Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Mei 26, 2010

analis pro suka (lage) bumi n elty … 260510

Filed under: Tak Berkategori — bumi2009fans @ 11:40 am

Technical Picks

TLKM (7200) – Spec Buy
ASII (36400) – Spec Buy
BUMI (1710) – Spec Buy
ELTY (119) – Spec Buy.

(qom/qom)
Rabu, 26/05/2010 17:03 WIB
Saham Bakrie 7 Naik Gila-gilaan, Kapitalisasi Meningkat Rp 11,7 Triliun
Nurul Qomariyah – detikFinance

Foto: Reuters Jakarta – Saham-saham emiten grup Bakrie mengalami lonjakan tajam, sehingga menyokong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 7% lebih. Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencetak kenaikan terbesar hingga 52%.

Lonjakan saham-saham Bakrie 7 terjadi sejak awal perdagangan, setelah kemarin mengalami kejatuhan tajam. Saham Bakrie-7 melesat tajam berkat sentimen regional, dan juga setelah Mahkamah Agung menolak peninjauan kembali (PK) Ditjen Pajak atas kasus penyidikan pajak PT Kaltim Prima Coal, anak usaha PT Bumi Resources Tbk.

Penguatan saham-saham grup Bakrie tersebut berhasil menyokong kenaikan IHSG hingga tercatat sebagai salah satu yang terbaik di Asia. Pada perdagangan Rabu (26/5/2010), IHSG ditutup melesat tajam 182,661 poin (7,27%) ke level 2.696,780. Indeks LQ 45 juga menguat hingga 38,415 poin (7,95%) ke level 521,636.

“Saham grup Bakrie kemarin sudah turun tajam, nah sekarang juga pasti naiknya tajam karena kemarin terdorong oleh sentimen regional sehingga terjadi panic selling. Sekarang setelah tahu regionalnya bagus, terjadi lagi panic buying. Jadi saya kira wajar kenaikan hari ini,” ujar pengamat pasar modal Edwin Sinaga kepada detikFinance.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat naik Rp 340 (19,98%) menjadi Rp 2.050 dengan volume 965.796 lembar saham senilai Rp 941,4 miliar. Kapitalisasi saham BUMI tercatat naik Rp 6,597 triliun menjadi Rp 39,776 triliun.

Saham PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) naik Rp 80 (29,93%) menjadi Rp 350 dengan volume 537.812 lembar saham senilai Rp 84,7 triliun. Kapitalisasi saham UNSP tercatat naik Rp 1,059 triliun menjadi Rp 4,634 triliun.

Saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) naik Rp 23 (19,33%) menjadi Rp 142 dengan volume 1.233.418 lembar saham senilai Rp 84,5 miliar. Kapitalisasi saham ELTY tercatat naik Rp 459 miliar menjadi Rp 2,833 triliun.

Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik Rp 39 (52%) menjadi Rp 114 dengan volume 3.524.038 lembar saham senilai Rp 171,2 miliar. Kapitalisasi saham ENRG tercatat naik Rp 1,582 triliun menjadi Rp 4,626 triliun.

Saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) naik Rp 12 (23,08%) menjadi Rp 64 dengan volume 2.495.500 lembar saham senilai Rp 73,5 miliar. Kapitalisasi saham BNBR bertambah Rp 1,124 triliun menjadi Rp 5,995 triliun.

Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) tercatat naik Rp 23 (38,33%) menjadi Rp 83 dengan volume 1.011.346 lembar saham senilai Rp 37,3 miliar. Kapitalisasi saham DEWA naik Rp 502 miliar menjadi Rp 1,812 triliun.

Saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) naik Rp 12 (9,92%) menjadi Rp 144 dengan volume 527.332 lembar saham senilai Rp 36,7 miliar. Kapitalisasi saham BTEL naik Rp 370,24 miliar menjadi Rp 4,101 triliun.

Total volume perdagangan Bakrie 7 mencapai 10.295.242 lembar saham senilai Rp 1,275 triliun. Nilai transaksi ini berarti sekitar 18% dari total nilai perdagangan saham di BEI hari ini yang mencapai Rp 6,772 triliun.

Secara total, kapitalisasi saham grup Bakrie mencatat kenaikan Rp 11,693 triliun menjadi Rp 63,778 triliun.
(qom/dnl)

26/05/2010 – 11:23
BUMI & Bakrie Perlahan Bangkit
Asteria

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham grup Bakrie kembali bangkit, setelah dua hari terakhir terpuruk cukup dalam. Rencana BUMI mengajukan non pre-emptive rights ke RUPSLB serta dimenangkannya kasus pajak perseroan, menjadi katalis positif.

Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, peluang penguatan untuk saham Grup Bakrie masih terbuka lebar. Terutama setelah berita negatif dari PT Bumi Resources (BUMI) meluluhlantakkan emiten-emiten di grupnya. “Dengan penjelasan resmi, api besar akan mengecil. Atau harga akan membaik dari titik terjelek,” katanya, Rabu (26/5).

Seperti diketahui, beredar kabar bahwa BUMI akan menggelar rights issue di harga Rp1.400. Hal ini telah dibantah manajemen, namun sentimen negatif ini terus menyerang. Alhasil, dua hari perdagangan kemarin, BUMI memimpin kejatuhan saham Bakrie 7 lainnya.

Purwoko menilai, kehancuran saham BUMI lebih karena keburukan penyampaian informasi atau kelemahan dalam segi publikasi. Apalagi di tengah situasi pasar yang tertekan isu Yunani (Eropa dan Dunia), “Saham grup ini pun mengalami kebakaran,” katanya.

Saat ini, imbuh Purwoko, ada berita sangat baik dari BUMI. Selain kabar bahwa kasus pajak BUMI dimenangkan Mahkamah Agung, perseroan juga menyampaikan rencana harga rata-rata pelepasan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) berdasarkan 25 hari sebelum 24 Mei 2010 atau Rp2.331 per saham.

Ini berarti, isu rights issue BUMI di Rp1.400 telah terbantahkan. Ternyata penawaran 10% saham tanpa HMETD pada harga Rp2.331 atau jauh (+36%) di atas harga pasar sekarang, “Rekomendasi beli untuk BUMI,” katanya.

BUMI memundurkan pelaksanaan RUSPLB menjadi 24 Juni 2010 dari rencana sebelumnya 22 Juni 2010, dengan salah satu agendanya untuk meminta persetujuan penambahan modal tanpa HMETD atau non pre-emptive rights.

Christine Salim, analis dari Samuel Sekuritas mengatakan, berdasarkan peraturan Bapepam maka jumlah maksimal saham yang dapat diterbitkan melalui non pre-emptive rights sebanyak 1,94 miliar lembar atau 10% dari jumlah saham beredar.

Harga pelaksanaan minimal Rp2,328/saham atau premium 30,7% dari penutupan kemarin berdasarkan harga rata-rata tertimbang saham BUMI di pasar reguler selama 25 hari. “Maintain buy untuk BUMI,” ujarnya.

Sementara itu BUMI melalui PT Multi Daerah Bersaing (MDB) menawar 7% saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) senilai US$400 juta, lebih rendah dari yang diajukan NTT yang sebesar US$444 juta. Eksekusi terhadap divestasi 7% saham NTT diperkirakan pekan depan.

Rekomendasi positif juga diungkapkan tim riset Etrading Securities. Menurutnya, secara teknikal, harga saham BUMI telah melemah selama 5 hari berturut-turut dan stochastic akan melakukan golden cross di area oversold.

“BUMI juga membentuk pola hammer yang perlu dikonfirmasi pada hari ini sehingga kita dapat melakukan speculative buy untuk trading,” katanya.

Purwoko menambahkan, sentimen positif BUMI dapat dijadikan momen bagi investor untuk memilih beberapa saham Bakrie 7 lainnya. Kriterianya adalah sudah terkoreksi dalam dan kejatuhannya disebabkan efek negatif dari BUMI. Saham yang dipilih juga harus memiliki bisnis kuat.

Berdasarkan kriteria tersebut, Purwoko menjagokan saham PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP), PT Bakrieland Development (ELTY) dan PT Energi Mega Persada (ENRG). “Rekomendasi beli untuk emiten ini,” ujarnya.

Saham UNSP menjadi salah satu pilihannya. Selain karena koreksi emiten yang tanpa alasan, isu negatif BUMI di pasar kini mulai berkurang. Sedangkan dari internal, UNSP akan rights issue di level Rp525. Hal ini didukung harga CPO yang tetap di atas US$800/ton, meski minyak di bawah US$70 per barel.

Sedangkan ELTY dipilih karena rencana rights issue 33,75 miliar saham baru dengan rasio 1:1,7 masing-masing di Rp160. Kendati aksi korporasi ini tidak disukai, harga Rp140 dinilai masih pas. Sementara ENRG menjadi pilihan karena sudah anjlok terlalu besar terimbas masalah Yunani, yakni turunnya harga minyak mentah. [mdr]

Rabu, 26/05/2010 07:34:10 WIB
Di balik kejatuhan saham Bakrie
Oleh: Bastanul Siregar
JAKARTA (Bisnis.com): Senin awal pekan ini adalah hari yang buruk untuk Grup Bakrie. Di tengah rebound indeks utama regional, saham 7 anggota kelompok usaha Bakrie justru anjlok menyeret jatuh indeks harga saham gabungan sebesar 0,52% ke level 2.609,22.

Saat harga minyak masih bertahan di level US$70 per ton, produsen minyak dan gas PT Energi Mega Persada Tbk menjadi emiten anggota Bakrie yang sahamnya paling terperosok -19,33% di level Rp96 per lembar. Sepanjang tahun ini, ENRG sudah tergerus 46,92%.

Perusahaan properti terintegrasi PT Bakrieland Development Tbk menyusul, anjlok 18,87% di level Rp129 per lembar, jauh dari harga yang ditetapkan pada rencana rights issue, Rp160 per lembar. Sepanjang tahun ini, ELTY sudah tergerus 33,16%.

Perusahaan perkebunan PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk anjlok 16,25% ke Rp335 di tengah rebound harga kontrak minyak sawit mentah di Bursa Komoditas Malaysia untuk pengiriman Agustus di level RM2.500 per ton. Tahun ini, UNSP sudah tergerus 41,07%.

Saham PT Bumi Resources Tbk, emiten terbesar Grup Bakrie, melemah 16,24% ke Rp1.780 per lembar. Hari itu, Bumi kehilangan lebih dari Rp1,3 triliun dari sisi nilai saham. Sepanjang tahun ini, BUMI tergerus 26,60%.

Emiten lainnya, kontraktor tambang PT Darma Henwa Tbk jatuh 12,5% ke Rp70 per lembar, dan tahun ini sudah tergerus 43,11%. Perusahaan induk PT Bakrie & Brothers anjlok -12,9%, sedangkan operator telekomunikasi PT Bakrie Telecom Tbk turun 2,11%.

Saham-saham itu diperdagangkan dengan volume setara 684 juta lembar saham, cukup untuk menyeret jatuh keseluruhan indeks. Total jenderal, hari itu Grup Bakrie kehilangan lebih dari Rp10 triliun, nilai kehilangan terbesar harian yang dialami grup tersebut.

Kejatuhan Bumi akhirnya menyeret emiten batu bara lain. Saham PT Adaro Energy Tbk turun 2,17%, PT Delta Dunia Makmur Tbk -7,3%, PT Indo Tambangraya Megah Tbk -3.89%, PT Indika Energy Tbk -0,99%, dan PT Perusahaan Tambang Bukit Asam Batubara Tbk -0,62%.

Di sektor migas, PT Benakat Petroleum Tbk anjlok 5,7%, PT Medco Energy International Tbk anjlok 2,73%. Di sektor perkebunan, saham PT Sampoerna Agro Tbk turun 4,65%, PT Tunas Baru Lampung Tbk ambruk 3%, dan PT Gozco Plantation Tbk terperosok 3,23%.

Segendang sepenarian dengan kontras melemahnya IHSG, saham emiten pertambangan di bursa regional hari itu juga menguat. China Coal dan Shenhua di bursa Hong Kong misalnya, naik masing-masing 2,17% dan 1,34%, sedangkan BHP di Australia menguat 2,8%.

Beragam teori

Sejumlah analis kemudian datang dengan beragam teori untuk menjelaskan jatuhnya saham Grup Bakrie. Beberapa muncul dengan membawa faktor koreksi teknis, tetapi kebanyakan menyebut rumor penerbitan saham baru (rights issue) Bumi.

Rumor itu tentu tidak datang dari ruang hampa. Dalam keterbukaannya hari itu, Bumi menyebut akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa pada 24 Juni, dengan salah satu agenda persetujuan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu.

Apalagi, nonpreemtive rights tersebut memang sudah disiapkan sejak akhir tahun lalu, sebagai instrumen konversi utang senilai US$1,9 miliar yang diterima Bumi dari China Investment Corporation pada September 2009.

Apabila Bumi menggunakan haknya untuk menerbitkan 10% saham baru pada harga Rp2.328 per lembar dengan CIC sebagai pembeli strategisnya, perusahaan itu berpeluang mengurangi beban utangnya kepada perusahaan China tersebut sebesar US$500 juta dari target pelunasan utang senilai US$1 miliar hingga akhir 2010 dari total utang US$3,4 miliar.

Dengan data historis itu, bantahan Investor Relations Bumi Dileep Srivastava akan rumor tersebut ibarat menggarami air laut. Bersamaan dengan pecahnya gelembung harga batu bara, aksi jual saham Bumi justru menjadi kian masif hingga menyeret emiten batu bara lainnya.

Lalu bagaimana menjelaskan rontoknya saham 6 emiten Bakrie yang lain? Di sini, melihat anjloknya saham Bumi sebagai satu-satunya faktor bukan saja tidak memadai, melainkan juga berpotensi menyesatkan. Perlu diingat ke-6 emiten itu juga punya persoalan sendiri-sendiri.

Energi Mega misalnya, produsen minyak dan gas itu awal tahun ini menerbitkan 26,18 miilar saham baru seharga Rp185 per lembar. Perseroan meraup Rp4,84 triliun dari rights issue itu, yang 52,7%-nya dipakai untuk membayar utang. ENRG rontok 19,33% ke Rp96 per lembar.

Hal yang sama juga dilakukan Bakrie Sumatra. Produsen minyak sawit mentah dan karet ini menerbitkan 9,47 miliar saham baru pada awal tahun ini pada harga Rp525 per lembar. Senin awal pekan ini, harga UNSP limbung 16,25% ke Rp335 per lembar.

Agak berbeda dengan Energi Mega, Bakrie Plantations menggunakan Rp4,97 triliun hasil rights issue-nya terutama untuk mengakuisisi aset oleokimia dan perkebunan milik Grup Domba Mas. Transaksi yang oleh sebagian kalangan dinilai terlalu mahal.

Dari dua penerbitan saham baru senilai Rp9,81 triliun itu, Bakrie & Brothers yang mengontrol langsung Energi Mega dan Bakrie Plantations membelanjakan Rp3,59 triliun untuk menyerap saham baru tersebut melalui hak membeli efek terlebih dahulu.

Rights issue juga dilakukan Darma Henwa dan meraup Rp624,9 miliar, dan yang masih dalam proses adalah Bakrieland yang akan menerbitkan 33,75 saham baru seharga Rp160 per lembar dengan target Rp5,43 triliun. Senin itu, Darma dan Bakrieland anjlok 12,5% dan 18,87%.

Kecuali rights issue Bumi, serangkaian rights issue yang meraup dana total Rp15,85 triliun itu memicu pertanyaan: Dari mana Bakrie and Brothers selaku induk perusahaan membiayai hak membeli efek terlebih dahulu? Senin itu, saham Bakrie & Brothers anjlok 12,9%

Penjelasan utama atas kejatuhan saham Bakrie and Brothers itu tidak lain karena sepanjang tahun ini, perusahaan induk itu telah menjaminkan sejumlah saham anaknya, terutama saham Bakrie Sumatra, Bumi, dan Bakrieland, untuk keperluan pembiayaan utangnya.

Laporan keuangan BNBR menunjukkan dalam dua bulan ini perseoan meraup US$278,86 juta sebagai utang jangka pendek, dengan menggunakan saham dan waran anak usahanya sebagai jaminan. Itu di luar obligasi BNBR US$128 juta yang ditukar sahamnya sendiri.

Pada bulan Mei inilah, beberapa utang itu jatuh tempo, a.l. Rp200 miliar ke Ascention Ltd, Seychelles dan Rp400 miliar ke Ace Business Ltd. Kalau utang itu gagal bayar, kreditur memiliki hak untuk menjual saham yang dijaminkannya.

Persoalan untuk Bakrie Telecom agak berbeda. Emiten ini tidak menempuh opsi rights issue hingga sedemikian rupa mendilusi saham publik. Namun, sebagai gantinya April lalu operator telekomunikasi di segmen low-end ini menerbitkan obligasi senilai US$250 juta.

Penjelasan atas tergerusnya saham BTEL sebesar 2,11% pada Senin itu tentu saja datang a.l. dari beban utang yang meningkat, kinerja yang tak terlalu meyakinkan akibat kian ketatnya kompetisi di segmen tersebut, serta belum terealisasinya bisnis jaringan pita lebar nirkabel.

Di luar faktor Eropa dan tekanan harga komoditas, termasuk pergantian menteri keuangan, pemahaman tentnag fundamental Grup Bakrie, terutama lika-likunya dalam menyiasati beban utang, niscaya akan mencegah kita mereduksi penyebab kejatuhan saham Bakrie.

Dengan itu pula kita tahu kenapa kemarin BUMI jatuh lagi 3,93% ke Rp1.710, ELTY ambruk 7,75% ke Rp119, ENRG terperosok 21,87% ke Rp75, UNSP turun 19,40% ke Rp270, DEWA minus 14,28% ke Rp60, BTEL anjlok 5,75% ke Rp131, dan BNBR hilang 3,70% ke Rp52.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: