Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Mei 31, 2010

potret cerah, kok bumi muram … 310510

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 5:00 pm

ANALISIS DANAREKSA
Potret Komoditas Tambang Indonesia
Senin, 31 Mei 2010 | 04:51 WIB

Oleh HANDRI THIONO

Ungkapan bahwa Indonesia kaya akan sumber daya alam tentu tidaklah berlebihan. Besarnya nilai ekspor tambang nasional menjadi indikasi tingginya potensi ekonomi dari kandungan barang tambang dan mineral. Prospeknya pun baik seiring masih tingginya kebutuhan dunia akan komoditas tersebut.

Mari kita lihat gambaran ekspor Indonesia selama enam tahun terakhir. Berdasarkan klasifikasi SITC 3 digit, produk hasil pertambangan dan perkebunan mendominasi nilai ekspor Indonesia ke dunia.

Pada tahun 2009, nilai ekspor barang hasil tambang (gambar 1) mencapai 39,2 miliar dollar Amerika Serikat atau meningkat hingga 179 persen dari tahun 2004, yang hanya sebesar 14 miliar dollar AS.

Sementara itu, kontribusinya cenderung bergerak stagnan, yaitu di kisaran 33 persen dari total ekspor nasional. Apabila kita lihat lebih mendalam, tiga rangking teratas nilai ekspor pertambangan masih dipegang oleh komoditas batu bara (SITC kode 321), gas alam (SITC kode 343), dan minyak mentah (SITC kode 333).

Posisi selanjutnya berasal dari produk mineral, seperti bijih dan konsentrat tembaga (SITC kode 283) dan bijih nikel (SITC kode 284).

Krisis ekonomi tahun 2008 silam, tidak pelak, memengaruhi laju pertumbuhan ekspor ketiga komoditas favorit tersebut. Harga komoditas terjun bebas seiring melambatnya permintaan dan pesimisme akan prospek ekonomi global.

Ekspor minyak mentah yang mencapai 9,2 miliar dollar AS pada tahun 2007 turun menjadi hanya 7,8 miliar dollar AS pada tahun 2009 (berkontraksi 15,2 persen).

Sementara ekspor gas alam nilainya turun dari 9,7 miliar dollar AS menjadi 8,7 miliar dollar AS atau melemah 10,3 persen. Komoditas batu bara masih lebih beruntung karena mampu tumbuh dari 6,7 miliar dollar AS menjadi 13,8 miliar dollar AS (naik 106 persen).

Lalu, bagaimana potret ekspor ketiga komoditas tambang itu saat ini?

Minyak bumi

Nilai ekspor minyak bumi Indonesia memang terus menguat. Namun, kenaikan ini ternyata belum diimbangi naiknya volume ekspor.

Lihat saja perkembangan volume ekspor minyak mentah nasional dalam satu dekade terakhir. Pada tahun 2000, Indonesia mampu mengekspor minyak hingga 225 juta barrel. Namun, pada tahun 2009 volumenya hanya mencapai 117 juta barrel atau tergerus 48 persen.

Dalam kurun waktu tersebut, negara yang menjadi tujuan utama ekspornya adalah Australia, Jepang, dan China, dengan persentase masing-masing sebesar 20 persen, 17,8 persen, dan 16,4 persen dari total ekspor minyak nasional.

Turunnya volume ekspor minyak bumi ini berkaitan dengan melemahnya produksi minyak dalam negeri. Volume produksi minyak menurun dari 517 juta barrel (2000) menjadi 337 juta barrel (2009). Bersamaan dengan melemahnya volume produksi, cadangan minyak bumi di Indonesia pun terus menipis.

Tabel 1 menunjukkan perbandingan cadangan minyak mentah negara di kawasan Asia Pasifik. Pada akhir 2008, China tercatat mempunyai cadangan minyak terbesar di area ini, yaitu mencapai 15,4 miliar barrel atau 1,2 persen dari cadangan minyak dunia. Sementara itu, cadangan minyak Indonesia diperkirakan mencapai 3,7 miliar barrel atau 0,3 persen dari total cadangan dunia. Stok cadangan Indonesia ini terus turun dari 10 tahun silam, yang mencapai 5,1 miliar barrel.

Sementara itu, rasio cadangan minyak terhadap tingkat produksi tahunan (rasio C/P) menunjukkan bahwa Vietnam memiliki umur ekonomis minyak yang lebih panjang di antara negara lain, yaitu mencapai 40 tahun.

Indonesia sendiri dengan cadangan yang ada, ditambah asumsi tingkat produksi minyak konstan di level 357 juta barrel per tahun (produksi aktual tahun 2008) dan tanpa penemuan cadangan minyak baru, stok cadangan ini diperkirakan akan terkuras dalam tempo 10 tahun.

Tentunya investasi dan aktivitas eksplorasi untuk mendapatkan lapangan minyak prospektif mutlak dilakukan. Kondisi tersebut mengingat masih tingginya ketergantungan banyak negara pada komoditas minyak sebagai sumber energi utama.

Gas alam dan batu bara

Seiring turunnya volume produksi dan ekspor minyak mentah serta terdongkraknya harga energi di pasar global, pamor gas alam dan batu bara mulai terangkat.

Nilai ekspor kedua komoditas ini bahkan melampaui ekspor minyak bumi sejak tahun 2005. Volume produksi gas alam cenderung stabil, yaitu dari 2,8 miliar MSCF (2000) menjadi 3,0 miliar MSCF (2009) atau naik 4,5 persen.

Naiknya produksi gas alam diikuti kenaikan volume pemanfaatannya sebesar 4 persen. Cadangan gas alam kita pun relatif besar, yaitu mencapai 3,2 triliun meter kubik (2008) atau 1,7 persen dari cadangan gas alam di dunia. Rasio C/P gas alam bahkan menunjukkan cadangan ini mampu bertahan hingga 45 tahun.

Di sisi lain, volume batu bara yang kita produksi pun makin meroket, yaitu dari 112 juta ton (2003) menjadi 208 juta ton (2009) atau naik hingga 84 persen. Volume ekspornya pun tumbuh lebih kencang hingga 92 persen.

Permintaan ekspor kedua komoditas ini umumnya datang dari negara-negara Asia. Pada tahun 2009, Jepang dan Korea tercatat menjadi pengimpor utama gas alam Indonesia, dengan porsi masing-masing mencapai 53 persen dan 16 persen dari total ekspor gas alam nasional.

Pada periode yang sama, Jepang, China, India, dan Korea mendominasi pembelian batu bara Indonesia dengan nilai lebih dari 8 miliar dollar AS.

Dari keempat negara tersebut, pertumbuhan permintaan batu bara dari China tergolong pesat. Ekspansi ekonomi yang kencang memang membuat China haus akan sumber daya energi.

Pada tahun 2007, misalnya, China mengimpor batu bara Indonesia dengan nilai 452 juta dollar AS atau tumbuh 132 persen. Memasuki tahun 2009, permintaan batu bara bahkan lebih besar, yaitu mencapai 2 miliar dollar AS atau naik 186 persen.

”Panasnya” potensi keuntungan dari komoditas tambang, terutama batu bara, membuat banyak investor berduyun-duyun menginvestasikan dananya di Indonesia.

Hal ini bisa kita cermati dari kenaikan angka realisasi investasi pertambangan. Pada tahun 2009, realisasi investasi domestik di bidang pertambangan mencapai Rp 1,79 triliun, meningkat lebih dari 245 persen dari tahun sebelumnya. Sementara realisasi investasi luar negeri naik 67,8 persen menjadi 304,5 juta dollar AS.

Diskusi di atas menunjukkan betapa besarnya pengaruh komoditas tambang terhadap postur ekspor nasional. Ekspor minyak mentah mulai menurun dan posisinya tergantikan oleh barang tambang lain yang lebih besar cadangannya, yaitu gas alam dan batu bara.

Dalam beberapa tahun ke depan, prospek ekspor komoditas tambang tampaknya masih kinclong. Seiring laju pemulihan ekonomi global yang dipercaya makin stabil dan terus berekspansi, permintaan sumber daya ini pun akan semakin meningkat.

Namun, perlu diingat, selain produksi, faktor harga global berperan penting. Fluktuasi harga komoditas di pasar internasional dapat memberikan dampak besar bagi ekspor hasil tambang ini.

Selain itu, hasil tambang adalah komoditas kemilau yang tidak dapat terbarukan atau akan habis di masa datang. Artinya, kita wajib memajukan sektor dan komoditas usaha lain agar dapat menopang ekspor nasional.

Contohnya, komoditas manufaktur. Nilai tambah industri manufaktur yang lebih tinggi diyakini lebih memberikan fondasi yang mumpuni untuk kemajuan ekspor di masa depan.

Handri Thiono Ekonom Danareksa Research Institute

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: