,” Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi dalam siaran pers, Selasa (4/9/2012).

Menurutnya, nilai sebesar Rp 250 miliar sudah dibayarkan hari Jumat lalu, dan sisanya ditransfer oleh kreditur langsung ke rekening KSEI sore ini. Dari KSEI baru didistribusikan ke rekening pemegang obligasi.

Dia mengaku sampai 3 September kemarin, sayap telekomunikasi Grup Bakrie itu belum melakukan pembayaran pokok dan bunga obligasi ke-20 untuk obligasi BTEL I tahun 2007 yang jatuh tempo pada hari ini 4 September 2012.

Menurutnya, pada Jumat 31 Agustus perseroan sudah membayar Rp250 miliar kepada pemegang obligasi perseroan beserta bunganya senilai Rp19,3 miliar melalui rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Sementara sisanya sebesar Rp400 miliar lagi akan disetorkan oleh kreditur perseroan langsung kepada pemegang obligasi melalui rekening KSEI pada saat jatuh tempo, Selasa, 4 September 2012.

Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie mengatakan perusahaan juga menampik spekulasi bahwa obligasi itu telah gagal bayar.

“Kami menyayangkan pihak-pihak yang berspekulasi dan tidak didukung data. Oleh karena itulah langkah BEI mensuspensi saham untuk menghindari spekulasi sangat tepat. Manajemen BTEL tetap berkomitmen terhadap semua kewajiban sesuai jadwal,” tuturnya. (if)
Tunda bayar kupon, BTEL kena suspen
Oleh Edy Can – Selasa, 04 September 2012 | 10:12 WIB

kontan

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan sementara saham dan obligasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Keputusan ini karena BTTEL menunda pembayaran pelunasan dan bunga ke-20 obligasi Bakrie Telecom I Tahun 2007.

Suspensi ini berlaku mulai Selasa (4/9) dan berlaku di seluruh pasar. Dalam keterbukaan informasi, PH Kepala Divisi Perdagangan Surat Utang dan Derivatif BEI mengatakan, penghentian ini akan berakhir sampai ada penjelasan lebih lanjut.

Catatan saja, berdasarkan Peraturan Pencatatan Efek Nomor I.A.3 tentang Kewajiban Pelaporan Emiten huruf B angka 10 maka bursa tetap mencatatkan Obligasi Bakrie Telecom I Tahun 2007 sampai dapat melaksanakan kewajiban obligasi.
INILAH.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan efek (suspensi) atas saham dan obligasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) pada perdagangan saham Selasa (4/9/2012).

Hal itu disampaikan Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Surat Utang BEI Saptono Adi Junarso dan P.H. Kepala Divisi Perdagangan Surat Utang dan Derivatif BEI, di keterbukaan informasi BEI, Selasa (4/9/2012). Suspensi tersebut dilakukan dengan pertimbangan surat PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 3 September 2012 mengenai penundaan pembayaran pelunasan dan bunga ke-20 obligasi PT Bakrie Telecom I tahun 2007.

Oleh karena itu BEI melakukan suspensi atas saham dan obligasi dari emiten BTEL. Penghentian sementara perdagangan efek perseroan di seluruh pasar akan dilakukan mulai awal perdagangan efek pada Selasa (4/9/2012) hingga penjelasan lebih lanjut.

Sesuai dengan peraturan pencatatan efek Nomor I.A.3 tentang kewajiban pelaporan emiten huruf B angka 10 maka bursa tetap mencatatkan obligasi BTEL I tahun 2007 hingga emiten dapat melaksanakan kewajiban pelunasan obligasi.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1900890/bei-suspensi-saham-dan-obligasi-btel

Sumber : INILAH.COM
JAKARTA – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengumumkan bagian tunai dari transaksi non-preemptive rights (NPR) senilai Rp557 miliar tuntas dibayarkan.

Bakrie Global Ventura menjadi pembeli utama, sehingga kepemilikan sahamnya di BTEL menjadi 6,8%. Sebelumnya BTEL memperoleh pinjaman konsorsium senilai USD 50 juta dengan bunga 11,5% dan tenor 18 bulan yang difasilitasi Credit Suisse pada akhir bulan lalu. Keseluruhan dana tunai yang terkumpul dari NPR dan pinjaman langsung digunakan untuk pembayaran obligasi perseroan Rp650 miliar dan untuk pengembangan usaha khususnya meningkatkan pangsa pasar di layanan data.

”Ini hari besar untuk BTEL karena di tengah-tengah situasi pasar yang begitu sulit, pasar terbukti percaya dengan model bisnis BTEL khususnya setelah kami fokus mengembalikan BTEL kepada kekuatan dan kelebihan utamanya yaitu operator telekomunikasi dan data paling murah dan inovatif di Indonesia,” kata Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie dalam siaran persnya kemarin.

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/523035

/Sumber : SEPUTAR INDONESIA
Saham Bakrie Jeblok, Bursa Ikutan Goyang
Nilai Kapitalisasinya Merosot Rp 40 Triliun, BUMI Diisukan Bangkrut
Jum’at, 31 Agustus 2012 , 08:26:00 WIB

RMOL.Anjloknya sebagian saham-saham Bakrie Group langsung menggoyang lantai bursa. Bahkan Bumi Resources diisukan bangkrut. Benarkah?

Indeks Harga Saham Ga­bu­ngan (IHSG) terlihat masih le­mah. IHSG dibuka turun 1,07 persen ke posisi 4.052,49 pada pu­­kul 09.31 WIB, kemarin.

Se­banyak 121 saham yang ja­tuh menggerus kinerja bursa dan ter­lihat hanya 26 saham yang ma­sih bisa berhasil naik, sedangkan 44 saham lainnya masih stagnan. 10 sektor terjungkal di zona me­rah dengan sektor konstruksi jatuh di urutan terdepan sebesar 1,46 persen dan ada sektor ba­rang konsumsi yang juga ter­ko­reksi 1,43 persen.

Terlihat saham PT Bumi Re­sources Tbk (BUMI) masih men­duduki jawara penurunan dengan anjlok 4,48 persen ke Rp 640, di­susul saham PT Indocement Tungal Praksa Tbk (INTP) se­besar 2,97 persen ke Rp 19.600 dan saham PT Bank Rakyat In­donesia Tbk (BBRI) yang turun 2,11 persen ke Rp 6.950.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menunjukkan, nilai kapitalisasi pasar BUMI di BEI tersisa Rp 13,9 triliun pada per­dagangan Rabu (29/8). Nilai kapitalisasi itu tergerus Rp 40 triliun atau 74 per­sen dibanding­kan posisi tertinggi tahun ini se­besar Rp 54 triliun.

Saham BUMI sempat men­capai harga tertinggi pada 3 Feb­ruari 2012 sebesar Rp 2.600. Na­mun, harga BUMI sempat turun Rp 90 (11,8 persen) menjadi Rp 670. Saham BUMI terus tertekan se­lama pekan ini, terutama se­telah perseroan melaporkan ke­rugian 322 juta dolar AS pada semester pertama 2012. Namun pada per­dagangan sesi I kemarin, saham BUMI menguat Rp 10 (1,49 per­sen) mencapai Rp 680.

Dalam riset Panin Sekuritas di­sebutkan, perusahaan milik Aburi­zal Bakrie itu diambang ke­bang­krutan karena performa ke­uang­annya memburuk dan ke­mam­puan rasio kemampuan membayar utang (solvabilitas) rendah.

Analis Panin Sekuritas Fajar Indra me­nuturkan, beban keua­ng­­an yang tinggi membuat sol­va­bilitas BUMI cukup rendah. Apa­lagi, perseroan tidak jadi men­cairkan investasi sebesar 231 juta dolar AS pada PT Reca­pital Asset Management. Imbas­nya, BUMI gagal memperoleh dana untuk membayar utang.

Padahal, kata dia, salah satu lum­bung duit bisnis Bakrie Group ini berencana membayar utang sebesar 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 11,7 triliun ke­pa­da China Investment Corpora­tion (CIC) selama 2012-2013. Perin­ciannya, sebanyak 600 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,4 tri­liun di­bayar tahun ini dan sisa­nya tahun depan.

Namun, Direktur Bumi Re­sour­ces Dileep Srivastava mene­pis anggapan BUMI bakal bang­krut. Soalnya, per Juni 2012 ki­nerja operasional BUMI masih cukup kuat. Ini ter­lihat dari pen­jualan dan produksi yang tumbuh 10 persen dan 8,6 persen. Pen­dapatan juga naik 8,6 persen menjadi 1,9 miliar dolar AS.

“Produksi BUMI on track un­tuk mencapai 100 juta ton pada 2014. Pembayaran utang juga ti­dak ada yang default,” ujar Dileep.

Presi­den Direktur Bumi Re­sour­ces Ari Hudaya yang meya­kinkan kinerja ope­rasional BUMI makin kuat dan efisien. Aset BUMI juga belum banyak yang dimaksimal­kan. Perseroan mem­­buka diri untuk melepas aset po­tensial, seperti saham anak usa­hanya, PT Bumi Minerals Re­sources Tbk (BMRS).

Diakui analis saham David Cornelis, isu soal bangkrutnya BUMI memang menjadi senti­men negatif yang menghantam harga saham perusahaan tambang ini. Sejak keluarnya isu bang­krut ini, harga saham BUMI terus melorot.

Pada Senin 27 Agustus, harga saham BUMI ini ditutup melemah Rp 50 ke Rp 890. Lalu pada Selasa 28 Agustus kembali melemah Rp 130 ke Rp 760. Dan pada Rabu 29 Agustus, saham ini turun lagi Rp 90 ke Rp 670.

Selain itu, kata David, faktor yang menekan harga saham ini datang dari sisi internal, yakni struktur balance sheet-nya serta faktor eksogen berupa pergera­kan harga batubara dunia yang memang sedang lesu. [Harian Rakyat Merdeka]
Bumi Terancam Auto Rejection
Jika Terus Melemah, Transaksi Saham Bisa Distop
Sabtu, 01 September 2012 , 08:27:00 WIB

RMOL.Jatuhnya harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus jadi sorotan investor. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengancam akan menghentikan perdagangan saham andalan Grup Bakrie.

Menurunnya saham BUMI dalam sepekan menimbulkan be­berapa spekulasi yang ber­kem­­bang. Bursa Efek Indonesia (BEI) pun menyatakan siap me­nyetop perdagangan saham an­dalan Bakrie Group ini jika pe­­­nuru­nan­nya sudah drastis.

Direktur Utama BEI Ito War­sito menutur­kan, penurunan har­ga saham BUMI saat ini masih wajar. Ito menegaskan, suspensi akan dilakukan apabila perda­gangan saham turun drastis.

Ito menegaskan, saham terse­but bisa terkena penghentian per­­dagangan otomatis (auto rejec­tion) batas bawah jika terus me­ng­alami pelemahan.

Menurut Ito, bila nantinya me­mang terjadi pe­nurunan har­ga yang sangat sig­nifikan, BEI su­dah memiliki fitur auto rejec­tion dalam sistem per­da­gangan. “Nanti juga kena auto rejec­tion kalau penu­ru­nan­nya terus tajam,” jelas Ito.

Auto rejection adalah peng­hen­­tian otomatis harga saham akibat kenaiakan atau penurunan yang signi­fikan. Harga saham Rp 50-Rp 200 terkena auto rejec­tion se­besar 35 persen, harga saham Rp 200-Rp 5.000 terkena auto rejec­tion 25 persen dan har­ga sa­ham Rp 5.000 terkena auto rejec­tion 20 persen. Sementara saat IPO auto rejec­tion ditetap­kan dua kali dari persentase nor­mal.

Terus melemahnya saham BUMI, lanjut Ito, seiring mele­mahnya bursa saham regional maupun global. “Kondisi harga jual ba­tubara kan terpengaruh oleh faktor eksternal sehingga mem­berikan dampak negatif kepada perus­ahaan,” katanya.

Dengan kon­disi seperti itu, dia meng­anggap penurunan harga saham masih dalam batas wajar dan bukan suatu hal yang tidak biasa. “Jadi, penurunan harga sa­ham BUMI itu normal,” kata Ito.

Ito menam­bah­kan, diumum­kannya tentang kinerja keuangan yang tidak baik membuat saham BUMI terus turun. Bahkan, kini saham ter­sebut juga memberikan efek pele­mahan pada saham di luar kelompok Bakrie.

“BUMI secara kapitalisasi re­latif tidak pengaruh dalam me­nekan IHSG seperti halnya di 2008. Hanya sentimen negatif­nya saja yang menyebar ke sa­ham-saham lain,” jelas penga­mat pasar modal David Cornelis.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 30 Agustus, harga sa­ham BUMI turun ke Rp 630. Se­men­tara, pada 8 Agustus lalu, sa­ham BUMI masih berada di harga Rp 1.140 per saham. Tapi sema­kin melemah tiap hari. Pada 15 Agus­­tus, saham ini su­dah berada di bawah Rp 1.000, yakni Rp 960.

Sejak keluarnya isu ‘bang­krut’ ini, harga saham BUMI terus melorot. Pada Senin, 27 Agus­tus, harga saham BUMI ditutup me­lemah Rp 50 ke Rp 890. Lalu pada Selasa, 28 Agustus kembali me­lemah Rp 130 ke Rp 760. Serta pada Rabu, 29 Agustus, sa­ham ini tu­run lagi Rp 90 ke Rp 670.

Sebelumnya, performa ke­uangan semester I-2012 BUMI sangat buruk dan solvabilitas sangat lemah. Bahkan, berda­sar­­kan metode altman score, ter­lihat bahwa koefisien Z BUMI sangat kecil, yakni 0,0982 saja. Maka da­pat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial.

Di sisi lain, David mengakui, terpuruknya IHSG tidak bisa di­lepaskan dari sentimen negatif dari bebe­rapa saham primadona yang turun akibat internal peru­sahaan, termasuk BUMI, pele­ma­han rupiah, serta naiknya de­fisit perdagangan Indonesia.

Menurut David, volatilitas di re­gional dan vulnerabilitas di global terlihat jelas relatif sudah sebagian terfaktorkan di bursa saham pada Agustus ini. Adapun bursa Eropa telah turun ke level terendah da­lam tiga minggu ter­akhir.

Direktur PT Bumi Resources Dileep Srivastava menepis ang­ga­pan BUMI bakal bangkrut. Menurut dia, per Juni 2012, ki­nerja operasional BUMI masih cukup kuat. Ini terlihat dari pen­jualan dan pro­duksi yang tumbuh 10 persen dan 8,6 persen. Pen­dapatan juga naik 8,6 persen menjadi 1,9 miliar dolar AS.

“Produksi BUMI on track untuk mencapai 100 juta ton pada 2014. Pembayaran utang juga tidak ada yang default,” ujar Dileep. [Harian Rakyay Merdeka]
Bakrie Telecom Bayar Obligasi Rp 650 Miliar
Penulis : Robertus Benny Dwi Koestanto | Minggu, 2 September 2012 | 14:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bakrie Telecom Tbk mengumumkan bahwa bagian tunai dari transaksi non preemptive rights senilai Rp 557 miliar, tuntas dibayarkan.

Bakrie Global Ventura menjadi pembeli utama, sehingga kepemilikan sahamnya di BTEL menjadi 6,8 persen.

“Ini hari besar untuk BTEL, karena di tengah-tengah situasi pasar yang begitu sulit, pasar terbukti percaya dengan model bisnis BTEL. Khususnya setelah kami fokus mengembalikan BTEL kepada kekuatan dan kelebihan utamanya yaitu operator telekomunikasi, dan data paling murah dan inovatif di Indonesia,” kata Presiden Direktur BTEL, Anindya Bakrie, di Jakarta, Minggu (2/9/2012) ini.

Sebelumnya diberitakan, BTEL juga memperoleh pinjaman konsorsium senilai 50 juta dollar AS, dengan bunga 11,5 persen dan tenor 18 bulan yang difasilitasi Credit Suisse pada akhir bulan lalu.

Keseluruhan dana tunai yang terkumpul dari NPR dan pinjaman langsung, digunakan untuk pembayaran obligasi perseroan senilai Rp 650 miliar. Selain itu, untuk pengembangan usaha khususnya meningkatkan pangsa pasar di layanan data.

Pada Jumat (31/8/2012) lalu, BTEL telah membayar Rp 250 miliar kepada pemegang obligasi BTEL berserta bunganya senilai Rp 19,3 miliar, melalui rekening Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

“Sisanya Rp 400 miliar lagi akan disetorkan oleh kreditur perseroanl, langsung kepada pemegang obligasi melalui rekening KSEI pada saat jatuh tempo,” tambah Direktur Keuangan BTEL, Jastiro Abi.

Selesainya proses tunai NPR, menunjukkan komitmen pemegang saham utama BTEL, dalam hal ini Grup Bakrie, terhadap pengembangan BTEL. Harga right issue yang disepakati adalah Rp 265 atau hampir dua kali lipat dari harga saham BTEL saat ini.
Editor :
Agus Mulyadi

BTEL Tambah Modal Tanpa HMETD

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Jumat, 31 Agustus 2012 | 14:08 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebesar 1.536.135.340 saham dengan harga pelaksanaan Rp265 per saham.

Hal itu disampaikan Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk Jastiro Abi, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (31/8/2012). Penerbitan saham dalam rangka penambahan modal tanpa HMETD tersebut dilakukan pada 29 Agustus 2012. PT Bakrie Global Ventura bertindak sebagai pihak pembeli. Total transaksi tersebut mencapai Rp407,07 miliar.

Adapun jumlah penambahan modal disetor dan ditempatkan perseroan tanpa HMETD sebesar 1.536.135.340 saham menjadi 30.584.590.654 saham dengan nilai nominal Rp100 per saham. [ast]

Harga saham melandai, ini tanggapan BUMI
Oleh Astri Kharina Bangun – Rabu, 29 Agustus 2012 | 17:53 WIB

kontan

JAKARTA. Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus melandai dalam beberapa bulan terakhir. Kendati demikian, perseroan masih optimistis dengan kinerja ke depan.

Direktur BUMI Dileep Srivastava mengakui tahun ini merupakan saat yang berat bagi pasar global. Khususnya, di sektor batubara yang mengalami tren penurunan harga jual.

“Namun, kami masih memperoleh harga yang lebih baik dibandingkan yang lain. Selain itu, penjualan kami meningkat lebih dari 10% dibandingkan tahun lalu,” ujar Dileep kepada KONTAN, Rabu (29/8).

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2012, BUMI mencatat kenaikan pendapatan 14,12% menjadi US$ 1,94 miliar dibandingkan periode serupa tahun lalu. Volume penjualan perseroan naik 10,4% menjadi 32,3 juta ton dari 29,3 juta ton pada semester pertama 2011.

Meski demikian, anak usaha Grup Bakrie ini membukukan rugi bersih sebesar US$ 231,68 juta dibandingkan laba bersih semester I 2011 sebesar US$ 231,68 juta. Pemicunya adalah kerugian transaksi derivatif senilai US$ 145,82 juta pada semester I 2012 sementara di periode yang sama tahun lalu perseroan justru meraup laba senilai US$ 212,26 juta.

Dileep menyatakan perseroan akan tetap transparan, tanggap, dan bertahan menghadapi tantangan eksternal. Kuncinya adalah mengupayakan pendapatan dan produksi semakin besar. “Selain itu, mengusahakan turunnya komisi penjualan dan operasional yang lebih kuat,” kata Dileep.

Ia menambahkan, biaya masa lalu telah dicatat sepenuhnya pada semester pertama dengan standar akuntansi yang baru, sejalan dengan praktik internasional. Ini menunjukkan BUMI fokus dan siap mengambil keuntungan penuh dari peluang yang akan datang.

Hari ini saham-saham Bakrie berguguran

Oleh Rika Theo, Dyah Ayu Kusumaningtyas – Rabu, 29 Agustus 2012 | 17:41 WIB
kontan

JAKARTA. Saham-saham yang terkait Grup Bakrie berguguran. Mereka mengikuti saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang rontok 11,48% hari ini (29/8).

Saham-saham tersebut sempat amblas dalam perdagangan sepanjang hari ini. Saham BRMS sempat terjun 17%, saham VIVA juga ikut terpangkas terdalam 14%, dan saham BTEL juga sempat turun 9%.

“Kinerja mereka belakangan ini mengecewakan, membuat investor melepas saham-saham tersebut,” kata Analis First Asia Capital David Nathanael Sutyanto kepada KONTAN, Rabu (29/8).

Secara teknikal, saham-saham Bakrie masih dalam tren turun. “Dalam beberapa waktu ke depan, mungkin ada sedikit technical reboundnamun belum ada tren pembalikan arah untuk naik,” jelas David.

Kita bisa melihatnya menjelang penutupan bursa. Saham-saham tersebut mulai tampak naik sehingga di akhri perdagangan harga mereka tampak turun tidak terlalu banyak.

Contohnya seperti saham BRMS yang ditutup turun 3,09%. “Padahal tadi sempat turun 17%,” kata David. Begitu juga dengan saham BTEL yang ditutup hanya turun 5%-an, bahkan VIVA malah hanya turun 1,39%.

Berikut harga saham-saham terkait Grup Bakrie di akhir perdagangan:

Saham Persentase penurunan Harga penutupan (Rp)
BUMI -11,48 670
BTEL -5,56 139
BRMS -3,09 470
VIVA -1,39 710
BRAU -14,29 240
UNSP -3,68 131
ENRG -8,91 92

Sedangkan tiga lainnya, yaitu saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) tak bergerak, PT Dharma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sudah tak bisa turun lagi dari level terendahnya sehingga bertengger di Rp 50.

Apa pelaku pasar masih bisa masuk?

Kata David, momen sentimen negatif fundamental grup ini bisa dijadikan trader sebagai ajang spekulasi. Namun, spekulasi ini akan berisiko besar mengingat kinerja BUMI yang buruk.

Bahkan David sama sekali tidak memberikan rekomendasi untuk semua saham terkait Bakrie ini, walaupun besok ada kemungkinan naik.

Tapi, David bilang, untuk investor yang berani masuk ke saham-saham ini, bisa menunggu harga di bawah. Misalnya BRMS yang support terdekatnya di Rp 445, tapi bila tembus akan menuju level Rp 390. Lalu VIVA dengan support terdekat di Rp 640 dan selanjutnya di Rp 580. Adapun support terdekat ENRG di Rp 88.

“Jika kinerjanya membaik di akhir tahun, maka harga saham berpotensi reversal. Tapi ini tergantung kinerja mereka ke depan. Apakah bisa mengelola utang dan memperbaiki kinerja mereka,” ulas David.

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk, emiten sawit di bawah kendali Grup Bakrie,
telah melunasi utang obligasi US$150 juta yang jatuh tempo pada 15 Juli 2012.

Sekretaris Perusahaan Bakrie Sumatera Fitri Barnas mengatakan pada 11 Juli 2012
perseroan telah menandatangani fasilitas pinjaman maksimum senilai US$199,6 juta
dari beberapa institusi keuangan. (bisnis/uth)
JAKARTA. Saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) pagi ini bergerak positif. Pada pukul 10.12, saham ELTY menanjak 1% menjadi Rp 175.

Minat investor terhadap saham ini terkait dengan kinerja perusahaan. Asal tahu saja, hingga paruh pertama tahun 2012, marketing sales unit usaha city property Bakrieland Development, yakni PT Bakrie Swasakti Utama (BSU) diperkirakan sudah tumbuh dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 300 miliar.

Dengan marketing sales Rp 50 miliar-Rp 60 miliar setiap bulannya, perusahaan belum merasa perlu merevisi target Rp 600 miliar hingga akhir tahun.

Menurut Betrand Reynaldi, Kepala Riset eTrading Securities, ELTY memiliki sejumlah proyek besar. Sebut saja proyek-proyek yang berada di CBD Jakarta (Kuningan) seperti Rasuna Epicentrum, atau Bakrie Tower dan beberapa Gedung Perkantoran lainnya.

“Investor mengharapkan penjualan The Grove dan Wave Condominium dapat memicu kenaikan penerimaan (revenue) perusahaan lebih tinggi lagi di tahun
2012 ini,” jelasnya. Berdasarkan konsensus Bloomberg, tiga analis merekomendasikan buy, satu analis merekomendasikan hold, dan satu analis merekomendasikan sell.

http://investasi.kontan.co.id/news/outlook-kinerja-positif-saham-elty-diburu/2012/07/03

Sumber : KONTAN.CO.ID
Kontribusi Newmont ke Laba BRMS Turun

Oleh: Charles Maruli Siahaan
pasarmodal – Senin, 2 Juli 2012 | 15:44 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kontribusi laba bersih dari PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) ke PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terus mengalami penurunan.

Dalam keterangan tertulis manajemen perseroan di Jakarta, Senin (2/7/2012) disebutkan ini disebabkan terjadinya penurunan produksi tembaga dan emas dari wilayah tambang Batu Hijau di konsesi NNT. Pada kuartal pertama 2012, produksi tembaga dan emas dari lokasi tambang Batu Hijau mengalami penurunan masing-masing sebesar 49% dan 76%.

Penurunan produksi yang bersifat sementara ini telah diantisipasi sebelumnya yang disebabkan oleh pengembangan fase 6 di wilayah tambang Batu Hijau yang sedang berjalan. Setelah pengembangan fase 6 dapat diselesaikan pada akhir tahun ini, NNT diharapkan dapat meningkatkan produksi tembaga dan emasnya secara signifikan di tahun 2013.

BRMS juga berharap dapat menyelesaikan kegiatan pemboran eksplorasi pada 2 lokasi di konsesi Gorontalo Minerals (Sungai Mak dan Cabang Kiri) dan 1 lokasi di konsesi Citra Palu Minerals (Poboya) sebelum akhir tahun ini. Oleh karenanya estimasi sumber daya berdasarkan standar JORC dari lokasi-lokasi tersebut diharapkan dapat segera di selesaikan.

Sementara, konsesi seng dan timah hitam yang dioperasikan oleh Dairi Prima Mineral juga diharapkan dapat segera mengonversikan Izin Prinsip Penambangan Bawah Tanahnya menjadi Izin Pinjam Pakai Kegiatan Eksploitasi melalui penambangan bawah tanah dalam waktu dekat ini. [hid]

Perusahaan keluarga Bakrie melalui kendaraannya PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dikenal licin melakukan bongkar pasang portofolio usaha

Bak pendekar dalam laga silat yang memilki 10 nyawa, dalam kondisi keuangan yang sulit grup Bakrie tetap mampu bertahan melakukan aksi korporasi.

Perusahaan keluarga Bakrie melalui kendaraannya PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dikenal licin melakukan bongkar pasang portofolio usaha.

Meski Bakrie & Brothers terus menjual anak usaha untuk melunasi utangnya, namun perusahaan investasi ini selalu menemukan cara mengganti kontribusi anak usaha yang menjadi andalan utama perusahaan.

“Penjualan anak usaha yang memiliki kinerja bagus, merupakan salah satu strategi Bakrie & Brothers sebagai investment holding company,” kata analis Horizon Research, Vicky Pranadjaya, dalam risetnya yang dikirim Beritasatu.com.

Pada periode 2008-2010, perkebunan menjadi segmen yang memberi kontribusi besar terhadap laba usaha perusahaan dengan menyumbangkan laba usaha tertinggi dibandingkan segmen lainnya. Namun Sejak tahun 2010, Bakrie & Brothers melakukan shifting portofolio usaha dari sektor perkebunan pada segmen perdagangan, jasa, dan investasi.

Pada 2008, kontributor pendapatan terbesar berasal dari segmen perkebunan dengan menyumbang 34,88 persen, berikutnya insfratruktur sebesar 34,55 persen dan sektor telekomunikasi 30,57 persen.

Pada 2009, komposisi pendapatan sedikit berubah. Kontribusi terbesar berasal dari sektor telekomunikasi 40,33 persen, disusul sektor perkebunan 30,47 persen, dan infrastruktur 29,2 persen.

Di 2010, terdapat segmen baru yaitu segmen perdagangan, jasa, dan investasi. Di dalamnya terdapat penjualan dari sektor komoditas seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan perusahaan patungan Bumi Borneo dengan kontribusi sebesar 50,82 persen terhadap pendapatan konsolidasi perusahaan.

Pada 2011, segmen perdagangan, jasa, dan investasi kembali menjadi kontributor terbesar dengan presentase sebesar 65,17 persen, dan segmen perkebunan menjadi tidak ada. Pasalnya, Bakrie & Brothers melakukan penjualan saham Bakrie Sumatera Plantations untuk melunasi sebagian utangnya sehingga kepemilikannya hanya menjadi 29,80 persen.

“Dengan demikian pendapatan Bakrie Sumatera Plantations tidak lagi dikonsolidasikan ke Bakrie & Brothres, karena sudah kehilangan kepemilikan mayoritas pada saham tersebut,” kata Vicky.

Adapun Bakrie Telecom kata Vicky, memiliki utang besar dengan kinerja yang tidak terlalu baik. Tak heran, Bakrie & Brothers mulai mengurangi portofolio investasinya karena dinlai memberatkan. Ketidakikutsertaan BNBR dalam riggt issue tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) Bakrie Telecom beberapa wakjtu lalu, mengisyaratkan Bakrie & Brothers tidak mau investasi lagi di perusahaan telekomunikasi milik grup Bakrie tersebut.

“Ssegmen perdagangan, jasa, dan investasi baru berkontribusi terhitung mulai 2010 dengan cakupan pendapatan dari penjualan sumber daya alam (resources), serta investasi atas perusahaan asosiasi ataupun perdagangan surat berharga lainnya,” kaat Vicky.

Dia menjelaskan, shifting portolfolio bukan karena UNSP dan sektor perkebunan memiliki kinerja buruk. Namun, manajemen menilai Bakrie sudah tidak cocok lagi dengan target return perusahaan investasi karena permintaan dan pasokannya sudah terbatas. Selain itu, target price yang dinginkan sudah tercapai.

Pendapat berbeda diungkapkan Kepala riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo yang menilai, Bakrie Sumatera Plantations tidak terlalu bagus sekali. Apalagi mengacu pada laporan kekuangan 2011, tanaman menghasilkan perseroan mengalami penurunan menjadi hanya Rp117,157 miliar turun dari 2010 sebesar Rp293,429 miliar. Padahal, jumah lahan yang menghasilkan meningkat menjadi 96.865 ha (hektar) dari 2010 sebesar 90.178 ha

Di sisi lain, pendapatan dari tanaman belum menghasilkan Bakrie Sumatera Plantations meningkat Rp175 miliar di 2011 dari Rp127 miliar pada 2010. Sementara dari sisi jumlah lahan adalah 25.694 ha (2011) dari 33.885 ha (2010) dan 19.961 ha (2009).

Namun Bakrie memang cerdik. Saat melepas perusahaan di sektor perkebunan, perusahaan mampu menemukan penggantinya dari segmen lainnya, yakni perdagangan, jasa, dan investasi.

Penjualan anak usaha tidak membuat kinerja Bakrie & Brothers menjadi turun, terbukti perusahaan dengan cepat mampu menemukan penggantinya melalui BUMI Plc. Ke depan, Bakrie Brothers akan fokus ke energi dan infrastruktur melalui PT Bakrie Energy International dan PT Bakrie Indo Infrastructure. Meski demikian, perseroan masih mempertahankan kepemilikannya di Energi Mega Persada, Bumi Plc, dan Bakrieland Development.

Kontribusi pendapatan per sektor terhadap total pendapatan Bakrie & Brothers periode 2008-2011:

2008:Infrastruktur (34,55 persen), Perkebunan (34,88 persen), Telekomunikasi (30,57 persen)

2009: Infrastruktur merugi Rp73 miliar, Perkebunan (30,47 persen), Telekomunikasi (40,33 persen)

2010:Perdagangan, jasa dan investasi, (50,82 persen), Infrastruktur (11,87 persen), Perkebunan (18,16 persen), Telekomunikasi (19,15 persen)

2011:Perdagangan, jasa dan investasi, (65,17 persen), Infrastruktur (15,98 persen), Telekomunikasi (18,85 persen)

Kontribusi laba usaha per sektor terhadap total pendapatan Bakrie & Brothers periode 2008-2011:

2008:Infrastruktur Rp100 miliar, Perkebunan Rp759 miliar, Telekomunikasi Rp390 miliar

2009: Infrastruktur merugi Rp73 miliar, Perkebunan Rp470 miliar, Telekomunikasi Rp303 miliar

2010:Perdagangan, jasa dan investasi merugi Rp5 triliun, Infrastruktur Rp16 miliar, Perkebunan Rp849 miliar, Telekomunikasi Rp208 miliar

2011:Perdagangan, jasa dan investasi Rp1,698 triliun, Infrastruktur merugi Rp50 miliar, Telekomunikasi merugi Rp95 miliar

Investasi Bakrie & Brothers pada anak usaha dan perusahaan asosiasi periode 2008-2011:

2008: Bakrie Telecom (49,13 persen), Energi Mega Persada (43,20 persen), Bakrieland Development (14,85 persen), Bumi Resources (16,46 persen), Bakrie Sumatera (65,28 persen).

2009: Bakrie Telecom (45,58 persen), Energi Mega Persada (43,20 persen), Bakrieland Development (20,95 persen), Bumi Resources (19,15 persen), Bakrie Sumatera (41,78 persen).

2010: Bakrie Telecom (45,58 persen), Energi Mega Persada (8,75 persen), Bakrieland Development (8,14 persen), Bumi Resources (20,50 persen), Bakrie Sumatera (27,42 persen).

2011: Bakrie Telecom (29,95 persen), Energi Mega Persada (8,75 persen), Bakrieland Development (8,14 persen), Bumi Resources (10,23 persen), Bakrie Sumatera (27,42 persen), dan Borneo Lumbung Energy (27,42 persen).

http://www.beritasatu.com/ekonomi/57590-bakrie-dikenal-licin-bongkar-pasang-portofolio.html

Sumber : BERITASATU.COM

Maret 28, 2012

info SEPUTAR bumi et al

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 8:11 am

INFO LANGSUNG dari ownernya

Maret 11, 2012

trub BERAK$1 ORG4N1K … 020712

Filed under: Saham Trub — bumi2009fans @ 9:55 pm

info @trub by reviewers:
bloomberg:
neraca keuangan trub
laba atau rugi trub
arus kas trub
reuters:
rasio keuangan trub
berita penting trub
situasi keuangan trub

Bagaimana Nasib Saham Gocap?

Oleh: Jagad Ananda
pasarmodal – Senin, 23 Juli 2012 | 04:02 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menendang saham PT Davomas Abadi (DAVO), PT Katarina Utama (RINA), mengingatkan pada saham-saham yang sudah lama mendengkur. Kenapa tidak dibersihkan sekalian?

Begitulah publik bertanya-tanya. Sebab selain nyaris tidak ditransaksikan, saham-saham ini juga banyak yang sudah mentok di level harga yang paling dasar, yakni gocap alias 50 perak. Dan kondisi itu sudah berlangsung bertahun-tahun.

“Kenapa dibiarkan? Hanya mengotori pasar saja,” kata seorang kepala riset dari sebuah sekuritas asing. Menurut perhitungannya, saat ini, paling tidak ada 14 saham yang berharga Rp50.

Seperti Asia Natural Resources (ASIA) , Bank Mutiara (BCIC), PT Davomas (DAVO), Dharma Samudera Fishing (DSFI), HD Capital (HADE), Dayaindo Resources International (KARK), Kertas Basuki Rachmat Indonesia (KBRI), Limas Centric Indonesia (LMAS), Mas Murni Indonesia (MAMI), Truba Alam Manunggal (TRUB), Bakrie & Brothers (BNBR), Arpeni Pratama Ocean Line (APOL) dan PT Star Petrochem (STAR).

Di luar yang disebut di atas, sebenarnya ada sederet efek lain yang berperilaku serupa dengan harga sedikit di atas gocap (antara Rp50–60). Saham-saham jenis ini, hanya ditransaksikan oleh pihak-pihak tertentu agar bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan BEI sebagai saham aktif.

Fakta itulah, kelihatannya, yang mendorong Bapepam-LK untuk melakukan pembenahan. Salah satunya dengan cara melakukan revisi atas Undang-undang Pasar Modal. Kelak, jika revisi itu disahkan diharapkan saham-saham sampah seperti itu tak akan ada lagi di pasar. Dalam revisi tersebut akan dirinci lebih spesifik tentang k\riteria saham apa saja yang boleh melantai di BEI.

Dengan kata lain, saham yang perusahaannya sudah tidak beroperasi atau saham yang mendengkur terlalu lama, bisa langsung ditendang. [mdr]

JAKARTA: Saham emiten pelayaran PT Buana Listya Tama Tbk (BULL) dan emiten konstruksi PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) disuspen pada awal bulan ini akibat belum menyampaikan laporan keuangn 2011.

Dalam surat suspensinya pagi ini, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Riil PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengatakan Buana Listya Tama yang berkode saham BULL itu juga belum melunasi denda yang dijatuhkan BEI.

Namun, tidak dirinci denda yang dijatuhkan kepada emiten anak usaha PT Berlian Laju Tanker Tbk itu. Nyoman mengatkaan suspensi juga diperpanjang untuk tiga emiten lain yang sudah disuspen sebelumnya.

“Dan memperpanjang suspensi perdagangan efek PT Davomas Abadi Tbk, PT Mitra International Resources Tbk, dan PT Panca Wiratama Sakti Tbk,” ujarnya dalam pengumuman di situs resmi BEI hari ini, (7/2/2012).

Suspensi perdagangan efek ketiga emiten diperpanjang juga akibat perusahaan belum menyerahkan laporan keuangan tahun lalu.

Panca Wiratama Sakti yang berkode saham PWSI dan Davomas Abadi yang berkode DAVO juga belum membayarkan sanksi denda yang dikenakan otoritas bursa.

http://www.bisnis.com/articles/telat-sampaikan-lapkeu-2011-buana-listya-dan-truba-disuspen

Sumber : BISNIS.COM
Anak Usaha TRUB Kantongi Proyek Holcim Rp165 M

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
Pasar Modal – Sabtu, 10 Maret 2012 | 16:09 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Anak usaha PT Truba Jaya Manunggal Engineering Tbk (TRUB), PT Truba Jaya Engineering, mengantongi proyek dari PT Holcim Indonesia senilai Rp164,97 miliar.

Sekretaris Perusahaan Truba Jaya Manunggal Engineering Kristono Wardhana mengungkapkan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (10/3/2012), proyek dari Holcim tersebut meruipakan proyek mechanical and electrical erection.

Selain mendapat proyek dari Holcim, anak usaha Truba ini juga mengantongi proyek maintenance works dari BP Tangguh dengan nilai US$200.558.
TRUB akan fokus pada bisnis EPC
Oleh Bernadette Christina Munthe – Jumat, 09 Maret 2012 | 22:47 WIB

kontan

JAKARTA. PT Truba Jaya Engineering, anak perusahaan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) akan fokus di bidang engineering, procurement and construction (EPC). Sekretaris Perusahaan TRUB Kristono Wardhana beralasan margin usaha bisnis EPC lebih bagus.

Pada triwulan pertama 2012 ini, TRUB telah membukukan dua proyek EPC. Kedua proyek itu yakni proyek mechanical and electrical erection PT Holcim Indonesia senilai Rp 164,97 miliar dan proyek pengelolaan dan perawatan BP Tangguh senilai US$ 200.558.

“Tahun ini kami memang mulai lebih banyak masuk ke non electrical EPC, misalnya ke bidang semen seperti Holcim, lalu Oil and gas. Selama ini lebih dari 50% masih di bidang kelistrikan,” kata Kristono, Jumat (9/3).

Kristono mengatakan jumlah kontrak yang dibidik kurang lebih akan sama dengan pencapaian pada 2011 lalu. Cuma, dia tak merinci berapa nilai kontrak yang diperoleh perusahaan pada 2011.

Dalam laporan keuangan pada triwulan ke tiga 2011, perusahaan dengan kode saham TRUB ini mencatatkan aset sebesar Rp 4,24 triliun, turun 33,65% dari aset per September 2010 sebesar Rp 6,4 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan hutang jangka panjang sebesar Rp 680,32 miliar dan hutang jangka pendek sebesar Rp 343,55 miliar.

Januari 20, 2012

bakrie’s GAME (5) … 300612

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 5:16 pm

Jum”at, 29 Juni 2012 | 23:09 WIB
Golkar Kukuhkan Ical Jadi Capres 2014

TEMPO.CO, Jakarta – Partai Golkar resmi mencalonkan Ketua Umum, Aburizal Bakrie sebagai calon presiden 2014. Penetapan ini setelah mendapat persetujuan penuh dari 33 pengurus Dewan Pimpinan Daerah Provinsi dan sepuluh organisasi pendiri dan bentukan partai.

“Pada hari ini rapimnas memutuskan Aburizal Bakrie adalah capres dari partai golkar untuk preciode 2014-2019,” kata Freddy Latumahina saat memimpin rapat paripurna pengukuhan capres Golkar, Jumat malam, 29 Juni 2012.

Aburizal pun menerima pengukuhan itu. Dalam pidato pengukuhannya, Ical-sapaan Aburizal- mengatakan siap berjuang untuk menjadi presiden periode 2014-2019. Aburizal mengatakan siap mewujudkan kejayaan partai Golkar pada pemilu 2014. Partai Golkar yang dilambangkan sebagai pohon beringin kata dia akan semakin tinggi menjulang ke langit dan akarnya semakin menancap ke bumi. “Saya mengatakan secara resmi dan terbuka menerima pencalonan ini.”

Jika terpilih menjadi capres, Aburizal berjanji akan memprioritaskan kesejahteraan masyarakat. “Siang malam saya berjanji mendengarkan suara rakyat,” kata dia. Aburizal mengakui jalan untuk menjadi capres tidaklah mudah. Namun dia yakin dengan dukungan semua elemen partai, Golkar akan bisa menang pemilu dan pilpres. “Dengan dukungan semua pihak kami bisa mencapai finish dan meraih kemenangan.”

Aburizal juga mengatakan akan membawa Indonesia naik kelas dari negara berkembang menjadi negara maju. “Saya akan siapkan fondasi yang kokoh, inilah kontrak politik yang memberi arah bagi kekuasaan besar seorang presiden.”

Sekretaris Jenderal Golkar, Idrus Marham mengatakan setelah pengukuhan malam ini, maka seterusnya seluruh mesin partai akan dioptimalkan untuk memenangkan Aburizal pada pilpres 2014 mendatang. “Mulai hari ini hanya ada satu, Aburizal untuk presiden.”

Setelah dikukuhkan dalam rapimnas malam ini, Aburizal akan melakukan deklarasi capres pada Ahad, 1 Juli lusa. Dalam deklarasi itu, dia juga akan memaparkan visi dan misinya untuk menjadi capres pada pilpres 2014.

IRA GUSLINA SUFA
Bakrieland Jual Kondominium Mewah Rp 750 juta-Rp 2 Miliar di Kuningan
Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Jumat, 29/06/2012 17:34 WIB
Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk menawarkan kondominium hotel (Condotel) bernama OCEA Condotel Rp 750 miliar sampai Rp 2 miliar di kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Direktur dan CEO unit usaha City Property PT Bakrieland Development Tbk untuk Rasuna Epicentrum Agus J. Alwie mengatakan, OCEA Condotel ditawarkan untuk kalangan eksekutif muda. Proyek ini terdiri dari 324 unit condotel pada 32 lantai yang berada di kawasan pusat bisnis dan perkantoran strategis Jakarta.

“Harga yang ditawarkan dari Rp 750 juta sampai Rp 2 miliar,” imbuh Agus di Rasuna Epicentrum, jakarta, Jumat (29/6/2012).

Condotel yang baru mulai ditawarkan besok ini ternyata sudah terjual 80 unit. Menurut Agus, para penghuni tidak hanya ditawarkan dengan hunian yang berkelas, tetapi juga akan memperoleh penghasilan pasif dari investasi yang ditanamkan pada condetel tersebut.

“Orang melihat kalau apartemen kita beli harus merawat. Kalau condotel kita jual beserta furnished dan dikelola oleh pengelola. Sementara dapat income 10 persen juga,” sebutnya.

Condetel yang selesai dibangun pada Juni 2014 ini akan dibangun di atas lahan 12.582 meter persegi. Pada proyek ini, Bakrieland akan menginvestasikan Rp 350 miliar.

(feb/dnl)

BTEL Optimistis Program Revitalisasi Berhasil
Robertus Benny Dwi Koestanto | Nasru Alam Aziz | Kamis, 14 Juni 2012 | 19:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Jajaran manajemen Bakrie Telecom yakin program revitalisasi BTEL bakal berjalan sukses. Salah satu fokus perseroan adalah penggunaan dana hasil penerbitan saham tanpa pemesanan efek terlebih dulu senilai Rp 754 miliar.

Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie menjelaskan, program revitalisasi BTEL terdiri dari lima tahap. Pertama, adalah program penyehatan dan penguatan keuangan perusahaan. Kedua, penguatan organisasi, budaya perusahaan dan governance. Ketiga, kembali ke inti kekuatan BTEL yaitu one brand (Esia), one price, tapi dengan banyak opsi produk. Keempat, mendorong pertumbuhan revenue dari data. Kelima, peningkatan kualitas produk dan layanan pelanggan.

Sebagai bagian dari program penyehatan dan penguatan keuangan perusahaan, manajemen BTEL telah melakukan beberapa langkah konkret sejak awal tahun 2012. Dalam RUPS Luar Biasa beberapa waktu lalu, pemegang saham telah menyetujui penerbitan saham tanpa hak pemesanan efek terlebih dahulu (non-preemptive right issue) senilai Rp 754 miliar.

Selain digunakan untuk membiayai akuisisi 35 persen saham Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI), hasil penerbitan saham tersebut juga dipakai untuk mempercepat pembayaran utang perseroan. “Sekitar 27 persen atau senilai Rp 150 miliar dari non-preemptive right sudah masuk ke kas perusahaan,” ungkap Anindya.

Dalam dua pekan terakhir, produk baru tersebut mendapat respon luar biasa dari konsumen dan telah berhasil meningkatkan pangsa pasar BTEL di layanan data dari 5 persen menjadi 20 persen. “Inilah yang kami sebut sebagai dampak positif dari proses pemulihan yang kami lakukan di BTEL,” ujar Anindya.

Kesuksesan produk Esia Max-D, menurut Anindya, juga tidak lepas dari cara unik dan kreatif yang selama ini selalu menjadi trademark BTEL. Saat peluncuran, BTEL mengerahkan lebih dari 1.000 karyawan dari bagian penjualan dan non penjualan untuk terjun langsung ke lapangan. BTEL menggunakan jaringan 3.000 outlet di 20 kota.

Pasar kalut, ENRG kerek batas atas kupon obligasi
Oleh Wahyu Satriani – Kamis, 14 Juni 2012 | 21:42 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA. Masih tingginya ketidakpastian perekonomian global membuat ongkos penerbitan surat utang korporasi menjadi mahal. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) misalnya, menaikkan batas atas kupon global bond-nya dari 9% menjadi 11,5%.

Keputusan ini disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Kamis (14/6). ENRG berniat merilis obligasi global senilai US$ 600 juta dengan tenor 5 tahun.

Imam P. Agustino, Direktur Utama ENRG, menuturkan, kenaikan kupon global bond tersebut lantaran kondisi pasar yang masih fluktuatif. “Maka itu kami minta batas atasnya dinaikkan. Namun, kami tetap berharap kuponnya bisa ditetapkan di bawah 11,5%,” ujarnya.

Imam bilang, dengan batas atas kupon sebesar 11,5%, maka ENRG masih bisa menghemat US$ 15,5 juta per tahun. Dana hasil emisi obligasi ini akan digunakan ENRG sebagai refinancing agar beban keuangan perseroan di pos bunga pinjaman dapat turun.

Utang yang akan ditukar di antaranya adalah senior credit agreement dari Credit Suisse sebesar US$200 juta, berbunga LIBOR+12% per tahun. Ada juga pinjaman dari ND Owen Holdings Ltd sebesar US$228 juta berbunga 17% per tahun. Kedua utang tersebut jatuh tempo tahun depan.

ENRG akan menggelar roadshow ke beberapa negara untuk menjajaki calon pembeli obligasi global ini, mulai Juli 2012. Di antaranya, Singapura, Hongkong, dan New York. Global bond ENRG nanti akan dicatatkan di bursa Singapura. Imam enggan mengungkapkan calon pembeli yang sudah kentara ataupun pembeli siaga (standby buyer) obligasi global itu.

RUPSLB kemarin juga menyetujui rencana penambahan modal melalui penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau non-preemptive rights issue sebanyak 4,058 miliar saham di harga Rp 186. Jadi, dana yang dikantongi nanti sekitar Rp 755 miliar. “Untuk modal kerja,” kata Imam

Jadi Dirut Bakrieland, Ini Target Ambono
Bakrieland sudah memiliki fundamental yang bagus sehingga banyak mendapatkan penghargaan.
Kamis, 7 Juni 2012, 15:00 WIB
Hadi Suprapto, Sukirno

VIVAnews – Pemegang saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dalam rapat umum pemegang saham tahunan memutuskan mengganti jajaran direksi. Pemegang saham mengganti Direktur Utama Hiramsyah S Thaib digantikan oleh Ambono Januarianto.

Untuk itu, Ambono mengungkapkan dia tidak akan mengubah kebijakan direksi sebelumnya. “Harus saya sampaikan paling utama targetnya harus tidak lebih jelek dari Pak Hiramsyah,” kata dia dalam paparan publik, di Hotel Aston, Jakarta, Kamis 7 Juni 2012.

Menurutnya, Bakrieland sudah memiliki fundamental yang bagus sehingga banyak mendapatkan penghargaan. Kemudian, dia melanjutkan, perseroan sudah banyak melakukan promosi proyek-proyek barunya.

“Kami harus merealisasikan proyek yang baru, apakah mempercepat atau seperti biasa, tergantung proyeksi ekonomi,” kata dia.

Bakrieland fokus pada percepatan pengembangan proyek-proyek properti, terutama sektor hunian baik apartemen maupun perumahan, sebagai bagian dari upaya optimalisasi konversi lahan untuk menjadi arus kas perusahaan.

Berdasarkan pencapaian perusahaan di 2011, Bakrieland optimistis mencapai pertumbuhan pendapatan 15 persen dari tahun sebelumnya.

Tak bagi dividen

Sementara itu, Direktur Utama Perseroan sebelumnya, Hiramsyah S Thaib mengatakan saat ini perseroan tidak membagikan dividen. “Kalau sudah ada laba konsolidasi, pasti bisa bagi dividen,” kata Hiramsyah.

Pada 2011, Bakrieland membukukan pendapatan yang melonjak 47,5 persen menjadi Rp2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya, sebesar Rp1,4 triliun. Hal ini mendukung laba kotor sebesar Rp958,2 miliar atau meningkat 43,2 persen dibanding sebelumnya Rp669,3 miliar. Sedangkan laba bersih perseroan adalah Rp 74,74 miliar. (umi)

Inilah Pemicu Kerugian BTEL hingga Rp355,62 M

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Jumat, 1 Juni 2012 | 16:35 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) per 31 Maret 2012 mencatat kenaikan rugi bersih menjadi Rp355,62 miliar dari kerugian Rp41,128 miliar di kuartal pertama 2011.

Demikian mengutip keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Jumat (1/6/2012). Pada periode tersebut, perseroan menderita rugi kurs sebesar Rp56,466 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun lalu mencatatkan keuntungan kurs Rp115,871 miliar.

Penyebab lain kerugian perseroan adalah pendapatan bunga yang mengalami penurunan menjadi Rp452,205 juta dari Rp4,07 miliar. Demikian juga dengan beban keuangan naik tipis menjadi Rp210,206 miliar dari Rp200,575 miliar.

Untuk pendapatan usaha perseroan juga turun menjadi Rp526,599 miliar di tiga bulan pertama 2012 dari Rp717,940 miliar. Penurunan pendapatan usaha ini disebabkan turunnya pendapatan jasa telekomunikasi sebesar 26,07% dari Rp830,999 miliar menjadi Rp614,355 miliar. Selain itu, jasa interkoneksi juga turut turun 14,58% menjadi Rp58,963 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu Rp69,033 miliar.

Kendati demikian, perseroan berhasil menekan beban usaha sekitar 1,13% dari Rp704,981 miliar menjadi Rp696,967 miliar. Perseroan menderita rugi usaha sebesar Rp170,368 miliar. Untuk total aset perusahaan per 31 Maret 2012 mencapai Rp12,028 triliun dari Rp12,213 triliun per 31 Desember 2011.

Jadi dirut BRMS baru, Samin Tan genjot Dairi Prima
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 03 Mei 2012 | 23:00 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) akan menggenjot pengembangan konsesi tambang di Sumatera Utara lewat Dairi Prima Minerals. Total dana yang dibutuhkan mencapai US$ 300 juta.

Direktur Utama BRMS yang baru saja terpilih, Samin Tan mengatakan fokus perseroan saat ini adalah melakukan pengembangan Dairi Prima agar segera berproduksi. Untuk merealisasikan hal itu, manajemen tengah melakukan pembicaraan dengan sejumlah kreditur.

“Sebentar lagi kami akan mendapatkan pinjaman US$ 100 juta dari sejumlah bank,” ujarnya, Kamis (3/5). Namun, ia belum mau mengatakan calon krediturnya Dana itu sepenuhnya akan dialokasikan untuk Dairi Prima. “Dairy Prima harus jalan selain Mauritania,” imbuh Samin.

Sementara itu Kenneth Patrick Farrel, Wakil Direktur Utama BRMS menambahkan, keperluan dana untuk eksplorasi tahun ini diperkirakan sebesar US$ 150 juta. Adapun sisa kebutuhan dana akan dipenuhi dari pinjaman dan hasil IPO. Manajemen menargetkan produksi bijih besi di Dairi di tahun pertama mencapai 1 juta ton per tahun.

Asal tahu saja, dari sejumlah konsesi tambang logam dan mineral yang dimiliki BRMS baru satu tambang yang berproduksi. Tambang itu terletak di Afrika Barat, yaitu Mauritania SA yang memproduksi bijih besi. Tahun ini diperkirakan volume produksi yang dihasilkan sebanyak 300.000 ton.

Sedangkan Gorontalo Minerals, kata Samin masih dalam tahap feasibilities studies dan drilling. Setelah diketahui berapa cadangan yang tersedia, maka perseroan baru bisa menarik pinjaman dari bank (bankable). Hal itu baru akan terjadi pada satu hingga dua tahun ke depan. Samin memperkirakan, proyeknya yang di Gorontalo ini terlalu besar untuk digarap. Pihaknya kemungkinan akan mencari partner. Begitu pula Citra Palu Minerals.

Kenneth menjelaskan, perseroan memerlukan dana investasi dengan total sekitar US$ 5,3 miliar untuk menggarap area pertambangannya dalam kurun lima tahun. Ia merinci, Proyek Gorontalo memerlukan dana US$ 3 miliar hingga US$ 4 miliar. Citra Palu Minerals sebesar US$ 1 miliar, Dairi Prima senilai US$ 300 juta dan Mauritania sebesar US$ 30 juta hingga US$ 40 juta.

Sekadar informasi Dairi Prima merupakan tambang penghasil timah hitam dan zinc. Sedangkan Gorontalo Minerals adalah penghasil emas dan tembaga. Citra Palu Minerals penghasil emas. Mauritania adalah pengelola tambang bijih besi.

Kelompok Usaha Bakrie berusaha menjinakan utang. BNBR
berjanji menyelesaikan utangnya ke sejumlah kreditur pada
Mei tahun ini.Nilai utang yang akan direstrukturisasi itu
Rp 2,21 Triliun.(kontan/az)
Kamis, 26/04/2012 15:07 WIB
Berusia 100 Tahun, Kebun Sawit Bakrie Masih Bisa Produksi 166 Ribu Ton TBS
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Kisaran – PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) menargetkan dapat menghasilkan 166 ribu ton tandan buah segar (TBS) per tahun pada kebun milik perseroan di Kisaran, Kab Asahan, Sumatera Utara. Peningkatan produksi dihasilkan dari penambahan pohon sawit produktif seluas 1.400 ha.

Demikian disampaikan VP Business Unit Head Sumit 1, Nahum Panggabean dalam kunjungan media ke Kisaran, Kamis (26/4/2012).

“Lahan di Sumut 1 akan ada penambahan volume tahun ini, karena ada tanamman mature 1.400 ha sawit tambahan,” katanya.

“Tahun 2011 produksi kami 140 ribu ton, dan tahun ini akan ada peningkatan jadi 166 ribu ton,” tambah Nahum.

Untuk setiap ha, tanaman sawit UNSP di Sumut 1 diprediksi menghasilkan 24 juta ton-25 juta ton. Dari 1.400 ha sawit yang baru menghasilkan datang dari bibit unggulan, jenis Costa Rica.

“Bibit Costa Rica diharapkan akan meningkatkan produksi kami, karena per ha bisa mencapai 40 juta ton. Dari yang menghasilkan baru ini, kami mulai tanam pada tahun 2008,” tegasnya.

Sumut 1, selain mengelola perkebunan sawit seluas 9.200 ha, juga masih terhampar luas tanaman karet. Jumlahnya bahkan lebih besar, mencapai 10.500 ha.

“Total lahan di sini mencapai 22.173 h terdiri dari 6 estate, termasuk perkantoran. Lahan sawit 9.200 ha, karet 10.500 ha. Plus tahun ini yang replanting 880 ha karet. Kebun yang ada di Kisaran usianya sudah mencapai 100 tahun,” ucapnya.

Total produksi karet grup Bakrie sendiri diperkirakan mencapai 500 ton kering. Ini setara dengan 1.660 kg per ha lahan karet. “Jumlah yang dihasilkan naik dari percapaian tahun lalu 1.460 kg per ha,” imbuhnya.

(wep/ang)
Bapepam-LK akan panggil BNBR
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Selasa, 24 April 2012 | 20:16 WIB

kontan

JAKARTA. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) akan memanggil manajemen PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) untuk meminta klarifikasi terkait peringatan gagal bayar dari para krediturnya.

“Kami memang akan panggil (manajemen BNBR) dalam waktu dekat untuk minta penjelasan,” ujar salah satu pejabat Bapepam-LK yang enggan disebut identitasnya kepada KONTAN, Selasa (24/4).

Penjelasan yang dimaksud terkait dengan adanya peringatan gagal bayar dari kreditur yang dikoordinasi Credit Suisse serta penyelesaiannya. Tidak hanya Bapepam-LK, otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) juga telah mengirimkan surat resmi kepada manajemen untuk meminta klarifikasi.

“Kami langsung kirimkan surat setelah ada berita itu, kami mempertanyakan kebenaran mengenai isi berita itu,” tutur Eddy Sugito, Direktur Penilaian Perusahaan BEI. Adapun batas waktu pemberian penjelasan tiga hari kerja setelah surat dikirimkan.

Eddy Soeparno, Direktur Keuangan BNBR menampik adanya notifikasi apa pun dari para krediturnya. Baik notifikasi gagal bayar maupun permintaan tambahan kolateral. Menurut sumber yang dikutip Bloomberg, BNBR diminta menambah nilai agunannya senilai US$ 100 juta. Terkait hal itu, Eddy menolak untuk berkomentar.

“Saya tidak mau menanggapi mengenai hal itu,” tandasnya. Ia pun masih enggan memberikan penjelasan terkait kabar yang menyebutkan BNBR sedang bernegosiasi dengan dua investor asing guna memperoleh dana segar. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yaitu mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 9 triliun. Menurut kabar yang beredar, investor itu berasal dari Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Selain untuk pengembangan anak usaha, dana itu juga akan digunakan untuk menyelesaikan pinjaman kepada sejumlah kreditur yang digawangi Credit Suisse senilai US$ 437 juta.

Manajemen BNBR masih belum mau memberi penjelasan secara eksplisit terkait hal tersebut. “Saya tidak bisa komentar dulu karena terikat kerahasiaan,” tutur Eddy.

Sekadar mengingatkan, pada Januari 2012 lalu, BNBR dan Long Haul Holdings Ltd (LHH) menandatangani perjanjian kredit dari Credit Suisse AG dengan total nilai US$ 437 juta. Dari total pinjaman itu, fasilitas pinjaman yang diperoleh BNBR adalah sebesar US$ 193,96 juta. Dana itu digunakan untuk membayar sisa pinjaman atas pinjaman Credit Suisse senilai US$ 1,34 miliar. Sebelumnya, BNBR dan LHH telah membayar US$ 1 miliar. Dana itu diperoleh dari hasil penjualan saham Bumi Plc kepada Borneo Lumbung Energy & Metal (BORN). Nah, sisanya diselesaikan dengan refinancing, yaitu dengan pinjaman baru yang dikoordinasi CS.

Eddy menolak jika pinjaman itu disebut repo. Tetapi ia tidak menyanggah skemanya sama seperti pinjaman ke Credit Suisse sebelumnya yaitu dengan menjaminkan saham Bumi Plc. Eddy mengaku tidak ingat berapa banyak saham Bumi Plc yang dijaminkan atas pinjaman barunya itu. Yang jelas, setelah dilepas ke BORN, kepemilikan BNBR dan LHH di Bumi Plc tersisa 23,8%. Eddy pun enggan mengatakan tenor pinjaman tersebut.

ELTY: Bakrieland Development (ELTY) starts to build the Breeze that has been sold out all of its 3.7ha land in South Sentul, Bogor. The Breeze is a part of the first section on company’s plans to develop 12.000ha of land from Sentul to Jonggol. (Bisnis Indonesia)

Sumber : IPS RESEARCH
Blok Tonga Sumbang Produksi Energi Mega 1.200 BPH

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Jumat, 20 April 2012 | 12:06 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menyatakan, hak partisipasi yang dimiliki sebesar 53,44% yaitu blok Tonga PSC telah mendapatkan persetujuan rencana pengembangan dari Pemerintah pada 10 April 2012.

Tonga PSC diharapkan dapat memulai produksi minyaknya di semester pertama tahun 2012 dengan rata-rata produksi 1.200 barrel per hari untuk sepanjang tahun 2012. Lapangan Tonga mempunyai cadangan tersertifikasi (3P atau cadangan terbukti, terukur dan terunjuk) sebesar 7 juta barel dan jumlah prospek sumber daya dari lapangan lain sebesar 31,2 juta.

“Ini merupakan hasol yang sangat positif dari blok TOnga PSC. Tim kami saat ini sedang menyelesaikan infrastruktur yang dibutuhkan untuk dapat memfasilitasi produksi minyak pertama dari blok tersebut,” ujar Direktur Utama PT Energi Mega Persada Tbk, Imam Agustino, seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (20/4/2012).

Lebih lanjut ia mengatakan, blok Tonga PSC dapat segera memproduksikan minyak pada semester pertama thaun dan memberikan kontribusi positif terhadap perusahaan. Blok Tonga PSC terletak di Sumatra Utara dan saat ini dioperasikan oleh anak usaha ENR yaitu PT Mosesa Petroleum. [hid]

ENERGI MEGA raih persetujuan pengembangan Blok Tonga

Oleh Sylviana Pravita R.K.N

Jum’at, 20 April 2012 | 09:55 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: PT Energi Mega Persada Tbk meraih persetujuan pemerintah terhadap rencana pengembangan hak partisipasi 53,44% Blok Tonga PSC pada 10 April 2012.

Blok Tonga PSC terletak di Sumatera Utara dan saat ini dioperasikan oleh anak usaha Energi Mega, yaitu PT Mosesa Petroleum.

Berdasarkan keterangan resmi perseroan hari ini, Jumat, 20 April 2012, Tonga PSC diharapkan memulai produksi minyak pada semester I/2012 dengan rata-rata produksi 1.200 barel per hari.

Lapangan Tonga mempunyai cadangan tersertifikasi, yaitu cadangan Terbukti, Terukur, dan Terunjuk 7 juta barel dan jumlah Prospek Sumber Daya dari lapangan lain 31,2 juta barel.

Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino menilai hal itu merupakan hasil yang sangat positif dari blok Tonga PSC.

“Tim kami sedang menyelesaikan infrastruktur yang dibutuhkan guna memfasilitasi produksi minyak pertama dari blok tersebut. Kami berharap Blok Tonga PSC segera memproduksi minyak pada semester pertama tahun ini dan memberikan kontribusi yang positif terhadap perusahaan.” (spr)

Tengoklah Saham BUMI dan ELTY

Oleh:
pasarmodal – Jumat, 20 April 2012 | 09:03 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources Tbk diperkirakan akan menuju level Rp2.800 dan saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan menuju Rp170.

Kabarnya, keluarga Bakrie akan menambah kepemilikan di kedua perusahaan tersebut. Langkah tersebut diperkirakan akan terealisir pada semerter II tahun ini.

Pada perdagangan kemarin saham BUMI menguat Rp50 ke Rp2.125 dengan volume 42.209 saham. Sementara saham ELTY menguat Rp6 ke Rp123 dengan volume 672.292 saham.

Kamis, 19 April 2012 | 17:56 WIB
Bakrie Telecom Segera Terbitkan Saham Baru

TEMPO.CO, Jakarta- PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator telekomunikasi berbasis CDMA, memastikan rencana penerbitan saham baru (rights issue) tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non HMETD). Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) hari ini, 19 April 2012, menyetujui perseroan untuk melakukan non prempetive rights issue 10 persen dari 28,48 miliar saham yang tercatat saat ini. Nilai saham baru minimal Rp 755 miliar dengan harga minimal Rp 265 per saham.

Direktur Utama BTEL, Anindya Bakrie, meengatakan dana hasil penerbitan right issue itu bakal digunakan untuk beberapa keperluan perseroan. Rinciannya sebesar 25 persen membayar obligasi jatuh tempo September mendatang, kemudian 25 persen untuk akuisisi 35 persen saham Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) senilai Rp 198 miliar. “Sisanya 50 persen untuk working capital dan belanja modal,” katanya.

Pada 13 Maret 2012, BTEL dan STI menandatangani penjualan bersyarat jual beli (conditional sale and purcase agreement). Tahapan merger diawali dengan Bakrie Telecom mengakuisisi 35 persen saham Sampoerna Telekomunikasi Indonesia.

Nantinya Sampoerna masuk ke BTEL melalui private placement. Sesuai perjanjian, perseroan bakal memiliki 100 persen saham STI dalam tiga tahun ke depan.

Selain rencana aksi itu, rapat hari ini juga menyetujui pergantian direksi dan komisaris. Sebagai wakil direktur utama Bidang Pengembangan Jaringan dan Operasional diangkat Amit Bose yang sebelumnya menjabat sebagai presiden Tata Teleservices, Chief Executive Officer (CEO) Reliance Infocom, dan CEO Mattel. Selain dia, Imanuddin Putra yang sebelumnya direktur Sumber Daya Manusia Samsung Electronics diangkat menjadi direktur Sumber Daya Manusia.

JAYADI SUPRIADIN
Kamis, 19 April 2012 | 21:46 WIB
Menteri PU Minta Lapindo Penuhi Janjinya

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meminta PT Minarak Lapindo Jaya menyelesaikan pembayaran ganti rugi semburan lumpur tahun ini. “Mereka berjanji menyelesaikan tahun 2012. Saya minta mereka konsisten dengan janjinya,” kata dia di Istana Kepresidenan, Kamis, 19 April 2012.

Menurut Djoko, besaran angka pembayaran dampak lumpur yang dijanjikan selesai oleh PT Minarak Lapindo Jaya tahun 2012 ini adalah sekitar Rp 900 miliar. “Dijanjikan kepada Presiden,” ujar dia.

Sebelumnya, Djoko menyatakan PT Minarak Lapindo Jaya meminta difasilitasi untuk bantuan kredit. “Kemarin saya ketemu, mereka minta difasilitasi, cuma belum ada keputusan,” kata Djoko.

Djoko menyatakan, pihak Lapindo meminta bantuan kredit konstruksi karena sebagian pembayaran dilakukan dalam bentuk rumah jadi.
Ganti rugi rumah dilakukan agar bisa langsung diberikan kepada masyarakat.

Djoko sudah menghubungi Direktur Bank BTN, dan bank masih menghitung. Hingga saat ini pihak Bank BTN belum bisa memberikan jawaban ihwal permintaan kredit tersebut.

Minarak Lapindo Jaya memiliki kewajiban pembayaran senilai Rp 3,8 triliun. Hingga April 2012, realisasi pembayaran sebenarnya sudah mencapai Rp 3,409 triliun atau sebesar 89 persen. Tapi, ada keterlambatan pencairan dana sebesar Rp 497,4 miliar. Total kekurangan yang harus dibayar oleh Lapindo sebesar Rp 918,7 miliar.

Pemerintah juga menanggung dana untuk korban lumpur Lapindo. Sejak 2006-2010, anggaran pendapatan dan belanja negara sudah membiayai korban lumpur Lapindo sebesar Rp 2,8 triliun.

Ditambah tahun 2012-2014, pemerintah menyiapkan anggaran Rp 5,8 triliun. Anggaran 2012-2014 tersebut terdapat dalam Rencana Kerja Pemerintah dengan rincian: tahun 2011 sebesar Rp 1,2 triliun, tahun 2012 sebesar Rp 1,3 triliun, tahun 2013 sebesar Rp 1,4 triliun dan tahun 2014
sebesar Rp 1,7 triliun.

PRIHANDOKO
Kamis, 19/04/2012 17:43 WIB
Lapindo Belum Juga Dapat Pinjaman Bank untuk Bayar Korban Lumpur
Luhur Hertanto – detikFinance

Jakarta – Pihak perbankan seperti BTN belum menjawab permohonan kredit dari PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) untuk melunasi sisa uang ganti rugi aset kepada para korban lumpur Sidoarjo.

Pemerintah mengingatkan perusahaan tambang itu memenuhi janji menyelesaikan seluruh tunggakan pada tahun ini.

“Dia sudah janji akan selesaikan pada 2012. Saya minta agar konsisten dengan janjinya itu,” kata Ketua Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), Djoko Kirmanto, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (19/4/2012).

Nilai sisa ganti rugi aset korban lumpur Lapindo saat ini tercatat sebesar Rp 918,7 miliar. Pemerintah telah memenuhi permintaan PT Minarak Lapindo agar difasilitasi pengajuan kreditnya kepada BTN.

“BTN belum memberikan jawabannya,” jawab Djoko yang juga Menteri Pekerjaan Umum.

Djoko menjelaskan bahwa PT Minarak Lapindo mengajukan bantuan kredit konstruksi kepada BTN. Alasannya sebagian pelunasan tunggakan akan dibayarkan dalam bentuk rumah jadi agar bisa langsung diberikan kepada masyarakat.

PT Minarak Lapindo memiliki total kewajiban pembayaran senilai Rp 3,8 triliun yang 89% di antaranya telah diselesaikan. Sementara itu, Pemerintah juga menanggung dana untuk korban lumpur Lapindo sejak 2006.

Sekertaris BPLS Andi Sarwoko mengatakan pihak lapindo membayar melalui PT Minarak Lapindo Jaya. Ia menuturkan dari total Rp 3,83 triliun, sampai 17 April 2012 baru terbayar Rp 2,9 triliun maka kekurangannya Rp 918,7 miliar

(lh/hen)

Kapal FPU Datang, Energi Mega Genjot Produksi
FPU itu merupakan bagian dari komponen untuk memfasilitasi produksi gas.
Jum’at, 13 April 2012, 14:14 WIB
Hadi Suprapto

VIVAnews – PT Energi Mega Persada Tbk akan menggenjot produksi gas sebesar 300 juta kaki kubik per hari dari lapangan Terang pada Juni 2012. Upaya itu seiring datangnya kapal Floating Production Unit (FPU) di lapangan gas lepas pantai Terang.

Lapangan gas ini merupakan bagian dari blok Kangean PSC di Jawa Timur. FPU tersebut telah menyelesaikan seluruh persiapan yang diperlukan di galangan kapal Sembawang, Singapura pada 30 Maret 2012, sebelum memulai pelayarannya ke lokasi blok Kangean PSC.

“FPU tersebut merupakan bagian terakhir dari beberapa komponen yang diperlukan untuk memfasilitasi produksi gas sebesar 300 juta kaki kubik per hari dari lapangan Terang pada Juni 2012,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada, Imam Agustino, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Jumat 13 April 2012.

Agustino mengatakan, volume gas dari lapangan gas Terang di blok Kangean PSC memiliki peran penting dalam pencapaian peningkatan produksi perusahaan dalam 24 bulan ke depan. Sebagian besar dari tambahan produksi minyak dan gas pada 2012 berasal dari lapangan gas Terang.

“Kami berhasil membukukan kenaikan produksi rata-rata sebesar 27 persen menjadi 16.700 barel ekuivalen per hari pada 2011,” ujarnya.

Perseroan berharap dapat merealisasikan peningkatan produksi rata-rata yang signifikan sebesar 140 persen menjadi 40.000 barel ekuivalen per hari tahun ini. Kenaikan ini didorong oleh tambahan produksi minyak dan gas dari blok ONWJ PSC yang baru saja diakuisisi oleh Energi Mega, produksi gas dari lapangan Terang di Kangean PSC, dan beberapa lapangan di blok Bentu PSC Riau, Sumatera.

Blok Kangean PSC terletak di Jawa Timur dan saat ini dioperasikan oleh Kangean Energy Indonesia Limited. Blok Kangean PSC dimiliki 50 persen oleh Energi Mega melalui beberapa anak usahanya, 25 persen oleh grup Mitsubishi, Jepang, dan 25 persen lainnya oleh grup Japex, Jepang.

Blok Kangean PSC memiliki jumlah cadangan terbukti dan terukur sebesar 9,6 juta barel minyak dan 1,3 triliun kaki kubik gas.

Sabtu, 14 April 2012 | 18:26 WIB
Pesilakan JK-Akbar Tapi Ical Tetap Emoh Konvensi

TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Umum Partai Golongan Karya, Aburizal Bakrie, mengatakan tidak menutup peluang kader lainnya untuk menjadi calon presiden. Tetapi dirinya keukeuh menyatakan tidak akan menggunakan jalan konvensi.

Menurutnya, mekanisme konvensi tak menjamin figur yang terpilih bakal menang di pemilu presiden. “Dulu waktu zaman Pak Wiranto menang (konvensi) tapi gagal (di pilpres). Jadi sudahlah, capek,” kata Aburizal di kantor DPP Partai Golkar di Jalan Anggrek, Sabtu 14 April 2012.

Apalagi, kata dia, pengurus sebelum dia juga tidak menggunakan konvensi. Menurut Ical, lebih baik keputusan bakal calon presiden yang diusung partai yang identik dengan warna kuning ini melalui Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnassus) yang akan dipercepat dari Oktober ke Juni-Juli 2012. “(Percepatan) atas semua daerah tingkat 1 dan 2. Sebagai orang yang selalu mempunya niat baik kepada negara, saya siap,” dia melanjutkan.

Lalu Mara Satriawangsa, Wakil Sekjen DPP Partai Golkar, menyatakan sudah ada enam pengurus daerah yang meminta rapimnas dipercepat. Yaitu Sulawesi Selatan, Papua Barat, Riau, Aceh, Jawa Tengah dan Maluku.

Lalu pun optimis suara di Jawa Timur tidak akan terpengaruh dengan kasus Lapindo. “Karena semua warga tahu mana yang benar dan salah. Saham terbesar (Lapindo Bratas) kan milik BUMN,” kata dia

ARYANI KRISTANTI
IMQ, Jakarta — Salah satu pelaku pasar mengatakan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sedang diminati oleh Fund manager besar yang cukup berpengaruh di Indonesia.

“Ketertarikan ini didorong meningkatnya penjualan korporasi pada 2011 lalu yang mencerminkan adanya peningkatan penjualan pada 2012 ini,” katanya.

Meskipun pada akhir tahun lalu, UNSP mencatatkan penurunan laba bersih namun potensi peningkatan laba bersih akan tampak signifikan pada akhir kuartal pertama 2012.

Hal ini disebabkan oleh meningkatnya harga minyak sawit mentah (CPO) di pasaran internasional, menyusul peningkatan harga minyak bumi yang cukup drastis.

Dengan katalisator harga komoditi yang meningkat, maka dapat disimpulkan nilai penjualan anak usaha Group Bakrie ini akan meningkat pula.

Tentu saja ini akan berpengaruh langsung pada laba korporasi. Ditunjang pula oleh perhitungan nilai buku wajar dan PER UNSP yang masih dibilang murah, maka UNSP masuk daftar “barang buruan” para fund manager.

Kabar yang beredar, UNSP akan diangkat naik sampai dengan Rp 450 per lembarnya.

Pada perdagangan Rabu (11/4) saham UNSP ditutup terkoreksi 5 poin (-1,69%) ke level Rp 290 per lembarnya dengan volume transaksi senilai lebih dari Rp7,85 miliar.

http://www.imq21.com/news/read/57800/20120412/080837/UNSP-Diincar-Fund-Manager-Target-Rp450.html

Sumber : IMQ21.COM
BNBR melepas 140,5 juta (1%) saham UNSP, 138,7 juta (0,3%) saham ELTY, dan 304,4 juta (0,75%) saham ENRG pada 30 Maret 2012. Perseroan meraup dana sekitar Rp124 miliar dari penjualan tiga saham itu. Penjualan saham merupakan bagian dari penyelesaian (settlement) salah satu pinjaman. (Investor Daily)

Sumber : IPS RESEARCH
Jum’at, 06 April 2012 | 17:14 WIB
Penurunan Laba ELTY Mengecewakan Investor

TEMPO.CO, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk. menunjukkan kinerja negatif sepanjang tahun lalu. Analis menilai penurunan kinerja jelas mengecewakan investor yang menanamkan modalnya di perusahaan milik keluarga Bakrie tersebut.

Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2011, Bakrieland mencatat laba bersih sebesar Rp 74,74 miliar. Perolehan ini merosot 64,47 persen dibandingkan laba bersih 2010. Padahal pendapatan perusahaan meningkat cukup tinggi, yaitu 47,5 persen, dari Rp 1,27 triliun menjadi Rp 2,02 triliun di 2011.

“Ini sangatlah mengecewakan investor apabila membandingkan kinerja perusahaan-perusahaan properti lainnya yang cukup fantastis pada 2011,” kata Kepala Riset e-Trading Securities, Betrand Raynaldi, dalam analisisnya, Kamis 5 April 2012.

Ia mengatakan peningkatan laba bersih yang diperoleh perusahaan-perusahaan lain di sektor yang sama bisa mencapai 40 hingga 200 persen pada tahun lalu.

Sebagai pengembang properti yang memiliki land bank terbesar, ia berharap Bakrieland dapat menaikkan kinerjanya. “Terutama dari sisi pengeluaran operasional serta pengeluaran lainnya, sehingga dapat menggerus gross profit margin yang juga menurun dengan kenaikan biaya penjualan,” kata Betrand lagi.

Meski pendapatan perusahaan naik cukup signifikan, beban pokok penghasilan pun tumbuh tinggi pada tahun lalu. Beban pokok naik 51,6 persen dari Rp 698,28 miliar menjadi Rp 1,05 triliun pada tahun lalu. Beban-beban lainnya pun meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, seperti beban penjualan sebanyak Rp 101,2 miliar. Padahal sebelumnya hanya Rp 55,6 miliar. Begitu pula dengan beban umum dan administrasi dari Rp 371,8 miliar menjadi Rp 624,14 miliar di 2011.

Untuk selisih kurs, perusahaan pada tahun lalu malah merugi Rp 11,65 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang untung Rp 14,61 miliar. Namun untuk penjualan/penghapusan aset tetap perusahaan mendapatkan untung sebesar Rp 66,72 juta, sementara pada 2010 merugi Rp 392,21 juta.

Dengan peningkatan beban perusahaan, laba sebelum taksiran manfaat pajak pun merosot dibandingkan 2010 menjadi Rp 107,4 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 225,65 miliar. Posisi kas per 31 Desember 2011 juga menipis menjadi sebesar Rp 597,12 miliar. Padahal tahun sebelumnya posisi kas perusahaan mencapai Rp 860,55 miliar. Saham perusahaan dengan kode efek ELTY ini pada perdagangan Kamis, 5 April 2012, tidak bergerak di angka Rp 122 per saham.

Beda halnya dengan Bakrieland, emiten properti PT Agung Podomoro Land Tbk malah meraup untung yang cukup besar pada tahun lalu. Laba bersihnya melonjak 143 persen menjadi Rp 684,9 miliar dari sebelumnya Rp 281,8 miliar. Itu dipicu oleh pendapatan usaha perusahaan yang meroket 97,2 persen di 2011 menjadi Rp 3,8 triliun dari periode sebelumnya sebesar Rp 1,9 triliun.

Emiten properti lainnya, PT Alam Sutera Realty Tbk, juga mengalami peningkatan kinerja pada 2011. Laba bersihnya melesat 107,2 persen dari Rp 290,89 miliar pada 2010 menjadi Rp 602,73 miliar di tahun lalu.

SUTJI DECILYA
Jum’at, 06 April 2012 | 05:38 WIB
Duit-duit Negara untuk Lumpur Lapindo

TEMPO.CO , Jakarta : Saat menghadiri Kader Bangsa Fellowship Program di Yogyakarta pada 14 Maret 2012, Aburizal Bakrie mengaku menghabiskan Rp 9 triliun untuk mengganti lahan warga Lapindo. Pihaknya menyatakan sudah menyelesaikan proses jual-beli lahan lebih dari 90 persen.

Sedangkan harga tanah di lokasi semburan yang ia beli tanah sudah 10-20 kali lipat nilai jual obyek pajak. “Harga NJOP-nya Rp 60.000, kami jual Rp 1,2 juta,” kata pengusaha kelompok Bakrie sekaligus Ketua Umum Partai Golkar itu.

Ical kembali menyebut semburan Lapindo sebagai fenomena alam yang tidak pernah berhenti selama 30 tahun. “Bisa dibayangkan, tragedi muncrat lumpur ke permukaan mungkin dalam 30 tahun tak akan terselesaikan,” kata Ical. “Sebenarnya berat karena setiap bulan kami harus mengeluarkan dana Rp 100 miliar.”

Tapi baru-baru ini muncul informasi pemerintah kembali menganggarkan dana Rp 1,3 triliun anggaran perubahan 2012 untuk masalah yang ditimbulkan akibat pengeboran perusahaan Lapindo Brantas itu. (Baca: Negara Tanggung Korban Lapindo Rp 7,2 Triliun)

Dana itu sudah masuk Pasal 18 Undang-Undang APBN-Perubahan 2012. Dana yang dibebankan kepada negara ini akan dipakai buat melunasi pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar peta area bencana. (Baca: Negara Menanggung Ganti Rugi Lapindo)

Padahal pemerintah bukan tahun ini saja menggelontorkan duit dari pajak-pajak rakyat untuk masalah lumpur di Porong, Sidoarjo. Sejak 2006 APBN sudah dialokasikan. Berikut ini uang yang dikeluarkan negara:

2006 : Rp 6,3 miliar
2007 : Rp 500 miliar (terealisasi Rp 114,18 miliar)
2008 : Rp 1,1 triliun (terealisasi Rp 513,1 miliar)

2009 : Rp 1,1 triliun
– Untuk penyelesaian tanah 3 desa Rp 227 miliar
– Untuk relokasi arteri raya Porong Rp 523 miliar
– Untuk pembangunan infrastruktur Rp 241 miliar
– Untuk bantuan sosial kemasyarakatan Rp 59 miliar.
* (terealisasi Rp 592,1 miliar)

2010 : Rp 1,216 trilun
– Bidang pembangunan infrastruktur Rp 421 miliar
– Bidang sosial Rp 208 miliar antara lain untuk
a. Penyuluhan Rp 297 juta
b. Jual-beli tanah Rp 101 miliar
c. Pelatihan teknis Rp 761 juta.
– Bidang Operasi Rp 89 miliar antara lain untuk
a. Pengalihan lumpur ke Kali Porong Rp 48 miliar
b. Pengadaan alat berat Rp 39 miliar.
– Bidang Sekretariat, antara lain untuk
a. Pembayaran gaji Rp 12 miliar
b. Operasional kantor Rp 3 miliar.
*(terealisasi Rp 636 miliar)

2011 : Rp 1,2 triliun
2012 : Rp 1,3 triliun

WANTO | EVAN | PDAT | DIOLAH TEMPO
Perusahaan pengembang properti grup Bakrie, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan proyek-proyek terbarunya guna memperkuat pendapatan perseroan di tahun ini.

Proyek tersebut, di antaranya The Wave Condo stage 1B dengan total 300 unit dan 4-star condotel dengan total 485 unit.

Menurut Corporate Secretary Bakrieland, Santoso Budi, selain itu, setelah berhasil merampungkan tiga menara Rusunami pada akhir 2011 lalu dengan total 1.327 unit, perseroan juga mencanangkan proyek pengembangan kawasan, Central Business District (CBD) Sentra Timur Superblock yang terdiri dari condotel, shopping center, dan commercial park.

“Sedangkan unit usaha landed residential melalui Bogor Nirwana Residence akan meluncurkan Grand Cluster The Fusion yang mempunyai luas 30 hektare dengan enam klaster di dalamnya,” ujarnya melalui keterangan pers kepada VIVAnews di Jakarta, Senin 2 April 2012.

Sementara itu, Santoso menambahkan, pembangunan kawasan Sentul Nirwana tahap satu seluas 600 hektare sudah dimulai dengan memasarkan tiga klaster perumahan dan tahap pertama area komersial.

“Mengulang sukses The Jungle Waterpark, Sentul Nirwana juga tengah membangun Jungleland, yaitu sebuah theme park seluas 40 hektare dan tahap pertama diperkirakan selesai di tahun ini,” ujarnya.

Pada akhir 2011, dia mengungkapkan, melalui unit usaha hotel & resort, Bakrieland juga meluncurkan produk properti terbarunya di kawasan Nirwana Bali Resort, Tabanan Bali yaitu Eaton Luxe Nirwana Bali dengan total 178 unit yang merupakan strata hotel berbintang lima.

“Proyek-proyek baru yang ditawarkan di 2012 ini akan semakin memperkuat pendapatan Bakrieland, terlebih produk yang ditawarkan terletak di daerah pertumbuhan yang sangat strategis,” tutur Santoso.

Pendapatan Melonjak 47,5%
Sementara itu, Bakrieland Development berhasil mencatat kenaikan pendapatan signifikan pada akhir 2011, yakni melonjak 47,5 persen menjadi Rp2.017,3 miliar dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar Rp1.367,6 miliar.

Hal ini mendukung tercapainya laba kotor sebesar Rp958,2 miliar di 2011, atau meningkat sebesar 43,2 persen dibandingkan laba kotor 2010 yang mencapai Rp669,3 miliar.

Namun demikian, adanya kenaikan beban usaha mengakibatkan laba operasi terkoreksi menjadi Rp232,9 miliar di 2011 dibandingkan Rp241,7 miliar di tahun sebelumnya.

http://bisnis.vivanews.com/news/read/301052-bakrieland-luncurkan-proyek-topang-pendapatan

Sumber : VIVANEWS.COM
Produksi Naik, Penjualan Energi Mega Melonjak
Membaiknya kinerja perusahaan tersebut didorong oleh kenaikan harga jual minyak dan gas.
Sabtu, 31 Maret 2012, 16:13 WIB
Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – PT Energi Mega Persada Tbk meraih penjualan Rp2 triliun selama 2011. Perseroan juga mencatatkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp894 miliar.

Penjualan bersih dan EBITDA perusahaan itu masing-masing naik sebesar 69 persen dan 140 persen pada 2011 dibanding tahun sebelumnya. Kinerja keuangan Energi Mega juga semakin membaik dengan dibukukannya laba bersih sebesar Rp68 miliar.

Membaiknya kinerja perusahaan tersebut didorong oleh kenaikan harga jual minyak dan gas, peningkatan rata-rata produksi harian, dan biaya produksi yang semakin efisien.

“Kami cukup puas dengan kinerja produksi dan keuangan selama 2011,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada, Imam Agustino, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Sabtu 31 Maret 2012.

Agustino menjelaskan, lapangan minyak Pagerungan Utara (blok Kangean PSC, Jawa Timur) dan lapangan gas kami di Bentu PSC (Riau, Sumatera) mendominasi peningkatan produksi perusahaan sebesar 27 persen selama 2011.

Selain itu, tren pergerakan harga minyak dunia dan harga jual gas perusahaan yang semakin meningkat juga berkontribusi positif terhadap kinerja keuangan Energi Mega. “Kami lebih memfokuskan pemboran sumur-sumur pengembangan dan work-over dalam meningkatkan produksi dengan biaya yang lebih efisien,” ujarnya.

Agustino berharap perusahaan dapat membukukan kenaikan produksi yang signifikan pada 2012 dari lapangan gas di Terang (Kangean PSC, Jawa Timur), lapangan gas di Seng dan Segat (Bentu PSC, Riau), blok minyak Tonga PSC (Sumatera Utara), dan blok minyak serta gas Offshore North West Java (ONWJ) PSC yang baru diakuisisi diakhir tahun lalu.

• VIVAnews

Newmont Dorong Laba BRMS Jadi Rp664,7 Miliar

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Jumat, 30 Maret 2012 | 17:13 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) mencatatkan laba bersih menjadi Rp664,70 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp826,02 miliar.

Demikian seperti dikutip dari siaran pers yang diterima INILAH.COM, Jumat (30/3/2012). Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp182,96 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp148,50 miliar.

Laba berasal dari kepemilikan saham di PT Newmont Nusa Tenggara sebesar Rp1 triliun pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp2,13 triliun. Tingkat selisih kurs mata uang dan bunga turun menjadi Rp390,33 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp1,08 triliun.

Perseroan mencatatkan kas sebesar Rp129,19 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp913,75 miliar. Pinjaman jangka panjang perseroan mencapai Rp2,54 triliun pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp2,18 triliun. Adapun debt to equity perseroan mencapai 0,2x pada 2011 dan net debt to equity sebesar 0,1x pada 2011 dari periode sama sebelumnya 0,06x.

Perusahaan asosisiasinya PT Newmont Nusa Tenggara mengalami penurunan produksi tembaga dan emas di atas 47%. Namun kinerja perseroan didukung dari harga jual tembaga dan emas oleh perusahaan meningkat masing-masing sebesar 3% dan 28%, sedangkan beban bunga menurun sebesar 64% dari tahun sebelumnya.

Direktur Utama PT Bumi Resources Mineral Tbk Ken Farrel menuturkan, penurunan produk PT Newmont Nusa Tenggara yang bersifat sementara ini telah diantisipasi sebelumnya yang dikarenakan oleh pengembangan fase 6 di tambang Batu Hijau yang sedang berjalan. “Setelah pengembangan fase 6 ini diselesaikan pada akhir tahun ini NNT diharapkan dapat meningkatkan produksi tembaga dan emasnya secara signifikan pada 2013,” tambah Ken.

Pihaknya mengharapkan dapat segera memulai produksi bijih besi dari konsesi perseroan di Mauritania pada semester pertama 2012. Adapun pemboran eksplorasi di konsesi tembaga dan emas yang dioperasikan oleh Gorontalo Minerals dan Citra Palu Minerals diharapkan akan selesai sebelum akhir tahun ini. [hid]

Ups! Bakrie Telecom Rugi Rp782,69 M di 2011

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Jumat, 30 Maret 2012 | 17:26 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatatkan rugi sebesar Rp782,69 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya untung Rp9,97 miliar.

Demikian seperti dikutip dari laporan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (30/3/2012). Pendapatan usaha perseroan juga mengalami penurunan menjadi Rp3,19 triliun pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp3,44 triliun.

Laba usaha perseroan turun menjadi Rp174 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp190,80 m iliar. Beban pajak perseroan meningkat menjadi Rp205,20 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp82,55 miliar.

Total aktiva perseroan turun menjadi Rp12,21 triliun pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp12,35 triliun. Kewajiban perseroan naik menjadi Rp7,84 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp7,15 miliar. Ekuitas perseroan turun menjadi Rp4,36 triliun pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp5,19 triliun.

Laba bersih per saham rugi 27,47 pada 2011 dari periode sama sebelumnya 0,35. Pada perdagangan saham Jumat (30/3/2012), saham BTEL naik 4,08% menjadi Rp255 per saham. [hid]

Bumi Minerals Raup Laba Rp664 Miliar
Pada 2011, harga jual tembaga dan emas meningkat masing-masing 3 persen dan 28 persen.
Jum’at, 30 Maret 2012, 16:30 WIB
Syahid Latif

VIVAnews – PT Bumi Resources Minerals Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp664 miliar dengan pendapatan Rp182 miliar selama 2011. Namun, perseroan mengalami penurunan produksi tembaga dan emas di atas 47 persen dari perusahaan asosiasinya, PT Newmont Nusa Tenggara.

“Secara keseluruhan, Bumi Resources Minerals mampu membukukan kinerja keuangan yang cukup baik pada 2011,” kata Direktur Utama Bumi Resources Minerals, Ken Farrell, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Jumat 30 Maret 2012.

Membaiknya kinerja perseroan, Farrell mengatakan, karena kenaikan harga jual komoditas tembaga dan emas, dan penurunan beban bunga perusahaan. Pada 2011, harga jual tembaga dan emas meningkat masing-masing sebesar 3 persen dan 28 persen. “Sedangkan beban bunga turun sebesar 64 persen dari tahun sebelumnya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, walaupun Newmont Nusa Tenggara mengalami penurunan produksi, kenaikan harga jual tembaga dan emas Bumi Resources Minerals, serta penurunan beban bunga mampu menjaga kinerja laba. “Kami juga telah berhasil melunasi sebagian pinjaman dalam 12 bulan terakhir,” ujarnya.

Rasio pinjaman bersih terhadap modal perseroan masih cukup baik di level 0,1 kali.

Menurut Farrell, penurunan produksi Newmont Nusa Tenggara yang bersifat sementara itu telah diantisipasi sebelumnya, karena ada pengembangan fase 6 di wilayah tambang Batu Hijau yang sedang berjalan. Setelah pengembangan fase 6 itu diselesaikan pada akhir tahun ini, Newmont Nusa Tenggara diharapkan dapat meningkatkan produksi tembaga dan emasnya secara signifikan pada 2013.

“Kami juga berharap dapat segera memulai produksi bijih besi dari konsesi di Mauritania pada semester pertama tahun ini,” ujarnya.

Adapun pemboran eksplorasi di konsesi tembaga dan emas yang dioperasikan oleh Gorontalo Minerals dan Citra Palu Minerals diharapkan selesai sebelum akhir tahun ini. (art)

• VIVAnews
REVIEW EMITEN: BTEL terancam default?

Oleh Bastanul Siregar

Kamis, 22 Maret 2012 | 07:10 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: Setelah PT Berlian Laju Tanker Tbk dan PT Davomas Abadi Tbk gagal melunasi utang obligasinya tepat sesuai tenggat, kini giliran PT Bakrie Telecom Tbk ‘masuk kotak’.

Lembaga pemeringkat S&P menyebut ada risiko dan ketidakpastian yang kritikal dalam upaya operator seluler berbasis CDMA itu dalam menggali dana senilai total US$120 juta.

Dana US$120 juta tersebut menurut rencana akan dipakai untuk membayar obligasi Rp650 miliar yang jatuh tempo September 2012, serta membiayai belanja modal tahun ini US$50-US$70 juta.

Manajemen BTEL mengupayakan penyediaan dana tersebut dari dua sumber, yakni US$70 juta dari non-preemptive rights, dan US$50 juta dari pinjaman bank.

Masalahnya, baik izin non-preemptive maupun negosiasi pinjaman masih belum clear. Apakah BTEL akan berhasil? Atau malah gagal? Berikut informasi emiten selengkapnya, Kamis 21 Maret 2012:

BTEL

Status rating CCC-nya turun jadi ‘creditwatch with developing implications’ (S&P)

LPKR

Laba bersih +37% ke Rp814,09 miliar, pendapatan +34% ke Rp4,19 triliun

DAVO

Rating turun dari Caa3 menjadi Ca (Moody’s)

LPCK

Laba bersih +295% ke Rp257,68 miliar, pendapatan +123% ke Rp902,46 miliar.

INTP

Penjualan 2011 naik 15,2% ke 16 juta ton semen

MPPA

Laba bersih ‘riil’ -60% ke Rp120,29 miliar, penjualan +4,3% ke Rp8,91 triliun

MYOH

Anak usaha, PT Sims Jaya Kaltim, raih US$3,5 juta dari Citibank, N.A. (Bsi)
Kekayaan Bos Alfamart Kalahkan Aburizal Bakrie
| Tri Wahono | Kamis, 24 November 2011 | 15:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Djoko Susanto, bos industri ritel PT Sumber Alfaria Trijaya atau yang dikenal dengan Alfamart, masuk dalam jajaran miliarder baru di Indonesia. Bos Alfamart ini, menurut majalah Forbes, Kamis (23/11/2011), memiliki harta kekayaan sebesar 1,040 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9,36 triliun.

Total kekayaan Djoko yang memulai bisnisnya dari satu kios kelontong berukuran 560 meter persegi bernama Sumber Bahagia (sumber kebahagiaan) di Pasar Arjuna, Jakarta, ini berhasil mengalahkan total kekayaan pengusaha ternama Aburizal Bakrie. Bos Alfamart ini berhasil menduduki posisi orang terkaya ke-25 atau lima peringkat di atas Aburizal Bakrie.

Berdasarkan data majalah Forbes, kekayaan Ical, demikian kandidat calon presiden 2014 ini disapa, sebesar 890 juta dollar AS atau Rp 8,01 triliun. Dengan jumlah kekayaan tersebut, Ical bertengger di posisi ke-30.

Peningkatan harta kekayaan Djoko ini luar biasa. Sebelumnya, pada pengumuman daftar orang terkaya di Indonesia 2010, namanya tidak masuk dalam daftar 40 orang terkaya.

Sementara itu, posisi teratas masih diduduki Hartono bersaudara.(Tribunnews.com/ Andri Malau)
Rabu, 14/03/2012 18:06 WIB
Bakrie Tawarkan Saham Operator Esia ke Sampoerna, Incar Rp 900 Miliar
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Grup Bakrie berniat menjual sebagian saham operator Esia, PT Bakrie Telecom Tbk, ke Grup Sampoerna. Dana yang bisa diraup dari penjualan saham ini senilai Rp 900 miliar.

Menurut salah satu eksekutif di Grup Sampoerna, tawaran itu masuk ke salah satu lini bisnis telekomunikasi Sampoerna, yaitu PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, yang selama ini dikenal dengan merek CDMA Ceria.

“Penawaran itu diberikan ke keluarga Sampoerna, untuk lini bisnis telekomunikasinya,” kata eksekutif yang tidak mau disebutkan namanya itu kepada detikFinance, Rabu (14/3/2012).

Ia menambahkan, saat ini penawaran tersebut sudah masuk dan pihak Sampoerna sedang melakukan pembahasan. Namun, kedua pihak belum sempat melakukan pertemuan terkait aksi korporasi tersebut.

Seperti diketahui, salah satu anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) itu sudah menjual sebagian sahamnya. Perseroan meraup dana Rp 1,46 triliun dari aksi korporasi tersebut.

Jumlah saham yang dilepas sebanyak 4,3 miliar lembar atau setara 15%. Sementara harga transaksi dipatok Rp 340 per saham.

Selain itu, Grup Bakrie juga sudah melepas sebagian sahamnya di PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Perseroan sudah meraup dana Rp 56,25 miliar.
(ang/dnl)
Investor Timur Tengah Bidik Saham ELTY?

Oleh:
Pasar Modal – Selasa, 6 Maret 2012 | 08:25 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Konsorsium fund manager asing disebut-sebut tengah memburu saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).

Hal ini seiring dengan rencana perseroan yang ingin membangun ruas tol baru. Selain itu, seorang pelaku pasar menyebutkan pengembang ternama asal Timur Tengah sedang mengincar saham ELTY, sehingga harganya diperkirakan akan menembus level Rp200 dalam waktu dekat.

Pada perdagangan kemarin saham ELTY ditutuop naik Rp1 (0,78%) ke level Rp129.

ELTY Siap Bayar Kupon Obligasi Rp8,9 Miliar

Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Sabtu, 3 Maret 2012 | 12:32 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakriland Development Tbk (ELTY) telah menyiapkan dana pembayaran kupon Obligasi I Bakrieland Development Tahun 2008 sebesar Rp8,9 miliar.

Demikian mengutip keterbukaan inforamsi yang diterbitkan BEI, kemarin. Pembayaran tersebut untuk kupon obligasi ke-16 dari Obligasi I Bakrieland Development Tahun 2008.

Pembayaran tersebut akan dilakukan ke agen pembayaran yaitu PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) paling lambat 9 Maret 2012.

Ingin Mendunia, Bakrie Sumatera Perkuat Riset
Tanpa pengembangan riset, RI akan tertinggal dalam 10 tahun sampai 15 tahun ke depan.
Jum’at, 2 Maret 2012, 10:54 WIB
Syahid Latif

VIVAnews – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk meneguhkan niat untuk menjadi perusahaan perkebunan terintegrasi yang tangguh. Salah satu upaya perusahaan adalah pengembangan teknologi baru yang akan menunjang proses produksi.

Untuk itu, Bakrie Sumatera melalui unit kerjanya Bakrie Agriculture Research Institute (BARI) menjalin kesepakatan kerja sama dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan Pusat Penelitian Karet Indonesia.

Kerja sama itu diharapkan dapat meningkatkan peran BARI sebagai unit kerja yang produktif melakukan kajian dan temuan paket teknologi baru yang aplikatif bagi proses produksi Bakrie Sumatera.

“Kami di Bakrie Sumatera memiliki cita-cita besar. Kami ingin menjadi global company yang kuat,” kata Howard J Sargeant, direktur Bakrie Sumatera dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Jumat 2 Maret 2012.

Sargeant menjelaskan, untuk merealisasikan cita-cita itu, salah satu syaratnya adalah dengan mengembangkan Research and Development atau Litbang. “Karena itu, kami ingin menjadikan BARI sebagai lembaga riset yang kuat dan tangguh,” ujarnya.

Penandatanganan kerja sama antara Bakrie Sumatera melalui BARI dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit serta Pusat Penelitian Karet Indonesia itu telah dilakukan, kemarin, 1 Maret 2012 di Medan.

BARI adalah unit kerja Bakrie Sumatera yang dibangun di daerah Kisaran, Sumatera Utara, dengan investasi sekitar Rp12,5 miliar. Lembaga tersebut, menurut Sargeant, dibangun dengan tugas dan fungsi riset yang komprehensif di bidang perkebunan agribisnis, khususnya perkebunan kelapa sawit dan karet.

Sementara itu, untuk menjadi perusahaan perkebunan yang besar dan mendunia, Bakrie Sumatera Plantations memang sudah selayaknya memiliki dan mengembangkan unit kerja riset. Untuk menjadi pemain besar di tingkat global, sebagai perusahaan global yang disegani dan dikagumi, Bakrie Sumatera harus memiliki dan mengembangkan riset yang kuat.

Presiden Direktur Bakrie Sumatera, Ambono Janurianto, menjelaskan, tantangan yang dihadapi oleh industri perkebunan kelapa sawit dan karet ke depan dipastikan akan semakin berat. Indonesia, menurut Ambono, harus harus lebih memprioritaskan riset yang kuat di bidang perkebunan untuk memenangi persaingan global.

“Tanpa pengembangan riset, Indonesia akan tertinggal dalam 10 tahun sampai 15 tahun mendatang,” ujarnya.

Pada 2010, Indonesia memiliki sekitar 8 juta hektare perkebunan kelapa sawit yang menghasilkan 22,7 juta ton minyak kelapa sawit mentah (CPO). Sementara itu, Malaysia menghasilkan 17,5 juta ton CPO dari lahan sedikitnya 5 juta hektare.

Namun, minimnya perhatian pemerintah terhadap penelitian dan pengembangan membuat produktivitas CPO Indonesia masih rendah. Menurut Ambono, pemerintah sebaiknya mengembalikan sebagian dana dari bea keluar CPO untuk mendukung riset, terutama bagi petani kelapa sawit. (art)
• VIVAnews

BTEL akan Terbitkan Saham Baru hingga 10%

Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Jumat, 2 Maret 2012 | 02:49 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) akan menerbitkan saham baru melalui non preemtive rights 10% senilai Rp900 miliar untuk menyelesaikan beban utang yang jatuh tempo tahun ini.

Perseroan akan mengumumkan rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau non-HMTED ini, pada pertengahan bulan Maret ini. Dalam aksi korporasi ini, salah satu perusahaan telekomunikasi nasional menjadi standby buyer.

“Kami tetap yakin industri ini adalah high growth industry. Oleh karena itu, BTEL perlu menyehatkan dan memperkuat struktur modal untuk melayani pelanggan yang lebih banyak,” kata Presdir BTEL, Anindya Novyan Bakrie, Kamis (1/3/2012) di Jakarta.

Selain untuk melunasi utang obligasi, dana hasil aksi tersebut juga akan digunakan untuk membayar utang yang belum jatuh tempo. Perseroan memiliki utang yang jatuh tempo sebesar Rp650 miliar pada 4 September tahun ini.
2011, Newmont Cuma Setor Royalti Rp168,4 Miliar
Gina Nur Maftuhah & Yuni Astutik – Okezone
Kamis, 23 Februari 2012 14:10 wib
JAKARTA – PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) hanya memberikan royalti sebesar Rp168,4 miliar pada 2011.

Untuk informasi, NNT hanya memberikan royalti sebesar satu persen kepada pemerintah. Pemerintah pun, dalam renegoisasi kontrak karya, akan meminta kenaikan royalti menjadi tiga persen.

“NNT telah menyetorkan Rp7,405 triliun terkait semua kewajiban keuangan kepada Pemerintah Republik Indonesia berupa pajak, non-pajak dan royalti sesuai dengan ketentuan Kontrak Karya,” jelas Presiden Direktur NNT Martiono Hadianto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (23/2/2012).

Dia mengatakan, pembayaran terbesar adalah pajak penghasilan badan sebesar Rp6,179 triliun, disusul pajak penghasilan lainnya sebesar Rp270,9 miliar, pajak atas dividen sebesar Rp217,5 miliar dan pajak penghasilan karyawan sebesar Rp224,2 miliar.

Menurut Martiono, nilai pembayaran pajak 2011 lebih besar dari 2010 dengan nilai sebesar Rp5,967 triliun. Peningkatan ini disebabkan adanya pembayaran PPh Badan tahun pajak 2010 yang dibayarkan di 2011 pada saat penyampaian SPT.

ejak 1999 hingga 2011, Newmont telah menyetor pajak, nonpajak royalti, pembelian barang dan jasa dari lokal maupun nasional, serta program pengembangan masyarakat sebesar Rp60,677 triliun kepada negara.

Selain memberikan manfaat keuangan langsung kepada pemerintah, keberadaan NNT juga memberikan manfaat ekonomi lainnya melalui pembayaran gaji kepada lebih dari 4.000 karyawan NNT dan 3.000 karyawan kontraktor, pembelian barang dan jasa dari lokal maupun nasional, serta program-program pengembangan masyarakat.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan, pemerintah akan segera membicarakan poin-poin renegosiasi kontrak karya, salah satunya adalah poin tentang royalti yang akan ditingkatkan. “Tentu jangan satu persen dong, masa cuma satu persen,” ungkapnya belum lama ini.

Sebagai gambaran, Direktur Utama PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Ken Farrell mengungkapkan hingga September 2011, setoran NNT kepada BRMS telah mencapai Rp921,06 miliar.

Setoran ini merupakan pembayaran dividen dari kepemilikan 24 persen saham divestasi NNT oleh anak usaha BRMS, PT Multi Daerah Bersaing (MDB). Menurutnya, setoran NNT ini turun dari tahun sebelumnya.

“Tahun lalu, setoran dividen NNT ke BRMS mencapai Rp1,722 triliun. Namun karena produksi emas dan tembaga Batu Hijau tahun ini turun 40 persen, maka BRMS hanya dapat jatah Rp921,06 miliar,” kata Ken Farrel, November lalu. (wdi)

Bakrie Power bangun PLTU di Kutai Timur
Oleh Petrus Dabu – Selasa, 14 Februari 2012 | 16:32 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bakrie Power akan menanam investasi US$ 340 juta untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Sangata, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Ali Herman, Direktur Utama Bakrie Power mengungkapkan, kapasitas produksi listrik pembangkit itu mencapai 2×100 megawatt (MW). “PLTU itu sudah direncanakan 2008, saat itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meminta pengembangan listrik di Kalimantan Timur,” ujar Ali Herman kepada KONTAN, Senin (13/2).

Bakrie Power, kata Ali, membutuhkan waktu 48 bulan untuk menyelesaikan proyek pembangkit tersebut. Minggu lalu, kata dia pihaknya sudah melakukan mempresentasi rencana proyek kepada pemerintah daerah provinsi Kalimantan Timur dan pemerintah daerah Kutai Timur.

Agar bisa beroperasi, PLTU akan membutuhkan 1 juta ton batubara per tahun. Sumber batubara itu akan dipasok dari PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Sementara, listrik dari PLTU tersebut akan dijual ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), untuk memperkuat pasokan listrik ke sistem kelistrikan di Kalimantan Timur.

Namun, saat ini kata Ali, Bakrie Power belum membicarakan perjanjian jual beli listrik dengan pihak PLN. “Harga listrik kami tentu harus bersaing,” harapnya.

Dalam catatan KONTAN, PT Bakrie Power kini memiliki tiga proyek listrik, pertama, PLTU Tanjung Jati A di Cirebon, berkapasitas 2×660 MW. Kedua, PLTP Telaga Ngebel, di Jawa Timur dengan kapasitas 3×65 MW, dan ketiga PLTP Sokaria di Ende-Flores dengan kapasitas 3×10 MW.

Perjanjian jual beli listrik ketiga proyek ini belum dilakukan. Saat ini proses negosiasi term-term dalam perjanjian jual beli listrik sedang dilakukan antara Bakrie Power dengan PLN.

JAKARTA–MICOM: Usai meraih izin penambangan di kawasan Tamagot, Afrika Selatan, perusahaan tambang PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) bakal meraup laba bersih sebelum perhitungan beban bunga, pajak depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp162 miliar atau US$18 juta.

“Total EBITDA di sana US$30 juta. Dengan kepemilikan kami sebesar 60%, maka porsi laba sebesar US$18 juta,” kata Wakil Presiden Direktur Bidang Investor Relation Herwin H Hidayat dalam media gathering akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, BRMS telah mendapatkan izin penambangan di di kawasan Tamagot pada Januari 2012. Eksploitasi di area tambang seluas 990 km2 bakal dimulai pada kisaran April -Mei atau kuartal pertama tahun ini.

“Kami optimistis dengan estimasi perolehan laba dari konsesi tambang bijih besi di Mauritania, Afrika Barat, tersebut,” tandasnya.

Pihaknya mengoperasikan tambang tersebut melalui anak usaha Tamagot Bumi SA. “Produksi awal bijih besi ditargetkan mencapai 600 ribu ton dan secara bertahap menjadi 1 juta ton pada 2014,” ujar Herwin.

Perseroan juga telah menetapkan harga jual bijih besi sebesar US$90-US$100 per metrik ton. Penjualan kotor diperkirakan sebesar US$60 juta atau mencapai Rp540 miliar. (WR/OL-5)

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/24/293471/21/2/Bumi-Resources-Harap-Laba-Tambang-Mauritania-Rp162-Miliar

Sumber : MEDIA INDONESIA
BNBR berniat melepas kepemilikan sahamnya di PT Bakrie Tosanjaya, PT Bakrie Pipe Industries (BPI) dan PT South East Asia Pipe Industries (SEAPI). Mekanisme penjualan saham ketiga perusahaan tersebut tidak sama. Bakrie Tosanjaya yang bergerak di bisnis pabrikasi besi cor, akan ditawarkan melalui initial public offering (IPO) yang rencananya digelar antara akhir tahun ini hingga awal tahun depan dengan target perolehan dana Rp 1 triliun. BNBR menargetkan nilai aset Bakrie Tosanjaya bisa mencapai Rp 2,5 triliun saat IPO, saat ini nilai asetnya masih berkisar Rp 457,43 miliar. BPI dan SEAPI akan ditawarkan BNBR ke sejumlah investor di Eropa, Amerika Latin dan Asia. Rencananya perseroan akan melepas sekitar 40% dari total kepemilikan.

Sumber : IPS RESEARCH
ENRG berniat melakukan refinancing utang US$ 200 juta tahun ini. Perseroan tercatat memiliki utang ke Credit Suisse sebesar US$ 200 juta, yang jatuh tempo pada Oktober 2013 yang dikenakan bunga 12%.

Sumber : IPS RESEARCH
BNBR mencatatkan penurunan posisi utang menjadi Rp 5,5 triliun setelah menyelesaikan transaksi penjualan saham Bumi Plc. BORN telah resmi mengempit 23,8% saham milik Bumi Plc dan sebagai gantinya, BORN memberikan dana segar mencapai US$ 1 miliar kepada Grup Bakrie yaitu BNBR dan Long Houl. BNBR memiliki jatah pembayaran ke Credit Suisse sebesar US$ 445 juta.

Sumber : IPS RESEARCH
Harga Saham BUMI Terpicu IHSG & Rothschild

Oleh: Agustina Melanie
Pasar Modal – Minggu, 22 Januari 2012 | 11:01 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ditutup di level Rp2.525 pada perdagangan saham Jumat (20/1). Harga saham BUMI sepekan dinilai dipengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Pergerakan saham BUMI sejalan dengan penguatan indeks saham sehingga menguat selama sepekan ini,” ujar Analis PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada saat dihubungi INILAH.COM, Jumat (20/1).

Lebih lanjut ia menuturkan, kenaikan harga kontrak batu bara juga turut memberikan sentimen positif terhadap perkembangan harga saham BUMI. Harga kontrak baru bara menembus level US$116. Selain itu, sentimen positif yang mempengaruhi saham BUMI yaitu ada titik temu antara manajemen Bakrie dan Rothschild.

“Ada kesepakatan damai antara Bakrie dan Rothschild turut memberi sentimen positif terhadap harga saham BUMI. Dengan kesepakatan itu ada upaya bersama untuk melanjutkan usaha,” ujar Reza.

Hal senada dikatakan Kepala Riset PT Universal Broker Satrio Utomo. Menurutnya, ada kesepakatan damai antara Bakrie dan Rothschild yang turut memberi sentimen positif terhadap harga saham BUMI.

Penurunan harga saham BUMI ke level Rp2.525 pada perdagangan saham Jumat dari sehari sebelumnya terdorong aksi profit taking oleh investor. “Pelemahan harga saham BUMI pada akhir pekan ini karena ada aksi profit takinhg. Saya masih rekomendasikan buy on weakness untuk saham BUMI,” tutur Satrio.

Seperti diketahui, harga saham BUMI ditutup ke level Rp2.475 pada perdagangan saham Senin (16/1), lalu terus menguat ke level Rp2.500 pada perdagangan saham Selasa (17/1). dan kembali menguat ke level Rp2.525 pada perdagangan saham Rabu (18/1). Saham BUMI terus melanjutkan penguatan ke level Rp2.575 pada Kamis (19/1). [mdr]

Jumat, 20/01/2012 17:04 WIB
Perusahaan Migas Grup Bakrie Bidik Omzet Rp 4 Triliun.
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) optimis akan kinerjanya tahun 2012, setelah mengakuisisi blok Offshore North West Java (ONWJ) dan beroperasinya blok Kangean. Pendapatan perseroan bakal tembus angka Rp 4 triliun.

“Revenue tahun bisa bisa Rp 4 triliun lebih,” kata Direktur Keuangan ENRG, Didit Ratam di Bakrie Tower, Jakarta, Jumat (20/1/2012).

Perseroan baru saja mengakuisisi 36,7% kepemilìkan CNOOC ONWJ Ltd. di blok ONWJ. Aset ini langsung mengkontribusi produksi 23 ribu barel ekuivalen per hari (boe), dari total rata-rata volume 62 ribu boe di blok tersebut.

Sementara blok Kangean ini memproduksi gas sebesar 25.000 mmcfd. Kontribusi di kedua blok ini langsung mengangkat kinerja perseroan di 2012.

Direktur Utama ENRG, Imam P Agustino, menambahkan, hingga akhir 2011 pendapatan perseroan akan naik menjadi Rp 1,8 triliun, dari periode September 2011 Rp 1,25 triliun (ekuivalen US$ 151 juta).

“Tahun ini bisa melonjak. Lebih dari double. Karena Kangean yang sudah produksi,” tegasnya. EBITDA juga ditargetkan naik menjadi US$ 80 juta.

Total produksi perseroan tahun ini juga diprediksi mencapai 40 ribu barrel oil equivalent per day, meski peak daily production ENRG dapat menyebtuh angka 60,8 ribu boe per day.

Selain Kangean dan ONWJ, kontribusi produksi perseroan di dapat dari blok Bentu sekitar 5 ribu mmcfd.

(wep/ang)

Older Posts »

The Shocking Blue Green Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 59 pengikut lainnya.