Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

April 25, 2010

unsp uda biase terkoreksi … 250410

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 11:44 pm

Lampu kuning emiten sawit
Rabu, 21/04/2010 10:52:31 WIBOleh: Bastanul Siregar
Setelah mencapai rekor tertinggi di level RM2.718 per ton 8 Maret lalu, harga kontrak futures minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) di bursa derivatif Malaysia akhirnya terperosok di bawah batas psikologis RM2.500 per ton (US$848).
Awal pekan ini, harga kontrak CPO pengiriman Juli ditetapkan RM2.470 per ton (US$770), sedangkan harga Agustus dan September RM2.464 dan RM2.460 per ton. Situasi ini kian mengonfirmasi tren penurunan harga yang berlangsung sejak 11 Maret. (lihat grafis)

Bersamaan dengan itu, harga saham emiten sawit terkoreksi. Penurunan terbesar terlihat pada saham Tunas Baru Lampung -5.43%, disusul saham Gozco Plantations -4.6% dan Astra Agro Lestari serta Sampoerna Agro masing-masing -2%.

Nasib serupa dialami emiten sawit di bursa regional. Pada hari yang sama, harga saham Indofood Agri Resources di bursa Singapura -2,8%, diikuti Kulim Malaysia dan PPB Oil Palms di bursa Kuala Lumpur yang -1,61% dan -1,8%.

Paling tidak ada tiga faktor yang menjelaskan situasi itu. Pertama, melemahnya permintaan CPO dunia yang dikonfirmasi penurunan ekspor selama April khususnya di Malaysia, serta terpangkasnya volume penjualan emiten di Indonesia.

Berdasarkan data surveyor kargo Intertek Agri Services, volume ekspor CPO Malaysia periode 1-15 April turun 28% secara bulanan. Data lain, dari SGS Malaysia, sampai 21%. Sampai 20 April, volume ekspor CPO Malaysia diprediksi turun 19%. Penurunan volume ekspor CPO Malaysia pada periode itu didorong keputusan China dan India, importir utama CPO, yang mengurangi pembelian karena masih banyaknya stok.

Situasi di Indonesia tidak jauh berbeda. Selain ada koreksi dari sisi ekspor, penurunan penjualan tampak dari sisi domestik. Astra Agro misalnya, yang 87,5% CPO-nya diserap pasar domestik, volume penjualan kuartal I turun 1,18%.

Beruntungnya, koreksi penjualan itu tidak memukul pendapatan perseroan. Sebab, harga kontrak kuartal I/2010 berkisar RM2.541-RM2.670 per ton, lebih tinggi 25% dari harga kuartal I/2009.

Kedua, merebaknya aksi lindung nilai ke dolar AS menyusul kasus Goldman Sach dan kecemasan pasar akan kemungkinan gagal bayar Yunani yang akan menarik utang 40 miliar euro.

Memang agak sukar meyakini aksi lindung nilai akibat fenomena yang memutar persepsi investor ke permulaan krisis subprime mortgage 2 tahun silam itu bertahan lama. Buktinya, selang sehari setelah kasus itu meledak, harga saham emiten CPO rebound.

Dalam perdagangan kemarin, harga saham nyaris seluruh emiten CPO menguat. Kenaikan terbesar dicatat saham Gozco Plantations 2,35%, disusul Tunas Baru Lampung 1,13%, Astra Agro Lestari 1,28%, dan Sampoerna Agro 0,93%.

Akan tetapi, tidak berarti dampak kasus itu hilang. Poinnya di sini, kasus ini mengonfirmasi pasar belum sepenuhnya bebas dari persepsi krisis subprime mortgage. Pasar, singkatnya, masih siap ‘merayakan’ kepanikan dari kasus sejenis.

Goldman & ringgit

Perlu segera ditambahkan, penurunan harga CPO kali ini tidak berkorelasi dengan penurunan harga minyak mentah dunia. Pasalnya, saat tren penurunan harga CPO berlangsung mulai 11 Maret, pada saat bersamaan harga minyak justru menunjukkan tren meningkat.

Bahkan, harga minyak light sweet di New York dan brent di London pada awal April sempat di atas US$86 per barel. Itu harga tertinggi dalam 18 bulan, sebelum terkoreksi kasus Goldman dan Yunani.

Selama ini, kenaikan harga minyak mentah hampir selalu diikuti kenaikan harga CPO. Namun, lain ceritanya apabila sepanjang tahun ini ringgit terus menguat terhadap dolar AS hingga mencapai 5,47% dari sisi total return. (lihat grafis)

Di sinilah terlihat faktor ketiga, penguatan ringgit terhadap dolar AS sampai menjadi mata uang terkuat di Asia yang disusul rupiah 5,17%, mendiskon ekspor hingga memperlemah permintaan kontrak dalam ringgit dan rupiah.

Penguatan ringgit dan rupiah menjelaskan penurunan harga kontrak CPO, karena selain 87% kebutuhan dunia dipasok keduanya, hampir semua korporasi CPO memiliki lahan di dua negara itu.

Jika penguatan ringgit berlangsung lebih lama, ekspektasi kenaikan harga CPO hingga di atas level RM3.000 per ton menyusul proyeksi El Nino yang memangkas produksi, bakal terkoreksi.

Bagi emiten sawit terutama yang terlampau asyik menyandarkan kekuatannya pada harga CPO, mengkin ini saat terbaik merekalkukasi risiko yang dihadapi, sekaligus mempercepat realisasi investasi di sisi hilir sebagai antisipasi. (bastanul.siregar@bisnis.co.id)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: