Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Januari 3, 2010

traffic ke blog2 saham gw TERUS TERJAGA, malah NAEK … 030110

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:57 am

… sekedar catatan sejak terjadi pemisahan topik blog, menjadi 4 topik, yaitu murni soal bumi resources dan saham bumi, lalu soal maen saham beneran (ala gw), transaksi harian saham2 gw, dan isu terkait saham2 the bakries, maka lonjakan pageviews benar-benar terjadi … ini menunjukkan bahwa persoalan terkait saham indo memang menggiurkan bwat siapa pun … terutama di blog maen saham beneran, sejak gw memposting soal2 taktik trading harian, ciri2 perilaku pemaen saham yang dewasa, dan analisis teknikal sederhana yang cukup berimbas pada pengambilan keputusan trading, maka terlihat tren peningkatan traffic terus menerus pada blog yang satu ini … sama sekali tanpa jeda penuruan traffic pada blog maen saham beneran itu … well, semoga gw maseh punya tenaga dan waktu untuk berinovasi pada cara maen gw, apalagi gw sekarang mulai memposting isu saham goreng2an, yang ternyata TIDAK KALAH MENYILAUKANNYA PERGERAKAN HARGANYA … jika disikapi dengan JELI, sesuai tingkat kedewasaan investor, maka MAEN SAHAM GORENG2AN ITU BERLABA DAHSYAT dah … coba cek link yang ke hukum rumor bursa dah …
Kamis, 24/12/2009 09:19 WIB

Tantangan pengukuran media online

oleh : R. Pradopo

Perkembangan Internet di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan. Diperkirakan pengguna Internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 30 juta orang. Bahkan Indonesia termasuk negara ketiga setelah Pakistan dan India yang memiliki pertumbuhan pengguna Internet terbanyak di dunia.

Potensi penetrasi Internet tentu memunculkan peluang baru bagi para pemasar untuk melirik medium Internet sebagai wahana aktivitas dalam membangun merek.

Berdasarkan sumber dari Zenith Optimedia, pangsa pasar Internet sebagai tempat untuk beriklan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Bahkan, pangsa pasar internet lebih besar dibandingkan majalah. Ini mengindikasikan sebuah peluang besar bagi media digital untuk memperoleh pendapatan dari bisnis media.

Internet akan menjadi sebuah bentuk komunikasi yang mengkombinasikan berbagai fungsi, seperti penyediaan informasi, pengembangan merek, dan bersifat persuasif. Situs perusahaan mengombinasikan teks dan gambar pada halaman yang berbeda melalui teknologi interaksi untuk memberikan informasi dan membangun merek perusahaan.

Sebuah pendekatan unik untuk peningkatan ekuitas merek secara on line adalah desain situs yang diperuntukan bagi merek.

Bayangkan, ketika konsumen melihat situs merek atau produk, dia sedang berada pada sebuah pengalaman virtual. Kekuatan pengalaman virtual adalah sebuah fungsi dimana seseorang merasa lebih memiliki keterlibatan tinggi terhadap sebuah merek atau produk.

Mereka secara bebas bisa menentukan panjang pendek informasi yang ingin mereka serap dan perilaku ‘klik’ mempermudah mereka untuk mengeksploitasi sumber informasi lebih detail. Semuanya akan mengalir tanpa pengawasan dari pemasar.

Namun sayangnya, keunggulan media digital memiliki potensi hambatan yang cukup besar untuk berkembang. Hambatan terbesarnya adalah tidak tersedianya alat ukur untuk metode pembelian media digital khususnya melalui internet.

Tidak seperti ketika pengiklan ingin membeli media di televisi. Dasar pembelian sangat jelas sekali. Sistem pembayaran media di televisi memiliki standar yang telah diterima di semua industri.

Di Inggris, misalnya, kita mengenal sistem pengukuran berdasarkan BARB (Broadcaster’s Audience Reseach Board). Di Indonesia, semua industri mengacu kepada pengukuran yang dilakukan oleh Nielsen, sehingga, pembelian media di televisi mampu memberikan alat ukur yang jelas ketika kita ingin menempatkan iklan kita di media televisi.

Ada beberapa teknik pembayaran media yang selama digunakan yaitu pay-per-view, pay-per-click, berdasarkan hit pada site tertentu. Pay-per-view artinya pengiklan hanya membayar sejumlah tertentu pada tiap konsumen membuka situs dan terekspose dengan iklan. Pay-per-click artinya pengiklan hanya membayar ketika konsumen melakukan interaksi dengan merek pengiklan.

Berdasarkan jumlah hit akan lebih mudah, misalnya situs berita memberikan harga kepada pengiklan berdasarkan jangka waktu misalnya bulan. Dasar penentuan adalah jumlah kunjungan situs tersebut mencapai 30-40 juta orang.

Jadi harga akan didasarkan pada jumlah kunjungan. Sistem pembayaran ini, tidak menguntungkan bagi para pengiklan karena hasil yang ingin dicapai jadi tidak jelas.

Setidaknya media digital house harus mengambil langkah besar untuk mendesain sebuah alat pembayaran untuk media digital. Sementara ini, media digital house di Indonesia masih mengacu pada PPC, PPV, dan jumlah pengunjung di situs.

Sistem pembayaran yang mereka terapkan juga jauh dari harapan pengiklan. Bila pengiklan memasang di media televisi akan lebih jelas berapa rating yang didapatkan sementara bila di media Internet pengiklan tidak bisa mendapatkan pengukuran yang sama.

Alhasil belanja di media online bisa dikatakan tidak akuntabel. Transparansi merupakan isu utama karena pengiklan akan menilai titik impas ketika beriklan di media onlline.

Sebagai contoh P&G sebagai pengiklan terbesar di dunia, berkomentar bahwa Fast Moving Customer Good (FMCG) tidak akan mengalokasikan anggaran ke media online lebih besar dibandingkan televisi selama industri ini tidak pernah mengenalkan sebuah teknik pengukuran yang lebih fair.

Bahkan Corporate Marketing Director P&G Roisin Donnelly berkomentar bahwa perusahaannya tidak akan menambah belanja iklan di media online selama masalah tersebut belum terpecahkan.

Saat ini,beberapa perusahaan mengenalkan teknik pengukuran di media online, seperti UKOM. UKOM telah menggandeng Nielsen Company untuk meluncurkan teknik pengukuran yang dinamakan universal online planning system.

Teknik pengukuran ini menggunakan panel-based system. Alasannya adalah agar supaya pengiklan mudah membandingkan dengan media lainnya. Namun demikian, teknik pengukuran ini juga masih mendapatkan kritikan yang tajam terutama dari rivalnya yaitu ComScore.

ComScore menilai bahwa teknik yang digunakan UKOM tidak efektif karena tidak mengukur penggunaan Internet tidak didasarkan pada site server data. Jadi, penggakses Internet melalui Iphone tidak akan terukur.

Alhasil ComScore meluncurkan teknik baru yaitu mengkombinasikan antara panel-based system dengan site server data. Teknik ini diyakini lebih akurat dibandingkan yang dikembangkan oleh UKOM.

Di Indonesia, setidaknya pemain besar seperti kompas.com seharusnya memiliki inisiatif untuk melakukan sebuah kajian mendalam tentang teknik pengukuran media online. Dengan demikian perkembangan Internet akan mentransformasikan ke medium yang mampu memberikan keuntungan bagi perusahaan.

bisnis.com

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: