Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Februari 10, 2010

unsp :) tengok harga ce-pe-0000 … 100210

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 6:40 am

Membaca tren saham CPO awal 2010
Harga CPO bertahan pada US$700 per ton

Di tengah potensi penurunan permintaan dunia, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) diekspektasi menguat awal tahun ini. Fenomena musiman dinilai menghangatkan saham sektor tersebut dalam jangka pendek.
Berbicara tentang proyeksi industri tanaman, faktor alam dan musim memang sulit dinafikan pengaruhnya terhadap kinerja industri tersebut setiap tahunnya.

Analis PT Credit Suisse Securities Indonesia Teddy Oetomo dan dan Tan Ting Min menilai harga CPO awal tahun ini berpotensi menguat, mengingat produksi CPO pada triwulan I secara musiman melemah yang berujung pada kenaikan harga komoditas tersebut di pasar.

Apalagi, faktor program biodiesel beberapa negara juga diekspektasi melampaui Uni Eropa dan Amerika Selatan yang memicu permintaan CPO, di tengah penanaman ulang kebun sawit di Malaysia yang bisa mengurangi suplai negeri itu hingga 3%.

“Kami masih yakin harga CPO menguat secara musiman pada awal 2010. Kami mempertahankan proyeksi rata-rata harga CPO di level RM2.500 pada 2010 dan 2011, atau naik dari proyeksi 2009 sebesar RM2.260,” tuturnya dalam laporan riset per 6 Januari.

Teddy mencatat periode triwulan I/2010 menjadi periode penurunan produksi CPO, mengingat CPO sekarang diperdagangkan diskon US$120 dibandingkan dengan minyak kedelai. Otomatis, komoditas ini masih menjadi minyak goreng favorit terutama di negara berkembang seperti China dan India.

Di sisi lain, kewajiban biodiesel yang menguat di beberapa dunia pada 2010 akan membantu menaikkan permintaan CPO. Oil World memperkirakan produksi biodiesel global pada 2010 naik 20% secara tahunan atau sebesar 3,2 juta ton.

Namun, Teddy mengakui proyeksi tersebut dibayangi risiko yang bisa mengubah asumsi seperti kenaikan harga minyak mentah dunia, gangguan cuaca yang memicu penurunan hasil panen dan kekurangan suplai, turunnya dukungan kurs dolar terhadap harga komoditas, dan spekulasi di pasar berjangka.

Credit Suisse memperkirakan sepanjang tahun ini harga CPO berpotensi volatil, tetapi broker asing itu tetap optimistis rata-rata harga komoditas itu naik menuju level RM2.600 per ton.

“Harga CPO telah menunjukkan volatilitas terbesar dalam 2 tahun terakhir, dengan mencatat posisi tertinggi pada RM4.400 per ton pada Maret 2008 dan posisi rendah di kisaran RM1.390 pada November 2008,” paparnya.

Profil kredit

Terpisah, Fitch Ratings mengekspektasikan produsen CPO Asia bisa mempertahankan profil kredit mereka tahun ini, dengan ditopang faktor positif berupa kestabilan harga CPO menyusul keseimbangan suplai-permintaan dan penurunan tekanan biaya pupuk sejak semester II/2009.

Analis Fitch Ratings Budhika Piyasena menilai faktor harga dan penurunan biaya pupuk tersebut seharusnya berujung pada profitabilitas dan arus kas operasional kuat. Produsen CPO berprofil perkebunan matang dan operasi terkelola paling mendapat berkah.

“Di tengah ketatnya suplai minyak goreng hingga 2010, Fitch melihat harga CPO akan cenderung bertahan pada level sekarang sekitar US$700 per ton dalam jangka pendek,” tuturnya dalam laporan riset kemarin.

Dari sisi produksi, Fitch mengekspektasikan produksi CPO Indonesia terus meningkat dan produksi Malaysia tetap stabil, karena lahan tanam yang lebih matang dan terus berlanjutnya proses penanaman ulang.

Budhika menambahkan meningkatnya kepedulian corporate social responsibility (CSR) dan isu lingkungan di sektor CPO tahun ini akan menguat, menyusul munculnya sertifikasi Roundtable for Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Praktik itu akan banyak dijalankan, mencerminkan kenaikan permintaan konsumen atas produk CPO dari sumber yang berkesinambungan,” paparnya.

Credit Suisse memperkirakan kenaikan harga CPO kemungkinan tidak berlanjut pada triwulan II. Penyebabnya adalah ekspektasi panen kedelai menembus rekor tertinggi di Amerika Selatan, yakni menguat 30% secara tahunan dan naiknya produksi sawit.

Rekor itu dipicu kombinasi ekspansi lahan penanaman dan kenaikan panen yang drastis, setelah tahun lalu panen terganggu oleh fenomena kekeringan La Nina. Amerika Selatan menyumbang separuh produksi kedelai dunia tahunan dan 33% produksi kedelai global. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.
Wartawan Bisnis Indonesia

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: