Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Desember 20, 2009

unsp di papua … 201209

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 6:15 am

Selasa, 22/12/2009 00:00 WIB

BUDI DAYA
Investor minati pergulaan

oleh :

JAKARTA: Departemen Pertanian mengungkapkan membaiknya harga gula saat ini berdampak terhadap meningkatnya minat investor untuk menanamkan modal bagi pengembangan sektor pergulaan di Tanah Air.

Dirjen Perkebunan Deptan, Achmad Mangga Barani di Jakarta, Sabtu mengatakan, setidaknya saat ini sudah ada 11 perusahaan yang tertarik membangun pabrik gula yang baru.

“Dengan kondisi sekarang banyak investor yang mau masuk (di sektor perkebunan). Investasi terbesar di sektor perkebunan yakni di komoditas gula,” katanya.

Saat ini harga gula di tingkat petani berada pada kisaran Rp7.000-Rp7.500/kg padahal sebelumnya hanya sebesar Rp4.000/ Rp4.500/kg. Dia mengakui pengembangan industri gula memerlukan investasi yang besar misalnya untuk pabrik berkapasitas 5.000 ton tebu per hari atau TCD (ton cane per day) dibutuhkan dana Rp1 triliun.

Jumlah tersebut setara dengan biaya untuk pembangunan pabrik minyak sawit mentah (CPO) antara 14 unit-16 unit dengan kapasitas 30 ton-60 ton yang memiliki 10.000 hektare (ha) kebun kelapa sawit. (Bisnis/dle)

bisnis.com

[ Senin, 21 Desember 2009 ]
Melambung, Harga Gula Tembus Rp 10.500 Per Kg
Sarankan Penurunan Bea Masuk Gula Impor

SURABAYA – Berakhirnya musim giling November lalu langsung diikuti melambungnya harga gula lokal. Di sejumlah pasar tradisional, harga gula bahkan sudah menembus Rp 10.500 per kilogram. Gula impor yang dijadwalkan tiba bulan ini diprediksi tidak banyak membantu karena harga gula dunia juga tinggi.

Pantauan di Surabaya menunjukkan bahwa kenaikan harga gula lokal sebenarnya terjadi sejak akhir pekan lalu. Di Pasar Bendul Merisi, misalnya. Pada Jumat lalu (18/12), terjadi tiga kali perubahan harga, yakni dari posisi Rp 9.000 naik menjadi Rp 9.200 dan terakhir Rp 9.500 per kg. ”Hari ini (kemarin) sudah mencapai Rp 10.500 per kg. Belum tahu lagi besok bagaimana,” kata Fifi, salah seorang pedagang.

Menurut dia, kenaikan itu langsung berimbas pada turunnya omzet penjualan. Sebab, sebagian besar konsumen menahan diri untuk membeli. ”Bahkan, saya sampai tidak berani menambah stok. Sehingga, yang saya jual sekarang stok lama,” ujarnya.

Kondisi serupa terjadi di Pasar Pucang. Sejumlah pedagang mengatakan bahwa momen Natal dan Tahun Baru turut memicu kenaikan harga gula. Misalnya, pada musim Lebaran, permintaan gula terus meningkat, sementara di kalangan pedagang terjadi kekhawatiran menipisnya stok gula.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Perkebunan Nusantara XI Adig Suwandi mengatakan, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada gula lokal. Menurut dia, harga gula dunia juga naik drastis. Karena itu, dia memprediksi, tingginya harga gula di tingkat eceran terus berlangsung, kendati impor sudah masuk. Maklum, harga gula impor masih harus memperhitungkan bea masuk, PPN, PPh, asuransi, biaya bongkar muat, susut, dan cost of money. “Jadi, harga sampai gudang pelabuhan sudah di atas Rp 10.000 per kg,” tuturnya.

Pada penutupan Bursa Berjangka London (18/12), gula untuk pengapalan Maret 2010 diperdagangkan dengan harga USD 678,30 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium). Harga itu naik USD 15,30 jika dibandingkan dengan sebelumnya (17/12).

Adig menambahkan, agar harga gula impor tidak melambung tinggi, pemerintah bisa menurunkan bea masuk dan memberikan subsidi kepada konsumen yang nilainya bergantung pada harga impor, margin importer, dan harga riil yang diinginkan pemerintah. ”Pengetatan konsumsi bisa jadi pilihan, minimal sampai PG melakukan giling,” tuturnya.

Sementara itu, stok gula yang tersedia saat ini sekitar 550.000-610.000 ton diperkirakan bisa mencukupi konsumsi hingga Februari 2010. Pada saat itu, dua pabrik gula di Sumatera Utara akan melakukan giling sehingga aktivitas produksi mulai berlangsung. Akhir Maret atau April, lima pabrik gula di Lampung dan satu di Sumatera Selatan juga menyusul proses giling dengan produksi yang jauh lebih banyak. “Kalau di Jawa, panen raya tebu masih lima bulan lagi,” ujarnya. (res/fat)
WILMAR DAN BAKRIE INVESTASI DI MERAUKE, Investasi 11 PG Rp 30 Triliun
19/12/2009 17:09:08 WIB
Oleh Ester Nuky

JAKARTA, INVESTOR DAILY
Investasi 11 pabrik gula (PG) baru di Tanah Air diperkirakan sebesar Rp 20-30 triliun. PG itu berkapasitas total sekitar 93 ribu ton tebu per hari (cane per day/TCD). Pabrik yang terbesar akan dibangun Bakrie Sumatera Plantations di Merauke (Papua) dan Sukses Mantap Sejahtera di Dompu (Nusa Tenggara Barat). Pabrik masing-masing berkapasitas 12 ribu ton TCD.

PG lain bakal dibangun Gula Manis Tinanggea dengan kapasitas 8.000 ton TCD (di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara), Wilmar 8.000 ton TCD (Merauke, Papua), Sumber Mutiara Indah Perdana 5.000-10.000 ton TCD (Kampar, Riau), serta Permata Hijau Resources 4.500 ton TCD (Sambas, Kalimantan Barat).

Sedangkan PG di Jawa adalah Rosan Kencana Perkasa berkapasitas 6.000-10 ribu ton TCD (Mojokerto, Jawa Timur), Gemilang Unggul Luhur Abadi 6.000-8.000 ton TCD (Tuban, Jawa Timur), Duta Plantation Nusantara 4.500 ton TCD (Malang, Jawa Timur), serta Bina Muda Perkasa/Market Indoselaras 8.000 ton (Rembang, Jawa Tengah).

“Pembangunan PG baru itu membutuhkan investasi Rp 20-30 triliun, belum termasuk untuk on farm (perkebunan). Road map (peta jalan) industri gula nasional sedang dibahas, sehingga belum diketahui total biaya yang dibutuhkan,” kata Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian (Deptan) Achmad Mangga Barani di Jakarta, Kamis (17/12).

Menurut dia, makin banyak investor tertarik membangun PG, karena harga gula kini terus meningkat. Padahal, biaya pembangunan industri gula sebenarnya sangat besar dibanding komoditas lain.

Ia mencontohkan, pembangunan satu PG berkapasitas 5.000 ton TCD dengan lahan 10 ribu hektare (ha) memerlukan investasi Rp 1 triliun. Sedangkan pembangunan pabrik pengolahan sawit berkapasitas 30-60 ton per hari dengan lahan 10 ribu ha hanya butuh biaya Rp 70 miliar.

“Selain pada off farm (pengolahan dan pemasaran), investasi on farm gula mahal. Biaya pengembangan lahan tebu mencapai Rp 50 juta per ha, padahal untuk sawit hanya Rp 30 juta per ha,” paparnya.

Oleh karena investasinya sangat mahal, tegasnya, harga gula harus bagus agar orang mau berinvestasi. Tahun lalu, harga gula sempat anjlok sehingga PT Perkebunan Nusantara (PTPN) menunda pelaksanaan revitalisasi PG.

“Petani tebu meminta agar harga gula sebesar Rp 7.000-7.500 per kilogram (kg), sehingga harga di tingkat konsumen sekitar Rp 9.000 per kg. Harga gula diharapkan menguntungkan petani agar bersemangat menanam, tapi juga tidak memberatkan konsumen,” tambahnya.

Perbaikan PG BUMN Rp 97 T
Mangga menjelaskan, konsorsium bank yang dimotori Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah berkomitmen membiayai perbaikan dan pembangunan PG baru. Khusus untuk perbaikan PG milik BUMN, investasi yang diperlukan sebesar Rp 97 triliun.

“Industri gula ini menjadi prioritas bank nasional, sehingga pencairan kreditnya terbesar dibanding komoditas lain,” jelasnya.

Pada kesempatan terpisah, Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, tahun depan, dana stabilisasi pangan kemungkinan besar diarahkan untuk subsidi harga gula bagi masyarakat miskin (rumah tangga sasaran/RTS). Penerimanya nanti sama dengan penerima beras bersubsidi bagi keluarga miskin (raskin).

“Kami sedang membahas besar anggarannya. Kami masih akan mengkaji lagi perlu tidaknya subsidi gula untuk RTS itu,” ucapnya.

Ia memperkirakan, harga gula tahun depan masih naik akibat penurunan produksi global. Ini terkait kecenderungan berkurangnya produksi pangan dunia karena perubahan iklim, yang diindikasikan dari tren menguatnya harga kontrak berjangka komoditas untuk pengiriman tiga hingga enam bulan ke depan.

“Fokus kebijakan kami adalah membantu masyarakat berpendapatan rendah agar bisa membeli bahan pangan dengan harga terjangkau. India, Filipina, Vietnam, dan beberapa negara lain sedang menghadapi masalah iklim, yang diperkirakan melambungkan harga gula dan beras,” tutur Bayu.

Ia menjelaskan, saat ini, pemerintah baru memutuskan untuk menganggarkan dana stabilisasi pangan dalam APBN, guna menyubsidi harga bahan pangan nonberas yang naik. Namun, jumlah dananya belum bisa dipastikan, karena masih dalam pembahasan.

“Pemerintah sudah menyediakan dana stabilisasi pangan dalam APBN, dengan model penyaluran seperti subsidi minyak goreng. Dana ini untuk mengantisipasi kondisi terburuk, yang bisa dipakai menyubsidi gula dan minyak goreng saat harga naik,” kata Bayu.

Ia menjelaskan, kebijakan tersebut didasarkan pada pengalaman pemerintah tahun lalu, yang baru menyediakan dana khusus saat harga bahan pangan sudah melonjak. Dana itu tidak bisa digunakan untuk stabilisasi harga beras, karena sudah ada subsidi raskin yang disalurkan lewat Perum Bulog. (c127)

Senin, 21/12/2009 00:00 WIB

KUOTA
Harga gula melonjak

oleh :

SAMPIT, Kalteng: Menjelang Natal dan tahun baru, harga gula pasir di Pusat Perbelanjaan Pasar Mentaya (PPM) Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, naik dari Rp9.000 menjadi Rp11.000 per kilogram.

“Naiknya harga gula pasir tersebut telah terjadi dalam sepekan terakhir karena harga gula dari Pulau Jawa sudah mengalami kenaikan,” kata pedagang di PPM Sampit, Maria, kemarin.

Menurut dia, kebutuhan pokok lain yang juga naik adalah beras Rp400 hingga Rp500 per kg, dan terigu merek Cakra, yang naik dari Rp7.500 menjadi Rp8.000 per kg. (Antara)

bisnis.com

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: