Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Agustus 1, 2010

$ank pila+U$ … 010810 : skandal deposito (wow, tempo lage bo)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 8:57 pm

Minggu, 01/08/2010 18:04 WIB
Kisruh Salah Catat
Bapepam-LK Dituding Lamban Periksa Bakrie dan Benakat
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Meski Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) serius dalam menyelidiki kasus salah catat deposito Grup Bakrie dan PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) di Bank Capital, namun hal ini dianggap sangat lambat.

Pasalnya sejak dua minggu laporan diterima dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Bapepam belum menyampaikan keterbukaan kepada publik atas progress pemeriksaan atau penyidikan.

“Terlalu banyak wacana. Fuad (Kepala Bapepam-LK) harusnya sudah menyampaikan apakah ini tindak pidana,” jelas Analis pasar modal yang bernaung dalam Aspirasi Indonesia Riset Institute, Yanuar Rizky dalam perbincangan dengan detikFinance di Jakarta, Minggu (1/8/2010).

Menurutnya, kasus salah catat atas deposito empat emiten di PT Bank Capital Tbk (BACA) harusnya bisa langsung ditangani Bapepam-LK. Tidak lagi harus menunggu dari BEI.

Ia beralasan, Bapepam sudah diamanatkan oleh Undang-undang Pasar Modal (UU PM) sebagai penyidik pegawai negeri sipil. “Ini sudah hukum publik. Sudah masuk ranah pidana di pasar modal. Bukan lagi hukum privat, bukan delik aduan. Tidak perlu nunggu aduan,” tambahnya.

Ditambahkan Yanuar, dengan masuknya kasus ini ke pemeriksaan dan penyidikan, sudah sepatutnya Bapepam mengungkapkan kepada publik.

“Kok lama sekali. Amanat UU, selidiki unsur-unsur substansinya. Bapepam pun harus menyampaikan keterbukaan kepada publik,” ucapnya.

Setali tiga uang dengan Yanuar, analis pasar modal Felix Sindhunata juga menegaskan Bapepam harusnnya menjelaskan kepada investor, terkait perkembangan kasus ini. Hal ini penting, agar investor bisa mengkalkulasi risiko atas saham yang mereka perdagangkan.

“Investor butuh kepastian, ada apa? saham ini. Kan harus ada kalkulasi risiko, ini penting untuk prediksi ke depan yang paling tepat. Ini bentuk transparasi ke publik. Di market, semua harus jelas, ada apa,” papar Felix.

Seperti diketahui tiga emiten grup Bakrie yang ikut terlibat dalam masalah salah catat di Bank Capital ini adalah PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP) dan PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI). Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menjatuhkan denda masing-masing Rp 500 juta. (wep/hen)
26 JULI 2010
Tergelincir Akrobat Deposito Jumbo
MANAJEMEN Bursa Efek Indonesia meradang. Kamis pekan lalu, otoritas bursa itu akhirnya mengenakan sanksi denda masing-masing Rp 500 juta kepada tiga perusahaan Grup Bakrie dan satu perusahaan lain, PT Benakat Petroleum Energy. Tiga perusahaan kelompok Bakrie yang dihukum denda itu adalah PT Bakrie & Brothers, PT Bakrie Sumatera Plantations, dan PT Energi Mega Persada.

Ketiga perusahaan itu keliru mela por kan angka deposito triliunan rupiah yang tersimpan di Bank Capital Indo nesia. Dalam bahasa bursa, ketiganya, plus Benakat, dinilai membuat laporan keuangan triwulanan yang membingungkan publik. “Ini sanksi terbesar yang diberikan otoritas bursa efek,” kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito, dalam jumpa pers di Jakarta.

Pasar modal heboh merespons peristiwa ini. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Fuad Rahmany menegaskan bahwa perbedaan pencatatan laporan keuangan bisa berdampak buruk kepada bursa efek. Kepercayaan publik dan investor anjlok bila empat emiten itu tak diberi sanksi. “Ini soal reputasi, nanti dikira semua salah catat,” ujarnya.

Bukan kali ini saja Grup Bakrie membuat “kegaduhan”. Beberapa tahun silam, PT Bumi Resources, perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh keluarga Aburizal Bakrie, mengagetkan pelaku pasar lantaran sukses membeli PT Kaltim Prima Coal. Dua tahun lalu, suhu politik panas-dingin dipicu pembatalan pencabutan suspensi saham-saham Grup Bakrie. Tahun yang sama, hanya dalam dua hari Bakrie & Brothers meralat laba dari Rp 16,6 triliun menjadi Rp 15,86 triliun. Tapi mereka lolos dari sanksi otoritas bursa. Tahun lalu, pengawas pasar modal dibuat repot dengan aksi Bumi membeli PT Darma Henwa.

Kali ini mereka tergelincir.Otoritas bursa menghukum gara-gara laporan keuangannya tak akurat. Ini berkat informasi yang disampaikan seorang whistle blower kepada Bursa Efek In donesia dua pekan lalu.

Sang peniup peluit mengungkapkan ada kejanggalan dalam laporan ke uangan Bakrie Sumatera Plantations dan Energi Mega tertanggal 31 Maret 2010. Bakrie Sumatera dan Energi Mega menyebutkan menyimpan deposito masing-masing senilai Rp 3,504 triliun dan Rp 1,136 triliun di Bank Capital. Empat perusahaan Grup Bakrie lainnya juga melaporkan simpanan berjangka di bank yang sama, senilai Rp 657,8 miliar. Semua duit itu merupakan dana hasil penerbitan saham baru (rights issue).

Total jenderal, nilai deposito enam perusahaan Grup Bakrie di Bank Capital mencapai Rp 5,29 triliun. Anehnya, Bank Capital melaporkan dana pihak ketiga tabungan, deposito, dan giro nasabah perorangan dan perusahaan per 31 Maret 2010 hanya Rp 2,69 triliun. Berarti ada duit Rp 2,6 triliun milik Grup Bakrie yang tak jelas keberadaannya.

Otoritas bursa bergerak cepat. Mereka memanggil manajemen Grup Bakrie. Selasa sore pekan lalu, Direktur Bakrie & Brothers Sri Dharmayanti, Direktur Manajemen Risiko Doddy Taufik, dan beberapa direktur Bakrie Sumatera menyambangi Direktur Bursa Efek Eddy Soegito. Keesokan harinya, manajemen Energi Mega datang.

Manajemen Bank Capital juga dipanggil otoritas bursa. Mereka datang pada Kamis pekan lalu. “Laporan ke uangan bank pada kuartal pertama sudah benar,” kata Direktur Bank Capital Nico Mardiansyah kepada Tempo di Jakarta. Jumlah dana pihak ketiga Bank Capital pada 31 Maret 2010 memang Rp 2,69 triliun. “Itu juga sesuai dengan laporan kami ke Bank Indonesia,” ujar Nico.

Pengakuan Bank Capital tak membuat Bakrie Sumatera keder. Mereka berkilah. Menurut Sekretaris Perusahaan Bakrie Sumatera Fitri Barnas, perbedaan nilai deposito di laporan perseroan dengan laporan di Bank Capital terjadi karena perbedaan waktu tutup buku. Perbedaan itu juga, katanya,�bukan lantaran kesalahan pencatatan.�”Ini hanya perbedaan persepsi pencatatan atas� perbedaan waktu antara kami dan Bank Capital,” ujarnya.

Deposito tersebut, ujar Fitri, sudah ditarik seluruhnya pada 31 Maret 2010. Dananya telah dipakai untuk mengembangkan bisnis hulu, membayar uang muka investasi oleo chemical, pembayaran investasi di beberapa perusahaan perkebunan di Sumatera dan Kalimantan Barat. Sisanya diinvestasikan di AK Funds, membayar uang muka pembukaan lahan dan ganti rugi lahan, serta dipakai sebagai modal kerja. Adapun pejabat hubungan investor Energi Mega, Herwin Hidayat, mengatakan bahwa dana hasil rights issue sudah sesuai dengan prospektus yang disampaikan per usahaan pada 31 Desember 2009.

Sumber Tempo di lingkungan pasar modal membisikkan, penjelasan mana jemen Bakrie Sumatera itu justru semakin bertentangan dengan penjelasan mereka sendiri ke bursa efek sebelumnya. Pada 16 April 2010, Bakrie Sumatera melaporkan penggunaan dana hasil penerbitan saham baru per 31 Maret 2010. Dari total dana Rp 4,9 triliun, baru sebagian kecil terpakai, yakni Rp 274 miliar untuk uang muka pembelian Monrad Intan dan Rp 25 miliar uang muka pembelian Ciptalaras Cipta. Sebagian besar masih disimpan dalam deposito. “Tampaknya mereka panik sehingga tak mengecek surat lama ke bursa,” ujarnya.

Persoalan penempatan dana di Bank Capital semakin aneh setelah Benakat Petroleum ikut-ikutan meralat laporan penempatan dananya di bank milik pengusaha Danny Nugroho itu. Direktur Benakat Ferdy Yustianto menyebutkan ada kesalahan pencatatan penempatan deposito berjangka di Bank Capital senilai Rp 1,48 triliun dalam laporan keuangan konsolidasi 31 Maret 2010. “Seharusnya dana itu dicatat sebagai repurchase agreement pada Wellington Ventures,” ujarnya.

l l l
Bank Capital bukanlah bank besar. Asetnya hanya Rp 4 triliun atau se perseratus aset Bank Mandiri, bank terbesar di Indonesia. Meski kecil, Bank Capital bisa menggaet nasabah kakap seperti Grup Bakrie dan Benakat. Padahal, imbalan bunga kepada Bakrie Sumatera tak gede-gede amat. “Bunganya kurang-lebih tujuh persen per tahun,” kata Direktur Keuangan Bakrie Sumatera Harry Nadir dalam surat penjelasannya ke Bursa Efek pekan lalu.

Tersimpannya dana Grup Bakrie dan juga Benakat di Bank Capital, kata sumber Tempo di pasar modal tadi, tak lepas dari peran PT Danatama Makmur Securities. Seorang direktur Da natama berteman akrab dengan Danny. Danatama merupakan penjamin emisi penerbitan saham baru kelompok usaha Bakrie dan juga penjamin emisi saham Benakat. Dulu Grup Bakrie lebih sering menyimpan dana di Bank Mega. Tapi, sejak bermitra dengan Danatama, banyak simpanan kelompok usaha ini ditaruh di Bank Capital.

Sekretaris Perusahaan Danatama Vicky Ganda Saputra menyatakan penempatan dana di Bank Capital biasa saja. “Itu komersial,” ujarnya saat ditemui dalam paparan publik Berau Coal di Jakarta pekan lalu (lihat “Besar Berkat Bursa”).

Tapi, gara-gara Bakrie Sumatera menyimpan dana di Bank Capital, Grup Bakrie jadi kena getahnya. Seandainya saja manajemen perusahaan agrobisnis itu menuruti saran seorang bankir investasi dari Recapital Advisory, kelompok usaha Bakrie tak akan terpeleset masalah perbedaan laporan keuangan. Bankir investasi itu, kata sumber Tempo, menyarankan kepada manajemen Bakrie Sumatera agar “menyetorkan” dana hasil penerbitan saham baru kepada perusahaan wahana investasi (special purpose vehicle). Cara ini lebih lazim ketimbang menyimpan dana dalam deposito.

Rupanya manajemen Bakrie Sumatera mengabaikan saran itu. Mereka menaruh dana dalam deposito dengan alasan tak akan lama. Alasan lainnya, mereka yakin bisa merampungkan akuisisi tepat waktu. Tapi apa lacur. Proses akuisisi sangat panjang, sehingga dana hasil penerbitan saham baru tersimpan lama di Bank Capital. “Tak disangka-sangka, muncullah peristiwa laporan keuangan itu,” ujarnya.

Sejatinya Nirwan Bakrie selalu rutin mengawasi jalannya operasi kelompok usaha Bakrie. Tapi kali ini, menurut sumber Tempo lainnya, Nirwan absen lantaran ada kesibukan di luar negeri. Direktur Bakrie & Brothers Ari Hudaya juga kecolongan. Pekan lalu, Nirwan dan Ari mengumpulkan manajemen Bakrie Sumatera, Energi Mega, dan anak-anak usaha lainnya. “Mereka kecewa betul ada kejadian ini. Ari dan Nirwan memarahi manajemen Bakrie Sumatera dan Energi Mega,” bisiknya.

Ari belum dapat dimintai konfirmasi. Pertanyaan Tempo lewat pesan pendek belum direspons. Adapun Fitri tak menampik cerita ini. Nirwan Bakrie, kata dia, memang mempertanyakan munculnya peristiwa itu. “Wajar karena bagian dari tata kelola perusahaan,” kata Fitri.” Tetapi sampai saat ini kami tidak pernah menerima surat teguran dari manajemen Bakrie & Brothers ataupun Nirwan.”

Toh, Grup Bakrie sementara ini masih beruntung karena Bursa Efek tak menuding ada manipulasi laporan keuangan atau penyesatan informasi. Padahal, bagi pemerhati pasar modal Yanuar Rizky, kesalahan laporan keuangan Grup Bakrie dan kesalahan pencatatan oleh Benakat masuk kategori penyesatan informasi yang berpotensi pidana. “Seharusnya Bapepam memeriksa kembali,” katanya di Jakarta pekan lalu.

Gayung bersambut. Fuad Rahmany berjanji Bapepam akan memperdalam pemeriksaan kasus ini. Tapi Bakrie Sumatera tetap yakin tak bersalah. “Kami tak memanipulasi laporan keuangan, dan tidak pernah memberikan informasi menyesatkan,” ujar Fitri. Benarkah? Tunggu saja hasil pemeriksaan Bapepam.

Padjar Iswara, Fery Firmansyah, Ririn Agustia, Famega Syavira
26 JULI 2010
Bank Capital
Besar Berkat Bursa
RUMAH di Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah, itu masih terawat, meski sudah terlihat kuno. Terletak persis di depan deretan kios buku bekas tak jauh dari Stadion Sriwedari, pagar rumah berwarna cokelat tua itu tertutup pohon bougainvillea yang tengah berbunga. Rumah di Jalan Kebangkitan Nasional inilah yang digunakan sebagai alamat domisili oleh Danny Nugroho, Komisaris Utama Bank Capital Indonesia, pada akta perseroan bank tersebut.

Didatangi Jumat pagi pekan lalu, rumah itu tertutup rapat. Pagarnya digembok. Sehari sebelumnya, seorang pekerja yang tengah merenovasi rumah mengatakan sang pemilik sedang pergi ke luar kota. Dicek kekelurahan, rumah itu milik Handoko, ayah Danny. Seorang petugas di Kelurahan Sriwedari, Solo, memastikan Danny masih tercatat sebagai warga di kawasan itu.

Sepanjang dua pekan terakhir, nama Danny dan Bank Capital jadi pembicaraan di kalangan pasar modal. Gara-garanya, bank yang diakuisisi Danny enam tahun lalu itu menjadi tempat menyimpan hasil aksi korporasi kelompok usaha Bakrie.

Laporan keuangan Bakrie & Brothers kuartal pertama tahun ini menyatakan enam emiten Bakrie itu menempatkan dana berupa deposito Rp 5,2 triliun di Bank Capital. Dana itu diperoleh dari penawaran saham terbatas (rights issue). Anehnya, pada periode yang sama, dana pihak ketiga Bank Capital cuma Rp 2,69 triliun.

Tidak lama setelah kasus itu terkuak, dari laporan keuangan PT Benakat Petro leum Energy Tbk., juga terungkap bah wa perusahaan itu me nempatkan dana Rp 1,48 triliun di Bank Capital. Duit jumbo itu sisa hasil penawaran saham perdana Benakat pada Februari silam.

Senin pekan lalu, Direktur Benakat Ferdy Yustianto meralat informasi itu. Ferdy bilang dana itu bukan berupa deposito, melainkan ditempatkan pada investasi gadai saham milik Wellington Ventures Ltd. Perbedaan pencatatan di laporan keuangan itu kini berbuntut panjang.

Bank Capital kian menyedot perhatian karena ternyata bukan cuma Bakrie yang menyimpan pundi-pun dinya di bank itu. PT Sumalindo Les tari Tbk. dan PT Sentul City masing-masing menyimpan Rp 126,67 miliar dan Rp 121,12 miliar di Bank Capital.

Padahal, bila diibaratkan sebagai petinju, Bank Capital Indonesia hanyalah petarung di kelas bulu. Total asetnya hingga semester pertama tahun ini cuma Rp 4 triliun. Angka itu hampir seperseratus aset Bank Mandiri.

Sejumlah analis yang ditemui Tempo mengatakan, banyaknya emiten menaruh dana di Bank Capital tidak lepas dari peran Danatama Makmur. Entah kebetulan entah tidak, aksi korporasi sejumlah emiten tadi terutama anak usaha Bakrie selalu ditangani oleh Danatama. “Sudah bukan rahasia, Danatama punya kedekatan khusus dengan Bakrie,” kata seorang analis.

Saat Bakrie Sumatera Plantation menerbitkan 9,47 miliar saham baru pada Maret lalu, Danatama bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi. Oleh Danatama, dana Rp 3,5 triliun yang diraup dari penerbitan saham baru itu ditaruh di Bank Capital. Demikian pula ketika Energi Mega Persada, anak usaha Bakrie lainnya, menggelar penerbitan saham terbatas akhir tahun lalu. Total dana yang direngkuh Rp 4,84 triliun. Pada saat itu, Danatama bertindak sebagai pembeli siaga.

Dua tahun lalu, Bakrie Telecom menggelar penawaran saham terbatas buat menambah modal. Dana yang diraup dari aksi korporasi itu Rp 3,02 triliun. Danatama kemudian menempatkan dana itu di Bank Capital. Perusahaan ini juga bertindak sebagai penjamin pelaksana efek ketika PT Sumalindo menggelar rights issue.

Menurut sejumlah sumber Tempo, penempatan dana di Bank Capital itu terjadi karena Danny Nugroho dekat dengan petinggi Danatama. “Bank itu dikendalikan oleh Danatama,” kata seorang ekonom di bank pelat merah. Perusahaan efek ini juga menjadi penjamin emisi ketika Bank Capital menerbitkan saham terbatas tahun silam. Pada Februari lalu, Danatama kembali menjadi broker penjualan 23,6 persen saham Bank Capital.

Sinyalemen itu ditepis Vice President Investment Banking Danatama Makmur Vicky Ganda Saputra. “Hubungan kerja sama itu basisnya bisnis semata,” katanya. Dan tugas Danatama sebagai penjamin pelaksana emisi, kata dia, berakhir setelah proses rights issue selesai.

Kamis pekan lalu, Danatama dipanggil oleh otoritas bursa. Di depan Bursa Efek Indonesia, manajemen Danatama mengaku bahwa Bank Capital memang direkomendasikan oleh Danatama. Namun Vicky mengatakan tidak ada kesepakatan antara Danatama dan para kliennya untuk memilih Bank Capital menjadi bank penyimpan. “Semua bank yang menawarkan kami masukkan,” ucapnya.

Sayang, manajemen Bank Capital memilih irit bicara. Senada dengan Vicky, Direktur Utama Bank Capital Nico Mardiansyah mengatakan hubungan perusahaannya dengan Danatama hanyalah relasi bisnis biasa. Bank Capital, kata dia, mendapat kepercayaan sebagai bank penerima karena memiliki kekuatan pelayanan dan hubungan baik.

Bank Capital diakuisisi Danny enam ta hun lalu saat ia berusia 29 tahun. Keti ka itu, dia mencaplok 97,3 persen sa ham Bank Capital dari Credit Lyonnais SA, bank terbesar Prancis pada 1990-an.

Didirikan oleh Credit Lyonnais SA dan PT Bank Internasional Indonesia pada April 1989, bank ini semula bernama PT Bank Credit Lyonnais Indonesia. Sejak saham milik Credit Lyonnais berpindah tangan ke Danny, bank ini berganti nama menjadi PT Bank Capital Indonesia. Perubahan nama itu sudah didaftarkan Danny ke Departemen Perdagangan.

Dari mana Danny memperoleh uang? Dihubungi Jumat siang pekan lalu, Edwin Nugroho, kakak Danny, mengelak menjelaskan soal itu. “Saya tidak tahu,” katanya. Tapi, melihat seringnya Capi tal menerima simpanan yang berasal dari dana hasil go public dan rights issue, bisa jadi itulah yang membuat Ca pital membesar.

Edwin sendiri mengurusi bisnis keluarga. Handoko, ayahnya, dikenal sebagai pemilik agen tunggal mobil Honda wilayah Solo dan Sukoharjo. Salah satu dealer mobilnya berada di Jalan Slamet Riyadi, pusat Kota Solo. “Tapi mereka jarang berinteraksi dengan warga,” ujar Koh Yan, salah satu warga di sana. Yang jelas, Danny sempat menempuh studi keuangan di Ohio State University, Amerika Serikat.

Di bawah kendali Danny, tiga tahun lalu, bank yang aktif bertransaksi di pasar uang ini mencatatkan 1,495 miliar lembar saham di bursa. Perinciannya: 995,773 juta merupakan saham pendiri dan sisanya saham penawaran umum perdana. PT BNI Securities, PT Sinarmas Sekuritas, dan PT Transpacific Securindo menjadi penjamin pelaksana emisi. Per lembarnya, saham Bank Ca pital dipatok Rp 150.

Dana hasil aksi korporasi kemudian digunakan untuk ekspansi usaha (65 persen), penambahan jumlah jaringan operasional (25 persen), dan sisanya untuk pengembangan sistem teknologi informasi. Hingga detik ini, Bank Capital punya 29 cabang. Kebanyakan berope rasi di sekitar Jakarta.

Sebelum bank ini menjadi perusahaan terbuka, Danny menguasai 97,3 persen saham. Sisanya dipegang Bank Internasional Indonesia. Setelah terdaftar di bursa, saham Danny susut jadi 65,1 persen. Saham Bank Internasional Indonesia tersisa 1,8 persen. Adapun Sinarmas Sekuritas menggenggam 14,01 persen. Pada Oktober 2008, PT Millenium Danatama Sekuritas tercatat memiliki 5,57 persen saham Bank Capital.

Pada Juni tahun lalu, dibantu Danatama Makmur sebagai penjamin emisi, Bank Capital kembali menggelar penawaran saham terbatas Rp 151,1 miliar. Aksi korporasi ini berhasil mendongkrak modal bank menjadi Rp 517,84 miliar. Aksi ini mengubah komposisi pemegang saham. Saham Danny terdilusi menjadi 21,7 persen. Sedangkan saham yang dikuasai publik ciut dari 29,33 persen menjadi 16,94 persen.

Kemudian muncul nama-nama baru. Zen Gem Investment Ltd., yang berkedudukan di British Virgin Islands, menguasai 14,34 persen. Adapun Inigo Investment Ltd. dan 1st Financial Company Ltd. keduanya berkedudukan di Seychelles, timur laut Madagaskar, punya 15,44 persen dan 11,47 persen. Sisanya TFI 11,86 persen dan Credit Suisse Singapore 8,26 persen. Komposisi itu bertahan hingga awal tahun ini.

Pada Februari, terjadi penjualan 23,6 persen saham. Nilai transaksinya Rp 49,22 miliar. Dari transaksi ini, nama 1st Financial Company Ltd. lenyap dari struktur pemegang saham. Pengganti nya Mount-8 Holdings Offshore Ltd., perusahaan yang berkedudukan di British Virgin Islands.

Bila ditotal, saham yang dimiliki tiga perusahaan yang berkedudukan di British Virgin Islands dan Seychelles itu 49,64 persen. Setelah dicek, alamat tiga perusahaan itu cuma PO box. Tidak ada kantor operasional di sana. “Biasanya nama perusahaan tidak jelas itu untuk menyamarkan pemilik aslinya,” kata sumber di pasar modal.

Yandhrie Arvian, Ahmad Rafiq (Solo)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: