Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

April 16, 2010

yang maseh DITEKAN n diteken: enrg … 160410

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 6:04 pm

Apr 16th, 2010 | Rubrik BEDAH NERACA

PT ENERGI MEGA PERSADA TBK

Kinerja Enegi Mega Tertekan Harga Migas

Apr 16th, 2010 | Rubrik BEDAH NERACA
PT ENERGI MEGA PERSADA TBK
Kinerja Enegi Mega Tertekan Harga Migas
Energi Mega Persada didirikan berdasarkan tanggal 16 Oktober 2001. Anak usaha Grup Bakrir ini merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan, jasa dan pertambangan, serta jasa manajemen dibidang pertambangan minyak dan gas bumi. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada bulan Pebruari 2003.
Perusahaan yang berkantor pusat di Wisma Mulia, Lantai 33, Jl. Jend Gatot Subroto, Kav. 42, Jakarta ini memiliki sejumlah nak perusahaan yang melakukan kegiatan penambangan minyak dan gas bumi berlokasi di Kepulauan Kangean, Propinsi Jawa Timur serta di Propinsi Riau, Jambi, Sumatera Utara dan Kalimantan Timur.
Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) tanggal 26 Mei 2004 untuk melakukan penawaran perdana saham Perusahaan kepada masyarakat. Pada tanggal 7 Juni 2004, saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia).
Selama tahun lalu, Energi Mega Persada mengalami penurunan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang cukup besar. Perseroan juga mencatatkan kerugian selama periode tersebut. Selama 2009, EBITDA perseroan tercatat sebesar Rp 107,3 miliar atau turun 88 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, kerugian bersih tercatat Rp 1,73 triliun dibanding periode sama 2008 dengan rugi Rp 35 miliar. Penjualan bersih perseroan juga turun menjadi Rp 1,44 triliun dari sebelumnya Rp 1,85 triliun.
Siaran pers Energi Mega Persada menyebutkan, penurunan itu dipicu realisasi harga jual minyak dan gas yang lebih rendah. Selain itu, beban keuangan meningkat, meski beban pokok penjualan tidak banyak berubah dibanding tahun sebelumnya.
“Tahun 2009 merefleksikan periode yang penuh tantangan dan diwarnai dengan lambatnya perbaikan kinerja operasional karena kejatuhan harga minyak,” kata Direktur Utama Energi Mega Imam Agustino dalam siaran pers itu.
Menurut dia, Energi Mega mengalami penurunan harga jual minyak sebesar 38 persen dari tahun sebelumnya. Akibatnya, perseroan membukukan kenaikan beban keuangan sebesar 102 persen menjadi Rp 1,28 triliun. “Salah satu prioritas perseroan adalah menurunkan utang dan beban keuangan perusahaan,” ujarnya.
Fasilitas kredit US$ 450 juta yang diatur Credit Suisse diperoleh perseroan di tengah krisis finansial global yang melanda pada akhir 2008. “Kami juga telah merampungkan proses penawaran umum terbatas atau rights issue pada Februari 2010 yang menghasilkan tambahan dana US$ 519 juta,” tuturnya.
Energi Mega menggunakan dana hasil rights issue itu melunasi utang sebesar US$ 250 juta, sehingga mampu memperbaiki rasio ketersediaan modal atas utang (debt to equity ratio/DER) dari 1,8 kali menjadi 0,42 kali.
Selain itu, Energi Mega mampu meningkatkan produksi sebesar lima persen, meski alokasi belanja modal turun. Perseroan telah mengeluarkan belanja modal sebesar US$ 53 juta selama 2009 atau lebih rendah dibanding 2008 yang mencapai US$ 198 juta.

Prospek Emiten
Tahun ini prospek Energi Mega Persada diperkirakan bakal membaik seiring harga minyak mentah yang merangkak naik. Apalagi Energi Mega Persada juga tengah mengincar lebih dari dua blok migas di dalam negeri dan menargetkan menjadi pemegang saham mayoritas pada dua blok tersebut. Akuisisi dilakukan guna mempertahankan pertumbuhan secara eksternal di samping pertumbuhan organik.
Dirut Energi Mega Imam P Agustino pernah bertutur, salah satu blok yang diincar perseroan adalah blok migas milik BP West Java, unit usaha Beyond Petroleum. BP West Java memiliki 46% dalam kontrak kerja sama Offshore North West Java (ONWJ).
Energi Mega pun siap mengakuisisi 75% saham PT Indelberg Indonesia Perkasa, perusahaan yang mengeksplorasi gas di Lapangan Suci, Jawa Timur. Akuisisi itu bisa segera direalisasikan setelah disetujui Pertamina.
Namun untuk mendapatkan BP West Java yang ditaksir bernilai US$600 juta atau setara dengan Rp6,21 triliun, bukan pekerjaan mudah. ENRG sendiri akan bersaing dengan PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Pertamina, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan China National Petroleum Corporation dalam tender ini. Guna kepentingan tersebut ENRG akan memperbesar belanja modal menjadi US$300 juta untuk membiayai akuisisi.
BP West Java merupakan unit usaha perusahaan migas asal Inggris British Petroleum dengan kepemilikan 46% dalam kontrak kerja sama ONWJ. BP sendiri memang berniat melepas kepemilikannya di ONWJ pada Februari lalu. Selain BP, saat ini ONWJ dimiliki oleh CNOOC sebesar 36,72%, Inpex 7,25%, dan Itochu Oil Exploration 2,58%. Wilayah kerja ONWJ sendiri berada pada area Cirebon bagian timur hingga kepulauan Seribu bagian barat. Dimana ONWJ diperkirakan mampu berproduksi 24.000 barel per hari-25.000 barel per hari.
Analisis Divisi Vibiz Research unit dari Vibiz Consulting melihat rencana tersebut cukup strategis bagi kinerja ENRG. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah dari manakah perseroan akan memperoleh dana dalam akuisisi ini. Apalagi saat ini dikabarkan ENRG dikabarkan saat ini memegang piutang senilai Rp 1,59 teriliun tanpa bunga dari pihak terafiliasi yakni dari Lapindo Brantas dan Energi Timur Jauh. Namun pihak ENRG belum menjelaskan hal ini secara resmi kepada publik.

PROFILE
Security Code : ENRG
Office Address : Gedung Wisma Mulia 33rd Floor Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 42 Jakarta 12710
Phone : 021-52906250
Fax : 021-52906254
Website : http://www.energi-mp.com
Listing Date : 07 Juni 2004
Board : Pengembangan
Main Business : Jasa Pengeboran Minyak, Gas Bumi
Corporate Secretary : Riri Hosniari Harahap
Mail Address : riri.harahap@energi-mp.com

DIRECTORS
Imam Pria Agustino Direktur Utama
Didit Agripinanto Ratam Direktur
Amir Balfas Direktur

COMMISSIONERS
Ari Saptari Hudaja Komisaris Utama
Sulaiman Zuhdi Pane Komisaris
Suyitno Patmosukismo Komisaris
Nalinkant Amratlal Rathod Komisaris
A. Qoyum Tjandranegara Komisaris

SHAREHOLDERS
UBS Singapore S/A 6,6%
PT Kondur Indonesia 9,07%
Credit Suisse Singapore 14,65%
PT Brantas Indonesia 10,14%

Sumber : Bursa Efek Indonesia
(pph)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: