Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Agustus 23, 2010

unsp by analyst … 060311 (updated)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 10:00 am

Bakrie Sumatera Plantations Ganti Nama Anak Usaha

Foto: Istimewa
Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Sabtu, 5 Maret 2011 | 06:41 WIB
TERKAIT
Bakrie Sumatera Plantations Ganti Nama Anak Usaha
IPO, Anak Usaha BLTA Fokus di Transportasi Energi
Anak Usaha Indofood Rencana IPO
FREN Bakal Ganti Nama
Bakrie Plantations Perpanjang Jatuh Tempo Obligasi
INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) telam melakukan perubahan nama salah satu anak usahanya pada 3 Maret 2011.

Hal ini disampaikan Fitri Barnas, Corporate Secretary dalam keterbukaannya ke BEI, Jumat (4/3) malam.

Adapun anak usaha yang nanmanya diganti tersebut adalah BSP Netherlands B.V. Perseroan kemudian menggantinya menjadi BSP Netherlands Finance B.V.
PT Bakrie Sumatera Planations Tbk (UNSP) resmi menandatangani pendirian BSP Netherlands (BNBV) pada 31 Desember 2010 sudah dilakukan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar perseroan.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Perusahaan UNSP Fitri Barnas dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Selasa (4/1/2011).

“BNBV sebagai anak perusahaan perseroan ini berkedudukan di Amsterdam dan seluruh sahamnya dimiliki perseroan sebesar 18 ribu euro,” katanya.

Dikatakannya, pendirian anak perusahaan BNBV yang seluruh sahamnya dimiliki perseroan sebesar 18 ribu euro tersebut bukan merupakan transaksi afiliasi dan tidak mengandung unsur benturan kepentingan.

“Dan juga transaksi ini tidak merupakan transaksi material sebagaimana dimaksud dalam peraturan IX.E.2 tentang transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama,” tambahnya

Sumber : OKEZONE.COM
Rabu, 22 Desember 2010 | 11:33 oleh Barratut Taqiyyah, Bloomberg kontan
SAHAM-SAHAM CPO
Harga CPO naik lagi, saham LSIP dan UNSP dilanda aksi beli

JAKARTA. Sudah tiga hari terakhir, kontrak harga crude palm oil (CPO) mengalami kenaikan. Pemicunya, pelaku pasar cemas kalau produksi kedelai Argentina bakal melorot sehingga berpotensi mendongkrak permintaan untuk komoditas CPO.

Pagi tadi, kontrak harga CPO untuk pengantaran Maret di Malaysia Derivatives Exchange naik 1,1% menjadi 3.600 ringgit atau US$ 1.150 per metrik ton. Pada pukul 11.02 waktu Kuala Lumpur, kontrak yang sama berada di posisi 3.596 ringgit.

Pada 14 Desember lalu, kontrak harga CPO sempat bertengger di level 3.766 ringgit per ton. Ini merupakan level tertinggi dalam 33 bulan.

Kenaikan harga CPO ternyata berdampak positif pada pergerakan harga saham CPO. Ambil contoh saham Gozco Plantations (GZCO) yang naik 2,50% menjadi Rp 410. Lantas ada saham PP London Sumatra (LSIP) yang naik 2,14% menjadi Rp 11.950.

Sementara, saham Astra Agro Lestari (AALI) malah dilanda aksi jual dengan penurunan 0,4% menjadi Rp 24.750.

Bakrie Plantations Jual Aset Nibung ke Julan Oca
Headline
Bakrie Plantations – Foto:Istimewa
Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Sabtu, 18 Desember 2010 | 10:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) telah menjual seluruh aset-aset PT Nibung Arthamulia (NA) kepada PT Julang Oca Permana (JOP).

Dalam siaran persnya, Sabtu (18/12) dijelaskan Perseroan memiliki lebih dari 99% di NA dan JOP sehingga merupakan transaksi afiliasi. Sedang nilai transaksinya penjualan asetnya kurang dari 20% atau sebesar Rp7,74 miliar sehingga tidak termasuk transaksi material.

Menindaklanjuti transaksi pengambilalihan perusahaan oleochemical yang akan dilakukan oleh NA yang telah memperoleh persetujuan RUPS tanggal 29 Oktober 2010, NA selanjutnya akan berkonsentrasi dalam kegiatan oleochemical. Karenanya pabrik pengolahan karet yang selama ini dijalankan oleh NA akan dialihkan kepada anak perusahaan Perseroan yang bergerak di bidang pengolahan karet. Diharapkan dengan pengalihan pabrik karet ke JOP bisa meningkatkan volume dari pengolahan karet yang dilakukan oleh JOP
Bakrie Sumatera akuisisi Sawitmas Agro
Oleh Ratna Arianti | 17 December 2010
bisnis

JAKARTA: PT Bakrie Sumatera Plantations melalui anak usaha PT Nibung Arthamulia mengakuisisi 99,6% saham PT Domas Agrointi Prima di PT Sawitmas Agro Perkasa.
Nibung Arthamulia juga mengakuisisi 0,4% saham Sawitmas Agro.

Sekretaris Perusahaan Fitri Barnas, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada hari ini, mengatakan bahwa akuisisi yang dilakukan pada 16 Desember 2010 itu merupakan realisasi dari penawaran umum terbatas III.

“Dengan demikian perseroan, melalui anak perusahaannya, yaitu Nibung Arthamulia dan PT Grahadura Leidongprima, telah menuntaskan seluruh transaksi akuisisi perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan karet serta pengolahan oleochemical sebagai realisasi penawaran umum terbatas III,” paparnya.

Pada 3 Mei, perseroan melalui anak perusahaannya Grahadura Leidongprima mengakuisisi 100% saham PT Citalaras Cipta Indonesia. Akusisi untuk 7.000 saham itu sesuai dengan akta jual beli saham pada 29 April 2010. Akuisisi ini juga merupakan realisasi penggunaan dana penawaran umum terbatas III.

Perusahaan telah melakukan penawaran umum terbatas III dengan hak memesan efek terlebih dahulu sebanyak 9,45 miliar lembar saham dengan harga Rp525 per saham.

Bakrie Sumatra Plantations adalah salah satu perusahaan di bawah kelompok usaha Bakrie milik keluarga Barkrie yang kini ditangani oleh generasi ketiga keluarga itu di bawah komando Anindya Bakries.(ln)
Selasa, 14 Desember 2010 | 07:18 oleh Kun Wahyu Winasis, Amailia Putri Hasniawati, KONTAN
TARGET KINERJA UNSP
UNSP optimistis pendapatan tahun depan bisa tumbuh 30%

JAKARTA. Setelah menguasai aset oleokimia milik Domba Mas, PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP) optimis di tahun 2011 koceknya bakal semakin menebal.

Presiden Direktur UNSP, Ambono Janurianto memperkirakan, dengan masuknya bisnis Oleokimia di tahun 2011 pendapatan perusahaan bisa tumbuh minimal 30% daripada tahun ini. “Di tahun 2010 pendapatan kami sekitar Rp 3,3 triliun,” jelasnya, kemarin (13/11).

M.Iqbal Zainuddin, Direktur UNSP menambahkan, di tahun 2011 pabrik yang sudah beroperasi secara penuh adalah pabrik fatty acid di Tanjung Morawa. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi 165 ton per hari atau sekitar 54.000 ton setahun.

Dengan produksi sebanyak itu, plus harga crude palm oil (CPO) tetap berada dikisaran US$ 800 per ton, maka bisnis fatty Acid bisa menyumbang pendapatan sekitar US$ 60 juta. Sementara pabrik di Kuala Tanjung, di perkirakan baru berkontribusi sebesar US$ 35 juta. “Secara moderat, bisnis oleokimia bisa memberi revenue sekitar US$ 100 juta di tahun 2011,” kata Iqbal.

Suntik US$ 50 juta

Di Kuala Tanjung ini,UNSP akan mengoperasikan 2 unit pabrik fatty acid, dua unit fatty alcohol, satu unit kernel crushing plant dan pabrik jetty. Namun, tahun depan semua pabrik tersebut belum bisa berproduksi maksimal. Misalnya, satu pabrik fatty alcohol masih membutuhkan suntikan modal agar bisa mulai berproduksi di tahun 2012 mendatang.

Harry Nadir, Direktur Keuangan UNSP mengatakan, pada tahun 2011, pihaknya telah menyediakan belanja modal senilai US$ 50 juta untuk mendorong agar produksi oleokimia bisa maksimal. “Target kami di tahun 2012, seluruh pabrik sudah bisa beroperasi secara penuh,” ujarnya usai publik ekspose UNSP kemarin.

Harry memperkirakan laba bersih di 2010 bisa tumbuh 20% daripada tahun lalu sebesar Rp 252,78 miliar. Sementara per September 2010, laba bersih UNSP Rp 245,30 miliar. Kenaikan harga karet dan CPO memberikan kontribusi besar terhadap revenue UNSP di 2010 ini.

Analis AM Capital Janson Nasrial menaksir, tahun depan pendapatan UNSP masih akan didominasi sawit (40%) karet (405) dan oleokimia (20%). Meski pendapatannya melaju, namun laba bersih UNSP masih akan tertekan beban bunga.

Makanya, ia menaksir harga saham UNSP tidak akan bergerak jauh dari Rp 450 per saham. Kemarin UNSP ditraksasikan di Rp 385 per saham.

Bakrie Plantations incar pendapatan Rp3 triliun
Oleh Irvin Avriano A. | 13 December 2010
bisnis

JAKARTA: PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk memprediksi pendapatannya pada akhir tahun ini dapat mencapai Rp3 triliun, meningkat dari pencapaian pada kuartal III/2010 sebesar Rp1,89 triliun.

Direktur Utama Bakrie Plantations Ambono Janurianto mengatakan berdasarkan target tersebut, manajemen memprediksi pendapatan tahun depan meningkat sebesar 30% dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun ini.
“Nilai peningatan 30% pada tahun depan itu sekurangnya saja, kami yakin bisa di atas angka itu. Untuk EBITDA [laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi] juga kira-kira sebesar itu,” ujarnya dalam paparan publik siang ini.
Target setahun penuh itu merupakan peningkatan sebesar 58,22% dari pencapaian pendapatan pada kuartal III/2010 yang dibukukan sebesar Rp1,89 triliun.
Dia mengatakan tahun depan perusahaan akan mencapatkan tambahan pemasukan dari bisnis oleokimia dan penjualan bibit sawit.
Bisnis oleokimia didapat setelah akuisisi Grup Dombamas selesai sebagian pada kuartal III tahun ini. Penjualan bibit dilakukan melalui kerja sama dengan ASD dari Kosta Rika.
Dia mengatakan optimistis perusahaan ditunjang oleh kondisi harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang trennya masih meningkat.
Direktur Bakrie Plantations Howard J. Sargeant mengatakan pada tahun depan penjualan CPO perusahaan diprediksi mencapai 300.000 ton, meningkat 50% dari target akhir tahun ini sebesar 200.000 ton.
Target akhir 2010 itu merupakan peningkatan sebesar 14,66p dari penjualan per kuartal III/2010 yang sudah mencapai 174.417 ton.
Harga saham emiten yang berkode UNSP itu stagnan di level Rp385 siang ini. Harga itu membentuk kapitalisasi pasarnya sebesar Rp5,21 triliun dan rasio harga saham terhadap labanya (rasio P/E) sebesar 14,36 kali. Namun saham perseroan masih memberikan imbal hasil negatif bagi investornya sebesar 43,18% sejak akhir tahun lalu.(mmh)
Kamis, 09 Desember 2010 | 16:50 oleh Dupla Kartini
AKSI KORPORASI kontan
UNSP baru tuntaskan akuisisi 4 dari total 6 perusahaan aset Domba Mas

JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) telah merampungkan akusisi atas 4 dari 6 perusahaan aset oleochemical Domba Mas. Keempat perusahaan itu adalah PT Domas Agrointi Perkasa, PT Domas Sawitinti Perdana, PT Flora Sawita Chemindo, dan PT Sarana Industama Perkasa.

Perusahaan menargetkan proses akuisisi atas 2 perusahaan lainnya tuntas sebelum akhir 2010. Hal ini disampaikan perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan ini dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, pada Kamis (9/12).

Perseroan juga menyebut telah melakukan start up produksi secara komersial pabrik Fatty Acid di Tanjung Morawa pada awal Desember 2010 dengan kuantitas 500 ton fatty acid dan 200 ton glycerine.

UNSP menargetkan start up produksi pada lini produksi lainnya secara bertahap dalam jangka waktu 3-9 bulan mendatang.

Adapun, hingga 30 September 2010, penjualan perseroan mencapai Rp 1,896 triliun, atau naik 15,5% dibanding September 2009. Sementara, laba bersih pada kuartal ketiga ini senilai Rp 245,307 miliar, naik 2,9% dari periode yang sama tahun lalu yaitu Rp 238,315 miliar.

  • 06 Desember 2010

    Tak Menciut Dirundung Protes

    LELAKI berbadan kekar itu sigap memasukkan empat bongkah tandan buah sawit ke dalam gerobak dorong beroda tiga, hingga penuh. Tak lama, Suyono, 47 tahun, menanti mobil pikap untuk mengangkut hasil panen itu.

    Sekitar 200 kepala keluarga yang bekerja sebagai petani sawit seperti Suyono di Desa Lubuk Ogong, Kecamatan Sikijang, Kabupaten Pelalawan, Riau, sedang sumringah. Harga kelapa sawit sedang bagus, Rp 1.500 per kilogram.

    Pendapatan Suyono bisa mencapai Rp 7,5 juta per bulan. Dipotong biaya perawatan kebun dan cicilan kaveling setengah hektarenya itu, pendapatan bersih mencapai Rp 4 juta. “Sebagian dikirim ke kampung untuk sekolah keponakan di Surabaya, sisanya dita-bung untuk beli empat hektare lahan- sawit,” katanya saat ditemui akhir November lalu.

    Namun ia mendadak kecut saat disinggung lahannya mungkin digusur karena berada di atas rawa gambut. Isu penggusuran merebak sejak dua tahun lalu karena penggunaan lahan gambut dituding sebagai penyebab banjir.

    Lain lagi cerita Irwan Effendi. Pria 57 tahun ini kalang kabut karena kocek Rp 600 jutanya untuk membeli lahan dan bibit sawit terancam amblas. Sebab, mitra bisnisnya di Singapura menyetop suplai modal pembangunan kebun di Pelalawan seluas 98 hektare. Sang rekan mundur setelah dua tahun belakangan pemberitaan tentang hutan dan lahan Riau makin marak. Isu pembukaan kebun lahan sawit tak ramah lingkungan yang dituding lembaga nirlaba seperti Greenpeace itu dipertanyakan.

    Yang Irwan tahu, lahan sawit sebelum digarap sudah gundul. Pengangkutan hasil hutan itu juga telah berlangsung puluhan tahun. “Kami punya surat dan bayar pajak.”

    l l lUsaha sawit di Riau memang sedikit terusik oleh aksi organisasi peduli lingkungan hidup seperti Greenpeace. Protes organisasi ini sering dilakukan dengan nekat, seperti yang terjadi di Riau pada 10 November dua tahun lalu. Mereka menuliskan kata kata “Forest Crime” pada lambung kapal Gran Couva yang berisi minyak kelapa sawit yang akan dikirim ke Belanda.

    Greenpeace menyoroti pula pembukaan hutan baru pada hutan gambut di Riau. Pesatnya konversi hutan dan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit dan bahan bubur kertas ini dituding sebagai bentuk deforestasi masif di Indonesia.

    Tidak berhenti di situ, tudingan pegiat lingkungan ini kian berkepanjangan. Yang teranyar, hasil verifikasi tim independen yang disusun lembaga verifikasi Control Union Certification dan BSI Group menyebutkan SMART memanipulasi laporan audit atas pembukaan lahan gambut. Buntutnya, perusahaan retail pelanggan- Sinar Mas menyetop pembelian produk, seperti Burger King, Unilever, Kraft, Nestle, dan Carrefour.

    Hingga kini, Greenpeace masih berfokus mengawasi Grup Sinar Mas yang dianggap merusak lingkungan karena membuka lahan gambut dalam bisnis kelapa sawitnya. Juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara, Joko Arif, menyebut anak anak usaha grup ini, seperti Asia Pulp and Paper, Golden Agri Resources, dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMART), sebagai perusak hutan terbesar.

    Bolak balik dituding, Grup Sinar Mas bergeming dan terus berekspansi. Sinyal ini muncul akhir tahun lalu saat Presiden Direktur PT SMART Daud Dharsono menyatakan pemutusan kontrak Unilever tidak berpengaruh. Sebab, hanya tiga persen dari total penjualan perusahaan yang lari ke sana. Pemerintah pun terlihat mendukung perusahaan sawit itu.

    Managing Director Grup Sinar Mas Gandi Sulistiyanto malah memastikan bakal agresif menggarap sektor hilir industri crude palm oil (CPO) dengan menjalankan dua pabrik minyak goreng di Jakarta dan Kalimantan pada akhir tahun ini. Kapasitas pabrik di Marunda, Jakarta, dan Tarjun, Kalimantan, dipatok masing masing 800 ton dan 1.000 ton per hari.

    Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesi anak usaha Wilmar International Ltd. M.P. Tumanggor pun yakin industri sawit tetap tumbuh. “Terganggu sih pasti, tapi tidak sampai mempengaruhi industri.”

    Sebab, permintaan CPO dan produk turunannya dari Eropa tak terlalu besar ketimbang dari India dan Cina. Karena itu, nilai investasi Wilmar di Indonesia sedikitnya Rp 500 juta per tahun dinilai tak akan banyak berubah.

    Rencana pemerintah melakukan moratorium juga ditanggapi dingin karena hanya mempersoalkan izin izin baru dan area lahan gambut selama dua tahun ke depan. Saat ini total luas lahan sawit mencapai 7,2 juta hektare. Tapi, dengan izin pemerintah lebih dari 12 juta hektare dan belum semuanya ditanami sawit, moratorium dinilai tidak mempengaruhi produktivitas CPO di dalam negeri.

    Lagi pula, menurut Tumanggor, industri industri besar emoh menambah luas lahan, tapi melakukan intensifikasi dan pembangunan industri hilir. Dari 21 juta ton minyak sawit produksi nasional saat ini, hanya 8 juta ton yang diolah. Sisanya diekspor dalam bentuk mentah.

    Sertifikat Roundtable Sustainable Palm Oil juga tidak lagi dinilai memberatkan perusahaan. Public Affairs Director Cargill Tropical Palm Indonesia Rudolf Saut malah yakin sertifikat itu menghilangkan hambatan produk sawit masuk ke pasar.

    Senada, Direktur Eksekutif Ga-bungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Fadhil Hasan memprediksi permintaan CPO sebagai bahan baku biofuel tahun depan masih kuat, terutama dari Cina dan India, yang cadangannya menipis. Tambahan lagi, negara negara Eropa Barat berencana mewajibkan biodiesel mulai Desember ini. Sedangkan suplai belum pasti karena La Nina diprediksi berlanjut hingga Maret 2011.

    l l lTak berbeda dengan pengusaha, pemerintah yakin produksi CPO tetap kinclong tahun depan. Lihat saja ambisi Kementerian Pertanian meningkatkan produksi CPO hingga 23 juta ton tahun depan.

    Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mematok target ekspor nonmigas tahun depan tumbuh 11-12 persen, lebih tinggi ketimbang tahun ini sebesar 7 8,5 persen. CPO tetap menjadi salah satu produk andalannya. Hal ini seiring dengan makin moncernya prediksi harga CPO pada 2011 (lihat tabel).

    Meski pertumbuhan investasi diprediksi meningkat, sektor industri hilir khususnya masih dirasa peng-usaha kurang menjanjikan. Gandi mengungkapkan, dengan harga sawit tinggi saat ini, sulit berinvestasi di sektor hilir seperti biodiesel karena butuh insentif pajak. Untuk hal ini, kabar baik datang dari Menteri Perindustrian M.S. Hidayat, yang berjanji memberikan tax holiday untuk pengusaha. Kita tunggu saja.

    Kinerja Kelapa Sawit

    Tahun Produksi (ribu ton) Ekspor (juta US$) Harga CPO* (US$/ton)
    2005 10.376 3.757 422
    2006 12.101 4.818 478
    2007 11.875 7.869 780
    2008 14.291 12.376 949
    2009 15.529 10.368 681
    2010 21.000** 15.000*** 810***
    2011 23.000** 33.000** 1.100***

    Sumber: Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Oil World

    *) tertinggi **) target ***) prediksi

 

Bakrie Sumatera Ekspansi ke Bisnis Hilir CPO
Produksi yang diekspor berasal dari anak usaha Domba Mas Group, yang diakuisi UNSP.
Rabu, 8 Desember 2010, 19:01 WIB
Nur Farida Ahniar, Hadi Suprapto

VIVAnews – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) melakukan ekspor perdana produk turunan minyak kelapa sawit mentah (CPO). Ekspor ini dilakukan oleh anak usaha yang perusahan yang baru diakuisisi UNSP, yaitu Domba Mas Group.

Produk turunan CPO yang diekspor adalah stearic acid dan glycerine. Stearic acid merupakan bahan baku dan bahan penunjang industri karet dan ban, pelumas, sabun, detergen, industri elektronika, dan plastik. Sedangkan glycerine merupakan bahan penunjang pasta gigi, industri farmasi, industri rokok, kosmetik, sabun, dan bahan makanan.

Direktur Utama PT Bakrie Sumatera Plantations M Iqbal Zainuddin mengatakan ekspor itu dilakukan anak usaha Domba Mas Group, PT Flora Sawita Chemindo. “Ini menandai Bakrie Sumatera memasuki bisnis hilir CPO,” kata Iqbal di Medan, Rabu 8 Desember 2010.

Pada ekspor perdana ini, Iqbal melepas 10 kontainer stearic acid dengan tujuan China, tiga kontainer stearic acid ke Siria, satu kontainer stearic acid ke Iran, dua kontainer glycerine ke India, dan satu kontainer glycerine ke Taiwan. “Kami telah melayani 28 negara,” katanya.

Pasar stearic acid paling banyak ke China, yakni sampai 40 persen dari produksi. 25 persen dijual ke Eropa, 25 persen lokal, dan sisanya ke berbagai negara.

Kapasitas produksi pabrik stearic acid yang berada di Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang ini mencapai 49 ribu metrik ton per tahun. Serta kapasitas produksi glycerine 5 ribu metrik ton, sehingga produksi total fatty acid perusahaan 54 ribu metrik ton per tahun. “Kapasitas terpasang kami baru 80 persen,” ujar Iqbal.

Sebenarnya pabrik ini beroperasi sejak 1998, namun kondisi sulit sering menimpa perusahaan. Puncaknya pada 2007, Flora Sawita menghentikan produksinya. Baru setelah diambilalih Bakrie Sumatera, pabrik ini beroperasi kembali.

“Setelah tiga tahun tidak beroperasi, kami memulai kembali dengan perbaikan pabrik mencapai US$2 juta,” tutur Iqbal. (hs)
• VIVAnews

UNSP-BTEL Picu Kenaikan Rugi Bersih BNBR Hingga 737%
Senin, 29 November 2010 – 16:31 wib
Widi Agustian – Okezone

JAKARTA – Pemicu anjloknya kinerja keuangan PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) adalah karena banyaknya utang dua anak usahanya, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Alhasil, pada periode Januari-September 2010, perseroan mencatatkan kenaikan rugi bersih sebesar 737 persen.

Rugi bersih holding perusahaan Grup Bakrie tersebut pada periode Januari-September 2010 tersebut bertambah menjadi Rp565,99 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2009 yang sebesar Rp67,62 miliar.

“Beban keuangan BNBR juga mengalami kenaikan secara konsolidasi dari UNSP dan BTEL. Beban bunga konsolidasi BNBR meningkat menjadi Rp1,46 triliun sehingga Perseroan mencatatkan rugi bersih senilai Rp565,9 miliar,” kata Direktur Utama BNBR Gafur Sulistyo Umar dalam keterangan tertulisnya kepada okezone di Jakarta, Senin (29/11/2010).

Adapun jumlah kewajiban UNSP naik 193 persen menjadi Rp15,063 triliun per September 2010 dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp5,12 triliun. Sementara BTEL masih mencatatkan kewajiban sebesar Rp7,04 triliun per September 2010.

Alhasil, total kewajiban BNBR naik menjadi Rp26,64 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp15,7 triliun. Di mana jumlah kewajiban lancar naik menjadi sebesar R9,2 triliun dibandingkan sebelumnya Rp4,3 triliun. Kewajiban tidak lancar juga naik hingga menjadi Rp17,43 triliun dari sebelumnya Rp11,37 triliun.

Kondisi ini mengakibatkan beban bunga BNBR meningkat hingga 441,5 persen karena besarnya kewajiban perseroan terebut. Beban bunga bersih BNBR naik menjadi Rp1,46 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang cuma Rp270,4 miliar.

Padahal, BNBR mencatatkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 74,22 persen menjadi sebesar Rp9,28 triliun pada periode sembilan bulan pertama 2010 dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp5,33 triliun.

Tapi, tampaknya peningkatan beban pokok pendapatan yang sebesar 130,45 persen melebihi kenaikan pendapatan yang cuma 74,22 persen. Beban pokok penjualan perseroan naik menjadi Rp6,13 triliun dari sebelumnya Rp2,66 triliun.

Alhasil, laba kotor perseroan cuma tercatat sebesar Rp3,15 triliun pada laporan keuangan yang berakhir pada September 2010 tersebut. Sebagai perbandingan, laba kotor pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,67 triliun.

Sementara laba usaha tercatat sebesar Rp744,5 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp514,9 miliar. Beban bank perseroan juga mengalami peningkatan menjadi Rp63,7 miliar dari sebelumnya Rp11,4 miliar. Begitu juga dengan beban pajak perseroan naik menjadi Rp11,9 miliar dari sebelumnya yang hanya Rp3,3 miliar.

Sedangkan untuk bagian laba atas laba bersih perusahaan asosiasi juga turun menjadi cuma Rp203,7 miliar dari sebelumnya Rp390,5 miliar.

Walau demikian, jumlah aset perseroan mengalami kenaikan menjadi Rp42,94 triliun pada periode Januari-September tersebut dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp24,75 triliun.(ade)
UNSP: Bidik perusahaan perkebunan besar untuk diakuisisi (komentar oleh e-trading)
Setelah melakukan tukar guling saham dengan Villar Plc, Bakrie kini sedang menggodok rencana merger antara PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) dengan perusahaan perkebunan di Indonesia. Seorang petinggi grup Bakrie menuturkan, setelah akuisisi aset Domba Mas tuntas, kini UNSP sedang menjajaki rencana kerjasama dengan pemilik perusahaan perkebunan besar di Indonesia. Arah kerjasamanya adalah merger dengan UNSP. Tapi Bakrie akan tetap sebagai pengendali.

Comment: Rencana kerjasama perusahaan untuk mengakuisisi perusahaan perkebunan besar di Indonesia merupakan salah satu langkah agresif agar dapat meningkatkan nilai perusahaan di masa mendatang, namun perlu dicermati asset dari perusahaan perkebunan yang bersangkutan. Saat ini UNSP diperdagangkan pada P/E 14.3x dan EV/EBITDA 8.5 x atau masih berada di bawah rata-rata industri perkebunan

Selasa, 23 November 2010 | 10:47 oleh Kun Wahyu Winasis, Dyah Megasari
AKSI KORPORASI UNSP kontan
UNSP tengah bidik perusahaan perkebunan besar untuk diakuisisi

JAKARTA. Sayap bisnis grup Bakrie bakal semakin meluas. Setelah melakukan tukar guling saham dengan Villar Plc, Bakrie kini sedang menggodok rencana merger antara PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) dengan perusahaan perkebunan di Indonesia.

Seorang petinggi grup Bakrie menuturkan, setelah akuisisi aset Domba Mas tuntas, kini UNSP sedang menjajaki rencana kerjasama dengan pemilik perusahaan perkebunan besar di Indonesia. “Arah kerjasamanya adalah merger dengan UNSP. Tapi Bakrie akan tetap sebagai pengendali,” tutur sumber KONTAN, Minggu (21/11).

Petinggi Bakrie itu menambahkan, saat ini UNSP membutuhkan biaya besar untuk mengembangkan bisnisnya. Selain kegiatan operasional akan lebih efisien, perusahaan hasil merger juga lebih mudah mengakses sumber dana.

Namun sumber KONTAN masih enggan mengungkapkan identitas perusahaan perkebunan yang akan diajak merger UNSP. “Yang jelas perusahaan tersebut memiliki areal lahan yang luas dan tidak listed di Indonesia,” imbuhnya.

Ambono Janurianto, Direktur Utama UNSP masih enggan berkomentar. Ketika di hubungi KONTAN, Ambono yang sedang bertolak ke Singapura segera mematikan teleponnya. “Maaf saya sedang di pesawat ke Singapura,” kata dia, Senin (22/11).

Adrian Rusmana, Kepala Riset Sucorinvest Central Gani, menilai rencana yang dipaparkan sumber KONTAN itu bisa menjadi katalis positif untuk UNSP di jangka panjang. Ia menghitung saat ini saham UNSP diperdagangkan pada rasio harga terhadap proyeksi laba akhir 2011 (PER) 10,74 kali, rasio harga terhadap nilai buku (PBV) 0,61 kali dan rasio enterprise value (EV) terhadap EBITDA 7,06 kali. “Valuasinya menarik, namun masih ada kekhawatiran mengenai tata kelola manajemen,” jelas dia.

Harga UNSP, Senin (22/11) menguat 2,63% menjadi Rp 310 per saham. Memang harga itu masih lebih rendah 33,89% jika dibandingkan dengan harga pembukaan awal tahun (4/1), Rp 590 per saham.

Kinerja Membaik

Di tengah himpitan utang, kinerja UNSP hingga akhir kuartal III-2010 terbilang oke. Perseroan ini meraih pendapatan Rp 1,89 triliun, naik 15,53% daripada periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp 1,64 triliun. Beban penjualan UNSP turun tipis dari Rp 1,16 triliun menjadi Rp 1,1 triliun. Alhasil, laba kotornya melesat dari Rp 474 miliar menjadi Rp 782,94 miliar.

Setelah dipotong beban usaha senilai Rp 215,09 miliar, laba usaha UNSP di kuartal III-2010 mencapai Rp 567,85 miliar, melonjak 61,65% dibandingkan laba usaha di kuartal III-2009, yaitu Rp 351,28 miliar.

Namun beban bunga yang kudu dibayar UNSP melonjak dari Rp 163,39 miliar di kuartal III-2009 menjadi Rp 322,90 miliar pada kuartal III-2010 kemarin. Berkat transaksi ekspor, UNSP berhasil mengantongi laba kurs Rp 169,50 miliar. Alhasil, laba bersih perseroan di akhir kuartal ketiga, meningkat dari Rp 238,31 miliar di 2009 menjadi Rp 2445,30 miliar.

Setelah proses akuisisi Domba Mas kelar Oktober lalu, nilai aset UNSP membengkak dari Rp 5,12 triliun menjadi Rp 15,06 triliun. Namun kewajiban UNSP juga ikut melonjak dari Rp 2,47 triliun di akhir kuartal III-2009 menjadi Rp 7,11 triliun di akhir September lalu. Dari kewajiban sebesar itu, senilai Rp 5,61 triliun (US$ 632,17 juta) dalam valuta asing. Di antaranya utang jangka panjang sebesar US$ 314,35 juta serta obligasi senilai US$ 298,79 juta.

Meningkatnya pendapatan membuat kas UNSP naik dari Rp 136,80 miliar di kuartal III-2009 menjadi Rp 366,94 miliar pada kuartal III- 2010. UNSP juga masih punya dana di investasi jangka pendek senilai Rp 609,35 miliar.

Bakrie Masuk ke Bisnis Benih Sawit
Sabtu, 20 November 2010 | 08:37 WIB
KOMPAS/EDDY HASBY

JAKARTA, KOMPAS.com – Produksi benih kelapa sawit unggul masih jauh dari mencukupi. Padahal, bisnis perkebunan kelapa sawit nasional terus berkembang.

Oleh karena itu, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk bersama Agricultural Service and Development (ASD) Limited Costa Rica ingin mengisi ceruk pasar benih kelapa sawit unggul yang masih terbuka lebar. Ini dilakukan dengan membentuk perusahaan patungan PT ASD- Bakrie Oil Palm Seed Indonesia.

Demikian disampaikan Direktur Operasional Bakrie Sumatera Plantations (BSP) Howard J Sargeant di Jakarta, Jumat (19/11/2010). BSP memiliki perkebunan seluas 120.000 hektar yang ditanami kelapa sawit dan karet.

”Kami berharap, untuk pasar di Indonesia, nantinya ASD-Bakrie akan memproduksi 20 juta benih kelapa sawit per tahun. PT Bakrie Sumatera Plantations telah menginvestasikan 10 juta dollar AS di dalam proyek ini sejak tahun 2004,” kata Howard.

Perwakilan dua perusahaan menandatangani akta pendirian perusahaan ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia. Sebagai pemilik saham mayoritas, BSP menempatkan Harry M Nadir sebagai direktur utama, Soedjai Kartasasmita sebagai komisaris utama, dan Bungaran Saragih sebagai komisaris.

ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia akan menghasilkan benih unggul varietas Tenera di Kisaran, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Varietas Tenera hasil persilangan Dura dan pisifera, yang diklaim bisa memproduksi 40 ton tandan buah segar kelapa sawit atau 10 ton minyak kelapa sawit mentah per hektar per tahun.

ASD Costa Rica adalah produsen dan eksportir benih kelapa sawit dari Costa Rica. Bahan induk untuk kebun benih yang akan dikembangkan ASD-Bakrie berasal dari ASD Costa Rica. ASD sepenuhnya bergantung pada bisnis benih kelapa sawit dan mengekspor 70 juta kecambah ke Indonesia.

BSP bekerja sama dengan Kementerian Pertanian mengembangkan program untuk meningkatkan produktivitas petani kelapa sawit. Postur pohon kelapa sawit Tenera yang lebih pendek dengan vegetasi lebih rapat membuat petani bisa menanam 160 pohon per hektar. Saat ini rata-rata 145 pohon per hektar.

Operasional kebun benih unggul tersebut, menurut Howard, akan menandai peresmian Bakrie Agriculture Research Institute (BARI). ”Kebun induk benih di Kisaran menjadi komponen utama dari BARI,” ujar Howard. (ham)
Dibidik Vallar, Saham UNSP Layak Dilirik
Headline

Oleh:
Pasar Modal – Jumat, 19 November 2010 | 08:39 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Vallar Ptc dikabarkan akan membeli 25% saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) dari Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) setelah baru saja membeli saham Bumi Resources Tbk melalui swap saham.

Gosip ini sempat beredar di kalangan pelaku pasar yang tengah bersiap untuk mengakumulasi saham UNSP dalam waktu dekat dan akan menggiringnya hingga ke level Rp500 per saham. Apalagi diisukan pembelian anak usaha Bakrie ini akan dilakukan secara tunai di harga Rp400 per saham.

Dana tersebut rencananya akan digunakan grup Bakrie untuk melunasi utangnya sebesar US$2 juta pada Desember 2010. Pada perdagangan kemarin, saham UNSP ditutup menguat 10 poin ke Rp370 per saham. [cms]

Klaster industri sawit tak diminati
OLEH DIENA LESTARI Bisnis Indonesia

Tiga klaster industri hilir kelapa sawit di tiga provinsi tidak diminati investor, karena minimnya insentif fiskal dan nonfiskal dari pe merintah

Ekspor CPO menjadi 50% pada 2012 JAKARTA: Tiga klaster industri hilir kelapa sawit di tiga provinsi, yakni Dumai dan Indragiri Hilir, Riau, Sei Mangkei, Sumatra Utara, dan Maloy, Kalimantan Timur tidak diminati investor, karena minimnya insentif fiskal dan nonfiskal dari pemerintah.
Selain itu, ujar Wakil Ketua Dewan Sawit Indonesia Derom Bangun, lambatnya pengembalian modal dibandingkan dengan investasi di sektor hulu membuat investor lebih suka menanamkan modal di sektor hilir.

“Dengan investasi US$25 juta di sektor hulu, pengusaha dapat mengoperasikan lahan seluas 8.000 hektare. Investasi dapat kembali modal dalam jangka waktu kurang dari 5 tahun. Sedangkan dengan nilai investasi yang sama di sektor hilir, hanya dapat membuka satu pabrik oleokimia berkapasitas 150 ton per hari-200 ton per hari,“ ungkapnya kemarin.

Selain itu, tambahnya, kurangnya minat investor untuk mengembangkan industri hilir dalam klaster di tiga provinsi itu karena perbankan kurang menaruh minat.

Derom menjelaskan perbankan lebih tertarik mendanai investasi di hulu dibandingkan dengan hilir. Perbankan sudah memiliki cerita sukses untuk hulu, sedangkan untuk hilir dianggap belum teruji.

Oleh karena itu, pemerintah perlu menawarkan insentif yang menarik untuk investor. “Insentif yang diharapkan investor berupa perbaikan infrastruktur dan pemberian tax holiday. Untuk infra struktur dasar di klaster industri hilir sawit, seperti listrik, air, dan pelabuhan belum terpenuhi dengan baik.“

Skema insentif Pengamat perkebunan Achmad Mangga Barani menyatakan pada dasarnya pemerintah telah merencanakan skema pemberian insentif fiskal kepada pengembang an industri hilir kelapa sawit. Berdasarkan insentif yang disiapkan dalam kawasan ekonomi khusus (KEK), sambungnya, nantinya perusahaan yang berinvestasi di klaster industri hilir akan mendapatkan insentif khusus.

Bentuk bantuan fiskal itu antara lain berupa pemberian rekomendasi bagi perusahaan untuk mendapatkan bunga pinjaman bank. Namun, rencana pemberian insentif itu tetap berdasarkan pada kemampuan anggaran pendapatan belanja negara (APBN).

“Dengan berkembangnya klaster industri hilir, mendukung program pemerintah untuk menurunkan ekspor crude palm oil (CPO) menjadi 50% pada 2012,“ ungkapnya.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi menjelaskan tiga klaster akan jadi andalan untuk antisipasi dalam upaya memberi nilai tambah pada komoditas unggulan di Sumatra yang booming dalam beberapa tahun ke depan. “Pada kelompok industri kelapa sawit di bagian timur Sumatra, yaitu di Sei Mangkei dan Kuala Tanjung telah ditunjuk sebagai operatornya, yaitu PT Perkebunan Nusantara III,“ katanya.

Dengan pembangunan infrastruktur yang terpadu, Sei Mangkei-Kuala Tanjung, Dumai, dan Maloy, akan menjadi andalan industri kelapa sawit Indonesia.
(diena.lestari@bisnis.co.id)

PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) mencatat laba Rp 245,307 miliar pada triwulan III-2010, naik tipis 2,93% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp 238,315 miliar.

Meskipun tipis peningkatan laba UNSP disumbang oleh penjualan yang naik 15,53% dari Rp 1,641 triliun di triwulan III-2009 menjadi Rp 1,896 triliun. Demikian disampaikan dalam laporan perseroan yang dipublikasikan di Jakarta, Kamis (18/11/2010).

Dengan beban penjualan Rp 1,113 triliun, atau turun tipis dari periode sebelumnya Rp 1,167 triliun, menjadikan laba kotor anak usaha grup Bakrie ini sebesar Rp 782,945 miliar. Laba kotor UNSP kali ini naik 65,17% dari tahun lalu, Rp 474,008 miliar.

Beban usaha perseroan mencapai Rp 215,093 miliar. Laba usaha UNSP pun akhirnya berada di level Rp 567,852 miliar, naik 61,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 315,283 miliar.

Namun laba sebelum pajak turun tipis dari Rp 342,717 miliar menjadi Rp 302,011 miliar. Beban pajak sebesar Rp 104,973 miliar, dengan demikian laba sebelum hak minoritas mencapai Rp 197,037 miliar, turun dari tahun lalu Rp 238,745 miliar.

Laba bersih akhirnya ditutup positif dengan penambahan hak minoritas sebesar Rp 10,512 miliar dan anak usaha Rp 37,756 miliar. Laba bersih naik tipis 2,93% menjadi Rp 245,307 miliar.

Sumber: detikcom

UNSP Catatkan Laba Bersih Rp245,3 Miliar
Headline
ist
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Rabu, 17 November 2010 | 09:32 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatatkan laba bersih naik 2,9% dari Rp238,31 miliar per September 2009 menjadi Rp245,30 miliar per September 2010.

Penjualan bersih perseroan naik 15,5% dari Rp1,64 triliun per September 2009 menjadi Rp1,89 triliun per September 2010. Laba kotor perseroan naik 65% dari Rp474 miliar per September 2009 menjadi Rp782,94 miliar per September 2010. Selain itu, laba usaha perseroan naik 61,65% dari Rp351,28 miliar per September 2009 menjadi Rp567,85 miliar per September 2010.

Perseroan memperoleh laba selisih kurs naik 12,32% dari Rp147,35 miliar per September 2009 menjadi Rp169,50 miliar per September 2010. Penghasilan bunga naik 20,69% dari Rp2,187 miliar menjadi Rp2,639 miliar per September 2010. Jumlah kewajiban dan ekuitas perseroan naik 193% menjadi Rp15,063 triliun per September 2010 dari periode sama sebelumnya Rp5,12 triliun per September 2009. Kas dan setara kas perseroan naik 168% dari Rp136,80 miliar per September 2009 menjadi Rp366,94 miliar per September 2010. [cms]

Selasa, 16/11/2010 02:05:52 WIB
Bakrie Sumatera tunjuk 2 arranger
Oleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA: PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk menunjuk dua bank investasi global, Credit Suisse dan Deutsche Bank sebagai pengatur (arranger) penerbitan obligasi global perseroan yang rencananya diterbitkan senilai US$200 juta.

“Kedua bank investasi itu menyisihkan beberapa bank lain yang ikut dalam seleksi arranger itu,” ujar seorang sumber di pasar modal yang terlibat dalam transaksi itu kepada Bisnis kemarin.

Rencana penerbitan obligasi itu pernah disampaikan untuk merestrukturisasi utangnya yang akan jatuh tempo dengan nilai yang sama pada Oktober 2011.

Direktur Utama Bakrie Plantations Ambono Janurianto pernah mengatakan rencana penerbitan itu kemungkinan besar akan direalisasikan pada awal tahun depan karena terkait dengan masa berlaku laporan keuangan. Laporan yang akan digunakan sebagai dasar penerbitan obligasi itu yang hanya 6 bulan.

Perseroan berencana menggunakan laporan keuangan September untuk dasar penerbitan obligasi itu, sehingga batas maksimal penerbitan obligasi itu adalah Maret 2011.

Berdasarkan data Bloomberg, perseroan memiliki utang jatuh tempo pada tahun depan melalui anak usahanya BSP Finance BV senilai Rp1,44 triliun dan melalui PT Grahadura Leidong Prima senilai Rp135,03 miliar.

Berkaitan dengan kupon yang akan ditetapkan untuk obligasi global itu, dia pernah menjelaskan akan lebih kecil dibandingkan dengan obligasi denominasi dolar AS yang pernah diterbitkan perusahaan perkebunan kelapa sawit dan karet itu.

Ketika dikonfirmasi kemarin, Ambono mengatakan belum dapat memberikan informasi terkait dengan rencana penerbitan obligasi itu. Namun, dia membenarkan laporan keuangan kuartal III/2010 yang belum diterbitkan terkait dengan proses penerbitan obligasi yang masih berjalan.
“Masih diproses untuk penerbitan obligasi.”

Pertengahan tahun ini, laba bersih perseroan mengalami penurunan 26,67% dari Rp135,18 miliar menjadi Rp99,13 miliar yang disebabkan adanya kenaikan beban bunga.

Ambono pernah mengatakan perseroan menargetkan pendapatan dan laba bersihnya tahun ini menyamai pencapaian pada 2008, yaitu sebesar Rp2,93 triliun dengan laba bersih sebesar Rp173,56 miliar.

Viviet S. Putri, Analis Senior PT Anugerah Securindo Indah, menilai perseroan harus berlomba dengan rencana peningkatan suku bunga Bank Indonesia oleh pemerintah yang akan diikuti oleh peningkatan bunga bank. Keduanya dinilai masih akan berimbas pada peningkatan suku bunga obligasi yang akan diterbitkan calon emiten, salah satunya Bakrie Sumatera.

“Kalau beban bunganya besar, tentunya tidak akan berdampak banyak pada keuangan Bakrie dan berpotensi meningkatkan beban keuangan, tetapi kalau bisa lebih cepat tentu akan menurunkan beban keuangan emiten.”

Dia juga menyayangkan keuangan perseroan masih tergantung pada produksi minyak sawit mentah dan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, tidak seperti emiten sawit lain yang mulai mendiversifikasikan produksinya pada komoditas lain seperti karet, coklat, dan teh.

Menurut Viviet, peningkatan harga CPO yang terjadi akhir-akhir ini lebih disebabkan karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menguat, dan bukan karena permintaan yang meningkat.

Industri kelapa sawit hingga akhir tahun ini, lanjutnya, masih akan terancam penurunan produksi karena curah hujan yang tinggi dan penurunan suplai sawit perusahaan Indonesia secara global akan dimanfaatkan perusahaan asal Malaysia yang produksinya masih bertahan.

Selain faktor itu, dia juga menilai harga saham perseroan yang belum bergerak juga adanya sentimen terhadap Grup Bakrie.

Harga saham perseroan yang berkode UNSP itu ditutup melemah Rp10 atau sebesar 2,7% ke level Rp360 kemarin dan membentuk kapitalisasi pasarnya sebesar Rp4,86 triliun. Sejak akhir tahun lalu, saham perseroan membuat investornya merugi tidak terealisasi sebesar 51,06% kepada investornya. (faa)

Harga Minyak Sawit Melambung Tinggi
Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) saat ini menembus di atas US$1.100 per ton.
Senin, 15 November 2010, 14:00 WIB
Antique, Iwan Kurniawan

VIVAnews – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) saat ini mencapai rekor hingga menembus di atas US$1.100 per ton. Kenaikan harga yang menembus di atas ramalan harga tahun ini sebesar US$800 per ton itu dinilai akibat La Nina yang menekan produsen kelapa sawit.

“Ada masalah dengan supply and demand, pasar bergerak cepat,” kata Bambang Aria Wisena, ketua Bidang Organisasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Jakarta, Senin 15 November 2010.

Menurut Bambang, terdapat kegagalan panen di Ukraina dan Rusia, sehingga membuat produksi CPO turun. Di Indonesia, iklim yang buruk membuat target produksi meleset di bawah target, sehingga permintaan tinggi tidak didorong pasokan kelapa sawit yang bagus.

Saat ini, dia melanjutkan, kelapa sawit menjadi primadona investasi akibat orang mulai kehilangan kepercayaan kepada dolar Amerika Serikat. Apalagi, didorong harga CPO yang melambung tinggi, sedangkan kebutuhan manusia terhadap minyak nabati terus meningkat.

“Kebutuhan dunia mencapai 160 juta ton per tahun minyak nabati, 30 persen di antaranya dipenuhi CPO,” ujar Bambang.

Bambang berharap, melambungnya harga CPO tersebut diharapkan dapat kembali normal seperti harga yang diprediksi sebelumnnya, yaitu US$800 per ton. Jika harga CPO terlalu tinggi, tentunya akan membebani masyarakat dengan mahalnya produk CPO yang ada di pasaran seperti minyak goreng.

Tingginya harga juga membuat banyak industri pengolah CPO melakukan penimbunan, karena ketakutan akan harga yang meningkat. Hal ini tentunya mendorong perusahaan pengolah CPO melakukan spekulasi dan menyebabkan harga semakin tinggi.

“Biasanya, mereka menyimpan basis produksi selama tiga bulan ke depan untuk mengantisipasi melonjaknya harga CPO. Idealnya harga US$800 per ton, karena kalau mahal kasihan juga masyarakat, harga minyak goreng jadi tinggi,” katanya.

Pakai Rupiah

Sementara itu, pengusaha kelapa sawit mendesak pemerintah agar menggunakan mata uang rupiah untuk harga patokan ekspor (HPE) kelapa sawit Indonesia. Selama ini, transaksi harga masih menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.

Sekretaris Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, mengatakan, hingga saat ini, HPE kelapa sawit masih menggunakan dolar AS sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Perdagangan.

Ia berharap, pada Januari 2011, HPE kelapa sawit sudah menggunakan rupiah. “Kami paksa Menteri Perdagangan pada Januari 2011 sudah pakai rupiah sebagai referensi harga nasional,” kata Joko.

Menurut Joko, saat ini, investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap dolar AS, sehingga orang mencari instrumen investasi lebih baik dari dolar, salah satunya kelapa sawit.

Selain itu, penggunaan rupiah didorong untuk meningkatkan nilai Indonesia dalam perdagangan kelapa sawit. Sebab, Indonesia merupakan salah satu produsen komoditas sawit terbesar di dunia. Namun, harga masih ditentukan dengan dolar AS dengan patokan World Prices of Coconut Oil di Rotterdam (CIF Rotterdam).

Sementara itu, Bambang Aria Wisena mengaku jika rupiah ingin menjadi referensi harga, harus ada kepercayaan dari pasar dan industri lokal.

“Jika sudah jelas dan transparan, harga akan menggunakan rupiah dan GAPKI dapat berperan dalam menentukan tren pemain CPO seluruh dunia,” katanya. (art)
• VIVAnews

Jakarta Di tengah aksi ambil untung yang membayangi pergerakan bursa, saham dari sektor perkebunan minyak kelapa sawit (CPO) masih bisa dilirik. Mana saja saham pilihan analis?

Alex sudarto, Direktur Minapadi Investama mengatakan saham berbasis perkebunan CPO masih berpeluang menguat hari ini. Selain didukung aksi korporasi, harga emiten yang sudah terkoreksi membuka potensi apresiasi.Apalagi ada prediksi meningkatnya demand CPO hingga akhir tahun. katanya kepada INILAH.COM.

Salah satu emiten yang diperkirakan menguat adalah PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP). Setelah finalisasi Domba Mas, UNSP diyakni akan membutuhkan dana untuk biaya akusisi. Hal ini akan mendorong perseroan untuk mempercantik harga sahamnya, yakni agar mudah memperoleh pendanaan dari pinjaman bank. Kondisi ini menimbulkan ekspektasi bahwa harga saham UNSP akan dikerek naik, katanya.

Saham lain yang disarankan adalah PT Astra Argo Lestari (AALI) yang sudah terkoreksi cukup dalam. Serta saham penunjang industri CPO, Tunas Baru Lampung (TBLA) yang masih lagging dan belum ada pergerakan. Harga saham TBLA masih cukup rendah karena selama ini belum diliriik investor,tutupnya.

Senada dengan Purwoko Sartono dari Panin Sekuritas yang mengatakan, perdagangan hari ini masih akan dimotori saham-saham sektor komoditas. Selain AALI, Ia juga merekomendasikan saham PT London Sumatra (LSIP) dan Sampoerna Agro (SGRO). Cermati saham-saham ini,katanya.

Menurutnya, sentimen bursa regional dan global masih menjadi arah penggerak IHSG. Pelaku pasar akan selsktif dalam mengakumulasi saham, terutama saham unggulan yang sudah terkoreksi.

Pada perdagangan Kamis (28/10) sesi pertama, sektor perkebunan masih memerah, dengan turun 0,94% ke 2.253,06. Saham-saham berbasis CPO mengalami koreksi, seperti AALI yang anjlok Rp250 (0,9%) ke Rp25.550, SGRO melemah Rp25 (0,82%) ke Rp3.000, UNSP turun Rp5 (1,3%) ke Rp375. Sedangkan LSIP masih stagnan di Rp11.700. Bahkan TBLA justru terpantau menguat Rp10 (2,3%) ke Rp445.

Sebelumnya, pengamat pasar modal Budi Ruseno juga merekomendasikan saham berbasis komoditas perkebunan. Hal ini dipicu ekspektasi kenaikan harga komoditas hingga akhir tahun.

Harga rata-rata CPO di pasar derivatif Malaysia kini telah menembus 2.557 ringgit per ton. Beralihnya pasar ke minyak kedelai yang lebih murah, menjadi katalisnya. Harga minyak kelapa sawit ini diprediksi akan terus naik, hingga kuartal empat 2010 menjadi 2.980 ringgit per ton. Angka ini 17% lebih tinggi ketimbang kuartal ketiga 2010 dan 27% lebih tinggi ketimbang periode yang sama 2009.

Beberapa saham pilihan Budi adalah LSIP, yang diperkirakan bisa mencapai level Rp12.000, kemudian AALI yang bisa mencapaiRp30.000 dan TBLA yang dalam jangka pendek bisa bertengger di Rp450. Investor bisa cermati saham-saham ini,pungkasnya

Sumber : INILAH.COM
BoW Saham Batu Bara & CPO
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Asteria
Pasar Modal – Kamis, 28 Oktober 2010 | 05:58 WIB
TERKAIT

* BoW Saham Batu Bara & CPO
* Inilah Saham Pilihan Hari Ini
* Inilah Daftar 10 ‘Top Foreign Buy’ Hari Ini
* Pasar Alami Jenuh Beli
* Merger TPIA, Saham BRPT Jadi 66,36%

INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia pada perdagangan Kamis (28/10) masih berpotensi melemah. Namun saham sektor komoditas tambang dan CPO masih menarik diakumulasi usai terkoreksi.

Alex sudarto, Direktur Minapadi Investama mengatakan, kendati koreksi IHSG kemarin hanya teknikal, peluang indeks untuk melanjutkan pelemahan, masih terbuka. “Hal ini karena di bursa regional mulai ada indikasi bahwa market akan terkoreksi cukup dalam,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Ia menuturkan, saat ini muncul sedikit kekhawatiran crash di bursa saham dunia. Kondisi ini dipicu perang mata uang global yang belum berakhir, dimana yen dan euro terus menguat. Apalagi ada spekulasi China akan menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk menahan capital outflow. “Potensi crash adalah salah satu hal yang diantispasi pasar di seluruh bursa,” paparnya.

Bursa saham Jakarta sendiri, imbuhnya, juga rentan terhadap protensi koreksi. Apalagi indeks sudah cukup mahal, dengan price earning ratio (PE) sebesar 16 kali. Bandingkan dengan Jepang dan Korea yang memiliki PE sebesar 12-13 kali.

Namun, Alex menilai, sejauh ini mahalnya IHSG baru menyebabkan volume dan nilai transaksi perdagangan turun, belum menimbulkan koreksi indeks. Hal ini terindikasi dari belum derasnya aliran dana asing yang keluar.

“IHSG rentan profit taking yang cukup dalam, namun intervensi dari pemerintah yang gencar menggelar penawaran saham perdana bagi perusahaan BUMN, menahan koreksi bursa,” ulasnya.

Di tengah kondisi ini, Alex menyarankan investor wait and see, hingga pertemuan The Fed yang digelar awal November 2010 untuk menentukan arah kebijakan. Kendati demikian, ada beberapa saham yang masih potensial untuk dikenakan aksi buy on weakness (BoW).

Salah satunya saham batu bara PT Bukit Asam (PTBA), yang menarik karena tingginya permintaan memasuki musim dingin. Kemudian saham minyak kelapa sawit (CPO) PT Astra Argo Lestari (AALI), PT Bakrie Sumatra (UNSP) serta saham PT Tunas Baru Lampung (TBLA). “Investor bisa buy on weakness untuk emiten-emiten ini,” imbuhnya.

Pada perdagangan Rabu (27/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 29,635 poin (0,81%) ke level 3.624,467. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia terpantau cukup ramai, dimana volume transaksi tercatat 5,965 miliar lembar saham, senilai Rp4,394 triliun dan frekuensi 120.935 kali.

Sebanyak 69 saham naik, 158 saham turun dan 58 saham stagnan. Koreksi bursa didukung aksi jual asing, dengan nilai transaksi jual bersih asing (net foreign sell) mencapai Rp30 miliar. Rinciannya adalah transaksi jual Rp1,171 triliun dan transaksi beli Rp1,140 triliun. [nat/mdr]

Rally ke naikan harga saham emi ten sawit sejak awal Ok tober kembali berlanjut setelah awal pekan ini harga minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) di Bursa Berjangka Malaysia menembus level psikologis RM3.000 per ton.

Harga CPO yang dalam perdagangan kemarin bertahan pada level RM 3.072 per ton atau US$996 per ton, tertinggi 27 bulan terakhir, kian mengangkat harga saham emiten sawit.

Kecuali harga saham PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk yang pekan lalu terkena koreksi, terkoreksi teknikal setelah 2 pekan sebelum nya menanjak mendekati 20%, harga saham seluruh emiten sawit di bursa terangkat. (lihat tabel) Sekretaris Perusahaan PT BW Plantation Tbk Ke lik Irwantono menyata kan kenaikan harga CPO itu kian mengonfirmasi adanya kesenjangan su plai dan demand akibat pertumbuhan permintaan yang jauh melampaui pertumbuhan suplai CPO. “Pertumbuhan CPO Malaysia saat ini teruta ma, praktis lebih rendah dari capaiannya mulai dari 2007 sampai 2009. Pada saat yang sama, ada kenaikan permintaan China dan India yang terkonfirmasi kenaikan produk domestik brutonya,“ ujarnya di Jakarta kemarin.

Kelik mengatakan tembusnya harga CPO hingga mendekati level US$1.000 per ton itu juga mengonfirmasi investor telah price in terhadap level harga sekarang. Bukan tidak mungkin, harga CPO dalam beberapa bulan ke depan akan tembus ke level US$1.200 per ton.

“Antara 2007 dan 2008, harga CPO pernah bertahan cukup lama di level US$1.200 per ton. Namun, harga minyak goreng dari tahun itu sampai sekarang praktis tidak berubah. Ini artinya, investor sudah price in terhadap kenaikan harga CPO sekarang,“ katanya.

Dengan mengingat siklus produksi dan periode musim, sambung Kelik, dampak positif kenaikan harga CPO terhadap kinerja fundamendal perusahaan akan terefleksikan terutama pada kuartal IV/2010 dan I/2011.

Analis PT BNI Securities Asti Pohan mengatakan meski tidak yakin kenaikan harga CPO berlanjut hingga US$1.200 seperti pada 2008, rally atau tren kenaikan harga saham emiten sawit masih berlanjut.

“Di luar kenaikan harga CPO, investor cenderung akan melihat kinerja fundamental perusahaan yang akan disampaikan pekan-pekan ini. Dengan melihat kenaikan harga, saya kira ada perbaikan dari sisi fundamental perusahaan,“ katanya.

Sumber : BISNIS.COM
Saham Kebun Pimpin IHSG Capai Rekor Baru
Oleh : Asteria
Pasar Modal – Senin, 25 Oktober 2010 | 16:22 WIB

INILAH.COM, Jakarta Awal pekan ini, IHSG berhasil menembus level 3.600. Berbalik menguatnya saham-saham dipimpin sektor perkebunan menjadi katalisnya.

Pada perdagangan Senin (25/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 45,746 poin (1,27%) ke level 3.643,491. Demikian pula indeks saham unggulan LQ45 ditutup naik 9,134 poin (1,36%) ke level 676,311.

Kendati dibuka langsung menguat, indeks saham gabungan hingga perdagangan siang cenderung stagnan, dengan bertengger di di level 3.621. Baru pada sesi dua, indeks terangkat tipis hingga ditutup di angka 3.643.

Seorang pengamat pasar modal mengatakan, IHSG awal pekan ini berhasil melanjutkan penguatan, bahkan mencetak rekor baru. Hal ini terjadi meskipun indeks cenderung stagnan di awal perdagangan.
Menurutnya, kemampuan indeks untuk bertahan di atas level 3.600 sepanjang perdagangan, menjadi katalis bagi IHSG untuk mencetak rekor tertinggi barunya. Level 3.600 menjadi kunci bagi pergerakan IHSG,ujarnya.

Selain itu, penguatan harga komoditas dunia seiring melemahnya indeks dolar AS, menjadi katalis positif bagi saham berbasis komoditas. Harga minyak menguat 2% ke level US$82.3/barel, demikian pula harga batubara dan CPO yang juga naik.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai, dimana volume transaksi tercatat sebesar 5,867 miliar lembar saham, senilai Rp 5,121 triliun dan frekuensi 125.236 kali. Sebanyak 140 saham naik, 89 saham turun dan 77 saham stagnan.

Asing masih melakukan aksi beli, dengan nilai transaksi beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp145 miliar. Dimana transaksi beli lebih besar mencapai Rp1,503 triliun dan transaksi jual sebesar Rp1,357 triliun.

Hampir semua sektor menguat, kecuali infrastruktur yang terjebak di zona merah. Sedangkan sektor perkebunan memimpin penguatan bursa dengan naik 4,6%. Beberapa saham yang menguat antara lain
Astra Agro (AALI) naik Rp 1.500 ke Rp 25.800, London Sumatra (LSIP) naik Rp 550 ke Rp 11.500, dan Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) naik Rp10 ke Rp410.

Sektor finansial juga membukukan kenaikan sebesar 2,6%, aneka industri 2%, manufaktur 1,2%, konsumer dan perdagangan 1%, industri dasar 0,4%, kemudian sektor properti dan tambang yang naik 0,1%.

Adapun emiten yang menguat antara lain Petrosea (PTRO) naik Rp 1.500 ke Rp 41.500, Astra International (ASII) naik Rp1.150 ke Rp57.300, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 950 ke Rp 11.800, dan Astra Autoparts (AUTO) yang naik Rp400 ke Rp18.000.

Sedangkan emiten-emiten yang melemah antara lain Indospring (INDS) turun Rp750 ke Rp6.750, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 250 ke Rp 46.900, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 200 ke Rp 19.900, Bayan Resources (BYAN) turun Rp 200 ke Rp 13.000.

Bursa regional Asia didominasi penguatan. Hanya indeks Nikkei 225 di Tokyo yang turun tipis 25,55 poin (0,27%) ke level 9.401,16. Sedangkan indeks Hang Seng menguat 110,37 poin (0,47%) ke level 23.627,91 dan indeks Straits Times naik 13,75 poin (0,43%) ke level 3.187,32. [mdr]
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyepakati perjanjian penyelesaian utang Grup Domba Mas senilai US$ 180 juta. Bakrie Plantations akan membayar utang tersebut selama 18 bulan (1,5 tahun) hingga tujuh tahun.

Direktur Utama Bakrie Plantations Ambono Janurianto mengatakan, perjanjian itu menguntungkan perseroan sebagai pemilik baru perusahaan-perusahaan milik Grup Domba Mas dan Bank Mandiri selaku kreditor.

“Bagi kami, perpanjangan utang dapat mengurangi beban keuangan, sedangkan Bank Mandiri dapat menurunkan tingkat kredit bermasalah (NPL),” kata Ambono kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (24/10).

Ambono menegaskan, perpanjangan utang Domba Mas kepada Bank Mandiri dikenakan bunga komersial. Meski tidak merinci besarannya, dia yakin bunga tersebut tidak memberatkan perusahaan. Sebelumnya, Bakrie Plantations menginginkan kisaran bunga 6-8% untuk penyelesaian utang

Sumber : INVESTORINDONESIA
PT Bank Mandiri Tbk akan meraup dana sebesar US$10 juta dari PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk seba gai komitmen awal terhadap akuisisi aset Domba Mas–eks aset milik Susanto Lim.
Emiten dengan kode UNSP itu juga harus mencicil sisa utang US$180 juta dengan tenor 18 bulan hingga 7 tahun dari akuisisi tersebut. Sebagai imbalannya, anak usaha Grup Bakrie itu mendapatkan sejumlah insentif dalam restrukturisasi utang perusahaan tersebut.

Sumber Bisnis mengungkapkan pembayaran tahap awal itu sebagai komitmen atas akuisisi aset Domba Mas. Bakrie Plantations juga akan melunasi kewajiban pelunasan utang melalui dua anak usahanya, Nibung Arthamulia dan Indoplantations.

“Pembayaran DP [down payment] US$10 juta, sedangkan mengenai restrukturisasi kredit terdiri dari dua tranche untuk Nibung Arthamulia dan dua tranche untuk Indoplantations,” ujarnya kemarin.

Kedua anak perusahaan Bakrie Plantations dipakai sebagai kendaraan untuk mengakuisisi 100% saham di Domas Agrointi Prima—perusahaan oleokimia—yang memiliki 99,6% saham pada Sawitmas Agro Perkasa.

Selain itu, perusahaan tersebut mengakuisisi 100% saham pada Sarana Industama Perkasa, 100% saham pada Flora Sawita Chemindo, 100% di Domas Agrointi Perkasa, serta 100% saham pada Domas Sawitinti Perdana.

Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli
Zaini saat dikonfirmasi membenarkan hal itu. Menurut dia, kesepakatan tersebut dicapai dalam sebuah pembicaraan maraton yang berakhir Jumat ma lam. “Baru saja saya terima kabar, negosiasi Domba Mas selesai, “ ujarnya di Jayapura, kemarin.

Dalam rangka penyelesaian kredit Domba Mas itu, Direktur Treasury Financial Institutions dan Special Asset Management Bank Mandiri Thomas Arifin menjelaskan Bakrie Plantations akan menyelesaikan utang perusahaan itu dalam jangka waktu 18 bulan sampai 7
tahun dengan bunga komersial.“

Berdasarkan data Bank Mandiri, nilai kredit bermasalah Domba Mas sejak 2005 mencapai US$320 juta dan tersisa US$180 juta. Dengan adanya pembayaran tahap awal sebesar US$10 juta, utang yang ditanggung Bakrie Plantations sebagai pemilik baru Domba Mas sebesar US$170 juta.
Insentif Bakrie Sumber Bisnis yang lain mengutarakan Bank Mandiri memberikan insentif dalam restrukturisasi utang Domba Mas kepada Bakrie Plantations. Insentif itu, seperti penghapusan denda dan ongkos atas utang Domba Mas yang harus ditanggung investor.

Dia menjelaskan keterlambatan pembayaran atas utang biasanya diberikan denda dan ongkos utang sedikitnya 2% di atas bunga pokok. Biaya tersebut, sambungnya, yang dibebaskan oleh manajemen Bank Mandiri. “Tujuannya agar tidak membebani investor [Bakrie],“ katanya.

Saat dikonfirmasi mengenai insentif tersebut, Thomas Arifin mengatakan penyelesaian kredit bermasalah itu dengan struktur yang optimal baik itu Domba Mas, Bakrie maupun Bank Mandiri.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama Bakrie Sumatera Plantations Ambono Janurianto mengungkapkan dalam tahap awal Bakrie tidak mengeluarkan dana tunai dalam jumlah besar. “Ya itu, karena masa jatuh tempo utang itu bisa sampai 7 tahun,“ ujarnya kepada Bisnis.

Dia juga menjelaskan uang muka yang harus dibayar Bakrie itu merupakan jaminan terhadap pembayaran bunga. “Yang pasti, penyelesaian utang dilakukan dalam dua tahap dengan skema yang menjamin security sehingga tidak akan terjadi default.“

Pekan depan, lanjutnya, Bakrie Plantations akan mulai melakukan uji coba terhadap sejumlah pabrik yang akan memproduksi fatty acid dan fatty alcohol yang utilisasi baru optimal pada akhir 2011.

Dia berharap aset Domba Mas sebagai produsen oleokimia yang terintegrasi baru terlihat tahun buku 2012.

“Sumbangannya bagi pendapatan perseroan akan mencapai 50% dari total pendapatan perusahaan. Jadi dari sisi pendapatan, lonjakan baru terjadi pada periode tersebut.“

Sumber : BISNIS.COM
Cicilan Utang UNSP Tak Pengaruhi Laba Mandiri
Senin, 25 Oktober 2010 – 07:42 wib

JAKARTA – Pengamat pasar modal Ketut Tribayuna menjelaskan cicilan utang PT Bakrie Plantations Tbk (UNSP) ke PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tidak akan berpengaruh signifikan ke laba Bank Mandiri.

Pasalnya, cicilan utang kredit bermasalah sebesar USD180 juta ini baru akan lunas selama tujuh tahun ke depan. “Karena dibayar mengangsur, hal itu tidak akan berpengaruh signifikan ke Mandiri,” jelas Ketut di Jakarta, Senin (25/10/2010).

Padahal, kata Ketut, jika pembayaran kredit bermasalah itu bisa lunas maka akan menambah neraca keuangan Bank Mandiri dan akan mempengaruhi laba perusahaan ke depan. Namun bagi Bank Mandiri sendiri merupakan sebuah kesuksesan dalam merestrukturisasi kredit bermasalahnya.

Di sisi lain, akuisisi PT Domba Mas oleh PT Bakrie Plantations Tbk akan berdampak bagus ke bisnis keluarga Bakrie. Apalagi dengan harga akuisisi yang murah dan mengangsur. “Setidaknya akan menjadi sentimen bagus karena ada aksi korporasi berupa akuisisi,” kata Ketut.

Menurut Ketut, harga saham UNSP beberapa akhir ini mengalami penurunan terutama tidak adanya aksi korporasi. Sehingga dengan mengakuisisi PT Domba Mas akan mengerek saham perseroan ke harga normal.

Apalagi harga komoditas terutama crude palm oil (CPO) kini sedang naik. Sehingga akan berdampak ke perseroan terutama dalam jangka panjang. Namun di sisi lain, utang UNSP akan bertambah dengan akuisisi ini. “Tapi dengan mengangsur selama tujuh tahun tidak akan berpengaruh langsung ke perseroan,” tambahnya.(Didik Purwanto/Koran SI/ade)
BMRI: Masalah Kredit Domba Mas-UNSP Sudah Rampung
Minggu, 24 Oktober 2010 – 16:03 wib

Ade Hapsari Lestarini – Okezone

JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk telah menyepakati perjanjian penyelesaian kredit Domba Mas Group dengan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk pada hari ini.

Hal ini disampaikan Direktur Treasury, Financial Institutions dan Special Asset Management Bank Mandiri Thomas Arifin, dalam keterangan tertulisnya kepada okezone, di Jakarta, Minggu (24/10/2010).

“Akhirnya kredit bermasalah Domba Mas dapat diselesaikan dengan baik. Dengan ‘struktur transaksi’ yang telah disepakati, kredit bermasalah Domba Mas yang menjadi debitur Bank Mandiri, dapat diselesaikan seluruhnya dalam satu paket,” ungkapnya.

Menurutnya, ‘struktur transaksi’ yang disepakati dengan para investor merupakan struktur yang paling optimal, di mana investor mengambil alih utang Domba Mas dengan penyelesaian kredit yang berjangka waktu 18 bulan sampai tujuh tahun dengan bunga komersial.

Sekadar informasi, jumlah nilai keseluruhan kredit Domba Mas yang bermasalah sejak 2005 mencapai USD320 juta. Setelah dilakukan pembayaran-pembayaran sebelumnya, yaitu sejak tahun 2005 sampai 2009, sisa kredit bermasalah yang masih tertinggal mencapai sekira USD180 juta.

“Kami berterima kasih kepada para investor, khususnya Bakrie Sumatera Plantations, pihak Domba Mas dan seluruh pihak pendukung yang sudah bersikap kooperatif dalam memenuhi seluruh komitmen yang disepakati beberapa waktu yang lalu,” tambah Thomas.

Proses penyelesaian utang Domba Mas yang telah dilakukan diakui memakan waktu yang cukup lama, namun transparan dan lancar karena masing-masing pihak saling menjaga kepentingan bersama dan ingin menyelesaikan masalah dengan itikad baik.

“Yang paling penting adalah bahwa seluruh rangkaian proses transaksi ini akhirnya bisa diselesaikan dan diumumkan sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik dan dalam koridor ketentuan hukum yang berlaku,” katanya.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Direktur Utama PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk Ambono Janurianto. Menurut Ambono, penyelesaian transaksi ini sesuai dengan komitmen Perseroan yang sebelumnya telah diumumkan dalam prospektus right issue.

”Seluruh proses transaksi telah dilakukan secara transparan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Apalagi counterpart kami dalam transaksi ini salah satunya adalah Bank Mandiri yang merupakan bank terkemuka dengan reputasi yang sangat baik dalam hal governance,” tambah Ambono.

Adapun hasil penyelesaian utang Domba Mas akan semakin memperkuat kinerja keuangan Bank Mandiri dalam Transformasi Jilid II, sesuai dengan Corporate Plan 2010-2014 yang telah disusun.(ade)
Minggu, 24/10/2010 15:10 WIB
Bakrie Rampungkan Akuisisi Utang Domba Mas di Bank Mandiri
Indro Bagus – detikFinance
Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) hari ini menyepakati perjanjian penyelesaian kredit Domba Mas Group melalui pengambilalihan utang oleh PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) senilai US$ 180 juta.

Demikian disampaikan Direktur Treasury, Financial Institutions dan Special Asset Management BMRI Thomas Arifin dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Minggu (24/10/2010).

Menurut Thomas Arifin, struktur transaksi yang disepakati dengan UNSP merupakan struktur yang paling optimal, yaitu UNSP mengambil alih utang Domba Mas dengan penyelesaian kredit yang berjangka waktu 18 bulan sampai 7 tahun dengan bunga komersial.

Seperti diketahui, nilai keseluruhan utang bermasalah Domba Mas sejak tahun 2005 mencapai US$ 320 juta. Setelah dilakukan pembayaran-pembayaran pada periode 2005-2009, sisa kredit bermasalah Domba Mas sekitar US$ 180 juta.

“Kami berterima kasih kepada para investor, khususnya PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk, pihak Domba Mas dan seluruh pihak pendukung yang sudah bersikap kooperatif dalam memenuhi seluruh komitmen yang disepakati beberapa waktu yang lalu,” ujar Thomas.

Ia juga menjelaskan bahwa proses penyelesaian utang Domba Mas dilakukan dengan memakan waktu yang cukup lama, namun transparan dan lancar karena masing-masing pihak saling menjaga kepentingan bersama dan ingin menyelesaikan masalah dengan itikad baik.

“Yang paling penting adalah bahwa seluruh rangkaian proses transaksi ini akhirnya bisa diselesaikan dan diumumkan sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik dan dalam koridor ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Direktur Utama UNSP Ambono Janurianto mengatakan, penyelesaian transaksi ini sesuai dengan komitmen Perseroan yang sebelumnya telah diumumkan dalam prospektus rights issue.

“Seluruh proses transaksi telah dilakukan secara transparan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Ambono menambahkan.

(dro/dro)
BUMI Dapat Angin Segar dari UNSP

inilah.com/Agung Rajasa
Oleh :
Pasar Modal – Jumat, 22 Oktober 2010 | 10:33 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Secara teknikal, saham BUMI, Jumat (22/10) diprediksi sideways. Sentimen positif dari grup berasal dari UNSP, terkait akuisisi Domba Mas. Buy on support!

Cece Ridwanullah, analis Ekokapital Securities mengatakan, potensi sideways-nya saham PT Bumi Resources (BUMI) akhir pekan ini, karena secara teknis menunjukkan pola konsolidasi. Tapi, dari sisi sentimen grup Bakrie, saham BUMI berpeluang mendapat angin segar dari aksi korporasi yang dilakukan PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP).

Emiten perkebunan ini, sudah meneken perjanjian jual beli saham alias share purchase agreement (SPA) dengan Domba Mas dan sudah disetujui PT Bank Mandiri (BMRI) sebagai kreditur sekaligus pemegang aset. Saya tetap melihat positif di saham BUMI, katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Kamis (21/10), saham BUMI ditutup melemah Rp50 (2,08%) jadi Rp2.350 dari posisi sebelumnya Rp2.400. Harga tertingginya mencapai Rp2.425 dan terendah Rp2.350. Volume transaksi mencapai 84,3 juta unit saham senilai Rp201,3 miliar dan frekuensi 1.777 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah kemarin melemah Rp50, bagaimana Anda memperkirakan laju saham BUMI akhir pekan ini?
Saya melihat potensi sideways, laju saham PT Bumi Resources (BUMI) akhir pekan ini. Ini jika dilihat dari sisi teknikal. Secara teknis, saham ini menunjukkan pola konsolidasi sehingga lajunya hari ini berpeluang sideways (mendatar). Di sisi lain, BUMI belum memiliki sentimen baru dari aksi korporasi.

Akan bergerak di kisaran berapa?
BUMI akan bergerak dalam kisaran support 2.350 dan resistance Rp2.500.

Lantas apa yang jadi peluang pendongkrak BUMI selanjutnya?
Untuk jangka menengah, pasar menantikan realisasi Initial Public Offering (IPO) PT Bumi Resources Mineral (BRM) anak usahanya. Saat ini, aksi korporasi tersebut sedang digodok oleh Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Karena itu, untuk saat ini, laju saham sejuta umat ini sangat tergantung pada sentimen market. Saya yakin, ada sedikit sentimen positif saja, BUMI dipastikan naik.

Bagaimana dengan sentimen grup?
Jika melihat dari sentimen grup Bakrie, saham BUMI berpeluang mendapat angin segar dari aksi korporasi yang dilakukan PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP). Emiten perkebunan ini, sudah meneken perjanjian jual beli saham alias share purchase agreement (SPA) pada 16 Juli lalu dengan manajemen group Domba Mas.

UNSP sudah memiliki Olekimia Group Domba Mas dengan nilai Rp4,7 triliun itu. Sebab, saat ini, UNSP sudah mendapatkan persetujuan dari PT Bank Mandiri (BMRI) sebagai kreditur sekaligus pemegang aset Olekimia.

Tapi, masih dari grup Bakrie juga, sentimen positif tersebut terkontaminasi sentimen negatif dari saham PT Energi Mega Persada (ENRG). Emiten ini dikabarkan belum melunasi uang kerjasama pertambangan dengan pemerintah. Di sisi lain, saham PT Bakrieland Development (ELTY) melakukan penjualan saham strategis (privat placement) sebesar 2,9% di bawah harga pasar. Karena itu, sentimennya jadi negatif. Tapi, saat ini, valuasi ELTY sudah murah sehingga atraktif apalagi jika dikaitkan dengan rencana pembangunan Tol Ciawi-Lido.

Bagaimana dengan harga komoditas?
Seiring bergulirnya waktu, saham BUMI tetap menarik seiring peluang kenaikan harga batubara ke depannya. Saat ini pun, batubara sudah mencapai level US$96 per metrik ton. Tapi, harga harga komoditas tidak bisa jadi andalan pergerakan BUMI Jumat (22/10) ini. Sebab, harga komoditas lain sedang melemah.

Dari sisi valuasi bagaimana?
Saya tetap melihat positif di saham BUMI. Saham BUMI sangat menarik juga karena valuasinya yang masih murah. Di sisi lain, emiten ini juga dipandang sebagai penggerak market. Sebab, pada perdagangan Rabu (20/10) lalu, BUMI berhasil menahan pelemahan indeks lebih jauh.

Jadi, saham BUMI sebenarnya tetap menarik bagi pelaku pasar. Sebab, bagaimanapun volume perdagangan saham ini sangat likuid. BUMI juga jadi acuan penguatan di saham grup Bakrie lainnya. Jika BUMI naik, saham lain di grup Bakrie pun akan naik.

Lantas, apa rekomendasi Anda?
Saya rekomendasikan buy on support di level Rp2.350-2.300. Ini level pembelian yang aman. [jin/ast]
Laporan realisasi penggunaan waran seri II UNSP
Senin, 18 Oktober 2010 | 17:48
JAKARTA. Melalui keterbukaan informasi, manajemen PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menyampaikan laporan realisasi penggunaan Waran seri II periode 30 September 2010, akan digunakan sebagai cadangan dana untuk pelunasan senior secured notes yang akan jatuh tempo tanggal 1 November 2011.
Selasa, 19 Oktober 2010 | 16:26 oleh Abdul Wahid Fauzie AKSI KORPORASI UNSP
Akuisisi Domba Mas bakal kelar pekan depan?
JAKARTA. Kasak-kusuk tentang akuisisi Grup Domba Mas oleh PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menemui babak baru. Kabar yang diterima KONTAN, perusahaan minyak kelapa sawit Grup Bakrie ini akan segera menuntaskan akuisisi ini.

“Pada pekan depan akuisisi ini bakal selesai,” kata Sumber KONTAN. Menurut si sumber, persoalan yang menghadang UNSP terkait sengketa lahan sudah selesai dibahas dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Namun, si sumber enggan mengatakan apa hasil keputusannya antara BMRI dengan UNSP.

Sebelumnya, si sumber bilang, jika akuisisi Domba Mas ini masih terganjal sengketa lahan yang dimiliki perusahaan tersebut. UNSP ngotot meminta BMRI untuk ikut terlibat jika di kemudian hari kembali mendapatkan gugatan. Namun, BMRI enggan memenuhi permintaan UNSP ini.

Sayangnya, Ambono Janurianto, Presiden Direktur UNSP enggan berkomentar tentang kabar ini. “Saya berharap akuisisi ini bisa selesai sebelum akhir bulan,” katanya singkat. Ia enggan berkomentar lebih banyak. “Saya tidak punya kapasitas untuk berkomentar. Tanya Bank Mandiri saja,” imbuhnya.
Ekspor CPO 2010 Diprediksi Tembus 16 Juta Ton
Selasa, 19 Oktober 2010 – 17:05 wib

JAKARTA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksikan, ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya akan mencapai sebanyak 16 juta ton sepanjang tahun ini, atau melebihi target awal yang hanya 15 juta ton. Pada 2009, ekspor CPO dan produk turunannya sebesar 9,56 juta ton.

“Hingga Agustus 2010, ekspor CPO dan turunannya sudah mencapai 9,7 juta ton. Sampai akhir tahun, bisa lebih dari 15 juta ton, mudah-mudahan mencapai 16 juta ton,” kata Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan di Jakarta, Selasa (19/10/2010).

Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Benny Wachyudi sebelumnya pernah mengatakan, pemerintah akan mengkaji lonjakan ekspor CPO yang terjadi walaupun bea keluar (BK) telah diterapkan. Sehingga, kata dia, penerapan tarif BK belum terlalu berdampak terhadap ekspor CPO.

Sementara itu, lanjutnya, pemerintah juga berencana untuk memangkas ekspor CPO dan menggenjot ekspor produk hilir CPO. Hal ini, tambahnya, dilakukan dalam rangka hilirisasi sektor sawit yang dicanangkan oleh pemerintah.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Mahendra Siregar mengatakan, pada saat ini, kajian formulasi penerapan BK CPO tersebut masih dilakukan dengan menggunakan pendekatan progresif dari hulu ke hilir.

“Semakin ke hilir seharusnya BK semakin rendah. Tapi nanti bisa saja (BK) lebih progresif. Intinya,penerapan BK itu dirancang untuk mendorong industri tertentu, bukan menambah pemasukan pemerintah,” kata Mahendra.

Lebih lanjut, Fadhil mengatakan, pemerintah sebaiknya memastikan tujuan dari penerapan BK sebelum mengubah formulanya. Pasalnya, kata dia, tujuan di balik penerapan BK itu terlalu luas sehingga tidak efektif.

Fadhil menjelaskan, terdapat empat alasan yang mendasari penerapan BK tersebut, yang di antaranya untuk menjaga stabilitas harga minyak goreng, mendorong tumbuhnya industri hilir, alasan lingkungan, dan juga meningkatkan penerimaan negara.

“Kalau untuk mendorong industri hilir harus ditanyakan kembali apakah instrumen ini sudah tepat? Kalau untuk mendorong industri hilir seharusnya bukan dengan BK, karena ini sama dengan disinsentif,” jelasnya.

Yang dibutuhkan untuk mendorong industri hilir, kata dia, adalah insentif, yang termasuk, pembangunan infrastruktur dan pemberian insentif pajak atau nonpajak. “Sekarang, tarif BK yang berlaku sudah progresif karena meningkat, seiring dengan kenaikan harga minyak sawit,” tandas Fadhil.

Pada saat ini, pemerintah telah menetapkan tarif BK CPO yang bervariasi, mulai dari 7,5 persen untuk kisaran harga minyak sawit sekira USD900 per ton, hingga 10 persen pada kisaran harga USD950 per ton.(adn)(Sandra Karina/Koran SI/rhs)
CPO sentuh harga level tertinggi
Senin, 11/10/2010 16:08:09 WIB
Oleh: Berliana Elisabeth S.
JAKARTA (Bisnis.com): Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) menyentuh level tertinggi sejak 26 bulan, seiring kenaikan harga kedelai dan harga minyak mentah dunia.

Untuk kontrak pengiriman Desember harga CPO naik 6,5% menjadi RM2.940 (US$948) per ton, level tertinggi sejak 1 Agustus 2008 di Bursa Malaysia Derivatives. Harga CPO untuk kontrak Desember di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) juga naik 450 poin menjadi Rp8.440 per kilogram.

Harga minyak mentah untuk kontrak pengiriman November naik 1% menjadi US$83,50 per barel di transaksi elektronik New York Mercantile Exchange. Harga sudah naik 4,9% tahun ini.

Penaikan harga minyak mentah yang turut mendongkrak harga CPO ini dipicu oleh pelemahan dolar AS yakni minus 0,5% menjadi US$1,4012 per euro.

Analis Valas Harumdana Berjangka, Nanang Wahyudin mengatakan data yang lebih buruk dari prediksi ini menjadi bukti tambahan bahwa ekonomi AS masih lesu.

Sementara analis Askap Futures Wahyu Tribowo Laksono menambahkan menyusul melemahnya dolar, ikut menaikkan daya beli investor asing untuk kontrak komoditas berimbal hasil lebih tinggi khususnya minyak mentah, emas dan CPO. (yus)

Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) menanjak selama 2 hari terakhir didorong reli harga saham dan komoditas lain. Harga CPO menanjak 0,6% menjadi 2.722 ringgit (US$881) per ton di Bursa Malaysia Derivatives untuk kontrak pengiriman Desember 2010. Pada perdagangan 5 Oktober, harga CPO juga naik 1,5%, kenaikan tertinggi dalam 11 hari.

Harga kontrak CPO di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) juga tercatat naik 65 poin menjadi Rp7.895 per kilogram untuk kontrak pengiriman Desember, kontrak teraktif diperdagangkan.

Mayoritas harga saham di seluruh dunia menanjak setelah bank sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ), secara Sumber: Bloomberg tak terduga menurunkan suku bunga pada 5 Oktober, BoJ menyatakan berencana membeli aset senilai US$60 miliar demi menjaga pertumbuhan ekonomi. Indeks MSCI Asia Pacific menanjak hingga ke level tertinggi 26 bulan dipicu oleh spekulasi bahwa sejumlah bank sentral akan mengikuti kebijakan BoJ.

“Investor semakin optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia setelah BoJ menurunkan suku bunga dan menaikkan likuiditas,“ kata Ivy Ng, analis CIMB Investment Bank Bhd seperti dikutip Bloomberg, kemarin.

Sumber : BISNIS.COM

04/10/2010 – 08:05
Prediksi Bursa Saham Pekan Ini
Astra-Bakrie-Lippo ‘Trendsetters’
Ahmad Munjin

(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – IHSG pekan ini diprediksi tembus level psikologis 3.600. Positifnya fundamental ekonomi RI dan kinerja emiten menjadi pemicunya. ‘Trendsetters’-nya, grup Astra, Bakrie dan Lippo.

Aji Martono, pengamat pasar modal dari Capital Bridge Indonesia mengatakan, meski dibayangi aksi ambil untung, trend up yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih terlihat. Potensi penguatan indeks pekan ini dipicu oleh masih besarnya arus dana asing ke pasar domestik.

Salah satunya, seiring positifnya sentimen dari fundamental perekonomian RI. “Dalam sepekan ke depan, support indeks berada di level 3.430 dan 3.650 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (3/10).

Pada perdagangan Jumat (1/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup menguat 45,819 poin (1,30%) ke level 3.547,115. Indeks saham unggulan LQ45 juga naik 9,717 poin (1,49%) ke level 661,646.

Aji menegaskan, pasar terpengaruh positif oleh indikator makro ekonomi RI. Di antaranya, inflasi September lalu 0,44% lebih rendah dari bulan sebelumnya 0,76%. “Ini menjadi salah satu bargaining investor untuk melakukan aksi beli di pasar domestik,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjutnya, BI berpeluang tidak akan mengubah kebijakan terkait suku bunga acuan (BI rate) di level 6,5%. Ini juga pada akhirnya, mengiringi gairahnya pergerakan pasar modal.

“Selain itu, performance, perusahaan-perusahan yang listed di BEI menunjukkan angka perbaikan di kuartal tiga,” paparnya. Semua itu, menurutnya, sangat memungkinkan indeks domestik untuk menembus level psikologis 3.600 di pekan ini.

Namun demikian, dengan penguatan yang terus menerus, ancaman profit taking pun cukup mengkhawatirkan bagi pasar. “Investor takut akan terjadinya suatu bubble sehingga akan lebih selektif dalam bermain saham di pekan ini,” imbuhnya.

Di sisi lain, banyak juga para trader dan investor yang wait and see, menunggu aksi profit taking. Tapi, mereka tetap melakukan bargaining position pada posisi support di berbagai saham.

“Hingga penutupan akhir pekan ini, indeks akan berada di teritori positif karena indeks masih dalam trend up,” tegas Aji. Menurutnya, pekan lalu indeks berhasil ditutup di level 3.547. Ini merupakan rekor baru di lantai bursa yang harus ditulis dengan tinta emas.

IHSG merupakan satu-satunya bursa di dunia yang memberikan return cukup besar. “Besarnya dana yang masuk ke lantai bursa menjadi satu katalis untuk tetap bergairah di pekan ini,” timpalnya.

Karena itu, apabila indeks terkulai, menandakan kekhawatiran terjadinya bubble. Pasar akan melihat seberapa dalam koreksi itu akan terjadi. Pekan lalu, saham-saham second liner menjadi pemacu indeks. “Jika dilihat dari tren pergerakannya, grup-grup emiten akan jadi trendsetters di pekan ini,” ucapnya.

Penggerak indeks pekan ini adalah grup Astra, grup Bakrie dan grup Lippo. Sedangkan dari sektornya, saham-saham multifinnace, pertambangan, dan perkebunan berpeluang menjadi penopang penguatan pekan ini. “Inilah yang akan memberikan kontribusi cukup besar bagi penguatan indeks pekan ini,” tandasnya.

Saham-saham pilihannya adalah PT Bank Negara Indonesia (BBNI), PT Bank Jabar Banten (BJBR), PT Bank Tabungan Negara (BBTN) dan PT BFI Finance Indonesia (BFIN). “Meski kenaikannya sudah signifikan tapi masih memiliki potential up,” ungkap Aji.

PT International Nickel Indonesia (INCO), PT Aneka Tambang (ANTM), PT Timah (TINS) dan PT Medco Energy (MEDC) juga direkomendasikan positif.

Begitu juga PT Astra Agro Lestari (AALI), PT PP London Sumatera Indonesia (LSIP) dan PT Sampoerna Agro (SGRO).

“Saya rekomendasikan akumulasi beli saham-saham tersebut. Sebab, inilah yang berpeluang rame ditransaksikan selain saham-saham dalam lingkaran grup,” paparnya.

Sementara itu, saham-saham di grup Lippo akan dimotori oleh penguatan saham PT Matahari Putra Prima (MPPA). PT Star Pasific (LPLI), PT Matahari Department Store (LPPF) dan PT Multipolar (MLPL) akan mengikutinya. “Speculative buy di grup Lippo,” kata Aji.

Untuk grup Astra kecuali PT Astra Internasional (ASII), investor bisa melakukan bargaining position dengan akumulasi beli di saham PT Astra Graphia (ASGR) dan PT United Tractors (UNTR). “Untuk keseluruhan saham grup Bakrie, saya rekomendasikan trading buy, di mana saham BUMI sebagai pemicu utamanya,” tandas Aji Martono. [mdr]
Mempertanyakan sanksi RSPO buat SMART
OLEH DIENA LESTARI Wartawan Bisnis Indonesia

loading

Pada 21 September 2010, P Roundtable on Sustainable Palm Oil mengeluarkan sanksi kepada anggotanya yakni PT Sinar Mas Agro Research and Technology Tbk (PT SMART) karena dianggap bersalah telah melakukan persiapan untuk penanaman sawit sebelum mendapatkan dokumen amdal.
Tim Panel Pengaduan dari RSPO memutuskan memberikan waktu selama 4 minggu kepada PT SMART untuk dapat melakukan klarifikasi atas masalah tersebut dan bersamaan dengan hal tersebut, seluruh kegiatan perusahaan yang sebagai anggota RSPO dihentikan sementara.

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal RSPO Rikke Netterstrom mengirimkan surat tersebut tidak hanya kepada PT SMART, tapi juga ditujukan kepada PT Ivo Mas Tunggal, dan Golden Agri Resources Ltd. Yang menarik untuk dicermati dari `keributan’ ini adalah begitu terlambatnya campur tangan RSPO untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi PT SMART sebagai salah satu anggotanya.

Belum banyak yang mengerti bahkan termasuk di dalamnya para pejabat pemerintah bahwa RSPO adalah satu organisasi yang didirikan tanpa melibatkan pemerintah di dalamnya.
Anggota RSPO adalah perusahaan, konsumen, dan lembaga swadaya masyarakat.
Elemen-elemen ini bergabung dan mendaftarkan diri menjadi anggota RSPO secara sukarela.
Sekali lagi peran negara tidak terdaftar dalam RSPO, karena organisasi ini memang tidak memasukkan elemen negara.

Pada dasarnya `keributan’ yang terjadi antara PT SMART dan Greenpeace merupakan masalah internal yang mesti diselesaikan melalui mekanisme RSPO. Memang benar, RSPO pada akhirnya mengirimkan surat berisi sanksi sementara kepada SMART. Namun mengapa sanksi itu baru dikeluarkan setelah berbulanbulan tuduhan Greenpeace menyatakan bahwa SMART melakukan pelanggaran tentang tata kelola penanaman sawit yang lestari?
Satu hal yang menarik dicermati adalah RSPO hingga saat ini tidak menurunkan tim independen untuk langsung melakukan pengecekan ke lapangan terkait dengan kasus PT SMART ini. Semua data dan bukti sebagai bahan pengambilan keputusan atas sanksi didapatkan RSPO dari laporan Greenpeace dan laporan tim verifikasi dari BSI-CUC yang disewa oleh PT SMART.

Di sisi lain, saat ini begitu banyak pendapat dari kalangan pemerintah akan ikut melakukan pembelaan resmi terhadap perusahaan. Tidak ketinggalan bahkan Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan pemerintah akan melakukan pembelaan resmi dan memfasilitasi produsen kelapa sawit untuk melakukan pertemuan dengan RSPO, menyusul ancaman yang akan mengeluarkan SMART dari keanggotaan organisasi tersebut.

Pernyataan menteri justru tidak tepat. Sekali lagi karena negara tidak memiliki keanggotaan dalam RSPO. Pernyataan menteri dalam kerangka RSPO ini justru membuat upaya penyelesaian masalah secara objektif dan adil tidak tercapai.
Tidak tepat Ketua Pelaksana Harian Komisi Minyak Sawit Indonesia (KMSI) Rosediana Suharto menyatakan campur tangan pemerintah untuk menyelesaikan masalah internal para anggota RSPO yakni Greenpeace dan PT SMART justru tidak tepat.
“Justru akan terlihat bahwa pemerintah membela perusahaan yang terbukti bersalah melakukan kegiatan operasional sebelum dokumen amdal diberikan.
8 dari 11 konsesi diketahui tanpa amdal. Apa pun yang terjadi, SMART memang salah.“

Saat ini yang lebih penting dilakukan oleh pemerintah adalah menurunkan tim independen yang akan memverifikasi ulang atas temuan yang dilaporkan oleh tim Ivax, dan kemudian jika terbukti bersalah maka menerapkan hukuman sesuai dengan peraturan yang ditetapkan di Indonesia.

Sementara dari sisi RSPO, konflik internal antaranggota yang terjadi antara PT SMART dan Greenpeace ini merupakan kasus perdana yang muncul.
RSPO sendiri mesti menurunkan tim verifikasi independen RSPO atas laporan dari Greenpeace dan tim Ivex. Kemudian, hasil tim verifikasi RSPO dijadikan bahan pengambilan keputusan. Jika RSPO saat ini tidak dapat bersikap adil atas kasus perdananya, maka dipastikan banyak anggota yang akan keluar dari organisasi ini.

Rosediana menyatakan selama ini produsen sawit selalu kalah ketika dilakukan voting dalam RSPO. Selain itu, para konsumen yang terdiri dari perusahaan besar seperti Unilever, Nestle dan yang lain selalu menempatkan kepentingan perusahaan ada RSPO itu. “Saat ini yang menjadi ketua dari RSPO merupakan perwakilan dari Unilever. Semestinya dapat dengan tanggap dan cepat menyelesaikan masalah internal. Jangan memasukkan kepentingan perusahaan ketika duduk di puncak RSPO,“ tegasnya. (diena.lestari@bisnis.co.id)

Sabtu, 02/10/2010 11:10 WIB
Didera Kampanye Hitam, Ekspor Sawit RI Masih Kencang
Suhendra,Angga Aliya – detikFinance
Jakarta – Kinerja ekspor sawit Indonesia masih menunjukan kenaikan hingga 20%. Meski saat ini sektor persawitan Indonesia masih didera isu kampanye hitam seperti dalam kasus Sinarmas.

Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar mengatakan selama Januari-Agustus 2010 nilai ekspor sawit Indonesia mencapai US$ 6,7 miliar atau naik dari periode yang sama tahun lalu yang hanya US$ 5,6 miliar.

“Ada peningkatan yang signifikan sampai 20%. Pada akhir tahun diperkirakan akan menjadi yang tertinggi jika tak ada perubahan yang signifikan,” katanya di kantor Kementerian Perdagangan, Jumat malam (1/10/2010).

Mahendra menuturkan, mengenai masalah isu negatif terhadap sektor sawit Indonesia, pemerintah akan mengedepankan aspek komitmen pada penciptaan industri sawit yang berkelanjutan (sustainable).

Pemerintah tak akan meladeni satu per satu terhadap serangan dari organisasi-organisasi LSM lingkungan yang menebar kampanye hitam.

“Jadi bukan merespon pada satu, dua organisasi, tak bereaksi satu persatu,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah selain fokus pada upaya mendorong sustainable industri sawit juga memikirkan strategi dalam mendongkrak ekspor sawit, dan upaya hilirisasi produk sawit dan lain-lain.

“Dari pada bereaksi pada hal spesifik,” katanya.

Berdasarkan data yang dirilis Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor CPO dan produk turunannya bertambah sebesar 500.000 ton menjadi 1,72 juta ton pada Agustus dibandingkan bulan Juli yang sebesar 1,19 juta ton. Kenaikannya setara 44,3 persen.

Rata-rata terjadi kenaikan volume ekspor ke negara yang menjadi pasar tradisional CPO Indonesia antara lain China, Eropa, India, Pakistan dan Amerika Serikat.

Pada Agustus ini, volume ekspor CPO Indonesia ke India meningkat cukup signifikan sebesar 725.973 ton dibandingkan Juli yang berjumlah 448.94 ton.

Permintaan dari India lebih didominasi minyak sawit mentah (CPO) yang berjumlah 556.944 ton. Sisanya berasal dari produk turunan CPO 169.031 ton. Salah satu faktor pendorong kenaikan ini akibat terjadinya banjir sehingga kebutuhan minyak makan masyarakat India terus meningkat.

Begitupula dengan ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa yang bertambah hingga 428.877 ton dari bulan Juli sebesar 283.802 ton. Pembelian minyak sawit mentah mendominasi ekspor yang mencapai 316.549 ton, disusul dengan RBD Palm Oil berjumlah 31.635 ton, RBD Olein sebesar 39.737 ton dan RBD Stearin 29.775 ton.

Sementara itu, pembelian CPO Indonesia oleh Cina juga bertambah menjadi 152.097 ton dari bulan Juli yang sebesar 107.499 ton.

“Diperkirakan empat bulan mendatang, volume ekspor CPO Indonesia akan terus meningkat karena akan dipengaruhi perayaan hari besar keagamaan dan tahun baru,” kata Direktur Eksekutif Fadhil Hasan.

(ang/dru)

Bakrie Sumatera Raih Penghargaan CSR Terbaik
Penghargaan itu di antaranya peringkat Platinum untuk kategori pembinaan masyarakat.
JUM’AT, 1 OKTOBER 2010, 11:18 WIB Arinto Tri Wibowo, Purborini

VIVAnews – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (BSP) memperoleh anugerah sebagai perusahaan yang aktif dalam penerapan program Corporate Social Responsibility (CSR).

“Ini momen yang spesial,” kata Direktur Bakrie Sumatera, Rudi Sarwono, di Jakarta, Jumat 1 Oktober 2010.

Adapun penghargaan tersebut di antaranya peringkat Platinum untuk BSP Unit Kisaran pada kategori pembinaan kelembagaan masyarakat di BSP Unit Sumut I.

Lalu, BSP Unit Sumatera Barat meraih peringkat Gold untuk kategori kegiatan penanggulangan bencana alam, yaitu pembangunan SDN 01 di Sumani, Solok.

Selanjutnya, BSP Unit Jambi meraih peringkat Silver untuk kategori program layanan sosial berupa pendidikan anak usia dini. Sementara itu, penghargaan Gold untuk individu diraih manajer SC dan CSR BSP Unit Jambi, Muhsin.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri. Menteri juga memberikan penghargaan platinum kepada Direktur Human Resources, CSR, dan Share Service Bakrie Sumatera, Rudy Sarwono, dan peringkat Gold untuk Head CSR Division, Suwandi.
Dalam kesempatan itu, Bakrie Sumatera Plantations juga menyerahkan bantuan renovasi sekolah senilai Rp150 juta yang merupakan bagian dari program Bakrie +1, Bakrie Untuk Negeri, dan program Corporate Social Responsibility BSP.

Program tersebut merupakan kegiatan merenovasi 33 sekolah di tiap provinsi di Indonesia.
• VIVAnews

Berbagai masalah yang menimpa PT Bakrie Plantations Tbk (UNSP) dalam beberapa bulan terakhir membuat Moody’s Investor Services berpotensi menurunkan peringkat perseroan pada level BBB.

Adapun peringkat ini berpengaruh pada peringkat obligasi senilai USD160 juta yang diterbitkan anak perusahaannya. Hal tersebut dikatakan Vice President & Senior Credit Officer Moody’s Alan Greene dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (29/9/2010).

Namun Moody’s mengumumkan bahwa perseroan telah mengalami peningkatan leverage yang stabil yang dilaporkan dalam laporan keuangan pada kuartal II-2010.

Hal itu terlepas dari rampungnya rights issue (penawaran umum terbatas) senilai USD520 juta pada awal tahun ini. Sehingga membuat perbedaan yang cukup signifikan dalam laporan keuangan kuartal I-2010. Namun dalam beberapa bulan terakhir kinerja CPO perusahaan dilihat Moody’s dalam kondisi labil akibat cuaca yang tidak menentu.

“Sebagai tambahan, kami melihat ketidakpastian terkait dengan lamanya akuisisi perkebunan oleo-kimia Domba Mas, yaitu dari sisi penyelesaian dan struktur utang yang masih dalam proses negosiasi,” tambahnya.

Pemeringkatan Moody’s selanjutnya akan terfokus pada empat hal. Pertama, kelanjutan akusisi Domba Mas, kedua yaitu ketentuan dan kondisi utang perkebunan oleo-kimia.

Kedua, potensi subordinasi bagi pemegang obligasi UNSP. Ketiga, pada rencana perseroan untuk memulai operasional bisnis hilir dan suplai terintegrasi dan pengaturan offtake.

Keempat, rencana refinancing USD160 juta utangnya yang akan jatuh tempo pada November tahun depan. Moody’s juga akan melengkapi pengkajian pemeringkatan sebelum akhir Oktober 2010.(a

Sumber : OKEZONE.COM
Recapital: Saham Komoditas Mulai Menarik
IHSG hari ini berpotensi menuju kisaran level batas bawah 3.340 dan batas atas 3.440.
SENIN, 20 SEPTEMBER 2010, 08:40 WIB Antique

VIVAnews – Harga komoditas di pasar global yang cenderung meningkat diprediksi akan mendorong pelaku pasar mengoleksi saham-saham di sektor tersebut pada transaksi hari ini, Senin, 20 September 2010.
Hal itu sepertinya kembali memicu penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menurut Head of Research PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing, saham-saham komoditas perkebunan maupun pertambangan diperkirakan masih menjadi incaran para investor akibat kinerja yang membaik. “Sentimen penguatan harga komoditas dunia, tentunya merupakan faktor utama,” ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta.

Saham tersebut, kata dia, di antaranya di sektor perkebunan seperti PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Astra Agro Lestasi Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO).

Sedangkan di industri tambang, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO), dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

Pardomuan menambahkan, aksi beli pemodal terhadap saham komoditas bakal memicu IHSG awal pekan ini melanjutkan penguatan. Apalagi, sentimen bursa global dan regional yang positif turut menyertai.

Dia memproyeksikan, IHSG di hari ini berpotensi bergerak menuju kisaran level batas bawah (support) 3.340 dan batas atas (resistance) 3.440.

Kendati demikian, Pardomuan tetap menyarankan agar investor mewaspadai adanya aksi ambil untung (profit taking) terhadap saham-saham unggulan yang telah mengalami kenaikan cukup tinggi.

Pada transaksi Jumat 17 September 2010, indeks kembali mencatatkan rekor baru setelah terangkat 43,02 poin atau 1,28 persen ke level 3.384,65 dari perdagangan Kamis 16 September 2010, yang terkoreksi di posisi 3.341,63 atau melemah 15,40 poin (0,45 persen).

Indeks bursa Asia saat IHSG ditutup juga bergerak positif. Indeks Hang Seng menguat 279,41 atau 1,29 persen di posisi 21.970,86, Nikkei 225 terangkat 116,59 poin (1,23 persen) ke level 9.626,09, dan Straits Times naik 9,26 poin atau 0,30 persen menjadi 3.076,37.

Sementara itu, bursa Wall Street pada perdagangan Jumat sore waktu New York atau Sabtu dini hari WIB kembali bergerak positif.

Indeks harga saham Dow Jones terangkat 13,02 poin (0,12 persen) menjadi 10.607,85, Standard & Poor’s 500 menguat 0,93 poin atau 0,08 persen ke level 1.125,59, dan indeks harga saham teknologi Nasdaq naik 12,36 poin (0,54 persen) di posisi 2.315,61.
• VIVAnews
Senin, 20/09/2010 07:25 WIB
Rekomendasi Saham
Dekati 3.400, IHSG Rawan Koreksi
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencetak rekor spektakuler mendekati 3.400 pada pekan lalu. Derasnya aliran modal ke Indonesia membuat laju penguatan IHSG makin tak terbendung.

Setelah libur panjang lebaran, IHSG pada pekan lalu langsung menggebrak dengan kenaikan hampi 4%. Penguatan terus berlanjut hingga akhir pekan. Pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu adalah:

Rabu (15/9/2010), IHSG melesat 126,144 poin (3,90%) ke level 3.357,032.
Kamis, (17/9/2010), IHSG melemah 15,400 poin (0,45%) ke level 3.341,632.
Jumat, (17/9/2010), IHSG melesat 43,021 poin (1,28%) ke level 3.384,653.

Setelah penguatan yang sangat tajam tersebut, para analis memperingatkan adanya profit taking. Saham-saham unggulan saat ini dinilai sudah berada pada titik tertingginya.

“Aksi profit taking tetap harus diwaspadai mengingat sejumlah saham blue chip telah mencapai harga tertinggi,” jelas analisis dari Finan Corpindo Nusa dalam review untuk perdagangan Senin (20/9/2010).

“Dalam teknikal, indeks masih dalam trend positif, namun masih akan rawan aksi jual dalam jangka pendek,” ulas Erdikha Sekuritas.

Sementara Bursa Wall Street pada akhir pekan lalu tercatat hanya menguat tipis. Pada perdagangan Jumat (17/9/2010), indeks Dow Jones ditutup hanya naik 13,02 poin (0,12%) ke level 10.607,85. Indeks Standard & Poor’s 500 juga menguat tipis 0,93 poin (0,08%) ke level 1.125,59 dan Nasdaq menguat 12,36 poin (0,54%) ke level 2.315,61.

Sedangkan Bursa Tokyo pada Senin ini masih libur, dan baru akan buka perdagangan pada Selasa besok.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

Finan Corpindo Nusa:

IHSG naik mencapai rekor tertinggi baru dipicu oleh aksi beli saham-saham Grup
Bakrie, penguatan bursa Asia serta masuknya dana asing ke bursa Indonesia yang
mencapai Rp 314 miliar. Namun kenaikan IHSG tertahan oleh koreksi saham ASII. Untuk
Senin, IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran 3.340 hingga 3.400. Aksi profit
taking tetap harus diwaspadai mengingat sejumlah saham blue chip telah mencapai
harga tertinggi.

Erdikha Sekuritas:

IHSG ditutup menguat 43.02 point menjadi 3384.65 (1.29%). Penguatan saham-saham
sektor Properti dan Industri Dasar menjadi salah satu pemicu kenaikan indeks
disamping pengaruh positif dari penguatan bursa global. Dalam teknikal, indeks masih dalam trend positif, namun masih akan rawan aksi jual dalam jangka pendek.
Pergerakan indeks kami perkirakan pada kisaran 3323-3403. Saham rekomendasi kami
adalah SMCB dan ENRG.

eTrading Securities:

Pada hari jumat IHSG Ditutup menguat 43 point (+1.29%), penguatan ini di dorong oleh saham2 B-7 seperti UNSP,ELTY dan BUMI. Pada hari jumat tercatat asing melakukan net buy sebesar 218 milliar di perdagangan reguler terlihat asing melakukan pembelian di sector property dan mining, dan jika kita lihat dari perdagangan hari jumat dimana yang bergerak merupakan saham Bakrie7 dan second liner. Diperkirakan pada hari ini IHSG masih akan ditopang oleh saham tersebut, pada hari ini IHSG akan bergerak di dalam kisaran 3350 – 3450 dengan saham yang dapat diperhatikan pada hari ini UNSP,BUMI,ADRO dan BRAU.

(qom/qom)

17/09/2010 – 16:23
Bakrie dan ‘Capital Inflow’ Dukung Rekor IHSG
Asteria

(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Akhir pekan ini, IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi barunya. Aliran dana asing yang masuk ke bursa saham dan pergerakan saham kelompok Bakrie menjadi katalisnya.

Pada perdagangan Jumat (17/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat 43,021 poin (1,28%) ke level 3.384,653. Demikian juga indeks saham unggulan LQ45 juga naik 6,250 poin (0,98%) ke level 639,302.

Indeks saham dibuka langsung menguat 0,75% ke level 3.366. Setelah terkoreksi kemarin, indeks terus bergerak naik hingga pada sesi siang bertengger di angka 3.375. Namun apresiasi bursa tertahan, mengingat ini adalah hari terakhir perdagangan. IHSG pun harus puas ditutup di 3.384.

Head of Research Valbury Securities Krishna Dwi Setiawan mengatakan, IHSG berhasil bertahan di zona hijau dan menorehkan rekor tertinggi barunya. “Aliran dana asing yang masuk ke pasar domestik, di tengah mixednya bursa global dan regional Asia, menjadi katalis penguatan bursa,” ujarnya.

Sejak dibuka pertengahan pekan ini, asing memang membanjiri IHSG. Hari ini saja, asing mencatatkan nilai transaksi beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp314 miliar. Dimana transaksi beli mencapai Rp1,941 triliun dan transaksi jual mencapai Rp1,626 triliun.

Adapun Wall Street semalam bergerak sideways dan ditutup relatif menguat tipis. Sentimen negatif berasal dari rilis indikasi laba FedEx yang dibawah ekspektasi pasar dan rencana pemecatan 1,700 karyawannya. Adapun data initial jobless claim AS pekan lalu flat di 450 ribu, lebih baik dari estimasi sebesar 459 ribu.

Menurut Krishna, pasar modal Indonesia, masih diburu pelaku asing karena pertumbuhan ekonominya yang membaik dan tingginya tingkat bunga rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, ada peluang industri perbankan menaikkan suku bunga cukup, “Setelah Bank Indonesia (BI) menaikan Giro Wajib Minimum sebesar tiga persen menjadi delapan persen,” katanya.

Hampir semua sektor menguat, dipimpin sektor properti yang naik 3,9%. Disusul industri dasar 3,5%, perkebunan 2,9% dan perdagangan 2,5%. Demikian pula sektor tambang yang naik 1,7%, infrastruktur 1,3%, finansial 0,8% dan manufaktur 0,7%. Hanya aneka industri dan konsumsi yang masih memerah.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia sangat ramai, dimana volume transaksi tercatat sebesar 11,115 miliar lembar saham, senilai Rp 6,528 triliun dan frekuensi 162.963 kali. Sebanyak 175 saham naik, 68 saham turun dan 59 saham stagnan.

Bangkitnya saham Bakrie menjadi pendorong kenaikan bursa. PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) naik 26,3% ke Rp360, PT Bumi Resources (BUMI) naik 6,6% ke Rp1.940, PT Energi Mega Pesada (ENRG) naik 11,11% ke Rp100, PT Bakrieland Development (ELTY) naik 19,04% ke Rp100, PT Bakrie & Brothers (BNBR) naik Rp1,9% ke Rp52, PT Darma Henwa (DEWA) naik 10,9% ke Rp71, PT Bakrie Telecom (BTEL) naik 2,4% ke Rp210.

Beberapa emiten lain yang menguat antara lain Indomobil Sukses (IMAS) naik Rp1.300 ke Rp 7.900, Indocement (INTP) naik Rp1.050 ke Rp19.300, United Tractor (UNTR) naik Rp500 ke Rp20.600, Mandom (TCID) yang naik Rp450 ke Rp7.700 dan Semen Gresik (SMGR) naik Rp450 ke Rp9.600.

Sedangkan emiten-emiten lain yang melemah antara lain Astra International ( ASII) yang anjlok Rp600 ke Rp54.700, Gudang Garam (GGRM) yang melemah Rp450 ke Rp45.050, TB Bukit Asam (PTBA) yang turun Rp400 ke Rp18.500, HM Sampoerna (HMSP) yang melemah Rp300 ke Rp20.550 dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang turun Rp300 ke Rp10.400.

Bursa regional Asia didominasi penguatan, seperti Indeks Hang Seng yang naik 279,41 poin (1,29%) ke level 21.970,86 dan indeks Nikkei-225 yang menguat 116,59 poin (1,23%) ke level 9.626,09. Hanya indeks komposit Shanghai yang melemah 3,78 poin (0,15%) ke level 2.598,69. [mdr]
17/09/2010 – 08:01
UNSP Gandeng PNM Danai Akuisisi Grup Domba Mas

(IST)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) dikabarkan akan menggandeng PT Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk mendanai akuisisi 6 anak usaha Grup Domba Mas.

Kabar ini sudah terdengar di beberapa kalangan bandar yang siap mengkerek saham UNSP hingga ke level Rp350 per saham dalam waktu dekat. Bahkan, PNM dikabarkan menginginkan kepemilikan 10% di Grup Domba Mas.

Pada perdagangan kemarin, saham UNSP ditutup flat di level Rp285. [cms]
16/09/2010 – 04:50
Inilah Saham-saham Pilihan Hari Ini!
Agustina Melani

(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksikan masih akan melanjutkan penguatan pada perdagangan saham Kamis (16/9) dengan level support 3.280 dan level resistance 3.380.

Saham-saham sektor perkebunan dan pertambangan direkomendasikan untuk perdagangan saham besok.

Hal itu disampaikan Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing saat dihubungi INILAH.COM, Rabu (15/9). “IHSG akan melanjutkan penguatan pada perdagangan saham besok. Tapi investor harus mewaspadai aksi profit taking karena indeks yang cukup kuat,” kata Pardomuan.

Penguatan IHSG juga didukung dari penguatan bursa saham regional dan penguatan harga komoditas yang terus berlanjut. Pardomuan menambahkan potensi koreksi tersebut dapat dimanfaatkan oleh investor untuk kembali mengoleksi saham unggulan di sektor pertambangan dan perkebunan.

Ia merekomendasikan saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), saham PT London Sumatra Plantation Tbk (LSIP), saham PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO), saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Untuk sektor pertambangan, Pardomuan merekomendasikan saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO), saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan saham PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO). “Untuk saham-saham tersebut direkomendasikan buy on weakness,” tambah Pardomuan.

Sementara itu, pengamat pasar modal, Felix Sindhunata mengatakan libur panjang bursa akan menyesuaikan kondisi bursa saham regional dan global yang positif. IHSG pun melanjutkan penguatan pada Rabu (15/9).

Investor asing pun memiliki minat yang sangat tinggi untuk berinvestasi di Indonesia dalam jangka pendek. “Data ekonomi Amerika Serikat yang positif, di Eropa tidak terjadi apa-apa dan China relatif baik sehingga asing berani untuk mencari yield yang tinggi,” ujar Felix.

Seperti diketahui, IHSG kemarin ditutup di 3.357 dengan volume transaksi 4,9 miliar saham dan nilai perdagangan mencapai Rp7,42 triliun. [cms]
Bengkulu perlu tambahan 17 pabrik kelapa sawit
ANTARA
BENGKULU:

Provinsi Bengkulu diperkirakan butuh 17 unit pabrik kelapa sawit untuk mempercepat pengolahan produksi tanaman petani yang semakin meningkat, “Saat ini luas kebun petani yang belum menghasilkan sekitar 87.177 hektare yang tersebar di beberapa kabupaten, sedangkan pabrik yang ada baru 19 unit,“ kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu Risman Sipayung, Minggu.
Dengan tambahan 17 pabrik baru tersebut nantinya diharapkan petani tidak perlu lagi mengolah produksi kelapa sawitnya ke luar Bengkulu seperti ke wilayah Sumsel dan Jambi.

Pabrik pengolahan kelapa sawit (CPO) yang ada sekarang ini sebagian besar milik perkebunan besar swasta dan PT Perkebunan Nusantara VII Bengkulu.

“Bila produksi kebun mereka sedang panen raya, sangat kecil peluangnya untuk membeli dan mengolah produksi kebun masyarakat yang cukup luas sekarang ini.“ Akibatnya, tutur Risman, para petani mengalami kerugian karena di samping harganya cukup rendah, juga terjadi penumpukan stok di sentra produksi dan biaya pengolahan tidak seimbang.

Salah satu upaya mengatasi kendala tersebut adalah dengan menambah pabrik baru sekitar 17 unit lagi, sehingga pabrik CPO yang ada di Provinsi Bengkulu mencapai 35 unit.

Pabrik yang ada sekarang awalnya dibangun pada 2005 sebanyak enam unit dan 2009 sebanyak 13 unit, saat ini sudah tidak mampu mengolah produksi kelapa sawit di daerah ini yang jumlahnya rata-rata 1,8 juta ton tandan buah segar pertahun.

“Dua tahun ke depan produksi kelapa sawit petani akan meningkat dua kali lipat dari sekarang, karena tanaman yang belum menghasilkan tersebut rata-rata akan berproduksi,“ ujarnya.

Meningkatnya produksi tanaman kelapa sawit petani itu salah satu imbas dari penggunaan bibit unggul yang dibagikan dinas perkebunan setempat secara gratis kepada petani setempat.

Tahun ini kembali dibagikan sekitar 99.000 batang bibit kelapa sawit kepada petani dalam rangka perluasan kebun kelapa sawit petani di daerah ini.

Kebutuhan pabrik itu untuk Kabupaten Bengkulu Utara ada tiga unit, Mukomuko sebanyak enam pabrik, Benteng dan Kaur masing-masing dua unit dan Kabupaten Seluma sebanyak empat unit.

SEKURITAS
CLSA Asia Pacific
EMITEN
Bakrie Sumatera Plantations (UNSP)
TARGET
Buy
HARGA
Rp 750
TANGGAL
2010-09-07 09:31 AM
KETERANGAN
UNSP Berencana Menerbitkan Obligasi Sekitar US$ 200 Juta Paling Lambat Awal Semester II-2011. Harga Saham UNSP Masih Jauh Dari Harga Tertinggi Rp 2.825 Di Januari 2008.
Kontrak minyak kelapa sawit meroket
OLEH BERLIANA ELISABETH S.
Bisnis Indonesia

loading

Volume transaksi kontrak berjangka minyak kelapa sawit mentah di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia meroket 651%.
Serah fisik dongkrak transaksi JAKARTA: Volume transaksi kontrak berjangka minyak ke – lapa sawit mentah (CPOTR) di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) meroket 651% dalam 6 hari pertama bulan ini menjadi rata-rata 1.510 lot kontrak per hari.

Berdasarkan rekapitulasi transaksi harian CPOTR di bursa berjangka kedua di Indonesia ini tercatat total volume transaksi periode 1-8 September 2010 atau menjelang libur Lebaran mencapai 9.060 lot kontrak. Rata-rata volume transaksi selama 6 hari perdagangan pada awal bulan ini mencapai 1.510 lot per hari.
Rata-rata transaksi itu jauh lebih tinggi dari rata-rata transaksi 6 hari pertama Agustus 2010 yang hanya mencapai 201 lot kontrak per hari atau total 1.206 lot selama 6 hari perdagangan yakni pada tanggal 2-9 Agustus 2010.

Total transaksi kontrak berjangka CPOTR sepanjang Agustus 2010 tercatat sebanyak 14.342 lot kontrak atau rata-rata volume per hari dengan 21 hari perdagangan mencapai 683 lot kontrak per hari.

Lonjakan volume transaksi di BKDI mulai terlihat sejak 19 Agustus dengan volume sebanyak 671 lot dari sebelumnya hanya rata-rata 200 lot-300 lot per hari.

Volume di atas 1.000 lot mulai terjadi sejak perdagangan 24 Agustus yakni sebanyak 1.538 lot saat terjadi kesepakatan serah fisik kontrak berjangka CPOTR.

Serah fisik CPO itu melibatkan PT Wilmar Nabati Indonesia yang bertindak sebagai penjual dan PT Sinar Mas Agro Re sources and Technology Tbk yang ber tindak sebagai pembeli. Kuantitas kon trak yang diserahkan adalah sebesar 50 lot atau sama dengan 500 metrik ton CPO. Harga patokan Direktur Utama BKDI Megain Wijaya mengatakan kenaikan volume transaksi kontrak berjangka CPOTR di bursa itu akibat pelaku pasar menilai harga yang terbentuk sangat dekat korelasinya de ngan harga patokan internasional di CIF Rotterdam yakni 97%.

Megain mengatakan peningkatan vo lume transaksi kontrak berjangka CPOTR itu akibat semakin banyaknya anggota bursa yang mulai bertransaksi. Selama ini mereka masih menunggu perkem bangan transaksi CPO di bursa tersebut.

“Mereka akhirnya mulai bertransaksi, ka rena melihat harga sudah me ref lek sikan pasar,” kata Megain kepada Bisnis di Jakarta belum lama ini.

Dia menambahkan selama ini mereka ma sih takut harga yang terjadi di BKDI ti dak mencerminkan pasar, sehingga bisa menyebabkan untung atau rugi di luar kewajaran. Namun, saat ini pasar CPO sudah kembali likuid, karena pedagang sudah mulai aktif bertransaksi.

Megain menambahkan ada tujuh ang gota yang aktif bertransaksi kontrak CPO di BKDI, sehingga dapat mendongkrak volume transaksi. “Saat ini baru tujuh per usahaan, bagaimana kalau semua anggota atau 30 perusahaan aktif ber trans aksi. Pasti volumenya lebih tinggi lagi,” kata dia.

Selain itu, lanjut dia, adanya serah fisik kontrak berjangka CPOTR yang meru pa kan serah fisik perdana bagi bursa ter se but menambah keyakinan pasar akan kre dibilitas dan kesiapan BKDI.
Senin, 13 September 2010 | 20:30 oleh Abdul Wahid Fauzie AKSI KORPORASI
Akuisisi Domba Mas, UNSP gandeng dua mitra baru
JAKARTA. Niat PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) untuk mengakuisisi aset Grup Domba Mas menempuh babak baru. Agar aksinya mulus, UNSP mengajak mitra baru.

Presiden Direktur UNSP Ambono Janurianto mengungkapkan, ada dua perusahaan yang bakal diajak berkongsi mengakuisi Domba Mas. “Sebabnya, aset Domba Mas tidak hanya olekimia saja, ada aset kacamata dan ada juga aset propertinya,” katanya, beberapa waktu lalu.

Sayang, Ambono enggan membuka identitas dua perusahaan itu. Yang pasti, UNSP mengajaknya lantaran tidak memiliki keahlian dalam mengembangkan bisnis properti dan kacamata.

Ambono juga memastikan perusahaan yang ikut berpartisipasi dalam akuisisi ini bukanlah perusahaan terbuka. Sebab, aset properti dan kacamata ini dinilainya terlalu kecil. Ambono bilang, Domba Mas memiliki sekitar tiga properti, yakni Hotel Parkline, hotel Tiara, dan gedung Starco.

Nah, Ambono mengutarakan kedua mitranya ini akan menyediakan dana sekitar US$ 100 juta. Sayang, lagi-lagi Ambono enggan mengatakan dari mana asal dana kedua perusahaan tersebut. “Itu bukan kewenangan saya untuk menjawab,” tegasnya.

Jika ini terjadi, maka rencana UNSP akan berjalan mulus. Maklum saja, manajemen PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memang menginginkan UNSP tidak hanya mengakuisisi aset olekimia milik Domba Mas saja. Perusahaan Grup Bakrie ini juga harus mengakuisisi aset-aset lain.

Jika UNSP tidak melaksanakannya, maka BMRI mengancam akan mencari investor lain untuk mengakuisisi aset tersebut. Sebelumnya, Wakil Direktur Utama BMRI Riswinandi bilang sedikitnya ada dua hingga tiga perusahaan minyak kelapa sawit lokal yang siap mengakuisisi UNSP jika perusahaan ini gagal.

Dengan kedua investor ini, Ambono berharap akuisisi akan tuntas pada September ini. Menurutnya, ia sudah menyerahkan dokumen perjanjian jual beli antara UNSP dengan pemilik Domba Mas ke BMRI. “Sudah masuk dari bulan Juni, semoga akuisisi ini berjalan lancar,” ucapnya.
Senin, 06/09/2010 16:12:23 WIB
Pembelian aset Domas diharapkan rampung bulan ini
Oleh: P. Jatmiko & Gita Arwana Cakti
JAKARTA: PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berharap PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk dapat merampungkan rencana pembelian aset milik PT Domas Agrointi Perkasa pada bulan ini.

Direktur Bank Mandiri Pahala N. Mansyuri menuturkan sejauh ini Bakrie Plantations adalah calon pembeli yang paling serius untuk mengambil alih aset milik Domba Mas.

“Karena itu, kami berharap agar transaksi bisa diselesaikan pada bulan ini, karena pada September ini menjadi batas akhir untuk pembelian,” ujarnya pada hari ini.

Menurut Pahala, hingga saat ini perseroan masih menunggu langkah dari Bakrie Plantations untuk menyelesaikan akuisisi aset perusahaan yang bergerak di sektor oleo chemical ini.

Sementara itu, Bakrie Plantations sebelumnya menyatakan hingga saat ini tidak ada masalah yang substansial dalam akuisisi perusahaan oleo kimia PT Domba Mas.

Sekretaris Perusahaan Bakrie Plantations Fitri Barnas, dalam keterangan resminya, mengatakan pada saat ini semua hal prinsip terkait dengan aksi korporasi tersebut telah dirampungkan, dan shares purchase agreemen (SPA/ perjanjian pembelian saham) atas enam perusahaan di bawah Domba Mas telah diteken.

Fitri menjelaskan dari enam perusahaan milik Domba Mas yang akan dibeli Bakrie Plantations, hanya tiga perusahaan yang menjadi debitur Bank Mandiri, yaitu PT Flora Sawita Chemindo (FSC), PT Domas Agrointi Perkasa (DAIP), PT Domas Sawitinti Perdana (DSIP).

Perseroan menyatakan proses restrukturisasi kredit untuk perusahaan oleo kimia yang menjadi debitur di Bank Mandiri memang harus tuntas pada bulan ini.

“Jadi wajar saja kalau Bank Mandiri kemudian mendesak kami untuk bisa menuntaskannya sebelum September,” lanjut Fitri Barnas.

Melalui anak usahanya, PT Nibung Arthamulia, Bakrie Plantations mengakuisisi 100% saham di PT Domas Agrointi Prima yang memiliki 99,6% saham di PT Sawitmas Agro Perkasa, 100% saham pada PT Sarana Industama Perkasa, 100% saham pada PT Flora Sawita Chemindo, 100% di PT Domas Agrointi Perkasa, serta 100% saham pada PT Domas Sawitinti Perdana. (esu)
05/09/2010 – 12:00
UNSP Ngarep Harga CPO Naik Hingga US$1.000/ton
Agustina Melani

(IST)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mengharapkan harga kelapa sawit mencapai US$1.000 per ton pada akhir 2010 sehingga dapat memperkuat kinerja keuangan perseroan pada 2010.

“Mudah-mudahan hingga akhir tahun bisa bagus akibat dari harga. Yah, kita tetap kerja dan paling tidak penurunan produksi tidak makin turun,” kata Direktur Utama UNSP Ambono Janurianto, Jumat (3/9).

Ambono menuturkan, saat ini harga kelapa sawit mencapai US$750-US$800. Tetapi banyak perubahan pada harga sehingga akhir tahun 2010, harga kelapa sawit dapat mencapai US$1.000. Perseroan mengharapkan, peningkatan harga dapat menunjang kinerja perseroan karena volume produksi alami penurunan.

“Volume barang kali bisa tidak tumbuh karena down tren cycle. Curah hujan tinggi pun mempengaruhi produksi sehingga produksi turun khususnya di Kalimantan dan Sumatera,” tambahnya.

Menurut Ambono, kinerja keuangan perseroan pada 2010 sama dengan 2009 sudah cukup bagus. Sementara itu, volume produksi karet cukup signifikan pada semester pertama 2010. Kontribusi karet kepada pendapatan sekitar 37% pada 2010 dibandingkan tahun lalu sekitar 30%. Peningkatan kontribusi karet tersebut ditunjang volume produksi dan harga karet cukup bagus. “Mudah-mudahan pendapatan bisa sama dengan 2008 dan laba bersih bisa lebih baik dari 2008,” paparnya. [san/cms]
Sabtu, 04 September 2010 | 21:26 oleh Abdul Wahid Fauzie PENERBITAN OBLIGASI
UNSP seleksi arranger obligasi US$ 200 juta
JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) benar-benar akan menerbitkan surat utang alias obligasi berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS). Penerbitan obligasi global ini akan dilangsungkan pada semester I 2011 atau paling lambat awal semester II tahun depan.

“Jumlah obligasi yang akan kami terbitkan sekitar US$ 200 juta,” kata Presiden Direktur UNSP Ambono Januriato.

Menurut Ambono, dana ini akan digunakan untuk membayar kembali alias refinancing obligasi sebesar US$ 160 juta pada Oktober 2011. Sisanya, dana tersebut akan digunakan untuk membayar sejumlah utangnya baik kepada perbankan maupun institusi keuangan lainnya. Maklum saja, Ambono bilang, total utang UNSP beserta anak usahanya mencapai US$ 430 juta. Dengan refinancing ini nantinya utang jatuh tempo UNSP akan lebih lama.

Ambono menargetkan obligasi ini akan memiliki jangka waktu sekitar tiga hingga lima tahun. Ia juga berharap suku bunga obligasinya akan bisa sama dengan suku bunga obligasi yang akan jatuh tempo. “Semoga bisa sekitar 10,75%,” ucapnya.

Nah, untuk melancarkan aksinya, UNSP mengaku sudah ada lima invesment banking yang siap berminat menjadi arranger obligasi ini. Saat ini, UNSP masih melakukan seleksi. Jika tak meleset, setelah Lebaran UNSP akan memutuskan siapa yang menjadi arranger. “Kemungkinan kami akan tunjuk satu hingga dua arranger,” imbuhnya.
Harga Jual CPO Bakrie Sumatera Naik
“Tren harga sawit kuartal ketiga tahun ini cukup bagus, lebih tinggi dari perkiraan kami.”
SABTU, 4 SEPTEMBER 2010, 06:56 WIB Antique, Purborini

VIVAnews – PT Bakrie Sumatera Plantations memperkirakan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) perseroan sampai akhir tahun ini akan mencapai US$1.000 per ton.

“Tren harga sawit kuartal ketiga tahun ini cukup bagus, lebih tinggi dari perkiraan kami,” kata Direktur Utama Bakrie Sumatera Plantations Ambono Janurianto di Jakarta.

Dia mengakui, pada awal tahun ini perseroan hanya memperkirakan pergerakan harga CPO berada pada level US$650-700 per ton. Namun, pertumbuhan harga mencapai 60 persen dari tahun lalu dengan volume produksi tetap.

Ambono menambahkan, volume produksi yang tetap tersebut akibat industri tengah berada pada siklus kecenderungan menurun (downturn) paska panen raya tahun lalu.
“Tahun ini harga pupuk kembali normal tapi curah hujan tinggi, sehingga wash away dan pohon menjadi stress,” kata dia. Semua ini, menurutnya, terjadi pada perkebunan sawit perseroan yang berada di Kalimantan.

Secara keseluruhan, Ambono memperkirakan, produksi turun delapan persen. Kendati demikian, Bakrie Sumatera menargetkan perusahaan akan membukukan laba sebesar Rp2,9 triliun di akhir 2010. “Setidaknya, sama dengan laba bersih dua tahun lalu (2008),” ujarnya. (umi)
• VIVAnews
Jumat, 03/09/2010 21:17:26 WIB
Bakrie Plantations terbitkan obligasi US$200 juta
Oleh: Irvin Avriano
JAKARTA: PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk, perusahaan perkebunan milik Grup Bakrie, akan menerbitkan obligasi berdenominasi dolar AS senilai US$200 juta untuk merestrukturisasi utang yang jatuh tempo dengan nilai yang sama pada awal tahun depan.

Direktur Utama Bakrie Plantations Ambono Janurianto mengatakan rencana penerbitan itu kemungkinan besar akan direalisasikan pada awal tahun depan, bukan tahun ini. Hal itu terkait dengan masa berlaku laporan keuangan yang akan digunakan sebagai dasar penerbitan obligasi itu yang hanya 6 bulan.

“Laporan keuangan yang digunakan itu per September 2010, kalau penerbitan tahun ini sepertinya akan sulit karena waktunya sempit,” ujarnya kepada pers semalam.

Menurut dia, surat utang perseroan yang akan jatuh tempo tahun depan bernilai US$160 juta, dan sisanya utang lain.

Berdasarkan data Bloomberg, perseroan memiliki utang jatuh tempo pada tahun depan, melalui anak usahanya BSP Finance BV senilai Rp1,44 triliun dan melalui PT Grahadura Leidong Prima senilai Rp135,03 miliar.

Untuk memuluskan rencana itu, tuturnya, perusahaan sedang menyeleksi lima bank investasi (investment bank) asing yang akan bertindak sebagai pengatur penerbitan (arranger) obligasi itu.

Dia mengatakan komitmen yang akan diminta dari arranger penerbitan itu berupa komitmen terbaik (best efforts) dan bukan menjamin lakunya obligasi itu.(yn)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak positif kembali pada transaksi hari ini, Selasa, 31 Agustus 2010.

“Aksi selektif beli sejumlah saham akan mematahkan sentimen negatif,” kata Pardomuan Sihombing, Head of Research PT Recapital Securities kepada VIVAnews di Jakarta.

Dia memproyeksikan, IHSG hari ini berpotensi bergerak menuju kisaran level batas bawah (support) 3.096/3.050 dan batas atas (resistance) 3.120/3.150.

Pada transaksi Senin kemarin, indeks kembali melemah setelah turun tipis 5,16 poin atau 0,17 persen ke level 3.009,56 dari perdagangan Jumat pekan lalu yang melemah di posisi 3.104,73 atau terkoreksi 40,40 poin (1,29 persen).

Sedangkan indeks bursa Asia saat IHSG ditutup bergerak positif. Indeks Hang Seng menguat 139,87 atau 0,68 persen di posisi 20.737,22, Nikkei 225 terangkat 158,20 poin (1,76 persen) ke level 9.149,26, dan Straits Times naik 18,32 poin atau 0,62 persen menjadi 2.957,06.

Sementara itu, bursa Wall Street pada perdagangan Senin sore waktu New York atau Selasa dini hari WIB kembali bergerak negatif.

Indeks harga saham Dow Jones terkoreksi 140,92 poin (1,39 persen) menjadi 10.009,73, Standard & Poor’s 500 melemah 15,67 poin atau 1,47 persen ke level 1.048,92, dan indeks harga saham teknologi Nasdaq turun 33,66 poin (1,56 persen) di posisi 2.119,97.

Menurut Pardomuan, IHSG hari ini diperkirakan kembali menguat. Sentimen bursa regional dan penguatan harga komoditas akan menjadi pemicunya. “Selain itu, selektif beli terhadap saham unggulan akibat sentimen penguatan harga komoditas dan penurunan yang terjadi beberapa hari terakhir turut mendorong,” kata dia.

Bahkan, dia mengakui, sentimen bakal diumumkannya laju inflasi Agustus pada Rabu, 1 September 2010 diprediksi naik dari bulan sebelumnya sepertinya tidak terlalu direspons negatif pelaku pasar. “Solanya, pengaruh aksi selektif beli saham lebih kuat,” tutur Pardomuan.

Pardomuan merekomendasikan, selektif beli saham-saham di sektor komoditas, infrastruktur, dan konsumer di antaranya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Indofood Sukes Makmur Tbk (INDF), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR). (kd)

Sumber : VIVANEWS.COM
Selasa, 31/08/2010 06:00:29 WIB
Mau beli saham apa hari ini?
Oleh: Fahmi Achmad
JAKARTA: Kinerja indeks hari ini diperkirakan tak beda jauh dengan kemarin. Pengaruh kondisi bursa utama regional diperkirakan cukup kuat. Indeks diprediksi cenderung konsolidasi. Saham-saham yang dicermati antara lain INDF, LSIP,GGRM, BTEL, SGRO.

Berikut rekomendasi sejumlah sekuritas:

Trimegah Securities:
Ditengah kondisi bursa-bursa utama regional yang merambah teritori positif, IHSG gagal melakukan pergerakan menguji resistensi 3.160 dengan ditutup merosot tipis 0,17% di level 3.099. Apabila pada perdagangan hari ini IHSG kembali gagal bergerak di atas area 3.150, maka diperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang area yang mungkin sama dengan kemarin dan kembali menguji kekuatan support 3.080.

Panin Sekuritas:
Aksi ambil untung melanda IHSG pada perdagangan sesi sore kemarin sehingga indeks akhirnya ditutup melemah tipis. Investor tampaknya memilih untuk wait and see data inflasi yang akan diumumkan Rabu besok. Meski masih berada dalam pola uptrend, akan tetapi kami melihat beberapa indikator mengindikasikan cenderung melemah. Sementara hari ini kami perkirakan indeks akan bergerak konsolidasi dengan kisaran support-resistance 3.085-3.114.

eTrading Securities:
Pada awal perdagangan IHSG ditutup melemah 5 poin (-0,16%) walaupun data GDP dari amerika yang di luar ekspektasi analis yang membawa bursa regional menguat, tetapi IHSG setelah sempat menguat 30 poin akhirnya terjadi profit taking yang membawa IHSG melemah, hal ini dikarenakan adanya kebutuhan akan cash pada saat mendekati liburan lebaran tanggal 8 September 2010 dan juga persiapan untuk liburan jangka panjang yang membuat mereka memilih untuk tidak memiliki posisi dan jika kita lihat asing melakukan net buy sebesar Rp60 miliar dan tercatat paling besar di saham INDF, pada hari ini IHSG berada dalam kisaran 3.067 – 3.130 dengan saham-saham yang dapat diperhatikan INDF, LSIP,GGRM dan BTEL.

Sinarmas Sekuritas:
Indeks diperkirakan cenderung tertekan diduga pelaku pasar mencermati dampak angka inflasi Agustus yang diperkirakan bisa mendekati 1% (MoM) dan inflasi tahunan yang diperkirakan dapat melampaui suku bunga BI Rate. Potensi inflasi tahunan lebih besar dari suku bunga BI Rate dapat memberikan ruang naik suku bunga BI Rate. Kisaran gerak 3074 – 3128. Cermati saham : UNSP, INCO.

Erdikha Sekuritas:
IHSG ditutup melemah 5.17 point menjadi 3099.57 (-0.17%). Pelemahan sebagian besar saham-saham sektor perbankan menjelang keluarnya data inflasi bulan agustus menjadi salah satu pemicu pelemahan indeks. Pergerakan indeks masih rawan profit taking, sehingga kami perkirakan indeks masih akan bergerak mixed dengan kecendrungan negatif. Indeks kami perkirakan bergerak pada kisaran 3060-3145. Saham rekomendasi kami adalah BTEL, LSIP, dan SGRO.
3 Investor incar Domba
BISNIS INDONESIA

Negosiasi Bakrie dengan pemilik alot JAKARTA: Tiga perusahaan kelapa sawit tertarik mem- beli perusahaan oleoki mia milik Grup Domba Mas dan menyelesaikan perso al an kredit macet peru sa haan tersebut di Bank Mandiri.

Wakil Direktur Utama PT Bank Man diri Tbk Riswinandi menga ta kan pi haknya masih menunggu per kem bangan negosiasi antara Grup Domba Mas dan PT Bakrie Su ma tera Plan tations Tbk untuk me nye lesaikan pro ses akuisisi per usa haan tersebut.
Jika Bakrie batal meneruskan ren cana akuisisi, lanjutnya, ada dua sam pai tiga perusahaan nasional peng hasil minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang siap meng akuisisi perusahaan oleokimia milik Grup Domba Mas.

“Proses negosiasi antara Bakrie de ngan Domba Mas masih ber lang sung. Tiga hari lalu baru ada per te muan. Masih on-track meskipun pro gresnya belum terlihat. Kalau tidak oleh Bakrie, ada dua-tiga investor yang berminat,“ katanya.

Riswinandi mengatakan pihaknya men dorong percepatan proses akui sisi perusahaan milik Grup Domba Mas untuk optimalisasi recovery kre dit macet perusahaan itu.

Perseroan, ujarnya, menginginkan pembayaran seluruh utang Domba

Mas, termasuk utang bunga. Hanya saja, lanjutnya, Bank Mandiri tidak akan terlibat dalam proses kesepakatan antara kedua pihak.
“Kami hanya akan berhubungan dengan pihak yang berutang. Kami tidak ingin mencari risiko,“ katanya.

Bank Mandiri memberi batas waktu hingga September kepada PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk untuk merampungkan proses akuisisi. Jika tidak, lembaga intermediasi pelat merah itu akan menawarkan Domba Mas ke pihak lain.

Sebelumnya tiga pemodal perkebunan, PT Sampoerna Agro Tbk, Makin Group, dan Asian Agri mengincar aset Benua Indah Group (BIG), salah satu aset obligor bermasalah Bank Mandiri. Belum bisa dipastikan apakah ketiga perusahaan tersebut juga berminat membeli aset Domba Mas.
Terjepit Adapun, sumber Bisnis menyebutkan saat ini posisi Bakrie Plantations terjepit antara Bank Mandiri dan keluarga Susanto Lim, pemilik Grup Domba Mas. Di satu sisi, tuturnya, negosiasi dengan keluarga pemilik masih alot dan pada saat bersamaan ada tekanan untuk segera menyelesaikan transaksi tersebut.

Susanto Lim, melalui Grup Domba Mas, terjebak kredit macet di Bank Mandiri sebesar US$269 juta. Upaya restrukturisasi sebenarnya telah dimulai sejak 2006, tetapi terus tertunda hingga saat ini hingga ada kemajuan Bakrie Plantations hendak ma suk sebagai investor baru.

Direktur Utama PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk Ambono Januarianto menilai upaya manajemen PT Bank Mandiri Tbk mengingatkan tenggat akhir penyelesaian akuisisi tersebut sebagai hal wajar.

Saat ini proses finalisasi di Bank Mandiri telah selesai semua dan tinggal menunggu proses dokumentasi legal-formal di Credit Suisse, agar proses akuisisi bisa tuntas bersamaan seperti diminta bank.

“Saya baru-baru ini bertemu direksi Bank Mandiri. Kalau tidak salah term and condition akuisisi memang sampai 27 September. Jadi, wajar kalau mereka mengingatkan tenggat akhir akuisisi Domba Mas,“ tuturnya kepada Bisnis, kemarin.

Saat ini, lanjutnya, pembicaraan seputar aspek ekonomis akuisisi tersebut telah tuntas dan tinggal menunggu aspek legal formal. Perseroan masih membicarakan restrukturisasi utang di tiga perusahaan grup Domba Mas yang akan diakuisisi.

Menurut Ambono, proses pembicaraan di aspek legal dan restrukturisasi utang memang tidak mudah mengingat nantinya perseroan akan menanggung seluruh utang anak usaha perseroan pascarestrukturisasi.

“Kami ini the white knight yang harus menangani banyak bad debt di anak usaha Domba Mas. Ini tidak mudah karena melibatkan banyak pihak termasuk sindikasi kreditur di bawah Credit Suisse,“ jelasnya. (02/ARIF GUNAWAN S.) (redaksi@bisnis.co.id)
25/08/2010 – 16:39
Gaet Domba Mas, UNSP Bersaing dengan 2 Investor
Susan Silaban

(IST)
INILAH.COM, Jakarta – Bank Mandiri menjelaskan ada tiga investor yang tertarik untuk mengakuisisi Domba Mas. Salah satunya adalah PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).

Hal ini diungkapkan Direktur Bank Mandiri Tbk, Riswinandi seusai acara Lebaran Fair 2010 Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (25/8). “Ketiga investor ini disetujui mengakuisisi Domba Mas jika pembicaraan Domba Mas dengan UNSP tidak mendapat lampu hijau dari Bank Mandiri,” katanya.

Dengan demikian Bank Mandiri tidak menginginkan investor hanya mengakuisisi aset olekimianya saja. “Jangan akuisisi aset saja, tetapi keseluruhannya,” ujar Riswinandi.

UNSP hanya menginginkan mengakuisisi seluruh aset yang dimiliki Domba Mas. Riswinandi menambahkan UNSP pun harus melakukan pembayaran utang Domba Mas termasuk dengan bunga tidak hanya utang pokok. “Kami ingin pembayaran keseluruhan untuk optimalisasi recovery,” kilahnya.

Pembicaraan UNSP dengan Domba Mas berakhir pada September 2010. Namun, ia belum memastikan apakah pembicaraan akuisisi ini akan berlangsung atau tidak jika belum tuntas. [hid]
Tiga Perusahaan Antre Akuisisi Domba Mas
Ketiga calon investor yang sudah mengantre tersebut adalah perusahaan sawit lokal.
RABU, 25 AGUSTUS 2010, 16:44 WIB Arinto Tri Wibowo, Syahid Latif

VIVAnews – Beberapa investor siap mengakuisisi perusahaan oleokimia milik Grup Domba Mas, jika hingga September 2010, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk belum menyelesaikan rencana akuisisinya.

“Ada dua hingga tiga investor yang sudah menyatakan minatnya selain Bakrie,” kata Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), Riswinandi, di sela Gelar Karya Mitra Binaan Bank Mandiri di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu 25 Agustus 2010.

Menurut Riswinandi, ketiga calon investor yang sudah mengantre tersebut adalah perusahaan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) lokal.

Sesuai rencana semula, menurut Riswinandi, pembicaraan penyelesaian akuisisi Domba Mas oleh Bakrie Sumatera akan selesai pada September mendatang.
Manajemen hingga saat ini belum mengambil keputusan apakah akan memperpanjang masa negosiasi atau mengakhiri pembicaraan dan membuka peluang masuknya investor baru.

Riswinandi mengatakan, ketiga investor tersebut nantinya diperkenankan mengakuisisi Domba Mas jika penyelesaian aksi korporasi itu oleh Bakrie Sumatera tidak mendapat restu dari Bank Mandiri.

Bank Mandiri selama ini meminta agar akuisisi Domba Mas dilakukan untuk seluruh asetnya, tidak terbatas pada bisnis oleokimianya.

Di samping akuisisi seluruh aset Domba Mas, Bank Mandiri juga menginginkan pembayaran utang perusahaan CPO itu termasuk bunganya.
Sebelumnya, manajemen Bakrie Sumatera Plantations menyatakan proses akuisisi Domba Mas hingga saat ini tidak terhambat persoalan substansial. Penandatanganan Shares Purchase Agreement (SPA) untuk transaksi akuisisi saham-saham dari enam perusahaan di industri oleokimia milik Domba Mas Group juga telah dilakukan.

“Jadi sebenarnya, untuk perusahaan-perusahaan Domba Mas Group di bidang oleokimia, secara prinsip tidak ada lagi masalah,” kata Sekretaris Perusahaan Bakrie Sumatera, Fitri Barnas, beberapa waktu lalu. (hs)
• VIVAnews
EKONOMI
23/08/2010 – 09:41
Saham UNSP Trend Melemah

INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan saham Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) hari ini diperkirakan akan mengalami profit taking. Selama perdagangan akan bergerak di kisaran 230-300.

Demikian dikutip dari hasil riset Reliance Securities, Senin (23/8). “Hari ini kami perkirakan UNSP akan mengalami profit taking secara teknikal membentuk pola bullish engulfing yang mengindikasikan terjadinya bearish reversal.

Saham UNSP dibuka naik Rp5 ke Rp270 dengan volume 19.946 unit saham senilai Rp2,6 miliar sebanyak 116 kali transaksi. [hid]

2 Komentar »

  1. Bagaimana dengan proyek saya untuk pengembangan Rumah sakit Islam di Jawa tengah sebesar Rp 600 milyar bisa dapat dana segar ! lha semua sumber dana di Indonesia diarahkan untuk di pinjamkan ke Perusahaan besar semua. Bantu dong Rumah Sakit Islam di Jawa agar bisa berkembang….Bila ada pendana yang baik hati memberikan pinjaman silahkan hubungi saya.

    Salam,

    Ir. Suhermanto
    HP. 081320160185

    Komentar oleh Ir. Suhermanto — Oktober 19, 2011 @ 12:00 pm

    • niat baik, rencana baik, semoga ada yang mau mendanai dengan baik🙂

      Komentar oleh bumi2009fans — Oktober 19, 2011 @ 3:49 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: