Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Oktober 10, 2009

semua juga tau : GA ADA PREDIKSI 100% akurat … : 101009

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 7:47 am

Harga Saham Bumi Kian Tertekan
09/10/2009 23:32:01 WIB
Oleh Karidun Pardosi dan Jauhari Mahardhika

JAKARTA, INVESTOR DAILY
Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus terkoreksi, kendati Aburizal Bakrie selaku pemegang saham pengendali perseroan sudah terpilih menjadi ketua umum Partai Golkar pada Kamis (8/10). Padahal, investor berharap, harga saham penghasil batubara terbesar di Tanah Air itu bakal menguat tajam setelah Ical (nama panggilan akrab Aburizal) berhasil mengalahkan Surya Paloh.

Harga saham BUMI kemarin ditutup melemah 5,2% dari Rp 2.875 menjadi Rp 2.725 per unit, dengan nilai transaksi senilai Rp 2,19 triliun. Bahkan harganya sempat menyentuh Rp 2.700 per unit. Kejatuhan harga saham BUMI, termasuk enam emiten lainnya yang tergabung dalam The Seven Brothers, ikut menghempaskan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ke level 2.484,51, terkoreksi 28 poin (1,15%). Total nilai transaksi di BEI mencapai Rp 8,8 triliun. Investor asing membukukan net selling Rp 817 miliar.

Sejumlah pengamat pasar modal menyatakan, terpilihnya Ical seharusnya berdampak positif terhadap saham-saham grup Bakrie, kendati kemenangan Ical telah diantisipasi sebagian besar pelaku pasar sebelumnya.

Penyebab utama terus terpuruknya harga saham BUMI adalah kekhawatiran investor terkait tingginya rasio utang perseroan, sehingga hal itu dapat menggerogoti laba bersih ke depan. Selain itu, PT Kalimantan Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia dijaminkan manajemen Bumi Resources guna mendapatkan utang.

Hal itu diungkapkan pengamat pasar modal Felix Sindhunata, Deni Hamzah, dan Kepala Riset PT Citi Pacific Securities Hendri Effendi secara terpisah kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.

Seharusnya harga saham Bumi menguat hari ini (Kamis), karena seharis sebelumnya sudah terkoreksi cukup dalam. Investor menunggu kepastian ketua umum Golkar. Tapi, begitu Ical terpilih, harga saham terus anjlok. Ini menunjukkan, kenaikan dan kejatuhan harga saham BUMI sulit diprediksi,” ujar Felix.

………. ini respon seorang analis pro yang PEDE ABIS  … menurut gw, Taleb benar bahwa TIDAK ADA SATU ALAT STATISTIK pun yang mampu 100% AKURAT dalam memprediksi MASA DEPAN SAHAM, bahkan isu fundamental pun TIDAK ADA SATU PUN YANG 100% BERIMBAS pada tren saham … SAHAM adalah SAHAM, semua faktor saling berinteraksi, TERMASUK NIAT ANALIS PRO UNTUK MENJADI OPINION LEADER DEMI KEPENTINGAN DIRINYA SENDIRI DAN KANTOR TEMPAT DOI BEKERJA dan KEPENTINGAN ORANG/INSTITUSI YANG MEMBAYARNYA … seperti kata teman investor yang pernah memberi ceramah investasi, DON’T BELIEVE IN STOCKS ANALYSTS, BUT BUSINESS ANALYSTS … percaya pada analisis bisnis, bahwa bisnis itu investasi jangka panjang dan bukan bisnis kagetan atawa investasi ultra-short term … bahkan seorang dokter pun tidak akan 100% AKURAT PROGNOSISNYA pada SEMUA PASIEN … kompleksitas dan komprehensifitas gejala dan tanda penyakit seorang pasien sering kali MENGGANGGU TERAPI, sehingga MERUBAH PROGNOSIS penyakit pasien itu … hal sama berlaku pada SAHAM

Dia mengakui, harga saham Bumi memang tergolong liar, sehingga sering membuat investor panik dalam mengambil posisi. Padahal, fundamental perseroan cukup bagus dan tidak ada kaitan langsung dengan terpilihnya Ical.

Felix mengungkapkan, tingginya rasio utang Bumi ditengarai menjadi pemicu kejatuhan harga perseroan. Sebab, investor khawatir utang tidak dapat digunakan secara optimal, sehingga keuntungan berpotensi tergerus dalam beberapa tahun mendatang.

Bumi Resources belum lama ini mendapatkan utang senilai Rp 11 triliun dari China Investment Corporation (CIC). Utang dengan kupon bunga 19% akan jatuh tempo enam tahun mendatang.

Pendapat senada juga diungkapkan Hendri Effendi. Dia berpendapat, investor masih tetap meragukan kemampuaan manajemen perseroan dalam mengelola utang secara optimal, khususnya dari CIC. “Bagi sebagian investor, kupon bunga sebesar 19% cukup besar dan dianggap sangat memberatkan operasional Bumi dalam tempo lima- enam tahun mendatang,” tandas Effendi.

Selain itu, lanjut Deni Hamzah, pemicu kejatuhan harga saham Bumi Resources kemarin adalah diturunkannya target harga BUMI oleh Macquire dan Morgan Stanley menjadi Rp 2.300 per unit.

Menurut Deni, sentimen negatif lebih mendominasi investor, walaupun Ical terpilih sebagai ketua Golkar. Akibatnya, mereka beramai-ramai melepas saham BUMI, termasuk saham-saham yang masuk kelompok Bakrie. “Jadi, kemenangan Ical gagal menganggkat harga saham Bumi,”tutur dia.

Ketiga pengamat pasar modal ini tetap yakin, harga saham BUMI masih berpotensi menguat untuk jangka panjang, karena fundamentalnya cukup baik, asalkan utang dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kinerja keuangan.

Hendri menambahkan, salah satu langkah untuk mendongkrak kinerja keuangan adalah meningkatkan kapasitas produksi batubara. Dengan begitu, kenaikan utang dapat diimbangi dengan peningkatan produksi.
Crossing CLSA

Saat ditanya adanya penutupan sendiri (crossing) saham BUMI oleh broker asing CLSA Indonesia senilai Rp 1,38 triliun pada harga Rp 1.700 per unit, Felix, Deni, dan Hendri menegaskan, hal tersebut tidak berdampak besar atas kejatuhan harga saham perseroan. Menurut mereka, harga crossing Bumi memang 40,8%berada di bawah harga pasar (Rp 2.825), tapi pengaruhnya relatif kecil.

CLSA melakukan transaksi crossing 4,19% saham Bumi Resources atau sama dengan 814,147 unit. Crossing saham dilakukan pada harga Rp 1.700 per unit atau sekitar 37,6% di bawah harga BUMI pada penutupan perdagangan kemarin Rp 2.725 per unit.

Setelah melego saham induk usaha PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia tersebut, CLSA melakukan transaksi jual beli dengan PT Sinarmas Sekuritas (DH). Transaksi itu terjadi empat menit setelah crossing 4,19% saham BUMI oleh CLSA pada harga Rp 1.700 per unit pukul 10.16 waktu JATS.

Transaksi antara Sinarmas dan CLSA terjadi di pasar negosiasi seharga Rp 2.825. Jumlah saham BUMI berpindah tangah 489,92 juta unit atau setara dengan 2,52% saham BUMI.

Direktur Utama Sinarmas Sekuritas Kokaryadi Chandra mengatakan, transaksi crossing saham BUMI dilakukan atas permintaan nasabah. “Transaksi itu murni investor, yaitu investor asing,” kata dia kepada Investor Daily, kemarin.

Ketika ditanya apakah ada permintaan lanjutan untuk melakukan crossing saham BUMI dalam jumlah besar hari ini, Kokaryadi mengakui dia belum mengetahuinya. “Saya belum tahu. Tapi, transaksi crossing (kemarin) itu wajar, karena harganya lebih tinggi dibandingkan harga penutupan BUMI,” ujarnya.

Sinarmas juga membeli 2,52% saham Bumi senilai Rp 1,38 triliun di pasar negosiasi atau setara 2,52%. Harga per unit mencapai Rp 2.825 per unit, lebih tinggi di atas harga penutupan BUMI Rp 2.725 per unit.

Data Bloomberg menyebutkan, Sinarmas memborong 26,9% saham Bumi senilai Rp 1,42 triliun dan diikuti CLSA 26,23% sebesar Rp 1,38 triliun. Sedangkan CLSA juga melepas 57,67% saham perseroan senilai Rp 3,04 triliun dan diikuti oleh CIMB Securities sebesar Rp 269,71 miliar.

Deni Hamzah mengungkapkan, crossing yang dilakukan CLSA bisa saja terjadi karena ada kesepakatan khusus dengan pihak-pihak tertentu. Pasalnya, saham BUMI sebelumnya banyak digadaikan (repo) ke berbagai pihak. Dia menjelaskan, Sinarmas telah memiliki 2% saham Bumi, sehingga wajar bila terus mengakumulasinya.

Terkait adanya crossing dan pembelian saham secara besar-besar oleh broker asing dan lokal, Felix Sindhunata berpendapat, hal ini menunjukkan, saham Bumi, termasuk saham kelompok Bakrie lainnnya, sangat rentan terhadap aksi spekulan. “Itu tercermin dari lonjakan tajam harganya, demikian juga sebaliknya penurunan drastis tanpa alasan yang jelas, sehingga arahnya sulit diprediksi,” kata dia.

Pandangan Negatif

Dihubungi terpisah, Dirut PT Finan Corpindo Nusa Edwin Sinaga mengungkapkan, aksi jual terhadap saham BUMI kemungkinan masih berlanjut hari ini hingga pekan depan. Pelaku pasar cemas dengan utang Bumi. Karena itu, kata dia, pelaku pasar khawatir perusahaan milik Grup Bakrie itu gagal bayar dan terjadi pengambilalihan KPC dan Arutmin.

Sementara itu, dalam riset terbaru JP Morgan soal BUMI menyebutkan, pihaknya berpandangan negatif terhadap utang Bumi dari CIC. Tekanan jual saham BUMI kemungkinan terjadi dalam jangka pendek.

“Bunga 12% dan IRR 19% bisa membebani keuangan. Sebab, bunga 12% itu tiga kali lebih tinggi dibandingkan posisi saat ini sebesar 4%,” tulis analis JP Morgan Stevanus Juanda.

Menurut dia, pinjaman CIC memiliki sedikit pembatasan dari pinjaman sebelumnya. Hal itu dapat mendorong leverage yang lebih tinggi dan risiko yang lebih besar. “Dalam jangka pendek, informasi ini bisa berdampak negatif terhadap BUMI. Kami merekomendasikan investor untuk membeli lagi saham BUMI di bawah Rp 2.750 per unit,” Stevanus.

Iklan

2 Komentar »

  1. Ini ditulis langsung oleh Karidun Pardosi?

    Komentar oleh Fernandus Pardosi — Maret 11, 2018 @ 5:09 am

  2. dikutip dari sumber media online investor daily

    Komentar oleh bumi2009fans — Maret 16, 2018 @ 9:25 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: