Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 11, 2010

imink-iming DOAN-K (303): 110610

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 11:04 pm

11/06/2010 – 10:07
Gina Novrina Nasution
Akhir Tahun BUMI Menguat ke Level Rp3.200

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Jumat (11/6) diprediksikan menguat terbatas seiring kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$75 per barel. Buy on Weakness BUMI dengan targert Rp3.200 akhir 2010!

Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini karena kenaikan harga minyak mentah dunia dan batubara. Karena itu, Gina merekomendasikan buy on weakness untuk saham sejuta umat ini.

Sebab, meski diperkirakan secara tren saham BUMI masih melemah (bearish), tapi sudah mulai terbatas. “Beli BUMI untuk jangka panjang hingga akhir tahun. Di akhir 2010, BUMI akan kembali menguat ke level Rp3.200,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp20 (1,08%) menjadi Rp1.820 dengan intraday Rp1.860 dan Rp1.800. Volume transaksi mencapai 127,03 juta unit saham senilai Rp230,9 miliar dan frekuensi 3.802 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah kemarin melemah Rp20, bagaimana Anda memperkirakan, pergerakan saham BUMI akhir pekan ini?

Saya kira ada potensi penguatan BUMI hari ini. Salah satunya dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$75 per barel. Sebab, produksi minyak di British Petroleum (BP) mengalami kebocoran. Keadaan ini, membuat orang berspekulasi sehingga memicu kenaikan harga minyak. Karena itu, kenaikan harga minyak bukan faktor real demand melainkan faktor spekulan. Saham-saham komoditas pun termasuk BUMI berpeluang mengalami kenaikan.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level resistance Rp1.880 dan Rp1.770 sebagai level support-nya. Apalagi, harga batubara pekan ini mengalami kenaikan ke level US$98 per metrik ton dari sebelumnya di level US$96. Batubara dan minyak menopang penguatan BUMI Jumat ini.

Bagaimana dengan kembali beroperasinya tambang milik PT Arutmin, anak usaha BUMI?

Oh ya. Manajemen BUMI sudah menyatakan, tambang milik PT Arutmin Muara Asam-Asam telah beroperasi kembali secara normal setelah sempat terhenti sejak Senin (7/6) sore. SVP Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava juga mengatakan kalau terhentinya kegiatan penambangan di Arutmin sama sekali tidak mengganggu kegiatan produksi dan penjualan batubara perseroan. BUMI optimistis target produksi 67 juta ton batubara BUMI di tahun 2010 dapat tercapai. Sentimennya sangat positif sejalan dengan perkiraan penguatan saham BUMI akhir pekan ini.

Tapi sebenarnya, kalaupun Arutmin tidak beroperasi, pasokan untuk PLN masih aman dan tersedia dari BUMI. Karena itu, sentimennya tidak terlalu negatif sehingga tidak menjadi tekanan bagi saham ini.

Bagaimana dengan sentimen market?

Penguatan BUMI akhir pekan ini berpeluang terbatas. Sebab, pergerakan market masih cenderung stagnan. Pelaku pasar masih wait and see atas perkembangan market berikutnya. Saat ini merupakan hari awal Piala Dunia 2010, yang biasanya transaksi tipis.

Karena itu, jika melihat dari trading, nilai transaksi di bursa pun tipis. Valuasi indeks hanya mencapai Rp2 triliunan. Memang, BUMI sendiri termasuk emiten dengan kategori most value. Tapi, hal itu, tidak akan memicu penguatan BUMI lebih jauh.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI. Sebab, diperkirakan secara tren saham BUMI masih melemah (bearish) tapi sudah mulai terbatas. Beli BUMI untuk jangka panjang hingga akhir tahun. Di akhir 2010, BUMI akan kembali menguat ke level Rp3.200. [jin/ast]

Iklan

taktik trading harian @maen saham

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 1:10 pm

iming-imink doanK (201) … 110610

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 8:52 am

11/06/2010 – 08:39
BUMI Bisa Naik Tipis, ‘Buy on Weakness’!
Ahmad Munjin

(inilah.com/Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Jumat (11/6) diprediksikan menguat terbatas seiring kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$75 per barel dan batubara US$98 per metrik ton. Buy on Weakness BUMI!

Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini salah satunya dipicu kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$75 per barel. Hal ini terimbas produksi minyak di British Petroleum (BP) mengalami kebocoran.

Keadaan ini, membuat orang berspekulasi sehingga memicu kenaikan harga minyak. Karena itu, kenaikan minyak bukan faktor real demand melainkan faktor spekulan. Saham-saham komoditas termasuk BUMI pun berpeluang mengalami kenaikan.

“BUMI akan mengarah ke level resistance Rp1.880 dan Rp1.770 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (10/6) malam.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp20 (1,08%) menjadi Rp1.820 dibandingkan sebelumnya di level Rp1.840. Harga tertingginya mencapai Rp1.860 dan terendah Rp1.800. Volume transaksi mencapai 127,03 juta unit saham senilai Rp230,9 miliar dan frekuensi 3.802 kali.

Gina memaparkan, harga batubara pekan ini mengalami kenaikan ke level US$98 per metrik ton dari sebelumnya di kisaran US$96. “Batubara dan minyak menopang penguatan BUMI hari ini,” tandas Gina.

Pada saat yang sama, manajemen BUMI sudah menyatakan, tambang milik PT Arutmin Muara Asam-Asam telah beroperasi kembali secara normal setelah sempat terhenti sejak Senin (7/6) sore.

SVP Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava mengatakan terhentinya kegiatan penambangan di Arutmin sama sekali tidak mengganggu kegiatan produksi dan penjualan batubara perseroan. Ia pun optimistis target produksi 67 juta ton batubara BUMI di 2010 dapat tercapai.

“Sentimennya sangat positif sejalan dengan perkiraan penguatan saham BUMI akhir pekan ini,” ucap Gina. Ia melanjutkan, kalaupun Arutmin tidak beroperasi, pasokan untuk PLN masih aman dan tersedia dari BUMI. “Sentimennya tidak terlalu negatif sehingga tidak menjadi tekanan bagi saham ini,” tuturnya.

Namun demikian, penguatan saham sejuta umat di akhir pekan ini berpeluang terbatas mengingat pergerakan market yang masih cenderung stagnan. Pelaku pasar masih wait and see atas perkembangan market berikutnya. “Saat ini merupakan hari awal Piala Dunia 2010, yang biasanya transaksi tipis,” ucapnya.

Karena itu, jika melihat trading, nilai transaksi di bursa pun bakal menipis. Valuasi indeks diperkirakan hanya mencapai Rp2 triliunan. Memang, imbuh Gina, BUMI sendiri termasuk emiten dengan kategori most value. Tapi, hal itu, tidak akan memicu penguatan BUMI lebih jauh.

Gina merekomendasikan buy on weakness untuk BUMI. Diperkirakan secara tren saham BUMI masih melemah (bearish) meski mulai terbatas. “Beli BUMI untuk jangka panjang hingga akhir tahun. Di akhir 2010, BUMI akan kembali menguat ke level Rp3.200,” pungkas Gina. [mdr]

btel dimerger … 110610

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 7:30 am

Telkom: Belum Ada Kesepakatan Jual Beli Esia
Telkom baru mengevaluasi dari aspek industri dan teknologinya.
JUM’AT, 11 JUNI 2010, 19:55 WIB
Arinto Tri Wibowo, Purborini

VIVAnews – Manajemen PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada kesepakatan jual beli antara perseroan dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terkait rencana sinergi Flexi dengan Esia.

Flexi adalah produk layanan seluler berbasis code division multiple access (CDMA) milik Telkom. Sedangkan Esia merupakan produk layanan sejenis milik Bakrie Telecom.

“Belum ada sama sekali (kesepakatan jual beli),” kata Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah, usai rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan perseroan di Jakarta, Jumat 11 Juni 2010.

Menurut dia, Telkom baru mengevaluasi dari aspek industri dan teknologinya. “Kalau sudah ada (kesepakatan), sebagai perusahaan publik, kami akan sampaikan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, pihaknya belum dapat memberikan pernyataan apa pun, karena memang belum ada kesepakatan apa-apa.

Sebelumnya, Telekomunikasi Indonesia mengaku sedang mengkaji konsolidasi terbaik untuk divisi seluler berbasis code division multiple access (CDMA) dengan dua operator sejenis. Salah satunya adalah Bakrie Telecom.

“Kami lihat apakah merger atau akuisisi,” kata Rinaldi, awal pekan ini.

Menurut dia, pilihan untuk merger dimungkinkan karena aksi korporasi itu tidak membutuhkan dana. Namun, untuk proses itu, divisi Flexi Telkom harus berbentuk perusahaan terbatas terlebih dahulu. “Tapi, jika pilihannya akuisisi, meskipun perlu dana, kami siap,” ujar Rinaldi. (sj)

• VIVAnews
Direksi Telkom Dipertahankan untuk Sukseskan Sinergi Flexi-Esia?
Jum’at, 11 Juni 2010 – 19:53 wib
Widi Agustian – Okezone

JAKARTA – Direksi dan Komisaris PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dipertahankan pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) kali ini.

Padahal, Direktur Utama Rinaldi Firmansyah serta satu direksi lainnya dan Komisaris Utama Tanri Abeng serta dua komisaris lainnya sudah habis masa jabatannya.

Deputi Bidang Riset Kementerian BUMN Sahala Lumbuan Gaol sempat mengatakan mereka dipertahankan karena masih ada ‘pekerjaan rumah’ yang harus mereka kerjakan.

“Masih ada isu-isu strategis yang harus diselesaikan,” kata Sahala dalam RUPSLB di kantor Telkom, Jakarta, Jumat (11/6/2010).

Padahal, sebagaimana diketahui, saat ini Telkom tengah menjajaki untuk konsolidasi dengan perusahaan telekomunikasi anak usaha Bakrie, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Di mana anak usaha penyedia layanan CDMA Telkom, Flexi bakal disinergikan dengan layanan Esia yang dimiliki oleh BTEL.

Banyak rumor terkait rencana ini, ada juga yang menyebutkan jika pada Selasa lalu Telkom telah melakukan penandatangan perjanjian due diligence meeting (DDM) dengan BTEL.

“Sampai saat ini belum ada kesepakatan beli atau jual. Baru ada permintaan evaluasi, belum ada permintaan jual. Evaluasi untuk industri, bisnisnya dan segala macamnya. Kita belum menandatangani apa-apa,” elak Direktur Utama Rinaldi Firmansyah.

Bahkan, Rinaldi juga enggan memberikan keterangan lebih lanjut mengenai hal ini. Dia hanya menegaskan jika tidak ada tekanan politik. “Saat ini kami tidak bisa memberikan pernyataan apa-apa,” tukasnya.

Sebagaimana diketahui, ada dua direksi dan tiga komisaris yang habis masa jabatannya. Akan tetapi, pemerintah tampaknya masih mempertahankannya. Antara lain, Dirut Rinaldi Firmansyah, Direktur Enterprise and Wholesale Arief Yahya, Komut Tanri Abeng, Komisaris Independen Arif Arryman, dan Komisaris Independen P Sartono.(ade)
Jumat, 11/06/2010
Telkom pembeli siaga rights issue Bakrie Telecom
JAKARTA: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Bakrie & Brothers Tbk akan menjadi pembeli siaga penawaran umum terbatas (rights issue) PT Bakrie Telecom Tbk yang dijadwalkan Agustus 2010.

Seorang eksekutif yang terlibat dalam kerja sama itu mengatakan aksi tersebut merupakan tahap awal konsolidasi layanan telepon tetap berbasis CDMA (code division multiple access) milik Telkom dan Bakrie Telecom, Flexi dan Esia.

“Kerja sama itu semula dijadwalkan ditandatangani malam ini [tadi malam]. Tapi kemudian diundur menunggu hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) Telkom besok [hari ini],” ujarnya di Jakarta, tadi malam.

Dia menjelaskan sejauh ini angka rights issue Bakrie Telecom masih dikalkulasi. Setelah mengantongi dana segar hasil rights issue, anak perusahaan Bakrie & Brothers itu akan mengakuisisi divisi Flexi setelah dipisah (spin off) menjadi perseroan terbatas, sehingga akhirnya terjadi merger.

Informasi mengenai rencana rights issu Bakrie Telecom sempat muncul awal pekan ini bersamaan dengan pernyataan Telkom untuk menggabungkan Flexi dan Esia. Namun, saat itu baik manajemen Telkom maupun Bakrie Telecom sama-sama

membantahnya.

Dalam laporan keuangan Bakrie Telecom per Maret 2010, Bakrie & Brothers menguasai 34,38% saham atau 9,79 miliar saham Bakrie Telecom, sedangkan 65,62% saham lainnya dimiliki publik.

Dengan asumsi rights issue Bakrie Telecom yang berkode BTEL dilaksanakan pada harga penutupan kemarin, yakni Rp170 per lembar, Bakrie & Brothers harus menyiapkan dana segar senilai Rp1,66 triliun untuk melaksanakan haknya agar tidak terdilusi.

Menurut eksekutif itu, Telkom ingin menguasai 51% dari 34,38% saham Bakrie Telecom milik Bakrie & Brothers. Dengan asumsi harga BTEL Rp170 dan tak ada pemegang saham publik yang memakai haknya dalam rights issue, Telkom harus menyediakan Rp848,3 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan Telkom kuartal I/2010, jumlah dana yang harus disediakan BUMN telekomunikasi terbesar untuk mengendalikan mayoritas saham Bakrie Telecom itu hanya 12,5% dari jumlah kas dan setara kasnya yang mencapai Rp6,75 triliun.

Memang dijadwalkan

Dikonfirmasi atas informasi ini, seorang eksekutif puncak Grup Bakrie yang meminta identitasnya tidak dibuka mengatakan penandatanganan kesepakatan Telkom dan Bakrie Telecom memang sudah dijadwalkan pada Kamis malam.

“Semula [penandatanganan] itu memang direncanakan pada Kamis malam [kemarin], tapi ditunda setelah RUPST Telkom karena ada beberapa poin yang belum disepakati,” ujarnya tanpa memerinci poin-poin yang belum disepakati itu.

Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah dan Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno yang coba dikontak tadi malam belum berhasil dihubungi. Namun sebelumnya, Rinaldi mengatakan manajemen siap menyediakan dana untuk mengonsolidasikan Flexi dan Esia.

Secara terpisah, analis PT Asia Kapitalindo Securities Tbk Bodi Gautama menilai rights issue itu berpotensi besar mendongkrak kinerja Bakrie Telecom, karena perseroan memperoleh dana segar untuk pengembangan bisnis data.

Opsi itu lebih mungkin diambil sebab opsi rights issue tanpa hak memesan efek lebih dahulu 10% tidak cukup mengakomodir niat Telkom menguasai mayoritas saham Bakrie Telecom. “Pertanyaannya, apa Grup Bakrie rela melepas dominasinya di Bakrie Telecom?” tuturnya.

Terkait dengan utang Bakrie Telecom, Bodi mengatakan perseroan niscaya tak akan memakai dana hasil rights issue itu untuk membayar utang, meski posisi utang per 2009 mencapai Rp4 triliun. Pasalnya, posisi rasio utang terhadap ekuitas perseroan masih terjaga di level 1,29 kali.

Angka tersebut terlihat masih lebih baik dibandingkan dengan PT Indosat Tbk yang mencapai 1,94 kali. Di sisi lain, rasio utang terhadap ekuitas Telkom masih lebih baik dari Bakrie Telecom, yakni 1,02 kali.

Hingga akhir kuartal I/2010, Bakrie Telecom mempunyai utang jangka pendek Rp410,17 miliar dan utang jangka panjang Rp1,21 triliun. Selain itu, perseroan juga mempunyai obligasi Rp650 miliar dan surat utang senior US$250 juta atau Rp2,31 triliun. (Arif Gunawan S/Bastanul Siregar/ Abraham R. Mali) (wisnu.wijaya@ bisnis.co.id)

Oleh Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.