Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Agustus 22, 2010

YANG TERJERAT, YANG MO LEPA$ (bnbr,b-life) … 030111(updt)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 10:31 pm

BUSET THE BAKRIES BANYAK MAUNYA dan SIBUK BIKIN PUYENK REGULATOR dan INVESTOR neh

BUSET THE BAKRIES BANYAK MAUNYA dan SIBUK BIKIN PUYENK REGULATOR dan INVESTOR neh


Senin, 03/01/2011 19:13 WIB
Bakrie & Brothers Selesaikan Utang Rp 2 Triliun
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) telah menyelesaikan utang kepada sejumlah kreditor, termasuk Piper, Price & Company Limited dan Brenwood Ventures Pte Ltd, dengan nilai Rp 2,251 triliun.

Menurut Direktur dan Corporate Secretary BNBR, Sri Dharmayanti, skema penyelesaian utang menjadi bagian dari kesepakatan perseroan dengan kreditur, seperti tercantum dalam Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA), Settlement Agreement, dan Buy Back Agreemnet yang ditandatangani 19 November 2010.

Di mana disepakati perseroran akan menyelesaikan utang sejumlah Rp 2.251.825.670.981 kepada Piper, Price & Company Limited dan Brenwood Ventures Pte Ltd. Penyelesaian utang baru tuntas (closing) dilakukan perseroan pada 30 Desember 2010.

Utang dibayar dengan saham perseroan di sejumlah anak usaha grup Bakrie sebagai jaminan kepada kreditur. Saham-saham tersebut diantaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Energi MEga Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), serta PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).

Tidak diterangkan rinci berapa masing-masing jumlah saham yang dijaminkan. Namun BNBR menegaskan, transaksi tersebut berjenis material dan dikecualikan berdasarkan peraturan Bapepam-LK No. IX.E.2.

“Transaksi penjanjian penyelesaian utang tersebut tidak dilakukan dengan pihak yang terafiliasi dari perseroan,” jelas Dharmayanti dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (3/1/2011).

(wep/dnl)
Bakrie Terbitkan Notes US$109 Juta
Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Selasa, 21 Desember 2010 | 09:36 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) telah menandatangani Subscription Agreement dengan Eurofa Capital Investment Inc untuk menerbitkan equity notes senilai US$109 juta yang jatuh tempo pada 16 Desember 2015.

Hal ini disampaikan R.A Sri Dharmayanti, Direktur & Corporate Secretary BNBR dalam keterbukaannya, Selasa (21/12). Berdasarkan Subscription Agreement, pemegang Notes berhak untuk mengkonversikan jumlah pokok atas Notes menjadi saham Perseroan.

Namun, Perseroan diharuskan untuk mengirimkan saham Perseroan ke pemegang Notes karena Hak Konversi. Perseroan memiliki opsi untuk membayar pemegang Notes senilai maksimal US$109 juta untuk memenuhi seluruh atau sebagain Hak Konversi tersebut.

Bakrie & Brothers Akan Terbitkan Obligasi
Obligasi itu untuk membiayai utang jangka pendek yang jatuh tempo 2011.
Kamis, 9 Desember 2010, 12:16 WIB
Nur Farida Ahniar, Purborini

VIVAnews- PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan menerbitkan obligasi senilai US$150 juta (Rp1,35 triliun) pada kuartal pertama tahun 2011. Obligasi itu untuk membiayai utang yang jatuh tempo pada 2011.

“Kami banyak mempunyai utang jangka pendek, dengan refinancing ini
kami berharap bisa memperpanjang waktu tenor obligasi,” kata Direktur
Keuangan BNBR Eddi Suparno di Jakarta 9 Desember 2010.

Sebenarnya perseroan berencana menerbitkan obligasi ini pada Januari
2011. Namun, perseroan masih konsentrasi dengan penyelesaian
transaksi dengan Vallar Plc terlebih dahulu,”Jadi kemungkinan setelah transaksi itu selesai,” kata Eddi.

Perseroan optimis dapat menurunkan utang hingga Rp2 triliun hingga
akhir tahun. BNBR sendiri telah menurunkan porsi utang sebesar Rp1,3 triliun hingga 30 September 2010.

Hingga kuartal III-2010, Bakrie & Brothers mencatatkan
peningkatan pendapatan sebesar 74,1 persen dari Rp5,33 triliun pada
periode sama tahun lalu menjadi Rp9,28 triliun. Sementara itu, laba usaha tumbuh 44,6 persen dari Rp514,85 miliar menjadi Rp744,47 miliar.

Kenaikan itu didukung kinerja PT Bakrie Energy International, unit usaha Bakrie & Brothers, yang mencatatkan penjualan senilai Rp3,58 triliun. Selain itu, ekspansi di sektor telekomunikasi dan perkebunan melalui perluasan jaringan serta pembelian perangkat telekomunikasi baru, perluasan lahan perkebunan serta akuisisi di sub sektor oleochemical, memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perseroan.
• VIVAnews
06 Desember 2010
Apes Petronas di Kepodang

Kantor Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi di Plaza Migas Centris Jakarta sudah sepi, Jumat malam dua pekan lalu. Jam kerja pegawai sudah selesai. Tapi Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Evita Legowo masih menggelar rapat bersama Deputi Perencanaan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Haposan Napitupulu serta anggota Badan Pengatur Hi-lir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Hanggono Tjahjo Nugroho, di ruang rapat lantai 16. Mereka membahas rencana pengembangan lapangan gas Kepodang. “Kepodang akan dikembangkan sesegera mungkin,” kata Evita kepada Tempo pekan lalu.

Ketiga pejabat itu sedang dikejar waktu. Bulan lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh mengeluarkan memo yang memerintahkan agar salah satu ladang gas di Blok Muriah itu segera dikembangkan. Sejak dilelang dan diserahkan penge-lolaannya kepada Shell Muriah BV 19 tahun silam, ladang gas yang terletak di Laut Jawa itu-tepatnya 180 kilometer utara Semarang-sama sekali belum menghasilkan. Konstruksi fasilitas produksinya saja belum dibangun. Padahal, dengan cadangan 480 miliar kaki kubik, wilayah kerja kontrak gas yang dikelola Petronas Carigali Muriah Limited itu digadang gadang menjadi salah satu andalan pemasok gas bagi Pulau Jawa.

Petronas bukannya tak berbuat sesuatu untuk mengembangkan Kepodang. Setahun setelah membeli 100 persen kepemilikan Kepodang dari BP Muriah Limited pada 2004, Petronas berhasil mendapat persetujuan rencana pengembangan dari pemerintah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro saat itu menyetujui pengembangan lapangan Kepodang di Blok Muriah dengan menggunakan skema hulu. Artinya, Petronas mengelola semua kegiatan mulai dari produksi (hulu) hingga pendistribusian gasnya (hilir). “Mereka sangat serius karena ini proyek gas pertama di luar Malaysia,” kata Haposan.

Namun belakangan Petronas berencana balik arah. Sumber Tempo mengungkapkan, perusahaan minyak -milik pemerintah Malaysia itu akan meninjau ulang keekonomian lapangan Kepodang. Alasannya, mereka hingga ki-ni tak kunjung bisa memulai produksi. Puncak kekesalan Petronas terjadi setahun terakhir. Saat Petronas berniat memulai tahap produksinya, pemerintah justru sibuk membahas rencana mengubah pengembangan Kepodang dari skema hulu menjadi skema hilir. Petronas tetap mengelola lapangan produksi lapangan Kepodang, tapi mereka tak berhak lagi menangani pendistribusian gasnya.

Padahal, kata sumber tadi, sejak tahun lalu Petronas sudah berencana membangun pipa penyalur gas dari Kepodang ke pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) Tambak Lorok di Semarang, setelah mereka -menyepakati jual beli dengan PT PLN. Rencana perubahan skema hulu menjadi skema hilir terjadi setelah PT Bakrie & Brothers berniat menggarap pembangunan pipa Kepodang. “Sejak tahun lalu Grup Bakrie meminta agar pendistribusian dikerjakan mereka,” ujarnya.

Manajemen Petronas Carigali menolak berkomentar. Begitu pula induknya, Petroliam Nasional Berhad (Petronas). General Manager Petronas Carigali Muriah Limited, Zainal Anuar Abdullah, kepada Tempo cuma berujar singkat. “BP Migas paling berhak dimintai keterangan mengenai permasalahan ini. Silakan tanya mereka.”

Kepala BP Migas R. Priyono membenarkan bahwa pemerintah akhirnya memutuskan pembangunan pipa ladang Kepodang ke Semarang menggunakan skema hilir. Tapi dia mengaku tak tahu bahwa Petronas kesal karena keputusan pemerintah itu. Yang jelas, kalaupun skema pengembangan Kezpodang diubah menjadi hilir, Priyono memastikan tak akan mengubah rencana bisnis yang sudah disusun Petronas. “Sepanjang keekonomiannya masuk, jadwalnya tidak mundur. Apakah dalam posisi mereka itu tidak oke?” katanya kepada Tempo di Jakarta pekan lalu.

l l l

TARIK ulur pembangunan pipa gas Kepodang bermula tahun lalu. Saat itu Petronas baru saja menegosiasi rencana jual beli gas dengan PLN untuk kebutuhan pembangkit listrik Tambak Lorok. Direktur Energi Primer PLN Nur Pamudji masih ingat PLN berhasil menyepakati rancangan perjanjian sekitar Juli 2009.

Saat itu, kata dia, negosiasi menghasilkan harga yang sangat baik. Harga gas yang diterima PLN kurang dari US$ 5 per juta British Thermal Unit atau juta kaki kubik. Petronas berkomitmen mengalirkan gas dari Kepodang 116 juta kaki kubik per hari. Gas akan dipasok selambat lambatnya 36 hari setelah perjanjian jual beli diteken. “Tapi Petronas harus mengajukan persetujuan hasil kesepakatan ini ke pemerintah,” kata Nur kepada Tempo pekan lalu.

Demi merealisasikan rencana itu, Petronas berencana membangun pipa gas sepanjang kurang lebih 210 kilometer dari bibir sumur Kepodang menuju Semarang. Itu sesuai dengan skema hulu yang telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah Indonesia pada 2005. Celakanya, rencana jual beli gas Petronas PLN tak kunjung mendapat persetujuan. “Kabarnya, skema pipanya diubah menjadi hilir,” ujar Nur.

Nur khawatir, rencana awal menerima gas Kepodang pada 2012 bakal molor. Maklum, gas dari Kepodang diharapkan bisa menekan biaya produksi listrik di pembangkit Tambak Lorok. Selama ini ongkos bahan bakar Tambak Lorok sangat tinggi karena menggunakan solar (lihat “Hemat Menguap Bersama Solar”).

Belakangan diketahui BPH -Migas mengusulkan perubahan skema pe-ngembangan Kepodang. Sumber Tempo di BPH Migas mengatakan, awalnya mereka menerima protes dari PT -Bakrie & Brothers Tbk., sebagai pemenang lelang pembangunan pipa transmisi gas Kalimantan Jawa Tengah (Kalija) pada 2006. Perusahaan yang dikendalikan keluarga Bakrie itu tak bisa merealisasikan rencana pembangunan pipa transmisi gas Kalija karena tak adanya kepastian pasokan gas dari Bontang. Berulang kali BPH Migas menanyakan masalah ini kepada pemerintah. “Tapi tak pernah ada kejelasan,” bisiknya.

Jadilah Bakrie & Brothers melirik Kepodang sebagai alternatif menghidupkan Kalija. Mereka mengajukan ren-cana agar pembangunan pipa Kepodang ke Tambak Lorok dimasukkan sebagai bagian dari pipa Kalija tahap pertama. “Jika permasalahan gas di Bontang untuk Kalija tak ada, sebenarnya tak akan ada persoalan di Kepodang,” ujar si sumber tadi. Sejak saat itulah BPH Migas menyodorkan usul agar skema proyek Kepodang diubah menjadi skema hilir. Direktur Utama -Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar juga beberapa kali mengirim surat langsung ke Menteri Energi untuk meminta dukungan.

Niat Bakrie akhirnya kesampaian. Setelah berulang kali rapat digelar setahun terakhir, skema hilir diputuskan lebih ekonomis dan menghasilkan penerimaan negara lebih besar. Dengan asumsi tarif pengangkutan gas (toll fee) dari Bakrie US$ 0,37 per juta Bri-tish Thermal Unit atau juta kaki kubik, hingga akhir masa kontrak Kepodang pada 2021 skema hilir diperkirakan akan menghasilkan pendapatan bagi negara US$ 679,56 juta (Rp 6,32 triliun). Dengan skema hulu, pendapatan negara US$ 679,49 juta (Rp 6,31 triliun).

Menurut BPH Migas Tubagus Har-yono, skema hilir juga akan lebih menguntungkan karena bersifat open access. Artinya, jika masa kerja Kepodang habis, pipa itu tetap bisa dimanfaatkan oleh sumber gas lain. “Bandingkan kalau itu dimiliki Petronas, jika proyek selesai, pipanya tak bisa dipakai siapa siapa lagi,” katanya.

Namun sumber Tempo di Kementerian Energi menyesalkan cara berpikir rekan rekannya. Selisih pendapatan antara hilir dan hulu sebenarnya sangat kecil. Jumlahnya tak sebanding dengan kerugian negara akibat molornya jadwal penerimaan gas Kepodang oleh PLN. Dengan perubahan skema, diperlukan waktu lebih panjang bagi Petronas untuk menyesuaikan rencana proyeknya. Sang sumber juga mempertanyakan mengapa pemerintah tak menenderkan saja pipa Kepodang jika memang skema hilir lebih baik. “Dengan begini, Bakrie seperti diberi keistimewaan menguasai pipa gas itu selamanya,” katanya.

Bobby Gafur membantah perusaha-annya mendapat keistimewaan dari pemerintah. Menurut dia, Bakrie & Bro-thers memang berniat menggarap pipa gas Kepodang Tambak Lorok. Tapi dia membantah niat itu sebagai upaya merebut, apalagi mengganggu rencana Petronas mengembangkan lapangan gas Kepodang. “Kami justru ingin agar pipa gasnya cepat terbangun agar lapangan gas Kepodang cepat menghasilkan. Coba berapa lama itu tak ada hasilnya?” ujarnya kepada Tempo pekan lalu.

Lebih jauh Bobby mengatakan, pro-yek Kepodang sudah terlambat empat tahun sebelum Bakrie & Brothers terlibat. Karena itu pasokan gas harus segera direalisasikan. Problemnya, isu teknis yang harus dibahas dengan pemerintah dan pihak lain tidaklah mudah. Walhasil, masih harus menunggu waktu. “Beruntung sekarang sudah tahap akhir, dan menunggu persetujuan pemerintah.”

Agoeng Wijaya

Kepemilikan Investor Asing di BNBR Naik
Headline

Oleh:
Pasar Modal – Kamis, 9 Desember 2010 | 05:15 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kepemilikan investor asing di Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengalami kenaikan dari sebelumnya 48,92 miliar saham menjadi 50,58 miliar saham.

Berdasarkan laporan kepemilikan Perseroan ke BEI, Rabu (8/12) disebutkan Mellon Bank NA S/A For AGF Cundill Recovery Fund memiliki 9,07% saham di BNBR atau setara dengan 8,5 miliar saham, sedang Credit Suisse Singapore Baranch S/A Bright Ventures Pte Ltd-BNBR memiliki 21,61% atau 20,25 miliar saham di BNBR.

Untuk pemodal nasional mengalami penurunan kepemilikan di BNBR menjadi dari sebelumnya 44,8 miliar saham menjadi 43,14 miliar saham.

Adapun rincian kepemilikan asing di BNBR adalah perorangan asing (146 orang) memiliki 0,27% atau 251,69 juta saham, badan usaha asing (313 institusi) memiliki 53,7% atau 50,33 miliar saham. Sedang untuk investor lokal, perorangan Indonesia (21.954 orang) memiliki 27,63% atau 25,89 miliar saham dan Perseroan Terbatas (367 institusi) memiliki 18,4% atau 17,25 miliar saham. [cms]

Mackenzia Beli Saham Bakrie
Headline

Oleh:
Pasar Modal – Sabtu, 4 Desember 2010 | 08:10 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Mackenzia Financial Corporation (MFC) telah membeli 999,99 juta saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) pada perdagangan 15-18 November 2010.

Dalam laporan kepemilikannya ke BEI seperti dikutip INILAH.COM, Sabtu (4/12) BNBR memaparkan pada tanggal 15 November 2010, MFC telah membeli 418,49 juta saham di harga Rp55,34 sehingga posisi kepemilikan menjadi 8,45% atau sekitar 7,92 miliar saham.

Kemudian MFC kembali membeli saham BNBR pada 16 November 2010 sebanyak 815 juta saham di harga Rp56,61 sehingga kepemilikannya menjadi 8,54% atau setara dengan 8 miliar saham. MFC membeli lagi saham BNBR sebanyak 500 juta saham di harga Rp68,76 pada 18 November 2010, sehingga kepemilikannya menjadi 9,07% atau setara dengan 8,5 miliar saham. [cms]

Bakrie & Brothers Pangkas Utang Rp1,3 Triliun
Pendapatan perseroan hingga 30 September juga naik 74,1 persen menjadi Rp9,28 triliun.
Jum’at, 26 November 2010, 21:46 WIB
Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – Hingga kuartal III-2010, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 74,1 persen dari Rp5,33 triliun pada periode sama tahun lalu menjadi Rp9,28 triliun.

Selama periode tersebut, Bakrie & Brothers juga sukses menekan beban utangnya. Perseroan telah menurunkan porsi utang sebesar Rp1,3 triliun hingga 30 September 2010.

Bakrie & Brothers telah membayar sejumlah pinjaman jangka pendek. “Ini menjadi bagian yang strategis dari program revitalisasi keuangan perseroan,” kata Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) Bakrie & Brothers, Bobby Gafur Umar, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat 26 November 2010.

Sementara itu, laba usaha tumbuh 44,6 persen dari Rp514,85 miliar menjadi Rp744,47 miliar.

“Melihat hasil ini, kami optimistis program revitalisasi keuangan yang sedang kami jalankan akan membawa Bakrie & Brothers berkinerja lebih baik,” ujar Bobby.

Bobby menjelaskan, kenaikan signifikan pendapatan perseroan didukung kinerja positif PT Bakrie Energy International, unit usaha Bakrie & Brothers, yang sukses mencatatkan penjualan senilai Rp3,58 triliun.

Selain itu, menurut dia, ekspansi berkesinambungan di sektor telekomunikasi dan perkebunan melalui perluasan jaringan serta pembelian perangkat telekomunikasi baru, perluasan lahan perkebunan serta akuisisi di sub sektor oleochemical, memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perseroan.

Kendati demikian, beban keuangan Bakrie & Brothers juga meningkat secara konsolidasi dari PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk dan PT Bakrie Telecom Tbk. “Beban bunga konsolidasi meningkat menjadi Rp1,46 triliun, sehingga perseroan mencatatkan rugi bersih Rp565,9 miliar,” tuturnya.

Bobby juga menjelaskan, sejalan dengan kegiatan usaha inti sebagai perusahaan investasi, Bakrie & Brothers mengubah pencatatan investasinya di beberapa perusahaan asosiasi, yakni PT Bumi Resources Tbk, PT Energi Mega Persada Tbk, dan PT Bakrieland Development Tbk.

Pencatatan yang semula dengan metode ekuitas diubah menjadi fair market value. Metode baru ini mengharuskan pencatatan dilakukan secara marked to market. “Hasilnya, perubahan pencatatan itu berdampak dengan peningkatan ekuitas dari Rp4,85 triliun pada 2009 menjadi Rp8,27 triliun, atau naik 70 persen,” tuturnya.

Ia optimistis, kegiatan investasi yang dijalankan, hasilnya akan terlihat dalam waktu dekat, seperti aksi korporasi memasuki bursa efek London melalui Vallar PLC. (sj)
• VIVAnews
Parah, Rugi Bersih Perusahaan Induk Bakrie Melonjak 737%
Minggu, 28 November 2010 – 10:51 wib
Widi Agustian – Okezone

JAKARTA – PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) mencatatkan peningkatan rugi bersih yang signifikan pada periode Januari-September 2010. Rugi bersih perusahaan induk (holding) usaha dari Grup Bakrie tersebut melonjak hingga 737 persen.

Rugi bersih perseroan pada periode Januari-September 2010 tersebut bertambah menjadi Rp565,99 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2009 yang sebesar Rp67,62 miliar.

Kondisi ini diakibatkan beban bunga yang meningkat hingga 441,5 persen karena besarnya utang perseroan serta naiknya beban pokok penjualan hingga 130,45 persen.

Adapun total kewajiban perseroan tampak naik menjadi Rp26,64 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp15,7 triliun. Di mana jumlah kewajiban lancar naik menjadi sebesar R9,2 triliun dibandingkan sebelumnya Rp4,3 triliun. Kewajiban tidak lancar juga naik hingga menjadi Rp17,43 triliun dari sebelumnya Rp11,37 triliun.

Demikian seperti terungkap dalam laporan keuangan perseroan yang ditandatangani oleh Direktur Utama BNBR Gafur Sulistyo Umar dalam laporannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Minggu (28/11/2010).

Padahal, perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 74,22 persen menjadi sebesar Rp9,28 triliun pada periode sembilan bulan pertama 2010 dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp5,33 triliun.

Tapi, tampaknya peningkatan beban pokok pendapatan yang sebesar 130,45 persen melebihi kenaikan pendapatan yang cuma 74,22 persen. Beban pokok penjualan perseroan naik menjadi Rp6,13 triliun dari sebelumnya Rp2,66 triliun.

Alhasil, laba kotor perseroan cuma tercatat sebesar Rp3,15 triliun pada laporan keuangan yang berakhir pada September 2010 tersebut. Sebagai perbandingan, laba kotor pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,67 triliun.

Sementara laba usaha tercatat sebesar Rp744,5 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp514,9 miliar.

Tak hanya itu, beban bunga bersih perseroan juga mengalami lonjakan yang signifikan sebesar 441,5 persen menjadi Rp1,46 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang cuma Rp270,4 miliar.

Beban bank perseroan juga mengalami peningkatan menjadi Rp63,7 miliar dari sebelumnya Rp11,4 miliar. Begitu juga dengan beban pajak perseroan naik menjadi Rp11,9 miliar dari sebelumnya yang hanya Rp3,3 miliar.

Bagian laba atas laba bersih perusahaan asosiasi juga turun menjadi cuma Rp203,7 miliar dari sebelumnya Rp390,5 miliar.

Walau demikian, jumlah aset perseroan mengalami kenaikan menjadi Rp42,94 triliun pada periode Januari-September tersebut dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp24,75 triliun.(wdi)
Bakrie Rugi Penjualan Saham Rp375,17 Miliar
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh:
Pasar Modal – Sabtu, 27 November 2010 | 11:28 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk dan anak usahanya mencatatkan kerugian penjualan saham bersih sebesar Rp375,17 miliar pada kuartal 3-2010 setelah rugi Rp376,34 miliar pada periode serupa 2009.

Dalam laporan publikasi Bakrie yang dikutip INILAH.COM, Sabtu (27/11) juga disebutkan rugi per saham Perseroan mencapai Rp6,04. Pada kuartal 3-2010 Perseroan mengalami kerugian penjualan aset tetap sebesar Rp2,19 miliar setelah rugi Rp2,18 miliar di periode serupa 2009.

Beban bank tercatat sebesar Rp63,67 miliar, sementara Bakrie menerima Rp204,69 miliar dari laba berish anak usaha.

Beban pajak Perseroan pada kuartal 3-2010 juga masih tercatat sebesar Rp11,93 miliar atau naik dibanding periode serupa 2009 sebesar Rp3,3 miliar. [cms]

Jumat, 26/11/2010 21:15 WIB
Beban Bunga Utang Tinggi, Bakrie Brothers Rugi Rp 565 Miliar
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengalami kerugian Rp 565,9 miliar pada kuartal III-2010, padahal pada periode yang sama tahun lalu perusahaan ini tercatat masih untung Rp 40,48 miliar.

Presiden Direktur BNBR Bobby Gafur Umar mengatakan, kerugian ini dialami karena beban bunga utang di kuartal III-2010 meningkat menjadi Rp 1,46 triliun.

“Beban bunga konsolidasi BNBR meningkat menjadi Rp1,46 triliun sehingga perseroan mencatatkan rugi bersih senilai Rp 565,9 miliar,” ujar Bobby dalam siaran pers, Jumat (26/11/2010).

Padahal sampai kuartal III-2010 pendapatan perseroan dikatakan Bobby meningkat 74,1% menjadi Rp 9,18 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 5,33 triliun. Ini mengakibatkan laba usaha perseroan pada periode itu meningkat 44,6% menjadi Rp 744,47 miliar.

Menurut Bobby peningkatan pendapatan ini karena penjualan yang meningkat dari unit usaha BNBR yakni PT Bakrie Energy International senilai Rp 3,58 triliun.

Karena beban utang perseroan yang tinggi, Bobby mengatakan akan terus menurunkan beban utang perseroan. Sampai kuartal III-2010, perseroan mengaku sudah mengurangi nilai utangnya Rp 1,3 triliun.

“Perseroan telah membayar sejumlah pinjaman jangka pendek. Ini menjadi bagian yang strategis dari program revitalisasi keuangan BNBR,” jelas Bobby.

(dnl/dnl)
Bakrie Moves to Available for Sale Method
Wednesday, 24 November 2010 18:52

Theindonesiatoday.com – PT Bakrie & Brothers (BNBR) Tbk has decided to change the reporting method of its ownership in three companies from equity method to available for sale method.

BNBR told the Capital Market Supervisory Agency (Bapepam) today that since Nalinkant A Rathod and Ari Saptari Hoedaja resigned as CEO and director the company, the company is no longer having “significant influence” on associated companies PT Bumi Resources (BUMI) Tbk and PT Energi Mega Persada (ENRG) Tbk.

The company’s ownership in property developer PT Bakrieland Development (ELTY) Tbk has also declined to below 20%, BNBR said.

“As a result, reporting method on BUMI, ENRG, and ELTY for financial statement for the period ended September 2010 and onwards will be changed from equity method to available for sale,” the company said. bintang@theindonesiatoday.com
Bakrie cut loss Rp15,21 triliun
OLEH ARIF GUNAWAN S.

& FIRMAN HIDRANTO Bisnis Indonesia

Bumi Minerals siapkan non-preemptive rights issue untuk cicil utang Bumi JAKARTA: Grup Bakrie membukukan kerugian harga pasar (capital loss) senilai Rp15,21 triliun dari pelepasan 25% saham PT Bumi Resources Tbk ke Vallar Plc.
Kerugian itu terjadi karena tukar-guling saham itu dilakukan pada harga Rp2.495, atau 53,97% lebih rendah dari harga pembelian saham Bumi oleh PT Bakrie and Brothers Tbk pada Rp5.420, melalui penerbitan saham baru (rights issue) 2 tahun lalu.

Dengan jumlah saham 5,2 miliar, nilai saham yang dilepas ke Vallar hanya Rp12,97 triliun pada harga Rp2.495, atau selisih Rp15,21 triliun dibandingkan dengan nilai pembelian saham tersebut oleh Bakrie and Brothers pada 2008 senilai Rp28,18 triliun pada harga Rp5.420.

Menanggapi itu, analis PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo menilai dalam skema tukar guling saham Bumi kepada Vallar, grup Bakrie terhitung berada pada posisi merugi (cut loss) jika melihat harga pembelian mereka yang jauh lebih tinggi.

“Tukar guling ini merupakan langkah strategis perseroan meraih dana dari sumber baru. Namun, dengan posisi cut loss Bak
rie and Brothers sebesar itu, pemegang saham minoritas perlu dimintai persetujuan atau tidak?” ujarnya di Jakarta kemarin.

Pelaku pasar, lanjutnya, sejauh ini merespon transaksi tukar guling itu dengan membeli saham kedua perusahaan tersebut, menafikan posisi cut loss Bakrie and Brothers. Akibatnya, harga saham kedua emiten Bakrie itu melonjak signifikan.

Dua hari setelah pengumuman kesepakatan dengan Vallar, harga saham Bakrie and Brothers di pasar melonjak ke posisi penutupan tertinggi 6 bulan terakhir, yakni Rp76 per lembar dengan kapitalisasi pasar Rp6,84 triliun.

Di sisi lain, harga saham Bumi pada 18 November juga menguat 7,69% dibandingkan dengan posisi penutupan sehari sebelumnya pada Rp2.600 per lembar. Kapitalisasi saham eksportir batu bara terbesar di Asia Tenggara tersebut menguat menjadi Rp59,2 triliun. (lihat grafis) Manajemen Bakrie & Brothers dalam keterangan resminya menyebutkan transaksi tersebut tidak tergolong material, karena biasa dilakukan oleh perusahaanperusahaan investasi seperti posisi Bakrie and Brothers sekarang.

Nirwan Bakrie, pemimpin sekaligus operator berbagai transaksi besar Grup Bakrie yang berhasil ditemui di Jakarta kemarin mengatakan transaksi itu menguntungkan Grup Bakrie karena Vallar akan ikut menalangi utang Bakrie dan meningkatkan tata ke
lola perusahaan.

Dia menambahkan Nathaniel Rothschild, anak Jacob Rothschild yang akan memimpin Bumi Plc bersama Indra Bakrie, akan datang ke Indonesia akhir bulan ini untuk bertemu otoritas pasar modal. Seluruh transaksi tersebut diharapkan tuntas 8 April 2011.

Seperti diberitakan, Grup Bakrie melepas 25% sahamnya di Bumi kepada Vallar yang ditukar dengan 90,1 juta saham perusahaan investasi tambang milik keluarga Rothschild tersebut. Dari 25% saham itu, 14% milik Bakrie and Brothers dan 11% milik
PT Bakrie Capital Indonesia.

Vallar, yang namanya akan berubah jadi Bumi Plc, juga membeli 75% saham PT Berau Coal Energy Tbk dengan skema 35% dibayar tunai Rp6,57 triliun sisanya ditukar 52,3 juta saham Vallar. Transaksi itu sekaligus menjadikan Bakrie and Brothers sebagai induk Berau Energy.
kanisme penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau non-preemptive rights issue PT Bumi Resources Minerals.

“Jika situasi pasar bagus, kami akan melepas saham Bumi Minerals melalui non-preemptive rights issue yang bisa langsung diserap CIC (China Investment Corporation), dengan asumsi cadangan emas dan tembaganya nanti sudah terbukti,“ paparnya.

Sebaliknya, jika kondisi pasar tidak mendukung, upaya menggali dana untuk menambal utang tersebut akan dilakukan melalui pelepasan langsung ke investor strategis, atau kombinasi keduanya.

Manajemen Bumi berencana menurunkan utangnya sebesar US$800 juta menjadi US$2,4 miliar pada tahun depan, sebagian di antaranya adalah utang CIC senilai US$600 juta yang akan yang jatuh tempo pada Oktober 2011.

Berdasarkan prospektus pencatatan perdana (initial public offering/ IPO), Grup Bakrie masih memiliki 77,47% saham Bumi Minerals. Namun di dokumen publik itu, manajemen Bumi Minerals menegaskan tidak akan melepas saham lain ke pasar 12 bulan sejak IPO.

Nirwan menambahkan Grup Bakrie juga akan mendirikan pusat industri di Kalimantan Timur untuk mendongkrak nilai tambah produk tambangnya. Lahan yang disiapkan 20.000 hektare.
(arif.gunawan@bisnis.co.id/firman.
hidranto@bisnis.co.id)
Jumat, 19/11/2010 15:06:23 WIB
BNBR laporkan transaksi share swap
Oleh: Ratna Ariyanti bisnis
JAKARTA: PT Bakrie & Brothers Tbk telah menyampaikan penjelasan mengenai transaksi share swap (pertukaran saham) dengan Vallar Plc kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bakrie & Brothers R.A. Sri Dharmayanti tiba ke Bapepam-LK sekitar pukul 09.00 WIB dan diterima oleh Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa M. Noor Rachman dan Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil Anis Baridwan.

Noor Rachman menjelaskan bahwa otoritas pasar modal akan melakukan penelaahan terhadap sejumlah dokumen yang telah diserahkan pihak Bakrie & Brothers.

“Saat ini belum banyak yang bisa disampaikan. Akan dilihat dulu sejumlah hal, seperti apakah ini termasuk transaksi material atau tidak, dan hal lain, seperti apakah ada perubahan saham pengendali dari Bakrie & Brothers ke Bumi Resources,” ujarnya, siang ini di gedung Bapepam-LK.

Kemarin, Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menyebutkan bahwa transaksi dengan Vallar Plc bukan termasuk transaksi material karena Bakrie & Brothers adalah perusahaan investasi.

Transaksi material diatur dalam Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.E.2. tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.

Noor belum dapat memastikan berakhirnya penelaahan Bapepam-LK terkait transaksi ini.

“Pekan depan dilihat lagi. Kalau ada dokumen yang kurang, kami bisa memintanya kembali kepada manajemen Bakrie & Brothers,” tuturnya.

Bakrie & Brothers dan beberapa perusahaan di bawah payung kelompok Bakrie telah menandatangani perjanjian jual beli dengan Vallar untuk melepas 5,2 miliar saham PT Bumi Resources Tbk di harga Rp2.500 per lembar saham. Melalui transaksi ini, Grup Bakrie akan mendapatkan 90,1 juta saham baru di Vallar dengan harga 10 pound per lembar saham.

Grup Bakrie menguasai Vallar dengan kepemilikan saham sebesar 43%. Selain Grup Bakrie, terdapat pula nama PT Bukit Mutiara, anak usaha PT Recapital Advisors, yang memiliki saham Vallar sebesar 24,9%. Pemegang saham Vallar sebelumnya menguasai 28,3%, dan sisanya 3,8% dipegang oleh manajemen dan pendiri Vallar.

Setelah transaksi rampung, nama Vallar akan berubah menjadi Bumi Plc. (faa)
Kamis, 18/11/2010 18:37:19 WIB bisnis
BNBR ingin percepat transaksi dengan Vallar
Oleh: Stefanus Arief Setiaji
JAKARTA: PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berencana mempercepat penyelesaian transaksi perjanjian jual beli dengan Vallar Plc agar terhindar dari denda senilai US$150 juta, jika perseroan gagal menyelesaikan aksi korporasi tersebut sesuai batas waktu.

Perseroan akan meminta persetujuan dari para pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) yang akan digelar paling lambat 14 Januari 2011.

Bakrie & Brothers melego 25% kepemilikan sahamnya di PT Bumi Resources Tbk kepada Vallar Plc melalui skema penukaran 90,1 juta sahamnya.

Selain membeli Bumi Resources, Vallar yang dikendalikan oleh keluarga Rothschild ini membeli 75% saham PT Berau Coal Energy Tbk dengan skema 35% dibayar tunai senilai Rp6,57 triliun dan sisanya ditukar dengan 52,3 juta saham Vallar.

Jika para pemegang saham perseroan tidak menyetujui pengambilalihan anak usaha Bakrie & Brothers, Bumi Resources ini, proses akuisisi tersebut berpotensi batal.

“Kita akan percepat. Sebelum tenggat waktu, kita akan selesaikan seluruhnya,” ujar Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno seusai menyampaikan laporan aksi korporasi perseroan kepada otoritas bursa, hari ini.

Meksi demikian, dia belum bersedia menjelaskan secara rinci batas waktu penyelesaian transaksi ini, apakah akan diselesaikan tahun ini atau awal tahun depan. Seluruh proses transaksi ini diharapkan selesai pada 8 April 2011. (faa)

PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) telah menyampaikan secara formal mengenai aksi tukar saham kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).

Seperti diketahui, grup Bakrie melakukan aksi tukar saham dengan Rothschild untuk memiliki saham di Vallar Plc. BNBR melepaskan sebanyak 5,2 miliar saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada harga Rp2.500 per saham. Saham BUMI ini pun ditukar dengan 90,1 juta saham baru Vallar di mana BNBR akan menerima 50,5 juta saham baru di Vallar.

Sementara itu, PT Berau Coal Energy melepas 75% saham Bukit Mutiara ke Vallar. Perseroan akan menerima dana tunai sebesar 12.215 miliar saham atau 35% dengan harga Rp540 per saham. Selain itu, perseroan akan menukar saham sebesar 13.960 miliar saham atau 40% menjadi 52,3 miliar saham baru di Vallar. Transaksi ini dilakukan pada 16 November kemarin. Diharapkan aksi korporasi ini selesai pada April 2011.

Vallar salah satu perusahaan yang tercatat di bursa saham London pada Juli 2010. Perseroan memiliki aset sebesar US$1 miliar. Vallar tertarik untuk berinvestasi di sumber daya alam dan pertambangan.

Sumber : INILAH.COM

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tengah melakukan kajian pelepasan anak usaha non investasi, kepada investor asing. Nantinya BNBR tetap menjadi pemilik saham meskipun minoritas sehingga terwujud kerja sama baru.

Menurut Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno, pihaknya membuka diri dalam pelepasan anak usaha di bidang manufakturing diantaranya Bakrie Metal Indonesia, Bakrie Pipe, dan banyak lagi yang lain. Alasannya sebagai perusahaan investasi, marjin keuntungan perusahaan manufaktur jauh lebih rendah ketimbang perusahaan yang tercatat di pasar modal (listed).

“Mengelola bisnis manufaktur, marjin yang kita dapat hanya 10-15%, kalau investasi di perusahaan terbuka dalam satu tahun saja manjin bisa mencapai 50% sampai 100%,” ucapnya di gedung BEI, SCBD Jakarta, Kamis (18/11/2010).

Saat ini sudah ada beberapa calon investor yang menyatakan ketertarikannya dengan anak usaha BNBR. Namun, Eddy belum mau menyebutkan lebih rinci karena proses penawaran masih berlangsung. Yang jelas, calon investor seluruhnya berasal dari luar negeri.

“Ada beberapa yang membuka diri. Investor asing yang bawa duit. Nilai lumayan dan signifikan. Asetnya aja nggak murah, pabrik nggak murah. Bukan dijual. Tapi dikerjasamakan. Divestasi dan kita akan punya minoritas,” imbuh Eddy.

Sumber: detikcom

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengharapkan aksi tukar guling saham BUMI dengan Vallar Plc, perusahaan keluarga Rothschild ini akan rampung pada 14 Januari 2010. Perseroan pun menganggap aksi yang mereka lakukan, bukanlah transaksi material.

“Kita berharap 14 Januari,” ucap Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno saat ditemui di Gedung BEI, SCBD Jakarta, Kamis (18/11/2010).

Ia menambahkan, aksi tukar guling saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik BNBR dengan perusahaan keluarga Rothschild ini bukan dikatagorikan sebagai transaksi material. Namun jika BEI menganggap berbeda, perseroan akan patuh kepada peraturan yang berlaku.

“BNBR adalah perusahaan investasi, ini kegiatan utama kami. Menurut anggapan kami transaksi tersebut tidak material,” tutur Eddy.

Grup Bakrie bersama Recapital memang telah bersepakat dengan perusahaan investasi Rothschild, berupa aksi tukar saham (swap) antara saham Vallar Plc dengan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik BNBR, serta saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) milik Recapital melalui PT Bukit Mutiara.

BNBR akan melepaskan 5,2 miliar (25%) saham BUMI di harga Rp 2.500 per saham, senilai Rp 13 triliun kepada Vallar Plc. Vallar akan barter dengan 90,1 juta saham baru Vallar seharga GBP 10 per saham kepada BNBR. Dengan demikian BNBR akan menguasai 43% saham Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc akan memiliki 25% saham BUMI.

Sumber: detikcom

Saham BNBR Naik 15%
Headline
IST
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 18 November 2010 | 11:27 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Beberapa saham grup Bakrie mencatatkan kenaikan pada perdagangan saham Kamis (18/11). Saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) pun meningkat 15% ke level harga Rp69 pada pukul 11.10 WIB.

Saham BNBR naik 9 poin ke level Rp69 setelah sebelumnya pernah menyentuh harga Rp60 per saham. Saham BNBR dibuka pada level Rp61 per saham. Harga saham BNBR ini menyentuh harga terendah di level harga Rp61 dan tertinggi Rp69. Harga saham ini mengalami kenaikan setelah pemberitaan aksi korporasi yang dilakukan oleh BNBR dengan Rotschild.

Seperti diketahui, Bakrie akan melepaskan sekitar 5,2 miliar (25%) saham BUMI di level Rp2.500 per saham. Sedangkan, Vallar akan menyerahkan 90,1 juta saham baru (terdiri dari 62,7 juta saham biasa dan 27,4 juta saham biasa tanpa hak voting) senilai bernilai 10,00 per saham kepada Bakrie Group untuk membayar 25% saham BUMI itu.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 4,8% ke level harga Rp2.725 per saham pada pukul 11.20 WIB. Saha BUMI dibuka di level harga Rp2.625. Harga saham ini berada di level terendah pada harga Rp2.625 dan harga saham tertinggi Rp2.750. Kenaikan saham BUMI juga diikuti dengan kenaikan harga saham ENRG dengan naik 3,6% atau 4 poin ke level harga Rp115 per saham.

Harga saham PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) naik 1,38% atau 4 poin ke level harga Rp365 per saham. Saham UNSP menyentuh harga terendah di level Rp355 dan tertinggi Rp370 per saham. Sedangkan harga saham PT Darmahenwa Tbk (DEWA) naik empat poin ke level Rp78 per saham. Saham DEWA menyentuh harga terendah Rp74 per saham dan tertinggi Rp78 per saham. Namun, sayang saham PT Bakrie Telecommunication Tbk (BTEL) menurun lima poin ke level Rp245 per saham. Saham ini berada di level harga terendah Rp240 per saham dan tertinggi Rp250 per saham. [hid]
BNBR Lepas 5,2 Miliar Saham BUMI
Selasa, 16 November 2010 – 15:45 wib

Ade Hapsari Lestarini – Okezone

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan beberapa perusahaan dalam Kelompok Usaha Bakrie (Bakrie) menandatangani Perjanjian Jual Beli (Sale And Purchase Agreement) dengan Vallar PLC (Vallar) untuk melepaskan sekira 5,2 miliar saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Pelepasan saham tersebut terjadi di harga Rp2.500 per saham untuk mendapatkan sekira 90,1 juta saham baru di Vallar, di mana BNBR akan menerima sekira 50,5 juta saham baru di Vallar, seharga 10 poundsterling per saham.

“Setelah transaksi tersebut ditandatangani, Vallar akan berganti nama menjadi Bumi PLC,” kata Direktur Utama dan CEO BNBR Bobby Gafur Umar dalam keterangan tertulisnya kepada okezone, di Jakarta, Selasa (16/11/2010).

Dengan rampungnya transaksi dimaksud, Bakrie akan menjadi pemegang saham terbesar pada Bumi PLC serta berhak menunjuk posisi-posisi kunci di jajaran Direksi dan Manajemen Bumi PLC, khususnya posisi Chairman, CEO dan CFO di Vallar.

Dengan demikian Bakrie akan secara langsung maupun tidak langsung, memegang kendali manajemen dan operasi di BUMI. “Transaksi ini adalah sebuah kesepakatan win-win untuk Vallar, Bakrie termasuk BNBR serta para pemegang saham BNBR,” tandasnya.

Perjanjian ini juga akan menaikkan profil dan posisi BNBR secara internasional dengan kepemilikannya pada perusahaan pertambangan global yang tercatat di Bursa Utama Bursa Efek London.

Transaksi ini juga menciptakan perusahaan pertambangan global terkemuka dari Indonesia, yang akan melahirkan sinergi pasar, merampingkan proses pembuatan keputusan dan memberikan akses yang lebih besar ke pasar modal dan keuangan, sehingga memberikan nilai tambah yang signifikan bagi para pemegang saham BNBR.

“Kami memahami penuh daya tarik kelas dunia dan potensi pertumbuhan BUMI serta BRAU dan kami senang dan sangat antusias untuk bekerja sama dengan BNBR dan Bukit Mutiara untuk menciptakan sebuah perusahaan pertambangan global terkemuka,” kata Co-founder dan Direktur di Vallar, Nathaniel Rothschild.

Seperti diketahui, Credit Suisse akan menjadi penasehat keuangan utama bagi BNBR dan Bukit Mutiara dalam transaksi tersebut.(ade)

Bakrie-Rothschild Bangun Tambang Kelas Dunia
Headline
IST
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Selasa, 16 November 2010 | 17:56 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan beberapa perusahaan dalam Kelompok Usaha Bakrie (Bakrie) menandatangani Perjanjian Jual Beli (Sale And Purchase Agreement) dengan Vallar PLC (Vallar).

Dalam kesepakatan Bakrie akan melepaskan sekitar 5,2 milyar saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di harga Rp 2.500 per saham untuk mendapatkan sekitar 90,1 juta saham baru di Vallar, di mana BNBR akan menerima sekitar 50,5 juta saham baru di Vallar, seharga GBP 10 per saham (Transaksi).

Setelah transaksi tersebut ditanda tangani, Valar akan berganti nama menjadi Bumi PLC. Dengan rampungnya transaksi dimaksud, Bakrie akan menjadi pemegang saham terbesar pada Bumi PLC serta berhak menunjuk posisi-posisi kunci di jajaran Direksi dan Manajemen Bumi PLC, khususnya posisi Chairman, CEO dan CFO di Vallar. Dengan demikian Bakrie akan secara langsung maupun tidak langsung, memegang kendali manajemen dan operasi di BUMI.

Direktur Utama dan CEO BNBR Bobby Gafur Umar dalam siaran persnya, Selasa 916/11) mengatakan transaksi ini adalah sebuah kesepakatan win-win untuk Vallar, Bakrie termasuk BNBR serta para pemegang saham BNBR. Perjanjian ini juga akan menaikkan profil dan posisi BNBR secara internasional dengan kepemilikannya pada perusahaan pertambangan global yang tercatat di Bursa Utama Bursa Efek London. Transaksi ini juga menciptakan Perusahaan Pertambangan Global Terkemuka dari Indonesia yang akan melahirkan sinergi pasar, merampingkan proses pembuatan keputusan dan memberikan akses yang lebih besar ke pasar modal dan keuangan, sehingga memberikan nilai tambah yang signifikan bagi para pemegang saham BNBR.

Nathaniel Rothschild, Co-founder dan Direktur di Vallar mengatakan memahami penuh daya tarik kelas dunia dan potensi pertumbuhan BUMI serta BRAU. “Kami senang dan sangat antusias untuk bekerjasama dengan BNBR dan Bukit Mutiara untuk menciptakan sebuah “Perusahaan Pertambangan Global Terkemuka”. Kami percaya bahwa gabungan perusahaan tersebut akan secara ideal memposisikan diri meraih sejumlah peluang, baik secara domestik maupun internasional yang akan menjadi basis kami untuk melakukan konsolidasi industri di masa depan.

Credit Suisse adalah Penasehat Keuangan Utama bagi BNBR dan Bukit Mutiara dalam transaksi tersebut. [cms]

Kamis, 11 November 2010 | 18:29 oleh Abdul Wahid Fauzie, Anna Suci Perwitasari kontan
AKSI GRUP BAKRIE
BNBR berkomitmen menebus kembali saham BUMI yang dijaminkan

JAKARTA. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) telah meneken perjanjian share swap dengan Greencore. Induk perusahaan investasi yang memayungi anak-anak perusahaan dalam grup Bakrie ini menjaminkan sekitar 4,8% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk mendapatkan dana segar.

Dengan skema share swap itu, sejatinya, BNBR bisa membayar utang kepada Greencore itu cukup dengan menyerahkan saham BUMI yang menjadi jaminan. Namun BNBR menegaskan tetap akan menebus kembali saham BUM yang dijaminkan tersebut. “Kami memiliki opsi untuk membeli saham itu hingga empat tahun ke depan, kami cenderung ingin tetap memiliki saham BUMI,” imbuh Eddy Soeparno, Direktur Keuangan BNBR.

Alasan Eddy, nilai saham itu akan terus tumbuh. Walau begitu, Eddy belum bisa memastikan kapan BNBR akan menebus kembali saham itu. “Semuanya tergantung kondisi pasar,” kilahnya.

Bakrie & Brothers Belum Bayar Denda ke Bapepam
Kamis, 11 November 2010 – 18:33 wib

Widi Agustian – Okezone

JAKARTA – Hingga saat ini, PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) tampaknya belum juga membayar denda yang telah dijatuhkan Bapepam LK kepadanya.

Kendati demikian, Direktur BNBR Sidharta Moersjid menuturkan, pihaknya tetap menghormati keputusan yang diambil otoritas pasar modal tersebut. “Kita hormati dan kita taati keputusannya,” jelasnya dalam acara Investor Summit and Capital Market Expo 2010, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (11/11/2010).

Sebelumnya, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengungkapkan telah memberikan sanksi maksimal terhadap tiga perusahaan grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP), serta kepada PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) akibat kesalahan pencatatan posisi dana di Bank Capital Tbk (BACA).

“Ini kan kesalahan pelaporan. Termasuk pelanggaran berat. (Pemberian) denda kepada manajemen telah diputuskan oleh komite. Jadi, ini sudah sanksi terberat,” ujar Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany.

Sebelumnya, lanjutnya, Bapepam memang telah mencoba menelusuri lebih jauh. Dan dana keempat emiten yang dipindahkan dari BACA tersebut memang masih ada. Jadi hanya kesalahan pencatatan saja. “Jadi hanya pencatatanannya saja. Dan mereka juga berhak mengajukan banding dari sanksi yang telah diberikan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Bapepam-LK memberikan sanksi denda dengan total Rp4 miliar kepada tiga perusahaan grup Bakrie, yakni PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP), serta PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI), karena salah melakukan pencatatan posisi dana di PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA).

Keempat emiten tersebut masing-masing didenda Rp1 miliar karena kesalahannya tersebut. Sebelumnya keempat emiten ini juga telah mendapatkan denda dari Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp2 miliar. Pemberian sanksi denda sebesar Rp1 miliar terhadap setiap emiten ini diputuskan oleh Komite Penetapan Sanksi dan Keberatan (KPSK) yang terdiri dari tujuh anggota.

Atas kasus tersebut, sayangnya Sidharta belum mau mengungkapkan apakah pihaknya akan mengajukan banding atau tidak atas sanksi yang dijatuhkan kepada dia. Dia juga tidak megetahui apakah ada batas waktu terkait pembayaran denda tersebut. “Kalau itu (batas waktu pembayaran denda) tanya kepada Bapepam,” tukasnya.(adn)(rhs)
Bayar Utang, BNBR Bakal Lepas Aset
Kamis, 11 November 2010 – 18:10 wib

Widi Agustian – Okezone

JAKARTA – PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) bakal kembali melepas sejumlah asetnya untuk membayar utangnya. Pelepasan aset tersebut dilakukan untuk memperkuat aset dan cash flow Perseroan.

“Bayar utang, kita sesuai cash flow,” jelas Direktur Utama BNBR Bobby Gafur Umar dalam acara Investor Summit and Capital Market Expo 2010 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (11/11/2010).

Tak hanya itu, perseroan pun berencana menerbitkan obligasi untuk membayar utang jangka pendek perseroan yang akan jatuh tempo. “Rencana penerbitan obligasi itu masih ada,” ungkap dia.

Dia berencana melepas obligasi itu dengan tenor tiga hingga lima tahun, ini dia akui sesuai dengan kondisi pasar sekarang ini. Dia juga mengaku jika sekarang ini tengah bernegoisasi dengan kreditur dalam rangka meminta keringanan utangnya. “Sampai akhir tahun kita targetkan selesai hingga Rp2 triliun,” ungkap dia.

Selain untuk membayar utang, perseroan juga tampaknya membutuhkan dana yang banyak untuk mengembangkan proyek-proyeknya. Yakni Kalija (pipa gas Kalimantan-Jawa) tahap I, antara Kepodang- Tambak Lorok sepanjang 1.200 km. Dana yang dibutuhkannya mencapai sekira USD140-145 juta.

“Kita akan segara jalan setelah gas sales agreement (GSA) ditandatangai. Pendanaannya dari project financing, supplyer financing dan modal sendiri. Proyek ini akan berjalan selama 20-22 bulan, dan keekonomiannya selama 10 tahun,” jelas dia.

Selain itu, perseroan juga akan menggarap jalan tol Cimanggis-Cibitung Tollways (CCTW) sepanjang 24 km, yang merupakan bagian dari Jakarta Outer Ring Road 2 (JORR 2). “Dana yang dibutuhkan mencapai Rp4 triliun untuk tiga tahun lebih,” ungkap dia.(adn)(rhs)
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menyatakan kesiapannya menggarap pipa gas Kepodang dengan investasi yang disiapkan sebesar US$ 135-145 juta. Jalur pipa ini merupakan proyek pipa Kalimantan-Jawa tahap pertama.

“Bakrie sebagai pemegang konsesi pipa gas Kalija yang jalurnya sejalan dengan pipa Kepodang sudah bicara intensif dengan pemerintah untuk pembangunan pipa Kepodang sebagai realisasi tahap I dari proyek Kalija,” ujar Direktur Utama BNBR, Bobby Gafur Umar kepada detikFinance, Senin (25/10/2010).

Menurut Bobby, BNBR telah menyiapkan investasi sebesar US$ 135-145 juta untuk pembangunan tahap I pipa ini selama 22 bulan. Pendanaannya akan menggunakan kombinasi kas internal dan pembiayaan proyek (project financing).

“Tarif yang sudah disepakati dengan pemerintah adalah sebesar US$ 0,37 per kaki kubik per hari,” ujar Bobby.

Pembangunan pipa, lanjut Bobby, dapat dilakukan setelah penandatangan GSA (Gas Sales Agreement) dan GTA (Gas Transportation Agreement). Bobby mengatakan, saat ini perseroan tengah menunggu penetapan pemerintah untuk realisasi pelaksanaan proyek tersebut. Rencananya, Kementerian Energi dan Ssumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak Dan Gas (BPMIGAS) akan mengumumkannya hari ini.

“Pipa Kepodang dibangun dengan skema hilip open access. Dengan skema ini, biaya pembangunan pipa tidak termasuk dalam cost of recovery yang tentunya menguntungkan bagi negara dan akan banyak sumur-sumur marjinal sepanjang jalur pipa yang dapat memanfaatkan pipa open access tersebut,” jelas Bobby.

Sumber: detikcom
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan mengurangi utang dari Rp 8 triliun menjadi Rp 5 triliun hingga pertengahan 2011. Perseroan memprioritaskan pelunasan utang jangka pendek berbunga tinggi.

“Salah satu pihak yang akan kami bayar utangnya adalah MSN Tara Limited,” ujar Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan Bakrie & Brothers per Juni 2010, perseroan memiliki kewajiban lancar senilai Rp 10,23 triliun. Pinjaman tersebut terdiri atas pinjaman senilai Rp 2,92 triliun, utang gadai saham (repurchasing agreement/repo) senilai Rp 416,92 miliar, pinjaman jangka panjang Rp 553,9 miliar, dan lain-lain.

Namun, Eddy tidak menyebutkan secara pasti sumber pendanaan untuk mengurangi utang tersebut. Dia hanya memastikan, dalam setahun ke depan utang perseroan bisa segera diturunkan.

Sumber : INVESTORINDONESIA
Bakrie & Brothers Raih Pendapatan Rp6 Triliun
Laba kotor dan laba usaha juga naik masing-masing menjadi Rp2 triliun dan Rp508 miliar.
SELASA, 7 SEPTEMBER 2010, 09:43 WIB Antique

VIVAnews – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) selama semester pertama 2010 berhasil membukukan penghasilan usaha bersih Rp6,03 triliun atau meningkat 74,20 persen dari periode yang sama 2009 sebesar Rp3,46 triliun.

Berdasarkan publikasi perseroan hari ini, Selasa 7 September 2010, laba kotor dan laba usaha BNBR juga bertambah masing-masing menjadi Rp2,04 triliun dan Rp508,76 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,79 triliun dan Rp399,75 miliar.

Namun, beban lain-lain perseroan per 30 Juni 2010 ikutan naik dari Rp118,80 miliar menjadi Rp673,33 miliar. Hal itu disebabkan turunnya laba bersih perusahaan asosiasi menjadi Rp205,81 miliar dari sebelumnya Rp438,22 miliar dan membengkaknya beban bunga dari Rp171,07 miliar menjadi Rp908,06 miliar.

Tentunya, hal tersebut mendorong terjadinya peningkatan rugi bersih perseroan lebih dari dua kali lipat menjadi Rp302,78 miliar atau setara dengan rugi Rp3,23 per saham dibandingkan semester pertama 2009 dengan kerugian sejumlah Rp124,54 miliar atau setara rugi bersih Rp1,33 per saham. (sj)
• VIVAnews
Selasa, 07/09/2010 13:38:42 WIB
Repo Bakrie & Brothers membengkak 455,89%
Oleh: Wisnu Wijaya
JAKARTA: Perusahaan induk Bakrie Group, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), membukukan lonjakan utang repo (repurchase agreement) sebesar Rp416,92 miliar pada semester I 2010.

Jumlah ini membengkak 455,89% dibandingkan setahun sebelumnya yang mencapai Rp75 miliar.

Dalam laporan keuangan yang dirilis hari ini, perusahaan juga membukukan kenaikan pinjaman jangka pendek dari Rp868 miliar pada semester I tahun lalu menjadi Rp2,92 triliun pada semester I tahun ini.

Akibat beban bunga pinjaman, kerugian bersih Bakrie & Brothers kian menggunung 143,12% pada semester I tahun ini.

Bakrie & Brothers posted IDR302.78 billion net loss from IDR124.54 billion net loss a year earlier.

Bakrie & Brothers mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp302,78 miliar pada akhir Juni 2010 dari level Rp124,54 miliar pada semester I tahun lalu.

Biaya bunga bersih perusahaan juga kian melambung 430,81% dari Rp171,07 miliar di semester I tahun lalu menjadi Rp908,06 miliar pada semester I tahun ini. (t02/wiw)
07/09/2010 – 08:53
BNBR Masih Punya Utang Repo Rp416 Miliar
Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta – Paruh pertama di 2010, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatat kenaikan utang repo sebesar Rp416,915 miliar, atau naik 455,88% dari posisi sebelumnya hanya Rp75 miliar.

Demikian penjelasan resmi BNBR di Jakarta, Selasa (7/9). Sebelumnya, BNBR pernah melakukan Repo kepada Recapital Securities Rp155 miliar, Bapindo Bumi Sekuritas Rp50 miliar, Sekuritas Indopasific Investasi Rp29 miliar, dan Panin Sekuritas Rp25 miliar.

Selain membukukan lonjakan rugi repo, perseroan juga mencatat kenaikan utang pajak dari Rp141,714 miliar, menjadi Rp272,693 miliar. Ditambah dengan utang dividen yang bertambah menjadi Rp51,850 miliar, dari sebelumnya Rp38,127 miliar. Selain itu, utang obligasi perseroan naik dari Rp2,221 triliun, menjadi Rp3,356 triliun. [cms]
07/09/2010 – 08:39
Rugi Bersih Bakrie & Brothers Melonjak 143% di Semester I-2010
Susan Silaban

(IST)
INILAH dot COM, Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membukukan kerugian bersih hingga 143,11% menjadi Rp302,782 miliar pada semester I-2010, dibandingkan posisi yang sama 2009 hanya Rp124,543 miliar.

Demikian publikasi laporan keuangan BNBR di Jakarta, Selasa (7/9). Kerugian ini meningkat akibat adanya kenaikan beban pajak sekitar 18,27% dari Rp3,305 miliar menjadi Rp3,909 miliar. Ditambah dengan beban bunga yang semakin membengkak dari Rp171,071 miliar menjadi Rp908,060 miliar.

Bukan hanya itu saja, perseroan ini mengalami beban administrasi bank sekitar Rp17 miliar, dari sebelumnya hanya Rp14 miliar serta beban pokok penghasilan yang meningkat dari Rp1,671 triliun, kini menjadi Rp3,996 triliun.

Kendatipun demikian, perseroan mampu membukukan keuntungan dari penghasilan usaha bersih dari Rp3,463 triliun, menjadi Rp6,033 triliun, dengan laba usaha yang sedikit naik dari Rp399 miliar, menjadi Rp508 miliar. [cms]
Senin, 06/09/2010 08:27 WIB
Nasabah Minta Jaminan Aset Bakrie Life
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Nasabah Diamond Investa PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) mengajukan sejumlah tuntutan kepada pihak pemegang saham yakni PT Bakrie Capital Investment (BCI) dan manajemen Bakrie Life.

Salah satunya, nasabah meminta jaminan berupa aset dari pihak Bakrie Life dan salah satu petinggi Bakrie Group hadir dalam pertemuan selanjutnya.

“Nasabah meminta jaminan berupa aset nyata, saham, MSN atau properti,” ujar perwakilan nasabah Bakrie Life, Yoseph ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Senin (06/09/2010).

Desakan kepada BCI dan manajemen Bakrie Life disampaikan setelah nasabah memaksa bertemu dengan pemegang saham Bakrie Life akhir pekan lalu.

Yoseph juga menjelaskan, nasabah meminta pihak Bakrie yang dihadirkan adalah yang bisa mengambil keputusan dalam penyelesaian pembayaran dana nasabah.

“Hal ini perlu dilakukan agar ada kepastian bagi para nasabah,” tuturnya.

Selain itu lanjut Yoseph, nasabah mendesak dengan sangat agar dilakukan pembayaran cicilan pokok dan bunga yang sudah tertunda selama lima bulan.

“Yakni sejak April sampai Agustus 2010 dimana harus sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB), karena nasabah sudah trauma akibat hanya dibayar bunga saja dan pokoknya tidak dibayar dari Oktober 2008 sampai Oktober 2009,” papar Yoseph.

Menurutnya, sebagian besar nasabah hartanya hanya sebesar yang ditempatkan di Diamond Investa Bakrie Life sehingga sangat mengharapkan cicilan pembayaran pokok dan bunga untuk membiayai kebutuhan hidup sehari.

Lebih lanjut Yoseph menuturkan pihak nasabah menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak Bapepam-LK sebagai regulator yang telah membantu dan diharapkan dapat membantu sampai 2012.

“Nasabah selalu berdoa dan yakin Tuhan memberkati Bapak Nirwan Bakrie selaku owner group bakrie, dalam hal ini Bakrie Life dan BCI sehingga pembayaran ciicilan pokok dan bunga ke nasabah berjalan lancar,” jelasnya.

Dihubungi secara terpisah Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto mengharapkan kesabaran para nasabah karena memang pihak pemegang saham dan manajemen masih mengalami kesulitan likuiditas.

“Kita meminta mereka untuk bersabar karena kami belum mempunyai uangnya. Dan pemegang saham belum bisa memberikan dananya karena likuiditas yang sedang susah,”
tegas Timoer.

Namun Timoer mengatakan akan terus berusaha memenuhi kewajibannya kepada seluruh nasabah Diamond Investa sampai seluruhnya terpenuhi.

Untuk diketahui Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis
investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% pada tahun 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga pada tahun 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%).

(dru/qom)
ini iya, itu iya
Posted on Juni 13, 2010 by yangvirtualyangnyata
maksud saya, hidup ini penuh risiko
ketika saya merencanakan masa depan yang lebih baik
maka saya mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus merencanakan jalannya
jalan menuju masa depan yang lebih baik adalah bersiap
bersiap menghadapi keadaan terburuk
bersiap menjalani kegembiraan bersama orang-orang yang saya kasihi
bersiap mengarungi lika liku perjuangan hidup yang tidak mudah
begitu lah
berinvestasi adalah jalannya
tanpa jalan, bagaimana saya sampai kepada tujuan, yaitu
solusi terhadap keadaan terburuk
kegembiraan dalam menikmati kehidupan
ketabahan dan kemapanan dalam mengatasi biaya kehidupan
begitu lah

jalan menuju tujuan, bukan tujuan menuju jalan
bukan dibalik menjadi :
keadaan terburuk sebagai solusi
ketidaknikmatan hidup menjadi kegembiraan semu
keputusasaan menanggung biaya kehidupan
begitu lah

investasi sebagai jalan itu tema blog saya ini
investasi itu mempunyai arti yang luas
investasi dalam kesehatan
investasi dalam pendidikan
investasi dalam keagamaan
tapi blog ini lebih ditulis untuk memahami dan menghayati
investasi dalam keuangan

investasi keuangan adalah sebuah jalan menuju
solusi keuangan pada saat kedukaan, kesakitan, kecelakaan, krisis keuangan, apa pun yang terburuk
sumber kenikmatan yang memberikan kegembiraan
perbekalan dalam menjalani mozaik kehidupan yang sulit ditebak
begitu lah

investasi sebagai jalan menuju solusi keuangan pada saat kedukaan bisa berupa : asuransi, tabungan/deposito, valas, investasi obligasi, investasi reksa dana, investasi saham, investasi emas, investasi properti, investasi benda-benda hobi, dan produk derivatif
itu berarti dapat dipakai pada keadaan sakit, kecelakaan, krisis keuangan juga

asuransi jelas penting sebagai perlindungan pada saat yang genting, dan yang sangat mungkin terjadi satu hari
tabungan jelas penting sebagai alat pemberdayaan guna mengatasi keadaan kritis
valuta asing, terutama dolar, penting pada saat terjadi keadaan genting saat bepergian ke luar negeri
obligasi jelas penting karena memberikan kelebihan imbal hasil dibandingkan tabungan, sehingga bisa menjadi alat tangguh menghadapi situasi pribadi/keluarga yang kritis pada saat ekonomi lokal stabil dan berkembang
saham jelas penting karena memberikan kelebihan imbal hasil yang paling tinggi dibandingkan tabungan, sehingga bisa memberikan pemberdayaan yang lebih besar sehingga bisa digunakan sebagai alat antisipasi krisis yang lebih besar

mempunyai semua jenis alat investasi itu berarti saya menggunakan metode diversifikasi
yaitu dengan mempunyai beragam investasi, saya mengurangi risiko
yaitu dengan mempunyai beragam investasi, saya juga meningkatkan imbal hasil
begitu lah

Kalo YAKIN, Tunjukkan MERAHMU

Diarsipkan di bawah: BURSA bumi — bumi2009fans @ 11:30 pm Sunting Ini

… misal elo seorang investor saham bumi yang punya modal 10 M (milyar) … lalu elo beli saat saham bumi di puncak harganya sekira Agustus-September 2008: Rp. 8000 … maka elo dapat kira2 2500 LOT saham bumi … lalu tiba-tiba sekonyong-konyong mendadak tidak terduga-duga: Rp.1000 dan Rp.300 terlewati … elo PUTUS ASA nyaris bunuh diri, berat badan turun, nyanyian musik keras dari keluarga setiap hari terdengar karena ternyata sebagian elo ambil dari keuangan keluarga yang seharusnya bwat makan sehari-hari … elo bingunk … elo minta advis dari analis saham profesional dan broker … mereka bilang begini begitu begicu beginyi … elo ga yakin … elo makin bingunk … ekh 2009 bumi melejit s/d 3475, elo mulai senyum2 kecil … elo mulai kembang kempis hidungnya karena berekspektasi Rp.4000 sudah di depan mata … ternyata nyanyian musik keras kembali terdengar, kali ini datang dari politik dan riwayat utank the bakries yang belum surut-surut bener … Rp. 2100 pun tersentuh; untunk ga beneran nyusruk s/d 1790 seperti yang pernah terjadi sebelum harga tertinggi 2009, 3475 … elo mulai bingunk lage … mo tanya analis pro dan broker, cemas ga ada jawaban yang serius beneran canggih berbobot cerdas … well, akhirnya elo baca posting gw ini … gimana kalo elo baca file yang gw posting di link ini :  https://sites.google.com/site/ekonomibanget/Selamat-Jumpa/ambil-file-rumus-inves-trading

… skenario 10 M modal 3M excel2003 itu judul filenya … semoga elo punya excel 2003 …

… kira2 penjelasannya adalah:

modal awal transaksi sekarang= 2500 LOT X Rp.2300 (harga real time sekarang) = Rp.3 M (kira-kira)

elo cuma perlu PUNYA DISIPLIN KUAT dan BACA ANALISIS TEKNIKAL SEDERHANA serta IKUTIN TINGKAT HARGA SEBELUM ELO BERTRANSAKSI

di dalam file gw tersebut TIDAK ADA SAMA SEKALI TERCANTUM TINGKAT HARGA BELI, kecuali yang paling awal saja

elo mesti tentukan tingkat harga beli yang elo mo masuk dan SELALU LANGSUNG PASANG HARGA JUAL 1 POIN LEBIH TINGGI : misal, elo beli di Rp.2300 maka langsung pasang jual di Rp.2325 yaitu 1 poin lebih tinggi dan elo gain = +1,08% … modalnya adalah seluruh modal yang elo punya sekarang, yaitu 2500 lot … kalo elo bener beruntung dan bener menganalisis teknikalitas harga saham yaitu momentum dan batas2 harga maka KEMUNGKINAN EKSPEKTASI elo terpenuhi, biasanya berdasarkan pengalaman gw, AKAN TERCAPAI … kalo beneran tercapai berarti minimal elo uda gain +0,95% dah … ini short selling … tapi elo tanya dulu ke broker apakah dengan modal 3M elo boleh maen short selling (kalo ga keliru batasnya sekira 200 juta, cek ke broker dah)

keesokan harinya elo lakukan hal yang sama lagi, FOKUS PADA LABA 1 POIN  … tentukan terlebih dahulu momentum dan batas2 harga sesuai analisis teknikal yang gw posting di blog ini dan blog maen saham beneran, atau masukkan data dan baca teknikal di YAHOO FINANCE : http://finance.yahoo.com/q/ta?s=BUMI.JK&t=1d&l=on&z=l&q=l&p=b,p,m20&a=ss,r14,p12&c= … lalu tentukan HARGA BELI dan JUAL dengan selisih 1 poin saja … kalo elo berhasil lage, maka elo udah untung minimum 2 X 0,95% … dan seterusnya

setelah 1 bulan elo jalankan caranya dan selalu (hampir selalu) berhasil, elo ulangi lagi cara ini 1 bulan lagi dstnya s/d 135 hari kerja bursa dan saat itu MODAL 10 M SUDAH BALEK LAGE + BONUS Rp.50jt … semoga berhasil

… HAL PENTING adalah elo ga terpengaruh TINGKAT HARGA SAMA SEKALI … sebodo wae, mo 2000 atawa 2500 atawa 3000, pokoke FOKUS LABA 1 POIN PADA TINGKAT HARGA BERAPA pun … JANGAN PEDULI BAHWA ADA SUARA2 DI OTAK ELO, kenapa cuma 1% cuma 1 poin doank … KARENA SETELAH 1 BULAN BERHASIL ELO AKAN SADAR BETAPA ocehan gw emang ada benernya juga karena gw MEMPERTIMBANGKAN SISI PSIKOLOGI SEORANG INVESTOR JUGA, termasuk kedewasaan seorang investor untuk BERMAEN LEBE DARI SEKEDAR 135 HARI… well, BUKTIKAN dulu dah

… NAH INI PERTANYAAN TERPENTING: apakah elo YAKIN BENERAN CARA ini berhasil menolong elo keluar dari KERUMUNAN NYANYIAN MUSIK KERAS KELUARGA? well, elo jawab sendiri dah karena secara teoritis rumus yang gw pake di file itu beneran bisa MERUBAH IMBAL HASIL DARI 3 M jadi 10M, believe it or not …

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: