Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 10, 2010

cic – bumi pp … TARIiiiikk: 100610

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 8:41 am

Kamis, 10/06/2010
CIC berpeluang serap rights issue Bumi
JAKARTA: Aksi rights issue yang dilakukan PT Bumi Resources Tbk menjadi peluang terbesar bagi China Investment Corporation (CIC) untuk masuk menjadi investor strategis.

Analis PT Optima Securities Ikhsan Binarto menilai CIC berpotensi besar menjadi pembeli 10% emisi saham Bumi tersebut, menyusul utang konversi perusahaan investasi China tersebut tahun lalu senilai US$1,9 miliar.

“Jika CIC yang masuk, kemungkinan besar tidak akan dilepas dalam jangka panjang karena mereka butuh mengamankan pembelian batu bara Bumi dan bukannya mengejar keuntungan dari transaksi saham [capital gain] harian,” tuturnya kemarin.

Aksi tersebut, lanjutnya, akan memperbaiki posisi rasio utang terhadap ekuitas (DER) Bumi yang secara bersamaan menambah kas mereka dengan suntikan dana baru sekitar US$500 juta.

Rencana tersebut sejalan dengan target manajemen Bumi yang menargetkan menurunkan level utangnya (deleveraging) sebesar US$1 miliar-US$1,2 miliar dalam setahun ke depan. “Setelah ini, mereka mengeksekusi IPO saham PT Bumi Resources Mineral ke bursa,” tutur Ikhsan.

Harga indikasi Rp2.366 per saham tersebut, lanjutnya, sesuai dengan ketentuan otoritas pasar modal yang mengharuskan harga rata-rata tertinggi dalam 25 hari terakhir. Harga tersebut terpaut tipis dari proyeksi PT Samuel Sekuritas yang sempat memperkirakan Rp2.328 per saham.

Analis Samuel Sekuritas Christine Salim mengatakan kepastian masuknya CIC melalui aksi korporasi tersebut akan menjadi katalis positif saham perseroan yang memulihkan keyakinan pasar.

“Rapat umum pemegang saham luar biasa [RUPSLB] pada 24 Juni akan menjadi salah satu kejadian penting untuk menentukan arah pergerakan saham BUMI. Kami akan me-review kembali proyeksi dan rekomendasi setelah ada-nya kepastian non-preemptive rights issue,” tuturnya dalam laporan riset per 3 Juni.

Efek dilusi non-preemptive rights tersebut, lanjutnya, kemungkinan tidak terlalu signifikan yakni hanya sebesar 5% pada akhir 2010 dan 3% pada 2011 terhadap laba per saham (EPS).

Christine menilai yang harus diperhatikan investor adalah risiko batal atau tertundanya aksi tersebut karena bisa saja pemegang saham dalam RUPSLB tidak mencapai kuorum dan investor strategis mundur karena harga pasar saat ini lebih rendah sekitar 25% dari harga minimum nonpreemptive rights.

Bumi Resources, emiten batu bara terbesar di Indonesia, akan mengantongi dana segar US$495,89 juta dari rights issue 10% tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Dalam prospektus yang diterbitkan oleh manajemen Bumi kemarin disebutkan perusahaan akan menggunakan dana segar dari penjualan saham tersebut untuk membayar utang senilai US$495,89 juta.

Pelaksanaan transaksi emiten dengan kode saham BUMI ini selambat-lambatnya pada 30 Juli 2010. Indikasi harga minimal pelaksanaan penerbitan saham baru tanpa HMETD tersebut adalah Rp2.366 per saham.

Oleh Arif Gunawan S. & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia

Iklan

btel pilih tetap BERTAHAN: 100610

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 8:22 am

Kamis, 10/06/2010

Fitch kaji ulang peringkat BTEL
Mustafa menilai opsi merger menguntungkan kedua pihak

JAKARTA: Perusahaan pemeringkat Fitch Ratings akan menelaah kembali peringkat PT Bakrie Telecom Tbk bila terjadi konsolidasi bisnis CDMA dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Associate Director Fitch Asia Pacific Marchelius Mario mengatakan konsolidasi keduanya akan mengurangi tekanan tarif antara kedua operator dan menyediakan sinergi pemasaran, peningkatan skala ekonomi dan mengurangi belanja modal ekspansi.

Meski demikian, transaksi tersebut bisa memengaruhi peringkat Telkom dan Bakrie Telecom.

“Fitch akan mencari kejelasan lebih jauh seputar struktur transaksi dan bagaimana operasi Bakrie Telecom dikombinasikan Telkom-Flexi sebelum pemeringkatan diberikan,” tuturnya melalui surat elektronik kemarin.

Fitch menilai transaksi tersebut justru tidak akan memengaruhi peringkat Telkom yang saat ini berada di posisi BB+/Stable atau setara dengan peringkat negara Indonesia yang juga BB+/Stable

Meski detil transaksi belum dibuka, Marchelius menilai konsolidasi kedua operator code division multiple access (CDMA) terbesar itu menguntungkan industri telekomunikasi Indonesia di tengah iklim kompetisi seperti sekarang.

Per Desember 2009, pelanggan Telkom-Flexi mencapai 15,1 juta sedangkan Bakrie Telecom mencapai 10,6 juta orang.

Gabungan keduanya akan melahirkan operator nirkabel terbesar keempat di Indonesia, menyusul PT XL Axiata Tbk yang basis pelanggannya mencapai 31,4 juta.

Kedua entitas itu kini beroperasi di kanal 800 megahertz (MHz) berdasarkan teknologi CDMA 2000 1x, masing-masing dengan bandwidth 5 MHz.

Marchelius juga menilai pascakonsolidasi, kombinasi keduanya akan menciptakan diversifikasi geografi yang lebih baik di Indonesia karena saat ini terjadi tumpang-tindih basis pelanggan dan cakupan layanan keduanya.

“Kebanyakan pelanggan Bakrie Telecom bertempat tinggal di Jakarta, Banten dan Jawa Barat, sedangkan basis Telkom-Flexi dan cakupan layananya lebih luas dari sisi lokasi geografi,” ujarnya.

Penuh sesak

Fitch menilai industri nirkabel di Indonesia boleh dikatakan penuh sesak dengan total 10 pemain pada akhir 2009. Pelanggan industri mencapai 190 juta pada akhir tahun lalu, yang menyiratkan penetrasi utama 82%.

Namun, penetrasi riil diperkirakan masih rendah di posisi sekitar 50% setelah disesuaikan dengan penghitungan keberadaan kartu SIM. Dengan penetrasi seluler masih relatif moderat, pertumbuhan yang wajar diharapkan tetap berlanjut untuk jangka menengah.

Menteri BUMN Mustafa Abubakar akan mendukung jika sampai opsi merger yang ditempuh untuk mengawinkan Telkom dan Bakrie Telecom, karena lebih memicu pencapaian target pertumbuhan.

Dia mengatakan Kementerian BUMN tidak memberikan arahan apa pun dalam menentukan antara opsi merger dan akuisisi, guna mengawinkan dua badan usaha yang menjalankan bisnis layanan telepon tetap berbasis CDMA Flexi dan Esia tersebut.

“Secara prinsip kami setuju ada kerja sama ini, karena dapat memperkuat BUMN Telkom sendiri, dan saya melihat peluang win-win solution-nya besar,” katanya kemarin..

Ketika ditanyakan niat Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyusuri apakah aksi korporasi itu melanggar hukum persaingan dengan terciptanya kecenderungan terjadinya monopoli, Mustafa mengatakan akan dibicarakan oleh pihak Telkom dan Bakrie Telecom.

Seperti diketahui Telkom menyatakan siap mengakuisisi, tetapi PT Bakrie & Brothers Tbk lebih memilih opsi merger. (Fahmi Achmad) (arif.gunawan@bisnis.co.id /linda.silitonga@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S. & Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia

Blog di WordPress.com.