Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Maret 22, 2010

unsp dan indonesia timur … 220310

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:01 pm

Menanti kebangkitan investasi dari timur
Senin, 22/03/2010 08:49:53 WIBOleh: Firman Hidranto
Empat provinsi di Indonesia, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua identik dengan daerah tertinggal. Kini sudah ada kesadaran dari daerah itu mengejar ketertinggalannya dengan wilayah Indonesia lainnya, terutama yang berada di barat.
Tidak dimungkiri kesadaran dari diri sendiri merupakan sebuah modal awal. Semangat inilah yang muncul di daerah paling timur Indonesia tersebut, apalagi dari sisi potensi sumber daya alam cukup luar biasa tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Bila pun dimanfaatkan, efek ekonomi bagi daerah bersangkutan sangat minimal.

Indikator ekonomi dari Bank Indonesia menyebutkan gross domestic product (GDP) keempat daerah itu sebenarnya bisa dikatakan cukup menarik (lihat table). Bila dibandingkan dengan kawasan Sumatra, hanya Jambi dengan tingkat GDP yang paling tinggi, yakni 6,6%, sementara di Sulawesi berada di Sulawesi Barat (9,6%), Kalimantan Selatan (5,5%) selama 2009.

Dari sisi potensi ekonominya, keempat daerah itu memiliki keunggulan dan dominan di empat sektor, yakni perikanan, perkebunan, migas dan pariwisata. Keempat sektor itulah yang saat ini paling diminati dan menjadi yang paling ‘seksi’.

Geliat kebangkitan ekonomi tampak ketika keempat daerah itu kini mulai gencar menawarkan diri untuk dilirik investor. Misalnya, Provinsi Papua Barat dan Papua langsung menyatakan siap memberikan insentif bagi investor yang akan masuk ke daerahnya. Insentif itu berupa kemudahan perizinan, keringanan pajak, pembebasan lahan, kepastian usaha, dan penanganan sengketa adat.

Wajar insentif adalah jawaban untuk menarik investor ke daerahnya. Bahkan, dalam sebuah kesempatan Gubernur Papua Barnabas Suebu mengemukakan Papua dan Papua Barat membutuhkan investasi hingga Rp200 triliun untuk mengembangkan sarana infrastruktur dan fasilitas publik guna menggerakkan perekonomian berbasis komoditas.

Di sektor perkebunan, Provinsi Papua telah menyiapkan lahan seluas 3 juta hektare-dari total 45 juta hektare kawasan hutan-untuk menampung masuknya investor di perkebunan sawit. Dari total lahan itu, realisasi baru mencapai 38.800 hektare terealisasi. Bahkan, disebut-sebut 89 investor siap mencaplok lahan-lahan itu.

Tidak itu saja, untuk mendorong investasi ke Papua, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 18/2010, salah satunya adalah penyediaan lahan bagi food estate. PP itu menyebutkan setiap perusahaan bisa mengelola lahan seluas 10.000 hektare. Namun, khusus di Merauke, mereka diizinkan mengelola areal lebih dari 20.000 hektare.

Korporat besar

PT Bank Mandiri Tbk merupakan salah satu perbankan yang juga berinisiasi untuk membangkitkan daerah itu. Pada Oktober tahun lalu, bank itu membuat hajatan Papua Investment Day, yang diikuti 85 investor papan atas di antaranya Sinarmas Group, Wings Group, Sampoerna Agro, Medco Agro, Wilmar, Sungai Budi, BEST, Harita, Union Sampoerna Triputra dan Bangun Cipta, Teladan Resources, Djarum Group, dan Taniti Group.

“Ada dua perusahaan besar-Grup Sampoerna dan Wilmar-yang cukup serius masuk ke Papua dan Papua Barat. Soal nilai investasinya, saya tidak berani mengungkapkan,” ujar Direktur Institusional Banking Bank Mandiri Abdur Rachman di Ambon akhir pekan lalu.

Sebagai komitmen terhadap pengembangan kawasan timur Indonesia, Bank Mandiri kembali menggelar Maluku Utara & Maluu Investment Day awal April dan rencananya dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam rangka itu, Bank BUMN itu berkomitmen mendatangkan sebanyak 10-15 korporasi besar.

Menurut Abdur Rachman, target korporasi yang akan masuk ke Maluku dan Maluku Utara diharapkan bisa direalisasi tahun ini untuk masuk ke sektor perikanan, pariwisata, pertambangan, migas, dan perkebunan.

“Harapan kami, 15 korporasi itu bisa masuk, minimal tiga korporasi besar masuk ke kedua daerah [Maluku dan Maluku Utara] itu. Bila target minimal itu tercapai, ekonomi kedua daerah itu bisa terakselerasi dengan cepat,” ujarnya meyakinkan.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara menambahkan bank itu berkepentingan untuk ikut menggarap potensi ekonomi di luar Jawa, termasuk Maluku dan Maluku Utara karena perkembangan ekonomi Indonesia pada masa datang berada di daerah tersebut.

“Forum ini sangat penting untuk menciptakan sinergi antara korporasi sebagai investor dengan pemerintah dan perbankan.”

Namun, persoalannya bagaimana dengan jaminan berusaha dan keamanan yang menjadi faktor krusial bagi investor sebelum mereka bersedia mengemukakan komitmen investasinya.

Menjawab pertanyaan itu, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu menjanjikan adanya kepastian hukum dan rasa aman untuk investasi di Maluku. “Kami menjanjikan rasa aman. Kini, investor yang akan masuk ke Maluku bisa mengurus perizinannya hanya di Jakarta. Bila administrasinya lengkap, kami bisa segera menyelesaikannya dalam beberapa hari,” tegasnya.

Pemprov Maluku telah memiliki 12 pelabuhan perikanan. Bahkan, pemda akan menambahkan lagi pelabuhan-pelabuhan itu di beberapa kabupaten.

Dia juga menambahkan pemda tengah menyiapkan lahan-lahan perkebunan untuk investor yang berminat masuk ke Maluku. “Saat ini saja ada empat perusahaan yang telah mengurus izin perkebunan kelapa sawit.”

Khusus Maluku Utara & Maluku Investment Day, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Maluku A Rachman Soumena mengemukakan 11 bupati kabupaten dan kota di daerah itu akan memaparkan potensi serta sumber daya alam (SDA), terutama hayati laut serta migas dan mineral dalam acara itu.

“Penandatanganan kontrak penanaman modal antara calon investor bisa langsung dilakukan saat Investment Day berlangsung,” ujar Soumena.

Harus diakui masalah utama di kawasan timur itu ada lima faktor. Pertama, sarana infrastruktur seperti jaringan jalan raya, listrik, pelabuhan laut, dan telekomunikasi. Kedua, masalah kelembagaan berupa sinkronisasi regulasi seperti penggunaan kawasan hutan lindung. Ketiga, perizinan yang sering ditemui dalam proses konservasi lahan. Keempat, minimnya sumber daya manusia dan kelima berupa masalah keamanan.

Kelima masalah itulah yang patut menjadi perhatian bersama, baik pusat maupun daerah untuk menuntaskannya dalam pengembangan ekonomi di kawasan timur Indonesia itu. Bahkan, ketika penulis berada di Ambon, kondisi listrik padam telah menjadi menu setiap saat, paling tidak setiap hari ada 3-4 kali mengalami pemadaman listrik.

Akankah ekonomi keempat provinsi itu benar-benar bangkit dan menjadi fondasi perkembangan ekonomi Indonesia di masa datang, seperti dikatakan Mirza Adityaswara, kepala ekonom Bank Mandiri, hanya pemangku kepentingan daerah itulah yang bisa menjawab tantangan itu. (firman.hidranto@bisnis.co.id)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: