Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

November 27, 2009

utang dan right issue TOPIK the bakries pekan KOREKSI … 271109

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 8:19 pm

7/11/2009 – 16:08
‘Rights Issue’ Bakrie Ganggu Indeks Sepekan
Asteria

(inilah.com /Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia terpantau lunglai pada perdagangan di pekan yang singkat ini. Saham grup Bakrie memberi tekanan negatif, dipicu aksi korporasi emiten-emitennya.

Pada Kamis (26/11), perdagangan terakhir pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 68,009 poin (2,77%) ke level 2.393,519. Koreksi saham grup Bakrie marak mewarnai pasar.

Saham PT Bumi Resources (BUMI) mendominasi perdagangan, dengan nilai transaksi Rp1,214 triliun atau 25,4% total perdagangan hari ini. Adapun BUMI ditutup melemah Rp225 (8,65%) ke posisi Rp 2.375.

Sedangkan PT Darma Henwa (DEWA) jatuh Rp33 (18,13%) menjadi Rp149, PT Energi Mega Persada (ENRG) tergerus Rp15 (6,38%) ke posisi Rp220, serta PT Bakrie & Brothers (BNBR) turun Rp8 (8%) ke level Rp92.

Demikian pula saham PT Bakrie Sumatra (UNSP) turun Rp60 ke Rp740, PT Bakrieland Development (ELTY) turun Rp25 ke Rp245 dan PT Bakrie Telecom (BTEL) melemah Rp7 ke level Rp147.

Betrand Raynaldi, analis dari Panca Global Securities mengatakan, IHSG sepekan ini mengalami pelemahan. Salah satunya dipicu koreksi saham grup Bakrie. “Rencana anak-anak usaha Bakrie yang mematok harga rights issue di bawah harga pasar, memberi sentimen negatif,” katanya kepada INILAH.COM.

Apalagi, lanjutnya, sentimen negatif ini datang beruntun. Setelah ENRG, DEWA menyusul dengan mengumumkan rencana penerbitan right issue. “Bahkan UNSP juga diperkirakan melakukan hal serupa, untuk pendanaan akuisisi Domba Mas,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Aji Martono, technical analyst PT Indomitra Securities. Menurutnya, rencana Grup Bakrie yang akan menarik dana besar-besaran dari market, memicu pelemahan saham-saham grup ini secara keseluruhan.

Ia menilai rencana rights issue ENRG di harga Rp185 per saham terlalu mahal. “Akibatnya, sambil menunggu pelaksanaan right issue itu, pasar melakukan penjualan,” katanya.

Seperti diketahui, ENRG akan melaksanakan rights issue sebanyak 26,2 miliar saham dengan harga Rp185 per saham. Angka ini di bawah harga pasar, yang kini berada di level Rp200-an. Hasil dana sebesar Rp 4,8 triliun itu akan digunakan untuk modal kerja dan pembiayaan kembali fasilitas pinjaman secara keseluruhan atau sebagian.

Dengan rights issue ini, utang perseroan akan berkurang dan beban keuangan turun sehingga profitabilitas meningkat. Setiap pemegang saham ENRG yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada 11 januari 2010, berhak membeli 20 saham baru. Dari 16 saham baru, terdapat 3 waran dengan harga pelaksanaan Rp 190/saham. Waran ini bisa dikonversi menjadi kepemilikan saham pada harga Rp 190 per saham.

Untuk memenuhi syarat pinjaman dari Credit Suisse sekaligus membiayai 10% penyertaan di Blok Masela, ENRG akan melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) II atau rights issue sebanyak 26,18 miliar saham baru.

Demikian juga DEWA yang akan menggelar rights issue 6,24 miliar dengan harga Rp 100. DEWA akan meraup dana segar setidaknya Rp 624 miliar dari hajatan ini, dimana sekitar 68,47% dana IPO ini akan digunakan untuk pelunasan sebagian utang perseroan. Sedangkan 7,61% untuk pembelian alat berat. Sisanya atau 23,93% akan digunakan untuk modal kerja. DEWA menunjuk Danatama Makmur sebagai pembeli siaga (standy buyer).

Sebanyak 5 pemegang saham lama berhak membeli 2 rights issue DEWA. RUPSLB akan digelar pada 28 Desember 2009. Cum rights issue ditetapkan pada 6 Januari 2010, ex rights issue pada 7 Januari 2010, periode perdagangan pada 13-19 Januari 2010 dan tanggal pembayaran pada 21 Januari 2010.

PT Anugerah Securindo Indah, Viviet S Putri mengatakan, harga rights issue DEWA yang jauh lebih rendah dari harga pasar, mengindikasikan bahwa perseroan menghendaki rights issue dieksekusi pasar, bukan standby buyer. “Sebagian investor DEWA melakukan aksi jual untuk mendapatkan dana mengeksekusi rights issue di harga Rp 100,” ujarnya.

Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Aset Manajemen mengatakan, pelemahan BUMI dipicu sentimen negatif penerbitan kembali obligasi konversi US$300 juta, melalui anak usahanya Enercoal Resources. Obligasi ini berjangka waktu 7 tahun dengan kupon bunga 5%. Utang BUMI 2009 ini yang mencapai US$2,875 miliar, pada 2016 menjadi US$4,689 miliar.

Menurutnya, utang BUMI sangat berisiko. Di satu sisi perusahaan meminjam uang dalam jumlah besar, tapi pada saat bersamaan melakukan akuisisi. Seperti akuisisi Herald yang baru 2011 akan menghasilkan produk. “Pasar khawatir besaran utang dapat membebani kas BUMI. Obligasi itu kan tambahan utang,” katanya.

Namun masih ada beberapa perusahaan akuisisi BUMI yang sudah berproduksi, seperti Berau Coal dan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). “Jika harga komoditas naik, sementara produksi anak usaha yang diakuisisinya juga naik, utang-utang BUMI bisa terbayar,”paparnya. [mdr]

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: