Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juni 30, 2010

murah n GERAH … 300610

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 7:27 am

29/06/2010 – 10:22
Yuganur Wijanarko
Dividen Jadi Katalis Penguatan BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Selasa (29/6) diprediksikan menguat seiring potensi kenaikan harga minyak dan kemampuan perseroan membagikan dividen. Kepercayaan investor pun pulih. ‘Buy’ untuk BUMI!

Yuganur Wijanarko, senior researcher HD Capital mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini salah satunya dipicu peluang penguatan harga minyak mentah dunia mendekati level US$100 akhir Juli mendatang.

Di sisi lain, menurutnya, pembagian dividen tahun ini di level Rp27,68 per saham jadi katalis penguatan BUMI di atas Rp2.000. “Jangan dilihat berapa rupiahnya. Tapi, faktanya BUMI membagikan dividen,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta, Senin (28/6) malam.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp10 (0,52%) jadi Rp1.900 dibandingkan sebelumnya di level Rp1.890. Harga tertingginya mencapai Rp1.910 dan terendahnya Rp1.880. Volume transaksi mencapai 124,9 juta unit saham senilai Rp236,3 miliar dan frekuensi 1.557 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah menguat Rp10, bagaimana Anda memperkirakan, pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya melihat adanya potensi penguatan. Salah satu katalisnya dipicu oleh peluang kenaikan harga minyak mentah dunia mendekati level US$100 per dolar AS di akhir Juli mendatang. Sebab, pesanan minyak untuk pengiriman akhir tahun ini atau pemesanan musim dingin dilakukan bulan depan.

Saat ini pun, di mana harga minyak mentah dunia berada di level US$78 per barel, pelaku pasar sudah berekspektasi, harga minyak akan menjebol US$80 per barel. Jika naik di atas US$80, arahnya ke level US$85.

Akan bergerak di kisaran berapa?

Karena itu, BUMI akan mengarah ke level resistance Rp1.950-2.020 dan Rp1.880 sebagai level support-nya. Dalam sebulan ke depan, target price saham BUMI di level Rp2.400-2.500. Penguatan bukan hanya terjadi di saham BUMI, tapi di semua saham yang bernaung di bawah grup Bakrie. Kenaikan BUMI dan BTEL (PT Bakrie Telecom) dua kali lipat kenaikan indeks.

Bagaimana dengan sentimen dari fundamental perseroan?

Sentimen negatifnya sudah mereda. Sebab, BUMI menegaskan telah membayarkan pajak senilai US$1,1 miliar (belum termasuk royalti batubara dan lainnya) selama periode 2005-2009. Perseroan juga mengatakan kalau nilai tersebut telah mengikuti penyesuaian kebijakan pajak sunset policy yang diterapkan pemerintah pada 2005, 2006 dan 2007.

Memang aksi korporasi seperti non preemptive issue ditunda hingga 30 September 2010. Tapi, hal itu sudah menjadi kepastian di RUPS pekan lalu. Karena itu, setengah dari masalah utang BUMI sudah selesai. BUMI menghadapi utang jatuh tempo dari dua kreditur senilai US$437,29 juta. Keduanya telah menyatakan kesiapannya mengkonversi utang tersebut menjadi saham baru yang akan diterbitkan BUMI.

Apakah itu otomatis mengembalikan kepercayaan investor?

Kepercayaan investor atas BUMI mulai pulih karena terbantu oleh kesepakatan pembagian dividen di 2010. Sebab, di 2009, emiten ini tidak membagikan dividen. Kalau suatu perusahaan mampu membagikan dividen, perusahaan itu masih solid. Karena itu, jika BUMI jebol di atas Rp2.020, arahnya berikutnya ke level Rp2.300. Yang ditunggu pasar saat ini adalah cum date pembagian dividen di level Rp27,68 per saham. Menjelang pembagian, harga BUMI akan naik drastis.

Apakah secara teknikal pun BUMI menunjukkan penguatan?

Secara teknikal, seharusnya saham BUMI menguat. Sebab, BUMI sudah lama konsolidasi di level Rp1800-1.900. Karena itu, BUMI harus bergerak ke atas Rp2.000. Apalagi, harga saham PT Adaro Energy (ADRO) sudah di atas Rp2.000 per saham. Padahal, harga ADRO selalu di bawah BUMI.

Sejauh pengamatan Anda, apa yang memicu konsolidasinya saham BUMI belakangan ini?

BUMI terganjal dari sisi risiko good corporate gavernance yang dinilai pasar BUMI kurang transparan terhadap investor. Tapi, dengan dividen, kepercayaan investor kembali pulih. Stagnannya BUMI juga dipicu oleh harga non preemptive issue yang dipatok di level Rp2.300 per lembar saham. Karena itu, harga teoritis dilusi pasar akibat penerbitan saham baru itu jadi Rp1.900 per saham. Karena itu, harga tengahnya di level 1.800-2.000. Itulah harga wajarnya.

Tapi, BUMI tidak akan lama bertahan di kisaran itu. Sebab, non pre emptive issue sudah pasti dilaksanakan pada 30 September di level Rp2.300. Berarti harga dilusi saham yang beredar di level Rp1.900 saat ini. Namun, yang harus diingat adalah harga teoritis di level Rp1.900 ini belum mempertimbangkan dividen. Pembagian dividen sangat menopang penguatan BUMI di atas Rp2.000. Jangan dilihat berapa rupiahnya. Tapi, faktanya BUMI membagikan dividen.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan beli untuk BUMI. Sebab, dari sisi valuasi pun baik price earning maupun price to book value saham BUMI paling murah di sektornya. [jin/hid]
28/06/2010 – 10:14
Irwan Ibrahim
Minyak Juli US$90, Saatnya Beli BUMI!
Ahmad Munjin

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Senin (28/6) diprediksikan menguat. Sebab, harga minyak mentah dunia berpotensi capai US$90 per barel di Juli 2010. Saatnya beli saham sejuta umat ini!

Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan, potensi penguatan saham BUMI hari ini salah satunya ditopang oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang saat ini berada di level US$79 per barel . Menurutnya, harga emas hitam ini berpeluang tembus ke level US$82 per barel, lusa.

Bahkan, harga minyak di Juli mendatang bisa mencapai US$90 per barel. Sebab, pemesanan untuk delivery akhir tahun, dilakukan di bulan Juli ini. “Saya rekomendasikan beli untuk saham BUMI. Saat ini, merupakan momentum yang tepat,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (27/6).

Akhir pekan lalu, Jumat (25/6) saham BUMI ditutup stagnan di level Rp1.890. Harga tertingginya mencapai Rp1.900 dan terendahnya Rp1.880. Volume transaksi mencapai 45,1 juta unit saham senilai Rp85,2 miliar dan frekuensi 1.834 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah ditutup stagnan di level Rp1.890, bagaimana Anda memprediksi pergerakan saham BUMI awal pekan ini?

Saya melihat potensi penguatan di saham ini. Salah satunya, karena dipicu oleh tren kenaikan harga minyak mentah dunia dan batubara. Saat ini, harga emas hitam itu mencapai US$79 per barel, sedangkan batubara berada di atas level US$100 per metrik ton berdasarkan harga di Newcastle. Harga tersebut, merupakan batubara dengan kualitas prima yang dimiliki PT Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha BUMI.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.025 dan Rp1.900 sebagai level support-nya.

Bagaimana dengan sentimen market?

Justru itu, kenaikan harga minyak di pasar New York, memicu kenaikan saham-saham sektor energi di Asia. Karena itu, pergerakan pasar modal secara keseluruhan pun akan meningkat sehingga kondusif bagi penguatan saham BUMI. Sebab, kenaikan harga minyak mentah dunia, disusul juga dengan kenaikan harga CPO (crude palm oil) yang saat ini di level US$800 berdasarkan harga di Roterdam.

Walaupun market mendapat sentimen negatif, karena faktor kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang rata-rata mencapai 10%, hal itu tidak berpengaruh negatif pada saham-saham sektor komoditas baik pertambangan maupun perkebunan. Kenaikan listrik, hanya negatif bagi saham-saham sektor konsumsi yang berorientasi pasar dalam negeri.

Lantas, bagaimana dengan perseroan yang kembali menegaskan telah membayarkan pajak senilai US$1,1 miliar (belum termasuk royalti batubara dan lainnya) selama periode 2005-2009?

Itu tidak berdampak pada pergerakan saham BUMI. Meskipun perseroan juga mengatakan kalau nilai tersebut telah mengikuti sunset policy yang diterapkan pemerintah pada 2005, 2006 dan 2007. Faktor pajak sudah diabaikan pasar baik yang sudah dibayar maupun dalam sengketa.

Apa yang menjadi perhatian investor saat ini?

Para investor saat ini, terutama asing, hanya fokus melakukan hedging atas kenaikan-kenaikan harga minyak yang peluangnya berada di luar perkiraan nantinya. Investor hedging ke sahamnya. Sebab, jika investor membeli komoditas di perdagangan berjangka, harganya saat ini sudah terlalu tinggi.

Misalnya, pesawat Singapore Airlines yang perusahaannya listing di Singapura. Maskapai itu pasti melakukan hedging untuk pembelian bahan bakarnya dalam jangka panjang. Karena itu, agar risikonya tidak terlalu tinggi, Singapore Airlines, juga melakukan hedging dengan melakukan pembelian saham di sektor komoditas seperti BUMI. Dalam sehari, kebutuhan bahan bakar (BBM) maskapai itu bisa mencapai US$40 juta. Yang dibeli adalah saham-saham sektor energi.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan beli untuk saham BUMI. Saat ini, merupakan momentum yang tepat. Sebab, lusa, harga minyak mentah dunia berpotensi tembus ke level US$82 per barel. Bahkan, harga minyak di Juli ini bisa mencapai US$90 per barel. Sebab, pemesanan untuk delivery akhir tahun, dilakukan di bulan Juli ini. [jin/hid]

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: