Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Desember 8, 2011

kua$1@bnbr, the bakrie$ … 110112

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 8:11 am

Lepas Saham UNSP, Speculative Buy BNBR

Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Selasa, 10 Januari 2012 | 09:41 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melepas 170.480.537 saham atau 1,24% saham anak usahanya Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) pada harga Rp330 (lebih tinggi dari penutupan kemarin Rp295) atau dengan nilai transaksi Rp56,2 miliar.

Dengan pelepasan saham tersebut maka saat ini BNBR memiliki 3.718.030.434 atau 27,4% saham UNSP.

BNBR melakukan pelepasan saham di sejumlah anak usaha dimana dana ini direncanakan untuk melakukan refinancing utang. “Untuk itu kami merekomendasikan speculative buy untuk saham BNBR,” ujar Samuel Sekuritas dalam catatan risetnya, Selasa (10/12).

Jual 15% Saham BTEL, Speculative Buy BNBR
Headline
Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Rabu, 11 Januari 2012 | 09:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menjual 4,3 miliar (15%) saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) senilai Rp1,46 triliun pada harga Rp340/saham.

BNBR melepas saham BTEL pada 31 Desember 2011. Maka kini kepemilikan BNBR di BTEL menjadi 29,95% atau 8,52 miliar saham. Pelepasan saham sejumlah anak usaha merupakan rencana untuk membayar sebagian medium structured notes (MSN) sebesar Rp2,1 triliun.

Di lain hal, perseroan akan menerbitkan obligasi sebesar Rp1 triliun pada 1Q12 untuk membayar repo senilai Rp320 miliar dan utang jangka pendek yang akan jatuh tempo sebesar US$60 juta. Perseroan juga akan menjual saham 3 anak usaha melalui IPO dan private placement pada tahun ini dengan target perolehan dana sekitar Rp2,6 – 3,1 triliun. “Kami pun merekomendasikan Speculative Buy untuk saham BNBR,” ujar Samuel Sekuritas dalam catatan risetnya hari ini.

Senin, 02 Januari 2012 | 08:30 oleh Amailia Putri, Raka Mahesa, Yuwono T
AKSI KORPORASI BNBR
Gara-gara merugi, Bapepam-LK surati BNBR
kontan

JAKARTA. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kembali mendapat surat dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Otoritas pasar modal ini meminta BNBR menjelaskan perihal kerugian yang dicatatkan perseroan ini di kuartal tiga 2011.

Hal ini sebagai tindak lanjut kuasi reorganisasi BNBR. Maklumlah, setelah kuasi reorganisasi rampung, BNBR tidak boleh lagi mencatatkan rugi bersih.

Gonthor Ryantori Aziz, Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK, menyatakan telah mengirimkan surat kepada manajemen BNBR, sehubungan dengan kerugian di laporan keuangan periode sembilan bulan pertama 2011. “Awal Januari 2012 mereka harus menjawab surat itu,” ujar Gonthor, akhir pekan lalu.

Dalam surat tadi, Bapepam-LK meminta BNBR menjelaskan muasal kerugian yang dialami. Wasit pasar modal ini juga mempertanyakan usaha-usaha yang dilakukan perseroan ini untuk mendongkrak kinerja keuangan di kuartal IV-2011.

Hal ini untuk menyesuaikan rencana kerja perseroan yang disampaikan kepada Bapepam-LK saat proses kuasi reorganisasi. Dalam rencana kerja tersebut, manajemen BNBR telah memproyeksikan bisa mencetak laba bersih pada buku Desember 2011. Gonthor menyatakan akan mencocokkan strategi dan langkah serta realisasi yang telah dilakukan manajemen, sesuai komitmen perusahaan dalam mengukur prospek usaha ketika kuasi.

Yakin mencetak laba

Gonthor menuturkan, salah satu komitmen yang disampaikan manajemen adalah penjualan 23,8% saham di Bumi Plc pada PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN). Dari situ, BNBR memperoleh dana US$ 1 miliar, yang akan digunakan untuk membayar utang.

Jika per Desember nanti BNBR masih mencatatkan rugi bersih, Bapepam-LK akan meminta manajemen BNBR menjelaskan kerugian tersebut pada pemegang saham. “Karena investor terkena dampaknya, mereka tidak akan mendapatkan dividen,” sebut Gonthor.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, manajemen BNBR menargetkan bisa membagi dividen di 2012 ini. Alokasinya sekitar 20%-25% dari laba bersih BNBR.

Sekadar mengingatkan, di laporan keuangan September, BNBR mencatatkan rugi bersih Rp 650,66 miliar. Nilai ini lebih besar tiga kali lipat lebih besar ketimbang rugi bersih di periode yang sama tahun 2010.

Meski begitu, manajemen BNBR sendiri tetap optimistis dengan prospek kinerjanya. Eddy Soeparno, Direktur BNBR, yakin pihaknya bisa mencetak laba bersih selama tahun 2011.

Eddy menjelaskan, BNBR masih mencatatkan rugi bersih di September 2011 karena ada program yang pelaksanaannya tertunda. “Monetisasi aset yang ditargetkan selesai di kuartal tiga ternyata mundur,” ujarnya.

Monetisasi aset tersebut dilakukan dalam bentuk penjualan saham Bumi Plc. Tadinya, BNBR berniat melepas saham anak usahanya tersebut di kuartal tiga 2011. Namun transaksi tersebut baru bisa terlaksana di kuartal empat 2011 lalu.

Kuartal III, Laba Usaha BNBR Anjlok Rp489 M

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
Pasar Modal – Senin, 26 Desember 2011 | 05:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan penurunan laba usaha dari Rp744,4 miliar pada triwulan III-2010, menjadi Rp255,7 miliar pada triwulan III-2011.

Demikian seperti dikutip dari keterangan tertulis perseroan di Jakarta, akhir pekan ini. Hal tersebut sehubungan dengan beban usaha yang naik menjadi Rp2,45 triliun dari Rp2,407 pada triwulan III-2010. Beban pokok pendapatan mencapai Rp7,2 triliun dari Rp6,1 triliun.

Perseroan menderita rugi bersih Rp650,6 miliar dari Rp208,5 miliar pada periode yang sama tahun 2010 atau kerugiannya naik 68%. Pada periode tersebut, BNBR meraih pendapatan bersih mencapai Rp9,9 triliun dari Rp9,2 triliun.

Laba kotor kuartal III 2011 mencapai Rp2,7 triliun dari Rp3,1 triliun. Untuk beban lain-lain mencapai Rp1,02 triliun dari Rp889,5 miiar di kuartal III 2010 maka laba sebelum pajak mencapai Rp769,6 miliar dari Rp145,03 miliar di kuartal III 2010. Sementara untuk rugi bersih kuartal III 2011 sebesar Rp650,6 dari Rp208,5 miliar.

Bakrie & Brothers unit divestment to complete in 2012

Oleh M. Tahir Saleh

Jum’at, 09 Desember 2011 | 11:08 WIB

bisnis indonesia
JAKARTA: Holding of Bakrie Group, PT Bakrie & Brothers Tbk is targeting divestment of its three units, PT Bakrie Pipe Industries, PT South East Asia Pipe Industries, and PT Bakrie Tosanjaya, can be completed in the first half of 2012.

The company currently in the final stages of negotiations with strategic partners in order to remove the majority ownership in subsidiaries engaged in steel pipe and automotive components, said Director of the BNBR-coded company Bobby Gafur S. Umar.

For Bakrie Pipe Industries and South East Asia Pipe Industries (SEAPI), the company will dispose respectively 40%-60% shares from current 99.9% ownership to US and South Korea-based investors.

For Tosanjaya, it is in negotiation process with Asia-based investors. “We cannot detail the price.”

Based on BNBR financial report per June, SEAPI assets were at IDR584.32 billion while Bakrie Pipe recorded at IDR1.80 trillion.

Tosanjaya assets raging at IDR1.2 trillion-IDR1.5 trillion.

BNBR’s Director of finance Eddy Soeparno stated the reason behind such act is as steel pipe business requires an integrated business from upstream to downstream

Initially, Bakrie Tosanjaya was planning to list but postponed as it need to increase income and assets first.

With the join partner, Bakrie Tosanjaya will add new business line not only automotive components but also heavy equipment component.

The complete of quasi

In other development, BNBR quasi reorganization finally completed complied with the regulations.

With the quasi, BNBR will limit IDR34.9 trillion deficit from accumulated net losses, the difference in value from restructuring transactions of holding entities and loss of short-term investments that have not realized.

The zero deficits will be contained in fourth quarter financial report.

Up to June 30, BNBR suffered IDR27.7 trillion deficit balance from the accumulation of net loss in 2008 at IDR16.5 trillion, IDR1.7 trillion in 2009 and IDR7.6 trillion last year. (T05/msw)

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akhirnya menyelesaikan proses kuasi reorganisasi. Melalui aksi ini, BNBR akan menghapus defisit senilai Rp 34,9 triliun yang terutama berasal dari akumulasi kerugian.

Defisit itu diantaranya berasal dari nilai akumulasi kerugian bersih, selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali dan rugi investasi jangka pendek yang belum terealisasi.

Sampai dengan 30 Juni 2011, BNBR mencatat saldo defisit sebesar Rp 27,7 triliun. Defisit terutama merupakan akumulasi dari kerugian bersih Perseroan sebesar Rp 16,5 triliun pada 2008, Rp 1,7 triliun pada 2009 dan Rp 7,6 triliun pada 2010.

BNBR melalui siaran persnya menjelaskan, kuasi reorganisasi sudah tuntas setelah melalui tata cara dan prosedur yang berlaku. Pada 6 Oktober 2011, pemegang saham telah memberikan persetujuan melalui RUPS. Dan hingga 6 Desember, tidak ada kreditur Perseroan yang melakukan sanggahan atau menyatakan keberatan terhadap rencana Perseroan terkait Kuasi tersebut.

Pada tanggal 7 Desember 2011, BNBR juga telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) terkait aksi korporasi ini.

“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari para pemangku kepentingan terhadap suksesnya pelaksanaan kuasi reorganisasi BNBR,” jelas Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/CEO BNBR dalam siaran persnya, Kamis (8/12).

BNBR meyakini suksesnya pelaksanaan kuasi reorganisasi membuat neraca keuangan BNBR semakin sehat. Dengan begitu, Perseroan memiliki keleluasaan untuk menjalankan business plan yang telah disusun. Secara finansial, BNBR juga akan lebih mudah untuk mendapatkan dukungan pembiayaan dari eksternal. Sebab, terhapusnya saldo defisit, lanjut Bobby, tentunya akan membuat risiko bisnis BNBR ikut menurun.

“Ini memungkinan Perseroan untuk mendapatkan pembiayaan eksternal dengan biaya lebih rendah,” ujar Bobby.

Bobby mengaku strategi bisnis BNBR saat ini sudah sangat tepat dalam menghadapi turbulensi yang terjadi pada perekonomian global. Apalagi, Perseroan memiliki pengalaman panjang menghadapi dua krisis besar yang pernah terjadi, yaitu krisis moneter di tahun 1997 dan krisis finansial global tahun 2008. Itu sebabnya, Bobby berkeyakinan, strategi yang kini telah dipersiapkan oleh BNBR akan efektif untuk meningkatkan kinerja Perseroan di masa mendatang.

Ia Bobby juga menegaskan, BNBR akan tetap fokus di sektor industri berbasis sumber daya alam dan infrastruktur. Dua sektor tersebut dianggap memiliki prospek dan nilai tambah yang sangat positif. Kendati perekonomian global, khususnya di Eropa sedang mengalami krisis, Bobby meyakini perekonomian Indonesia di tahun 2012 masih akan tumbuh antara 6,6% hingga 7%.

“Stabilnya faktor-faktor ekonomi dan keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur akan menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi nasional, dan BNBR akan berperan aktif dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia,” imbuhnya.

Sumber: detikcom

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: