Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

April 7, 2010

para pesaink elty … 070410

Filed under: jalan tol n properti — bumi2009fans @ 8:19 am

Berharap dari kocek pemodal asing
Keuntungan emiten properti diprediksi meningkat

Hak sewa dan hak pakai di sektor properti yang diberikan kepada warga negara asing memang memberi angin segar bagi para ekspatriat untuk memiliki tempat tinggal dengan status hak milik.
Bagi pelaku usaha di sektor properti, kebijakan itu tentunya juga menjadi peluang yang cukup besar untuk meraup keuntungan melalui penjualan produk-produk properti.

Dalam ketentuan yang baru, pemerintah melonggarkan warga negara asing untuk memiliki apartemen atau kondominium dengan hak pakai selama 95 tahun, atau lebih panjang dari yang digagas oleh Real Estate Indonesia (REI) selama 70 tahun.

Selain itu, dalam ketentuan baru itu para ekspatriat hanya diberi batasan untuk membeli produk properti seharga minimal US$150.000-US$200.000 (Rp1,3 miliar-Rp2 miliar) serta sekurang-kurangnya seluas 200 m2.

Jika dilihat dari harga dan spesifikasinya, apartemen yang diizinkan untuk dimiliki oleh asing adalah apartemen premium, yang berlokasi di tempat-tempat strategis. Di Jakarta, lokasi yang dimaksud masuk ke dalam area segitiga emas.

Analis properti PT Danareksa Lydia Suwandi memaparkan kebijakan pemerintah itu bakal mendorong kenaikan harga properti kelas premium. Saat ini, harga per m2 produk properti yang ditawarkan di Indonesia masih jauh lebih murah ketimbang di negara tetangga.

Seperti yang terjadi di Malaysia saat pemerintahnya melonggarkan ketentuan kepemilikan asing di properti pada 2001, harga properti di negara tersebut naik hingga 78% dari tahun ke tahun menjadi sekitar 6.500 ringgit per m2.

Menurut Lydia, kebijakan ini dapat memberikan berkah kepada sejumlah emiten properti yang mengembangkan apartemen premium. Salah satu emiten yang diuntungkan dengan pelonggaran aturan pemerintah itu adalah PT Ciputra Property Tbk.

Salah satu proyek yang sangat prospektif dikembangkan perseroan adalah Ciputra World yang merupakan kawasan superblok seluas 5,5 hektare di Casablanca, Jakarta.

Selain di lokasi yang dikenal dengan sebutan kaveling 3 dan 5, perusahaan masih memiliki lahan seluas 1,4 hektare di kaveling 6 dan 3 hektare di kaveling 11 di kawasan Casablanca, Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Letak proyek yang cukup strategis membuka lebar peluang perseroan untuk meraih pangsa pasar ekspatriat.

Pada 2009, Ciputra Property membukukan laba bersih Rp74,20 miliar, turun 60,43% dari tahun sebelumnya Rp187,54 miliar.

Pendapatan anak usaha Grup Ciputra yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan dan pengembangan portofolio properti komersial ini naik 3,95% dari Rp324,58 miliar menjadi Rp337,41 miliar.

Meski kinerja pada akhir 2009 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, emiten dengan kode perdagangan CTRP ini diproyeksikan memiliki kinerja yang cukup bagus seiring dengan kebijakan baru pemerintah mengenai kepemilikan properti bagi warga negara asing.

“Kebijakan baru [di sektor properti] akan mendorong tingginya permintaan terhadap apartemen kelas premium, dan kami melihat Ciputra Property sebagai salah satu perusahaan yang meraup keuntungan dari kebijakan itu,” tulis Lidya dalam risetnya tentang emiten properti yang terbit pada 11 Maret 2010.

Dampak regulasi

Di sisi lain, PT Summarecon Agung Tbk juga diperkirakan bakal mengantongi keuntungan dari regulasi kepemilikan properti.

Sejauh ini, perseroan memang masih mengandalkan penjualan dari hunian konvensional (landed residential). Ini terlihat dari kinerja tahun lalu ketika penjualan perumahan masih menjadi kunci kinerja perseroan.

Belum lama ini Summarecon melakukan penghitungan kembali nilai aset bersih perseroan dengan menunjuk konsultan properti PT Colliers International Indonesia.

Dari kajian konsultan itu, diketahui revaluasi nilai aset bersih (RNAV) saham Summarecon sebesar Rp1.860 per saham, dari sebelumnya kurang dari Rp1.500 per saham.

Kemarin, harga saham berkode perdagangan SMRA ini ditutup di level Rp880 per saham. Jika mengacu pada RNAV tersebut, harga saham emiten berkode SMRA ini masih terdiskon 111,36%.

Laba bersih perseroan melonjak 77,76% dari Rp94,14 miliar menjadi Rp167,34 miliar, meskipun penjualan turun 5,47% dari Rp1,27 triliun menjadi Rp1,19 triliun.

Secara terpisah, analis Kim Eng Securities Richardo Silaen dalam risetnya yang dipublikasikan pada 8 Februari 2010 mengungkapkan Summarecon memperkirakan ke depan bisa membukukan penjualan Rp23,4 triliun atau lima kali dari nilai kapitalisasi pasarnya saat ini melalui pengembangan proyek di Bekasi.

Menurut Ricardo, persaingan bisnis properti di kawasan timur Jakarta yang rendah menyebabkan proyek di Bekasi itu cukup prospektif.

Dua klaster yang akan diluncurkan pada tahun ini diharapkan bernilai sekitar Rp400 miliar. Untuk mengembangkan kawasan seluas 200 hektare itu, perseroan mengalokasikan investasi sebesar Rp250 miliar. (Pudji Lestari) (bambang.jatmiko@bisnis.co.id)

Oleh Bambang P. Jatmiko
Wartawan Bisnis Indonesia

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: