Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 17, 2010

btel, sang pangeran UTANK … 190610

Filed under: Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 8:51 am

Sabtu, 19/06/2010 00:43:44 WIB
Konsolidasi dimulai dari seluler
Oleh: Arif Pitoyo
Konsolidasi di sektor telekomunikasi sudah lama diramalkan, yaitu sejak 2007. Konsolidasi merupakan suatu hal yang bersifat sangat alami.

Jumlah operator telekomunikasi di Indonesia dianggap kurang ideal. Banyaknya jumlah operator itu mengakibatkan pasar semakin padat dan bisa berimbas pada persaingan yang kurang sehat antaroperator.

“Kalau mau jujur, dengan jumlah 11 operator yang beroperasi saat ini, cuma berapa banyak operator di Indonesia yang masih bisa profit?” ujar Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah dalam suatu seminar tahun lalu.

Dia memperkirakan dengan kondisi yang dialami beberapa operator saat ini, maka nantinya di Indonesia hanya tinggal lima sampai enam operator saja yang masih bisa bertahan.

Persaingan yang tidak sehat sudah terasa sejak tiga tahun terakhir ini. Para operator di Indonesia bersusah payah merebut pasar dan meraih keuntungan. Konsolidasi diperkirakan akan terjadi sebelum 2013.

Perlu diketahui, hingga saat ini pemerintah telah mengeluarkan 8 izin layanan seluler yang meliputi Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Natrindo Telepon Seluler (Axis), Hutchison (Tri), Mobile-8 Telecom (Fren), Smart Telecom (Smart), hingga Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (Ceria).

Adapun lisensi fixed wireless access (FWA) sudah diberikan kepada PT Telkom Tbk (Flexi), PT Indosat Tbk (StarOne), PT Bakrie Telecom Tbk (Esia), dan PT Mobile-8 Telecom (Hepi).

Sebenarnya, penggabungan atau merger antara 2 operator sudah lazim terjadi di industri telekomunikasi. PT Indosat Tbk yang ada saat ini merupakan gabungan dari perusahaan PT Satelindo dengan PT Indosat pada November 2003.

Penggabungan tersebut bukan saja penggabungan dua brand yang berbeda, yaitu Mentari dan IM3, tetapi juga pada dua frekuensi yang berbeda, yaitu 900 MHz dan 1.800 MHz.

Demikian juga Mobile-8, yang berasal dari penggabungan Mobile-8, Telesera, Komselindo, dan Metrosel pada 11 Juni 2007.

Bedanya, operator yang bergabung dengan Mobile-8 merupakan penyelenggara jaringan tertutup yang tidak memiliki frekuensi sehingga dari sisi teknis, penggabungan juga cukup mudah dilakukan.

Pasar FWA

Meski teknologi code division multiple access (CDMA) tidak selalu identik dengan FWA (karena ada Smart Telecom yang menggunakan CDMA untuk layanan seluler), tetapi tetap saja CDMA selalu dikaitkan dengan layanan telepon tetap nirkabel tersebut.

Secara keseluruhan, sampai akhir Maret 2010, jumlah pelanggan FWA adalah sejumlah 28 juta orang, yang meliputi pelanggan Bakrie Telecom mencapai 11 juta orang, Flexi 16 juta orang, StarOne 700.000 pelanggan, dan Hepi baru sekitar 200.000 orang.

Apabila dilihat dari kenyataan tersebut, maka jumlah total pelanggan FWA sebenarnya jauh dari kesan jenuh, karena baru mempenetrasi pasar sekitar 10,7% saja. Sehingga isu merger atau pun akuisisi boleh dibilang menjadi hal yang sia—sia, karena pasar masih begitu luas dan besar, seperti misalnya isu merger antara Flexi dan Esia yang santer akhir—akhir ini.

Sebenarnya, isu merger-nya Esia dengan operator lain bukan kali ini saja terjadi. Pada awal tahun lalu, isu Esia yang akan mencaplok Mobile-8 juga sangat gencar diberitakan.

Faktor kanal frekuensi yang terbatas (hanya 2 kanal atau sekitar 2,5 MHz) menjadikan Bakrie Telecom harus berfikir keras untuk meningkatkan kapasitasnya agar bisa menampung pelanggan yang makin bertambah.

Apabila kapasitas kanal tersebut tidak ditingkatkan, maka penambahan pelanggan terancam stagnan, seperti juga persoalan penomoran (yang kebanyakan dikuasai Telkom) yang tak kunjung mendapatkan alokasi tambahan dari Ditjen Postel.

Selain stagnasi di sisi penambahan pelanggan, Btel juga kesulitan mengembangkan teknologi data CDMA Ev-Do yang setara 3G.

Bahkan dikabarkan kedua operator tersebut sudah menandatangani nondisclosed agreement yang intinya merupakan pintu ke arah merger tersebut.

Namun, isu merger tersebut seketika lenyap setelah Bakrie Telecom bersama Telkom mendapatkan kanal tambahan secara gratis selebar 1,25 Mhz pada September 2009. Btel sudah cukup nyaman dengan tambahan kanal tersebut sehingga tak lagi melirik Mobile-8 yang makin kesulitan keuangan.

Sekadar kilas balik ke belakang, Btel dan Mobile-8 Telecom sama-sama menempati spektrum 800 MHz. Keduanya, sebelumnya, sama-sama dapat alokasi tujuh kanal. Namun, jatah kanal kedua operator ini jadi berkurang setelah Telkom dan Indosat digusur dari frekuensi 1.900 MHz yang diperuntukkan untuk 3G.

Lewat Permenkominfo No 186/2006, keempat operator FWA itu saling berbagi frekuensi secara berpasangan. Telkom dengan Btel, dan Indosat bareng Mobile-8 Telecom.

Dari total kanal yang ada, alokasi terbanyak ada di Mobile-8, yang menggunakan empat kanal, sementara pasangannya, Indosat cuma kebagian dua kanal untuk FWA StarOne.

Sedangkan Telkom dan Btel masing-masing tiga kanal. Telkom untuk FWA Flexi, Btel untuk FWA Esia dan Wifone, serta akses Internet Wimode.

Kanal ini jelas tidak cukup bagi Btel, khususnya setelah mereka dapat lisensi FWA nasional. Imbasnya, layanan Internet Wimode operator ini terpaksa dikorbankan demi penyelenggaraan akses penggilan suara Esia.

Tidak cukup pula bagi Telkom yang ingin menggenjot layanan data. Sebab, dua kanal yang tersisa di 800 MHz, yakni di kanal 160 dan 548, masing-masing sudah ditetapkan dijadikan guard band pembatas masing-masing operator pasangan frekuensi itu. Padahal sebelumnya, kedua kanal itu akan dihadiahkan kepada operator yang dapat penilaian kinerja terbaik.

Telkom dan Btel yang sama—sama mengharapkan tambahan kapasitas tersebut pun sangat berpeluang untuk mengikat kerja sama operasional, karena untuk merger menjadi satu entitas tersendiri cukup sulit, mengingat lisensi dan frekuensi melekat pada perusahaan yang bersangkutan.

Regulator, meski pernah kecolongan pada saat penjualan Cyber Access kepada Hutchison CP, sangat melarang adanya jual beli frekuensi, apalagi lisensi. Hal tersebut juga tercantum dalam UU No. 36/1999 tentang Telekomunikasi.

Pola penggabungan Indosat dan Satelindo juga bisa saja dilakukan, di mana kedua perusahaan melebur ke salah satuya sehingga memiliki dua brand. Namun, tetu saja hal ini tak mudah dilakukan, selain karena terbentur UU Persaingan Usaha (penguasaan pasar hingga 80%).

Yang paling masuk akal dilakukan adalah adanya kerja sama operasional, atau sharing infrastructure, seperti yang dilakukan antara XL dengan Axis atau Mobile-8 dengan Smart Telecom.

Pintu merger antaroperator akan makin mudah pada saat regulasi unified access licensing sudah diberlakukan. Unified access licensing adalah semua operator dipungut biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi dengan besaran sama, tidak seperti saat ini, yang masih dibedakan antara BHP frekuensi FWA dan seluler.

Sehingga pada saat regulasi itu diterapkan, semua operator bisa dianggap sebagai seluler yang memiliki mobilitas tak terbatas di lingkup nasional.

Namun, penggabungan antara Flexi dan Esia pun masih patut dipertanyakan apakah terkena kepemilikan silang dengan Telkomsel yang juga anak usaha Telkom.

Namun apabila dilihat dari sisi teknis saja, terutama dari sisi kanalisasi pita 800 MHz, penggabungan yang paling masuk akal adalah antara Esia dengan Flexi, atau Flexi dengan Mobile-8, atau Mobile-8 dengan Star One.

Adapun di pita 1.900 MHz atau 3G, penggabungan bisa dilakukan antara Natrindo dengan Hutchison CP Telecommunication mengingat spektrum keduanya saling berdekatan sehingga sangat efektif untuk mengembangkan layanan dan menambah pelanggan.

Selain berdekatan, keduanya juga merupakan operator pendatang baru yang masih sedikit mempenetrasi pasar dengan kemampuan infrastruktur yang terbatas, di mana sebagian besar malah menumpang ke operator lain.

Meski dinilai sudah mendesak, sayangnya regulator sepertinya mandek dalam membahas regulasi mengenai konsolidasi tersebut. Kementerian Komunikasi dan Informatika sepertinya kurang menganggap penting aturan tersebut, padahal di masa mendatang, paling lambat awal tahun depan, konsolidasi sudah mulai terjadi.

Dalam proses merger atau akuisisi, hal—hal yang menyangkut isu teknis seperti pemecahan lisensi, aturan kode akses atau penomoran yang harus dialokasi ulang, penarifan, hingga aturan penguasaan frekuensi.

Hal ini pernah terjadi saat penggabungan antara Indosat dan Satelindo dengan nomor kode sambungan langsung internasional 001 dan 008 yang ujung—ujungnya malah menciptakan pemborosan kode akses yang jumlahnya tidak tak terbatas.(api)
Telkom Jual Dua Anak Perusahaan
Jumat, 18 Juni 2010 | 21:58 WIB

SHUTTERSTOCK

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) benar-benar berniat menjual dua anak usahanya yaitu PT Patra Telekomunikasi Indonesia (Patrakom) dan PT Citra Sari Makmur (CSM). Penujualan ini diharapkan akan selesai di akhir 2010.

Rinaldi Firmansyah, Direktur Utama Telkom mengatakan, ada lebih dari empat perusahaan yang berniat membeli saham anak usahanya. Menurut Rinaldi, perusahaan yang berminat ini ada yang bergerak pada industri telekomunikasi, dan investasi.

“Sebanyak 90 persen peminat saham anak usaha kami ini berasal dari perusahaan lokal,” katanya, Jumat (18/6/2010).

Rinaldi berharap penjualan anak usahanya ini akan selesai pada kuartal IV tahun ini. Telkom berharap penjualan ini akan mendatangkan dana sekitar Rp 500 miliar. saja, TLKM berniat akan bersinergi dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), perusahaan Grup Bakrie. Konsolidasi ini diharapkan akan selesai pada tahun ini.(KONTAN/Abdul Wahid Fauzie)
Lepas 2 Anak Usaha, Telkom Bidik Rp500 Miliar
Dua anak usaha yang akan dijual itu adalah Patrakom dan Citra Sari Makmur.
JUM’AT, 18 JUNI 2010, 17:06 WIB
Arinto Tri Wibowo, Syahid Latif

VIVAnews – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengharapkan penjualan dua anak usahanya, PT Patra Telekomunikasi Indonesia (Patrakom) dan PT Citra Sari Makmur (CSM) bakal meraup dana sekitar Rp500 miliar.

“Diharapkan akan selesai pada akhir 2010,” kata Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah, usai acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Asuransi Jasindo dan 16 BUMN di Gedung Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat 18 Juni 2010.

Menurut Rinaldi, saat ini terdapat lebih dari empat perusahaan yang berniat membeli saham anak usaha Telkom tersebut. Sebagian besar peminat merupakan perusahaan lokal yang di antaranya bergerak di industri telekomunikasi dan investasi.

Namun, dari seluruh peminat saham anak perusahaan itu, belum ada satu pun yang mengajukan penawaran. Telkom mengaku sudah menunjuk PT Bahana Securities sebagai penasihat keuangan dalam penjualan saham kedua perusahaan itu. (hs)

• VIVAnews
Jumat, 18/06/2010 17:26:41 WIB
Telkom tunjuk UBS untuk sinergi Flexi
Oleh: Bambang P. Jatmiko

JAKARTA(Bisnis.com): PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menunjuk UBS untuk membantu melakukan sinergi Flexi dengan perusahaan telekomunikasi lain.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menuturkan perseroan sudah menunjuk perusahaan keuangan itu sejak beberapa waktu lalu untuk membantu memuluskan rencana sinergi pengelolaan divisi bisnis yang berbasis CDMA itu.

“Sudah kami tunjuk sejak beberapa waktu lalu. Memang sejauh ini kami melaksanakan pembicaraan dengan PT Bakrie Telecom Tbk untuk sinergi, Namun kami juga membuka kemungkinan dengan perusahaan telekomunikasi yang lain,” ujarnya hari ini.

Menurut Rinaldi, pihaknya terus melakukan pembicaraan agar rencana sinergi bisa segera direalisasikan. Namun dia tidak menyebutkan bentuk sinergi yang akan dilakukan dengan operator lain, yang salah satunya BTel.

Saat ini ada sejumlah opsi yang disiapkan oleh BUMN telekomunikasi itu terkait dengan rencana sinergi. Selain melalui pembelian saham melalui rights issue, Telkom juga berencana melakukan pembentukan perusahaan patungan.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, pemerintah selaku pemegang saham mayoritas PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menghendaki sinergi Flexi dan Esia dilakukan melalui pembentukan perusahaan joint venture yang akan mengelola dua operator telekomunikasi yang berbasis CDMA itu.

Penuturkan pemerintah menginginkan agar sinergi dilakukan melalui pembentukan patungan yang dibentuk antara Telkom dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTel).

“Flexi bisa di-spin off oleh Telkom bersamaan dengan pembentukan joint venture tersebut, dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa melakukan spin off maupun pembentukan perusahaan patungan itu,” ujarnya.

Menurut dia, melalui pembentukan joint venture itu nantinya Telkom dan BTel tinggal menyetorkan dana untuk modal dasar perusahaan yang terbentuk.

Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Rinaldi menyatakan saat ini masih dalam tahap penjajakan berbagai opsi yang akan diambil. (ln)
18/06/2010 – 17:14
Anindya Bakrie Tanyakan Aturan Merger ke Bapepam
Susan Silaban

Anindya Bakrie
INILAH.COM, Jakarta – Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), Anindya Bakrie dikabarkan menanyakan peraturan Bapepam terkait masalah merger ke Bapepam.

Sumber INILAH.COM yang mendengarkan perbincangan antara Anindya dan salah satu petinggi Bapepam menguraikan Anindya pergi meninggalkan ruangan pukul 13.45 WIB bersama empat rekannya. Menurutnya, Anindya hanya bertanya mengenai bagaimana peraturan di pasar modal ketika ada sinergi antara perusahaan telekomunikasi.

Memang, saat ini BTEL belum memasukkan dokumen pernyataan tersebut kepada otoritas Bapepam-LK lantaran pengkajiannya masih dibahas di Kementerian Negara BUMN.

“Pak Anin sempat menanyakan beberapa hal terkait dengan Telkom karena merupakan milik pemerintah sedangkan BTEL swasta,” ujar sumber tersebut sore ini di gedung Bapepam-LK, Jumat (18/6).

Seperti diketahui, BTEL akan melakukan rights issue dengan rasio 1:1 pada Agustus mendatang meskipun sudah dibatah manajemen Perseroan. Harga Rp220-300 adalah premium dari harga pasar. Adapun TLKM diisukan akan menjadi pembeli siaga, untuk memuluskan penyatuan unit usaha berbasis CDMA milik TLKM yaitu Telkom Flexi dengan Esia dari BTEL.

Namun, di sisi lain, skema rights issue ini dinilai hanya akan merugikan TLKM, terkait masalah utang BTEL. Saat ini utang BTEL mencapai Rp6,399 triliun, dengan rasio utang terhadap ekuitas 1,3 kali. Jumlah utang tersebut belum memasukkan penerbitan obligasi sebesar US$250 juta melalui anak usaha BTEL. [san/cms]
Rabu, 16/06/2010 15:42 WIB
Pemerintah Imbau Telkom Pertimbangkan Posisi Utang Bakrie Telecom
Nurseffi Dwi Wahyuni – detikFinance

Jakarta – Menteri BUMN Mustafa Abubakar meminta PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mempertimbangkan posisi utang PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sebelum melakukan konsolidasi dengan perusahaan milik grup Bakrie tersebut.

“Kalau utang itu akan menjadi pertimbangan bagi Telkom. Tidak mungkin Telkom mau menerima limpahan utang dari mitranya,” ujar Mustafa di gedung DPR, Jakarta, Rabu (17/6/2010).

Hingga akhir 2009, posisi kewajiban BTEL tercatat sebesar Rp 6,399 triliun. Angka ini belum memperhitungkan penebritan obligasi senilai US$ 250 juta melalui anak usahanya Bakrie Telecom Pte Ltd. Kendati demikian, Mustafa memberikan kesempatan kepada TLKM untuk mengkaji semua opsi.

“Saya katakan kepada TLKM, silahkan dipelajari untuk negosiasi, tetapi untuk hasilnya tergantung pada kita (pemerintah) juga. Silahkan saja jajaki, kita berikan segala opsi,” ujarnya.

Menurut Mustafa, manajemen TLKM dan BTEL kini masih dalam tahap pembicaraan serius soal rencana konsolidasi antara keduanya. Pemerintah belum dapat memastikan bentuk konsolidasinya, apakah melalui opsi merger atau akuisisi.

“Mereka masih menjajaki kualifikasi, itu akan dilaporkan kepada kami baru kita tentukan kemana arah yang seharusnya. Masih terbuka semua opsi dan peluangnya,” ujarnya.

Direktur BTEL Rakhmat Djunaedy juga mengaku belum dapat memberikan informasi apa pun mengenai realisasi kerja sama tersebut. “Sampai saat ini belum ada rencana apa pun yang bisa dilaporkan ke publik. Nanti akan kita sampaikan bila sudah waktunya,” jelas Rakhmat.

(dro/qom)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: