Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 2, 2010

isu pajak : maen keroyokan dah … 020610

Filed under: Tak Berkategori — bumi2009fans @ 11:19 pm

Rabu, 02/06/2010 22:45 WIB
Ditjen Pajak VS PT KPC
Ditjen Pajak Akan Kordinasi dengan Kejagung dan Polri
Ramdhania El Hida – detikNews
Jakarta – Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak akan koordinasi dengan Bareskrim Mabes Polri dan Kejaksaan Agung terkait kasus penolakan kasasi Ditjen Pajak terhadap PT Kaltim Prima Coal (KPC) oleh Mahkamah Agung (MA). Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak, Mochammad Tjiptardjo, sampai saat ini kasus tunggakan PT KPC masih dalam tahap penyidikan.

“Sampai sekarang statusnya masih penyidikan,” ujar Tjiptardjo usai rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (2/6/2010).

Sampai saat ini, lanjut Tjiptardjo, pihak Ditjen Pajak masih menunggu keputusan resmi dari MA. Selanjutnya, keputusan tersebut akan dipelajari sebagai bahan pengajuan banding.

“Kita ini masih tunggu keputusan dari MA, baru kita pelajari nanti, baru kita ambil sikap,” ujarnya.

Untuk memperkuat pengajuan banding atas kekalahannya tersebut, Ditjen Pajak akan koordinasi dengan Bareskrim dan Kejaksaan Agung.

“Kita sampai saat ini koordinasi barekskrim dan kejaksaan. Statusnya sampai sekarang penyidikan masih sah, masih jalan. Menunggu hasil MA,” jelasnya.

Sebelumnya, pada Senin lalu (31/5/2010), Tjiptardjo terlihat hadir di Kejagung pada pukul 16.00 sore. Kedatangannya tersebut ditemani Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Namun, usai pertemuan tersebut, baik Tjiptardjo maupun Agus Marto tidak memberikan penjelasan sedikitpun.

(nia/Rez)

Iklan

bumi dengan laba yang turun : 020610

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 11:41 am

Rabu, 02/06/2010 10:36 WIB
Pendapatan Naik 22,01%, Laba BUMI Terpangkas 22,26%
Indro Bagus – detikFinance
Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat penurunan laba bersih triwulan I-2010 sebesar 22,26% meskipun pendapatan masih naik 22,01%. Penurunan laba disebabkan adanya peningkatan beban pokok pendapatan sebesar 52,69%.

Demikian disampaikan dalam laporan keuangan BUMI, Rabu (2/6/2010).

Hingga triwulan I-2010, BUMI mencetak pendapatan sebesar US$ 1,016 miliar, meningkat 22,01% dari periode yang sama tahun 2009 sebesar US$ 832,663 juta.

Beban pokok pendapatan tercatat sebesar US$ 672,031 juta, meningkat 52,69% dari sebelumnya US$ 440,116 juta. Peningkatan ini terutama disebabkan membengkaknya biaya pengupasan dan penambangan menjadi US$ 434,313 juta, naik 57,93% dari sebelumnya US$ 274,996 juta.

Akibatnya, laba kotor langsung terpangkas 12,16% menjadi US$ 344,805 juta dari sebelumnya US$ 392,547 juta. Beban usaha juga meningkat 15,33% menjadi US$ 125,997 juta dari sebelumnya US$ 109,243 juta.

Peningkatan beban usaha membuat laba usaha turun 22,76% menjadi US$ 218,807 juta dari sebelumnya US$ 283,304 juta. Untungnya, perseroan berhasil mendapatkan penghasilan lain-lain sebesar US$ 9,805 juta di triwulan I-2010. Periode yang sama tahun lalu, BUMI mencatat minus 70,783 juta di pos ini.

Perolehan disebabkan adanya penerimaan dana dari penjualan 99,83% saham di PT Mitratama Perkasa kepada PT Cahaya Pratama Lestari senilai US$ 120 juta. Selisih investasi yang diperoleh BUMI dari penjualan ini sebesar US$ 93,736 juta.

Setelah dikurangi pajak-pajak, BUMI mencatat laba bersih sebesar US$ 96,805 juta di triwulan I-2010, turun 22,26% dari sebelumnya US$ 124,538 juta. (dro/dnl)

skandal optima: sang renta, sang korban … 020610

Filed under: OPTIMA under scrutinies — bumi2009fans @ 9:28 am

Minggu, 30/05/2010 19:06:09 WIB
Menjaga asuransi tertua; mission possible!
Oleh: Arif Gunawan S.
Dalam beberapa kasus, instrumen negara bisa dibilang kalah ‘senior’ dibandingkan dengan badan usaha swasta. Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 menjadi buktinya, karena berdiri 33 tahun sebelum Republik Indonesia diresmikan.

Berbeda dari BUMN senior yang kebanyakan adalah warisan pemerintah kolonialis Belanda, AJB Bumiputera justru lahir dari tangan anak bangsa, yakni Dwijosewojo.

Tenaga pengajar yang juga Sekretaris Boedi Oetomo ini menggalang solidaritas Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) untuk membentuk asuransi gotong-royong (mutual). Berbeda dari asuransi lain yang hanya dimiliki segelintir pemodal, semua pemegang polis asuransi mutual ini otomatis menjadi pemilik perusahaan, yang-mirip koperasi-berhak atas laba hasil usaha (surplus) tiap akhir tahun.

Perasaan senasib-sepenanggungan membuat perusahaan ini bertahan menembus perubahan zaman, hingga kini asetnya menembus Rp13 triliun dengan 5,2 juta pemegang polis dan 30.000 pekerja di 500 kantor se-Indonesia.

Sayangnya, ‘senioritas’ dan prestasi AJB yang dibangun hampir seabad itu tak cukup membantu menghadapi Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No.504/2004 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi Berbentuk Badan Hukum Bukan Perseroan Terbatas (PT).

Peraturan yang bertujuan positif itu mewajibkan AJB mendongkrak perimbangan kekayaan terhadap kewajiban sebesar 70% pada 2004. Selanjutnya naik menjadi 75% pada 2005, menjadi 80% pada 2006, dan sebesar 100% akhir 2010.

Persoalan mengemuka karena simulasi tim gabungan manajemen AJB dan Badan Perwakilan Anggota (BPA) menunjukkan perusahaan baru bisa memenuhi amanat solvabilitas itu 5 tahun mendatang, di tengah ketiadaan payung hukum menghadapi persaingan industri.

Kini, perimbangan aset dan kewajiban perseroan baru sekitar 80%. Dus, jika pemerintah bersikap kaku, tahun depan AJB bisa saja tinggal nama karena kegagalan pemenuhan KMK itu berujung pada pengalihan sebagian atau seluruh portofolio pertanggungannya pada asuransi lain.

“Kalau semua portofolio dialihkan, artinya AJB Bumiputera menjadi kosong, dicabut lah izinnya. Namun itu juga bukan isu yang mudah dilakukan,” tutur Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Isa Rachmatarwata, pada medio Februari.

Isa benar dalam satu hal; membubarkan asuransi tertua bukanlah perkara mudah. Ada beban psikologi kebangsaan dan kesejarahan di sana, karena diakui atau tidak AJB telah menjadi ikon asuransi jiwa pertama di Indonesia, yang tentunya menjadi ironi besar jika tergulung hanya karena kekakuan birokrasi.

Butuh komitmen

Namun demikian, otoritas jasa keuangan juga tidak gegabah memberi perpanjangan waktu bagi AJB. Mengutip Isa, Kemenkeu tidak mungkin menerima cek kosong tanpa komitmen AJB memenuhi amanat KMK tersebut.

Sikap tersebut masuk akal, mengingat manajemen AJB tengah menghadapi tantangan menyelamatkan dananya yang tersangkut di PT Optima Kharya Capital Management senilai Rp425 miliar, berbuntut tuntutan Serikat Agen Bumiputera seputar transparansi pengelolaan dana.

Dalam penghitungan kekayaan perusahaan asuransi, besaran dana investasi menjadi salah satu variabel penting penentu solvabilitas. Karenanya, tiap rupiah kerugian investasi AJB bisa mengancam tingkat solvabilitas mereka.

Prinsip kehati-hatian mengelola dana inilah yang semestinya dikedepankan perusahaan mutual seperti AJB, dengan membentuk tim manajer investasi yang tak hanya mengerti bagaimana mengejar laba tetapi juga mengantisipasi risiko.

Itulah yang dilakukan New York Life Insurance, perusahaan mutual terbesar Amerika Serikat (AS) berusia 165 tahun, hingga total asetnya menembus US$280 miliar (Rp2.660 triliun) pada 2009.

Ketika krisis finansial menghajar pasar modal Amerika Serikat (AS) pada 2007, Chief Executive Officer (CEO) New York Life Theodore Mathas masih bisa tersenyum.

“Perusahaan kami dibangun untuk situasi seperti ini,” komentarnya kala itu, yang kemudian dipajang sebagai judul laporan keuangan New York Life per 2008.

Sejak awal 2007, tim manajer investasi Thamas berhasil mendeteksi sinyal irasionalitas di balik bullish pasar kredit AS. Sinyal-yang bahkan tersilap di mata raksasa keuangan besar macam Citibank N.A.-itu direspon dengan memboyong investasinya ke instrumen yang lebih aman seperti obligasi pemerintah.

“Menjelang Agustus 2007, persoalan di pasar kredit yang sebelumnya kami khawatirkan itu pun menjadi berita utama di koran-koran,” demikian tulis laporan keuangan New York Life tersebut.

Karena sikap kehati-hatian itu, laba operasi New York Life tumbuh 17% menjadi US$1,28 miliar (Rp12,16 triliun) pada ‘tahun laknat’ itu. Surplus ke para pemegang polis pun bertambah US$800 juta (Rp7,6 triliun), atau sekitar Rp550 miliar per bulan.

Kiprah New York Life ini membuktikan bahwa perusahaan mutual, yang jumlahnya per Maret 2010 (menurut International Cooperative and Mutual Insurance Federation) hanya ada 400 di dunia, mampu bersaing dan bahkan meraja.

Namun, tentu saja, capaian New York Life ini tidak terlepas dari dukungan Departemen Asuransi AS yang berbasis di New York dengan memberi payung hukum melalui Mutual Insurance Act yang dikukuhkan sejak awal abad 19.

Faktor payung hukum inilah yang dikeluhkan Komisaris Utama AJB Sugiharto. Mantan Menteri Negara BUMN ini menyayangkan ketiadaan UU Perusahaan Mutual di Indonesia, meski UU Asuransi mengamanatkan bentuk badan usaha mutual diatur secara khusus.

“Karena itu, kami mendorong regulator maupun legislator mempertimbangkan lahirnya Undang-Undang Perusahaan Mutual,” ujarnya kepada pers pada Februari.

Tanpa payung hukum, lanjutnya, AJB kesulitan bereksplorasi untuk merespon cepatnya perubahan industri asuransi nasional, di tengah ketatnya kompetisi dengan pendatang baru terutama asuransi patungan asing.

Alih-alih memberi sinyal positif dengan membentuk draf UU Perusahaan Mutual, Kemenkeu sampai sekarang memilih menekan AJB mematuhi KMK kesehatan asuransi. Merespon itu, manajemen AJB pun mengalah dan menghadap Bapepam-LK pada awal bulan ini.

Dalam pertemuan yang berlangsung pada 3 Mei itu, direksi menyampaikan 12 program pencapaian amanat KMK ke depan. Salah satu program terpenting yang akan direvitalisasi adalah investasi, selain tata kelola usaha yang baik (good corporate governance/ GCG).

Perhatian manajemen terhadap isu investasi dan GCG ini menunjukkan adanya iktikad baik dari internal AJB memperbaiki diri. Kini, bola berada di tangan Kemenkeu dan-tentu saja-pemegang polis selaku pemilik AJB untuk mengawasi dan memastikan iktikad dan program mereka itu benar-benar direalisasikan.

Dengan demikian, ada harapan bahwa 2010 bukan menjadi tahun kematian bagi asuransi lokal tertua ini, pun bukan menjadi kematian yang tertunda pada 2015, melainkan awal kebangkitan aset warisan pendiri bangsa.(arif.gunawan@bisnis.co.id)

niat licik bandar @bumi, investor binkung … 020610

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 7:36 am

02/06/2010 – 05:30
Saham BUMI Terus Ditekan Turun

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI) dikabarkan terus ditekan oleh bandar. Hal ini terkait aksi korporasi perseroan.

Berdasarkan analis meeting dengan manajemen PT Bumi Resources (BUMI) pekan lalu, BUMI akan umumkan harga right issue HMETD di sekitar Rp 2.300/lbr. Harga ini adalah harga rata-rata dari harga penutupan trading dalam 25 hari sebelum pengumuman right issue.

Untuk mengantisipasi pengumuman tersebut, tak heran bila sekarang harga saham BUMI terus ditekan rendah oleh bandar. Harga saham BUMI dikerek turun agar bisa akumulasi saham BUMI di harga rendah, karena placement di 2300. Apalagi sudah ada standby buyer untuk right issue HMETD tersebut.

Pada perdagangan Selasa (1/6) kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp115 ke Rp1.910 per lembarnya. [nat/ast]

jawaban bwat Asan: creditwatch obligasi trub … 020610

Filed under: Saham Trub — bumi2009fans @ 7:19 am

24/05/2010 – 15:01
Obligasi Truba Jaya ‘Creditwatch’ Negatif
Susan Silaban

(IST)
INILAH.COM, Jakarta – Pefindo menempatkan peringkat BBB+ terhadap obligasi PT Truba Jaya Engineering 1/2007 senilai Rp200 miliar yang akan jatuh tempo pada 8 Juli 2010 atau Creditwatch dengan implikasi negatif.

Hal ini disampaikan Pefindo dalam keterangannya di Jakarta, Senin (24/5). Hal ini dilakukan karena terbatasnya likuiditas perusahaan untuk melunasi obligasi yang akan jatuh tempo tersebut tercermin dari saldo kas perusahaan per akhir Desember 2009 yang hanya berjumlah sekitar Rp76,35 miliar. Dengan demikian, perusahaan berencana untuk merefinance obligasi tersebut dengan pinjaman dari bank dimana sampai saat ini masih dalam proses negosiasi.

Saat ini, perusahaan dimiliki oleh PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk, melalui anak perusahaan yaitu PT Manunggal Infrasolusi dengan penyertaan masing-masing 96%, sedangkan PT Multi Energi Persada dan PT Kurnia Unggul Sejahtera memiliki penyertaan masing-masing sekitar 2,33% dan 1,67%. [san/cms]
Senin, 24/05/2010 17:50:56 WIB
Peringkat obligasi Truba Jaya masuk creditwatch
Oleh: Irvin Avriano A.

JAKARTA (Bisnis.com): PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menempatkan prospek peringkat obligasi II/2007 PT Truba Jaya Engineering, anak usaha Truba Alam Manunggal Engineering Tbk, senilai Rp200 miliar pada creditwatch dengan implikasi negatif.

Dalam risetnya hari ini analis Pefindo Rifan Firmansyah mengatakan aksi pemeringkatan itu dilakukan akibat likuiditas kas emiten yang kurang.

Hal itu, tuturnya, tercermin dari posisi kas perseroan pada akhir tahun lalu yang hanya Rp76,35 miliar, sedangkan perseroan harus melunasi obligasi yang mengantongi peringkat BBB+ itu yang akan jatuh tempo pada Juli.

“Dengan demikian perseroan berencana membiayai ulang obligasi tersebut dengan pinjaman dari bank yang saat ini masih dalam proses negosiasi,” ujar Rifan dalam risetnya hari ini.

Truba Jaya Engineering merupakan anak usaha Truba Alam Manunggal melalui anak usahanya, PT Manunggal Infrasolusi dengan komposisi kepemilikan sebesar 96%, PT Multi Energi Persada sebesar 2,33%, dan PT Kurnia Unggul Sejahtera sebesar 1,67%. (wiw)
Prospek Peringkat Obligasi Truba Jaya Negatif
25 May 2010
Ekonomi Koran Jakarta
JAKARTA – Lembaga pemeringkat efek nasional, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menempatkan prospek peringkat obligasi Truba Jaya Engineering Tbk sebesar 200 miliar rupiah tahun 2007 yang saat ini “BBB+” pada implikasi negatif. Menurut analis Pefindo, Rifan Firmansyah dan Ronald Hertanto, dalam keterangan tertulis di Jakarta Senin (24/5), hal ini disebabkan terbatasnya likuiditas perusahaan untuk melunasi obligasi yang akan jatuh tempo pada 8 Juli 2010.

Keterbatasan likuiditas tersebut tecermin dari saldo kas perusahaan per akhir Desember 2009 yang hanya berjumlah 76,35 miliar rupiah. Karena itu, perseroan berencana untuk melakukan refinancing atau pembiayaan kembali obligasi tersebut dengan pinjaman bank dimana sampai saat ini masih dalam proses negosiasi. Saat ini, Truba Jaya Engineering dimiliki Truba Alam Manunggal Engineering Tbk melalui anak perusahaan yaitu PT Manunggal Infrasolusi dengan penyertaan sebesar 96 persen, sedangkan PT Multi Energi Persada dan PT Kurnia Unggul Sejahtera memiliki penyertaan masing-masing sekitar 2,33 persen dan 1,67 persen. asp/E-1
13/01/2010 – 10:18
Sst..Truba Jajaki Pinjaman Bank
Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta – PT Truba Jaya Engineering, anak usaha PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) sedang mengupayahkan penyediaan dana untuk pelunasan pokok Obligasi I Tahun 2007 senilai Rp200 miliar.

Demikian diungkapkan Direktur Keuangan Alip Handra dan Presiden Direktur Truna Jaya Erman Suparno kepada BEI, Rabu (13/1).

Menurut Alip, obligasi ini jatuh tempo pada 8 Juli 2010. Memang, perseroan akan memperoleh pinjaman dari sumber internal berupa penyisihan dana intern perusahaan dan sumber eksternal, seperti pinjaman bank serta lembaga keuangan.

Manajemen Truba Jaya juga berkeyakinan obligasi tersbeut akan dilunasi pada saat jatuh tempo. Dalam hal ini, Truba Jaya emmpunyai keputusan penting mengenai penyelesaian obligasi itu. “Kami yakin bisa menyelesaikan pembayaran itu sesuai dengan waktu jatuh tempo,” tegasnya. [san/cms]

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.