Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

April 12, 2010

elty bikin ini itu BERLEBIHAN bo … 120410

Filed under: ELTY — bumi2009fans @ 7:23 pm

Apr 16th, 2010 | Rubrik UTAMA, VIEW
Konsumen Properti Asing, Kenapa Tidak?
Oleh: Kamsari
Wartawan Harian Ekonomi NERACA
Perjuangan panjang para pengembang nasional agar pemerintah membuka keran kepemilikan properti bagi orang asing, perlahan namun pasti mulai menunjukan perkembangan yang mengembirakan. Kendati begitu, pengembang tampaknya masih harus bersabar, minimal menunggu hingga Mei – Juni 2010.
Memang, Joyo Winoto, Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), telah memberi sinyal positif bagi hak kepemilikan properti bagi Warga Negara Asing (WNA) yang berkedudukan di Indonesia. Namun para pelaku industri properti belum bisa terlalu berharap. Pasalnya ‘angin segar’ seperti ini bukan yang pertama kali dihembuskan pemerintah khususnya BPN.
“Sinyal seperti ini sebetulnya sudah lama diberikan Kepala BPN Joyo Winoto. Tapi kita berharap sinyal yang sekarang ini kuat, dan tidak akan hilang lagi,” ujar Alwi Bagir Mulachela, Sekjen DPP Real Estate Indonesia (REI).
Jika BPN mengatakan masih menunggu masukan dari REI dan Menpera, sebetulnya masukan-masukan atau usulan tersebut, secara tertulis sudah disampaikan REI sejak lama. Berbagai usulan tersebut antara lain soal batasan harga, jenis produk, dan lainnya itu. Itu sudah diajukan REI sejak tahun 2009.
Ya, seperti yang diutarakan Joyo kepada wartawan di Jakarta pertengahan Maret 2010, dimana secara prinsip BPN setuju dengan usulan Real Estate Indonesia untuk merevisi PP No.41 Tahun 1996, tentang Kepemilikan Rumah atau Hunian oleh Warga Negara Asing (WNA) yang berkedudukan di Indonesia.
Hanya saja, menurut pada pengakuan Kepala BPN, lembaga itu perlu waktu. Alasannya, BPN masih menunggu usulan rinci dari Kementerian Perumahan Rakyat dan pengembang. Selain itu, juga masih menunggu rencana revisi UU No. 4/1992 tentang Perumahan dan Permukiman serta revisi UU No.16/1985 tentang Rumah Susun, yang nantinya akan diselaraskan satu sama lainnya.
Selain menunggu kebijakan dibidang perumahan, Joyo meminta pengembang dan Kemenpera memberikan batasan-batasan secara tegas mengenai perubahan regulasi hak pakai properti bagi orang asing. Batasan lokasi, harga rumah, bentuk bangunan, dan jangka waktu kepemilikan baru dibicarakan dan menjadi wacana belum diusulkan secara tertulis.
“Saya ingin ada masukan mengenai batasan-batasan, seperti batasan harga minimal, kemudian jenisnya apakah itu landed house atau apartemen, juga lokasi. Saya setuju jika hal-hal terkait itu juga diatur,” katanya.
Meski demikian, REI menurut Bagir, optimis penyempurnaan PP No.41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing akan selesai tahun 2010 ini. Keyakinan ini karena melihat kerja keras yang dilakukan pihak terkait seperti Kemenpera, REI maupun BPN sendiri, beberapa waktu terakhir ini. Bahkan REI berharap seperti yang disampaikan Menpera Suharso Monoarfa bahwa hak kepemilikan properti bagi orang asing seperti yang diinginkan para pengembang sudah bisa di-launching pada Mei tahun ini.
Andaikata orang asing boleh membeli unit properti di Indonesia, maka pasar properti diperkirakan akan tumbuh sangat signifikan. Rata-rata akan ada pembelian dari orang asing sekitar 10.000 unit per tahun. Jika satu unit harganya minimal US$250 ribu, maka pajak yang akan masuk negara juga amat besar. Jadi, kalau membuka keran kepemilikan properti bagi orang asing memang menguntungkan, kenapa tidak segera saja dibuka keran itu?
(kamsari)
e-trading:
Property: Harga Rumah Berpotensi Melonjak

Rencana pemerintah menghapus harga patokan rumah sederhana sehat (RSh) sebesar Rp 55 juta terkait dengan diberlakukannya fasilitas likuiditas justru akan membuat masyarakat makin tidak mampu untuk membeli rumah. Hal itu karena harga rumah kemungkinan besar akan melonjak. Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia Panangian Simanungkalit mengatakan penghapusan patokan harga rumah tersebut sudah bisa membuktikan bahwa pemerintah telah mengendalikan pasar perumahan.

Investor dongkrak portofolio properti
Akses kredit lebih mudah, tetapi pembiayaan meningkat

Sebagian besar investor properti dunia berencana mendongkrak portofolio yang dimilikinya dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi.
Meski demikian, sekitar 80% dari 244 investor yang disurvei Colliers International masih berhati-hati dalam melakukan penetrasi di luar batas wilayah dan lebih banyak menggarap pasar domestik.

Survei Colliers International bertajuk Global Investor Sentiment Survey kuartal I/2010, yang dikeluarkan awal pekan ini, menyebutkan Investor di AS, Australia, Kanada, Jerman, dan Inggris lebih tertarik untuk memperbaiki permintaan pasar di dalam negeri.

Sementara itu, negara-negara maju itu tetap mempertimbangkan pasar properti di negara-negara, seperti Polandia, Ukrainia, Vietnam, Brasil, India sebagai tujuan investasi pada masa mendatang.

Secara umum, investor properti dunia berencana untuk berekspansi dan mengembangkan usaha pada akhir 2010 atau awal 2011 pada saat pasar mulai ‘normal’.

Berdasarkan survei, 64% responden yang disurvei menyatakan siap melakukan ekspansi usaha sebagai strategi investasi di pasar properti dalam 12 bulan mendatang dan hanya 20% yang menyatakan hanya akan mempertahankan usaha.

Meski demikian, tercatat hanya 20% responden yang mengaku siap berekspansi ke luar negeri. Sebaliknya, 60% lainya belum berencana menyasar pasar properti di laur negeri dalam 1 tahun mendatang.

Adapun investor di Asia dan Pasifik, termasuk Australia dan Selandia Baru, memperkirakan pasar properti mulai normal pada kuartal IV/2010. Selanjutnya, investor di Kanada, Amerika Latin, Eropa Timur dan Barat memperkirakan pasar realestat pulih pada kuartal I/2011.

Sementara itu, AS tercatat sebagai negara yang paling akhir pulih, yaitu pada kuartal II/2011.

Akses kredit

Kepercayaan terhadap pemulihan pasar properti juga ditunjang oleh akses kredit yang diperkirakan bakal lebih mudah. Sebanyak 40% responden menilai pembiayaan dalam 12 bulan mendatang akan lebih mudah.

Meski demikian, 52% responden menilai cost akan meningkat selama 12 bulan mendatang ketimbang situasi saat ini.

Penguatan secara bertahap itu sejalan dengan pernyataan Cushman & Wakefield, yang menyebutkan aktivitas investasi global dalam sektor properti akan terus mengalir pada 2010, seiring dengan pemanfaatan surplus dana tunai dari investor-investor kaya dunia.

Laporan Cushman & Wakefield bertajuk International Investment Atlas Summary 2010 menyebutkan investasi sektor properti komersial di dunia pada 2010 diperkirakan naik 30% menjadi US$478 miliar, yang dipicu oleh pemulihan di pasar Amerika Serikat.

Adapun pada 2009, investasi global di sektor properti sempat turun 23% menjadi US$365 miliar.

Cushman & Wakefield mencatat China sebagai pasar investasi realestat terbesar dunia dan paling dinamis, disusul Inggris, dan AS.

Adapun Kepala Riset Jones Lang LaSalle, Anton Sitorus, mengatakan pasar properti pada awal 2010 cukup baik dibandingkan dengan kuartal IV/2009, meski penyerapannya tidak terjadi di semua lini bisnis properti.

“Pasar properti di Jakarta yang tahun lalu sempat diwarnai berbagai penurunan, baik dari sisi penyerapan maupun hunian, kini mulai menunjukkan tren positif,” ujarnya.

Saat ini, dia menuturkan pengembang masih terfokus pada penjualan sejumlah proyek yang sudah ada, sehingga rencana launching proyek baru yang sudah dibangun pengembang tidak langsung terjadi tahun ini.

Perusahaan asing dan kalangan ekspatriat yang berada di Indonesia terpaksa menerima risiko pemangkasan bujet belanjanya selama kondisi ekonomi Amerika tidak stabil itu.

“Perusahaan asing banyak yang mengerem belanja untuk para ekspatriat yang bekerja di Indonesia, hal ini berpengaruh pada rendahnya penyerapan apartemen sewa,” imbuhnya.

Melihat berbagai survei, 2010 tampaknya menjadi tahun bagi investor properti dunia, termasuk Indonesia, untuk mematangkan posisi di basis utamanya, yaitu pasar domestik dan berlari kencang pada tahun berikutnya. (gajah.kusumo@bisnis.co.id)

Oleh >Gajah Kusumo
Wartawan Bisnis Indonesia
ELTY: Terbitkan Saham Baru, Targetkan Rp1 Triliun

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) berencana menambah modal perusahaan dengan melepas maksimal 10% saham baru tanpa hak memesan efek terlebuh dahulu (HMETD). Perseroan menargetkan dana sekitar Rp500-1 triliun. Bakrieland akan menawarkan saham baru kepada investor asing di Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat.
e-trading

15/04/2010 – 08:02
Terbitkan Obligasi
Bakrieland Naikkan Target Jadi Rp1 Triliun
Susan Silaban

(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Perusahaan properti PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan meningkatkan pelepasan sahamnya sebanyak 10% dengan estimasi perolehan dana sekitar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun.

“Kami sudah memberitahukan kepada Bapepam-LK atas rencana penambahan pelepasan saham ini,” kata Direktur Utama Bakrieland Hiramsyah S. Thaib seperti dilansir Reuters, Rabu (14/4).

Bakrieland adalah bagian dari Grup Bakrie yang memiliki usaha dibidang pertambangan batubara, telekomunikasi dan perkebunan. Awalnya, Bakrieland akan menerbitkan obligasi yang dijamin dengan saham alias quaranteed equity linked bond sebesar $155 juta. Obligasi ini pun akan ditawarkan ke beberapa investor asing seperti Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat.

“Kita sudah memiliki beberapa investor di tempat yang siap menampung obligasi kami,” tuturnya menambahkan.

Dana dari penempatan tersebut akan digunakan untuk pembebasan tanah tahun ini sebagai kebijakan penilaian risikonya adalah perseroan harus menggunakan ekuitas yang tidak pinjaman untuk membeli lahan baru. Selain itu, anak usaha Bakrieland yang bergerak di jalan tol, PT Bakrie Toll Road, berencana untuk mengakuisisi setidaknya tiga ruas jalan tol di Jawa.

Pada tahun 2008, Bakrieland setuju untuk menjual 30% saham di anak perusahaannya, PT Bakrie Swasakti Utama, untuk lengan properti Dubai World, Limitless Holding, sebesar $ 110 juta. Sejauh ini, perusahaan Dubai hanya membayar $ 37 juta.

Thaib mengatakan, bahwa pembicaraan dengan perusahaan properti Dubai akan selesai pada akhir bulan.

Pada saat transaksi, yang terjadi pada puncak krisis keuangan global, Grup Bakrie menghadapi kesulitan keuangan. Sekarang Dubai World Limitless dan sudah terkena penurunan tajam harga properti di Dubai, yang mendorong pemerintah Dubai untuk campur tangan dan menyuntikkan dana darurat. ($1=Rp9.020) [san/cms]
Pemerintah Disarankan Pikir-pikir Lagi Soal Tol Trans-Jawa
SELASA, 13 APRIL 2010 | 13:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Pengamat transportasi Joko Setiowarno mengatakan, pemerintah sebaiknya mengkaji ulang proyek pembangunan jalan tol Trans Jawa. Pasalnya klaim bahwa jalur ini akan memicu aktivtas ekonomi tak terbukti. “Kenyataannya jalur ini tidak meningkatkan aktivitas ekonomi,” ujar dia ketika dihubungi, Selasa (13/4).

Menurut kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) jalur tol yang layak dibangun secara finansial hanya yang berlokasi di Jakarta dan Surabaya. “Yang lain sebenarnya tidak layak,” ujarnya. Hal ini terbukti di ruas tol Kanci-Pejagan dengan lalu lintas harian hanya 10 persen dari perkiraan.

Padahal pemerintah dan investor sudah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk pembangunan proyek ini. Sehingga jika ingin melanjutkan pembangunan ruas tol lain yang tidak layak, pemerintah harus memberi lebih banyak insentif untuk investor.

Joko menyarankan agar pemerintah melakukan studi terhadap kemampuan dan kemauan orang membayar tol. Jadi, pemerintah bukan hanya melakukan studi jumlah kendaraan yang lewat. Kenyataannya tidak banyak kendaraan melalui jalur tol selama masih ada jalur alternatif, karena mereka enggan membayar biaya tol.

Direktur Utama Jasa Marga Frans S. Sunito mengakui hanya wilayah Jakarta dan Surabaya yang layak secara finansial untuk membangun jalan tol. Karena itu sebabnya sehingga banyak ruas tol yang tak selesai dibangun karena secara kelayakan kurang.

Lagipula investor juga jarang yang meminati jalur di luar Jakarta dan Surabaya karena tidak ada jaminan dalam pengembalian investasi. “Tapi secara makro pembangunan jalan tol trans Jawa dampaknya sangat luar biasa (untuk memacu aktivitas ekonomi),” ujarnya.

Jalan keluarnya, menurut Frans, pemerintah harus memberikan dukungan untuk investor. Ia mencontohkan jalur Solo-Mantingan di mana biaya pembebasan lahan dan konstruksi disubsidi oleh pemerintah.

Namun demikian, Jasa Marga belum memikirkan kemungkinan mengambil alih jalur tol di luar Jakarta dan Surabaya. “Tapi kalau ada (dukungan pemerintah), Jasa Marga siap (ambil alih),” katanya.

Pemerintah merencanakan pembangunan tol Trans Jawa sekitar 1.000 kilometer yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya. Rencana awal proyek ini selesai tahun lalu, namun hingga kini kelanjutan proyek raksasa itu terkatung-katung.

KARTIKA CANDRA
12/04/2010 – 15:01
Aksi Korporasi Bikin Bingung
Meneropong Langkah ELTY
Jagad Ananda
… informasi ini kok sesuai dengan pendapat gw juga ya soal saham bumi :   http://petajalaninvestasigw.blogspot.com/2010/04/bumi-tingkahmu-memuakkan-120410.html

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Corporate action dapat membuat harga saham sebuah perusahaan menguat. Tapi, kalau aksi korporasinya kebanyakan, bisa membuat investor bingung.

Contohnya seperti yang terjadi pada PT Bakrieland Development (ELTY). Manajamen perusahaan properti milik Grup Bakrie ini, menyatakan akan segera menerbitkan saham baru tanpa Hak Memesan Efek Telebih Dahulu (HMETD). Jumlahnya, maksimal sebanyak 10% dari modal ditempatkan.

Sayang, menajemen enggan menyebutkan jumlah saham yang akan dilepas maupun besaran dana yang akan diraih. Satu hal yang agak pasti, dana yang diperoleh akan dipakai untuk membiayai pembangunan theme park Disneyland

Masih untuk belanja modal, sebelumnya, manajemen perseroan juga menyatakan akan segera menarik pinjaman dari bank sebesar Rp1 triliun. “Ini untuk mempercepat pengerjaan proyek-proyek yang sudah direncanakan,” kata Hiramsyah S Thaib, Direktur Utama Bakrieland.

Padahal, sebelumnya lagi, perusahaan menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 155 juta (sekitar Rp1,3 triliun). Surat itu akan (bisa) dikonversikan dengan 4,35 miliar saham ELTY di harga Rp310.

Entah, aksi apa lagi yang akan dilakukan. Yang pasti, gara-gara banyaknya aksi itulah investor menjadi ragu untuk mengoleksi ELTY. Akibatnya, harga sahamnya pun menjadi ‘maju-mundur’ alias tak bisa bergerak jauh.

Padahal, menurut sejumlah analis yang dihubungi INILAH.COM, ELTY merupakan saham yang memiliki potensi penguatan yang cukup besar. Saham yang hari ini ditransaksikan di level harga Rp250 itu, memiliki harga wajar Rp330. [mdr]Investasi jalan tol Rajapolah Rp3,2 triliun
Bakrieland incar 2 ruas tol

BANDUNG: Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan rancangan jalan tol Cileunyi-Rajapolah sepanjang 70 km dengan nilai investasi Rp3,2 triliun.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar Deny Juanda Puradimaja mengaku sedang menyusun studi kelayakan jalan tol yang ditargetkan rampung 2 pekan mendatang.

Deny menuturkan Pemprov Jabar segera mengirimkan hasil studi kelayakan jalan tol tersebut kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

“Jika pemerintah pusat menyepakati rencana pembangunan tol, kami yakin proses pembangunannya segera terealisasi,” katanya kemarin.

Jalan tol Cileunyi-Rajapolah akan melintasi kawasan Cileunyi (Kab. Bandung)-Cijapati (Kab. Garut)-Rajapolah (Kab. Tasikmalaya).

Akan tetapi, Deny belum memerinci jalur yang akan dilalui karena khawatir memicu spekulasi pengadaan tanah.

Deny menegaskan pembangunan ruas jalan tol tidak hanya menggarap struktur jalan, tetapi juga menyertakan pola pengembangan kawasan.

Dia mencontohkan pada sejumlah ruas akan terdapat beberapa sentra ekonomi lokal yang bertujuan mendongkrak perekonomian kawasan sekitar tol.

“Rencana pengembangan sentra ekonomi lokal membutuhkan lahan lebih luas, karenanya, dalam prastudi kelayakan ini direncanakan membutuhkan lebar tanah sekitar 50 m-80 m,” katanya.

Skema pembangunan jalan tol Cileunyi-Rajapolah berbeda dengan pembangun jalan tol sebelumnya, seperti jalan tol Purbaleunyi dan Kanci-Pejagan.

Deny mengatakan rencana pembangunan tol Cileunyi-Rajapolah murni usulan Pemprov Jabar, bukan proyek pemerintah pusat.

Sedianya PT Jasa Sarana akan berperan besar dalam rencana pembangunan jalan tol Cileunyi-Rajapolah.

Hal itu diakui Gubernur Jabar Ahmad Heryawan yang menyebutkan badan usaha milik daerah tersebut yang menyusun pra-studi kelayakan jalan tol.

Heryawan menuturkan BUMD tersebut juga berpeluang menggandeng investor China untuk menggarap proyek jalan tol.

Menurut dia, beberapa BUMN China yang berpeluang menjadi mitra strategis antara lain CCCC atau China Communication Construction Company dan Shanghai Corporation.

“China menyatakan sanggup mengerjakan berbagai proyek di Jabar. Pemerintah provinsi sudah mulai menjajaki kerja sama pengerjaan proyek besar dengan China,” katanya.

Meski demikian, Heryawan mengungkapkan adanya ganjalan pada realisasi proyek pembangunan jalan tol.

Menurut dia, pemerintah selalu menggunakan sumber dana dari pinjaman lunak untuk mendanai pembangunan jalan tol.

Dia menilai seharusnya pemerintah pusat merelaksasi aturan dengan membolehkan investor asing masuk Indonesia yang bermitra dengan perusahaan/pengusaha lokal.

“Kami akan mengusulkan kepada pemerintah pusat agar skema itu bisa diakomodasi,” katanya.

Infrastructure Summit

Di tempat terpisah, PT Bakrieland Development Tbk mengincar dua ruas tol baru dari 15 proyek tol yang ditawarkan pemerintah saat penyelenggaraan Infrastructure Summit pada 12-14 April 2010.

Presiden Direktur PT Bakrieland Development Hiramsyah S. Thaib mengatakan perusahaan tersebut saat ini memiliki beberapa proyek infrastruktur jalan tol di lima ruas seperti Pejagan-Pemalang, Ciawi-Sukabumi dan Batang-Semarang.

Selain itu, dia menjelaskan pihaknya mengembangkan jalan tol di ruas Pasuruan-Probolinggo serta Kanci-Pejagan yang baru saja diresmikan Presiden beberapa waktu lalu.

“Kami akan incar 1-2 ruas jalan tol baru saat Infrastructure Summit 2010. Saat ini kami menyiapkan anggaran sedikitnya Rp2 triliun-Rp3 triliun untuk mendukung beberapa proyek jalan tol yang akan kami kembangkan,” ujarnya seusai acara Penyerahan Sertifikat ISO 9001:2008 untuk Sistem Manajemen Mutu, kemarin.

Menurut dia proyeksi anggaran yang disiapkan tersebut sepenuhnya ditanggung oleh Bakrieland.

Dia menuturkan sebagai perusahaan terbuka, Bakrieland tidak menutup kemungkinan menggandeng investor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Khusus investor luar negeri, lanjut dia, pihaknya telah menggandeng beberapa pemilik modal asing dari kawasan Asia, Eropa dan Amerika Serikat.

“Dalam kerja sama dengan asing kami berusaha sebagai pemegang modal utama. Minimum kita bisa kuasai 51% atau bahkan 70%,” tuturnya. (k45/09) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

ELTY: Bakrieland Anggarkan Investasi Rp 3T

PT Bakrieland Development Tbk (Bakrieland) menganggarkan dana berkisar Rp 2-3 trliun untuk pengembangan 7 proyek properti serta pusat hiburan baru tahun ini. Pengembangan ketujuh proyek baru dimulai kuartal III di tahun 2010. Beberapa investor dari Asia, Eropa, dan Amerika Serikat tertarik untuk diajak bekerja sama mengembangkan proyek tersebut. Menyangkut sumber dana pengembangan ketujuh proyek, Bakrieland akan memanfaatkan dana internal. Perseroan masih memiliki kas internal sebesar Rp 1 triliun untuk mendanai proyek perseroan tahun ini. Perusahaan juga masih memiliki fasilitas pinjaman yang belum dimanfaatkan sebesar Rp 1 triliun serta dana dari pemegang saham mencapai Rp 550 miliar. e-trading

Grup Bakrie: Ingin Seperti Berkshire Hathaway
Posted By Eva Martha Rahayu On January 21, 2010 @ 10:28 am In Sajian Utama, Swa Majalah

Dua kali dijerat krisis (1997 dan 2008), Bakrie & Brothers dengan sangat cepat berhasil melakukan restrukturisasi. Kini, konglomerasi ini tidak saja eksis, tetapi melaju pesat.
Ada yang masih ingat bagaimana kondisi bisnis Bakrie tahun 1999, di tengah puing-puing krisis moneter 1997? Sepuluh tahun berlalu, Bakrie kini bangkit menjadi salah satu perusahaan papan atas. Apa strateginya?
Saat ini usia Bakrie & Brothers Tbk. (B&B) mencapai 68 tahun. Usia yang sangat matang dan kaya pengalaman dalam menapaki dunia bisnis. Dan B&B memang membuktikan kematangan itu. Ia kaya akan manuver. Terakhir, perubahan besar dilakukannya. “B&B bukan lagi perusahaan operational holding, melainkan jadi perusahaan investasi yang memegang saham perusahaan-perusahaan yang menjadi portofolionya,” kata Bobby Gafur Umar, Direktur Pengelola/CEO PT B&B.
Bobby menunjuk Berkshire Hathaway milik Warren Buffet sebagai persamaan B&B. Perusahaan konglomerasi yang bermarkas di Nebraska, Amerika Serikat, itu sukses mengendalikan investasi di banyak perusahaan. Awalnya, Buffett fokus pada investasi jangka panjang di perusahaan-perusahaan yang sudah terdaftar di bursa efek. Akan tetapi, berikutnya Berkshire beralih menjadi pembeli sejumlah perusahaan. Misalnya, perusahaan ritel permen, peralatan rumah tangga, penerbit koran, penjualan ensiklopedia, pabrik dan distribusi seragam, atau perhiasan.
Tak mau kalah dari Berkshire, belakangan B&B juga melakukan aksi serupa: aktif berinvestasi melalui akuisisi, investasi surat berharga, pasar modal, dan sebagainya. “Nantinya juga ada divisi fund management, yang akan mengundang bank-bank asing atau lokal untuk berinvestasi. Dengan fund management itu, B&B dapat meng-create dana untuk perkebunan, infrastruktur, dan sebagainya yang kelak bisa diinvestasikan ke perusahaan-perusahaan milik Grup Bakrie atau yang lain,” ujar Bobby menguraikan.
Setelah tertatih-tatih melakukan restrukturisasi di awal 2000, B&B memang terus mencari bentuk. Transformasi menjadi perusahaan investasi dilakukan sejak 2008. Sebelumnya, B&B cuma punya tiga anak usaha: infrastructure support, telekomunikasi (Bakrie Telecom) dan agribisnis (Bakrie Sumatra Plantation). Waktu itu, B&B masih merupakan operation holding yang menangani pabrik-pabrik. Lalu, pada 2008 B&B mengakuisisi PT Bumi Resources Tbk., PT Energi Mega Persada Tbk. dan PT Bakrieland Development Tbk., dan jadilah ia perusahaan investasi. Di ketiga perusahaan itu, B&B menjadi pemegang saham dan tidak terlibat dalam daily operation-nya, tetapi hanya controlling share holder di anak-anak perusahaan Grup Bakrie. Di luar itu, B&B bisa saja berinvestasi di perusahaan lain, seperti Antam danTelkom. “Karena kami ini perusahaan investasi. Kalau lihat ada kesempatan yang dapat memberi return atau gain bagus, kami akan investasi,” ujar Bobby tandas. B&B bisa menempatkan komisaris di perusahaan-perusahaan yang menjadi portofolionya. Artinya, secara tidak langsung ikut mengawasi perusahaan meski tidak terlibat operasional day to day.
Kini yang menjadi perhatian B&B dengan transformasinya adalah value yang di-create dari investasi di berbagai portofolionya. Contoh, ketika membeli saham Bakrie Sumatra Plantation dulu hargnya Rp 150 atau ada right issue seharga Rp 525, tetapi kini sudah naik menjadi Rp 660. Dia berharap, publik tidak lagi melihat B&B menangani proyek, karena hal itu dilakukan perusahaan-perusahaan dalam portofolionya.
Menurut Bobby, transformasi menjadi perusahaan investasi bersamaan dengan terjadinya krisis global. B&B tidak menyangka bahwa AS sedemikian rapuhnya dihajar krisis global. Dampak krisis itu, investasi asing di Indonesia banyak yang ditarik. Sebagai perusahaan yang mengandalkan investasi di pasar saham, secara otomatis harga saham-saham Grup Bakrie pun mengalami penurunan tajam lantaran banyak investor asing yang melepaskan sahamnya.
Di sisi lain, kala itu B&B memiliki short term funding yang dibiayai dengan penjaminan saham. Dan dengan nilai penjaminan yang turun, secara otomatis B&B terkena dampaknya, seperti harus
top up dan semacamnya. “Terjadilah krisis itu dibarengi dengan situasi yang sangat menjepit bagi kami,” ujar Bobby mengenang. Selanjutnya, karena berbagai kejadian itu berlangsung sangat cepat, waktu itu diputuskan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Utang yang dulu lebih dari US$ 1,4 miliar kini sudah direstrukturisasi dan terjadi pembayaran, sehingga tinggal sekitar US$ 650 juta.
Bagaimana gambaran keuntungan investasi pascatransformasi? Dijelaskan Bobby, B&B kini telah memiliki divisi manajemen investasi yang dikepalai Michael E. Lucente. B&B juga berinvestasi dengan membeli paper-paper di pasar uang dan modal dengan return di atas 25%-30%. Dalam berinvestasi, strateginya adalah memilih instrumen yang imbal hasilnya tertinggi. Dan sekarang, alokasi terbanyak masuk ke pembelian saham Bumi Resources.
Untuk cetak biru lima tahun ke depan, dikatakan Bobby, hal itu terkait dengan kilas balik lima tahun ke belakang. Dengan penerapan cetak biru tersebut, harga saham B&B naik signifikan dari Rp 30 menjadi di atas Rp 300. Pasalnya, yang pertama tertuang dalam cetak biru adalah konsep sebagai perusahaan investasi. Dan dalam konsep ini tentu ada yang disebut “how” untuk menjalankan konsep itu. Setelah diketahui how-nya, maka ada langkah-langkah yang harus ditempuh untuk melaksanakan. Selanjutnya, ada target dan valuasi yang akan mencerminkan value perusahaan. Intinya, B&B nanti lebih banyak ke unorganic growth seperti melalui transaksi-transaksi finansial atau merger dan akuisisi. Sebab, pertumbuhan anorganik jauh lebih tinggi, bisa sampai 2-3 kali lipat, dari pertumbuhan organik.
Bobby mengklaim, hal positif dari Grup Bakrie adalah dapat merestruksturisasi perusahaan dengan sangat cepat. Itu adalah kunci dari beralihnya struktur keuangan B&B dari negatif pada 2008 menjadi positif pada 2009. Selain itu, B&B telah aktif berinvestasi dan membuahkan hasil. “Jadi, tahun 2010 kami siap take off. Bayangkan saja, tahun 2008 kerugian kami Rp 15,8 triliun. Tahun 2009 sudah mencetak laba bersih US$ 15-20 juta. Ke depannya, investasi kami sudah ada yield-nya. Sebagai gambaran, saat saham Bumi Resources diakuisisi harganya Rp 1.700, tapi kini terdongkrak ke angka Rp 2.950,” ungkap eksekutif muda itu. Dengan demikian, B&B tidak lagi tergantung pada profit anak-anak usahanya, melainkan pada value dari investasinya di saham perusahaan-perusahaan yang menjadi portofolionya.
Theodore S. Pribadi berpendapat, sama halnya dengan Djarum, kini Grup Bakrie juga memiliki cash flow bagus. Untuk itu, sah-sah saja apabila B&B menggunakan pendekatan akuisisi. Hal positif lainnya yang melengkapi keberuntungannya adalah iklim politik yang juga tengah berpihak kepadanya. “Namun, mereka (B&B) perlu mencermati ketika melakukan diversifikasi bisnis, karena tentu ada risiko yang harus di-manage. Jika tidak, hal itu justru dapat menimbulkan kerugian bisnis atau kasus yang merugikan citra perusahaan,” ujar Direktur Andrew Tani & Co. Pte. Ltd itu mengingatkan.
Riset: Dumaria Manurung

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: