Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Mei 12, 2010

efek global @bumi v. efek lokal : 120510

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 6:45 am

12/05/2010 – 05:47
BUMI: Sentimen Yunani & Pajak Berimbang
Natascha & Asteria

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Anjloknya harga obligasi Yunani akan membawa sentimen negatif bagi PT Bumi Resources (BUMI). Namun, segera rampungnya masalah pajak, menjadi indikasi penguatan lebih lanjut.

Seorang analis pasar modal dari sekuritas lokal mengatakan, kekhawatiran anjloknya harga obligasi Yunani, masih akan menyebabkan gejolak di pasar valas. Kondisi ini pun diperkirakan berimbas pada obligasi BUMI.

Menurutnya, placement debt to equity swap perseroan melalui non pre-emptive swap dengan pembeli siaga China Investment Corporation (CIC) akan terhambat. “Negosiasi akan berjalan alot karena kreditor BUMI akan meminta imbal hasil lebih tinggi,” katanya kepada INILAH.COM, semalam.

Saham BUMI pada perdagangan kemarin ditutup turun Rp50 menjadi Rp2.425. Hal ini dipicu warning Morgan Stanley, bahwa BUMI dan dua perusahaan lain di Asia, yakni Korea National Housing Corp and SK Energy Co, akan terimbas anjloknya harga obligasi Yunani. “Di Yunani, posisi utangnya 200% di atas GDP, sedangkan utang BUMI 200% di atas modalnya,” ucapnya.

Sedangkan Christine Salim dari Samuel sekuritas mengatakan, yang menjadi penyebab stagnannya harga BUMI sebenarnya lebih banyak soal pajak. Dalam waktu dekat akan ada keputusan masalah pajak BUMI dari Mahkamah Agung (MA).

“Diperkirakan keputusan MA ini akan sesuai dengan sunset policy. Ini berarti tidak ada beban pajak bagi BUMI. Selain itu membuka valuasi harga BUMI yang sesungguhnya,” katanya.

Seperti diketahui, BUMI diharuskan membayar denda tunggakan pajak yang merupakan akumulasi denda pajak sebelum 2008. Padahal, ada kebijakan sunset policy yang menghapuskan tunggakan pajak sebelum 2008. “Ini berarti, perhitungan pajak BUMI dimulai sejak berlakunya sunset policy, yakni 2008,” ucapnya.

Sedangkan BUMI menyatakan, pihaknya sudah menyelesaikan semua pembayaran pajaknya sejak 2008. Sehingga, tidak ada lagi pajak yang membebenani anak usaha Bakrie ini lagi.

Di sisi lain, aksi korporasi BUMI, yang akan menurunkan utang dari US$1,9 miliar atau setara Rp18,05 triliun, menjadi US$1,3 miliar, membuat posisi leverage perseroan menjadi kecil.

Namun, untuk mengurangi outstanding utang, yang salah satu caranya melalui right issue dengan HMETD, perlu kejelasan hukum tentang kasus pajak BUMI. “Semua pihak saat ini menunggu kepastian tunggakan pajak, termasuk para pemilik pajak,” kata Christine.

Misalkan saja CIC yang telah membeli saham BUMI di harga tertentu, dan harga saham itu ekuivalen dengan jumlah utang yang bisa diturunkan. Apakah CIC mau membayar premium atau tidak, masih menunggu rampungnya kasus pajak BUMI.

Ia mengatakan, sektor tambang batubara sebenarnya masih berpotensi menguat. Selain faktor kenaikan harga batubara, suplai global yang turun di tengah demand yang kuat, membawa sentimen positif bagi saham BUMI. “Apalagi adanya IPO Bumi Mineral, yang akan menurunkan leverage BUMI,” paparnya.

Ia menilai, harga BUMI selama ini stagnan karena kasus pajak. Namun, valuasi wajar untuk emiten primadona ini sebenarnya adalah di level Rp3.250 per lembarnya. “Masih ada potensi beli untuk BUMI,” tandasnya. [mdr]

TAJUK
Mencermati pasar

Tidak seperti pada hari pertama perdagangan pekan ini, pasar saham domestik kemarin kembali terkoreksi. Kalau pada awal pekan indeks sempat melonjak 4,06% dan menyentuh level 2.850,43, kemarin indeks turun 1,32% dan bertengger di level 2.812,89.
Sebelumnya, dalam 1-2 pekan yang lalu indeks tampak begitu perkasa. Semua pelaku pasar bergembira ketika menyaksikan indeks secara meyakinkan mendekati posisi 3.000, rekor tertinggi dalam sejarah pasar modal nasional.

Namun, setelah itu indeks dengan cepat berbalik. Pemicu utamanya adalah faktor pengunduran diri Menkeu Sri Mulyani Indrawati dan tekanan utang Yunani.

Apa yang bisa dikatakan dengan fluktuasi indeks yang tajam akhir-akhir ini? Pertama, tren kenaikan indeks pertama-tama bertopang pada kondisi fundamental perekonomian. Dengan kata lain tren indeks yang naik merupakan cermin dari perekonomian dalam negeri yang terus bertumbuh positif.

Bagi kita gambaran itu jelas, yaitu pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini sebesar 5,7%, atau naik 1,9% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Bukan hanya itu, dari sisi fundamental, perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa juga memperlihatkan pertumbuhan positif. Sebagai contoh dari 25 emiten nonkeuangan, yang dihitung surat kabar ini, memperlihatkan pertumbuhan laba bersih hingga 85% pada kuartal pertama tahun ini.

Kedua, ada dua faktor penting lain yang terus harus dicermati yang bisa membelokkan tren utama ini, yaitu faktor global dengan fokus perhatian adalah perekonomian Yunani. Faktor yang lain yang tidak kalah penting adalah situasi politik dalam negeri.

Maka tidak mengherankan ketika situasi Yunani membaik akan menjadi sentimen positif bagi pasar. Begitu pun sebaliknya.

Demikian juga situasi politik dalam negeri bisa dijadikan pertimbangan yang lain. Tak perlu heran misalnya ketika posisi politik Aburizal Bakrie menguat, saham-saham Grup Bakrie juga terangkat. Karena nilai transaksi tujuh saham Bakrie itu cukup besar, maka turut menentukan kinerja indeks di lantai bursa.

Itulah sebabnya tidak berlebihan kalau ada analis yang meminta pemodal untuk secara khusus mencermati penyelesaian masalah pajak PT Bumi Resources Tbk di Mahkamah Agung. Karena andaikan persoalan itu tuntas, bukan tidak mungkin saham Bumi akan menguat lagi dan menarik saham-saham Grup Bakrie yang lain.

Atas dasar kompleksitas variabel di bursa, surat kabar ini tak pernah berhenti mengingatkan pemodal untuk setia mencermati faktor-faktor itu sembari yakin bahwa tak ada alasan fundamental ekonomi dalam negeri yang menghambat pertumbuhan indikator perdagangan saham dalam negeri.

Agar tidak terjebak dalam kepanikan mengikuti fluktuasi yang terus berubah, para pemodal sebaiknya berinvestasi dalam horizon yang panjang. Dengan demikian, mereka lebih tenang mencermati sentimen pasar dan lebih yakin pada prospek perekonomian.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: