Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 12, 2010

btel dimerger … (2) : 120610

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 7:57 am

‘Telkom tak diintervensi’
Perombakan direksi dan komisaris ditunda
Sabtu, 12/06/2010 00:55:30 WIB
Oleh:
JAKARTA: Spekulasi adanya faktor politik dalam rencana sinergi Flexi-Telkom dengan Esia-Bakrie Telecom merebak menyusul keputusan pemerintah menunda perombakan direksi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk pada RUPS perseroan, kemarin.

Spekulasi itu beredar berdasarkan asumsi direksi baru Telkom kelak tergoda mengubah kebijakan strategis konsolidasi antara unit layanan telepon tetap berbasis CDMA (code division multiple access) milik Telkom dan PT Bakrie Telecom Tbk, Flexi dan Esia.

“Tapi di sini saya tegaskan, tidak ada intervensi politik. Penundaan itu [perombakan direksi Telkom] semata karena masih harus menunggu hasil dari Tim Penilai Akhir (TPA),” kata Menteri BUMN Mustafa Abubakar di Jakarta kemarin, menepis spekulasi itu.

Semula rapat umum pemegang saham (RUPS) Telkom mengagendakan dua hal, yakni pembagian dividen tahun buku 2009 dan perombakan direksi. Namun, agenda yang terakhir dibatalkan karena pemerintah, sebagai pemilik mayoritas saham Telkom, belum menyiapkan nama calon direksi pengganti.

Rencana perombakan direksi itu sendiri terungkap pekan lalu, nyaris bersamaan dengan niat Telkom menyinergikan Flexi dan Esia. Selang satu hari setelah rencana perombakan tersebut terungkap, beredar lima nama kandidat Dirut Telkom.

Kelima nama itu adalah Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah, mantan Dirut Indosat Johnny Swandi Sjam, mantan Dirut PT Telkomsel Kiskenda Suriahardja, mantan Wakil Dirut PT Perusahaan Listrik Negara Rudiantara, dan Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom Arief Yahya.

Pemerintah juga akan mengganti posisi satu direktur, dua komisaris independen, dan komisaris utama. “Masa jabatan posisi itu sudah habis. Khusus untuk posisi dirut, kami sudah mengusulkan tiga nama untuk dinilai TPA,” kata Mustafa.

Kabar yang beredar, posisi direktur yang diganti adalah Direktur Enterprise dan Wholesale Arief Yahya, yang juga menjadi kandidat dirut pengganti Rinaldi. Untuk komisaris utama adalah Tanri Abeng, komisaris independen Arif Arryman dan P. Sartono.

Mustafa menekankan perombakan direksi Telkom akan diagendakan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang jadwalnya belum ditentukan. Berdasarkan ketentuan pasar modal, perpanjangan dibolehkan paling cepat 35 hari.

Dengan keputusan itu, pemegang saham akhirnya menyepakati memperpanjang masa jabatan direksi dan komisaris Telkom sampai RUPSLB tersebut. “Dan ini tak ada hubungannya dengan sinergi Flexi dan Esia, karena untuk yang itu pertimbangannya murni bisnis,” katanya.

Pembagian dividen

Untuk dividen, RUPS menyepakati angka Rp5,66 triliun setara dengan Rp288,06 per saham atau 50% dari laba bersih 2009. Nilai itu terdiri atas dividen interim Rp524,19 miliar yang dibagi 28 Desember 2009 dan dividen final Rp5,14 triliun yang dibagikan 26 Juli nanti.

RUPS juga menyepakati alokasi laba bersih untuk program kemitraan Rp28,33 miliar serta program bina lingkungan senilai Rp90 miliar. Sisa laba bersih akan ditempatkan sebagai laba ditahan.

Deputi Menteri BUMN Bidang Pertambangan, Industri Strategis, Energi dan Telekomunikasi Sahala Lumban Gaol menambahkan pemerintah mengajukan perpanjangan sementara itu agar perseroan dapat menyelesaikan isu-isu pengembangan sesegera mungkin.

Namun, Sahala juga menepis bahwa ‘penyelesaian isu-isu pengembangan sesegera mungkin’ itu adalah tercapainya kesepakatan antara manajemen Telkom dan Bakrie Telecom mengenai sinergi Flexi dan Esia. “Tidak ada urusannya. Itu hanya aksi korporasi biasa.”

Sementara itu, Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah menegaskan bahwa hingga saat ini Telkom belum membuat kesepakatan apapun dengan PT Bakrie and Brothers Tbk, induk usaha Bakrie Telecom, terkait dengan rencana konsolidasi Flexi dan Esia.

“Saat ini kami tidak bisa memberikan pernyataan apa-apa karena belum ada kesepakatan apa-apa. Belum ada kesepakatan jual beli atau apa. Kalau ada sebagai perusahaan publik kan harus menyampaikan ke bursa,” katanya.

Rinaldi juga tidak mengonfirmasi atau membantah informasi yang menyebutkan perseroan menyimpan rencana untuk menjadi pembeli siaga penawaran umum terbatas (rights issue) saham Bakrie Telecom Tbk bersama dengan Bakrie & Brothers. “No comment,” katanya. (Bambang P. Jatmiko) (ratna.ariyanti@bisnis.co.id/bastanulsiregar@bisnis.co.id)

Oleh Ratna Ariyanti & Bastanul Siregar
Bisnis Indonesia
Telkom pembeli siaga rights issue Bakrie Telecom
Jumat, 11/06/2010 00:00:00 WIB
Oleh:
JAKARTA: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Bakrie & Brothers Tbk akan menjadi pembeli siaga penawaran umum terbatas (rights issue) PT Bakrie Telecom Tbk yang dijadwalkan Agustus 2010.

Seorang eksekutif yang terlibat dalam kerja sama itu mengatakan aksi tersebut merupakan tahap awal konsolidasi layanan telepon tetap berbasis CDMA (code division multiple access) milik Telkom dan Bakrie Telecom, Flexi dan Esia.

“Kerja sama itu semula dijadwalkan ditandatangani malam ini [tadi malam]. Tapi kemudian diundur menunggu hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) Telkom besok [hari ini],” ujarnya di Jakarta, tadi malam.

Dia menjelaskan sejauh ini angka rights issue Bakrie Telecom masih dikalkulasi. Setelah mengantongi dana segar hasil rights issue, anak perusahaan Bakrie & Brothers itu akan mengakuisisi divisi Flexi setelah dipisah (spin off) menjadi perseroan terbatas, sehingga akhirnya terjadi merger.

Informasi mengenai rencana rights issu Bakrie Telecom sempat muncul awal pekan ini bersamaan dengan pernyataan Telkom untuk menggabungkan Flexi dan Esia. Namun, saat itu baik manajemen Telkom maupun Bakrie Telecom sama-sama membantahnya.

Dalam laporan keuangan Bakrie Telecom per Maret 2010, Bakrie & Brothers menguasai 34,38% saham atau 9,79 miliar saham Bakrie Telecom, sedangkan 65,62% saham lainnya dimiliki publik.

Dengan asumsi rights issue Bakrie Telecom yang berkode BTEL dilaksanakan pada harga penutupan kemarin, yakni Rp170 per lembar, Bakrie & Brothers harus menyiapkan dana segar senilai Rp1,66 triliun untuk melaksanakan haknya agar tidak terdilusi.

Menurut eksekutif itu, Telkom ingin menguasai 51% dari 34,38% saham Bakrie Telecom milik Bakrie & Brothers. Dengan asumsi harga BTEL Rp170 dan tak ada pemegang saham publik yang memakai haknya dalam rights issue, Telkom harus menyediakan Rp848,3 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan Telkom kuartal I/2010, jumlah dana yang harus disediakan BUMN telekomunikasi terbesar untuk mengendalikan mayoritas saham Bakrie Telecom itu hanya 12,5% dari jumlah kas dan setara kasnya yang mencapai Rp6,75 triliun.

Memang dijadwalkan

Dikonfirmasi atas informasi ini, seorang eksekutif puncak Grup Bakrie yang meminta identitasnya tidak dibuka mengatakan penandatanganan kesepakatan Telkom dan Bakrie Telecom memang sudah dijadwalkan pada Kamis malam.

“Semula [penandatanganan] itu memang direncanakan pada Kamis malam [kemarin], tapi ditunda setelah RUPST Telkom karena ada beberapa poin yang belum disepakati,” ujarnya tanpa memerinci poin-poin yang belum disepakati itu.

Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah dan Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno yang coba dikontak tadi malam belum berhasil dihubungi. Namun sebelumnya, Rinaldi mengatakan manajemen siap menyediakan dana untuk mengonsolidasikan Flexi dan Esia.

Secara terpisah, analis PT Asia Kapitalindo Securities Tbk Bodi Gautama menilai rights issue itu berpotensi besar mendongkrak kinerja Bakrie Telecom, karena perseroan memperoleh dana segar untuk pengembangan bisnis data.

Opsi itu lebih mungkin diambil sebab opsi rights issue tanpa hak memesan efek lebih dahulu 10% tidak cukup mengakomodir niat Telkom menguasai mayoritas saham Bakrie Telecom. “Pertanyaannya, apa Grup Bakrie rela melepas dominasinya di Bakrie Telecom?” tuturnya.

Terkait dengan utang Bakrie Telecom, Bodi mengatakan perseroan niscaya tak akan memakai dana hasil rights issue itu untuk membayar utang, meski posisi utang per 2009 mencapai Rp4 triliun. Pasalnya, posisi rasio utang terhadap ekuitas perseroan masih terjaga di level 1,29 kali.

Angka tersebut terlihat masih lebih baik dibandingkan dengan PT Indosat Tbk yang mencapai 1,94 kali. Di sisi lain, rasio utang terhadap ekuitas Telkom masih lebih baik dari Bakrie Telecom, yakni 1,02 kali.

Hingga akhir kuartal I/2010, Bakrie Telecom mempunyai utang jangka pendek Rp410,17 miliar dan utang jangka panjang Rp1,21 triliun. Selain itu, perseroan juga mempunyai obligasi Rp650 miliar dan surat utang senior US$250 juta atau Rp2,31 triliun. (Arif Gunawan S/Bastanul Siregar/ Abraham R. Mali) (wisnu.wijaya@ bisnis.co.id)

Oleh Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: