Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Oktober 13, 2010

cara MAENIN the bakries … 161210

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:30 am

BUMI Sulit Tinggalkan Level Rp3.000
Headline
Satrio Utomo – facebook
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Rabu, 15 Desember 2010 | 10:34 WIB
TERKAIT

* BUMI Sulit Tinggalkan Level Rp3.000
* Wajib Suplai Domestik, BUMI Sideways
* Meulaboh Diguncang Gempa 5 SR
* BUMI Akan Bergerak di Atas Rp3.000
* Vallar Siap Tuntaskan Utang BUMI dan Berau di 2014

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Rabu (15/12) diprediksi sideways. Harga batubara di level US$115 jadi sentimen positif. Tapi, pemerintah mewajibkan 24,17% pasokan untuk domestik. Rekomendasi hold.

Pengamat pasar modal Satrio Utomo mengatakan, saham PT Bumi Resources (BUMI) sebenarnya mendapat sentimen positif dari kenaikan harga batubara ke level US$115 per metrik ton. Tapi, sektor batubara secara umum mendapat sentimen negatif dari keharusan untuk mensuplai kebutuhan domestik 24,17%.

Menurutnya, pasar melihat harga batubara yang dijual untuk domestik, akan dipatok oleh pemerintah. Karena itu, tidak mengikuti harga internasional. Karena itu, saham BUMI masih berat menguat dalam jangka pendek. “Saham BUMI masih kesulitan untuk meninggalkan level Rp3.000,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Selasa (14/12), saham BUMI ditutup melemah Rp25 (0,83%) jadi Rp2.975 dengan intraday tertinggi mencapai Rp3.000 dan terendah Rp2.925. Volume transaksi mencapai 40,1 juta unit saham senilai Rp119,2 miliar dan frekuensi 1.172 kali. Berikut wawancara lengkapnya:

Setelah melemah Rp25, bagaimana Anda memperkirakan, laju saham BUMI hari ini?

Saya kira BUMI akan sideways. Sebab, ada tarik menarik sentimen. Di satu sisi, emiten ini mendapat angin segar dari harga batubara yang naik mencapai level tertingginya US$115,81 per metrik ton berdasarkan harga mingguan di Newcastle. Begitu juga dengan harga minyak mentah dunia di level US$88,65 per barel .

Tapi, pada saat yang sama, pemerintah mewajibkan perusahaan produsen batubara untuk memasok kebutuhan dalam negeri sebesar 24,17% dari total keseluruhan produksi sehingga jadi tekanan bagi BUMI. Sebanyak 42 perusahaan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B), 1 BUMN dan 10 perusahaan kuasa pertambangan (KP) batubara atau izin usaha pertambangan (IUP) batubara diwajibkan menyuplai kebutuhan domestik.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan sideways dalam kisaran support Rp2.900-2.950 dan Rp3.050-3.100 sebagai level resistance-nya. Tapi, pertahanan saham BUMI sebenarnya cukup kuat kemarin di tengah koreksi tajam saham batubara yang lain. Kebijakan bahwa produsen batubara harus memasok kebutuhan dalam negeri telah memicu koreksi tajam saham PT Perusahaan Tambang Bukit Asam (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah (ITMG). Sedangkan BUMI hanya melemah Rp25 saja.

Mengapa kebijakan tersebut jadi sentimen negatif?

Sebab, pasar melihat harga batubara yang dijual untuk domestik, harganya akan dipatok oleh pemerintah dan tidak mengikuti harga internasional. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) membeli batubara PTBA di bawah harga internasional. Karena itu, saham BUMI masih berat menguat dalam jangka pendek.

Kalaupun naik hanya terbatas di level Rp3.050 dan di level 2.950 jika turun. Saham BUMI masih kesulitan untuk meninggalkan level Rp3.000. Kondisi ini susah dipastikan sampai kapan.

Bagaimana dengan sentimen market?

Market pun kurang mendukung. Kondisi market saat ini sedang tidak sehat. Asing sedang melakukan net sell dalam jumlah besar sehingga menyulitkan BUMI untuk bergerak ke mana-mana. Jadi BUMI cenderung sideways karena pergerakan market yang kurang sehat juga.

Dalam tiga hari terakhir tekanan jual asing masih besar. Tapi apa alasannya belum jelas apakah murni profit taking atau untuk menebus saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) yang sudah murah. Sebab, jika melihat market regional, semua bergerak positif kemarin.

Karena itu, sampai akhir tahun IHSG pun berpeluang mendatar. Kalaupun naik, level 3.800-3.850 akan menjadi resistance yang kuat. Sebaliknya, jika turun tidak akan jauh, hanya ke level support 3.660. Jadi, pasar kelihatannya masih menunggu arah market selanjutnya. Sebab, di awal tahun depan IHSG masih potensial naik. Saya masih percaya untuk kuartal pertama 2011, indeks bisa mencapai 4.100-an.

Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?

Saya rekomendasikan hold untuk BUMI. Kalau mau beli harus nunggu di level Rp2.750-2.500. [ast]

Harga Saham BUMI Masih di Bawah Nilai Sebenarnya
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Selasa, 14 Desember 2010 | 09:49 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih berada di bawah nilai sebesarnya.

Hal ini disampaikan Nathaniel Rothschild, Chairman Vallar Plc saat berkunjung ke Indonesia kemarin. “Apalagi kinerjanya juga meyakinkan, jadi investor melakukan aksi beli,” ujarnya.

Menurutnya, saat menggelar acara roadshow ke Amerika dan Eropa, Vallar bertemu dengan sejumlah manajer investasi global. “Saya tahu sendiri, semua manajer yang saya temui merekomendasikan beli untuk BUMI,” tukasnya.

Selasa, 14 Desember 2010 | 00:44 oleh Cipta Wahyana kontan
TUKAR GULING BUMI-VALLAR
Nat Rothschild: Vallar adalah bisnis pribadi saya

JAKARTA. Darah Keluarga Rothschild boleh saja mengalir di tubuh Nathaniel Rothschild. Namun, tak semua bisnis Nat, demikian ia biasa dipanggil, berhubungan dengan bisnis keluarga besar Rothschild. Salah satunya adalah Vallar Plc yang belakangan heboh menjadi perbincangan karena menggandeng Keluaga Bakrie.

Dalam kujungan ke Jakarta Senin (13/12), Nat menegaskan bahwa Vallar merupakan bisnis pribadinya. Dengan kata lain, Vallar Plc yang akan segera berganti nama menjadi Bumi Plc tidak memiliki kaitan dengan bisnis keluarga besar Rothschild. “Saya sendiri dan kolega saya yang mendirikan perusahaan ini,” tegas Nat.

Ia juga menggambarkan transaksi Vallar dengan Grup Bakrie dan PT Recapital Advisors sebagai deal yang spesial. “Ini merupakan investasi saya yang paling signifikan,” kata Nat lagi. Karena itulah, ia berniat untuk terlibat aktif di Vallar dalam beberapa tahun mendatang.

Seperti pernah ditulis http://www.kontan.co.id sebelumnya, tukar guling Vallar, Grup Bakrie, dan Recapital, akan melibatkan dua transaksi besar.

Pertama, Vallar akan membeli saham 75% saham BRAU milik PT Bukit Mutiara, unit usaha Recapital, senilai US$ 1,584 miliar. Artinya, saham BRAU dihargai Rp 540 per saham. Vallar akan membayar transaksi ini dengan dua cara:

* 35% saham BRAU akan dibayar dengan duit tunai sebesar US$ 739 juta. Dari jumlah ini, Vallar akan membayarkan US$ 639 juta kepada Mutiara setelah penandatanganan transaksi ini.

* untuk membayar 40% saham BRAU, Vallar akan menyerahkan 52,3 juta saham baru kepada Mutiara. Harga setiap saham baru Vallar ini adalah £ 10,00 per saham

Kedua, Vallar akan menyerahkan 90,1 juta saham baru (terdiri dari 62,7 juta saham biasa dan 27,4 juta saham biasa tanpa hak voting) yang bernilai £ 10,00 per saham kepada Bakrie Group untuk membayar 25% saham BUMI.

Setelah proses transaksi selesai sekitar 8 April 2011, Grup Bakrie akan menguasai 43% saham Vallar, Recapital (lewat Bukit Mutiara) memiliki 24,9%, pemegang saham biasa Vallar saat ini menguasai 28,3%, serta pendiri dan manajemen Vallar memiliki 3,8% saham.

Siap menambah saham

Memang, Nat tidak menutup kemungkinan bahwa keluarga besarnya akan memberikan bantuan. Tapi, kemungkinan besar, bentuknya hanya asistensi sesuai keahlian mereka masing-masing, bukan dana. Apalagi, kini, Vallar masih memiliki kas yang cukup kuat.

Di akhir September 2010 lalu, pos kas adan setara kas Vallar berisi £ 640,40 juta. Kalau pun nanti Vallar butuh dana lagi, Nat mengaku siap menyetorkan modal tambahan.

Sebagai cataan, Keluarga Rothschild telah memiliki pengalaman 200 tahun di dunia keuangan. Seperti digambarkan di situs http://www.rothschild.com, kini, bisnis keluarga ini mencakup empat lini utama, yakni: investment banking, corporate banking, private banking & trust, dan bisnis lain-lain.

Nat Rothschild sendiri telah malang melintang di pasar keuangan selama 15 tahun. Kini, ia menjabat sebagai Co-chairman dan Co-founder Attara Capital LP (pengganti Atticus European Fund).

Usai Euforia BRMS, Investor Balik ke BUMI
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Asteria
Pasar Modal – Jumat, 10 Desember 2010 | 05:51 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Animo pasar terhadap saham pendatang baru PT Bumi Resources Mineral (BRMS) memang tinggi. Namun, setelah euforia berakhir, investor akan kembali ke saham primadona, PT Bumi Resources (BUMI).

Demikian diungkapkan analis PT Jakarta Securities Teuku Hendry Andrean kepada INILAH.COM, kemarin. Menurutnya, saham BRMS memang banyak diminati investor, terutama ritel. Namun, situasi ini dinilai hanya eforia sesaat.

Biasanya pada hari pertama listing di bursa, saham IPO memang selalu mengalami peningkatan harga. Setelah itu minat akan emiten ini pun berkurang. “Setelah satu dua hari kenaikan BRMS, lebih baik kembali ke BUMI,” katanya.

Untuk investasi jangka panjang di BRMS, imbuhnya, investor akan mencermati lagi aksi korporasi perseroan. Hal ini mengingat pendapatan BRMS hanya berasal dari dividen Newmont Nusa Tenggara, bukan dari operasional. “Sehingga untuk jangka panjang investor harus menunggu proyek lain beroperasi,” paparnya.

Pada hari pertama listing di bursa, BRMS ditutup naik Rp65 (10,23%) ke Rp700, dengan intraday tertinggi Rp820 dan terendah di Rp690. Emiten mineral ini mendominasi pasar, dengan nilai transaksi tercatat Rp501 miliar, volume 1,38 juta lembar saham dan frekuensi 14.472 kali.

Saat ini, hanya PT Gorontalo Minerals, anak usaha BRMS, yang sudah mendapatkan izin pinjam pakai kawasan hutan untuk eksplorasi tambang tembaga dan emas Bone Belango, Sulawesi. “Namun, karena cadangannya tidak terlalu besar, maka gain dari tambang ini kurang menjanjikan,” kata Hendry.

Izin ini memungkinkan Gorontalo yang terletak di Kabupaten Bone Belango, di Provinsi Gorontalo, Sulawesi, untuk memulai kegiatan eksplorasi dan studi kelayakan di lokasi Cabang Kiri dan Sungai Mak.

Dengan persediaan mineral 130 juta ton, Gorontalo Minerals merupakan salah satu aset inti BRMS yang akan menambah nilai terhadap perusahaan. “Gorontalo akan memberikan kontribusi pada 2014 tapi tergantung dari feasibility study,” ujar Direktur BRMS, Yuanita Rohali, Kamis (9/12).

Sementara Bumi Mauritania SA, anak usahanya yang terletak di Afrika Barat diperkirakan dapat memberikan kontribusi produksi kepada BRMS pada kuartal keempat 2011, dengan target produksi bijih besi sekitar 600 ribu ton per tahun.

Adapun Bumi Resources Japan Company Ltd., anak usaha di bidang jasa pemasaran yang berlokasi di Jepang, akan memberikan kontribusi pendapatan US$20juta pada 2011. Hingga akhir 2010, BRMS akan memperoleh dana US$ 14 juta dari anak usahanya itu. “Dua kali lipat dari perolehan per Juni 2010 yaitu US$7 juta dengan asumsi trennya sama,” ujarnya.

Adapun laba bersih sebesar Rp174,68 miliar diperoleh dari NNT, dengan kepemilikan 18% pada Juni 2010. Selanjutnya kontribusi pendapatan 2012 akan didapatkan tambahan dari Dairi Prima Mineral. “Diharapkan sisi revenue bisa dobel demikian pula Ebitda,” tegas Yuanita.

Teuku Hendry menambahkan, peningkatan kepemilikan di Newmont dinilai merupakan langkah yang paling efektif meningkatkan daya tarik BRMS dan BUMI. Namun, hal ini masih menunggu keputusan lebih lanjut.

Saat ini, BRMS adalah pemilik 18% saham NNT secara tidak langsung melalui PT Multi Capital. Multicapital menguasai 75% saham di PT Multi Daerah Bersaing (MDB), yang memiliki 24% saham NNT hasil divestasi periode 2006-2009.

BRMS melalui Multicapital, berencana menambah kepemilikan saham di MDB dari 75% menjadi 83% dengan cara mengambil alih mandatory convertible notes (MCN) senilai Rp 4,959 triliun.

MCN itu diterbitkan MDB sebagai konsekuensi atas utangnya kepada BRMS senilai USS 850 juta, saat mengakuisisi 24% saham divestasi NNT. Jika Multicapital jadi menambah saham di PT MDB hingga 83%, berarti saham tak langsung Multicapital di NNT akan bertambah menjadi 19,92%.

Dengan kepemilikan BRMS yang masih minimal atas NNT, Hendry memperkirakan, setelah eforia IPO berakhir, investor akan beralih lagi ke induk usahanya, BUMI.

Terutama karena IPO ini berimbas lebih besar pada BUMI, seiring peningkatan ekuitas dan penurunan leverage perseroan. “Hal ini akan terlihat pada laporan kinerja BUMI full year yang lebih baik ketimbang 3 kuartal sebelumya,”ujarnya.

Dana IPO BRMS akan digunakan BUMI untuk melunasi utang anak usahanya, Calipso Investment Pte Ltd senilai US$ 148,8 juta kepada Brights Venture Pte Ltd, perusahaan milik grup Bakrie. Brights ventures, pada 26 Mei 2010 memberikan pinjaman sebesar US$ 150 juta kepada Calipso dengan bunga 10% per tahun serta pembayaran secara periodik pada akhir setiap triwulan.

BRM dijadikan sebagai penjamin pinjaman, di samping gadai atas seluruh saham Calipso yang dimiliki BRM. Sentimen positif untuk BUMI juga didukung harga batu bara pada 2011 akan lebih baik ketimbang tahun ini. “Fokus investor kembali ke BUMI, sentimen BRM hanya IPO,” ujarnya. [mdr]

Saham Bumi Minerals sentuh Rp820
Oleh Arif Gunawan S. | 09 December 2010

bisnis
JAKARTA: Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk membuka perdagangan perdananya dengan kenaikan sebesar 25,98% ke level Rp800, dibandingkan dengan posisi pencatatan awal Rp625 per unit.

Harga tertinggi saham emiten berkode BRMS ini sempat tercatat pada level Rp820, dengan posisi terendah Rp750. Volume perdagangan tercatat 303.266 dengan nilai Rp115,65 miliar melalui 3.194 kali transaksi.

Perseroan melepas 3,3 miliar saham ke publik untuk meraup dana Rp2,09 triliun, dengan waran sebanyak 2,2 miliar waran seharga Rp700.

Direktur Keuangan Bumi Minerals Yuanita Rohali menyatakan pencatatan saham perdana perseroan menawarkan kesempatan investasi yang unit dalam portofolio pertambangan multi-produk di Indonesia.

“Bumi Minerals terdiri dari berbagai aset dengan jadwal produksi berbeda yang saling menunjang satu sama lain. Kami memiliki aset produksi di proyek tembaga dan emas Newmont, juga proyek seng dan timah hitam Dairi, dana set biki besi Mauritania,” tuturnya kepada pers, di sela pencatatan perdana pagi ini.

Executive Director of Investment Bank PT Danatama Makmur Vicky Ganda Saputra mengatakan pemodal domestik maupun asing meminat pelepasan saham tersebut. Namun dia tidak membeberkan porsi pemodal asing atas saham perdana anak usaha grup Bakrie tersebut.

PT Danatama Makmur dan PT Nomura Indonesia bertindak sebagai penjamin emisi, dengan ditunjang tiga agen penjual asing yakni Credit Suisse, JP Morgan, serta Nomura International.

Kepemilikan saham setelah penawaran umum saham perdana serta konversi mandatory convertible notes (MCN) dan sebelum konversi waran adalah sebagai berikut; PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar 58,14% dan 28,94%, PT Lumbung Capital sebesar 0,01%, dan masyarakat sebesar 12,90%. (mrp)

Kamis, 09/12/2010 09:42 WIB
Listing Perdana
Saham Bumi Minerals Naik 25% ke Rp 800 per Saham
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Harga saham PT Bumi Resources Minerals (BRMS) pada pencatatan saham perdana (IPO) Kamis (9/12/2010) langsung naik ke level Rp 800 meningkat 25,98% atau Rp 165 dari harga perdananya Rp 635 per lembar.

Pada awal pembukaan perdagangan saham pukul 09.30 JATS hari ini, saham BRMS meningkat signifikan Rp 800 dari penetapan harga sebelumnya, Rp 635 per lembar. Hingga pukul 9.35 waktu JATS, saham berada di kisaran Rp 760 per lembar saham, dan sempat menyentuh harga tertinggi Rp 820 per lembar.

PT Bumi Resources Minerals, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan melepas sebanyak-banyaknya 4,323 miliar lembar saham sahamnya kepada publik. Selain itu perseroan juga menerbitkan waran sebanyak 2.882.000.000 lembar dengan rasio 3:2.

Bumi Minerals juga telah menunjuk PT Danatama Makmur dan PT Nomura Indonesia sebagai penjamin emisi. Sedangkan sebagai agen penjual asing, Bumi Minerals menunjuk Credit Suisse, JP Morgan, serta Nomura International.

Dana hasil IPO akan digunakan untuk ekspansi perusahaan pertambangan. BRM merupakan anak perusahaan yang 99,99% sahamnya dimiliki BUMI yang beberapa waktu lalu telah mengkonsolidasikan 4 anak usahanya yang bergerak di sektor non batubara dalam satu perusahaan.

Keempat perusahaan tersebut adalah Lemington Investment Pte Ltd. (memiliki Bumi Mauritania dan Konblo Bumi Inc.), Ca-lipso Investment Pte Ltd (memiliki Herald Resources Ltd, PT Citra Palu Minerals dan PT Multi Capital (memiliki PT Newmont Nusa Tenggara).

Bumi Minerals merupakan perusahaan tambang yang fokus menggarap tambang-tambang mineral yang memiliki permintaan tinggi di dunia. Melalui 6 tambang yang dimilikinya, Bumi Minerals akan memproduksi 6 komoditas mineral yaitu, emas (gold), tembaga (copper), timbal/timah hitam (lead), seng (zinc), bijih besi (iron ore), dan berlian (diamond), serta mineral berharga lainnya.

(wep/ang)

Saham BUMI, Kamis (9/12) diprediksi masih akan bergerak menguat. Namun, apresiasi terbatas karena perhatian investor akan terbagi ke listing anak usahanya, BRMS. Rekomendasi buy on support!

Cece Ridwanullah, analis Ekokapital Securities mengatakan, saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini berpeluang menguat, didukung kenaikan harga batu bara, “Hal ini juga yang mendasari ramainya perdagangan saham BUMI kemarin,”katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (8/12).

Harga batu bara Newcastle secara mingguan yang berakhir 3 Desember kemarin, berada di level US$111,24. Kenaikan harga komoditas ini mengikuti harga minyak mentah dunia yang mendekati level US$90 per barel .

Cece menambahkan, apresiasi saham BUMI juga terjadi menjelang Initial Public Offering (IPO) anak usahanya PT Bumi Resourses Minerals (BRMS). Sentimen ini masih akan berlanjut hari ini, meskipun terbatas.

“Untuk Kamis (9/12) ini, saya kira ada peluang penguatan BUMI tapi investor justru akan konsentrasi juga pada listing anak usahanya, BRMS. Penguatannya jadi terbatas,” katanya

Ia memperkirakan, saham BUMI akan bergerak dalam kisaran support Rp3.025 dan level Rp3.200-3.300 sebagai level resistance-nya. Kecuali, jika level Rp3.150 tembus ke atas pada perdagangan kemarin, BUMI berpotensi kuat mengarah ke level resistance Rp3.200. “Tapi, pada perdagangan kemarin, level Rp3.150 tidak terlalu

Sumber : INILAH.COM
Senin, 06/12/2010 13:35 WIB
Investor Ritel Dapat Jatah 5,21% Saham IPO Bumi Mineral
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

😦

sedikit abis dah

Jakarta – Investor institusi PT Bumi Minerals Resources Tbk (BMRS) mendapat jatah 3,128 miliar lembar dalam penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) anak usaha grup Bakrie ini. Jatah ini setara dengan 94,79% dari total saham yang ditawarkan sebanyak 3,3 miliar lembar. Sisanya 5,21% diserap investor ritel.

Demikian disampaikan Executive Director of Investment Bank PT Danatama Makmur, Vicky Ganda Saputra sebagai lead underwriter pelaksanaan IPO BRMS, kepada detikFinance di Jakarta, Senin (6/12/2010)

“Yang saya klasifikasikan adalah ritel dan institusi. Bukan domestik dan asing, karena menurut saya itu sama saja. Ritel dapat 5,21%, instusi 94,79%.

Vicky menambahkan, investor institusi yang paling banyak menyerap adalah Asset Management, Financial Institution, dan Perseroan Terbatas. Dimana seluruh penjatahan yang mereka dapat hanya 20-30% dari permintaan saham perdana BRMS.

“Penjatahan hanya 20-30% yang mereka order. Ini berlaku (institusi) yang internasional. Untuk lokal kita blended semua,” jelasnya.

Dalam penawaran saham selama periode offering tersebut, jumlah pemesanan atas porsi alokasi penjatahan terpusat (pooling)mengalami kelebihan permintaan (oversubsribe) 29,89 kali.

Anak usaha grup Bakrie ini juga menunjuk Danatama Makmur dan Nomura Indonesia sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Saham (Joint Lead Underwriters). Credit Suisse, JP Morgan dan Nomura Internasional juga berlaku sebagai Internasional Selling Agents.

Sebanyak lebih dari 2.200 investor publik melakukan pemesanan saham BRMS pada harga Rp 635 per lembar. Dimana dalam saham dilekatkan waran dengan rasio 3:2 dan harga pelaksanaan waran Rp 700 per lembar. Jumlah waran sendiri 2,2 miliar lembar.

Sebanyak 3,3 miliar saham perdana ditawarkan perseroan kepada publik atau setara 18,16% dari total saham yang dicatatan. “Dana yang diperoleh akan dialokasikan untuk lebih memacu pertumbuhan portofolio aset-aset pertambangan mineral BRM secara lebih optimal,” ujar Direktur Keuangan BRMS, Yuanita Rohali.
(wep/ang)
IPO Bumi Resources Mineral Sesuai Jadwal
Headline
IST
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Rabu, 1 Desember 2010 | 20:24 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRM), Yuanita Rohali menuturkan penawaran umum saham perdana Perseroan tetap sesuai jadwal.
“Sampai saat ini jadwal IPO BRM masih sesuai schedule yaitu tanggal 9 Desember 2010,” ujar Yuanita, lewat pesan singkatnya, Rabu (1/12). Sebelumnya diberitakan Putusan Majelis Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memenangkan gugatan PT Pukuafu Indah atas kepemilikan saham divestasi 31% PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). BRM adalah pemilik 18% saham NNT secara tidak langsung melalui kepemilikan di PT Multi Capital (MC), yang memiliki 75% saham di PT Multi Daerah Bersaing (MDB). Saham yang ada di MDB ini dulu milik Newmont Indonesia Limited (NIL) dan Nusa Tenggara Mining Corporation (NTMC) yang dijual kepada pemerintah. Seperti diketahui, PT Bumi Resources Mineral Tbk akan menawarkan saham ke publik sebanyak-banyaknya 4,32 miliar dengan nilai nominal Rp625. Perseroan menggunakan hasil penawaran umum ini sebesar US$148,800 juta akan digunakan untuk melunasi seluruh utang Calipso berdasarkan US$150 juta loan agreement dengan Bright Ventures Pte.Ltd yang merupakan pinjaman jangka pendek sehubungan pembiayaan sebagian belanja modal dan modal kerja anak perusahaan yaitu BM, CPM dan GM serta untuk keperluan modal kerja perseroan. Selain itu, sisa dana hasil penawaran umum akan digunakan sebagai bagian dari tambahan pendanaan belanja modal. Dana hasil pelaksanaan waran seri I akan digunakan oleh Perseroan untuk sebagai bagian dari belanja modal untuk melanjutkan kegiatan eksplorasi. Dana yang digunakan untuk belanja modal diharapkan dapat memfinalisasikan pekerjaan dan pengembangan di aset-aset Mauritania dan Dairi sehingga keduanya diharapkan dapat memulai produksi dalam dua tahun ke depan. Jumlah saham yang dicatatkan sebanyak-banyaknya 19.191.608.000 saham
Ada pun yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek yaitu PT Danatama Makmur dan Nomura. Pencatatan saham perdana PT Bumi Resources Minerals Tbk akan dilakukan pada 9 Desember 2010. [cms]

Sebanyak 1,27 juta lot atau 635 juta saham setara dengan 3,06% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kemarin di-crossing (transaksi tutup sendiri) di Bursa Efek Indonesia pada harga Rp2.027 per saham.

Seorang pialang yang mengetahui hal itu mengatakan crossing dilaksanakan menjelang pukul 15.00 kemarin sore. Apabila dikalkulasi, nilai transaksi jual beli saham Bumi, eksportir batu bara terbesar di Indonesia, mencapai Rp1,29 triliun. Harga crossing saham Bumi itu diskon 28,25% dari saham Bumi di pasar saat ini di Rp2.825, terkoreksi 5,04% dari penutupan kemarin.

Sumber : BISNIS.COM
Ratusan calon investor antre mengambil formulir pemesanan pembelian saham dalam masa penawaran umum PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) di Jakarta, Selasa (30/11).

Total jumlah saham yang ditawarkan sebanyak 3,3 miliar saham atau kurang lebih 18% dari keseluruhan saham BRMS dengan harga Rp 635 per saham.

Sementara minat awal pemesanan saham perdana dalam proses bookbuilding IPO perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan mineral tersebut mengalami kelebihan permintaan hingga lima kali.

Sumber : INVESTORINDONESIA
Hanya sekitar empat bulan setelah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek London pada Juli 2010, akuisisi menjadi aksi korporasi pertama Vallar Plc.

Kebijakan strategis perusahaan yang juga tertuang dalam prospektus 9 Juli 2010 itu diwujudkan dengan menandatangani perjanjian jual beli dengan PT Bakrie & Brothers Tbk dan beberapa kelompok usaha Bakrie serta PT Berau Coal Energy Tbk.

Transaksi ‘tukar guling’ dengan dua produsen batu bara terbesar di Indonesia itu akan menjadikan Vallar memiliki sekitar 25 persen saham di PT Bumi Resources Tbk. Setelah transaksi tersebut ditandatangani, Vallar akan berganti nama menjadi Bumi Plc dan Bakrie akan menguasai 43 persen saham di perusahaan tersebut.

Bukan hanya dengan Grup Bakrie, Vallar melakukan aksi korporasi serupa dengan PT Berau Coal Energy Tbk. Vallar membeli 75 persen saham produsen batu bara itu dengan kombinasi pembayaran tunai dan penerbitan saham baru.

Dalam keterbukaan informasi pada situs Bursa Efek London, Vallar kembali akan melakukan mandatory tender offer kepada pemegang saham minoritas Berau Energy. Vallar pun berniat untuk menambah kepemilikan saham di Bumi Resources pada 2011.

Vallar, setelah berganti nama menjadi Bumi Plc, akan dipimpin oleh Indra Bakrie bersama Nathaniel Rothschild. Bersamaan dengan proses transaksi itu, Vallar pun menyatakan akan mencari kesempatan untuk melakukan penc

Sumber : VIVANEWS.COM

Ratusan investor ritel saham memadati area penawaran saham IPO PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRM) di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. BRM mulai menawarkan sahamnya ke publik dengan harga Rp 635 per saham.

Dari pantauan detikFinance, Selasa (30/11/2010), penawaran yang dibuka sejak pukul 09.30 WIB ini sudah dipadati ratusan investor ritel hingga pukul 11.00. Dan terlihat penawaran ini sepi joki saham.

Rencananya, BRM akan menawarkan 3,3 miliar lembar saham kepada publik. Namun belum diketahui berapa porsi yang akan didapatkan oleh investor ritel.

“Sejak hari ini sampai 2 Desember selama 3 hari berturut-turut kami akan melaksanakan masa penawaran umum yang dilakukan secara serentak di berbagai kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Surabaya, dan Medan,” ujar Executive Director of Investment Banking PT Danatama Makmur Vicky Ganda Saputra.

Direktur Keuangan BRM Yuanita Rohali mengatakan minat awal pemesanan saham perdana BRM mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe sampai 5 kali.

“BRM menetapkan penawaran saham sebesar Rp 635 per lembar dan menerbitkan waran sebanyak 2,2 miliar lembar dengan rasio 3:2, dengan harga pelaksanaan waran Rp 700 per waran,” ujar Yuanita.

Dana yang dihimpun dari IPO ini ditargetkan mencapai Rp 2,1 triliun, dan Rp 1,54 triliun dari hasil penjualan waran perseroan. Dana tersebut akan digunakan untuk belanja modal perseroan serta anak-anak usahanya yang lain.

Sumber: detikcom

Saham PT Bumi Resources (BUMI) masih berada pada tren penguatannya. Namun, koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat membalikkan arah emiten batu bara ini.

Presiden Direktur Asia Securities Wim Al Fatih mengatakan, saham BUMI pada Selasa (30/11) sebenarnya masih berpotensi menguat. Kondisi ini masih jelas terlihat sejak dua pekan lalu, dimana secara teknikal, moving average masih berada pada tren bullish.

Namun, pelemahan bursa dapat berimbas negatif pada emiten ini. kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 11,864 poin (0,33%) ke level 3.630,636

Sumber : INILAH.COM
January Effect Akan Pacu BUMI ke Level Rp5.000
Headline

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Senin, 29 November 2010 | 09:19 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Senin (29/11) diprediksi rebound. Para fund manager mempercantik penempatan portofolio menjelang akhir tahun. Di Januari effect saham ini bisa capai Rp5.000. Buy!

Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) awal pekan ini, karena antisipasi pasar atas momentum akhir tahun di mana para fund manger mempercantik penempatan portofolio. Mereka melakukan perburuan di saham-saham komoditas termasuk BUMI.

Karena itu, Irwan merekomendasikan beli sejuta umat ini dengan target Rp3.300 dalam pekan ini. Sedangkan target jangka menengahnya di level Rp5.000 awal 2011. “Level itu bisa dicapai di January effect pada 20 Januari hingga pertengahan Februari 2011,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Jumat (26/11), saham BUMI ditutup melemah Rp25 (0,81%) jadi Rp3.025, dengan intraday tertinggi mencapai Rp3.050 dan terendah Rp2.975. Volume transaksi mencapai 214,1 juta unit saham senilai Rp321,3 miliar dan frekuensi 2.320 kali. Berikut wawancara lengkapnya:

Akhirnya BUMI melemah Rp25 akhir pekan kemarin. Bagaimana prediksi pergerakan BUMI awal pekan ini?

Saham BUMI akan naik. Potensi penguatannya karena berbagai faktor. Salah satunya adalah antisipasi pasar atas momentum jelang akhir tahun. Para fund manager regional akan mempercantik penempatan mereka di portofolio.

Mereka masuk di saham-saham sektor pertambangan atau energi secara umum terutama saham BUMI. Ini seiring tren harga komoditas dan energi yang akan melaju pada awal Januari hingga Maret 2011 dengan kenaikan yang tajam.

Saat ini harga minyak mentah dunia di level US$83,76 per barel dan batu bara masih betah di atas US$100 di level US$105 per metrik ton. Meskipun turun dari level US$108 per metrik ton, tren pergerakan harga batu bara akan terus naik.

Akan bergerak di kisaran berapa saham BUMI?

Awal pekan, akan kembali rebound ke level resistance Rp3.075-3.150 dan Rp3.000 sebagai level support-nya. Jika melihat trennya, target BUMI sepekan ke depan di level Rp3.300.

Bagaimana listing saham PT Bumi Resourses Minerals (BRMS), anak usaha BUMI pada awal Desember?

Ya faktor itu juga. Ini akan memicu perpindahan dana dari market ke saham pendatang baru itu. Meski tidak banyak, tapi cukup positif bagi induk usahanya yaitu BUMI. Sebab, saham-saham di sektor yang sama atau grupnya akan mengalami penguatan. Di sisi lain, investor juga akan melihat indikator lainnya di pasar regoional. Jika industri yang sejenis naik, di dalam negeri pun akan terus naik.

Lalu, pasar juga akan melihat, apakah saham BRMS itu oversubscribe atau tidak. Jika oversubscribe-nya terlalu banyak hingga 5-6 kali, saham-saham di sektornya akan terus naik. Sebab, pascarefund, sebagian investor tidak mendapatkan saham BRMS. Mereka berpeluang, akan membelinya di pasar sekunder pascalisting.

Pembelian juga terjadi pada saham-saham di sektor yang sama ataupun grupnya, yaitu grup Bakrie termasuk BUMI. Pasar juga akan memastikan seberapa besar para fund manager asing masuk di saham BRMS. Sebab, investor asing yang memiliki likuiditas cukup banyak.

Bagaimana dengan asing yang mencatatkan aksi jual bersih senilai di atas Rp1 triliun akhir pekan lalu?

Itu hal biasa terjadi karena ada crossing. Investor menjual di pasar negosiasi dan bukan di regular market. Kalau di regular market tidak akan sebesar itu.

Bagaimana dengan kabar PT Energi Mega Persada di grup Bakrie yang akan diakuisisi Pertamina setelah PT Medco Energy?

Itu tidak terlalu berpengaruh banyak pada pergerakan saham BUMI. Sebab, ini merupakan rumor lama. Sebab, jika BUMN akan akuisisi saham swasta, prosesnya akan panjang karena harus melalui DPR. Karena itu, aksi korporasi ENRG belum bisa dipastikan apakah berpengaruh positif atau tidak atas BUMI. Itu belum pasti sehingga belum akan jadi sentimen positif bagi saham-saham di grup Bakrie termasuk BUMI.

Apa rekomendasi Anda untuk BUMI?

Saya rekomendasikan beli saham BUMI dengan target Rp3.300 dalam pekan ini. Sedangkan target jangka menengahnya di level Rp5.000 pada Januari 2011. Level itu bisa dicapai di January effect pada 20 Januari hingga pertengahan Februari 2011. [ast]
Awal Pekan, Cermati Bakrie, META & AKRA
Headline

Oleh: Asteria
Pasar Modal – Senin, 29 November 2010 | 06:40 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia pada perdagangan Senin (29/11) diperkirakan akan berbalik arah. Investor bisa trading pada saham Bakrie, META dan AKRA.

Pengamat pasar modal Irwan Napitupulu mengatakan, indeks hari ini masih berpeluang menguat. Posisi penutupan IHSG pekan kemarin di atas 2.500, dinilainya masih membuka potensi rebound. Sedangkan koreksi hanya akan sebatas teknikal, “Trend IHSG masih bullish, bergerak di kisaran 2.900-3.000,” katanya kepada INILAH.COM.

Kendati ada penguatan, Irwan menilai, trend bullish indeks mulai terbatas.Hal ini akibat perkembangan krisis kredit diIrlandiayang dikhawatirkan akan merambat ke negara-negara PIGS (Portugal, Irlandia,Greece, dan Spanyol).Selain meningkatnya tensi geopolitik di Semenanjung Korea.

“Namun, kondisi ini masih tergantung pada penjualan ritel di AS pada libur Thanksgiving kemarin, apakah bisa mengangkat tekanan pada indeks global atau tidak,” paparnya.

Di tengah kondisi ini, Irwan merekomendasikan saham grup Bakrie, seperti PT Bakrie & Brothers (BNBR), PT Energi Mega Persada (ENRG), PT Bakrieland Development (ELTY) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP), yang masih berada dalam tren bullish dan secara teknikal masih di area support. “Investor bisa trading pada saham-saham ini,” katanya.

Namun, khusus PT Berau Coal (BRAU), Irwan merekomendasikan jual di sekitar level Rp530. Ini karena Vallar Plc, perusahaan milik keluarga Rothschild yang menjadi pengendali baru BRAU akan menggelar tender offer atas sisa saham publik sebanyak 3,490 miliar (10%) di harga Rp 575 per saham.”Tender offer ini membuat peluang penguatan BRAU jadi terbatas,” pungkasnya.

Sementara dihubungi terpisah, Willy Sanjaya, analis dari Lautandhana Sekurindo, awal pekan ini merekomendasikan trading buy untuk saham-saham seperti PT Nusantara Infrastructure (META) dan PT AKR Corporindo (AKRA).

META menjadi pilihan karena ada transaksi tutup sendiri dalam jumlah signifikan, seiring placement ke Rajawali Group sebesar 23,6%. “Investor pun berekspektasi ada tender offer, yang kabarnya di level Rp230 per lembar,” ujarnya.

Sedangkan AKRA direkomendasikan karena mensinyalkan peluang penguatan. Meski terjadi koreksi pascapembagian dividen, indikator teknikal RSI (Relative Strength Index) AKRA berada di level 0. “Hal ini mengindikasikan potensi rebound,” ucapnya.

Pada perdagangan Jumat (26/11), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 59,513 poin (1,61%) ke level 3.642,500. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai, dimana volume transaksi tercatat sebesar 18,111 miliar lembar saham, senilai Rp 7,798 triliun dan frekuensi 139.930 kali.

Sebanyak 48 saham naik, 183 saham turun dan 55 saham stagnan. Koreksi ini didukung aksi jual asing yang mencatatkan transaksi jual bersih (net foreign sell) cukup besar, mencapai Rp1,01 triliun. Rinciannnya adalah transaksi beli mencapai Rp2,526 triliun dan transaksi jual sebesar Rp3,536 triliun. [nat/mdr]

kontan:
Jumat, 26 November 2010 | 11:36 oleh Barratut Taqiyyah
SAHAM BUMI
Setelah melonjak tinggi, hari ini saham BUMI dilanda aksi profit taking

JAKARTA. Saham milik PT Bumi Resources (BUMI) menunjukkan tren naik sepanjang sebulan terakhir. Jika dilihat, per tanggal 3 November lalu, saham BUMI masih berada di level Rp 2.175. Namun kemudian, harganya terus bergerak naik. Hingga akhirnya, pada 25 November kemarin, harga saham BUMI menyentuh level tertinggi dalam enam bulan di posisi Rp 3.050.

Artinya, ada kenaikan sebesar 40,22% pada saham BUMI sejak 3 November lalu. Namun, lonjakan yang terjadi kemarin tidak berlangsung hari ini. Menjelang penutupan, saham BUMI turun 0,82% menjadi Rp 3.025.

“Ada aksi profit taking seiring dengan kenaikan saham BUMI kemarin,” jelas salah seorang analis kepada KONTAN.
Investasi
BINCANG BURSA kontan

Kamis, 25 November 2010 | 15:48 oleh Barratut Taqiyyah
SAHAM ENRG
Genggam 10% participating interest Blok Masela, saham ENRG terbang nyaris 15%

JAKARTA. Saham milik salah satu anak usaha Bakrie, PT Energi Mega Persada (ENRG) terbang tinggi hari ini. Menjelang sesi penutupan sore, tepatnya pukul 15.32, saham ENRG naik 14,78% menjadi Rp 132.

Lonjakan saham ENRG diperkirakan disebabkan oleh ekspansi perusahaan energi ini. Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, anak usaha ENRG yakni PT EMP energi menguasai 10% Blok Masela.

Asal tahu saja, EMP Energi Indonesia merupakan anak usaha ENRG dnegan Inpex Corporation. EMP Energi dikabarkan telah menyelesaikan pengalihan 10% participating interest di Blok Masela dari Inpex Masela selaku operator Blok Masela. Inpex Masela tetap memiliki 90% participating interest.

BUMI Terancam Koreksi Teknikal
Headline

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Kamis, 25 November 2010 | 11:22 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Kamis (25/11) diprediksi naik karena mendekatnya listing anak usahanya BRMS. Namun, lajunya terancam koreksi teknikal akibat kenaikan tujuh hari terakhir. Buy!

Yuganur Wijanarko, senior researcher HD Capital mengatakan potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini, salah satunya karena faktor momentum dekatnya waktu pencatatan (listing) anak usahanya, PT Bumi Resourses Minerals (BRMS), di bursa 2 Desember mendatang. Namun dikhawatirkan, jika pasar hari ini menguat, BUMI tidak ikut menguat atau melawan arus melemah.

Sebab, pada saat market melemah, saham BUMI justru terus menguat. Apalagi, kenaikan saham sejuta umat ini sudah mencapai Rp500 (20,4%) selama tujuh hari perdagangan terakhir dari level Rp2.450 pada 12 November. BUMI terancam koreksi teknikal.

“Tapi, jika dilihat dari trennya, seharusnya saham BUMI masih melanjutkan penguatan. BUMI akan bermain di atas Rp3.000,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Rabu (24/11/2010), saham BUMI ditutup menguat Rp25 (0,85%) jadi Rp2.950 dari posisi sebelumnya Rp2.925. Harga tertingginya mencapai Rp3.025 dan terendah Rp2.900. Volume transaksi mencapai 346,8 juta unit saham senilai Rp1,02 triliun dan frekuensi 5.647 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah menguat Rp25, bagaimana Anda memperkirakan, laju saham BUMI hari ini?

Saya melihat potensi penguatan di saham PT Bumi Resources hari ini karena berbagai faktor. Salah satunya karena positifnya sentimen market. Setelah pasar takut berlebihan atas ketegangan semenanjung Korea kemarin, saat ini mulai mereda. Karena itu, IHSG berpeluang naik hari ini.

Di sisi lain, tingginya inflasi China hingga 4,4% (month to month) pada Oktober lalu, justru bisa memicu kenaikan harga komoditas terutama di batubara. Karena itu, ini juga akan positif bagi saham BUMI.

Akan bergerak di kisaran berapa?

Saham BUMI akan bergerak dalam kisaran support Rp2.900-2.800 dan resistance Rp3.000-3.200. Sebab, dulu juga pernah bertenger di level ini.

IPO anak usahanya, PT Bumi Resourses Minerals (BRMS) semakin dekat.

Ya. Penguatan BUMI juga karena faktor mendekatnya waktu pencatatan (listing) penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) anak usaha, BRMS. Dijadwalkan pada 2 Desember 2010. Dana hasil dari penawaran saham perdana ini akan digunakan untuk melunasi utang BUMI.

Akibatnya, biaya pembayaran utang BUMI juga jadi berkurang. Otomatis, dari sisi laba perusahaan pun akan terjadi peningkatan. Sebab, pemotongan utang difaktorkan ke earning. Tapi, setelah IPO BRMS usai, BUMI kelihatannya akan susah untuk kembali menguat. Sebab, semua sentimen positif sudah terdiskon di harga.

Bagaimana dengan rencana aksi korporasi grup Bakrie?

BUMI juga masih mendapat sentimen positif dari PT Bakrie and Brothers (BNBR) yang berencana membangun kawasan industri di Kutai Timur senilai US$2 miliar. Ini juga mendukung penguatan BUMI di atas Rp3.000. Karena itu, saham BNBR pun berpeluang naik mendekati level Rp100. Aksi korporasi BNBR tetap jadi sentimen positif bagi BUMI. Sebab, dengan adanya aksi korporasi itu, utang BUMI terbayar dan dari sisi labanya BUMI bagus, sebab BNBR juga memiliki kepemilikan di BUMI. Karena itu, sambung menyambung.

Dengan kenaikan BUMI tujuh hari terakhir, apakah valuasi BUMI sudah mahal?

Justru itu, dengan kenaikan tajam saham BUMI saat ini, secara valuasi saham ini masih termasuk murah di sektor batubara. Sebab, Price Earning Ratio (PER) 2010 BUMI masih di level 16 kali. Jika valuasinya sama dengan PT Adaro Energy (ADRO), harga BUMI seharusnya di level Rp4.000 saat ini.

Valuasi ADRO sudah di atas 20 kali untuk PER 2010. ADRO termasuk yang paling mahal di sektor batubara. Karena itu, jika valuasi BUMI di level 20 kali, harganya di atas Rp4.000 per saham.

Harga batu bara turut jadi penggerak BUMI?

Penguatan BUMI juga masih didukung oleh harga batubara yang tinggi di level US$108 per metrik ton. Harga batubara bertahan di atas US$100 selama sebulan lebih. Karena itu, akan ada penyesuaian terhadap harga batubara BUMI. Sebab, setiap harga batubara di atas US$100 per metrik ton, berkontribusi pada kenaikan 10% proyeksi laba bersih BUMI.

Adaancaman koreksi teknikal?

Ya ada. Ditakutkan, jika market hari ini menguat, BUMI tidak ikut menguat atau melawan arus melemah. Sebab, pada saat market melemah, saham BUMI jsutru terus menguat. Apalagi, kenaikan saham BUMI sudah mencapai Rp500 (20,4%) persen selama 7 hari perdagangan terakhir dari level Rp2.450 pada 12 November. BUMI terancam koreksi teknikal.

Tapi, jika dilihat dari trennya, seharusnya saham BUMI masih melanjutkan penguatan. BUMI akan bermain di atas Rp3.000.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan buy untuk saham BUMI. Hingga jelang pencatatan (listing) di BEI (Bursa Efek Indonesia) anak usahanya BRMS saya targetkan BUMI di posisi Rp3.200. [nic]

Saham BUMI, Kamis (25/11) diprediksi naik. Mendekatnya jadwal listing anak usahanya BRMS, ekspansi grup Bakrie, harga batubara dan murahnya valuasi menjadi katalisnya. Buy!

Yuganur Wijanarko, senior researcher HD Capital mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini karena berbagai faktor. Salah satunya karena positifnya sentimen market. Menurutnya, setelah pasar takut yang berlebihan terhadap ketegangan semenanjung Korea kemarin, saat ini mulai mereda.

Karena itu, IHSG berpeluang naik hari ini. “Saham BUMI akan bergerak dalam kisaran support Rp2.900-2.800 dan resistance Rp3.000-3.200. Sebab, dulu juga pernah bertenger di level ini,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (24/11) malam.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp25 (0,85%) menjadi Rp2.950 dari posisi sebelumnya Rp2.925. Harga tertingginya mencapai Rp3.025 dan terendah Rp2.900. Volume transaksi mencapai 346,8 juta unit saham senilai Rp1,02 triliun dan frekuensi 5.647 kali.

Di sisi lain, lanjut Yuganur, tingginya inflasi China hingga 4,4% (month to month) pada Oktober lalu, justru bisa memicu kenaikan harga komoditas terutama di batubara. “Karena itu, sentimen ini juga akan positif bagi saham BUMI,” ujarnya.

Pada saat yang sama, penguatan BUMI juga karena faktor mendekatnya waktu pencatatan (listing) saham perdana atau Initial Public Offering (

Sumber : INILAH.COM
Menteri BUMN Minta Telkom Bahas Penolakan Merger
Oleh: Andika Sugiarto
Pasar Modal – Kamis, 25 November 2010 | 05:07 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kementerian BUMN kemungkinan akan membahas penolakan serikat pekerja TLKM dalam RUPSLB 17 Desember mendatang. Hal ini disampaikan Menteri BUMN, Mustafa Abubakar usai rapat kerja pembahasan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dengan Komisi IX DPR RI, Rabu (24/11) malam.Mengenai adanya penolakan Serikat Karyawan Telkom (Sekar Telkom) yang menegaskan tidak bisa bekerja sama dengan direksi yang akan menggabungkan Flexi dan Esia, Mustafa hanya berujar singkat, “Sayasudah mendelegasikan kepada deputi akan dibahas pada RUPSLB.”Dia juga mengatakan belum mengetahui apakah rencana merger Flexy-Esia akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diselengarakan pada 17 Desember 2010 atau tidak.Ya, katanya RUPSLB tanggal 17 Desember 2010. Tapi saya tidak tahu apakah membahas rencana kerjasama Flexi-Esia. Saya tidak masuk ke rencana itu. Itu mereka sendiri yang membahas, ujarnya.Yang pasti diketahui Kementerian BUMN untuk dibahas pada RUPSLB adalah penetapan pergantian direksi dan manajemen BUMN telekomunikasi tersebut. Dia juga berharap pergantian direksi tidak ada kaitannya dengan rencana aksi korporasi yang akan Perseroanlakukan. Agenda RUPSLB itu kan pergantian pengurus, baik direksi dan komisaris. Tapi saya berharap tidak ada kaitan antara pergantiandireksi dengan rencana merger itu, paparnya. [cms]Sebelumnya, rencana PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) melakukanpenggabungan Telkom Flexi dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)sepertinya tinggal menunggu waktu. Selain sudah mengantongi restu dariMenteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), bos kedua operator seluleritu terlihat sudah ngebet untuk segera bersinergi. Jika mergertersebut terwujud, perusahaan hasil sinergi itu akan memiliki totalpelanggan sekitar 26 juta atau sekitar 96 persen pangsa pasar CDMA.

BUMI segera melunasi utang anak usahanya, Calipso Investment Pte Ltd, senilai US$ 148,8 juta kepada Bright Ventures Pte Ltd, perusahaan milik grup Bakrie. Bright Ventures telah memberikan pinjaman senilai US$ 150 juta kepada Calipso 26 Mei 2010 dengan bunga sebesar 10% per tahun. Bumi Mineral, anak usaha BUMI, akan menggunakan dana hasil IPO untuk melunasi utang Calipso senilai US$ 148,8 juta kepada Bright Ventures. Calipso merupakan pemegang 100% saham Herald Resources Ltd.

Sumber : IPS Research
Sesi II, Pantau Saham Bakrie & Pendatang Baru
Headline
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Selasa, 23 November 2010 | 12:08 WIB

INILAH.COM, Jakarta – IHSG siang ini terpantau memerah. Meski sulit bangkit, pada sesi dua, investor bisa cermati saham Bakrie dan saham pendatang baru KRAS dan APLN.

Pada sesi pertama perdagangan Selasa (23/11), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ^JKSE ditutup melemah 30,280 poin (0,81%) ke level 3.710,95. Indeks saham unggulan LQ45^JKLQ45 juga turun 7,3800 poin (1,07%) ke level 679,74.
Laju indeks siang ini mendapat dukungan dari besarnya volume transaksi yang tercatat mencapai 3,801 miliar lembar saham, senilai Rp1,880 triliun dan frekuensi 54.741 kali. Sebanyak 85 saham menguat, sedangkan 123 saham melemah dan 76 saham stagnan.
Namun, investor asing justru masih mencatatkan net foreign buy senilai Rp19,9 miliar dengan aksi beli senilai Rp684,4 miliar dan aksi jual Rp664,4 miliar.
Semua sektor saham kompak mendukung pelemahan indeks. Sektor perkebunan memimpin pelemahan 1,89%, konsumsi 1%, industri dasar 0,88%, keuangan 0,87%, infrastruktur dan manufaktur turun 0,86%, industri dasar 0,63%, pertambangan 0,61%, properti 0,40% dan perdagangan 0,32%.
Pengamat pasar modal Willy Sanjaya memperkirakan, pergerakan indeks saham hingga penutupan sore nanti akan melemah. “Indeks akan bergerak dalam kisaran support 3.701 dan 3.768 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (23/11).

Menurut Willy, secara ilmiah, indeks sulit menguat, sebab indeks domestik terbawa arus negatif koreksi bursa regional. Seperti Shanghai yang turun 2,5% dan Hang Seng 1,8%. “Hanya Nikkei yang melaju positif,” ujarnya.

Tertekannya bursa regional, dipicu gejolak di bursa China akibat rilis data inflasi Oktober yang tinggi mencapai 4,4% (month to month). Karena itu, para investor di negeri tirai bambu itu akan merealisasikan keuntungan, terutama di bursa Hang Seng.

Namun, Willy menilai, market RI seharusnya diuntungkan kondisi regional tersebut. Sebab, akan terjadi peralihan dari bursa China ke pasar Indonesia. Terutama mengingat return RI yang masih menjanjikan. Ia pun menilai koreksi hari ini hanya imbas sesaat. “Sebab, investor Inggris pun saat ini masuk ke pasar RI,” ungkapnya.

Sedangkan dari dalam negeri, tidak ada hal-hal spesifik yang bisa memicu koreksi indeks. Pasar saat ini masih menantikan data inflasi November, yang diperkirakan terkontrol, jauh di bawah 1%. “Sebab, tidak ada hal-hal yang memicu inflasi bulan ini,” paparnya.

Apalagi nilai tukar rupiah terus menguat dan coba tembus 8.920 per dolar AS dan cadangan devisa RI terus bertambah. Bahkan, hingga akhir tahun BI memperkirakan, cadangan devisa RI mencapai US$100 miliar. “Karena itu, dari pasar domestik tidak ada hal-hal yang memicu koreksi indeks. Secara fundamental tidak ada yang berubah, tetap positif,” tandasnya.

Di tengah situasi ini, Willy merekomendasikan positif semua saham di grup Bakrie, terutama PT Bakrie and Brothers (BNBR.JK). Sebab, BNBR bermitra dengan China Investment Coroporation (CIC) untuk mengakuisisi salah satu perusahaan baja di Banten. “Saya rekomendasikan akumulasi beli untuk saham-saham di grup Bakrie,” imbuhnya.

Saham pilihannya yang lain adalah PT Agung Podomoro Land (APLN.JK) dan PT Krakatau Steel (KRAS.JK). Secara teknikal, kedua saham ini masih akan terus naik. “Strong buy untuk kedua saham tersebut,” pungkas Willy. [ast]

Saham Bumi Resources Minerals Kelebihan Permintaan
Sabtu, 20 November 2010 , 00:09:00 WIB

RMOL.PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRM) melaporkan proses pe­nawaran umum perdana (Ini­tial Public Offering/IPO) atas saham BRM mengalami kele­bihan per­mintaan (over sub­cribed). Pada­hal, harga saham­nya yang dite­tapkan hanya Rp 635 per lembar.

Dengan estimasi jumlah saham yang diterbitkan sebesar 3,15 miliar lermbar sa­ham dalam transaksi IPO ter­se­but, BRM bisa mengantongi 232 juta dolar AS (Rp 2 triliun).

“Kami baru saja menye­lesai­kan roadshow internasional dari tang­gal 9 sampai 15 No­vember 2010. Minat dan tangga­pan dari para investor asing yang kami temui sangat positif,” kata Direktur Utama Bumi Resources Mine­rals Ken Farrell kepada Rakyat Mer­deka di Jakarta, kemarin.

Dari roadshow itu, kata dia, ter­lihat minat investor asing. Se­­mua­nya bereak­si positif. Road­­show tersebut mu­lai dari Sing­apura, Hong Kong dan Lon­don.

Perjalanan roadshow dan per­temuan dengan para in­vestor in­ter­nasional ini, difasili­tasi pen­jamin pelaksana emisi efek, yakni PT Danatama Mak­mur, PT No­mura Indo­ne­sia dan para In­ter­national Selling Agents, Cre­dit Suisse, J.P. Morgan dan No­mura Interna­tional.

Seperti diketahui, dana hasil IPO Bumi Resources Mineral ini untuk mem­biayai kebutuhan be­lanja modal dan modal kerja anak-anak perusahaan. Selain itu, juga untuk melunasi pinjaman anak perusahaan. [RM]
Bakrie & Vallar, Mitra yang Cocok
Headline

Oleh:
Pasar Modal – Senin, 22 November 2010 | 06:35 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Aksi tukar guling saham antara Bakrie Brothers (BNBR) dengan Vallar Plc sangat menguntungkan. Sebab dapat melengkapi kekurangan dan keinginan kedua pihak.

Hal itu dikatakan Pengendali Kelompok Usaha Bakrie Nirwan Bakrie di Jakarta kemarin. Menurutnya, kelompok Bakrie selama ini menghadapi masalah permodalan dan good corporate governance (GCG). Namun memiliki aset yang menjanjikan dengan prospek yang baik. “Sementara Vallar memiliki capital dan governance yang bagus. Mereka ingin mengelola aset pertambangan. Jadi kita sangat cocok dengan Vallar,” katanya.

Keinginan mendapatkan patner yang memiliki kriteria yang diinginkan sudah lama. Kedua pihak saling mencari patner namun belum mendapatkan yang cocok. Vallar mencari hingga ke Afrika, Amerika maupun Asia. “Kita dipertemukan dengan financial advisor, kalau kita oleh JP Morgan,” jelasnya.

Dengan tukar guling atau share swap ini, Vallar dapat mengelola aset pertambangan khususnya batubara. Sebab Vallar telah memiliki 25% saham Bumi Resources (BUMI) yang memiliki banyak cadangan batubara.

Sedangkan BNBR, diharapkan ke depan tidak akan mengalami masalah keuangan lagi. Sebab Vallar akan menjadi patner untuk jangka panjang. Bahkan berani memastikan tidak akan ada aksi repurchase agreement (repo/gadai saham). “Jadi tidak ada lagi repo karena permodalan kita semakin kokoh, tidak seperti tahun 2008 lalu,” paparnya.

Vallar salah satu perusahaan tercatat yang baru mencatatkan saham di London Stock Exchange pada Juli 2010. Vallar memiliki aset sebesar US$1 miliar.Vallar yang dimiliki oleh Rothschild melakukan share swap dengan Bakrie and Brothers dan Berau senilai US$3 miliar. Dalam proses ini, Vallar akan berganti nama menjadi Bumi Plc. Dengan aksi korporasi tukar guling saham ini, perseroan mengharapkan produksi batu bara sebesar 140 ton pada 2013. [hid]

Wow, Sepekan BUMI Naik 16%
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Minggu, 21 November 2010 | 09:54 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Sepekan ini, saham PT Bumi Resources (BUMI) berhasil bukukan kenaikan signifikan 16%. Angin segar berasal dari aksi tukar guling yang dilakukan grup Bakrie dengan perusahaan asal Inggris.

Analis PT AmCapital Janson Nasrial dan pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, rencana pencatatan saham perdana PT Bumi Resources Mineral (BRMS) awal Desember 2010, menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi saham BUMI pekan ini.

Selain itu, sentimen positif juga berasal dari aksi tukar guling saham yang dilakukan PT Bakrie & Brothers (BNBR) dengan Vallar Plc. “Dengan aksi korporasi BNBR dengan Rotchschild, pemilik Vallar Plc saham BUMI lebih dikenal oleh investor global dan go international,” tutur Willy kepada INILAH.COM.

Sedangkan Janson menilai, kesepakatan ini positif karena dapat mengurangi cost of capital BUMI. Selain itu, saham BUMI berpeluang mencatatkan saham di London Stock Exchange, secara tidak langsung. “Valuasi BUMI pun akan terdongkrak ke atas,” ujarnya.

Seperti diketahui, Vallar Plc, perusahaan investasi yang tercatat di London akan mengakuisisi 25% saham BUMI di Rp2.500 per saham dan 75% di Berau Energy (BRAU) di Rp540 per saham, melalui kombinasi kas dan swap saham, dengan total US$ 3 miliar. Vallar akan membayar US$ 739 secara kas dan mengeluarkan saham baru total 142,4 juta (90,1 juta untuk swap dengan BUMI dan 52,3 juta untuk swap dengan BRAU) di 10 sterling per saham.

Selain itu, imbuh Janson, sektor batu bara masih tetap menarik ke depannya, sehingga hal itu memberikan sentimen positif untuk saham BUMI. Lihat saja nilai akuisisi dan merger sektor batu bara di Indonesia yang termasuk tinggi, mencapai US$19 miliar. “Nilai merger dan akuisisi sektor batu bara tertinggi dunia yaitu Indonesia, disusul China dan India,” tuturnya.

Apalagi harga batu bara dapat mencapai level US$120-US$140 per ton dalam waktu 6 bulan hingga 12 bulan. Untuk dua hingga tiga hari pekan depan, Janson menyarankan trading karena BUMI ditargetkan bisa berada di level 2.800-3.000 per saham.

“Sedangkan bagi investor yang ingin menyimpan saham BUMI dalam jangka panjang bisa melakukan buy on weakness ketika harga saham BUMI di bawah Rp2.700 per saham,” paparnya.

Sedangkan Willy menargetkan, harga saham BUMI berada di level 2.800-3.100 pada pekan depan. “Saya pikir, harga saham BUMI dapat mencapai 3.300 pada akhir tahun,” tutupnya.

Pada perdagangan sepekan yang berlangsung hanya 4 hari, saham BUMI berhasil naik 16%, dengan pergerakan di kisaran 2.400 dan 2.950 per lembarnya. Setelah menguat Rp100 ke Rp2.550 di hari pertama, BUMI terus melesat, hingga akhir perdagangan Jumat (19/11) kemarin, emiten primadona ini berada di level Rp2.850. [ast]

Moody’s: No rating impact on Bumi & Berau Coal
Jumat, 19/11/2010 20:05:41 WIB
by: Wisnu Wijaya
JAKARTA: Moody’s Investors Service notes the series of transactions announced by the recently formed Vallar Plc, a UK-listed mining investment vehicle, with respect to its investment in the Indonesian coal mining sector, and sees no immediate impact on the B2/Stable rating of PT Berau Coal and the Ba3/Negative rating of PT Bumi Resources Tbk.

These transactions include the sale to Vallar Plc by PT Bakrie and Brothers (unrated) of a 25% holding in Bumi Resources and the sale by Recapital Advisors (Recapital) of a 75% holding in PT Berau Coal Energy (BCE), the immediate parent of Berau Coal.

On completion of the transactions, expected in Q2 2011, Recapital will hold 25% and Bakrie 43% of Vallar Plc.

Vallar Plc will eventually be renamed Bumi Plc. The consideration involves the issue of new Vallar shares and additionally, in respect of BCE, a cash consideration of US$739 million.

The cash has now been received by Recapital for its BCE shares and the economic rights given to Vallar, although the shares will remain in the name of Bukit Mutiara until April 2011, when the change of ownership will be registered.

Under the terms of the US$450 million notes issued by Berau Capital Resources Pte. Ltd, a change of control event will occur once Vallar Plc owns the BCE shares.

The issuer would then need to make a tender offer for the bonds, within 30 days, at a price of 101% of face value.

The early repayment would also trigger a cross-default in a US$400 million credit facility. However, on its own, the loan will require only the consent of lenders if the obligor changes.

The bonds are currently trading at a premium to the price that would be offered under the change of control clause.

Moody’s is unaware of any alternative liquidity facility that could support the repayment of all the bonds and the loan were an event of default called by creditors.

However, the likelihood of such an event is remote in the near term and Moody’s expects the change of control tender, and the process of obtaining consents from lenders, to be carefully managed between now and the completion of the deal in April.

The cost burden in terms of fees and purchases of tendered bonds is likely to be manageable and Moody’s understands that it is not BCE’s intention to cancel any bonds so acquired.

At September 30, 2010, BCE reported cash and short-term investments of approximately US$482 million, including US$156 million in restricted cash holdings.

Moody’s notes that the broad wording of the change of control language in Bumi Resources’s bond documents seems to preclude a change of control event from arising on this occasion, as Bakrie Group affiliates will retain control of Bumi Resources by way of their interest in Vallar.

Moody’s therefore expects no impact on Bumi Resources arising from these transactions. The minimal downside risk of a large event of default at BCE is mitigated by some positive developments.

In particular, the cash now received by Recapital has been applied to pay down its own indebtedness, which is held by its subsidiary Bukit Mutiara, the immediate vehicle holding its BCE shares.

This debt represents the recently refinanced vendor notes (some US$500 million) owed to the last owners of BCE, as well as an outstanding US$150 million owed to Bumi Resources.

Moody’s will continue to monitor developments at BCE and also consider the credit standing of Vallar Plc as the new holding company for BCE.

As at September 30, 2010, Vallar Plc held some US$1 billion in cash and no debt on its balance sheet.

Some US$740 million of the liquid funds have since been disbursed as the cash element of the BCE acquisition.

Recapital’s debt has been a factor weighing on Berau’s rating, given that any default by Bukit Mutiara would cross-default into BCE.

Meanwhile, Berau Coal’s operating performance is currently meeting expectations.

Given the performance of BCE and the removal of the debt overhang at Recapital, Moody’s may consider a positive rating action, subject to the removal of the residual threats arising from both the bond’s change of control clause and from facility lenders denying consent to the change of obligor. (wiw)

Bakrie & Sinarmas Transaksi Saham DOID
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Andika Sugiarto
Pasar Modal – Jumat, 19 November 2010 | 16:39 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Keluarga Bakrie dan Sinarmas dikabarkan sore ini akan melakukan transaksi perjanjian jual beli saham Delta Dunia Makmur (DOID) kepada Texas Pacific Group (TPG).

Rumor yang berkembang dipasar harga penjualan saham itu di kisaran 1.150-1.250.

Pada penutupan sore ini saham DOID menguat Rp110 ke Rp1.200 dengan volume 574.855 unit saham senilai Rp337,8 miliar sebanyak 4.640 kali transaksi. [hid]

Menimang Potensi Saham Bakrie Akhir Pekan
Headline

Oleh: Asteria
Pasar Modal – Jumat, 19 November 2010 | 13:27 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Investor memburu saham dari kelompok Bakrie pascatukar guling saham dengan Vallar Plc. Apakah eforia ini akan berlanjut di perdagangan akhir pekan?

Pada perdagangan sesi pertama Jumat (19/11), saham Bakrie terpantau mulai mengalami koreksi. Seperti PT Bakrie & Brothers (BNBR) yang turun Rp3 (3,9%) ke Rp73, PT Bakrieland Development (ELTY) yang melemah Rp1 (0,6%) ke Rp164. Hanya PT Bumi Resources (BUMI) yang masih terpantau naik Rp50 (1,8%) ke Rp2.850. Demikian pula PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) yang naik Rp10 (2,7%) ke Rp380.

Purwoko Sartono, analis dari Panin Securities mengatakan, kendati ada potensi penguatan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir pekan ini, saham Bakrie dinilai tidak lagi jadi penopangnya. Sebab, grup ini pun sudah mulai dilanda profit taking.

“Artinya, sentimen positif dari aksi tukar guling saham Vallar Plc dengan saham BUMI tidak cukup kuat memicu penguatan indeks lebih jauh,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Sementara analis dari Waterfront Securities Ishfan Helmy Arsad menilai, meski akan bergerak fluktuatif, saham Bakrie, terutama BUMI dan BNBR masih menjadi daya tarik bagi investor ritel domestik. Investor yang memanfaatkan momentum, disarankan trading. “Karena dengan panjangnya masa settlement, bisa saja terjadi perubahan di tengah proses,,” ujarnya, dihubungi terpisah.

Menurutnya, saham BNBR lebih diminati, karena dalam transaksi tukar guling dengan perusahaan investasi asal London, Vallar Plc, induk usaha Bakrie ini lebih diuntungkan. “Yang terbuka potensi untuk back door listing adalah BNBR, karena emiten ini yang langsung memiliki Vallar,” katanya.

Eforia investor ini juga akhirnya mengangkat citra BUMI di pasar global. Apalagi BUMI setelah di merger dengan Vallar, akan diposisikan sebagai eksportir batu bara ke China. Hal ini membuka peluang penguatan yang bagus bagi saham BUMI.

Ia menilai, tidak adanya cash inflow dalam transaksi ini, maka tidak ada risiko utang bagi BUMI. Apalagi Vallar baru menggelar IPO tahun ini, sehingga memiliki dana yang cukup besar. “Apakah kas Vallar akan dikonsolidasi ke BUMI dan jadi bagian dari BNBR, kita masih tunggu kepastian,” paparnya.

Seperti diketahui, Vallar Plc, perusahaan investasi yang tercatat di London akan mengakuisisi 25% saham BUMI di Rp2.500 per saham dan 75% di Berau Energy (BRAU) di Rp540 per saham, melalui kombinasi kas dan swap saham, dengan total US$ 3 miliar.

Vallar akan membayar US$ 739 secara kas dan mengeluarkan saham baru total 142,4 juta (90,1 juta untuk swap dengan BUMI dan 52,3 juta untuk swap dengan BRAU) di GBP 10 per saham.

Vallar Plc., perusahaan yang nantinya berubah nama menjadi Bumi Plc., dan dikuasai Grup Bakrie sebanyak 43% dan Recapital 25%, akan melakukan tender offer terhadap 9,74% saham BRAU dengan nilai transaksi Rp1.83 triliun. Tender offer ini seiring rencana Bumi Plc untuk mengakuisisi 75% saham BRAU dari Bukit Mutiara akan dilakukan pada 8 April 2011.

Analis dari Samuel Sekuritas menilai kesepakatan ini dinilai baik dan akan menciptakan sentimen positif terhadap BUMI dan juga BNBR. Ada peluang penguatan saham grup Bakrie masih akan melanjutkan penguatan. “Maintain buy untuk BUMI dengan target harga Rp3.250 dan speculative buy untuk BNBR,” tuturnya dalam riset harian terbaru.

Sedangkan untuk Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), Samuel sekuritas merekomendasikan hold. Hal ini terkait kinerja perseroan kuartal tiga 2010 yang cukup memuaskan. “Hold untuk emiten ini,” katanya.

Laba bersih UNSP mencapai Rp245,3 miliar atau naik 2,9% YoY, di atas estimasi pasar. Sementara itu, pendapatan usaha naik 15% menjadi Rp1,89 triliun didorong kenaikan kontribusi anak usaha yaitu PT Musim Mas, di mana pencapaian pendapatan ini mewakilkan 60% dari estimasi pasar 2010. Untuk 2010 manajemen menargetkan produksi karet sekitar 34 ribu ton, naik 9,7%.

Sedangkan saham Bakrie lainnya yang dinilai Isfhan masih menarik adalah PT Bakrieland Development (ELTY). Suksesnya penawaran saham perdana (IPO) Agung Podomoro (APLN), diyakini bisa mengangkat sentimen di ELTY.

Terutama karena anak usaha Bakrie ini memiliki karakter sama dengan APLN, yakni pasar super block yang permintaannya tinggi. “Dengan demand APLN yang tinggi, ELTY masih bisa jadi pilihan,” tutupnya. [nat/mdr]

Jumat, 19/11/2010 09:06:34 WIB
Vallar berubah jadi Bumi
Oleh: Munik Setiasih
JAKARTA (Bisnis.com): Berikut adalah ringkasan berita-berita utama yang terkait dengan bursa saham dan investasi dari berbagai sumber koran nasional.

PT Indopoly Swakarsa Industri Tbk (IPOL) akan mengubah pemakaian dana hasil penawaran umum perdana (IPO) yang semula direncakan dipakai untuk memperkuat belanja modal dan membayar utang kepada PT CIMB Niaga Tbk. (Bisnis Indonesia)

PT Wijaya Karuya Tbk (WIKA) membidik proyek senilai Rp 2,5 triliun untuk mengejar target kontrak tahun ini sekitar Rp 10 triliun. Kontrak yang dibidik itu meliputi pembangunan infrastruktur dan gedung. (Bisnis Indonesia)

Vallar Plc, perusahaan asal Inggris yang bakal berubah menjadi Bumi Plc, berencana menggelar penawaran tender (tender offer) sebanyak 9,74% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Nilai transaksinya sekitar Rp 1,83 triliun. (Investor Daily)

PT Berau Coal Energy Tbk mulai menyiapkan agenda aksi korporasi untuk empat tahun ke depan. Selama periode BRAU ini mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 240 juta. (Kontan)

General Motors (GM) kembali mencatatkan diri sbagai perusahaan publik dengan sangat sukses. Raksasa otomotif Amerika Serikat (AS) itu berhasil mencatatkan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek New York dengan raupan dana hingga US$ 20,1 miliar atau setara sekitar Rp 180 triliun pada Kamis (18/11) waktu AS. (Media Indonesia)

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berencana melepas berencana melepas anak usahanya yang bergerak di bidang manufaktur. Rencana perusahaan investasi ini merupakan salah satu upaya mendanai rencana pengambilan saham Vallar Plc yang dilakukan dengan menukar saham miliknya di PT Bumi Resource Tbk. (Koran Jakarta)

PT Semen Gersik Tbk (SMGR) memastikan pembangunan beberapa proyek baru yang sedang berlangsung, yakni pembangunan pabrik baru dengan kapasitas lima juta ton, pabrik Tuban IV dan pabrik Tonasa V, seluruh pendanaannya berasal dari belanja modal tahun depan yang dianggarkan sebesar US$ 400 juta dan padahal total investasi untuk dua proyek pabrik baru di Tuban IV dan Tonasa V menelan biaya investasi US$ 549 juta. (Neraca)
Saham Grup Bakrie Masih Bius Investor
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Asteria
Pasar Modal – Jumat, 19 November 2010 | 06:47 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia Jumat (19/11) diperkirakan menguat. Saham grup Bakrie masih menjadi daya tarik investor serta saham tambang dan konsumer.

Analis PT Waterfront Securities Ishfan Helmy Arsad mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini masih berpeluang melanjutkan penguatan. Konsentrasi investor pada saham grup Bakrie menjadi salah satu katalisnya, “Investor ritel masih eforia dengan saham grup Bakrie,” katanya kepada INILAH.COM.

Seperti diketahui, Vallar Plc, perusahaan investasi yang tercatat di London, akan mengakuisisi 25% saham Bumi Resources (BUMI) di Rp2.500 per saham dan 75% di Berau Energy (Brau) di Rp540 per saham, melalui kombinasi kas dan swap saham, dengan total US$ 3 miliar.

Kesepakatan itu dinilai positif dan akan menciptakan sentimen positif terhadap BUMI serta induk usahanya, PT Bakrie & Brothers (BNBR). Adapun IHSG kemarin berhasil ditutup di area positif, seiring rebound bursa global. Hal ini menyusul redanya kekhawatiran atas inflasi China.

Negara Tirai Bambu ini merasa belum perlu menaikkan suku bunganya, karena inflasi bisa ditangani melalui pengetatan likuiditas GWM. “Sementara kondisi bursa domestik masih menarik, dengan PDB Indonesia yang mencapai 6%, dan inflasi yang terkendali di 6,5%,” paparnya.

Menurut Isfhan, kenaikan IHSG kemarin tidak banyak, karena investor asing sejak Jumat lalu sudah melakukan aksi jual bersih (net sell), dengan mengurangi portfolionya. Hal ini karena adanya ketidakpastian di pasar global, yang mulai mengalami tekanan inflasi.

Namun, asing kini sudah mulai lagi mengakumulasi saham di Bursa Efek Indonesia. Terlihat dari aksi beli bersih (net buy) hari ini. Namun, aksi beli ini belum terlalu banyak. Ini yang menyebabkan IHSG tidak menguat signifikan.

Terkait kondisi saat ini, Isfhan merekomendasikan investor untuk mencermati saham grup Bakrie, terutama PT Bumi Resources (BUMI) dan PT Bakrie and Brothers (BNBR).

Kedua emiten ini dinilai paling berpotensi naik ketimbang saham lain di grupnya. “Sementara saham big cap belum bisa membantu kenaikan indeks karena posisi asing yang baru membangun portfolio,” paparnya.

Saham lain pilihan Ishfan adalah PT Kalbe Farma (KLBF). Penguatan rupiah atas dolar AS, menyebabkan net margin saham sektor farmasi ini kembali naik. Apalagi sepanjang kuartal tiga 2010, net margin emiten ini sudah naik tinggi. “Hal ini didukung posisi kas yang meningkat, sehingga mudah melakukan ekspansi,” tuturnya.

Sedangkan saham sektor tambang yang menjadi pilihannya adalah PT International Nickel (INCO). Peningkatan laba menyebabkan price earning (PE) emiten ini tidak murah lagi.

Sedangkan PT Adaro Energy (ADRO) direkomendasikan, meski produksi masih stagnan tahun ini. “Tidak adanya ekspansi, membuat posisi kas kuat, sehingga tahun depan bisa melakukan ekspnasi produksi,” pungkasnya.

Pada perdagangan Kamis (18/11), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 3,877 poin (0,11%) ke level 3.677,904. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia sangat aktif, dimana volume transaksi tercatat 13 miliar lembar saham, senilai Rp5,817 triliun.

Sebanyak 117 saham menguat, 103 saham terkoreksi dan 86 stagnan. Penguatan bursa didukung aksi beli asing yang mencatatkan transaksi beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp69 miliar. Dimana nilai transaksi beli tercatat sebesar Rp1,859 triliun dan nilai transaksi jual mencapai Rp1,789 triliun. [nat/mdr]

Dipicu BUMI dan BNBR, IHSG Ditutup Positif
Headline
inilah.com
Oleh:
Pasar Modal – Kamis, 18 November 2010 | 16:07 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG pada perdagangan Kamis (18/11) ditutup naik 3,8 poin (0,11%) ke 3.677,9. volume perdagangan 14,2 miliar unit saham senilai Rp5,8 triliun.

Perdagangan ni diwarnai dengan 117 saham naik, 102 saham turun dan 86 saham mengalami stagnan. Untuk Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,2 poin ke 529,67 dan saham unggulan di LQ45 naik 0,8 poin ke 674,8. Penguatan tertinggi dialami sektor pertambangan mencapai 38,1 poin ke 3.012,45 sedangkan pelemahan terdalam dialami sektor perkebunan 46,7 poin ke 2.163,25.

IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp69,3 miliar dengan total pembelian asing Rp1,8 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp1,7 triliun.

Pergerakan indeks di sesi II mengalami pembalikan arah ke zona positif. Setelah sesi I tertekan di teritori negatif. Namun dengan kenaikan saham BUMI dan BNBR membawa IHSG ke zona positif. Apalagi bursa Asia ditutup positif dan bursa Eropa dibuka juga menguat.

Saham BUMI dengan nilai transaksi yang tinggi mengangkat indeks ke zona positif. BUMI ditutup naik Rp175 ke Rp2.775 dengan volume 738.841 unit saham senilai Rp1,008 triliun sebanyak 8.267 kali transaksi. Sedangkan saham BNBR ditutup naik Rp16 ke Rp76 dengan volume 15.141.868 unit saham senilai Rp535,6 miliar sebanak 19.519 kali transaksi.

Pasar saham Asia pada perdagangan Kamis (18/11) ditutup naik dengan sentimen dari China yang akan mengontrol harga makanan dan tingkat suku bunga. Selain itu pemimpin Eropa yang mencari jalan mengatasi krisis utang juga ikut mendongkrak bursa.

Indeks Nikkei naik 1,7% ke 9.977,20 dipicu saham perusahaan asuransi yang meraih laba. Indeks Hang Seng naik 1,4% ke 23.530,05 melanjutkan kenaikan. Indeks Shanghai naik 0,8% ke 2.860,41 dan indeks Kospi Korea Selatan naik 1,2% menjadi 1.921,41.

Indeks Australia S & P/ASX 200 naik tipis 0,3% ke 4.640,2 disusul bursa saham di Taiwan dan Pilipina. Sedangkan bursa di Singapura mengalami pelemahan, demikian dikutip dari yahoonews.com, Kamis (18/11)

Kenaikan bursa Asia, dipicu pemerintah China akan memberi subsisi makanan ke keluarga miskin untuk mengontrol harga yang mendorong inflasi. Kebijakan China ini meredakan kekhawatiran pasar global karena setelah diduga menaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.

Saham yang mengalami kenaikan seperti saham Multibreeder Adirama (MBAI) naik Rp2.750 ke RP16.650, Indospring (INDS) naik Rp1.60 ke Rp9.700, Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp1.400 ke Rp50.950, Sepatu Bata (BATA) naik Rp500 ke Rp70.000, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp500 ke Rp20.750, Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp250 ke Rp16.950.

Sedangkan saham yang mengalami penurunan seperti saham Petrosea (PTRO) turun Rp7.600 ke Rp33.900, Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp1.100 ke Rp23.900, Astra International (ASII) turun Rp54.900, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp450 ke Rp27.200. [hid]

Saham Kelompok Bakrie Tak Mampu Topang Indeks
Kamis, 18 November 2010 | 12:21 WIB

ANTARA/Prasetyo Utomo

TEMPO Interaktif, Jakarta – Menguatnya saham kelompok Bakrie yang menjadi incaran investor hari ini tidak mampu menahan kejatuhan indeks. Merosotnya harga saham sektor perkebunan seiring turunnya harga minyak sawit (CPO) dipasar internasional, saham perbankan dan aneka industri membuat bursa sedikit mengalami tekanan jual.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia disesi pertama Kamis (18/11) siang ini ditutup pada level 36.660,91, terkoreksi 13,12 poin (0,36 persen) dari posisi Selasa lalu di 3.674,027.

Volume perdagangan mencapai 6,94 miliar dengan nilai transaksi hanya Rp 2,99 triliun, serta frekwensi Rp 100 ribu kali. Harga 75 saham naik, 102 saham turun, serta 75 saham lainnya stagnan. Dan investor asing mencatat pembelian bersih senilai Rp 64,4 miliar.

Analis dari PT BNI Securities, Asti Pohan dalam laporan hariannya memprediksikan hari ini pergerakan indeks akan berada dalam kisaran antara 3.650 hingga 3.700.

Menguatnya saham pertambangan seiring naiknya harga minyak di pasar Asia serta menguatnya bursa regional belum mampu mendorong indeks berada diarea positif.

Saham – saham yang membebani pergerakan indeks kali ini antara lain: Astra International jatuh Rp 900 ke Rp 55.100, bank BCA turun Rp 250 ke Rp 6.800, United Tractor turun 300 menjadi Rp 22.950, Astra Agro Lestari terkoreksi Rp 900 ke Rp 24.100, serta PP London yang juga tergelincir Rp 400 menjadi Rp 11.300 per saham.

Sedangkan nilai tukar rupiah dipasar uang antar bank di Jakarta stabil di 8.948 per dolar Amerika Serikat (AS), meskipun kemarin sempat ditransaksikan hingga diatas 9 ribu di pasar NDF (Non Deliverable Forward).

Head of Research Treasury Bank BNI, Nurul Eti Nurbaeti mengemukakan koreksi yang tajam di bursa Shanghai dan Hong Kong karena kekhawatiran Cina akan memerangi inflasi membuat rupiah melemah dalam beberapa hari terakhir seiring jatuhnya bursa lokal.

“Supremasi dolar AS terhadap mata uang utama dunia membuat mata uang kawasan melemah terkena imbasnya dan tidak terkecuali dengan rupiah,” paparnya.

Nurul memprediksikan rupiah akan cenderung konsolidasi dan akan ditransaksikan dalam rentang antara 8.955 hingga 8.990 per dolar AS.
Banyaknya sentimen negatif dipasar seperti krisis utang di Irlandia dan rencana Cina akan menaikkan suku bunga akan membebani pergerakan rupiah.”Namun, sedikit memburuknya data ekonomi AS yang dirilis membuat tekanan terhadap mata uang lokal juga sedikit mereda dibandingkan dengan beberapa hari terakhir,” imbuhnya.

VIVA B. KUSNANDAR
Akuisisi BUMI, Vallar Masih Rugi Hingga Rp3,07 Triliun (lihat koreksi gw dalam tulisan ini)
Kamis, 18 November 2010 – 12:24 wib

Martin Bagya Kertiyasa – Okezone

JAKARTA – Nama Vallar PLC tiba-tiba menjadi topik perbincangan hangat di pasar modal Indonesia. Setelah Vallar melakukan transaksi tukar guling saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Dilansir dari laporan yang dipublikasikan Vallar PLC, Kamis (18/11/2010), dalam transaksi tersebut, Vallar akan membeli 25 persen saham BUMI dan 75 persen saham BRAU, dengan nilai transaksi mencapai USD3 miliar.

Perusahaan yang bertempat di Jersey, Channel Islands ini tercatat pada London Stock Exchange (LSE) Main Market untuk efek tercatat (Ticker: VAA.L). Didirikan melalui IPO pada Juli 2010, di mana sampai akhir Agustus ini telah memperoleh keuntungan lebih dari USD1 miliar.

Tujuan utama perusahaan dalam melakukan akuisisi usaha atau aset dari BUMI dan BRAU yang bergerak pada sektor logam, pertambangan dan sumber daya alam dalam lingkup global. Selain itu, memaksimalkan potensi dari aset penghasil batu bara terbesar di Indonesia.

Kemudian memanfaatkan pengalaman manajemen, hubungan industri, dan akses terhadap permodalan. Serta eksposur terhadap penghasil batu bara terbesar dan kelima terbesar di Indonesia dalam hal produksi, basis sumber daya alam yang signifikan dan sejarah keuntungannya.

Meskipun di gembor-gemborkan sebagai perusahaan besar, total keuntungan Vallar sendiri pada akhir periode ini baru mencapai 772 ribu poundsterling atau sekira Rp13,12 Jt (kurs Rp8.977,5 koreksi gw: … seharusnya Rp. 17000,-).

Vallar juga tercatat mengalami kerugian sebesar 21,5 juta poundsterling atau sebesar Rp307,05 triliun (KOREKSI : Rp.366 M pada kurs 1 pound sterling = Rp17.000,-) pada periode yang sama. Meski demikian, Vallar masih memiliki modal dan aset sekira 672 juta poundsterling atau sekira Rp9.597,3 triliun.

Dalam akusisi atas Berau dan pembelian saham BUMI, Vallar berencana melakukan pencatatan premium listing pada official list serta perdagangan dan main market LSE, diharapkan dalam waktu dekat ini akan melakukan pencatatan di Bursa Efek Indonesia.

Proses pembelian BUMI sendiri direcanakan akan seleasi pada 14 Januari 2011. Sedangkan untuk akusisi saham Berau direncanakan akan selaesai pada 8 April 2011.(ade)
kontan:
Selasa, 16 November 2010 | 16:58 oleh Barratut Taqiyyah, Abdul Wahid Fauzie
AKSI KORPORASI BNBR & BRAU
Vallar disuspensi di London, saham BUMI dan BRAU tetap diperdagangkan

JAKARTA. Aksi korporasi yang dilakukan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Energy (BRAU) melibatkan nilai transaksi yang cukup besar.

Seperti yang diberitakan http://www.kontan.co.id sebelumnya, Vallar Plc, sebuah perusahaan berbasis di London yang dipimpim oleh Nathaniel Rothschild, menyatakan akan membeli 75% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan 25% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Total nilai akuisisi itu mencapai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27 triliun. Vallar akan membayar transaksi ini dengan dua instrumen, yakni dana tunai dan saham baru. Artinya, selain dana tunai, pemilik saham BRAU dan BUMI yang melepas sahamnya akan memperoleh saham Vallar sebagai penukar.

Besarnya nilai transaksi ini membuat bursa saham London menghentikan (suspensi) transaksi saham Vallar. Namun, tidak demikian halnya dengan saham BUMI dan BRAU. Saham BUMI masih ditransaksikan hingga akhir perdagangan hari ini (16/11) dan ditutup menguat 1,96% menjadi Rp 2.600 per saham. Sementara, saham BRAU ditutup dengan kenaikan 1,96% menjadi Rp 520 per saham.

Ketika dikonfirmasikan mengenai hal ini, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito tak bisa memberikan banyak komentar. “Saya baru mengetahui informasi ini dari media. Jadi sekarang kami masih mempelajarinya,” jelas Eddy.

Catatan saja, transaksi yang dapat dikategorikan sebagai transaksi material adalah transaksi dengan nilai 20% atau lebih dari ekuitas perusahaan.

Indeks Harga Saham Gabungan pada awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (18/11/2010) pagi, terpuruk di zona negatif. Melajunya saham Bumi Resources (BUMI) dan Bakrie Brothers (BNBR) tidak mampu menopang indeks.

IHSG hingga pukul 10.10 turun 0,57 persen atau 20,86 poin menjadi 3.653,172. Sektor perkebunan, aneka industri, dan perbankan menjadi pemberat utama indeks di zona merah.

Saham BUMI dan BNBR langsung diburu investor seiring berita tukar guling BNBR dan beberapa unit anak perusahaannya dengan Vallar Plc, perusahaan investasi milik Keluarga Rothschild, salah satu bankir terkaya di dunia.

BUMI sudah naik 2,88 persen menjadi Rp 2.675 per saham, sedangkan BNBR naik 10 persen menjadi Rp 66 per saham.

Sumber : KOMPAS.COM
Tukar Guling Bumi-Vallar, Bakrie Incar Bursa London
Kamis, 18 November 2010 | 07:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Transaksi tukar guling antara Vallar Plc dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) serta PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) Diyakini tidak terlalu berpengaruh pada kedua perusahaan Indonesia itu.

“Langkah itu mungkin hanya aksi untuk menarik investor global,” kata analis Samuel Sekuritas, Muhammad Alfatih, saat dihubungi kemarin.

Akses menuju London Stock Exchange merupakan sasaran yang dituju PT Bakrie and Brothers Tbk, yang dalam transaksi ini melepas 25 persen saham Bumi. Bumi akan lebih dikenal investor global.

Emiten dalam negeri memang kesulitan mencatatkan diri di bursa global karena kerap terhalang peraturan yang rumit. Transaksi ini diperkirakan menambah tren positif dan mendongkrak saham Bumi.

Secara teknikal, harga saham Bumi terus meningkat selama beberapa pekan terakhir. Selasa lalu, harga saham Bumi ditutup naik menjadi Rp 2.600. Harga saham Berau juga naik menjadi Rp 520.

Alfatih menilai wajar kalau kemudian perusahaan baru yang terbentuk dikendalikan Bumi. Pasalnya, kepemilikan Vallar tersisa 3,8 persen karena dananya lebih kecil ketimbang 25 persen saham Bumi.

Perusahaan milik keluarga Rothschild, Vallar Plc, pada Selasa lalu mengumumkan transaksi tukar guling 75 persen saham Berau dan 25 persen saham Bumi.

“Transaksi ini bernilai US$ 3 miliar yang akan dibayar dengan tunai dan saham Vallar,” kata Direktur Vallar Nathaniel Rothschild melalui telekonferensi di Jakarta.

Transaksi ini, kata dia, sesuai dengan tujuan perusahaan untuk berekspansi di bidang pertambangan. Bumi dan Berau diharapkan memproduksi 140 juta ton batu bara per tahun mulai 2013.

Vallar membeli 75 persen saham Berau melalui induknya, PT Bumi Mutiara. Skemanya, 35 persen saham Berau dibayar tunai Rp 6,57 triliun. Selebihnya ditukar guling dengan 52,3 juta lembar saham Vallar. Setelah transaksi ini, saham Bumi Mutiara di Berau tersisa 15,3 persen.

Sedangkan 25 persen saham Bumi Resources milik Bakrie and Brothers ditukar guling dengan 90,1 juta lembar saham Vallar. Transaksi ini butuh persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pada 14 Januari 2011.

“Grup Bakrie setuju membayar denda US$ 150 juta jika transaksi saham Bumi gagal,” kata Rothschild.

Transaksi diharapkan selesai 8 April 2011. Bakrie akan menjadi pengendali Vallar dengan porsi saham 43 persen. Sedangkan Grup Recapital Investment melalui Bumi Mutiara memiliki 24,9 persen. Adapun saham pendiri Vallar tinggal 3,8 persen.

“Vallar akan berganti nama menjadi Bumi Plc,” kata Rothschild. Perusahaan ini akan dipimpin Indra Bakrie–adik Ketua Partai Golkar Aburizal Bakrie–dengan Nathaniel Rothschild sebagai wakilnya. Presiden Direktur Bumi Resources Ari S. Hudaya akan menjadi CEO.

Presiden Direktur Berau Coal Rosan Perkasa Roeslani, yang kelak menjabat direktur non-eksekutif, mengatakan, setelah transaksi ini, perusahaan yang dikendalikan orang Indonesia akan tercatat di London Stock Exchange.

FAMEGA SYAVIRA | EFRI RITONGA

PT Bumi Resources Mineral Tbk menetapkan harga saham perdana sebesar Rp635 per saham. Hal itu disampaikan Direktur Invesment Banking PT Danatama Makmur Vicky Ganda Putra lewat pesan singkat yang dterima, Rabu (17/11).

Ada pun yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek yaitu PT Danatama Makmur dan Nomura. Diperkirakan jadwal tanggal efektif pada 22 November 2010, masa penawaran 24 November -26 November 2010, tanggal penjatahan 30 November, pengembalian uang pesanan 1 Desember, distribusi saham secara elektronik 1 Desember, pencatatan saham pada Bursa Efek Indonesia (BEI) 2 Desember. Sementara itu, masa perdagangan waran seri I pasar reguler dan negoisasi pada 2 Desember-26 November 2012, masa perdagangan waran seri I pasar tunai pada 2 Desember hingga 29 November 2012, periode pelaksanaan waran seri I 2 Juni 2011-30 November 2012, dan akhir masa berlakunya waran seri I pada 30 November 2012.

Sumber : INILAH.COM
Harga saham Bumi Minerals ditetapkan Rp635 per lembar
OLEH WISNU WIJAYA Bisnis Indonesia
JAKARTA:

Dengan harga jual Rp635 per saham, maka Bumi Minerals akan meraup dana sebessar Rp2,09 triliun dari IPO tersebut.

Executive Director Danatama Makmur Vicky Ganda Saputra membenarkan semua informasi tersebut.

Dia menyebutkan penurunan volume IPO tersebut sudah sesuai dengan rencana Bumi Minerals untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan yakni US$200 juta atau sekitar Rp1,8 triliun.

“Benar. Dari pertama kami memang sudah ngomong targetnya US$200 juta. Jadi itu sudah sesuai dengan target. Itu [harga dan volume IPO] mengakomodasi permintaan book building dan kebutuhan company [Bumi Minerals],” katanya kepada Bisnis, tadi malam.

Danatama and Nomura Indonesia mendapatkan mandat sebagai penjamin pelaksana emisi efek (lead
underwriter) IPO saham Bumi Mineral. Credit Suisse, JP Morgan, dan Nomura International bertindak sebagai agen penjual untuk investor internasional.

Sebesar US$148,8 juta dari hasil IPO, akan digunakan untuk membayar seluruh utang Calipso Investment Pted Ltd berdasarkan perjanjian utang US$150 juta dengan Bright Ventures Pte Ltd. Calipso merupakan pihak terafiliasi dengan Bumi Minerals.

Utang itu merupakan pinjaman jangka pendek, sehubungan dengan pembiayaan sebagian belanja modal dan modal kerja anak perusahaan yakni Bumi Mauritania SA, Herald, PT Citra Palu Minerals, dan PT Gorontalo Minerals.

Sisa dana hasil IPO akan digunakan sebagai bagian dari tambahan pendanaan belanja modal anak perusahaan dan tambahan belanja modal perseroan. (YENI H. SIMANJUNTAK)
JAKARTA: PT Bumi Resources Minerals Tbk menetapkan harga jual saham perdananya sebesar Rp635 per saham, level tertinggi dari kisaran harga yang diberikan oleh emiten itu untuk menjual sahamnya melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Dua sumber Bisnis yang terlibat dalam penjualan saham tersebut menyebutkan Bumi Minerals, anak usaha dari pengekspor batu bara terbesar di Indonesia yakni PT Bumi Resources Tbk, mengurangi volume IPO menjadi 3,3 miliar saham dari sebelumnya direncananya 4,32 miliar saham.

“Dari target IPO US$200 juta, Bumi Minerals mendapatkan permintaan sebanyak US$1 miliar dari investor,“ ujar sumber tersebut kepada Bisnis, Selasa lalu.
Cermati Aksi Profit Taking BUMI!
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Andika Sugiarto
Pasar Modal – Rabu, 17 November 2010 | 13:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Para investor disarankan untuk mencermati aksi profit taking saham Bumi Resources Tbk (BUMI) dalam waktu dekat.

Hal ini disampaikan David Cornelius, analis pasar modal kepada INILAH.COM, Rabu (17/11). Dia mengingatkan kepada para investor untuk mencermati aksi profit taking BUMI dalam waktu dekat meskipun sentimen transaksi kemarin dipandang sebagai sentimen positif. “Target memang Rp3.000 hingga Desember, tapi perlu technical correction di minggu depan untuk base pergerakan technicalnya ke depan karena BUMI sudah menguat cukup signifikan hampir 2 minggu ini,” ujarnya.

Ia pun menambahkan bahwa support kuat ada di area 2.425-2.500 dengan opportunity buy di trading range tersebut jika ada technical correction minggu ini ataupun minggu depan.

Kemarin, Vallar membeli 25% saham BUMI melalui mekanisme swap saham. [cms]

Rabu, 17/11/2010 14:46 WIB
Rangkul Bakrie-Recapital, Rothschild ‘Tergoda’ Besarnya Batubara RI
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Nathaniel Rothschild melalui perusahaannya, Vallar PLC meraup US$ 1,1 miliar dalam IPO-nya Juli lalu. Dana dari hasil penjualan saham ke publik itu akan digunakan untuk mengakuisisi sejumlah perusahaan pertambangan, namun tidak termasuk di Indonesia. Lantas kenapa Rothschild melirik Indonesia?

Seperti diketahui, Vallar yang dibangun oleh Nathaniel Rothschild dan James Campbel berhasil meraup dana 707 juta poundsterling (US$ 1,07 miliar), dan sahamnya dicatatkan di Bursa London pada 14 Juli 2010. Hasil dana IPO itu memang dimaksudkan untuk mengakuisisi sejumlah pertambangan.

“Kami gembira telah menerima respons yang positif dari investor global dalam situasi yang sulit ini,” ujar Rothschild dalam pernyataannya beberapa waktu lalu seperti dikutip dari Reuters.

“Pasar yang menantang tersebut mendatangkan kami dengan kesempatan akuisisi yang menarik dan kami yakin kami dapat mengakuisisi bisnis pertambangan yang besar pada valuasi yang dapat meningkatkan nilai pemegang saham secara signifikan dan memberikan kerangka bagi pertumbuhan masa depan Vallar,” jelas Rothschild.

Vallar semula berniat untuk mengakuisisi pertambangan batubara di Colombia yang dimiliki perusahaan berbasis di AS, Drummond Co. Namun nyatanya, Vallar justru banting setir dan memilih Indonesia.

Kenapa?

“Karena aset-aset (batubara di Indonesia) secara signifikan jumlahnya lebih besar dan biayanya lebih rendah,” jelas Rothschild dalam conference call-nya seperti dikutip dari Wall Street Journal, Rabu (17/11/2010).

Indonesia kini tercatat sebagai eksportir batubara terbesar di dunia dengan konsumen terbesar adalah dari pembangkit-pembangkit listrik. Rothschild selanjutnya ingin menjadikan perusahaan gabungannya dengan Bakrie itu sebagai pemasok terbesar dunia.

“Kami telah mengumumkan terciptanya jawara batubara Indonesia… yang akan menjadi pemasok batubara thermal terbesar ke China,” ujar Rothschild.

Pada tahun 2009, total impor batubara China mencapai 126 juta ton, atau melonjak hingga 3 kali lipat dibandingkan tahun 2008.

Selain batubara, Rothschild juga mengincar sejumlah bahan tambang berharga lain di Indonesia seperti tembaga, emas, bijih besi, timbal, molybdenum, seng. Rothschild berharap bisa mendapatkan bahan-bahan tambang itu dari anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yakni PT Bumi Resources Mineral (BRM) . Anak usaha ini juga akan memberi Vallar akses ke Afrika.

BRM sendiri juga akan segera mencatatkan sahamnya di lantai bursa dengan harga saham ditetapkan sebesar Rp 635 per saham. Sejauh ini pemesanan saham BRM telah mengalami Kelebihan permintaan (oversubscribe) mencapai 5 kali dengan pesanan senilai US$ 1 miliar.

Selain memiliki 6 tambang, BRM juga membawahi Bumi Resources Japan Company Ltd, perusahaan pemasaran batubara dan mineral yang berdiri di bawah hukum negara Jepang. Hingga 30 Juni 2010, total nilai aset BRM tercatat sebesar Rp 18,705 triliun. Pendapatan BRM sebesar Rp 62,780 miliar yang diperoleh dari Bumi Japan. Pendapatan lain-lain tercatat sebesar Rp 413,758 miliar, terutama disumbangkan dari dividen 18% yang diterima BRM dari NNT. Untuk laba bersih tercatat sebesar Rp 174,686 miliar.

Seperti diketahui, PT Bakrie Brothers Tbk (BNBR) menggelar aksi korporasi menggemparkan dengan melakukan tukar guling saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan Vallar milik Rothschild, keluarga bankir terkaya di dunia.

BNBR menandatangani perjanjian jual beli dengan Vallar Plc untuk melepaskan 5,2 miliar saham BUMI di Rp 2.500 untuk mendapatkan 90,1 juta saham baru Vallar, dimana BNBR akan menerima 50,5 juta saham baru di Vallar seharga GBP 10 per saham.

Rothschild juga mengambil alih 75% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Harga akuisisi saham BRAU akan dilakukan pada Rp 540. PT Bukit Mutiara, anak usaha Recapital Advisors melepaskan 75% sahamnya di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan akan memperoleh dana tunai Rp 6,596 triliun dan 24,9% saham Vallar Plc, perusahaan milik keluarga Rothschild.

Pelepasan 75% saham BRAU ini akan dilakukan melalui 2 cara. Sebesar 35% saham BRAU akan dibayar tunai pada harga Rp 540 per saham senilai Rp 6,596 triliun, sedangkan 40% saham BRAU akan akan ditukar guling dengan 52,2 miliar saham Vallar Plc atau sekitar 24,9,” u

Usai transaksi ini, BNBR akan menjadi induk usaha Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc akan menjadi pemegang 25% saham BUMI. Setelah transaksi, Vallar akan berganti nama menjadi Bumi Plc.

Dengan rampungnya transaksi dimaksud, Bakrie akan menjadi pemegang saham terbesar pada Bumi PLC serta berhak menunjuk posisi-posisi kunci di jajaran Direksi dan Manajemen Bumi PLC, khususnya posisi Chairman, CEO dan CFO di Vallar. Dengan demikian Bakrie akan secara langsung maupun tidak langsung, memegang kendali manajemen dan operasi di BUMI.

Transaksi ini ditangani oleh Credit Suisse sebagai penasihat keuangan BNBR. Secara tidak langsung, grup Bakrie dan Recapital pemilik Berau akan ikut tercatat di Bursa London.

(qom/qom)
Direksi Berau dan BUMI Dapat Posisi di Vallar
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Selasa, 16 November 2010 | 18:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Setelah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) mengontrol saham Vallar sebesar 60%, jajaran direksi Berau dan BUMI akan menduduki posisi di Vallar.

CEO PT Berau Coal Energy Tbk Roesan Roslani mengatakan, dirinya akan menduduki posisi Non Executive Director di Vallar. Presiden Direktur PT Bumi Resources Tbk Ari Hudaya akan menduduki posisi CEO di Vallar.

Selain itu, Indra Bakrie dan Rothschild akan menduduki posisi Chairman. “Saya akan menduduki posisi Non Executive Director,” ujar Roesan, Selasa (16/11).

PT Berau Coal Energy Tbk menjual saham Bukit Mutiara sekitar 75% ke Vallar. Bukit Mutiara akan menerima dana tunai dari 12,215 miliar saham atau 35% saham Berau di harga Rp540 per saham. Selain itu,13,960 miliar saham Berau atau 40% akan diswap menjadi 52,3 miliar saham Vallar.

PT Berau Coal Energy akan menerima dana tunai sekitar Rp6,5 triliun dari divestasi 35% saham Bukit Mutiara. Perseroan akan membayar utang dari penjualan saham Bukit Mutiara ke Vallar.

Vallar merupakan perusahaan tercatat di London Stock Exchange pada Juli 2010. Perseroan akan fokus investasi untuk sumber daya alam dan tambang. Akhir Agustus 2010, Vallar mencatatkan dana tunai sebesar US$1 miliar. [hid]

Vallar RencanaTambah Saham di BUMI & BRAU di 2011
Headline
IST
Oleh:
Pasar Modal – Selasa, 16 November 2010 | 18:12 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Vallar Plc, kendaraan investasi Nathaniel Rothschild ingin menambah kepemilikan di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada tahun 2011.

“Perusahaan berencana untuk membuat penawaran wajib untuk pemegang saham minoritas untuk meningkatkan saham di Berau dan BUMI pada tahun 2011,” kata Rothschild, mantan co-president perusahaan hedge fund Atticus Capital LLC yang berbasis di New York dan anak dari pemodal Inggris, Jacob Rothschild.

Hari ini dia juga sudah membeli 75 persen dari PT Berau Coal Energy dan 25 persen dari PT Bumi Resources dalam transaksi tunai dan saham senilai $ 3 miliar.

Mengutip Bloomberg pengambilalihan tersebut akan menciptakan sebuah pemain besar industri energi Indonesia yang akan listing di Bursa London. Hal ini disampaikan St Helier, yang berbasis perusahaan Jersey hari ini dalam sebuah pernyataannya. Bakrie Group akan menjadi pemegang saham terbesar di Vallar – untuk berganti nama menjadi BUMI Plc – dan memiliki hak untuk mencalonkan ketua, kepala eksekutif dan kepala keuangan.

Rothschild mengatakan pada bulan Juli ia mencoba untuk mendapatkan usaha pertambangan atau operasional pertambangan Vallar setelah menaikkan harga sebesar 707,2 juta ($ 1,07 miliar) dalam penawaran umum perdana di London. “Sebuah fundamental dari sektor logam dan sektor pertambangan yang menarik, mengingat permintaan yang kuat dari China dan India,” kata Ari Hudaya yang diusulkan menjadi CEO Group Vallar dalam sebuah pernyataan hari ini.

Perdagangan saham Vallar di London disuspensi. Rothschild, peringkat ketujuh dalam daftar Sunday Times dari 25 manajer terkaya hedge fund di Inggris mengestimasi kekayaan bersih tahunannya lebih dari 330 juta pound, menurut daftar yang diterbitkan dalam “Rich List” yang dipublikasi April lalu. [cms]

Valar Plc Bakal Beli Saham BUMI dan BRAU
Headline
IST
Oleh: Andika Sugiarto
Pasar Modal – Selasa, 16 November 2010 | 15:11 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Vallar Plc mengumumkan akan mengakuisisi saham di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) & PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Menurut rumor di pasar, Vallar akan membeli 75% saham BRAU dan 25% saham BUMI.

Sebelumnya saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) juga dikabarkan akan dibeli Noble Group Ltd, perusahaan pemasok komoditas asal Hong Kong sebanyak 14,15%. [cms]
UK’s Vallar buys stake in Bumi, Berau in $3 billion deal
The Jakarta Post, Jakarta | Tue, 11/16/2010 4:40 PM | Business

The United Kingdom’s Vallar PLC has agreed on a US$3 billion deal with Indonesia’s number one coal producer Bumi Resources and number five coal firm Berau Coal Energy, founder says.

Vallar’s founder Nathaniel Rothschild said his investment vehicle would buy 75 percent of Berau and 25 percent of Bumi in a cash and stock transaction.

“The transaction is a win-win deal for shareholders of both Berau Coal Energy and Vallar,” he said in London through a conference call with Jakarta reporters.

Rothschild said he expected the process to be completed in April of next year. (est)

Selasa, 16 November 2010 | 06:18 oleh Barratut Taqiyyah kontan
THE SEVEN BROTHERS
Bagaimana pergerakan saham “The Seven Brothers” pada ultah Ical?

JAKARTA. Pada penutupan sore kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan koreksi 0,26% ke level 3.656,462. Kendati begitu, sejumlah saham “The Seven Brothers” (B7) milik kelompok usaha Bakrie mencatatkan kenaikan.

Saham PT Bakrie & Brothers (BNBR), misalnya. Pada penutupan kemarin, saham BNBR masuk ke dalam jajaran 10 top gainers harian. Saham BNBR ditutup dengan lonjakan 9,62% menjadi Rp 57.

Lonjakan juga dialami oleh saham PT Bumi Resources (BUMI) sebesar 4,08% menjadi Rp 2.550. Sepanjang transaksi kemarin, saham BUMI bergerak volatil seiring dengan aksi profit taking investor. Kendati begitu, pergerakan sahamnya masih berada di zona hijau.

PT Darma Henwa (DEWA) ditutup di posisi 0% atau tetap dari posisi harga sehari sebelumnya. Kendati begitu, saham DEWA selama transaksi perdagangan kemarin bergerak positif. Saham DEWA sempat bertengger di posisi tertingginya kemarin di level Rp 73 atau naik 2,81%.

Kendati begitu, ada pula sejumlah anggota B7 lain yang mencatatkan penurunan. Mereka adalah: PT Bakrieland Development (ELTY) terkoreksi 0,64% menjadi Rp 155, PT Energi Mega Persada (ENRG) terkoreksi 3,51% menjadi Rp 110, PT Bakrie Telecom (BTEL) ditutup dengan koreksi 2% menjadi Rp 245, dan PT Bakrie Sumatra Plantations (UNSP) terkoreksi 2,7% menjadi Rp 360.

Seperti yang diberitakan KONTAN sebelumnya, kemarin, Aburizal Bakrie merayakan ulang tahun ke-64. Nah, sebagian trader menghubung-hubungkan hari spesial salah satu tokoh anggota Keluarga Bakrie itu dengan prospek saham-saham emiten anggota Grup Bakrie kemarin.

Di beberapa milis, cukup banyak trader yang menduga, saham-saham yang masih anggota B7 akan menguat hari ini. “Masak ultah merah, malu dong,” tulis seorang trader di milis obrolan-bandar@yahoogroups.com.

Sisa Dana GSSN & Tanpa HMETD BUMI $700 Jt
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh:
Pasar Modal – Senin, 15 November 2010 | 18:08 WIB

Sisa dana hasil penerbitan Guaranteed Senior Secured Notes (GSSN) dan tanpa HMETD Bumi Resources Tbk (BUMI) mencapai US$700 juta dan saat ini masih berada di rekening Perseroan.

Hal ini disampaikan Dileep Srivastava, Direktur & Corporate Secretary BUMI dalam keterbukaan informasinya ke BEI, Senin (15/11). Menurutnya, sisa dana tersebut setelah dikurangi dengan biaya emisi. Dana hasil penerbitan surat utang mencapai US$700 juta dan penerbitan saham tanpa HMETD US$360 juta.

Dijelaskan, Perseroan juga telah melunasi utang ke Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG sebesar US$83 juta dari dana hasil penerbitan surat utang tersebut.

Sementara, total utang yang dibayarkan menggunakan sumber dana penerbitan saham tanpa HMETD mencapai US$311 juta dan sisanya masih ada di rekening Perseroan. Dana yang dugunakan untuk pembayaran utang ke Credit Suisse telah ditempatkan di rekening penampungan sampai tanggal jatuh tempo pembayaran, akhir November 2011.

Adapun rincian penggunaan dana hasil penerbitan saham tanpa HMETD adalah untuk Creidt Suisse Bond Nov 2009 sebesar US$220 juta dengan sisa saldo utang US$39 juta, Credit Suisse Bond Oct 2007 senilai US$103 juta (lunas). Sementara penggunaan dana hasil penerbitan surat utang digunakan untuk membayar utang ke JP Morgan US$150 juta (refinancing), Credit Suisse US$373 juta (Refinancing) dan Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG US$80 juta (refinancing). [cms]

BUMI Bayar Utang US$311 Jt ke Credit Suisse
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Senin, 15 November 2010 | 18:45 WIB
… ayo BAYAR JUGA NASABAH BAKRIE-LIFE tukh … BURUAN😦

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah menggunakan dana penerbitan saham tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) sebesar US$311 juta untuk membayar utang kepada Credit Suisse.

Hal itu disampaikan Direktur BUMI Dileep Srivastava dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (15/11). Saat ini, sisa penerbitan saham tanpa HMETD ini dalam rekening perseroan. Perseroan mengharapkan penyelesaian tanggal jatuh tempo pembayaran pada akhir November 2010.

“Dana yang digunakan untuk pembayaran utang kepada Credit Suisse telah ditempatkan oleh Perseroan ke dalam rekening penampungan sampai tanggal jatuh tempo pembayaran,” ujar Dileep.

Perseroan menerbitkan saham tanpa HMETD. Selain itu, perseroan menerbitkan guaranteed senior secured notes sebesar US$700 juta. Dileep menuturkan, penggunaan dana hasil guaranteed senior secured notes sebesar US$609 juta karena sisa dana yang diperoleh perseroan atas penerbitan guaranteed senior secured notes US$700 juta setelah dikurangi dengan biaya emisi masih di dalam rekening perseroan.

Perseroan pun tidak memprioritaskan utang kepada Brights Ventures karena jatuh tempo utang yang dimaksud masih cukup lama. Dileep mengatakan, perseroan telah menggunakan dana penerbitan guaranteed senior secured notes sebesar US$83 juta kepada Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG.

Seperti diketahui, BUMI menggunakan dana hasil tanpa HMETD untuk melunasi utang jangka panjang kepada Credit Suisse. Perseroan memiliki utang jangka panjang yaitu Credit Suisse Bond November 2009 dan Credit Suisse Bond Oktober 2007. Perseroan akan melunasi jumlah pokok utang dibayar sebesar US$220 juta dalam Credit Suisse Bond November 2009 dengan tingkat utang bunga yang dibayar sebesar US$1 juta dan biaya tambahan sebesar US$1 juta.

Nilai Saldo utang setelah pembayaran sebesar US$39 juta per 22 November 2010. BUMI juga membayara jumlah pokok utang yang dibayar sebesar US$103 juta untuk Credit Suisse Bond Oktober 2007 dengan jumlah biaya tambaha atau put option sebesar US$25 juta.

Dana hasil penerbitan surat utang sebesar US$700 juta digunakan oleh perseroan untuk membayar utang jangka pendek dan jangka panjang. Perseroan membayar jumlah pokok utang yang dibayar kepada JP Morgan sebesar US$150 juta. Selain itu, BUMI membayar jumlah pokok utang yang dibayar kepada Credit Suisse sebesar US$373 juta dan Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG sebesar US$80 juta. Jumlah utang bunga yang dibayar kepada tiga institusi tersebut sebesar US$3 juta. [hid]

Irwan Ibrahim
BUMI Berpotensi Melaju ke Level Rp2.500
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Senin, 15 November 2010 | 10:25 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Senin (15/11) ini masih akan melemah, namun pekan ini ada peluang naik ke level Rp2.500, seiring kenaikan batubara ke US$108 per metrik ton. Buy on weankess!

Pengamat pasar modal Irwan Ibrahim mengatakan, kecenderuangan melemah saham PT Bumi Resources (BUMI) akibat kondisi market regional yang konsolidasi pascapertemuan G20 di Seoul, Korea Selatan, akhir pekan lalu. Namun menurutnya, koreksi ini hanya bersifat sementara.

Pasalnya, harga batubara yang naik ke level US$108,84 dari level US$104,88 per metrik ton berdasarkan harga di Newcastle, akan mendukung penguatan saham BUMI ke depannya. Dalam sepekan ke depan, saham BUMI masih berpeluang menguat ke level resistance Rp2.500 dengan support di level Rp2.300, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Jumat (12/11) saham BUMI ditutup melemah Rp50 (2%) ke level Rp2.450 dari posisi sebelumnya Rp2.500. Harga tertingginya mencapai Rp2.550 dan terendah Rp2.400. Volume transaksi mencapai 223,8 juta unit saham senilai Rp555,6 miliar dan frekuensi 4.107 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah melemah Rp50, bagaimana Anda memperkirakan, laju saham BUMI awal pekan ini?
Saya melihat peluang variatif di pergerakan saham PT Bumi Resources awal pekan ini dengan kecenderungan melemah. Ini lebih karena negatifnya sentimen market baik global maupun domestik. Karena itu, tekanan jual atas saham ini jauh lebih besar daripada tekanan beli.
Negatifnya sentimen market akibat pertemuan G20 di Seoul Korea Selatan akhir pekan lalu.

G20 pekan lalu memicu penurunan kondisi likuiditas di market. Sebab, Presiden AS Barack Obama, meminta dukungan G20 untuk tidak membantu pelonggaran di sektor perbankan. Ini akan berdampak pada psikologi pasar dalam 2-3 hari sehingga BUMI pun tertekan ke bawah. Pada saat yang sama, China berencana kembali menaikkan suku bunga sebesar 57 basis poin. Ini seiring dengan kenaikan inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Akan bergerak di kisaran berapa?
Untuk Senin (15/11) ini, saham BUMI berpeluang mengarah ke level support Rp2.350 dan Rp2.500 sebagai level resistance-nya.

Sampai kapan peluang koreksi saham BUMI?
Koreksi ini, hanya bersifat sementara. Sebab, harga batubara yang naik ke level US$108,84 dari pekan lalu US$104,88 per metrik ton berdasarkan harga di Newcastle, akan mendukung penguatan saham BUMI ke depannya. Meskipun, untuk awal pekan, batubara tidak berpengaruh pada pergerakan saham BUMI.

Dalam sepekan ke depan, saham BUMI masih berpeluang menguat ke level Rp2.500 dengan kisaran pergerakan support di level Rp2.300 dan Rp2.500 sebagai level resistance-nya. Penguatan harga batubara, akan turut mendongkrak saham ini pada pertengahan pekan ini. Karena itu, tidak tertutup kemungkinan, jika level resistance Rp2.500 bisa ditembus, BUMI berpeluang mengarah ke level berikutnya di resistance Rp2.600.

Faktor lain yang bisa mendukung penguatan BUMI ke depannya?
Perseroan kemarin telah mencairkan penjualan aset tahun lalu senilai US$280 juta. Ini masih jadi sentimen positif bagi saham sejuta umat ini. Sebab, memang, hingga saat ini, beban bunga BUMI masih tinggi. Tapi, dengan adanya ekstra dana itu, secara fundamental saham ini jadi positif. Tapi, awal pekan ini, BUMI belum akan positif karena terdampak negatif dari sentimen regional.

Apa rekomendasi Anda?
Saya rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI. Ketika melemah ke level Rp2.350 saatnya investor melakukan pembelian. [ast]
Senin, 15 November 2010 | 12:26 oleh Barratut Taqiyyah
SAHAM-SAHAM ENERGI kontan
BUMI & ADRO sumbang energi positif di sektor pertambangan sesi I
… kayanya kenaikan ini senada dengan pernyataan Herman🙂 …
JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan pergerakan negatif siang ini. Satu-satunya sektor yang mencatatkan kenaikan antara lain sektor pertambangan sebesar 0,03%.

Saham-saham energi tampak bergerak positif. Kondisi itu sejalan dengan lonjakan harga minyak dunia. Asal tahu saja, kontrak harga minyak di New York naik 0,5% menjadi US$ 85,26 sebarel.

Berikut saham-saham energi yang mencatatkan kenaikan di sesi I:

– PT Bumi Resources (BUMI)
Saham BUMI berhasil ditutup dengan lonjakan 2,04% menjadi Rp 2.500 dari posisi sebelumnya Rp 2.450.

– PT Adaro Energy (ADRO)
Saham ADRO ditutup dengan kenaikan 1,04% menjadi Rp 2.425 dari sebelumnya Rp 2.400.

Cece Ridwanullah
Aksi Korporasi Picu BUMI Konsolidasi ke Atas
IST
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Jumat, 12 November 2010 | 10:54 WIB
INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Jumat (12/11) diprediksi konsolidasi cenderung naik. Berbagai aksi korporasi dan kenaikan harga komoditas terutama batubara jadi katalisnya.

Cece Ridwanullah, analis Ekokapital Securities mengatakan, potensi kenaikan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini karena berbagai aksi korporasi. Salah satunya, karena emiten ini mendapatkan dana dari penjualan salah satu aset anak usahanya, sebesar US$280 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk membayar utang.

Di sisi lain, anak usahanya yaitu PT Multicapital akan menambah kepemilikan di PT Multi Daerah Bersaing (MDB) dari level 75% menjadi 85%. Ini sekaligus menaikkan kepemilikan saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Hal itu, menjadi berita sangat baik bagi pasar. Sebab, Newmont akan memberikan kontribusi signifikan nantinya bagi usaha BUMI, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (12/10).

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp125 (5,26%) jadi Rp2.500 dengan intraday tertinggi di Rp2.525 dan terendah Rp2.325. Volume transaksi mencapai 283,2 juta unit saham senilai Rp693,6 miliar dan frekuensi 5.851 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah menguat Rp125, bagaimana Anda memperkirakan laju saham BUMI akhir pekan ini?
Saya melihat potensi konsolidasi saham PT Bumi Resources (BUMI) dengan kencenderungan menguat. Ini karena dua faktor. Salah satunya, kenaikan harga batubara ke level US$104 per metrik ton berdasarkan harga di Newcastle dan tiga aksi korporasi. Berbagai emiten batubara pun akan turut menguat dalam beberapa hari ke depan.

Tapi, karena kondisi market regional dan domestik yang konsolidasi ke bawah, saham BUMI pun turut konsolidasi meskipun akan tetap bertahan di area positif. Sebab, hari ini bursa regional lebih menentukan pergerakan market domestik.

Konsolidasinya market regional, telah memicu koreksi IHSG sebesar 10 poin pada pukul 09.30 WIB. Ini dimotori oleh Hang Seng yang sudah dibuka minus 1,15%, Nikkei 0,81%, dan bursa Singapura minus 0,5%. Akibatnya, market domestik akan konsolidasi ke bawah. Tapi, untuk BUMI akan tetap konsolidasi ke atas meskipun bursa regional melaju di zona merah.

Akan bergerak di kisaran berapa?
BUMI akan konsolidasi cenderung menguat ke level resistance Rp2.550-2.600 dan target terdekatnya di level Rp2.700. Sedangkan Rp2.425-2.375 sebagai level support-nya.

Apa yang bisa mempertahankan saham BUMI di teritori positif?
Pergerakan saham BUMI mendapat dukungan dari aksi korporasi anak usahanya yaitu PT Multicapital. Anak usaha tersebut akan menambah kepemilikan di PT Multi Daerah Bersaing (MDB) dari level 75% menjadi 85%. Ini sekaligus menaikkan kepemilikan saham di Newmont (PT Newmont Nusa Tenggara/NNT). Hal itu, menjadi berita sangat baik bagi pasar. Sebab, Newmont akan memberikan kontribusi signifikan nantinya bagi usaha BUMI.

Di sisi lain, BUMI juga akan mendapatkan dana, dari penjualan salah satu aset anak usahanya, sebesar US$280 juta. Ini merupakan penjualan aset tahun lalu, yang akan cair hari ini. Karena itu, dana tersebut akan digunakan untuk membayar utang.

IPO PT Bumi Resources Minerals bagaimana?
Ya itu juga. Anak usaha BUMI yang lain yaitu PT Bumi Resourses Minerlas (BRMS), akan segera melakukan penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Dengan berita-berita positif tersebut BUMI akan terus konsolidasi ke atas.

Apa rekomendasi Anda?
Kalaupun BUMI turun, bisa dikoleksi antara level Rp2.425-2.375. Buy on support karena regional tidak mendukung. [ast]

Inilah Saham Pilihan Jumat (12/11)
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh:
Pasar Modal – Jumat, 12 November 2010 | 04:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Dengan outlook makro ekonomi dan pertumbuhan laba emiten 2011 yang optimis membuat analis menurunkan valuasi PER IHSG di 3.750 dari 16x ke 14x jadi masih ada bisa upside.

Demikian dikutip dari hasil riset analis senior HD Capital, Yuganur Wijanarko, kemarin. “Bila masih terjadi penekanan lebih lanjut akibar koreksi dari level jenuh beli (overbought) pasca pencetakan new high kemarin rekomen akumulasi,” katanya.

Indeks kemarin ditutup turun 12,35 poin (0,33%) ke 3.744,62. Volume perdagangan 7,8 miliar unit saham senilai Rp7,9 triliun. IHSG mengalami net foreign sell Rp170,1 miliar dengan total pembelian asing Rp3,7 triliun dan total penjualan asin mencapai Rp3,8 triliun. Hari ini indeks akan bergerak di level support 3.720-3.675-3.630 dan level resistance: 3.778-3.850-3.900.

Saham pilihan Adaro Energy (ADRO). Kenaikan harga batubara selama 1 bulan diatas $100/ton dapat membuat analis menaikan adjustment value cadangan tambang batubara emitten keatas. Emitten dengan cadangan batubara terbesar (ADRO & BUMI) akan sangat diuntungkan dari re valuasi asset adjustement ini ke harga batubara yang baru untuk Q4 2010.

Saham ADRO disarankan beli dengan target harga di 2.600 dari penutupan kemarin di 2.450. Strategi masuk pertama di 2.425 dan kedua di 2.350 dengan cut loss di 2.250.

Saham Bumi Resources (BUMI). Pasar mulai antisipasi efek dari naiknya proyeksi laba per saham karena pembayaran hutang berkurang pasca IPO Bumi Resources Mineral. Proses pengurangan hutang lewat penjualan IPO anak perusahaan mirip dengan INDF melepas ICBP (mie instan) sehingga efek positif ke kinerja perusahaan bisa sangat mirip.

Saham BUMI disarankan beli dengan target harga di 2.700 dari penutupan kemarin di 2.500. Strategi masuk pertama di 2.425 dan kedua 2.350 dengan cut loss di 2.250.

Saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) disarankan beli dengan target harga di 8.800 dari penutupan kemarin di 8.500. Strategi masuk perama di 8.400 dan kedua di 8.300 dengan cut loss di 8.150.

Saham Trada Maritime (TRAM) disarankan beli dengan target harga di 710 dari penutupan kemarin 640. Strategi masuk pertama di 630 dan kedua di 610 dengan cut loss di 590. [hid]

Saham ENRG & ADRO Berpotensi Naik
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh:
Pasar Modal – Rabu, 10 November 2010 | 09:55 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) hari ini berpotensi terjadi golden corss yang mengindikasikan sinyal positif. Saham Adaro Energy (ADRO) juga berpotensi naik terbatas.

Demikian dikutip dari hasil riset Reliance Securities, Rabu (10/11). Saham ENRG akan bergerak di titik resisten di level 124-128 dan titik support di level 117-112. Williams %R mengindikasikan sinyal positif untuk perdagangan hari ini.

Pada perdagangan hari ini pukul 09:50 WIB saham ENRG stagnan di Rp120 dengan volume perdagangan 10.630 unit saham senilai Rp634,7 juta sebanyak 40 kali transaksi.

Sedangkan saham ADRO close time high, ADRO masih berpotensi menguat terbatas. Titik resisten hari ini di level 2.625 dean titik support di 2.450-2.375. Saham ADRO pada pukul 09:50 turun Rp50 ke Rp2.450 dengan volume 25.332 unit saham senilai Rp31,4 miliar sebanyak 110 kali transaksi. [hid]
ASII & BUMI, Saham Pilihan Sesi Dua
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Selasa, 9 November 2010 | 12:24 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kenaikan harga komoditas telah mengantarkan indeks ke level tertinggi dalam sejarah di sesi pertama. Saham ASII dan BUMI jadi pilihan di sesi dua.

Pada sesi pertama perdagangan Selasa (9/11), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 39,75 poin (1,07%) ke level 3.739,01. Indeks saham unggulan LQ45 juga naik 7,79003 poin (1,08%) ke level 690,2.

Laju indeks siang ini mendapat dukungan dari besarnya volume transaksi yang tercatat mencapai 3,231 miliar lembar saham, senilai Rp3,307 triliun dan frekuensi 84.823 kali. Sebanyak 111 saham menguat, 89 melemah dan 83 stagnan. Investor asing mencatatkan net foreign buy senilai Rp150,7 miliar dengan aksi beli Rp846,3 miliar dan aksi jual Rp695,5 miliar.

Mayoritas sektor saham mendukung penguatan indeks. Sektor pertambangan memimpin penguatan hingga 2,93%, disusul industri dasar 1,88%, keuangan 1,40%, perdagangan 0,97%, aneka industri 0,68%, manufaktur 0,44%, infrastruktur 0,22% dan properti 0,09%. Hanya dua sektor yang melemah, konsumsi 0,63% dan perkebunan 0,03%.

Yuganur Wijanarko, senior researcher HD Capital memperkirakan, pergerakan indeks saham domestik akan terus menguat hingga penutupan sore nanti. ““Indeks akan mengarah ke level resistance 3.720-3.750 dan 3.700-3.680 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (9/11).

Dia menegaskan, IHSG akan bertahan di teritori positif, di level tertingginya dalam sejarah. Hal ini dipicu penguatan harga komoditas terutama batubara dan minyak mentah dunia. Harga batubara naik ke level US$104,88 per metrik ton berdasarkan harga di Newcastle.

Begitu juga harga minyak mentah dunia yang sempat naik ke level US$87,40 per barel. Crude palm oil (CPO) naik tajam ke level RM3.191 atau US$1.034 per ton. Harga nikel dan timah pun tak ketinggalan.

“Karena itu, meski level 3.700 baru ditembus, indeks akan terus menguat hari ini,” tambahnya. Peluang penguatan indeks berikutnya ke level 3.775 dalam beberapa hari ke depan.

PT Astra Internasional (ASII) dan PT Telkom (TLKM) akan jadi mover utamanya. “Sebab, laporan keuangan kuartal keempat untuk ASII diperkirakan akan bagus di atas ekspektasi,” ucapnya.

Menurut Yuga, pasar berkaca pada positifnya kinerja ASII di kuartal ketiga 2010. Pajak progresif yang diberlakukan bagi kepemilikan kendaraan tak lagi berpengaruh terhadap saham ASII. “Sebab, pasar lebih fokus pada kinerjanya di kuartal keempat,” paparnya.

Sementara itu, pasar melihat valuasi saham TLKM saat ini sudah mulai murah. Sebab, secara teknikal, saham Telkom seharusnya berada di atas kisaran Rp8.500.

Lebih jauh, Yuganur mengatakan, setelah indeks menyentuh level 3.775, baru memiliki peluang koreksi. Saat ini, harga komoditas masih menjadi pemicu utama penguatan indeks. “Ini sebagai efek stimulus (quantitative easing (QE)) tahap kedua yang digulirkan The Fed. Nilainya mencapai US$600 miliar,” tandasnya.

Seiring tingginya harga komoditas, saham pertambangan masih menjadi penggerak utama indeks hari ini. Di antaranya PT Adaro Energy (ADRO), PT Bumi Resources (BUMI), PT International Nickel (INCO) dan PT Aneka Tambang (ANTM). “Setelah itu, indeks akan digerakkan sektor telekomunikasi terutama saham Telkom,” ungkapnya.

Dalam situasi ini Yuga hanya menjatuhkan pilihan pada saham PT Astra Internasional (ASII) dan PT Bumi Resources (BUMI). BUMI mendapat sentimen positif dari Initial Public Offering (IPO) anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals (BRMS). Laba BUMI per share pun akan terdongkrak karena utangnya terhapus. “Saya rekomendasikan beli BUMI dan ASII,” imbuhnya. [mdr]

Senin, 08 November 2010 | 12:35 oleh Abdul Wahid Fauzie, Ade Jun Firdaus
RENCANA IPO BUMI RESOURCES MINERAL
Harga kisaran IPO Bumi Resources Mineral Rp 625-Rp 635 per saham

JAKARTA. Setelah berhasil mengantongi pernyataan pra-efektif dari Badan Pengawas Pasa Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), saat ini, PT Bumi Resources Minerals (BRM) mulai akan menetapkan harga penawaran.

Terkait hal itu, Vicky Ganda Saputra dari PT Danatama Makmur selaku penjamin emisi memberikan sedikit bocoran. “Kisaran harga IPO BRM sekitar Rp 625 sampai Rp 635 per saham,” jelasnya. Sementara, harga kisaran waran BRM sekitar Rp 690-Rp700.

Sekedar mengingatkan, BRM akan menawarkan saham sebanyak 16% hingga 20%. Dari penerbitan saham baru itu, BRM menargetkan mampu meraup dana sebesar US$ 200 juta hingga US$ 300 juta.

BUMI Kian Bergairah, Batubara Tembus US$104
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Senin, 8 November 2010 | 09:02 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Senin (8/11) diprediksi menguat. Faktor teknikal, rencana IPO BRM, kenaikan harga komoditas dan murahnya valuasi menjadi katalisnya. Beli di level Rp2.250-2.175!

Cece Ridwanullah, analis Ekokapital Securities mengatakan, banyak faktor yang bisa menjadi katalis penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) awal pekan ini. Salah satunya, adalah faktor teknikal. Menurutnya, jika dilihat dari technical chart-nya, saham sejuta umat ini sudah menunjukkan golden cross.

Hal itu, lanjutnya, menandakan saham ini berpeluang tembus ke level Rp2.425. “BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.325-2.425 dan Rp2.250-2.175 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (7/11).

Pada perdagangan akhir pekan lalu, saham BUMI ditutup menguat Rp100 (4,59%) jadi Rp2.275 dari posisi sebelumnya Rp2.175. Harga tertingginya mencapai Rp2.325 dan terendah Rp2.200. Volume transaksi mencapai 148,9 juta unit saham senilai Rp336,6 miliar dan frekuensi 3.584 kali.

Selain teknikal, kenaikan saham BUMI juga karena peningkatan tajam harga-harga komoditas terutama minyak mentah dunia dan batubara. Hali ini akibat pelemahan dolar AS seiring digulirkannya quantitative easing (QE) atau pelonggaran kuantitatif AS tahap kedua oleh The Fed senilai US$600 miliar hingga Juni 2011.

Akibatnya, dolar AS melimpah sehingga melemah terhadap mata uang lain dan dengan sendirinya, harga komoditas mengalami kenaikan. Di antaranya, harga batubara naik ke level US$104,88 per metrik ton berdasarkan harga di Newcastle.

Minyak mentah dunia naik ke level US$87,40 per barel. Crude palm oil (CPO) naik tajam ke level RM3.191 atau US$1.034 per ton. “Begitu juga dengan harga nikel dan timah,” timpalnya.

Pada saat yang sama, saham ini akan bermain cantik, juga karena faktor rencana Initial Public Offering (IPO), anak usaha BUMI yaitu PT Bumi Resources Mineral (BRM). “BRM nantinya akan menarik ke atas saham sejuta umat ini,” tambahnya.

Memang, sebelumnya BUMI mengalami koreksi yang dipicu aksi jual asing. Tapi, IPO BRM akan memicu saham sejuta umat ini menjadi atraktif bersamaan dengan kenaikan harga komoditas.

“Apalagi, asing di akhir pekan lalu pun sudah posisi net buy sebesar Rp272,2 miliar. Artinya, mereka sudah kembali bergairah,” tandasnya. Dalam jangka menengah, hingga akhir tahun, dengan go public-nya BRM, otomatis akan mengurangi beban keuangan BUMI.

Potensi kenaikan saham batubara thermal ini juga dipicu faktor valuasi. Menurutnya, akibat kenaikan harga komoditas, beberapa saham yang berkaitan dengan batubara sudah mencapai level tertingginya.

Di antaranya, PT Indika Energy (INDY), PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) dan PT United Tractors (UNTR). “Tinggal saham BUMI yang belum mencapai harga tertingginya. BUMI saatnya dapat giliran naik,” urainya.

Sementara itu, pasar juga masih menantikan laporan keuangan BUMI. Diharapkan, penjualan batubara BUMI mengalami kenaikan, sehingga bisa juga menjadi amunisi penguatan saham anak usaha grup Bakrie ini. “Jika penjualan naik, laba bersih pun akan naik. Sebab, harga batubara di kuartal ketiga lebih baik dari kuartal sebelumnya,” tuturnya.

Hanya saja masalahnya, imbuh Cece, di kuartal tiga muncul ekspektasi penurunan produksi batubara BUMI akibat buruknya cuaca. Tapi, hal itu diimbangi kenaikan harga batubara. “Kalaupun produksi batubara turun, tapi karena harganya naik, laba bersih BUMI tetap akan lebih baik,” timpalnya.

Karena berbagai sentimen positif itu, target harian BUMI di level Rp2.500 jika level resistance Rp2.425 berhasil ditembus. Sedangkan Rp3.000 ditargetkan dicapai menjelang akhir 2010. “Kalaupun tidak tercapai, akan mendekati level tersebut di akhir tahun,” tegasnya.

Di atas semua itu, Cece merekomendasikan positif saham BUMI baik untuk jangka pendek maupun menengah-panjang. Menurutnya, pelaku pasar bisa melakukan pembelian di level support 2.250-2.175. “Long term buy pun cocok karena memang adanya aksi korporasi yaitu IPO BRM,” ungkapnya. [mdr]

PT Bumi Resources Mineral Tbk akan menawarkan saham ke publik sebanyak-banyaknya 4,32 miliar dengan nilai nominal Rp625, Bumi Resources Mineral juga menawarkan sebanyak-banyaknya 2,88 waran seri I. Waran seri I diberikan kepada setiap pemegang saham secara cuma-cuma dengan ketentuan setiap pemegang tiga saham yang namanya tercatat akan memperoleh dua waran seri I.

Ada pun yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek yaitu PT Danatama Makmur dan Nomura. Diperkirakan jadwal tanggal efektif pada 22 November 2010, masa penawaran 24 November -26 November 2010, tanggal penjatahan 30 November, pengembalian uang pesanan 1 Desember, distribusi saham secara elektronik 1 Desember, pencatatan saham pada Bursa Efek Indonesia (BEI) 2 Desember. Sementara itu, masa perdagangan waran seri I pasar reguler dan negoisasi pada 2 Desember-26 November 2012, masa perdagangan waran seri I pasar tunai pada 2 Desember hingga 29 November 2012, periode pelaksanaan waran seri I 2 Juni 2011-30 November 2012, dan akhir masa berlakunya waran seri I pada 30 November 2012.

Hingga Juni 2010, Perseroan memiliki laba bersih Rp174,685 juta dan pendapatan Rp62,780 juta.

Sumber : INILAHCOM
Kamis, 04/11/2010 20:07:56 WIB
IPO Bumi Mineral praefektif
Oleh: Bambang P. Jatmiko
JAKARTA: PT Bumi Resources Minerals Tbk mendapatkan pernyataan praefektif dai Bapepam dalam rangka pelaksanaan penawaran publik perdana (initial public offering/ IPO).

Executive Director Vicky Ganda Saputra selaku penjamin emisi perseroan mengatakan dengan diperolehnya pernyataan praefektif itu, perseroan akan segera melaksanakan roadshow ke sejumlah negara untuk menawarkan saham kepada calon investor.

“Kami akan melaksanakan roadshow ke Asia dan Eropa. Kami juga akan melaksanakan paparan publik sebelum melaksanakan roadshow itu,” ujarnya dalam keterangan resmi hari ini.

Anak usaha PT Bumi Resources ini telah menunjuk Danatama Makmur dan Nomura Indonesia untuk bertindak sebagai Penjamin Pelaksana

Emisi Saham dan Credit Suisse, JP Morgan serta Nomura Internasional sebagai International Selling Agents.

Bumi Resources Mineral adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan berbagai mineral yang djlanakan melalui anak-anak perusahaannya. Anak usaha perseroan beroperasi di berbagai wilayah di Indonesia dan Afrika Barat/ komoditas tambang yang dimiliki adalah emas, tembaga, seng, timah hitam, bijih besi, permata dan mineral lainnya.

Melalui kepemilikan atas anak perusahaannya, BRMS memiliki aset pertambangan seng (zinc), timah dan perak serta bijih besi (iron ore) melalui kepemilikan 80% saham di PT Dairi Prima Minerals dan 60% saham di Bumi Mauritania S.A (Mauritania).(htr)
Lunasi Akuisisi, ELTY Berpotensi Menuju Rp300
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh:
Pasar Modal – Kamis, 4 November 2010 | 08:38 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dikabarkan akan melunasi pembayaran akuisisi saham PT Sentul City Tbk (BKSL) untuk menuntaskan pembangunan proyek infrastruktur pemerintah akhir 2010.

Berita ini sangat memberikan sentimen positif bagi Perseroan ke depan. Sejumlah bandar yang mendengar isu ini tengah bersiap untuk menggiring saham ELTY hingga ke level Rp300 dalam waktu dekat.

Pada penutupan perdagangan kemarin, saham ELTY menguat tiga poin ke level Rp161. [cms]
Merger Esia-Flexi Hampir Dipastikan Terjadi
Headline
IST
Oleh: Andika Sugiarto
Pasar Modal – Kamis, 4 November 2010 | 12:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Merger dua produk CDMA, Esia milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan Flexy milik PT Telkom Tbk hampir dipastikan akan terjadi.

Hal ini disampaikan Presdir BTEL, Anidya N.Bakrie di Jakarta, Kamis (4/11). Dia mengakui sudah mengikuti semua proses terkait merger antara Esia dan Flexy, seperti dengan pihak KPPU, Bapepam-LK dan Menkominfo. “Sudah ada diskusi serius dengan Flexy seiring dengan adanya keinginan untuk konsolidasi,” ujarnya.

Adapun alasan keyakinannya terhadap kepastian merger tersebut disebabkan dari sisi pemerintah yang menargetkan jumlah provider yang hanya 10-11 provider yang beroperasi. “Jadi ada kemungkinana BTEL gabung dengan yang lain (Flexy),” ujarnya.

Diharapkan, lanjutnya, dari kombinasi ini ada penghematan dari sisi marketing dan operasional baik dari BTEL dan Flexi. [cms]
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengklaim bila masalah perseroan yang kalah di Pengadilan Pajak tidak akan berpengaruh terhadap pergerakan saham BUMI.

Pada pukul 10/15 waktu JATS, saham BUMI mengalami pelemahan sebesar Rp50 ke Rp2.125 per saham dari sebelumnya Rp2.175 per saham

Sumber : OKEZONE.COM
Saham BUMI, Kamis (4/11) diprediksi sideways cenderung melemah. Emiten ini dinilai terlalu tinggi mematok target produksi batubara sehingga susah tercapai. Buy on weakness (BoW).

Potensi sideways-nya saham PT Bumi Resources (BUMI) dengan kecenderungan melemah hari ini masih dipicu kekhawatiran pasar terkait tidak tercapainya target produksi batubara di kuartal ketiga.

Sumber : INILAH.COM
TLKM didera aksi jual. Kondisi tersebut membuat saham TLKM terpuruk, sampai hari ini saham TLKM telah turun 3.01% menjadi Rp 8.050. Perusahaan asing yang telah menjual saham TLKM di lakukan oleh Macquarie Capital Securities Indonesia senilai Rp 108,86 miliar, Credit Suisse Securities senilai Rp 104,27 miliar, dan Deutsche Securities senilai Rp 40,40 miliar.

Aksi jual terhadap saham TLKM sudah dimulai sejak 29 Oktober 2010. Dengan demikian, dalam kurun waktu tiga hari, saham TLKM sudah anjlok 10,2%.

Sumber : KONTAN.CO.ID
Saham BUMI, Rabu (3/11) diprediksi bergerak mendatar cenderung melemah. Pasar khawatir komitmen pembayaran utang dan produksi batubara perseroan turun. Hold saja.

Janson Nasrial, pengamat pasar modal dari AmCapital Indonesia mengatakan, kecenderungan flat-nya pergerakan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini salah satunya karena faktor indeks saham domestik yang hari ini berpeluang mendatar. Pasar masih akan fokus pada hasil pertemuan The Fed 2-3 November ini.

Di sisi lain, pasar juga masih menantikan laporan kinerja keuangan BUMI. “Karena itu, BUMI berpeluang bergerak dalam kisaran sempit dengan support Rp2.200 dan Rp2.225 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (2/11).

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp25 (1,11%) ke level Rp2.225 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.250. harga tertingginya mencapai Rp2.275 dan terendah Rp2.200. Volume transaksi mencapai 63,4 juta unit saham senilai Rp140,9 miliar dan frekuensi 1.475 kali.

Janson melanjutkan, jika dilihat dari berbagai indikasi, sebenarnya harga batubara naik ke level US$100,48 per metrik ton berdasarkan harga di Newcastle. Ini seharusnya menjadi katalis penguatan saham BUMI. “Hanya, karena sentimen market sedang negatif kenaikan harga batubara itu tidak mengangkat saham sejuta umat ini,” imbuhnya.

Sumber : INILAH.COM
Saham Favorit Apa di Akhir Pekan?
Saham-saham second liner (lapis dua) dan third liner (lapis tiga) akan menjadi pilihan..
JUM’AT, 22 OKTOBER 2010, 07:14 WIB Antique

VIVAnews – Investor di Bursa Efek Indonesia diprediksi tetap memburu sejumlah saham di akhir pekan ini, Jumat 21 Oktober 2010. Meski, secara historikal di penutupan perdagangan saham selama sepekan biasanya akan diwarnai aksi ambil untung (profit taking).
“Saham-saham second liner (lapis dua) dan third liner (lapis tiga) akan menjadi pilihan para pelaku pasar modal di akhir pekan,” kata Hendri Effendi, analis PT Citi Pacific Securities kepada VIVAnews di Jakarta. Menurut Hendri, investor asing maupun lokal sepertinya akan mengalihkan portofolio (switching) dari saham-saham unggulan atau berkapitalisasi pasar besar yang terlihat sedang bergerak konsolidasi mengikuti indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia, setelah menguat banyak. Namun, ia mengaku biasanya pemodal di lantai bursa akan melirik saham-saham second liner dan third liner yang relatif masih murah harganya dan memiliki kinerja menjanjikan.
Hendri merekomendasikan, saham PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), PT Lautan Luas Tbk (LTLS), PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), serta Grup Bakrie. Selain saham-saham tersebut, ia juga merekomendasikan saham-saham industri properti yang terlihat juga masih menarik untuk diburu, seiring banyaknya agenda aksi korporasi. “Tapi sekedar saran, sebaiknya investor tetap berhati-hati dan disiplin dalam melakukan transaksi di saham-saham tersebut agar tidak terperangkap di harga atas,” tutur Hendri.
Sedangkan Head of Research PT Recapital Securities Pardomuan mengakui, saham-saham industri komoditas tambang maupun perkebunan masih berpotensi diburu investor hingga akhir pekan ini, selain terkait harga komoditas yang cenderung naik.
Ia menambahkan, proyeksi peningkatan kinerja dari kuartal II ke kuartal III tahun ini, seiring sentimen pergerakan harga komoditas di pasar dunia, yang bisa terefleksikan ke harga saham turut mendorong bakal diakumulasinya saham sektor komoditas.
• VIVAnews

Saham BUMI, Kamis (21/10) diprediksi naik. Derasnya arus capital inflow menyusul terkendalinya demonstrasi 1 tahun pemerintahan SBY jadi katalisnya. Rekomendasi speculative buy!

Aji Martono, pengamat pasar modal dari Capital Bridge Indonesia mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI.JK) hari ini semata faktor derasnya arus capital inflow. Pasar melihat, demonstrasi peringatan satu tahun pemerintah SBY-Boediono masih terkendali.

Sebab, hingga malam tidak terjadi huru-hara yang berarti meski terjadi penembakan. Derasnya arus dana tersebut salah satunya masuk di saham BUMI, katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Rabu (20/10), saham BUMI menguat Rp50 (2,12%) jadi Rp2.400 dengan intraday tertinggi mencapai Rp2.425 dan terendah Rp2.250. Volume transaksi mencapai 179,9 juta unit saham senilai Rp424,6 miliar dan frekuensi 2.958 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah menguat Rp50, bagaimana laju saham BUMI hari ini?
Saya melihat potensi penguatan di saham PT Bumi Resources hari ini. Sebab, arus capital inflow ke market domestik mengalir deras termasuk di saham sejuta umat ini. Terkendalinya demonstransi peringatan 1 tahun pemerintah SBY-Boediono, jadi pemicu kembalinya dana asing. Derasnya arus dana tersebut salah satunya masuk di saham BUMI.

Akan bergerak di kisaran berapa?
Karena itu, Kamis (21/10) ini, BU

Sumber : INILAH.COM
Chart forBumi Resources Tbk (BUMI.JK)

Saham BUMI, Kamis (21/10) diprediksi melanjutkan penguatan. Tidak terjadinya huru-hara pada demonstrasi satu tahun pemerintahan SBY-Boediono menjadi katalisnya. Speculative buy BUMI!

Aji Martono, pengamat pasar modal dari Capital Bridge Indonesia mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI.JK) hari ini dipicu oleh arus capital inflow ke market domestik.

Terkendalinya, demonstransi peringatan 1 tahun pemerintah SBY-Boediono menjadi pemicu kembalinya dana asing. Derasnya arus danta tersebut salah satunya masuk di saham BUMI.

“Karena itu, Kamis (21/10) ini, BUMI.JK berpeluang mengarah ke level resistance Rp2.525 dan Rp2.225 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (20/10) malam.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI menguat Rp50 (2,12%) jadi Rp2.400 dari sebelumnya Rp2.350. Harga tertingginya mencapai Rp2.425 dan terendah Rp2.250. Volume transaksi mencapai 179,9 juta unit saham senilai Rp424,6 miliar dan frekuensi 2.958 kali.

Menurut Aji, pada perdangan kemarin, saham BUMI berhasil menjadi nutrisi bagi pergerakan market yang lesu. Setelah kemarin sempat melemah ke level Rp2.275 kembali terjadi bargaining position terhadap saham sejuta umat ini. “Saham-saham di grup Bakrie lainnya juga turut terangkat,” timpalnya.

Di antaranya, saham PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP.JK) yang selama ini sulit tembus di

Sumber : INILAH.COM

… bwat yang penasaran dengan enrg : lihat grafik harga saham enrg dan baca posting gw soal 2H 2010 @enrg : http://sahambumicrash2009.blogdetik.com/2010/09/05/laba-enrg-bisaaaaaaaaaaaaa/ dan https://sahambumi.wordpress.com/2010/04/05/enrg-2010-semester-ii-akan-terbukti-050410/

Chart forEnergi Mega Persada Tbk (ENRG.JK)
Anak Usaha ENRG sudah Tanggulangi Kebocoran Gas
Oleh : Agustina Melani
Pasar Modal – Senin, 18 Oktober 2010 | 19:46 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Anak usaha PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yaitu Kalila (Korinci Baru) Limited (KKBL) telah menanggulangi gangguan akibat kebocoran pipa di desa Melebung, kecamatan Tenayan Raya,Riau pada Sabtu (16/10).

Hal itu disampaikan manajemen dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (18/10). Penanggulangan kebocoran tersebut dilakukan dengan metode clamp pada Sabtu (16/10). KKBL harus menunggu selesainya proses perawatan compresor tersebut sehingga aliran gas ke Teluk Lembu baru berjalan normal kembali pada Minggu (17/10).

Perseroan juga menegaskan, KKBL tetap memegang komitmen pasokan gas ke PLN untuk keperluan pembangkit listrik di Pekanbaru. Pasokan gas KKBL ke PLN adalah sebesar 7,5 MMSCFD yang dapat menghasilkan listrik sebesar 18 MW. Sesuai komitmen, KKBL terus berusaha untuk meningkatkan pasokan hingga sebesar 30 MMSCFD ke PLN dengan memproduksikan sumur-sumur baru di Segat 2, Segat 3, Segat 4 dan Seng 1. [hid]
Pilih Saham Lapis Dua & Bakrie

IST
Oleh : Asteria
Pasar Modal – Senin, 18 Oktober 2010 | 06:41 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia Senin (18/10) diperkirakan berbalik arah dan menguat. Saham lapis dua dan saham Bakrie bisa menjadi pilihan.

Willy Sanjaya, analis dari Lautan Dana memprediksikan, IHSG awal pekan ini masih berpotensi rebound, setelah akhir pekan lalu terimbas profit taking investor. “Pasar akan mengantisipasi rilisnya laporan keuangan kuartal tiga emiten 2010 pada akhir Oktober, yang diperkirakan positif,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Menurutnya, dengan suku bunga acuan yang bertahan di level 6,5% hingga akhir tahun, akan banyak penempatan dana-dana asing di SBI dan obligasi pemerintah untuk jangka pendek. “Ada potensi over likuiditas di instrumen fixed income, sehingga dana akan kembali ditempatkan di saham,” paparnya.

Di tengah situasi ini, Willy merekomendasikan beberapa saham lapis dua. Saham jenis ini menjadi pilihan switching dari saham unggulan, yang kian sulit terkoreksi karena market yang terus menguat. Pilihannya adalah PT Sentul City (BKSL), PT Medco Energy International (MEDC) dan PT Mitra Adiperkasa (MAPI). “Rekomendasi beli untuk emiten-emiten ini,” ujarnya.

MEDC menjadi pilihan karena adanya rencana diakuisisi oleh Pertamina. Sedangkan BKSL masih menarik karena proyek pemindahan ibukota ke Jonggol.

Beberapa saham grup Bakrie juga menjadi jagoannya. Selain sudah tertekan, emiten-emiten ini memiliki fundamental yang cukup bagus. Seperti PT Energi Mega Persada (ENRG), yang menarik karena sentimen harga minyak international yang terus naik. Demikian juga PT Bakrieland Development (ELTY) dan PT Bumi Resources (BUMI). “Masih ada peluang penguatan dari saham-saham ini,” jelasnya.

Pada perdagangan Jumat (15/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ^JKSE ditutup turun 21,447 poin (0,59%) ke level 3.597,031. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai, dimana volume transaksi tercatat sebesar 5,589 miliar lembar, senilai Rp4,973 triliun dan frekuensi 102.928 kali.

Sebanyak 95 saham naik, 128 saham turun dan 77 saham stagnan. Koreksi IHSG terjadi seiring keluarnya dana asing dari bursa domestik. Asing mencatatkan nilai transaksi jual (net foregin sell) sebesar Rp63 miliar, dimana transaksi jual mencapai Rp1,485 triliun dan transaksi beli mencapai Rp1,422 triliun. [nat/mdr]

Inilah Strategi ‘Main’ di Grup Bakrie

Oleh : Ahmad Munjin
Pasar Modal – Selasa, 12 Oktober 2010 | 10:47 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham grup Bakrie sangat menjanjikan jika berhasil memangkas ratio utang terhadap modal. Jika tidak, grup ini cocok untuk spekulasi dengan pola ‘short term trading’.
Nico Omer Jonckheere, Vice President PT Valbury Asia Securities mengatakan, grup Bakrie berkeinginan menurunkan leverage (rasio utang terhadap dana yang dimiliki) di anak usahanya terutama PT Bumi Resources (BUMI.JK). Pasar saat ini menunggu kemampuan grup ini untuk menurunkan debt to equity ratio-nya.
Sebab, yang menjadi ancaman bagi grup ini sekarang adalah beban bunga dari utang-utangnya yang jatuh tempo. “Di satu sisi ingin menurunkan tingkat utang, tapi di sisi lain grup ini membuat utang baru dalam bentuk lain seperti obligasi,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (11/10).
Karena itu, lanjut Nico, pasar harus memberikan diskon cukup besar atas saham-saham di grup ini dibandingkan saham-saham yang lain. Pasar harus benar-benar mencermati, rasio leverage dan ratio utang terhadap modal.
Pasar juga harus mencermati akuisisi Domba Mas oleh PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP.JK) yang belum selesai. Hingga saat ini, akuisisi tersebut belum mencapai finalisasi.
Begitu juga rencana Initial Public Offering (IPO) PT Bumi Resources Mineral (BRM) yang belum pasti. Jika BUMI berhasil IPO anak usahanya BRM sesuai rencana, harga sahamnya akan naik ke level Rp2.500.
“Untuk saat ini, potensi up side-nya sangat terbatas. Sebab, pasar harus mendiskon harga sahamnya dibandingkan terhadap saham batubara yang lain,” imbuhnya. Karena itu, potensi up side saham BUMI jadi terbatas.
Menurut Nico, untuk listing non-coal unit-nya (BRM) di BEI, masih ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Rencananya, IPO tersebut akan dilaksanakan akhir tahun ini.
Secara sentimen, memang rencana IPO ini mendukung penguatan di grup Bakrie. “Sebab, dengan IPO itu, grup Bakrie akan mendapatkan dana segar untuk melunasi sebagian utangnya,” paparnya.
Tapi, Nico menegaskan, pasar harus melihat seberapa besar minat investor atas BRM sebagai saham pendatang baru. Sebab, yang produktif di BRM saat ini adalah Newmont. “Selebihnya, hanya greenshoe project. Ini pun masih membutuhkan capital expenditure (capex) yang sangat besar,” timpalnya.
Jika BRM jadi listing di bursa, menurut Nico, pasar harus mencermati apakah dana segar itu akan digunakan untuk greenshoe project atau melunasi utang-utangnya. “Kalau untuk bayar utang dan bukan capex, BRM sendiri tidak akan berkembang,” tukasnya.
Lalu, PT Energi Mega Persada (ENRG.JK). Menurutnya, pasar harus melihat apakah emiten ini masih profitable atau tidak. Sebab, selama ini, perusahaan ini masih merugikan grup Bakrie.
Begitu juga saham PT Bakrie and Brothers (BNBR.JK). Nico tidak merekomendasikan positif atas emiten sebagai holding di grup Bakrie ini. Sebab, leverage yang sangat tinggi dan jumlah saham yang sangat banyak.
“Semakin banyak saham, semakin kecil profit yang didapat karena dibagi dengan banyak saham,” imbuhnya. Menurutnya, berbagai aksi korporasi yang dilakukan, memicu banyaknya jumlah saham yang beredar di pasar.
Kecuali, untuk PT Bakrieland Development (ELTY.JK) dan PT Bakrie Telecom (BTEL.JK), Nico merekomendasikan positif. Ini berhubungan dengan sektor properti yang kembali menggeliat di Indonesia. “Diskon terhadap NAB (nilai aktiva bersih)-nya, bisa menuju ke level Rp200,” paparnya. “Dari sisi valuasi, ELTY paling menarik di grup Bakrie.”
Begitu juga dengan PT Bakrie Telecom (BTEL.JK). Saham ini masih menarik karena penjajakan konsolidasi bisnis dengan PT Telkom (TLKM.JK). Jika ini terealisasi, valuasi BTEL bisa lebih mahal. “Tapi, pasar harus mengantisipasi dan hati-hati atas kenaikan BTEL yang signifikan,” ungkapnya.
Secara umum, Nico menegaskan bermain di saham-saham grup Bakrie saat ini sangat spekulatif. Sebab, masih banyak ketidakpastian yang melekat di grup ini. Tapi, karena likuiditasnya besar, dia mengakui saham-saham di grup ini sangat menarik bagi one day trader.
Para spekulan sangat menyukai karakter saham seperti ini karena dengan mudah bisa masuk maupun keluar. “Saham grup Bakrie cocok untuk short term trading dengan pola spekulatif,” ucapnya.
Sebab, secara fundamental grup Bakrie kurang mendukung. Menurutnya, jika tingkat utang bisa diturunkan, saham-saham grup ini sangat menjanjikan ke depannya. “Sebaliknya, jika tidak bisa menurunkan rasio utang, grup Bakrie tidak akan mampu memoles kinerjanya jadi lebih kinclong,” imbuh Nico Omer. [mdr]

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: