Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Desember 11, 2012

bakrie’s GAME (6) … 111212 (Formula AUTO REJECTION)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP, Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 1:30 am

Bakrie & Brother Investasi 175 Juta Dollar AS Bangun Pipa Gas KALIJA
Tribunnews.com – Senin, 10 Desember 2012 15:10 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Bakrie & Brother mengeluarkan investasi 175 juta dollar AS untuk membangun pipa gas transmisi KALIJA yang menghubungkan dari Kepodang menuju Tambak Lorok.

“Investasi bervariasi. Hitungan terakhir kami yang kami invest 175 juta dollar AS,” ujar Direktur Utama PT Bakrie & Brother Gafur Sulistyo Umar di kantor BPH Migas, Senin (10/12/2012).

Proyek pipa gas yang dikelola PT Bakrie & Brother merupakan pelaksanaan kinerja tahap awal dalam mengalokasikan gas dari Kalimantan Timur menuju pulau Jawa. Rencananya panjang dari pipa gas KALIJA sebesar 210 kilometer dari total 1200 kilometer yang akan dialokasikan dari Kalimantan Timur.

“Kita buat pipanya dulu nanti di layout, panjangnya 210 kilometer, bagian dari kalimantan menuju pulau Jawa totalnya 1200 kilometer,”jelas Gafur.

Menurut dia, pembangunan pipa gas ini akan mengurangi beban subsidi listrik yang harus ditanggung pemerintah akibat mahalnya bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit listrik, terutama di pulau Jawa yang 70 persen membutuhkan energi gas untuk pembangkit listrik.

“Nantinya mengalir akhir 2014, maka akan mengurangi beban subsidi pemerintah dan memperkuat infrastruktur jaringan gas,” jelas Gaffur. (*)
JALAN TOL: MNC kuasai Saham Bakrie Toll Road

Dewi Andriani & Ringkang Gumiwang

Selasa, 11 Desember 2012 | 19:59 WIB

bisnis indonesia
JAKARTA—PT Bakrieland Development Tbk sepakat untuk menjual 100% kepemilikan saham anak usahanya yang bergerak di bidang jalan tol, PT Bakrie Toll Road kepada Grup MNC dengan nilai transkasi sekitar Rp2,1 triliun.

Dengan demikian, MNC Grup melalui anak usahanya PT MNC Infrastruktur Utama tidak hanya mengakuisisi konsesi 5 ruas jalan tol yang dimiliki Bakrie Toll Road, tetapi juga termasuk seluruh aset, utang, dan karyawan kecuali dua direksi yang masih dipertahankan di Bakrieland.

Kelima ruas jalan tol tersebut ialah Kanci-Pejagan, ruas Pejagan-Pemalang, ruas Pasuruan-Probolinggo, ruas Cimanggis-Cibitung dan ruas Ciawi-Sukabumi,

Presiden Direktur Bakrieland Development Ambono Janurianto mengatakan pihaknya berharap kesepakatan final bisa terealisasi pada bulan ini, sehingga pembukuan dari penjualan tersebut bisa tercatat pada tahun ini.

“Kami harap bisa tahun ini, sehingga episode terkait jalan tol tidak ada lagi pada tahun depan,” katanya saat paparan publik, Selasa (11/12/2012).

Dari penjualan anak usaha tersebut, lanjutnya, akan digunakan untuk membayar utang perseroan dan sisanya untuk pengembangan industri properti pada tahun mendatang. Adapun nilai utang yang jatuh tempo pada Desember ini sebesar Rp60 miliar.

“Untuk tahun depan yakni Maret 2013, kami juga ada utang jatuh tempo untuk bond sebesar Rp260 miliar dan pada 2015 ada utang sebesar Rp1,5 triliun,” tuturnya.

Ambono mengatakan pertimbangan perseroan melepas kepemilikan anak usaha dengan nilai Rp2,1 triliun merupakan strategi perseroan untuk mendivestasi usaha non properti, sehingga tidak perlu ada recurring lost yang harus ditanggung perseroan setiap tahunnya.

Pasalnya, proyek jalan tol tersebut telah banyak mempengaruhi anggaran perseroan. Dia menambahkan proyek jalan tol tersebut menyumbang sekitar 40% terhadap debt equity ratio (DER) perseroan saat ini sebesar 60%.

“Dari beban bunga yang saja harus dibayar mencapai Rp158 miliar per tahun, padahal pendapatan dari jalan tol tersebut hanya 5% dari Rp2 trilun atau sekitar Rp100 miliar, sehingga kami harus menanggung beban Rp58 miliar,” tuturnya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap DER perseroan setidaknya menjadi 40% usai divestasi tersebut, dan neraca keuangan pada tahun mendatang bisa lebih baik.

Selain jalan tol, MNC Group pun mencaplok 50% kepemilikan saham Bakrieland terhadap Lido Resort dengan nilai kisaran Rp900 miliar-Rp1 triliun.

Resort yang memiliki lahan seluas 1.037 hektare tersebut, katanya, sedang dalam tahap finalisasi, dan diperkirakan akan selesai pada tahun ini.

Dia menjelaskan pihaknya akan fokus pada pengembangan proyek kawasan hunian pada masa mendatang, yang terbukti memiliki pasar dan margin yang signifikan.

Oleh karena itu, perseroan menyiapkan rencana strategis pada masa mendatang a.l pertama, perseroan akan fokus kembali terhadap core bisnisnya industri properti. Salah satu langkah tersebut yakni mendivestasikan aset-aset non properti. (bakrieland.com) (msb)

Tahun Ini, Bakrieland Sudah Siap Rugi

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Selasa, 11 Desember 2012 | 17:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) memperkirakan tahun ini akan mengalami kerugian dari tahun 2011 yang masih untung Rp74,74 miliar.

“Kerugian kemungkinan akan lebih besar pada 2012 dari tahun sebelumnya. Hingga kuartal ketiga 2012 saja, sudah rugi Rp133 miliar. Meski begitu, pendapatan diharapkan sama seperti tahun lalu,” ujar Direktur Utama PT Bakrieland Development Tbk, Ambono Janurianto saat paparan publik perseroan, Selasa (11/12/2012).

Lebih lanjut ia menuturkan, kinerja perseroan tergantung dari penjualan PT Bakrie Toll Road. Bila penjualan Bakrie Toll Road tidak terjadi pada 2012, Ambono menambahkan, kerugian akan lebih sedikit namun ada beban yang akan dibawa pada 2013.

Oleh karena itu manajemen perseroan mengharapkan penjualan Bakrie Toll Road dapat selesai pada 2012. “Kami mengusahakan beban tidak terbawa pada 2013. Penjualan Bakrie Toll Road ini bukan recurring loss tetapi one time loss,” kata Ambono.

Hingga September 2012, perseroan membukukan kerugian Rp133 miliar dari periode sama sebelumnya untung Rp129,2 miliar. Pendapatan perseroan turun menjadi Rp1,31 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp1,44 triliun. [hid]

Energi Mega Terbitkan Obligasi Global Rp 5,7 Triliun
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Selasa, 04/12/2012 16:31 WIB
Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), perusahaan energi kelompok usaha Bakrie, berencana menerbitkan surat utang (obligasi) berdenominasi dolar AS sekitar US$ 600. Perseroan menargetkan obligasi ini meluncur di 2013.

“Global bonds masih, mudah-mudahan (tahun 2013) bisa,” ucap Investor Relation ENRG, Herwin Hidayat di Jakarta, Selasa (4/12/2012).

Ia menjelaskan, penerbitan surat utang dalam dolar AS adalah upaya perseroan menekan biaya bunga dari utang sebelumnya. Refinancing akan dilakukan untuk menutup dua pinjaman dari perbankan, yaitu US$ 222 juta atau setara Rp 2,01 triliun dari ND Owen Holdings Limited, dan US$ 200 juta (Rp 1,813 triliun) dari Credit Suisse Singapura.

Bunga pinjaman kedua bank ini tergolong tinggi. Hingga dengan penerbitan global bonds diharapkan beban perusahaan sedikit berkurang, dan pada akhirnya menguntungkan bagi pemegang saham.

“Bunga bank sekitar 13% dan 18%. Kalau ini diterbitkan refinancing menjadi lebih baik,” tambahnya.

Sebagai catatan, Credit Suisse dan Owen menjadi dua bank yang mengutangi ENRG paling besar. Lebih dari 50% utang jangka panjang perseroan berasal dari mereka, dari total sekitar Rp 5,034 triliun.

Selain itu, perseroan tercatat memiliki pinjaman dari tiga pihak diantaranya Japan Petroleum Exploration Co., Ltd. Rp 1,51 triliun, Kangean Finance Company, Jepang Rp 1,39 triliun dan Mitsubishi Corporation Rp 118,44 miliar.

Menurut Herwin, rencana perseroan untuk menambah modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement belum terlaksana, karena penyelenggaraan RUPS hari ini, tidak tercapai kuorum. Padahal salah satu agenda rapat adalah persetujuan non-HMETD.

Sebelumnya manajemen berencana menerbitkan saham baru sekitar 4,058 miliar lembar, dengan target harga Rp 186 per lembar. Dana hasil penerbitan saham baru ini akan dipakai untuk memperbaiki posisi keuangan perusahaan.

Namun dalam beberapa bulan terakhir saham ENRG terus merosot dan kini terkapar pada level Rp 73 turun 1,35% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Jika aksi ini berjalan lancar maka pemegang saham publik terdilusi 9,09% dari sebelumnya 67,64% menjadi 61,49%.

Herwin juga tak lupa menyampaikan, paska akusisi CNOOC ONWJ Ltd. yang menguasai 36,7% kepemilìkan di blok Offshore Northwest Java PSC (ONWJ), kinerja perseroan terus melaju. Perseroan bahkan percaya diri total pendapatan di 2012 bisa melebihi US$ 350 juta, atau naik dari pencapaian tahun sebelumnya US$ 245 juta.

Pendapatan ENRG juga tahun depan tumbuh menjadi US$ 600 juta. Kenapa bisa demikian? Tidak lain karena peningkatan produksi pada ONWJ.

Di saat perseroan mengakuisisi kepemilikan blok dari CNOOC jatah produksi yang menjadi haknya 23.000 barel ekuivalen per hari (berdasarkan 36,72% kepemilikan). Sedangkan tahun depan, seiring produksi yang meningkat, hak ENRG juga berlipat.

Total jatah yang menjadi hak anak usaha grup Bakrie ini mencapai 55.000 barel ekuivalen per hari.

(wep/ang)
Siarkan Piala Dunia 2014, TV Bakrie Dapat Garansi Bank Rp 102,6 Miliar
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Minggu, 02/12/2012 14:31 WIB

Jakarta – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), perusahaan media holding yang membawahi stasiun televisi ANTV, TV One dan portal Viva telah menandatangani facility agreement pada 23 November 2012, dan diubah berdasarkan amandment pada 27 November 2012 senilai US$ 10,8 juta atau setara Rp 102,6 miliar.

Fasilitas ini merupakan kesepakatan antara perseroan dengan Deutsche Bank AG, Frankfurt a.M., Zweigniederlassung Zurich, Switzerland (DB ZH), yang bertindak sebagai issuing bank (facility agreement). Atas dasar kesepakatan ini VIVA memperoleh fasiltas garansi bank dengan total US$ 10,8 juta.

Chief Counsel & Corporate Secretary VIA, Neil R. Tobing dalam keterangan tertulisnya, seperti dikutip Minggu (2/12/2012) menjelaskan, bank guarantee ini merupakan syarat yang harus penuhi perseroan dalam kapasitasnya sebagai sub-licensee dan atau official broadcasters dari media rights atas XXth Edition of the FIFA World Cup Football Tournament and Certain other FIFA Event.

Ini juga didasarkan atas licence agreement yang disepakati oleh dan antara FIFA dengan PT Inter Sports Marketing (ISM) di 23 Maret 2012 dan sub-license agreement yang ditandatangani ISM dengan ANTY melalui PT Carkrawala Andalas Televisi, dan TV One melalui PT Lativi Mediakarya.

“Transaksi tersebut merupakan kegiatan usaha perseroan dan entitas anak usaha, selaku perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa konten dalam berbagai paltform, termasuk penyiaran televisi swasta,” jelas Neil.

Perusahaan media grup Bakrie ini memang telah membeli hak siar ekslusif siaran Piala Dunia (World Cup) 2014 senilai US$ 61,54 juta atau setara Rp 553,86 miliar.
Atas hak yang diterima tersebut, tiga anak usaha VIVA tersebut harus membayar biaya hak siar US$ 54,1 juta kepada FIFA (Federation Internationale de Football Association), lalu mengganti biaya-biaya yang dikeluarkan oleh ISM sehubungan dengan proses persiapan, negoisasi dan eksekusi licence agreement sebesar US$ 4,44 juta dan membayar biaya konsultasi sebesar US$ 3 juta.

(wep/hen)
Selasa, 20 November 2012 | 05:56 WIB
Bakrie Segera Lepas Proyek Tol

TEMPO.CO , Jakarta:PT Bakrieland Development Tbk menegaskan rencananya untuk melepas saham di beberapa perusahaan mereka. Aset yang akan dilepas adalah antara lain adalah proyek di bidang jalan tol, yang bukan merupakan bisnis utama Bakrieland. Bisnis utama Bakrieland adalahreal estate dan apartemen.

“Kami berencana dan berharap seluruh proses divestasi bisa selesai akhir tahun ini. Kami sih berharap seluruh proyek jalan tol yang kami miliki dapat diivestasi,” kata Head of Investor Relations Bakrieland Nuzirman Nurdin saat dihubungi kemarin.

Menurut Nuzirman, divestasi proyek tol itu dilakukan karena para pemegang saham mayoritas Bakrieland ingin mengembalikan jalur bisnis mereka ke bidang properti seperti real estate, apartemen, hotel, dan perkantoran. “Dari semula fitrah kami adalah bisnis properti real estate. Pemegang saham sebagai pemilik modal kami, ingin agar perusahaan konsentrasi ke unit usaha itu saja,” katanya.

Namun, Nuzirman menambahkan, jika penawaran harga dari perusahaan pembeli dinilai tidak cukup menguntungkan Bakrieland, maka tidak semua proyek tol akan dilepas. “Nilai saham yang akan didivestasi sangat tergantung pada penawaran dari pihak yang berminat. Belum tentu juga 100 persen saham di proyek tol akan dilepas,” katanya.

Hal ini berbeda dengan kabar diterima Direktur Utama PT Jasa Marga Adityawarman yang mendapat informasi dari Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum bahwa Bakrieland Development masih ingin melanjutkan pembangunan tol sendiri.

Saat ini Bakrieland melalui anak usahanya PT Bakrie Toll Road telah mengoperasikan satu ruas jalan tol, yakni Kanci-Pejagan. Selain itu, PT Bakrie Toll Road juga telah tercatat sebagai konsorsium pembangunan enam ruas jalan tol yaitu, Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang (Jawa Tengah), Pasuruan-Probolinggo (Jawa Timur), Batang-Semarang (Jawa Tengah), Cimanggis-Cibitung (Jawa Barat), dan Ciawi-Sukabumi (Jawa Barat). Lima ruas yang disebut terakhir mangkrak.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto berharap, pembangunan lima ruas jalan tol milik Grup Bakrie yang sempat mangkrak kembali diteruskan. Sebab, lima ruas tol itu penting untuk menghubungkan ruas tol lain di Pulau Jawa. “Harus segera ada investor yang melanjutkan pembangunan ini agar penyelesaiannya tidak berlarut-larut,” katanya saat dihubungi.

Catatan Kementerian Pekerjaan Umum, pada September 2012 tol, ruas tol Pejagan-Pemalang baru membebaskan 29 persen lahan. Sedangkan tol Batang-Semarang baru berhasil membebaskan 3,34 persen lahan yang diperlukan untuk konstruksi jalan tol. Ruas tol sepanjang 75 kilometer itu berhenti pengerjaannya sejak Juni 2011 karena ketiadaan dana.

Bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo pekan lalu telah menyatakan siap mengambil alih ruas tol milik Grup Bakrie. Grup MNC siap mengambil alih kepemilikan ruas tol, baik yang sudah maupun belum beroperasi.

RAFIKA AULIA | RAHMA TW
Deal, Hary Tanoe Telah Caplok Tol Milik Bakrie
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Selasa, 13/11/2012 10:32 WIB
Jakarta – Aksi Bos MNC Grup Hary Tanoesoedibjo mengambilalih kepemilikan atas ruas tol milik grup Bakrie, melalui anak usahanya PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sudah mencapai kata sepakat.

Salah seorang sumber yang mengetahui transaksi ini memastikan Hary melalui grup MNC telah menjadi pemilik baru ruas tol Kanci-Pejagan (telah beroperasi), ataupun Pejagan-Pemalang, Pasuruan-Probolinggo, Batang-Semarang, Cimanggis-Cibitung, serta Ciawi-Sukabumi.

“Sudah deal. Transaksinya sudah disepakati. Nggak mungkin Hary Tanoe ngomong, kalau belum deal,” kata sumber yang mengetahui transaksi tersebut kepada detikFinance, Selasa (13/11/2012).

Ia menerangkan, nilai kesepakatan pengalihan aset tol dari Grup Bakrie ke grup MNC akan diumumkan secara resmi dalam waktu dekat.

Sebelumnya Hary Tanoe mengakui berminat mengambilalih seluruh tol milik Bakrie. “Iya (mengambilalih tol milik Bakrie). Seluruhnya. Tapi dananya belumlah,” katanya kemarin.

Manajemen ELTY, melalui Direktur Utama Ambono Janurianto hingga saat ini belum bisa dikonfirmasi terkait telah dilepasnya seluruh aset tol Bakrie. Namun beberapa waktu lalu Ambono Janurianto menegaskan akan menjual anak usaha PT Bakrie Toll Road (BTR) yang bertujuan untuk mengurangi utang yang menumpuk.

“Transaksi ini membuat Bakrie senang, karena Grup MNC merespons dengan cepat. Tentu ini menutup utang Bakrie yang mencapai US$ 1,2 miliar,” imbuh sumber tersebut.

(wep/hen)
Bakrie Life Jadi “PR” Berat Bapepam-LK
Penulis : Didik Purwanto | Kamis, 8 November 2012 | 12:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memiliki sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang cukup berat, yakni menangani lembaga keuangan nonbank yang bermasalah. Targetnya, PR tersebut harus bisa kelar sebelum Bapepam-LK resmi bergabung dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun depan.

“Saat ini, kami sedang menyelesaikan kasus-kasus tersebut, khususnya di Komite Pengenaan Sanksi,” kata Ketua Bapepam-LK Ngalim Sawega di Jakarta, Rabu (7/11/2012).

Menurut Ngalim, saat ini pihaknya tengah menangani sekitar 15 kasus di lembaga yang dibawahkannya. Salah satu yang paling besar adalah kasus penyelesaian gagal bayar di perusahaan asuransi PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life). Hingga saat ini, sekitar 250 nasabah yang menanamkan dana investasi di produk Diamond Investa belum sepenuhnya kembali. Pihak nasabah terus menuntut skema pengembalian dana nasabah secepatnya.

“Untuk masalah ini, kami belum bisa memastikan apakah kasus Bakrie Life ini akan selesai akhir tahun ini,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Bakrie Life belum mengembalikan dana investasi nasabah sebesar Rp 360 miliar pada 2008. Hingga saat ini, Bakrie Life baru melunasi sekitar Rp 90 miliar. Kabar terakhir, Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata menjelaskan, hingga saat ini Bakrie Life dan perwakilan nasabah terus berdiskusi terkait penyelesaian masalah pengembalian dana nasabah.

“Namun, Bakrie Life sempat bilang ada aset yang sudah disediakannya untuk memenuhi kewajiban kepada nasabahnya,” kata Isa di Jakarta, Rabu (17/10/2012).

Menurut Isa, konflik penyelesaian pembayaran dana nasabah ini hingga saat ini belum tuntas. Setiap dua minggu sekali, kedua pihak ini selalu melakukan rapat. Kebetulan Bapepam-LK memfasilitasi tempat rapat di antara kedua pihak tersebut, baik dari Bakrie Life maupun perwakilan nasabah. Namun, belum ada keputusan sepihak dari Bapepam-LK terkait penyelesaian dana nasabah yang belum kunjung usai tersebut.

“Kita tidak pernah bilang akan memutus (Bakrie Life). Mereka masih berdiskusi dan negosiasi,” ujarnya.

Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto menjelaskan, hingga saat ini skema untuk pengembalian dana nasabah belum tuntas. Namun, dia berjanji mengembalikan dana nasabah secepatnya. Dalam pertemuan akhir September lalu, pihak Bakrie Life berjanji memberikan jaminan berupa aset tanah sebesar 77,4 hektar di Makassar untuk membayar kerugian dana nasabah.

Salah satu perwakilan nasabah, Freddy, mengaku hingga saat ini belum mendapat ganti rugi atas dananya yang ditaruh di produk Diamond Investa tersebut. “Jika masalahnya terus berlarut-larut, kami akan mengajukannya ke Pengadilan Niaga,” kata Freddy.

Bakrie Life mengalami gagal bayar dana nasabah senilai Rp 360 miliar pada 2008 dan itu merupakan premi sekaligus investasi yang dihimpun dari ratusan nasabah pembeli produk Diamond Investa. Dari jumlah itu, Bakrie Life sudah mengembalikan dana nasabah sebesar Rp 90 miliar. Bakrie Life masih ada kewajiban pengembalian dana sisa sebesar Rp 270 miliar yang wajib dibayarkan secara dicicil dalam tiga tahun berturut-turut.
Editor :
A. Wisnubrata

Kamis, 01 November 2012 | 16:39 WIB
Tiga Perusahaan Bakrie Merugi di Kuartal III 2012

TEMPO.CO, Jakarta – Tiga perusahaan milik Grup Bakrie mencatatkan kerugian di kuartal III tahun ini. Perusahaan tersebut adalah PT Berau Coal Energy Tbk, PT Bakrieland Development Tbk, dan PT Bakrie Telecom, dengan total kerugian netto yang dapat diatribusikan pada pemilik entitas induk mencapai hingga Rp 1,4 triliun.

Kerugian pertama dialami oleh PT Berau Coal Energy dengan total keugian sebesar US$ 32,65 juta atau setara dengan Rp 300,3 miliar. Ini sangat anjlok jika dibandingkan dengan periode serupa pada tahun lalu yang bahkan bisa mencetak laba hingga US$ 111,51 juta.

Direktur Utama PT Berau Coal Energy, Roslan Perkasa Roeslani, dalam keterangan tertulisnya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, menyatakan laporan keuangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. “Semua informasi dalam laporan keuangan telah dimuat secara lengkap dan benar,” kata dia, Kamis , 1 November 2012.

Dalam laporan, perusahaan merugi karena turunnya penjualan, naiknya beban perseroan, rugi selisih kurs, serta turunnya nilai aset perseroan pada periode tersebut. Belum lagi akibat dari turunnya penjualan selama sembilan bulan berjalan sebanyak 7,13 persen dibandingkan dengan angka penjualan di periode serupa tahun lalu, dari US$ 1,207 miliar menjadi US$ 1,121 miliar.

Kerugian juga tercatat dalam laporan keuangan PT Bakrieland Development (ELTY). ELTY tercatat membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 133,01 miliar hingga kuartal III tahun ini. Merosot jauh ketimbang periode serupa tahun lalu yang sempat mencetak laba hingga sebanyak Rp 129,23 miliar.

Meruginya usaha properti Bakrie tersebut tak lepas dari turunnya pendapatan usaha dari yang semula bisa mencapai hingga Rp 1,4 triliun pada periode serupa di tahun lalu. Tahun ini ELTY hanya bisa membukukan pendapatan sebesar Rp 1,31 triliun. Belum lagi beban pajak perusahaan yang pada tahun ini membubung tinggi dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu, dari Rp 2,8 miliar menjadi Rp 50,24 miliar pada saat ini.

Terakhir, kerugian tercatat pada usaha telekomunikasi PT Bakrie Telecom dengan total mencapai Rp 988,24 miliar. Kerugian ini melonjak 53 persen ketimbang kerugian pada periode serupa tahun lalu yang sebanyak Rp 524,96 miliar.

Ruginya usaha Grup Bakrie di bidang telekomunikasi tersebut tak lepas dari unsur turunnya pendapatan perusahaan dari Rp 1,97 triliun pada periode serupa tahun lalu menjadi hanya Rp 1,77 triliun pada periode kali ini. Sementara itu, beban usahanya melonjak menjadi Rp 2,1 triliun dari sebelumnya hanya sebanyak Rp 2,09 triliun.

GUSTIDHA BUDIARTIE
Rugi Rp 133 M, ELTY anjlok 9% hari ini
Oleh Rika Theo – Kamis, 01 November 2012 | 16:57 WIB | Sumber Reuters

kontan
JAKARTA. Saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sempat anjlok 9,2% hari Kamis (1/11). Perusahaan properti itu melaporkan rugi selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Rugi bersih ELTY mencapai Rp 133,01 miliar sepanjang Januari 2012-September 2012. Padahal di periode yang sama setahun lalu, ELTY masih bisa untung Rp 129,23 miliar.

Kerugian ELTY itu akibat rugi valas yang melonjak, beban bunga, dan beban finansial.

Di akhir perdagangan hari ini, ELTY ditutup terpapas 6,15% ke Rp 61. Namun, ELTY mencatatkan volume transaksi tertinggi yang berjumlah 645,75 juta saham yang berpindah tangan.

Catatan saja, pekan lalu, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengatakan siap untuk mengakuisisi 60% saham PT Bakrie Toll Road, abak usaha Bakrieland.

Tak Lagi Merugi, Bakrie & Brothers Catat Laba Bersih Rp 252 Miliar
Herdaru Purnomo – detikfinance
Rabu, 31/10/2012 17:15 WIB

Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berhasil mencatatkan keuntungan di triwulan III-2012 setelah pada periode yang sama tahun 2011 mengalami kerugian. BNBR mencatat laba bersih Rp 252,7 miliar pada periode triwulan III-2012, sedangkan pada triwulan III-2011 BNBR mencatat kerugian Rp 650 miliar.

Sementara laba bersih per saham juga tercatat positif Rp 0,39. Per triwulan III-2011 perseroan mencatat rugi bersih per saham BNBR Rp 4,95.

Dikutip detikFinance, Rabu (31/10/2012) dari laporan keuangan triwulan III-2012 BNBR, laba bersih perseroan ditopang dari pendapatan bersih yang tumbuh menjadi Rp 13,84 triliun. Sedangkan Laba usaha tercatat Rp 1,6 triliun.

Total aset BNBR pada triwulan III-2012 tercatat Rp 16,96 triliun atau lebih rendah dari triwulan III-2011 yang sebesar Rp 25,21 triliun.

Sampai dengan triwulan III-2012 ini perseroan telah mengalami rugi kurs hingga Rp 151 miliar. Hal ini mengakibatkan membengkaknya beban perseroan yang tercatat Rp 1,2 triliun pada triwulan III-2012.

Bagian usaha dari Grup Bakrie ini belakangan ramai diberitakan. Grup Bakrie menyatakan melalui BNBR siap melepas kepemilikan sahamnya di Bumi Plc dan menawarkan opsi tukar saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

(dru/ang)

Grup Bakrie Siapkan 11 Tower Apartemen di Sentra Timur
Herdaru Purnomo – detikfinance
Minggu, 28/10/2012 13:22 WIB
Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk berencana menambah 11 tower atau sebanyak 5.500 unit di Apartemen Sentra Timur Residence. Perusahaan milik Grup Bakrie ini juga akan menyiapkan infrastruktur pendukung seperti rumah sakit dan pusat belanja di kawasan tersebut.

Dirut unit usaha City Property PT Bakrieland Development Tbk untuk Sentra Timur, Dicky Setiawan menyatakan infrastruktur memang akan menjadi fokus pengembangan Sentra Timur sebagai upaya menyediakan hunian bagi segmen menengah di Jakarta.

“Saat ini tengah diselesaikan pembangunan akses tol Lingkar Luar Jakarta. Pembangunannya sudah 80 persen ditargetkan akhir tahun 2012 sudah dapat dipergunakan,” kata Dicky dalam penjelasannya seperti dikutip detikFinance, Minggu (28/10/2012).

Menurut Dicky saat ini juga tengah dipersiapkan pembangunan terminal terpadu yang dirancang sebagai terbesar di Asia Tenggara, stasiun kereta api, dan membuka busway koridor 11 sampai di kawasan Sentra Timur.

“Rencananya, di lahan seluas 23 hektar di Sentra Timur akan dibangun apartemen, hotel, rumah sakit, pusat belanja, serta hunian tapak (landed house) bagi segmen menengah ke atas. Apartemen Sentra Timur Residence rencananya akan dibangun 11 tower atau 5.500 unit, dan yang telah direalisasikan sebanyak tiga tower sejumlah 1400 unit, serta sudah dihuni 950 unit,” ungkap Dicky.

Dicky mengatakan, Sentra Timur telah menyiapkan pembangunan 3 tower sebanyak 1000 unit lagi yang saat ini memulai tahap konstruksi. Sentra Timur saat ini juga tengah membangun rumah tapak untuk kelas atas Mutiara Platinum.

Hunian mewah ini akan dibangun di lahan seluas 17 hektare (ha), memiliki beberapa tipe yaitu tipe 130m2/160 m2, 130 m2/238 m2 dan 130 m2/259 m2. Pemasaran hunian tapak menengah atas ini akan dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama akan dipasarkan 11 rumah, dan tahap kedua sebanyak 26 unit.

Dengan berbagai jenis properti tersebut, kawasan Sentra Timur dirancang khusus sebagai hunian menengah atas dengan lokasi yang dekat kantor Walikota Jakarta Timur dan beberapa kantor pemerintahan yang bisa dijangkau dalam radius dua kilometer. “Lokasi ini juga sangat dekat dengan kawasan berikat Nusantara dan kawasan industri Bekasi sehingga memang tepat bagi pekerja swasta, BUMN, maupun pegawai negeri,” tegas dia.

(dru/nia)
Rabu, 24 Oktober 2012 | 14:53 WIB
Kurangi Beban Utang
Divestasi Aset Perseroan, Bakrie Brother Jajaki Calon Investor Baru

NERACA

Jakarta – Rencana PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melakukan divestasi terhadap aset-aset perseroan belum bisa dilakukan. Pasalnya, perseroan belum mencapai kesepakatan dengan sejumlah calon pembeli atau mitra usaha dalam investasi.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (24/10). Kata Direktur & Corporate Secretary BNBR, RA Sri Dharmayanti, saat ini perseroan masih dalam tahap penjajakan dengan sejumlah calon pembeli atau mitra, “Informasi detail mengenai divestasi asetakan kami samaikan setelah negosiasi selesai. Saat ini proses tersebut masih berlangsung dan perseoran terikat dengan perjanjian kerahasiaan antar pihak,”ujarnya.

Menurutnya, sebagai perusahaan investasi, perseroan mempertimbangkan setiap peluang yang ada baik dalam investasi maupun divestasi aset-aset perseroan. Perseroan telah beberapa kali melakukan pertemuan dengna para calon pembeli atau mitra usaha yang berminat mengadakan kerja sama. Beberapa diantaranya para calon pembeli atau mitra usaha dari investor dalam dan luar negeri.

Namun perseroan memastikan rencana divestasi terebut tidak termasuk dalam transaksi material. Belum lama ini, Grup Bakrie mengajukan proposal untuk melakukan tukar guling sahamnya di Bumi Plc dengan 29% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Grup Bakrie kini menguasai 23,8% saham Bumi Plc akan menukarnya dengan sekitar 10,3% saham BUMI. Selanjutnya sisa saham BUMI yaitu sekitar 18,7% akan dilunasi grup Bakrie dengan pembayaran tunai.

Sebelumnya, PT Bakrie Land Development juga menyampaikan rencana melepas kepemilikan saham sebagian atau seluruhnya di perusahaan pengelola jalan tol PT Bakrie Toll Road (BTR). Direktur Utama ELTY, Ambono Janurianto pernah bilang, hasil divestasi saham BTR digunakan untuk mengurangi utang perseroan. Pasalnya, pengurangan utang menjadi target manajemen agar tidak membebani kinerja keuangan. “Kami divestasi BTR untuk kurangi utang,”katanya.

Dia menambahkan, manajemen terus bernegosiasi dengan beberapa investor yang meminati saham BTR. Besaran pelepasan saham pengelola Kanci-Pejagan milik ELTY juga masih dibicarakan oleh kedua belah pihak.

Manajemen ELTY dapat menjual seluruh kepemilikan tidak langsung atau melepas sebagian dengan tetap mempertahankan sebagian kepemilikannya.”Kita belum tahu berapa yang dilepas, karena diskusinya masih berlangsung,” paparnya.

Di ELTY, kepemilikan grup Bakrie sudah tidak mayoritas paska masuknya Limitless Limitless World International Services Ltd. Kini, saham Bakrie di perusahaan properti itu hanya tersisa 8%. ELTY yang merupakan salah satu anak usaha group Bakrie bidang properti dan infrastruktur ini, menguasai 69,99% saham di BTR melalui anak usahanya yaitu PT Bakrie Infrastructure. Sementara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai tulang punggung bisnis Bakrie di sektor tambang mencatatkan rugi bersih US$ 334,111 juta atau setara Rp 3,14 Triliun sepanjang semester I-2012. Penyebab utamanya, karena dua hal yakni rugi kurs dan transaksi derivatif.

Mengutip lapora keuangan BUMI 2011, perseroan mencatatkan utang jatuh tempo tahun 2012 mencapai US$638 juta (Rp6,38 triliun). Sementara di tahun 2013 sebesar US$1,1 miliar, 2014 sebesar US$635 juta, 2015 sebesar US$313 juta, 2016 sebesar US$450 juta dan di 2017 sebesar US$700 juta. Maka jika disederhanakan, hingga 2014 BUMI harus melunasi utang jatuh tempo sebesar US$3 miliar (Rp30 triliun). Bani

(Bani)

Bakrie mulai jual aset untuk bayar utang
Reporter: Ririn Radiawati
Jumat, 19 Oktober 2012 08:44:00
Bakrie mulai jual aset untuk bayar utang
merdeka.com

Menumpuknya utang di tubuh perusahaan Bakrie yang berada di bawah Bakrie & Brothers harus direstrukturisasi maupun dilunasi. Hingga semester pertama tahun ini, perusahaan yang mempunyai kode emiten BNBR itu telah mencatat total utang yaitu Rp 10 triliun.

Presiden Direktur BNBR Bobby Gofur Umar mengatakan bahwa salah satu solusi untuk melunasi utang-utang yang menjadi beban perusahaan adalah dengan melepas kepemilikan saham di beberapa perusahaan Bakrie.

“Ada beberapa unit yang sedang dalam taraf pembicaraan dengan calon partner tersebut untuk kepemilikan 40-75 persen di unit manufaktur kami,” ujar Bobby kepada merdeka.com, Jumat (19/10).

Bobby mengatakan bahwa proses divestasi ini sejalan dengan rencana perseroan dengan pola kerja sama rekanan dengan pemain global yaitu Korea, Jepang dan China.

Dia mengatakan, beberapa aset dan unit perusahaan pengolahan yang akan dilepas sahamnya antara lain adalah Seamless Pipe Indonesia Jaya, Bakrie Pipe Indonesia, South East Asian Pipe Indonesia, South East Asian Pipe, Bakrie Construction, Bakrie Building Industries dan lainnya.

“Selain memperkuat lini manufakturnya, juga BNBR bisa mendapatkan dana segar untuk pembayaran utang dan investasi ke depannya di bidang infrastruktur,” ujar dia.

Sayangnya, Bobby enggan menyebutkan berapa total dana yang didapatkan melalui pelepasan saham tersebut. “Saya tidak bisa disclose angkanya karena terkait dengan kontrak kerahasiaan,” kata dia.

Bobby mengatakan, selain akan mendapat dana segar, divestasi ini juga akan menguntungkan pihak perusahaan. “Pola divestasi kepemilikan di unit-unit manufaktur tersebut adalah pola kerjasama strategis untuk pengembangan ke depannya dengan alih teknologi dan penetrasi pasar ekspor di mana calon-calon partnernya adalah pemain kelas dunia dari Korea, Jepang, China,” jelas dia.

Meski begitu, lanjut Bobby, BNBR masih memiliki fokus usaha yang masih ditekuni, yaitu sumber daya alam dan infrastruktur. Kegiatan divestasi tersebut rencananya akan selesai akhir tahun ini hingga kuartal pertama tahun depan.
[rin]

Cadangan BRMS tak sebanding dengan kas perusahaan
Oleh Muhammad Khairul – Selasa, 16 Oktober 2012 | 06:46 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) melaporkan, jumlah cadangan tambang milik PT Gorontalo Minerals lebih besar dari estimasi awal.

Analis Samuel Sekuritas Yualdo T. Prawiro mengatakan, angka cadangan mineral yang dilaporkan Joint Ore Reserve Committe Resources (JORC Resources) ini lebih tinggi 133,6% dari perkiraan awal 125 juta ton. “Ini menghilangkan keraguan terkait deposit mineral di Gorontalo yang selama ini hanya dapat diperkirakan,” kata dia.

Hanya saja, BRMS masih sangat terkendala dalam realisasi produksi dari portofolio aset yang ada. “Karena posisi kas terbatas,” ujar dia. Posisi kas dan setara kas BRMS per Juni hanya US$ 67,24 juta.

BRMS memiliki dua aset terbesar, yakni di Dairi (Sumatera Utara) dan Gorontalo. Dairi membutuhkan sekitar US$ 100 juta per tahun hingga 2014. Sementara proyek Gorontalo telah menghabiskan US$ 75 juta dan masih membutuhkan lebih dari US$ 100 juta sampai produksi di 2015.

Hitungan Yualdo, kas BRMS akan negatif di 2013 dan 2014 apabila harus membiayai kedua proyek. Alternatifnya, emiten harus mencari project financing untuk tiap proyek setidaknya hingga tiga tahun ke depan.

Alternatif lain dengan menjual saham BRMS. Sebelumnya, Presiden Direktur BRMS Samin Tan pernah menyatakan akan menjual 20% saham BRMS dengan target perolehan dana sebesar US$ 400 juta.

Meleset

Anak usaha BRMS yang bisa berproduksi dalam waktu dekat adalah tambang biji besi di Mauritania, Afrika Selatan. “Mauritania baru dapat berkontribusi tahun depan karena belum dapat surat izin ekspor dari pemerintah Mauritania,” ujar Yualdo.

Padahal, rencana awal, tambang ini bisa kontribusi pada pertengahan tahun ini dengan 600.000 ton. Namun, Yualdo menduga, kontribusinya baru terasa di 2013 dengan volume produksi 200.000 ton. Itu berarti, senilai US$ 21,6 juta dengan asumsi harga jual rata-rata US$ 120 per ton.

Akibat penundaan tersebut, Yualdo menurunkan estimasi pendapatan 2012 menjadi US$ 23 juta dari proyeksi sebelumnya US$ 90 juta. Dia juga memperkirakan BRMS masih akan merugi hingga tahun depan akibat beban bunga.

Selain itu, setoran laba dari PT Newmont Nusa Tenggara berkurang menjadi US$ 38 juta di tahun ini dari US$ 112 juta di tahun lalu. Ini karena, produksi emas 2012 turun menjadi 70.000 ons dari sebelumnya 318.000 ons. Produksi tembaga juga turun dari 283 juta pon jadi 170 juta pon.

Reza Priyambada, Head of Research Trust Securities, menilai, secara teknikal harga BRMS di Rp 445 merupakan level menarik untuk akumulasi beli.
Para analis yang dihubungi KONTAN pun masih merekomendasikan beli pada saham BRMS. Reza memasang target di Rp 600 – Rp 650 hingga akhir tahun 2012.

Sementara Yualdo menargetkan Rp 790. “Kami melihat potensi pertumbuhan BRMS dari prospek asetnya,” kata ia. Target tersebut mencerminkan price to book value (PBV) 0,99 kali di 2012.

Hariyanto Wijaya, analis Mandiri Sekuritas, menargetkan Rp 830. Sementara Isnaputra Iskandar dari Nomura proyeksi di Rp 810. Senin (15/10), saham BRMS ditutup turun 2,2% di Rp 445.
Saham-saham Grup Bakrie Bakal Dorong IHSG Naik

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Jumat, 12 Oktober 2012 | 03:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pengamat pasar modal Willy Sanjaya meyakini potensi kenaikan saham-saham grup Bakrie bakal mendorong penguatan IHSG Jumat (12/10/2012). Seperti apa?

Pada perdagangan Kamis (11/10/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat tipis 4,957 poin (0,12%) ke angka 4.284,967. Intraday tertinggi mencapai 4.284,967 dan terendah 4.260,859. Di sisi lain, indeks saham unggulan LQ45 yang justru melemah 0,28 poin (0,04%) ke angka 741,802. Berikut ini wawancara lengkapnya:

IHSG akhirnya mendarat di teritori positif. Apa yang terjadi?

Penguatan IHSG kemarin karena adanya kabar gembira dari pertemuan grup Bakrie dengan BUMI Plc di Singapura yang mendorong kenaikan pesat pada saham-saham di grup ini. Jumat ini pun, saham-saham grup Bakrie bakal mendorong penguatan indeks.

Apa hasil pertemuan itu sehingga bisa membawa IHSG ke zona positif?

Salah satu kesimpulannya adalah BNBR akan mengembalikan kepemilikan BUMI Plc-nya, dan BUMI Plc akan mengembalikan kepemilikan PT BRAU dan BUMI. Tapi, kesepakatan itu masih berjalan di Singapura dan skema seperti apa, pasar belum tahu jelas.

Tapi, sejauh ini, pasar melihat hubungan grup Bakrie dengan Rothschild akhirnya benar-benar kandas setelah BNBR dan Long Haul Holding Limited mengajukan proposal melepas kepemilikan saham di Bumi Plc. Dalam proposal itu disebutkan, BNBR dan Long Haul berniat membatalkan kepemilikan 23,8% saham Bumi Plc.

Kedua perusahaan Group Bakrie ini akan melepas saham Bumi Plc dengan cara menukarnya dengan 10,3% saham BUMI yang dipegang oleh Bumi Plc. Selain itu, Group Bakrie akan membeli secara tunai sisa saham BUMI yang dipegang oleh Bumi Plc paling lambat Natal 2012. Sisa saham yang akan dibeli tunai sebesar 18,9%. Catatan saja, Bumi Plc menguasai 29,18% saham BUMI.

Pasar sudah menyambut positif sehingga saham BRAU mengalami autoreject. Begitu juga dengan BRMS dan BORN yang naik signifikan. Bahkan, hampir semua saham grup Bakrie mengalami kenaikan. Pasar melihat Rothschild ditendang dari BUMI yang sejauh ini memicu segala masalah pada emiten sejuta umat itu. Jika memang skenarionya seperti ini, cukup menggembirakan bagi pemegang saham grup Bakrie.

Kalau begitu, bagaimana Anda melihat arah pergerakan IHSG Jumat (12/10/2012) ini?

Saya melihat terbukanya peluang penguatan indeks akhir pekan ini. IHSG memiliki support 4.244 dan resistance 4.315. Penguatan pada saham-saham grup Bakrie juga akan memicu penguatan pada saham-saham di sektor pertambangan.

Saham-saham pilihan Anda?

Saya rekomendasikan positif 9 sembilan saham sekaligus target harganya untuk jangka pendek. Saham-saham pilihan saya adalah PT Berau Coal Energy (BRAU) dengan target jangka pendek Rp250; PT Bumi Resources (BUMI) Rp750; PT Bumi Resouces Mineral (BRMS) Rp550; PT Vale Indonesia (INCO) yang sudah turun cukup dalam dnegan target Rp3.100;

PT Timah (TINS) yang sudah turun cukup dalam dengan target jangka pendek Rp1.650; Begitu juga dengan PT Aneka Tambang (ANTM) Rp1.400; PT Telkom (TLKM) Rp10.000; PT Indosat (ISAT) dengan target jangka pendek Rp6.500; dan PT Borneo Lumbung Energi (BORN) juga sudah sangat menarik.

Potensi sederet aset itu baru tercantum di kertas
Oleh Yuwono Triatmodjo – Kamis, 11 Oktober 2012 | 16:19 WIB

kontan

Bagai macan ompong, PT Bumi Resources Minerals Tbk punya banyak aset namun belum berproduksi. Sementara penghasilan dari perusahaan asosiasi seperti Newmont Nusa Tenggara merosot tajam. Bagaimana nasib emiten ini di masa depan?

Tahun ini, tampaknya, emiten-emiten yang terafiliasi Grup Bakrie memang menghadapi tantangan berat. Tak terkecuali PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Kinerjanya di semester pertama 2012 anjlok lantaran kontribusi dari perusahaan asosiasi merosot drastis. Di saat yang bersamaan, aset-aset utama emiten bersandi BRMS ini belum juga mulai menghasilkan alias berproduksi.

Cerita kurang manis Bumi Resources Minerals datang saat PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), anak usaha yang dimi-liki secara tidak langsung melalui PT Multi Daerah Bersaing (MBD), mencetak kinerja buruk. Multi Daerah Bersaing adalah pemilik 24% saham Newmont. Lewat kepemilikannya di Multi Daerah Bersaing, Bumi Resources menggenggam secara tak langsung saham Newmont sebesar 18%.

Pada semester I–2012, produksi emas dan tembaga Newmont turun drastis. Produksi emas mereka hanya sebesar 38.000 ons dari 143.000 ons alias turun 73,42% dari periode yang sama tahun 2011. Sementara produksi tembaga mereka susut 39,71% menjadi 85 juta pon dari sebelumnya 141 juta pon.

Kondisi ini jelas memukul kinerja Bumi Resources Minerals yang pada 2011 lalu memperoleh bagian atas laba Newmont senilai US$ 112 juta. Asal tahu saja, pendapatan operasional Bumi Resources Minerals kala itu hanya US$ 3 juta. Karena kontribusi dari Newmont, akhirnya, mereka bisa mencetak laba bersih US$ 76 juta. Terbayang, betapa signifikan kontribusi Newmont pada Bumi Resources. Namun, per Juni 2012, kondisi berbalik. Bumi Resources Minerals justru membukukan kerugian pada anak usahanya itu senilai US$ 4,18 juta.

Analis Samuel Sekuritas Yualdo T. Yudoprawiro memperkirakan, sampai akhir 2012, total produksi emas Newmont cuma 70.000 ons, turun dari produksi 2011 sebanyak 318.000 ons. Sementara, produksi tembaga susut menjadi 170 juta pon, dari sebelumnya 283 pon.

Alhasil, lanjut Yualdo, kontribusi Newmont bagi laporan kinerja keuangan Bumi Resources Minerals tahun ini pun akan susut menjadi US$ 38 juta dari tahun sebelumnya US$ 112 juta. Bumi Resources Minerals pun, menurut hitungan Yualdo, terancam mencatatkan rugi bersih senilai US$ 30 juta.

Anak usaha masih belum berproduksi

Sebenarnya di medio 2012, ada angin segar dari Joint Ore Reserve Committe Resources (JORC Resources), sebuah lembaga standardisasi pelaporan hasil eksplorasi asal Australia. Mereka melaporkan, sumber daya mineral di konsesi Sungai Mak, Gorontalo, milik Bumi Resources Minerals melalui PT Gorontalo Minerals, mencapai 292 juta ton dengan kadar tembaga 0,5% dan emas 0,47 gram per ton. Angka cadangan mineral itu 133,6% lebih tinggi dari perkiraan awal 125 juta ton.
Tak hanya itu, Newmont Mining Corporation juga merilis indikasi cadangan mineral di konsesi Elang sebesar 1.430 juta ton, lebih tinggi 45% dari cadangan Batu Hijau.

Jika kita bongkar laporan keuangan Bumi Resources Minerals medio 2012, pendapatan operasional mereka hanya bergantung pada anak usahanya, Bumi Resources Japan Company Limited, yang memasarkan batubara PT Kaltim Prima Coal (KPC). Bersyukur, kontribusi laba dari entitas asosiasi (Newmont) mampu mengerek kinerja keuangannya.

Yualdo melihat, meski Bumi Resources Minerals punya banyak aset, kebanyakan aset itu masih green field alias belum berproduksi. Dana kas yang terbatas untuk membiayai belanja modal atau capital expenditure (capex) jadi kendalanya.

Posisi kas dan setara kas Bumi Resources Minerals Juni lalu hanya US$ 67,24 juta. Padahal, proyek tambang timah dan seng Dairi, Sumatra Utara, membutuhkan dana US$ 100 juta per tahun, hingga ia berproduksi di tahun 2014. Proyek tambang tembaga dan emas Gorontalo, yang sudah menelan dana US$ 75 juta, juga masih membutuhkan dana segar lebih dari US$ 100 juta hingga bisa berproduksi di tahun 2015.

Anak usaha Bumi Resources Minerals yang bisa berproduksi dalam waktu dekat, kata Yualdo, adalah aset biji besi di Mauritania, Afrika Selatan. Mereka menguasai lewat Bumi Mauritania SA dan Tamagot Bumi SA.

Sebelumnya, Bumi Resources Mineral memprediksi tambang Mauritania berproduksi di medio 2012 sebanyak 600.000 ton. “Namun, kami berasumsi, produksi baru mulai di semester pertama 2013 sebanyak 200.000 ton,” tutur Yualdo.

Dengan asumsi harga jual rata-rata (ASP) bijih besi di 2013 senilai US$ 120 per ton, Bumi Resources Minerals berpotensi meraih pendapatan dari tambang di Mauritania sekitar US$ 21,6 juta.

Masih layak beli

Analis JP Morgan Stevanus Juanda, dalam risetnya akhir Agustus lalu, menyebut, produksi tambang Mauritania akan menjadi kunci penting pengubah persepsi investor. Bumi Resources Minerals akan dinilai mampu mengubah aset green field-nya menjadi berproduksi (monetization).

Setidaknya ada tiga risiko, lanjut Stevanus, yang kini dihadapi investor pemegang saham Bumi Resources Minerals. Pertama adalah potensi penundaan jadwal pengerjaan proyek di anak usaha. Kedua, risiko penurunan laba dan dividen dari Newmont. Dan, ketiga adalah beban obligasi.

Dalam laporan keuangan semester I–2012 Bumi Resources Minerals tercatat, 14 Juni lalu mereka mendapat pinjaman Credit Suisse senilai US$ 100 juta, dengan bunga LIBOR + 6% yang jatuh tempo hingga 19 September 2013. Total utang mereka pun naik menjadi sekitar US$ 476,40 juta. Akibatnya, bunga utang yang harus dibayar BRMS naik 20,23% dari US$ 23,48 juta menjadi US$ 28,23 juta. JP Morgan pun lantas menurunkan target harga saham BRMS dari sebelumnya Rp 710 menjadi Rp 600 per saham hingga 12 bulan mendatang.

Sementara, Yualdo menilai, keluarnya laporan JORC Resources seharusnya membuka peluang Bumi Reources Minerals memperoleh pendanaan eksternal lagi. Salah satu cara yang juga bisa mereka tempuh adalah mencari strategic partner project financing. Jika dihitung, rasio utang terhadap ekuitas (DER) Bumi Resources Minerals saat ini baru 0,3 kali.

Yulado memasang target harga saham BRMS Rp 790 per saham hingga 12 bulan mendatang. Valuasi itu merefleksikan nilai buku per saham (PBV) BRMS tahun 2012 sebesar 1,37 kali. Dia pun merekomendasikan beli saham ini.

Hingga penutupan pasar Kamis (4/10) pekan lalu, harga saham BRMS berakhir di level Rp 510 per saham.

***Sumber : KONTAN MINGGUAN 02 – XVII, 2012 Saham
Senin, 10 September 2012 | 12:59 WIB
Kerugian Bumi Perberat Utang Grup Bakrie

TEMPO.CO, Jakarta – Dunia pasar modal Jakarta mendadak heboh pada akhir Agustus 2012. Sebabnya, sebuah pesan pendek telepon seluler mengabarkan bila grup Bakrie terlilit utang. Awalnya, berita itu bagai sebuah gosip.

Nyatanya, sepekan kemudian, rumor itu seketika menjadi kenyataan. Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian sementara alias suspensi perdagangan saham dan obligasi BTEL, kode untuk Bakrie Telecom.

Penyebabnya, perusahaan operator telepon seluler Esia yang berbasis CDMA itu gagal melunasi utang obligasi BTEL I 2007 yang jatuh tempo.

Tapi apa sebab Grup Bakrie berutang? Kata sumber Tempo, belitan utang terjadi akibat Bumi merugi serta buah dari praktek gadai saham yang ditengarai menjadi modus pencarian dana Grup Bakrie.

Bumi, yang paling “berdaging” dibandingkan dengan perusahaan lainnya, kini kosong kantongnya. “Likuiditas perusahaan Bakrie sudah akut,” kata si sumber dalam laporan majalah Tempo edisi 10 September 2012 berjudul Tsunami Utang Bakrie.

Likuiditas ini sendiri merupakan kunci Bakrie menghadapi utang yang jatuh tempo akibat gadai saham. Dan kata si sumber, semuanya adalah soal momen. Bila pada saat jatuh tempo Bakrie tak punya uang, semua perusahaan bakal kena imbasnya.

Karena itu Bakrie mencari dana dari pelbagai lembaga keuangan dengan cara gadai saham meski dibebani bunga tinggi. Cara ini ditempuh karena tak ada akses ke perbankan. “Gadai saham bisa bikin Grup Bakrie kehilangan Bumi,” katanya.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Bumi, Dileep Srivastava, menolak perusahaannya disebut berada di ambang kebangkrutan. “Bagaimana bisa bangkrut jika dalam setiap kuartal kinerjanya meningkat?” kata Dileep.

Utang Bakrie yang jatuh tempo itu memang tak segelintir. Sekitar Rp 650 miliar, sedangkan Bakrie Telecom hanya memiliki dana Rp 250 miliar. Tak cuma itu. Sepekan sebelum suspensi, Bumi Resources Tbk mengumumkan rugi US$ 322 juta pada semester pertama 2012. Kata Bumi, mereka merugi akibat transaksi derivatif US$ 145,83 juta karena kejatuhan harga saham dan kemerosotan nilai opsi prepayment pinjamannya ke China Investment Corp (CIC) sebesar US$ 1,3 miliar.

Kerugian kemudian membengkak setelah nilai tukar rupiah melemah. Bumi tekor US$ 50,28 juta. Kepercayaan terhadap kinerja Bumi bertambah anjlok lantaran kegagalan mencairkan investasinya di PT Recapital Asset Management sebesar US$ 231 juta. Rencananya, duit itu akan dipakai buat membayar utang tahap kedua sebesar US$ 600 juta ke CIC pada Oktober mendatang. Rentetan kejadian itu sontak direspons dengan rontoknya nilai saham Bumi hingga Rp 630 per lembar

Total utang sepuluh perusahaan yang jatuh tempo pada 2012 mencapai Rp 9,67 triliun. Mereka adalah PT Bakrie & Brothers Tbk, Bumi, Bakrieland Development, Energi Mega Persada, Bakrie Sumatera Plantations, Bakrie Telecom, Berau Coal, Visi Media, serta Darma Henwa. Bumi, contohnya, mesti membayar utang sekitar Rp 573 miliar. Tahun depan, perusahaan-perusahaan itu masih harus melunasi tagihan belasan triliun.

SATWIKA MOVEMENTI | JOBPIE SUGIHARTO | TOMY ARYANTO | CORNILA DESYANA
Bakrie & Brothers Akan Bayar Utang ke Credit Suisse
Pinjaman US$437 juta itu berasal dari Credit Suisse AG, Singapura.
Selasa, 2 Oktober 2012, 09:45 Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – PT Bakrie & Brothers Tbk, Long Haul Holdings Ltd, dan para kreditor menyepakati rencana pembayaran pinjaman senilai US$437 juta. Pinjaman itu berasal dari Credit Suisse AG, cabang Singapura.

“Kami juga sudah membahas status pinjaman Bakrie & Brothers dan Long Haul Holdings itu dengan Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK pada 26 September 2012,” kata Direktur Bakrie & Brothers, RA. Sri Dharmayanti, dalam penjelasan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia di Jakarta.

Menurut Sri Dharmayanti, penjelasan keterbukaan informasi atas pinjaman itu telah disampaikan sebelumnya pada surat perseroan pada 16 Januari 2012.

Seperti diketahui, Bakrie & Brothers dan Long Haul Holdings Ltd menandatangani perjanjian kredit untuk menerima fasilitas pinjaman (term loan facility) sebesar US$437 juta dari Credit Suisse AG, cabang Singapura sebagai structuring agent. Long Haul Holdings adalah perusahaan yang berkedudukan di Nevis, West Indies di Kepulauan Karibia.

Dikutip dari keterangan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia, Selasa, 17 Januari 2012, manajemen Bakrie & Brothers mengungkapkan, dari jumlah pinjaman tersebut, bagian dari fasilitas pinjaman yang tersedia untuk perseroan adalah US$193,9 juta.

“Berdasarkan perjanjian pinjaman, kewajiban perseroan terpisah dari kewajiban Long Haul Holdings,” ujar RA. Sri Dharmayanti.

Manajemen Bakrie & Brothers tidak menjelaskan detail penggunaan fasilitas pinjaman yang disepakati pada 12 Januari 2012 tersebut. Namun, perusahaan memastikan bahwa fasilitas pinjaman tersebut bukan merupakan transaksi terafiliasi seperti diatur dalam ketentuan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Dalam transaksi tersebut, manajemen Bakrie & Brothers menyatakan tidak masuk dalam kategori transaksi material sebagaimana diatur dalam Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.E.2 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.

Ini rincian utang BUMI & anak usaha per Juni 2012
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 02 Oktober 2012 | 06:54 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana menggelar public expose perusahaan pada hari ini (2/10). Salah satu agendanya adalah membahas mengenai posisi keuangan BUMI untuk membantah tudingan penyelewengan keuangan yang dituduhkan Bumi Plc.

Dalam Keterbukaan Informasi di Bursa Efek Indonesia tadi malam, BUMI menjelaskan posisi utang perusahaan per Juni 2012. Ini rinciannya:

PINJAMAN BUMI

- Obligasi Konversi I senilai US$ 364,71 juta yang jatuh tempo Agustus 2014
- Fasilitas UBS AG senilai US$ 25 juta yang jatuh tempo Juli 2012
- Fasilitas Country Forest Limited 2009 senilai US$ 1.281,47 yang jatuh tempo Oktober 2014, 2015
- Guaranteed Senior Secured Notes senilai US$ 296,53 juta yang jatuh tempo November 2016
- Fasilitas Credit Suisse 2010 senilai US$ 147,25 juta yang jatuh tempo Agustus 2013
- Guaranteed Senior Secured Note II senilai US$ 679,60 juta yang jatuh tempo Oktober 2017
- Fasilitas UBS AG senilai US$ 75 juta yang jatuh tempo April 2015
- Fasilitas Axis Bank Limited 2011 senilai US$ 178,95 juta yang jatuh tempo Agustus 2016
- Fasilitas Deutsche Bank 2011 senilai US$ 146,60 juta yang jatuh tempo Oktober 2014
- Fasilitas China Development Bank senilai US$ 594,52 yang jatuh tempo Februari 2016

Dengan demikian, total pinjaman BUMI per Juni 2012 adalah US$ 3.789,63 juta

PINJAMAN ENTITAS ANAK

- Fasilitas Credit Suisse 2012 senilai US$ 97,24 juta yang jatuh tempo Juni 2013
- Fasilitas Credit Suisse 2010 senilai US$ 202,85 juta yang jatuh tempo September 2013
- Fasilitas Pinjaman Nomura senilai US$ 18,46 juta yang jatuh tempo Januari 2016
- Fasilitas PT Bank CIMB Niaga Tbk senilai US$ 2,23 juta yang jatuh tempo Desember 2012
- Fasilitas Bank Bukopin senilai US$ 0,91 juta yang jatuh tempo Juli 2016
- Fasilitas Bank Mualamat senilai US$ 1,72 juta yang jatuh tempo April 2016

Jika ditotal, nilai pinjaman entitas anak usaha senilai US$ 323,41 juta

Bakrie Life Menyatakan akan Mengembalikan Dana Nasabah
AntaraAntara – 17 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) – PT Bakrie Life menyatakan akan mengembalikan dana nasabahnya yang raib di produk Diamond Investa dengan mencairkan aset perusahaan sebagai jaminan.

“Status aset perusahaan bebas dan milik group, dalam bulan ini akan diselesaikan jaminannya dan segera akan dijadikan uang dengan cara apapun. Sekarang bagaimana aset dan kewajiban itu dituntaskan,” ujar Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto di Jakarta, Rabu.

Meski demikian, Timoer belum mengungkapkan skema apa yang dilakukan untuk mencairkan aset perusahaan untuk mengembalikan dana nasabah, pihaknya juga masih akan bertemu dengan nasabah dalam dua minggu ke depan.

“Setiap dua Minggu kita ketemu, semoga dalam pertemuan berikutnya masalah aset bisa diselesaikan,” katanya.

Salah satu nasabah Bakrie Life yang mengatasnamakan Bakrie Life Crisis Center, Freddy mengatakan, jika pihak nasabah belum mendapat ganti rugi atas raibnya dana yang ditaruh di produk Diamond Investa milik Bakrie Life itu, maka pihaknya akan mengajukan gugatan ke pengadilan niaga.

“Peluang untuk ke Pengadilan Niaga itu ada jika masalahnya masih berlarut-larut, sebagian nasabah dari Bandung sudah ada tujuan ke sana,” kata Freddy.

Ia mengatakan, dalam pertemuan dengan manajemen Bakrie Life hari ini (26/9) pihak Bakrie Life menjanjikan jaminan berupa aset tanah sebesar 77,4 hektare di Makasar untuk membayar kerugian dana nasabah.

Sementara, lanjut dia, dari pihak Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dinilai tidak memberikan kontribusinya terhadap kasus yang menimpa nasabah Bakrie Life.

“Asosiasi sudah dihubungi beberapa kali, tapi sepertinya mereka enggan ikut campur tangan, sebenarnya asosiasi cukup mempunyai peran,” katanya.

Ia juga mengatakan, sejauh ini pihak Bapepam-LK juga hanya sebagai “pencatat” saja dalam memediasi kasus ini.

“Bapepam-LK tidak bisa jadi wasit, dan hanya pencatat saja,” kata Freddy saat ditemui di Bapepam-LK, Rabu ini.

Seperti diketahui, Bakrie Life mengalami gagal bayar dana nasabah senilai Rp360 miliar pada 2008 dan itu merupakan premi sekaligus investasi yang dihimpun dari ratusan nasabah pembeli produk Diamond Investa.

Dari jumlah itu, Bakrie Life sudah mengembalikan dana nasabah sebesar Rp90 miliar sehingga ada kewajiban pengembalian dana sisa sebesar Rp270 miliar yang wajib dibayarkan secara dicicil dalam tiga tahun berturut-turut.

Sementara, Kepala Biro Asuransi Bapepam-LK Isa RachmatarwataIsa Rachmatarwata ketika ditanya mengenai kasus Bakrie Life dengan nasabahnya, sama sekali tidak memberikan berkomentar.(rr)

Tak Ada Biaya, 6 Proyek Tol Bakrie Mangkrak
Zulfi Suhendra – detikfinance
Selasa, 25/09/2012 14:59 WIB

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) mencatat proyek-proyek jalan tol yang digarap oleh Grup Bakrie tak berjalan alias mangkrak. Penyebabnya selain pembebasan lahan juga masalah finansial.

“Pokoknya mayoritas tol Bakrie itu sedang istirahat,” ungkap Kasubdit Pengadaan Tanah Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Heri Marzuki saat ditemui di Kantor Kementerian PU, Jakarta, Selasa (25/9/12).

Heri menjelaskan antaralain jalan tol Pejagan-Pemalang yang saat ini proses pembebasan lahannya terhenti. Padahal, menurut Heri, saat ini proses pembebasan lahan untuk rencana pembangunan ruas tol ini sudah mencapai 29%.

“Progres terakhir itu 29%, tapi itu terhenti awal tahun, nggak ada pendanaannya. Mandek dipembiayaan,” jelasnya.

Selain itu, ruas tol Ciawi-Sukabumi yang juga terhenti sejak Agustus kemarin. Harry mengatakan, hanya 6% dari lahan seluas 572 hektar yang telah terbebaskan.

“Ciawi Sukabumi juga terhenti kasusnya sama dengan Pejagan Pemalang, masalah pendanaan, nggak banyak kok cuma Rp 700 miliar. Sejak Puasa dan Lebaran kemarin, tapi sejak Januari dia tidak ada BOP (Biaya Operasional),” tambahnya.

Heri mengatakan, sedikitnya ada 6 ruas tol milik Bakrie yang terhenti proses pengerjaannya karena masalah pendanaan. “Ciawi-Sukabumi, Pejagan- Pemalang, Batang-Semarang 1 dan 2, Pasuruan-Probolinggo, Cimanggis- Cibitung,” tutupnya.

(zul/hen)
Rabu, 12/09/2012 17:48 WIB
KPK Geledah Kantor Bogor Nirwarna Residence Terkait Korupsi Alquran
Danu Mahardika – detikNews
Jakarta KPK hari ini menggeledah kantor PT Bogor Nirwana Residence (BNR) di Bogor, Jawa Barat. Penggeledahan diduga terkait kasus pengadaan Alquran dengan tersangka Zulkarnaen Djabbar.

“Iya benar, pada hari ini KPK melakukan penggeledahan di PT BNR Bogor terkait kasus di Kemenag,” kata Kabag Pemberitaan KPK Priharsa Nugraha, saat dikonfirmasi, Rabu (12/9/2012).

Informasi yang dihimpun, penggeledahan ini digelar sejak siang tadi. Hingga sore ini, tim belum kembali ke KPK.

Saat ditanya lebih jauh soal kaitan PT BNR dengan kasus Alquran, Priharsa belum memberi penjelasan. “Saya harus cek dulu,” imbuhnya.

KPK telah menetapkan dua orang tersangka dalam penyidikan kasus dugaan korupsi proses pembahasan anggaran pengadaan Alquran di Kemenag. Dua tersangka itu ternyata memiliki hubungan ayah dan anak. Kedua tersangka itu adalah anggota Komisi VIII DPR Fraksi Partai Golkar, Zulkarnaen Djabar dan anaknya, Dendi Prasetya yang tercatat sebagai Sekjen Gerakan Muda MKGR. KPK sudah menahan Zulkarnaen. Dia ditahan dalam pemeriksaan perdananya sebagai tersangka.

(mad/ndr)
BRMS ungkapkan potensi tambang miliknya
Oleh Astri Kharina Bangun – Rabu, 12 September 2012 | 15:24 WIB

kontan

JAKARTA. Konsesi tembaga dan emas PT Bumi Resources Tbk (BRMS) di Gorontalo, Sulawesi, diprediksi mengandung sumber daya mineral yang cukup besar. Demikian laporan BRMS atas hasil kajian yang dilakukan SRK Consulting (Australasia) Pty Ltd, Australia (SRK).

SRK melakukan kajian pada 27 Juli 2012 dan 8 Agustus 2012 di Cabang Kiri dan Sungai Mak. Keduanya merupakan bagian dari konsesi tambang yang dioperasikan oleh PT Gorontalo Minerals (GM). BRMS menguasai 80% saham GM, sementara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki 20% sisanya.

Berdasarkan laporan SRK, di tambang Cabang Kiri dan Sungai Mak terdapat total sumber daya bijih sebesar 292 juta ton dengan rata-rata kadar kualitas 0,5% (tembaga) dan 0,47 g/t (emas).

VP Investor Relations Bumi Resources Minerals Herwin Hidayat mengungkapkan, laporan SRK yang sesuai standar Joint Ore Reserve Commitee ini diharapkan dapat menambah nilai terhadap konsesi tambang tembaga dan emas yang dikelola oleh BRMS di Gorontalo.

“Estimasi sumber daya mineral tersebut telah meningkatkan nilai komersial dari tambang tembaga dan emas tersebut,” kata Herwin dalam siaran pers, Rabu (12/9).

Ia menambahkan, selain di Sungai Mak dan Cabang Kiri, ada beberapa potensi sumber daya mineral di beberapa lokasi tambang yang dioperasikan GM. Namun GM masih belum mengekspllorasinya lebih lanjut, yaitu Kayu Bulan, Tubalolo, dan Cabang Kanan.
Senin, 10 September 2012 | 11:24 WIB
Lin Chi Wei: Grup Bakrie Punya 9 Nyawa

TEMPO.CO, Jakarta – Lin Che Wei dari PT Independent Research & Advisory Indonesia juga tak yakin Grup Bakrie bakal ambruk walau mengakui ini krisis terparah yang pernah mereka alami. Demikian terungkap dalam laporan majalah Tempo edisi 10 September 2012 berjudul “Tsunami Utang Bakrie”.

Ia mencatat Bakrie pernah bermasalah dengan Bank Nusa Nasional miliknya pada 1999, lalu luapan lumpur Lapindo pada 2006, dan dua tahun kemudian terjadi persoalan suspensi perdagangan saham Bumi yang menyeret Menteri Keuangan waktu itu, Sri Mulyani Indrawati. “Ibaratnya, kucing bernyawa sembilan, baru mati lima,” ujarnya sambil tertawa Kamis pekan lalu.

Che Wei menuturkan, ketangguhan Bakrie ditopang beberapa hal. Keberuntungan Bakrie tak bisa dilepaskan dari siklus bisnis batu bara. Grup Bakrie juga memiliki daya tawar yang tinggi dalam merestrukturisasi utang karena aset tambang batu bara yang begitu bernilai.

Ia menyebutkan tambang anak usaha Bumi, PT Kaltim Prima Coal, seluas 90.938 hektare merupakan yang terbaik di dunia. Dukungan beberapa partai politik di parlemen pun sangat efektif menyokong bisnisnya. Lewat jejaring politik serta bisnis itu, Bakrie bisa menggerakkan pemerintah daerah. Kemampuan perusahaan Bakrie merawat pasar modal juga mesti diacungi jempol. “Mereka murah hati kepada bro­ker,” tuturnya.

Tapi petinggi Grup Bakrie mungkin harus waspada. Setidaknya diperlukan dana US$ 4 miliar agar keluarga Bakrie tetap memegang kendali perusahaan-perusahaannya. “Kalau tak ada talangan itu, keluarga Bakrie bisa jatuh miskin dalam satu-dua tahun ini,” kata seorang politikus Partai Golkar yang dekat dengan keluarga Bakrie, Rabu pekan lalu.

Sebagai nakhoda utama bisnis keluarga, Nirwan Bakrie kabarnya sudah mendekati banyak pemilik modal besar, baik di dalam maupun luar negeri. Produsen rokok Djarum asal Kudus termasuk yang dilobi, mengingat kelompok usaha itu juga merambah bisnis perbankan dan properti. Djarum disebut-sebut sempat kepincut pada tawaran Nirwan, adik kandung Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. “Keluarga Djarum hanya percaya kepada Nirwan. Mereka tak percaya kepada anak-anak Pak Aburizal.” Toh, pendekatan itu berakhir tanpa hasil.

Seorang analis di perusahaan ekuitas membisikkan bahwa Grup Sinar Mas juga diincar. “Kalau Sinar Mas mau, ini saatnya mereka makan habis Bakrie,” ucapnya. Bahkan kabarnya BTEL sudah ditawarkan kepada perusahaan operator jaringan seharga Rp 500 miliar. Sayangnya, Nirwan dan Indra Bakrie tak bisa memberi penjelasan karena sedang di luar negeri. “Enaknya nanti saya jelaskan secara tatap muka,” tulis Indra Bakrie dalam pesan pendek melalui telepon seluler. Adapun Presiden Komisaris Bumi Samin Tan, ketika ditemui Tempo, tak mau memberi komentar.

JOBPIE SUGIHARTO | TOMI ARYANTO

Senin, 10 September 2012 | 11:59 WIB
Gelombang Badai Utang Bakrie

TEMPO.CO, Jakarta – Gosip panas itu menyebar cepat melalui pesan pendek telepon seluler di kalangan pelaku pasar modal sejak dua pekan lalu. Dalam pesan itu tertera daftar utang sepuluh perusahaan Grup Bakrie yang jatuh tempo tahun ini. Jumlahnya fantastis dan membuat mata mendelik. Demikian terungkap dalam laporan majalah Tempo edisi 10 September 2012 berjudul “Tsunami Utang Bakrie”.

Tak dinyana, awal pekan lalu, Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian sementara alias suspensi perdagangan saham dan obligasi BTEL, kode untuk Bakrie Telecom. Penyebabnya, perusahaan operator telepon seluler Esia yang berbasis CDMA itu gagal melunasi utang obligasi BTEL I 2007 yang jatuh tempo.

“Penghentian sementara akan dilakukan mulai awal perdagangan efek pada Selasa ini hingga penjelasan lebih lanjut,” kata Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Surat Utang Bursa Efek Indonesia Saptono Adi Junarso, Selasa pekan lalu. Utang yang jatuh tempo itu Rp 650 miliar, sedangkan Bakrie Telecom hanya memiliki dana Rp 250 miliar. Esok harinya, suspensi dicabut setelah perusahaan membayar utang pokok berikut bunganya.

Pekan sebelumnya, lantai bursa juga berguncang keras setelah Bumi ­Resources Tbk, perusahaan batu bara andalan Grup Bakrie, mengumumkan rugi US$ 322 juta pada semester pertama 2012. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, mereka masih menangguk untung US$ 232 juta.

Pengumuman itu membuat nilai saham Bumi rontok hingga Rp 630 per lembar. Bumi mengaku rugi akibat transaksi derivatif US$ 145,83 juta karena kejatuhan harga saham dan kemerosotan nilai opsi prepayment pinjamannya ke China Investment Corp (CIC) sebesar US$ 1,3 miliar.

Gagal bayar BTEL dan kerugian Bumi bak membuka kotak pandora. Gelombang tsunami utang yang jatuh tempo terbukti mengintai perusahaan-perusahaan Grup Bakrie. Kendati jumlahnya tak seperti disebut dalam pesan pendek yang beredar di kalangan pelaku bursa, tetap saja nilainya membuat lutut gemetar.

Total utang sepuluh perusahaan yang jatuh tempo pada 2012 mencapai Rp 9,67 triliun. Mereka adalah PT Bakrie & Brothers Tbk, Bumi ­Resources Tbk, Bumi ­Resources Minerals, Bakrieland Development, Energi Mega Persada, Bakrie Sumatera Plantations, Bakrie Telecom, Berau Coal, Visi Media, serta Darma Henwa. Bumi ­Resources Tbk, contohnya, mesti membayar utang sekitar Rp 573 miliar. Tahun depan, perusahaan-perusahaan itu masih harus melunasi tagihan belasan triliun.

Seorang sumber Tempo menyebutkan belitan utang terjadi akibat Bumi merugi serta buah dari praktek gadai saham yang ditengarai menjadi modus pencarian dana Grup Bakrie. Bumi, yang paling “berdaging” dibandingkan dengan perusahaan lainnya, kini kosong kantongnya. “Likuiditas perusahaan Bakrie sudah akut,” ucapnya.

Padahal likuiditas menjadi kunci menghadapi utang yang jatuh tempo akibat gadai saham. “Ini soal momen. Kalau jatuh tempo tak ada uang, ya, semua perusahaan kena.” Menurut dia, Grup Bakrie mencari dana dari berbagai lembaga keuangan dengan cara gadai saham meski dibe­bani bunga tinggi. Cara ini ditempuh karena tak ada akses ke perbankan. “Gadai saham bisa bikin Grup Bakrie kehilangan Bumi,” katanya.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Bumi, Dileep Srivastava, menolak perusahaannya disebut berada di ambang kebangkrutan. “Bagaimana bisa bangkrut jika dalam setiap kuartal kinerjanya meningkat?” ujarnya kepada Satwika Movementi dari Tempo akhir Agustus lalu.

Dileep juga mengklaim pemasukan perusahaan meningkat 9-10 persen dibanding tahun lalu. Dia menjelaskan pula, “Kami masih memiliki aset cadangan sekitar tiga miliar ton batu bara dan nonbatu bara.” Namun profesional berkewarganegaraan India ini mengiyakan soal adanya kemungkinan penjualan aset untuk membayar utang. “Jika harganya tepat,” katanya.

JOBPIE SUGIHARTO | TOMI ARYANTO
Bakrie Makin Getol Garap Bisnis Bahan Bangunan
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Senin, 10/09/2012 14:52 WIB

Jakarta – PT Bakrie Building Industries, anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) terus mengembangkan bisnis bahan bangunan seiring pesatnya industri properti dan konstruksi di Indonesia.

Setelah menyelesaikan ekspansi sarana produksi di Jakarta Barat, perseroan akan mengembangkan sentra produksi baru di beberapa wilayah.

“Industri properti dan konstruksi kita maju pesat. Didukung juga dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kami sangat optimis industri bahan bangunan di dalam negeri akan terus melaju,” ucap CEO BNBR Bobby Gafur Umar dalam keterangan tertulisnya, Senin (10/9/2012).

CEO Bakrie Building Industries, Yogi Pratomo Widhiarto menambahkan, manajemen tengah merancang skema penetrasi pasar bahan bangunan. Namun Yogi belum mau menyebutkan secara rinci.

“Kami perkirakan tahun 2012 ini revenue BBI bisa meningkat 45%,” tambahnya. BBI pun siap menjadi pemain terdepan dalam kualitas, kapasitas dan harga.

“Potensi pasar bahan bangunan masih sangat besar. Kita sedang serius mengadakan mapping pasar agar kami dapat memastikan bahwa pengembangan sentra produksi baru bisa sedekat mungkin dengan daerah yang permintaannya paling tinggi,” katanya.

Ke depan, Bakrie Building Industries membuka diri melakukan akuisisi dalam rangka pengembangan kapasitas. Perseroan pun terus mengembangkan teknologi baru mesin-mesin dan peralatan produksi dalam rangka penumbuhan bisnis bahan bangunan.

Versaboard adalah salah satu varian produk perusahaan yang telah sangat dikenal masyarakat. Ke depan Yogi siap menghadirkan produk turunan Versaboard sebagai solusi total pengganti bahan bangunan berbasis kayu seperti lantai dinding dekoratif, dan beberapa produk lainnya.

Pabrik bahan bangunan BBI di Jakarta Barat kini memiliki kapasitas produksi 300 ribu ton berbagai jenis bahan bangunan per tahun.

(wep/ang)
Willy Sanjaya
Dua Saham Grup Bakrie Sudah Bisa Diakumulasi

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Kamis, 6 September 2012 | 03:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Energi Mega Persada (ENRG) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) dinilai sudah turun cukup dalam. Karena itu, sudah saatnya diakumulasi.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, pelemahan pada saham-saham di grup Bakrie terutama saham ENRG dan BTEL turut berkontribusi pada pelemahan indeks kemarin. Menurutnya, pelemahan saham-saham grup ini dipicu kekhawatiran pasar atas utang-utang grup ini yang akan jatuh tempo.

Banyak investor yang meragukan cara pembayaran utang-utang grup Bakrie. Meski begitu, saham ENRG dan UNSP sudah bisa diakumulasi karena sudah turun cukup dalam. “Meski ada kekhawatiran soal utang yang jatuh tempo, tapi sebenarnya itu tak perlu dikhawatirkan karena kinerja keuangan terutama ENRG masih positif,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Rabu (5/9/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 29,90 poin (0,73%) ke angka 4.075,352 dengan intraday tertinggi 4.105,732 dan terendah 4.065,698. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45 yang turun 6,58 poin (0,93%) ke angka 697,781. Berikut ini wawancara lengkapnya:

IHSG melemah 0,73%. Apa yang terjadi?

Pelemahan IHSG kemarin seiring koreksi yang terjadi di bursa regional yang dimotori oleh penurunan bursa Dow Jones Industrial Average (DJIA). Penurunan tersebut, semata faktor profit taking teknikal dan bukan faktor fundamental.

Sebab, pasar masih tetap wait and see atas pengumuman Quantitative Easing (QE) tahap ketiga dari The Fed pekan depan. Jadi, masa ini merupakan fase konsolidasi bagi indeks domestik.

Selain faktor The Fed?

Selain itu, pelemahan indeks juga seiring pelemahan pada saham-saham di grup Bakrie terutama saham ENRG dan PT Bakrie Telecom (BTEL). Kekhawatiran pasar muncul dipicu oleh utang-utang grup ini yang akan jatuh tempo. Banyak investor yang meragukan cara pembayaran utang-utang grup Bakrie. Penurunan saham-saham di grup Bakrie juga berpengaruh pada penurunan IHSG. Tapi, penurunan IHSG tidak terlalu besar karena saham-saham berkapitalisasi besar masih terjaga seperti ASII danTLKM.

Kalau begitu, bagaimana Anda melihat arahnya Kamis (6/9/2012) ini?

Saya perkirakan, pergerakan IHSG Kamis (6/9/2012) akan konsolidasi dengan kisaran yang tidak terlalu jauh. Naik atau turun dalam kisaran 35 poin dari level 4.070. Jika Dow Jones menguat, IHSG bisa positif. Potensi konsolidasi indeks sudah terbatas.

Adakah sentimen ke pasar terkait kunjungan Hillary Clinton ke Jakarta?

Sentimen dari kunjungan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, pasar masih menunggu komitmen apa yang disepakati secara ekonomi. Pasar belum mendapatkan informasi jelasnya.

Saham-saham pilihan Anda?

Saham PT Telkom (TLKM) yang secara teknikal akan terjaga pada level support-nya di Rp9.200. Begitu juga dengan PT Astra Internasional (ASII) yang akan terjaga di level support Rp6.800. Kedua saham ini telah menjaga posisi indeks dengan baik.

Saya juga rekomendasikan positif saham PT Bank Jabar Banten (BJBR) yang kemarin mengalami penguatan signifikan pada sesi terakhir perdagangan. Saham-saham bank lain pun sudah mulai bisa dilirik karena sudah memasuki kuartal III-2012 yang mungkin akan dirilis dalam sebulan ke depan. Selain BJBR, saya menjagokan saham PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

Bisa dicermati juga saham PT Energi Mega Persada (ENRG) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP). Kedua saham Bakrie bisa diakumulasi karena sudah turun cukup dalam. Meski ada kekhawatiran soal utang yang jatuh tempo, tapi sebenarnya itu tak perlu dikhawatirkan karena kinerja keuangan ENRG masih positif.

Bagaimana strategi trading pada saham-saham tersebut?

Secara umum saya rekomendasikan buy on weakness saham-saham tersebut.

Gandeng China, Bakrie Bangun Pabrik Pipa U$ 25 juta
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Kamis, 06/09/2012 12:41 WIB
Jakarta – Anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Pipe Industries (BPI) menjalin kerja sama dengan China Petroleum Pipeline Coating Engineering Co. Ltd (CPPCE) dalam rencana pembangunan pabrik pelapisan pipa (Coated Pipes) di Lampung. Adapun nilai investasinya sekitar US$ 15-25 juta.

Chief Executive Operation BPI, Mas Wigrantoro mengatakan rencana pembangunan pabrik baru ini seiring dengan tingginya permintaan coated pipes oleh sektor migas di Indonesia, bahkan kawasan Asia Pasifik.

Bagi CPPCE, kerja sama dengan grup Bakrie ini menjadi langkah nyata perusahaan dalam rangka penetrasi ke pasar ASEAN, Timor Timur, Papua New Guinea dan Australia. Penandatanganan kerja sama investasi coating plant juga terselenggaran hari ini, Kamis (6/9/2012) antara BPI dengan CPPCE.

Setelah Letter of Intent ini, keduanya siap membentuk tim dalam tugasnya melakukan kajian lebih rinci baik secara teknologi, legal keuangan, organisasi, dan operasional.

“Dalam waktu enam bulan sejak ditandatanganinya kerja sama ini, perusahaan patungan sudah dapat didirikan,” katanya di Bakrie Tower, Jakarta, Kamis (6/9/2012).

Lampung menjadi pilihan dari alternatif lain yang diajukan BPI di Bekasi. Selatan Sumatera ini merupakan lokasi yang paling ideal dalam rangka pembangunan coating plant.

“Lokasi ini strategis karena langsung persis laut dan ada di kawasan industri pipa lainnya, hingga memudahkan dalam perdagangan,” tambah CEO BNBR Bobby Gafur Umar.

Dengan hadirnya pabrik hasil patungan ini diyakini akan direspon positif oleh pelaku industri migas. Permintaan coated pipes diperkirakan tumbuh lebih 12%.

“Pertumbuhan ini diharapakan akan terus terkadi hingga tiga sampai lima tahun ke depan, seiring meningkatnya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumur-sumur minyak dan gas baru, maupun rencana pembangunan jasa distribusi minyak bumi dan gas nasional,” tutur Mas Wigrantoro.

Pabrik diperkirakan selesai dibangun dan siap beroperasi pada tahun 2013.

(wep/dru)
Bayar Utang, Standard & Poor’s Naikan Peringkat BTEL
Tribunnews.com – Rabu, 5 September 2012 17:59 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Arif Wicaksono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pelunasan obligasi senilai Rp 650 miliar pada 4 September 2012 kemarin, berdampak positif bagi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Hari ini (05/09/2012), lembaga pemeringkat global, Standard & Poor’s (S & P) telah menaikkan peringkat utang perseroan dari semula CCC – menjadi B – dengan outlook stabil. Standard & Poor’s juga menaikkan peringkat Senior Notes BTEL yang jatuh tempo di tahun 2015 dari CCC- menjadi B – dengan outlook stabil.

Dalam penjelasannya S & P menilai bahwa dengan pelunasan obligasi tahun 2007 tersebut, maka selama 12 bulan ke depan kondisi finansial BTEL cukup kuat.

“Dalam 9 – 12 bulan ke depan, BTEL tidak memiliki utang jatuh tempo yang signifikan. Kami percaya bahwa perusahaan memiliki arus kas yang memadai untuk menutupi pembayaran bunga,” jelas Paul Draffin, Primary Credit Analyst Standard & Poors dalam keterangan tertulis yang diterima Tribun, di Jakarta (05/09/2012).

Kebijakan S & P menaikkan peringkat utang BTEL tersebut mendapat sambutan positif dari manajemen BTEL.

“Kita sangat senang karena langkah-langkah strategis dan komitmen yang dilakukan BTEL langsung mendapat respon dan apresiasi dari pelaku pasar,” tambah Anidya N. Bakrie, Presiden Direktur Bakrie Telecom Tbk dalam keterangan tertulisnya. (*)
SUSPENSI SAHAM & OBLIGASI: Bakrie Telecom Klaim Tindakan BEJ Untuk Jaga Spekulasi

Irvin Avriano A.

Selasa, 04 September 2012 | 18:55 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: Hadapi suspensi saham dan obligasi oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bakrie Telecom Tbk mengklaim suspensi dilakukan untuk mencegah spekulasi.

“Kami bisa mengerti kenapa regulator mensuspen perdagangan saham BTEL untuk mencegah spekulasi sambil menunggu sisa pembayaran utang obligasi yang total nilainya Rp 650 miliar,” Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi dalam siaran pers, Selasa (4/9/2012).

Menurutnya, nilai sebesar Rp 250 miliar sudah dibayarkan hari Jumat lalu, dan sisanya ditransfer oleh kreditur langsung ke rekening KSEI sore ini. Dari KSEI baru didistribusikan ke rekening pemegang obligasi.

Dia mengaku sampai 3 September kemarin, sayap telekomunikasi Grup Bakrie itu belum melakukan pembayaran pokok dan bunga obligasi ke-20 untuk obligasi BTEL I tahun 2007 yang jatuh tempo pada hari ini 4 September 2012.

Menurutnya, pada Jumat 31 Agustus perseroan sudah membayar Rp250 miliar kepada pemegang obligasi perseroan beserta bunganya senilai Rp19,3 miliar melalui rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Sementara sisanya sebesar Rp400 miliar lagi akan disetorkan oleh kreditur perseroan langsung kepada pemegang obligasi melalui rekening KSEI pada saat jatuh tempo, Selasa, 4 September 2012.

Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie mengatakan perusahaan juga menampik spekulasi bahwa obligasi itu telah gagal bayar.

“Kami menyayangkan pihak-pihak yang berspekulasi dan tidak didukung data. Oleh karena itulah langkah BEI mensuspensi saham untuk menghindari spekulasi sangat tepat. Manajemen BTEL tetap berkomitmen terhadap semua kewajiban sesuai jadwal,” tuturnya. (if)
Tunda bayar kupon, BTEL kena suspen
Oleh Edy Can – Selasa, 04 September 2012 | 10:12 WIB

kontan

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan sementara saham dan obligasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Keputusan ini karena BTTEL menunda pembayaran pelunasan dan bunga ke-20 obligasi Bakrie Telecom I Tahun 2007.

Suspensi ini berlaku mulai Selasa (4/9) dan berlaku di seluruh pasar. Dalam keterbukaan informasi, PH Kepala Divisi Perdagangan Surat Utang dan Derivatif BEI mengatakan, penghentian ini akan berakhir sampai ada penjelasan lebih lanjut.

Catatan saja, berdasarkan Peraturan Pencatatan Efek Nomor I.A.3 tentang Kewajiban Pelaporan Emiten huruf B angka 10 maka bursa tetap mencatatkan Obligasi Bakrie Telecom I Tahun 2007 sampai dapat melaksanakan kewajiban obligasi.
INILAH.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan efek (suspensi) atas saham dan obligasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) pada perdagangan saham Selasa (4/9/2012).

Hal itu disampaikan Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Surat Utang BEI Saptono Adi Junarso dan P.H. Kepala Divisi Perdagangan Surat Utang dan Derivatif BEI, di keterbukaan informasi BEI, Selasa (4/9/2012). Suspensi tersebut dilakukan dengan pertimbangan surat PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 3 September 2012 mengenai penundaan pembayaran pelunasan dan bunga ke-20 obligasi PT Bakrie Telecom I tahun 2007.

Oleh karena itu BEI melakukan suspensi atas saham dan obligasi dari emiten BTEL. Penghentian sementara perdagangan efek perseroan di seluruh pasar akan dilakukan mulai awal perdagangan efek pada Selasa (4/9/2012) hingga penjelasan lebih lanjut.

Sesuai dengan peraturan pencatatan efek Nomor I.A.3 tentang kewajiban pelaporan emiten huruf B angka 10 maka bursa tetap mencatatkan obligasi BTEL I tahun 2007 hingga emiten dapat melaksanakan kewajiban pelunasan obligasi.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1900890/bei-suspensi-saham-dan-obligasi-btel

Sumber : INILAH.COM
JAKARTA – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengumumkan bagian tunai dari transaksi non-preemptive rights (NPR) senilai Rp557 miliar tuntas dibayarkan.

Bakrie Global Ventura menjadi pembeli utama, sehingga kepemilikan sahamnya di BTEL menjadi 6,8%. Sebelumnya BTEL memperoleh pinjaman konsorsium senilai USD 50 juta dengan bunga 11,5% dan tenor 18 bulan yang difasilitasi Credit Suisse pada akhir bulan lalu. Keseluruhan dana tunai yang terkumpul dari NPR dan pinjaman langsung digunakan untuk pembayaran obligasi perseroan Rp650 miliar dan untuk pengembangan usaha khususnya meningkatkan pangsa pasar di layanan data.

”Ini hari besar untuk BTEL karena di tengah-tengah situasi pasar yang begitu sulit, pasar terbukti percaya dengan model bisnis BTEL khususnya setelah kami fokus mengembalikan BTEL kepada kekuatan dan kelebihan utamanya yaitu operator telekomunikasi dan data paling murah dan inovatif di Indonesia,” kata Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie dalam siaran persnya kemarin.

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/523035

/Sumber : SEPUTAR INDONESIA
Saham Bakrie Jeblok, Bursa Ikutan Goyang
Nilai Kapitalisasinya Merosot Rp 40 Triliun, BUMI Diisukan Bangkrut
Jum’at, 31 Agustus 2012 , 08:26:00 WIB

RMOL.Anjloknya sebagian saham-saham Bakrie Group langsung menggoyang lantai bursa. Bahkan Bumi Resources diisukan bangkrut. Benarkah?

Indeks Harga Saham Ga­bu­ngan (IHSG) terlihat masih le­mah. IHSG dibuka turun 1,07 persen ke posisi 4.052,49 pada pu­­kul 09.31 WIB, kemarin.

Se­banyak 121 saham yang ja­tuh menggerus kinerja bursa dan ter­lihat hanya 26 saham yang ma­sih bisa berhasil naik, sedangkan 44 saham lainnya masih stagnan. 10 sektor terjungkal di zona me­rah dengan sektor konstruksi jatuh di urutan terdepan sebesar 1,46 persen dan ada sektor ba­rang konsumsi yang juga ter­ko­reksi 1,43 persen.

Terlihat saham PT Bumi Re­sources Tbk (BUMI) masih men­duduki jawara penurunan dengan anjlok 4,48 persen ke Rp 640, di­susul saham PT Indocement Tungal Praksa Tbk (INTP) se­besar 2,97 persen ke Rp 19.600 dan saham PT Bank Rakyat In­donesia Tbk (BBRI) yang turun 2,11 persen ke Rp 6.950.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menunjukkan, nilai kapitalisasi pasar BUMI di BEI tersisa Rp 13,9 triliun pada per­dagangan Rabu (29/8). Nilai kapitalisasi itu tergerus Rp 40 triliun atau 74 per­sen dibanding­kan posisi tertinggi tahun ini se­besar Rp 54 triliun.

Saham BUMI sempat men­capai harga tertinggi pada 3 Feb­ruari 2012 sebesar Rp 2.600. Na­mun, harga BUMI sempat turun Rp 90 (11,8 persen) menjadi Rp 670. Saham BUMI terus tertekan se­lama pekan ini, terutama se­telah perseroan melaporkan ke­rugian 322 juta dolar AS pada semester pertama 2012. Namun pada per­dagangan sesi I kemarin, saham BUMI menguat Rp 10 (1,49 per­sen) mencapai Rp 680.

Dalam riset Panin Sekuritas di­sebutkan, perusahaan milik Aburi­zal Bakrie itu diambang ke­bang­krutan karena performa ke­uang­annya memburuk dan ke­mam­puan rasio kemampuan membayar utang (solvabilitas) rendah.

Analis Panin Sekuritas Fajar Indra me­nuturkan, beban keua­ng­­an yang tinggi membuat sol­va­bilitas BUMI cukup rendah. Apa­lagi, perseroan tidak jadi men­cairkan investasi sebesar 231 juta dolar AS pada PT Reca­pital Asset Management. Imbas­nya, BUMI gagal memperoleh dana untuk membayar utang.

Padahal, kata dia, salah satu lum­bung duit bisnis Bakrie Group ini berencana membayar utang sebesar 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 11,7 triliun ke­pa­da China Investment Corpora­tion (CIC) selama 2012-2013. Perin­ciannya, sebanyak 600 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,4 tri­liun di­bayar tahun ini dan sisa­nya tahun depan.

Namun, Direktur Bumi Re­sour­ces Dileep Srivastava mene­pis anggapan BUMI bakal bang­krut. Soalnya, per Juni 2012 ki­nerja operasional BUMI masih cukup kuat. Ini ter­lihat dari pen­jualan dan produksi yang tumbuh 10 persen dan 8,6 persen. Pen­dapatan juga naik 8,6 persen menjadi 1,9 miliar dolar AS.

“Produksi BUMI on track un­tuk mencapai 100 juta ton pada 2014. Pembayaran utang juga ti­dak ada yang default,” ujar Dileep.

Presi­den Direktur Bumi Re­sour­ces Ari Hudaya yang meya­kinkan kinerja ope­rasional BUMI makin kuat dan efisien. Aset BUMI juga belum banyak yang dimaksimal­kan. Perseroan mem­­buka diri untuk melepas aset po­tensial, seperti saham anak usa­hanya, PT Bumi Minerals Re­sources Tbk (BMRS).

Diakui analis saham David Cornelis, isu soal bangkrutnya BUMI memang menjadi senti­men negatif yang menghantam harga saham perusahaan tambang ini. Sejak keluarnya isu bang­krut ini, harga saham BUMI terus melorot.

Pada Senin 27 Agustus, harga saham BUMI ini ditutup melemah Rp 50 ke Rp 890. Lalu pada Selasa 28 Agustus kembali melemah Rp 130 ke Rp 760. Dan pada Rabu 29 Agustus, saham ini turun lagi Rp 90 ke Rp 670.

Selain itu, kata David, faktor yang menekan harga saham ini datang dari sisi internal, yakni struktur balance sheet-nya serta faktor eksogen berupa pergera­kan harga batubara dunia yang memang sedang lesu. [Harian Rakyat Merdeka]
Bumi Terancam Auto Rejection
Jika Terus Melemah, Transaksi Saham Bisa Distop
Sabtu, 01 September 2012 , 08:27:00 WIB

RMOL.Jatuhnya harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus jadi sorotan investor. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengancam akan menghentikan perdagangan saham andalan Grup Bakrie.

Menurunnya saham BUMI dalam sepekan menimbulkan be­berapa spekulasi yang ber­kem­­bang. Bursa Efek Indonesia (BEI) pun menyatakan siap me­nyetop perdagangan saham an­dalan Bakrie Group ini jika pe­­­nuru­nan­nya sudah drastis.

Direktur Utama BEI Ito War­sito menutur­kan, penurunan har­ga saham BUMI saat ini masih wajar. Ito menegaskan, suspensi akan dilakukan apabila perda­gangan saham turun drastis.

Ito menegaskan, saham terse­but bisa terkena penghentian per­­dagangan otomatis (auto rejec­tion) batas bawah jika terus me­ng­alami pelemahan.

Menurut Ito, bila nantinya me­mang terjadi pe­nurunan har­ga yang sangat sig­nifikan, BEI su­dah memiliki fitur auto rejec­tion dalam sistem per­da­gangan. “Nanti juga kena auto rejec­tion kalau penu­ru­nan­nya terus tajam,” jelas Ito.

Auto rejection adalah peng­hen­­tian otomatis harga saham akibat kenaiakan atau penurunan yang signi­fikan. Harga saham Rp 50-Rp 200 terkena auto rejec­tion se­besar 35 persen, harga saham Rp 200-Rp 5.000 terkena auto rejec­tion 25 persen dan har­ga sa­ham Rp 5.000 terkena auto rejec­tion 20 persen. Sementara saat IPO auto rejec­tion ditetap­kan dua kali dari persentase nor­mal.

Terus melemahnya saham BUMI, lanjut Ito, seiring mele­mahnya bursa saham regional maupun global. “Kondisi harga jual ba­tubara kan terpengaruh oleh faktor eksternal sehingga mem­berikan dampak negatif kepada perus­ahaan,” katanya.

Dengan kon­disi seperti itu, dia meng­anggap penurunan harga saham masih dalam batas wajar dan bukan suatu hal yang tidak biasa. “Jadi, penurunan harga sa­ham BUMI itu normal,” kata Ito.

Ito menam­bah­kan, diumum­kannya tentang kinerja keuangan yang tidak baik membuat saham BUMI terus turun. Bahkan, kini saham ter­sebut juga memberikan efek pele­mahan pada saham di luar kelompok Bakrie.

“BUMI secara kapitalisasi re­latif tidak pengaruh dalam me­nekan IHSG seperti halnya di 2008. Hanya sentimen negatif­nya saja yang menyebar ke sa­ham-saham lain,” jelas penga­mat pasar modal David Cornelis.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 30 Agustus, harga sa­ham BUMI turun ke Rp 630. Se­men­tara, pada 8 Agustus lalu, sa­ham BUMI masih berada di harga Rp 1.140 per saham. Tapi sema­kin melemah tiap hari. Pada 15 Agus­­tus, saham ini su­dah berada di bawah Rp 1.000, yakni Rp 960.

Sejak keluarnya isu ‘bang­krut’ ini, harga saham BUMI terus melorot. Pada Senin, 27 Agus­tus, harga saham BUMI ditutup me­lemah Rp 50 ke Rp 890. Lalu pada Selasa, 28 Agustus kembali me­lemah Rp 130 ke Rp 760. Serta pada Rabu, 29 Agustus, sa­ham ini tu­run lagi Rp 90 ke Rp 670.

Sebelumnya, performa ke­uangan semester I-2012 BUMI sangat buruk dan solvabilitas sangat lemah. Bahkan, berda­sar­­kan metode altman score, ter­lihat bahwa koefisien Z BUMI sangat kecil, yakni 0,0982 saja. Maka da­pat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial.

Di sisi lain, David mengakui, terpuruknya IHSG tidak bisa di­lepaskan dari sentimen negatif dari bebe­rapa saham primadona yang turun akibat internal peru­sahaan, termasuk BUMI, pele­ma­han rupiah, serta naiknya de­fisit perdagangan Indonesia.

Menurut David, volatilitas di re­gional dan vulnerabilitas di global terlihat jelas relatif sudah sebagian terfaktorkan di bursa saham pada Agustus ini. Adapun bursa Eropa telah turun ke level terendah da­lam tiga minggu ter­akhir.

Direktur PT Bumi Resources Dileep Srivastava menepis ang­ga­pan BUMI bakal bangkrut. Menurut dia, per Juni 2012, ki­nerja operasional BUMI masih cukup kuat. Ini terlihat dari pen­jualan dan pro­duksi yang tumbuh 10 persen dan 8,6 persen. Pen­dapatan juga naik 8,6 persen menjadi 1,9 miliar dolar AS.

“Produksi BUMI on track untuk mencapai 100 juta ton pada 2014. Pembayaran utang juga tidak ada yang default,” ujar Dileep. [Harian Rakyay Merdeka]
Bakrie Telecom Bayar Obligasi Rp 650 Miliar
Penulis : Robertus Benny Dwi Koestanto | Minggu, 2 September 2012 | 14:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bakrie Telecom Tbk mengumumkan bahwa bagian tunai dari transaksi non preemptive rights senilai Rp 557 miliar, tuntas dibayarkan.

Bakrie Global Ventura menjadi pembeli utama, sehingga kepemilikan sahamnya di BTEL menjadi 6,8 persen.

“Ini hari besar untuk BTEL, karena di tengah-tengah situasi pasar yang begitu sulit, pasar terbukti percaya dengan model bisnis BTEL. Khususnya setelah kami fokus mengembalikan BTEL kepada kekuatan dan kelebihan utamanya yaitu operator telekomunikasi, dan data paling murah dan inovatif di Indonesia,” kata Presiden Direktur BTEL, Anindya Bakrie, di Jakarta, Minggu (2/9/2012) ini.

Sebelumnya diberitakan, BTEL juga memperoleh pinjaman konsorsium senilai 50 juta dollar AS, dengan bunga 11,5 persen dan tenor 18 bulan yang difasilitasi Credit Suisse pada akhir bulan lalu.

Keseluruhan dana tunai yang terkumpul dari NPR dan pinjaman langsung, digunakan untuk pembayaran obligasi perseroan senilai Rp 650 miliar. Selain itu, untuk pengembangan usaha khususnya meningkatkan pangsa pasar di layanan data.

Pada Jumat (31/8/2012) lalu, BTEL telah membayar Rp 250 miliar kepada pemegang obligasi BTEL berserta bunganya senilai Rp 19,3 miliar, melalui rekening Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

“Sisanya Rp 400 miliar lagi akan disetorkan oleh kreditur perseroanl, langsung kepada pemegang obligasi melalui rekening KSEI pada saat jatuh tempo,” tambah Direktur Keuangan BTEL, Jastiro Abi.

Selesainya proses tunai NPR, menunjukkan komitmen pemegang saham utama BTEL, dalam hal ini Grup Bakrie, terhadap pengembangan BTEL. Harga right issue yang disepakati adalah Rp 265 atau hampir dua kali lipat dari harga saham BTEL saat ini.
Editor :
Agus Mulyadi

BTEL Tambah Modal Tanpa HMETD

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Jumat, 31 Agustus 2012 | 14:08 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebesar 1.536.135.340 saham dengan harga pelaksanaan Rp265 per saham.

Hal itu disampaikan Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk Jastiro Abi, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (31/8/2012). Penerbitan saham dalam rangka penambahan modal tanpa HMETD tersebut dilakukan pada 29 Agustus 2012. PT Bakrie Global Ventura bertindak sebagai pihak pembeli. Total transaksi tersebut mencapai Rp407,07 miliar.

Adapun jumlah penambahan modal disetor dan ditempatkan perseroan tanpa HMETD sebesar 1.536.135.340 saham menjadi 30.584.590.654 saham dengan nilai nominal Rp100 per saham. [ast]

Harga saham melandai, ini tanggapan BUMI
Oleh Astri Kharina Bangun – Rabu, 29 Agustus 2012 | 17:53 WIB

kontan

JAKARTA. Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus melandai dalam beberapa bulan terakhir. Kendati demikian, perseroan masih optimistis dengan kinerja ke depan.

Direktur BUMI Dileep Srivastava mengakui tahun ini merupakan saat yang berat bagi pasar global. Khususnya, di sektor batubara yang mengalami tren penurunan harga jual.

“Namun, kami masih memperoleh harga yang lebih baik dibandingkan yang lain. Selain itu, penjualan kami meningkat lebih dari 10% dibandingkan tahun lalu,” ujar Dileep kepada KONTAN, Rabu (29/8).

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2012, BUMI mencatat kenaikan pendapatan 14,12% menjadi US$ 1,94 miliar dibandingkan periode serupa tahun lalu. Volume penjualan perseroan naik 10,4% menjadi 32,3 juta ton dari 29,3 juta ton pada semester pertama 2011.

Meski demikian, anak usaha Grup Bakrie ini membukukan rugi bersih sebesar US$ 231,68 juta dibandingkan laba bersih semester I 2011 sebesar US$ 231,68 juta. Pemicunya adalah kerugian transaksi derivatif senilai US$ 145,82 juta pada semester I 2012 sementara di periode yang sama tahun lalu perseroan justru meraup laba senilai US$ 212,26 juta.

Dileep menyatakan perseroan akan tetap transparan, tanggap, dan bertahan menghadapi tantangan eksternal. Kuncinya adalah mengupayakan pendapatan dan produksi semakin besar. “Selain itu, mengusahakan turunnya komisi penjualan dan operasional yang lebih kuat,” kata Dileep.

Ia menambahkan, biaya masa lalu telah dicatat sepenuhnya pada semester pertama dengan standar akuntansi yang baru, sejalan dengan praktik internasional. Ini menunjukkan BUMI fokus dan siap mengambil keuntungan penuh dari peluang yang akan datang.

Hari ini saham-saham Bakrie berguguran

Oleh Rika Theo, Dyah Ayu Kusumaningtyas - Rabu, 29 Agustus 2012 | 17:41 WIB
kontan

JAKARTA. Saham-saham yang terkait Grup Bakrie berguguran. Mereka mengikuti saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang rontok 11,48% hari ini (29/8).

Saham-saham tersebut sempat amblas dalam perdagangan sepanjang hari ini. Saham BRMS sempat terjun 17%, saham VIVA juga ikut terpangkas terdalam 14%, dan saham BTEL juga sempat turun 9%.

“Kinerja mereka belakangan ini mengecewakan, membuat investor melepas saham-saham tersebut,” kata Analis First Asia Capital David Nathanael Sutyanto kepada KONTAN, Rabu (29/8).

Secara teknikal, saham-saham Bakrie masih dalam tren turun. “Dalam beberapa waktu ke depan, mungkin ada sedikit technical reboundnamun belum ada tren pembalikan arah untuk naik,” jelas David.

Kita bisa melihatnya menjelang penutupan bursa. Saham-saham tersebut mulai tampak naik sehingga di akhri perdagangan harga mereka tampak turun tidak terlalu banyak.

Contohnya seperti saham BRMS yang ditutup turun 3,09%. “Padahal tadi sempat turun 17%,” kata David. Begitu juga dengan saham BTEL yang ditutup hanya turun 5%-an, bahkan VIVA malah hanya turun 1,39%.

Berikut harga saham-saham terkait Grup Bakrie di akhir perdagangan:

Saham Persentase penurunan Harga penutupan (Rp)
BUMI -11,48 670
BTEL -5,56 139
BRMS -3,09 470
VIVA -1,39 710
BRAU -14,29 240
UNSP -3,68 131
ENRG -8,91 92

Sedangkan tiga lainnya, yaitu saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) tak bergerak, PT Dharma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sudah tak bisa turun lagi dari level terendahnya sehingga bertengger di Rp 50.

Apa pelaku pasar masih bisa masuk?

Kata David, momen sentimen negatif fundamental grup ini bisa dijadikan trader sebagai ajang spekulasi. Namun, spekulasi ini akan berisiko besar mengingat kinerja BUMI yang buruk.

Bahkan David sama sekali tidak memberikan rekomendasi untuk semua saham terkait Bakrie ini, walaupun besok ada kemungkinan naik.

Tapi, David bilang, untuk investor yang berani masuk ke saham-saham ini, bisa menunggu harga di bawah. Misalnya BRMS yang support terdekatnya di Rp 445, tapi bila tembus akan menuju level Rp 390. Lalu VIVA dengan support terdekat di Rp 640 dan selanjutnya di Rp 580. Adapun support terdekat ENRG di Rp 88.

“Jika kinerjanya membaik di akhir tahun, maka harga saham berpotensi reversal. Tapi ini tergantung kinerja mereka ke depan. Apakah bisa mengelola utang dan memperbaiki kinerja mereka,” ulas David.

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk, emiten sawit di bawah kendali Grup Bakrie,
telah melunasi utang obligasi US$150 juta yang jatuh tempo pada 15 Juli 2012.

Sekretaris Perusahaan Bakrie Sumatera Fitri Barnas mengatakan pada 11 Juli 2012
perseroan telah menandatangani fasilitas pinjaman maksimum senilai US$199,6 juta
dari beberapa institusi keuangan. (bisnis/uth)
JAKARTA. Saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) pagi ini bergerak positif. Pada pukul 10.12, saham ELTY menanjak 1% menjadi Rp 175.

Minat investor terhadap saham ini terkait dengan kinerja perusahaan. Asal tahu saja, hingga paruh pertama tahun 2012, marketing sales unit usaha city property Bakrieland Development, yakni PT Bakrie Swasakti Utama (BSU) diperkirakan sudah tumbuh dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 300 miliar.

Dengan marketing sales Rp 50 miliar-Rp 60 miliar setiap bulannya, perusahaan belum merasa perlu merevisi target Rp 600 miliar hingga akhir tahun.

Menurut Betrand Reynaldi, Kepala Riset eTrading Securities, ELTY memiliki sejumlah proyek besar. Sebut saja proyek-proyek yang berada di CBD Jakarta (Kuningan) seperti Rasuna Epicentrum, atau Bakrie Tower dan beberapa Gedung Perkantoran lainnya.

“Investor mengharapkan penjualan The Grove dan Wave Condominium dapat memicu kenaikan penerimaan (revenue) perusahaan lebih tinggi lagi di tahun
2012 ini,” jelasnya. Berdasarkan konsensus Bloomberg, tiga analis merekomendasikan buy, satu analis merekomendasikan hold, dan satu analis merekomendasikan sell.

http://investasi.kontan.co.id/news/outlook-kinerja-positif-saham-elty-diburu/2012/07/03

Sumber : KONTAN.CO.ID
Kontribusi Newmont ke Laba BRMS Turun

Oleh: Charles Maruli Siahaan
pasarmodal – Senin, 2 Juli 2012 | 15:44 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kontribusi laba bersih dari PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) ke PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terus mengalami penurunan.

Dalam keterangan tertulis manajemen perseroan di Jakarta, Senin (2/7/2012) disebutkan ini disebabkan terjadinya penurunan produksi tembaga dan emas dari wilayah tambang Batu Hijau di konsesi NNT. Pada kuartal pertama 2012, produksi tembaga dan emas dari lokasi tambang Batu Hijau mengalami penurunan masing-masing sebesar 49% dan 76%.

Penurunan produksi yang bersifat sementara ini telah diantisipasi sebelumnya yang disebabkan oleh pengembangan fase 6 di wilayah tambang Batu Hijau yang sedang berjalan. Setelah pengembangan fase 6 dapat diselesaikan pada akhir tahun ini, NNT diharapkan dapat meningkatkan produksi tembaga dan emasnya secara signifikan di tahun 2013.

BRMS juga berharap dapat menyelesaikan kegiatan pemboran eksplorasi pada 2 lokasi di konsesi Gorontalo Minerals (Sungai Mak dan Cabang Kiri) dan 1 lokasi di konsesi Citra Palu Minerals (Poboya) sebelum akhir tahun ini. Oleh karenanya estimasi sumber daya berdasarkan standar JORC dari lokasi-lokasi tersebut diharapkan dapat segera di selesaikan.

Sementara, konsesi seng dan timah hitam yang dioperasikan oleh Dairi Prima Mineral juga diharapkan dapat segera mengonversikan Izin Prinsip Penambangan Bawah Tanahnya menjadi Izin Pinjam Pakai Kegiatan Eksploitasi melalui penambangan bawah tanah dalam waktu dekat ini. [hid]

Perusahaan keluarga Bakrie melalui kendaraannya PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dikenal licin melakukan bongkar pasang portofolio usaha

Bak pendekar dalam laga silat yang memilki 10 nyawa, dalam kondisi keuangan yang sulit grup Bakrie tetap mampu bertahan melakukan aksi korporasi.

Perusahaan keluarga Bakrie melalui kendaraannya PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dikenal licin melakukan bongkar pasang portofolio usaha.

Meski Bakrie & Brothers terus menjual anak usaha untuk melunasi utangnya, namun perusahaan investasi ini selalu menemukan cara mengganti kontribusi anak usaha yang menjadi andalan utama perusahaan.

“Penjualan anak usaha yang memiliki kinerja bagus, merupakan salah satu strategi Bakrie & Brothers sebagai investment holding company,” kata analis Horizon Research, Vicky Pranadjaya, dalam risetnya yang dikirim Beritasatu.com.

Pada periode 2008-2010, perkebunan menjadi segmen yang memberi kontribusi besar terhadap laba usaha perusahaan dengan menyumbangkan laba usaha tertinggi dibandingkan segmen lainnya. Namun Sejak tahun 2010, Bakrie & Brothers melakukan shifting portofolio usaha dari sektor perkebunan pada segmen perdagangan, jasa, dan investasi.

Pada 2008, kontributor pendapatan terbesar berasal dari segmen perkebunan dengan menyumbang 34,88 persen, berikutnya insfratruktur sebesar 34,55 persen dan sektor telekomunikasi 30,57 persen.

Pada 2009, komposisi pendapatan sedikit berubah. Kontribusi terbesar berasal dari sektor telekomunikasi 40,33 persen, disusul sektor perkebunan 30,47 persen, dan infrastruktur 29,2 persen.

Di 2010, terdapat segmen baru yaitu segmen perdagangan, jasa, dan investasi. Di dalamnya terdapat penjualan dari sektor komoditas seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan perusahaan patungan Bumi Borneo dengan kontribusi sebesar 50,82 persen terhadap pendapatan konsolidasi perusahaan.

Pada 2011, segmen perdagangan, jasa, dan investasi kembali menjadi kontributor terbesar dengan presentase sebesar 65,17 persen, dan segmen perkebunan menjadi tidak ada. Pasalnya, Bakrie & Brothers melakukan penjualan saham Bakrie Sumatera Plantations untuk melunasi sebagian utangnya sehingga kepemilikannya hanya menjadi 29,80 persen.

“Dengan demikian pendapatan Bakrie Sumatera Plantations tidak lagi dikonsolidasikan ke Bakrie & Brothres, karena sudah kehilangan kepemilikan mayoritas pada saham tersebut,” kata Vicky.

Adapun Bakrie Telecom kata Vicky, memiliki utang besar dengan kinerja yang tidak terlalu baik. Tak heran, Bakrie & Brothers mulai mengurangi portofolio investasinya karena dinlai memberatkan. Ketidakikutsertaan BNBR dalam riggt issue tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) Bakrie Telecom beberapa wakjtu lalu, mengisyaratkan Bakrie & Brothers tidak mau investasi lagi di perusahaan telekomunikasi milik grup Bakrie tersebut.

“Ssegmen perdagangan, jasa, dan investasi baru berkontribusi terhitung mulai 2010 dengan cakupan pendapatan dari penjualan sumber daya alam (resources), serta investasi atas perusahaan asosiasi ataupun perdagangan surat berharga lainnya,” kaat Vicky.

Dia menjelaskan, shifting portolfolio bukan karena UNSP dan sektor perkebunan memiliki kinerja buruk. Namun, manajemen menilai Bakrie sudah tidak cocok lagi dengan target return perusahaan investasi karena permintaan dan pasokannya sudah terbatas. Selain itu, target price yang dinginkan sudah tercapai.

Pendapat berbeda diungkapkan Kepala riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo yang menilai, Bakrie Sumatera Plantations tidak terlalu bagus sekali. Apalagi mengacu pada laporan kekuangan 2011, tanaman menghasilkan perseroan mengalami penurunan menjadi hanya Rp117,157 miliar turun dari 2010 sebesar Rp293,429 miliar. Padahal, jumah lahan yang menghasilkan meningkat menjadi 96.865 ha (hektar) dari 2010 sebesar 90.178 ha

Di sisi lain, pendapatan dari tanaman belum menghasilkan Bakrie Sumatera Plantations meningkat Rp175 miliar di 2011 dari Rp127 miliar pada 2010. Sementara dari sisi jumlah lahan adalah 25.694 ha (2011) dari 33.885 ha (2010) dan 19.961 ha (2009).

Namun Bakrie memang cerdik. Saat melepas perusahaan di sektor perkebunan, perusahaan mampu menemukan penggantinya dari segmen lainnya, yakni perdagangan, jasa, dan investasi.

Penjualan anak usaha tidak membuat kinerja Bakrie & Brothers menjadi turun, terbukti perusahaan dengan cepat mampu menemukan penggantinya melalui BUMI Plc. Ke depan, Bakrie Brothers akan fokus ke energi dan infrastruktur melalui PT Bakrie Energy International dan PT Bakrie Indo Infrastructure. Meski demikian, perseroan masih mempertahankan kepemilikannya di Energi Mega Persada, Bumi Plc, dan Bakrieland Development.

Kontribusi pendapatan per sektor terhadap total pendapatan Bakrie & Brothers periode 2008-2011:

2008:Infrastruktur (34,55 persen), Perkebunan (34,88 persen), Telekomunikasi (30,57 persen)

2009: Infrastruktur merugi Rp73 miliar, Perkebunan (30,47 persen), Telekomunikasi (40,33 persen)

2010:Perdagangan, jasa dan investasi, (50,82 persen), Infrastruktur (11,87 persen), Perkebunan (18,16 persen), Telekomunikasi (19,15 persen)

2011:Perdagangan, jasa dan investasi, (65,17 persen), Infrastruktur (15,98 persen), Telekomunikasi (18,85 persen)

Kontribusi laba usaha per sektor terhadap total pendapatan Bakrie & Brothers periode 2008-2011:

2008:Infrastruktur Rp100 miliar, Perkebunan Rp759 miliar, Telekomunikasi Rp390 miliar

2009: Infrastruktur merugi Rp73 miliar, Perkebunan Rp470 miliar, Telekomunikasi Rp303 miliar

2010:Perdagangan, jasa dan investasi merugi Rp5 triliun, Infrastruktur Rp16 miliar, Perkebunan Rp849 miliar, Telekomunikasi Rp208 miliar

2011:Perdagangan, jasa dan investasi Rp1,698 triliun, Infrastruktur merugi Rp50 miliar, Telekomunikasi merugi Rp95 miliar

Investasi Bakrie & Brothers pada anak usaha dan perusahaan asosiasi periode 2008-2011:

2008: Bakrie Telecom (49,13 persen), Energi Mega Persada (43,20 persen), Bakrieland Development (14,85 persen), Bumi Resources (16,46 persen), Bakrie Sumatera (65,28 persen).

2009: Bakrie Telecom (45,58 persen), Energi Mega Persada (43,20 persen), Bakrieland Development (20,95 persen), Bumi Resources (19,15 persen), Bakrie Sumatera (41,78 persen).

2010: Bakrie Telecom (45,58 persen), Energi Mega Persada (8,75 persen), Bakrieland Development (8,14 persen), Bumi Resources (20,50 persen), Bakrie Sumatera (27,42 persen).

2011: Bakrie Telecom (29,95 persen), Energi Mega Persada (8,75 persen), Bakrieland Development (8,14 persen), Bumi Resources (10,23 persen), Bakrie Sumatera (27,42 persen), dan Borneo Lumbung Energy (27,42 persen).

http://www.beritasatu.com/ekonomi/57590-bakrie-dikenal-licin-bongkar-pasang-portofolio.html

Sumber : BERITASATU.COM

September 16, 2010

kasus b-life: BURUAN … lah : 300611

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 9:09 am

Rabu, 29/06/2011 11:28 WIB
Karyawan Heran Bakrie Life Tak Bisa Bayar Pesangon Rp 3 Miliar
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Para karyawan PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) menyesalkan sikap manajemen yang baru saja melunasi dana pokok nasabah hingga Rp 18 miliar bulan lalu. Pasalnya, pesangon dan gaji karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang sebesar Rp 3 miliar tidak bisa dibayar tunai.

Demikian disampaikan Perwakilan dari Forum Karyawan Bakrie Life Menggugat (FKBLM) Robby kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (29/6/2011).

“Kamis, 30 juni 2011 adalah sidang gugatan ke 4. Gugatan kami FKBLM sih simpel saja, kalau mau PHK harus ada penetapan LPPHI (Lembaga Penyelesaian Hubungan Industrial). Kalau mau bayar pesangon dan gaji sejak November 2010 (8 bulan) yang sekitar Rp 3 miliar harus dibayar tunai,” kata Robby.

Dirinya menyesalkan manajemen yang beralasan tidak memiliki dana untuk membayarkan. Oleh karena itu, sambung Robby manajemen menjaminkan surat utangnya.

“Jangan pakai surat utang, kalau bilang ngga ada duitnya, yang benar saja. Baru-baru ini, bayar bunga ke nasabah Rp 18 miliar tunai kok bisa? April lalu Rp 17 miliar tunai kok bisa?,” keluhnya.

Sekedar info, Robby mengatakan bunga untuk nasabah Diamond Investa (DI) sampai sekarang ini masih di atas 9%. Apalagi dahulu, menurut Robby lebih fantastis lagi.

“Coba bandingkan dengan bunga nett dari Bank yang hanya sekitar 3%, berapa kali lipat besarnya bunga DI? Untuk sekali bayar bunganya saja, nilainya belasan miliar. Mati-matian Top Manajemen mengusahakan pembayaran, bahkan sampai rela mengemis-ngemis ke Pemegang Saham, Sebenarnya ada apa?,” tuturnya.

“Kalau nasabah DI, bisa dibela mati-matian, kenapa karyawan yang sudah mengabdi begitu lama dan dengan jumlah rupiah yang jauh lebih kecil tidak dibela? Ada apa? Siapa nasabah-nasabah itu?,” imbuh Robby.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Dirjen pembinaan hubungan industrial dan jaminan sosial tenaga kerja kemenakertrans, Myrna M Hanartani mengatakan, sesuai aturan pesangon harus dibayarkan secara tunai dan dalam jumlah yang penuh, dan dengan tegas mengatakan Pemerintah melarang pesangon dibayar pakai surat utang.

“Kami berharap Depnakertrans dan Komisi IX DPR, dapat memberi pencerahan kepada para Top Management Bakrie Life untuk patuh menjalankan aturan-aturan yang berlaku,” tukasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto mengklaim hampir sebagian karyawan setuju Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan perusahaan, termasuk pembayaran pesangon menggunakan surat utang Medium Secure Note (MSN) pada Januari 2012 sesuai jatuh tempo.

Menurut Timoer hanya sekitar 20 orang karyawan yang tidak setuju, selebihnya menyetujui mekanisme pembayaran pesangon sesuai keputusan perusahaan.

Sejumlah karyawan Bakrie Life sudah mengajukan gugatan karena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak dan pembayaran pesangon dengan surat utang pada Mei 2011 lalu.

(dru/dnl)
PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) mulai mencicil kembali dana pokok nasabah Diamond Investa beserta pembayaran bunga sebesar Rp 18 miliar. Dana pokok yang sudah jatuh tempo tetapi belum dilunasi kini menjadi tinggal Rp 48 miliar.

“Per 3 Juni 2011 sudah dibayarkan, termasuk pokok sekitar Rp 18 miliar. Bunga sudah sampai Mei 2011,” ujar Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto kepada detikFinance di Jakarta, Senin (6/6/2011).

Adapun perinciannya, cicilan dana pokok per September 2010 (hanya 55%) dan bunga Maret, April dan Mei 2011 sudah diterima oleh nasabah. “Sehingga angsuran pokok tertunggak sekitar Rp 48 miliar,” tambahnya.

Dihubungi secara terpisah, perwakilan nasabah Diamond Investa Bakrie Life dari Jakarta Yoseph mengungkapkan rasa terima kasihnya atas pembayaran tersebut oleh Bakrie Life.

“Saya mewakili Nasabah Diamond Investa Bakrie Life mengucapkan Terima Kasih kepada Tuhan yang sudah mendengar Doa kami. Hanya dengan Berdoa dan Berusaha semua masalah dapat diatasi. Nasabah juga berterima kasih kepada Bapak Nirwan Bakrie, Group Bakrie termasuk Bapepam-LK dan Komisi XI yang telah mengawal dan menegur grup Bakrie ketika tidak patuh terhadap SKB (Surat Kesepakatan Bersama),” paparnya.

Yoseph mengharapkan, kedepan Group Bakrie dapat membayar cicilan dan kewajiban terhadap nasabah secara tepat waktu sesuai SKB.

“Nasabah minta tolong dengan segala hormat kepada Group Bakrie untuk dapat membayar tepat waktu sesuai SKB. Untuk sisa cicilan pokok September 2010 (sisa 45%), Desember 2010 dan Maret 2011 belum dapat dibayarkan oleh Bakrie Life. Nasabah selalu Berdoa supaya Tuhan memberkati Group Bakrie sehingga dapat membayar semua cicilan pokok dan bunga tersebut,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% di 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga di 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%). Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan
dananya di atas Rp 200 juta.

Sumber: detikcom
PT Asuransi Jiwa Bakrie atau Bakrie Life melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak terhadap sejumlah karyawannya. PHK itu juga menyalahi aturan karena pembayaran pesangonnya memakai surat utang.

“Bakrie Life melakukan PHK sepihak kepada para karyawannya dengan iming-iming pembayaran uang pesangon dan hak-hak lain yang seharusnya diterima dengan suatu surat utang (MSN),” ujar Redynal Saat, kuasa hukum dari Forum karyawan Bakrie Life Menggugat (FKBLM) kepada detikFinance, Kamis (19/5/2011).

Redynal mewakili 17 karyawan Bakrie Life mulai dari level staf hingga vice president (VP) akhirnya mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Rabu (18/5/2011) kemarin. Para karyawan tersebut memiliki masa kerja 5 hingga 20 tahun di Bakrie Life.

Ia mengungkapkan, akibat tersendatnya investasi yang juga berakibat tersendatnya pembayaran dana nasabah, karyawan Bakrie Life pun ikut menjadi korban. Bakrie Life memutuskan untuk melakukan PHK sebagian karyawannya, namun pesangon tidak diberikan dalam bentuk tunai melainkan surat utang.

“Hal ini sungguh sudah sangat menciderai rasa keadilan para karyawan yang sudah mengabdi begitu lama di Bakrie Life. Iming-iming uang pesangon dengan suatu surat utang (MSN) tidak ada yang bisa menjamin pembayarannya dan kapan akan dibayarkan,” katanya.

Ditambahkan Redynal, FKBLM sebenarnya sudah mengirim surat 3-4 kali untuk meminta pertemuan dengan manajemen Bakrie Life. Pertemuan dengan melibatkan pihak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) juga sudah diajukan, namun manajemen Bakrie Life tidak pernah menampakkan diri.

“Akhirnya kita mengajukan gugatan ke PN Jakarta Selatan kemarin,” imbuhnya.

Bakrie Life memang sedang dibelit masalah keuangan. Dana nasabah Danamon Investa hingga saat ini juga masih terkatung-katung.

Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% di 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga di 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%). Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan
dananya di atas Rp 200 juta.

Sampai dengan kini, perusahaan asuransi milik Grup Bakrie tersebut terancam dicabut izin usahanya. Pasalnya, Bapepam-LK mencatat Bakrie Life termasuk ke dalam perusahaan yang bermodal di bawah Rp 40 miliar, dan sesuai ketentuan hingga Maret 2011 perusahaan asuransi harus memenuhi batas permodalan tersebut.

Sumber: detikcom
Tindakan PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) menunggak pembayaran cicil pengembalian dana pokok nasabah Diamond Investa kembali terulang. Janji manajemen Bakrie Life untuk membayar cicilan dana pokok yang tertunggak selama tiga periode, yakni masing-masing sebesar 6,25 persen dari total dana nasabah paling lambat akhir April 2011, cuma isapan jempol.

Hingga saat ini, manajemen Bakrie Life dinilai belum juga memperlihatkan itikad baik untuk memenuhi kewajibannya kepada nasabah yang tersangkut kasus gagal bayar produk asuransi berbasis investasi senilai Rp 360 miliar itu. Padahal, surat kesepakatan bersama menyebutkan, pengembalian dana pokok akan dilakukan dengan skema mencicil per tiga bulan sejak 2010-2012, dengan cicilan bunga dibayar setiap bulan.

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Nurhaida mengaku, pihaknya akan memanggil kembali manajemen Bakrie Life untuk mencari jalan memenuhi kewajiban kelompok usaha Bakrie itu kepada para nasabahnya. “Sekarang ini kami masih menunggu itikad baik Bakrie Life. Nanti akan dipanggil dan ditanya penyelesaiannya seperti apa,” ujarnya akhir pekan lalu.

Awal Maret 2011, manajemen Bakrie Life sempat membayar cicilan bunga yang tertunggak sejak Juli 2010 hingga Februari 2011. Ketika itu, manajemen berjanji akan membayar cicilan dana pokok sesegera mungkin paling lambat akhir Maret 2011. “Kami tinggal menunggu drop dana dari induk usaha, Bakrie Capital Indonesia (BCI),” ujar Direktur Utama Bakrie Life Timoer Soetanto.

Alih-alih terbayar pada bulan berikutnya, manajemen Bakrie Life malah kembali mengingkari janjinya, bahkan hingga lewat April ini. Dengan demikian, total pengembalian dana pembayaran cicilan pokok yang tertunggak mencapai 18,75 persen dari masing-masing dana nasabah untuk tiga periode, yaitu September dan Desember 2010 serta Maret 2011.

Perwakilan nasabah Diamond Investa-Bakrie Life, Yoseph, mengungkapkan, para nasabah khawatir pengembalian dana dengan skema mencicil sampai 2012 ini menjadi terbengkalai dan sangat mungkin melanggar surat kesepakatan bersama. Maka, Yoseph meminta, selain regulator, asosiasi terkait juga harus ikut campur dalam penyelesaian kasus Bakrie Life dengan nasabahnya.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/02/07464531/Bakrie.Life.Kembali.Tunggak.Cicilan

Sumber : KOMPAS.COM
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) akan memanggil kembali pihak PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) terkait tunggakan dana nasabah. Bapepam-LK masih menantikan itikad baik Bakrie Life membayar kembali tunggakan kepada nasabah Diamond Investa hingga akhir bulan April 2011.

Demikian disampaikan Ketua Bapepam-LK Nurhaida di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (28/4/2011).

“Kita sedang menunggu juga penyelesaian seperti apa. Kita lihat akhir bulan ini kita belum ngomong dengan Bakrie Life. Kita lihat akhir bulan ini,” kata Nurhaida.

Ia menambahkan, Bapepam-LK dalam posisi menunggu penyelesaian yang dilakukan manajemen Bakrie Life. Bapepam-LK akan kembali memanggil manajemen Bakrie Life terkait masalah tunggakan pembayaran tersebut.

“Nanti kita akan panggil lagi dan kita tanyakan ke mereka planning bagaimana. Tapi saya harap mereka bisa selesaikan, karena itu sesuatu yang direncanakan oleh Bakrie Life dan kita tahu mereka juga kesulitan keuangan. Kami melihat ada komitmen dan itikad baik dari pemegang saham untuk selesaikan,” tambahnya.

Sebelumnya, manajemen Bakrie Life masih mencari utangan melalui induk usahanya yaitu Bakrie Capital Indonesia (BCI). Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto mengatakan, sampai saat ini perusahaan asuransi yang dipimpinnya belum juga mendapatkan kepastian mengenai suntikan dana.

“Belum tahu, infonya dari grup dana dari luar (negeri) belum cair. Grup sedang mencarikan sumber dana alternatif dari dalam (negeri),” kata Timoer.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya diatas Rp 200 juta.

Sumber: detikcom
PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) lagi-lagi mengingkari janjinya untuk melunasi cicilan dana pokok nasabah Diamond Investa. Bakrie Life tadinya berjanji dapat mencicil dana nasabah di 31 Maret 2011.

Untuk pembayaran pokok Juni dan Desember 2010 yang sedianya akhir Maret ini, sampai kemarin sore kami belum dapat dropping dari group,” ujar Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto, kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (31/3/2011).

Menurut Timoer, pihak pemegang saham Bakrie Life yakni PT Bakrie Capital Investment menyatakan kemungkinan besar terlambatnya pembayaran sampai April 2011 nanti. “Mudah-mudahan tidak terlalu lama. Group masih terus mengusahakan dan kami akan follow up terus karena sudah perintah pemegang saham,” kata Timoer.

Seperti diketahui, Bakrie Life baru membayarkan kembali tunggakan kepada nasabah Diamond Investa. Namun Bakrie Life hanya membayar bunga tertunggak pada periode Juli 2010 hingga Februari 2011 dengan jumlah Rp 17 miliar. Cicilan dana pokok nasabah yang belum dibayar dijanjikan akan dilunasi pada akhir Maret 2011.

Sebelumnya pula, manajemen menjanjikan pembayaran tunggakan bunga dari Juli 2010 sampai Desember 2010 pada 28 Januari 2011. Bakrie Life juga menyatakan akan membayarkan dana pokok nasabah Diamond Investa di akhir Maret 2011.

Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% di 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga di 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya di atas Rp 200 juta.

Sumber: detikcom
Selasa, 22/03/2011 08:20 WIB
Bakrie Life Baru Bayar Tunggakan Bunga Nasabah Rp 17 Miliar
Herdaru Purnomo – detikFinance
Jakarta – PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) akhirnya membayarkan kembali tunggakan kepada nasabah Diamond Investa. Namun Bakrie Life hanya membayar bunga tertunggak pada periode Juli 2010 hingga Februari 2011 dengan jumlah Rp 17 miliar. Cicilan dana pokok nasabah yang belum dibayar akan dilunasi pada akhir Maret 2011.

Demikian disampaikan oleh Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (22/3/2011).

“Bunga tertunggak Juli 2010 hingga Februari 2011 sudah dibayar sekitar Rp 17 miliar jumat lalu. Tapi dana pokok periode September 2010 dan Desember 2010 belum,” ujar Timoer.

Ia berjanji cicilan dana pokok tersebut akan dibayarkan pada akhir bulan Maret 2011 ini. Timoer juga berharap dana pokok yang dibayarkan akan tepat waktu sehingga tidak lagi meleset.

“Sesuai statement yang kami sampaikan kemarin cicilan dana pokok akan dibayarkan di akhir Maret 2011. Mudah-mudahan tidak meleset,” tegasnya.

Sebelumnya, manajemen menjanjikan pembayaran tunggakan bunga dari bulan Juli 2010 sampai Desember 2010 pada 28 Januari 2011. Bakrie Life juga menyatakan akan membayarkan dana pokok nasabah Diamond Investa di akhir Maret 2011.

Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga di 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya di atas Rp 200 juta.

(dru/qom)

Bapepam Desak Bakrie Life Segera Bayar Utang
Minggu, 20 Maret 2011 – 15:50 wib

JAKARTA – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mendesak PT Asuransi Jiwa Bakrie Life (BL) untuk segera memenuhi kewajiban tertunggaknya kepada nasabah Diamond Investa.

Adapun, Bakrie Life telah membayar bunga tertunggak selama delapan bulan pada akhir pekan lalu. Manajemen Bakrie Life telah berkomitmen membayar cicilan pokok September-Desember 2010 pada akhir bulan ini.

“Kita lihat saja, mudah-mudahan (janjinya) tepat kali ini,” kata Kepala Biro Perasuransiaan Isa Rachmatarwata, saat dihubungi, Minggu (20/3/2011).

Untuk merealisasikan janji tersebut, Ketua Bapepam-LK Nurhaida terus meminta manajemen dan pemegang saham BL untuk memenuhi kewajiban BL yang tersisa.

Bapepam-LK juga rutin membicarakan upaya penyelesaian kewajiban tersebut kepada perusahaan asuransi dan pemegang sahamnya, yakni Bakrie Capital Indonesia (BCI).

“Kami akan berbicara terus dengan manajemen dan pemegang saham BL agar segera membayar tunggakan pokoknya dan lebih tertib untuk membayar cicilan berikutnya,” tutur Isa.

Berdasarkan informasi yang diterima, total bunga tertunggak selama periode Juli 2010-Februari 2011, yang telah dibayar manajemen BL kepada nasabah Diamond Investa mencapai Rp17 miliar.

Perwakilan nasabah Diamond Investa BL Yoseph ketika dikonfirmasi mengenai total kewajiban yang dibayar manajemen BL pada akhir pekan lalu, enggan menyebutkan nilainya. Dia hanya menuturkan, Bakrie Life pada Jumat
(18/3) sudah membayar bunga tertunggak periode Juli 2010-Februari 2011.

“Bunga tertunggak sudah dibayar dan saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang banyak membantu,” katanya.

Kendati demikian, Bakrie Life belum melunasi cicilan pokok tertunggak kepada nsabah Diamond Investa periode September-Desember 2010. Nasabah Diamond Investa berharap, cicilan pokok tertungak tersebut bisa dilunasi manajamen BL dibantu pemegang sahamnya, yakni Bakrie Capital Indonesia (BCI) paling lambat akhir bulan ini.

Janji pembayaran bunga tertunggak maupun cicilan pokok tersebut sempat tertunda beberapa kali. Bahkan, nasabah pernah mengancam akan melakukan demo besar-besaran di sejumlah titik strategis di Jakarta, seperti Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan Gedung DPR.

Direktur Utama BL Timoer Sutanto pada pekan ketiga Januari 2010 sempat berjanji akan menyelesaikan bunga tertunggak pada akhir Januari 2011, sedangkan cicilan pokok tertunggak pada akhir Maret 2011.

Seperti diketahui, Bakrie Life melakukan gagal bayar produk Diamond Investa senilai Rp360 miliar. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB), perusahaan menawarkan pengembalian dana nasabah dengan cara mencicil, yang dimulai 2010-2012.

Skema yang ditawarkan, yakni 25 persen pada 2010, yang dibayar senilai 6,25 persen selama empat kali pada setiap akhir kuartal tahun ini. Selanjutnya, nilai yang sama dibayarkan pada tahun depan dengan skema yang sama dan pembayaran terakhir sebesar 50 persen pada 2012.

Perusahaan hingga saat ini baru memenuhi kewajiban sebesar 12,5 persen, yang dibayar pada Maret dan Juni 2010, sedangkan cicilan pokok dan bunga akhir kuartal berikutnya belum dibayar. Selanjutnya, Bapepam akan mencabut izin Bakrie Life jika perusahaan asuransi tersebut sudah memenuhi kewajibannya kepada nasabah.(J Erna/Koran SI/ade)
Sabtu, 05/03/2011 10:01 WIB
Bapepam Desak Bakrie Life Bereskan Dana Nasabah Akhir Maret
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memberi deadline hingga Maret 2011 kepada manajemen PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) dan Bakrie Capital Indonesia (BCI) untuk menyelesaikan tunggakan bunga dan pembayaran pokok bulan September-Desember yang belum lunas atas produk Diamond Investa.

Menurut Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto, instruksi ini langsung datang dari Ketua Bapepam-LK, Nurhaida, yang hari ini memanggil manajemen serta pemegang saham (BCI) terkait penjelasan penyelesaian gagal bayar produk asuransi berbasis investasi sebesar Rp 360 miliar.

“Bapepam harapkan akhir Maret ini, pokoknya yang dijanjikan kami sebelumnya,” jelasnya di kantor Bapepam-LK, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (4/3/2011).

Atas permintaan Bapepam-LK, manajemen berjanji akan semaksimal mungkin untuk mentaatinya. Pasalnya hingga kini, BCI tetap terus mengusahakan dana dari berbagai pihak.

“BCI usaha terus, saya tahu persis diusahakan,” tambahnya.

Timoer menyebutkan, pengembalian dana nasabah terdiri dari pembayaran pokok yang belum terbayar si periode September-Desember. Juga pelunasan atas bunga tunggakkan di Juli 2010.

“Secepatnya, bunga tunggakan dan pembayaran pokok September-Desember. Semuanya akhir Maret,” ucapnya.

Bapepam, dalam pertemuan tadi juga belum berencana mencabut izin usaha Bakrie Life. Pengenaan sanksi lanjutan baru akan dilaksanakan jika perusahaan asuransi grup Bakrie ini, tuntas menyelesaikan skema pembayaran.

“Belum akan dicabut. Masih dalam penyelesaian. Mereka (nasabah) kecewa tapi mereka tetap percaya, karena dibawah grup besar,” imbuh Timoer.

“Bagi manajemen Bakrie Life, Bapepam juga bilang saya harus menjaga komunikasi terus dengan nasabah, dan juga ke media,” pungkasnya.

Seperti diketahui, sesuai surat kesepakatan bersama (SKB), manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Pembayaran 25% dilakukan pada 2010, dicicil empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga di 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya di atas Rp 200 juta.

Sampai dengan kini, perusahaan asuransi milik Bakrie Grup tersebut terancam dicabut izin usahanya. Pasalnya, Bapepam-LK mencatat Bakrie Life termasuk kedalam perusahaan yang bermodal dibawah Rp 40 miliar dimana sesuai ketentuan hingga Maret 2011 perusahaan asuransi harus memenuhi batas permodalan tersebut.

Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, Isa Rachmatarwata mengakui terdapat 11 perusahaan asuransi yang bermodal masih dibawah Rp 40 miliar.

(wep/ang)
Kamis, 03/03/2011 09:44 WIB
Nasabah Minta Menkeu Tak Cabut Izin Bakrie Life
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Nasabah Diamond Investa PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) memohon kepada Menteri Keuangan Agus Martowardoyo untuk tidak mencabut izin usaha asuransi milik Grup Bakrie tersebut. Nasabah meminta agar Bakrie Life melunasi seluruh kewajibannya terlebih dahulu.

“Dari dulu nasabah juga selalu memohon kepada Bapepam-LK dan terutama Menteri Keuangan supaya tidak mencabut ijin usaha Bakrie Life sebelum dana para nasabah dikembalikan,” ujar Perwakilan Nasabah dari Jakarta, Yoseph kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (3/3/2011).

Menurut Yoseph, di dunia bisnis khususnya perasuransian sebuah komitmen harus dipegang penuh. Oleh karena itu, Bakrie Life harus menepati janji pembayaran sesuai SKB (Surat Kesepakatan Bersama).

“Oleh sebab itu jika tidak mau dicabut ijin usahanya maka Bakrie Life harus membayarnya tepat waktu dan memenuhi komitmen tersebut,” katanya.

“Janji harus ditepati karena janji itu hubungannya bukan cuma kepada manusia secara materai tetapi Tuhan juga menyaksikannya, apalagi janji bayar utang kepada orang lain,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Bakrie Life nasibnya kini bagaikan telur diujung tanduk. Setelah menderita gagal bayar nasabah Diamond Investa, perusahaan asuransi milik Bakrie Grup tersebut terancam dicabut ijin usahanya. Pasalnya, Bapepam-LK mencatat Bakrie Life termasuk kedalam perusahaan yang bermodal dibawah Rp 40 miliar dimana sesuai ketentuan hingga Maret 2011 perusahaan asuransi harus memenuhi batas permodalan tersebut.

Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai surat kesepakatan bersama (SKB), manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

(dru/ang)

Bapepam Belum Cabut Izin 11 Asuransi
Rabu, 2 Maret 2011 – 07:42 wib

JAKARTA – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan belum akan mencabut izin 11 perusahaan asuransi pada 1 April 2011.

Pasalnya, regulator pasar modal tersebut akan lebih dulu memberi peringatan kepada perusahaan asuransi yang tidak bisa memenuhi batas minimum modal Rp40 miliar hingga akhir bulan ini. Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata mengatakan,perusahaan yang tidak memenuhi persyaratan modal akan lebih dulu diberi peringatan sebelum dilakukan pencabutan izin usaha.

“Kami akan beri sanksi peringatan dan pembatasan kegiatan usaha terlebih dahulu,” kata dia di Jakarta.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sanksi pencabutan izin usaha akan diberlakukan jika perusahaan asuransi yang terancam pencabutan izin usaha tersebut tidak juga memenuhi aturan yang telah diperingatkan dan dikenakan pembatasan kegiatan usaha.“Jadi, pencabutan izin tidak dilakukan tanggal 1 April (2011),” imbuh Isa.

Sebelumnya sempat dikabarkan, Bapepam-LK berencana mencabut izin usaha 11 perusahaan asuransi, terdiri dari tujuh perusahaan asuransi umum dan empat perusahaan asuransi jiwa.

Ke-11 perusahaan asuransi tersebut akan dicabut izin usahanya, jika pada batas akhir 31 Maret 2011 tidak mampu memenuhi batas minimum modal senilai Rp40 miliar. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 81/2008 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian disebutkan bahwa perusahaan asuransi wajib memenuhi modal minimum Rp40 miliar pada 2010. Modal itu akan meningkat menjadi Rp70 miliar pada 2012 dan menjadi Rp100 miliar pada 2014.

Adapun, salah satu dari 11 perusahaan asuransi yang terancam dicabut izin usahanya adalah PT Asuransi Jiwa Bakrie Life. Untuk Bakrie Life, Isa mengungkapkan, regulator akan berhati-hati melakukan pencabutan izin lantaran masih memiliki banyak tunggakan yang harus diselesaikan kepada para nasabahnya.(J Erna/Koran SI/wdi)

PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) memohon Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) agar tidak mencabut izin usahanya. Bakrie Life menyatakan masih memiliki komitmen dengan nasabah yang harus diselesaikan kewajibannya.

Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto mengatakan sesuai dengan peraturan perundangan-undangan memang benar aturan modal minimum wajib dipenuhi sebelum 31 Maret 2011.

“Namun perlu kami tambahkan, sesuai penjelasan terdahulu, Bapepam LK masih tidak akan mencabut izin usaha tapi hanya tidak boleh menjual premi baru dengan alasan atas permintaan nasabah agar seluruh kewajiban dilunasi lebih dahulu,” ujar Timoer kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (1/3/2011).

Timoer memohon agar Bapepam-LK memberikan waktu kembali untuk dapat melunasi dana nasabahnya. “Atas permohonan resmi, Bakrie Life meminta agar tidak dicabut izin dan diberikan kesempatan bagi Bakrie Life untuk membereskan seluruh kewajibannya,” ungkapnya.

Timoer mengakui, walaupun memang ada keterlambatan-keterlambatan, namun pihaknya minta dimaklumi karena perusahaan memang dalam posisi likuiditas yang sulit. Lebih jauh Timoer meminta, untuk menjaga ketenangan dan kepastian nasabah, ada baiknya secara formal nasabah memperbarui permohonannya dan Bakrie Life akan menegaskan kembali komitmennya untuk melunasi pembayaran kepada Bapepam LK.

“Barangkali ini yang akan membedakan dengan perusahaan asuransi lain yang akan dicabut ijinnya. Pernyataan dicabut ijin ini memang ada aturannya, barangkali juga karena sering terlambatnya BL dalam memenuhi skema yang sudah disepakati,” papar Timoer.

Seperti diketahui, Bakrie Life nasibnya kini bagaikan telur diujung tanduk. Setelah menderita gagal bayar nasabah Diamond Investa, perusahaan asuransi milik Bakrie Grup tersebut terancam dicabut izin usahanya. Pasalnya, Bapepam-LK mencatat Bakrie Life termasuk kedalam perusahaan yang bermodal dibawah Rp 40 miliar dimana sesuai ketentuan hingga Maret 2011 perusahaan asuransi harus memenuhi batas permodalan tersebut.

Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, Isa Rachmatarwata mengakui terdapat 11 perusahaan asuransi yang bermodal masih dibawah Rp 40 miliar.

“Ya (11 perusahaan) dan termasuk Bakrie Life,” ujar Isa kepada detikFinance.

Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai surat kesepakatan bersama (SKB), manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sumber: detikcom
Selasa, 01/03/2011 09:20 WIB
Nasib Bakrie Life di Ujung Tanduk!
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Nasib PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) kini bagaikan telur di ujung tanduk. Setelah menderita gagal bayar nasabah Diamond Investa, perusahaan asuransi milik Bakrie Grup tersebut terancam dicabut izin usahanya.

Bapepam-LK mencatat Bakrie Life termasuk kedalam perusahaan yang bermodal dibawah Rp 40 miliar dimana sesuai ketentuan hingga Maret 2011 perusahaan asuransi harus memenuhi batas permodalan tersebut.

Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, Isa Rachmatarwata mengakui terdapat 11 perusahaan asuransi yang bermodal masih dibawah Rp 40 miliar.

“Ya (11 perusahaan) dan termasuk Bakrie Life,” ujar Isa kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (1/3/2011).

Menurut Isa, pencabutan izin usaha akan dilakukan terhadap kesebelas perusahaan tersebut, termasuk juga Bakrie Life. Namun, lanjut Isa akan dilakukan melalui tahapan sanksi-sanksi peringatan terlebih dahulu. “Jadi tidak seketika dicabut,” jelas Isa.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian, modal minimum asuransi Rp 40 miliar itu wajib dipenuhi baru pada tahun 2010. Selanjutnya pada 2012 harus meningkat menjadi Rp 70 miliar dan pada 2014 meningkat menjadi Rp 100 miliar. Bapepam-LK sendiri memberikan batas pemenuhan permodalan hingga Rp 40 miliar pada 31 Maret 2011.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai surat kesepakatan bersama (SKB), manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% di 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga di 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya di atas Rp 200 juta.
(dru/qom)
“Belum Ada Tanda-Tanda Pembayaran dari Bakrie Life”
Senin, 31 Januari 2011 – 18:39 wib

JAKARTA – Perwakilan nasabah Diamond Investa PT Asuransi Jiwa Bakrie Life Yoseph mengakui, manajemen Bakrie Life belum juga menepati janjinya untuk membayar kewajiban tertunggak hingga batas waktu yang disepakati.

“Jumat (28 Januari) adalah tanggal janji batas waktu manajemen Bakrie Life untuk membayar nasabah Diamond Investa, tetapi belum ada tanda-tanda pembayaran ke nasabah,” ungkapnya, di Jakarta, Senin (31/1/2011).

Manajemen Bakrie Life sebelumnya menyatakan, bagi nasabah yang memiliki polis di atas Rp200 juta yang tertunggak pada 2010, bunga tertunggaknya selama enam bulan akan dilunasi pekan lalu, sedangkan angsuran pokok tertunggaknya akan dibayar pada akhir Maret.

Selanjutnya, kewajiban pembayaran bunga tahun ini akan dibayarkan secara rutin setiap bulan. Adapun dana untuk membayar kewajiban tersebut berasal dari pemegang saham, yakni PT Bakrie Capital Indonesia (BCI).

Seperti diketahui, Bakrie Life melakukan gagal bayar produk Diamond Investa senilai Rp360 miliar. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB), perusahaan menawarkan pengembalian dana nasabah dengan cara mencicil, yang dimulai 2010-2012.

Skema yang ditawarkan, yakni 25 persen pada 2010, yang dibayar senilai 6,25 persen selama empat kali pada setiap akhir kuartal tahun ini. Selanjutnya, nilai yang sama dibayarkan pada tahun depan dengan skema yang sama dan pembayaran terakhir sebesar 50 persen pada 2012.

Perusahaan hingga saat ini baru memenuhi kewajiban sebesar 12,5 persen, yang dibayar pada Maret dan Juni 2010, sedangkan cicilan pokok dan bunga akhir kuartal berikutnya belum dibayar. Selanjutnya, Bapepam akan mencabut izin Bakrie Life jika perusahaan asuransi tersebut sudah memenuhi kewajibannya kepada nasabah.(J Erna/Koran SI/ade)

Jumat, 21/01/2011 14:23 WIB
Puluhan Nasabah Bakrie Life Demo Minta Uangnya Dikembalikan
Ari Saputra – detikFinance

Jakarta – Puluhan nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) berdemo di bundaran Hotel Indonesia (HI). Mereka meminta manajemen Bakrie Life mengembalikan dana yang telah disimpan sebanyak Rp 290 miliar.

“Kami mengikuti asuransi Bakrie dengan perjanjian setiap saat uang bisa diambil. Akhir 2008, uang tersebut beku, tidak dapat dicairkan. Sekarang sudah 23 bulan, mereka bikin restrukturasi. Janjinya, tiap 3 bulan akan dibayarkan 6,25% daripada pokok. Tapi sampai sekarang, sudah 2 kali pembayaran tidak dibayarkan,” kata juru bicara pendemo, Fredy K.H di bundaran HI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (20/1/2010).

Dalam aksinya puluhan pendemo menggelar berbagai spanduk yang menggambarkan unek-uneknya seperti ‘Bakrie Life Jadilah Tauladan untuk Asuransi Nasional’ dan ‘Bakrie Life, Kembalikan Dana Kami’. Meski diguyur gerimis, mereka tetap beraksi dengan payung atau mantel hujan.

“Slogan mereka ‘We Cover Your Life’. Ternyata mereka cuek, menelantarkan. Kalau yang demo ini ada 80-an nasabah. Jumlah dana Rp 290 miliar. Kalau total seluruh nasabah bisa mencapai Rp 360 miliar,” tukas Fredy.

Setelah menggelar aksi sekitar 40 menit, nasabah Bakrie Life tersebut membubarkan diri. Rencana mendemo kantor pusat Bakrie Grup di Rasuna Said diurungkan. Tidak ada pengamanan berarti dari kepolisian untuk demo ini.

(Ari/dnl)
Bakrie Life Tak Bisa Bayar Cicilan Nasabah
Senin, 27 Desember 2010 | 08:43 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Bakrie Life belum bisa menjanjikan kepastian waktu mencicil dana nasabah. Direktur Utama Bakrie Life Timoer Susanto mengakui belum ada kepastian. “Sampai saat ini belum jalan, dana masih menunggu proses di Grup. Kami usahakan bisa dilaksanakan secepatnya,” kata Timoer melalui pesan pendek, kemarin.

Seperti diketahui, Bakrie Life mengalami gagal bayar produk asuransi berbasis investasi Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Manajemen kemudian berjanji akan membayar dana pokok nasabah dan bunganya.

Bakrie Life sepakat akan membayar mulai Maret 2010 dengan pola 25 persen pada 2010, 25 persen pada 2011, dan 50 persen pada 2012. Pembayaran akan dicicil empat kali setiap tahunnya, yakni setiap akhir Maret, Juni, September, dan Desember.

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali, yakni Maret dan Juni 2010, sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang-lebih senilai Rp 290 miliar.

Kepala Bapepam Fuad Rahmany menyatakan telah mendesak pemegang saham Bakrie Life, yakni Bakrie Capital, menyuntikkan dana untuk membayar kewajibannya kepada nasabah. Namun ia mengaku tak memiliki kekuatan memaksa.

Fuad hanya menyarankan nasabah mengajukan gugatan di pengadilan. Penyelesaian itu dinilai sebagai yang terbaik. “Jika tidak, secara hukum, tak ada yang bisa memaksa pemegang saham bayar, Bapepam sudah mandek,” kata dia. Perbuatan ingkar janji ini, menurut Fuad, bisa dituntut secara pidana maupun perdata.

Hingga pekan lalu, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) belum juga mencabut izin usaha PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life). Padahal, kata Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatawarta, syarat-syarat perlu dilakukannya pencabutan izin sebenarnya sudah terpenuhi.

Izin melakukan kegiatan usaha perusahaan tersebut telah dicabut sejak dua tahun lalu. Bapepam enggan mencabut izin usaha karena tak mau kehilangan akses pengawasan. Bapepam berjanji segera melakukannya setelah dana nasabah Bakrie Life–yang nyangkut di produk investasi Diamond Investa–dibayarkan.

“Setelah persoalannya beres, kami akan cabut izin. Mereka tidak punya kesempatan bisnis lagi,” kata Isa di kantornya pekan lalu. Ia meminta agar belum dicabutnya izin anak usaha Grup Bakrie itu tak diartikan sebagai sikap lemah Bapepam.

FAMEGA SYAVIRA
Minggu, 26/12/2010 11:55 WIB
Bapepam-LK Dorong Nasabah Bakrie Life Tempuh Jalur Hukum
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyarankan agar nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) melakukan tuntutan secara hukum demi memenuhi pembayaran cicilan pokok dan bunga yang tertunggak. Langkah ini dinilai sebagai penyelesaian yang terbaik bagi para nasabah.

Menurut Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany, pihaknya telah mendesak pemegang saham PT Asuransi Jiwa Bakrie yakni Bakrie Capital, untuk mencairkan sejumlah dana untuk diberikan ke nasabah Bakrie Life. Namun pamaksaan lebih jauh, tidak dapat dilakukan Bapepam.

“Kita juga telah meminta bantuan kepada pemegang saham. Dan jangan nasabah salahkan pemegang saham. Bakrie Capital juga nggak ada (dana). Kita (Bapepam) nggak bisa paksakan secara hukum,” jelas Fuad di kantornya, Jalan Wahidin, Lapangan Banteng akhir pekan ini.

Fuad menyarankan agar nasabah melakukan tuntutan secara hukum. Karena langkah ini merupakan penyelesaian yang terbaik.

“Proses saja secara hukum. Ini penyelesaian terbaik, kalau tidak ini akan berlarut-larut,” tambahnya.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen. Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011(6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

“Pembekuan kegiatan usaha, sudah dilakukan. Kita tidak beri kesempatan (Bakrie Life) untuk hidup. 2012, kita akan cabut (izin usaha), kalau sudah menyelesaikan kewajiban,” tegas Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata.

(wep/hen)

Jumat, 24/12/2010 16:01 WIB
Nasabah Bakrie Life Beri Deadline Pembayaran Dana di Januari 2011
Angga Aliya – detikFinance

Jakarta – Nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) menuntut manajemen bisa menyelesaikan pembayaran picilan pokok & punga yang tertunggak paling lambat Januari 2011. Jika tidak, nasabah mengancam akan langsung menemui orang nomor satu di Grup Bakrie, Aburizal Bakrie.

“Tidak ada alasan tidak punya uang karena tidak mungkin orang percaya Grup Bakrie tidak punya uang,” kata perwakilan nasabah Bakrie Life Jakarta Yoseph dalam pesan singkat kepada detikFinance, Jumat (24/12/2010).

Ia mengatakan, selama ini para nasabah sudah percaya dan berinvestasi dana di Diamond Investa Bakrie Life karena sudah tahu produk asuransi jiwa ini sudah legal secara hukum & ada izin dari Bapepam-LK.

“Kami minta ketegasan pembayaran dari manajemen Bakrie Life yang sudah tidak berani jawab sms & telepon bahkan bertemu nasabah sejak lama. Kalau tidak ada ketegasan, maka nasabah akan berusaha sekuat tenaga bertemu Nirwan Bakrie atau Aburizal Bakrie,” ujarnya.

Menurutnya, para nasabah berharap besar adanya pertemuan tersebut bisa membuahkan hasil, yaitu adanya pembayaran. Karena kata Yoseph, Grup Bakrie pasti menjaga nama baik agar kepercayaan masyarakat terhadap Grup Bakrie menjadi baik.

“Padahal sewaktu mencari dana dulu, nasabah selalu dihubungi & dihormati. Nasabah berdoa supaya Grup Bakrie tetap diberkati Tuhan supaya dapat membayar nasabah,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar.

Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya diatas Rp 200 juta.

(ang/ang)

Rabu, 22/12/2010 07:45 WIB
Dana Tak Juga Dibayar, Nasabah Bakrie Life Merasa Ditelantarkan
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) kembali angkat bicara terkait ekspansi bisnis Grup Bakrie yang tidak diimbangi dengan pelunasan kewajibannya. Pasalnya Grup Bakrie seolah ‘melupakan’ hak para nasabah Diamond Investa yang pernah menempatkan dana di bisnis asuransinya

Perwakilan nasabah Bakrie Life asal Tangerang Agus merasa tidak percaya Grup Bakrie tidak bisa membayar seluruh dana nasabah yang saat ini tersisa Rp 290 milar.

“Grup Bakrie seharusnya bisa menalangi dana nasabah di Bakrie Life. Bayarlah uang nasabah, kami yakin seyakin-yakinnya kalau Bakrie Life mampu membayar. Lihatlah bisnis Grup Bakrie sekarang sementara uang nasabah Diamond Investa hanya dalam jumlah kecil. Untuk apa membuat sulit hidup para nasabah yang hanya akan menanamkan energi negatif di bisnis Grup Bakrie,” demikian keluh kesah Agus ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Rabu (22/12/2010).

Sementara itu, perwakilan nasabah dari Jakarta, Fera juga merasa sangat kecewa ketika Grup Bakrie mengesampingkan etika bisnisnya dimana kewajiban yang seharusnya dipenuhi tapi justru tidak dianggap.

“Bakrie Life mempertaruhkan reputasinya hanya untuk sejumlah Rupiah yang seharusnya dibayarkan ke nasabah tetapi etika bisnis justru dilupakan. Pebisnis semacam ini bukan hanya meruntuhkan reputasi tapi juga kepercayaan masyarakat,” kata Fera.

Menurut Fera, ketidaksanggupan Bakrie Life untuk membayar dana kepada para nasabahnya justru dapat menimbulkan efek negatif kepada Grup Bakrie sendiri yang tengah “berkuasa”. Ia mengharapkan, Bakrie Life bisa melunasi seluruh kewajibannya ditengah ekspansi besar-besaran Grup Bakrie.

“Keadaan seperti ini justru memperparah trademark bahwa bisnisnya ada karena lagi berkuasa. Sesuatu yang tidak benar pasti akan hancur, ingat roda kehidupan selalu berputar, lebih baik apa yang menjadi kewajiban perusahaan dibayarkan. Sekarang pemegang saham masih bisa pesta pora tetapi malas membayar kewajibannya,” curhat Fera.

Tidak hanya Fera dari Jakarta dan Agus dari Tangerang yang menjadi “korban” Bakrie Life yang angkat bicara. Perwakilan nasabah dari Jawa Timur, Dayat bahkan menuangkan keluh kesahnya melalui 5 “ungkapan cinta” kepada Bakrie Life.

“Pertama, Bakrie Life telah ingkar janji, padahal perjanjian dibuat sepihak dengan segala keuntungan ada dipihak Bakrie. Kemudian yang kedua Bakrie Life telah membuat sengsara nasabahnya dimana banyak nasabah yang sakit akibat ulah Bakrie Life,” tuturnya.

Dayat melanjutkan, poin ketiga yakni Ia menekankan dimana dana yang nasabah minta tersebut adalah dana yang memang dimiliki oleh nasabah itu sendiri.

“Yakni hasil jerih payah kami selama ini, bukan uang Bakrie. Kemudian ke-empat Bakrie Life seolah-olah ingin menunjukkan bahwa mereka kebal hukum dimana Bapepam LK sebagai wakil lembaga negara dibuat tidak berkutik,” terangnya.

“Dan kelima, kami para nasabah ingin menyadarkan manajemen dan owner Bakrie Life, bahwa perbuatan mereka tidak disuka oleh sang Pencipta,” imbuh Dayat.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar.

Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya diatas Rp 200 juta.

(dru/qom)

Nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk turun tangan dalam kasus gagal bayar produk Diamond Investa. Pasalnya, hingga Desember 2010 pemegang saham dan manajemen belum juga membayarkan cicilan pokok serta bunga sebagaimana tertuang dalam Surat Kesepakatan Bersama (SKB).

“DPR-RI sudah sepantasnya turut campur dalam masalah ini karena sudah meresahkan ratusan nasabah yang juga Warga Negara Indonesia. Kalau bukan ke DPR RI, kemana lagi nasabah harus mengadukan nasib dananya yang pembayarannya tidak jelas sampai sekarang,” ungkap salah seorang koordinator perwakilan nasabah Yoseph ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Rabu (08/12/2010).

Meskipun sudah berbagai jalan ditempuh oleh para nasabah ini. Namun perusahaan asuransi milik Bakrie Group ini tetap saja tidak melunasi tunggakan kepada para nasabahnya.

“Kasus gagal bayar Bakrie Life kepada nasabah Diamond Investa belum bisa diselesaikan karena sekalipun dengan adanya Surat Kesepakatan Bersama yang menurut bapak Timoer Soetanto sudah diketahui dan disetujui oleh pemilik Bakrie Group Bapak Nirwan Bakrie pun masih juga tidak dibayar,” ujar Yoseph.

Yoseph mempertanyakan bagaimana nasib dana nasabah Diamond Investa Bakrie Life di mana walaupun ada Surat Keputusan Bersama (SKB) namun masih juga tidak jelas. “SKB tidak diindahkan, saat ini asumsinya kalau Bakrie Life punya uang baru bisa bayar, untuk apa ada SKB secara legal? Kalau tidak punya uang terus berarti tidak bayar dong?,” tegasnya.

Padahal menurut Yoseph, sebuah komitmen itu penting dalam dunia bisnis, apalagi bisnis asuransi jiwa.

Yoseph juga meragukan fungsi Bapepam-LK selaku regulator industri asuransi yang tidak tegas. “Sekalipun Bapepam-LK sudah menekan Bakrie Life tapi tetap saja mereka tidak patuh aturan. Apakah teguran dan surat penekanan Bapepam-LK sudah tidak dianggap oleh Bakrie Life?,” tuturnya.

Ia juga menyesalkan sikap Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) yang sampai saat ini nyaris tidak pernah terdengar suaranya untuk menegur anggotanya. “AAJI tidak ada suaranya dan menegur anggotanya Bakrie Life yang tidak patuh aturan, serta tidak pernah membela nasabah. Untuk apakah sebenarnya tujuan didirikan AAJI tersebut,” jelas Yoseph.

Lebih jauh Yoseph mengharapkan agar DPR RI yang turun tangan dan bertindak tegas untuk menyelesaikan kasus Bakrie Life yang meresahkan ratusan nasabahnya. Hal ini, lanjut Yoseph merupakan jalan terakhir yang sudah seharusnya diambil saat ini.

“Kesimpulan dari semua masalah di atas adalah dengan doa dan berusaha dimana nasabah tetap terus berdoa dan memohon kepada Tuhan supaya Bapak Nirwan Bakrie, Group Bakrie dan Bakrie Life diberkati oleh Tuhan sehingga dana nasabah dapat dibayar tepat waktu,” imbuh Yoseph.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar.

Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya diatas Rp 200 juta.

Sumber: detikcom

PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) kembali memberikan janji kepada para nasabah Diamond Investa mengenai pembayaran cicilan pokok periode September 2010. Manajemen berjanji paling cepat akan membayarkan cicilan pokok ketiga pada bulan Desember 2010.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto kepada detikFinance di Jakarta, Senin (29/11/2010).

“Kemungkinan pada bulan Desember 2010 (pembayaran cicilan),” ujar Timoer.

Ia mengatakan saat ini pihaknya tengah memproses pinjaman dimana dananya akan digunakan untuk pembayaran cicilan pokok nasabah. “Saat ini masih dalam proses di grup,” tuturnya.

Sebelumnya Timoer mengungkapkan saat ini pihak manajemen bersama dengan pemegang saham tengah mencari dana pinjaman untuk menalangi cicilan ketiga para nasabah.

Dihubungi secara terpisah, perwakilan nasabah Diamond Investa Bakrie Life, Leo mengharapkan janji manajemen untuk membayarkan di bulan Desember 2010 tidak meleset lagi.

“Apa yang manajemen rencanakan semogha tidak meleset lagi karena seharusnya pada bulan Desember itu kan sudah cicilan ke empat,” kata Leo.

Menurutnya, masalah yang dihadapi oleh para nasabah sangat beragam dari nasabah yang terkena bencana alam Merapi, biaya pengobatan, biaya hidup hingga modal usaha.

“Oleh karena itu cicilan sudah seharusnya dibayarkan tepat pada waktunya sesuai dengan komitmen yang sudah disepakati,” paparnya.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6,25%) dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya diatas Rp 200 juta.

Sumber: detikcom
Jumat, 26/11/2010 08:24 WIB
Tempatkan Dana di Saham, Bakrie Life Dinilai Lakukan Penyimpangan Investasi
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) menilai berpendapat kasus gagal bayar Bakrie Life merupakan sebuah penyimpangan investasi atau ‘investment fraud’. Nasabah menilai kasus ini tidak hanya menjadi tanggung jawab manajemen dan pemegang saham, tetapi pihak Bapepam-LK dan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) selaku regulator industri asuransi.

“Kami nasabah merasa telah tertipu dengan penyimpangan investasi yang tidak sesuai dengan prospektus yang ditawarkan kepada kami di dalam produk Diamond Investa oleh Bakrie Life,” ujar salah seorang nasabah Diamond Investa Bakrie Life, Toni ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Jumat (26/11/2010).

Menurut Toni, produk Diamond Investa sudah beredar sejak 2005 dan sangat disayangkan otoritas seperti Bapepam-LK tidak dapat mendeteksi adanya penyimpangan apapun sampai jatuhnya korban pada Oktober 2008.

“Ternyata selama ini Bakrie life telah meletakan dana kami kepada pasar saham bahkan pada saham group Bakrie dan bukan pada 90% obligasi AA+ seperti yang ditawarkan dalam prospektusnya,” katanya.

“Penyimpangan investasi tersebut apakah dapat di klasifikasikan sebagai ‘investment fraud‘ yang dapat meminta pertanggung jawaban direksi dan komisaris bahkan pemegang saham?,” imbuh Toni

Jika benar demikian, Toni berharap ‘investment fraud’ seperti ini mendapatkan perhatian dan penanganan penyelesaian yang cepat dan tepat oleh otoritas yang berwenang seperti Bapepam-LK dan Assosiasi Industri Asuransi Indonesia.

“Terutama untuk melindungi hak nasabah dan juga tidak mencoreng nama baik industri asuransi dan kepercayaan masyarakat terhadap simpananya di institusi asuransi,” ungkap Toni.

Lebih lanjut Ia mengatakan, dengan adanya kasus gagal bayar karena penyimpangan atau fraud maka seluruh perusahaan asuransi bisa saja melakukan hal seperti ini.

“Bayangkan apa yang akan terjadi di industri keuangan kita apabila setiap perusahaan asuransi dapat dengan mudah melakukan penyimpangan simpanan dana dari masyarakat tanpa pertanggungjawaban? Dengan tidak ada kepastian penyelesaian dan pembayaran dari Bakrie Life sampai kini mencerminkan lemahnya kepastian hukum kita dan perlindungan hak masyarakat,” papar Toni.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya diatas Rp 200 juta.

(dru/qom)
Sabtu, 27/11/2010 10:38 WIB
Nasabah Bakrie Life Yogyakarta : Kami Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Perwakilan Nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) asal Yogyakarta mendesak manajemen dan pemegang saham untuk segera membayarkan cicilan pokoknya. Pasalnya para nasabah saat ini sangat membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk bertahan ditengah bencana Gunung Merapi.

“Nasabah Bakrie Life Yogya sangat berharap agar tabungan yang ditempatkan di produk Diamond Investa bisa segera dibayar. Saat ini kami sudah jatuh kemudian tertimpa tangga,” ujar perwakilan nasabah Bakrie Life asal Yogyakarta, Ie Sioe ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Sabtu (27/11/2010).

Ie Sioe mengungkapkan dana cicilan pokok tersebut sangat dibutuhkan untuk kehidupan para nasabah yang setiap hari yang sudah lebih susah mengadu nasib. “Ditambah dengan musibah bencana alam meletusnya gunung Merapi dimana kami sangat membutuhkan uang untuk memperbaiki rumah kami,” tambahnya.

Ia berharap keluarga besar Bakrie tidak mau melihat nasabah Diamond Investa yang juga sebagai rakyat Indonesia dimana sedang berkabung dibiarkan terlunta lunta.

“Kiranya keluarga besar Bakrie mau mencairkan uang nasabah Diamond Investa. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan dari keluarga besar Bakrie.,” tuturnya.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar.

Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Cicilan dana pokok baru dibayarkan dua kali yakni Maret 2010 dan Juni 2010. Cicilan pokok pada September 2010 belum dibayarkan berikut bunga dari Juli 2010 sampai November 2010.

Sehingga Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya diatas Rp 200 juta.

(dru/ang)

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah nasib Hengky, nasabah produk asuransi berbasis investasi, Diamond Investa (DI), yang hingga kini masih menanti pengembalian dananya yang mandek oleh PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life), dan menjadi korban bencana alam akibat erupsi Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

“Bakrie Life selalu terlambat membayar cicilan pokok pengembalian dana nasabah DI, padahal saat ini saya dan sekeluarga juga menderita kerugian akibat erupsi Gunung Merapi,” ujarnya kepada KONTAN, Rabu (24/11).

Menurut Hengky, Bakrie Life hingga kini belum memenuhi kewajibannya membayar cicilan pokok ketiga atau per September 2010 sebesar 6,25% dari dana yang diinvestasikannya, termasuk bunga sejak Juli hingga Oktober 2010. Sebelumnya, pertengahan Oktober 2010 lalu, Bakrie Life sempat menyelesaikan kewajibannya sebesar Rp 30 miliar. Sayang, lagi-lagi pembayaran cicilan tersebut tidak berjalan mulus alias tidak berlanjut.

“Dengan kondisi saat ini, saya ingin Bakrie Life menyelesaikan kewajibannya. Toh, selama ini, dalam menyelesaikan pembayarannya yang terlambat, Bakrie Life tidak pernah dikenai denda atau sanksi,” tutur Hengky.

Menurut Anggota Tim Penyelamatan dan Pengembalian Dana Nasabah (TP2DN) Yoseph, Bakrie Life menyisakan total kewajiban sebesar Rp 290 miliar kepada 250 nasabah DI dengan nilai investasi masing-masing di atas Rp 200 juta.

Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Demokrat Achsanul Kosasih mengaku belum saatnya DPR turun tangan menangani kasus ini. “DPR belum merasa perlu untuk masuk ke urusan Bakrie Life,” ujarnya singkat melalui pesan telepon genggam.

Sekadar menyegarkan ingatan, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi nasabah DI sebesar Rp 360 miliar. Berdasarkan kesepakatan yang dicapai antara manajemen dengan nasabah terkait pengembalian dana tersebut, manajemen menjanjikan beberapa skema.

Skema pembayaran angsuran pokok dana tersebut sebesar 25% di tahun ini, yakni pada Maret sebanyak 6,25%, Juni 6,25%, September 6,25%, dan Desember 6,25%. Kemudian, 25% di 2011, Maret 6,25%, Juni 6,25%, September 6,25% dan Desember 6,25%. Dan, pembayaran terakhir sebesar 50% menurut rencana pada Januari 2012.

Tentu saja, perjuangan para nasabah DI ini belum usai hingga Bakrie Life membayar lunas hak-hak mereka.

Sumber : KONTAN.CO.ID
Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) agaknya harus belajar kepada merpati, yang tak pernah ingkar janji. Maklum, kebiasaan menunggak pembayaran cicilan dana nasabah produk asuransi berbalut investasi Diamond Investa tampaknya sudah akut.

Yang terbaru, Bakrie Life belum juga membayar cicilan pokok ketiga (per September 2010) dan bunga sejak Juli hingga Oktober 2010. Cicilan ketiga atau per September 2010 sebesar 6,25 persen dari dana setiap nasabah Danamond Investa. Ditambah bunga Juli hingga Oktober, diperkirakan total tunggakan Bakrie Life Rp 33 miliar.

Bakrie Life gagal bayar atas produk Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai Surat Kesepakatan Bersama, Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana dengan mencicil, yakni 25 persen di 2010, dibayar empat kali setiap akhir triwulan sebesar 6,25 persen dari dana nasabah. Sebesar 25 persen dilunasi pada 2011 dengan mekanisme serupa. Pembayaran terakhir sebanyak 50 persen di tahun 2012.

Sumber : KOMPAS.COM

Senin, 15/11/2010 12:20 WIB
Bakrie Life Cari Utangan Buat Bayar Dana Nasabah
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – PT Asuransi Jiwa Bakrie Life (Bakrie Life) tengah mencari pinjaman dana dari luar negeri untuk menalangi cicilan pokok nasabah Diamond Investa yang ketiga. Manajemen meminta nasabah untuk bersabar karena komitmen untuk melunasi dana pokok tetap dijalani.

Demikian disampaikan oleh Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto kepada detikFinance di Jakarta, Senin (15/11/2010).

“Cicilan per September 2010 (cicilan ketiga) memang belum dibayarkan karena Group masih mengusahakan dari luar. Mudah-mudahan tidak terlalu lama,” ujar Timoer.

Ia mengatakan, pelunasan cicilan memang sudah lama tertunggak tetapi manajemen tetap berkomitmen untuk melunasinya. “Walau sudah lama tertunggak tetapi komitmen tetap akan dijalankan,” ungkap Timoer.

Seperti diketahui, Bakrie Life masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya diatas Rp 200 juta.

Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

(dru/dnl)

PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) berencana segera menyelesaikan kewajiban pembayaran dana nasabah bagi produk asuransi selain Diamond Investa senilai Rp30 miliar hingga Rp50 miliar.

Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Isa Rachmatarwata mengatakan rencana tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto ketika memberi penjelasan kepada Bapepam-LK pada pekan lalu.

Menurut dia, pemegang saham Bakrie Life, yaitu Bakrie Capital Indonesia sedang mengupayakan dana untuk pembayaran kepada nasabah produk asuransi nonDiamond Investa total kewajiban hingga Rp50 miliar.

“Pak Timoer sudah menyampaikan ke inginan untuk menyelesaikan kewajiban ke pada nasabah non-Diamond Investa. Da na nya saat ini sedang diupayakan oleh Bakrie Capital Indonesia selaku pemegang saham Bakrie Life,” ujarnya, kemarin.

Sumber : BISNIS.COM
Senin, 01 November 2010 | 15:29 oleh Christine Novita Nababan
KISRUH NASABAH DIAMOND INVESTA
Bapepam-LK tekan Bakrie Life untuk kelarkan kewajiban

JAKARTA. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) terus berusaha membuat manajemen PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) untuk menuntaskan kewajiban pembayaran yang tertunggak kepada nasabah Diamond Investa (DI). Salah satu upayanya adalah dengan mengirimkan surat teguran kepada manajemen Bakrie Life.

“Pekan lalu sudah kami kirimkan surat supaya manajemen Bakrie Life menyelesaikan pembayaran,” ujar Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata ditemui KONTAN, Senin (1/11).

Sebagai respon, Direktur Utama Bakrie Life Timoer Soetanto datang dan melaporkan pembayaran yang telah dilakukan pihaknya kepada nasabah DI. Tidak hanya itu, Bakrie Life juga menyatakan akan melakukan pembayaran kepada nasabah non-DI dengan total kewajiban berkisar Rp 30 miliar hingga Rp 50 miliar.

“Jadi, Timoer Soetanto datang dan melapor, serta menyampaikan pemikiran untuk menyelesaikan kewajiban kepada nasabah non-DI. Nah, ini yang katanya sedang diusahakan oleh Bakrie Capital Indonesia selaku pemegang saham Bakrie Life,” imbuh Isa.

Intinya, sambung Isa, Bapepam-LK sebagai regulator akan terus mengingatkan Bakrie Life untuk melunasi kewajibannya. Toh, perjanjian pembayaran dengan skema cicilan telah disepakati oleh pihak-pihak terkait. Saat ini, yang terpenting harus dijaga adalah agar pembayaran cicilan dilakukan tepat waktu dan tidak mengalami keterlambatan seperti sebelumnya.

Sekadar menyegarkan ingatan, pertengahan Oktober 2010 lalu, Bakrie Life akhirnya membayar cicilan pokok dan bunga kepada nasabah DI sebesar Rp 30 miliar.

Dari jumlah tersebut, Bakrie Life membayar lunas cicilan pokok ke enam beserta bunga dana nasabah di bawah Rp 200 juta. Tetapi, untuk nasabah dengan kepemilikan dana di atas Rp 200 juta, pembayaran baru sebatas cicilan pokok sampai Juni, termasuk bunga periode Mei dan Juni.

“Artinya, cicilan pokok sampai September, beserta tunggakan bunga di Juli, Agustus, dan September belum dibayarkan,” terang Anggota Tim Penyelamat dan Penyelesaian Dana Nasabah Bakrie Life (TP2DN), Yoseph.

Asal tahu saja, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi Diamond Investas sebesar Rp 360 miliar. Berdasarkan kesepakatan, Bakrie Life menjanjikan pengembalian dana pokok dengan skema, pembayaran angsurang pokok di tahun ini sebanyak 25% pada Maret 6,25%, Juni 6,25%, September 6,25%, dan Desember 6,25%. Kemudian, 25% lagi di 2011 dengan periode pembayaran serupa, serta pembayaran terakhir sebanyak 50% yang menurut rencana dilakukan di 2012.

PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) masih mempunyai sisa utang kurang lebih senilai Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Diamond Investa yang menginvestasikan dananya diatas Rp 200 juta.

Tim Penyelamatan dan Pengembalian Dana Nasabah Bakrie Life (TP2DN) mengungkapkan, hak nasabah yang berupa cicilan pokok pada bulan September 2010 berikut bunga pada bulan Juli sampai September 2010 belum juga dibayarkan.

“Sisa kewajiban Diamond Investa kurang lebih sebesar Rp 290 miliarkepada 250 nasabah dengan dana diatas Rp 200 juta. Nasabah Diamond Investa berharap cicilan pokok September & bunga Juli, Agustus, September 2010 dapat dibayar segera,” ujar TP2DN melalui surat elektroniknya kepada detikFinance di Jakarta, Senin (25/10/2010).

Menurut TP2DN, nasabah merasa resah jika Bakrie Life tidak menepat janji sesuai dengan Surat Kesepakatan Bersama (SKB) dimana tertulis cicilan harus dibayar tepat waktu.

“Kami berharap untuk pembayaran cicilan pokok dan bunga selanjutnya dapat tepat waktu sesuai SKB karena sebagian besar nasabah hartanya hanya sebesar yang disimpan di Diamond Investa, sehingga kalau manajemen tidak bayar tepat waktu, nasabah menjadi resah,” papar TP2DN.

Dihubungi secara terpisah, salah seorang nasabah Diamond Investa Bakrie Life, Yoseph mengatakan para nasabah masih meyakini jika manajemen akan membayarkan dana yang memang menjadi hak para nasabah.

“Kami nasabah selalu berdoa, yakin dan percaya Tuhan selalu memberkati Group Bakrie sehingga dapat membayar cicilan pokok dan bunga nasabah. Nasabah percaya komitmen dari manajemen Bakrie Capital Investment (pemegang saham) dan Bakrie Life dalam hal pembayaran, Itu terbukti dengan adanya pembayaran cicilan pokok dan bunga yang sebelumnya,” katanya.

Nasabah, lanjut Yoseph juga berharap DPR melalui komisi XI, Bapepam-LK khususnya Biro Perasuransian dapat mengawasi dan menekan manajemen sehingga pembayaran dana kepada nasabah tetap lancar.

“Supaya manajemen bisa mendapatkan dananya dan mereka bisa membayar nasabah tepat waktu,” tukasnya.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

Sumber: detikcom
Stroke akibat Dana Beku di Bakrie Life
Laporan wartawan KOMPAS Dwi Bayu Radius
Sabtu, 16 Oktober 2010 | 20:59 WIB

KOMPAS/RIZA FATHONI

BANDUNG, KOMPAS.com — Akibat tak bisa mencairkan dana, sejumlah nasabah Bakrie Life di Bandung dan sekitarnya kesulitan menjalankan usaha. Bahkan, ada nasabah produk asuransi itu yang sangat tertekan hingga terkena stroke.
Nasabah Bakrie Life, Freddy Koes (65), di Bandung, Sabtu (16/10/2010), mengatakan, ia mengelola usaha pembuatan kaus kaki.
Warga Cibabat, Cimahi, itu terpaksa meminjam uang dari bank untuk membiayai keperluan usahanya akibat simpanannya “membeku” di Bakrie Life. Ia tak bisa mencairkan, sebagaimana banyak lagi nasabah lain.
“Padahal, suku bunganya lebih tinggi daripada simpanan di Bakrie Life,” kata warga Cibabat, Cimahi, yang sudah menjadi nasabah Bakrie Life sejak tahun 2006 itu.
Freddy menuturkan, sejumlah rekan nasabah lainnya yang juga yang tak bisa mencairkan simpanan dan menggunakan dana tersebut untuk keperluan bisnis terpaksa meminjam dari bank. Nasabah Bakrie Life kesulitan mencairkan simpanannya sejak akhir tahun 2008.
Tyhin Bun Kiat (58), nasabah Bakrie Life, mengatakan, ia dan nasabah lain sudah menyampaikan masalahnya ke sejumlah pihak, seperti DPR, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), dan Sekretariat Negara.
Mereka sudah bertemu langsung dengan pihak-pihak tersebut selama akhir 2009 hingga awal 2010, tetapi belum memperoleh hasil yang memuaskan. “Teman saya malah ada yang sampai stroke. Kasihan. Padahal, dia menyimpan semua uang pensiunnya di sana,” ujar warga Sumur Bandung itu.

Bakrie Life Diamond declared legal
Monday, 04/10/2010 07:49:29 WIB
by: Arief Novianto & M. Tahir Saleh
JAKARTA: Indonesian Capital Market and Financial Institution Supervisory Agency (Bapepam-LK) confirmed that PT Bakrie Life Insurance does not conduct any criminal practices and illegal business related to their default case worth IDR360 billion against consumers of its Diamond Investa product since 2008.

Head of Bapepam-LK Ahmad Fuad Rahmany stated Diamond Investa product is legal and obtains the regulator’s permission.

He also said the default was not due to criminal practices conducted by the management, like the case of fraud.

“The default occurred because of economic crisis at the end of 2008 that hit corporate share prices. As the result, shares where the fund was invested could not be sold,” he said last week.

Bakrie Life’s President Director Timoer Sutanto said his company will be committed to the payment agreement as Bakrie Life’s shareholder, Bakrie Capital Indonesia (BCI), is aggressively seeking for fund. (T05/NOM)

Keuangan
HOME|NON-BANK |

Minggu, 03 Oktober 2010 | 20:39 oleh Christine Novita Nababan
PRODUK BERMASALAH
Meski tak salah, Bakrie Life harus selesaikan kewajiban

JAKARTA. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menilai produk PT Asuransi Jiwa Bakri (Bakrie Life), Diamond Investa tidak melanggar aturan. Terjadinya gagal bayar kepada nasabah, menurut Bapepam-LK karena krisis keuangan global 2008.

“Gagal bayar terjadi karena pengaruh krisis global di akhir 2008 lalu yang berimbas pada anjloknya harga saham perusahaan,” kata Kepala Bapepam-LK Ahmad Fuad Rahmany saat ditemui KONTAN, akhir pekan lalu.

Fuad mengatakan, dalih Bakrie Life yang menyebut bahwa manajemen tidak memiliki dana untuk membayarkan investasi nasabah yang berkisar Rp 360 miliar itu dapat dibenarkan.

Meski demikian, manajemen Bakrie Life berkomitmen untuk mengembalikan dana nasabah Diamond Investa dengan skema pembayaran cicil. Yang saat ini pembayaran cicilan itu pun tersendat-sendat.

Toh, Bapepam-LK tetap mendesak Bakrie Life untuk menyelesaikan pembayaran sesuaikesepakatan. “Kami juga tidak bisa berbuat banyak, pencabutan izin usaha Bakrie Life tidakakan menyelesaikan persoalan malah akan merugikan nasabah,” tegas dia.

Joseph, salah satu perwakilan nasabah yang tergabung dalam Tim PenyelamatanPengembalian Dana Nasabah (TP2DN) Bakrie Life menyatakan, enggan menempuh jalurhukum. Selain alasan biaya, dia mengaku pesimis dengan proses hukum yangberbelit-belit. “Kami mendesak pertemuan segitiga antara Bapepam-LK selaku regulator, BakrieLife, dan para nasabah,” tegas dia.

Sementara itu, sebelumnya, DPR masih memberi tenggat waktu kepada pemegang sahamdan manajemen Bakrie Life untuk segera menuntaskan kewajiban mereka kepada nasabah. “Bakrie Life, beberapa waktu lalu meminta agar DPR tidak memanggil manajemen karena akan menyelesaikan pembayaran paling lambat Oktober ini. Jadi, mari kita tunggu,” terang Wakil Ketua Komisi XI DPR Achsanul Kosasih.

Bapepam Siap Ambil Tindakan ke Bakrie Life
Senin, 27 September 2010 | 11:04 WIB

KOMPAS/RIZA FATHONI

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam LK) berjanji segera mengambil keputusan berkaitan dengan kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) kepada para nasabah Diamond Investa (DI). Bahkan, ada kemungkinan, Bapepam LK bakal mencabut izin perusahaan asuransi milik Grup Bakrie tersebut.

Maklum, janji pembayaran cicilan oleh Bakrie Life tidak berjalan mulus, sementara para nasabah terus mendesak kepastian dan ketegasan dari regulator. “Kami akan memutuskan segera,” janji Isa Rachmatarwata, Kepala Biro Perasuransian Bapepam LK, akhir pekan lalu.

Namun, dia mengaku, Bapepam LK tidak ingin tergesa-gesa mengambil langkah pencabutan izin usaha Bakrie Life. Jika hal itu terjadi, manajemen Bakrie Life tak akan mengabulkan tuntutan ganti rugi para nasabah dan kasusnya dianggap selesai. Artinya, nasabah yang akan rugi.

Karena itu, Bapepam LK terus mengupayakan langkah persuasif serta mengumpulkan kajian terkait persoalan yang membelit Bakrie Life. Setelah itu, Bapepam-LK akan mengambil langkah-langkah nonformal. “Sanksi terakhir barulah pencabutan izin usaha,” ujarnya.

Kendati mengaku pesimistis perihal pembayaran ganti rugi, Isa memastikan Bakrie Life sedang mempertaruhkan reputasinya sebagai perusahaan asuransi. Masyarakat akan merekam ketidakmampuan manajemen asuransi itu dalam mengatasi persoalannya dan membahayakan bagi masa depan perusahaan asuransi itu.

Agar tak terlalu rugi, Isa lalu menyarankan para nasabah menempuh jalur hukum dan membuktikan kesalahan manajemen Bakrie Life. Jika berhasil dan Bakrie Life dinyatakan pailit, para nasabah bisa mendapatkan pembagian aset perusahaan. “Memang, pembagiannya bisa sangat kecil dan tidak sesuai tuntutan ganti rugi para nasabah. Tetapi, upaya ini masih lebih baik daripada tidak mendapatkan sama sekali,” terang Isa.

DPR masih memberikan tenggat waktu kepada pemegang saham dan manajemen Bakrie Life untuk menyelesaikan kewajiban mereka kepada para nasabah. “Bakrie Life meminta DPR tidak terlebih dulu memanggil manajemen karena pembayaran akan diselesaikan pada Oktober. Jadi, mari kita tunggu,” tutur Wakil Ketua Komisi XI DPR Achsanul Qosasih.

Joseph, salah satu perwakilan nasabah yang tergabung dalam Tim Penyelamatan Pengembalian Dana Nasabah (TP2DN) Bakrie Life, mengaku enggan menempuh jalur hukum, apalagi jika perusahaan dinyatakan pailit. “Kami mendesak pertemuan segitiga antara Bapepam LK selaku regulator, Bakrie Life, dan para nasabah,” tegasnya. (Roy Franedya/Kontan)
Editor: Erlangga Djumena | Sumber :KONTAN
Kamis, 16/09/2010 08:09 WIB
DPR Beri Deadline Bakrie Life Lunasi Dana Nasabah Sampai Oktober
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui Komisi XI memberikan tenggat waktu kepada pemegang saham dan manajemen PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) sampai akhir Oktober 2010 untuk mulai melunasi dana nasabah Diamond Investa.

Jika sampai dengan batas waktu tersebut belum juga dibayarkan, Komisi XI akan memanggil pihak-pihak yang bersangkutan.

Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi XI Achsanul Qasasih ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Kamis (16/09/2010).

“Kami memberikan waktu sampai akhir bulan depan, jika tidak ada progres akan kami panggil pihak yang bersangkutan,” ujar Achsanul.

Menurut Achsanul, pemegang saham dan manajemen Bakrie Life tidak lagi bisa menganggap enteng mengenai kasus gagal bayar yang merugikan banyak nasabahnya. “Kita harus memberikan ketegasan, karena asuransi seperti layaknya bank di mana kepercayaan masyarakat mahal harganya. Oleh sebab itu kasus gagal bayar ini dapat menganggu kepercayaan terhadap industri asuransi,” ungkapnya.

Jika pemegang saham dan manajemen Bakrie Life tidak mampu memenuhi janjinya, Achsanul mengatakan pihaknya akan memanggil untuk melalui proses audiensi di DPR.

“Pertama akan kita panggil pihak nasabah untuk mengetahui asal mula kasus gagal bayar tersebut Kemudian pihak manajemen sampai kepada pihak Bapepam-LK selaku regulator,” tegas Achsanul.

Namun, lanjut Achsanul pihaknya telah mendapatkan informasi dari pihak manajemen akan segera membayar sebagian cicilan dalam waktu dekat. Sehingga, menurutnya, pemanggilan tidak perlu dilakukan. “Saat ini mereka (manajemen Bakrie Life) akan mencoba membayar cicilan pada bulan September 2010 ini maka kita lihat saja,” katanya.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).
(dru/dnl)

Agustus 21, 2010

tUNtaSP … 210810

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 6:21 pm

21/08/2010 – 16:43
UNSP Harap Restrukrisasi Kredit Domba Mas Selesaii
Agustina Melani

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mengharapkan, proses restrukrisasi kredit untuk perusahaan oleokimia dapat diselesaikan pada September 2010.

Manajemen UNSP menyampaikannya dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat (20/8). Perseroan berharap, proses dan tahapan akuisisi dapat diselesaikan sesuai target. Saat ini, perseroan tidak menghadapi kendala dan masalah substansial yang prinsipil untuk menjalankan dan menyelesaikan rencana akuisisi enam perusahaan yang bergerak di bidang industri oleokimia milik Domba Mas.

“Perseroan tetap pada komitmen semula untuk menyelesaikan akuisisi atas enam perusahaan yang bergerak di bidang industri oleokimia tersebut sebagaimana disampaikan dalam prospektus penawaran umum terbatas III,” kata Sekretaris Perusahaan UNSP, Fitri.

Saat ini, tim teknis perseroan sedang berada di lokasi pabrik oleokimia Domba Mas di Sumatra Utara tengah melakukan teknikal dalam assessment untuk memastikan pabrik fatty alcohol dan fatty acid berjalan baik sesuai target. [cms/aji]

Agustus 20, 2010

kasus b-life: MANA DUITNYA … 250810

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 8:06 am

Rabu, 25/08/2010 10:36 WIB
Nasabah Bakrie Life: Kasihanilah Kami
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Nasabah Diamond Investa PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) hanya bisa pasrah menunggu ketidakpastian pembayaran cicilan dana pokok mereka.

Nasabah masih meminta penyelesaian gagal bayar ini diselesaikan secara musyawarah dengan dukungan Bapepam-LK, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan khususnya dari manajemen Bakrie Life dan pemegang sahamnya PT Bakrie Capital Indonesia (BCI).

“Nasabah akan berjuang terus secara musyawarah untuk mendapatkan haknya kembali. Nasabah berharap masalah gagal bayar ini dapat diselesaikan secara musyawarah oleh Bapepam-LK, AAJI, Bakrie Life dan BCI, jadi tidak perlu ke jalur hukum,” ujar Koordinator Tim Penyelamatan Pengembalian Dana Nasabah (TP2DN) Bakrie Life, melalui
pesan elektroniknya kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (25/08/2010).

Menurut TP2DN, peran aktif Bapepam-LK dan AAJI belakangan kembali menurun dimana tidak lagi mendesak pihak manajemen untuk dapat melunasi dana para nasabah.
“Nasabah berharap Bapepam-LK dan AAJI lebih berperan aktif dalam kasus ini, karena kalau sampai dana nasabah hilang, akan mencoreng dunia perasuransian di Indonesia dan dunia investasi di Indonesia pada umumnya,” papar TP2DN.

Selain itu, TP2N menyatakan seluruh nasabah berharap dapat bertemu dengan pemegang saham langsung yakni BCI dimana dipimpin oleh Nirwan Bakrie untuk mendapatkan kepastian pembayaran.

“Nasabah yakin Tuhan pasti mengetuk pintu hati Bapak Nirwan Bakrie untuk menyelesaikan masalah ini. Karena kalau dana sampai hilang, banyak nasabah yang hartanya disimpan di Diamond Investa Bakrie Life. Jadi kasihanilah kami,” tutur TP2DN.

Sebelumnya, Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto mengatakan pihaknya tidak mau lagi berjanji kepada para nasabah Diamond Investa terkait cicilan pengembalian dana. Saat ini perusahaan milik Grup Bakrie tersebut tengah mengalami kesulitan likuiditas sehingga tidak ada kepastian mengenai pengembalian dana nasabah.

Seperti diketahui Bakrie Life menderita gagal bayar nasabah Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Kemudian Bakrie Life berjanji akan melunasi nasabah sesuai Surat Kesepakatan Bersama (SKB).

SKB tersebut berupa komitmen Bakrie Life untuk membayar bunga 9,5% per bulan beserta cicilan pokok secara kuartal per tahunnya yaitu 2010 sebesar 25%, 2011 sebesar 25% dan Januari 2012 sebesar 50%. Dana tersebut seharusnya mulai dibayarkan pada Maret 2010 sampai Januari 2012. Namun SKB tersebut tidak ditepati sehingga nasabah kembali mendapatkan kekecewaan.

(dru/qom)

Penyelesaian gagal bayar Bakrie Life mendesak
BISNIS INDONESIA
JAKARTA:

Asosiasi Asuransi Jiwa In donesia (AAJI) dan regulator men de sak agar konflik antara mana jemen Bakrie Life dan nasabah ter kait dengan gagal bayar sekitar Rp360 miliar segera diselesaikan.
Desakan tersebut menanggapi ak si demonstrasi puluhan nasabah PT Bakrie Life Insurance (Bakrie Life) pa da 18 Agustus 2010 yang me nun tut agar pembayaran dana nasabah se gera diselesaikan.

Direktur Eksekutif AAJI Stephen Ju wono mengatakan pihak m a na jemen seharusnya menempuh mu syawarah dalam penyelesaian kon flik gagal bayar dengan nasabah.

Menurut dia, hal itu juga dapat me redam kemarahan nasabah dan mem perbaiki citra perusahaan da lam menjalankan aktivitas bisnis di bidang asuransi jiwa.

“Kami berharap pihak manajemen se gera melakukan upaya penye le sai an konflik dengan nasabah secara ke keluargaan. Kalau tidak segera di se lesaikan dampaknya akan buruk,” ujarnya, kemarin.

Senada dengan Stephen, Kepala Bi ro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan

(Bapepam-LK) Isa Rachmatarwata menuturkan regulator juga terus mendesak manajemen Bakrie Life agar segera menyelesaikan konflik ter sebut.
Regulator, kata dia, terus meng awasi dan memantau per kem bang an konflik tersebut agar dapat meng ambil tindakan yang tepat.

“Kami sudah mendesak mana jemen, tetapi kalau memang tidak pu nya uang untuk membayar, ya ba gaimana. Kami masih terus meng evaluasi,” tutur Isa.

Bakrie Life dan nasabah produk asuransi berbasis investasi Diamond Investa telah menyepakati jadwal pembayaran dana pokok gagal bayar senilai Rp360 miliar sebesar 25% pada tahun ini.

Selanjutnya, sebesar 25% lagi pa da 2011, dan sisanya se besar 50% akan dipenuhi pada 2012.

Adapun, guna pembayaran cicilan dana nasabah pada tahun ini hingga 2011, yaitu sebesar 25% dijanjikan akan dibayar secara berkala se ba nyak delapan kali, yaitu masing-ma sing sebesar 6,25% pada tiap Maret, Juni, September dan Desember.

Sebelumnya, Isa memaparkan pi haknya telah memanggil Dirut Ba krie Life Timoer Sutanto gu na me na

nyakan kesanggupan pembayaran dana nasabah sebesar Rp30 miliar yang seharusnya sudah direalisasikan per 30 Juni 2010.
Kesulitan dana Namun, lanjut dia, pihak Bakrie Life belum memberi kepastian waktu mengenai kesanggupan pembayaran kewajiban kepada nasabah Diamond Investa.
Hal itu disebabkan Bakrie Capital Indonesia (BCI) selaku pemegang saham mengalami kesulitan pendanaan.

Isa memaparkan posisi keuangan BCI saat ini menyulitkan Bakrie Life dalam memperoleh pinjaman dengan menggadaikan (repurchase agreement/repo) aset tertentu atau mencari sumber pendanaan lain dengan bunga rendah.

Dia menuturkan nasabah memiliki pilihan lain, yaitu menunggu pembayaran dan menempuh jalur hukum (legal action), meski kemungkinan tidak bisa memperoleh seluruh pengembalian dana terkait dengan kondisi Bakrie Life.

Timoer tidak menjawab telepon maupun pesan singkat ketika dikonfirmasi Bisnis. (04/SYLVIANA PRAVITA R.K.N.)

Agustus 19, 2010

utanG unsP lag3 … 190810

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 2:32 pm

‘No problem in Domba Mas’ acquisition’
Thursday, 19/08/2010 19:21:07 WIB
by: Bambang P. Jatmiko
JAKARTA: PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk stated that until now there is no substantial problem in the acquisition of an oleo-chemical company, PT Domba Mas.

Corporate Secretary PT Bakrie Plantations Tbk Fitri Barnas in her official statement today said that all principles related to the corporate action have been completed and shares purchase agreement (SPA) for the six companies under the PT Domba Mas was signed.

As she explained, of six companies to be purchased by PT Bakrie Plantations, there are only three companies that become the debtors of Bank Mandiri, namely PT Flora Sawita Chemindo (FSC), PT Domas Agrointi Perkasa (DAIP), and PT Domas Sawitinti Prime (DSIP).

The company confirmed that the credit restructuring process for those oleo-chemical companies that are the debtors of PT Bank Mandiri must be settled in September 2010.

Bakrie Plantations through its subsidiary, PT Nibung Arthamulia, will soon acquire 100% shares in PT Domas Agrointi Prima which owns 99.6% shares in PT Sawitmas Agro Perkasa, 100% in PT Sarana Industama Perkasa, 100% in PT Flora Sawita Chemindo, 100% in PT Domas Agrointi Perkasa, and 100% in PT Domas Sawitinti Prime.

This statement is made in response to PT Bank Mandiri’s request for the listed palm oil plantation company to immediately finalize the acquisition process; otherwise, the state-owned bank will offer it to other potential investors.

Fitri Barnas added that all technical preparations for facilitating the operation of the oleo-chemical plant in North Sumatra have been conducted. The factory has annual production capacity of 50,000 tons of fatty acid and 132,000 tons of fatty alcohol. (T06/NOM)
JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) akhirnya bisa bernapas lega. Pasalnya, perusahaan perkebunan minyak kelapa sawit ini bisa mendapatkan dana maksimal dari penerbitan fixed rate aquity-linked notes.

“Pada 16 agustus, Arch Advisory Ltd kembali membeli US$ 22,6 juta,” kata Sekretaris Perusahaan UNSP Fitri Barnas. Menurut Fitri, dengan pembelian tambahan surat utang ini maka total dana yang didapatkannya mencapai US$ 100 juta.

Asal tahu saja, pada 11 Maret lalu, UNSP telah menerbitkan surat utang yang sama sebesar US$ 77,33 juta. “Kami memang memiliki hak untuk menerbitkan notes hingga US$ 100 juta,” tegasnya. Surat utang ini akan jatuh tempo pada 2013.

UNSP akan menggunakan dana ini untuk pembayaran atas penyertaan dan peningkatan penyertaan pada Agri International resources Pte. Ltd (AIRPL) dan IndoGreen International Limited (IGI).

Sumber : KONTAN.CO.ID

Agustus 17, 2010

btel pinjam trus … 170810

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 8:54 pm

Belanja Modal Bakrie Telecom US$300 Juta
Dana itu digunakan untuk memperkuat jaringan seluler dan data.
SELASA, 17 AGUSTUS 2010, 10:34 WIB Antique, Purborini

VIVAnews – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) akan menggunakan dana pinjaman setara dengan US$300 juta atau Rp2,7 triliun guna memperluas jaringan telekomunikasi baik untuk seluler maupun untuk data.

Dana itu digunakan sebagai belanja modal (capital expenditure/Capex) untuk memperkuat jaringan seluler dan data. “Seluler dan data kan mirip, jadi kita gunakan untuk itu,” jelas Presiden Direktur Anindya Bakrie usai memimpin upacara HUT RI Grup Bakrie di Lapangan Sumantri Brojonegoro, Jakarta, Selasa 17 Agustus 2010.

Antara lain, dia menambahkan, digunakan untuk membeli Base Transceiver Station (BTS) atau Menara Pemancar Telekomunikasi. “Tapi angkanya saya lupa,” kata dia.

Selain itu, perseroan juga berencana mengeluarkan produk baru baik untuk Btel dan BCon. “Ada beberapa produk yang akan dikeluarkan hingga akhir tahun,” ujar Anindya.

Langkah perseroan tersebut guna mencapai target pelanggan sebesar 14 juta orang.
Mengenai Bcon sendiri, hingga akhir tahun ini diperkirakan layanannya belum memberikan kontribusi pendapatan. “Tapi 2011, seharusnya sudah ada angka,” kata dia.

Pekan lalu, perseroan menandatangnai pendanaan senilai US$300 juta atau Rp2,7 triliun dari bank terbesar di dunia asal China, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC).

Anindya beralasan, menggunakan pendanaan dari Bank China guna memudahkan transaksi. “Kita banyak menggunakan produk dari negara China, dengan itu akan memudahkan untuk pembayarannya,” jelas dia.

Untuk diketahui, ICBC adalah bank terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar. Pada Desember 2009, total kapitalisasi pasar ICBC mencapai US$268,98 miliar atau Rp2.400 triliun. (umi)
• VIVAnews

Agustus 15, 2010

btel diUTANGin … 150810

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 9:35 pm

15/08/2010 – 17:48
BTEL-ICBC Teken Renmimbi
Susan Silaban

(IST)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) telah menandatangani pembiayaan pinjaman dalam bentuk kurs Renmimbi (RMB).

Hal ini diungkapkan Presiden Direktur BTEL, Anindya Bakrie dalam keterangan resmi yang diterima INILAH.COM, Minggu (15/8). Anindya mengungkapkan BTEl berencana menggunakan pendanaan dari ICBC untuk memperkuat target 14 juta pelanggan pada 2010.

“Kami bangga menjadi bagian dalam sejarah ekonomi global dengan menandatangani memorandum ini. Rasanya seperti satu dunia mendorong kami untuk meningkatkan kualitas telekomunikasi di Indonesia melalui BTEL,” ujar Anin.

Melalui perjanjian bersama ini, RMB semakin memantapkan posisinya sebagai mata uang alternatif selain dolar AS dalam transaksi lintas negara. [hid]

Agustus 14, 2010

elty rogoh kocek dalam … 140810

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 7:57 pm

Sabtu, 14/08/2010 11:01 WIB
Bakrieland Siap Cairkan Pinjaman US$ 50 Juta
Whery Enggo Prayogi – detikFinance
Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) bersiap mencairkan dana pinjaman US$ 50 juta dari Avenue Capital, salah satu pemegang saham perseroan. Dana ini rencananya ditarik di tahun 2011.

“Kita sebenarnya pendanaan dari rights issue kemarin dan mitra strategis cukup untuk 3 tahun ke depan. Namun ada kemungkinan pencairan dana dari Avenue sekitar US$ 50 juta. Paling cepat tahun depan,” kata Direktur Utama ELTY Hiramsyah S. Thaib saat ditemui di Rasuna Epicentrum, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Jumat (13/8/2010).

Ia menambahkan, pencairan ini akan melengkapi pendanaan perseroan dalam pembangunan unit properti dan jalan tol yang sudah direncanakan perseroan, seperti Rasuna Epicentrum, Sentra Timur Jakarta, Bogor Nirwana Residence, Lido Lake Resort Sukabumi (1.000 ha), akuisisi Bukit Sentul dan Bukit Jonggol Asri (11.000 hektar) dan pembangunan jalan tol Ciawi-Sukabumi.

Sementara itu, proses rights issue perseroan sebesar Rp 3,2 triliun, dipastikan tuntas pada akhir Juli lalu. Grup Bakrie dipastikan menyerap 16% total saham yang ditawarkan, atau setara dengan Rp 512 miliar. Saham grup Bakrie pun di ELTY pun tidak terdilusi, dan tetap di kisaran 19%.

“Grup Bakrie menyerap 16% rights issue. Jadi saat ini Bakrie Capital sahamnya 16,5%. BNBR (Bakrie and Brothers) 2,5%. Jadi total grup Bakrie 19%-an,” tambahnya.

Avenue juga menyerap penerbitan saham baru ELTY, dan porsinya dipastikan tetap 12,16%. Tiga manager Investor lain juga melakukan hal sama, dengan porsi masing-masing 5%. Mereka adalah Pictet Hongkong Capital, Swiss Charted, dan Savila Fund.

“Publik di ELTY tetap 63%. Dan menjadi bukti bahwa kami memang benar-benar perusahaan publik,” tegasnya.

Dengan rencana pengembangan kawasan terintegrasi yang dimiliki perseroan, ditambah perluasan ruas tol, maka ELTY optimis dapat meraih pendapatan Rp 1,5 triliun di akhir 2010.

“Sementer-I itu bisa menggambarkan 1/3 pendapatan total. Semester-II 2/3, jadi kami yakin bisa minimal Rp 1,3 triliun. Mudah-mudahan bisa Rp 1,5 triliun. Pertumbuhan pendapatan semester-I juga mencapai 47%,” papar Hiramsyah.

Proyek Episentrum Walk, yang baru diluncurkan Agustus ini, digadang-gadang telah mencapai penjualan 50%, dari total investasi sebesar Rp 250 miliar. Pun demikian dengan penjualan Aston Bogor and Resort. Senilai Rp 250 miliar, yang akan diserahterimakan pada bulan November 2010.

(wep/ang)
Sabtu, 14/08/2010 11:46 WIB
Bakrieland Incar Dua Ruas Tol Baru
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Foto: dok. detikFinance Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sedang membidik dua ruas tol baru, Sukabumi-Ciranjang, serta Ciranjang-Padalarang. Total panjang dua ruas tol tersebut mencapai 70 km dan diharapkan pada semester-II 2011 sudah mulai ditenderkan.

Hal ini diutarakan Direktur Utama ELTY Hiramsyah S. Thaib saat ditemui di Rasuna Epicentrum, Jakarta Jumat (13/8/2010) malam.

“Kita harapkan sih tahun depan, semester-II sudah bisa ditenderkan,” katanya.

Ia pun menjelaskan, kedua ruas tol ini nantinya akan menghubungkan jalan tol yang telah beroperasi, Padalarang-Cikampek, dengan ruas yang sedang dikerjakan perseroan, yaitu Ciawi-Sukabumi. Untuk pendanaan awal, perseroan menyiapkan dana Rp 500 miliar dan mungkin dapat bertambah dari pinjaman perbankan asalkan tender dimenangkan perseroan.

“Dana belum terlalu banyak, namun kami siapkan dibawah Rp 500 miliar,” kata Hiramsyah.

Sebenarnya ada satu ruas tol yang tengah dibidik perseroan. Tol ini sudah beroperasi di wilayah Jawa Tengah. Sayangnya, ia tidak mau menjelaskan lebih lanjut karena masih dalam tahap awal.

“Pokoknya di wilayah Jawa dan sudah beroperasi. Saya ga bisa ngomong dulu,” ungkap Hiramsyah.

Untuk konsesi ruas tol Ciawi-Sukambumi, seksi I (Ciawi-Lido) pembebasan lahan diharapkan tuntas pada triwulan-I 2011, dan diharapkan bisa dilanjutkan dengan tahap kontruksi. Total investasi ruas Ciawi-Sukabumi diperkirakan menelan biata Rp 6 triliun, dan akan tuntas di 2014.

“Ciawi-Lido 14 km, mudah-mudahan selesai 2012, dan dilanjut sampai Sukabumi di 2014,” imbuhnya.

(wep/ang)

Agustus 6, 2010

kasus b-life: BELUUUUUUUUUUUUUM bere$ … juga : 060810

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 6:46 am

Bakrie Life Kembali ‘Khianati’ Nasabah
lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]
Rabu, 04/08/2010 | 16:52 WIB

Jakarta – Nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) kembali merasa ‘dikhianati’ oleh manajemen dan pemegang saham. Pasalnya dana para nasabah belum juga dibayarkan sesuai dalam Surat Kesepakatan Bersama (SKB).
… kebanyakan nasabah b-life kayanya berpikiran secara stereotipe pasti yaitu the bakries TIDAK BERTANGGUNGJAWAB dan MAU MENANGNYA SENDIRI … jelas INFORMASI THE BAKRIES amat luas tersebar bahwa perilaku bisnis dan sosial politik mereka AMAT BERIMBAS PADA KEHIDUPAN EKONOMI, POLITIK DAN KENEGARAAN indonesia … well, liat aja dah

“Nasabah di bawah Rp 200 juta seharusnya sudah lunas April 2010 (cicilan yang ke-6/terakhir) namun belum juga dibayar dana pokok dan bunganya,” jelas Koordinator Tim Penyelamatan Pengembalian Dana Nasabah (TP2DN) Bakrie Life dalam surat elektroniknya di Jakarta, Rabu (4/8/2010).

TP2DN mengatakan, nasabah di atas Rp 200 juta juga mengalami hal yang sama. Di mana bunga pada Mei, Juni, Juli 2010, dan cicilan pokok kuartal II Juni 2010 serta bunga belum juga dibayar. “Kita sebagai nasabah sudah kebal terhadap janji Bakrie Life untuk membayar cicilan dana pokok dan bunga nasabah Diamond Investa. Komitmen SKB sudah dilanggar,” katanya.

Seharusnya, TP2DN berpendapat perusahaan sekaliber group Bakrie jika sudah ada perjanjian secara legal atau hitam di atas putih harus ditepati. “Masih untung nasabah mau dicicil sampai 2012. Di dunia bisnis, yang dipegang adalah janji dan realita. Sekali, dua kali, tiga kali melanggar, nasabah sudah tidak percaya lagi,” tuturnya.

“Kita berharap bisa bertemu Pak Nirwan Bakrie selaku owner untuk membicarakan masalah pembayaran yang tertunda ini, jangan sampai seperti 2008 ke 2009 yang sempat tertunda 1 tahun. Kita yakin Tuhan akan mengetuk pintu hati Bapak Nirwan Bakrie untuk menyelesaikan masalah gagal bayar Bakrie Life,” imbuh TP2DN.

Seperti diketahui Bakrie Life menderita gagal bayar nasabah Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Akhirnya Bakrie Life berjanji akan melunasi nasabah sesuai SKB. SKB tersebut berupa komitmen Bakrie Life untuk membayar bunga 9,5% per bulan beserta cicilan pokok secara kuartal per tahunnya yaitu 2010 sebesar 25%, 2011 sebesar 25%, dan Januari 2012 sebesar 50%. Dana tersebut seharusnya mulai dibayarkan pada Maret 2010 sampai Januari 2012. (*/dtc/ida)

Agustus 2, 2010

skandal data : boem1 #1 … 020810

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 6:01 am

Beda Data Bumi-Dewa Tak Pengaruhi Keuangan
Selisih pendapatan Dewa dari KPC-Arutmin dengan biaya pokok pendapatan Bumi US$15,3 juta.
MINGGU, 1 AGUSTUS 2010, 16:44 WIB Arinto Tri Wibowo, Purborini

VIVAnews – PT Bumi Resources Tbk menjelaskan bahwa tidak terdapat
dampak terhadap kinerja keuangan perseroan terkait koreksi rincian akun biaya pokok pendapatan dari PT Darma Henwa Tbk, Pama, Thiess, dan Cipta Kridatama terhadap utang usaha masing-masing kontraktor tersebut.

“Ini hanya masalah reklasifikasi dan tidak material serta tidak berdampak terhadap laporan keuangan perseroan maupun angka biaya pokok pendapatan,” kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava, dalam keterbukaan publik yang disampaikan kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.

Mengenai adanya selisih biaya pokok pendapatan Bumi Resources setelah direvisi dengan pendapatan Darma Henwa dari anak usaha Bumi, PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia, menurut Dileep, hal tersebut karena penyajian biaya untuk Darma Henwa atas Kaltim Prima Coal yang meliputi penyesuaian akuntansi sehubungan dengan back charges operasional dan reklasifikasi.

Adapun tidak adanya penyajian untuk biaya Darma Henwa atas Arutmin karena pengeluaran tersebut di bawah 10 persen dari total biaya pokok pendapatan atas anak usaha Bumi itu.

Sebelumnya, terdapat selisih pendapatan Darma Henwa dari KPC dan Arutmin dengan biaya pokok pendapatan Bumi setelah direvisi sebesar US$15,3 juta.

Pendapatan Darma Henwa dari KPC dan biaya pokok pendapatan Bumi atas anak usaha itu mencatat selisih US$2,41 juta. Sementara itu, selisih pendapatan Darma Henwa dari Arutmin dengan biaya pokok pendapatan Bumi setelah direvisi atas anak usaha perseroan mencapai US$12,88 juta.

Total pendapatan Darma Henwa dari KPC dan Arutmin mencapai US$156,56 juta, sedangkan biaya pokok pendapatan Bumi Resources setelah dikoreksi menjadi US$141,26 juta.

Adapun perseroan menjelaskan mengenai rincian biaya pokok pendapatan telah menyajikan kontraktor yang memiliki transaksi lebih dari 10 persen total pembelian barang dan jasa untuk kegiatan produksi. (hs)
• VIVAnews

Older Posts »

The Shocking Blue Green Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 53 pengikut lainnya.