Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Agustus 22, 2010

the bakries the buah bibir (b-power et al) … 080910

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 5:12 am

TAMBANG, 03 September 2010 | 19.28
Yogo Pratomo Menolak Bicara Problem 10.000 MW

Yogo Pratomo
Abraham Lagaligo
abraham@majalahtambang.com

Jakarta – TAMBANG. Ketua Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 Megawatt (MW) Tahap I, Yogo Pratomo, mendadak menolak berbicara seputar problem pelaksanaan crash program tersebut. Padahal pertengahan Agustus lalu, ia baru saja menggelar konferensi pers terkait progress proyek itu.

Kepada Majalah TAMBANG, Jumat, 3 September 2010, Yogo mengatakan berbagai kendala seputar pelaksanaan 10.000 MW Tahap I, adalah tanggung jawab PT PLN (Persero).

Seperti diketahui, pelaksanaan proyek 10.000 MW yang terus molor itu, dihadapkan berbagai kendala serius. Bukan hanya penyediaan batubara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang sudah jadi. Namun sejak awal, desain teknologi maupun lokasinya juga ditengarai bermasalah.

Pada akhir Agustus 2010, Direktur Utama (Dirut) PLN Dahlan Iskan sendiri yang bicara, pihaknya berencana impor batubara. Langkah ini untuk menutupi kebutuhan batubara, menyusul kehadiran sejumlah pembangkit baru pada 2010 dan 2011, yang masuk dalam program 10.000 MW Tahap I.

Pada awal September 2010, mencuat kembali persoalan lain. Desain teknologi pembangkit listrik 10.000 MW itu ternyata tidak bisa menggunakan batubara kalori 4.000 kcal/kg. Sejumlah kalangan menilai, ada kajian yang kurang optimal saat awal proyek itu dirancang dan dilaksanakan.

Sayangnya, ketika semua problem itu mencuat, Yogo malah tutup mulut. “Silahkan tanyakan itu ke Direktur Energi Primer PLN, Pak Nur Pamudji,” ujar Yogo, saat ditanya mengenai kendala pasokan batubara. Demikian pula saat ditanya mengenai perubahan spesifikasi kalori batubara yang dibutuhkan, untuk pembangkit 10.000 MW.

Jawaban yang sama kembali diungkapkan Yogo, saat ditanya mengenai desain teknologi PLTU 10.000 MW, yang tidak disertai FGD (flue-gas desulfurization). Demikian pula ketika ditanya tentang lokasi pembangunan PLTU, yang beberapa berada di pantai selatan sehingga menyulitkan pasokan batubara.

“Jadi sebagai Ketua Koordinator Tim Percepatan, tugas saya hanya membuat policy, kebijakan. Ketika proyek sudah dimulai, tanggung jawab beralih ke Direksi PLN,” tandasnya saat didesak.

Saat Majalah TAMBANG menanyakan progress 10.000 MW Tahap I, lagi-lagi Yogo meminta hal itu ditanyakan ke Direksi PLN. “Ke Direksi PLN saja Mas, ini saya kasih nomor telephonnya,” tukasnya. Padahal, baru pada 15 Agustus 2010 lalu ia menggelar konferensi pers seputar progress 10.000 MW Tahap I.

Soal sikap Yogo ini, dibenarkan oleh mantan Direktur Energi Primer PLN, Ali Herman Ibrahim. Pria yang mengaku ikut terlibat dalam perencanaan awal 10.000 MW Tahap I ini, menyatakan bahwa penyelesaian crash program itu sudah menjadi tanggung jawab PLN.

“Tim Koordinasi Percapatan hanya bertugas melaporkan progress kerja PLN untuk 10.000 MW, ke pemerintah. Soal teknis di lapangannya, itu tanggung jawab PLN,” tutur Direktur Utama PT bakrie Power ini kepada majalah TAMBANG, Jumat, 3 September 2010.
Yogyakarta Sosialisasikan Pencalonan Presiden Aburizal
RABU, 25 AGUSTUS 2010 | 14:25 WIB
Tempo/Eko Siwono Toyudho

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – Spanduk yang mencalonkan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie untuk pemilihan presiden 2014 terpasang di kantor DPD Partai Golkar DI Yogyakarta. Ical, panggilan Aburizal, membantah bila pemasangan spanduk itu atas sepengetahuan dirinya.

Spanduk yang hingga Rabu (25/8) masih terpampang di kantor DPD Partai Golkar itu bertuliskan: “Kemenangan hanya akan diperoleh oleh mereka yang siap untuk menang. Menang di Pileg dan Menang di Pilpres.” Dua foto di antara dua tulisan itu, satu foto milik ketua DPD Partai Golkar DIY Gandung Pardiman dan satunya foto Ical.

Gandung saat dikonfirmasi Tempo mengaku pemasangan spanduk ini sebagai upaya sosialisasi internal di lingkungan DPD Golkar Yogyakarta bahwa Ical adalah calon presiden 2014. “Kami serius mencalonkan beliau,” kata Gandung kepada Tempo, Rabu, (25/8).

Menurut Gandung, Golar tak pernah setengah-setengah mencalonkan presiden dari kadernya. “Yang siap pasti menang,” ujarnya berapi-api.

Adapun Aburizal yang sempat dikonfirmasi soal spanduk pencalonannya tersebut menepis dengan tegas. “Yang mau maju itu siapa? Nggak tahu, itu kan daerah yang memasang slogannya,” ujarnya ketika ditanya Tempo perihal pencalonannya tersebut di kantor DPD Partai Golkar DIY, Rabu (25/8).

Ical mengatakan telah meminta DPD Partai Golkar di seluruh Indonesia untuk tak membicarakan pemilihan presiden karena terlalu dini.

Apalagi, mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat ini belum bisa memutuskan pencalonannya sebagai presiden lantaran masih terlampau jauh. “Saya sendiri belum membuat keputusan apapun, masih lama, masih empat tahun,” katanya.

BERNADA RURIT
Bakrie Bukan lagi Motor Bursa
Jumat, 20 Agustus 2010 | 08:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Tahun 2008, saham-saham emiten dari grup Bakrie sempat menjadi penggerak utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun saat ini, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, saham-saham yang beken dengan julukan Seven Brothers justru terpuruk.

Kamis (19/8/2010), IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di 3.105,35, naik 1,08 persen dari penutupan hari sebelumnya. Jadi, sepanjang tahun ini, indeks sudah memberi keuntungan 22,53 persen. Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Gudang Garamg Tbk (GGRM), PT Astra International Tbk (ASII), dan pendatang baru PT Berau Coal Tbk (BRAU) hari ini menjadi pendorong kenaikan indeks.

Sekitar dua tahun silam, saham-saham grup Bakrie begitu bertaji dalam menentukan hijau merahnya IHSG. Tapi roda nasib Seven Brothers sekarang sudah berputar ke bawah. Saat sebagian besar harga saham melaju, harga saham tujuh emiten dari grup Bakrie justru terkapar.

Bahkan, lima dari tujuh samurai Bakrie tersebut jatuh di harga terendah mereka tahun ini. Mereka adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Meski juga turun, harga saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tidak jatuh ke level terendahnya tahun ini.

Kemarin, harga saham BUMI terjun 9,79 persen menjadi Rp 1.290 per saham. Dibandingkan harga saham tertingginya Rp 8.550 per saham pada 12 Juni 2008, emiten kebanggaan grup Bakrie ini sudah turun 84,91 persen.

Harga saham ELTY terpangkas 4,95 persen tinggal Rp 96 per saham. Padahal, pada 28 Februari 2008, ELTY mencapai harga tertingginya di Rp 680 per saham. Jadi, harganya sudah diskon 85,88 persen.

Harga saham UNSP anjlok 9,62 persen menjadi Rp 235 per saham. Jadi, saham ini sudah jatuh 91,51 persen dari harga tertingginya, Rp 2.769 per saham, pada 14 Januari 2008.
Senasib, harga saham DEWA terkoreksi 7,27 persen menjadi Rp 51 per saham. Saham ini pernah dihargai paling mahal di Rp 615 per saham pada 28 Desember 2007. Jadi kini nilainya sudah berkurang sekitar 91,71 persen .

Sementara saham BNBR sudah sekitar sebulan terakhir tidak beranjak dari level terendahnya di harga 50 perak. Padahal, induk usaha grup Bakrie ini pernah dihargai Rp 718 per saham pada 15 Februari 2008. Hitung punya hitung, nilai saham ini sudah menyusut 93,04 persen .

Saham BTEL juga tak beranjak dari harga Rp 148 per saham. Tapi, jika dibandingkan dengan harga tertingginya di Rp 407 per saham pada 4 Januari 2008, harga saham ini sudah terpangkas 63,64 persen .

Terakhir, harga saham ENRG terdiskon 17,17 persen menjadi Rp 82 per saham. Harga ini lebih murah 94,21 persen ketimbang harga tertingginya pada 9 Januari 2008 di Rp 1.415 per saham.

Melihat sepak terjang Tujuh Bersaudara belakangan ini, investor yang telanjur menggenggam saham mereka agaknya hanya bisa pasrah. Kekeliruan pencatatan data keuangan, serangkaian aksi rights issue berikut rencana utang seolah memupus harapan harga Seven Brothers untuk naik lagi. (Asih Kirana Wardani /Kontan)
Editor: Erlangga Djumena | Sumber :KONTAN

2 Komentar »

  1. Oh nasib…. oh nasib…! Pupuskah sudah harapan….?

    Komentar oleh Suz Ana — Agustus 22, 2010 @ 11:04 pm

    • menunggu nasib emang kuat ? hmmm, lawan donk🙂 … emangnya gampang😛

      Komentar oleh bumi2009fans — Agustus 23, 2010 @ 7:07 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: