Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 22, 2010

beranak dalam lumpur the bakries, OGAH AKH : 220610

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 8:29 am

… kura2 dalam perahu, mosok seh ga tau, mas Gun :

Penghargaan Achmad Bakrie Award
Goenawan Kembalikan, Freedom Belikan Buku
“Di satu pihak saya tahu benar di balik Bakrie Award ada niat baik.”
SELASA, 22 JUNI 2010, 18:46 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Suryanta Bakti Susila

VIVAnews – Pendiri Majalah Tempo Goenawan Mohammad mengembalikan Achmad Bakrie Award yang pernah diterimanya. Keputusan ini, kata dia, diambil dengan besar hati karena sejumlah alasan.

“Di satu pihak saya tahu benar di balik Bakrie Award ada niat baik, kehendak meningkatkan mutu kehidupan ilmu, pemikiran, sastra dan pendidikan di Indonesia,” kata dia dalam jumpa pers di Utan Kayu, Selasa 22 Juni 2010.

Goenawan mengaku kecewa terhadap Aburizal Bakrie yang adalah ketua umum Golkar dalam kasus skandal Bank Century yang dianggap menyudutkan Wakil Presiden Boediono dan Sri Mulyani yang saat itu menjadi Menteri Keuangan.

“Ini bukan soal jabatan mereka karena saya tahu mereka tak bersalah, dihukum dan dikorbankan.” kata wartawan senior itu.

Penghargaan Achmad Bakrie Award diterima sejumlah cendekiawan yang tekun terhadap bidangnya. Dari ilmuwan hingga sastrawan. Dalam situs Freedom Institute disebutkan bahwa mereka yang menerima penghargaan ini antara lain Sapardi Djoko Damono dan Ignas Kleden (November 2003).

Goenawan Mohamad (bidang kesusastraan) dan Nurcholish Madjid (bidang sosial-budaya) tanggal 1 Agustus 2004. Pada tahun ketiga–Agustus 2005– penghargaan ini diberikan kepada Sartono Kartodirdjo dan Budi Darma, masing untuk pemikiran sosial dan untuk kesusastraan. Penghargaan khusus bidang Kedokteran untuk Sri Oemijati.

Agustus 2006 penghargaan itu diberikan kepada Arief Budiman (pemikiran sosial), Rendra (sastra), dan Iskandar Wahidiyat (kedokteran).

Tahun 2007 penghargaan itu diterima oleh sastrawan Putu Wijaya dan Franz Magnis-Suseno( yang diberi penghargaan karena pemikiran sosial menolak menerimanya), Sang­kot Marzuki (kedokteran), Jorga Ibrahim (sains), dan Balai Besar Pene litian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, Subang (teknologi).

Sastrawan Taufik Abdullah menerima penghargaan itu pada Agustus 2008. Pada saat itu, sastrawan ini menegaskan bahwa sah-sah saja bila ada pihak yang menolak penghargaan itu terkait kasus lumpur di Sidoardjo, yang melibatkan PT Lapindo. Tapi, kata Taufik, antara kasus lumpur itu dan penghargaan itu adalah dua hal yang berbeda. “Kita harus melihat persoalan secara jernih. Kalau kita terus curiga, kepada siapa lagi kita percaya?,” katanya.

Tokoh yang juga menerima penghargaan itu pada 2008 itu adalah Sutardji Calzoum Bachri, Mulyanto, Laksana Tri Handoko dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

Tahun 2009 lalu, penghargaan itu diberikan kepada Ag Soemantri(Kedokteran) Pantur Silaban (sains) Warsito P Taruno (teknologi), dan Danarto (Kesusasteraan)

Program Manager Freedom Institute, Nong Darul Mahmada, menyebutkan bahwa Goenawan melalui utusannya kemarin mengembalikan plakat penghargaan dan uang hadiah sebesar Rp 100 juta.

Nong menegaskan bahwa penghargaan yang diterima oleh Goenawan itu bukan pemberian langsung dari Aburizal Bakrie, tapi diberikan oleh Freedom Institute.

“Penghargaan itu dilatarbelakangi keinginan Freedom memberi penghargaan kepada intelektual Indonesia karena selama ini belum ada penghargaan semacam itu,” ujar Nong. Lalu Freedom mencari penyandang dana untuk penghargaan yang pertama kali digelar pada 2004 itu.

“Kemudian ada Pak Aburizal Bakrie yang mau menyumbang dana, namun itu didedikasikan untuk ayahnya, Achmad Bakrie,” kata Nong. “Figur Achmad Bakrie sendiri memang orang yang peduli dengan ilmu pengetahuan,” kata Nong.

Freedom sendiri menyatakan bersedih, namun menghormati hak Goenawan mengembalikan penghargaan itu. Uang dikembalikan itu dipakai untuk memperluas perpustakaan –yang dikelola Freedom Institute dan membeli buku.

• VIVAnews

POJOK KAFE
Lain Teluk Meksiko, lain lumpur Lapindo
… kayanya lumpur di the bakries ga cuma lapindo jenisnya, tapi juga lumpur2 dosa yang lain: right issues, utank, politisasi, no-dividend policy, dan semua aksi korporasi halal … bwat investor the bakries, luka dalam dan darah serta keringat mereka sudah nyaris kering … karena itu gw menganjurkan LUPAKAN THE BAKRIES kalo memang sudah bohwat, bermain cantik lah dengan saham2 non-bakries yang masih banyak banget … baca lah link ini :  https://yangvirtualyangnyata.wordpress.com/cerdik-inves/
Sabtu, 19/06/2010 00:00:00 WIB
Oleh:
“Wah, sial bener deh… Udah berbulan-bulan menyiapkan kejutan untuk penyambutan si Barry, eh… dia mbatalin lagi untuk datang ke Jakarta… Kami sebagai mantan teman sekolahnya di SDN 01 Menteng sangat berharap dia datang lho…” ujar David Sutorro yang sore itu terlihat asyik mojok di sebuah kafe di kawasan Sudirman, Jakarta.

“Kayaknya serius amat, Mas… ini si Barry alias Obama itu ya… Apa dia masih ingat pada kalian… kok sampai repot-repot begitu… Jangan-jangan, kalian ini ke-ge-er-an, ha ha ha… Lha wong saya saja sama temen-temen SMP udah hampir lupa… boro-boro temen SD, mana kelas awal-awal lagi…,” kata Subarry Manilauw menimpali omongan David dengan nada ngeledek.

“Lha temanmu itu kan cuma orang-orang biasa… Kalau kamu pernah sekelas dengan kawan yang kemudian hari menjadi tokoh besar, bahkan kelas dunia, tentu kamu tidak akan dapat melupakannya… Bahwa dia tidak mengenali kami lagi, itu soal lain… Tapi, kami masih ingat bagaimana sosok kecil si Barry itu…” David berupaya membela diri.

“Di luar urusan kangen-kangenan, Mas David yakin nggak bahwa emang bener alasan dia menunda kedatangan ke negara kita hanya karena dia repot ngurusi tumpahan minyak di Teluk Meksiko… Aku kok kurang percaya ya… Bukannya dia bisa menyerahkan urusan itu ke menterinya atau siapa kek…”

“Eeh.. bisa saja lho… Saya kira, kalau persoalan polusi akibat semburan minyak mentah itu bisa merembet jadi bencana global lho kalau gak dipelototi langsung oleh Presiden Obama…” kata David bernada pembelaan.

“Hebat ya… Presiden sebuah negara besar masih sempet-sempetnya ngurusi hal seperti itu… Ah, seandainya saja kita punya presiden yang begitu perhatian seperti Obama…” kata Subarry sambil pikirannya menerawang.

“Alaah, kamu mau mengatakan ‘kenapa bencana lumpur Lapindo gak ada yang memperhatiin seperti itu ya’… gitu kan? Aku tahu maksudmu, gak usah ngeledek deh… Sebagai kader partai, aku sudah sering menerima sindiran model begini kok…” tutur David.

“Ngngng… iya sih… Seandainya saja Obama jadi Presiden Indonesia, saya yakin dia akan sikat si biang keladi penyebab kesengsaraan masyarakat di kawasan Porong dan sekitarnya itu… Menghadapi raksasa Inggris itu aja dia tegar kok…” lanjut Subarry.

“Betul, lho Bar… Sampai-sampai, Perdana Menteri Inggris dan sejumlah tokoh di Inggris menanggapi berbagai pernyataan Obama sebagai hal yang insinuatif, jauh dari sikap bersahabat… Barusan saya baca di berbagai situs berita, sejumlah pihak di Inggris berharap Obama tidak terlalu gencar menyangkut-pautkan soal BP itu dengan Inggris…” Noyo menambahkan.

“Kabarnya, BP-si biang pencemar lingkungan di Teluk Meksiko-sudah menyiapkan dana 20 miliar dolar AS lho Mas, sebagai kompensasi atas potensi kerugian yang dialami warga maupun perusahaan di Amrik itu… Denger-denger sih, BP kemungkinan akan bangkrut gara-gara kasus tersebut…” ucap Subarry.

“Lho, seharusnya memang seperti itulah tanggung jawab korporasi yang bermoral… Bukannya berkelit ke sana kemari cari-cari alasan, yang bencana alam lah, yang ini-itu lah… Intinya, dia tidak bersedia bertanggung jawab… Kalau di negeri sana, perusahaan model begituan sudah ambruk kapan-kapan…” ujar Noyorono.

“Kalau di sini kenapa nggak ya, Mas… malah, si pemilik perusahaan sering-seringnya menjadi konco si penguasa… Banyak deh kasus serupa… Jangan-jangan politik perkoncoan ini yang menjadi penyebab melempemnya sebagian besar kasus hukum yang menyangkut orang-orang terpadang di negeri ini…” komentar Barry.

“Bisa jadi… Tapi, membandingkan kasus Lapindo dan Polusi BP di Teluk Meksiko mungkin tidak relevan ya… Apa yang terjadi di Teluk Meksiko itu murni kesalahan pemasangan peranti penyedotan minyak di laut dalam… Sedangkan lumpur Lapindo kan dipengaruhi faktor alam… jadi ya bisa dianggap bencana alam…” ujar David.

“Wuih, makin jelas sikap Mas David sekarang… setelah menjadi kader partai, makin terang-benderang membela siapa… Sebenarnya nggak pantas kalau itu dianggap sebagai bencana alam. Kalau saja Lapindo tidak memulainya, apa mungkin tiba-tiba terjadi semburan lumpur sedemikin dahsyat itu…” kata Noyorono.

“Ya… itu kan bagian dari risiko investasi, Noy… Boleh jadi itu memang kesialan Lapindo… Tapi, kalau proyek eksploitasi itu sukses, toh masyarakat juga yang ikut menikmatinya… dalam bentuk pemasukan ke negara, royalti, dan, pajak dan sebaginya…” David masih bertahan dengan pembelaannya.

“Lha kalau dipikir seperti itu, sama dengan apa yang terjadi pada BP di Teluk Meksiko… Persoalannya adalah BP kemudian-dipaksa-menunjukkan tanggung jawabnya, karena pemerintah Amrik dalam kasus ini cukup tegas, sampai-sampai presidennya sendiri yang memimpin penanggulangannya. Harusnya kita belajar dong dengan apa yang dilakukan oleh si Barry anak Menteng itu,” ujar Noyorono dengan nada aga meninggi.

“Tapi, ngomong-ngomong, Mas, kalau untuk mengatasi bencana nasionalnya itu Mas Obama sampai membatalkan kunjungan ke luar negeri, tidak demikian halnya dengan presiden kita… Urusan lumpur Lapindo nggak kunjung usai, eh… malah bakalan sering ke luar negeri,” kata Subarry.

“Lha kok kamu bisa mengambil kesimpulan demikian, emangnya kamu tahu persis jadwal Pak SBY… Jangan membuat fitnah lho, Bar…” David menukas.

“Nggak gitu, Mas David… Aku kan hanya baca berita di koran bahwa anggaran untuk pembelian pesawat kepresidenan sebesar 200 miliar rupiah sudah disetujui DPR kan… Lha kalo sudah punya pesawat sendiri, enakan sering dipakai dong… he he he…” ujar Subarry.

“Wow… elok bener ya di negeri ini… Mungkin itu deal agar pemerintah menyetujui pengucuran anggaran gentong babi alias dana aspirasi bagi setiap anggota DPR yang sebesar 15 miliar rupiah per wakil rakyat nan terhormat itu…” Noyo menanggapi dengan nada getir.

“Meskipun aku orang partai, sebetulnya aku juga gak setuju kok atas berbagai pemborosan itu… Pesawat kepresidenan saya kira belum perlu lah, wong negara kita belum sehebat Amerika… Malah, Perdana Menteri Singapura itu, yang negaranya kaya raya, kalau bepergian ke luar negeri cukup menumpang pesawat komersial lho, dan staf yang ikut cuma beberapa…” ujar David.

“Denger-denger nih, rombongan perjalanan kepresidenan kita terlalu banyak… kalau pas ke luar negeri, misalnya, satu pesawat dipenuhi staf kepresidenan… Apa bener tuh Mas…” tanya Subarry.

“Kan Presiden memang membutuhkan banyak staf untuk menyertai perjalanannya, karena selain menyiapkan segala sesuatu untuk negara yang dituju, juga masih tetep ngurusi urusan dalam negeri… Jadi ya memang perlu staf dalam jumlah banyak… Tapi nggak tahu deh, apa tidak bisa dikurangi ya, jumlahnya…” ungkap David dengan nada retorik.

“Kalau sudah gitu ya… serahkan saja kepada presidennya deh… Kewajiban kita kan membayar pajak, he he he…” ujar Noyorono penuh arti. (ahmad.djauhar@bisnis.co.id)

“Lho, seharusnya memang seperti itulah tanggung jawab korporasi yang bermoral… Bukannya berkelit ke sana kemari cari-cari alasan, yang bencana alam lah, yang ini-itu lah… Intinya, dia tidak bersedia bertanggung jawab… Kalau di negeri sana, perusahaan model begituan sudah ambruk kapan-kapan…” ujar Noyorono.

“Kalau di sini kenapa nggak ya, Mas… malah, si pemilik perusahaan sering-seringnya menjadi konco si penguasa… Banyak deh kasus serupa… Jangan-jangan politik perkoncoan ini yang menjadi penyebab melempemnya sebagian besar kasus hukum yang menyangkut orang-orang terpadang di negeri ini…” komentar Barry.

“Bisa jadi… Tapi, membandingkan kasus Lapindo dan Polusi BP di Teluk Meksiko mungkin tidak relevan ya… Apa yang terjadi di Teluk Meksiko itu murni kesalahan pemasangan peranti penyedotan minyak di laut dalam… Sedangkan lumpur Lapindo kan dipengaruhi faktor alam… jadi ya bisa dianggap bencana alam…” ujar David.

“Wuih, makin jelas sikap Mas David sekarang… setelah menjadi kader partai, makin terang-benderang membela siapa… Sebenarnya nggak pantas kalau itu dianggap sebagai bencana alam. Kalau saja Lapindo tidak memulainya, apa mungkin tiba-tiba terjadi semburan lumpur sedemikin dahsyat itu…” kata Noyorono.

“Ya… itu kan bagian dari risiko investasi, Noy… Boleh jadi itu memang kesialan Lapindo… Tapi, kalau proyek eksploitasi itu sukses, toh masyarakat juga yang ikut menikmatinya… dalam bentuk pemasukan ke negara, royalti, dan, pajak dan sebaginya…” David masih bertahan dengan pembelaannya.

“Lha kalau dipikir seperti itu, sama dengan apa yang terjadi pada BP di Teluk Meksiko… Persoalannya adalah BP kemudian dipaksa menunjukkan tanggung jawabnya, karena Pemerintah Amrik dalam kasus ini cukup tegas, sampai-sampai presidennya sendiri yang memimpin penanggulangannya. Harusnya kita belajar dong dengan apa yang dilakukan oleh si Barry anak Menteng itu,” ujar Noyorono dengan nada agak meninggi.

“Tapi, ngomong-ngomong, Mas, kalau untuk mengatasi bencana nasionalnya itu Mas Obama sampai membatalkan kunjungan ke luar negeri, tidak demikian halnya dengan presiden kita… Urusan lumpur Lapindo nggak kunjung usai, eh… malah bakalan sering ke luar negeri,” kata Subarry.

“Lha kok kamu bisa mengambil kesimpulan demikian, emangnya kamu tahu persis jadwal Pak SBY… Jangan membuat fitnah lho, Bar…” David menukas.

“Nggak gitu, Mas David… Aku kan hanya baca berita di koran bahwa anggaran untuk pembelian pesawat kepresidenan sebesar 200 miliar rupiah sudah disetujui DPR kan… Lha kalo sudah punya pesawat sendiri, enakan sering dipakai dong… he he he…” ujar Subarry.

“Wow… elok bener ya di negeri ini… Mungkin itu deal agar pemerintah menyetujui pengucuran anggaran gentong babi alias dana aspirasi bagi setiap anggota DPR yang sebesar 15 miliar rupiah per wakil rakyat nan terhormat itu…” Noyo menanggapi dengan nada getir.

“Meskipun aku orang partai, sebetulnya aku juga gak setuju kok atas berbagai pemborosan itu… Pesawat kepresidenan saya kira belum perlu lah, wong negara kita belum sehebat Amerika… Malah, Perdana Menteri Singapura itu, yang negaranya kaya raya, kalau bepergian ke luar negeri cukup menumpang pesawat komersial lho, dan staf yang ikut cuma beberapa…” ujar David.

“Denger-denger nih, rombongan perjalanan kepresidenan kita terlalu banyak… kalau pas ke luar negeri, misalnya, satu pesawat dipenuhi staf kepresidenan… Apa bener tuh Mas…” tanya Subarry.

“Kan Presiden memang membutuhkan banyak staf untuk menyertai perjalanannya, karena selain menyiapkan segala sesuatu untuk negara yang dituju, juga masih tetep ngurusi urusan dalam negeri… Jadi ya memang perlu staf dalam jumlah banyak… Tapi nggak tahu deh, apa tidak bisa dikurangi ya, jumlahnya…” ungkap David dengan nada retorik.

“Kalau sudah gitu ya… serahkan saja kepada presidennya… Kewajiban kita kan bayar pajak, he he he…” ujar Noyorono penuh arti. (ahmad.djauhar@bisnis.co.id)

Oleh Ahmad Djauhar
Wartawan Bisnis Indonesia

Iklan

2 Komentar »

  1. you have a nice blog , mau ga tukaran backlink? website saya http://jsxtrader.blogspot.com/ , isinya artikel-artikel mengenai trading

    Komentar oleh jsx_trader — Juni 22, 2010 @ 6:52 pm

    • well, rasanya blog anda komplit abis dah … cuma berdasarkan pengalaman gw berblog-ria, rasanya kebanyakan investor itu OTAKNYA MALAS abis 😛 (uda capek menjalanin hidup yang rutin dan terpaksa dijalanin aja) … jadi, sebaiknya elo bener2 menyederhanakan apa pun yang ada di blog elo, sehingga pengunjung blog yang serius mau maen saham jadi benaran minat maen saham … well, itu lah yang terus gw usahakan dengan berbagai blog terkait investasi saham

      Komentar oleh bumi2009fans — Juni 22, 2010 @ 11:19 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: