Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Februari 11, 2010

unsp MAU mengakali investor bursa berjangka, juga : 110210

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 6:42 pm

UNSP: Masuk Bursa Berjangka

PT Bakrie Sumatera Plantationts Tbk (UNSP) akan menjadi pembeli minyak sawit mentah (crude palmn oil) di pasar fisik Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Perseroan membutuhkan CPO untuk pabrik oleokimia sebanyak 1.500 ton per hari, sedangkan produksi saat ini hanya sekitar 833 ton per hari. e-trading
Bakrie Sumatera Masuk Bursa Berjangka
12/02/2010 09:06:42 WIB
Oleh Eva Fitriani

JAKARTA, INVESTOR DAILY
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) akan menjadi pembeli minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar fisik Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Perseroan membutuhkan CPO untuk pabrik oleokimia sebanyak 1.500 ton per hari, sedangkan produksi saat ini hanya sekitar 833 ton per hari.

Bakrie Sumatera bakal resmi menjadi pembeli CPO di pasar fisik BBJ mulai Maret 2010. Rencana tersebut sudah dibicarakan kepada manajemen BBJ. “Kami berharap ada insentif pajak karena beban yang ditanggung perseroan selama proses penyelesaian transaksi di luar BBJ cukup banyak,” kata Direktur Komersil Bakrie Sumatera Bambang Aria Wisena disela sosialisasi perubahan tata tertib pasar fisik CPO terorganisir di BBJ, Jakarta, Kamis (11/2).

Adapun perusahaan lain yang telah terdaftar sebagai pembeli CPO di pasar fisik BBJ di antaranya PTPN III, PTPN XIV, PT Wilmar Nabati Indonesia, PT SMART Tbk, PT Musim Mas, dan PT Royal Industries Indonesia. Sedangkan perusahaan selaku penjual CPO antara lain PTPN I-VIII, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), dan PT Api Metra Palma.

Bakrie Sumatera berniat menjadi pembeli CPO sebanyak 667 ton per hari atau 20 ribu ton per bulan guna mendapatkan tambahan pasokan untuk memaksimalkan pabrik oleokimia. Dengan demikian, total kebutuhan CPO sekitar 1.500 ton per hari dapat dipenuhi oleh perseroan.

Sementara itu, Direktur Utama Bakrie Sumatera Ambono Janurianto mengungkapkan, pihaknya menargetkan produksi CPO tahun ini sebanyak 430 ribu ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 110 ribu ton akan digunakan untuk bahan baku oleokimia dan sisanya 320 ribu ton akan dijual. Tahun depan, pemegang mayoritas saham Domba Mas itu diproyeksikan meningkat menjadi 480 ribu ton. Sekitar 265 ribu ton di antaranya bakal dipakai untuk bahan baku oleokimia, sedangkan sisanya 215 ribu ton dijual.

Bakrie Sumatera membutuhkan dana cukup besar untuk kembali mengoperasikan pabrik oleokimia Domba Mas. Sejak 2008, pabrik tersebut berhenti beroperasi karena kesepakatan penjualan dengan P&G bermasalah.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Bakrie Sumatera Fitri Barnas menjelaskan, pihaknya mengalokasikan dana Rp 1,1 triliun untuk mengembangkan bisnis oleokimia. Dana tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan pembangunan pabrik fase 2 dan fasilitas pendukung seperti jetty, powerplant, waste water, treatment, office building, lighting, dan fencing.

Perseroan menargetkan pabrik tersebut bisa beroperasi tahun ini dengan kapasitas produksi sebanyak 28-30 ribu ton fatty alcohol dan 40 ribu ton acid. Pada 2011, kapasitas produksi diharapkan meningkat 70%, sedangkan pada 2012 naik 90%.

Beberapa anak usaha Bakrie Sumatera yang bergerak pada usaha oleokimia adalah PT Domba Agrointi Prima, PT Sawitmas Agro Perkasa, PT Sarana Industama Perkasa, PT Flora Sawita Chemindo, PT Domas Agrointi Perkasa, dan PT Domas Sawitinti Perdana.
Kamis, 11 Februari 2010 | 15:22

AKSI KORPORASI UNSP

UNSP Akan Menjadi Pembeli Kontrak Fisik BBJ

JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) siap menjadi peserta pasar fisik CPO di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Direktur Komersial UNSP Bambang Aria Wisena mengatakan, UNSP akan menjadi salah satu pembeli CPO di pasar fisik terhitung bulan depan.

Bambang mengatakan, UNSP belum akan menjadi penjual CPO di pasar fisik meski memiliki perkebunan sawit. “Saat ini, kami memproduksi 25.000 ton CPO per bulan,” kata Bambang .

Tapi, pasca akuisisi Domba Mas rampung, UNSP bakal memerlukan lebih banyak CPO. “Kebutuhan CPO di 2010-2011 mencapai 1.500 ton per hari,” imbuh Bambang. Karenanya, UNSP mendaftar sebagai pembeli pasar fisik BBJ demi memenuhi kebutuhan itu.

Wahyu Tri Rahmawati kontan
dari blog tetangga:

Commodity Hedging
Istilah hedging atau lindung nilai umumnya lebih dikenal dalam rangka transaksi yang terkait dengan perbankan. Sebenarnya, hedging ini juga banyak dipakai pada transaksi perdagangan komoditas Dalam sejarahnya CBOT (Chicago Board of Trade) dibentuk pada tahun 1848 oleh para pengusaha pertanian di Amerika sebagai solusi atas fluktuasi harga komoditas biji-bijian (grains). Saat itu diperkenalkan transaksi forward contract yang kemudian berkembang menjadi futures contract. (Pakasi, 2006).

Dalam setiap kegiatan perdagangan, pengusaha selalu mengharapkan keuntungan, akan tetapi juga dihadapkan kepada risiko kerugian yang selalu melekat dalam kegiatan usahanya. Risiko umumnya berasal dari akibat perubahan harga barang, perubahan kurs mata uang, suku bunga, inflasi dan lain sebagainya. Untuk melindungi pengusaha dari risiko tersebut dapat dilakukan melalui hedging (lindung nilai) di bursa berjangka. Dengan melakukan lindung nilai, risiko tersebut dapat dialihkan (transfer of risk) kepada investor yang mengharapkan keuntungan dari perubahan harga di bursa berjangka.
Hedging adalah suatu kegiatan pengambilan posisi di pasar berjangka yang berlawanan dengan posisinya di pasar fisik. Dengan mengambil posisi yang berlawanan antara pasar berjangka dan pasar fisik, maka kerugian yang timbul akibat adanya fluktuasi harga di pasar fisik dapat dikurangi dengan keuntungan yang diperoleh di pasar berjangka, atau sebaliknya.
Hedging bukan kegiatan yang bersifat spekulasi karena untuk melakukannya dibutuhkan pengetahuan yang memadai dan perhitungan yang cermat. Dengan demikian sebelum melakukan lindung nilai perlu menentukan strategi yang tepat guna mencegah terjadinya kerugian.
Pada dasarnya harga komoditas primer sering berfluktuasi karena ketergantungannya pada faktor-faktor yang sulit dikuasai seperti kelainan musim, bencana alam, dan lain-lain. Dengan kegiatan lindung-nilai menggunakan kontrak berjangka, hedger dapat mengurangi sekecil mungkin dampak (risiko) yang diakibatkan gejolak harga tersebut. Dengan memanfaatkan kontrak berjangka, produsen komoditas dapat menjual komoditas yang baru akan mereka panen beberapa bulan kemudian pada harga yang telah dipastikan atau “dikunci” sekarang (sebelum panen). Dengan demikian mereka dapat memperoleh jaminan
harga sehingga tidak terpengaruh oleh kenaikan/penurunan harga jual di pasar tunai. Manfaat yang sama juga dapat diperoleh pihak lain seperti eksportir yang harus melakukan pembelian komoditas di masa yang akan datang, pada saat harus memenuhi kontraknya dengan pembeli di luar negeri, atau pengolah yang harus melakukan pembelian komoditas secara berkesinambungan. (Sekilas, 2006) Pengertian hedging di pasar komoditas adalah proteksi dari risiko kerugian akibat fluktuasi harga. Hedging ini dapat dilaksanakan melalui bursa berjangka dengan membuka kontrak beli atau jual atas suatu komoditas sejalan dengan perdagangan komoditas tersebut di pasar fisik. Para pelaku hedging ini biasa disebut hedger, yang terdiri atas hedger pembeli (hedge long) dan hedger penjual (hedge short).
Hedger pembeli umumnya berencana akan membeli komoditas di pasar fisik di masa yang akan datang. Untuk melindungi transaksinya dari fluktuasi, misalnya kenaikan harga di masa mendatang, hedger membeli kontrak berjangka saat ini dengan posisi buy (beli). Buying hedge umumnya dilakukan oleh kalangan eksportir, pengguna bahan baku seperti pabrik, dan sebagainya. Fungsinya terutama untuk menjaga kestabilan harga dan kontinuitas pasokan. Sebagai contoh, misalnya pengusaha pabrik sirop yang sangat bergantung dengan harga gula sebagai bahan baku utama. Bila diperkirakan harga gula akan meningkat, maka untuk menjaga kestabilan anggaran biaya, pengusaha tersebut dapat membuka kontrak beli komoditas gula berjangka sebagai bentuk hedging. Dengan demikian ketika harga gula naik, kerugian dari transaksi fisik dapat ditutup dengan keuntungan dari pasar berjangka. Hal yang sama dapat dilakukan juga oleh, misalnya perusahaan maskapai penerbangan, dalam mengatasi lonjakan harga bahan bakar avtur atau jet oil. Dengan adanya kepastian atas kestabilan harga komponen biaya utama ini melalui proses hedging akan mempermudah dilaksanakannya manajemen dan proyeksi keuangan perusahaan.
Hedger penjual atau hedge short adalah hedger yang akan menjual komoditas tertentu di pasar fisik di masa yang akan datang. Untuk melindungi harga penjualan komoditasnya, hedger akan membuka kontrak berjangka sekarang dengan posisi short (jual). Selling hedge biasanya dilakukan oleh para produsen, terutama para petani, dengan tujuan untuk melindungi dari kemungkinan penurunan harga komoditas pada waktu misalnya panen. Hedging jual ini dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha pertanian atau koperasi-koperasi tani sehingga petani tidak mengalami kerugian pada waktu musim panen akibat turunnya harga di pasar fisik. Pelaku hedging ini, baik hedge long maupun hedge short, kemudian harus meng-offset (menutup) kontrak yang telah diambil pada waktunya. Jika hedger tadi mengambil posisi beli di pasar berjangka, maka dia harus menutup transaksi dengan menjualnya di bursa berjangka. Sedangkan hedger jual harus menutup kontrak dengan posisi beli di pasar berjangka.
Futures dan forward komoditas seringkali digunakan untuk meng-hedge exposure daripada harga komoditas. Ada dua persoalan yang muncul dalam hedging komoditas (McDonald, 2003), yaitu:
1. Quantity uncertainty
Meskipun kontrak futures dapat memberikan garansi harga per unit dari komoditas, dalam banyak kasus ada quantity uncertainty. Sebagai contoh adalah masalah hedging yang dihadapi oleh agricultural producer. Misalnya seorang corn producer ingin mengambil posisi pada corn futures untuk meminimalkan variabilitas dari pendapatan. Kendala yang dihadapi oleh corn producer tersebut adalah berapa banyak kontrak futures yang harus dijual, karena dalam hal ini kuantitas jagung yang akan diproduksi tidaklah pasti tergantung dari berbagai faktor lain seperti cuaca dan crop disease.
2. Basis risk
Basis risk merupakan masalah umum dalam komoditas karena adanya biaya penyimpanan dan transportasi serta perbedaan kualitas antara spesifikasi kontrak dengan komoditas aktual yang dibeli atau dijual. Hedging dapat dilakukan karena adanya keterkaitan yang erat antara harga komoditi di pasar fisik dengan harga komoditi di pasar berjangka.
Pergerakan harga di pasar berjangka dan di pasar fisik pada dasarnya berjalan searah (paralel), walaupun pada saat-saat tertentu posisinya mengecil atau membesar. Perbedaan di antara harga pasar fisik dengan harga pasar berjangka dinamakan basis. Faktor yang mempengaruhi basis tersebut diakibatkan oleh besar kecilnya permintaan dan penawaran, letak geografis, sarana transportasi, biaya gudang, kualitas. Dengan semakin mendekatnya bulan penyerahan suatu kontrak berjangka, harga di pasar fisik umumnya mendekati harga di pasar berjangka.
Mengecilnya selisih harga di pasar berjangka dengan harga di pasar fisik disebut basis kuat (strong basis), dan sebaliknya bila selisih harga di pasar berjangka dengan harga di pasar fisik membesar, keadaan ini disebut basis lemah (weak basis).
Lemah atau kuatnya basis suatu komoditi tergantung dari sedikit banyaknya permintaan dan penawaran dari komoditi yang bersangkutan. Umumnya basis yang lemah menggambarkan kelebihan penawaran, dimana harga di pasar fisik jauh lebih rendah dari harga di pasar berjangka. Sedangkan basis yang kuat menggambarkan kelebihan permintaan komoditi secara fisik, yang menyebabkan harga-harga di pasar berjangka untuk bulan-bulan penyerahan yang lebih jauh akan semakin tinggi dan harga di pasar fisik akan mendekati atau menyamai harga di pasar berjangka untuk bulan penyerahan terdekat.
Labels: Manajemen Investasi
Bursa Berjangka Cetak Transaksi Minyak Sawit 20 Juta Lot
Kamis, 11 Februari 2010 | 17:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Sejak diluncurkan pada 23 Juni sampai akhir tahun lalu, pasar fisik PT Bursa Berjangka Jakarta mencatat transaksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar 20 juta kilogram atau 58 lot. “Dengan begitu dalam satu bulan, rata-rata terjadi transaksi sebesar sembilan lot,” ujar Hasan Zein Mahmud, Direktur Utama di Jakarta, Kamis (11/2).

Selama jangka waktu kurang lebih tujuh bulan itu, Bursa Berjangka mencatat sembilan perusahaan penjual dan tujuh perusahaan pembeli. Namun Hasan mengatakan, hanya ada empat perusahaan yang aktif sebagai penjual, dan empat perusahaan yang aktif sebagai pembeli. “Hanya empat perusahaan aktif sebagai penjual dan pembeli, dan kebanyakan PTPN,” tutur Hasan lagi.

Empat perusahaan penjual yang aktif itu adalah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V sebesar 26 lot atau menyumbang 48 persen dari keseluruhan transaksi, PTPN III sebesar (22 lot atau 39 persen), PTPN IV (5 lot atau 9 persen), dan PTPN VII (2 lot atau 4 persen).

Sementara empat perusahaan aktif pembeli adalah PT Musim Mas sebesar 29 lot atau menyumbang 45 persen dari keseluruhan transaksi. PT Pelita Agung Agri Industri membeli 13 lot atau 22 persen, PT Nagamas Palm Oil Lestari (12 lot atau 20 persen), dan PT Wilmar Nabati Indonesia (4 lot atau 13 persen).

Dengan adanya pasar fisik minyak sawit mentah ini, Bursa Berjangka berharap Indonesia bisa menjadi negara yang diperhitungkan dalam perdagangan minyak sawit internasional dan menjadi pusat penetapan harga pasar internasional. Selama ini harga minyak sawit masih mengacu ke pasar fisik di Rotterdam, Belanda; dan Malaysia.

ARIE FIRDAUS
Produksi CPO Dunia Diprediksi Meningkat Pada 2010
Selasa, 08 Desember 2009 | 12:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Produksi minyak kelapa sawit atau CPO dunia pada 2010 diproyeksikan mencapai 47 juta ton, atau meningkat enam persen dibandingkan dengan 2009. Pada 2009 ini produksi CPO dunia mencapai 44,35 juta ton.

Indonesia juga merupakan produsen terbesar penyumbang CPO dunia, yaitu diprediksi mencapai 47,2 persen atau 22,2 juta ton per tahun, disusul Malaysia 38,1 persen atau 17,9 juta ton.

Untuk produksi CPO Indonesia pada 2009, diprediksi naik 6,8 persen menjadi 20,50 juta ton dibandingkan 2008 sebesar 19,20 juta ton. Sedangkan, produksi CPO Malaysia turun 1,81 persen dari 17,74 juta ton pada 2008 menjadi 17,42 juta ton di 2009.

“Indonesia masih tetap merupakan produsen terbesar CPO dunia, disusul oleh Malaysia,” kata Investor Relation PT Astra Agro Lestari, Tjahyo DA, Selasa (8/12).

Dia menyatakan produksi CPO PT Astra Agro Lestari selama periode Januari hingga November 2009 meningkat 10,4 persen menjadi 994.024 ton, dari periode yang sama pada 2008 yakni 900.212 ton.

Pada periode yang sama, produksi Tandan Buah Segar Astro Agro Lestari juga meningkat sembilan persen dari 3,62 juta ton menjadi 3,95 juta ton. Peningkatan tersebut berasal dari perkebunan di pulai Kalimantan yang meningkat cukup tajam sebesar 30,4 persen. Perkebunan yang juga menyumbang peningkatan adalah perkebunan di area Sulawesi yang naik 10,5 persen.

“Area perkebunan di Sumatera mengalami penurunan 3,9 persen. Di sisi lain, produksi kernel menjadi 213.703 ton atau naik 9,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 194.984 ton,” kata Tjahyo.

MUH SYAIFULLAH

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: