Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Februari 12, 2010

unsp PASTI baca posting ini :) : 120210

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 9:15 am

CPO catat penguatan harga terlama
Kontrak minyak sawit mentah berisiko turun pada kuartal II/2010

JAKARTA: Minyak sawit mentah terus mencatatkan kenaikan harga dalam 8 hari terakhir dan merupakan penguatan nilai kontrak terlama dalam 1 tahun.
Kenaikan harga itu dipengaruhi penurunan stok di Malaysia, produsen CPO terbesar setelah Indonesia.

Dewan Sawit Malysia melaporkan stok CPO (crude palm oil) Kuala Lumpur turun 11% menjadi 2 juta ton pada Januari dari posisi cadangan pada Desember. Produksi minyak sawit mentah negara itu mencapai puncaknya pada Oktober tahun lalu.

Produksi komoditas tropis itu biasanya lebih rendah pada paruh pertama setiap tahunnya. Harga CPO pengiriman April naik 1,1% menjadi RM2.590 setara dengan US$757 per ton di Malaysia Derivatives Exchange.

Puncak harga CPO pada tahun ini untuk sementara masih US$801,71 per ton yang terjadi pada 6 Januari. Kenaikan harga komoditas itu dipengaruhi kenaikan minyak mentah 0,6% menjadi US$81,99 per barel yang merupakan posisi tertinggi sejak November 2008.

Harga terendah tercatat pada 26 Januari sekitar RM2.407 atau setara dengan US$703 per ton. Penurunan harga tersebut juga dipengaruhi pelemahan harga minyak mentah dan minyak kedelai, serta koreksi volume impor dari China, konsumen terbesar komoditas tersebut.

Minyak kedelai merupakan salah satu pesaing CPO sebagai bahan baku energi alternatif. Selain pergerakan harga minyak, penguatan dolar AS, dan posisi produksi di Malaysia, pasar sering mengaitkan perkembangan harga minyak kedelai dengan CPO.

Laporan HwangDBS Vickers Sdn, seperti dikutip Bloomberg, menyebutkan produksi CPO pada Februari turun 13% menjadi 1,32 juta ton pada bulan pertama tahun ini, sehingga stok minyak sawit cenderung flat.

Perusahaan itu memperkirakan minyak sawit mentah pada kuartal I/2010 diperdagangkan di kisaran RM2.400-RM2.800. Namun, harga CPO kemungkinan turun ke kisaran RM2.400-RM2.400 pada kuartal kedua terpengaruh hasil panen kedelai dari Brasil.

Pasar fisik

Indonesia sebagai produsen utama CPO dunia masih berupaya menghidupkan perdagangan kontrak berjangka itu, meskipun saat ini bursa komoditas di dalam negeri masih baru dalam tahap pengembangan pasar fisik minyak sawit mentah.

Namun, perkembangan pasar fisik CPO tersebut juga belum menunjukkan kemajuan yang berarti setelah diluncurkan pertengahan tahun lalu. PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), bursa komoditas tertua di Tanah Air, kemarin memutuskan lebih fleksibel dalam memberlakukan peraturan di pasar fisik minyak sawit setelah permohonan keringanan pajak pertambahan nilai (PPN) bagi pelaku pasar ditolak Kementerian Keuangan.

Direktur BBJ Edi Susmadi mengatakan permintaan fasilitas PPN diharapkan bisa membantu pencapaian target memperdagangkan secara fisik minyak sawit mentah sekitar 10% dari total produksi nasional dalam 3 tahun ke depan.

Setelah Kementerian Keuangan menolak permohonan insentif PPN tersebut, sambungnya, manajemen BBJ masih berupaya keras mencari alternatif lain agar pelaku pasar di industri CPO bersedia memperdagangkan produknya di pasar fisik tersebut.

“Surat penolakan dari menkeu sudah kami terima mengenai penolakan atas permintaan bursa untuk menghapus atau mengurangi PPN atas transaksi CPO di bursa yang saat ini sebesar 10%,” kata Edi di Jakarta, kemarin.

Dirut BBJ Hasan Zein Mahmud menambahkan salah satu cara menarik minat pasar adalah dengan mengubah peraturan tata tertib perdagangan pasar fisik minyak sawit.

Dia menjelaskan sejak Juni tahun lalu, waktu lelang pasar fisik itu hanya sampai pukul 15.45 WIB. Namun, sejak 15 Februari sesi perdagangan transaksi fisik CPO di BBJ diperpanjang hingga pukul 16.45 WIB.

Hasan mengatakan hal itu dalam Sosialisasi Perubahan Peraturan Tata Tertib Pasar Fisik CPO Terorganisir kemarin. (berliana.elisabeth@bisnis.co.id/lutfi.zaenudin@bisnis.co.id)

Oleh Berliana Elisabeth S. & Lutfi Zaenudin
Bisnis Indonesia
.. judul telmi :
Akuisisi Domba Mas oleh Bakrie, Madu atau Racun
18/01/2010 09:08:16 WIB
Akuisisi Domba Mas bisa menjadi madu yang membuat Bakrie Sumatera gagah perkasa. Tapi, akuisisi Domba Mas juga bisa menjadi racun yang bakal membuat Bakrie Sumatera lunglai tak bertenaga.

Dari seabrek ekspansi yang dilakukan manajemen PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), rencana akuisisi PT Domba Mas (Domas) Agro Inti Prima, produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan oleokimia milik Grup Domba Mas, bisa dibilang paling obsesif.

Begitu kuat hasrat manajemen Bakrie Sumatera menguasai Domba Mas, sampai-sampai bos kelompok usaha Bakrie, Nirwan Bakrie, meminta para petinggi Bakrie Sumatera all out merealisasikan rencana tersebut.

“Pokoknya, akuisisi Domba Mas harus terealisasi, dengan cara apa pun,” tandas Nirwan Bakrie, seperti ditirukan sumber Investor Daily.

Boleh jadi, karena itulah, manajemen Bakrie Sumatera memutuskan untuk menunda aksi korporasi lainnya, termasuk rencana ekspansi perkebunan sawit dan karet ke Liberia, Afrika Barat. “Untuk sementara, kami akan konsolidasi dulu,” tutur Direktur Bakrie Sumatera Howard J Sergent.

Keinginan manajemen Bakrie Sumatera menguasai Domba Mas tinggal selangkah lagi. Hari ini (Senin, 18/1), manajemen Bakrie Sumatera menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk meminta persetujuan akuisisi Domba Mas dan sejumlah perusahaan lain.

Kecuali rencana akuisisi, manajemen Bakrie Sumetara akan meminta persetujuan menambah modal melalui penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue sebanyak 9,46 miliar saham dengan harga Rp 525 per unit atau senilai total Rp 4,97 triliun.

Dari total dana hasil rights issue yang bakal diraup Bakrie Sumatera, sekitar Rp 1,1 triliun akan digunakan untuk mengakuisisi 100% saham PT Domas Agrointi Prima, sedangkan Rp 3,16 triliun lainnya untuk menambah modal anak usaha.

Kecuali Domas Agrointi Prima, Bakrie Sumatera akan menguasai 0,4% saham PT Sawitmas Agro Perkasa, 100% saham PT Industama Perkasa, 100% saham PT Flora Sawita Chemindo, 100% saham PT Domas Agrointi Perkasa, dan 100% saham PT Domas Sawitinti Perdana.

Perusahaan lain yang bakal dicaplok Bakrie Sumatera adalah PT Monrad Intan Berakat (100%), PT Julang Oca Permana (100%), dan PT Citralaras Cipta Indonesia (100%). Bakrie Sumatera juga menganggarkan Rp 1,25 triliun dana hasil rights issue untuk pengembangan usaha di bisnis hulu dan sekitar Rp 450 miliar untuk tambahan modal kerja.

Sumber Penghasilan
Menggebu-gebunya keinginan Bakrie Sumatera mengakuisisi Domba Mas tergolong wajar. Jika berhasil menguasai produsen oleokimia berkapasitas produksi 140 ribu ton fatty alcohol per tahun tersebut, Bakrie Sumatera bakal menjadi produsen oleokimia terintegrasi nomor wahid di Indonesia.

“Akuisisi ini diharapkan mampu menghasilkan sinergi dari integrasi vertikal dengan industri hulu yang telah dimiliki dan dikelola perseroan,” ujar Direktur Utama Bakrie Sumatera Ambono Janurianto.

Manajemen Bakrie Sumatera pun yakin betul akuisisi Domba Mas akan membuat kocek perseroan semakin tebal. “Domba Mas akan mengontribusi kenaikan pendapatan dua kali lipat pada 2011,” kata Direktur Keuangan Bakrie Sumatera Harry M Nadir.

Dalam ancar-ancar Bahana Securities, pendapatan Bakrie Sumatera tahun ini tumbuh 22,07% menjadi Rp 2,62 triliun dibanding perkiraan tahun lalu Rp 2,15 triliun. “Laba bersihnya bakal naik 20,93% dari Rp 320 miliar menjadi Rp 387 miliar,” papar analis Bahana Securities Alfi Fadhliyah.

Domba Mas menguasai lahan sawit seluas 300 ribu ha di Sumatera Utara, Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Timur. Sekitar 175 ribu ha di antaranya merupakan tanaman kelapa sawit yang berproduksi.

Adapun Bakrie Sumatera mengelola 108.844 ha area tanam di Sumatera dan Kalimantan. Lahan seluas 18.832 ha atau sekitar 17% dari total area yang dikelola perseroan ditanami karet. Bakrie Sumatera juga tengah menanami area baru serta memperluas lahan di Kalimantan dan Sumatera.

Menjadi Racun
Begitu cemerlangkah proyeksi dan asumsi-asumsi kinerja Bakrie Sumetera jika sukses mengakuisisi Domba Mas? Tentu saja tidak. Akuisisi Domba Mas masih menyisakan sejumlah “catatan kaki”. Utang Domba Mas yang mencapai US$ 314 juta, misalnya, bisa menjadi “racun”.

Kewajiban Domba Mas meliputi utang kepada PT Bank Mandiri Tbk sebesar US$ 45 juta di pabrik acid dan US$ 78 juta di pabrik refinery. Perusahaan itu pun harus merestrukturisasi kewajiban US$ 151 juta kepada Credit Suisse di pabrik alkohol dan US$ 40 juta kepada produsen kosmetik global, Procter & Gamble (P&G).

Bila terlaksana, akuisisi Domba Mas akan membuat utang Bakrie Sumatera semakin tambun. Maklum, Bakrie bakal mewarisi utang Domba Mas yang harus direstrukturisasi. Padahal, utang Bakrie sudah lumayan besar. “Belum lagi jika perseroan mencari pinjaman dari bank atau menerbitkan obligasi,” ucap Kepala Riset Valbury Asia Securities Khrisna Setiawan.

Rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio/DER) Bakrie Sumatera memang sudah lumayan tinggi, mencapai 42,77%. Angka itu di atas DER industri perkebunan yang hanya 32,38%. DER yang terlalu tinggi tentu saja bisa menggganggu kinerja keuangan perseroan.

Dan, ternyata, besarnya utang itulah yang konon membuat sejumlah calon pembeli Domba Mas di luar Bakrie Sumatera, mundur. Lagipula, harga Domba Mas dianggap kelewat mahal.

Adalah PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) yang dua tahun lalu berniat membeli Domba Mas. Cuma, gara-gara harga yang ditawarkan terlalu tinggi, “Proses akuisisi itu batal,” tutur Sekretaris Perusahaan Gozco Liviana.

Harga Saham
Di luar soal utang, langkah Bakrie Sumatera mengakuisisi Domba Mas diyakini bakal membuat harga saham emiten bersandi UNSP itu kian berotot. Hanya saja, dalam jangka pendek, “Harga UNSP kemungkinan terpengaruh rights issue,” ujar analis Citi Pacific Sekuritas Hendri Effendi.

Dalam hitung-hitungan Bahana Securities, harga UNSP berpotensi menembus Rp 1.125 dengan asumsi price to earning ratio (PER) tahun ini mencapai 11,1 kali. Pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (15/1), saham UNSP ditutup melemah Rp 20 menjadi Rp 660.

Di luar isu akuisisi, Bakrie Sumatera sedang getol berbenah. Saat ini, misalnya, perusahaan itu sedang menuntaskan pengelolaan seluruh unit perkebunannya berdasarkan prinsip kelestarian lingkungan yang digariskan dalam Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Kami punya 14 unit perkebunan. Setiap tahun, kami akan mengajukan satu unit perkebunan untuk mendapatkan sertifikasi RSPO,” papar Head of Corporate Quality Bakrie Sumatera Efdy Ruzaly.

Bakrie Sumatera juga sedang merambah bisnis baru pembibitan kelapa sawit. Untuk maksud tersebut, perseroan segera membentuk anak usaha baru yang disebut Bakrie Agriculture Research Institute (BARI).

Kelak, bibit produksi BARI yang berasal dari varietas unggul, seperti Avros, Ekona, Ghana, Nigeria, Evolution, dan Compact, tak hanya dipasok untuk kebutuhan internal, tapi juga untuk dijual.

”Kami bekerja sama dengan ASD de Costa Rica sebagai penyedia tanaman induk,” ujar Seed Garden Project Manager Bakrie Sumatera Bambang Eka Syahputra. (abdul aziz)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: