Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Agustus 23, 2010

the bakries JALAN2 melUlU (enrg, btel+flexi) … 080311 (updt)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 8:31 am

Rencana sinergi usaha Flexi dan Esia masih terus berlanjut meski PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) masih mencari format.

“Konsolidasi adalah hal yang baik untuk terjadi. Kita mencari format dan skema yang cocok. Pelanggan butuh inovasi baru jadi kita perlu mencoba berpikir anorganik dan konsolidasi tapi tak mengabaikan pelanggan,” tutur Presiden Direktur PT Bakrie Telecom Tbk Anindya Bakrie, Selasa (8/3) di Jakarta.

Menurut Anindya, konsolidasi ini membutuhkan format dan waktu tepat. Hal ini mengingat kedua perusahaan merupakan perusahaan publik ditambah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk termasuk BUMN. Konsolidasi flexi dan esia ini juga harus memperhatikan pelanggan agar dapat pelayanan baik. “Tujuan kita juga ingin meningkatkan nilai shareholder dan stakeholder. Kita tinggal mencari formatnya,” kata Anindya.

Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar menuturkan, kementerian BUMN menyerahkan sepenuhnya proses sinergi Flexi dan Esia kepada manajemen masing-masing.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1300952/rencana-sinergi-flexi-dan-esia-masih-berlanjut

Sumber : INILAH.COM
TAMBANG, 09 Februari 2011 | 19.07
ENRG Teken Kontrak Penjualan Gas Kangean
Abraham Lagaligo
abraham@majalahtambang.com

Jakarta – TAMBANG. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) pada Rabu, 9 Februari 2011, secara resmi mengumumkan telah ditandatanganinya perjanjian jual-beli gas domestik, oleh anak perusahaannya Kangean Energy Indonesia Limited (KEI).

Berdasarkan kontrak yang telah diteken pada Desember 2010, KEI akan menyalurkan gas dengan total volume 300 juta kaki kubik per hari, ke PT PLN (Persero), PT Pertamina Gas (Pertagas), dan PT Indogas Kriya Dwiguna (Indogas).

Direktur Utama ENRG, Imam Agustino mengatakan, keseluruhan gas yang dijual ke tiga perusahaan nasional itu, diproduksi dari Blok Kangean PSC, melalui lapangan Terang Sirasun Batur (TSB) yang dioperasikan KEI.

Untuk PLN, volume gas yang dikontrakkan sebesar 368,7 TBTU, dengan masa kontrak 31 Januari 2012 – 30 Desember 2028. Untuk Pertagas, volume gas yang dikontrakkan 221 TBTU, selama periode Januari 2012 + 3.288 hari.

Sedangkan untuk Indogas, volume gas yang dikontrakkan 79,2 TBTU, mulai 31 Januari 2012 sampai 7 Desember 2022. Harga untuk ketiganya seragam, yakni USD 5,15 per MMBTU, dengan eskalasi 3% per tahun.

Imam Agustino mengaku, masih melihat kesempatan untuk menjual gas dengan harga lebih tinggi, untuk konsumen di Indonesia.

ENRG optimis harga jual gasnya bakal meningkat secara signifikan hingga diatas USD 5 per MMBTU, setelah Blok Kangean PSC yang dimilikinya sebesar 50% memproduksi 300 juta kaki kubik per hari pada 2012.

Senin, 31/01/2011 17:40 WIB

Cari Pengganti Esia, Flexi Lirik StarOne
Achmad Rouzni Noor II – detikinet

Jakarta – Rencana ‘perkawinan’ antara Flexi milik Telkom dan Esia dari Bakrie Telecom bisa dibilang hampir kandas, mengingat banyak pihak yang menentangnya. Meski demikian, kegagalan ini tak menyurutkan niat Flexi untuk mencari ‘pasangan hidup’ yang baru.

Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah mengakui ketertarikannya untuk mencarikan mitra alternatif selain Bakrie Telecom agar bisa terus mengembangkan layanan fixed wireless access (FWA) Flexi di Indonesia.

Rinaldi kali ini tidak lagi mengungkit cerita terjal nan berliku antara Flexi dan Esia, namun lebih bernostalgia kepada pendekatannya dengan StarOne punya Indosat.

“Pada satu atau 1,5 tahun lalu memang ada pembicaraan dengan Indosat membahas StarOne-Flexi. Tetapi setelah itu tidak ada lagi,” bebernya seusai peluncuran Delima di Gedung Telkom, Jakarta, Senin (31/1/2011).

StarOne beberapa waktu yang lalu dikabarkan akan segera dilepas Indosat. Langkah ini terpaksa diambil demi mengurangi beban perusahaan karena pertumbuhan StarOne terbilang stagnan.

“Kami terbuka saja untuk kembali berdiskusi jika Indosat memang benar ingin memisahkan StarOne dari perusahaanya,” kata Rinaldi.

Flexi sendiri saat ini memiliki 16,5 juta pelanggan. Sementara StarOne stagnan di kisaran 600-700 ribu pelanggan. Jika terjadi ‘perkawinan’ antar keduanya, maka sumber daya frekuensi dan lainnya yang dimiliki StarOne bisa dimanfaatkan untuk agresi Flexi dalam menggelar layanan FWA.

( rou / ash )
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Selasa, 11 Januari 2011 | 18:09 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) telah memproduksi minyak sekitar 6.000 barel per hari dari lapangan minyak Pagerungan Utara yang terletak di area blok Kangean PSC untuk pertama kalinya.

Demikian seperti disampaikan manajemen dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (11/1). Kapal tanker floating production storage offloading FPSO yang disewa dari PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) dapat menyimpan minyak hingga 400 ribu per barel. Produksi minyak baru dari lapangan Pagerungan Utara ini positif bagi perseroan.

Seperti diketahui, perseroan telah menyelesaikan akuisisi atas 10% kepemilikan di blok Masela PSC yang berhasil meningkatkan cadangan perseroan sebesar 235% menjadi 532 juta barel minyak ekuivalen. Pada Desember 2010, perseroan sudah mengumumkan penemuan cadangan minyak baru di blok Selat Malaka PSC dan Celam TAC. Sedangkan dua minggu lalu, perseroan juga telah berhasil memproduksikan minyak kembali dari lapangan Sepanjang di blok Kangean PSC dengan rata-rata produksi 1.800-2.000 barel per hari.

Pada 2010, perseroan telah memproduksikan 13.089 barel ekuivalen per harinya berdasarkan kepemilikan di aset-asetnya (gross produksi 19.874 barel ekuivalen per harinya). Produksi minyak baru dari Pagerungan Utara merupakan penambahan produksi sebesar 3.000 barel per hari berdasarkan kepemilikan perseroan sebesar 50% di blok Kangean PSC Jawa Timur. Blok Kangean PSC dioperasikan oleh Kangean Energy Indonesia Ltd Mitsubishi dan Japan Petroleum Exploration Co Ltd memiliki sisa 50% interest di blok Kangean PSC. [hid]
Kemenangan Ring Satu Presiden
Sabtu, 01 Januari 2011 | 09:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – RAPAT umum pemegang saham luar biasa PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Jumat siang dua pekan lalu berlangsung mulus. Tak ada sama sekali perdebatan panas dan alot antara para pemegang saham dan pemimpin rapat saat membahas agenda penting penetapan susunan direksi dan komisaris.

Semula diperkirakan perwakilan Serikat Karyawan Telkom yang mengikuti pertemuan akan melakukan perlawanan ketat. Apalagi organisasi karyawan itu memang menginginkan penggantian direksi dan komisaris perusahaan. Nyatanya serikat karyawan tak memprotes sama sekali. Menurut Sekretaris Jenderal Serikat Karyawan Telkom Asep Maulana, melempemnya perlawanan serikat karyawan lantaran beberapa faktor, di antaranya lokasi rapat.

Biasanya rapat pemegang saham digelar di aula Pangeran Kuningan di kantor Telkom, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Kali ini pertemuan digelar di hotel berbintang lima sehingga banyak anggota Serikat Karyawan Telkom tak bisa memelototi agenda tersebut. Aturan main rapat juga membuat pemegang saham yang kritis dan vokal mati kutu. Pemegang saham tak bisa bertanya langsung, tapi harus mengajukan pertanyaan tertulis kepada notaris. “Aturan rapat membuat kami bosan dan sulit bertanya,” kata Asep Maulana kepada Tempo pekan lalu.

Serikat karyawan punya agenda memuluskan suksesi kepemimpinan di perusahaan telekomunikasi pelat merah itu. Mereka datang ke hotel di kawasan pusat bisnis Sudirman itu mendesak agar Rinaldi Firmansyah dan Tanri Abeng diganti sebagai Direktur Utama dan Komisaris Utama Telkom. Serikat karyawan menganggap duet Rinaldi dan Tanri sebagai tokoh di balik rencana merger TelkomFlexi dengan PT Bakrie Telecom–pemilik produk Esia (lihat “Gerilya Sekar Menolak Merger”).

Asep dan Ketua Serikat Karyawan Telkom Wisnu Adhi Wuryanto sempat gembira ketika diumumkan bahwa Jusman Syafii Djamal (bekas Menteri Perhubungan) menggantikan Tanri sebagai komisaris utama. Tanri diganti karena memang sudah dua periode menjabat posisi itu. Tapi keduanya hanya bisa melongo saat Tanri, pemimpin rapat yang berjarak 11 meter dari mereka duduk, mengumumkan Rinaldi dicalonkan kembali menakhodai Telkom. “Pas diumumkan, saya dan Wisnu hanya bisa saling tatap muka,” ujar Asep.

***

SEMULA perubahan direksi Telkom digelar pada saat rapat pemegang saham luar biasa, 12 Juni lalu. Ini bersamaan dengan pengesahan laporan keuangan tahunan 2009. Tapi, menurut juru bicara Telkom, Eddy Kurnia, perubahan susunan direksi ditunda karena pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas belum bisa menunjuk calon-calon penggantinya. Pemerintah memperpanjang masa tugas Rinaldi, Tanri, dan direksi lainnya. “Itu alasan yang kami tahu,” ujarnya kepada Tempo di Jakarta pekan lalu.

Sumber Tempo di pemerintahan mengungkapkan perubahan direksi Telkom saat itu tak bisa dilakukan karena Kementerian Badan Usaha Milik Negara belum merampungkan seleksi dan uji kelayakan calon direksi Telkom. Calon-calon direksi juga belum masuk tim penilai akhir yang diketuai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Penetapan direksi Telkom baru juga mundur karena ada titipan dari politikus yang dekat dengan Partai Demokrat, partai pengusung Yudhoyono. Muncullah, kata dia, kandidat selain Rinaldi, yakni Arif Yahya (Direktur Korporat Telkom) dan Kiskenda Suriahardja, bekas Direktur Utama Telkomsel, anak usaha Telkom. “Itu yang membuat Kementerian BUMN terpaksa menunda,” bisiknya. Kementerian BUMN akhirnya memperpanjang masa jabatan direksi dan komisaris Telkom selama 45 hari.

Penetapan direksi baru Telkom baru bisa terlaksana dalam rapat pemegang saham Jumat dua pekan lalu. Agenda perubahan direksi terjadi di saat Telkom sedang punya rencana besar menggabungkan (merger) TelkomFlexi dengan Bakrie Telecom, perusahaan telekomunikasi yang dikendalikan PT Bakrie & Brothers (keluarga Bakrie).

Rencana merger dua perusahaan telekomunikasi berbasis code division multiple access (CDMA) itu sudah lama menghebohkan karyawan Telkom. Serikat Karyawan Telkom menolak rencana kawin korporat tersebut dengan alasan merugikan perusahaan. Dalam tiga minggu terakhir, ribuan karyawan Telkom gencar melakukan unjuk rasa menolak merger.

Di mata serikat pekerja, Rinaldi dianggap ikut mendukung merger dengan Bakrie Telecom. Rinaldi tak merespons pertanyaan Tempo lewat pesan pendek. Tapi, dalam beberapa kesempatan, bekas Direktur Utama Bahana Securities itu mengakui Telkom sedang mengkaji rencana tersebut. “Kajian kan boleh-boleh saja,” ujarnya.

Tokoh utama lainnya pendukung merger itu tak lain Tanri Abeng. Bukan rahasia lagi bahwa pria yang pernah dikenal dengan sebutan manajer satu miliar rupiah itu pendukung berat aksi korporasi tersebut. Tanri lebih vokal menyuarakan merger dibanding Rinaldi. “Saya vokal karena tak punya kepentingan,” ujarnya kepada Tempo. Menurut Tanri, usul merger datang dari direksi Telkom. Manajemen sudah lima kali presentasi ke dewan komisaris. Ternyata hasil kajian direksi sangat bagus dan menguntungkan perusahaan. “Jadi saya dukung rencana merger itu,” katanya.

Faktor Tanri Abeng rupanya sangat penting. Menurut sumber Tempo, Tanri tak sekadar memberi nasihat kepada direksi, tapi aktif mengawasi dan memutuskan layaknya seorang eksekutif perusahaan. Peran aktif Tanri salah satunya terlihat dalam rencana merger ini. “Beberapa proyek strategis harus lewat dia dulu,” kata sumber ini. Tanri kepada Tempo mengakui perannya sebagai komisaris aktif. “Saya tiap hari berkantor dan mengawasi perkembangan perusahaan, tapi eksekusinya tugas direksi, saya tidak terlibat sama sekali,” katanya.

Langkah itu sengaja dia tempuh, kata Tanri, sebagai konsekuensi logis Telkom selaku perusahaan yang tercatat di pasar saham Amerika yang menganut one board system. Dalam sistem ini, direktur non-eksekutif–semacam komisaris di sini–ikut terlibat bersama chief executive officer atau direktur utama–dari awal merencanakan operasi dan menentukan hal-hal strategis lainnya. “Nilai proyek di atas Rp 100 miliar harus mendapat persetujuan kami, tapi implementasinya tetap wewenang eksekutif.”

Sumber Tempo membisikkan sebenarnya dalam rapat Jumat dua pekan lalu tersebut akan ada agenda meminta pemegang saham memberikan persetujuan kepada direksi atau komisaris Telkom untuk mengkaji lebih dalam rencana merger dengan BTel–sebutan untuk Bakrie Telecom. Tapi agenda ini dibatalkan karena kurang menguntungkan posisi Tanri Abeng yang bisa dianggap memanfaatkan kesempatan menjelang akhir masa jabatan.

Walhasil, rapat pemegang saham hanya mengagendakan penetapan direksi baru Telkom. Semula, Menteri BUMN Mustofa Abubakar akan mengganti Rinaldi yang, menurut sumber Tempo di pemerintah, sebenarnya kurang sreg Flexi harus merger dengan Bakrie Telecom. Rinaldi akan diganti oleh calon lain: bisik-bisik menyebut Arif Yahya atau Ermady Dahlan (Direktur Jaringan Telkom). Keduanya memang masuk daftar yang diseleksi di tim penilai akhir. Tapi kabarnya Presiden Yudhoyono menegur Mustofa. Alhasil, Mustofa tak jadi mengganti Rinaldi dan mengangkat lagi sebagai Direktur Utama Telkom.

Wajar Rinaldi terpilih lagi menjadi orang nomor satu di Telkom. Alasannya, kata sumber Tempo, Rinaldi tak berpolitik praktis dan cenderung lurus-lurus saja. Tapi, menurut Tanri, direksi Telkom tak berubah karena memang dewan komisaris meminta pemerintah mempertahankan semua anggota direksi, khususnya Rinaldi. “Mereka baru tiga tahun dan baru menemukan form terbaik,” ujar Tanri.

Sumber Tempo di pemerintah punya cerita lain. Sejatinya pengangkatan Rinaldi dan tarik-ulur merger Flexi dan Esia merupakan “perang” dua kubu antara Partai Beringin di bawah kendali Aburizal Bakrie dan lingkaran satu SBY di bawah kendali Sekretaris Kabinet Dipo Alam dan juga Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa yang tak setuju merger, dengan alasan bisa merugikan negara. Tetap terpilihnya Rinaldi sebagai Direktur Utama Telkom, kata dia, merupakan kemenangan bagi lingkaran satu Yudhoyono.

Hatta kepada Tempo pekan lalu enggan menjawab soal perubahan direksi Telkom itu. “Tanya saja Menteri BUMN,” ujarnya. Adapun Dipo tertawa terbahak-bahak saat dimintai tanggapan soal tarik-ulur dengan kelompok usaha Bakrie. “Terserah masyarakat mau menilai apa,” ujarnya pekan lalu. Sementara itu, Mustofa mengatakan pengangkatan Rinaldi sudah sesuai dengan hasil seleksi serta uji kepatutan dan kepantasan (fit and proper test) yang dilakukan secara obyektif.

Padjar Iswara, Fery Firmansyah, Agoeng Wijaya, Wahyu Muryadi

Esia Siap Antisipasi Liburan Natal & Tahun Baru
Headline
Oleh: Wahid Ma’ruf
Ekonomi – Jumat, 24 Desember 2010 | 12:14 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bakrie Telecom selaku operator (Esia) telah mengantisipasi terjadinya lonjakan telepon saat liburan Natal & Tahun Baru dengan melakukan optimalisasi jaringan BTS (Based Transceiver Station).

Hal itu dikatakan Mohammad (Danny) Buldansyah, Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk saat memberikan penjelasan kesiapan jaringan BTEL untuk layanan Esia yang dikutip dari keterangan resmi. “Ini seperti menjadi langkah ritual. Seperti ketika menghadapi puasa dan lebaran, antisipasi lonjakan telepon dan sms di saat natal dan tahun baru selalu dilakukan dan jauh-jauh hari telah direncanakan”, ujarnya.

Musim lebaran September lalu, Bakrie Telecom mengalami lonjakan trafik terutama terjadi pada pengiriman sms yang mengalami peningkatan sebesar 46%. Sementara percakapan telepon justru memperlihatkan penurunan trafik di Jakarta dan sebaliknya meningkat di beberapa kota tujuan mudik di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sementara merujuk pada data tahun 2009, kenaikan trafik telepon dan sms biasanya terjadi sejak tanggal 23 Desember hingga 3 Januari. Tingkat tertinggi terjadi pada tanggal 31 Desember 2009 yang mencatat kenaikan jumlah pelanggan Esia GoGo sebesar kurang lebih 80,49% dibanding hari-hari biasa.

Saham Energi Bakal Kejar Harga Minyak
Headline

Oleh: Jagad Ananda
Pasar Modal – Senin, 27 Desember 2010 | 09:44 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Setelah mnembus level US$ 91 (24/12), harga si emas hitam diprediksi terus menguat. Bahkan, para pengamat memprediksi di penghujung tahun harganya akan menyentuh level US$100 per barel.

Dugaan itu bukan tidak beralasan. Soalnya, negara-negara produsen minyak dunia, tampaknya, tidak mempedulikan keluhan sejumlah negara konsumen. Mereka, terutama Libya, terlihat malah menikmati tingginya si emas hitam

Anehnya, penguatan tersebut tidak membuat saham-saham minyak menggeliat. Yang terjadi justru sebaliknya, ketika harga minyak dunia menyentuh US$91,51 per barel (24/12), saham PT Medco Energy (MEDC) dan PT Energy Mega Persada (ENRG) malah diam bahkan cederung melemah.

MEDC, misalnya, sepanjang Desember ini (hingga 23), mengalami penciutan harga 3,1%. Sementara ENRG menurun 9,3%. Bandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dalam rentang waktu yang sama, malah menguat 2,26%.

Ada apa? “Ini karena keduanya masih terpengaruh sentimen Pertamina,” kata seorang analis saham asing. Menurut dia, batalnya rencana akuisisi terhadap dua perusahaan ini oleh Pertamina membuat saham-sahamnya dijauhi investor.

Sebenarnya, rencana akuisisi terhadap ENRG belum ada kepastian batal tidaknya. “Tapi investor melihat ketidak-setujuan DPR RI terhadap aksi akuisisi ini sangat kental,” lanjutnya.

Padahal kalau melihat kinerja kedua perusahaan, sebenarnya, harga MEDC dan ENRG tak harus turun seperti sekarang. Bahkan, ya itu tadi, dengan naiknya harga minyak mestinya dua saham ini menguat.

MEDC, contohnya, dengan tingkat produksi sekitar 30 ribu barel minyak plus 125 juta kaki kubik gas per hari merupakan perusahaan minyak terbaik di Tanah Air. Belum lagi jika ladang-ladang lainnya yang ada di dalam dan luar negeri berpoduksi. Dipastikan perusahaan yang didirikan Aifin Panigoro ini akan mendulang untung lebih besar.

Sekadar mengingatkan, per September lalu saja, Medco telah mencatatkan laba bersih hampir US$18 juta atau naik 18,5% dibanding periode yang sama di tahun lalu. Itu sebabnya, tidak mengherankan jika banyak analis yang menghitung harga wajar MEDC berada di level Rp4.200.

Bahkan ada yang memprediksikan tahun depan bakal menguat hingga Rp5.000. “Jadi, batalnya akuisisi oleh Pertamina itu tidak berpengaruh apapun terhadap kinerja perusahaan,” katanya.

Begitu pun saham Energi Mega. Kendati kemampuan produksinya hanya 1/15 dari Medco, harga saham dari Kelompok Bakrie yang sekarang ada di level Rp126 (23/12), masih tergolong murah. Mestinya, kata mereka, harga wajar ENRG berada di kisaran Rp220-250.

Nah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itulah, MEDC dan ENRG mendapat rekonmendasi buy untuk jangka menengah panjang. [mdr]

Produksi Minyak dan Gas Energi Mega Melonjak
Produksi minyak dan gas akan meningkat 277 persen menjadi 50,2 ribu barel pada 2012.
Rabu, 22 Desember 2010, 19:07 WIB
Arinto Tri Wibowo, Purborini

VIVAnews – PT Energi Mega Persada Tbk akan mendapatkan tambahan
produksi minyak sebesar 6.000 barel ekuivalen per hari. Produksi tersebut di kontribusi oleh blok Kangean serta Lapangan Seng dan Segat di blok Bentu PSC.

“Kami akan mengalami peningkatan produksi minyak dan gas sebesar 277 persen dari 13,3 ribu barel menjadi 50,2 ribu barel ekuivalen per hari pada 2012,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada, Imam P Agustino, di Jakarta, Rabu 22 Desember 2010.

Dengan kondisi seperti ini, dia melanjutkan, perseroan optimistis dapat membukukan laba bersih tahun depan. Namun, Imam enggan menyebutkan proyeksi perseroan pada 2011. “Sampai saat ini masih dihitung,” ujar dia.

Tahun depan, Energi Mega menganggarkan belanja modal sebesar US$260 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar US$170 juta akan digunakan untuk membiayai produksi blok Malacca dan Kangean.

Selain itu, perseroan memproyeksikan kenaikan harga gas dari US$2,70 per juta kaki kubik pada 2010 menjadi US$3,54 dan US$5,69 per juta kaki kubik pada 2011 serta 2012.

Sementara itu, pertumbuhan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 23,85 persen menjadi Rp135 miliar pada 2010 dibandingkan Rp109 miliar pada tahun sebelumnya.

Adapun mengenai penyelesaian akuisisi 10 persen kepemilikan pada blok Masela, perseroan akan meningkatkan cadangan minyak dan gas perseroan menjadi 532 juta barel. Namun, produksi blok Masela baru dimasukkan setelah 2015.

Mengenai sisa utang kepada Credit Suisse sebesar US$200 juta, Imam
mengatakan, utang itu baru jatuh tempo pada 2013. “Kami tidak diberi
kewajiban untuk membayar lebih cepat,” ujar dia. Imam berencana membayar utang itu melalui dana dari kas perseroan.

Baru-baru ini, perseroan juga roadshow review untuk penerbitan obligasi. Namun, Imam mengatakan permintaan kupon dari investor terlalu tinggi untuk perseroan.

“Pricing kemarin tidak masuk, jadi kami tidak meneruskan. Karena kami mencari pendanaan yang murah,” tutur dia. Investor menginginkan indikasi kupon LIBOR + 12 persen atau sebesar 13,5 persen. (sj)
• VIVAnews

Rabu, 22 Desember 2010 | 16:15 oleh Amailia Putri Hasniawati kontan
AKSI KORPORASI ENRG
ENRG tetap akan terbitkan global bond senilai US$ 275 juta
… GALI LUBANG, TUTUP LUBANG itu lah ciri khas the BAKRIES😛 …

JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) tetap akan menerbitkan oblgasi berdenominasi dollar AS senilai US$ 275 juta. Dana yang terhimpun akan digunakan untuk refinancing utangnya kepada Credit Suisse (CS) sebesar US$ 200 juta.

Presiden Direktur ENRG Imam Agustino mengatakan, pihaknya tetap akan menjajaki untuk menerbitkan global bond yang sebelumnya direncanakan diterbitkan tahun ini.

“Kita akan lihat pasar dulu, kalau memungkinkan, kenapa tidak,” ujarnya di Jakarta, Rabu (22/12).

Oleh karena itu, ia belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut mengenai waktu penerbitannya. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk melunasi sisa utangnya kepada CS senilai US$ 200 juta dari total US$ 450 juta. Sisa utang itu jatuh tempo pada 2013 mendatang.

Perseroan telah membayar utangnya kepada kreditur asing tersebut sebesar US$ 250 juta di Februari 2010 lalu.

Sebelumnya sumber KONTAN menyebutkan, ENRG batal menerbitkan obligasi global tersebut lantaran investor menginginkan kupon yang lebih tinggi dari yang ditawarkan. Padahal, ketika itu ENRG sudah menawarkan suku bunga yang tinggi, yakni 13,23% hingga 13,75%.

“Kita mencari dengan bunga yang lebih rendah dari pinjaman,” kata Imam.

Adapun bunga pinjaman dari CS sekitar 13%. Jadi, Imam berharap, kupon bunga obligasi yang ditawarkan di bawah 13%. Kalaupun penerbitan obligasi tidak memungkinkan, perseroan akan mencoba sumber pendanaan lain seperti pinjaman perbankan.
ENRG Dapat Ijin BPMigas Kelola Blok Masela
Headline
inilah.com
Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Rabu, 22 Desember 2010 | 10:27 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan Inpex Corp telah mendapatkan persetujuan BPMigas atas rencana pengembangan lapangan gas Abadi di Blok Masela, Laut Arafura, Indonesia.

Hal ini disampaikan Direktur ENRG, Amir Balfas dalam keterbukaan informasinya ke BEI, Rabu (22/12). Persetujuan ini memungkinkan Perseroan dan Inpex untuk mengelola proyek ini sehingga dapat menguntungkan semua pihak terkait. Perseroan dan Inpex berencana menggunakan LNG terapung (gas alam cair) untuk mengembangkan lapangan Abadi secara optimal. Di fase pertama pengembangan, akan dibangun satu terminal LNG terapung guna mencapai target produksi LNG tahunan.

Penggunaan LNG terapung merupakan hasil studi dan usulan dari Inpex Masela Ltd serta dukungan BPMigas. Pada tahap berikutnya, Inpex Masela dan PT EMP Energi Indonesia akan melanjutkan FEED (Front End Engineering dan desain) pada saat yang tepat. Proyek ini dikelola oleh Inpex Masela, anak perusahaan Inpex dan EMPI, anak perusahaan Perseroan.

Pada November 2010, Perseroan telah menyelesaikan pengalihan 10% participating interest di Blok Masela yang telah meningkatkan cadangan bersih 2P Perseroan sebesar 135% menjadi 532 juta barel ekuivalen.

Selasa, 14 Desember 2010 | 11:24 oleh Rizki Caturini
AKTIVITAS PENAMBANGAN kontan
ENRG kembali produksi minyak di Blok Kangean

JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mulai kembali memproduksi minyak di Lapangan Sepanjang di Blok Kangean PSC, Jawa Timur sejak 26 November 2010. Kapasitas produksi minyak di blok ini mencapai 1.800-2.000 barel per hari.

Selain itu, Floating Storage Offloading (FSO) yang dimiliki salah satu anak usaha ENRG, Kangean Energy Indonesia Limited telah siap dioperasikan. FSO ini mampu menampung minyak hingga 350.000 barel.

“Kami juga berharap dapat segera memproduksi gas dari lapangan Seng dan Segat di blok Bentu PSC di Riau dan lapangan Pagerungan Utara di blok Kagean dalam waktu dekat,” kata Direktur Utama ENRG Imam Agustino dalam rilisnya Senin (13/12).

Sepanjang semester pertama 2010. blok Kangean PSC telah memproduksi 28 juta kaki kubik gas per hari dan 1.400 barel minyak per hari. Jumlah cadangan gas dan minyak terukur di blo itu sebanya 1,35 triliun kaki kubik gas dan 9,8 juta barel minyak.

Sekedar informasi, ENRG melalui anak-anak perusahannya memiliki 50% saham di blok Kangean PSC di Jawa Timur.

ENRG: Blok Kangean sudah Produksi 2.000 Barel/Hari
Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Senin, 13 Desember 2010 | 19:44 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi mega Persada Tbk (ENRG) menjelaskan lapangan Sepanjang yang berada di blok Kangean PSC Jawa Timur sudah mulai berproduksi minyak sebesar 1.800-2.000 barel per hari.

Hal itu dikatakan Dirut ENRG Imam Agustino yang dikutip dari keterangan resmi perseroan, Senin (13/12). “Kembalinya berpoduksi aliran minyak dari lapangan Sepanjang merupakan salah satu dari beberapa tahapan yang telah dicapai perusahaan,” katanya.

Salah satu anak perusahaan ENRG, Kangean Energy Indonesia Limited juga melaporkan Floating Storange Offloading (FSO) baru yang diperasikan PT Tirtajaya Segara telah tiba dan siap beroperasi di lokasi. FSO ini memiliki kapasitas untuk menyimpan minyak sampai dengan 350.000 barel.

Perseroan juga berharap dapat mulai berproduksi gas dari lapangan Seng dan Segat di blok bentu PSC di Provinsi Riau. Selain itu produksi minyak dari lapangan Pagerungan Utara di blok Kangean PSC di Jawa Timur pada akhir tahun ini.

Pada semester I 2010, blok Kangean PSC memproduksi 28 juta kaki kubik gas perr hari dan 1.400 barel minyak perhari dari jumlah cadangan 2P blok tersebut sebesar 1,35 triliun kaki kubik gas dan 9,8 juta barel minyak.

ENRG melalui anak-anak perusahaan memiliki 50% working interest di blok Kangean PSC Jawa Timur.

Merger Esia-Flexi dinilai tingkatkan potensi pasar
Oleh Bambang P. Jatmiko & Arif Pitoyo | 13 December 2010
bisnis

JAKARTA: Merger Esia-Flexi dinilai akan meningkatkan nilai dan potensi pasar masing-masing layanan meski ada kekhawatiran perusahaan hasil merger akan dijual ke investor dari China dan Korsel.

Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiadi mengatakan secara pembukuan di Telkom tidak ada aset yang dijual, malah nilai dan potensi pasarnya bisa makin besar.

“Adapun ‎kekhawatiran Serikat Karyawan Telkom bahwa Flexi terancam dijual ke asing pasca meger, kurang beralasan, dan harus dibicarakan dengan kedua manajemen perusahaan tersebut,” ujarnya hari ini.

Dari sisi pelanggan, tambahnya, merger tersebut akan menguntungkan pelanggan karena coverage yang makin luas serta ditunjang dengan kanalisasi frekuensi yang makin lebar.

Wigrantoro mengungkapkan pelanggan tidak akan dirugikan karena merger, karena perubahan manajemen tidak mesti layanan makin buruk.

“Sejumlah operator swasta juga tetap memberikan layanan yang bagus. Sementara Telkom bisa fokus pada portofolio yang lain,” ujarnya.

Serikat Karyawan (Sekar) PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) semakin gencar mendesak pembatalan merger Flexi-Esia, dan akan menggelar demonstrasi besar pada 16 Desember.

Ketua Umum DPP Sekar Telkom Wisnu Adhi Wuryanto mengatakan hingga saat ini belum ada respon dari pemerintah terkait dengan desakan yang dilakukan oleh Sekar Telkom.

“Penjualan Flexi merupakan penjualan aset negara. Sebaliknya, jika Telkom yang mengambil Esia, itu tidak masalah selama perhitungan bisnis memungkinkan,” ujarnya hari ini.

Wisnu mensinyalir apabila merger jadi dilaksanakan, dan BHP berdasarkan pita diterapkan, di mana semua operator akan menjadi seluler, maka Telkom akan terkena kepemilikan silang seperti yang tercantum dalam UU Antimonopoli dan Persaingan Tidak Sehat dan harus melepas salah satu antara Flexi atau Telkomsel.

Dalam hitungan Sekar Telkom, nilai buku Flexi saat ini mencapai Rp9 triliun, dan jumlah tersebut kemungkinan bisa mengalami kenaikan dengan mempertimbangkan variabel yang lain.

Rencana merger antara Flexi dan Esia sejauh ini masih menunggu selesainya suksesi di jajaran direksi Telkom.

Komisaris Utama Telkom Tanri Abeng mengatakan sejauh ini ada dua opsi yang diajukan Telkom, yaitu menjadi mayoritas dalam konsolidasi dua perusahaan itu, atau menjadi minoritas dengan kompensasi dari Grup Bakrie.

Opsi itu diajukan lantaran asset Flexi dinilai lebih besar daripada Esia. Kendati demikian, Telkom kemungkinan memilih mendapatkan kompensasi dana dari Grup Bakrie dalam konsolidasi Flexi-Esia.

“Untiuk keputusan finalnya, kami masih melakukan pembicaraan antara Telkom dan Bakrie,” ujar Tanri Abeng pekan lalu.(api)
Inilah 3 Pemegang Saham Terbesar ENRG
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Sabtu, 11 Desember 2010 | 08:02 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Sebagai perusahaan publik, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memiliki 3 pemegang saham terbesarnya.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Perseroan ke BEI, Jumat (10/12), setidaknya ada 3 pemegang saham ENRG yang terbesar dengan jumlah saham sebanyak 40.584.110.412 saham.

Adapun 3 pemegang saham ENRG terbesar adalah PT Ciptadana Securities sebesar 8,55% (3.468.572.878 saham), CS AG (Singapore) PT Kondur In 6,49% (2,635 miliar saham) dan Mellon Bank sebesar 6,78% (2,75 miliar saham).

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menemukan sejumlah cadangan minyak baru berkapasitas 1220 barel per hari (bph). Penemuan cadangan itu diperoleh melalui dua anak perusahaan perseroan, yakni PT Insani Mitrasani Gelam (IMG) dan Kondur Petroleum SA.

Melalui dua anak usahanya tersebut, ENRG memiliki kontrol atas 100% dan 60,49% participating interest dalam masing-masing blok Gelam TAC dan Blok Malacca Strait PSC. Kegiatan pengeboran di Gelam dan penemuan minyak baru di blok Selat Malak itu dihar

Sumber : VIBIZDAILY.COM

ENRG Temukan Cadangan Minyak Kapasitas 1.220 barel
Headline

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Selasa, 7 Desember 2010 | 15:29 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menemukan sejumlah titik cadangan minyak baru dengan kapasitas 1.220 per hari di blok Gelam TAC dan Malacca Strait PSC.

Demikian seperti dikutip INILAH.COM dari siaran pers, Selasa (7/12). Penemuan tersebut diperoleh melalui dua anak perusahaannya yaitu PT Insani Mitrasani Gelam (IMG) dan Kondur Petroleum SA (Kondur).

EMP memiliki kontrol 100% melalui anak-anak perusahaannya dan 60,49% participating interest dalam masing-masing blok Gelam TAC dan blok Malacca Strait PSC.

“Dari kegiatan pengeboran di Gelam dan penemuan minyak baru di blok Selat Malaka, kami berharap akan mampu meningkatkan kemampuan produksi minyak ENRG sebesar kurang lebih 1.220 per barel setiap harinya,” ujar CEO ENRG Imam Agustino.

Lebih lanjut ia mengatakan, penambahan produksi yang berarti dari total produksi ENRG yang sebesar 13.170 per barel setiap harinya. Selama semester pertama 2010, Gelam TAC Jambi telah menghasilkan 290 barel minyak per hari dengan cadangan 2P sebesar 3 juta barel.

Kegiatan pengeboran telah berhasil diselesaikan dengan penemuan reservoir minyak dengan ketebalan 30 meter. Setelah pengeboran yang menghasilkan tambahan produksi minyak sebanyak 320 barel minyak per hari, ENRG berencana untuk melakukan pengeboran tambahan tiga sumur lainnya di lapangan tersebut untuk meningkatkan produksi minyak perusahaan.

Sementara, Kondur Petroleum SA berhasil menemukan cadangan minyak baru berkapasitas produksi 900 barel minyak per hari di blok Malacca Strait PSC. Penemuan tersebut diperoleh setelah melakukan pengujian atas lima sumur tua dan tidak aktif di lapangan Kurau, blok Selat Malaka.

“Penemuan ini akan meningkatkan kinerja ENRG di masa mendatang, serta memperkuat posisi ENRG sebagai produsen minyak dan gas dengan jumalh cadangan 2P sebesar 567 juta barel,” pungkasnya. [ast]
ENRG Rugi Rp150,44 Miliar di Q3-2010
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh:
Pasar Modal – Rabu, 1 Desember 2010 | 12:55 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp150,44 miliar pada kuartal 3-2010 setelah mengalami rugi Rp347,92 juta di periode serupa 2009.

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan Perseroan ke BEI, Rabu (1/12) dijelaskan kerugian ini disebabkan beban keuangan yang masih besar mencapai Rp233,32 miliar serta kerugian kurs sebesar Rp49,13 miliar.

Namun, Perseroan mencatatkan kenaikan laba usaha di kuartal 3-2010 menjadi Rp54,45 miliar dari priode serupa 2009 sebesar Rp38,84 miliar. Sementara, penjualan di kuartal 3-2010 mengalami penurunan dari Rp1,05 triliun menjadi hanya Rp830,56 miliar.

Pada kuartal 3-2010, Perseroan masih mencatatkan kewajiban sebesar Rp5,25 triliun, sementara ekuitas bersih sebesar Rp5,76 triliun. [cms]

Merger Flexi-Esia semakin mulus
OLEH BAMBANG P. JATMIKO & ASEP M.H MULYANA Bisnis Indonesia

Telkom meminta kompensasi JAKARTA: Merger divisi Flexi milik PT Telekomuni kasi Indonesia Tbk dan Esia, merek dagang milik PT Bakrie Telecom se makin mulus.
Merger dengan skema pembentukan perusahaan patungan itu kini tinggal menentukan soal kepemilikan dan kompensasi kepada BUMN telekomunikasi tersebut.

Komisaris Utama Telkom Tanri Abeng mengatakan perseroan mengajukan dua opsi berkaitan dengan pembentukan perusahaan patungan itu. Opsi pertama, Telkom menjadi mayoritas atau, kedua BUMN itu menjadi minoritas namun mendapatkan kompensasi.

“Pertimbangan perlunya kompensasi bila menjadi minoritas karena nilai aset Flexi lebih besar ketimbang Esia. Meskipun demikian, semua proses itu masih dihitung termasuk pembagian saham masing-masing,“ ujarnya kemarin.

Satu eksekutif puncak Grup Bakrie juga membenarkan merger Flexi-Esia pada tataran pemegang saham kedua belah pihak sudah tidak masalah dan tinggal direalisasikan. “Sudah tidak ada masalah soal itu [merger].“

Berkaitan dengan hasil kajian oleh konsultan independen, Tanri menjelaskan kajian merger kedua operator berbasis CDMA (code division multiple access) sudah tuntas. Kajian itu, lanjutnya, memberikan rekomendasi sinergi Flexi dan Esia cukup prospektif dan bisa mengembangkan bisnis itu.

“Telkom dan Bakrie Telecom juga telah bertemu dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk melaporkan mengenai rencana konsolidasi tersebut.“

Berkaitan dengan persoalan pembagian saham, analis Samuel Securities M. Alfatih menilai perlu adanya audit untuk memberikan perhitungan yang lebih pasti mengenai komposisi pembagian kepemilikan di perusahaan patungan tersebut.

Menurut dia, kinerja Telkom saat ini sebenarnya lebih ditopang oleh Telkomsel, sedangkan Flexi belum begitu memberi kontribusi yang signifikan. “Dalam hal ini Telkom bisa menjadi minoritas, namun perusahaan tersebut harus mendapatkan ganti yang sepadan karena aset Flexi lebih besar daripada Esia,“ ujarnya.
Transparansi Menurut Alfatih, transparansi proses serta hitung-hitungan bisnis yang tepat juga harus menjadi perhatian sebelum menuju merger sehingga aksi korporasi antara Telkom dan Bakrie Telecom tidak menjadi komoditas politik.

“Jangan sampai proses sinergi ini seperti Krakatau Steel sehingga melebar ke mana-mana. Perlu adanya kejelasan hitung-hitungan bisnis di antara dua perusahaan yang terlibat itu,“ tandas Alfatih.

Indikasi itu juga sudah terlihat dari adanya resistansi dari Serikat Karyawan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Sekar Telkom). Bahkan, seperti dikatakan Ketua II DPP Sekar Telkom Muhlis Mustaming, figur direksi BUMN yang akan ditetapkan pada RUPSLB 17 Desember merupakan figur yang antipenjualan aset negara, khususnya antipenjualan Flexi dengan dalih merger Flexi­Esia.

“Sekar melihat tidak cukup alasan untuk melakukan merger baik dari sisi finansial, aspek sosial, aspek manajemen risiko dan terutama aspek eksistensi SDM. Sekar menduga setelah merger, Flexi akan dilego lagi.“

Sekretaris Jenderal Sekar Telkom Asep Mulyana menambahkan merger Flexi dengan Esia bukanlah pilihan yang terbaik bagi bisnis Telkom ke depan. Bisnis Flexi, menurutnya, masih menguntungkan dan prospek ke depannya cukup bagus.

“Dengan demikian, tidak ada alasan harus digabung dengan Esia, kecuali ada tekanan politis terhadap rencana tersebut.“ (bambang.jatmiko@bisnis.co.id/asep.mulyana@bisnis.co.id)

Anindya: Tak Ada Rencana PHK
Headline
IST
Oleh: Andika Sugiarto
Pasar Modal – Kamis, 25 November 2010 | 16:40 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pihak Bakrie Telecom meyakinkan pihaknya tidak ada pembicaran soal pengurangan karyawan apabila proses merger Flexy – Esia menjadi kenyataan.

Hal ini seperti disampaikan Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya Bakrie usai pengukuhan kepengurusan Kadin masa bakti 2010-2015 di Jakarta, Kamis (25/11)

“Tentunya kita tidak dalam posisi membicarakan apa-apa (pengurangan karyawan). Kalau dari sisi lain, saya melihatnya bukan tidak mungkin akan ada peningkatan sumber daya, kalau pelangganannya bertambah maka akan ada penguatan sumber daya,” jelasnya.

Dia juga menolak tuduhan pihak-pihak yang menyatakan bahwa konsolidasi dua perusahaan telekomunikasi ini lebih banyak mendatangkan keburukan daripada manfaatnya. “Konsolidasi ini akan penginnya memberikan benefit bagi banyak pihak. Apakah benefit bagi kita dan pemangku kepentingan lainnya, benefit mitra usaha, benefit karyawan, itu harus dibicarakan baik2,” jelas Anin.

Putra Sulung Aburizal Bakrie ini menambahkan bahwa isu Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi perhatian serius perusahaan karena merupakan aset penting kedua belah pihak. “Kita melihat bahwa SDM adalah sumber daya yang paling penting, apalagi industri ini paling dekat dengan inovasi. SDM itu aset yang besar apabila terjadi penggabungan maka akan bersama-sama memacu membangun kepentingan nasional yang dapat dibanggakan atau national brand,” pungkasnya.

Sebelumnya, Serikat Karyawan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Sekar) menolak adanya rencana penggabungan Flexi dengan Esia, sebuah anak perusahaan Group Bakrie karena dinilai langkah ini lebih banyak mudharat (keburukan) daripada manfaatnya. [hid]

Rabu, 24/11/2010 19:05:27 WIB bisnis
Menteri BUMN tak ikut campur soal merger Flexi & Esia
Oleh: Gita Arwana Cakti
JAKARTA: Kementerian BUMN menyerahkan sepenuhnya pembahasan rencana merger Flexi dan Esia kepada manajemen PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan pihaknya tidak mencampuri rencana aksi korporasi tersebut. Dia juga mengatakan belum mengetahui apakah rencana tersebut akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diselengarakan pada 17 Desember 2010.

“RUPSLB kan tetap 17 Desember 2010. Saya tidak tahu apakah membahas rencana kerjasama Flexi-Esia. Saya tidak masuk ke ruang [masalah] itu. itu mereka sendiri yang membahas,” ujarnya hari ini.

Salah satu hal yang diketahui Kementerian BUMN untuk dibahas pada RUPSLB adalah penetapan pergantian direksi dan manajemen BUMN telekomunikasi tersebut. Dia juga berharap pergantian direksi tidak ada kaitannya dengan rencana aksi korporasi yang akan perseroan lakukan.

“Agenda RUPSLB itu kan pergantian pengurus, baik direksi dan komisaris. Tapi saya berharap tidak ada kaitan antara pergantian direksi dengan rencana merger itu,” paparnya.

Sebelumnya, Serikat Karyawan Telkom (Sekar Telkom) menegaskan tidak bisa bekerja sama dengan direksi yang akan menggabungkan Flexi dan Esia. Mereka mengharapkan direksi BUMN yang akan dipilih dalam RUPSLB merupakan figur yang anti penjualan aset negara, khususnya anti penjualan di Divisi TelkomFlexi dengan dalih merger Flexi- Esia, anak perusahaan Group Bakrie.

Berdasarkan catatan Bisnis, menurut sumber yang mengetahui proses tersebut, Rinaldi Firmansyah disebut-sebut tetap menjabat sebagai Direktur Utama Telkom. Jika benar terpilih, Rinaldi berarti mengalahkan Direktur Network&Solution Telkom Ermadi Dahlan dan Direktur Enterprises&Wholesale Telkom Arief Yahya yang kabarnya juga dicalonkan menduduki posisi puncak BUMN tersebut.

Selain itu, Mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal kabarnya ditunjuk sebagai Komisaris Utama Telkom, adapun Rudi Antara dan Joni Swandi Sjam menjadi Komisaris Telkom. Saat ini posisi Komisaris Utama diduduki oleh Tanri Abeng. Komisaris lainnya adalah Bobby A.A Nazief, Mahmuddin Yasin, P. Sartono dan Arif Arryman (almarhum). (faa)
Rabu, 24/11/2010 17:30:04 WIB bisnis
EMP Energi resmi miliki 10% Blok Masela
Oleh: Bambang P. Jatmiko
JAKARTA: PT Energi Mega Persada Tbk melalui anak usahanya, PT EMP Energi Indonesia hari ini resmi mengakuisisi 10% Blok Masela milik Inpex Corporation.

Dalam keterangan resmi perseroan hari ini, disebutkan bahwa Blok Masela akan dikerjakan antara Energi mega dan Inpex. Perseroan tertarik untuk masuk ke blok tersebut karena cadangan gas yang dimiliki naik sekitar 2,5 kali lipat dari sebelumnya setara 226 juta barel menjadi 570 juta barel.

Energi Mega adalah salah satu pemegang saham di blok tersebut, sedangkan Inpex masih menjadi pemegang saham mayoritas, yaitu mencapai 90%.

Blok Masela memproduksi gas, dan kedua perusahaan akan mengembangkan blok tersebut sebagai lapangan gas. Blok ini memiliki area seluas 3.221 kilometer persegi dengan kedalaman air antara 300 meter hingga 1.000 meter.

Inpex selaku operator telah mengembangkan lapangan tersebut sejak 2000 melalui sumur Abadi-1. Melalui sejumlah pengkajian, jumlah cadangan gas dinyatakan mencukupi untuk sebuah proyek pengembangan LNG.

Jajaran manajemen perseroan mengungkapkan akuisisi selesai dilaksanakan pada Senin pekan ini, dan penyelesaian transaksi dilakukan pada hari ini.

Nilai akuisisi 10% saham Blok Masela mencapai US$100 juta. Dana tersebut diperoleh dari rights issue yang dilakukan pada awal tahun ini.

Akuisisi Blok Masela memungkinkan Energi Mega peningkatan revenue yang signifikan, meskipun blok tersebut baru berproduksi pada 2016. (faa)

ENRG akan segera memulai produksi minyak baru dari lapangan Pagerungan Utara dan lapangan Segat, Jawa Timur pada Desember 2010. Menurut Investor Relation ENRG Herwin Hidayat, produksi minyak dari lapangan Pagerungan utara sebesar 2.500 per barel per hari. Sementara produksi gas baru dari lapangan Segat sebesar 20 juta kaki kubik per hari.

Sumber : IPS Research

ENRG:Lap Pagerungan Produksi 2500 Barel/hari
Headline

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Rabu, 17 November 2010 | 12:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) akan segera memulai produksi minyak baru dari lapangan Pagerungan Utara dan lapangan Segat pada Desember 2010.

Hal itu disampaikan Investor Relations ENRG Herwin Hidayat lewat pesan singkat yang diterima INILAH.COM, Senin (15/11). Herwin menuturkan, produksi minyak dari lapangan Pagerungan Utara sebesar 2.500 per barel per hari. Sementara produksi gas baru dari lapangan Segat (Bentu PSC, Riau) sebesar 20 juta kaki kubik per hari. “Kedua lapangan tersebut akan mulai produksi pada Desember 2010,” kata Herwin.

Herwin mengklaim, hingga saat ini belum ada aksi korporasi apa pun dari ENRG. Perseroan telah melunasi pinjaman dari Credit Suisse sebesar US$250 juta pada Februari lalu dari dana hasil penawaran umum terbatas. Saat ini, sisa utang ke credit suisse sebesar US$200 juta.

“Pinjaman tersebut baru akan jatuh tempo nanti pada 2013. Selain itu, rasio kecukupan modal terhadap utang perusahaan masih sangat baik di bawah 1 x
tepatnya masih di level 0,53x.” tutur Herwin.

Seperti diketahui, ENRG dikabarkan akan menerbitkan obligasi untuk melunasi sisa utang.Sebelumnya, perseroan mencatatkan konsistensi produksi sebesar 6.400 barel/hari dari Januari hingga September 2010. Rata-rata produksi gas menjadi 40.9 juta kaki kubik per hari bila dibandingkan dengan kinerja produksi perusahaan pada semester pertama 2010 sebesar 6.500 per barel minyak/hari dan 40,5 juta kaki kubik gas/hari.

Direktur Utama ENRG Imam Agustino dalam siaran pers mengatakan, terlepas dari penghentian sementara atas produksi dari lapangan minyak sepanjang di blok Kangean PSC sejak Agustus 2010.

Aktivitas workover di lapangan gas Pagerungan dan instalasi tambahan kompresor di lapangan gas Sambutan mampu meningkatkan produksi gas perusahaan. Selanjutnya, blok Malacca Strait PSC berhasil mencatatkan produksi rata-rata harian sebesar 4.200 barel per hari untuk Juli dan 4.400 barel per hari pada Agustus hingga September 2010. [ast]
Laba Bakrie Telecom Melonjak 52,7%
Laju pertumbuhan pelanggan mampu menembus 12,1 juta pada kuartal III-2010.
Selasa, 16 November 2010, 19:14 WIB
Arinto Tri Wibowo
RUPS Tahunan Bakrie Telecom

VIVAnews – PT Bakrie Telecom Tbk pada kuartal III-2010 membukukan kenaikan laba bersih sebesar 52,7 persen menjadi Rp148,6 miliar dari sebelumnya Rp97,3 miliar pada periode sama 2009. Margin laba bersih juga meningkat tajam dari 3,8 persen menjadi 5,8 persen.

Sementara itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) naik sebesar 11,8 persen dari Rp921,5 miliar menjadi Rp1,03 triliun. Langkah efisiensi perusahaan mampu mendorong pertumbuhan EBITDA seperti terlihat pada penurunan rasio biaya-biaya operasi dan pemeliharaan serta biaya penjualan dan pemasaran terhadap pendapatan usaha.

“Kenaikan EBITDA juga mengakibatkan membesarnya marjin EBITDA dari 36,2 persen menjadi 40,5 persen,” kata Direktur Utama Bakrie Telecom, Anindya N Bakrie, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa 16 November 2010.

Pendapatan usaha secara year on year juga tumbuh dari Rp2,54 triliun pada kuartal III-2009 menjadi Rp2,54 triliun pada periode sama tahun ini. Sedangkan pendapatan usaha bersih meningkat dari Rp2,01 triliun menjadi Rp2,04 triliun pada kuartal III-2010.

Sementara itu, laju pertumbuhan pelanggan mampu menembus 12,1 juta pada kuartal III-2010. Dengan pertumbuhan ini, Bakrie Telecom mencatat kenaikan pelanggan sebesar 23,1 persen dibanding kuartal III-2009. Jumlah pelanggan operator code division multiple access (CDMA) pada periode tersebut tercatat 9,8 juta.

Anindya mengatakan, iklim kompetisi yang makin ketat dalam industri telekomunikasi akan menjadi tantangan serius bagi perusahaan untuk terus menjaga laju pertumbuhan pelanggan dan kinerja keuangan yang positif.

“Sejauh ini kami mampu mengeluarkan berbagai terobosan produk dan layanan yang inovatif, sehingga menempatkan Esia sebagai produk telekomunikasi yang murah dan andal,” tuturnya.

Selain mengembangkan terobosan inovatif dengan menerapkan tarif Rp1 untuk semua tarif, menurut Anindya, Esia juga akan semakin fokus mengoptimalisasikan kualitas jaringannya. “Sekarang Esia telah menjangkau 82 kota tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat,” kata Anindya.
• VIVAnews
KPPU Ancam Batalkan Merger Flexi Dan Esia
Jika Penggabungan Asetnya Lebih Dari 2,5 Triliun
Sabtu, 13 November 2010 , 00:11:00 WIB

RMOL.Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengancam akan membatalkan proses merger an­tara Flexi dan Esia, jika dari hasil kajian komisi ini terbukti merger kedua produk layanan seluler berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) terse­but, me­nye­­babkan persaingan usaha yang tidak sehat.

Karena itu, PT Telkom Tbk se­laku pemi­lik Flexi dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) selaku pemilik Esia diminta untuk meng­konsulta­sikan renca­na merger tersebut.

“Agar jangan sampai dibatal­kan mergernya, perusahaan yang akan melakukan merger sebaik­nya melakukan konsultasi terle­bih dahulu,” kata Pelaksana Ha­rian (Plh) Kepala Biro Hubung­an Masyarakat (Humas) dan Hukum KPPU yang juga Kepala Bagian Advokasi Zaki Zein Bad­roen di Jakarta, kemarin.

Dalam paparannya di Kemen­terian BUMN, beberapa waktu lalu, manajemen Telkom mengu­ta­ra­kan, manfaat yang diperoleh de­ngan melepas Flexi dan dikon­solidasikan dengan Esia. Di an­tara­nya, BUMN telekomunikasi itu tidak mengeluarkan dana, se­mua aset termasuk SDM Flexi akan dialihkan ke Bakrie Tele­com. Sebaliknya, dalam kaitan kon­­­solidasi itu, Telkom akan men­­­­dapatkan kompensasi berupa saham perusahaan telekomuni­kasi Grup Bakrie tersebut.

“Kalau jadi mengambil alih saham BTEL, metodenya bukan akuisisi. Kami tidak akan menge­luarkan uang untuk memperoleh saham BTEL. Saham BTEL nan­ti­­nya ditukar dengan aset Flexi. Jadi, kami akan menempuh meto­de bisnis kombinasi. Mereka akan menerbitkan saham baru (right issue) untuk kepentingan itu,” ungkap Direktur Utama Tel­kom Rinaldi Firmansyah.

Namun Zaki menjelaskan, pe­merintah telah menerbitkan Pera­turan Pemerintah (PP) No.57/2010 tentang Penggabungan atau Pe­le­buran Badan Usaha dan Pe­ngam­bilalihan Saham Peru­sa­haan (akui­sisi) sebagai imple­mentasi dari pasal 28 dan 29 Un­dang Undang (UU) No.5 Ta­hun 1999 tentang Larangan Prak­tek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam PP itu antara lain diatur soal threshold (am­bang batas). Setiap pelaku usaha yang mela­kukan merger dan aku­sisi yang melampaui thres­hold, wajib mela­porkan ha­sil­nya ke KPPU.

Batasan threshold, kata Zaki, jika perusahaan hasil merger dan akuisisi memiliki aset gabungan melebihi Rp 2,5 triliun. Semen­tara omzet gabungannya mele­bihi Rp 5 triliun. Kusus untuk per­ban­kan berlaku jika hanya aset ga­bungan melebihi Rp 20 triliun. “Bila mencapai itu, mereka yang akan merger harus melapor­kan­nya ke KPPU,” tegasnya.

Pihak Bakrie Telecom (BTEL) seperti dikemukakan Dirut BTEL Andindya Bakrie mengatakan, akan mengkonsultasi rencana merger ini dengan KPPU. Na­mun, hal itu baru dilakukan jika proses mer­ger dua institusi bisnis ini su­dah disetujui pemerintah, ter­ma­suk pemegang saham.

Dari laporan terse­but, kata Zaki, KPPU akan mela­kukan penilaian terhadap aksi mer­ger atau akuisisi yang dila­ku­kan pe­rusahaan yang terlibat, apa­kah merger itu menye­babkan persa­ingan tidak sehat atau tidak. [RM]

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) di tahun depan yang jumlahnya tidak jauh berbeda dengan yang dianggarkan di 2010 sebesar USD200 juta. Capex tahun depan sama dengan yang dianggarkan di tahun ini, USD200 juta.
… duitnya DARI MANA????
Sumber : OKEZONE.COM
Alasan Telkom Flexi Meminang Bakrie Telecom
Telkom masih ingin memegang kendali perusahaan hasil merger. Rabu, 10 November 2010, 17:13 WIBAntique, Purborini

VIVAnews – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom berkode saham TLKM) kembali mengungkapkan rencananya melakukan konsolidasi Telkom Flexi dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Telkom pun menyampaikan sejumlah alasan mengapa rencana itu ditempuh.

Alasan pertama, Telkom mengaku tengah mengantisipasi munculnya aturan bahwa satu operator hanya boleh memiliki satu lisensi. “Telkom lebih memilih menjadi pemain di GSM (Global System for Mobile Communications), karena telah memiliki jumlah pelanggan yang besar,” kata Direktur Keuangan Telkom, Sudiro Asno di Jakarta, Rabu 10 November 2010.

Di pasar seluler, Telkom memiliki Telkomsel yang bermain di segmen GSM, serta Telkom Flexi yang bermain di Code Division Multiple Access (CDMA).

Kedua, menurut Sudiro, Flexi memiliki keterbatasan spektrum untuk meningkatkan performa data. “Alasan ketiga adalah berbagi risiko dengan pihak lain,” tutur Sudiro.

Sudiro mengatakan lamanya proses diskusi soal konsolidasi dua perseroan itu dikarenakan Telkom masih ingin tetap sebagai pemegang mayoritas. “Kami ingin tetap mayoritas agar tidak membahayakaan posisi Telkomsel di masa depan,” kata dia.

Namun, dia melanjutkan skema penyatuan pemain seluler jalur CDMA ini masih dibicarakan hingga saat ini. “Arahnya ke merger, tetapi bagaimana komposisinya ini masih dibicarakan,” ujar Sudiro.

Sudiro menuturkan, kemungkinan besar dari merger kedua perusahaan telekomunikasi tersebut akan dibentuk perusahaan baru. “Kalau ini sudah terbentuk baru Flexi di-spin off,” tutur dia.

Terkait dengan hal ini, Telkom tahun menahan belanja modal (capital expenditure/capex) Flexi. Telkom tahun ini juga merevisi belanja modanya dari rencana semula US$2 miliar menjadi US$1,5 miliar. “Capex Flexi ditahan karena dipandang sebagai bisnis yang ketat persaingan,” ujarnya. (hs)

• VIVAnews “Kami Belum Terikat Apapun Dengan Bakrie”
Minggu, 07 November 2010 , 04:55:00 WIB

RMOL. Merosotnya saham Telkom (TLKM) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir-akhir ini, ditanggapi santai oleh Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia. Menurut­nya, itu merupakan hal biasa.

Eddy membantah ketidakjela­san perkembangan merger antara Esia dan Flexi sebagai salah satu faktor penyebab turunnya harga saham. Menurutnya, tidak ada hubungannya antara rencana mer­ger dengan anjloknya saham.

Dia menilai, saat ini posisi kon­solidasi sudah sangat jelas, yaitu belum ada keterikatan apapun khususnya dengan Bakrie Tele­com (BTEL).

“Kami melakukan diskusi dengan operator mana­pun, tidak hanya dengan Esia. Namun dis­kusi itu bukan berarti akan jadi keputusan. Tidak benar jika ada yang menganggap ini tidak jelas. Saat ini, jelas sekali posisinya. Sampai sekarang, belum ada ikatan apapun,” lanjut Eddy.

Konsolidasi itu, lanjut dia, ha­rus mempertimbangkan ba­nyak hal. Di antaranya analisia menge­nai keuntungan dan keru­gian. Selain itu, juga perlu me­mikirkan potensi sumber daya.

Masih soal merger, Wakil Ke­tua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Anna Maria Tri Anggraeni mengatakan, dia me­ngakui pihaknya menemukan in­dikasi akan terjadi monopoli bila merger kedua operator itu ter­wujud. Menurut Anna, di luar dua operator yang akan merger, pang­sa pasar dua operator sejenis lainnya di bawah 20 persen. Se­hingga, penggabungan dua ope­rator besar itu dapat me­nguasai pasar sekitar 80-90 persen.

Saat ini terdapat empat opera­tor yang menyediakan layanan fixed wireless access (FWA), yakni Flexi (Telkom), Esia (Ba­krie Telecom), StarOne (Indosat) dan Hepi (Mobile-8). Pelanggan Telkom mencapai 16 juta, Esia 10 juta, sementara StarOne dan Hepi masih dibawah 4 juta. Pengga­bungan Flexi dan Esia menjadi­kan sinergi dua perusahaan ini bakal menguasai pasar FWA hingga 90 persen.

Selain menyediakan layanan FWA, Mobile 8 juga memiliki layanan seluler dengan produk Fren. Mobile 8 telah melakukan merger dengan Smart (Smart Telecom). Sinergi dua operator CDMA ini keduanya melahirkan produk SmartFren. Merger ke­duanya dinilai tidak menganggu pasar seluler, karena pangsa pa­sarnya relatif kecil. Pangsa pasar kedua produk yang di merger ini masih dibawah angka 5 persen.

Optimistis

Eddy juga menjelaskan tentang kinerja keuangan Telkom yang mengalami penurunan pada kuar­tal III. Pihaknya akan berusaha memperbaiki kinerja tersebut pada kuartal berikutnya.

“Saat ini situasi bisnis sangat kompetitif. Kami berupaya se­mak­simal mungkin untuk lebih baik ke depannya. Sekarang ma­sih kuartal III, masih ada kesem­patan hingga akhir tahun. Kami optimis bisa lebih baik,” katanya.

Sebelumnya, Telkom men­ca­tat­kan penurunan kinerja ke­uang­an per September 2010. [RM]
Rabu, 10/11/2010 16:59 WIB
Sinergi Flexi-Esia Tidak Bisa Tahun Ini
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Rencana sinergi antara dua operator Code Division Multiple Access (CDMA) terbesar di Indonesia (Telkom Flexi dan Esia) diperkirakan tidak akan tuntas pada tahun 2010. Pasalnya, masih terjadi tarik-menarik kepentingan akan skema merger atau penggabungan usaha.

“Skema masih didiskusikan. Enggak gampang. Telkom minta posisi Presdir, atau Komut dari sana. Ini misal. Kita terus diskusi dengan pihak-pihak terkait. Internal juga punya masalah masing-masing,” kata Direktur Keuangan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Sudiro Asno usai public expose di Hotel Ritz Calton, SCBD Jakarta, Rabu (10/11/2010).

Ia menyampaikan, perseroan ingin menyelesaikan dengan cepat proses sinergi ini. Targetnya, seluruh proses tuntas di 2011. Flexi merupakan salah satu unit usaha Telkom, sementara Esia merupakan produk milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), anak usaha Grup Bakrie.

“In cash tergantung skemanya. Saham newco (new company) yang dinilai. Arahnya membentuk usaha baru. Flexia atau flexio. Target secepatnya. Insya Allah 2011,” paparnya.

Ia menambahkan, dalam proses sinergi ini Telkom tidak melakukan akusisi atau pembelian. Namun apakah BTEL yang membeli anak usaha Telkom-Flexi? Sudiro tidak menjawab secara tegas.

“Belum tahu. Belum mengarah ke sana. Yang pernah dibicarakan adalah join operation. Nilainya tidak sebesar nilai Flexi itu sendiri dan akan ada proses cash inflow, misalkan nilai dibawah nilai Felxi,” paparnya.

Sementara itu, perseroan juga akan memangkas alokasi belanja modal dari US$ 2 miliar menjadi US$ 1,5 miliar. Hal ini dilakukan karena terjadi efisiensi infratruktur yang ongkosnya makin murah. Utamanya teknologi Cina.

(wep/ang)
Senin, 08 November 2010 | 15:27 oleh Abdul Wahid Fauzie
AKSI KORPORASI ENRG
Akuisisi blok Masela oleh ENRG bakal segera tuntas

JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) akhirnya merealisasikan rencana untuk mengakuisisi Blok Masela PSC dari INPEX. Akuisisi ini akan berlangsung sebelum akhir bulan November.

“Akhir bulan ini sudah selesai,” kata Hubungan Investor ENRG Herwin Hidayat. Menurut Herwin, akuisisi 10% blok Masela akan memakan dana sebesar Rp 945,1 miliar, sesuai dengan janji perusahaan.

Dengan akuisisi Masela, maka kapasitas cadangan ENRG bisa naik 153% atau sebanyak 2,5 kali lipat dari cadangan terbukti perusahaan. Dari blok ini, diharapkan dapat memproduksi 4,5 juta ton gas alam cair (LNG) per tahun. Dana akuisisi ini sudah dialokasikan dari rights issue.
Senin, 08 November 2010 | 15:43 oleh Abdul Wahid Fauzie
AKSI KORPORASI ENRG
ENRG akan bayar utang dengan utang baru

JAKARTA. Aksi gali lobang tutup lobang bukan hal yang baru di perusahaan Grup Bakrie. Kali ini, langkah itu pula yang ditempuh oleh PT Energi Mega Persada (ENRG) yang berencana menerbitkan obligasi dalam waktu dekat. Terkait rencana penerbitan itu, perusahaan minyak dan gas (migas) Grup Bakrie ini sudah melakukan penjajakan minat investor.

Dana itu rencananya akan digunakan ENRG untuk melunasi utangnya. “Kami berencana membayar utang Credit Suisse sebesar US$ 200 juta,” kata Investor Relations ENRG Herwin HIdayat. Menurut Herwin, pembayaran utang ini dilakukan lantaran suku bunga yang didapat sangatlah tinggi, yakni LIBOR plus 12%.

Herwin berencana menekan hal ini agar beban bunga tidak menggerus kinerja perusahaan ke depannya. Menurutnya, pembayaran utang ini akan dilakukannya dengan utang baru alias refinancing. Walau begitu, Herwin mengaku utang ini baru akan jatuh tempo pada 2013 mendatang.

Dia menjelaskan, pihaknya masih belum menetukan opsi pembayaran utang ini. Menurutnya ada tiga opsi yang saat ini menjadi kajian perusahaan. Ketiga opsi itu adalah penerbitan obligasi global, surat utang berjenis term loan, dan pembayaran utang dengan pinjaman perbankan. “Kemungkinan yang paling murah yang akan kami pilih,” ucapnya.

Yang pasti, pinjaman baru ini akan sedikit lebih besar dari pembayaran utang kepada Credit Suisse. Sayangnya, Herwin enggan mengatakan berapa banyak pinjaman yang akan dicarinya tersebut. “Semua masih dalam proses penghitungan,” kilahnya.

Seperti diberitakan KONTAN, ENRG berenana menerbitkan obligasi sebesar US$ 275 juta. Obligasi yang ditawarkan oleh ENRG ini akan jatuh tempo pada 2015. ENRG sudah menunjuk Nomura sebagai penjamin emisi untuk obligasi globalnya.

Bapepam gives IDR4 billion penalties to Bakrie
Jumat, 05/11/2010 20:50:20 WIB
by: Vega Aulia Pradipta
JAKARTA: Capital Market and Financial Institutions Supervisory Agency (Bapepam-LK) gave a total IDR4 billion penalty to directors from three Bakrie Group’s subsidiaries and PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) on violations of capital market laws and regulations.

Those Bakrie Group’s subsidiaries are PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) and PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), which get fined IDR1 billion each. Benakat also received the same amount of penalty.

Head of Committee on Sanctions and Objections at Bapepam-LK Robinson Simbolon said that those companies has violated the rules on general accountancy principles for company financial reports, either 2009 annual financial report or 2010 first quarterly financial report, Regulation No. VIII.G.7, Statement of Financial Accounting Standards (PSAK) No.1 and No. 8.

“Besides, the penalty is given for violating regulations on Utilization Report of Public Offering Fund and Material Transactions, i.e. Regulation No. X.K.4 and No. IX.E.2,” Robinson said in a press release today.

The application of general accounting principles was related to the admittance and presentation of deposits in certain amount, coming from public offering/rights issue.

In fact, such deposits are available no more or have been derived into other form of investment valuing from IDR867 billion to IDR3.334 trillion.

“Failure in presenting it may cause invalid Utilization Report of Public Offering Fund and Material Transactions,” he said.

Furthermore, there is a violation of Regulation on material transaction and change in core business. The violation was a transaction as much as IDR2.68 trillion to buy stock in a pre-emptive rights issue without approval from General Meeting of Shareholders.

The transaction was made to keep the percentage of ownership.

In this case, the supervisory agency (Bapepam-LK) gives administrative penalty to board of directors from those companies, as they are responsible to company management, including the presentation, release and validity of the content and information written in financial reports, either 2009 annual financial report or 2010 first quarterly financial report. (t04/wiw)

Bakrie Telecom Anggarkan Capex Rp2 Triliun
Dana tersebut digunakan untuk penguatan jaringan telekomunikasi perseroan di 82 kota.
Kamis, 4 November 2010, 15:32 WIB
Arinto Tri Wibowo, Iwan Kurniawan
Nyekar ke Pusara Achmad Bakrie : Anindya Bakrie (VIVAnews/Adri Irianto)

VIVAnews – PT Bakrie Telecom Tbk menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp2 triliun untuk 2011. Dana tersebut digunakan untuk penguatan jaringan telekomunikasi perseroan di 82 kota.

Direktur Utama Bakrie Telecom, Anindya Bakrie, menjelaskan selama empat tahun terakhir belanja modal sebesar Rp2 triliun. “Rata-rata Rp2 triliun per tahun. Jadi, ke depan kurang lebih segitu,” kata Anindya di Blitz Megaplex, Pacific Place, Jakarta, Kamis 5 November 2010.

Menurut Anindya, sebagian besar capex digunakan untuk memperluas dan meningkatkan jaringan di 82 kota seluruh Indonesia. Saat ini, perseroan mempunyai 3.900 base transceiver station (BTS) dan akan semakin memperkuat jaringan sinyal di daerah.

Anindya menjabarkan, dana capex sebagian besar diambil dari kas internal sebesar Rp1,3 triliun. Sisanya dana pinjaman bank. Bakrie Telecom berhasil mendapatkan komitmen dari bank asing di China, ICBC sebesar US$300 juta. “Pinjaman dari ICBC untuk working capital, tahun ini baru digunakan sedikit,” katanya.
• VIVAnews
Keuntungan BTEL di Q3-2010 Naik
Headline
IST
Oleh: Andika Sugiarto
Pasar Modal – Kamis, 4 November 2010 | 12:48 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dipastikan meraup kenaikan keuntungan di kuartal 3-2010 dari kartal 2-2010.

Hal ini disampaikan Presdir BTEL, Anindya N. Bakrie di Jakarta, Kamis (4/11). “Untung lebih tinggi dari kuartal 2-2010,” ujarnya. Namun, secara nominal dia belum bersedia menyebutkan angkanya. “Nanti akan diumumkan Jumat,” tegasnya.

Terkait capex 2011 yang nilainya sekitar Rp2 triliun, Anindya mengatakan 50% akan digunakan untuk membeli suplier yang fokus untuk lingkungan. Capex di 2011 ini akan menggunakan dari kas internal perusahaan dan pinjaman dari ICBC sekitar 200 juta dolar.

Dia juga memastikan Perseroan belum akan meningkatkan BTS di 2011. “Kita hanya akan memaksimalkan tower yang ada sekarang ini yang jumlahnya 3.962 tower yang tersebar di 82 kota,” tukasnya.

Dia mengutarakan BTEL sudah memiliki 11,3 juta pelanggan hingga kuartal 2-2010 dan menargetkan 12 juta hingga akhir tahun 2010.

Selain itu, dia juga berharap ada 50 ribu HP yang tidak terpakai dari produk BTEL sampai akhir 2011 yang direcycle. [cms]

ENRG: Produksi Migas Energi Mega Stagnan di 13.100 BOEPD

Produksi rata-rata minyak dan gas PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) hingga triwulan III-2010 mencapai 13.100 BOEPD (barrel of oil equivalent per day) atau tidak berubah dari angka produksi di periode yang sama tahun lalu. Demikian disampaikan Direktur ENRG Amir Balfas dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (3/11/2010). Ia menambahkan, bahwa penghentian sementara produksi di lapangan Sepanjang, Blok Kangean PSC tidak mengganggu aktivitas perseroan. Hingga triwulan III -2010, produksi rata-rata minyak perseroan tetap berada di level Rp 6.300 barrel per hari.

Comment: Kami melihat bahwa produksi migas ENRG masih dalam tahap normal, namun demikian dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2009 relatuif stagnan. Penghentian sementara produksi di lapangan Sepanjang, blok Kangean PSC menjadi faktor pendukung stagnannya produksi migas ENRG, meskipun produksi rata-rata minyak masih tetap berada di level Rp 6.300 barrel per hari. Kedepannya diharapkan ENRG mampu meningkatkan produksi migasnya sejalan dengan pengeboran sumur baru atau sumur pengembangan, serta aktivitas work over dari lapangan Pagerungan, blok Kangean PSC juga blok Semberah TAC. Selain itu, kami menilai bahwa realisasi produksi baru dari dua lapangan eksplorasi ENRG, yaitu lapangan Segat di Bentu PSC, Riau dan lapangan minyak Pegerungan Utara, di wilayah Kangean PSC, Jawa Timur menjadi faktor penting dalam peningkatan produksi migas ENRG. Konsensus analis (Bloomberg) mencatat 2 rekomendasi beli, 1 rekomendasi tahan dan 3 rekomendasi jual dengan target price Rp 148.
Rata-rata produksi minyak Energi Mega 6.400 bph
Rabu, 03/11/2010 19:58:17 WIB
Oleh: Yuda Prihantoro
JAKARTA: PT Energi Mega Persada Tbk membukukan rata-rata produksi minyak hingga kuartal III/2010 sebesar 6.400 barel per hari (bph).

Direktur Utama EMP Imam Agustino mengatakan untuk produksi gas pihaknya hingga kuartal III/2010 sebesar 40,9 juta kaki kubik per hari. Pada semester pertama 2010, perseroan mencatatkan produksi minyak sebesar 6.500 bph dan untuk produksi gas sebesar 40,5 juta kaki kubik gas per hari.

“Terlepas dari penghentian sementara atas produksi dari lapangan minyak Sepanjang di blok Kangean PSC sejak Agustus 2010, kami berhasil mempertahankan konsistensi dari rata-rata produksi harian perusahaan,” ujar Imam dalam siaran persnya, hari ini.

Imam menjelaskan blok Malacca Straits PSC membukukan produksi rata-rata harian sebesar 4.200 bph, 4.400 bph, dan 4.400 bph masing-masing untuk Juli, Agustus, dan September 2010.

Sebelumnya, Head of Investor Relation PT Energi Mega Persada Tbk Herwin Hidayat mengungkapkan jelang akhir tahun ini atau awal 2011 pihaknya berharap bisa mendapatkan tambahan produksi gas dari lapangan Segat yang ada di Blok Bentu PSC (Riau) sebesar 20 juta—30 juta kaki kubik gas per hari.

“Produksi dari minyak dari lapangan Pagerungan Utara, Kangean PSC [Jawa Timur] diharapkan sekitar 5.000—7.000 barel per hari. Karena kami memiliki kepemilikan 50% di Kangean, maka kami akan mendapatkan setengah dari produksi itu,” ujar Herwin. .

Adapun, pada Blok Kangean, EMP memiliki 50% kepemilikan hak partisipasi bersama dengan Mitsubishi Corporation dan Japan Petroleum Exploration Co. Ltd yang masing-masing memiliki 25%.

Terkait perkembangan akuisisi pembelian 10% kepemilikan hak partisipasi di Blok Masela, Herwin mengatakan kalau prosesnya masih terus berjalan. Dia menjelaskan saat ini akuisisi tersebut masih dalam tahap finalisasi joint operation agreement (JOA) dengan Inpex Masela Ltd selaku pengelola blok tersebut.

“Target closing akuisisi atas 10% Blok Masela diharapkan selesai akhir November 2010. Kami optimistis rencana ini akan segera selesai. Sebab dana untuk pembelian 10% di Blok Masela sebesar US$100 juta sudah tersedia karena sudah dialokasikan perusahaan dari dana hasil rights issue Februari 2010”

Herwin menjelaskan total cadangan gas di Blok Masela mencapai 18,5 triliun kaki kubik gas, sementara untuk cadangan minyaknya mencapai 333 juta barel. Berdasarkan rencana, Energi Mega Persada bakal mengoperasikan blok tersebut mulai 2016.

Dia menambahkan kalau dalam waktu dekat pihaknya tidak akan mengakuisisi blok minyak dan gas (migas) baru sebelum proses pembelian 10% kepemilikan hak partipasi di Blok Masela rampung. Kendati demikian, dia tak menampik pihaknya tetap membuka mata pada peluang untuk akuisisi blok baru.

“Kemungkinan itu tetap kami buka, meski itu bukan fokus kami. Soal pendanaan saya belum bisa menyebutkan persiapan kami seperti apa.”

Belum lama ini, EMP melalui anak usahanya Kondur Petroleum S.A sudah menandatangi kontrak jual beli gas dengan BOB PT BSP Pertamina Hulu Energi (BOB). Kontrak tersebut akan berjalan selama 8 tahun yang rencananya dimulai pada semester II/2012 hingga 2020.

Total volume gas yang dikontrakkan dalam perjanjian tersebut adalah 25 miliar kaki kubik gas. Artinya, per hari blok tersebut diharapkan bisa menjual 9 juta kaki kubik gas. (aph)

Energi Mega emisi bond US$275 juta
OLEH IRVIN AVRIANO A.
& YENI H. SIMANJUNTAK Bisnis Indonesia

S&P prediksi risiko keuangan tetap tinggi
Lembaga peringkat internasional lainnya Moody’s Investors Service memberikan peringkat B3 dengan prospek stabil. Rating korporasi Energi Mega juga mendapatkan peringkat dan prospek yang sama.

Namun, hingga tadi malam, Direktur Utama Energi Mega Imam Agustino, Direktur Keuangan Didit Ratam, dan Investor Relation Energi Mega Herwin Wahyu Hidayat, tidak bisa dihubungi untuk dimintai konfirmasi mengenai rencana penerbitan obligasi itu.

Seperti dikutip Bloomberg, Energi Mega menunjuk Nomura Holding Inc sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi berdenominasi dolar AS tersebut. Perseroan akan melakukan roadshow penjualan obligasi itu mulai hari ini kepada investor Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.
Risiko keuangan Adapun, S&P menyebutkan peringkat yang diberikan untuk rencana penerbitan surat utang Energi Mega itu mencerminkan profil risiko keuangan perseroan, kebutuhan investasi yang besar, dan risiko dari proyek-proyek utama.

“Risiko keuangan EMP adalah utang yang tinggi. Kami memperkirakan rasion utang terhadap EBITDA akan berada di atas 10 kali untuk tahun buku yang berakhir Desember 2010,” ujar analis kredit S&P Andrew Wong.

Energi Mega memiliki rencana investasi yang substansial dalam 5 tahun ke depan, lebih dari 90%
dari blok tambang yang dimiliki membuat perseroan harus fokus pada peningkatan produksi.

“Kami memprediksi profil risiko keuangan perseroan tetap tinggi dalam 1 tahun hingga 2 tahun ke depan,” jelas Wong.

Sementara itu, Moody’s menyebutkan peringkat provisional B3 itu ditunjang oleh pendapatan dari sektor gas Energi Mega yang stabil. “Namun, Energi Mega beroperasi di atas leverage [rasio utang terhadap modal] yang sangat tinggi,” ujar Renee Lam, Vice President & Analis Senior Moody’s.

Sementara itu, Analis PT Citi Pacific Securities Henry Effendi menilai penerbitan obligasi itu tidak akan berdampak terhadap utang perseroan, karena dananya akan digunakan untuk membiayai kembali utang yang ada.

Bahkan dia menilai refinancing utang anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk itu akan menguntungkan.
Dalam perkembangan berbeda, PT Medco Energi Internasional Tbk menerbitkan surat utang jangka menengah (MTN) senilai US$50 juta dengan kupon sebesar 6,375% yang akan jatuh tempo pada 2013.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia kemarin, Direktur Utama Medco Darmoyo Doyoatmojo menjelaskan perusahaan dibantu oleh PT Bahana Securities dan PT Kresna Graha Sekurindo Tbk dalam penerbitan efek utang itu.

Perusahaan lain yakni Perum Perumnas dan PT Ideas Elit Mulia juga menerbitkan MTN masingmasing Rp30 miliar dan US$200 juta.

Kupon efek utang Perumnas ditetapkan 14% dan akan jatuh tempo November tahun depan.

Adapun, MTN Ideas Elit Mulia, pengembang fasilitas kolam renang Gelora Bung Karno bertenor 10 tahun dan berbunga 7% per tahun. (irvin.avriano@bisnis.co.id/
Bakrie Telecom jadi anggota GeSI
Selasa, 02/11/2010 12:32:56 WIB
Oleh: Fita Indah Maulani
JAKARTA: PT Bakrie Telecom Tbk mengumumkan telah secara resmi masuk menjadi anggota Global e-Sustainability Initiative (GeSI), suatu organisasi perlindungan lingkungan hidup paling berpengaruh dalam industri informasi dan teknologi komunikasi (ICT) global.

Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk mengatakan pihaknya selalu mengakui pentingnya perlindungan lingkungan dan mengambil peran aktif dalam memajukan teknologi hijau.

“Sebagai anggota Asean pertama di GeSI, Bakrie Telecom diposisikan secara unik untuk menambah perspektif daerah kami untuk gerakan global untuk layanan ICT yang berkelanjutan. Keanggotaan di GeSI akan memungkinkan kami meningkatkan [program] go green bagi bangsa,” ujarnya dalam surat elektronik yang diterima Bisnis, hari ini.

Kepedulian Bakrie Telecom diklaim tercermin melalui peran aktif perusahaan dalam mengembangkan standar perlindungan lingkungan hidup dan peraturan untuk industri, serta melalui pengembangan produk hemat energi dan solusi.

Dengan keanggotaan ini, Bakrie Telecom sedang mencoba untuk memperkuat komitmen untuk menjadi pelopor di lingkungan industri telematika Indonesia. Di luar keanggotaan dalam GeSI, perusahaan ini menerapkan serangkaian inovasi mengganggu pergeseran paradigma pada keberlanjutan bagi industri konektivitas Indonesia.

“Visi kami untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia dengan menyediakan konektivitas informasi. Kami percaya bahwa praktek bisnis yang berkelanjutan berbagi dengan komunitas global adalah cara yang bermakna untuk melakukannya,” ujarnya.

Chairman GeSI, Luis Neves menyambut baik bergabungnya Bakrie Telecom dalam aliansi ini, mengingat semakin meningkatnya keterkaitan industri telematika di Asia dalam menawarkan solusi yang benar-benar global dan berkelanjutan. (msw)
Selasa, 02/11/2010 13:10:48 WIB
Obligasi Energi Mega diganjar peringkat B3
Oleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA: Moody’s Investors Service menetapkan peringkat sementara PT Energi Mega Persada Tbk, emiten migas Grup Bakrie, pada level (provisional) B3 dalam rencana penerbitan obligasi berdenominasi dolar AS.

Hal itu terungkap dalam laporan pemeringkatan Moody’s Investors Service hari ini yang menunjukkan proses penerbitan itu masih dalam proses permintaan peringkat.

Lembaga pemeringkat internasional itu menetapkan peringkat sementara (provisional) B3 untuk peringkat usaha dan peringkat rencana obligasi perseroan. Prospek kedua peringkat itu ditetapkan pada level stabil. Namun, tidak dijelaskan besaran obligasi yang berencana diterbitkan perseroan itu.

Dalam laporan itu juga disebutkan perseroan berencana menggunakan dana penerbitan obligasi untuk mendanai kembali (refinancing) utang perseroan dan untuk mendanai modal kerja.

“Peringkat provisional B3 itu ditunjang oleh pendapatan dari sektor gas Energi Mega yang stabil, yang juga dikukuhkan oleh kontrak yang berjangka waktu panjang,” ujar Renee Lam, Vice President & Analis Senior Moody’s dalam riset itu.

Dia menilai ekspektasi perusahaan pada peningkatan produksi gasnya seharusnya akan menopang stabilisasi arus kas untuk beberapa waktu ke depannya.

Ekspektasi itu, tuturnya, juga masih dipengaruhi oleh keberhasilan perseroan menelurkan pemasukan dari ladang Segat di blok Bentu pada akhir 2010 atau paling lambat pada awal 2011. Dia juga menilai hal itu masih menunggu realisasi pemasukan dari ladang Terang, Sirasun, dan Batur di blok Kangean pada awal 2012.

“Namun, Energi Mega beroperasi di atas leverage [rasio utang terhadap modal] yang sangat tinggi, yang menjadi penentu dalam faktor yang membatasi peringkatnya,” tambah Lam. (faa)
Selasa, 02 November 2010 | 11:40 oleh Barratut Taqiyyah, Bloomberg
SAHAM ENRG
Penunjukan Nomura membuat saham ENRG naik turun

JAKARTA. PT Energi Mega Persada (ENRG) dikabarkan bakal menerbitkan obligasi dollar dalam waktu dekat. Menurut salah seorang sumber Bloomberg yang tidak mau namanya disebut, ENRG bakal menunjuk Nomura Holdings Inc sebagai underwriter untuk memuluskan aksinya itu.

Tidak dijelaskan berapa nilai obligasi yang bakal diterbitkan nanti. Pun begitu dengan waktu penerbitannya.

Adanya kabar tersebut membuat saham ENRG bergerak liar. Pada pukul 10.30, saham ENRG berada di posisi Rp 120 atau naik 0,8%. Sebelumnya, pada transaksi pagi, saham ENRG naik 1,7% menjadi Rp 121.

Namun kemudian, saham ENRG terjerembab ke zona merah dengan penurunan 0,8% menjadi Rp 118. Hingga akhirnya, jelang penutupan, saham ENRG kembali ke titik awal pembukaan.

ENRG Berhasil Atasi Kebocoran Gas Kalila
Oleh : Adi Wijaya
Ekonomi – Minggu, 24 Oktober 2010 | 19:49 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), menyatakan Pasokan Gas Kalila untuk PT PLN sudah kembali normal, setelah kebocoran gas pekan lalu.

Hal ini disampaikan oleh Communication & CSR Manager PT ENRG, Dahrul Hidayat. “Setelah dilakuan perbaikan 9 jam tidak sampai satu hari, pasokan gas Untuk PT PLN (persero) sudah kembali normal dengan kisaran sebesar 7,5 sampai 8 MMSCFD, yang dapat menghasilkan listrik sebesar 18 megawatt (MW), ” katanya kepada INILAH.COM, Minggu (24/10).

Rencananya akan ada pergantian untuk pipa yang bocor. Perseroan tidak menginginkan hal itu akan terulang lagi di kemudian hari. Sebab akan dapat mengganggu proses produksi.

Kebocoran gas terjadi pada pekan alalu tepatnya hari Jum’at (15/10), kebocoran berada dari gas plan menuju Teluk Lembu tepatnya di Desa Melabung Kecamatan, Tenayan Raya, Pekanbaru. tetaptnaya bearda pada lokasi perkebunan kelapa sawit PT Budi Tani. Akibat kebocoran gas tersebut, suplai gas ke PLN terganggu dan akan berimbas pada pemadaman listrik di Pekanbaru. [hid]
Calon Dirut Telkom Dipanggil ke Istana Malam Ini

inilah.com/Wirasatria
Oleh : Agustina Melani
Pasar Modal – Jumat, 22 Oktober 2010 | 17:21 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Calon Direktur Utama dan Komisaris Utama PT Telkom Tbk (TLKM) dikabarkan akan dipanggil ke Istana malam ini.

Menurut sumber di BUMN, Direksi dan Komisaris Telkom menunggu keputusan dari Presiden sebagai ketua TPA sore ini. Direksi dan Komisaris yang terpilih akan dipanggil ke Istana Negara. Pemerintah melalui Tim Penilai Akhir (TPA) akan menetapkan nama calon Direktur Utama dan komisaris utama PT Telkom. “Tinggal menunggu keputusan dari Presiden sebagai Ketua TPA. Sore ini direksi dan komisaris yang terpilih akan dipanggil ke Istana Negara,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri BUMN Mustafa Abubakar menuturkan pihaknya belum bisa menyebutkan apapun mengenai direksi dan komisaris Telkom yang terpilih. Mustafa mengharapkan kabar direksi dan komisaris Telkom yang terpilih segera didapatkan. “Belum ada, semoga segera ada kabar,” tambah Mustafa.

Seperti diketahui, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom yang dilakukan pada 11 Juni 2010, memutuskan memperpanjang masa jabatan direksi dan komisaris. Sama halnya dengan RUPSLB yang dijadwalkan pada 24 September 2010 ditunda dilaksanakan karena penentuan calon belum tuntas di TPA. [cms]
Program 10.000 MW Tahap II Terancam Gagal
Jum’at, 22 Oktober 2010 – 08:45 wib

JAKARTA – Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) mengkhawatirkan program pembangunan pembangkit 10 ribu MW tahap kedua yang berasal dari sumber panas bumi gagal diselesaikan pada 2014.

Pasalnya, hingga saat ini kegiatan pemboran sumur panas bumi untuk mendukung program 10 ribu MW sama sekali belum berjalan. “Sampai menjelang akhir 2010 ini, belum ada pemboran. Bagaimana bisa selesai program 10 ribu MW yang ditargetkan beroperasi 2014,” kata Ketua Umum API Surya Darma di Jakarta kemarin.

Selain itu, dari 10 proyek pembangkit panas bumi yang menjadi bagian dari program 10 ribu MW yang sudah diperoleh pemenang tendernya, hingga saat ini juga belum dilakukan ikatan jual beli (power purchase agreement/PPA) dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). “Pembicaraan saja belum.Padahal, pembahasan PPA minimal berlangsung tiga bulan,” imbuh Surya.

Direktur Utama PT Supreme Energy Supramu Santosa menambahkan, pengembangan panas bumi dari pemboran sumur sampai pengoperasian pembangkit membutuhkan waktu lima sampai enam tahun.

Karena itu, jika sampai saat ini kegiatan belum mulai, sulit berharap pembangkit panas bumi yang diinginkan bisa beroperasi pada 2014.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bakrie Power Ali Herman Ibrahim mengatakan, setiap tahun Indonesia membutuhkan tambahan pembangkit sebesar 3.000 MW. Karena itu, masuknya pembangkit baru, termasuk pembangkit panas bumi sangat dibutuhkan. (anton c)(Koran SI/Koran SI/ade)
Merger Flexi-Esia Terancam Gagal
Selasa, 19 Oktober 2010 – 18:41 wib

Stefanus Yugo Hindarto – Okezone

JAKARTA – Menguatnya desakan agar aksi korporasi merger atau akuisisi Flexi-Esia digagalkan membuat manajemen Telkom mengupayakan pengkajian secara komprehensif. Sebelumnya penolakan merger ini dilakukan oleh Serikat Karyawan (Sekar) Telkom.

“Untuk masalah perkembangan Esia-Flexi, intinya belum ada perkembangan lebih lanjut, hingga saat ini belum ada yang bisa dijelaskan lebih jauh karena semuanya masih dalam proses kajian,” kata VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia, dalam pesan singkatnya kepada okezone, Selasa (19/10/2010).

Eddy Kurnia menyatakan bahwa terjadinya pembicaraan atau diskusi tentu saja terjadi karena publik juga banyak membicarakannya.

“Sejauh ini belum ada ikatan apapun, jadi belum ada yang bisa dijelaskan. Kajian yang perlu dilakukan secara komprehensif sekali antara lain adalah legal, teknologi bisnis dan sumberdaya lainnya. Jadi ditunggu saja,” kata Eddy.

Karyawan Telkom melihat, aksi korporasi ini cacat hukum dan tidak jelas. Flexi diperkirakan memiliki nilai sekira Rp7 triliun tapi mengingat akan dimergerkan dengan Bakrie Telecom, yang notabene swasta dan tercatat sahamnya di bursa, maka tidak negosiasi dianggap tidak seimbang. Pasalnya nilai kapitalisasi pasar Btel saat ini sebesar Rp6,693 triliun.

Belum lagi, masalah hutang Bakrie Telecom yang nanti bisa ikut menjadi tanggungan Telkom secara grup, jika nanti saham telah dimiliki perusahaan tersebut.(ade)
Senin, 11/10/2010 10:24:41 WIB

Tetap untung saat bursa buntung

Oleh: Eko Endarto

Sepertinya masa “banteng” di bursa sedang terjadi. Kenaikan selama lebih dari 3 hari berturut-turut dan indeks yang mendekati angka 3.600, membuat semua investor bergegas mengambil posisi agar tidak telat ikut menikmati keuntungan.Memang secara umum strategi perdagangan di bursa saham adalah beli saat harga rendah, lalu jual ketika harga sedang naik. Dengan menggunakan cara ini, bertransaksi di bursa saham akan menguntungkan bila bursa sedang cenderung naik. Lalu bagaimana kalau keadaan bursa sedang turun? Apakah kita harus menunggu sampai keadaan bursa membaik atau malah jual rugi (cut loss)? 

Bagaimana dengan short selling? Mungkinkah cara ini bisa tempuh sebagai alternatif?

Secara sederhana short sell berarti menjual saham terlebih dahulu, baru kemudian membeli kembali saham tersebut. Dengan demikian., trader saham yang melakukan short sell akan meraih keuntungan justru pada saat harga saham turun.

Pahami konsepnya

Dengan melakukan strategi short sell berarti kita mengantisipasi bahwa harga saham akan bergerak turun, sehingga terdapat kemungkinan kita akan dapat membeli saham tersebut dengan harga yang lebih rendah. Contohnya adalah sebagai berikut:

Seorang trader menjual saham ABC pada harga Rp2.000 sebanyak 1.000 lembar. Kemudian harga saham emiten tersebut turun, kemudian trader tersebut membeli kembali saham ABC pada harga Rp1.500. Maka sang trader akan mendapat selisih keuntungan dari harga jual dan beli sebanyak Rp500 dikalikan 1.000 lembar yaitu Rp500.000.

Transaksi jual dan beli saham dengan menggunakan cara short sell pada prinsipnya dapat dilakukan dalam 1 hari yang sama. Namun, apabila transaksi short sell tidak dilakukan pada hari yang sama, kita dapat terkena kewajiban semacam bunga pinjaman dari perusahaan pialang.

Bunga pinjaman tersebut dikenakan karena pada dasarnya saat kita melakukan short sell kita mendapat fasilitas pinjaman saham dari broker. Tentu saja pihak broker tidak memberikan pinjaman saham secara gratis, tetapi dengan mengenakan bunga yang cukup tinggi.

Risk & return

Pada penerapan strategi perdagangan short sell, terdapat beberapa hal yang perlu dicermati terutama dalam hal risiko yang akan dihadapi. Apabila kita melakukan transaksi saham dengan cara yang biasa membeli terlebih dahulu kemudian baru menjual maka potensi kerugian adalah sebatas pada harga sahamnya, sedangkan potensi keuntungan tidak terbatas.

Misalnya, pada saat kita membeli saham ABC di harga Rp2.000, maka potensi kerugian terbesar adalah penurunan harga saham ABC menjadi Rp 0, sedangkan potensi keuntungannya bisa tidak terbatas. Dengan kata lain, harga saham ABC dapat terus naik harganya pada masa depan.

Sebaliknya apabila kita melakukan short sell, maka keuntungan menjadi terbatas karena apabila kita menjual saham ABC diharga Rp2.000 maka kemungkinan turun maksimal menjadi Rp0. Keuntungan yang didapat menjadi maksimal Rp2.000 dikalikan jumlah lembar saham yang dijual.

Sebaliknya apabila harga saham naik, kita dapat menderita kerugian yang tidak terbatas, seperti telah dijelaskan bahwa kenaikan harga saham bisa tidak terbatas.

Oleh karena itu, penting bagi anda yang ingin melakukan short sell untuk mempelajari kecenderungan pasar terutama dalam jangka pendek. Salah satu alat bantu untuk memahami kecenderungan tersebut adalah menggunakan teknikal analisis.

Selain itu, perlu diperhatikan pula bahwa ber-transaksi saham dengan cara short sell memiliki jangka waktu investasi yang pendek. Oleh karena itu, kecil ke-mungkinan untuk mendapatkan penghasilan deviden dari saham tersebut. Karena penghasilan yang bisa didapat dari cara short sell adalah selisih harga jual dan beli saja.

Saham pilihan

Harus kita sadari bahwa metode ini memiliki risiko yang cukup tinggi. Oleh karena itu, saham yang akan dishort sell, sebaiknya memiliki likuiditas yang tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar. Di samping itu tentunya saham yang diperbolehkan oleh otoritas bursa di antaranya adalah :

Saham yang diperbolehkan oleh otoritas bursa
Kode saham Nama emiten Harga (Rp)
(1 Sep 2010)
TLKM PT Telekomunikasi Indonesia Tbk 9.000
MEDC PT Medco Energi International Tbk 3.075
BTEL PT Bakrie Telecom Tbk 173

Daftar beberapa saham yang bisa dilakukan short selling September 2010

Dengan memilih saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar, maka akan memudahkan bagi kita untuk mencari pembeli dan penjual saham dibursa, karena minat beli maupun jual terhadap saham tersebut umumnya cukup tinggi.

Jadi kalau besok ternyata “si beruang ” datang, mungkin cara short selling bisa sebagai alternatif bagi anda untuk tetap untung.

Jepang incar emiten konsumsi
OLEH ARIF GUNAWAN S. & WISNU WIJAYA Bisnis Indonesia

loading

Dirut BEI: Return tinggi di bursa domestik jadi daya tarik TOKYO: Pemodal portofolio dari Jepang ber minat membeli saham emiten di Indonesia yang bergerak di sektor konsumsi domestik, sumber daya alam, dan infrastruktur, terutama telekomunikasi.

Di tengah-tengah minat investor Negeri Matahari Terbit, indeks harga saham gabungan (IHSG) menutup pekan ini dengan koreksi 21,45 poin (0,59%) ke bawah level 3.600 pada 3.597,031, menyusul aksi jual pemodal asing yang mencapai Rp1,48 triliun. Padahal, dalam penutupan transaksi Kamis sempat mencetak rekor tertingginya di level 3.618,48.
Sebanyak 128 saham atau lebih dari seperempat saham di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah, menyusul aksi jual investor asing dengan nilai penjualan bersih (net sell) Rp63,75 miliar dari total transaksi harian Rp4,95 triliun.

Michio Tanaka, Deputy General Manager Global Equity Sales Department II Daiwa Securities Capital Markets Co Ltd, menilai beberapa saham emiten yang berbasis konsumsi domestik seperti PT Astra International Tbk dan PT Gudang Garam cukup menarik. Alasan ketertarikan investor dari negara itu karena populasi di Indonesia yang besar.

“Saya kira saham berbasis konsumsi yang paling diminati oleh pemodal Jepang. Selain fak tor itu, investor negara ini juga melihat likuiditas menjadi alasan lain dalam berinvestasi,“ tuturnya di sela-sela one-on-one meeting antara lima emiten di Indonesia dan klien Daiwa Capital Markets di Tokyo, kemarin.

Beberapa investor itu adalah Daiwa Asset Management, Nomura Asset Management, Mitsubishi-UFJ Asset Management, Sumitomo, Capital Research, dan Cref, dana pensiun dari AS.

Dalam kesempatan itu, pemodal Jepang juga menanyakan beberapa saham yang dinilai atraktif a.l. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT Adaro Energy Tbk, PT Indika Energy Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, dan saham di sektor perbankan selain Astra dan Gudang Garam.

Menurut Michio, selain faktor iklim investasi dan kekayaan sumber daya alam yang besar, Jepang mempunyai hubungan yang khusus secara historis dengan Indonesia. “Indonesia cukup penting untuk Jepang, apalagi Indonesia mempunyai sumber daya alam yang banyak.“

Pendapat itu juga diakui oleh Dirut Bursa Efek Indonesia Ito Warsito. Menurut dia, investor portofolio dari Jepang secara bertahap mulai memperbesar investasinya di saham emiten di Indonesia karena mencari return investasi yang tinggi. Selama ini, pemodal portofolio secara langsung berinvestasi di bursa AS, Eropa, dan Amerika Selatan.

“Karena mencari high growth, pemodal Jepang perlahan-lahan switching investasinya ke saham emiten di Indonesia,“ tuturnya.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama PT Financor pindo Nusa Edwin Sinaga menilai saham dari sektor yang dilirik investor Jepang sudah mencakup semua sektor yang pertumbuhannya memiliki prospek cerah di dalam negeri.

Di luar sektor itu, lanjutnya, investor kurang tertarik. Alasannya kapitalisasinya dinilai kurang besar dan kurang likuid, sedangkan dari sektor perbankan sudah terlalu mahal dan sudah tidak memiliki potensi pertumbuhan seperti pada sektor saham yang lain. “Faktor suku bunga yang menyebabkan perbankan masih sulit dilirik.“

Saham infrastruktur Analis PT Indo Premier Securities Ikhsan Binarto menambahkan minat investor terhadap infrastruktur dipicu prospek pertumbuhan jangka panjang, terutama di tengah konsolidasi beberapa emiten seperti anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, yakni Telkomflexi, dengan PT Bakrie Telecom Tbk.

“Saham Telkom sepanjang tahun berjalan memang masih negatif karena bisnisnya sudah mentok. Karena itulah, dia menyiapkan dana utuk akuisisi dan menggarap bisnis data Internet.“

Perusahaan pelat merah tersebut, dia menyarankan, sebaiknya memisahkan Telkomflexi menjadi anak usaha sendiri dan mencatatkannya ke bursa untuk meraup dana ekspansi, sebelum mempertimbangkan merger dengan Bakrie Telecom.

Berkaitan dengan terjadinya koreksi dalam penutupan perdagangan kemarin, Ikhsan Binarto menilai koreksi tersebut dipicu aksi ambil untung (profit taking) sesaat. Padahal, pergerakan bursa saham kawasan Asia cukup vari atif. Bursa Shanghai naik 3,18% ke level 2.971,16, Hang Seng turun 1,13% ke level 23.757,63, Nikkei 225 turun 0,87% ke level 9.500,25, dan Straits Times naik 0,35% ke level 3.205,30.

Dia berpendapat perdagangan pekan depan berpotensi berbalik mengingat bursa Indonesia masih menjadi tujuan investasi pemodal asing. “IHSG masih berada pada tren menguat [bullish], mengingat bursa Dow Jones [Amerika Serikat] belum kembali ke level tertingginya yakni 13.000. Jika Dow menyentuh 12.000, itu menjadi indikasi pemodal asing akan mengurangi dananya di bursa Indonesia,“ tuturnya. (IRVIN AVRIANO A/FIRMAN HIDRANTO) (arif.gunawan@ bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

Telkom mengharapkan meraih porsi yang seimbang dalam bentuk kepemilikan saham dari merger Flexi dan Esia.

Utang calon mitra juga jadi faktor kajian JAKARTA: PT Teleko- munikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengharapkan bisa mendapatkan porsi yang seimbang dalam bentuk kepemilikan sa- ham di entitas baru dari merger Flexi dan Esia, merek dagang CDMA (code division multiple access) milik PT Bakrie Telecom.
Komisaris Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Tanri Abeng mengharapkan konsolidasi lini bisnis CDMA perseroan Flexi dengan Esia dari PT Bakrie Telecom Tbk selesai pada tahun ini.

“Telkom mengharapkan bisa mendapatkan porsi saham yang sama dengan Bakrie Telecom.

Yang jelas, pembahasan aksi korporasi itu sudah tuntas dan diharapkan tuntas tahun ini,” ujarnya kemarin.

Sudah tuntasnya rencana konsolidasi merger Flexi—Esia juga
diakui oleh salah satu eksekutif puncak Bakrie Telecom, yang tidak bersedia disebutkan namanya. Menurut dia, merger itu sudah tuntas, baik soal rights issue maupun pengalihan aset milik Flexi, termasuk SDM.

Dalam rangka valuasi aset Flexi, Telkom telah menunjuk UBS Securities Indonesia, untuk menghitung nilai aset divisi bisnis BUMN telekomunikasi tersebut. Artinya, hasil valuasi itu yang menjadi dasar untuk ditukarkan dengan saham Bakrie Telecom.

Eksekutif itu menambahkan skema merger Flexi—Esia sangat mudah. “Nantinya, Bakrie Telecom akan mengeluarkan saham baru dan saham itu diserap oleh Telkom. Tinggal Telkom dapat berapa dari saham baru tersebut.

Sebagai BUMN, Telkom tentunya membutuhkan legalitas dari aksi korporasi dan itu ditentukan dalam RUPS [rapat umum pemegang saham.”
kan kapan. “Bisa jadi RUPS ditunda hingga tahun depan. Artinya, RUPS itu dilaksanakan bersamaan dengan RUPS tahunan,” ujar sumber Bisnis lainnya.

Dalam penutupan perdagangan kemarin, saham Telkom dengan kode TLKM ditutup pada Rp9.300, atau naik 250 poin, sementara saham emiten berkode BTEL stagnan di posisi Rp250.

Sementara itu, Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah hanya berkomentar singkat.
“Masih belum ada perkembangan baru yang bisa diinformasikan. Pembicaraan saya dengan direksi Bakrie Telecom juga sudah lama, lebih dari sebulanan lah,” ujarnya.

Menurut Tanri Abeng, permintaan untuk kesetaraan komposisi saham bertujuan untuk meminimalkan risiko salah satu pihak berbuat kecurangan.

Selain itu, lanjutnya, manajemen Telkom juga harus kuat untuk menghindari masalah
tersebut.
“Kalau kami punya dua, dia punya dua [analogi komposisi saham] kan tidak bisa main-main.
Sisanya itu kan publik. Pokoknya semua sudah kami kunci. [Untuk menghindari kecurangan], kami juga harus kuat manajemen disitu,“ tandasnya.

Dalam rangka konsolidasi bisnis, dia menambahkan Telkom juga telah mempertimbangkan segala sesuatunya, termasuk kinerja bisnis dan risiko utang Bakrie Telecom.

“[Utang] Itu sudah dihitung semua. Lagi pula semua perusahaan juga berutang. Kami tidak mengambil alih utangnya. Jadi itu jadi faktor kajian juga. Kami sudah mempertimbangkan semua. Bila kalau tidak, ya tidak akan dilanjutkan prosesnya,“ tandasnya.

Hingga akhir 2009, posisi kewajiban Bakrie Telecom tercatat sebesar Rp6,4 triliun, belum termasuk penerbitan obligasi senilai US$250 juta melalui anak usahanya Bakrie Telecom Pte Ltd dan fasilitas utang senilai US$300 juta dari Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) pada tahun ini. (05/FIRMAN HIDRANTO) (redaksi @bisnis.co.id) redaksi@bisnis.co.id

Kamis, 30/09/2010 16:32 WIB
Bakrie Telecom Hengkang dari Daftar Saham Marjin dan Short Sell
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

(Foto: Dok detikFinance) Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan daftar saham transaksi marjin dan short sell untuk periode Oktober 2010. Perubahan pada daftar transaksi hanya terjadi karena PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dicoret dari daftar saham marjin dan short sell.

Otoritas bursa menetapkan 36 saham transaksi marjin dan 32 saham transaksi short sell dan berlaku mulai 1 Oktober 2010.

Berikut daftar saham transaksi marjin :

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).
PT Adaro Energy Tbk (ADRO).
PT Astra International Tbk (ASII).
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
PT Indosat Tbk (ISAT).
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR).
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA).
PT Semen Gresik Tbk (SMGR).
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
PT United Tractors Tbk (UNTR).
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).
PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB).
PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).
PT Jasa Marga Tbk (JSMR).
PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO).
PT Timah Tbk (TINS).
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
PT PP London Sumatera Plantations Tbk (LSIP).
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
PT Gudang Garam Tbk (GGRM).
PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID).
PT Indika Energy Tbk (INDY).

Berikut daftar saham transaksi short sell:

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).
PT Adaro Energy Tbk (ADRO).
PT Astra International Tbk (ASII).
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).
PT Jasa Marga Tbk (JSMR).
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR).
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA).
PT Semen Gresik Tbk (SMGR).
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
PT United Tractors Tbk (UNTR).
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).
PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB).
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).
PT Timah Tbk (TINS).
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
PT PP London Sumatera Plantations Tbk (LSIP).
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID).
PT Indika Energy Tbk (INDY).

(wep/dro)
Tanri Abeng: Merger Flexi-Esia Menguntungkan
“Bakrie mempunyai network yang bagus dalam industri telekomunikasi.”
RABU, 29 SEPTEMBER 2010, 16:18 WIB Arinto Tri Wibowo, Iwan Kurniawan

VIVAnews – Kajian bisnis komersial wacana merger produk Flexi milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan Esia dari PT Bakrie Telecom Tbk telah selesai. Hasil kajian menyatakan merger keduanya menguntungkan Telkom.

“Bakrie mempunyai network yang bagus dalam industri telekomunikasi,” kata Komisaris Utama Telkom, Tanri Abeng, di Jakarta, Rabu 29 September 2010.

Menurut Tanri, tidak akan ada ‘caplok-mencaplok’ antara Flexi dan Esia. Kerja sama akan saling menguntungkan keduanya.

Dia menjelaskan, nama produk hasil penggabungan belum final dan dapat berubah. Dia menegaskan, seharusnya wacana merger Flexi dan Esia tidak terhalang oleh masalah non fundamental seperti masalah nama.

“Seperti masalah nama Bakrie Telkom yang seolah ‘dikuasai’ oleh Bakrie
atau BTEL, sedangkan CDMA itu identik dengan Flexi,” ujarnya.

Tanri berharap merger antara Flexi dan Esia dapat terwujud akhir tahun ini. Namun, Telkom juga akan mengikuti regulasi di pasar modal, karena Telkom mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia dan Amerika.

Semua aksi korporasi harus transparan dan sesuai aturan governance dan sistem yang ada. “Telkom tidak bisa semau gue,” tuturnya. (hs)
• VIVAnews
Jumat, 24/09/2010 17:41 WIB
Bakrie Bangga Esia Bisa Sinergi dengan Telkom
Whery Enggo Prayogi – detikFinance
Jakarta – Rencana sinergi antara dua operator Code Division Multiple Access (CDMA) terbesar di Indonesia (TelkomFlexi dan Esia) membuat Bakrie Telecom bangga. Sebab, Telkom adalah BUMN telekomunikasi terbesar di Indonesia.

Demikian disampaikan Presiden Direktur PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) Anindia Ardiyansah Bakrie, di sela-sela Munas Kadin yang bertempat di JCC, Senayan Jakarta,Jumat (24/9/2010).

“Negosiasi masih belum selesai. Namun ini akan jadi kebanggaan. sinergi dengan BUMN telekomunikasi terbesar,” ungkapnya.

Sayang, anak dari politisi senior Golkar ini enggan menjelaskan lebih lanjut skema kerja sama antara PT Telkom dan Bakrie Telecom. Ia pun tidak berani berkomentar atas penyataan dari Menteri BUMN, Mustafa Abubakar bahwa Telkom tidak menjadi pemilik mayoritas atas sinergi ini.

“Saya hanya dengar di media. Satu tahun kita lihat kemungkinan,” tambahnya.

Sebelumnya Mustafa memang berujar, TLKM sebagai pemilik TelkomFlexi, tidak akan menjadi pemilik saham mayoritas atas perusahaan baru hasil bisnis kombinasi ini. Mustafa pun tidak secara jelas merinci kenapa Telkom tidak ingin menjadi pemilik mayoritas dari hasil sinergi ini.

“Mereka memadu aset dan tidak ingin mayoritas karena KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha),” paparnya waktu itu.

Seperti diketahui, Flexi dan Esia merupakan operator layanan telekomunikasi di jaringan CDMA. Per akhir tahun 2009, pelanggan TelkomFlexi mencapai 15,1 juta account, sementara BTEL memiliki 10,6 juta account.

Jika keduanya bergabung, akan menciptakan operator dengan pelanggan terbesar keempat di Indonesia, di belakang PT XL Axiata Tbk (EXCL) yang memiliki 31,4 juta pelanggan hingga akhir tahun 2009.

Tidak hanya layanan suara, potensi peningkatan fasilitas data juga diprediksi bakal melonjak saat sinergi telah mencapai titik temu. Pasalnya selama ini baik TelkomFlexi ataupun Esia, pertumbuhan layanan data masih sangat rendah.

(wep/dro)
Merger Flexi-Esia, siapa untung?
OLEH MAS WIGRANTORO ROES SETIYADI Sekjen Masyarakat Telematika (Mastel) Indonesia

Penggabungan harus memberikan manfaat bisnis Berita utama Bisnis Indonesia edisi Kamis 17 September 2010 berjudul Esia malah caplok Flexi cukup menyentak. Berita ini sebagai kelanjutan dari informasi sebelumnya tentang rencana peng gabungan Flexi milik Telkom dan Esia milik Bakrie Telecom (BTEL).

Layak dicermati bagaimana dam paknya bagi industri jasa telekomunikasi Indonesia, siapa yang untung dan apa saja yang masih harus diperhatikan agar penyelenggaraan telekomunikasi semakin berkualitas dan mampu memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, memperlancar perekonomian, serta mampu mendukung upaya peningkatan daya saing.
Awal 2008 penulis sudah membuat pernyataan yang dikutip beberapa media bahwa konsolidasi industri jasa telekomunikasi, khususnya seluler, merupakan keniscayaaan yang suka atau benci, akhirnya akan datang juga. Mengapa demikian?
Bila ditinjau dari struktur pasar, industri jasa telekomunikasi tergolong fragmented, walaupun ada tiga operator besar yang menguasai lebih dari 60% pangsa pasar. Dengan lima operator GSM/3G, lima operator CDMA, dua operator telepon tetap kabel dan satu operator telepon satelit tercipta kompetisi yang tajam dan tidak efisien, bahkan cenderung saling mematikan satu sama lain. Kondisi semacam ini menghambat operator kecil tumbuh, sementara operator besar walaupun revenue-nya meningkat, tingkat profitabilitasnya menurun. Menjadi beralasan bila akhirnya konsolidasi melalui merger dan akuisisi merupakan strategi yang dipilih untuk mengurangi persaingan dan sekaligus mendorong pertumbuhan.

Dari perspektif bisnis, merger dan akuisisi selain dipilih untuk strategi pertumbuhan, juga sebagai langkah sinergis mendorong inovasi guna menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan bila upaya dilakukan oleh masing-masing secara terpisah.

Menengok sejarah telekomunikasi di Indonesia, penggabungan (digunakan istilah ini karena belum jelas apakah skema yang akan digunakan merger atau akuisisi) antarentitas bisnis telekomunikasi Indonesia rasanya belum pernah terjadi. Yang sering terjadi, operator telekomunikasi nasional dibeli sahamnya (diakuisisi) oleh operator asing.
Oleh karena itu, apabila rencana Flexi-Esia ini jadi terwujud akan menjadi catatan sejarah tersendiri.

Dengan memperhatikan kondisi Flexi dan Esia, banyak pertanyaan muncul dan layak untuk mendapat jawaban memuaskan. Misalnya, apa manfaat penggabungan ini bagi perekonomian baik secara makro maupun mikro. Sebagaimana terjadi di banyak perusahaan telekomunikasi internasional, merger dan akuisisi memberi manfaat dalam bentuk efisiensi investasi dan biaya operasional, penghematan sumber daya telekomunikasi (nomor dan spektrum frekuensi), perbaikan struktur finansial, perubahan struktur industri, peningkatan kualitas kompetisi, dan peningkatan kualitas layanan.

Sementara itu, bagi masingmasing perusahaan diharapkan memperoleh manfaat dari semakin efektifnya kegiatan pemasaran dan iklan, serta opera sional dan pera watan jaringan secara lebih efisien.

Kanal frekuensi Dalam kasus penggabungan Flexi-Esia, BTEL menggunakannya sebagai strategi pertumbuhan mengingat keku atan pasarnya hanya bertumpu di tiga wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten dengan total pelanggan sekitar 11 juta, sementara Flexi menguasai pasar di luar Pulau Jawa dan dua provinsi lainnya di Jawa dengan total pelanggan 16 juta.
Dari aspek sumber daya, penggabungan dua entitas ini kemungkinan berdampak pada penggabungan operasional kanal frekuensi yang masing-masing memiliki tiga kanal.

Bagaimana nasib pelanggan Flexi dan Esia yang ada pada saat ini? Tidak akan banyak pengaruhnya, jikapun ada mestinya lebih baik dalam hal layanan dan lebih murah dalam hal tarif penggunaan.

Merger Flexi-Esia, siapa untung?
OLEH MAS WIGRANTORO ROES SETIYADI Sekjen Masyarakat Telematika (Mastel) Indonesia

Penggabungan harus memberikan manfaat bisnis Berita utama Bisnis Indonesia edisi Kamis 17 September 2010 berjudul Esia malah caplok Flexi cukup menyentak. Berita ini sebagai kelanjutan dari informasi sebelumnya tentang rencana peng gabungan Flexi milik Telkom dan Esia milik Bakrie Telecom (BTEL).

Layak dicermati bagaimana dam paknya bagi industri jasa telekomunikasi Indonesia, siapa yang untung dan apa saja yang masih harus diperhatikan agar penyelenggaraan telekomunikasi semakin berkualitas dan mampu memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, memperlancar perekonomian, serta mampu mendukung upaya peningkatan daya saing.
Awal 2008 penulis sudah membuat pernyataan yang dikutip beberapa media bahwa konsolidasi industri jasa telekomunikasi, khususnya seluler, merupakan keniscayaaan yang suka atau benci, akhirnya akan datang juga. Mengapa demikian?
Bila ditinjau dari struktur pasar, industri jasa telekomunikasi tergolong fragmented, walaupun ada tiga operator besar yang menguasai lebih dari 60% pangsa pasar. Dengan lima operator GSM/3G, lima operator CDMA, dua operator telepon tetap kabel dan satu operator telepon satelit tercipta kompetisi yang tajam dan tidak efisien, bahkan cenderung saling mematikan satu sama lain. Kondisi semacam ini menghambat operator kecil tumbuh, sementara operator besar walaupun revenue-nya meningkat, tingkat profitabilitasnya menurun. Menjadi beralasan bila akhirnya konsolidasi melalui merger dan akuisisi merupakan strategi yang dipilih untuk mengurangi persaingan dan sekaligus mendorong pertumbuhan.

Dari perspektif bisnis, merger dan akuisisi selain dipilih untuk strategi pertumbuhan, juga sebagai langkah sinergis mendorong inovasi guna menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan bila upaya dilakukan oleh masing-masing secara terpisah.

Menengok sejarah telekomunikasi di Indonesia, penggabungan (digunakan istilah ini karena belum jelas apakah skema yang akan digunakan merger atau akuisisi) antarentitas bisnis telekomunikasi Indonesia rasanya belum pernah terjadi. Yang sering terjadi, operator telekomunikasi nasional dibeli sahamnya (diakuisisi) oleh operator asing.
Oleh karena itu, apabila rencana Flexi-Esia ini jadi terwujud akan menjadi catatan sejarah tersendiri.

Dengan memperhatikan kondisi Flexi dan Esia, banyak pertanyaan muncul dan layak untuk mendapat jawaban memuaskan. Misalnya, apa manfaat penggabungan ini bagi perekonomian baik secara makro maupun mikro. Sebagaimana terjadi di banyak perusahaan telekomunikasi internasional, merger dan akuisisi memberi manfaat dalam bentuk efisiensi investasi dan biaya operasional, penghematan sumber daya telekomunikasi (nomor dan spektrum frekuensi), perbaikan struktur finansial, perubahan struktur industri, peningkatan kualitas kompetisi, dan peningkatan kualitas layanan.

Sementara itu, bagi masingmasing perusahaan diharapkan memperoleh manfaat dari semakin efektifnya kegiatan pemasaran dan iklan, serta opera sional dan pera watan jaringan secara lebih efisien.

Kanal frekuensi Dalam kasus penggabungan Flexi-Esia, BTEL menggunakannya sebagai strategi pertumbuhan mengingat keku atan pasarnya hanya bertumpu di tiga wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten dengan total pelanggan sekitar 11 juta, sementara Flexi menguasai pasar di luar Pulau Jawa dan dua provinsi lainnya di Jawa dengan total pelanggan 16 juta.
Dari aspek sumber daya, penggabungan dua entitas ini kemungkinan berdampak pada penggabungan operasional kanal frekuensi yang masing-masing memiliki tiga kanal.

Bagaimana nasib pelanggan Flexi dan Esia yang ada pada saat ini? Tidak akan banyak pengaruhnya, jikapun ada mestinya lebih baik dalam hal layanan dan lebih murah dalam hal tarif penggunaan.

Lantas benarkah semulus itu jalannya? Tidak juga.

Masih banyak hal yang harus dikerjakan, dari urusan kepatuhan ter hadap regulasi, kapan kesepa katan akan tere alisasi, bagaima na bentuk peng gabungannya, berapa nilai transaksinya, hingga masa transisi dan implementasi yang tentu saja akan melibatkan faktor faktor nonteknis seperti SDM, pembentukan budaya perusahaan yang baru, operasional di pusat dan daerah.

Sampai hari ini, belum terdengar sikap resmi regulator telekomunikasi terhadap rencana penggabungan Flexi-Esia ini.
Mungkin mereka menunggu pemberitahuan secara resmi atau barangkali karena regulasi tentang merger dan akuisisi di industri jasa telekomunikasi di Indonesia belum tersedia. Hal hal yang perlu diperhatikan terkait dengan regulasi yang dapat menghambat proses penggabungan antara lain masalah perizinan, sumber daya frekuensi, penomoran, interkoneksi, dan perlindungan pelanggan.

Masalah perizinan misalnya, baik Flexi maupun Esia, keduanya memiliki izin layanan fixed wireless access (FWA).

Pertanyaannya, apakah sudah diatur pengali han izin operasional yang dimiliki oleh Telkom Flexi dan BTEL Esia, atau apakah per usahaan hasil pengga bungan mesti menga jukan izin baru.

Terkait dengan periz inan, apakah spektrum frekuensi yang diberikan kepada Flexi dan Esia secara otomatis dapat ditransfer ke perusahaan baru hasil penggabungan.

Baik Telkom maupun BTEL keduanya perusahaan publik, menjadi pertanyaan, bagaimana status pemilikan saham publik kedua perusahaan tersebut terhadap perusahaan hasil penggabungan?
Hal lain yang saat ini belum terlihat nyata tetapi dapat menjadi batu sandungan bagi suksesnya penggabungan Flexi-Esia, khususnya pascaditandatanganinya perjanjian, adalah budaya perusahaan dan SDM yang memiliki karakter berbeda.

Seringkali merger dan akuisisi berdampak pada dilakukannya rasionalisasi pegawai. Wajar bila muncul resistensi oleh sebagian pegawai yang merasa jabatan dan nasibnya terancam. Selain itu, budaya kerja BUMN (Telkom) dan swasta (BTEL) tentu saja berbeda.

Perbedaan ini bila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup perusahaan yang baru terbentuk
Anindya: Merger Flexi-Esia Agar Kompetitif
Industri telepon seluler saat ini sudah menjadi satu kesatuan.
SELASA, 21 SEPTEMBER 2010, 19:08 WIB Hadi Suprapto, Iwan Kurniawan

VIVAnews – PT Bakrie Telecom Tbk menyatakan akan berkonsultasi dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyusul rencana konsolidasi produk Esia dengan Flexi milik PT Telkom Indonesia, Tbk. Sebelumnya, KPPU mengimbau kedua perusahaan agar berkonsultasi dahulu sebelum aksi korporasi dijalankan.

“Kami akan melakukan konsultasi pada saat yang tepat. Kalau belum ada kesepakatan, apa yang mau dikonsultasikan?” ujar Direktur Utama bakrie Telecom Anindya Bakrie di Kantor Kadin, Jakarta, Selasa, 21 September 2010. “Tentu kami akan konsultasikan sesuai ketentuan yang berlaku.”
Anindya mengungkapkan pembicaraan soal ini sudah berlangsung cukup lama, satu setengah tahun. “Konsolidasi itu akan win-win dan solid,” katanya.

Soal kekhawatiran terciptanya monopoli, masih menurut Anindya, industri telepon seluler saat ini sudah menjadi satu kesatuan. Baik CDMA ataupun GSM memiliki banyak kesamaan dalam pembayaran, kebiasaan pengguna, dan sama-sama berbasis frekuensi

Selain itu, jumlah pelanggan CDMA hanya sekitar 23-24 persen dari jumlah pengguna telepon seluler di Indonesia. “Jumlah pemakai CDMA hanya 33 juta dari total 170 juta, hanya 20 persenan,” kata Anindya.
Jadi, menurutnya, meski Flexi-Esia bergabung, jumlahnya masih kecil dibandingkan keseluruhan pasar seluler. Selain itu, dengan konsolidasi pemain CDMA, maka akan muncul entitas baru yang akan dapat bersaing secara sehat dengan tiga besar pemain seluler lainnya.
“Kami tidak ingin melangkahi KPPU, tapi ini ada argumennya, dan bukan monopoli,” ia menegaskan. (kd)

• VIVAnews
Selasa, 21 September 2010 | 10:46 oleh Barratut Taqiyyah
SAHAM BTEL
Rumor warning KPPU bikin saham BTEL tergerus 2%
JAKARTA. Rumor yang beredar di sejumlah milis trader menyebutkan, salah satu saham milik Grup Bakrie akan terbang tinggi hari ini. Saham itu adalah Bakrie Telecommunication (BTEL). “Kenaikannya bisa menembus 2%,” jelas salah seorang trader.

Kenaikan saham BTEL diduga kuat terkait rencana konsolidasi antara Flexi dan Esia. Namun, yang namanya rumor, kebenarannya masih dipertanyakan.

Lihat saja, pada pukul 10.38, saham BTEL malah tergerus 2,22% menjadi Rp 220. Belakangan tersiar kabar, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memberikan warning atas niatan konsolidasi dua perusahaan telekomunikasi ini.

Catatan saja, dalam sebulan terakhir, saham BTEL terus menanjak. Pada 23 Agustus lalu, saham ini masih berada di posisi Rp 151. Namun, pada 20 September 2010, harganya sudah mencapai Rp 225. Artinya, kurang dari sebulan, saham BTEL meroket 49%.
Investor Hati-hati Sikapi Perkawinan Flexi & Esia
Takut Dituding Monopoli, Bos Telkom Temui KPPU
Senin, 20 September 2010 , 08:56:00 WIB

RMOL. Investor di bursa mensikapi hati-hati rencana perkawinan (merger) antara Telkom (TLKM) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Ada kekhawatiran kedua perusahaan ini akan melakukan praktik monopoli.

Pengamat pasar modal dari Finan Corpindo Nusa Ed win Sinaga mengatakan, ka la ngan investor yakin Bakrie Telecom ba kal men­dapatkan keun tungan besar dari ren cana si­nergi de ngan Telkom ter sebut. Na mun, Ed­win mengingat kan agar Tel kom tidak terlalu ter ce bur dalam mer ger tersebut.

“Artinya, se belum melakukan itu, ada baik­nya Telkom mem pe lajari dengan sek sama dan me mastikan bahwa apa yang di saji kan, penilaian eva luasi dan pene laah laporan ke­uangan Bakrie Te lecom benar-benar valid dan aku rat,” pinta Edwin saat dihu bungi Rakyat Merdeka di Jakarta.

Dalam perdagangan saham sesi pertama, Jumat (17/9), saham BTEL naik Rp 5 ke Rp 210 dengan volume transaksi men capai 48.282 lembar saham senilai Rp 5,08 miliar. Sementara saham TLKM justru turun Rp 100 ke level Rp 9.100 dengan volume tran saksi 4.543 lembar saham sebanyak Rp 20,8 miliar.

Menurut Edwin, naik turunnya saham BTEL sudah hal biasa dan wajar, namun naik atau turun sa ham tetap tergantung dari kondisi pasar. Dia menilai, harga saham BTEL juga sangat ter­gantung dari realisasi atas kerja sama ini. Jika kerja samanya benar dan baik maka, sahamnya akan naik terus.

Terkait dengan turunnya saham Telkom, Edwin melihat, tidak ada kaitannya dengan teguran Pre siden SBY terhadap Dirut Telkom dan Telkomsel belum lama ini.

“Turunnya saham Telkom ini, hanya karena pengaruh ter hadap isu rencana sinergi dengan Bakrie Telecom. Intinya, Telkom ja ngan terseret terlalu jauh deng an ren cana sinergi ini,” ujarnya.

Sementara itu, Telkom terlihat serius mengonsolidasikan Flexi dengan Bakrie Telecom. Bukti­nya, Telkom berencana meminta izin agar aksi nya tidak melanggar peratu ran. “Kami akan meminta izin KPPU (Komisi Pengawas Per saingan Usaha) dan BRTI (Ba dan Regulasi Telekomunikasi Indone sia),” kata Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah. Per mintaan izin ini dilakukan agar Telkom ti dak dituduh melakukan mono poli bisnis telekomunikasi.

Maklum saja, Flexi dan Esia adalah pemain terbesar untuk Code Division Multiple Access (CDMA). Buktinya, jumlah pe langgan Flexi saat ini mencapai sekitar 15 juta pelanggan, semen­tara jumlah pelanggan Esia seki tar 10 juta hingga 11 juta.

Menurut Rinaldi, setelah pe rusahaannya mendapatkan izin da ri kedua institusi ini, Tel kom dan Bakrie Telecom baru akan me nandatangani perjanjian. “Perjan jiannya bisa saja perjanjian kerja sama (MoU). Bisa juga perjanjian kesepakatan (MoA),” imbuhnya.

Yang pasti, Rinaldi membantah proses ini akan dilakukan dengan membeli penerbitan saham baru. Informasi yang diterima Rakyat Merdeka menyebutkan, manaje men Flexi ke mungkinan besar akan dikelola di bawah Esia. [RM]
Dirut Telkom: Merger Masih Bisa Dibatalkan
KPPU Bilang, Merger Flexi & Esia Jangan Ciptakan Kartel
Selasa, 21 September 2010 , 00:54:00 WIB

RMOL.Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengingatkan manajemen PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) agar segera melakukan konsultasi untuk menghindari monopoli. Namun, pihak Telkom menganggap belum perlu.
Pelaksana harian Kepala Biro Humas dan Hukum Kepala Bagian Advokasi KPPU Zaki Zein Badroen menjelaskan, merger itu dilakukan pada pasar teleko mu nikasi layanan seluler berbasis Code Division Mul­tiple Access (CDMA) di Indo nesia.
Apalagi, segmen konsu men nya sangat besar dan cukup men janjikan. Kedua perusahaan itu sa at ini mendominasi pasar se luler ber­basis CDMA di In donesia.
“Jadi sangat beralasan bila ke dua mar ket leader tersebut akan mengarah adanya praktik mono poli jika sudah tidak ada lagi kom petitor nya,” kata Zaki.
Terkait rencana merger kedua perusahaan telekomunikasi ini, Ketua KPPU Tresna P Soemardi ber harap, setelah merger atau akui sisi, tarif jasa telekomunikasi berbasis CDMA ini bisa lebih murah. Sehingga, penting bagi KPPU untuk menganalisa ren ca na ini agar tidak menyebabkan mo nopoli atau persaingan usaha tidak sehat.
“Untuk kasus besar seperti ini, sebaiknya sebelum dan se sudah melakukan merger atau akuisisi su dah dinotifikasi oleh KPPU untuk di lakukan ana lisa,” ujarnya kepada Rak yat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Untuk itu, kata Tresna, sebaik nya keduanya melakukan konsul tasi terlebih dulu dengan KPPU. Karena, rencana merger yang mene lan in vestasi besar ini, jika terjadi monopoli akan mem be­ratkan perusahaan terkait.
“Itu diperlukan kesadaran dari para pihak bisa menyampaikan notifikasi ini. Lebih bagus lagi mereka menyampaikan pertim bangan-pertimbangan yang ke mudian disampaikan kepada KPPU, sehingga kita bisa me nga na lisa dan mudah memonito ring,” terangnya.
Anggota KPPU Benny Pasa ribu mengatakan, ti dak dilarang untuk konsultasi sesudah mela ku­kan merger atau akuisisi. “Meski demikian, akan le bih baik kon sultasi ke pada KPPU dila kukan sebelum terjadi mer ger atau akui sisi,” ujar Benny.
Menanggapi permintaan KPPU ini, Dirut Telkom Rinaldi Fir mansyah menyatakan belum ber­niat me lapor ke KPPU.
Dia menjelaskan, saat ini pro ses negosiasi antara Tel kom dan anak usaha Grup Bakrie itu masih berlangsung dan belum ada ke sepakatan.
“Dalam negosiasi ini, bisa saja tidak tercapai kesepakatan se hing ga rencana kerja sama ter­sebut bisa dibatalkan,” ujar Rinaldi. [RM]

Selasa, 21/09/2010 17:48 WIB

Soal Merger Flexi-Esia, BRTI Tak Setuju Ada Monopoli FWA
Achmad Rouzni Noor II – detikinet

(Ist)
Jakarta – Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) belum dalam posisi setuju atau
menolak soal rencana merger Telkom Flexi dan Esia milik Bakrie Telecom. Namun jika berpotensi monopoli, maka kasus ini akan jadi perhatian serius regulator.

Menurut Anggota BRTI Heru Sutadi, pihaknya belum mendapat laporan dari Telkom maupun Bakrie Telecom. Keduanya juga dinyatakan belum berkonsultasi ke BRTI soal rencana konsolidasi layanan Fixed Wireless Access (FWA) berteknologi Code Division Multiple Access (CDMA) ini.

“Sehingga BRTI belum dalam posisi setuju atau menolak. Tapi kami memiliki concern yang sama dengan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), mengingat keduanya adalah pemain dominan di FWA,” ungkap Heru kepada detikINET di Jakarta, Selasa (21/9/2010).

Baik Telkom maupun Bakrie Telecom, jika digabung menguasai lebih dari 80 persen pelanggan FWA di Indonesia. Flexi memiliki 16,2 juta pelanggan, sementara Esia sekitar 11,1 juta. Hal yang sama berlaku untuk jumlah infrastruktur Base Transceiver Station (BTS). Flexi memiliki 5.600 BTS sedangkan Esia lebih dari 4.000 unit BTS.

Sementara pemain FWA lainnya masih ada dua operator lagi, yakni Indosat StarOne dan Hepi dari Mobile-8 Telecom. Jumlah pelanggan keduanya relatif kecil. StarOne terbilang stagnan dengan pelanggan tak lebih dari 700 ribu. Sementara Hepi cuma tak sampai 300 ribu.

“Dalam konsolidasi, selain jangan sampai terjadi perilaku monopoli yang menghambat persaingan, yang juga jadi concern kami adalah terkait dengan sumber daya terbatas seperti frekuensi dan penomoran,” jelas Heru.

Sebelumnya diberitakan, KPPU sempat menyatakan khawatir bahwa rencana merger dua layanan telepon FWA ini akan memicu monopoli.

“Apabila memang berpotensi mengakibatkan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, KPPU berwenang untuk membatalkan merger tersebut,” tegas Plh. Kepala Biro Humas dan Hukum Kepala Bagian Advokasi KPPU, Zaki Zein Badroen.

Sebagaimana diatur dalam PP No. 57/2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, KPPU pun menyarankan kedua operator agar melakukan konsultasi.

“Kedua perusahaan tersebut mendominasi pasar FWA, jika digabung kita mengharapkan tidak melanggar Pasal 28 dan 29 UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat,” jelas Zaki.

Sekjen Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setyadi juga mengingatkan, sebelum merger terjadi harus dipikirkan matang-matang. Sebab, salah ambil keputusan malah bisa terseret kasus korupsi karena merugikan negara.

“Kalau hanya mengejar deadline, asal ditandatangani, mengejar akhir masa jabatan, iya kalau kebeneran. Kalau pas sial, yang terlibat bisa kena pasal 2 dan 3 UU Anti Korupsi. Saran saya sih jangan terburu-buru. Lakukan dengan teliti, komprehensif, dan seksama,” papar pengamat kebijakan publik ini.

Apa alasannya kena pasal anti korupsi? “Salah hitung, nilai transaksi bisa dianggap overvalue. Terus ada pengalihan aset publik (Flexi) ke swasta (Esia). Atau barangkali ada titipan-titipan. Kan semua ini menjadi sasaran anti korupsi,” urai Mas Wig, panggilan akrabnya.

“Mungkin maksudnya bukan secara sengaja mau korupsi. Namun ketergesaan cenderung teledor, tidak teliti, yang dapat berujung pada kerugian negara. Jangan lupa, yang akan ditransaksikan dari pihak Telkom adalah aset publik milik negara,” jelasnya lebih lanjut.

Selaku pemilik saham minoritas di kedua operator ini, Mas Wig berpendapat
penggabungan ini bisa menyelematkan posisi keuangan Bakrie.

“Bisa jadi ini kesepakatan politis, who knows? Bagi Flexi, penggabungan bisa
memberikan alasan untuk lebih diperhatikan dan tumbuh kembang. Bagi Esia, rapid growth,” tandasnya.

Berdasarkan laporan keuangan Bakrie Telecom per Juni 2010, pada 16 Juli 2010 salah satu emiten Grup Bakrie ini kembali berutang USD 30 juta. Setelah itu pada 12 Agustus 2010 berhutang RMB 2 miliar dari Industrial and Commercial Bank of China dan Huawei Technologies Co. Ltd.

Tambahan utang ini membuat beban bunga yang dibayarkan oleh Esia kembali menanjak sehingga menekan bottom line perseroan. Tercatat, laba bersih Bakrie Telecom pada semester I lalu anjlok drastis 96,29 persen dari Rp 72,8 miliar menjadi Rp 2,7 miliar.

( rou / rns )
Minggu, 19/09/2010 15:00 WIB
Telkom Tidak Mayoritas di Sinergi Flexi-Esia
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Sinergi antara TelkomFlexi dan Esia milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) semakin mendekati akhir. Namun PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sebagai pemilik TelkomFlexi, tidak akan menjadi pemilik saham mayoritas atas perusahaan baru hasil bisnis kombinasi ini.

“Kelihatannya Telkom tidak ingin mayoritas,” tegas Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Mustafa Abubakar di Jakarta akhir pekan ini.

Mustafa memang tidak secara jelas, merinci kenapa Telkom tidak ingin menjadi pemilik mayoritas dari hasil sinergi ini. “Mereka memadu aset dan tidak ingin mayoritas karena KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha),” katanya.

Seperti diketahui, Flexi dan Esia sama-sama layanan telekomunikasi di jaringan Code Division Multiple Access (CDMA). Per akhir tahun 2009, pelanggan TelkomFlexi mencapai 15,1 juta account, sementara BTEL memiliki 10,6 juta account.

Jika keduanya bergabung, akan menciptakan operator dengan pelanggan terbesar keempat di Indonesia, di belakang PT XL Axiata Tbk yang memiliki 31,4 juta pelanggan hingga akhir tahun 2009.

Tidak hanya layanan suara, potensi peningkatan fasilitas data juga diprediksi bakal melonjak saat sinergi telah mencapai titik temu. Menurut Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah, dengan sinergi ini maka akan terjadi peningkatan layanan data akan terjadi.

Pasalnya selama ini baik TelkomFlexi ataupun Esia, pertumbuhan layanan data masih sangat rendah. “Spektrumnya kecil. Kalau digabung bisa besar. Dua-duanya akan lebih bagus. Win-win lah buat keduanya,” paparnya kemarin.

Saat dimintai keterangan terkait kebijakan yang akan diambil, pihak KPPU yang diwakili oleh Kepala Biro Kebijakannya, A Junaidi, belum bersedia berkomentar. Dirinya berjanji, keterangan resmi akan disampaikan langsung oleh Ketua KPPU, usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin depan.

“Nanti pak Ketua yang akan kasih keterangan usai RDP. Kita ada RDP dengan Komisi VI jam 1 (Senin),” kata Junaidi kepada detikFinance di Jakarta, Minggu (19/9/2010).

(wep/ang)
Sinergi Esia-Flexi Tunggu KPPU dan BRTI
Telkom tengah membicaraan dengan manajemen Esia, terutama masalah struktur
JUM’AT, 17 SEPTEMBER 2010, 21:20 WIB Hadi Suprapto, Syahid Latif

VIVAnews – PT Telkom Indonesia Tbk menyatakan rencana sinergi unit bisnis Flexi dengan PT Bakrie Telecom Tbk melalui produk Esia, menunggu persetujuan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

“Kalaupun transaksi terjadi, harus dapat izin KPPU dan BRTI,” kata Direktur Utama Telkom Indonesia Rinaldi Firmansyah di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat, 19 September 2010.

Rinaldi mengakui, sampai saat ini Telkom tengah membicarakan dengan manajemen Esia, terutama menyangkut sejumlah persoalan penting, termasuk masalah struktur.

Namun, arah pembicaraan rencana sinergi tersebut belum sampai pada tahap penentuan valuasi serta sistem kerjasama yang akan dibuat dua perusahaan telekomunikasi CDMA itu.

“Kalau sudah tercapai kesepakatan dengan Bakrie, kami akan membuat dulu MoU atau MoA, dan sampai sekarang, ini belum ditandatangani,” kata Rinaldi.

Dalam kerjasama tersebut, Flexi berharap bisa memperbesar bisnis di bidang data. Sebab, perusahaan selama ini lebih banyak mengandalkan bisnis telepon CDMA dari layanan suara dan pesan singkat (SMS). Penggabungan dua bisnis itu, diharapkan bisa memperbesar spektrum data yang dimiliki Flexi dan Esia.

“Flexi sendiri hanya bisa layanan voice dan sms, data pun sedikit, demikian juga dengan Esia. Karena spekturm kecil. Kalau digabung bisa besar,” kata Rinaldi.

Manajemen Telkom juga membantah bakal menjalin sinergi dengan Esia melalui mekanisme penyerapan saham dari penerbitan saham baru (rights issue) PT Bakrie Telecom Tbk. “Kalau menyerap rights issue artinya keluar duit, padahal seperti saya bilang kita tidak akan mengeluarkan duit,” katanya. (sj)
• VIVAnews
17/09/2010 – 19:28
Sinergi Flexi-Esia Rampung
Rinaldi: Buat MoU atau MoA Dulu!
Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta – PT Telkom (TLKM) bersama PT Bakrie Telecom (BTEL) akan membuat MoU atau MoA terlebih dahulu jika sinergi Flexi dan Esia menemukan titik terang.

Hal ini diungkapkan Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah kepada wartawan seusai bertemu dengan Menteri BUMN di kantor Kementerian BUMN, Jumat (17/9).

Rinaldi menjabarkan Memorandum of Understanding (MoU) atau Memorandum of Agreement (MoA) ini terjadi jika tercapai kata sepakat dengan Bakrie.

“Namun ini belum ditandatangani,” ucapnya. Selain itu, lanjutnya saat ini sinergi masih dalam tahap pembicaraan. Bahkan jika transaksi ini terjadi, sinergi ini harus mendapatkan izin dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

Kedua operator telekomunikasi ini juga masih membicarakan siapa yang akan bertindak sebagai pengendali. “Kita berharap win-win solution-lah untuk keduanya,” harapnya.

Menyoal Telkom akan menyerap rights issue BTEL, Rinaldi mengakui Telkom tidak dalam kerangka seperti itu. “Kalau itu (rights issue) artinya kita keluar duit dong. Kita tidak akan keluar duit sama sekali,” tandasnya.

Ia mengakui, konsolidasi ini ditunggu-tunggu oleh industri telekomunikasi dan regulator. Untuk itu, Telkom sudah menunjuk UBS Securities berperan sebagai penasehat keuangan. [mdr]
loadingEsia malah caplok Flexi
Esia malah caplok Flexi
OLEH FIRMAN HIDRANTO Bisnis Indonesia

Article Rank

UBS Securities ditunjuk sebagai penilai aset JAKARTA: Divisi usaha telepon berbasis CDMA Flexi, milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, hampir dipastikan pengelolaannya dialihkan ke PT Bakrie Telecom dengan kompensasi berupa saham perusa haan itu.

Dalam rangka konsolidasi usaha Flexi dan Esia, sama-sama bertarung di layanan seluler berbasis code division multiple acces (CDMA) dan bergerak di frekuensi 800 Mhz, Telkom juga telah menunjuk UBS Securities Indonesia untuk melakukan evaluasi terhadap aset kedua jasa layanan itu sehingga proses itu diharapkan tuntas pada Desember tahun ini.
Menteri BUMN Mustafa Abubakar memastikan Telkom tidak akan mengeluarkan dana dengan konsolidasi Flexi Esia.

“BUMN telekomunikasi ini akan mendapatkan kompensasi berupa kepemilikan saham Bakrie Telecom berkode BTEL sehubungan dengan pengalihan aset tersebut,“ ujarnya kemarin.

Dalam paparannya di Kementerian BUMN pada Rabu, manajemen Telkom mengemukakan manfaat yang diperoleh dengan melepas Flexi dan dikonsolidasikan dengan Esia a.l. Telkom tidak mengeluarkan dana, semua aset termasuk SDM Flexi akan dialihkan ke Bakrie Telecom.

Sebaliknya, dalam konteks konsolidasi itu, Telkom akan mendapatkan kompensasi berupa saham perusahaan telekomunikasi Grup Bakrie tersebut.

“Kalau jadi mengambil alih saham BTEL, metodenya bukan akuisisi. Kami tidak akan mengeluarkan uang untuk memperoleh saham BTEL. Saham BTEL nantinya ditukar dengan aset Flexi. Jadi, kami akan menempuh metode bisnis kombinasi. Mereka akan menerbitkan saham baru [rights issue] untuk kepentingan itu,“ kata Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah kepada Bisnis, kemarin.

Meski demikian, dia menambahkan, Telkom belum mengetahui berapa besar nilai kepemilikan atas BTEL yang akan dikuasai BUMN telekomunikasi tersebut.

Telkom bersama dengan UBS Securities Indonesia, penasihat pengambilalihan saham BTEL, sedang memfinalkan berapa nilai aset Flexi yang akan ditukarkan dengan saham BTEL.

Sebagai salah satu divisi usaha Telkom, seperti dikatakan EGM Tel kom Flexi Triana Mulyatsa, jasa se luler CDMA itu kini memiliki aset sebanyak 5.668 BTS (base transcei ver station) dengan wilayah cakup an 330 kota di Indonesia.

Dari sisi pelanggan, Flexi me miliki 15,9 juta pelanggan seluler dan 1,3 juta pelanggan Internet.

Direktur Utama PT Bakrie Tele com Anindya Bakrie yang dikon firmasi Bisnis mengakui dirinya baru mendengarnya dari media.

“Ini suatu kehormatan dan ke banggaan bagi kami karena dapat bermitra dengan BUMN terbesar di Indonesia. Sebagai perusahaan publik, kami akan mengikuti aturan yang ada,“ ujarnya mela lui telepon dari China, kemarin.

Sebenarnya rumor konsolidasi Flexi-Esia sudah lama terdengar. Bahkan, Telkom disebut-sebut akan menjadi pembeli siaga hing ga 40% dari rights issue yang akan dikeluarkan BTEL.
Saham melonjak Adanya rencana konsolidasi itu telah berimbas terhadap saham perusahaan milik keluarga Bakrie. Dalam pembukaan perdagangan kemarin, saham itu bera da di level Rp192. Saham itu langsung melonjak tajam dan ditutup pada level Rp205.

Sebaliknya, saham Telkom terjerembap ke level Rp9.200 pada penutupan perdagangan. Padahal ketika pembukaan, saham berkode TLKM itu masih berada di level Rp9.300.

Berkaitan dengan rencana aksi korporasi itu, analis PT E-Capital Securities Ni Putu Kurniasari me nilai pelaku pasar perlu 0 mengukur dampak konsoli dasi itu, terutama terkait de ngan risiko eksposur utang Bakrie Telecom.

Menurut dia, merger melalui mekanisme rights issue tersebut juga perlu memperhatikan faktor harga, karena mencerminkan mahal-murahnya biaya yang harus dikeluarkan Telkom dibandingkan dengan manfaat yang akan didapat pascamerger.

Pendapat hampir senada juga diungkapkan analis PT Danareksa Sekuritas Chandra S. Pasaribu dalam risetnya yang dirilis 9 Juni.

Menurut dia, konsolidasi itu akan memudahkan Telkom untuk lebih fokus pada layanan seluler GSM yang telah lama dimiliki, yakni Telkomsel.

Ni Putu Kurniasari mengingatkan perlunya perhatian terhadap utang Bakrie Telecom ke depan bisa dikompensasi dengan kinerja pascamerger. “Faktor utang ini yang perlu di-review kembali.“

Hingga akhir 2009, posisi kewajiban Bakrie Telecom tercatat sebesar Rp6,4 triliun, belum termasuk penerbitan obligasi senilai US$250 juta melalui anak usahanya Bakrie Telecom Pte Ltd dan fasilitas utang senilai US$300 juta dari Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) pada tahun ini. (firman.hidranto@bisnis.co.id) Reportase: 05/BAMBANG P. JATMIKO /ARIF GUNAWAN S/SYLVIANA PRAVITA R.K.N/LAHYANTO NADIE

Meski Banyak Dirugikan, Telkom Jadi Gandeng Bakrie Telecom
Jum’at, 17 September 2010 , 02:08:00 WIB

RMOL. Rencana “perkawinan” antara PT Telkom dan PT Bakrie Te­le com (BTEL) tinggal menunggu waktu. Peru­sahaan telekomuni kasi pelat me rah itu kemungkinan besar ba kal menggandeng Esia se bagai mit ra kerjanya.

Rencananya, ke dua perusahaan yang bergerak di teknologi komu nikasi CDMA itu, akan melaku kan penyertaan mo dal sehingga nanti ada pemegang saham dari BTEL, Telkom dan umum.

“Mereka (direksi Telkom) su dah presentasi tentang rencana kerja sama dengan Esia,” kata Men teri BUMN Mustafa Abu bakar di Jakarta, kemarin.

Paparan manajemen Telkom ke marin, ungkap Mustafa, me nyam paikan mengenai hasil bea uty contest mitra kerja sama yang dianggap cocok untuk di gan deng Telkom Flexi.

Hasil beauty con test menunjuk kan, perusahaan te leko mu nikasi yang memiliki kecoco kan dengan Flexi itu Esia. Ke cocokan tersebut dilihat dari bis nis, serta spektrum yang digu na kan oleh Esia.

Selain Esia, Telkom sendiri me lakukan beauty contest ter ha dap lima perusahaan tele komu­nikasi lain, salah satunya ada lah Mobile-8. Sebelumnya, BTEL juga mela kukan merger dengan Star One, namun gagal.

Analis pasar Yanuar Rizki me ngingatkan, dalam merger itu, Bakrie yang paling di un tung kan. Apalagi utang BTEL selama ini sangat besar. Sementara da ri ka pasitas pelanggan, Telkom lebih ba nyak diban dingkan BTEL.

Dirut Telkom Rinaldi Fir man syah menyatakan, rencana mer ger ini tidak membutuhkan biaya apapun. [RM]
Hari ini, saham milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) melonjak tajam. Saham milik salah satu perusahaan milik Group Bakrie ini sempat ngendon di posisi tertinggi di level Rp 210. Artinya, saham BTEL nyaris melompat 10%.

Hingga penutupan hari ini, saham BTEL masih menunjukkan tren naik dengan lonjakan sebesar 7,33% di level Rp 205.

Kenaikan saham BTEL disebabkan pemberitaan KONTAN yang menyatakan PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dengan BTEL kabarnya akan melakukan konsolidasi lewat penerbitan saham baru. Nantinya, perusahaan halo-halo Grup Bakrie ini yang akan menerbitkan saham baru itu.

Dengan penerbitan saham baru ini, maka TLKM akan menjadi pemegang saham pada perusahaan Bakrie tersebut.

Sumber : KONTAN.CO.ID
Telkom Pilih Sinergi dengan Bakrie Telecom
Kedua perusahaan yang bergerak di teknologi komunikasi CDMA itu akan menyertakan modal.
KAMIS, 16 SEPTEMBER 2010, 12:47 WIB Heri Susanto, Syahid Latif

VIVAnews – Kabar baru berhembus dari rencana sinergi PT Telkom Indonesia Tbk lewat unit bisnis Flexi dengan PT Bakrie Telecom Tbk. Perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut kemungkinan besar bakal menggandeng Esia sebagai mitra kerjanya.

Rencananya kedua perusahaan yang bergerak di teknologi komunikasi CDMA itu akan melakukan penyertaan modal sehingga nantinya akan ada pemegang saham dari BTEL, Telkom, dan umum.

“Mereka sudah presentasi tentang rencana kerja sama dengan Esia,” kata Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis, 16 September 2010.

Paparan manajemen Telkom kemarin, ungkap Mustafa, menyampaikan mengenai hasil beauty contest mitra kerjasama yang dianggap cocok untuk digandeng Flexi. Hasil beauty contest menunjukan perusahaan telekomunikasi yang memiliki kecocokan dengan Flexi adalah Esia.

Kecocokan tersebut dilihat dari bisnis, serta spektrum yang digunakan oleh Esia. Selain Esia, Telkom sendiri melakukan beauty contest terhadap 5 perusahaan telekomunikasi dimana salah satunya adalah Mobile8.

Mengenai mekanisme penggabungan usaha kedua perusahaan itu, Mustafa mengaku belum memperoleh penjelasan panjang lebar dari perusahaan. Namun, kemungkinan mereka akan melakukan penyertaan modal melalui penerbitan saham baru yang diterbitkan oleh Esia.

“Belum tahu berapa begitu juga nilainya. Penyampaian kemarin belum sampai seperti itu,” katanya.

Mustafa menambahkan proses kerjasama itu sampai saat ini terus dimatangkan dan diperkirakan memakan waktu cukup lama. Namun dia berharap agar seluruh rencana itu dapat direalisasikan pada tahun ini.

“Sekarang finalkan format bisnis, Ini masih memerlukan waktu, yang penting kesepakatan dulu. Saya harap tahun ini selesai,” kata Mustafa.
• VIVAnews
PT Telkom Tbk (TLKM) mengakui belum mengetahui rencana perseroan akan masuk ke dalam Bakrie Telecom Tbk melalui penyertaan modal atau

rights issue.

Hal ini diungkapkan Chief Operating Officer (COO) Telkom, Ermady Dahlan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (16/9). Ermady malah mengajukan pertanyaan balik sehubungan dengan kerjasama yang akan ditandatangani kedua operator telekomunikasi ini pada Desember mendatang. “Saya baru tahu dari Anda dan kita tidak tahu,” aku Ermady.

Sebelumya diberitakan, Menteri BUMN, Mustafa Abubakar mengatakan Telkom akan masuk ke dalam Bakrie Telecom Tbk melalui penyertaan modal. “Iya, kaya gitu (rights issue) oleh Esia,” ujar Mustafa.

Dengan begitu, lanjut Mustafa, maka akan terjadi kepemilikan bersama. Terdapat tiga pemilik yakni PT Telkom Tbk, Bakrie Telecom Tbk dan kepemilikan publik.

Sumber : INILAH.COM

Trafik SMS Esia selama Lebaran melonjak 46%
Rabu, 15/09/2010 14:57:02 WIB
Oleh: Sepudin Zuhri
JAKARTA: PT Bakrie Telecom Tbk (Esia) mengklaim berhasil menyalurkan trafik percakapan telepon, pesan singkat (short messages system/SMS), dan data selama Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, di mana trafik pengiriman pesan singkat meningkat hingga 46%.

Sementara itu, percakapan telepon justru memperlihatkan penurunan trafik di Jakarta dan sebaliknya meningkat di beberapa kota tujuan mudik di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selain itu, layanan Value Added Services (VAS) yang merupakan fitur nilai tambah yang berkaitan dengan bulan Ramadhan seperti RBT (Ring Back Tone), Adzan Cell dan Win Ramadhan juga semakin digemari masyarakat dengan rata-rata pertumbuhan dua kali lipat dibandingkan dengan sebelum Ramadhan.

Muhammad Danny Buldansyah, Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk, menjelaskan kemampuan perusahaan menyalurkan trafik disebabkan adanya peningkatan kapasitas jaringan hingga 2 kali lipat.

Dia mengungkapkan lonjakan trafik yang terjadi menunjukkan gambaran yang hampir sama dengan tahun lalu. “Tentu bervariasi tipe kotanya. Ada yang hanya kami tingkatkan 20% dari kapasitas normal di hari biasa, tetapi ada juga yang kami tingkatkan hingga 100% seperti kota-kota tujuan mudik di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ujarnya melalui siaran pers, hari ini.

Kota-kota mudik di Jawa Tengah antara lain beberapa kota di wilayah Banyumas, seperti Purwokerto dan Cilacap dan kota-kota asal pemudik di Wonogiri, Klaten, Jogjakarta, Solo, Brebes dan Tegal.

Sementara itu, kota tujuan mudik di Jawa Timur antara lain, Kediri, Malang dan Madiun. Untuk kota tujuan mudik Jawa Barat lebih banyak didominasi pada kota Bandung, Bogor, Tasikmalaya, Garut dan Serang.

Untuk SMS, menurut Danny, lonjakan terjadi pada hari pertama dan kedua menjelang bulan suci Ramadhan. Sementara di hari raya Idul Fitri lonjakan trafik SMS mulai terjadi tiga hari menjelang hari raya dan mencapai puncaknya pada H-1.

“Biasakan orang saling mengirim sms permohonan maaf menjelang bulan suci Ramadhan dan juga menjelang hari raya Idul Fitri. Polanya seperti itu dan kami telah mengantisipasinya dengan baik,” jelasnya.

Dia menjelaskan lebih dari 95% SMS bisa dikirimkan dibawah 60 detik, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berkisar antara 92%-95%. (gak)
Dana eksplorasi terserap maksimal

Se jumlahloading emiten pertambangan hingga akhir Agustus memaksimalkan penyerapan belanja modal untuk kegiatan eksplorasi.

Energi Mega fokus di sumur pengembangan Selat Malaka JAKARTA: Sejumlah emiten pertambangan seperti PT Adaro Energy Tbk, PT Aneka Tambang Tbk dan PT Energi Mega Persada Tbk, hingga akhir Agustus memaksi malkan penyerapan belanja modal untuk kegiatan eksplorasi.

Ketiga perusahaan tersebut meng gunakan dana secara mak simal untuk eksplorasi sejumlah ko moditas seperti batu bara, nikel, emas, dan bauksit hingga sumur-sumur minyak baru.
Adaro, perusahaan pertam bang an batu bara, menghabiskan da na eksplorasi sebesar US$102.086,38 pada Agustus 2010 atau lebih besar 104,85% da ri dana yang dianggarkan s e be sar US$209.131,23.

Direktur Operasional Adaro, Chia Ah Ho, melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pekan lalu, meny ebut kan realisasi dana eksplorasi pa da bulan lalu memang naik dari ang garan Agustus 2010.

Namun, realisasi dana eks plo ra si sejak Januari—Agustus 2010

(year to date) lebih rendah 36,79% menjadi US$1,33 juta dari dana yang dianggarkan sebesar US$2,11 juta.
“Pada Agustus 2010, anggaran untuk eksplorasi capai US$209.131,23, tetapi yang terealisasi US$102.086,38. Namun, secara year to date realisasi lebih rendah dari anggaran,“ paparnya. Kegiatan eksplorasi, lanjutnya, diprioritaskan pada daerah-dae rah yang memerlukan pengebor an detail untuk mendapat datadata geologi, hidrologi, dan ke pentingan uji geoteknik.

Chia mengatakan kegiatan eks plorasi dan geoteknik yang dila kukan pada bulan lalu melanjutkan program pada Juli 2010, a.l pemboran geoteknik di area tambang Tutupan dan North Pari ngin, serta pemboran eksplorasi open hole dan coring di North Pa ringin dan South Paringin.

Adapun, Antam menghabiskan biaya eksplorasi yang mencapai Rp11,3 miliar pada Agustus 2010 di beberapa daerah di Indonesia. Sekretaris Perusahaan Antam Bimo Budi Satriyo melalui keter bukaan informasi Bursa Efek Indonesia, kegiatan eksplorasi tersebut berfokus pada komoditas nikel, emas, dan bauksit.

“Untuk Agustus 2010, total biaya untuk kegiatan eksplorasi ko moditas-komoditas tersebut mencapai Rp11,3 miliar, pre lim inary figures,” paparnya.

Biaya eksplorasi paling besar digunakan untuk eksplorasi emas yang mencapai Rp5,4 miliar.
Kegiatan tersebut berfokus di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.

“Eksplorasi emas dilaksanakan di beberapa daerah, yakni Ba tang asai-Jambi, Pongkor dan Pa pandayan–Jawa Barat, CibaliungBan ten, Wawonii-Sulawesi Teng ga ra dan Mao Batuisi-Sulawesi Ba rat,” katanya.

Adapun, biaya eksplorasi nikel menghabiskan dana mencapai Rp3,9 miliar. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara.
Pembiayaan terendah diguna kan untuk eksplorasi bauksit.

Perseroan membelanjakan Rp2 miliar untuk kegiatan yang dilak sanakan di Kalimantan Barat.

“Yang dilakukan dalam kegiat an eksplorasi ini a.l perseroan log ging core, percontohan core dan batuan, pengukuran grid, pem boran, pemetaan, evaluasi,“ tu tupnya.

Sementara itu, Energi Mega Persada menghabiskan dana sebesar US$6,46 juta selama Agustus 2010 untuk kegiatan eks plorasi sumur pengembangan di Sumatra. Manajemen dalam keterbukaan informasi menuturkan kegiatan eksplorasi tersebut dilakukan di Riau, Sumatra.
Eksplorasi tersebut dilakukan dalam dua tahap, yakni pengeboran sumur pengembangan jenis MSAC-34 dan MSAC-35.

“Pengeboran sumur pengembangan MSAC-34 dikerjakan sampai dengan 6 Agustus 2010.

Lalu dilanjutkan dengan penge boran MSAC-35 sampai dengan 27 Agustus 2010,“ tulis laporan itu.

Kedua eksplorasi tersebut dila kukan di Blok Malacca Straits PSC, Riau, Sumatra. Untuk eks plorasi MSAC-34 menghabiskan dana sebesar US$4,95 juta dan eksplorasi MSAC-35 menghabis kan dana sebesar US$ 1,51 juta.

Jumlah ini meningkat 46,48% dari bulan sebelumnya sebesar US$4,41 juta. Eksplorasi masih dilakukan oleh Kondur Petrole um SA.

Energi Mega selama semester I/2010 mencatat penurunan pen dapatan 19% menjadi Rp568 mi liar dari periode yang sama tahun lalu Rp702 miliar. (05/FAHMI ACHMAD) (redaksi@bisnis.co.id)
Bahasan merger Flexi tuntas Sept.

Ke menteloadingrian BUMN meminta Telkom segera menuntaskan rencana pembahasan konsolidasi Flexi dan Esia milik Bakrie Telecom Tbk.

Perombakan manajemen Telkom masuk tahap TPA JAKARTA: Kemente rian BUMN meminta PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) segera menuntaskan rencana pembahasan konsolidasi Flexi dan Esia milik PT Bakrie Telecom Tbk minggu keempat bulan ini.

Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengemukakan kementerian tetap mempersilakan manajemen Telkom untuk meneruskan pembahasan dengan Bakrie Telecom soal rencana konsolidasi Flexi dan Esia karena kedua layanan itu memiliki kesamaan.
“Kami meminta rencana konsolidasi segera diselesaikan secepatnya. Oleh karena itu, kami meminta Telkom untuk presentasikan konsep kerja sama itu pada minggu keempat bulan ini,“ ujarnya akhir pekan lalu.

Pada prinsipnya, dia menambahkan Kementerian BUMN mempersilakan keduanya melanjutkan pembicaraan.

“Presentasi konsep kerja sama itu bukan untuk mengambil keputusan, namun untuk memberikan masukan atau saran atas aksi korporasi tersebut dengan tetap menganut prinsip kehati-hatian. Jadi kami hanya memberikan pandangan saja.“

Mustafa yang mempersilakan Telkom untuk meneruskan pembahasan rencana konsolidasi Flexi dan Esia dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian cukup memiliki dasar.

Hingga semester I tahun ini, la ba bersih Bakrie Telecom anjlok menjadi Rp2,72 miliar dibandingkan dengan Rp72,78 miliar pada periode yang sama tahun lalu, pada saat pendapatan usaha perseroan naik tipis menjadi Rpl,37 triliun dibandingkan dengan sebelumnya Rpl,33 triliun.

Laba usaha perseroan juga terca tat naik tipis menjadi Rpl74,6 miliar dibandingkan dengan Rpl58,59 miliar pada semester 1/2009.

Namun, lonjakan beban keuangan menjadi Rp206,32 miliar dari sebelumnya RplO5,63 miliar, membuat laba bersih perseroan anjlok.

Di tengah anjloknya laba bersih, Bakrie Telecom berencana menggelontorkan investasi senilai US$110 juta sepanjang tahun ini, yang sebagian besar diperuntukkan bagi pembiayaan pengembangan bisnis sambungan data setahun ke depan.

Dana sebesar itu merupakan bagian dari belanja investasi tahun ini yang bersumber dari pinjaman senilai US$300 juta berdenominasi renminbi dari Industrial and Commercial Bank of China (ICBC).

Di luar plafon pinjaman ICBC, lanjutnya, perseroan juga memiliki sisa dana sekitar US$250 juta dari obligasi yang diterbitkan baru-baru ini, dengan jatuh tempo pada 2012.

Sebelumnya, Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah mengatakan perseroan tidak akan mengeluarkan biaya sama sekali dalam rangka konsolidasi itu. dan hingga kini perseroan terus melakukan pembicaraan dengan Bakrie Telecom.
Perombakan manajemen Selain berencana melakukan beberapa aksi korporasi, terma suk konsolidasi Flexi dan Esia, Kementerian BUMN juga akan melakukan perombakan manajemen perusahaan telekomunikasi pelat merah itu dalam waktu dekat, baik jajaran komisaris maupun direksi.

Bahkan, satu komisaris independen Telkom saat ini telah kosong setelah Arif Arryman meninggal pada Selasa, 7 September. Arif menjabat sebagai komisaris independen Telkom sejak 21 Juni 2002.

Almarhum juga pernah menjabat sebagai komisaris independen PT Bank BNI Tbk selama 4 tahun (2001-2005).

Selain itu, Arif pernah menjabat sebagai penasihat Menteri Koordinator bidang Ekonomi semasa Rizal Ramli.

Menurut Mustafa, rencana perombakan jajaran manajemen tetap berjalan dan Kementerian BUMN telah melakukan fit and proper test terhadap sejumlah nama.

“Proses itu telah memasuki tahap akhir dan tinggal menunggu keputusan formal dari hasil tes penilaian akhir (TPA),“ ujarnya.

Saham Telkom sempat diperdagangkan di level tertinggi 9.050 pada 3 September 2010 sebelum ditutup di level 9.000 dalam penutupan pasar perdagangan pada 7 September 2010.
(05/ FIRMAN HIDRANTO) (redaksi@ bisnis. co.id)
08/09/2010 – 15:40
ENRG Keluarkan Biaya Eksplorasi US$6,47 Jt per Agustus 2010

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengeluarkan biaya eksplorasi sebesar US$6,47 juta per Agustus 2010.

Dalam penjelasannya ke BEI, Rabu (8/9) dijelaskan area yang dilakukan aktivitas eksplorasinya Blok Malacca Straits PSC, Riau, Sumatera. Total biaya yang telah dikeluarkan mencapai US$4.958.083 (sampai dengan 06 Agustus 2010). Pihak yang melakukan eksplorasi adalah Kondur Petroleum SA. Metode pengujian dan pemilihan areal pengeboran sumur pengembangan MSAC-34.

Hasil aktivitas eksplorasi hingga akhir periode pelaporan ini meliputi aktifitas pemboran dilanjutkan dengan melakukan cased hole logging, kemudian memasang dan menguji back packer. Dilanjutkan

dengan memompakan completion fluid, melubangi zona Hydrocarbon dan memasang ESP pump. Kemudian membongkar rig dan berpindah ke sumur MSAC-35.

Rencana tindak lanjut Perseroan akan berpindah ke Sumur MSAC-35.

Area lain yang dilakukan aktivitas eksplorasi adalah Blok Malacca Straits PSC, Riau, Sumatera. Total biaya yang telah dikeluarkan mencapai US$1.509.389 (sampai dengan 27 Agustus 2010). Pihak yang melakukan eksplorasi adalah Kondur Petroleum SA.

Metode pengujian dan pemilihan areal adalah pengeboran Sumur Pengembangan MSAC-35. Hasil aktivitas eksplorasi hingga akhir periode pelaporan ini adalah Pindah dan memasang drilling rig, melakukan pemboran (tajak)

sumur MSAC-35 pada 24 Agustus 2010, dengan membor lubang 17 1/2′ hingga kedalaman 350 ft. Kemudian membor secara directional lubang sebesar 17 1/2 dari kedalaman 350 ft hingga kedalaman 1648 ft, dilanjutkan dengan memasang dan menyemen casing. Rencana tindak lanjut meneruskan aktifitas pemboran. [cms]
Konsolidasi Flexi-Esia Tanpa Intervensi
“Kami sama sekali tidak ada arahan menteri. Itu murni aksi korporasi.”
SELASA, 7 SEPTEMBER 2010, 14:38 WIB Arinto Tri Wibowo, Agus Dwi Darmawan

VIVAnews – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar belum menerima laporan mengenai rencana konsolidasi operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Flexi milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dengan Esia dari PT Bakrie Telecom Tbk.

Namun, menurut Mustafa, molornya aksi korporasi itu tidak terkait rencana pergantian direksi Telkom.

“Kami sama sekali tidak ada intervensi atau arahan menteri. Itu murni aksi korporasi,” ujar Mustafa di sela acara pasar murah di Klender, Jakarta, Selasa 7 September 2010.

“Jadi jangan dikaitkan dengan pergantian pengurus. Ini soal dewan direksi jalan sendiri dan proses bisnis jalan sendiri,” katanya.

Kementerian BUMN, menurut Mustafa, sepenuhnya memberi kesempatan kepada dua perusahaan itu untuk mempelajari sendiri apakah rencana merger Flexi-Esia layak diteruskan atau tidak.

“Kalau layak diteruskan silakan. Kalau lebih baik cari pasar baru, ya silakan,” tuturnya. Kementerian BUMN menegaskan pihaknya siap menerima laporan rencana konsolidasi itu.
Sebelumnya, Telkom menyatakan rencana konsolidasi Flexi dengan Bakrie Telecom dengan produknya Esia tidak akan mengeluarkan dana sedikit pun dari perusahaan.

“Kami tidak akan keluar dana,” kata Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah.
Rinaldi menuturkan, proses pengkajian konsolidasi Flexi dan Esia sampai saat ini masih terus dilakukan. Pihaknya menyakinkan akan memperhitungkan segala macam faktor dalam aksi korporasi tersebut. “Ini bukan akuisisi, tapi konsolidasi,” katanya. (umi)
• VIVAnews
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menyatakan masih terus memproses rencana merger Flexi-Esia. Menurut manajemen Telkom, rencana merger ini tidak membutuhkan biaya apa pun.

“Ini patut dicatat, kita tidak melakukan akuisisi tetapi konsolidasi. Dan kita tidak keluar dana sepeserpun untuk rencana ini. Dan jenis mergernya bisa bermacam-macam,” ujar Direktur Utama Telkom Rinaldi firmansyah kepada wartawan di sela acara Mudik Asik Telkom Grup dan Telkomsel di Parkir Timur Senayan Jakarta, Selasa (7/9/2010).

Rinaldi mengatakan, Telkom masih melakukan berbagai perhitungan terkait rencana konsolidasi tersebut. “Kami masih terus memproses segala macam masukan untuk kajian yang masih berjalan hingga saat ini. Prinsipnya secara komersial layak ya akan kita jalankan, dan juga sebaliknya. Namun kita masih tersu menunggu kajian,” jelasnya.

Menurutnya ada beberpa hal yang diperhatikan dalam konsolidasi ini yang pertama adalah prospek perusahaan yang dijajaki perseroan untuk diajak berkonsolidasi dan yang kedua adalah laba dan kemampuan finansial perusahaan tersebut.

Sebelumnya, pembahasan rencana merger Telkom Flexi dengan Esia harus ditunda hingga terbentuknya manajemen baru Telkom.

“Flexi-Esia di-hold terlebih dahulu, tunggu manajemen baru. RUPSLB sebenarnya 35 hari dari RUPS, tapi ada halangan bulan puasa. Saya tidak masalah, tapi dari segi sopan santunnya sesudah Lebaran. Ada dua opsi jadinya, tetap dilakukan saat bulan puasa atau ditunda hingga usai Lebaran,” ungkap Menteri BUMN Mustafa Abubakar beberapa saat yang lalu.

Namun dia menampik bila manajemen baru Telkom itu nantinya adalah orang-orang baru. Menurutnya, manajemen baru itu bisa saja perpanjangan dari manajemen lama. Saat ini, calon nama direksi maupun komisaris Telkom masih berada dalam penilaian Kementerian BUMN, belum diserahkan ke Tim Penilai Akhir (TPA).

“Manajemen baru belum tentu memiliki strategi yang sama, karena peluang kembangkan usaha begitu banyak. Kalau baik diteruskan, silakan. Kalau tidak, ya silakan. Manajemen bisa berasal dari perpanjangan yang sekarang atau bisa ganti baru. Sekarang masih di Kementerian,” tuturnya.

Seperti diketahui, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Telkom pada 11 Juni lalu memutuskan untuk tidak mengganti direksi dan komisaris. Pasalnya, Kementerian BUMN masih mengevaluasi kinerja masing-masing direksi dan komisaris.

Sumber: detikcom
06/09/2010 – 19:15 RUPSLB Telkom Tunggu Seleksi Direksi-Komisaris
Susan Silaban

(inilah.com/Wirasatria)INILAH.COM, Jakarta – Kementerian BUMN mengisyaratkan PT Telkom Persero akan membuat jadwal RUPSLB setelah Tim Penilai Akhir (TPA) selesai melakukan penilaian atas jajaran komisaris dan direksi.

“TPA turun baru kita akan memikirkan kapan jadwal RUPSLB-nya,” ujar Menteri BUMN, Mustafa Abubakar seusai RDP dengan Komisi VI DPR RI bersama kementerian BUMN di Jakarta, Senin (6/9).

Menteri BUMN mengakui pertengahan September, TPA akan mengeluarkan hasil penilaiannya. Diharapkan Telkom segera melakukan RUPSLB yang akan disampaikan ke Bapepam-LK. [hid]

Kamis, 02/09/2010 19:40:56 WIB
Merger Esia dan Flexi masih tahap penjajakan
Oleh: Ratna Ariyanti
JAKARTA: Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk, mengatakan merger antara Esia dengan Flexi milik PT Telkom Tbk masih berada pada tahap penjajakan awal.

Rakhmat mengatakan hal ini ketika dimintai tanggapan seputar pernyataan Menteri BUMN Mustafa Abubakar agar Telkom mengevaluasi rencana merger terkait anjloknya kinerja keuangan Bakrie pada semester I/2010.

“Kami dengan Telkom baru penjajakan awal sehingga saya tidak berani mengomentari pernyataan tersebut,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, malam ini.

Dia menambahkan perseroan terus melakukan evaluasi terkait kinerja keuangan.

“Evaluasi terus berjalan, tentu kami tidak ingin target-target kami tidak tercapai,” katanya.

Harga saham perseroan dengan kode BTEL pada penutupan perdagangan hari ini stagnan di level Rp173 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp4,9 triliun.

Laba bersih Bakrie Telecom pada semester I/2010 anjlok 96,29% menjadi Rp2,7 miliar dibandingkan dengan laba bersih pada semester I/2009 yang mencapai Rp72,8 miliar.

Penurunan laba bersih disebabkan oleh kenaikan beban keuangan sebesar 95,3% menjadi Rp206,3 miliar dibandingkan dengan beban keuangan pada semester pertama tahun lalu sebesar Rp105,6 miliar.

Pada kuartal II/2010, perseroan menerbitkan obligasi global senilai US$250 juta untuk pembiayaan kembali hutang sindikasi dan belanja modal bagi layanan internet broadband wireless access (BWA).

Perolehan pendapatan naik 3,1% dari Rp 1,66 triliun menjadi Rp 1,72 triliun. Adapun, laba usaha pada semester I/2010 tumbuh 10,1% atau naik dari Rp158,6 miliar menjadi Rp174,6 miliar.

Kenaikan ini antara lain disumbangkan oleh berkurangnya rasio biaya-biaya operasi dan pemeliharaan, umum dan administrasi, serta penjualan dan pemasaran terhadap pendapatan.

Selain laba usaha, EBITDA (earnings before interest, tax, depreciation & amortization) juga meningkat 17,7% dari Rp 613,8 miliar menjadi Rp722,5 miliar. Alhasil, EBITDA marjin juga meningkat dari 36,8% menjadi 42%. Sementara

Hingga akhir Juni 2010, pelanggan operator CDMA ini mencapai 11,1 juta atau tumbuh 24,7% dari 8,9 juta pada Juni 2009. (esu)
Kamis, 02/09/2010 20:38:47 WIB
Energi Mega Persada dapat kontrak penjualan gas
Oleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA: PT Energi Mega Persada Tbk, salah satu perusahaan Grup Bakrie, mendapatkan kontrak penjualan gas dengan PT BSP – Pertamina Hulu Energi (BOB) senilai US$123,6 juta, atau senilai Rp1,11 triliun.

Kontrak itu didapatkan melalui salah satu anak usaha Energi Mega, yaitu Kondur Petroleum SA, selaku operator atas blok Selat Malaka KKKS.

Dalam siaran pers yang dirilis pada hari ini, perusahaan menetapkan harga gas yang dibungkus kontrak sebesar 25 miliar kaki kubik gas dengan harga US$ 4.944 per mmbtu (juta British thermal unit), dan eskalasi sebesar 3% per tahun.

“Harga US$4.944 per mmbtu itu berarti per 1.000 SCFD [supercritical fluid deposition], jadi total kontraknya US$123,6 juta,” ujar Direktur Keuangan Energi mega Didit Ratam kepada Bisnis, malam ini.

Kontrak itu ditandatangani pada 30 Agustus 2010 untuk waktu pengiriman semester II/2012 sampai dengan tahun 2020 sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik yang dioperasikan oleh BOB untuk pengangkatan minyak dari sumur-sumurnya.

Per semester I/2010, blok Selat Malaka KKKS memproduksikan sekitar 11,9 juta kaki kubik gas per harinya. Sekitar 4,5 juta kaki kubik gas per harinya di flared, dan sisanya digunakan sebagai bahan bakar pompa-pompa yang dioperasikan dan pembangkit tenaga listrik yang dioperasikan oleh Energi Mega. (esu)
Bakrie Telecom to invest US$110 million in 2010
Tuesday, 31/08/2010 20:26:21 WIB
by: Arif Gunawan S.
JAKARTA: CDMA-based operator PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) plans to invest US$110 million this year, mostly used to fund their connecting data business for the year ahead.

CEO Bakrie Telecom Anindya Bakrie explained the small part of this year investment is a loan in the amount of US$300 million denominated in renmimbi from Industrial and Commercial Bank of China (ICBC).

“Through this year, we have been using 10% from the loan. The amount is small since we only take it when it necessary,” he said during fasting break with the press, today.

At the end of this year, the company targets US$300 million investment or IDR2.7 trillion, it will be used to expand telecommunication network either cellular or data. They have targeted 14 million subscribers.

Bakrie Telecom Jastiro Abi said this year spending, for about $100 million, will be mostly used to fund investment in PT Bakrie Connectivity while the rest used for company development.

Besides the ICBC’s loan, the company also has US$250 million from recently issued bond, which expired in 2012. Most of the short-term loans are financing lease.

Responding the cooperation issue between PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, Telkom Flexi and Bakrie Telecom, Anindya clarified that the discussion is still on progress.

“Both parties have good corporate governance that must be met especially with their public status,” he said. (t05/wiw)
Ledakan Kapal Minyak di Sumenep Teratasi
Tidak ada korban jiwa, luka parah, ataupun tumpahan minyak dalam insiden tersebut.
SENIN, 30 AGUSTUS 2010, 20:07 WIB Arinto Tri Wibowo

(ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo)

VIVAnews – Kangean Energy Indonesia Ltd, anak usaha PT Energi Mega Persada Tbk, telah melakukan pengamanan untuk mencegah dampak buruk dari ledakan di kapal penampungan minyak atau Floating Storage Offloading (FSO) Gagasan Perak di perairan Sepanjang, Sumenep, Jawa Timur.

“Hasilnya, api yang timbul dari ledakan itu berhasil dipadamkan dengan bantuan tim pemadam kebakaran Anchor Handling Tug Support Era Maritime yang saat itu berada di lokasi,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada, Imam P Agustino, dalam penjelasan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Senin 30 Agustus 2010.

Kapal penampungan minyak Gagasan Perak dengan kapasitas sekitar 60 ribu barel itu dioperasikan PT Sea Horse untuk menampung produksi minyak Kangean. Sedangkan Kangean adalah operator atas blok Kangean PSC di Jawa Timur.

Berdasarkan keterangan perseroan, ledakan terjadi pada Sabtu 28 Agustus 2010 sekitar pukul 09.30 WIB dan api berhasil dipadamkan pada pukul 11.30 WIB. Tidak ada korban jiwa, luka parah, ataupun tumpahan minyak dalam insiden tersebut.

“Semua personel berhasil dievakuasi ke darat dan empat orang di antaranya dirawat di Rumah Sakit Kasih Ibu,” ujar Imam.

Menurut dia, Kangean juga telah berkoordinasi dengan BP Migas dan koordinator Penanggulangan Tumpahan Minyak di Perairan (PTMP) wilayah V untuk mengantisipasi terjadinya tumpahan minyak. Koordinator PTMP di wilayah V telah mengirimkan tambahan oilboom 200 meter dari Hess Indonesia (pangkah) Ltd.

Seluruh biaya terkait insiden tersebut telah diasuransikan kontraktor (Sea Horse). Sedangkan volume minyak sebesar 20 ribu barel di kapal tersebut telah diasuransikan oleh Kangean. (umi)
• VIVAnews
Harga Jual Minyak Energi Mega Naik 53%
Harga jual minyak pada semester I-2010 mencapai US$79,4 per barel.
JUM’AT, 30 JULI 2010, 14:16 WIB Arinto Tri Wibowo, Purborini

VIVAnews – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatat kenaikan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 82 persen pada semester I-2010. Peningkatan EBITDA disebabkan kenaikan harga jual minyak dan penurunan biaya produksi.

Pada semester I-2010, harga jual minyak perseroan meningkat 53 persen ke level US$79,4 per barel. Perseroan melanjutkan aktivitas pemboran pada sumur-sumur pengembangan dan workover yang berbiaya rendah, sehingga mampu menurunkan beban pokok penjualan sebesar 26 persen.

“Oleh karena itu, perseroan membukukan kenaikan EBITDA hampir dua kali lipat menjadi Rp144 miliar,” kata Chief Executive Officer (CEO) Energi Mega Persada, Imam Agustino, dalam siaran pers yang diterima VIVAnews di Jakarta, Jumat 30 Juli 2010.

Menurut dia, produksi harian minyak dan gas Energi menurun masing-masing sebesar 18 persen dan 30 persen yang disebabkan berkurangnya aktivitas pemboran pada tahun sebelumnya.

“Produksi minyak dan gas turun karena sedikitnya aktivitas pemboran pada 2009,” tuturnya.

Perusahaan hanya melakukan pemboran pada satu sumur pengembangan tahun lalu terkait efisiensi biaya seiring rendahnya harga minyak dan posisi kewajiban yang masih cukup tinggi.

Agustino menambahkan, pada akhir tahun ini, lapangan Pagerungan Utara dari blok Kangean PSC, Jawa Timur dan lapangan Segat dari blok Bentu, Riau, Sumatra diharapkan dapat memulai produksinya masing-masing sebanyak 5.000 barel per hari dan 20 juta kaki kubik gas per hari.

Selain itu, lapangan TSB dari blok Kangean PSC, Jawa Timur juga diharapkan dapat segera memproduksi gas sebanyak 300 juta kaki kubik per hari pada akhir 2011.
Namun, selama semester I-2010, Energi Mega Persada mencatat penurunan pendapatan sebesar 19 persen. Pendapatan turun dari Rp702 miliar pada semester I-2009 menjadi Rp568 miliar pada periode sama 2010.

Anak usaha PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) itu mampu menekan rugi bersih menjadi Rp79 miliar dibandingkan semester I-2009 sebesar Rp245 miliar.
• VIVAnews
31/08/2010 – 06:54
Pelanggan BTEL Naik 24,7% Jadi 8,9 Juta

(IST)
INILAH.COM, Jakarta – Akhir Juni 2010, pelanggan Bakrie Telecom (BTEL) tercatat sebanyak 11,1 juta, atau bertambah 24,7% dari 8,9 juta di Juni 2009.

Demikian dikutip dari keterangan resmi BTEL, yang diterima INILAH.COM. “Pertumbuhan ini dicapai berkat inovasi yang berkelanjutan dari sisi produk dan layanan serta didukung pengenalan merek yang kuat.”

Pada penghujung akhir semester pertama 2010,BTEL, melalui anak usahanya PT Bakrie Connectivity (BCONNECT) memperkenalkan layanan BWA (Broadband Wireless Access) yang menggunakan teknologi EVDO dengan merek AHA. Sampai saat ini AHA telah melayani 15 ribu pelanggan di 11 kota yang tersebar di Jawa, Bali dan Sumatra.

Perseroan melihat potensi yang luar biasa pada layanan BWA di Indonesia. Hal ini terutama mengingat jumlah pengguna internet yang masih sangat sedikit dengan tingkat penetrasi hanya sekitar 12,5%.

Berbagai terobosan dan langkah inovatif perseroan telah mendorong tingginya kepercayaan komunitas keuangan internasional terhadap kelangsungan usaha perseroan. Kepercayaan tersebut terlihat pada suksesnya penerbitan obligasi global senilai US$250 juta.

Selain itu juga mendapat fasilitas pendanaan dalam mata uang Renminbi yang nilainya setara dengan US$300 juta dari Industrial and Commercial Bank of China (ICBC). Fasilitas ini untuk pendanaan belanja modal di masa depan. Bakrie Telecom merupakan operator pertama di Asia Tenggara yang menerima fasilitas RMB Buyer’s Credit tersebut. [hid]
Beban Keuangan Naik, Laba BTEL Anjlok 96%
Senin, 30 Agustus 2010 – 18:16 wib

Andina Meryani – Okezone

JAKARTA – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatatkan penurunan tajam laba bersih semester pertama 2010 menjadi Rp2,7 miliar atau sekira 96,3 persen jika dibanding pencapaian Rp72,8 miliar pada tahun sebelumnya.

Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban keuangan sebesar 95,3 persen menjadi Rp206,3 miliar dibanding pada periode yang sama di semester pertama 2009 sebesar Rp105,6 miliar. Lonjakan ini sejalan dengan penerbitan obligasi global senilai USD250 juta di kuartal kedua 2010, yang mana dananya digunakan untuk pembiayaan kembali utang sindikasi dan belanja modal untuk layanan internet broadband wireless access (BWA).

Namun untuk laba usaha BTEL mencatatkan pertumbuhan sebesar Rp174,6 miliar pada semester I-2010 ini atau naik 10,1 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp158,6 miliar.

“Kenaikan ini antara lain merupakan hasil dari berbagai usaha efisiensi yang dilakukan perseroan seperti berkurangnya rasio biaya-biaya operasi dan pemeliharaan, umum dan administrasi serta penjualan dan pemasaran terhadap pendapatan,” ujar Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk Anindya N Bakrie dalam siaran persnya kepada okezone, di Jakarta, Senin (30/8/2010).

Selain laba usaha, EBITDA (Earnings Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization) juga meningkat 17,7 persen dari Rp613,8 miliar menjadi Rp722,5 miliar. Akibatnya EBITDA marjin juga meningkat dari 36,8 persen menjadi 40 persen. Sementara pendapatan usaha mengalami kenaikan sebesar 3,1 persen dari Rp1,666 triliun menjadi Rp1,718 triliun.

Sampai akhir Juni 2010, pelanggan BTEL tercatat sebanyak 11,1 juta, atau bertambah 24,7 persen dari 8,9 juta di Juni 2009. Pertumbuhan ini dicapai berkat inovasi yang berkelanjutan dari sisi produk dan layanan serta didukung pengenalan merek yang kuat.

Seperti telah diinformasikan sebelumnya pada penghujung akhir semester pertama 2010, PT Bakrie Telecom Tbk, melalui anak usahanya PT Bakrie Connectivity (BCONNECT) memperkenalkan layanan BWA (Broadband Wireless Access) yang menggunakan teknologi EVDO dengan merek AHA. Sampai saat ini AHA telah melayani 15 ribu pelanggan di 11 kota yang tersebar di Jawa, Bali dan Sumatra.

”Kami melihat potensi yang luar biasa pada layanan BWA di Indonesia, terutama mengingat jumlah pengguna internet yang masih sangat sedikit dengan tingkat penetrasi hanya sekitar 12,5 persen”, tandasnya.(adn)(rhs)
Saham-saham berbasis energi mengalami kenaikan signifikan pagi ini. Kondisi itu terkait dengan kenaikan kontrak harga minyak mentah dunia. Sekadar mengingatkan, pada 27 Agustus lalu, kontrak harga minyak sempat melonjak hingga 2,5% menjadi US$ 75,17 sebarel di New York. Ini merupakan kenaikan tertinggi sejak 23 Juli lalu.

Alhasil, sejumlah emiten yang merupakan produsen minyak kian diburu. Sebut saja PT Medco Energi Internasional (MEDC) yang merupakan perusahaan minyak terbesar yang tercatat di BEI. Pada pukul 10.03, saham MEDC mengalami kenaikan sebesar 2,46% menjadi Rp 3.125. Harga saham MEDC sempat menyentuh level tertinggi dalam sebulan terakhir pada 10 Agustus lalu di posisi Rp 3.400.

Kenaikan juga dialami oleh PT Energi Mega Persada (ENRG). Perusahaan minyak ini mengalami kenaikan mencapai 1,08% menjadi Rp 94.

Sumber : KONTAN.CO.ID
27/08/2010 – 06:13
IHSG Konsolidasi, Trading Saham ‘Lagging’
Natascha & Asteria

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia pada Jumat (27/8) masih akan konsolidasi. Namun, beberapa saham masih bisa ditrading, seperti INDF, TLKM dan saham grup Bakrie.

Analis pasar modal dari Batavia Sekuritas Teuku Hendri memprediksikan, IHSG hari ini masih akan lanjutkan pola konsolidasi, mengingat level IHSG yang sudah tinggi. Namun, tertembusnya level resistan 3.150, belum membuka peluang buy on weakness pada emiten-emiten, “Karena IHSG belum tekoreksi signifikan setelah tembus level resistan tersebut,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Ia menilai, minat investor asing pada pasar Indonesia masih tinggi, terlihat dari besarnya aliran dana yang masuk dalam lelang SUN. Angka inflasi Agustus yang diperkirakan menjadi sentimen negatif yang memicu penurunan indeks pun akan teredam oleh ekspektasi kenaikan suku bunga oleh BI.

Namun, imbuhnya, BI rate diprediksi hanya maksimal naik ke 7% hingga akhir tahun. Penguatan nilai tukar rupiah atas dolar AS, menunjukkan belum dibutuhkannya kenaikan suku bunga untuk antisipasi inflasi karena tekanan inflasi pun masih terkontrol.

Di tengah minimnya sentimen negatif yang menekan indeks dan belum terlihatnya tanda-tanda koreksi yang besar, investor disarankan untuk mencermati pergerakan pasar lebih lanjut. “Pelaku pasar sebaiknya wait and see untuk masuk lagi di saham big caps,” ucapnya.

Hendri melihat, peluang trading masih terbuka di saham kelompok Bakrie. Meskipun sudah mengalami kenaikan yang cukup banyak, koreksi emiten-emiten di grup Bakrie sudah berlangsung lama. Ini berarti, masih terbuka peluang kenaikan harga.

Saham pilihannya adalah PT Bumi Resources (BUMI) dan PT Energi Mega Persada (ENRG). “Saham kelompok Bakrie cenderung spekulatif sehingga bisa menjadi sarana trading,” ujarnya.

Hendri juga merekomendasikan saham lain seperti PT Indofood (INDF) dan PT Telekomunikasi (TLKM). Kedua emiten ini harga sahamnya sudah cukup lagging, sehingga berpeluang mengalami teknikal rebound. “Investor bisa trading saham-saham ini,” pungkasnya.

Pada perdagangan Kamis (26/8), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 6,225 poin (0,20%) ke level 3.145,135. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai, dimana volume transaksi tercatat sebesar 8,428 miliar lembar saham, senilai Rp5,307 triliun dan frekuensi 161.533 kali.

Sebanyak 114 saham naik, 81 saham turun dan 77 saham stagnan. Penguatan bursa didukung aksi beli asing yang membukukan nilai transaksi beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp22 miliar. Dimana nilai transaksi beli mencapai Rp1,303 triliun dan nilai transaksi jual sebesar Rp1,281 triliun. [mdr]

Menurut harian Investor Indonesia, Manajemen tujuh perusahaan grup Bakrie (B7) menggelar road show ke tujuh negara di Asia dan AMerika mulai pekan lalu.Pada fund manager asing dikumpulkan untuk meyakinkan mereka bahwa saat ini perseroan telah menjalankan bisnis dengan baik.Ini yang membuat hampir semua saham B7 naik pekan lalu karena harganya undervalue dan asing mulai membeli sahamnya.Jumat pekan lalu,BUMI naik 210 ke 1.500, UNSP menguat Rp 30 ke Rp 265, ELTY naik Rp 7 ke RP 103, ENRG menguat RP 7 ke 89, DEWA naik Rp 1 ke 52, BTEL menguat RP 2 ke Rp 150, dan BNBR flat Rp 50.

Author : Rumors

1 Komentar »

  1. […] maen short selling katanya menguntungkan saat tren TURUN : TETAP UNTUNG SAAT BUNTUNG versi analis […]

    Ping balik oleh orang kaya berani gagal :) 151010 « maen SAHAM beneran (mulai : 210809) bacaan SEHAT bwat investor NEKAT — Oktober 17, 2010 @ 8:05 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: