Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Agustus 12, 2011

bakries game (4) … 180112 (8,6T@nigeriA)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 2:20 pm

Belanja modal tersebut dialokasikan untuk operasional perkebunan dan oleo kimia perusahaan

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 40 juta pada 2012.

Belanja modal tersebut dialokasikan untuk operasional perkebunan dan oleo kimia perusahaan.

Diretur Utama Bakrie Sumatera Plantations Ambono Janurianto mengatatakan, capex akan bersumber dari dana operasional.

Sebanyak US$ 20 juta dialokasikan untuk melanjutkan pengembangan bisnis oleo kimia. “Jumlah tersebut merupakan bagian dari alokasi investasi kami untuk bisnis oleokimia selama tiga tahun sejak 2011 sebesar US$ 60 juta,” ungkap Ambono di Jakarta, belum lama ini.

Sedangkan sisanya, lanjut Ambono, dialokasikan untuk bisnis perkebunan perseroan. Diantaranya adalah penanaman kembali tanaman karet dan penanaman baru kelapa sawit.

Tidak hanya itu, Ambono menjelaskan perseroan berencana membangun tiga pabrik pengolahan kelapa sawit. Pabrik tersebut terdiri dari dua pabrik berkapasitas 200 ton per hari dan satu pabrik kapasitas 100 ton per hari.

“Untuk pembangunan tersebut membutuhkan dana sebesar US$ 2-3 juta per pabrik. Dengan ketiga pabrik tersebut perseroan akan mendapatkan tambahan produksi sebanyak 500 ton per hari,” ucap Ambono

Ambono memperkirakan pendapatan 2011 akan meningkat sebesar 30 persen dibandingkan pencapaian 2010 sebesar Rp 3 triliun.

Hal tersebut, berdasarkan keberhasilan perseroan menjaga kinerja yang telah dicapai hingga kuartal III 2011 yang selalu meningkat 30 persen.

“Kami optimistis mampu pertahankan pertumbuhan kinerja uyang telah dicapai selama Sembilan bulan,” papar dia.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/26565-bakrie-plantations-anggarkan-belanja-modal-us-40-juta.html

Sumber : BERITASATU.COM
ENRG Targetkan Ebitda US$200 juta pada 2012

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Senin, 2 Januari 2012 | 05:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengharapkan ebitda mencapai US$160 juta-US$180 juta pada 2012 setelah mengakuisisi 36,72% kepemilikan di blok Offshore Northwest Java PSC (ONWJ) akhir Desember 2011.

“Setelah membeli 36,72% kepemilikan di ONWJ, konsolidasi EBITDA bisa mencapai US$160 juta-US$180 juta, yah maksimum ebitda sebesar US$200 juta pada 2012,” ujar Direktur Keuangan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Didit Ratam, akhir pekan ini.

Lebih lanjut ia menuturkan, dengan akuisisi ONWJ tersebut diharapkan memberikan kontribusi produksi sebesar 12 ribu-13 ribu kepada ENRG. Hingga akhir tahun 2012, produksi minyak diharapkan mencapai 61 ribu barel dari target awal sebelumnya 49 ribu-50 ribu barel. Sebelumnya perseroan menargetkan ebitda sebesar US$80 juta-US$85 juta pada 2011.

Selain itu, meski kontrak berakhir pada awal 2012, menurut Didit pihaknya juga telah mendapatkan keuntungan dari akuisisi saham tersebut. Selain itu, Perseroan berencana menganggarkan dana belanja modal sebesar US$150 juta pada 2012. Dana belanja modal ini akan berasal dari kas internal.

Perseroan juga akan terus mengakuisisi blok minyak dan gas pada 2012. Dana belanja modal sebesar US$150 juta pada 2012 di luar akuisisi yang aakn dilakukan perseroan. Didit menuturkan, perseroan akan menggandeng mitra strategis untuk melakukan akuisisi. Mitra strategis ini untuk membantu perseroan dalam pembiayaan.”Kita menggandeng mitra strategis untuk membawa pembiayaan, dan jaminan aset, dan kita mencari pola-pola seperti itu,” kata Didit.

Sebelumnya Perseroan telah membeli 36,72% saham ONWJ senilai US$212 juta dari pemilik konsesinya yaitu CNOOC ONWJ Ltd.

PT Energi Mega Persada Tbk mencetak laba bersih di sembilan bulan pertama tahun ini sebesar Rp 40,062 miliar. Padahal pada tahun lalu, perusahaan minyak dan gas ini masih membukukan kerugian hingga Rp 150,44 miliar.

Pencapaian ini didukung oleh penjualan ENRG yang naik hingga 59% dari Rp 830,55 miliar menjadi Rp 1,3 triliun. Sementara Ebitda ENRG naik 203% menjadi Rp 565 miliar dari Rp 186,49 miliar pada periode yang sama.
Selasa, 20 Desember 2011 | 20:44 WIB
Bakrie Bantah Kurangi Kualitas Clamp Jembatan

TEMPO.CO, Jakarta -PT Bakrie Tosanjaya, anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk, membantah telah mengurangi kualitas clamp yang digunakan untuk menyangga kabel utama dan kabel penggantung di Jembatan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

“Tidak benar itu. Kami menyediakan clamp sesuai spesifikasi yang diminta,” ujar Direktur PT Bakrie & Brothers, Siddharta Mursyid, ketika dihubungi Tempo, Selasa 20 Desember 2011.

Bahkan, menurutnya, bantahan ini juga telah disampaikan oleh Direktur Utama Hutama Karya Tri Widjajanto Joedosastro di salah satu media elektronik. “Soal kualitas, kami tidak mungkin melakukan tawar-menawar,” katanya.

Dia menuturkan penentuan spesifikasi dan harga clamp dilakukan jauh sebelum proyek dilaksanakan. Meski dia tidak bisa mengingat harga satuan serta biaya pengadaan clamp untuk proyek besar di Kalimantan Timur itu.

“Saya tidak tahu karena proyek ini sudah lama sekali,” ujarnya.

Sebenarnya, kata dia, anak usaha Bakrie & Brothers itu bukan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan clamp. Perusahaan lebih bergerak di bidang komponen otomotif atau transportasi.

“Kami sesuai permintaan waktu itu saja dan pasti sudah sesuai dengan spesifikasi yang diberikan,” kata dia.

SUTJI DECILYA
Jakarta – Setelah adanya pengesahan UU pengadaan lahan maka program-program proyek yang terhambat akan terselesaikan dengan secepatnya.

“Pengesan UU pengadaan lahan tersebut akan memberikan efek yang cepat dalam membantu proyek-proyek yang terhambat tersebut. Oleh karena itu maka akan terselesaikan dengan secepatnya setelah ada pengesahan UU tersebut,” ujar Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto usai acara Rapat Tim Koordinasi (rakor) Peningkatan dan Perluasan Program Pro Rakyat di Gedung Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa (20/12).

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, sebagai contoh banyak jalan tol yang kontraknya sudah siap, semennya sudah siap tapi masalah tanah belum terselesaikan. “Dengan ada harapan ini, maka saya bisa segera menyelesaikan dan dapat segera dikerjakan fisiknya itu. Kan banyak jalan tol yang kontraknya sudah,” tukasnya.

“Soal tol pantura itu masih belum jalan juga karena pembebasan tanah belum terselesaikan,” jelasnya.

http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1809746/uu-pengadaan-lahan-kunci-sukses-proyek

Sumber : INILAH.COM
Bakrie Toll Road Mulai Bangun Tol Ciawi-Sukabumi
Haryo Damardono | Robert Adhi Ksp | Jumat, 16 Desember 2011 | 12:33 WIB

CIAWI, KOMPAS.com – Badan Usaha Jalan Tol, PT Bakrie Toll Road memulai pembangunan seksi I Tol Ciawi-Sukabumi, yakni dari Ciawi menuju Lido dengan panjang sekitar 14 kilometer. Meski lahan belum bebas, Bakrie Toll bersikeras memulai tahap demi tahap.

“Kami ingin cepat selesai, maka tiada jalan lain dimulai saja yang dapat dikerjakan,” kata Presiden Direktur PT Bakrieland Develompment, Tbk, Hiramsyah S Thaib, Jumat (16/12/2011) ditemui di Kabupaten Bogor, dalam pencanangan proyek tol itu.

Tak ada seorang pun pejabat tinggi Kementerian Pekerjaan Umum di acara pencanangan atau ground breaking proyek tol itu. Namun hadir Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriyawan, yang juga mengapresiasi positif dimulainya proyek tol ini.

“Seksi I ini diharapkan selesai pada akhir tahun 2013,” kata Chief Commercial Officer PT Trans Jabar Tol Aswan Sunoto, anak perusahaan Bakrie Toll yang mengerjakan Tol Ciawi-Sukabumi.

Secara total, Tol Ciawi-Sukabumi memiliki panjang 54 kilometer. Seksi Idari Ciawi-Lido (14,6 km), Cigombong-Cibadak (12,65 km), Cibadak-Sukabumi Barat (13,9 km), dan Sukabumi Barat-Sukabumi Timur (13,2 km).

Saham tol tersebut, dimiliki PT Bakrie Toll Road (60 persen), BUMD Jawa Barat PT Jasa Sarana (25 persen), dan PT Bukaka Teknik Utama (15 persen). Total investasi untuk seluruh ruas Ciawi-Sukabumi diperkirakan Rp 7,8 triliun.
Bakrie negotiates with Europe-based geothermal investors

Oleh M. Tahir Saleh

Rabu, 14 Desember 2011 | 12:05 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: The holding company of Bakrie Group, PT Bakrie & Brothers Tbk, is negotiating with European investor to construct geothermal project in Java and East Nusa Tenggara Island worth US$2.5 billion.

Previously stated, Bakrie is also cooperating with Australia-listed Panax Geothermal as the owner of geothermal power plant in Sokoria, Flores, East Nusa Tenggara.

“We are currently discussing with new investor. There will be three parties in the project; Bakrie, Panax and the European investor,” said BNBR-coded company’s President Director Bobby Gafur S Umar.

Panax, the owner of 95% shares in a geotermal project in Jambi, in June stated the company will work together with PT Bakrie Power to drill the 30 MW plant with stock composition of 45% and 55%.

Besides in Sokoria, Panax and Bakrie also work in two geothermal projects in Dairi Prima, North Sumatra with 35 MW of capacity with 51% of share portion and in Ngebel-Wilis, East Java with 165 MW capacity and 35% share portion.

The power plant project is part of the company total project with total investment of US$3.5 billion in 3 years-4 years. For power plant project in Kalimantan, the company cooperate with India-based Tata. Another projects are gas pipeline and toll road construction.

To finance all projects worth US$3.5 billion (IDR31.79 trillion)in total, BNBR-coded company will seek for fund sources such as project financing, fund management, equity fund and strategic cooperation with partners.

Fund

The company will balance the company’s cash flow by setting up funds which is planned to be launched in the first quarter of 2012, by involving its subsidiaries in the projects.

Nevertheless, Bakrie & Brothers is yet to disclose the funding mechanism. “It will be in stages, and there will be general fund, plus specific dedicated fund directly involved in the prohect,” Bobby said. (t05/ags)

JAKARTA-Saham energi grup Bakrie di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu siang (14/12), diburu pelaku pasar menyusul menguat harga minyak mentah dunia, namun kenaikan harga saham itu relatif kecil.

Meski demikian, kata Analis PT First Asia Capital, Ifan Kurniawan, di Jakarta, Rabu, kenaikan saham energi Grup Bakrie itu telah membantu indeks harga saham gabungan (IHSG) hanya turun tipis 0,24 persen menjadi 3.752,599 poin.

Saham grup Bakrie yang mengalami kenaikan, katanya, antara lain saham Bumi, saham Energi Mega Persada dan Bakrie Development.

Selain saham grup Bakire, saham perbankan juga mengalami kenaikan, seperti Bank BCA naik Rp50 per unit menjadi Rp2.200 per unit.

Namun, lanjut dia, kenaikan saham grup Bakrie dan saham perbankan membantu indeks BEI dari penurunan yang tajam.

Pasar saham saat ini dilanda aksi lepas saham, terutama pada saham unggulan seperti Astra Internasional, Bukit Asam, dan Indo Tambang Mega, katanya.

Ia menambahkan, pasar memang saat ini dilanda aksi lepas namun aksi lepas itu tidak begitu besar yang terlihat dari total transaksi saham yang hanya mencapai 3,30 miliar unit senilai Rp1,69 triliun.

Volume transaksi saham biasanya mencapai rata-rata antara Rp3 triliun sampai Rp4 triliun, ujarnya.

Menurut dia, perdagangan saham di BEI sampai akhir pekan ini akan tetap melemah karena ketidakpastian gejolak ekonomi global.

Krisis utang di Eropa yang masih belum menentu, akibat penolakan Jerman untuk memberikan tambahan dana mengakibatkan pasar khawatir bahwa krisis itu akan berkepanjangan, katanya.(ant/hrb)

http://www.investor.co.id/marketandcorporatenews/saham-bakrie-menguat-saat-indeks-merosot-tipis/26307

Sumber : INVESTOR DAILY
Bakrie Toll Road Bangun Lima Tol Baru
R. Adhi Kusumaputra | Robert Adhi Ksp | Jumat, 9 Desember 2011 | 06:08 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com – Bakrie Toll Road, anak perusahaan Bakrieland, saat ini menyelesaikan pembebasan tanah lima jalan tol baru di Pulau Jawa. Sebelumnya Bakrieland sudah mengoperasikan tol Kanci-Pejagan sepanjang 35 km.

Presiden Direktur dan CEO PT Bakrie Toll Road Harya Mitra Hidayat di sela-sela kunjungan Aburizal Bakrie di Washington DC, Amerika Serikat, hari Rabu (7/12/2011) WIB menjelaskan, lima jalan tol yang sedang diselesaikan Grup Bakrie adalah tol Pejagan-Pemalang (57 km), Batang-Semarang (75 km), Pasuruan-Probolinggo (45 km), Ciawi-Sukabumi (54 km), dan Cimanggis-Cibitung (40 km).

“Kami tidak semata-mata membangun jalan tol, tetapi juga mengembangkan kawasan sekitar jalan tol yang dibangun. Kami akan mendapatkan nilai tambah dari properti yang dibangun di kawasan sekitar tol. Karena itulah kami membebaskan lahan dulu, baru membangun tol dan properti,” kata Harya M Hidayat yang akrab dengan panggilan Yuri itu.

Di kawasan tol Kanci-Pejagan, akan dibangun pusat UMKM di lahan seluas 10 hektar dan diproyeksikan menjadi 50 hektar. Ini merupakan upaya meningkatkan nilai lahan sekiat tol. Selain itu, Bakrie juga akan membangun rest area di tol tersebut.

Menurut Harya, pembebasan lahan tol Pejagan-Pemalang (57 km) terbagi dalam empat seksi. “Lahan di Seksi I Pejagan-Brebes Barat sepanjang 13,5 km sudah dibebaskan 80 persen, sedangkan lahan di Seksi II Brebes Barat-Brebes Timur sepanjang 15 km, sudah dibebaskan 60 persen,” jelasnya kepada wartawan Kompas Robert Adhi Ksp di Washington, AS.

Bakrie Toll Road dijadwalkan membangun Seksi I dan II tol Pejagan-Pemalang mulai pertengahan 2012 mendatang.

Sementara jalan tol Ciawi-Sukabumi (54 km) juga dibagi empat seksi. Pembebasan lahan di Seksi I Ciawi-Lido (15 km) saat ini baru 20 persen. Bakrie akan memulai pembangunan tol Ciawi-Sukabumi mulai semester II 2012.

Jalan tol Batang-Semarang (75 km) terbagi dalam 5 seksi. “Kami memulai dari Seksi V lebih dahulu yaitu Kendal-Semarang karena sudah ada sambungannya, tol Semarang-Solo,” jelasnya.

Jalan tol Cimanggis-Cibitung yang merupakan bagian dari JORR2, milik Bakrie Brothers, akan dimulai tahun 2013.

Harya M Hidayat menambahkan, lambannya pembangunan jalan tol di Indonesia akibat persoalan pembebasan lahan. “Indonesia masih mengacu pada pembayaran ganti rugi terkait musyawarah mufakat, dan otonomi daerah di mana pejabat daerah enggan membebaskan tanah karena khawatir tidak populis di mata rakyatnya,” katanya.
Grup Bakrie merambah kawasan Afrika dengan menandatangani kesepakatan investasi dengan pemerintah Nigeria senilai US$ 960 juta atau sekitar Rp 8,6 triliun. Investasi itu meliputi sektor pertambangan, perminyakan dan karet di 2 negara bagian Selatan Nigeria.

Kesepakatan investasi itu diteken oleh Menteri Perdagangan Nigeria Olusegun Anganga dan pimpinan Bakrie Group, Indra Bakrie. Menurut berita yang dilansir dari AFP, Selasa (6/12/2011), Bakrie ingin menanamkan investasi di negara bagian Ogun dan Akwa Ibom dalam 5 tahun ke depan.

Investasi di Benua Hitam itu akan dikelola oleh afiliasi Bakrie di Nigeria, Bakrie Delano Africa Nigeria Limited.

Menurut keterangan dari kementerian Nigeria, Kelompok usaha Bakrie mengaku memilih investasi di Nigeria karena besarnya kesempatan investasi dan juga tingginya tingkat imbal hasil.

“Nigeria adalah sebuah negara berkambang. Berdasarkan laporan dari Bank Dunia, Nigeria dikategorikan sebagai negara dengan pendapatan menengah didukung oleh besarnya sumber daya alam, sistem hukum dan finansial yang berkembang baik, komunikasi, sektor transportasi dan bursa saham, yang merupakan terbesar kedua di Afrika,” jelas Indra Bakrie dalam pernyataannya.

Grup Bakrie dimiliki oleh keluarga Aburizal Bakrie, Ketua Umum Golkar. Menurut data Forbes, kekayaan Aburizal ‘hanya’ sebesar US$ 890 juta. Jumlah itu berarti turun hingga US$ 1,2 miliar sekitar Rp 10,8 triliun atau sekitar 57% dibandingkan kekayaan Ical pada tahun 2010.

Sumber: detikcom
Minggu, 04/12/2011 18:57 WIB
Bakrieland Pasarkan Satu Kondotel di Tanah Lot, Bali
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) resmi menawarkan unit kondominium hotel (Kondotel) yang berlokasi di Tanah Lot, Tabanan, Bali. Perseroan membidik investor asal Jakarta, dalam pembelian unit properti yang menjanjikan pengembalian sewa (rental guarantee) 40% selama lima tahun pertama.

ELTY melalui unit usaha Hotels dan Resort, menargetkan penjualan 86% unit Eaton Luxe di tahun depan. Kondotel ini memiliki 178 kamar dan berlokasi di lahan seluas 20 ribu meter persegi. Kondotel terdiri dari 133 unit standar, 24 unit satu kamar tidur dan 21 unit dua kamar tidur.

Kondotel akan dikelola oleh operator hotel Eaton Luxe, yang berada dalam naungan Langham Hospitality Group. Bagi investor yang membeli unit kondotel ini, diberi garansi pengembalian sewa 40% selama lima tajhun, dan hak menginap 21 malam per tahun.

Target invetor pereroan adalah mereka yang berlokasi di ibukota Jakarta. Presiden Direktur Bakrieland unit usaha Hotels & Resorts, Marudi Surachman, yakin unitnya akan laku di pasar.

“Dengan berkembangnya pariwisata Bali ke arah Utara yang sejalan dengan rencana Pemerintah dalam menjadikan Bali sebagai pusat destinasi pariwisata internasional dan pengembangan ekonomi kreatif, kami optimis dengan target penjualan unit Eaton Luxe, Nirwana Bali di tahun 2012,” kata Marudi dalam rilis yang dipublikasikan, Minggu (4/12/2012).

Chief Marketing Officer Hotel Development, Bakrieland unit usaha Hotels & Resorts, Deden Sudarbo menambahkan, bagi pembeli unit yang menyatakan komitmennya hari ini, perseroan telah menyediakan hadiah menarik. Setiap pembeli harus meyetor booking fee Rp 25 juta.

(wep/wep)
Bakrieland Gandeng Langham Garam Kondotel di Tabanan
Senin, 21 November 2011 | 7:35
investor daily

JAKARTA-PT Bakrieland Development Tbk melalui unit usaha Hotel dan Resort menggandeng Langham Hospitality sebagai operator kondotel terbaru mereka di kawasan Tanah Lot, Tabanan, Bali.

“Pembangunan kondotel, Eaton Luxe Nirwana Bali akan memulai tahap konstruksi pada Februari 2012,” kata Presiden Direktur Bakrieland unit usaha hotel dan Resort, Marudi Surachman di Jakarta, Minggu (20/11).

Marudi mengatakan, biaya pembangunan Eaton Luxe Nirwana Bali diperkirakan sekitar Rp200 miliar diharapkan selesai Januari 2014, serta resmi pengoperasian soft launching Pebruari 2014.

Bakrieland saat ini telah memulai memasarkan unit Eaton Luxe Nirwana Bali kepada masyarakat yang berminat untuk investasi di bisnis perhotelan.

Menurut dia, sebagai investasi, Eaton Luxe sangat menjanjikan karena melihat kunjungan wisata ke kawasan Tanah Lot setiap tahunnya selalu bertambah, rata-rata saat ini sekitar 5.000 pada hari biasa dan 12.000 pada hari libur.

Marudi menambahkan, permintaan kamar hotel di Tanah Lot sangat besar, saat ini baru tersedia 600 unit kamar dari berbagai hotel di kawasan ini sehingga optimistis akan menjadi investasi yang sangat menarik.

Sementara itu Chief Marketing Officer pengembangan hotel PT Bakrie Nirwana Semesta unit usaha Hotel dan Resort PT Bakrieland Development Tbk, Deden E. Sudarbo mengatakan, agar menarik Bakrieland memberikan jaminan pengembalian sewa (rental guarantee) sebesar 8 persen untuk 5 tahun pertama.

Deden mengatakan, bagi pembeli unit pada tahap pra-penjualan pada tahun 2012 mendatang sudah menikmati keuntungan penjualan (capital gain) karena sejak Minggu (20/11) harga unit sudah mengalami kenaikan.

Bakrieland menjual unit Eaton Luxe kepada investor rata-rata Rp24 juta per meter persegi yang nantinya dilengkapi dengan kolam renang, ruang resepsi pernikahan, bar di bagian atap, serta cafe, ruang serba guna, dan restoran.

Eaton dibangun di atas lahan seluas 20.000 meter persegi, bagian dari kawasan terintegrasi Nirwana Bali Resort seluas 103 hektare yang memadukan hotel, resort, dan hunian.

Saat ini di kawasan tersebut telah berdiri Sari Pacific Nirwana Bali Resort yang tengah menyelesaikan peremajaan interior (furniture) 266 kamar dan 12 vila, lapangan golf 18 lubang hasil rancangan pegolf internasional Greg Norman, vila dan resort apartemen.

Sedangkan Vice President Langham Hospitality, Paul Waters mengatakan, pihaknya telah memiliki pengalaman puluhan tahun mengelola hotel berskala internasional di London, Karibia, Auckland, Melbourne, Hongkong, Thailand, beberapa kota di China, dan India.

“Langham berdiri sejak tahun 1865 dengan mengoperasikan hotel di London, serta telah terdaftar di bursa efek Hongkong pada tahun 1972,” ujar dia.(ant/hrb)

Bumi Minerals Bukukan Laba Rp556 Miliar
Bumi Minerals telah melunasi sebagian pinjamannya dalam kuartal ketiga ini.
Sabtu, 19 November 2011, 10:35 WIB
Hadi Suprapto

VIVAnews – PT Bumi Resources Minerals Tbk mengumumkan laba bersih sebesar Rp556 miliar pada periode sembilan bulan pertama 2011. Perusahaan masih mampu menjaga kinerja yang baik meski perusahaan asosiasinya, PT Newmont Nusa Tenggara, mengalami penurunan produksi tembaga dan emas di atas 40 persen.

Direktur Utama Bumi Minerals Ken Farrell mengatakan, penurunan produksi Newmont yang bersifat sementara ini disebabkan oleh keterlambatan pengembangan fase 6 di wilayah tambang Batu Hijau. Setelah pembangunan fase 6 diselesaikan pada akhir tahun depan, Newmont diharapkan dapat segera meningkatkan produksi tembaga dan emasnya secara signifikan pada awal 2013. “Keterlambatan ini telah kami antisipasi,” kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu 19 November 2011.

Sementara itu, Farrell mengatakan, kinerja yang baik didorong oleh kenaikan harga jual produk komoditasnya dan penurunan beban bunga perusahaan. Pada sembilan bulan pertama 2011, perusahaan membukukan kenaikan harga jual tembaga dan emas masing-masing 13 persen dan 30 persen.

Bumi Minerals juga telah melunasi sebagian pinjamannya dalam kuartal ketiga ini. Rasio pinjaman terhadap modal perusahaan cukup baik, yaitu di level 0,18 kali, dan beban bunga perusahaan berhasil diturunkan sebesar 61 persen.

Atas antisipasi ini, Farrell menambahkan, perusahaan hanya membukukan penurunan laba bersih 21 persen. Pada periode yang sama tahun lalu, Bumi Minerals mampu membukukan laba Rp708 miliar.

Farrell berharap dapat segera memulai produksi bijih besi dari Bumi Mauritania S.A pada awal 2012. Sedangkan konsesi seng dan timah hitam Perusahaan yang dioperasikan PT Dairi Prima Minerals diharapkan dapat memulai produksinya pada semester kedua 2013. “Dengan kondisi diterbitkannya izin pinjam pakai eksploitasi oleh Kementrian Kehutanan sebelum akhir tahun ini.”
• VIVAnews
Bakrieland Luncurkan Eaton Luxe, Nirwana Bali
Condotel Strata Title yang pertama di Bali, dengan kaidah hijau dan peluang investasi.
Sabtu, 19 November 2011, 17:54 WIB
Hadi Suprapto, Eko Priliawito

VIVAnews – PT Bakrieland Development Tbk melalui unit usaha Hotel & Resorts meluncurkan produk properti terbaru di kawasan Nirwana Bali Resort, Tanah Lot, Tabanan, Bali. Sebuah kondotel dengan konsep simpel, modern, dan young.

Dalam produk ini ditawarkan investasi premium berupa jaminan pengembalian sewa sebesar 40 persen dalam lima tahun pertama, dan akan dikelola Eaton Luxe, manajemen operator berbintang di bawah naungan Langham Hospitality Group.

“Dengan bangga kami luncurkan condotel strata sitle di lokasi strategis. Perkembangan pariwisata Bali ke arah utara sejalan dengan rencana Pemerintah menjadi Bali sebagai pusat destinasi pariwisata international,” ujar Presiden Direktur Bakrieland unit usaha Hotel & Resorts, Marudi Surachman, Sabtu, 19 November 2011.

Eaton Luxe, Nirwana Bali, mengabungkan konsep arsitektur yang disesuaikan dengan kondisi alam sekitar. Mengadopsi nilai budaya lokal dan kaidah-kaidah hijau, termasuk di dalamnya living wall, yang menjadi ide kreatif berupa konsep vertical garden.

Dibangun di area seluas 20.000 m2, Eaton Luxe, terdiri dari 133 unit standar, 24 unit one-bedroom, 21 unit two bedroom, dengan total 178 unit. Dengan pemandangan 360 derajat dari salah satu padang golf terbaik se-Asia Pasifik, Eaton Luxe, menyediakan baeragam fasilitas mulai dari Infiniti Poll, Wedding Hall, Caoffe Shop, Function Room, All Day Dining Restaurant, sampai Rooftop Bar & Grill.

“Eaton Luxe akan melengkapi Bali dengan kehadiran condotel yang nyaman untuk tujuan bisnis dan liburan. Dari seluruh unit yang ditawarkan, beberapa investor telah membeli dalam jumlah yang cukup signifikan. Nilai investasi 200 miliar rupiah, dan target marketnya 80 persen orang Indonesia,” ujar Marudi lagi.

Peluncuran Eaton Luxe Nirwana Bali dihadiri juga oleh Paul Waters, selaku Vice President – Brand & Ainslie Cheung, selaku PR Director International, mewakili Langham Hospitality Group, yang sekaligus menandai peresmian marketing lounge dan show unit Eaton Luxe.

Nirwana Bali Resort
Kawasan Nirwana Bali Resort meruapakan kawasan resort terintegrasi seluas 103 hektar yang memadukan hotel dan resort serta residential, yang akan terus berkembang. Wilayah ini juga mengimplementasikan konsep green living, perawatan dan pengolahan air limbah menjadi air daur ulang. Hampir 70 persen lahannya digunakan sebagai ruang terbuka hijau.

Beberapa properti yang telah lebih dulu beroperasi adalah Pan Pacific Nirwana Bali Resort, yang saat ini sudah memasuki tahap akhir penyelesain. Ragam program pengembangan proyek yang dimulai pada pertengahan 2010 ini akan dirampungkan pada Desember 2011.

Adapula Nirwana Bali Golf Club, lokasi dengan 18 hole rancangan pegolf legendaris Greg Norman, yang menjadi keunggulan kawasan dan telah memenangkan banyak penghargaan. Proyek lain yang akan dikembangkan di kawasan Nirwana Bali Resort adalah Nirwana Bali Residences.
• VIVAnews
JAKARTA- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dalam waktu dekat akan menggarap konsesi seng dan timah hitam yang dioperasikan oleh PT Dairi Prima Mineral (DPM) di Sumatera Utara, yang dimiliki 80% oleh perseroan.

Hal ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan untuk kegiatan penambangan seng dan timah hitam melalui penambangan bawah tanah dari Kementerian Kehutanan, demikian keterangan tertulis PT Bumi Resources Minerals di Jakarta, Jumat (18/11).

Persetujuan prinsip itu diterbitkan pada 15 November 2011. Selain itu, BRMS juga mengumumkan bahwa PT Citra Palu Minerals (CPM), yang dimiliki perusahaan sebesar 96,97 persen, selaku operator konsesi emas dan molybdenum di Sulawesi, telah mendapatkan Izin Pinjam Pakai Kegiatan Eksplorasi di dua lokasi yang berbeda.

Lokasi pertama yang mencakup areal 21.181 hektare di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, telah mendapatkan izinnya pada 22 Agustus 2011. Sedangkan, lokasi kedua di Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang mencakup areal 29.223 hektare, telah mendapatkan izinnya pada 23 September 2011.

Direktur Utama BRMS Kenneth Farrell mengatakan persetujuan atas izin-izin tersebut menunjukkan kemampuan manajemen perusahaan untuk menambah nilai terhadap konsesi-konsesi terkait. Persetujuan prinsip untuk kegiatan penambangan bawah tanah di DPM memberikan kejelasan terhadap profil produksi dari DPM.

“Kami berharap produksi dari konsesi seng dan timah hitam kami dapat dimulai pada semester kedua tahun 2013,? ujarnya.

Farrell menambahkan persetujuan Kegiatan Eksplorasi untuk dua lokasi di CPM memungkinkan perusahaan untuk mengerjakan studi banding dan kegiatan eksplorasi di wilayah tersebut.

“Kami berharap untuk dapat menyelesaikan estimasi sumber daya dengan standar JORC di CPM dan konsesi emas dan tembaga yang dioperasikan oleh Gorontalo Minerals (GM) sebelum akhir tahun 2012. GM telah menerima Izin Kegiatan Eksplorasinya pada bulan Desember 2010,” kata Farrell.

Konsesi seng dan timah hitam perseroan yang dioperasikan oleh PT Dairi Prima Mineral diharapkan dapat memulai produksinya pada 2013.

BRMS membukukan peningkatan laba bersih 96% pada semester I-2011 menjadi Rp343,81 miliar, dibandingkan laba tahun lalu pada periode yang sama sebesar Rp174,68 miliar. (ant/hrb)

http://www.investor.co.id/marketandcorporatenews/brms-siap-kelola-seng-dan-timah-hitam/24516

Sumber : INVESTOR DAILY
SUMBAWA – PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) menargetkan produksi emasnya mencapai 221-259 ribu ons hingga akhir 2011 ini.

General Manager Environmental Management NNT Radjali Amin juga mengatakan jika Newmont menargetkan produksi peraknya mencapai 872 ribu ons. “Sementara produksi tembaga ditargetkan mencapai 541 juta pon pada akhir tahun ini,” kata dia dalam paparan Mining & Energy Journalist di kantor NNT, Sekongkang, Sumbawa Barat, Rabu (2/11/2011).

Meski begitu, pemulihan hasil tambang perusahaan pada tembaga emas diklaim sudah melampaui target. “Recovery rata-rata sampai saat ini sudah mencapai 80 persen,” jelas dia.

Adapun target pemulihan hasil tambang perusahaan pada tembaga sebesar 77,6 persen dan emas 76,8 persen. Sementara untuk pemulihan dari perak ditargetkan mencapai 85 persen.

NNT, juga menaargetkan kadar tembaga pada tahun ini mencapai 0,46 persen, emas GPT 0,30 persen dan perak GPT 1,07 persen. Newmont memperkirakan, penambangan batuan buangan mencapai 179,294 ribu ton dan bijih besi 4,848 ribu ton.

http://economy.okezone.com/read/2011/11/02/19/523697/newmont-targetkan-produksi-emas-259-ribu-ons

Sumber : OKEZONE.COM
ENRG mencetak pertumbuhan penjualan sebesar 59% menjadi Rp 1,3 triliun di kuartal III-2011. Lonjakan tersebut dipicu oleh produksi di Blok Kangean PSC, Jawa Timur dan Bentu PSC, Riau. Perseroan juga akan mengkonsolidasikan tambahan produksi migas dari Blok Tonga PSC, Sumatra Utara dan Blok Gelam TAC, Jambi pada kuartal IV tahun ini.

Sumber : IPS RESEARCH
UNSP akan melunasi obligasi jatuh tempo hari ini senilai US$185 juta. Dana untuk melunasi obligasi berasal dari pinjaman club deal bertenor 5 tahun. Saat ini perseroan sudah mendapatkan pinjaman US$215 juta dari target US$250 juta.

Sumber : IPS RESEARCH
Sst.. UNSP Raih Kredit US$250 Juta

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Selasa, 1 November 2011 | 07:38 WIB

INILAHCOM, Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) telah menandatangani credit agreement hingga US$250 juta pada 27 Oktober lalu.

Demikian disampaikan manajemen dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (31/10). Credit agreement itu antara UNSP sebagai debitur bersama anak usahanya sebagai penanggung awal dengan Credit Suisse AG, Singapore Branch, PT Bank Internasional Indonesia Tbk dan Raiffeisen Bank International AG, Singapore Branch sebagai mandated lead arrangers.

Selain itu, beberapa institusi keuangan lainnya sebagai kreditur awal, dan Credit Suisse International sebagai original hedge counterparty, Credit Suisse AG Singapore Branch sebagai agen fasilitas, agen jaminan, dan bank rekening di luar negeri, dan PT Bank International Indonesia Tbk sebagai bank rekening dalam negeri.

Para kreditur dalam perjanjian kredit tersebut telah setuju untuk menyediakan fasilitas pinjaman kepada Perseroan dengan total jumlah pokok hingga US$250 juta atau jumlah lain sebagaimana disebutkan dalam perjanjian kredit berdasarkan syarat dan ketentuan yang dimuat dalam perjanjian kredit.

Salah satu pelaksanaan dari transaksi perjanjian kredit berupa pemberian pinjaman dari Perseroan kepada anak perusahaan perseroan yang transaksinya akan dilaksanakan dalam beberapa hari kemudian setelah transaksi perjanjian kredit efektif. [hid]

Proyek jalan tol perdana PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), Kanci (Cirebon) hingga Pejagan (Brebes) pada triwulan III-2011 telah menghasilkan pendapatan senilai Rp 71,5 miliar. Angka ini naik 19,8% dibandingkan periode yang sama tahun 2010 Rp 59,7 miliar.

Peningkat terjadi karena adanya pertumbuhan trafik, rata-rata sepanjang sembilan bulan 2011 mencapai 11.400 kendaraan per hari. Bandingkan trafik rata-rata di periode yang sama 2011, yang hanya 10.400 kendaraan per hari.

“Ke depan, trafik dari jalan tol Kanci-Pejagan diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan daerah yang dilewatinya dan beroperasinya jalan tol Cikampek Palimanan yang direncanakan akan mulai masuk masa kontruksi tahun depan,” imbuh Presiden Direktur & CEO Elty Hiramsyah S Thaib dalam keterangan tertulisnya, Senin (31/10/2011).

Atas sumbangan tol tersebut anak usaha grup Bakrie itu mencatat pendapatan yang naik sekitar 61% menjadi Rp 1,449 triliun, dari periode sebelumnya Rp 900,5 miliar. Sementara laba bersihnya 129,2 miliar, naik 17,1% dari periode yang sama tahun lalu Rp 110,4 miliar.

Hingga September, ekuitas ELTY mencapai Rp 8,5 triliun, dengan posisi neraca yang solid, yang tercermin dari rasio kewajiban dengan beban bunga (interest bearing liabilities) terhadap ekuitas atau DER per 30 September 2011 yang sebesar 55,6%.

Hingga akhir tahun ini, emiten berkode ELTY itu membidik dana Rp 100 miliar dari proyek tolnya tersebut, meningkat dari tahun lalu Rp 83 miliar.

Sumber: detikcom
PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membukukan pertumbuhan penjualan sekitar 61% menjadi Rp1,449 triliun sepanjang sembilan bulan pertama di 2011 dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya hanya Rp900,5 miliar.

Citi Property merupakan kontributor pendapatan terbesar bagi Bakrieland, yakni menyumbang sebesar Rp939,9 miliar atau 64,8% dari total pendapatan perseroan,” ujar Direktur Utama Bakrieland Hiramsyah S. Thaib di Jakarta, Minggu (30/10) malam.

Ia melanjutkan selain Citi Property, Sementara itu, Landed Residential memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp267,7 miliar atau 18,5% dari total pendapatan Bakrieland.

Hotel & Resort dan Toll Road memberikan kontribusi pendapatan masing-masing sebesar Rp170,7 miliar dan Rp71,5 miliar atau berkontribusi sebesar 11,8%, dan 4,9% terhadap pendapatan Bakrieland.

Pada kuartal III 2011, tepatnya pada tanggal 23 Juli 2011, unit usaha Landed Residential Bakrieland meluncurkan proyek Sentul Nirwana, sebuah kawasan mega residential terintegrasi seluas 12.000 ha di Sentul/Jonggol. Kehadiran Sentul Nirwana akan semakin memperkuat pendapatan Bakrieland dari unit usaha Landed Residential.

Hingga saat ini, pendapatan terbesar dari unit usaha ini masih berasal dari Bogor Nirwana Residence yang memberikan kontribusi sebesar 55,1%, terhadap total pendapatan unit usaha residential.

“Pertumbuhan pendapatan Bakrieland di tahun 2011 ditopang oleh meningkatnya kinerja proyek yang sedang dikembangkan, proyek baru yang dipasarkan Bakrieland dan mulai beroperasinya beberapa proyek besar dengan pendapatan berkelanjutan (recurring income) di penghujung tahun 2010 dan 2011. Selain itu, kondisi makro ekonomi Indonesia yang kuat, suku bunga yang rendah dan tingkat inflasi yang terkendali juga turut berkontribusi terhadap pencapaian Perseroan yang tumbuh tinggi di tahun 2011 ini,” tuturnya.

Pada periode Januari-September 2011, kontribusi recurring income bagi pendapatan Bakrieland mencapai Rp516,8 miliar atau meningkat sebesar 64,0% dibandingkan periode yang sama tahun 2010 yang senilai Rp315,1 miliar.

Kontribusi recurring income terhadap total pendapatan Bakrieland mengalami peningkatan, dari 35,0% pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 35,6% pada 9M2011.

“Angka ini akan cenderung meningkat seiring dengan peningkatan kinerja dari proyek-proyek yang baru beroperasi di tahun 2010 dan 2011 tersebut,” selorohnya.

Pencapaian ini menopang laba bersih perseroan meningkat 17,1% menjadi Rp129,2 miliar dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp110,4 miliar.

Laba usaha dan laba kotor pun mengalami peningkatan masing-masing 47,2% menjadi Rp202,5 miliar dan 33,5% dari Rp446,8 miliar menjadi Rp596,6 miliar.’

Hingga sembilan bulan di 2011 ini, jumlah aset perseroan juga meningkat 14,2% dari Rp15,459 triliun menjadi Rp17,652 triliun. Pertumbuhan yang serupa pun dialami ekuitas dengan kenaikan 7,1% menjadi Rp8,510 triliun.

”Melihat kinerja dan pencapaian perseroan sampai dengan September ini, dimana pendapatan sudah mencapai Rp1,45 triliun atau sudah melampaui pendapatan perseroan pada tahun 2010 yang sebesar Rp1,37 triliun, manajemen semakin optimis dapat memenuhi target pendapatan yang telah ditetapkan, yakni tumbuh 30% dari pendapatan tahun 2010. Kami bahkan memperkirakan Perseroan bakal melebihi target tersebut,” Hiramsyah menambahkan.

http://www.imq21.com/news/read/44035/20111031/083241/City-Property-Sokong-Penjualan-ELTY-Rp1-4-Triliun.html

Sumber : IMQ21.COM
Bakrieland Gandeng Aecom Siapkan Master Plan Sentul Nirwana
Minggu, 23 Oktober 2011 | 8:47
investor daily

JAKARTA-PT Bakrieland Development Tbk menggandeng Aecom untuk menyiapkan master plan proyek di Sentul Nirwana Kabupaten Bogor, seluas 12.000 hektar.

“Rencana pengembangan kawasan Sentul sudah ada sejak era Presiden Soeharto, kami ingin melanjutkan bekerjasama dengan kosultan perencana internasional, Aecom untuk mengembangkan kawasan ini,” kata CEO Unit Usaha Landed Residential PT Bakrieland Development, Tbk utk Sentul Nirwana Marc Dressler di Jakarta, Sabtu (23/10).

Berbicara dengan wartawan disela-sela kegiatan Real Estat Expo 2011 di Jakarta Convention Center (JCC), Marc Dressler mengungkapkan, Aecom dikenal sebagai konsultan master plan untuk proyek penyelenggaraan Olimpiade di London pada 2012 dan Rio De Jaineiro 2016.

Sebagai langkah awal saat ini di kawasan Sentul Nirwana telah dibangun hunian terbagi dalam tiga gugus (cluster), serta taman rekreasi yang menggabungkan konsep hiburan dan pendidikan (edutaintment) The Jungleland, ujar dia.

The Jungleland dirancang sebagai taman hiburan terbesar di Asia Tenggara sebagai tahap awal tengah dibangun area seluas 40 hektar dilengkapi 90 wahana hiburan dan pendidikan terkini.

“Kami melengkapi dengan kereta luncur (roller coaster) yang dapat dinikmati keluarga jadi memang dibuat tidak ekstrim seperti di lokasi hiburan lain,” kata Marc.

Biaya yang dikeluarkan untuk membangun Jungleland diperkirakan sebesar Rp800 miliar pada tahap awal serta ditargetkan dibuka untuk umum pada Juli 2012,” ujar dia.

Marc juga menjanjikan untuk menjaga Sentul – Jonggol sebagai kawasan hijau penyangga Jakarta dengan menyisahkan 60 persen lahan yang tersedia sebagai kawasan hijau untuk pembangunannya diserahkan kepada BUMN PT Adhi Karya Tbk.

Jumgleland nantinya akan dilengkapi kawasan komersial yang kami namakan sebagi the Downtown dan the Carnival yang akan buka mulai pukul 10.00 WIB sampai dengan 23.00 WIB untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.

Sedangkan, Chief Marketing Officer Unit Usaha Landed Residential PT Bakrieland Development, Tbk utk Sentul Nirwana, Priyadi Setiawan mengatakan, areal yang dikembangkan Bakkrieland sangat luas sehingga pada langkah awal dibangun 600 hektar dulu.

“Kemudian dari 600 hektar itu dibagi lagi menjadi beberapa tahapan pembangunan, untuk yang pertama ini kami akan membangun 120 hektar termasuk dalam hal ini taman hiburan Jungleland,” kata Priyadi.

Priyadi mengatakan, lokasi Sentul Nirwana dapat dijangkau melalui Sirkuit Sentul nantinya sebagai jalan alternatif menuju kawasan Puncak Bogor yang pembangunannya tengah dilaksanakan pemerintah (Kementerian PU), serta dapat juga melalui akses Sentul Selatan dari Tol Jagorawi.

Pembangunan hunian di Sentul Nirwana terbagi ke dalam tiga konsep berdasarkan tingkat kepadatannya (density), yakni tinggi, menengah, dan rendah saat ini sudah diselesaikan dua gugus, serta satu gugus baru akan dibangun, papar dia.

Gugus (cluster) yang sudah dirampungkan yakni the Breeze 100 unit telah habis terjual, the Atmosphere 150 unit separohnya sudah habis terjual, saat ini dalam REI Expo ditawarkan The Wind 100 unit dengan kisaran harga Rp500 sampai Rp700 juta.

Pembuatan master plan diserahkan kepada Aecom mengingat dengan luasan 1200 hektar berarti sama dengan pembangunan kota yang harus dirancang dengan hati-hati agar tidak terjadi kemacetan lalulintas atau bahkan menjadi kota mati karena tidak ada penghuninya. (ant/hrb)
Energi Mega Buru 37% Saham CNOOC di ONWJ
Yuni Astutik – Okezone
Kamis, 20 Oktober 2011 17:33 wib
okezone
JAKARTA – PT Energy Mega Persada Tbk (ENRG) menyatakan sedang mengincar porsi kepemilikan CNOOC di Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang sebesar 36,7 persen.

“Benar kami sedang nge-bid untuk di Blok ONWJ dan itu adalah porsinya CNOOC,” kata Presiden Direktur ENRG Imam P Agustino saat ditemui usai public expose di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (20/10/2011).

Perusahaan menyatakan jika saain ini tengah menggodok beberapa opsi untuk pendanaan jika ENRG memenangkan bidding tersebut. “Sedang kami lihatlah opsi-opsi pendanaannya. Tapi belum kita ungkap karena kami kan belum tentu dapat,” jelasnya.

“Kapan proses ini selesai semua masih tergantung ONWJ yang jelas kami tertarik karena selain sudah mulai menghasilkan, di blok tersebut masih banyak yang dapat di-develop,” imbuhnya.

Diakuinya, untuk mendanai akuisisi ini, dirinya menyatakan jika tidak akan menggunakan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) 2012 yang sebesar USD157 juta. Imam juga mengakui, jika perusahaan tidak membagikan dividen. Pasalnya, perusahaan masih fokus untuk memenuhi produksi.

“Dividen belum memutuskan. Karena kami masih memfokuskan untuk memenuhi produksi,” tandasnya. (wdi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kelompok usaha Bakrie lewat Bakrie Capital Indonesia menguasai hak lisensi media untuk tayangan Piala Dunia 2014 di Indonesia. Grup usaha yang digawangi oleh Nirwan Bakrie cs ini memenangkan tender yang digelar oleh FIFA. Selain memiliki hak lisensi siaran langsung, Grup Bakrie pun menguasai hak atas segala produk menyangkut Piala Dunia 2014 di Indonesia.

Namun, Grup Bakrie tidak lantas menyerahkan hak siar kepada anak perusahaannya di bidang media. Mereka akan membuka tender kepada setiap media di Indonesia pada 26 Oktober mendatang.

“Jadi kami akan memberi kesempatan pada setiap media yang ingin bekerjasama dalam menayangkan pertandingan Piala Dunia,” kata Irwan Hendarmin, Creative and Strategic B-Plus yang merupakan tim eksekutif bentukan Bakrie Capital Indonesia, dalam jumpa pers yang juga dihadiri Duta Besar Brasil untuk Indonesia, Paolo Roberto Suarez, di Jakarta, Rabu (19/10).

Dijelaskan Irwan, hak yang melekat pada B-Plus yakni hak siaran di televisi berbayar, hak siar televisi reguler, hak tayangan di ponsel, hak tayangan via internet, serta hak tontonan publik. “Publik viewing adalah kegiatan yang mengumpulkan masyarakat untuk menonton bersama tayangan Piala Dunia baik itu di restoran dan cafe. Semua itu ada izinnya,” ujar Irwan.

Dia menepis anggapan bahwa grup Bakrie sengaja memonopoli tayangan Piala Dunia. Menurutnya, hak yang didapat B-Plus melekat pada aturan FIFA. Karenanya B-Plus dimandatkan FIFA untuk menegakkan regulasi soal batasan dalam penayangan ikon Piala Dunia di Indonesia. “Seperti lambang sponsor resmi atau lambang FIFA itu ada aturannya. Dan itu melekat pada hak yang dimiliki B-Plus. Ini karena aturan main yang sudah ditetapkan FIFA,”

B-Plus pula yang akan memberi akreditasi bagi wartawan peliput asal Indonesia untuk ikut dalam rombongan besar awak media dunia yang meliput di sisi lapangan pertandingan. B-Plus akan mengundang seluruh media untuk mendapatkan akreditasi peliputan Piala Dunia 2014. “Selain itu wartawan yang terakreditasi bisa masuk ke mixzone untuk mengikuti konferensi pers pertandingan.”

http://www.republika.co.id/berita/sepakbola/internasional-2/11/10/19/ltb08u-grup-bakrie-kuasai-hak-piala-dunia-2014-di-indonesia

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID
JAKARTA: PT Bumi Resources Tbk, sayap tambang batu bara Grup Bakrie, membatalkan rencana penjualan 75% saham anak usahanya yang bernama PT Bumi Resources Minerals Tbk.

Pembatalan transaksi penjualan anak usahanya kepada Bumi Plc tersebut tertuang di dalam pengumuman perusahaan di surat kabar hari ini.

“Mengingat kondisi pasar global maupun domestik saat ini yang tidak kondusif untuk pelaksanaan rencana transaksi tersebut,” ujar manajemen yang dipimpin Ari Saptari Hoedaja itu.

Pengumuman tersebut terkait dengan agenda rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), sehingga agenda yang ada tinggal pembelian saham kembali perseroan (buyback).

Pembatalan penjualan Bumi Minerals mengonfirmasi pernyataan pembatalan Bumi Plc sebelumnya kepada London Stock Exchange pekan ini.

Penjualan saham Bumi Minerals sejalan dengan rencana Bumi plc, emiten Inggris yang dulu bernama Vallar plc, dengan memanfaatkan skema obligasi tukar.

Bumi Minerals, yang merupakan induk usaha PT Newmont Nusa Tenggara, merupakan emiten yang baru IPO pada tahun lalu sebagai hasil spin-off perusahaan non batu bara Bumi Resources.

Buyback
Pembelian kembali saham berniat dilakukan raksasa tambang batu bara itu terhadap 780 juta saham atau 3,75% porsi sahamnya dengan persiapan dana hingga Rp3,9 triliun.

Jumlah dana yang disiapkan itu mengacu pada asumsi harga pembelian sebesar Rp5.000 per lembar saham.

Pembatalan transaksi telah menjatuhkan harga saham Bumi Resources, Bumi Minerals, dan Bumi Plc di pasar.

Saham Bumi Resources anjlok ke Rp2.025 kemarin, dari posisi Rp2.200 hari sebelumnya dan Rp2.250 pada akhir pekan lalu.

Namun, pagi ini harga saham berkode BUMI itu kembali menguat Rp25 atau 1,23% ke Rp2.050.

Saham Bumi Minerals juga terkoreksi ke Rp570 kemarin, dari Rp610 pada hari sebelumnya dan Rp650 pada akhir pekan lalu.

Pagi ini, saham berkode BRMS itu justru terapresiasi Rp10 atau 1,75% ke Rp580.

Saham Bumi Plc bergerak dinamis sejak akhir pekan lalu, dari 748 pence akhir pekan lalu ke 756 pence pada Senin dan kemarin ditutup koreksi 3,37% ke 730 pence. 100 pence setara 1 poundsterling.

http://www.bisnis.com/articles/waaah-dot-penjualan-bumi-minerals-batal

PT Multi Daerah Bersaing, anak usaha yang dimiliki 75% oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) telah mendapatkan dividen bersih sekitar US$40,8 juta dari PT Newmont Nusa Tenggara.

“Penerimaan dividen tersebut berdasarkan kepemilikan MDB sebesar 24% di NTT,” ujar Direktur Keuangan BRMS Yuanita Rohali dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (18/10) malam.

Menurutnya sekitar 80% dari penerimaan dividen untuk pelunasan pinjaman pokok dan biaya bunga dari Credit Suisse, sedangkan sisanya digunakan untuk mendanai kebutuhan modal kerja semuanya di level MDB.

Secara terkonsolidasi, BRMS akan menunjukkan kondisi neraca keuangan dan rasio pinjaman terhadap modal yang semakib baik, setelah pelunasan pokok pinjaman dan biaya tersebut.

Direktur Utama BRMS Ken Farrell mengungkapkan dalam keadaan pasar yang berfluktuatif ini, manajemen tetap untuk dapat membukukan kinerja kuangan dan produksi BRMS yang semakin membaik dan meningkat.

Saat ini, lanjutnya BRMS memiliki neraca keuangan yang sangat baik mengingat rasio pinjaman bersih terhadap modal yang hanya sebesar 0,1 kali. Konsesi bijih besi di Bumi Mauritania diharapkan dapat segera memulai produksinya di awal tahun 2012 sesuai skedul.

Selanjutnya, perseroan akan menyelesaikan estimasi jumlah cadangan dan sumber daya di Gorontalo Minerals (emas dan tembaga) berdasarkan standar JORC sebelum akhir tahun 2012 sesuai rencana.

“Pada saat ini, kami juga sedang menunggu diterbitkannya izin pinjam pakai untuk kegiatan eksploitasi oleh pemerintah di konsesi seng kami di Dairi Prima Mineral sebelum akhir tahun ini,” ujar Ken Farrell.

http://www.imq21.com/news/read/43490/20111019/070510/Multi-Daerah-Bersaing-Peroleh-Dividen-US-40-8-Juta.html

Sumber : IMQ JAKARTA
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengabarkan belum mau melepas 75 persen saham PT Bumi Resources Mineral tbk (BRMS). Penundaan dikarenakan kondisi pasar yang belum membaik.

Direktur-Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (17/10) menyebutkan kondisi pasar yang sangat tidak menentu membuat BUMI enggan meneruskan divestasi penjualan 75 persen saham Bumi Resources Minerals.

Nanti bila kondisi pasar global kembali normal, akan dipertimbangkan untuk melanjutkan kembali rencana divestasi.

Perseroan akan meelakukan RUPSLB pada 21 Oktober 2011. BUMI akan meminta izin rencana perseroan membeli kembali (buyback) sebanyak 780 juta saham atau sekira 3,75 persen dari modal saham yang ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Nilai maksimal Rp3,9 triliun, di mana buy back tersebut harus dilakukan pada harga yang lebih rendah atau sama dengan harga transaksi yang terjadi sebelumnya.

http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=5329:tunggu-waktu-tepat-bumi-akan-lepas-75-sahamnya-ke-brms&catid=3:head-line-news&Itemid=61

Sumber : TOPSAHAM.COM
Bakrie & Brothers teken utang baru US$597 juta

Oleh Raydion

Minggu, 16 Oktober 2011 | 17:23 WIB

bisnis indonesia
… salah satu alasan kenapa grup Bakrie sering beraksi korporasi secara akuntansi dan finansial karena banyak awak rekayasa keuangan mereka adalah orang muda, yang cerdas, dan diberi keleluasaan oleh pemilik …
JAKARTA: PT Bakrie & Brothers Tbk segera teken utang baru sebelum 31 Oktober 2011 guna pembiayaan kembali (refinancing) terhadap sebagian total utang senilai US$597 juta yang dikucurkan Credit Suisse AG, Singapura.

Selain melakukan refinancing terhadap utang itu, perseroan juga akan melunasi sebagian dari pinjaman tersebut.

Utang itu merupakan bagian dari total pinjaman sebesar US$1,34 miliar, yang mengalir ke Bakrie & Brothers dan Long Haul Holdings Ltd. Bakrie & Brothers mendapat US$601,75 juta dan sisanya ke Long Haul Holdings. Adapun utang itu akan jatuh tempo pada awal tahun depan.

Dalam siaran pers hari ini, emiten berkode efek BNBR itu menyatakan telah memasuki tahap akhir pembahasan dan dokumentasi sebuah fasilitas pembiayaan baru sebagai komitmen terhadap Credit Suisse.

“Pasar modal global akhir-akhir ini mengalami penurunan yang signifikan, dipicu oleh krisis keuangan di Eropa. Penurunan harga saham-saham tidak hanya terjadi di Bursa Efek Indonesia, tapi juga bursa efek di London, di mana saham Bumi Plc tercatat,” jelas Bakrie & Brothers dalam siaran pers itu.

Bumi Plc, dahulu Vallar Plc, merupakan lini usaha Bakrie & Brothers yang terdaftar di bursa efek di London. Adapun Bakrie & Brothers memiliki 47% saham Bumi Plc.

Seperti diketahui, Bakrie & Brothers menjaminkan sekitar 50 juta lembar saham Bumi Plc dengan harga minimum 8,50 poundsterling, untuk memperoleh utang dari Credit Suisse itu.

Jika saham Bumi Plc berada di bawah harga 8,50 poundsterling, Bakrie & Brothers sudah harus menambah jaminan, atau melakukan top up.

Namun, belum diketahui sampai berapa banyak emiten berkode efek BNBR itu sudah mengeluarkan jaminan tambahan.

Sebelumnya, manajemen Bakrie & Brothers Tbk tidak membantah informasi Glencore International Plc segera mengucurkan dana hingga US$900 juta ke perseroan, untuk mendapatkan hak lebih memasarkan batu bara yang diproduksi oleh Bumi Plc.

Strategi Glencore itu juga untuk membantu Grup Bakrie merestrukturisasi utang US$1,34 miliar ke Credit Suisse AG. Sebelumnya, Bloomberg memberitakan Glencore ingin mengambil sebagian saham Bumi Plc dari Grup Bakrie.(api)
RUPSLB BNBR Setujui Kuasi Reorganisasi
Headline
PT Bakrie & Brothers Tbk – kontan.co.id
Oleh: Sandiyu Nuryono
Pasar Modal – Kamis, 6 Oktober 2011 | 12:20 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Rapat Umum Pemengang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menyetujui rencana perseroan untuk melaksanakan kuasi reorganisasi.

Kuasi reorganisasi yang dilakukan BNBR akan mendatangkan manfaat baik bagi perseroan maupun investor dan pemegang saham. Kuasi reorganisasi ini juga diharapkan dapat memperbaiki struktur ekuitas perseroan, menunjukkan nilai wajar sekarang tanpa dibebani defisit masa lampau.

“Tidak ada yang dirugikan dengan kuasi reorganisasi ini. Pada hakikatnya, seluruh pemegang saham akan memperoleh banyak manfaat dari proses kuasi reorganisasi ini, antara lain berpeluang untuk mendapatkan dividen dalam jangka pendek,” ujar Direktur Utama BNBR Bobby Gafur Umar di Jakarta, Kamis (6/10).

Sesuai dengan pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No. 51 dan Peraturan Bapepam-LK terkait dengan kuasi reorganisasi. Kuasi reorganisasi ini dilakukan untuk restrukturisasi ekuitas perseroan dengan menghilangkan defisit dan menilai kembali seluruh aset dan kewajibannya dan sebelumnya diperlukan persetujuan dari pemegang saham.

Dengan kuasi reorganisasi, perseroan akan menghapus defisit senilai Rp34,9 triliun terdiri dari nilai defisit, selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas si pengendali dan rugi investasi jangka pendek yang belum terealisasi. Sampai dengan 30 Juni 2011, perseroan mencatat saldo defisit sebesar Rp27,7 triliun. Defisit terutama merupakan akumulasi dari kerugian bersih perseroan sebesar Rp16,5 triliun pada 2008, Rp1,7 triliun pada 2009 dan Rp7,6 triliun pada 2010.

Bobby membenarkan, nilai nominal saham perseroan akan diturunkan sekitar 43%. Nilai nominal saham Seri A diturunkan dari Rp5.000 menjadi Rp2.850. Saham Seri B diturnkan dari Rp700 menjadi Rp399 dan nilai nominal saham Seri C dari Rp200 menjadi Rp104. [cms]

Saham grup Bakrie pada perdagangan Kamis (29/9) memerah dipicu penurunan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) hingga Rp100 per saham.

“Saham BUMI turun karena adanya berita didowngrade oleh salah satu sekuritas asing dengan target 2.200,” kata pengamat pasar modal Stefanus Mulyadi Handoko kepada INILAH.COM.

CLSA Asia-Pasific menurunkan rekomendasi BUMI dari buy menjadi underperform. Langkah ini dikarenakan kemajuan deleveraging perseroan lebih lambat dari yang diharapkan, seperti dikutip dari bloomberg.com.

Secara psikologis saham-saham dalam grup Bakrie juga terseret. Karena saham BUMI merupakan leading indicator bagi grupnya.

“Selain itu IHSG juga tampak mulai berat untuk naik lebih lanjut. Jika kita lihat dari posisi terendah 3.217, indeks sudah pullback sebesar 300 poin lebih, sehingga ada kemungkinan profit taking,” jelasnya

Sementara menurut analis saham Milenium Danatama Securities, Ahmad Riyadi, sentimen negatif yang menimpa saham grup Bakrie hanya sementara. “Hanya temporer, nanti juga akan mengakumulasi pembeliannya,” katanya secara terpisah.

Pada pukul 14:20 WIB, saham grup Bakrie mayoritas turun seperti saham BUMI turun Rp100 ke Rp1.950 dengan volume 228.582 saham senilai Rp223,4 miliar. saham BTEL turun Rp10 ke Rp320 dengan volume 27.345 saham senilai Rp4,4 miliar. Saham UNSP turun Rp5 ke Rp285 dengan volume 66.850 saham senilai Rp9,5 miliar.

Saham ELTY turun Rp3 ke Rp112 volume mencapai 222.085 saham senilai Rp12,4 miliar. Saham BNBR stagnan di Rp52 dengan volume 232.445 saham senilai Rp6,05 miliar. Saham DEWA turun Rp2 ke Rp77 dengan volume 295.606 saham senilai Rp11,4 miliar.

Saham BRMS turun Rp30 ke Rp610 dengan volume 12.210 saham senilai Rp3,7 miliar. ENRG turun Rp3 ke Rp137 dengan volume Rp344.515 saham senilai Rp23,6 miliar.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1779799/bumi-downgrade-saham-grup-bakrie-memerah

Sumber : INILAH.COM
IHSG Merah, Bakrie & Brothers Ketar-ketir
R Ghita Intan Permatasari – Okezone
Kamis, 22 September 2011 20:16 wib

JAKARTA – Emiten besar PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengaku ketar-ketir dengan merahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menyentuh level 3.300. Apa pasal?

“Terus terang saya agak khawatir dengan kondisi market sekarang, karena kita akan terbitkan obligasi senilai Rp1 triliun pada akhir tahun,” ungkap Direktur Keuangan BNBR, Edy Soeparno, di Jakarta, Kamis (22/9/2011).

Eddy pun tidak dapat memastikan kondisi pasar saat ini apakah nantinya akan dilakukan penundaan atau tidak terkait penerbitan obligasi tersebut.

“Saya belum bisa memastikan apakah dengan kondisi market saat ini akan ada penundaan penerbitan obligasi. Ya kita lihat saja kondisi market-nya nanti bagaimana,” paparnya.

Di sisi lain, saat ini pihaknya masih melakukan pemantauan keadaan pasar yang ada. Selain itu, perseroran pun sedang melakukan proses pemeringkatan kepada Pefindo.

Dalam pemeringkatan tersebut, perseroan berharap mendapatkan rating investment grade sehingga potensi untuk mendapatkan investor bisa lebih baik lagi.

Seperti diketahui, BNBR berencana akan menerbitkan obligasi senilai Rp1 triliun di akhir 2011 ini. Eddy menjelaskan obligasi yang akan diterbitkan dalam bentuk rupiah ini digunakan untuk refinancing utang kepada Credit Suisse senilai USD600 juta yang akan jatuh tempo awal 2012.

“Iya kita mau keluarkan obligasi senilai Rp1 triliun. ‎Sekarang kita baru lakukan pemeringkatan ke Pefindo, mungkin akhir tahun ini akan keluar,” ungkap Eddy beberapa waktu lalu.

Adapun perseroan akan memakai laporan keuangan September 2011 dalam penerbitan obligasi tersebut. Sementara untuk penjamin pelaksana emisi atau underwriter obligasi tersebut belum ditunjuk karena masih tahap awal.

“Untuk underwriter kita masih belum putuskan, karena ini masih tahap awal, dan kita juga baru melakukan pemeringkatan ke Pefindo,” pungkasnya. (ade)
Grup Bakrie dikabarkan akan merambah bisnis pengelolaan bandara di tanah Air menyusul minat kelompok usaha ini untuk mengelola dan mengembangkan Bandara Raden Inten II di Bandar Lampung.

Bandara ini sekarang dikelola Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Direjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti Singayuda Gumay membenarkan tentang rencana kelompok usaha Bakrie itu. Namun, hingga kini Grup Bakrie belum melapor secara resmi kepada Kementerian. Pembicaraan sejauh ini masih dibahas di level pemerintah daerah. “Pembicaraan baru informal. Mereka sih sudah berbicara dengan Gubernur Lampung. Peluang investor swasta memang terbuka dalam pengelolaan bandara pasca terbitnya UU No.1 Tahun 2009 tentang penerbangan,” kata Herry seperti dikutip Investor Daily.

Dia mengatakan Pemerintah Pusat memang akan menjadikan Bandara Raden Inten II di Bandar Lampung sebagai proyek percontohan swastanisasi bandara UPT. Melalui program swastanisasi, berarti Bandara Raden Inten II akan digarap menjadi bandara komersial oleh pihak ketiga seperti selama ini dilakukan BUMN bandara, PT Angkasa Pura (AP) I dan AP II.

Kepada UPT Bandara Raden Inten II Djoko Priambodo menyebutkan sudah ada dua investor yang siap mengembangkan bandara itu, yakni PT Angkasa Pura II dan Grup Bakrie. Keinginan kedua investor wajar karena hasil survei dan analisis proyeksi pertumbuhan penumpang udara dari dan ke Lampung akan meningkat pesat dalam lima tahun ke depan. Di sisi lain, Bakrie memiliki keterkaitan historis dengan daerah Lampung. “Grup Bakrie kami dengar memang berminat menanamkan modalnya untuk pengembangan Bandara Raden Inten II selain PT Angkasa Pura II. Siapa yang dipilih pemerintah, kami tunggu saja atau malah nanti tetap dikelola UPT di bawah Ditjen Perhubungan Udara,” ungkapnya.

http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1776685/bakrie-akan-garap-bisnis-bandara

Sumber : INILAH.COM
Saham PT Bakrieland Development (ELTY) bergerak fluktuatif pagi ini. Pada pukul 10.59, saham ELTY tercatat turun 0,74% menjadi Rp 134. Padahal sebelumnya, saham ELTY sempat bertengger di level Rp 137 atau naik 1,5%.

Pergerakan saham ELTY ini dipengaruhi oleh aksi korporasi perusahaan. Dikabarkan, ELTY sudah menggandeng dua mitra asing untuk menggarap taman hiburan kelas dunia di Lido, Jawa Barat.

Menurut Kepala Riset eTrading Securities Betrand Reynaldi, rencana ELTY tersebut sejalan dengan lahan yang dimiliki perusahaan di sekitar Bogor dan Sukabumi.

“Namun yang menjadi perhatian bagi para investor adalah komitmen dan kelangsungan dari pembangunan proyek tersebut,” urai Betrand. Dia menambahkan, porsi pendapatan dan kontribusi terhadap penjualan Perusahaan juga akan menjadi katalis penting bagi peningkatan nilai perusahaan yang juga tentunya kenaikan harga saham.

Saat ini, lanjutnya, PER ELTY berada di posisi 18,75 kali, dimana PER Industri adalah sebesar 24,6 kali. Berdasarkan konsensus, tiga analis memberikan rekomendasi beli untuk saham ELTY. Sementara, tujuh analis merekomendasikan tahan dan satu analis merekomendasikan jual. “Target harga saham ELTY adalah Rp 175,” tambahnya.

http://investasi.kontan.co.id/v2/read/1316146109/77570/Saham-ELTY-bergerak-fluktuatif-pada-transaksi-pagi

Sumber : KONTAN.CO.ID
BANDUNG – Pemprov Jawa Barat terus menggenjot pembangunan infrastruktur di Kabupaten Sukabumi. Selain membangun Bandara Citarete pada 2015, Desember 2011 akan dibangun ruas tol Ciawi–Sukabumi.

PT Jasa Sarana memastikan pembangunan ruas tol Ciawi– Sukabumi mulai dibangun Desember 2011,setelah proses pembebasan lahan rampung. Direktur Utama PT Jasa Sarana Soko Sandi Buwono menjelaskan, proses pembebasan lahan saat ini telah mencapai 26% atau sekitar 42,9 hektare dari kebutuhan lahan pembangunan tol tahap I seluas 165 hektare.

PT Jasa Sarana, kata dia, optimistis proses pembebasan lahan akan rampung akhir tahun ini dan proses pembangunan ruas tol tahap I segera dimulai. “Banyak aspirasi masyarakat yang menginginkan pembangunan tol dipercepat.Kami terus bekerja keras agar pembebasan lahan bisa selesai akhir tahun ini,” kata Soko di Bandung kemarin.

Menurut dia, PT Jasa Sarana telah menyiapkan dana sekitar Rp419 miliar untuk proses pembebasan lahan tol tahap I. Dana tersebut diambil dari pos badan layanan umum (BLU). Lebih lanjut Soko menjelaskan, pembangunan ruas tol Ciawi–Sukabumi akan dibagi dalam empat tahap.

Tahap I yaitu ruas Ciawi–Cicurug sepanjang 14,5 km, tahap II Cicurug– Cibadak 11,9 km, tahap III Cibadak–Sukabumi Barat 13,7 km, dan tahap IV Sukabumi Barat–Sukabumi Timur 13,4 km. Pembangunan konstruksi tahap I diperkirakan menelan biaya Rp1,5 triliun. “Ruas tol Ciawi–Cicurug diharapkan bisa digunakan pada 2012 mendatang,”tegasnya.

Menurut Soko,konstruksi tol tahap I akan dibangun pada badan tanah dan sebagiannya dibangun dengan bentuk konstruksi jalan layang. Hal itu menyesuaikan dengan tekstur tanah yang menghubungkan kedua daerah tersebut.Begitu pun dengan pembangunan di tiga ruas selanjutnya.

Menurut dia, pembangunan tol yang menghubungkan Cicurug–Cibadak, Cibadak– Sukabumi Barat,dan Sukabumi Barat– Sukabumi Timur akan dilakukan setelah pembangunan tol tahap I rampung. “Selesai pembebasan lahan di ruas tol tahap I, kami langsung melanjutkannya pada ruas tol tahap II,” jelas dia.

Menurutnya, pembangunan ruas tol Ciawi–Sukabumi digarap oleh PT Trans Jabar Toll. Pemegang saham perusahaan tersebut dipegang oleh BUMD Jabar PT Jasa Sarana dan pengembang swasta PT Bakrieland Development Tbk. Disinggung soal pendanaan, Soko mengaku tidak ada kendala berarti.

Pihaknya telah mendapat komitmen dengan sejumlah perbankan nasional dan perbankan daerah yang siap mendanai proyek tersebut melalui mekanisme sindikasi, di antaranya BNI, BRI,Bank BJB,Bank Jatim,dan Bank Riau.“Dari sisi pendanaan, kami juga masih mendapatkan komitmen dari sindikasi perbankan,”imbuh dia.

Ruas tol Ciawi–Sukabumi tersebut merupakan salah satu program jalan tol yang tengah digenjot Pemprov Jabar. Di kemudian hari, jalan tol itu akan tersambung ke jalur Sukabumi– Ciranjang Cianjur.

Bandara Citarete

Selain ruas tol Ciawi– Sukabumi, Pemprov Jabar melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi berencana akan membangun Bandara Citarete di Kecamatan Surade,Kabupaten Sukabumi pada 2015 mendatang. Bandara yang bertujuan menunjang pariwisata di Jabar Selatan ini akan menyedot anggaran hingga Rp1,5 triliun.

“Namanya Bandara Citarete, untuk rencana pembangunannya sudah dilakukan feasibility study pada 2005. Perizinannya pun sudah dilakukan ke Kementerian Perhubungan melalui pemerintah daerah setempat. Dengan begitu, pembangunannya tinggal dilakukan saja dengan pembiayaan selama 15 tahun yang bersumber dari APBD dan APBN terhitung 2005,” terang Kepala Bappeda Jabar Deny Juanda beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya, Bandara Citarete akan dibangun dengan dimensi runway1,9 km dengan lebar 30–60 meter. Bandara ini juga ditunjang dengan infrastruktur berupa jalan tol Palabuhanratu– Surade dengan tujuan Bandara Citarete melalui jalan arteri. Jalan bebas hambatan ini merupakan lanjutan dari pembangunan jalan tol Ciawi–Sukabumi.

Lebih lanjut Deny mengungkapkan infrastruktur penerbangan ini tidak hanya akan berfungsi sebagai bandara domestik, fungsi utama lainnya pun adalah sebagai sarana penunjang pariwisata dan industri agromarine untuk pertumbuhan perekonomian masyarakat pesisir.

“Prasyarat untuk pembangunan bandara ini,Pemda Kabupaten Sukabumi telah berhasil melakukan promosi besar-besaran untuk sektor pariwisata, termasuk menarik investor untuk pembangunan wilayah Selatan dan industri agromarine. Selambat-lambatnya upaya promosi ini sudah dilakukan pada 2014,”terang Deny.

Kepala Bappeda Kabupaten Sukabumi Dodi Sumanteri menegaskan, keberadaan Bandara Citarete ini akan menjadi pemerata bagi pembangunan Sukabumi, terutama di wilayah selatan yang selama ini relatif minim.

Pembangunannya akan berdampak pada perekonomian masyarakat, sebab fasilitas penerbangan ini akan diikuti industri lainnya.

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/427580/44

/Sumber : SEPUTAR INDONESIA
Sinarmas : Tak Ada Masalah Dengan Piutang BNBR
R Ghita Intan Permatasari – Okezone
Minggu, 11 September 2011 11:33 wib

JAKARTA – Perusahaan penjamin emisi (underwriter) Sinarmas Sekuritas menuturkan tidak ada masalah dengan pembayaran piutang PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) sebesar Rp528,31 miliar.

Direktur Utama PT SInarmas Sekuritas, Kokaryadi Chandra menuturkan masalah pembayaran tersebut bukanlah menjadi kendala, karena BNBR sendiri telah membuat piutang tersebut dalam bentuk promissory notes.

“Sinarmas Sekuritas sebagai arranger dan underwriter, waktu itu. Lalu menggorganize piutang tersebut, dan setelah itu Sinarmas sendiri menjualnya, Oleh karena sudah dijual tidak mungkin kita catat di buku kita,” ungkap Kokaryadi di Gedung BEI, Sudirman, Jakarta, akhir pekan lalu.

Kokaryadi mengatakan, pihaknya telah menjelaskan kepada pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai hal ini. Sementara dari pihak BNBR pun sendiri, sambung dia, sudah tidak ada permasalahan karena BNBR sendiri pun memang menerbitkan surat utang.

“Sekali lagi dari sisi kita emang kita tidak membeli surat utang tersebut dan kita sudah menjualnya jadi tidak mungkin kita catat dibuku kita,jadi ada perbedaan disana aja”paparnya.

Hal tersebut dijelaskannya, terkait adanya permintaan konfirmasi dari Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) terkait permasalahan tersebut, namun dia mengatakan kini sudah tidak ada masalah.

Ketika ditanyakan prihal pemanggilan pihak BEI terhadap Sinarmas Sekuritas mengenai piutang ini, Kokaryadi menjelaskan pemanggilan tersebut sifatnya hanya meminta penjelasan lebih detail lagi.

Seperti diketahui, transaksi utang piutang Bakrie & Brother dengan Sinarmas Sekuritas terlihat ganjil untuk periode 31 Maret 2011. Di mana BNBR memiliki pinjaman kepada Sinarmas Sekuritas senilai Rp528,31 miliar.

BNBR dan Sinarmas Sekuritas meneken perjanjian pembiayaan transaksi efek pada 1 September 2009. Sinarmas menyiapkan fasilitas pinjaman Rp800 miliar. Per akhir Maret 2011, BNBR memangkas utangnya turun menjadi Rp528,31 miliar. Utang ini dijamin kepemilikan BNBR di PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNDP), dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Data pinjaman yang tersaji di laporan keuangan BNBR ternyata berbeda dengan laporan keuangan Sinarmas Sekuritas per 31 Maret 2011 yang disampaikan kepada bursa. Dalam laporan keuangan Sinarmas, tak disebutkan sama sekali pinjaman Rp528,31 miliar itu.

Sinarmas hanya mencantumkan empat pos piutang senilai Rp341,17 miliar. Yakni piutang Lembaga Kliring Indonesia Rp231,81 miliar, piutang perusahaan efek Rp 2,26 miliar, piutang nasabah Rp98,45 miliar dan piutang lain-lain Rp8,65 miliar.

Dalam keterangan tertulisnya kepada BEI, Direktur & Corporate Secretary BNBR RA Sri Dharmayanti menjelaskan, jika pinjaman tersebut diterima secara bertahap mulai Oktober 2009 dengan nilai total Rp800 miliar. (mrt)
(rhs)

Lagi, Sinarmas Sekuritas Dipanggil BEI
R Ghita Intan Permatasari – Okezone
Sabtu, 10 September 2011 12:12 wib

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menuturkan akan kembali memanggil PT Sinarmas Sekuritas pada minggu depan terkait transaksi utang piutang PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR).

“Minggu Depan kita akan panggil lagi Sinarmas-nya. Kita ingin mereka memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai transaksi utang piutang dengan BNBR,” ungkap Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo di Jakarta.

Sementara untuk pemeriksaan terhadap BNBR, Uriep mengatakan sudah selesai.

Seperti diketahui, transaksi utang piutang Bakrie & Brother dengan Sinarmas Sekuritas terlihat ganjil untuk periode 31 Maret 2011. Di mana BNBR memiliki pinjaman kepada Sinarmas Sekuritas senilai Rp528,31 miliar.

BNBR dan Sinarmas Sekuritas meneken perjanjian pembiayaan transaksi efek pada 1 September 2009. Sinarmas menyiapkan fasilitas pinjaman Rp800 miliar. Per akhir Maret 2011, BNBR memangkas utangnya turun menjadi Rp528,31 miliar. Utang ini dijamin kepemilikan BNBR di PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNDP), dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Data pinjaman yang tersaji di laporan keuangan BNBR ternyata berbeda dengan laporan keuangan Sinarmas Sekuritas per 31 Maret 2011 yang disampaikan kepada bursa. Dalam laporan keuangan Sinarmas, tak disebutkan sama sekali pinjaman Rp528,31 miliar itu.

Sinarmas hanya mencantumkan empat pos piutang senilai Rp341,17 miliar. Yakni piutang Lembaga Kliring Indonesia Rp231,81 miliar, piutang perusahaan efek Rp 2,26 miliar, piutang nasabah Rp98,45 miliar dan piutang lain-lain Rp8,65 miliar.

Dalam keterangan tertulisnya kepada BEI, Direktur & Corporate Secretary BNBR RA Sri Dharmayanti menjelaskan, jika pinjaman tersebut diterima secara bertahap mulai Oktober 2009 dengan nilai total Rp800 miliar.

Ketua Bapepam-LK Nurhaida pun mengaku bingung dengan hal tersebut, dia menjelaskan jika hal itu memang tidak biasa. “Kan biasanya yang hilang itu adalah utangnya, tapi ini malah piutangnya,” ungkap dia.
(wdi)

JAKARTA–MICOM: Perusahaan perkebunan karet dan sawit PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) selama semester I 2011 mencatat laba bersih Rp218,62 miliar.

Itu berarti ada lonjakan 362,58 persen dibanding periode yang sama sebelumya Rp47,26 miliar.

Adanya peningkatan laba bersih tersebut mendongkrak laba bersih per saham dasar mencapai Rp60,32, naik dari posisi sebelumnya Rp8,5.

Dalam laporan keuangan UNSP yang dipublikasikan, Jumat (26/8), disebutkan kenaikan laba itu didorong oleh peningkatan penjualan dari Rp1,134 triliun pada semester I 2010 menjadi Rp2,303 triliun di semester I 2011.

Laba usaha pada semester I 2011 tercatat Rp654,103 miliar atau naik 101,18 persen dari periode sama sebelumnya Rp325,13 miliar.

Adanya peningkatan laba usaha juga menunjukkan adanya peningkatan efisiensi operasional perusahaan. (Ant/OL-5)

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/08/26/254315/21/2/Laba-Bakrie-Sumatera-Plantation-Meroket-36258-Persen

Sumber : MEDIA INDONESIA
BNBR Bayar Utang Credit Suisse

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
Pasar Modal – Minggu, 21 Agustus 2011 | 13:31 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) bakal menerbitkan obligasi senilai Rp1 triliun. Rencananya, sebagian dana hasil obligasi tersebut untuk menutup utangnya kepada Credit Suisse atas akuisisi saham Vallar Plc.

Direktur Keuangan BNBR Eddy Soparno mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah mengajukan pemeringkatan obligasi tersebut kepada PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan diharapkan pada akhir tahun ini bisa dapat terealisasi. “Kita ada rencana, mudah-mudahan bisa di akhir tahun. Nilainya enggak langsung besar, minimum Rp1 triliun,” tuturnya di Jakarta, akhir pekan ini. Sebelumnya, perseroan berniat untuk menerbitkan obligasi global (global bonds)

Perseroan, lanjutnya, akan menggunakan laporan keuangan September 2011 untuk penerbitan obligasi dengan denominasi rupiah ini. Rencananya, obligasi tersebut akan memiliki jangka waktu tiga tahun.

Dana hasil obligasi tersebut, rencananya akan digunakan perseroan untuk melunasi sejumlah utang. Salah satunya adalah pelunasan utang kepada Credit Suisse yang akan jatuh tempo pada Maret 2012 sebesar US$600 juta, yang digunakan BNBR untuk mengakuisisi saham Vallar Plc. “Dana hasil obligasi ini memang nantinya akan disisihkan untuk membayar pinjaman itu, tapi hanya sebagian,” tuturnya.

Selain itu, dana hasil obligasi juga akan digunakan untuk melunasi utang berupa medium secured notes (MSN). “MSN yang akan dipercepat pelunasannya senilai Rp 3,3 triliun. Dari jumlah itu, kami sudah membayar Rp 1,2 triliun pada semester pertama tahun ini,” pungkasnya.
JAKARTA–MICOM: Operator telekomunikasi milik Grup Bakrie, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), mencatatkan rugi bersih sebesar Rp179,69 miliar pada semester I 2011 dari sebelumnya laba Rp2,72 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan Jumat (19/8), kerugian bersih sepanjang enam bulan pertama 2011 disebabkan besarnya rugi usaha yang dialami perseroan.

Tercatat emiten berkode BTEL tersebut membukukan rugi usaha sebesar Rp18,26 miliar dari sebelumnya mencatatkan laba sebesar Rp174,59 miliar.

Rugi usaha tersebut disebabkan tipisnya kenaikan pendapat usaha perseroan yang hanya mencapai Rp1,726 triliun di tahun ini dibandingkan Rp1,718 triliun di 2010.

Beban usaha perseroan justru naik lebih tinggi dari pendapatan mencapai Rp1,396 triliun di paruh pertama tahun ini dari tahun sebelumnya Rp1,2 triliun. (Atp/OL-5)

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/08/19/252271/21/2/Bakrie-Telecom-Rugi-Rp17969-Miliar

Sumber : MEDIA INDONESIA
PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) akan melakukan refinancing utang sebesar US$185 juta yang jatuh tempo pada November 2011.

Direktur Keuangan PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk Harry Nadir mengatakan, perseroan menargetkan mendapatkan pinjaman sebesar US$250 juta. Ada lima kreditur yang akan memberikan pinjaman kepada perseroan. Pinjaman ini diharapkan cair pada September. “Sebelum mendapatkan pinjaman kita akan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham untuk meminta persetujuan pemegang saham,diperkirakan rapat umum pemegang saham diselenggarakan pada September,” ujar Harry, Kamis (18/8) malam.

Lebih lanjut ia mengatakan, jangka waktu pinjaman sebesar 5 tahun. Bunga pinjaman diperkirakan 7%. Penjaminan pinjaman bisa berupa aset. Pinjaman yang diperoleh sekitar US$250 juta di mana sekitar US$185 juta untuk refinancing utang dan sisanya untuk belanja modal oleochemical. “Dengan refinancing utang ini tidak ada tekanan cash flow,” tambah Harry.

Selain itu, perseroan akan membangun pembangkit listrik berkapasitas 15 MW. Pembangunan pembangkit listrik ini akan menghemat biaya energi perseroan. Pembangunan pembangkit listrik dapat selesai pada 2012. Penghematan biaya energi diperkirakan sebesar 22-24 sen per Khw.

Terkait kinerja perseroan, Harry mengatakan, kinerja keuangan perseroan lebih baik dari periode sama tahun lalu. Hal ini didukung dari kenaikan harga komoditas dan volume produksi dan penjualan. Volume produksi dapat tumbuh 10%.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1766711/bakrie-plantation-refinancing-utang-us185-juta

Sumber : INILAH.COM
UNSP menargetkan refinancing utang senilai US$ 210 juta tuntas pada September. Utang tersebut berasal dari US$ 185 juta obligasi yang akan jatuh tempo pada 1 November 2011, dan sisanya utang dari anak perusahaan. Target pinjaman baru adalah sebesar US$ 250 juta dengan bunga sekitar 8-10% per tahun, atau lebih rendah dari obligasi sebelumnya sebesar 10,75%, potensi penghematan biaya bunga sebesar US$ 4 juta. Sebesar US$ 20-25 juta dana pinjaman akan digunakan untuk pembangunan pabrik oleokimia.

Sumber : IPS RESEARCH
Saham BNBR, sudah layak jadi fokus pasar saat ini. Positifnya ekspektasi laba bakal memastikan terlaksananya kuasi reorganisasi emiten. Kinerjanya pun bakal kinclong hingga 5 tahun mendatang.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengungkapkan hal itu kepada INILAH.COM. Dia memperkirakan, laba bersih PT Bakrie and Brothers (BNBR) mencapai Rp100-200 miliar pada kuartal II/2011. Karena itu, dalam pekan ini, saham BNBR bisa ditutup di level resistance Rp73 dan akan bertenger di level Rp75-85 pekan depan.

Dia menargetkan harga BNBR di level Rp160 per saham hingga akhir tahun. Apalagi, jika berkaca pada kesuksesan PT Polychem Indonesia (ADMG) yang setelah kuasi, harga sahamnya langsung melesat ke level Rp1.080. “BNBR pun bisa mencapai Rp160 hingga akhir tahun,” kata Willy.

Pada perdagangan Selasa (16/8) saham BNBR ditutup menguat Rp1 (1,53%) ke level Rp66 dari sebelumnya Rp65. Harga intraday tertingginya mencapai Rp68 dan terendah Rp64. Volume transaksi mencapai 969,4 juta unit saham senilai Rp64,2 miliar dan frekuensi 2.751 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah ditutup menguat 1,53%, bagaima Anda melihat prospek saham BNBR?

Untuk Kamis (18/8) ini perhatian pasar sudah selayaknya pada Seven Brothers terutama saham BNBR. Saya perkirakan, saham induk usaha grup Bakrie ini, akan atraktif dalam pekan-pekan ini. Sebab, laporan keuangan emiten untuk kuartal II/2011 akan segera dirilis Jumat (19/8/2011) dan sudah audited. Sebelumnya, laporan keuangan emiten, sudah dimasukkan ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Karena itu, pada Kamis (18/8) ini terbuka lebar untuk menguat.

Level support dan resistance-nya?

Dalam pekan ini, saham BNBR bisa ditutup di level resistance Rp73 dan akan bertenger di level Rp75-85 pekan depan. Sedangkan level support di level Rp65.

Mengapa laporan keuangan BNBR sangat menentukan pergerakan sahamnya saat ini?

Saya perkirakan, laba bersih BNBR mencapai Rp100-200 miliar. Ini sangat positif. Sebab, salah satu syarat kuasi reorganisasi adalah laporan keuangan harus plus. Selain itu, BNBR juga harus memiliki blueprint untuk kinerja lima tahun ke depan. Selama lima tahun, BNBR tidak bisa minus lagi dalam laporan keuangannya.

Karena itu, nantinya BNBR akan membuka cabang di Singapura untuk menopang blueprint-nya itu sebagai perusahaan hedge fund. Setelah membukukan kinerja keuangan yang positif berturut-turut dalam lima tahun, emiten juga harus membagikan dividen kepada investor dalam lima tahun itu. Karena itu, saham BNBR sangat prospektif dalam tahun-tahun mendatang.

Kuasi reorganiasi itu sudah pasti bisa segera dilaksanakan?

Kuasi reorganisasi BNBR sudah dipastikan bisa dilakukan tahun ini. Sebab, salah satu syaratnya yakni positifnya laporan keuangan akan menjadi kenyataan pekan ini. Apalagi, BNBR juga sudah mengajukan blueprint kinerja keuangan untuk lima tahun mendatang ke Bapepam.

Mereka juga akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 2 Oktober 2011 untuk meminta persetujuan dari pemegang saham terkait kuasi reorganisasinya itu. Jika semua itu, sudah selesai, semua syarat untuk kuasi reorganisasinya itu terpenuhi.

Lantas?

Menariknya, ada kemungkinan BNBR akan melepas PT Bakrie Telecom (BTEL) yang operasional usahanya saat ini masih gabung dengan BNBR. Sebagai perusahaan investasi, BNBR tidak bisa mencampuradukkan operasionalnya dengan BTEL. Karena itu, mereka akan mencari investor yang akan membeli BTEL. Pasti banyak investor yang ingin membeli BTEL.

Bagaimana dengan faktor valuasi?

Secara valuasi, saham BNBR sangat murah. Sebab, dalam sejarahnya saham ini pernah bertenger di atas level Rp600. Karena itu, saham ini menjadi saham termurah sepanjang sejarah. Dalam grafik dua tahun saja, saham ini di level Rp140-150 per saham. Jadi, dengan harga sekarang di level Rp66 sangat murah.

Kalau begitu, Anda punya target harga hingga akhir 2011?

Target harga BNBR hingga akhir tahun di level Rp160 per saham. Apalagi, jika berkaca pada kesuksesan PT Polychem Indonesia (ADMG) yang setelah kuasi, harga sahamnya langsung melesat ke level Rp1.080.

BNBR pun bisa mencapai Rp160 hingga akhir tahun. Pada saat yang sama, dengan Vallar Plc di dalamnya, secara keuangan BNRB bakal audited dan berkelas internasional. Karena itu, secara fundamental saham ini jadi sangat menarik.

Lalu, berkaca pada laporan keuangan PT Darma Henwa (DEWA) yang minus, begitu laporan keuangannya positif (plus), harga saham DEWA langsung meroket dari level Rp70-80 ke level Rp128 per saham.

Begitu juga dengan PT Energi Mega Persada (ENRG). Pada saat pembukuannya masih minus saham ini bermain di level Rp120-130. Begitu laporan keuangannya plus, langsung melesat ke level Rp265. Karena itu, begitu BNBR merilis kinerja keuangannya plus, saham ini akan langsung bertenger di level Rp80-an. Sebab, investor haus menanti plus-nya laporan keuangan BNBR setelah bertahun-tahun dirundung minus.

Apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan strong buy untuk BNBR karena prospek kinclongnya kinerja dalam lima tahun mendatang

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1766173/seven-brothers-layak-jadi-fokus-pasar

Sumber : INILAH.COM
Bakrie akui raih pinjaman Sinarmas Rp800 miliar

Oleh Irvin Avriano A.

Rabu, 17 Agustus 2011 | 20:22 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: PT Bakrie & Brothers Tbk, induk usaha Grup Bakrie, mengakui adanya fasilitas pinjaman dari PT Sinarmas Sekuritas yang diperoleh pada Oktober 2009 dengan fasilitas maksimal Rp800 miliar.

Sekretaris Perusahaan & Direktur Bakrie & Brothers Sri Darmayanti dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia semalam mengatakan dari dari pinjaman itu dimanfaatkan untuk pembiayaan pembelian kembali (buyback) saham PT Bumi Resources Tbk dari Grup Ancora.

“Persroan telah beberapa kali melakukan pembayaran bunga dan pokok pinjaman sehingga per 31 Maret jumlahnya menjadi Rp528,3 miliar,” ujarnya dalam keterbukaan informasi tersebut.

Dia menjelaskan bahwa perusahaan juga tidak mendapatkan informasi dari Sinarmas Sekuritas terkait dengan dugaan pinjaman tersebut telah dialihkan kepada pihak ketiga. Hal itu disampaikan Sri Darmayanti menjawab pertanyaan manajemen otoritas bursa.

Beberapa waktu lalu, laporan keuangan Sinarmas Sekuritas dan Bakrie & Brothers diberitakan berbeda, terkait dengan pinjaman senilai Rp528,3 miliar. Laporan keuangan Bakrie & Brothers menunjukkan transaksi pinjaman itu, tetapi laporan keuangan Sinarmas Sekuritas tidak menyebutkannya.

Harga saham Bakrie & Brothers yang berkode BNBR berada di level Rp66 kemarin. Harga itu membentuk kapitalisasi pasarnya sebesar Rp6,18 triliun. (Bsi)

Negosiasi kredit berpotensi tekan peringkat Bakrie Plantations

Oleh M. Munir Haikal

Rabu, 17 Agustus 2011 | 17:01 WIB
bisnis indonesia

JAKARTA: Standard & Poor’s Ratings Services menetapkan peringkat jangka panjang PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk pada level B- dengan CreditWatch yang berimplikasi negatif.
S&P juga menetapkan peringkat B- terhadap surat utang yang diterbitkan oleh anak perusahaan Bakrie Plantations, BSP Finance B.V. dengan CreditWatch negatif yang berimplikasi negatif.
Analis S&P Vishal Kulkarni mengungkapkan penetapan CreditWatch disebabkan negosiasi pencarian utang perseroan dengan perbankan mengalami waktu yang lebih panjang dari ekspektasi semula.
Padahal, utang tersebut diperlukan untuk membiayai kembali pembayaran surat utang senilai US$185 juta yang jatuh tempo pada 1 November 2011.
“Kegagalan finalisasi pencarian kredit tersebut akan membahayakan kemampuan Bakrie Plantations untuk memenuhi kewajibannya sebesar US$185 juta,” paparnya melalui riset yang dikirimkan kepada Bisnis, sore ini.
Dia menuturkan S&P membuka opsi menurunkan peringkat Bakrie Plantations sebanyak 1 notch apabila kegagalan pencarian krediit tersebut masih berlanjut. Bahkan, lanjutnya, S&P akan menurunkan peringkat Bakrie Plantations menjadi D apabila perseroan gagal memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo. (mmh)

Operator telekom diramal menyusut

Oleh Arief Novianto

Minggu, 14 Agustus 2011 | 14:35 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: Jumlah operator telekomunikasi di Indonesia diperkirakan bakal mengalami penyusutan sekitar 2 tahun ke depan, bersamaan dengan tren konvergensi layanan yang mendorong terjadinya konsolidasi antaroperator.

Presiden Direktur Bakrie Telekom Anindya Novyan Bakrie mengatakan layanan telekomunikasi di Indonesia terus mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan terjadinya penggabungan berbagai platform.

Menurut dia, penyediaan layanan yang mengarah pada konvergensi tersebut membutuhkan investasi sangat besar, di mana hal itu dinilai menjadi kendala utama di tengah persaingan sebanyak 11 operator yang makin ketat dalam penyediaan layanan berkualitas, dengan harga murah.

Dia menambahkan kondisi tersebut ditengarai bakal mendorong operator untuk memfokuskan aktivitas bisnisnya pada layanan-layanan tertentu, guna memenuhi kebutuhan ekspansi layanan dan mempertahankan pelanggan.

Dalam hal ini, operator-operator dengan fokus bisnis yang sama dimungkinkan untuk dapat melakukan konsolidasi, sebagai langkah memperkuat modal, sekaligus memperluas pasar dan jaringan pelayanan.

“Perkembangan telekomunikasi sangat pesat, dengan jumlah operator sangat banyak dan persaingan ketat. Saya pikir sekitar 2 tahun ke depan akan terjadi konsolidasi antaroperator untuk meningkatkan efisiensi dengan jumlah paling banyak menjadi sekitar 5 operator saja,” ujarnya kepada Bisnis pekan lalu.

Hingga kini, jumlah pelanggan layanan selular di Indonesia sudah mencapai sekitar 200 juta orang, sedangkan pelanggan layanan data sekitar 50 juta orang, di mana sebagian besar pelanggan layanan data mengakses Internet lewat handphone.

Dalam hal ini, tantangan terhadap kebutuhan modernisasi jaringan ke depan bakal menjadi kewajiban yang harus dipenuhi untuk tetap dapat mendistribusikan layanan kepada pelanggan, sekaligus menjadi faktor pendorong terjadinya konsolidasi antaroperator.

Vice President Ericsson Indonesia Rustam Effendie menuturkan perkembangan konvergensi layanan dari penggabungan antarplatform telah mendorong peningkatan kebutuhan terhadap penyediaan bandwitdh yang lebih besar.

Namun, ketersediaan spektrum frekuensi yang terbatas cenderung menjadi kendala tersendiri bagi operator untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga dibutuhkan solusi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Di sini, modernisasi jaringan dinilai menjadi solusi yang dapat dilakukan bersamaan dengan perkembangan teknologi yang mengarah pada generasi keempat (4G) seperti Long Term Evolution (LTE), di mana memiliki kapasitas lebih besar.

Modernisasi jaringan tersebut antara lain dapat dilakukan dengan mengembangkan BTS untuk mengakomodir berbagai teknologi (multiteknologi), sekaligus merupakan langkah efisiensi biaya dan energi, serta memudahkan perawatan.

Selain itu, dia menambahkan pengembangan BTS yang dilakukan tersebut juga memungkinkan untuk dapat terjadinya sharing di antara operator satu dengan operator lain, baik dari sisi sumberdaya maupun infrastruktur.

“Single BTS untuk multiteknologi akan lebih murah dari sisi investasi, energi, dan perawatan. Secara teknologi, satu BTS untuk sharing resource [sumberdaya] dua operator dapat dilakukan dengan kombinasi sistem antena agar lebih optimal,” katanya.

GM Network Plan & Control Telkomsel Aris Setyo Utomo menyatakan tren pemanfaatan layanan data dalam masyarakat terus meningkat, di mana saat ini ditengarai telah menjadi bagian bisnis terbesar operator telekomunikasi.

Kondisi tersebut dinilai telah menuntut dilakukannya modernisasi jaringan untuk mengakomodir kebutuhan kapasitas yang semakin besar, akibat peningkatan trafik dari lonjakan jumlah pelanggan, serta peningkatan kebutuhan bandwitdh dari konvergensi.

Dalam hal ini, Telkomsel telah melakukan modernisasi jaringan menjadi all IP based (semua berbasis IP), sedangkan dari sisi radio access telah menggunakan pita lebar (broadband), dengan BTS yang juga akan dikembangkan menjadi multiteknologi yang dapat mengakomodir berbagai teknologi, seperti 2G, 3G, hingga LTE.

“Kami sudah memiliki rencana modernisasi jaringan yang tertuang dalam Roadmap 2014. Kebijakan tower sharing memungkinkan dilakukannya kerja sama dengan operator lain, termasuk sharing resource dan infrastruktur. Telkomsel juga masih mengkaji kemungkinan sharing dengan operator lain,” terangnya. (ea)

BNBR : Utang ke Sinarmas Sekuritas Rp528,3 M
Widi Agustian – Okezone
Rabu, 17 Agustus 2011 14:13 wib

JAKARTA – PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) menuturkan pihaknya telah beberapa kali melakukan pembayaran bunga dan pokok pinjaman atas utangnya kepada PT Sinarmas Sekuritas. Dengan demikian, jumlah utangnya menjadi Rp528,3 miliar per 31 Maret 2011.

Dalam keterangan tertulisnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur & Corporate Secretary BNBR RA Sri Dharmayanti menjelaskan, jika pinjaman tersebut diterima secara bertahap mulai Oktober 2009 dengan nilai total Rp800 miliar.

“Pinjaman tersebut digunakan perseroan untuk pembiayaan pembelian kembal (buyback) saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Grup Ancora,” jelas dia di Jakarta, Rabu (17/8/2011).

Tapi, transaksi utang piutang BNBR dengan Sinarmas Sekuritas terlihat ganjil. Mengacu laporan keuangan BNBR per 31 Maret 2011, induk usaha Grup Bakrie itu memiliki pinjaman kepada Sinarmas Sekuritas senilai Rp528,31 miliar.

BNBR dan Sinarmas Sekuritas meneken perjanjian pembiayaan transaksi efek pada 1 September 2009. Sinarmas menyiapkan fasilitas pinjaman Rp800 miliar. Per akhir Maret 2011, BNBR memangkas utangnya turun menjadi Rp528,31 miliar. Utang ini dijamin kepemilikan BNBR di BUMI, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNDP), dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Data pinjaman yang tersaji di laporan keuangan BNBR ternyata berbeda dengan laporan keuangan Sinarmas Sekuritas per 31 Maret 2011 yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia. Dalam laporan keuangan Sinarmas, tak disebutkan sama sekali pinjaman Rp528,31 miliar itu.

Sinarmas hanya mencantumkan empat pos piutang senilai Rp341,17 miliar. Rinciannya: piutang Lembaga Kliring Indonesia Rp231,81 miliar, piutang perusahaan efek Rp 2,26 miliar, piutang nasabah Rp98,45 miliar dan piutang lain-lain Rp8,65 miliar.
(wdi)

Saham ENRG Diperebutkan Vallares dan Shell

Oleh:
Pasar Modal – Selasa, 9 Agustus 2011 | 08:45 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Vallares dan Shell disebut-sebut sejumlah pelaku pasar sedang bersaing untuk membeli 10% saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melalui kemitraan strategis.

Khabar ini membuat saham perseroan sangat aktif diperdagangkan menjelang penutupan perdagangan kemarin. Ketiganya disebut-sebut akan segera mengeksplorasi blok gas Masela.

Pada perdagangan kemarin, saham ENRG ditutup melelmah Rp5 ke level Rp205.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: