Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 15, 2010

merger esia-flexi: terkait sekum … 150610

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 7:03 am

Selasa, 15/06/2010
Tiga detail ‘konsolidasi’ Flexi-Esia yang terabaikan

Pejabat di Kementerian BUMN sibuk mengklarifikasi ‘konsolidasi’ Flexi-Telkom dengan Esia-Bakrie Telecom, menyusul dibatalkannya rencana perombakan direksi dan komisaris Telkom akhir pekan lalu. Tema klarifikasi: tak ada tekanan politik di balik ‘konsolidasi’ itu.

Sebetulnya tak terlalu jelas benar dari mana datangnya spekulasi tersebut. Bantahan itulah yang agaknya justru memicu spekulasi bahwa tekanan itu memang ada-bahwa Telkom dipaksa menuntaskan ‘konsolidasi’ tersebut sebelum rapat pemegang saham merombak direksinya.

Situasi seperti itu tak pelak mendorong orang mengaitkan ‘konsolidasi’ atau ‘sinergi’ Flexi dan Esia-istilah kabur yang dipilih Telkom sebagai ganti ‘merger’ atau ‘akuisisi’-dengan pengaruh politik bos Partai Golkar cum pengendali Bakrie Telecom, Aburizal Bakrie.

Kita memahami, menyatunya kekuatan politik dan bisnis, meski berbahaya, bukanlah suatu dosa. Namun, kita juga acap mendengar kabar tak sedap dari penyatuan itu, lalu muncul syak dan curiga: jangan-jangan politik jadi alat untuk mencapai tujuan pragmatis bisnis.

Karena itu, sampai titik tertentu kita mungkin mengendus aroma politik di balik ‘konsolidasi’ dua unit layanan telepon tetap CDMA (code division multiple access) itu. Namun, tak berarti kita lalu abai pada detail penting yang memberi pemahaman dan perspektif lebih nyata.

Dalam persoalan ini, paling tidak ada tiga detail yang perlu dicermati. Pertama, ‘konsolidasi’ itu adalah rencana lama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang dirumuskan 2 tahun silam, tak lama setelah Flexi memindah jalur frekuensinya dari 1.900 MHz ke 800 MHz.

Untuk kepentingan tersebut, jauh sebelum menunjuk PT Bahana Securities, saat itu Telkom telah menetapkan UBS sebagai konsultan dan penasihat keuangannya. Atas mandat itu, UBS membuat riset berikut opsi-opsi dengan sederet analisis.

Ada beberapa unit layanan CDMA yang dibedah dalam riset itu, antara lain Fren dari PT Mobile-8 Telecom Tbk, Smart dari PT Sinarmas Telecom, dan Esia dari PT Bakrie Telecom Tbk. Belakangan, persisnya 2 bulan lalu, Fren dan Smart bergabung.

Persiapan ‘konsolidasi’ itu juga terefleksikan dalam tahapan ‘kemandirian’-istilah kabur lagi dari Telkom untuk menggantikan ‘pemisahan’ atau spin off’ Flexi yang dimulai 1 April 2009. Sejak itulah Telkom menasbihkan Flexi sebagai divisi independen.

Detail kedua, kondisi keuangan Bakrie Telecom masih bagus. Sebagian kalangan mungkin melihat utang Bakrie Telecom sudah terlalu besar, sehingga mengakuisisinya berarti menalangi utang itu. Mengakuisisinya akan membayar terlalu mahal untuk rugi.

Memang benar utang Bakrie Telecom terlalu besar jika dibandingkan dengan laba bersihnya. Per kuartal I/2010, utang jangka pendeknya Rp410,17 miliar, jangka panjang Rp1,21 triliun plus obligasi Rp650 miliar dan US$250 juta, sedangkan laba bersihnya Rp163 miliar.

Akan tetapi, perbandingan itu bisa menyesatkan karena meski terdengar seksi, utang hanyalah salah satu subsistem dari keseluruhan kondisi keuangan dan prestasi perusahaan. Untuk melihat secara lebih utuh, tidak bisa tidak harus dilakukan analisis rasio keuangan.

Fred Weston dan Thomas E. Copeland dalam Sawir (2001) menyebutkan analisis rasio keuangan mencakup paling tidak lima aspek, yakni (1) analisis likuiditas yang diukur dengan rasio lancar; dan (2) struktur keuangan yang diukur dengan rasio utang terhadap ekuitas.

Lalu (3), aktivitas perusahaan yang diukur dengan rasio perputaran persediaan dan total aktiva; (4) profitabilitas yang diukur dengan margin laba, pengembalian total aktiva, dan ekuitas; serta (5) penilaian pasar yang diukur dengan rasio harga terhadap laba per saham.

Dari sisi struktur keuangan, Bakrie Telecom masih meyakinkan karena rasio utang terhadap ekuitasnya terjaga di level 1,29 kali. Memang masih di bawah Telkom yang 1,02 kali, tapi lebih baik dari XL-Axiata (1,60), Indosat (1,94), atau Mobile-8 (17,2).

Dari sisi penilaian pasar, yang sering dianggap mewakili variabel seperti persepsi yang sukar dikuantifikasi, rasio harga terhadap laba per saham Bakrie Telecom juga masih terlihat oke, 48,42 kali. Bandingkan saja dengan Telkom (13,53) XL-Axiata (11,45) atau Indosat (16,40).

Dengan melihat struktur keuangan yang terjaga itu, kecil kemungkinan Bakrie Telecom memanfaatkan uang suntikan Telkom, katakanlah saat akuisisi kelak terjadi, untuk membayar utang. Pilihan menambah belanja modal atau menggenjot promosi jelas lebih realistis.

Perlu segera ditambahkan, kenapa hampir semua perusahaan ‘halo-halo’ punya banyak utang, bahkan berkali-kali gagal bayar seperti Mobile-8, tak lain karena aplikasi pada sektor industri telekomunikasi yang selain padat modal dan teknologi, butuh banyak iklan dan promosi.

Dua ancaman

Detail ketiga, Esia telah menjadi ancaman bagi Flexi. Dalam 3 tahun terakhir sejak regulator memaksa Flexi memindahkan jalur frekuensinya hingga Flexi kehilangan banyak pelanggan, jumlah pelanggan Esia sudah melompat 179%, sedangkan Fleksi 148%.

Sepanjang kuartal I/2010, pelanggan Esia tumbuh 37% dan Flexi 19%. Meski dari sisi jumlah pelanggan, Esia hanya menggaet 10,6 juta dan Fleksi 15,6 juta, lompatan fenomenal Esia itu dengan sendirinya menebar ancaman bagi Telkom pada dua sisi sekaligus, bisnis dan politik.

Dari sisi bisnis, strategi Esia mendiversifikasi pertumbuhan melalui perluasan jaringan yang disertai integrasi horizontal dengan bank, portal berita, produsen ponsel, ditambah gimmick pemasaran yang kreatif dan seterusnya, jelas sangat potensial menggerogoti pangsa Flexi.

Dari aspek politik, manajemen Telkom yang mungkin menyadari sudah tak lagi kreatif karena terlalu banyak duduk, lantas takut mempertanggungjawabkan kegagalannya mempertahankan dominasi Flexi, mengakuisisi Esia adalah pilihan pragmatis yang realistis.

Bayangkan kalau Telkom tidak mencaplok Bakrie Telecom lalu sekonyong-konyong datang investor baru yang menyuntik modal ke Esia. Telkom akan kehilangan kesempatan meraih sumber pertumbuhan anorganik baru sekaligus meraup kredit politik bagi kinerjanya.

Dari situ pula datang penjelasan kenapa Telkom menginginkan saham mayoritas di Bakrie Telecom. Dengan kepemilikan mayoritas itu, unit hasil ‘konsolidasi’ Flexi dan Esia kelak memiliki kapasitas menjaring dana lebih besar seperti Telkom, bukan Bakrie Telecom.

Lalu, apakah dengan memahami tiga detail itu kemungkinan masuknya intervensi politik di balik ‘konsolidasi’ tersebut otomatis tertutup? Tentu saja tidak. Dalam sistem dan perangai politik yang menjadi wacana dominan saat ini, kemungkinan itu niscaya tetap terbuka.

Tekanan politik masih mungkin masuk, misalnya jika Telkom dipaksa membeli saham baru rights issue Bakrie Telecom pada harga yang terlalu premium-seperti dikalkulasi sumber anonim yang dikutip The Wall Street Journal-hingga Rp8 triliun. Kompensasinya berupa, taruhlah, restu Aburizal Bakrie atas perpanjangan jabatan Rinaldi Firmansyah sebagai dirut Telkom.

Sudah tentu segala kemungkinan itu buru-buru ditepis. “Intervensi itu tidak benar. Tidak pernah ada pembahasan itu. Kami di partai juga tak pernah membahasnya,” kata Lalu Mara Satriawangsa, juru bicara Aburizal Bakrie, yang juga Wakil Sekjen Partai Golkar.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: