Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Januari 20, 2012

bakrie’s GAME (5) … 300612

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 5:16 pm

Jum”at, 29 Juni 2012 | 23:09 WIB
Golkar Kukuhkan Ical Jadi Capres 2014

TEMPO.CO, Jakarta – Partai Golkar resmi mencalonkan Ketua Umum, Aburizal Bakrie sebagai calon presiden 2014. Penetapan ini setelah mendapat persetujuan penuh dari 33 pengurus Dewan Pimpinan Daerah Provinsi dan sepuluh organisasi pendiri dan bentukan partai.

“Pada hari ini rapimnas memutuskan Aburizal Bakrie adalah capres dari partai golkar untuk preciode 2014-2019,” kata Freddy Latumahina saat memimpin rapat paripurna pengukuhan capres Golkar, Jumat malam, 29 Juni 2012.

Aburizal pun menerima pengukuhan itu. Dalam pidato pengukuhannya, Ical-sapaan Aburizal- mengatakan siap berjuang untuk menjadi presiden periode 2014-2019. Aburizal mengatakan siap mewujudkan kejayaan partai Golkar pada pemilu 2014. Partai Golkar yang dilambangkan sebagai pohon beringin kata dia akan semakin tinggi menjulang ke langit dan akarnya semakin menancap ke bumi. “Saya mengatakan secara resmi dan terbuka menerima pencalonan ini.”

Jika terpilih menjadi capres, Aburizal berjanji akan memprioritaskan kesejahteraan masyarakat. “Siang malam saya berjanji mendengarkan suara rakyat,” kata dia. Aburizal mengakui jalan untuk menjadi capres tidaklah mudah. Namun dia yakin dengan dukungan semua elemen partai, Golkar akan bisa menang pemilu dan pilpres. “Dengan dukungan semua pihak kami bisa mencapai finish dan meraih kemenangan.”

Aburizal juga mengatakan akan membawa Indonesia naik kelas dari negara berkembang menjadi negara maju. “Saya akan siapkan fondasi yang kokoh, inilah kontrak politik yang memberi arah bagi kekuasaan besar seorang presiden.”

Sekretaris Jenderal Golkar, Idrus Marham mengatakan setelah pengukuhan malam ini, maka seterusnya seluruh mesin partai akan dioptimalkan untuk memenangkan Aburizal pada pilpres 2014 mendatang. “Mulai hari ini hanya ada satu, Aburizal untuk presiden.”

Setelah dikukuhkan dalam rapimnas malam ini, Aburizal akan melakukan deklarasi capres pada Ahad, 1 Juli lusa. Dalam deklarasi itu, dia juga akan memaparkan visi dan misinya untuk menjadi capres pada pilpres 2014.

IRA GUSLINA SUFA
Bakrieland Jual Kondominium Mewah Rp 750 juta-Rp 2 Miliar di Kuningan
Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Jumat, 29/06/2012 17:34 WIB
Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk menawarkan kondominium hotel (Condotel) bernama OCEA Condotel Rp 750 miliar sampai Rp 2 miliar di kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Direktur dan CEO unit usaha City Property PT Bakrieland Development Tbk untuk Rasuna Epicentrum Agus J. Alwie mengatakan, OCEA Condotel ditawarkan untuk kalangan eksekutif muda. Proyek ini terdiri dari 324 unit condotel pada 32 lantai yang berada di kawasan pusat bisnis dan perkantoran strategis Jakarta.

“Harga yang ditawarkan dari Rp 750 juta sampai Rp 2 miliar,” imbuh Agus di Rasuna Epicentrum, jakarta, Jumat (29/6/2012).

Condotel yang baru mulai ditawarkan besok ini ternyata sudah terjual 80 unit. Menurut Agus, para penghuni tidak hanya ditawarkan dengan hunian yang berkelas, tetapi juga akan memperoleh penghasilan pasif dari investasi yang ditanamkan pada condetel tersebut.

“Orang melihat kalau apartemen kita beli harus merawat. Kalau condotel kita jual beserta furnished dan dikelola oleh pengelola. Sementara dapat income 10 persen juga,” sebutnya.

Condetel yang selesai dibangun pada Juni 2014 ini akan dibangun di atas lahan 12.582 meter persegi. Pada proyek ini, Bakrieland akan menginvestasikan Rp 350 miliar.

(feb/dnl)

BTEL Optimistis Program Revitalisasi Berhasil
Robertus Benny Dwi Koestanto | Nasru Alam Aziz | Kamis, 14 Juni 2012 | 19:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Jajaran manajemen Bakrie Telecom yakin program revitalisasi BTEL bakal berjalan sukses. Salah satu fokus perseroan adalah penggunaan dana hasil penerbitan saham tanpa pemesanan efek terlebih dulu senilai Rp 754 miliar.

Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie menjelaskan, program revitalisasi BTEL terdiri dari lima tahap. Pertama, adalah program penyehatan dan penguatan keuangan perusahaan. Kedua, penguatan organisasi, budaya perusahaan dan governance. Ketiga, kembali ke inti kekuatan BTEL yaitu one brand (Esia), one price, tapi dengan banyak opsi produk. Keempat, mendorong pertumbuhan revenue dari data. Kelima, peningkatan kualitas produk dan layanan pelanggan.

Sebagai bagian dari program penyehatan dan penguatan keuangan perusahaan, manajemen BTEL telah melakukan beberapa langkah konkret sejak awal tahun 2012. Dalam RUPS Luar Biasa beberapa waktu lalu, pemegang saham telah menyetujui penerbitan saham tanpa hak pemesanan efek terlebih dahulu (non-preemptive right issue) senilai Rp 754 miliar.

Selain digunakan untuk membiayai akuisisi 35 persen saham Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI), hasil penerbitan saham tersebut juga dipakai untuk mempercepat pembayaran utang perseroan. “Sekitar 27 persen atau senilai Rp 150 miliar dari non-preemptive right sudah masuk ke kas perusahaan,” ungkap Anindya.

Dalam dua pekan terakhir, produk baru tersebut mendapat respon luar biasa dari konsumen dan telah berhasil meningkatkan pangsa pasar BTEL di layanan data dari 5 persen menjadi 20 persen. “Inilah yang kami sebut sebagai dampak positif dari proses pemulihan yang kami lakukan di BTEL,” ujar Anindya.

Kesuksesan produk Esia Max-D, menurut Anindya, juga tidak lepas dari cara unik dan kreatif yang selama ini selalu menjadi trademark BTEL. Saat peluncuran, BTEL mengerahkan lebih dari 1.000 karyawan dari bagian penjualan dan non penjualan untuk terjun langsung ke lapangan. BTEL menggunakan jaringan 3.000 outlet di 20 kota.

Pasar kalut, ENRG kerek batas atas kupon obligasi
Oleh Wahyu Satriani – Kamis, 14 Juni 2012 | 21:42 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA. Masih tingginya ketidakpastian perekonomian global membuat ongkos penerbitan surat utang korporasi menjadi mahal. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) misalnya, menaikkan batas atas kupon global bond-nya dari 9% menjadi 11,5%.

Keputusan ini disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Kamis (14/6). ENRG berniat merilis obligasi global senilai US$ 600 juta dengan tenor 5 tahun.

Imam P. Agustino, Direktur Utama ENRG, menuturkan, kenaikan kupon global bond tersebut lantaran kondisi pasar yang masih fluktuatif. “Maka itu kami minta batas atasnya dinaikkan. Namun, kami tetap berharap kuponnya bisa ditetapkan di bawah 11,5%,” ujarnya.

Imam bilang, dengan batas atas kupon sebesar 11,5%, maka ENRG masih bisa menghemat US$ 15,5 juta per tahun. Dana hasil emisi obligasi ini akan digunakan ENRG sebagai refinancing agar beban keuangan perseroan di pos bunga pinjaman dapat turun.

Utang yang akan ditukar di antaranya adalah senior credit agreement dari Credit Suisse sebesar US$200 juta, berbunga LIBOR+12% per tahun. Ada juga pinjaman dari ND Owen Holdings Ltd sebesar US$228 juta berbunga 17% per tahun. Kedua utang tersebut jatuh tempo tahun depan.

ENRG akan menggelar roadshow ke beberapa negara untuk menjajaki calon pembeli obligasi global ini, mulai Juli 2012. Di antaranya, Singapura, Hongkong, dan New York. Global bond ENRG nanti akan dicatatkan di bursa Singapura. Imam enggan mengungkapkan calon pembeli yang sudah kentara ataupun pembeli siaga (standby buyer) obligasi global itu.

RUPSLB kemarin juga menyetujui rencana penambahan modal melalui penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau non-preemptive rights issue sebanyak 4,058 miliar saham di harga Rp 186. Jadi, dana yang dikantongi nanti sekitar Rp 755 miliar. “Untuk modal kerja,” kata Imam

Jadi Dirut Bakrieland, Ini Target Ambono
Bakrieland sudah memiliki fundamental yang bagus sehingga banyak mendapatkan penghargaan.
Kamis, 7 Juni 2012, 15:00 WIB
Hadi Suprapto, Sukirno

VIVAnews – Pemegang saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dalam rapat umum pemegang saham tahunan memutuskan mengganti jajaran direksi. Pemegang saham mengganti Direktur Utama Hiramsyah S Thaib digantikan oleh Ambono Januarianto.

Untuk itu, Ambono mengungkapkan dia tidak akan mengubah kebijakan direksi sebelumnya. “Harus saya sampaikan paling utama targetnya harus tidak lebih jelek dari Pak Hiramsyah,” kata dia dalam paparan publik, di Hotel Aston, Jakarta, Kamis 7 Juni 2012.

Menurutnya, Bakrieland sudah memiliki fundamental yang bagus sehingga banyak mendapatkan penghargaan. Kemudian, dia melanjutkan, perseroan sudah banyak melakukan promosi proyek-proyek barunya.

“Kami harus merealisasikan proyek yang baru, apakah mempercepat atau seperti biasa, tergantung proyeksi ekonomi,” kata dia.

Bakrieland fokus pada percepatan pengembangan proyek-proyek properti, terutama sektor hunian baik apartemen maupun perumahan, sebagai bagian dari upaya optimalisasi konversi lahan untuk menjadi arus kas perusahaan.

Berdasarkan pencapaian perusahaan di 2011, Bakrieland optimistis mencapai pertumbuhan pendapatan 15 persen dari tahun sebelumnya.

Tak bagi dividen

Sementara itu, Direktur Utama Perseroan sebelumnya, Hiramsyah S Thaib mengatakan saat ini perseroan tidak membagikan dividen. “Kalau sudah ada laba konsolidasi, pasti bisa bagi dividen,” kata Hiramsyah.

Pada 2011, Bakrieland membukukan pendapatan yang melonjak 47,5 persen menjadi Rp2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya, sebesar Rp1,4 triliun. Hal ini mendukung laba kotor sebesar Rp958,2 miliar atau meningkat 43,2 persen dibanding sebelumnya Rp669,3 miliar. Sedangkan laba bersih perseroan adalah Rp 74,74 miliar. (umi)

Inilah Pemicu Kerugian BTEL hingga Rp355,62 M

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Jumat, 1 Juni 2012 | 16:35 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) per 31 Maret 2012 mencatat kenaikan rugi bersih menjadi Rp355,62 miliar dari kerugian Rp41,128 miliar di kuartal pertama 2011.

Demikian mengutip keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Jumat (1/6/2012). Pada periode tersebut, perseroan menderita rugi kurs sebesar Rp56,466 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun lalu mencatatkan keuntungan kurs Rp115,871 miliar.

Penyebab lain kerugian perseroan adalah pendapatan bunga yang mengalami penurunan menjadi Rp452,205 juta dari Rp4,07 miliar. Demikian juga dengan beban keuangan naik tipis menjadi Rp210,206 miliar dari Rp200,575 miliar.

Untuk pendapatan usaha perseroan juga turun menjadi Rp526,599 miliar di tiga bulan pertama 2012 dari Rp717,940 miliar. Penurunan pendapatan usaha ini disebabkan turunnya pendapatan jasa telekomunikasi sebesar 26,07% dari Rp830,999 miliar menjadi Rp614,355 miliar. Selain itu, jasa interkoneksi juga turut turun 14,58% menjadi Rp58,963 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu Rp69,033 miliar.

Kendati demikian, perseroan berhasil menekan beban usaha sekitar 1,13% dari Rp704,981 miliar menjadi Rp696,967 miliar. Perseroan menderita rugi usaha sebesar Rp170,368 miliar. Untuk total aset perusahaan per 31 Maret 2012 mencapai Rp12,028 triliun dari Rp12,213 triliun per 31 Desember 2011.

Jadi dirut BRMS baru, Samin Tan genjot Dairi Prima
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 03 Mei 2012 | 23:00 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) akan menggenjot pengembangan konsesi tambang di Sumatera Utara lewat Dairi Prima Minerals. Total dana yang dibutuhkan mencapai US$ 300 juta.

Direktur Utama BRMS yang baru saja terpilih, Samin Tan mengatakan fokus perseroan saat ini adalah melakukan pengembangan Dairi Prima agar segera berproduksi. Untuk merealisasikan hal itu, manajemen tengah melakukan pembicaraan dengan sejumlah kreditur.

“Sebentar lagi kami akan mendapatkan pinjaman US$ 100 juta dari sejumlah bank,” ujarnya, Kamis (3/5). Namun, ia belum mau mengatakan calon krediturnya Dana itu sepenuhnya akan dialokasikan untuk Dairi Prima. “Dairy Prima harus jalan selain Mauritania,” imbuh Samin.

Sementara itu Kenneth Patrick Farrel, Wakil Direktur Utama BRMS menambahkan, keperluan dana untuk eksplorasi tahun ini diperkirakan sebesar US$ 150 juta. Adapun sisa kebutuhan dana akan dipenuhi dari pinjaman dan hasil IPO. Manajemen menargetkan produksi bijih besi di Dairi di tahun pertama mencapai 1 juta ton per tahun.

Asal tahu saja, dari sejumlah konsesi tambang logam dan mineral yang dimiliki BRMS baru satu tambang yang berproduksi. Tambang itu terletak di Afrika Barat, yaitu Mauritania SA yang memproduksi bijih besi. Tahun ini diperkirakan volume produksi yang dihasilkan sebanyak 300.000 ton.

Sedangkan Gorontalo Minerals, kata Samin masih dalam tahap feasibilities studies dan drilling. Setelah diketahui berapa cadangan yang tersedia, maka perseroan baru bisa menarik pinjaman dari bank (bankable). Hal itu baru akan terjadi pada satu hingga dua tahun ke depan. Samin memperkirakan, proyeknya yang di Gorontalo ini terlalu besar untuk digarap. Pihaknya kemungkinan akan mencari partner. Begitu pula Citra Palu Minerals.

Kenneth menjelaskan, perseroan memerlukan dana investasi dengan total sekitar US$ 5,3 miliar untuk menggarap area pertambangannya dalam kurun lima tahun. Ia merinci, Proyek Gorontalo memerlukan dana US$ 3 miliar hingga US$ 4 miliar. Citra Palu Minerals sebesar US$ 1 miliar, Dairi Prima senilai US$ 300 juta dan Mauritania sebesar US$ 30 juta hingga US$ 40 juta.

Sekadar informasi Dairi Prima merupakan tambang penghasil timah hitam dan zinc. Sedangkan Gorontalo Minerals adalah penghasil emas dan tembaga. Citra Palu Minerals penghasil emas. Mauritania adalah pengelola tambang bijih besi.

Kelompok Usaha Bakrie berusaha menjinakan utang. BNBR
berjanji menyelesaikan utangnya ke sejumlah kreditur pada
Mei tahun ini.Nilai utang yang akan direstrukturisasi itu
Rp 2,21 Triliun.(kontan/az)
Kamis, 26/04/2012 15:07 WIB
Berusia 100 Tahun, Kebun Sawit Bakrie Masih Bisa Produksi 166 Ribu Ton TBS
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Kisaran – PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) menargetkan dapat menghasilkan 166 ribu ton tandan buah segar (TBS) per tahun pada kebun milik perseroan di Kisaran, Kab Asahan, Sumatera Utara. Peningkatan produksi dihasilkan dari penambahan pohon sawit produktif seluas 1.400 ha.

Demikian disampaikan VP Business Unit Head Sumit 1, Nahum Panggabean dalam kunjungan media ke Kisaran, Kamis (26/4/2012).

“Lahan di Sumut 1 akan ada penambahan volume tahun ini, karena ada tanamman mature 1.400 ha sawit tambahan,” katanya.

“Tahun 2011 produksi kami 140 ribu ton, dan tahun ini akan ada peningkatan jadi 166 ribu ton,” tambah Nahum.

Untuk setiap ha, tanaman sawit UNSP di Sumut 1 diprediksi menghasilkan 24 juta ton-25 juta ton. Dari 1.400 ha sawit yang baru menghasilkan datang dari bibit unggulan, jenis Costa Rica.

“Bibit Costa Rica diharapkan akan meningkatkan produksi kami, karena per ha bisa mencapai 40 juta ton. Dari yang menghasilkan baru ini, kami mulai tanam pada tahun 2008,” tegasnya.

Sumut 1, selain mengelola perkebunan sawit seluas 9.200 ha, juga masih terhampar luas tanaman karet. Jumlahnya bahkan lebih besar, mencapai 10.500 ha.

“Total lahan di sini mencapai 22.173 h terdiri dari 6 estate, termasuk perkantoran. Lahan sawit 9.200 ha, karet 10.500 ha. Plus tahun ini yang replanting 880 ha karet. Kebun yang ada di Kisaran usianya sudah mencapai 100 tahun,” ucapnya.

Total produksi karet grup Bakrie sendiri diperkirakan mencapai 500 ton kering. Ini setara dengan 1.660 kg per ha lahan karet. “Jumlah yang dihasilkan naik dari percapaian tahun lalu 1.460 kg per ha,” imbuhnya.

(wep/ang)
Bapepam-LK akan panggil BNBR
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Selasa, 24 April 2012 | 20:16 WIB

kontan

JAKARTA. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) akan memanggil manajemen PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) untuk meminta klarifikasi terkait peringatan gagal bayar dari para krediturnya.

“Kami memang akan panggil (manajemen BNBR) dalam waktu dekat untuk minta penjelasan,” ujar salah satu pejabat Bapepam-LK yang enggan disebut identitasnya kepada KONTAN, Selasa (24/4).

Penjelasan yang dimaksud terkait dengan adanya peringatan gagal bayar dari kreditur yang dikoordinasi Credit Suisse serta penyelesaiannya. Tidak hanya Bapepam-LK, otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) juga telah mengirimkan surat resmi kepada manajemen untuk meminta klarifikasi.

“Kami langsung kirimkan surat setelah ada berita itu, kami mempertanyakan kebenaran mengenai isi berita itu,” tutur Eddy Sugito, Direktur Penilaian Perusahaan BEI. Adapun batas waktu pemberian penjelasan tiga hari kerja setelah surat dikirimkan.

Eddy Soeparno, Direktur Keuangan BNBR menampik adanya notifikasi apa pun dari para krediturnya. Baik notifikasi gagal bayar maupun permintaan tambahan kolateral. Menurut sumber yang dikutip Bloomberg, BNBR diminta menambah nilai agunannya senilai US$ 100 juta. Terkait hal itu, Eddy menolak untuk berkomentar.

“Saya tidak mau menanggapi mengenai hal itu,” tandasnya. Ia pun masih enggan memberikan penjelasan terkait kabar yang menyebutkan BNBR sedang bernegosiasi dengan dua investor asing guna memperoleh dana segar. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yaitu mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 9 triliun. Menurut kabar yang beredar, investor itu berasal dari Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Selain untuk pengembangan anak usaha, dana itu juga akan digunakan untuk menyelesaikan pinjaman kepada sejumlah kreditur yang digawangi Credit Suisse senilai US$ 437 juta.

Manajemen BNBR masih belum mau memberi penjelasan secara eksplisit terkait hal tersebut. “Saya tidak bisa komentar dulu karena terikat kerahasiaan,” tutur Eddy.

Sekadar mengingatkan, pada Januari 2012 lalu, BNBR dan Long Haul Holdings Ltd (LHH) menandatangani perjanjian kredit dari Credit Suisse AG dengan total nilai US$ 437 juta. Dari total pinjaman itu, fasilitas pinjaman yang diperoleh BNBR adalah sebesar US$ 193,96 juta. Dana itu digunakan untuk membayar sisa pinjaman atas pinjaman Credit Suisse senilai US$ 1,34 miliar. Sebelumnya, BNBR dan LHH telah membayar US$ 1 miliar. Dana itu diperoleh dari hasil penjualan saham Bumi Plc kepada Borneo Lumbung Energy & Metal (BORN). Nah, sisanya diselesaikan dengan refinancing, yaitu dengan pinjaman baru yang dikoordinasi CS.

Eddy menolak jika pinjaman itu disebut repo. Tetapi ia tidak menyanggah skemanya sama seperti pinjaman ke Credit Suisse sebelumnya yaitu dengan menjaminkan saham Bumi Plc. Eddy mengaku tidak ingat berapa banyak saham Bumi Plc yang dijaminkan atas pinjaman barunya itu. Yang jelas, setelah dilepas ke BORN, kepemilikan BNBR dan LHH di Bumi Plc tersisa 23,8%. Eddy pun enggan mengatakan tenor pinjaman tersebut.

ELTY: Bakrieland Development (ELTY) starts to build the Breeze that has been sold out all of its 3.7ha land in South Sentul, Bogor. The Breeze is a part of the first section on company’s plans to develop 12.000ha of land from Sentul to Jonggol. (Bisnis Indonesia)

Sumber : IPS RESEARCH
Blok Tonga Sumbang Produksi Energi Mega 1.200 BPH

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Jumat, 20 April 2012 | 12:06 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menyatakan, hak partisipasi yang dimiliki sebesar 53,44% yaitu blok Tonga PSC telah mendapatkan persetujuan rencana pengembangan dari Pemerintah pada 10 April 2012.

Tonga PSC diharapkan dapat memulai produksi minyaknya di semester pertama tahun 2012 dengan rata-rata produksi 1.200 barrel per hari untuk sepanjang tahun 2012. Lapangan Tonga mempunyai cadangan tersertifikasi (3P atau cadangan terbukti, terukur dan terunjuk) sebesar 7 juta barel dan jumlah prospek sumber daya dari lapangan lain sebesar 31,2 juta.

“Ini merupakan hasol yang sangat positif dari blok TOnga PSC. Tim kami saat ini sedang menyelesaikan infrastruktur yang dibutuhkan untuk dapat memfasilitasi produksi minyak pertama dari blok tersebut,” ujar Direktur Utama PT Energi Mega Persada Tbk, Imam Agustino, seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (20/4/2012).

Lebih lanjut ia mengatakan, blok Tonga PSC dapat segera memproduksikan minyak pada semester pertama thaun dan memberikan kontribusi positif terhadap perusahaan. Blok Tonga PSC terletak di Sumatra Utara dan saat ini dioperasikan oleh anak usaha ENR yaitu PT Mosesa Petroleum. [hid]

ENERGI MEGA raih persetujuan pengembangan Blok Tonga

Oleh Sylviana Pravita R.K.N

Jum’at, 20 April 2012 | 09:55 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: PT Energi Mega Persada Tbk meraih persetujuan pemerintah terhadap rencana pengembangan hak partisipasi 53,44% Blok Tonga PSC pada 10 April 2012.

Blok Tonga PSC terletak di Sumatera Utara dan saat ini dioperasikan oleh anak usaha Energi Mega, yaitu PT Mosesa Petroleum.

Berdasarkan keterangan resmi perseroan hari ini, Jumat, 20 April 2012, Tonga PSC diharapkan memulai produksi minyak pada semester I/2012 dengan rata-rata produksi 1.200 barel per hari.

Lapangan Tonga mempunyai cadangan tersertifikasi, yaitu cadangan Terbukti, Terukur, dan Terunjuk 7 juta barel dan jumlah Prospek Sumber Daya dari lapangan lain 31,2 juta barel.

Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino menilai hal itu merupakan hasil yang sangat positif dari blok Tonga PSC.

“Tim kami sedang menyelesaikan infrastruktur yang dibutuhkan guna memfasilitasi produksi minyak pertama dari blok tersebut. Kami berharap Blok Tonga PSC segera memproduksi minyak pada semester pertama tahun ini dan memberikan kontribusi yang positif terhadap perusahaan.” (spr)

Tengoklah Saham BUMI dan ELTY

Oleh:
pasarmodal – Jumat, 20 April 2012 | 09:03 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources Tbk diperkirakan akan menuju level Rp2.800 dan saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan menuju Rp170.

Kabarnya, keluarga Bakrie akan menambah kepemilikan di kedua perusahaan tersebut. Langkah tersebut diperkirakan akan terealisir pada semerter II tahun ini.

Pada perdagangan kemarin saham BUMI menguat Rp50 ke Rp2.125 dengan volume 42.209 saham. Sementara saham ELTY menguat Rp6 ke Rp123 dengan volume 672.292 saham.

Kamis, 19 April 2012 | 17:56 WIB
Bakrie Telecom Segera Terbitkan Saham Baru

TEMPO.CO, Jakarta- PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator telekomunikasi berbasis CDMA, memastikan rencana penerbitan saham baru (rights issue) tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non HMETD). Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) hari ini, 19 April 2012, menyetujui perseroan untuk melakukan non prempetive rights issue 10 persen dari 28,48 miliar saham yang tercatat saat ini. Nilai saham baru minimal Rp 755 miliar dengan harga minimal Rp 265 per saham.

Direktur Utama BTEL, Anindya Bakrie, meengatakan dana hasil penerbitan right issue itu bakal digunakan untuk beberapa keperluan perseroan. Rinciannya sebesar 25 persen membayar obligasi jatuh tempo September mendatang, kemudian 25 persen untuk akuisisi 35 persen saham Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) senilai Rp 198 miliar. “Sisanya 50 persen untuk working capital dan belanja modal,” katanya.

Pada 13 Maret 2012, BTEL dan STI menandatangani penjualan bersyarat jual beli (conditional sale and purcase agreement). Tahapan merger diawali dengan Bakrie Telecom mengakuisisi 35 persen saham Sampoerna Telekomunikasi Indonesia.

Nantinya Sampoerna masuk ke BTEL melalui private placement. Sesuai perjanjian, perseroan bakal memiliki 100 persen saham STI dalam tiga tahun ke depan.

Selain rencana aksi itu, rapat hari ini juga menyetujui pergantian direksi dan komisaris. Sebagai wakil direktur utama Bidang Pengembangan Jaringan dan Operasional diangkat Amit Bose yang sebelumnya menjabat sebagai presiden Tata Teleservices, Chief Executive Officer (CEO) Reliance Infocom, dan CEO Mattel. Selain dia, Imanuddin Putra yang sebelumnya direktur Sumber Daya Manusia Samsung Electronics diangkat menjadi direktur Sumber Daya Manusia.

JAYADI SUPRIADIN
Kamis, 19 April 2012 | 21:46 WIB
Menteri PU Minta Lapindo Penuhi Janjinya

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meminta PT Minarak Lapindo Jaya menyelesaikan pembayaran ganti rugi semburan lumpur tahun ini. “Mereka berjanji menyelesaikan tahun 2012. Saya minta mereka konsisten dengan janjinya,” kata dia di Istana Kepresidenan, Kamis, 19 April 2012.

Menurut Djoko, besaran angka pembayaran dampak lumpur yang dijanjikan selesai oleh PT Minarak Lapindo Jaya tahun 2012 ini adalah sekitar Rp 900 miliar. “Dijanjikan kepada Presiden,” ujar dia.

Sebelumnya, Djoko menyatakan PT Minarak Lapindo Jaya meminta difasilitasi untuk bantuan kredit. “Kemarin saya ketemu, mereka minta difasilitasi, cuma belum ada keputusan,” kata Djoko.

Djoko menyatakan, pihak Lapindo meminta bantuan kredit konstruksi karena sebagian pembayaran dilakukan dalam bentuk rumah jadi.
Ganti rugi rumah dilakukan agar bisa langsung diberikan kepada masyarakat.

Djoko sudah menghubungi Direktur Bank BTN, dan bank masih menghitung. Hingga saat ini pihak Bank BTN belum bisa memberikan jawaban ihwal permintaan kredit tersebut.

Minarak Lapindo Jaya memiliki kewajiban pembayaran senilai Rp 3,8 triliun. Hingga April 2012, realisasi pembayaran sebenarnya sudah mencapai Rp 3,409 triliun atau sebesar 89 persen. Tapi, ada keterlambatan pencairan dana sebesar Rp 497,4 miliar. Total kekurangan yang harus dibayar oleh Lapindo sebesar Rp 918,7 miliar.

Pemerintah juga menanggung dana untuk korban lumpur Lapindo. Sejak 2006-2010, anggaran pendapatan dan belanja negara sudah membiayai korban lumpur Lapindo sebesar Rp 2,8 triliun.

Ditambah tahun 2012-2014, pemerintah menyiapkan anggaran Rp 5,8 triliun. Anggaran 2012-2014 tersebut terdapat dalam Rencana Kerja Pemerintah dengan rincian: tahun 2011 sebesar Rp 1,2 triliun, tahun 2012 sebesar Rp 1,3 triliun, tahun 2013 sebesar Rp 1,4 triliun dan tahun 2014
sebesar Rp 1,7 triliun.

PRIHANDOKO
Kamis, 19/04/2012 17:43 WIB
Lapindo Belum Juga Dapat Pinjaman Bank untuk Bayar Korban Lumpur
Luhur Hertanto – detikFinance

Jakarta – Pihak perbankan seperti BTN belum menjawab permohonan kredit dari PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) untuk melunasi sisa uang ganti rugi aset kepada para korban lumpur Sidoarjo.

Pemerintah mengingatkan perusahaan tambang itu memenuhi janji menyelesaikan seluruh tunggakan pada tahun ini.

“Dia sudah janji akan selesaikan pada 2012. Saya minta agar konsisten dengan janjinya itu,” kata Ketua Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), Djoko Kirmanto, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (19/4/2012).

Nilai sisa ganti rugi aset korban lumpur Lapindo saat ini tercatat sebesar Rp 918,7 miliar. Pemerintah telah memenuhi permintaan PT Minarak Lapindo agar difasilitasi pengajuan kreditnya kepada BTN.

“BTN belum memberikan jawabannya,” jawab Djoko yang juga Menteri Pekerjaan Umum.

Djoko menjelaskan bahwa PT Minarak Lapindo mengajukan bantuan kredit konstruksi kepada BTN. Alasannya sebagian pelunasan tunggakan akan dibayarkan dalam bentuk rumah jadi agar bisa langsung diberikan kepada masyarakat.

PT Minarak Lapindo memiliki total kewajiban pembayaran senilai Rp 3,8 triliun yang 89% di antaranya telah diselesaikan. Sementara itu, Pemerintah juga menanggung dana untuk korban lumpur Lapindo sejak 2006.

Sekertaris BPLS Andi Sarwoko mengatakan pihak lapindo membayar melalui PT Minarak Lapindo Jaya. Ia menuturkan dari total Rp 3,83 triliun, sampai 17 April 2012 baru terbayar Rp 2,9 triliun maka kekurangannya Rp 918,7 miliar

(lh/hen)

Kapal FPU Datang, Energi Mega Genjot Produksi
FPU itu merupakan bagian dari komponen untuk memfasilitasi produksi gas.
Jum’at, 13 April 2012, 14:14 WIB
Hadi Suprapto

VIVAnews – PT Energi Mega Persada Tbk akan menggenjot produksi gas sebesar 300 juta kaki kubik per hari dari lapangan Terang pada Juni 2012. Upaya itu seiring datangnya kapal Floating Production Unit (FPU) di lapangan gas lepas pantai Terang.

Lapangan gas ini merupakan bagian dari blok Kangean PSC di Jawa Timur. FPU tersebut telah menyelesaikan seluruh persiapan yang diperlukan di galangan kapal Sembawang, Singapura pada 30 Maret 2012, sebelum memulai pelayarannya ke lokasi blok Kangean PSC.

“FPU tersebut merupakan bagian terakhir dari beberapa komponen yang diperlukan untuk memfasilitasi produksi gas sebesar 300 juta kaki kubik per hari dari lapangan Terang pada Juni 2012,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada, Imam Agustino, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Jumat 13 April 2012.

Agustino mengatakan, volume gas dari lapangan gas Terang di blok Kangean PSC memiliki peran penting dalam pencapaian peningkatan produksi perusahaan dalam 24 bulan ke depan. Sebagian besar dari tambahan produksi minyak dan gas pada 2012 berasal dari lapangan gas Terang.

“Kami berhasil membukukan kenaikan produksi rata-rata sebesar 27 persen menjadi 16.700 barel ekuivalen per hari pada 2011,” ujarnya.

Perseroan berharap dapat merealisasikan peningkatan produksi rata-rata yang signifikan sebesar 140 persen menjadi 40.000 barel ekuivalen per hari tahun ini. Kenaikan ini didorong oleh tambahan produksi minyak dan gas dari blok ONWJ PSC yang baru saja diakuisisi oleh Energi Mega, produksi gas dari lapangan Terang di Kangean PSC, dan beberapa lapangan di blok Bentu PSC Riau, Sumatera.

Blok Kangean PSC terletak di Jawa Timur dan saat ini dioperasikan oleh Kangean Energy Indonesia Limited. Blok Kangean PSC dimiliki 50 persen oleh Energi Mega melalui beberapa anak usahanya, 25 persen oleh grup Mitsubishi, Jepang, dan 25 persen lainnya oleh grup Japex, Jepang.

Blok Kangean PSC memiliki jumlah cadangan terbukti dan terukur sebesar 9,6 juta barel minyak dan 1,3 triliun kaki kubik gas.

Sabtu, 14 April 2012 | 18:26 WIB
Pesilakan JK-Akbar Tapi Ical Tetap Emoh Konvensi

TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Umum Partai Golongan Karya, Aburizal Bakrie, mengatakan tidak menutup peluang kader lainnya untuk menjadi calon presiden. Tetapi dirinya keukeuh menyatakan tidak akan menggunakan jalan konvensi.

Menurutnya, mekanisme konvensi tak menjamin figur yang terpilih bakal menang di pemilu presiden. “Dulu waktu zaman Pak Wiranto menang (konvensi) tapi gagal (di pilpres). Jadi sudahlah, capek,” kata Aburizal di kantor DPP Partai Golkar di Jalan Anggrek, Sabtu 14 April 2012.

Apalagi, kata dia, pengurus sebelum dia juga tidak menggunakan konvensi. Menurut Ical, lebih baik keputusan bakal calon presiden yang diusung partai yang identik dengan warna kuning ini melalui Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnassus) yang akan dipercepat dari Oktober ke Juni-Juli 2012. “(Percepatan) atas semua daerah tingkat 1 dan 2. Sebagai orang yang selalu mempunya niat baik kepada negara, saya siap,” dia melanjutkan.

Lalu Mara Satriawangsa, Wakil Sekjen DPP Partai Golkar, menyatakan sudah ada enam pengurus daerah yang meminta rapimnas dipercepat. Yaitu Sulawesi Selatan, Papua Barat, Riau, Aceh, Jawa Tengah dan Maluku.

Lalu pun optimis suara di Jawa Timur tidak akan terpengaruh dengan kasus Lapindo. “Karena semua warga tahu mana yang benar dan salah. Saham terbesar (Lapindo Bratas) kan milik BUMN,” kata dia

ARYANI KRISTANTI
IMQ, Jakarta — Salah satu pelaku pasar mengatakan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sedang diminati oleh Fund manager besar yang cukup berpengaruh di Indonesia.

“Ketertarikan ini didorong meningkatnya penjualan korporasi pada 2011 lalu yang mencerminkan adanya peningkatan penjualan pada 2012 ini,” katanya.

Meskipun pada akhir tahun lalu, UNSP mencatatkan penurunan laba bersih namun potensi peningkatan laba bersih akan tampak signifikan pada akhir kuartal pertama 2012.

Hal ini disebabkan oleh meningkatnya harga minyak sawit mentah (CPO) di pasaran internasional, menyusul peningkatan harga minyak bumi yang cukup drastis.

Dengan katalisator harga komoditi yang meningkat, maka dapat disimpulkan nilai penjualan anak usaha Group Bakrie ini akan meningkat pula.

Tentu saja ini akan berpengaruh langsung pada laba korporasi. Ditunjang pula oleh perhitungan nilai buku wajar dan PER UNSP yang masih dibilang murah, maka UNSP masuk daftar “barang buruan” para fund manager.

Kabar yang beredar, UNSP akan diangkat naik sampai dengan Rp 450 per lembarnya.

Pada perdagangan Rabu (11/4) saham UNSP ditutup terkoreksi 5 poin (-1,69%) ke level Rp 290 per lembarnya dengan volume transaksi senilai lebih dari Rp7,85 miliar.

http://www.imq21.com/news/read/57800/20120412/080837/UNSP-Diincar-Fund-Manager-Target-Rp450.html

Sumber : IMQ21.COM
BNBR melepas 140,5 juta (1%) saham UNSP, 138,7 juta (0,3%) saham ELTY, dan 304,4 juta (0,75%) saham ENRG pada 30 Maret 2012. Perseroan meraup dana sekitar Rp124 miliar dari penjualan tiga saham itu. Penjualan saham merupakan bagian dari penyelesaian (settlement) salah satu pinjaman. (Investor Daily)

Sumber : IPS RESEARCH
Jum’at, 06 April 2012 | 17:14 WIB
Penurunan Laba ELTY Mengecewakan Investor

TEMPO.CO, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk. menunjukkan kinerja negatif sepanjang tahun lalu. Analis menilai penurunan kinerja jelas mengecewakan investor yang menanamkan modalnya di perusahaan milik keluarga Bakrie tersebut.

Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2011, Bakrieland mencatat laba bersih sebesar Rp 74,74 miliar. Perolehan ini merosot 64,47 persen dibandingkan laba bersih 2010. Padahal pendapatan perusahaan meningkat cukup tinggi, yaitu 47,5 persen, dari Rp 1,27 triliun menjadi Rp 2,02 triliun di 2011.

“Ini sangatlah mengecewakan investor apabila membandingkan kinerja perusahaan-perusahaan properti lainnya yang cukup fantastis pada 2011,” kata Kepala Riset e-Trading Securities, Betrand Raynaldi, dalam analisisnya, Kamis 5 April 2012.

Ia mengatakan peningkatan laba bersih yang diperoleh perusahaan-perusahaan lain di sektor yang sama bisa mencapai 40 hingga 200 persen pada tahun lalu.

Sebagai pengembang properti yang memiliki land bank terbesar, ia berharap Bakrieland dapat menaikkan kinerjanya. “Terutama dari sisi pengeluaran operasional serta pengeluaran lainnya, sehingga dapat menggerus gross profit margin yang juga menurun dengan kenaikan biaya penjualan,” kata Betrand lagi.

Meski pendapatan perusahaan naik cukup signifikan, beban pokok penghasilan pun tumbuh tinggi pada tahun lalu. Beban pokok naik 51,6 persen dari Rp 698,28 miliar menjadi Rp 1,05 triliun pada tahun lalu. Beban-beban lainnya pun meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, seperti beban penjualan sebanyak Rp 101,2 miliar. Padahal sebelumnya hanya Rp 55,6 miliar. Begitu pula dengan beban umum dan administrasi dari Rp 371,8 miliar menjadi Rp 624,14 miliar di 2011.

Untuk selisih kurs, perusahaan pada tahun lalu malah merugi Rp 11,65 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang untung Rp 14,61 miliar. Namun untuk penjualan/penghapusan aset tetap perusahaan mendapatkan untung sebesar Rp 66,72 juta, sementara pada 2010 merugi Rp 392,21 juta.

Dengan peningkatan beban perusahaan, laba sebelum taksiran manfaat pajak pun merosot dibandingkan 2010 menjadi Rp 107,4 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 225,65 miliar. Posisi kas per 31 Desember 2011 juga menipis menjadi sebesar Rp 597,12 miliar. Padahal tahun sebelumnya posisi kas perusahaan mencapai Rp 860,55 miliar. Saham perusahaan dengan kode efek ELTY ini pada perdagangan Kamis, 5 April 2012, tidak bergerak di angka Rp 122 per saham.

Beda halnya dengan Bakrieland, emiten properti PT Agung Podomoro Land Tbk malah meraup untung yang cukup besar pada tahun lalu. Laba bersihnya melonjak 143 persen menjadi Rp 684,9 miliar dari sebelumnya Rp 281,8 miliar. Itu dipicu oleh pendapatan usaha perusahaan yang meroket 97,2 persen di 2011 menjadi Rp 3,8 triliun dari periode sebelumnya sebesar Rp 1,9 triliun.

Emiten properti lainnya, PT Alam Sutera Realty Tbk, juga mengalami peningkatan kinerja pada 2011. Laba bersihnya melesat 107,2 persen dari Rp 290,89 miliar pada 2010 menjadi Rp 602,73 miliar di tahun lalu.

SUTJI DECILYA
Jum’at, 06 April 2012 | 05:38 WIB
Duit-duit Negara untuk Lumpur Lapindo

TEMPO.CO , Jakarta : Saat menghadiri Kader Bangsa Fellowship Program di Yogyakarta pada 14 Maret 2012, Aburizal Bakrie mengaku menghabiskan Rp 9 triliun untuk mengganti lahan warga Lapindo. Pihaknya menyatakan sudah menyelesaikan proses jual-beli lahan lebih dari 90 persen.

Sedangkan harga tanah di lokasi semburan yang ia beli tanah sudah 10-20 kali lipat nilai jual obyek pajak. “Harga NJOP-nya Rp 60.000, kami jual Rp 1,2 juta,” kata pengusaha kelompok Bakrie sekaligus Ketua Umum Partai Golkar itu.

Ical kembali menyebut semburan Lapindo sebagai fenomena alam yang tidak pernah berhenti selama 30 tahun. “Bisa dibayangkan, tragedi muncrat lumpur ke permukaan mungkin dalam 30 tahun tak akan terselesaikan,” kata Ical. “Sebenarnya berat karena setiap bulan kami harus mengeluarkan dana Rp 100 miliar.”

Tapi baru-baru ini muncul informasi pemerintah kembali menganggarkan dana Rp 1,3 triliun anggaran perubahan 2012 untuk masalah yang ditimbulkan akibat pengeboran perusahaan Lapindo Brantas itu. (Baca: Negara Tanggung Korban Lapindo Rp 7,2 Triliun)

Dana itu sudah masuk Pasal 18 Undang-Undang APBN-Perubahan 2012. Dana yang dibebankan kepada negara ini akan dipakai buat melunasi pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar peta area bencana. (Baca: Negara Menanggung Ganti Rugi Lapindo)

Padahal pemerintah bukan tahun ini saja menggelontorkan duit dari pajak-pajak rakyat untuk masalah lumpur di Porong, Sidoarjo. Sejak 2006 APBN sudah dialokasikan. Berikut ini uang yang dikeluarkan negara:

2006 : Rp 6,3 miliar
2007 : Rp 500 miliar (terealisasi Rp 114,18 miliar)
2008 : Rp 1,1 triliun (terealisasi Rp 513,1 miliar)

2009 : Rp 1,1 triliun
– Untuk penyelesaian tanah 3 desa Rp 227 miliar
– Untuk relokasi arteri raya Porong Rp 523 miliar
– Untuk pembangunan infrastruktur Rp 241 miliar
– Untuk bantuan sosial kemasyarakatan Rp 59 miliar.
* (terealisasi Rp 592,1 miliar)

2010 : Rp 1,216 trilun
– Bidang pembangunan infrastruktur Rp 421 miliar
– Bidang sosial Rp 208 miliar antara lain untuk
a. Penyuluhan Rp 297 juta
b. Jual-beli tanah Rp 101 miliar
c. Pelatihan teknis Rp 761 juta.
– Bidang Operasi Rp 89 miliar antara lain untuk
a. Pengalihan lumpur ke Kali Porong Rp 48 miliar
b. Pengadaan alat berat Rp 39 miliar.
– Bidang Sekretariat, antara lain untuk
a. Pembayaran gaji Rp 12 miliar
b. Operasional kantor Rp 3 miliar.
*(terealisasi Rp 636 miliar)

2011 : Rp 1,2 triliun
2012 : Rp 1,3 triliun

WANTO | EVAN | PDAT | DIOLAH TEMPO
Perusahaan pengembang properti grup Bakrie, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan proyek-proyek terbarunya guna memperkuat pendapatan perseroan di tahun ini.

Proyek tersebut, di antaranya The Wave Condo stage 1B dengan total 300 unit dan 4-star condotel dengan total 485 unit.

Menurut Corporate Secretary Bakrieland, Santoso Budi, selain itu, setelah berhasil merampungkan tiga menara Rusunami pada akhir 2011 lalu dengan total 1.327 unit, perseroan juga mencanangkan proyek pengembangan kawasan, Central Business District (CBD) Sentra Timur Superblock yang terdiri dari condotel, shopping center, dan commercial park.

“Sedangkan unit usaha landed residential melalui Bogor Nirwana Residence akan meluncurkan Grand Cluster The Fusion yang mempunyai luas 30 hektare dengan enam klaster di dalamnya,” ujarnya melalui keterangan pers kepada VIVAnews di Jakarta, Senin 2 April 2012.

Sementara itu, Santoso menambahkan, pembangunan kawasan Sentul Nirwana tahap satu seluas 600 hektare sudah dimulai dengan memasarkan tiga klaster perumahan dan tahap pertama area komersial.

“Mengulang sukses The Jungle Waterpark, Sentul Nirwana juga tengah membangun Jungleland, yaitu sebuah theme park seluas 40 hektare dan tahap pertama diperkirakan selesai di tahun ini,” ujarnya.

Pada akhir 2011, dia mengungkapkan, melalui unit usaha hotel & resort, Bakrieland juga meluncurkan produk properti terbarunya di kawasan Nirwana Bali Resort, Tabanan Bali yaitu Eaton Luxe Nirwana Bali dengan total 178 unit yang merupakan strata hotel berbintang lima.

“Proyek-proyek baru yang ditawarkan di 2012 ini akan semakin memperkuat pendapatan Bakrieland, terlebih produk yang ditawarkan terletak di daerah pertumbuhan yang sangat strategis,” tutur Santoso.

Pendapatan Melonjak 47,5%
Sementara itu, Bakrieland Development berhasil mencatat kenaikan pendapatan signifikan pada akhir 2011, yakni melonjak 47,5 persen menjadi Rp2.017,3 miliar dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar Rp1.367,6 miliar.

Hal ini mendukung tercapainya laba kotor sebesar Rp958,2 miliar di 2011, atau meningkat sebesar 43,2 persen dibandingkan laba kotor 2010 yang mencapai Rp669,3 miliar.

Namun demikian, adanya kenaikan beban usaha mengakibatkan laba operasi terkoreksi menjadi Rp232,9 miliar di 2011 dibandingkan Rp241,7 miliar di tahun sebelumnya.

http://bisnis.vivanews.com/news/read/301052-bakrieland-luncurkan-proyek-topang-pendapatan

Sumber : VIVANEWS.COM
Produksi Naik, Penjualan Energi Mega Melonjak
Membaiknya kinerja perusahaan tersebut didorong oleh kenaikan harga jual minyak dan gas.
Sabtu, 31 Maret 2012, 16:13 WIB
Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – PT Energi Mega Persada Tbk meraih penjualan Rp2 triliun selama 2011. Perseroan juga mencatatkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp894 miliar.

Penjualan bersih dan EBITDA perusahaan itu masing-masing naik sebesar 69 persen dan 140 persen pada 2011 dibanding tahun sebelumnya. Kinerja keuangan Energi Mega juga semakin membaik dengan dibukukannya laba bersih sebesar Rp68 miliar.

Membaiknya kinerja perusahaan tersebut didorong oleh kenaikan harga jual minyak dan gas, peningkatan rata-rata produksi harian, dan biaya produksi yang semakin efisien.

“Kami cukup puas dengan kinerja produksi dan keuangan selama 2011,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada, Imam Agustino, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Sabtu 31 Maret 2012.

Agustino menjelaskan, lapangan minyak Pagerungan Utara (blok Kangean PSC, Jawa Timur) dan lapangan gas kami di Bentu PSC (Riau, Sumatera) mendominasi peningkatan produksi perusahaan sebesar 27 persen selama 2011.

Selain itu, tren pergerakan harga minyak dunia dan harga jual gas perusahaan yang semakin meningkat juga berkontribusi positif terhadap kinerja keuangan Energi Mega. “Kami lebih memfokuskan pemboran sumur-sumur pengembangan dan work-over dalam meningkatkan produksi dengan biaya yang lebih efisien,” ujarnya.

Agustino berharap perusahaan dapat membukukan kenaikan produksi yang signifikan pada 2012 dari lapangan gas di Terang (Kangean PSC, Jawa Timur), lapangan gas di Seng dan Segat (Bentu PSC, Riau), blok minyak Tonga PSC (Sumatera Utara), dan blok minyak serta gas Offshore North West Java (ONWJ) PSC yang baru diakuisisi diakhir tahun lalu.

• VIVAnews

Newmont Dorong Laba BRMS Jadi Rp664,7 Miliar

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Jumat, 30 Maret 2012 | 17:13 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) mencatatkan laba bersih menjadi Rp664,70 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp826,02 miliar.

Demikian seperti dikutip dari siaran pers yang diterima INILAH.COM, Jumat (30/3/2012). Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp182,96 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp148,50 miliar.

Laba berasal dari kepemilikan saham di PT Newmont Nusa Tenggara sebesar Rp1 triliun pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp2,13 triliun. Tingkat selisih kurs mata uang dan bunga turun menjadi Rp390,33 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp1,08 triliun.

Perseroan mencatatkan kas sebesar Rp129,19 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp913,75 miliar. Pinjaman jangka panjang perseroan mencapai Rp2,54 triliun pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp2,18 triliun. Adapun debt to equity perseroan mencapai 0,2x pada 2011 dan net debt to equity sebesar 0,1x pada 2011 dari periode sama sebelumnya 0,06x.

Perusahaan asosisiasinya PT Newmont Nusa Tenggara mengalami penurunan produksi tembaga dan emas di atas 47%. Namun kinerja perseroan didukung dari harga jual tembaga dan emas oleh perusahaan meningkat masing-masing sebesar 3% dan 28%, sedangkan beban bunga menurun sebesar 64% dari tahun sebelumnya.

Direktur Utama PT Bumi Resources Mineral Tbk Ken Farrel menuturkan, penurunan produk PT Newmont Nusa Tenggara yang bersifat sementara ini telah diantisipasi sebelumnya yang dikarenakan oleh pengembangan fase 6 di tambang Batu Hijau yang sedang berjalan. “Setelah pengembangan fase 6 ini diselesaikan pada akhir tahun ini NNT diharapkan dapat meningkatkan produksi tembaga dan emasnya secara signifikan pada 2013,” tambah Ken.

Pihaknya mengharapkan dapat segera memulai produksi bijih besi dari konsesi perseroan di Mauritania pada semester pertama 2012. Adapun pemboran eksplorasi di konsesi tembaga dan emas yang dioperasikan oleh Gorontalo Minerals dan Citra Palu Minerals diharapkan akan selesai sebelum akhir tahun ini. [hid]

Ups! Bakrie Telecom Rugi Rp782,69 M di 2011

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Jumat, 30 Maret 2012 | 17:26 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatatkan rugi sebesar Rp782,69 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya untung Rp9,97 miliar.

Demikian seperti dikutip dari laporan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (30/3/2012). Pendapatan usaha perseroan juga mengalami penurunan menjadi Rp3,19 triliun pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp3,44 triliun.

Laba usaha perseroan turun menjadi Rp174 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp190,80 m iliar. Beban pajak perseroan meningkat menjadi Rp205,20 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp82,55 miliar.

Total aktiva perseroan turun menjadi Rp12,21 triliun pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp12,35 triliun. Kewajiban perseroan naik menjadi Rp7,84 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp7,15 miliar. Ekuitas perseroan turun menjadi Rp4,36 triliun pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp5,19 triliun.

Laba bersih per saham rugi 27,47 pada 2011 dari periode sama sebelumnya 0,35. Pada perdagangan saham Jumat (30/3/2012), saham BTEL naik 4,08% menjadi Rp255 per saham. [hid]

Bumi Minerals Raup Laba Rp664 Miliar
Pada 2011, harga jual tembaga dan emas meningkat masing-masing 3 persen dan 28 persen.
Jum’at, 30 Maret 2012, 16:30 WIB
Syahid Latif

VIVAnews – PT Bumi Resources Minerals Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp664 miliar dengan pendapatan Rp182 miliar selama 2011. Namun, perseroan mengalami penurunan produksi tembaga dan emas di atas 47 persen dari perusahaan asosiasinya, PT Newmont Nusa Tenggara.

“Secara keseluruhan, Bumi Resources Minerals mampu membukukan kinerja keuangan yang cukup baik pada 2011,” kata Direktur Utama Bumi Resources Minerals, Ken Farrell, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Jumat 30 Maret 2012.

Membaiknya kinerja perseroan, Farrell mengatakan, karena kenaikan harga jual komoditas tembaga dan emas, dan penurunan beban bunga perusahaan. Pada 2011, harga jual tembaga dan emas meningkat masing-masing sebesar 3 persen dan 28 persen. “Sedangkan beban bunga turun sebesar 64 persen dari tahun sebelumnya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, walaupun Newmont Nusa Tenggara mengalami penurunan produksi, kenaikan harga jual tembaga dan emas Bumi Resources Minerals, serta penurunan beban bunga mampu menjaga kinerja laba. “Kami juga telah berhasil melunasi sebagian pinjaman dalam 12 bulan terakhir,” ujarnya.

Rasio pinjaman bersih terhadap modal perseroan masih cukup baik di level 0,1 kali.

Menurut Farrell, penurunan produksi Newmont Nusa Tenggara yang bersifat sementara itu telah diantisipasi sebelumnya, karena ada pengembangan fase 6 di wilayah tambang Batu Hijau yang sedang berjalan. Setelah pengembangan fase 6 itu diselesaikan pada akhir tahun ini, Newmont Nusa Tenggara diharapkan dapat meningkatkan produksi tembaga dan emasnya secara signifikan pada 2013.

“Kami juga berharap dapat segera memulai produksi bijih besi dari konsesi di Mauritania pada semester pertama tahun ini,” ujarnya.

Adapun pemboran eksplorasi di konsesi tembaga dan emas yang dioperasikan oleh Gorontalo Minerals dan Citra Palu Minerals diharapkan selesai sebelum akhir tahun ini. (art)

• VIVAnews
REVIEW EMITEN: BTEL terancam default?

Oleh Bastanul Siregar

Kamis, 22 Maret 2012 | 07:10 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: Setelah PT Berlian Laju Tanker Tbk dan PT Davomas Abadi Tbk gagal melunasi utang obligasinya tepat sesuai tenggat, kini giliran PT Bakrie Telecom Tbk ‘masuk kotak’.

Lembaga pemeringkat S&P menyebut ada risiko dan ketidakpastian yang kritikal dalam upaya operator seluler berbasis CDMA itu dalam menggali dana senilai total US$120 juta.

Dana US$120 juta tersebut menurut rencana akan dipakai untuk membayar obligasi Rp650 miliar yang jatuh tempo September 2012, serta membiayai belanja modal tahun ini US$50-US$70 juta.

Manajemen BTEL mengupayakan penyediaan dana tersebut dari dua sumber, yakni US$70 juta dari non-preemptive rights, dan US$50 juta dari pinjaman bank.

Masalahnya, baik izin non-preemptive maupun negosiasi pinjaman masih belum clear. Apakah BTEL akan berhasil? Atau malah gagal? Berikut informasi emiten selengkapnya, Kamis 21 Maret 2012:

BTEL

Status rating CCC-nya turun jadi ‘creditwatch with developing implications’ (S&P)

LPKR

Laba bersih +37% ke Rp814,09 miliar, pendapatan +34% ke Rp4,19 triliun

DAVO

Rating turun dari Caa3 menjadi Ca (Moody’s)

LPCK

Laba bersih +295% ke Rp257,68 miliar, pendapatan +123% ke Rp902,46 miliar.

INTP

Penjualan 2011 naik 15,2% ke 16 juta ton semen

MPPA

Laba bersih ‘riil’ -60% ke Rp120,29 miliar, penjualan +4,3% ke Rp8,91 triliun

MYOH

Anak usaha, PT Sims Jaya Kaltim, raih US$3,5 juta dari Citibank, N.A. (Bsi)
Kekayaan Bos Alfamart Kalahkan Aburizal Bakrie
| Tri Wahono | Kamis, 24 November 2011 | 15:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Djoko Susanto, bos industri ritel PT Sumber Alfaria Trijaya atau yang dikenal dengan Alfamart, masuk dalam jajaran miliarder baru di Indonesia. Bos Alfamart ini, menurut majalah Forbes, Kamis (23/11/2011), memiliki harta kekayaan sebesar 1,040 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9,36 triliun.

Total kekayaan Djoko yang memulai bisnisnya dari satu kios kelontong berukuran 560 meter persegi bernama Sumber Bahagia (sumber kebahagiaan) di Pasar Arjuna, Jakarta, ini berhasil mengalahkan total kekayaan pengusaha ternama Aburizal Bakrie. Bos Alfamart ini berhasil menduduki posisi orang terkaya ke-25 atau lima peringkat di atas Aburizal Bakrie.

Berdasarkan data majalah Forbes, kekayaan Ical, demikian kandidat calon presiden 2014 ini disapa, sebesar 890 juta dollar AS atau Rp 8,01 triliun. Dengan jumlah kekayaan tersebut, Ical bertengger di posisi ke-30.

Peningkatan harta kekayaan Djoko ini luar biasa. Sebelumnya, pada pengumuman daftar orang terkaya di Indonesia 2010, namanya tidak masuk dalam daftar 40 orang terkaya.

Sementara itu, posisi teratas masih diduduki Hartono bersaudara.(Tribunnews.com/ Andri Malau)
Rabu, 14/03/2012 18:06 WIB
Bakrie Tawarkan Saham Operator Esia ke Sampoerna, Incar Rp 900 Miliar
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Grup Bakrie berniat menjual sebagian saham operator Esia, PT Bakrie Telecom Tbk, ke Grup Sampoerna. Dana yang bisa diraup dari penjualan saham ini senilai Rp 900 miliar.

Menurut salah satu eksekutif di Grup Sampoerna, tawaran itu masuk ke salah satu lini bisnis telekomunikasi Sampoerna, yaitu PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, yang selama ini dikenal dengan merek CDMA Ceria.

“Penawaran itu diberikan ke keluarga Sampoerna, untuk lini bisnis telekomunikasinya,” kata eksekutif yang tidak mau disebutkan namanya itu kepada detikFinance, Rabu (14/3/2012).

Ia menambahkan, saat ini penawaran tersebut sudah masuk dan pihak Sampoerna sedang melakukan pembahasan. Namun, kedua pihak belum sempat melakukan pertemuan terkait aksi korporasi tersebut.

Seperti diketahui, salah satu anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) itu sudah menjual sebagian sahamnya. Perseroan meraup dana Rp 1,46 triliun dari aksi korporasi tersebut.

Jumlah saham yang dilepas sebanyak 4,3 miliar lembar atau setara 15%. Sementara harga transaksi dipatok Rp 340 per saham.

Selain itu, Grup Bakrie juga sudah melepas sebagian sahamnya di PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Perseroan sudah meraup dana Rp 56,25 miliar.
(ang/dnl)
Investor Timur Tengah Bidik Saham ELTY?

Oleh:
Pasar Modal – Selasa, 6 Maret 2012 | 08:25 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Konsorsium fund manager asing disebut-sebut tengah memburu saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).

Hal ini seiring dengan rencana perseroan yang ingin membangun ruas tol baru. Selain itu, seorang pelaku pasar menyebutkan pengembang ternama asal Timur Tengah sedang mengincar saham ELTY, sehingga harganya diperkirakan akan menembus level Rp200 dalam waktu dekat.

Pada perdagangan kemarin saham ELTY ditutuop naik Rp1 (0,78%) ke level Rp129.

ELTY Siap Bayar Kupon Obligasi Rp8,9 Miliar

Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Sabtu, 3 Maret 2012 | 12:32 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakriland Development Tbk (ELTY) telah menyiapkan dana pembayaran kupon Obligasi I Bakrieland Development Tahun 2008 sebesar Rp8,9 miliar.

Demikian mengutip keterbukaan inforamsi yang diterbitkan BEI, kemarin. Pembayaran tersebut untuk kupon obligasi ke-16 dari Obligasi I Bakrieland Development Tahun 2008.

Pembayaran tersebut akan dilakukan ke agen pembayaran yaitu PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) paling lambat 9 Maret 2012.

Ingin Mendunia, Bakrie Sumatera Perkuat Riset
Tanpa pengembangan riset, RI akan tertinggal dalam 10 tahun sampai 15 tahun ke depan.
Jum’at, 2 Maret 2012, 10:54 WIB
Syahid Latif

VIVAnews – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk meneguhkan niat untuk menjadi perusahaan perkebunan terintegrasi yang tangguh. Salah satu upaya perusahaan adalah pengembangan teknologi baru yang akan menunjang proses produksi.

Untuk itu, Bakrie Sumatera melalui unit kerjanya Bakrie Agriculture Research Institute (BARI) menjalin kesepakatan kerja sama dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan Pusat Penelitian Karet Indonesia.

Kerja sama itu diharapkan dapat meningkatkan peran BARI sebagai unit kerja yang produktif melakukan kajian dan temuan paket teknologi baru yang aplikatif bagi proses produksi Bakrie Sumatera.

“Kami di Bakrie Sumatera memiliki cita-cita besar. Kami ingin menjadi global company yang kuat,” kata Howard J Sargeant, direktur Bakrie Sumatera dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Jumat 2 Maret 2012.

Sargeant menjelaskan, untuk merealisasikan cita-cita itu, salah satu syaratnya adalah dengan mengembangkan Research and Development atau Litbang. “Karena itu, kami ingin menjadikan BARI sebagai lembaga riset yang kuat dan tangguh,” ujarnya.

Penandatanganan kerja sama antara Bakrie Sumatera melalui BARI dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit serta Pusat Penelitian Karet Indonesia itu telah dilakukan, kemarin, 1 Maret 2012 di Medan.

BARI adalah unit kerja Bakrie Sumatera yang dibangun di daerah Kisaran, Sumatera Utara, dengan investasi sekitar Rp12,5 miliar. Lembaga tersebut, menurut Sargeant, dibangun dengan tugas dan fungsi riset yang komprehensif di bidang perkebunan agribisnis, khususnya perkebunan kelapa sawit dan karet.

Sementara itu, untuk menjadi perusahaan perkebunan yang besar dan mendunia, Bakrie Sumatera Plantations memang sudah selayaknya memiliki dan mengembangkan unit kerja riset. Untuk menjadi pemain besar di tingkat global, sebagai perusahaan global yang disegani dan dikagumi, Bakrie Sumatera harus memiliki dan mengembangkan riset yang kuat.

Presiden Direktur Bakrie Sumatera, Ambono Janurianto, menjelaskan, tantangan yang dihadapi oleh industri perkebunan kelapa sawit dan karet ke depan dipastikan akan semakin berat. Indonesia, menurut Ambono, harus harus lebih memprioritaskan riset yang kuat di bidang perkebunan untuk memenangi persaingan global.

“Tanpa pengembangan riset, Indonesia akan tertinggal dalam 10 tahun sampai 15 tahun mendatang,” ujarnya.

Pada 2010, Indonesia memiliki sekitar 8 juta hektare perkebunan kelapa sawit yang menghasilkan 22,7 juta ton minyak kelapa sawit mentah (CPO). Sementara itu, Malaysia menghasilkan 17,5 juta ton CPO dari lahan sedikitnya 5 juta hektare.

Namun, minimnya perhatian pemerintah terhadap penelitian dan pengembangan membuat produktivitas CPO Indonesia masih rendah. Menurut Ambono, pemerintah sebaiknya mengembalikan sebagian dana dari bea keluar CPO untuk mendukung riset, terutama bagi petani kelapa sawit. (art)
• VIVAnews

BTEL akan Terbitkan Saham Baru hingga 10%

Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Jumat, 2 Maret 2012 | 02:49 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) akan menerbitkan saham baru melalui non preemtive rights 10% senilai Rp900 miliar untuk menyelesaikan beban utang yang jatuh tempo tahun ini.

Perseroan akan mengumumkan rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau non-HMTED ini, pada pertengahan bulan Maret ini. Dalam aksi korporasi ini, salah satu perusahaan telekomunikasi nasional menjadi standby buyer.

“Kami tetap yakin industri ini adalah high growth industry. Oleh karena itu, BTEL perlu menyehatkan dan memperkuat struktur modal untuk melayani pelanggan yang lebih banyak,” kata Presdir BTEL, Anindya Novyan Bakrie, Kamis (1/3/2012) di Jakarta.

Selain untuk melunasi utang obligasi, dana hasil aksi tersebut juga akan digunakan untuk membayar utang yang belum jatuh tempo. Perseroan memiliki utang yang jatuh tempo sebesar Rp650 miliar pada 4 September tahun ini.
2011, Newmont Cuma Setor Royalti Rp168,4 Miliar
Gina Nur Maftuhah & Yuni Astutik – Okezone
Kamis, 23 Februari 2012 14:10 wib
JAKARTA – PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) hanya memberikan royalti sebesar Rp168,4 miliar pada 2011.

Untuk informasi, NNT hanya memberikan royalti sebesar satu persen kepada pemerintah. Pemerintah pun, dalam renegoisasi kontrak karya, akan meminta kenaikan royalti menjadi tiga persen.

“NNT telah menyetorkan Rp7,405 triliun terkait semua kewajiban keuangan kepada Pemerintah Republik Indonesia berupa pajak, non-pajak dan royalti sesuai dengan ketentuan Kontrak Karya,” jelas Presiden Direktur NNT Martiono Hadianto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (23/2/2012).

Dia mengatakan, pembayaran terbesar adalah pajak penghasilan badan sebesar Rp6,179 triliun, disusul pajak penghasilan lainnya sebesar Rp270,9 miliar, pajak atas dividen sebesar Rp217,5 miliar dan pajak penghasilan karyawan sebesar Rp224,2 miliar.

Menurut Martiono, nilai pembayaran pajak 2011 lebih besar dari 2010 dengan nilai sebesar Rp5,967 triliun. Peningkatan ini disebabkan adanya pembayaran PPh Badan tahun pajak 2010 yang dibayarkan di 2011 pada saat penyampaian SPT.

ejak 1999 hingga 2011, Newmont telah menyetor pajak, nonpajak royalti, pembelian barang dan jasa dari lokal maupun nasional, serta program pengembangan masyarakat sebesar Rp60,677 triliun kepada negara.

Selain memberikan manfaat keuangan langsung kepada pemerintah, keberadaan NNT juga memberikan manfaat ekonomi lainnya melalui pembayaran gaji kepada lebih dari 4.000 karyawan NNT dan 3.000 karyawan kontraktor, pembelian barang dan jasa dari lokal maupun nasional, serta program-program pengembangan masyarakat.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan, pemerintah akan segera membicarakan poin-poin renegosiasi kontrak karya, salah satunya adalah poin tentang royalti yang akan ditingkatkan. “Tentu jangan satu persen dong, masa cuma satu persen,” ungkapnya belum lama ini.

Sebagai gambaran, Direktur Utama PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Ken Farrell mengungkapkan hingga September 2011, setoran NNT kepada BRMS telah mencapai Rp921,06 miliar.

Setoran ini merupakan pembayaran dividen dari kepemilikan 24 persen saham divestasi NNT oleh anak usaha BRMS, PT Multi Daerah Bersaing (MDB). Menurutnya, setoran NNT ini turun dari tahun sebelumnya.

“Tahun lalu, setoran dividen NNT ke BRMS mencapai Rp1,722 triliun. Namun karena produksi emas dan tembaga Batu Hijau tahun ini turun 40 persen, maka BRMS hanya dapat jatah Rp921,06 miliar,” kata Ken Farrel, November lalu. (wdi)

Bakrie Power bangun PLTU di Kutai Timur
Oleh Petrus Dabu – Selasa, 14 Februari 2012 | 16:32 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bakrie Power akan menanam investasi US$ 340 juta untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Sangata, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Ali Herman, Direktur Utama Bakrie Power mengungkapkan, kapasitas produksi listrik pembangkit itu mencapai 2×100 megawatt (MW). “PLTU itu sudah direncanakan 2008, saat itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meminta pengembangan listrik di Kalimantan Timur,” ujar Ali Herman kepada KONTAN, Senin (13/2).

Bakrie Power, kata Ali, membutuhkan waktu 48 bulan untuk menyelesaikan proyek pembangkit tersebut. Minggu lalu, kata dia pihaknya sudah melakukan mempresentasi rencana proyek kepada pemerintah daerah provinsi Kalimantan Timur dan pemerintah daerah Kutai Timur.

Agar bisa beroperasi, PLTU akan membutuhkan 1 juta ton batubara per tahun. Sumber batubara itu akan dipasok dari PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Sementara, listrik dari PLTU tersebut akan dijual ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), untuk memperkuat pasokan listrik ke sistem kelistrikan di Kalimantan Timur.

Namun, saat ini kata Ali, Bakrie Power belum membicarakan perjanjian jual beli listrik dengan pihak PLN. “Harga listrik kami tentu harus bersaing,” harapnya.

Dalam catatan KONTAN, PT Bakrie Power kini memiliki tiga proyek listrik, pertama, PLTU Tanjung Jati A di Cirebon, berkapasitas 2×660 MW. Kedua, PLTP Telaga Ngebel, di Jawa Timur dengan kapasitas 3×65 MW, dan ketiga PLTP Sokaria di Ende-Flores dengan kapasitas 3×10 MW.

Perjanjian jual beli listrik ketiga proyek ini belum dilakukan. Saat ini proses negosiasi term-term dalam perjanjian jual beli listrik sedang dilakukan antara Bakrie Power dengan PLN.

JAKARTA–MICOM: Usai meraih izin penambangan di kawasan Tamagot, Afrika Selatan, perusahaan tambang PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) bakal meraup laba bersih sebelum perhitungan beban bunga, pajak depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp162 miliar atau US$18 juta.

“Total EBITDA di sana US$30 juta. Dengan kepemilikan kami sebesar 60%, maka porsi laba sebesar US$18 juta,” kata Wakil Presiden Direktur Bidang Investor Relation Herwin H Hidayat dalam media gathering akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, BRMS telah mendapatkan izin penambangan di di kawasan Tamagot pada Januari 2012. Eksploitasi di area tambang seluas 990 km2 bakal dimulai pada kisaran April -Mei atau kuartal pertama tahun ini.

“Kami optimistis dengan estimasi perolehan laba dari konsesi tambang bijih besi di Mauritania, Afrika Barat, tersebut,” tandasnya.

Pihaknya mengoperasikan tambang tersebut melalui anak usaha Tamagot Bumi SA. “Produksi awal bijih besi ditargetkan mencapai 600 ribu ton dan secara bertahap menjadi 1 juta ton pada 2014,” ujar Herwin.

Perseroan juga telah menetapkan harga jual bijih besi sebesar US$90-US$100 per metrik ton. Penjualan kotor diperkirakan sebesar US$60 juta atau mencapai Rp540 miliar. (WR/OL-5)

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/24/293471/21/2/Bumi-Resources-Harap-Laba-Tambang-Mauritania-Rp162-Miliar

Sumber : MEDIA INDONESIA
BNBR berniat melepas kepemilikan sahamnya di PT Bakrie Tosanjaya, PT Bakrie Pipe Industries (BPI) dan PT South East Asia Pipe Industries (SEAPI). Mekanisme penjualan saham ketiga perusahaan tersebut tidak sama. Bakrie Tosanjaya yang bergerak di bisnis pabrikasi besi cor, akan ditawarkan melalui initial public offering (IPO) yang rencananya digelar antara akhir tahun ini hingga awal tahun depan dengan target perolehan dana Rp 1 triliun. BNBR menargetkan nilai aset Bakrie Tosanjaya bisa mencapai Rp 2,5 triliun saat IPO, saat ini nilai asetnya masih berkisar Rp 457,43 miliar. BPI dan SEAPI akan ditawarkan BNBR ke sejumlah investor di Eropa, Amerika Latin dan Asia. Rencananya perseroan akan melepas sekitar 40% dari total kepemilikan.

Sumber : IPS RESEARCH
ENRG berniat melakukan refinancing utang US$ 200 juta tahun ini. Perseroan tercatat memiliki utang ke Credit Suisse sebesar US$ 200 juta, yang jatuh tempo pada Oktober 2013 yang dikenakan bunga 12%.

Sumber : IPS RESEARCH
BNBR mencatatkan penurunan posisi utang menjadi Rp 5,5 triliun setelah menyelesaikan transaksi penjualan saham Bumi Plc. BORN telah resmi mengempit 23,8% saham milik Bumi Plc dan sebagai gantinya, BORN memberikan dana segar mencapai US$ 1 miliar kepada Grup Bakrie yaitu BNBR dan Long Houl. BNBR memiliki jatah pembayaran ke Credit Suisse sebesar US$ 445 juta.

Sumber : IPS RESEARCH
Harga Saham BUMI Terpicu IHSG & Rothschild

Oleh: Agustina Melanie
Pasar Modal – Minggu, 22 Januari 2012 | 11:01 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ditutup di level Rp2.525 pada perdagangan saham Jumat (20/1). Harga saham BUMI sepekan dinilai dipengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Pergerakan saham BUMI sejalan dengan penguatan indeks saham sehingga menguat selama sepekan ini,” ujar Analis PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada saat dihubungi INILAH.COM, Jumat (20/1).

Lebih lanjut ia menuturkan, kenaikan harga kontrak batu bara juga turut memberikan sentimen positif terhadap perkembangan harga saham BUMI. Harga kontrak baru bara menembus level US$116. Selain itu, sentimen positif yang mempengaruhi saham BUMI yaitu ada titik temu antara manajemen Bakrie dan Rothschild.

“Ada kesepakatan damai antara Bakrie dan Rothschild turut memberi sentimen positif terhadap harga saham BUMI. Dengan kesepakatan itu ada upaya bersama untuk melanjutkan usaha,” ujar Reza.

Hal senada dikatakan Kepala Riset PT Universal Broker Satrio Utomo. Menurutnya, ada kesepakatan damai antara Bakrie dan Rothschild yang turut memberi sentimen positif terhadap harga saham BUMI.

Penurunan harga saham BUMI ke level Rp2.525 pada perdagangan saham Jumat dari sehari sebelumnya terdorong aksi profit taking oleh investor. “Pelemahan harga saham BUMI pada akhir pekan ini karena ada aksi profit takinhg. Saya masih rekomendasikan buy on weakness untuk saham BUMI,” tutur Satrio.

Seperti diketahui, harga saham BUMI ditutup ke level Rp2.475 pada perdagangan saham Senin (16/1), lalu terus menguat ke level Rp2.500 pada perdagangan saham Selasa (17/1). dan kembali menguat ke level Rp2.525 pada perdagangan saham Rabu (18/1). Saham BUMI terus melanjutkan penguatan ke level Rp2.575 pada Kamis (19/1). [mdr]

Jumat, 20/01/2012 17:04 WIB
Perusahaan Migas Grup Bakrie Bidik Omzet Rp 4 Triliun.
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) optimis akan kinerjanya tahun 2012, setelah mengakuisisi blok Offshore North West Java (ONWJ) dan beroperasinya blok Kangean. Pendapatan perseroan bakal tembus angka Rp 4 triliun.

“Revenue tahun bisa bisa Rp 4 triliun lebih,” kata Direktur Keuangan ENRG, Didit Ratam di Bakrie Tower, Jakarta, Jumat (20/1/2012).

Perseroan baru saja mengakuisisi 36,7% kepemilìkan CNOOC ONWJ Ltd. di blok ONWJ. Aset ini langsung mengkontribusi produksi 23 ribu barel ekuivalen per hari (boe), dari total rata-rata volume 62 ribu boe di blok tersebut.

Sementara blok Kangean ini memproduksi gas sebesar 25.000 mmcfd. Kontribusi di kedua blok ini langsung mengangkat kinerja perseroan di 2012.

Direktur Utama ENRG, Imam P Agustino, menambahkan, hingga akhir 2011 pendapatan perseroan akan naik menjadi Rp 1,8 triliun, dari periode September 2011 Rp 1,25 triliun (ekuivalen US$ 151 juta).

“Tahun ini bisa melonjak. Lebih dari double. Karena Kangean yang sudah produksi,” tegasnya. EBITDA juga ditargetkan naik menjadi US$ 80 juta.

Total produksi perseroan tahun ini juga diprediksi mencapai 40 ribu barrel oil equivalent per day, meski peak daily production ENRG dapat menyebtuh angka 60,8 ribu boe per day.

Selain Kangean dan ONWJ, kontribusi produksi perseroan di dapat dari blok Bentu sekitar 5 ribu mmcfd.

(wep/ang)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: