Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

April 24, 2010

elty, inovasi, dan sang provokator … 240410

Filed under: ELTY — bumi2009fans @ 10:18 pm

POJOK KAFE
The power of mind!

Leluhur Eca, sebut saja namanya begitu, selalu mengajarkan filosofi “ojo kagetan, ojo nggumunan dan ojo dumeh”. Intinya, janganlah jadi orang yang gampang silau terhadap sekeliling, dan sebaliknya juga jangan “sok” atau “mentang-mentang”, apalagi ketika sedang berada di puncak keberhasilan atau kekuasaan.
Itulah filosofi keberhasilan yang sesungguhnya, untuk mau belajar dan selalu menyadari kekurangan dan kelemahan, dan selanjutnya senantiasa membuat perbaikan. Eca tahu betul filosofi itu, dan menghayatinya dalam praktik bisnis sehari-hari.

Jika sekarang tengah terkagum, Eca, entrepreneur muda yang sedang getol mengembangkan bisnis baru itu, bukan karena kagetan, apalagi nggumunan. Eca justru sedang menggali dan mendalami, dari mana resep keberhasilan yang kini diraih oleh sejumlah perusahaan, yang tetap bertumbuh dan berkembang dalam situasi yang sulit.

Ternyata selalu ada ‘rahasia kecil’ di balik ‘sukses besar’ itu. Ternyata resepnya hanya satu: budaya inovasi dan perubahan.

Akan tetapi, seperti halnya minum obat, resep yang jitu tidak begitu saja menjadi obat manjur kalau tidak ditelan. Artinya, kekuatan inovasi butuh kecepatan dan ketepatan implementasi, yang menjadi penentu banyak perusahaan untuk memenangi persaingan.

***

Kesadaran akan pentingnya budaya inovasi di banyak perusahaan bukan cuma isapan jempol. Anda tentu sudah tahu, bagaimana Emirsyah Satar, Dirut Garuda Indonesia, membawa perusahaan itu keluar dari zona rugi dan berbalik arah ke zona menguntungkan. Itu semua berkat sentuhan-sentuhan inovatif untuk menjadikannya sebagai perusahaan penerbangan kebanggaan nasional.

Contoh lain adalah Bank Mandiri. Di bawah kepemimpinan Agus Martowardojo, bank itu berhasil keluar dari stigma bank pelat merah yang birokratis, konvensional, dan konservatif. Pola manajemen yang inovatif telah mengantarkan bank yang pernah susah payah mengatasi kredit bermasalah itu menjadi bank terkuat di Indonesia, dengan pertumbuhan pendapatan dan laba yang signifikan dari tahun ke tahun.

Dua BUMN itu, sekadar menjadi contoh, telah mendapatkan manfaat dari daya dobrak kekuatan pikiran yang menjadi inti budaya inovasi. Kemauan untuk keluar dari zona nyaman, kesediaan untuk tidak terkungkung oleh kotak prosedur dan kebiasaan, sekaligus kesanggupan untuk menanggung risiko plus ekspektasi tinggi atas keuntungan, telah menjadi mesin penggerak yang efektif untuk tumbuh dan berkembang, bahkan secara eksponensial, di banyak perusahaan.

Pengalaman perusahaan swasta kurang lebih sama, bahkan lebih beragam. Saya pernah diberitahu oleh Hiramsyah Thaib, CEO Bakrieland Development, kekuatan pikiran yang menumbuhkan budaya inovasi telah mengantarkan sekaligus menjaga kesinambungan perusahaan yang dipimpinnya untuk tumbuh dua digit selama beberapa tahun terakhir.

“Kuncinya adalah selalu melihat dan memperbarui model bisnis, sekaligus terus-menerus meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya,” katanya dalam sebuah obrolan ringan.

James Riady, pemilik kelompok usaha Lippo, punya cerita lain. “Yang penting adalah bagaimana membuat perbedaan,” untuk memenangi persaingan, katanya saat ngobrol di sebuah kesempatan. James tentu benar dan telah membuktikannya. Sebab, untuk membuat perbedaan, tidak sekadar copy-paste tetapi butuh strategi inovatif yang menghasilkan keunggulan kompetitif ketimbang pesaing.

Dengan cara berbeda-beda, pengusaha menjalankan strategi sukses berdasarkan kekuatan inovatif pada perusahaannya masing-masing. Intinya menyerap hal-hal baru dan mengeksekusinya. Jawaban itu pula yang dikemukakan Chairul Tanjung, pemilik Grup Para, ihwal resep di balik keberhasilannya dalam mengelola ekspansi bisnis yang kadang-kadang mengejutkan?

“Saya suka belajar,” ujar Chairul. “Kalau orang sudah merasa banyak tahu, dan tidak pernah mau bertanya…selesailah,” lanjutnya seraya menekankan pentingnya keluar dari pendekatan bisnis yang konvensional.

Saya tentu sepakat dengan para pengusaha yang telah terbukti berhasil malang melintang di bidang bisnis yang mereka geluti selama itu. Mereka tidak saja berhasil menemukan strategi yang inovatif, tetapi sekaligus mampu mengeksekusi strategi itu menjadi senjata bisnis yang ampuh dan mematikan.

***

“The power of mind” memang bukan sekadar jargon dalam bisnis. Jika budaya inovasi mendarah daging dalam setiap perusahaan, Anda bisa bayangkan seperti apa dampak multiplier-nya bagi kemajuan sebuah bangsa dengan budaya beragam seperti kita? Budaya inovasi di pemerintahan, yang sering orang menyebutnya entrepreneurial government, menjadi mesin pendorong ekonomi yang maha dahsyat.

Banyak negara telah membuktikan itu. Sebutlah China-kini disusul India-yang belakangan banyak diperbincangkan karena budaya inovasi yang kuat dan mampu bersaing di pasar global. Terbukti, negeri itu kini ditakuti para pesaingnya karena inovasi “manufaktur berbasis harga” yang kompetitif.

Jepang dan Korea Selatan telah terlebih dahulu menikmati manfaat budaya inovasi itu, terutama industri otomotif mereka yang mampu mengambil alih dominasi otomotif Amerika Serikat di kandang negeri adi daya itu sendiri.

Untuk kasus lain, izinkan saya mengutip buku The Start-Up Nation, yang berkisah tentang budaya inovasi yang mampu mendorong perusahaan-perusahaan Israel tumbuh menakjubkan. Contoh kasus adalah Intel Israel. Perusahaan itu mampu menjadi penyelamat Intel Corp. yang berbasis di Amerika Serikat, karena budaya inovasinya yang kuat. Evolusi komputer dari segedhe gajah hingga menjadi sebesar komputer jinjing seperti yang Anda nikmati saat ini-dengan kecepatan pengolahan data dari semula hanya sekitar 5 megahertz menjadi sekitar 3 gigahertz-tak lepas dari inovasi para insinyur Intel Israel.

Penemuan chips Core 2 Duo yang menggantikan Pentium pada 2006, yang dikombinasikan dengan temuan inovatif lainnya dari Intel Israel yang dikenal sebagai teknologi “dual core processing”, telah membalik arah harga saham Intel yang sempat jatuh hingga 19% pada sepanjang tahun itu, dan naik 16% hanya sesaat setelah pengumuman temuan itu.

Seperti Anda tahu, kinerja saham Intel diukur berdasarkan kecepatan chips yang dihasilkannya dalam mengolah data. Istilah yang dipakai adalah clock speed. Di Wallstreet, para analis hanya menggunakan dua parameter untuk merekomendasikan saham Intel. Clock speed lebih cepat: Buy. Clock speed lebih lambat: Sell!

Jadi, sangat masuk akal temuan chips yang powerfull menjadi penentu naik turunnya saham Intel.

Namun, diakui juga bukan perkara mudah untuk menciptakan budaya inovasi yang sesungguhnya. Dov Frohman, pendiri Intel Israel, kepada Dan Senor dan Saul Singer, penulis buku itu, menuturkan: “ketakutan merugi” sering terbukti jauh lebih powerfull ketimbang “harapan akan keuntungan.” Inilah yang kerap menghambat eksekusi pemikiran-pemikiran inovatif di banyak perusahaan. Nah lho: Jangan-jangan Anda juga demikian! (arief.budisusilo@ bisnis.co.id)

Oleh Arief budisusilo
Wartawan Bisnis Indonesia

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: