Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Maret 23, 2010

bank itu MEMELOTOTI unsp … 220310

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 12:30 am

Mandiri Harapkan Duit dari Garuda dan Bakrie
Dia berharap pada rencana initial public offering Garuda Indonesia.
Senin, 22 Maret 2010, 19:30 WIB
Heri Susanto, Purborini

BERITA TERKAIT

* 2009, Mandiri Bukukan Laba Rp 7,2 Triliun
* Terbentuk, Gugus Tugas Standar Praktik Bank
* Saham Baru Mandiri Disetujui, Obligasi Batal
* Mandiri Topang Industri Kelapa Sawit
* BRI Ancam Gilas Bank Mandiri

web tools
smaller normal bigger

VIVAnews– Bank Mandiri menetapkan kecukupan rasio modal (CAR) sebanyak 14-14,5 persen untuk tahun 2010. “Kita turunkan dari tahun lalu karena ada pertumbuhan kredit,” jelas Direktur Bank Mandiri Agus Martowardojo di Jakarta, (22/3).

Saat ini CAR Bank Mandiri mencapai 15,6 persen. “Kita cukup comfortable dengan ini,” kata Agus.

Ia mengatakan pihaknya saat ini berusaha untuk meningkatkan cadangan modalnya dengan pertimbangan persaingan industri perbankan. “Industri swasta sudah tinggi, sementara bank bumn belum,” kata Agus.

Untuk mendongkrak modal, dia berharap pada rencana initial public offering Garuda Indonesia sangat dinantikan untuk meningkatkan ketersediaan modal. “Mandiri kan ada dana ditahan di sana sebesar Rp 1 triliun, kalau Garuda segera IPO itu akan sangat baik untuk kami,” jelas Agus.

Agus juga menyebutkan penjualan aset kredit Domba Mas kepada Bakrie Sumatera Plantation. Domba Mas merupakan sebuah grup bisnis perkebunan. “Jika itu cepat terealisasi akan menambah net profit kita,” kata dia.

Agus menambahkan pertumbuhan penyaluran kredit tahun 2010 ini sebesar 15-20 persen. Sementara industri sendiri diperkirakan akan tumbuh sampai 20 persen. Namun ia mengatakan Bank Mandiri berencana untuk merevisi target sebanyak 15-18 persen.

Perubahan target penyaluran kredit ini akan dilakukan pada Maret sampai Juli. Perubahan ini mengacu pada aturan Bank Indonesia. “BI memperbolehkan kita untuk merevisi satu kali dalam satu tahu,” kata dia. “Bank sangat hati-hati.”

• VIVAnews
Agus: Hikmah dari Krisis Kedua

Rabu, 24 Maret 2010 | 03:51 WIB

Pieter P Gero

Tak ada kasak-kusuk, apalagi segala rekayasa. Majalah Euromoney menetapkan Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai Bank Terbaik di Indonesia tahun 2009. Ini tahun kedua penghargaan ini diraih. Sebelumnya, majalah AsiaMoney juga menobatkan penghargaan yang sama kepada Bank Mandiri.

Beberapa prestasi, entah sebagai bank atau perusahaan terbaik dengan tata kelola terbaik (good corporate governance), secara tetap sudah diraih Bank Mandiri sejak 2006. ”Kami tak pernah sponsor, tak pernah kontak, tak pernah bicara. Penilaian dilakukan secara diam-diam, online dengan analis dan periset di sini,” ujar Agus Martowardojo, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, saat ditemui di ruang kerjanya di Jakarta, pertengahan Maret 2010.

Agus begitu antusias saat menyajikan kinerja yang dicapai direksi dan sekitar 22.252 karyawan Bank Mandiri. Per 30 September 2009, total aset mencapai Rp 366 triliun. Terbesar di Indonesia. Rasio kecukupan modal (CAR) 14,13 persen dan bakal 15,7 persen pada Desember 2009.

Soal kredit bermasalah (NPL), Agus menjelaskan penuh semangat. Maklum saat masuk lagi ke Bank Mandiri tahun 2005, NPL Mandiri sangat memprihatinkan, 26 persen. Keuntungan bersih hanya Rp 600 miliar. Harga saham jatuh. Sekitar 33,03 persen saham Bank Mandiri dimiliki publik. Sisanya, 66,97 persen, masih milik negara.

”Kini NPL bersih 0,85 persen dengan laba bersih Rp 4,6 triliun (per September 2009). Laba bersih tahun 2009 bisa Rp 6 triliun,” ujar Agus yang sempat meninggalkan Bank Mandiri tahun 2002 untuk bergabung ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan Bank Permata.

”Saya sempat empat tahun di Bank Mandiri dan ingin balik lagi ke swasta,” katanya memberikan alasan. Dalam laporan keuangan terakhir tahun 2009 yang diumumkan hari Senin (22/3) disebutkan, NPL bersih Bank Mandiri 0,42 persen dengan keuntungan bersih Rp 7,2 triliun, naik 34,7 persen dari Rp 5,3 triliun tahun 2008.

Saat masuk lagi, kinerja Bank Mandiri lagi mengalami krisis kedua. Krisis pertama tahun 1999 saat Mandiri berdiri hasil merger empat bank pemerintah, yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bapindo, Bank Bumi Daya, dan Bank Exim. ”Saat saya diundang lagi, NPL mencapai 26 persen. Pembukuannya bermasalah dan ditangani Badan Pemeriksa Keuangan. Ada direksi yang nasibnya tidak beruntung,” ujar Agus.

Agus dan jajaran direksi bertekad Bank Mandiri tidak boleh lagi terjerembab dalam krisis lagi. ”Hikmah dari krisis kedua, kami bertekad bank ini harus menjadi yang terbaik di Indonesia. Tidak hanya bank biasa-biasa saja,” tegas Agus. Beberapa strategi langsung dikumandangkan.

NPL yang mencapai Rp 27 triliun harus segera dikendalikan. Apalagi, sekitar 70 persen dari NPL ini disumbang oleh 30 nasabah. Tidak adil lagi, para nasabah ini laporan kinerjanya dinyatakan baik. Di luar negeri mereka dibilang sukses, tetapi utang kepada Bank Mandiri tak diselesaikan. ”Rapor mereka bagus, sementara Mandiri merah,” tegas Agus.

Nasabah ”bandel” ini diminta memperbaiki persyaratan utangnya, tetapi negosiasinya sulit. Tak ada kerja sama. ”Kami terpaksa mengumumkan nama mereka. Bukan hanya nasabah swasta, tetapi juga badan usaha milik negara (BUMN) diumumkan. Semua orang salut kepada Bank Mandiri. Akhirnya mereka mau bekerja sama,” ujar Agus. Kini tinggal dua nasabah lagi yang belum selesai masalahnya, tetapi perkembangan utang mereka sangat positif.

Merombak budaya

Selain mengendalikan NPL, ujar Agus, Bank Mandiri juga merombak budaya kerja, mengejar pertumbuhan bisnis di segmen yang bagus dan menjalin aliansi strategis.

”Soal budaya kerja ini perlu karena kita kok masih kena krisis lagi. Kita harus berubah, jangan memberatkan membebani pemerintah lagi. Juga mencoba untuk tidak menjadi bank biasa-biasa saja, tetapi yang dibanggakan,” tegasnya.

Bank Mandiri pun melakukan perubahan besar. Istilah kenaikan gaji dan bonus sama rata sama rasa dihilangkan. Semua karyawan, mulai dari direksi hingga karyawan terendah, kini terapkan sistem kinerja dengan key performance indicator (KPI). Tidak hanya KPI, tetapi juga dievaluasi dengan kompetisi bagaimana karyawan dari atas sampai ke bawah menghayati budaya kerjanya. ”Kombinasi ini kita nilai,” ujar Agus.

Prestasi kerja ini setiap tahun dievaluasi dan diberikan penyesuaian gaji serta bonus. Kalau bisa memperoleh prestasi di atas kinerja umum, bisa memperoleh kenaikan gaji dan bonus yang berlainan. ”Mereka pun mencapai prestasi setinggi mungkin. Kalau bisa berprestasi lebih tinggi dari harapan bank,” tutur Agus.

Menurut Agus, semua karyawan harus bisa mengubah citra yang melekat bahwa sebagai bank pelat merah, bank BUMN, selalu sarat prosedur, terima komisi, dan suka menutup diri. Kini karyawan Bank Mandiri berubah. Tak ada lagi semua citra tadi. Nasabah pun kita imbau untuk menghargai budaya baru ini dengan tidak coba menyuap karyawan Bank Mandiri.

Soal penalti, Agus spontan menegaskan sudah ditegakkan. Tahun 2006, ada 42 karyawan dikeluarkan karena tak disiplin dan menerima suap. Tahun berikutnya ada 56 orang, termasuk 18 outsourcing ditindak tegas. ”Pesan ini sampai ke setiap karyawan. Mereka langsung berubah jika tak ingin dilindas,” ujar Agus.

Perubahan budaya ini membuat kinerja Bank Mandiri begitu bagus. Pelayanan pada 1.080 kantor di seluruh Indonesia dan tujuh kantor di luar negeri selalu berorientasi kepada nasabah. Agar budaya ini langgeng, kini ada 8.212 agen perubahan di setiap lini kerja. Mereka ini yang akan mengawasi setiap karyawan sesuai dengan nilai budaya dan sejumlah perilaku standar yang ditetapkan bersama.

Bank Mandiri meraih begitu banyak penghargaan dari berbagai majalah terkemuka. Penghargaan yang diberikan spontan. ”Saya bersyukur, tetapi akan tetap memperbaiki diri. Pokoknya, tahun 2010, Mandiri akan menjadi bank sehat, terbesar, dan pelayanannya terbaik,” kata Agus menambahkan.

Agus tetap bertekad menjadikan Bank Mandiri menjadi yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. ”Kok bank terbesar di Indonesia kalah besar dengan bank di Singapura. Rekapitalisasi mereka 10 miliar dollar AS, sedangkan bank terbesar Indonesia hanya 7 miliar dollar AS,” tegasnya.

Prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2010 yang sekitar 5,5 persen membuat Agus optimistis pertumbuhan kredit antara 15 persen hingga 18 persen. Industri batu bara, gas, minyak kelapa sawit, dan barang konsumsi punya prospek cerah. Soal bunga kredit, Agus berkilah, sulit ditekan karena biaya dana yang sudah 6 persen, serta premium risiko, dan biaya tetap (overhead) yang tinggi karena kantor yang tersebar di sejumlah lokasi.

Agus sempat berpikir soal kemungkinan intervensi orang politik dalam direksi dan komisaris pada BUMN. ”Ini soal tim kerja dan yang terbaik apabila semuanya terdiri dari para profesional. Sayang kalau kepercayaan nasabah rusak karena ada ada anggota tim yang tidak semestinya,” ujar Agus.

Bagaimana kalau diminta lagi ke Bank Indonesia (BI)? Menurut Agus, fungsi pengawasan di BI semakin baik. Adanya kasus Bank Century memang mengundang persepsi yang kurang soal fungsi pengawasan BI. ”Saya pernah menjadi calon (Gubernur BI), tetapi tak lulus. Saya gagal (ditolak DPR tahun 2008). Kalau pengujinya bukan dari forum politik, mungkin hasilnya berbeda,” ujar Agus soal peluang ke BI.

”Sekarang, saya lebih suka terus memperbaiki kinerja Bank Mandiri,” ujarnya. Apalagi, Agus berobsesi Bank Mandiri jadi lima besar di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2014
Senin, 22 Maret 2010 | 20:13

KREDIT MACET

NPL Mandiri Susut

JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk makin menunjukan kinerja yang apik. di Akhir 2009 kemarin, Bank pelat merah ini membukukan angka Non Performing Loan (NPL) gross alias kredit macet sebelum dicadangkan sebesar 2,8%. Padahal, 2008 lalu NPL masih 4,7%. Sementara, NPL setelah pencadangan pun pun juga turun dari 1,09% menjadi 0,42%.

Pahala N. Mansyuri, Chief Financial Officer PT Bank Mandiri menjelaskan, penurunan NPL ini disebabkan dua hal. Yang pertama karena jumlah penyaluran kredit baru yang cukup besar sehingga otomatis juga membesar komponen angka pembagi dalam perhitungan NPL. Tercatat, penyaluran kredit sepanjang tahun kemarin mampu mencapai Rp 198,5 triliun atau tumbuh 13,8%. Untuk diketahui, perhitungan NPL adalah total kredit macet dibagi dengan total penyaluran kredit dikalikan 100%.

Sedang penyebab kedua akibat dari program restrukturisasi debitur-debitur kelas kakap sepanjang 2009 kemarin. Beberapa utang yang berhasil direstrukturisasi antara lain adalah Domba Mas yang mencapai Rp 3,3 triliun, Djajanti Grup US$ 18,6 juta, dan Suba Indah senilai Rp 1,28 triliun. “Proses kehati-hatian dalam menyalurkan kredit baru juga menjadi alasan,” jelas Pahala dalam paparan kinerja, Senin (22/3).

Raymond Reynaldi, Adi Wikanto
kontan
Senin, 22/03/2010 21:21 WIB
Bank Mandiri Incar Pertambahan Modal Dari Garuda dan Domba Mas
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berencana untuk mendongkrak rasio kecukupan modal (CAR) dari hasil Initial Public Offering (IPO) PT Garuda Indonesia dan penjualan aset kredit PT Domba Mas. Pasalnya posisi CAR Mandiri saat ini yang berada di posisi 15,6% akan tergerus akibat pertumbuhan kredit.

“Saat ini CAR kita sudah berada di tingkat comfortable yaitu 15,6% ke depan kita akan mempersiapkan lebih besar lagi karena kita lihat industri perbankan swasta sudah meningkatkan CAR-nya untuk bisa mendukung saat mau melakukan pertumbuhan kredit nanti,” ujar Direktur Utama Bank Mandiri, Agus Martowardoyo usai Paparan Kinerja Mandiri Triwulan IV-2009 di Plaza Mandiri, Senin (22/03/2010).

Agus mengatakan, CAR Mandiri akan berada di posisi 14%-14,5% persen di tahun 2010. Untuk itu, lanjut Agus Mandiri tengah berusaha untuk meningkatkan modal pada rencana IPO Garuda Indonesia.

“Mandiri kan ada dana ditahan di sana sebesar Rp 1 triliun, kalau Garuda segera IPO itu akan sangat baik untuk kami. Jadi akan menambah modal kami,” tegas Agus.

Selain Garuda, Agus juga terus berupaya menyelesaikan penjualan aset kredit Domba Mas kepada Bakrie Sumatera Plantation. “Jika nantinya Domba Mas terjual maka hal tersebut juga akan menambah net profit kita,” tuturnya.

Dikatakan Agus usaha perseroan lainnya untuk menambah modal yakni dengan melakukan penawaran saham terbatas (rights issue). Namun, Agus enggan mengatakan lebih lanjut tentang hal tersebut. “Masih dilihat lebih jauh mengenai opsi rights issue,” ungkapnya.

Lebih lanjut Agus mengatakan perseroan menargetkan pertumbuhan kredit tahun 2010 sebesar 18%-20%. Namun target tersebut masih dapat berubah seiring dengan pertumbuhan perekonomian nasional. “Kita masih akan melihat terus apakah akan direvisi nanti pada pertengahan bulan atau tidak,” katanya.

(dru/dnl)

Banyak Piutang, Bank Mandiri Optimis Laba 2010 Positif
Senin, 22 Maret 2010 – 19:25 wib
text TEXT SIZE :
Andina Meryani – Okezone
Direktur Utama BMRI Agus Martowardojo

JAKARTA – Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Agus Martowardojo enggan menyampaikan prediksi laba perseroan di tahun ini karena perseroan masih mengantongi pendapatan dari restrukturisasi utang dari Domba Mas, Suba Indah dan Dewata Royal.

Apalagi Bank Mandiri juga masih memiliki piutang dari Garuda Indonesia sebesar Rp1 triliun dan piutang dari Bank Indover.

“Laba tahun ini semoga lebih besar karena belum memperhitungkan piutang dari Domba Mas, Suba Indah, Dewata Royal, Bank Indover dan Garuda Indonesia,’ ujarnya saat Paparan Publik Kinerja Bank Mandiri Triwulan IV 2009, di Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (22/3/2010).

Sementara itu, Direktur International Banking, Financial Institution dan Special Asset Management Bank Mandiri Thomas Arifin menjelaskan terkait piutang di Bank Indover, Bank Mandiri sudah mengantongi pendapatan atas piutang sebesar 17,5 juta euro. Piutang tersebut sudah dibayar per 10 Maret 2010 lalu dan dimasukkan ke laba kuartal I-2010. Piutang yang dibayarkan tersebut merupakan 53 persen dari total piutangnya dan masih ada sisa sebesar 19,7 juta euro.

Sementara terkait piutang dari Domba Mas, Suba Indah dan Dewata Royal menjelaskan pihaknya akan menunggu proses hukum, terutama jika ada tuntutan balik dari perusahaan tersebut.

“Untuk piutang Garuda Indonesia, kita harapkan perusahaan penerbangan plat merah itu melakukan IPO. Setelah itu, mereka ditagih untuk membayar utangnya dan baru berdampak ke laba Bank Mandiri di kuartal II atau III 2010. Yang lain, masih menunggu proses hukum karena masih ada tuntutan balik dari mereka,” jelas Thomas. (wdi)

(rhs)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: