Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Oktober 27, 2011

OMDO … (3) : 170112

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 9:55 pm

Nasabah Diamond Investa PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) mengharapkan campur tangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk realisasi pembayaran tunggakan dana nasabah. Sejak tahun 2011 hingga awal Januari 2012, Bakrie Life belum juga melunasi tunggakan dana pokok nasabah.

“Kami Nasabah Diamond Investa Bakrie Life sangat berterima kasih kepada DPR RI (Komisi XI) yang akan memanggil Manajemen Bakrie Life,” kata Freddy perwakilan nasabah Bakrie Life asal Bandung kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (16/1/2012).

“Nasabah berharap dengan adanya campur tangan DPR RI sebagai perwakilan rakyat bisa mendengar dan menindaklanjuti persoalan nasabah mengenai ketidakadilan penindasan oleh yang kuat kepada yang lemah bisa diselesaikan,” kata Freddy melanjutkan.

Menurutnya, nasabah sangat berharap adanya pembayaran pokok dan bunga yang sudah lama tidak dibayar bahkan sampai Surat Kesepakatan Bersama hampir selesai di Januari 2012 tak kunjung dibayar juga.

“Sekali lagi nasabah mengucapkan banyak terima kasih kepada DPR RI,” jelas Freddy.

Sebelumnya, DPR Komisi XI berencana memanggil Bakrie Life pada masa awal sidang 2012.

“Ada surat pengaduan ke Komisi XI dari nasabah Bakrie Life. Isinya yakni belum ada pembayaran dana pokok nasabah selama 2011,” ungkap Maruarar Sirait, Anggota Komisi XI yang merupakan anggota DPR dari FPDIP ini.

“Kita agendakan nanti di masa persidangan kali ini. Kita harus tanyakan mengapa belum ada pelunasan pembayaran,” jelasnya.

Maruarar berharap panggilan oleh Komisi XI ini bisa membantu penyelesaian kasus gagal bayar. Bapepam-LK juga diharapkan mendampingi secara ketat janji Bakrie Life.

Sebelumnya, Bakrie Life sendiri belum bisa memberikan kepastian kapan cicilan dana pokok nasabah Diamond Investa akan dibayarkan. Direktur Utama Bakrie Timoer Sutanto mengaku masih menunggu kucuran dana dari Bakrie Group.

“Tentang angsuran nasabah Diamond Investa, kami masih menunggu kabar dari Group,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Bakrie Life memang hanya mengumbar janji-janji palsunya. Dana pokok nasabah Diamond Investa yang direncanakan dicicil 25% per tahun tidak juga dibayar padahal sudah memasuki 2012. Selama 2011 berarti Bakrie Life tidak mencicil sama sekali.

Bakrie Life baru membayar 2,5 kali dana pokok yaitu Maret 2010, Juni 2010, dan September 2010 (sisa 45% dari total 6,25%). Total sisa cicilan pokok dan bunga Diamond Investa Bakrie Life yang belum dibayar yaitu per September 2010 sampai dengan Januari 2012.

Perwakilan nasabah Diamond Investa mengaku terpukul atas sikap kesewenang-wenangannya Bakrie Life.

Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai SKB, manajemen Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Sebanyak 25% di 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga di 2011, dan sisanya 50% di Januari 2012 namun nasabah kembali gigit jari karena SKB tidak diindahkan oleh manajemen.

Skema pembayaran Angsuran Pokok dana tersebut yakni Maret 2010 (6,25%), Juni 2010 (6,25%), September 2010 (6,25%), Desember 2010 (6,25%), Maret 2011 (6,25%), Juni 2011 (6,25%), September 2011 (6,25%), Desember 2011 (6.25%), dan terakhir pada Januari 2012 (50%). Namun semua kesepakatan itu meleset dari jadwal, dengan alasan Bakrie Life belum dapat kucuran dana dari induk usahanya Bakrie Grup.

Sumber: detikcom
Di balik penyelamatan Bakrie di Bumi Plc

Oleh Bastanul Siregar

Selasa, 01 November 2011 | 21:07 WIB

bisnis indonesia

TERASA ada yang berbeda pada senyum hangat Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie pada hari kedua rapat pimpinan partai di Hotel Mercure, Jakarta, Kamis malam 27 Oktober lalu.

Hari itu seluruh pengurus daerah partai sepakat mendukungnya mencalonkan diri dalam Pilpres 2014. Tak ada konvensi seperti pada masa kepemimpinan Akbar Tanjung.

Sehari sebelumnya, lembaga think tank politik Sugeng Sarjadi Syndicate merilis hasil survei yang menempatkan Partai Golkar sebagai partai terpopuler dengan elektabilitas 31,9%.

Meski, masih dari survei tersebut, elektabilitas Aburizal hanya 6,8%, terpaut jauh dari peringkat Prabowo Subianto yang berada di puncak 28%, juga mantan menkeu Sri Mulyani yang 7,4%.

Namun, entah kenapa, tetap saja senyum hangat Ical, panggilan akrabnya, terbit menyambut permintaan wawancara para wartawan, terkait dengan datangnya serentetan kabar itu.

Sekadar informasi, beberapa jam sebelum wawancara itu, para pemimpin Eropa sepakat untuk memangkas 50% obligasi Yunani dan menambah dana talangan krisis menjadi US$1,4 triliun.

Kamis sore waktu Indonesia, saat pasar Eropa dibuka, seluruh indeks acuan langsung melesat, yang serta-merta diikuti bursa AS saat dibuka beberapa jam berikutnya.

Saat penutupan, indeks acuan Eropa seperti FTSE 100 dan Stoxx Europe 600 melompat 2,9% dan 3,6%. Di Wall Street, S&P 500 dan Dow Jones mendaki 3,4% dan 2,9%.

Lompatan S&P 500 yang melampaui rekor reli bulanan sejak 1974 itu kian istimewa karena statistik pertumbuhan ekonomi AS yang dirilis malam itu menunjukkan akselerasi.

Serentetan kabar tersebut praktis memberikan harapan kepada PT Bakrie & Brothers Tbk, kapal induk bisnis keluarga Bakrie, untuk tetap selamat dari ancaman gagal bayar.

Saham Bumi Plc
TERUTAMA sejak awal Oktober, harga saham emiten Grup Bakrie rontok dihantam sentimen negatif krisis Eropa yang kembali meletup 6 pekan setelah S&P menurunkan peringkat kredit AS.

Apalagi, kinerja fundamentalnya juga tidak bisa dibilang meyakinkan. Utangnya masih menggunung, sebagian besar berjangka pendek dan mulai mendekati jatuh tempo.

Paruh Oktober, bertiup kabar Bakrie & Brothers sedang menghadapi risiko kehilangan sahamnya di Bumi Plc, emiten Bursa Efek London yang didirikan bankir-investasi Nathaniel Rothschild.

Bakrie & Brothers mengendalikan 47,8% saham Bumi Plc. Sementara itu, Bumi Plc menguasai 29% saham PT Bumi Resources Tbk dan 85% saham PT Berau Coal Energy Tbk.

Risiko kehilangan saham Bumi Plc muncul karena Bakrie & Brothers tak lagi memenuhi syarat perjanjian utangnya senilai US$1,34 miliar. Pinjaman itu memakai saham Bumi Plc sebagai jaminan.

Perlu segera ditambahkan, dari pinjaman yang diberikan Credit Suisse itu, Bakrie & Brothers hanya menerima US$601,75 juta. Sisanya diberikan ke Long Haul Holdings Ltd.

Penjaminan saham Bumi Plc dipatok pada harga tertentu. Konsekuensinya, jika harga riilnya kelak di bawah batas harga itu, Bakrie & Brothers harus melunasi atau memberi jaminan tambahan.

Kian besar selisih harga saham riil dengan harga batas saham Bumi Plc yang disepakati di perjanjian, kian besar pula jaminan tambahan atau nilai pelunasan yang harus disediakan.

Padahal, sejak krisis utang Eropa meletup kembali 2 Oktober, bursa Eropa nyaris bertahan terus di zona merah, hingga saham Bumi Plc pun terus terkoreksi.

Akhirnya, sepekan menjelang pengujung Oktober, harga saham Bumi Plc berada pada BP7,3 per unit, atau di bawah batas BP8,5 per unit yang ditetapkan dalam perjanjian transaksi.

Fakta itulah yang kemudian mendorong Bumi Resources membatalkan penjualan 75% saham anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk, ke Bumi Plc dengan obligasi tukar US$2 miliar.

Tekanan itu pula, tanpa mengabaikan faktor fundamentalnya yang memang tidak meyakinkan, yang bekerja mengoreksi harga saham emiten Grup Bakrie di Indonesia.

Itulah juga sebabnya kenapa saat rencana penambahan dana talangan krisis terkuak, saham Bumi Plc hanya naik 1,4%, sedang emiten sejenis seperti Eramet dan Glencor membubung di atas 10%.

Situasi itu pula yang menjelaskan kenapa para paruh Oktober itu Glencore International Plc datang ke Bakrie menawarkan dana segar US$900 juta untuk membeli sebagian sahamnya di Bumi Plc.

Jangan lupa, di luar itu, Nathaniel Rothschild yang sudah mengaku punya napsu besar jadi mayoritas di Bumi Resources dan Berau, juga mendapat angin untuk menguasai saham mayoritas Bumi Plc.

Bayangkan kalau beberapa jam sebelum malam kedua rapim Golkar itu para pemimpin Eropa gagal mencapai kesepakatan. “Bakal galau dia [Ical],” kata seorang kawan setengah berseloroh.

Karib dekat
DI JAKARTA, risiko kegalauan itu niscaya ada dalam kendali Nirwan Darmawan Bakrie, adik kandung Ical yang selama ini berperan sebagai operator bisnis keluarga Bakrie.

Pria berjuluk ‘berhati singa, memiliki 7 jantung, dan 1.000 akal’ ini sudah terbukti sukses menangani restrukturisasi utang Bakrie senilai US$1,2 miliar saat krisis global menghantam 3 tahun silam.

Perlu diingat, anatomi utang Bakrie saat itu juga tak jauh berbeda dengan utangnya sekarang, yakni masih dengan modus repo (repurchase agreement) alias gadai saham.

Konfirmasi munculnya bankir-investasi bernama Samin Tan yang menyingkirkan raksasa komoditas Glencore dalam kemelut penyelesaian utang Bakrie kemarin niscaya tidak datang dari ruang hampa.

Samin Tan adalah mantan auditor Deloitte Touche Tohmatsu yang mengendalikan PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk bersama Surjadinata Sumantri melalui PT Republik Energi & Metal. Keduanya juga pendiri Renaissance Capital.

Pasar tahu, Samin Tan, yang melalui Borneo Energi menyuntik dana US$1 miliar ke Bakrie untuk 23,8% saham Bumi Plc adalah salah satu karib terdekat Nirwan.

Pasar juga tahu, kalau harga beli 23,8% saham Bumi Plc senilai US$1 miliar itu setara dengan BP10,91 per unit, premium 48,44% dari harga riilnya kemarin, BP7,35 per unit, alias kemahalan.

Dalam konferensi persnya bersama Presdir Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar kemarin, Samin Tan mengaku dana yang disuntik ke Bakrie adalah pinjaman Standard Chartered bertenor 5 tahun.

Jaminannya—seraya menekankan bahwa transaksi dengan Bakrie itu adalah kemitraan jangka panjang—saham anak usaha Borneo Energi, PT Asmin Koalindo Tuhup & PT Borneo Mining Service.

Gadai saham dan harga kemahalan itulah penjelasan kenapa saat kemarin Borneo Energi merilis kinerja yang begitu meyakinkan, harga sahamnya justru terpelanting 15,53% ke Rp870 per saham.

Asal tahu saja, harga batu bara kokas yang tembus US$330 per ton pada Juni telah mendongkrak laba bersih Borneo Energi 406,94% ke Rp1,32 triliun dengan pendapatan +115,13% ke Rp4,44 triliun.

Rumor lama
MASIH dari konferensi pers itu, Samin Tan juga mengungkapkan masuknya Borneo Energi ke Bakrie sebenarnya sudah dibicarakan September 2010, 2 bulan sebelum Borneo Energi listing di bursa.

Namun, rencana tersebut tak terealisasi. Dan beberapa bulan lalu, sambungnya, Borneo Energi juga ikut menawar saham Bakrie di Bumi Minerals seharga US$1,8 miliar, yang belakangan juga batal.

“Akhirnya 3 bulan ini kami intens, hingga kami melakukan penandatanganan kerja sama ini,” katanya seraya mengatakan setelmennya diteken bulan depan pascaRUPSLB Borneo Energi 15 Desember.

Sebagai salah satu karib terdekat Nirwan, kehadiran Samin Tan dalam pusaran bisnis keluarga Bakrie melalui transaksi bermotif ‘diversifikasi & kemitraan jangka panjang’ itu jelas bukan cerita baru.

Situasi ini pararel dengan rumor lama soal koneksi Bakrie dengan Recapital berikut Sandiaga S. Uno dan Rosan P. Roeslani, yang kini ‘terbukti’ via kepemilikan Bakrie di Berau Energy melalui Bumi Plc.

Pasar niscaya belum lupa, ketika 5 tahun silam Borneo Energi sekonyong-konyong mencaplok Bumi Resources dengan nilai fantantis US$3,2 miliar, sebelum kemudian batal.

Rumor yang berkembang saat itu, Borneo Energi hanyalah kendaraan dari satu konsorsium yang dipimpin Renaissance Capital, dengan anggota Marubeni Corporation, Thiess Contractor, dan DBZ.

Dan Bakrie menaruh US$750 juta dalam konsorsium itu, hasil patungan sejumlah relasi utama Bumi seperti Marubeni dan Thiess, dengan kompensasi a.l. penjualan batu bara dan proyek kontraktornya.

Adapun sisanya, US$2,5 miliar diambilkan dari pinjaman sejumlah bank yang diatur Credit Suisse First Boston yang bekerja sama dengan JP Morgan sebagai penasehat Bumi Resources.

Tentu saja rumor pedas itu segera dibantah keras. Sampai pada konferensi pers kemarin, dan entah kenapa, terasa ada yang berbeda pada senyum Samin Tan. (bastanul.siregar@bisnis.co.id)

Kamis, 27/10/2011 19:23 WIB
Bakrie Kucurkan Dana Rp 9 T untuk Beli Tanah Korban Lapindo
Febrina Ayu Scottiati – detikNews

Jakarta – Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menegaskan tanggung jawabnya dalam persoalan lumpur Lapindo yang tak kunjung selesai. Total uang yang sudah dikeluarkan keluarga Bakrie untuk Lapindo mencapai Rp 9 triliun.

Hal itu disampaikan Aburizal atau biasa disapa Ical di depan ratusan kader Partai Golkar dalam acara Rapimnas di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Kamis (27/10/2011).

Ical yang membaca secarik kertas mengatakan, pihak Bakrie berani membeli tanah warga korban lumpur itu hingga 20 kali lipat. Proses ini diklaim bukanlah proses ganti rugi melainkan pembelian tanah.

Proses pembelian itu akan dilakukan hingga pertengahan tahun 2012. Total uang yang bakal dikeluarkan Bakrie mencapai Rp 9 triliun.

“Keluarga Bakrie mengeluarkan dana sejumlah Rp 9 triliun. Itu angka yang besar,” tegas Ical yang didampingi Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Fadel Muhammad.

Seluruh kader yang sebelumnya diam mendengar penjelasan Ical pun langsung riuh. Mereka bertepuk tangan mendengar keterangan bosnya itu.

Ical menegaskan, hanya tinggal beberapa keluarga saja yang belum setuju dengan proses pembelian itu. Sedangkan yang sudah setuju, lanjut Ical, sangat menikmati di tempat barunya.

“Hanya tinggal hampir 80 keluarga yang belum menyetujui, sedangkan yang lain mengaku senang hidup di tempatnya yang sekarang,” tandasnya.

(mok/vit)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: