Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

April 5, 2010

enrg 2010 semester II AKAN TERBUKTI … 050410

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 5:33 pm

Apr 2nd, 2010 | Rubrik BURSA
Ada yang Melejit, Ada yang Terpuruk
KINERJA EMITEN TAMBANG
Perusahaan-perusahaan tambang merupakan salah satu sektor yang paling mempengaruhi kinerja Bursa Efek Indonesia. Sahamnya pun relatif likuid. Kemarin, sejumlah emiten tambang melaporkan kinerja keuangannya. Hasilnya, kinerja Adaro melesat dan labanya tumbuh hampir 400%. Di sisi lain, BUMN tambang, Timah dan Energy Mega Persada mencatatkan penurunan kinerja. satau
PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sukses mencetak laba bersih menembus Rp 4,367 triliun di 2009, melejit 392,25% dibanding tahun 2008. Peningkatan terutama didorong oleh naiknya pendapatan sebesar 48,89%. Demikian disampaikan dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan, Rabu (31/3).
Hingga akhir 2009, ADRO mencetak pendapatan sebesar Rp 26,938 triliun, melesat 48,89% dari tahun sebelumnya Rp 18,092 triliun. Beban pokok pendapatan sebesar Rp 15,900 triliun, naik 20,92% dari sebelumnya Rp 13,149 triliun.
Rasio pertumbuhan beban pokok pendapatan yang jauh lebih kecil ketimbang pertumbuhan pendapatan membuat laba kotor melesat 123,28% menjadi Rp 11,037 triliun dari sebelumnya Rp 4,943 triliun.
Beban usaha tercatat sebesar Rp 1,109 triliun, naik 51,69% dari sebelumnya Rp 731,374 miliar. Laba usaha pun semakin melesat tajam sebesar 135,76% menjadi Rp 9,928 triliun dari sebelumnya Rp 4,211 triliun.
Beban lain-lain dibukukan hanya sebesar Rp 1,350 triliun, naik tipis 4,89% dari sebelumnya Rp 1,287 triliun. Hal itu membuat ADRO mencatat laba bersih sebesar Rp 4,367 triliun, melesat 392,25% dari sebelumnya Rp 887,198 miliar.
Laba per saham pun meningkat tajam menjadi Rp 136,5 per saham dibanding sebelumnya Rp 34,8 per saham. Harga saham ADRO pada penutupan perdagangan kemarin sebesar Rp 1.910 per saham. Itu berarti, rasio harga saham terhadap laba per saham (PER) ADRO menurun tajam menjadi 13,99 kali, semakin murah ketimbang posisi sebelumnya 54,88 kali.
Sementara itu PT Alam Tri Abadi, anak usaha Adaro Energy, telah menandatangani perjanjian akuisisi 25% saham di 7 proyek tambang batubara milik PT BHP Biliton Indonesia. “Adaro akan memiliki 25% saham dalam joint venture tersebut, sisanya sebanyak 75% dimiliki oleh BHP,” ujar Corporate Secretary ADRO, Andre J Mamuaya, Rabu (31/3).
Perjanjian kerja sama telah dilakukan antara ADRO dengan BHP Minerals Holdings Pty Ltd dan BHP Minerals International Exploration Inc. Menurut Andre, ADRO melalui Alam Tri Abadi akan membeli 25% saham milik PT BHP Biliton Indonesia di 7 proyek tambang Maruwai, yakni PT Maruwai Coal, PT Juloi Coal, PT Kalteng Coal, PT Sumber Barito Coal, PT Lahai Coal, PT Ratah Coal dan PT Pari Coal. Porsi kepemilikan ADRO dalam konsorsium tersebut sebesar 25%. “Kami (Adaro) akan membeli 25% di masing-masing 7 tambang tersebut,” ujarnya.
Saat ini, perseroan tengah menanti persetujuan dari pemerintah terkait pembelian divestasi 25% aset BHP Biliton Indonesia tersebut. Ia juga belum dapat membeberkan nilai investasi yang disiapkan perseroan terkait akuisisi tersebut, maupun untuk pengembangannya. “Saat ini kita belum bisa ngomong banyak, tapi nanti kita umumkan,” ujarnya.

Profit Melemah
Sementara itu emiten tambang BUMN, PT Timah Tbk (TINS) mencatat penurunan laba bersih signifikan sebesar 76,62% di tahun 2009. Penurunan dipicu oleh koreksi penjualan sebesar 14,84% serta kerugian kurs sebesar Rp 120,178 miliar. Demikian disampaikan dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan, Rabu (31/3).
Hingga akhir 2009, TINS mencatat pendapatan sebesar Rp 7,709 triliun, turun 14,84% dibanding tahun sebelumnya Rp 9,053 triliun. Beban pokok pendapatan hanya naik 3,5% menjadi Rp 6,556 triliun dari sebelumnya Rp 6,334 triliun.
Namun penurunan pendapatan yang begitu besar membuat laba kotor terpangkas 57,61% menjadi Rp 1,152 triliun dari sebelumnya Rp 2,718 triliun. Beban usaha berhasil ditekan 28,37% menjadi Rp 464,443 miliar dari sebelumnya Rp 648,426 miliar.
Namun laba usaha tetap terpangkas tajam sebesar 66,74% menjadi Rp 688,544 miliar dari sebelumnya Rp 2,070 triliun. Perseroan juga menderita kerugian kurs sebesar Rp 120,178 miliar yang membuat TINS mencatat beban lain-lain sebesar Rp 123,081 miliar. Pada tahun sebelumnya, TINS masih mencatat penghasilan lain-lain sebesar Rp 30,773 miliar.
Akibatnya, laba bersih TINS hanya tercatat sebesar Rp 313,751 miliar, anjlok 76,62% dari tahun sebelumnya Rp 1,342 triliun. Laba per saham juga terpangkas 76,78% menjadi Rp 62 per saham dari sebelumnya Rp 267 per saham.
Harga saham TINS pada penutupan perdagangan kemarin sebesar Rp 2.400 per saham. Itu berarti, rasio harga saham terhadap laba per saham (PER) TINS meningkat tajam menjadi 38,7 kali lipat, semakin mahal ketimbang sebelumnya 8,98 kali lipat.
Hal yang sama juga dicatatkan, emiten tambang Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengalami penurunan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang cukup besar selama 2009. Perseroan juga mencatatkan kerugian selama periode tersebut.
Selama 2009, EBITDA perseroan tercatat sebesar Rp 107,3 miliar atau turun 88 % dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, kerugian bersih tercatat Rp 1,73 triliun dibanding periode sama 2008 dengan rugi Rp 35 miliar. Penjualan bersih perseroan juga turun menjadi Rp 1,44 triliun dari sebelumnya Rp 1,85 triliun.
Siaran pers Energi Mega Persada, Rabu (31/3) menyebutkan, penurunan itu dipicu realisasi harga jual minyak dan gas yang lebih rendah. Selain itu, beban keuangan meningkat, meski beban pokok penjualan tidak banyak berubah dibanding tahun sebelumnya.
“Tahun 2009 merefleksikan periode yang penuh tantangan dan diwarnai dengan lambatnya perbaikan kinerja operasional karena kejatuhan harga minyak,” kata Direktur Utama Energi Mega Imam Agustino dalam siaran pers itu.
Menurut dia, Energi Mega mengalami penurunan harga jual minyak sebesar 38 % dari tahun sebelumnya. Akibatnya, perseroan membukukan kenaikan beban keuangan sebesar 102 % menjadi Rp 1,28 triliun. “Salah satu prioritas perseroan adalah menurunkan utang dan beban keuangan perusahaan,” ujarnya.
Fasilitas kredit US$ 450 juta yang diatur Credit Suisse diperoleh perseroan di tengah krisis finansial global yang melanda pada akhir 2008. “Kami juga telah merampungkan proses penawaran umum terbatas atau rights issue pada Februari 2010 yang menghasilkan tambahan dana US$ 519 juta,” tuturnya.
Energi Mega menggunakan dana hasil rights issue itu melunasi utang sebesar US$ 250 juta, sehingga mampu memperbaiki rasio ketersediaan modal atas utang (debt to equity ratio/DER) dari 1,8 kali menjadi 0,42 kali.
Selain itu, Energi Mega mampu meningkatkan produksi sebesar lima %, meski alokasi belanja modal turun. Perseroan telah mengeluarkan belanja modal sebesar US$ 53 juta selama 2009 atau lebih rendah dibanding 2008 yang mencapai US$ 198 juta.
(pph)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: