Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 15, 2010

btel dimerger (3) … 150610

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 4:29 pm

15/06/2010 – 13:45
Investor Terus Cermati BTEL & TLKM
Ahmad Munjin & Natascha

(IST)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom (BTEL) dikabarkan akan mengeluarkan rights issue di level Rp250 per lembar. Rencana ini disebut-sebut untuk memuluskan proses merger Fleksi dan Esia.

Pasar saat ini masih mencermati skema penyatuan layanan telepon tetap berbasis CDMA (code division multiple acces) milik PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dan PT Bakrie Telecom (BTEL). Beredar rumor di lantai bursa bahwa BTEL akan melakukan penawaran umum terbatas (rights issue) di level Rp250 yang dijadwalkan Agustus 2010.

Aksi tersebut dikabarkan merupakan tahap awal konsolidasi penyatuan Flexi dan Esia. Dalam aksi ini, TLKM akan bertindak sebagai standby buyer. Ini berarti, ada indikasi pemegang saham BTEL akan terdilusi, sehingga sahamnya mengarah ke level Rp150.

Terkait isu ini, seorang analis dari sekuritas asing menyarankan pasar untuk wait and see. Saham BTEL tidak perlu diakumulasi dulu. Demikian juga saham TLKM, meski masih memimpin di sektornya. “Jadi kembali ke rekomendasi pasar keseluruhan, SoS (sell on strenght) kalau runtuh, kita jual dulu saja,” ujarnya.

Menurutnya, dalam penyatuan ini, BTEL lebih banyak diuntungkan. Pasalnya, dengan TLKM menjadi stand by buyer, BTEL memiliki strategis partner di sektor CDMA. Selain itu, beban utang BTEL juga akan lebih ringan karena dibailout pemerintah.

Saham BTEL sebesar 16,8% yang dimiliki BNBR sedianya akan dilepas langsung ke TLKM. Sedangkan sisanya akan dipenuhi dengan rights issue. Dengan estimasi penguasaan sebesar 50%, maka TLKM akan menguasai 33% saham BTEL dengan stand by buyer. Namun, proses ini sedang dikaji pemerintah.

TLKM dan PT Bakrie & Brothers (BNBR) ternyata belum sepakat mengenai pembagian porsi kepemilikan di BTEL usai penawaran umum. Presdir BTEL dikabarkan menginginkan porsi masing-masing 50%, namun TLKM ingin menjadi pemegang saham mayoritas (di atas 51%). Kelihatannya KPPU juga akan mengkaji karena ini berpotensi menyebabkan monopoli di CDMA.

Menurut manajemen BNBR, proses penggabungan kedua perusahaan ini akan selesai sebelum akhir tahun ini. Penunjukan kembali Dirut dan Komut TLKM untuk sementara disebutkan terkait belum selesainya proses negosiasi dengan pihak BNBR mengenai BTEL.

Sementara pengamat pasar modal, N Jaganathan mengatakan, pasar saat ini menanti apakah TLKM akan take over, joint venture atau merger atas Fleksi dan Esia. Jika itu terjadi, TLKM akan menguasai kapitalisasi pasar yang sangat besar. “Itu yang sedang dilihat oleh pasar sekarang,” katanya.

Jika diperhatikan, pengguna Esia mencapai 15 jutaan. Begitu juga TLKM. Jika keduanya digabung, mencapai 30 jutaan. Bila aksi penyatuan ini terealisasi, market share sudah dikuasi Telkom untuk sektor telekomunikasi. “Saya rekomendasikan long term buy untuk kedua saham tersebut,” ujarnya.

Dengan kapitalisasi pasar TLKM yang sangat besar, penguatan emiten ini pun akan mendongkrak bursa domestik. Kecuali, jika Dow Jones melemah, IHSG pun berpeluang melemah.

Pasalnya, ada dua saham Indonesia yang didaftarkan di sana, yaitu PT Telkom (TLKM) dan PT Indosat (ISAT). “Jika TLKM mencapai US$34 per saham dan ISAT di level US$27 per saham, IHSG pun berpeluang naik,” tandasnya.

Dalam RUPS baru-baru ini, TLKM disebutkan akan membagikan dividen 50% dari laba, atau Rp5,66 triliun. Ini berarti, dividen yang akan dibagikan pada 26 Juli 2010 adalah Rp261/saham, yield 3,3% (sudah dikurangi dividen interim).

Alfiansyah, analis Sinarmas Securities mengatakan, rencana TLKM membagikan dividen di level Rp261 per saham, dan kerjasama dengan operator lain, BTEL, menjadi hal positif bagi kedua emiten. Saat ini, pasar masih menunggu bagaimana komposisi dari kepemilikan sahamnya ke depan. “Pasar masih menunggu apakah skemanya merger, akuisisi, atau joint venture,” ucapnya.

Tapi ini tetap berdampak positif di pasar. Sebab, pasar berekspektasi, jika aksi korporasi itu terealisasi akan berpengaruh positif khususnya terhadap BTEL. “Karena potensi sinergi TLKM-BTEL, saya rekomendasikan trading buy,” imbuhnya.

Sedangkan secara fundamental, analis Danareksa memberikan rekomendasi beli untuk saham TLKM dengan target price Rp9.650. Dengan harga menutupan sesi pertama siang ini di Rp8000, maka ada potensi kenaikan 20,6%.

Sementara dari sisi teknikal, angka support dan resisten pertama berada pada angka 7775 dan 7925. Karena angka resisten ini sudah tembus, maka resisten kedua berada di 8075. Rekomendasi beli juga diberikan untuk BTEL dengan target price Rp220, sementara harga penutupan pada sesi siang ini adalah Rp172.[ast/mdr]

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: