Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Februari 5, 2012

perdamaian @bumi … 300612

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 11:32 pm

Jum”at, 29 Juni 2012 | 20:43 WIB
Ical Janji Soal Lapindo Tuntas Akhir 2012

TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie berjanji akan menuntaskan kasus Lapindo paling lama akhir 2012. Pernyataan ini menjawab permintaan beberapa pengurus Dewan Pimpinan Daerah Provinsi dalam rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Golkar ketiga, di Hotel Aston Bogor, Jumat, 29 Juni 2012.

“Ada saran dari saudara DPD agar masalah Lumpur Sidoarjo dapat diselesaikan tahun ini, saya jawab insyaallah akan diselesaikan akhir tahun ini,” kata Aburizal usai mendengar pandangan umum dari 33 DPD Provinsi dan 10 organisasi masyarakat pendiri dan yang didirikan Golkar.

Sebelumnya, ketua DPD DI Yogyakarta, Gandung Pardiman mengatakan seluruh DPD Kabupaten dan Kota di daerahnya mendukung pencalonan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden dari partai Golkar. Namun, dia meminta begitu menjadi presiden, Ical -sapaan Aburizal- bisa menuntaskan kasus Lapindo. “Lumpur Lapindo itu masalah kecil, jangan sampai muncul keraguan masyarakat menyelesaikan masalah Lapindo saja sulit apalagi menyelesaikan masalah bangsa yang lebih besar,” kata Gandung.

Senada dengan Gandung, Ketua DPD Jawa Timur, Martono mengatakan meski pun masalah Lapindo hanya kecil dibanding masalah bangsa lainnya, namun tetap akan berdampak bagi pencalonan Aburizal sebagai calon presiden.

Apalagi semburan itu terjadi di daerah Jawa Timur yang mengantongi sekitar 30,5 persen suara dalam pemilu 2014 nanti. ” Sekretaris kami sudah berkali-kali datang ke sana memberi pengertian pada masyarakat namun isu ini tetap bisa dimanfaatkan oleh orang luar Golkar.”

Marwoto agar Aburizal segera menuntaskan ganti rugi masyarakat di sekitar semburan lumpur akibat aktivitas perusahaan milik Aburizal, PT Lapindo Brantas. “Kami usulkan kasus ini bisa diselesaikan selambat-lambatnya akhir 2012.”

Lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, menyembur sejak 29 Mei 2006. Semburan lumpur ini menggenangi kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di beberapa kecamatan di sekitar Porong.

IRA GUSLINA SUFA
Keluarga Bakrie Buktikan Komitmen Bayar Rp50 M
Oleh:
nasional – Minggu, 17 Juni 2012 | 18:06 WIB

INILAH.COM, Sidoarjo – Keluarga Bakrie melalui PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) kembali melaksanakan komitmennya membayar tanah dan bangunan warga korban lumpur Sidoarjo sesuai Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007.

Dalam rilis yang diterima INILAH.COM, Minggu (17/6/2012), MLJ telah mentransfer dana sebesar total Rp50 miliar untuk sekitar 4.000 berkas milik warga dalam Area Terdampak.

“Ini bentuk komitmen dari janji kami untuk tetap melakukan pembayaran. Jumlah tersebut merupakan bagian dari sisa keseluruhan berkisar 900 miliar rupiah, yang akan selesai dalam skema pembayaran hingga akhir tahun ini. Dalam pembayaran ini, 500 berkas dengan nilai aset di bawah 500 juta rupiah telah lunas,” kata Direktur MLJ, Andi Darussalam Tabusala, yang tengah dirawat di Singapura.

Menanggapi pembayaran oleh PT MLJ, Bupati Sidoarjo Syaifullah mengungkapkan apresiasinya terhadap langkah MLJ melanjutkan pembayaran bagi warga.

“Karena merasa ikut bertanggung jawab, saya sempat ke Jakarta untuk menanyakan kelanjutan pembayaran ini. Ternyata dari yang saya tahu Keluarga Pak Nirwan habis-habisan cari duit untuk membantu warga. Keterlambatan yang sempat ada karena Pak Andi (direktur MLJ) sedang dirawat di Singapura, setelah saya cek anak buahnya sudah menyiapkan keperluan dana bagi warga,” ujarnya di Sidoarjo, Sabtu (16/6/2012).

Menurutnya, warga tidak perlu mengkhawatirkan kelanjutan pembayaran berikutnya. ”MLJ sudah membuat komitmen memakai notaris di hadapan Menteri PU, dan Pemprov Jatim dan forum pimpinan daerah lainnnya. Sangat disayangkan masih ada warga yang melakukan aksi sampai jalan kaki ke Jakarta. Itu karena ketidaktahuan mereka terhadap iktikad Keluarga Bakrie. Bahkan sebenarnya banyak warga korban lumpur yang sekarang lebih makmur, rumahnya lebih bagus daripada sebelumnya. Jadi intinya warga tidak perlu khawatir, semua akan dilunasi hingga akhir tahun ini,” ucap dia.

Salah satu penerima ganti rugi, H Suprapto, 58 tahun, penghuni RT 12/ RW 3 Desa Jatirejo Kecamatan Porong, membenarkan telah menerima transfer pembayaran itu. Pria yang telah menempati rumah barunya yang asri di RT20/ RW10 Desa Wonomlati, Kecamatan Krembung ini mengaku tidak pernah meragukan komitmen MLJ terhadap warga korban lumpur.

“Kalau dijual normal, belum tentu aset rumah dan tanah saya bisa laku 230 juta seperti yang diberikan MLJ. Ini ganti untung,” ujarnya.

Pensiunan pabrik gula ini menjelaskan, putra pertamanya yang berprofesi guru SMP telah ia belikan rumah seluas 90 meter persegi dan membangun rumah.

“Selain itu saya telah berhasil membawa anak ke-3 saya menjadi guru SMKN 1 di Krian, dan menguliahkan yang bungsu di jurusan Psikologi, Universitas Negeri Surabaya.

Tidak jauh berbeda, Imron Rosyadi, 43 tahun, kini warga Desa Kenongo, Kecamatan Tulangan, RT8/RW3 mengaku optimis Keluarga Bakrie akan tetap memperhatikan nasib warga.

“Saya selalu ingat wasiat Almarhumah Hajah Rosmiah, ibunda dari Pak Nirwan yang meminta apapun yang terjadi, harus tetap menyelesaikan masalah ini. Saat Ultah ke-83, beliau meminta agar keluarga tetap membayar kerugian warga, “ katanya.

Pengusaha persewaan alat pesta pernikahan ini tidak mengira, sejak lumpur menenggelamkan rumahnya di RT6/ RW2, Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin pada Juni 2006, kini perekonomiannya semakin membaik seiring kemajuan usahanya. [bar]

JAKARTA – Sisa dana keseluruhan nasabah Bakrie Life yang belum dibayarkan asuransi Bakrie Life sebesar Rp270 miliar.

“Secara keseluruhan dana yang belum dicairkan Rp270 miliar,” ungkap Yoseph, salah satu nasabah asuransi Bakrie Life, di Kantor Bapepam-LK, Jakarta, Kamis (14/6/2012).

Yoseph mengatakan, pihaknya sangat mengharapkan sisa dana sebesar Rp270 miliar segera dikembalikan. Ini karena nasabah yang mengikuti asuransi Bakrie Life umumnya adalah kelompok rumah tangga yang sangat membutuhkan biaya.

“Kasihan kalau rumah tangga yang ikut Bakrie Life ini nasibnya terkatung-katung,” tutur Yoseph.

Yoseph mengatakan, sebelumnya para nasabah sangat percaya terhadap asuransi Bakrie Life, namun ketika terjadi gagal bayar para nasabah mulai resah dan kapok untuk berinvestasi lagi.

“Bakrie Life itu kan terdengar besar, tetapi kenapa sisa Rp270 miliar susah sekali untuk di bayar,” tutur Yoseph.

Para nasabah sangat berharap agar Bakrie Life segera mengembalikan sisa uang sebesar Rp270 miliar sesegera mungkin mengingat kondisi para nasabah saat ini amat bergantung pada uang tersebut

http://economy.okezone.com/read/2012/06/14/278/647434/sisa-dana-nasabah-bakrie-life-rp270-miliar

Sumber : OKEZONE.COM
Nasabah Bakrie Life: Calon Presiden RI Tak Boleh Rugikan Rakyat!
Herdaru Purnomo – detikfinance
Senin, 28/05/2012 15:26 WIB
Jakarta – Nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) merasa dikecewakan kembali oleh manajemen. Pasalnya, janji Bakrie Life kepada nasabah lagi-lagi dilanggar.

“Kami Nasabah Diamond Investa Bakrie Life telah dikecewakan lagi oleh manajemen Bakrie life. Mereka berjanji akan membayar manfaat investasi Desember 2011 dam Januari 2012 kurang lebih Rp 2,5 miliar selalu tidak ditepati apalagi dana pokok nasabah yang masih berjumlah kurang lebih Rp 270 miliar yang belum dibayar kepada kurang lebih 200 orang,” jelas Perwakilan Nasabah Bakrie Life, Freddy ketika dihubungi detikFinance di Jakarta, Senin (28/5/2012).

“Kami heran mengapa Group Bakrie selalu berbohong dan mentelantarkan nasabah dengan mengutus orang-orang yang tidak bisa mengambil keputusan dalam rapat segitiga antara Bapepam-LK, Nasabah dan Manajemen Bakrie Life/Bakrie Capital Indonesia,” imbuh Freddy kembali.

Menurut Freddy, nasabah dan Bapepam-LK yang memang utusan Menteri Keuangan telah dilecehkan.

“Bayangkan saja kalau mereka menjadi di pihak Nasabah, apakah mau diperlakukan seperti ini? Selalu dibohongi selama kurang lebih 3 tahun,” tegasnya.

Freddy dan para nasabah berharap nantinya petinggi Bakrie Group saat ini yakni Aburizal Bakrie bisa ikut terjun langsung membantu para ‘korban’ asuransi ini. Freddy bahkan meminta seluruh grup ikut merasakan penderitaan nasabah.

“Kami mohon sebagai pemilik Group Bakrie dan disebut sebagai Calon Presiden RI, Bapak Aburizal Bakrie dan Bapak Nirwan Bakrie merasakan penderitaan kami. Nasabah bukan orang kaya raya yang punya banyak harta seperti Group Bakrie. Calon Presiden RI tidak boleh merugikan rakyat tetapi harus memperhatikan rakyatnya kalau mau dihargai,” tutup Freddy.

Dihubungi secara terpisah, Dirut Bakrie Life Timoer Sutanto masih menjanjikan pada Mei 2012 ini pembayaran dana bisa dilakukan. Namun pembayaran hanya fokus kepada bunga nasabah.

“Sementara kami bertahap akan bayar bunga dahulu sampai ada kesepakatan baru. Meskinya pekan lalu namun mundur tapi diusahakan grup bulan ini,” tutur Timoer melalui pesan singkatnya.

Bakrie Life memang hanya mengumbar janji-janji palsunya. Dana pokok nasabah Diamond Investa yang direncanakan dicicil 25% per tahun tidak juga dibayar padahal sudah memasuki 2012.

Selama 2011 berarti Bakrie Life tidak mencicil sama sekali.Bakrie Life baru membayar 2,5 kali dana pokok yaitu Maret 2010, Juni 2010, dan September 2010 (sisa 45% dari total 6,25%).

Total sisa cicilan pokok dan bunga Diamond Investa Bakrie Life yang belum dibayar yaitu per September 2010 sampai dengan Januari 2012.

Perwakilan nasabah Diamond Investa mengaku terpukul atas sikap kesewenang-wenangannya Bakrie Life. Seperti diketahui, Bakrie Life menderita gagal bayar produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar.

(dru/dnl)

Bumi Resources Siap Bayar Utang

TEMPO.CO, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk menyatakan siap untuk melunasi separuh utang yang dimilikinya tahun ini. Anak usaha Bumi Plc itu akan membayar setengah dari total utang pinjaman per 31 Desember 2011 sebesar US$ 3,85 miliar.

Komisaris Utama Bumi Plc, Samin Tan, mengatakan induk usaha akan segera merestrukturisasi utang-utang anak usaha, termasuk satu di antaranya adalah PT Bumi Resources. “Pasti,” kata Samin di sela Rapat Umum Pemegang Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk di Jakarta, Kamis, 3 Mei 2012.

Menurut Samin, pelunasan setengah utang Bumi Resources akan dilakukan secepatnya pada 2012. Ini pun akan dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya penjualan aset serta penggunaan kas anak usaha Bumi Plc.

Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2011, Bumi Resources memiliki kas dan setara kas sebesar US$ 69,09 juta. Adapun laba bersih yang diperoleh tahun lalu mencapai US$ 220,52 juta.

Di dalamnya tercatat utang jangka panjang perusahaan pertambangan milik Bakrie ini sebanyak US$ 3,01 miliar. Pinjaman Bumi Resources paling besar berasal dari China Investment Corporation (CIC).

Pada 18 September 2009, CIC melalui anak usahanya, Country Forest Limited, memberikan pinjaman sebesar US$ 1,9 miliar kepada Bumi Resources. Pinjaman itu terdiri atas tiga seri, yaitu fasilitas Commitment A sebesar US$ 600 juta yang akan jatuh tempo dalam waktu empat tahun, fasilitas Commitment B US$ 600 juta dengan jatuh tempo lima tahun, dan fasilitas Commitment C sebesar US$ 700 juta dengan jatuh tempo enam tahun sejak tanggal penarikan pinjaman.

Untuk pinjaman ini, perusahaan pun menjaminkan saham-saham di sejumlah anak usaha, yaitu PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, IndoCoal Resources Ltd., PT IndoCoal Kalsel Resources, PT IndoCoal Kaltim Resources, dan the original guarantors milik perusahaan dan original subsidiary guarantors.

Jumlah utang kepada CIC pun telah berkurang menjadi ke posisi US$ 1,3 miliar. Menurut sumber Tempo di lingkungan perusahaan itu, tahun ini Bumi Resources akan membayar setengah dari total utang ke CIC, yaitu sebesar US$ 600 juta.

Dia mengatakan Bumi Resources tidak dapat membayar seluruh utang ke CIC sekaligus. “Itu tidak dapat dipercepat. Masih menunggu perubahan-perubahan,” kata sumber itu.

Bumi Plc berencana membayar utang Bumi Resources dengan menjual aset. Sumber itu mengatakan, sebesar 20 persen yang dimiliki Bumi Resources di PT Bumi Resources Minerals Tbk akan dijual. Rencana penjualan saham emiten berkode BRMS ini banyak diminati oleh sejumlah perusahaan di berbagai negara. Negara yang berminat antara lain Eropa dan Cina. Transaksi penjualan saham ini diprediksi akan dilakukan pada kuartal ketiga tahun ini.

Nilai penjualan saham BRMS itu diperkirakan mencapai US$ 400-500 juta. Saat ini, perusahaan pun tengah melakukan pembicaraan dengan sejumlah pihak. “Yang berminat banyak. Sekarang baru bicara. Beresin satu-satu dulu,” ujarnya.

SUTJI DECILYA

Ical Habiskan Rp 9 Triliun untuk Lapindo
Gregorius Magnus Finesso | Agus Mulyadi | Selasa, 1 Mei 2012 | 21:40 WIB

PURWOKERTO, KOMPAS.com — Aburizal Bakrie mengaku telah mengeluarkan uang ganti rugi hingga Rp 9 triliun kepada hampir 12.000 keluarga yang rumahnya terendam lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur. Para warga di peta terdampak menerima berkisar Rp 2 miliar hingga Rp 60 miliar per keluarga.

“Uang Rp 9 triliun merupakan uang pribadi, bukan dari APBN,” kata Abrurizal Bakrie, yang biasa dipanggil Ical, kepada ratusan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Selasa (1/5/2012).

Ganti rugi Rp 9 triliun sudah diserahkan kepada kurang dari 12.000 keluarga, yang tanahnya terkena musibah lumpur.

Terkait sekitar 80 keluarga yang tidak menerima ganti rugi, Ical menyebut bahwa itu karena mereka sudah menjual asetnya kepada calo.

Uang ganti rugi ini, menurut calon presiden dari Partai Golkar tersebut, tinggi sebab harga tanah saat proses tersebut naik hingga 20 kali lipat dari nilai jual obyek pajak (NJOP).

“Masyarakat di sana itu sangat diuntungkan, bukan dirugikan. Setelah proses ganti rugi berakhir, banyak keluarga korban Lapindo yang melakukan umroh, bahkan menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Jadi, bukan lagi ganti rugi, tapi ganti untung,” ujarnya.
Kamis, 19/04/2012 17:19 WIB
Ini Dia 10 Perusahaan Indonesia dengan Untung Terbesar
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Meskipun ekonomi dunia baru saja diguncang oleh krisis keuangan, namun sektor perbankan di Indonesia masih menjadi perusahaan paling untung.

Forbes merilis pada Kamis (19/4/2012), ada 10 perusahaan asal Indonesia yang masuk ke dalam 2.000 perusahaan paling untung di dunia. Dari 10 perusahaan tersebut ada 5 bank yang menjadi perusahaan paling untung di Indonesia.

Dari 10 perusahaan untung terbesar di Indonesia, enam perusahaan di antaranya adalah perusahaan pelat merah atau BUMN.

Berikut daftar 10 perusahaan paling untung di Indonesia yang masuk dalam daftar 2.000 perusahaan paling untung versi Forbes:

Nomor 479, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dengan omzet US$ 5,9 miliar, dengan keuntungan US$ 1,7 miliar, dan aset US$ 51,5 miliar
Nomor 488, PT Bank Mandiri Tbk dengan omzet US$ 6 miliar, keuntungan US$ 1,3 miliar, dan aset US$ 60,4 miliar
Nomor 700, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan omzet US$ 3,1 miliar, keuntungan US$ 900 juta, dan aset US$ 35,9 miliar
Nomor 726, PT Telekom Indonesia Tbk (Telkom) dengan omzet US$ 7,6 miliar, keuntungan US$ 1,3 miliar, dan aset 11,1 miliar
Nomor 969, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dengan omzet US$ 3,1 miliar, keuntungan US$ 600 juta, dan aset 32,9 miliar
Nomor 1.351, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dengan omzet US$ 2,2 miliar, keuntungan US$ 700 juta, dan aset US$ 3,5 miliar
Nomor 1.399, PT Gudang Garam Tbk dengan omzet US$ 4,2 miliar, keuntungan 500 juta, dan aset US$ 3,4 miliar
Nomor 1.636, PT Bank Danamon Indonesia Tbk dengan omzet uS$ 2,4 miliar, keuntungan US$ 400 juta, dan aset US$ 15,6 miliar
Nomor 1.674, PT Semen Gresik Tbk dengan omzet US$ 1,6 miliar, keuntungan US$ 400 juta, dan aset US$ 1,7 miliar
Nomor 1.898, PT Bumi Resources Tbk dengan omzet US$ 4,4 miliar, keuntungan US$ 300 juta, dan aset US$ 8,8 miliar

(dnl/ang)
JAKARTA. Desakan nasabah agar pengembalian dana atas produk asuransi berbalut investasi (unitlink) Diamond Investa di PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) sedikit memberi titik terang. Manajemen Bakrie Life mengaku masih sanggup mengangsur pengembalian dana tersebut, tapi dengan menggunakan skema baru. Tapi, nasabah menolak skema baru itu karena hanya menguntungkan Bakrie Life saja.

Usulan skema baru ini muncul saat Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) kembali mempertemukan nasabah dengan manajemen dan pemilik Bakrie Life, Rabu (11/4). Pertemuan berlangsung tertutup, wartawan dilarang masuk.

Wahyudi, salah satu nasabah bercerita, beberapa manajemen Bakrie Life datang ke pertemuan itu, termasuk Timoer Sutanto, Direktur Utama. Kemudian, pemilik Bakrie Life, yakni Bakrie Capital Indonesia (BCI), diwakili sejumlah manajemen.

Dari nasabah, ada tujuh orang yang merupakan perwakilan dari sejumlah daerah. Seperti Karawang, Jakarta, dan Bandung.

Freddy Koeshariono, salah seorang perwakilan nasabah mengatakan, pertemuan kali ini belum menghasilkan keputusan. Manajemen Bakrie Life mengusulkan skema baru untuk pengembalian dana. “Usulannya, mereka mengembalikan dana nasabah secara angsuran per bulan Rp 2,2 miliar selama lima tahun, setelah itu baru sisanya dilunasi,” kata Freddy, usai pertemuan.

Permintaan jaminan

Timoer Sutanto, Direktur Utama Bakrie Life menjelaskan, skema baru itu merupakan usulan induk usaha. Namun, pemegang saham (keluarga Bakrie) memerintahkan agar besar angsuran Rp 4 miliar selama lima tahun.

Bila usulan pemegang saham itu disetujui, hingga tahun kelima nanti sudah terbayarkan sekitar Rp 240 miliar. Dengan demikian, dana nasabah yang belum dikembalikan hanya tersisa Rp 39 miliar.

Menurut Timoer, usulan pemegang saham dan grup itu telah menunjukkan komitmen untuk pengembalian dana. Memang, pengembalian dana harus diangsur, soalnya ada keterbatasan dana.

Selain itu, pembayaran secara angsuran itu juga demi kepentingan nasabah. Mengingat, sebagian besar nasabah Bakrie Life adalah pensiunan. “Mereka membutuhkan dana bulanan, makanya kami mengusulkan pengembalian dana secara angsuran per bulan,” terang Timoer.

Ia mengaku, banyak nasabah keberatan dengan usulan itu. Nasabah meminta pembayaran berlangsung lebih singkat, sekitar tiga tahun. Nasabah juga meminta jaminan untuk mengantisipasi pelanggaran kesepakatan. “Sekarang usulan nasabah sedang kami sampaikan ke grup dan pemegang saham, jadi belum ada putusan,” jelas Timoer. Namun, pemegang saham dan grup tidak keberatan dengan permintaan jaminan itu

Bapepam-LK akan memanggil kembali semua pihak terkait untuk penyelesaian masalah ini pada 25 April nanti. Semua nasabah akan dipanggil untuk menentukan skema pengembalian dana itu. Semoga saja, segera ada kejelasan pengembalian dana untuk para nasabah.

http://keuangan.kontan.co.id/news/bakrie-life-usul-cicilan-rp-2-miliar

Sumber : KONTAN.CO.ID
Strategi Bumi Resources, Lunasi Utang Lebih Awal

Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Sabtu, 7 April 2012 | 13:51 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah menyiapkan strategi bisnis tahun 2012 termasuk mengurangi beban utangnya.

Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2011, manajemen menargetkan produksi batubara sebesar 75 juta ton. Tahun 2011, produksi batubara mencapai 65,9 juta ton. Untuk biaya produksi tunai sebesar US$40 per ton meski pada kuartal pertama dapat ditinjau ulang. Tahun 2011, biaya produksi mencapai US$42,07 per ton. Sedangkan harga jual rata-rata ditargetkan US$90 per ton FOB.

Tahun ini, perseroan akan memisahkan bisnis batubara dari bisnis non batubara yang mengandalkan PT Bumi Resources Minerals (BRMS). Hal ini untuk meningkatkan produksi dari aset non batubara. Rencana ekspansi difokuskan supaya KPC dan Arutmin di 2012 dapat menghasilkan batubara hingga 100 metrik ton per tahun.

Sementara dalam mengurangi beban utang, perseroan berkomitmen melunasi seluruh pinjaman dari China Investment Corporation sebesar US$1,9 miliar pada akhir tahun 2013. Tahap pertama senilai Rp600 juta telah dibayarkan pada bulan Oktober 2011. Untuk tahap kedua dan ketiga akan dibayar pada bulan Oktober 2012 dan Oktober 2013. Langkah ini berarti dua tahun lebih awal dari jadwal pelunasan utang.

Selasa, 03/04/2012 18:27 WIB
Harga Batubara Naik, Laba BUMI Capai Rp 1,98 Triliun
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat kenaikan laba bersih 13% menjadi US$ 220 juta atau setara dengan Rp 1,98 triliun (1 US$ = Rp 9000) pada tahun buku 2011, dari periode sebelumnya US$ 207 juta. Kenaikan ditopang oleh pendapatan dan volume penjualan batubara.

Presiden Direktur BUMI, Ari S Hudaya dalam siaran persnya, Selasa (3/4/2012), menjelaskan, pendapatan perseroan tercatat naik 37% menjadi US$ 4 miliar, dari periode sebelumnya US$ 2,92 miliar. Terjadi pula kenaikan harga rata-rata batu bara hasil produksi anak usaha BUMI, Arutmin dan KPC, 30%.

Sementara laba operasi juga meningkat 673% dari US$ 651 juta di 2010 menjadi US$ 1,12 miliar. Dengan laba sebelum pajak (EBIT) naik tipis 13% dari US$ 530 juta menjadi US$ 598 juta.

Total produksi BUMI sepanjang 2011 tercatat 63,3 juta ton naik 4% dari periode sebelumnya 60,7 juta ton. Harga batu bara terjual perseroan juga meningkat dari US$ 71,03 per ton menjadi US$ 92,69. Kemudian total pengelupasan tanah (overburden removed) naik 20% dari 633,1 mbcm menjadi 758,6 mbcm.

“2011 merupakan tahun yang menantang bagi BUMI. Kami mengubah bisnis pada seluruh aspek operasi, administrasi, dan pemerintahan sementara menyikapi kondisi pasar yang tidak menentu. Ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja operasional dan keuangan dalam jangka pendek,” ucap Ari.

(wep/dru)

Molor Lagi, Skema Baru Pembayaran Bakrie Life
| Erlangga Djumena | Rabu, 28 Maret 2012 | 15:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Untuk kesekian kalinya, nasabah Diamond Investa produk Asuransi Jiwa Bakrie Life kembali harus gigit jari. Pasalnya, pertemuan dengan direksi Bakrie Life belum menghasilkan kesepakatan bentuk skema pembayaran terbaru. Direksi Bakrie Life kembali minta waktu dua minggu dengan alasan untuk menyaring masukan dari nasabah Bakrie Life di luar Jakarta dan Bandung.

Lie Hendy salah seorang perwakilan Diamond Investa berharap pertemuan ke depan tidak seperti hari ini. Dalam pertemuan ke depan, Bakrie Life diharapkan sudah mengeluarkan jumlah angka pembayaran dan lama pembayaran untuk nasabah. Selain itu ada jaminan pasti bila Bakrie Life incar janji lagi.

“Sebenarnya ingin hari ini selesai, ada harapan dua minggu lagi ada titik terang sudah ada angka,” ujarnya usai pertemuan, Rabu (28/3/2012).

Yosep, nasabah lainnya menegaskan, nasabah Jakarta dan Bandung berharap bentuk jaminan bisa berupa bank garansi ataupun aset tanah. Namun arah pembicaraan ke sana menunggu dua minggu ke depan.

Direktur Bakrie Life Timoer Sutanto mengatakan, pihaknya butuh waktu menampung masukan. Sebab pemegang saham yakni Bakrie Capital Indonesia (BCI) minta agar mengumpulkan keinginan nasabah. Dengan begitu mereka bisa menawarkan skema baru.

“Minggu ini kami ditugaskan pemegang saham untuk menampung pendapat nasabah lain yang mungkin berbeda-beda,” ujarnya lewat pesan pendek.

Asal tahu saja, pertemuan nasabah dan direksi berlangsung di Kantor Bapepam-LK. Pertemuan berlangsung sekitar 2 jam. Dari nasabah diwakili empat orang. Sedangkan Bakrie Life, diwakili Direktur Utama Timoer Soetanto. Sementara Bapepam-LK diwakili oleh Achmad dari Biro Perasuransian. (Feri Kristianto/Kontan)
TEMPO.CO, Jakarta – Nasabah Diamond Investa produk PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) meminta jaminan jika dana mereka tidak dibayarkan perusahaan. “Aset dapat berupa tanah atau apapun yang bisa kami pegang,” kata salah satu nasabah Bakrie Life, Lie Hendy, di kantor Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Rabu, 28 Maret 2012.

Sebenarnya, Lie ingin jaminan berupa bank garansi. “Sehingga kalau gagal bayar, bisa langsung cair,” kata dia. Namun, sepertinya yang bisa diharapkan sekarang jaminan berupa aset. Nasabah mendorong agar jaminan ini tertuang pada perjanjian baru. “SKB (Surat Keputusan Bersama) yang lalu tidak ditepati karena tidak ada jaminan kepada nasabah,” kata Lie.

Sekitar 250 nasabah menanamkan dana di Diamond Investa, produk Bakrie Life. Ketika terjadi krisis ekonomi global pada 2008, Bakrie Life mengalami kasus gagal bayar. Total kerugian sebesar Rp 360 miliar. Bakrie Life meneken perjanjian SKB dengan nasabah Diamond Investa dan Bapepam tentang skema pembayaran utang produk asuransi berbasis investasi itu.

Sesuai perjanjian, skema pembayarannya berupa pengembalian dana pokok sebesar 25 persen pada 2010, 25 persen pada 2011, dan sisanya 50 persen dilunasi pada 2012. Sebanyak 25 persen dana pokok pada 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan. Demikian juga pada 2011. Sisanya 50 persen dibayar langsung pada Januari 2012.

Hingga kini, Bakrie Life baru membayar dana pokok sebesar 16 persen. Sisa cicilan pokok dan bunga Diamond Investa yang belum dibayar, yaitu per September 2010 sampai dengan Januari 2012. Sesuai SKB, pembayaran utang dan cicilan bunganya harus dilunasi selambatnya pada 31 Januari 2012. Hingga kini, janji itu tidak ditepati Bakrie.

Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Bakrie Life Timoer Sutanto mengaku pihaknya kesulitan membayar utang. Perseroan meminta bantuan induk perusahaan Bakrie Capital Group untuk membantu melunasi utang.

Nasabah kembali bertemu Direksi Bakrie Life yang difasilitasi Bapepam. Mereka ingin mendapat kejelasan pembayaran dana mereka. Pertemuan tersebut dihadiri antara empat orang nasabah dengan Direksi Bakrie Life yang dipimpin Timoer Soetanto.

Namun, pertemuan itu tak membuahkan hasil. “Perusahaan ingin mengumpulkan aspirasi dari seluruh nasabah di kota lain terlebih dulu. Kami hanya mewakili nasabah Jakarta dan Bandung,” kata Lie. Pekan depan, Direksi Bakrie Life akan datang ke Ujung Pandang. Pertemuan berikutnya dijadwalkan dua pekan mendatang. “Kami harap, saat itu sudah ada angka. Kapan dibayar dan berapa nominalnya.”

Nasabah lainnya, Yoseph, mengatakan pihaknya harus menerima pengunduran waktu pembahasan pembayaran dana mereka. “Kalau kita tidak terima, nanti mereka tidak mau bertemu lagi,” kata dia.

Freddy Kusharyono, nasabah lain, mengaku kecewa dengan hasil pertemuan kali ini. “Kami mendapat sinyalemen, Bakrie Life menyepelekan masalah ini. Mereka bisa karena mereka kuat sehingga bisa bersikap arogan,” ujarnya. Kasus Bakrie Life menunjukkan contoh buruk bisnis asuransi di Indonesia. “Saya juga tanam modal di Manulife, Prudential, dan Sequislife, semua beres.”

http://www.tempo.co/read/news/2012/03/28/087393088/Nasabah-Bakrie-Life-Minta-Jaminan-Aset

Sumber : TEMPO.CO
Selasa, 27 Maret 2012 | 17:51 WIB
Samin Tan Pimpin Bumi Plc

TEMPO.CO, Jakarta – Samin Tan, Direktur Utama PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), resmi menjabat sebagai Direktur Bumi Plc, Selasa, 27 Maret 2012. Keputusan ini membuat pejabat sebelumnya, Nathaniel Rothschild, tergeser.

“Saya ingin meyakinkan seluruh stakeholder bahwa kami akan bekerja tanpa lelah untuk memenuhi pencapaian tujuan utama perseroan,” demikian pernyataan tertulis Samin.

Samin mengatakan perubahan manajemen ini diharapkan bisa meningkatkan kinerja Bumi Plc. Ia optimistis perubahan ini membuat Bumi bisa memenuhi tujuan menjadi penghasil utama batu bara termal kelas dunia. “Perubahan ini akan memperkuat tim manajemen,” ujarnya.

Selain posisi direktur, perubahan juga terjadi pada pos wakil direktur dan direktur keuangan. Saat ini pemegang saham menunjuk Scott Merriless sebagai direktur keuangan menggantikan Andrew Bekham. Sedangkan chief executive officer dijabat oleh Nalin Rathod, yang menggantikan Ari Hudaya.

Nalin Rathod mengatakan seluruh direksi telah bertemu dan membahas target perusahaan tahun ini. Tahun ini, Bumi Plc berencana menaikkan produksi, 23 juta ton disumbang PT Berau Coal dan 75 juta ton dihasilkan PT Bumi. “Kami mengimplementasikan sejumlah inisiatif baru di seluruh grup untuk mengoptimalkan produktivitas,” katanya.

JAYADI SUPRIADIN
Selasa, 27/03/2012 19:35 WIB
Bakrie-Borneo Akhirnya Lengserkan Rothschild dari Dewan Komisaris
Angga Aliya – detikFinance

London – Perusahaan kongsi dua konglomerat antar negara Bumi Plc akhirnya mendepak wakil komisaris utamanya Nathaniel Rothschild. Tepat empat bulan setelah grup Bakrie yang berkongsi dengan Borneo itu bersitegang dengan Rothschild

Bumi melaporkan perombakan susunan komisaris itu berbarengan dengan laporan rugi bersih senilai U$ 282 juta di akhir 2011, demikian disampaikan Samin Tan, pemimpin Grup Borneo yang akan segera menempati posisi komisaris utama Bumi Plc.

Sementara Indra Bakrie akan menempati posisi wakil komisaris utama. “Nathaniel Rothschild akan menjadi direktur independen,” kata CEO Bumi Nalin Rathod kepada AFP, Selasa (27/3/2012).

Rothschild, yang selama ini dikenal sebagai grup konglomerasi asal Inggris itu merupakan salah satu pendiri Bumi yang selama ini selalu protes terhadap Grup Bakrie mengenai kondisi keuangan Bumi.

Rothschild punya 10% saham di perusahaan tambang tersebut, sementara Bakrie dan Borneo berbarengan memegang 30%. Keluarga Bakrie juga merupakan pemilik dari anak usaha Bumi yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Bumi Resources merupakan salah satu perusahaan Grup Bakrie yang dinilai tidak pernah transparan dalam kegiatan operasionalnya. Tuduhan ini dilancarkan oleh Rothschild pada bulan November tahun lalu dan berencana untuk melakukan pembersihan radikal di emiten berkode BUMI itu.

Bakrie pun tidak tinggal diam, diam-diam menggandeng salah satu orang terkaya di Indonesia, Samin Tan, untuk berkongsi. Kongsi itu pun akhirnya berniat mendepak Rothschild dari dewan komisaris.

Juru bicara Bumi Nick Von Schirnding menampik kabar bahwa keduanya punya niat untuk mendepak Rothschild dari perusahaan yang terdaftar di bursa London tersebut.

“Ini adalah keputusan kami. Nat adalah pemegang saham yang signifikan dengan punya 10% Bumi, ia juga merupakan pendiri. Dia punya peranan yang lebih penting dengan menjadi direktur,” kata Von Schirnding.

“Semua keraguan para pemegang saham sekarang semua sudah sirna. Kami sudah melakukan pertemuan dengan pemegang saham kemarin (Senin), dan sekarang kami akan fokus kepada bisnis ke depan,” tambahnya.

(ang/dnl)

Pertemuan nasabah-Bakrie Life dijadwal ulang
Oleh Feri Kristianto – Rabu, 21 Maret 2012 | 16:40 WIB

kontan

JAKARTA. Nasabah Diamond Investa produk Asuransi Bakrie Life kembali harus bersabar. Pertemuan hari ini yang sedianya digelar di Bapepam-LK belum memberikan hasil. Kabarnya direksi Bakrie Life belum bisa memberikan keputusan karena sedang dalam suasana duka. Sebagaimana diketahui, ibunda Aburizal Bakrie pemilik Bakrie Grup meninggal.

Informasi yang diperoleh KONTAN, sebanyak 5 orang perwakilan nasabah hadir. Namun tidak diketahui apakah direktur utama Bakrie Life Timoer Sutanto hadir. Yoseph, salah seorang perwakilan nasabah membenarkan ada pertemuan ulang pada Rabu depan.

Ia mengaku belum bisa memberikan keterangan. “Semoga minggu depan sudah ada keputusan,” ujarnya Rabu (21/3).

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengkaji pelepasan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebanyak 15%-20% dengan target perolehan dana sebesar US$390 juta.

BUMI berencana mempercepat pembayaran utang kepada China Investment Corporation (CIC) yang berjumlah US$600 juta pada Oktober 2012 dan melunasi utang pinjaman komersial senilai US$150 juta pada kuartal 4-2012. Manajemen juga mengatakan bahwa pelepasan saham BRMS adalah salah satu alternative bagi BUMI untuk mendapatkan dana guna melunasi utang. Selain itu, BUMI juga dapat menggunakan pencairan discretionary fund dari PT Recapital Asset Management senilai US$230 juta pada Agustus 2012.

BUMI juga akan menggunakan dana hasil pencairan piutang dari PT Bukit Mutiara, induk usaha PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), senilai US$130 juta. Apabila pelepasan saham BRMS dapat terealisasi maka pembayaran utang sebesar US$750 dapat terlaksana di tahun ini. “Kami pun merekomendasikan buy untuk saham BUMI,” ujar Samuel Sekuritas dalam catatan risetnya Rabu (21/3/2012).

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1842920/kaji-lepas-saham-brms-buy-bumi

Sumber : INILAH.COM
CEO BORN ingin merampingkan struktur Bumi Plc
Oleh Barratut Taqiyyah, Wall Street Journal – Selasa, 20 Maret 2012 | 16:56 WIB

JAKARTA. PT Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN) berencana untuk melakukan perampingan struktur Bumi Plc. Beberapa cara yang tengah dipertimbangkan BORN selaku pemegang saham terbesar Bumi Plc adalah menggabungkan beberapa aset serta mendatangkan investor baru.

Sekadar informasi, saat ini BORN mengontrol sekitar 15% saham Bumi Plc, yang merupakan salah satu perusahaan batubara terbesar dunia. Chief Executive BORN Samin Tan ditunjuk sebagai Direktur Utama Bumi setelah BORN mengakuisisi saham perusahaan tersebut pada akhir tahun lalu.

Juru Bicara BORN, Ken Allen, menjelaskan, Samin ingin merampingkan struktur kepemilikan Bumi dengan menggabungkan aset dan bisnis dari beberapa perusahaan batubara dan tambang mineral yang berbeda.

Adapun salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menggabungkan aset dari PT Bumi Resources (BUMI) dan PT Berau Coal Energy (BRAU), di mana Bumi Plc menggenggam saham masing-masing sebanyak 30% dan 85%. Pertimbangan lainnya adalah menggandeng investor baru dalam mendapatkan pendanaan segar untuk tujuan ekspansi.

Terkait hal itu, Ken memastikan Grup Bakrie mendukung hal tersebut.

Senin, 19 Maret 2012 | 11:33 WIB
Samin Tan: Kami Bukan Boneka Bakrie

TEMPO.CO, Jakarta – Pemilik PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk, Samin Tan, menegaskan keikutsertaan dirinya dalam Bumi Plc, perusahaan hasil kerja sama Grup Bakrie dan Nathaniel Rothschild di London, murni dilatarbelakangi perhitungan bisnis. Untuk dia aset tambang batu bara Bumi Plc yang tersebar di Kaltim Prima Coal dan Berau Coal tiada duanya.

Meski mengakui dekat dengan Grup Bakrie, orang terkaya ke-28 di Indonesia versi Forbes 2011 ini membantah sebagai “boneka” Bakrie untuk menghadapi Rothschild yang menjelang akhir tahun lalu terus melontarkan kritikan terhadap pengelolaan bisnis Grup Bakrie.

“Enggak selamat seribu keturunan kalau kami cuma jadi boneka Bakrie,” kata Samin Tan dalam wawancara dengan Tempo di kantor Borneo, Menara Danamon lantai 15, Jakarta Selatan, Selasa pekan lalu.

Selain Samin Tan, hadir juga dalam wawancara itu Indra Bakrie, Chairman Bumi Plc yang juga anak bungsu pendiri kelompok usaha Bakrie, Achmad Bakrie. Indra mengatakan, Grup Bakrie menggandeng Samin untuk menyelamatkan utang Bakrie kepada Credit Suissee yang terancam default alias gagal bayar. “Bukannya kita mau berantem, lalu mencari teman,” kata Indra.

Dalam dua jam lebih wawancara tersebut, Samin Tan dan Indra bercerita tentang latar belakang kerja sama keduanya di Bumi Plc. Begitu juga perseteruan mereka dengan Nathaniel Rothschild beberapa bulan terakhir. Selengkapnya baca di rubrik wawancara Majalah Tempo edisi pekan ini, Indra Bakrie: Samin Tan Orang Terakhir.

AGOENG WIJAYA, SUTJI DECILYA, NUGROHO DEWANTO, HERMIEN Y. KLEDEN
JAKARTA–MICOM: Manajemen PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) terancam dipidanakan. Pasalnya, anak perusahaan perusahaan Grup Bakrie itu gagal membayar utang kepada nasabahnya yang tertunggak dengan total utang mencapai lebih dari Rp300 miliar.

Perwakilan nasabah Diamond Investa Freddy Kusharyono mengatakan Bakrie Life belum memenuhi utang investasi sejak 2008. Apabila hingga akhir 2012 utang tersebut urung dilunasi, maka seluruh nasabah (sekitar 200 orang) akan membawa persoalan ini ke jalur hukum.

“Kami sudah cukup lama menunggu sekitar 4 tahun lebih. Namun, belum ada pelunasan dana kami. Kami akan mempidanakan mereka (Bakrie Life),” ujarnya saat melakukan demonstrasi di depan kantor Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Jakarta, Senin (19/3).

Sebelumnya, Bakrie Life telah menandatangani perjanjian Surat Keputusan Bersama (SKB) dengan nasabah Diamond Investa dan Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan tentang skema pembayaran utang produk asuransi berbasis investasi dengan nama Diamond Investa sebesar Rp360 miliar. Sesuai SKB, pembayaran utang beserta cicilan bunganya harus dilunasi selambat-lambatnya pada 31 Januari 2012.

Adapun skema pembayarannya adalah pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012. Sebanyak 25% di 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan, demikian juga di 2011, dan sisanya 50% dibayar langsung pada Januari 2012.

Hingga saat ini, Bakrie Life baru membayar dana pokok sebesar 16% yaitu di Maret 2010 sebesar 6,5%, Juni 2010 6,5%. dan September 2010 (sisa 45% dari total 6,25%). Total sisa cicilan pokok dan bunga Diamond Investa Bakrie Life yang belum dibayar yaitu per September 2010 sampai dengan Januari 2012.

“Hingga saat ini baru 15% dana kami dibayarkan. Mereka masih menunggak sekitar 85% lagi. Itu belum ditambah bunga,” tandasnya.

Nasabah, lanjut Freddy, meminta untuk adanya suatu Jaminan Pembayaran yang konkret & tidak menunggu-nunggu kalau ada uang seperti SKB yang selalu tidak ditepati.

“Saat ini kami akan menghadap Bapepam-LK, setelah itu akan berdemo di kantor Bakrie Group, dan kantor Bakrie Life,” tegasnya. (WR/OL-12)

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/03/19/306562/21/2/Manajemen-Bakrie-Life-Terancam-Dipidanakan

Sumber : MEDIA INDONESIA
JAKARTA – Para nasabah Bakrie Life menilai belum dibayarkanya uang klaim nasabah Bakrie Life memang sengaja dilakukan oleh pihak Bakrie Life.

“Saya curiga mereka (Bakrie Life) hanya mengulur-ulur waktu aja,” ungkap Koordinator Aksi Freddy Kusharyono asal Cimahi Bandung di Gedung Bapepam-LK, Jakarta, Senin (19/3/2012).

Mengingat itikad Bakrie Life sangat kecil, para nasabah akan menuntut Bakrie Life dan menyeretnya ke tindak pidana. “Satu keanehan yang menjadi pertanyaan kami ketika Bakrie Life membuat Bakrie Investment, itukan pasti yang memberikan izin Bapepam, ini salah satu hal yang aneh, bukannya mereka membayarkan dulu kerugian kita,” tegas dia.

Hal tersebut disebabakan, sejak 2011 akhir seharusnya penyelesaiannya sudah bisa ditangani, tetapi para nasabah tidak memperoleh jawaban yang pasti dari pihak Bappepem dan Bakrie Life.

“Saya mengimbau Bapepam agar mediasi yg dilakukan itu harus proaktif jangan kami dipermainkan saja oleh Bakrie, harus ada kemajuan dalam perundingan ini, jangan lambat, Bakrie selalu membuang-buang waktu,” ungkapnya.

Karenanya, Bapepam-LK akan mengundang para perwakilan nasabah Bakrie Life untuk kembali mendatangi Bapepam 21 Maret 2012 agar dipertemukan dengan direksi Bakrie Life.

Sebab, para nasabah menginginkan Bappepam memberikan agenda yang jelas untuk melakukan perundingan agar nasabah tidak dibinggungkan dan mendapatkan jawaban yang tidak pasti disetiap perundingan.

http://economy.okezone.com/read/2012/03/19/457/595831/bakrie-life-sengaja-ulur-waktu

Sumber : OKEZONE.COM
Rabu, 15/02/2012 11:02 WIB
Bakrie-Borneo Batal ‘Tendang’ Rothschild dari Bumi Plc
Angga Aliya – detikFinance

Jakarta – Para pemegang saham Bumi Plc membatalkan rencana rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) dalam rangka merombak direksi perusahaan tambang tersebut.

Kabarnya, menurut salah sumber Reuters di London, (15/2/2012), rencana untuk menggulingkan Nathaniel Philip Victor James Rothschild dari posisi Direktur di Bumi Plc itu batal setelah dua direksinya, yaitu Julian Horn-Smith dan mantan diplomat Robin Renwick terbang ke Indonesia dari London.

Keduanya langsung melakukan pertemuan dengan para pemegang saham Bumi Plc di Indonesia, yaitu Grup Bakrie dan Borneo. Kedua grup yang berkongsi dan memegang 29,9% saham Bumi Plc itu sebelumnya memang sudah berniat merombak jajaran direksi perusahaan yang dulunya bernama Vallar Plc itu.

Namun, masih belum jelas apa alasan batalnya rencana perombakan direksi tersebut, begitu pula dengan isi dan pembicaraan dari rapat tertutup tersebut.

Kongsi grup itu mengusulkan salah satu orang terkaya di Indonesia, Samin Tan sebagai Komisaris Utama dan Indra Bakrie sebagai Wakil Komisaris Utama.

Bumi Plc juga sudah memiliki daftar direksi baru untuk jajaran direksi, yaitu Presiden Komisaris Kaltim Prima Coal (KPC), Nalinkant A. Rathod, diusulkan menjadi CEO menggantikan Ari Hudaya. Sementara Scott Merrillees ditunjuk menjadi Direktur Keuangan menggeser Andrew Beckham.

Sedangkan untuk jajaran direksi lainnya yang akan diangkat diantaranya, Jean-Marc Mizrahi, Alexander Ramlie, Michael Lucente, dan Graham Holdaway.

Dengan demikian, orang-orang yang akan ‘ditendang’ dari jabatannya di Bumi Plc adalah Nathaniel Rothschild, Andrew Beckham, James Campbell, Badung Tariono dan Amir Sambodo.

Usulan dari Borneo itu tidak akan mengubah posisi direksi lainnya, yaitu Sir Julian Horn-Smith, Sir Graham Hearne, Lord Renwick, Sony B Harsono, Philip Yeo, Steve Shapiro dan Rosan Roeslani.

Memang sudah sejak lama kongsi Grup Bakrie dengan Nathaniel Philip Rothschild di Bumi Plc retak. Secara diam-diam, Rothschild melancarkan serangan untuk menguasai saham mayoritas di Bumi Plc, Grup Bakrie pun siap melawan.

Kedua grup raksasa ini mulai perang dingin sejak pihak Rothschild berniat menguasai lebih banyak saham lagi di Bumi Plc yang sebelumnya bernama Vallar Plc ini. Apalagi, Grup Bakrie akhirnya menggandeng Grup Borneo untuk melakukan perlawanan.
(ang/dnl)
IMQ, Jakarta — Bursa saham global berakhir flat menantikan apa yang akan terjadi dengan Yunani. Menteri Keuangan Uni Eropa membatalkan pertemuannya Selasa dan akan mengadakan teleconference untuk membahas apakah Yunani pantas mendapatkan bailout kedua senilai €130 miliar.

Pimpinan politik Yunani dari Partai Konservatif, Antonis Samaras, diberi waktu hingga hari ini untuk menyampaikan surat yang menyatakan komitmennya untuk menerima setiap syarat yang menyertai cairnya dana bailout tersebut.

Update dari Bumi Plc, hasil pertemuan ‘crisis talk’ antara manajemen dan sejumlah pemegang saham utama membatalkan permintaan RUPSLB untuk melakukan perombakan manajemen Bumi Plc. Mereka sepakat untuk melakukannya dalam rapat manajemen 26 Maret mendatang. Seperti diketahui sebelumnya, pemegang saham non-Bakrie menghendaki agar Nat Rothschild tetap berada dalam manajemen.

Sumber yang dekat dengan situasi ini mengatakan, Nat telah berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahannya November silam (yang membocorkan suratnya untuk meminta dilakukan perombakan radikal pada kebijakan dan manajemen Bumi Plc kepada publik).

Pemegang saham menilai perkembangan ini positif bagi perseroan karena mereka tidak ingin melihat pendiri Bumi Plc ini didepak keluar dari perusahaannya sendiri. Mereka juga menghendaki manajemen lebih berkonsentrasi pada bagaimana menekan beban utangnya. Untuk itu pemegang saham menuntut penempatan dua profesional sebagai direksi non-eksekutif independen yang akan disahkan dalam annual shareholder meeting 14 Juni mendatang. Trading Buy BUMI.

http://www.imq21.com/news/read/49287/20120215/100616/Sambil-Nantikan-Yunani-Buy-BUMI.html

Sumber : IMQ21.COM
Indonesia shareholders in Bumi Plc say withdraw EGM request

JAKARTA | Tue Feb 14, 2012 7:04am EST

JAKARTA Feb 14 (Reuters) – Indonesian shareholders in Bumi Plc said on Tuesday they are withdrawing a request for an extraordinary general meeting and said nominations for investor Samin Tan as chairman and for a new CEO would instead be dealt with at a board meeting on March 26.

“We have concluded that the best interests of Bumi Plc and its shareholders will be served by withdrawing our request for an EGM,” said a statement from Borneo Bumi Energi & Metal PTE. It followed a meeting in Jakarta between the Bakrie team and directors Julian Horn-Smith and Robin Renwick.
BUMI kantongi fasilitas utang US$ 600 juta
Oleh Anna Suci Perwitasari – Rabu, 08 Februari 2012 | 20:20 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya mendapatkan pinjaman baru senilai US$ 600 juta. Dalam pinjaman ini, China Development Bank Corporation bertindak sebagai original lender dan arranger, sementara Bank of China Limited cabang Jakarta bertindak sebagai facility agent pinjaman. Kedua belah pihak terlah menandatangi perjanjian pada 6 Februari lalu.

Seperti dalam rilis yang diberikan perusahaan, Rabu (8/2), disebutkan jika fasilitas pinjaman ini memiliki tenor empat tahun dengan bunga sebesar 6,7% +LIBOR per tahun. “Dana yang diperoleh akan digunakan untuk pembiayaan kembali pinjaman jangka pendek yang telah diperoleh dari Bank Of America Merill Lynch, Barclays dan JP Morgan,” kata Direktur BUMI Dileep Srivastava dalam rilis.

Rencananya, fasilitas pinjaman ini akan digunakan untuk membiayai kembali (refinancing) fasilitas sebelumnya yaitu fasilitas A dari Country Forest Limited (CFL) sebesar US$ 600 juta dan UBS AG sebesar US$ 125 juta. Fasilitas dari Barclays misalnya, BUMI mendapatkan suntikan utang US$ 200 juta pada 4 November 2011 lalu. Utang tersebut dikenakan suku bunga LIBOR+ 6% per tahun dan jatuh tempo pada Maret 2012.

Fasilitas A dari anak usaha China Investment Corp (CIC) tersebut sebenarnya berjumlah US$ 600 juta dan baru akan jatuh tempo pada 30 September 2013 mendatang. Namun, BUMI memilih untuk melakukan percepatan pembayaran fasilitas A itu pada 8 November 2011 lalu. Selain dari Barclays, BUMI juga menggunakan fasilitas dari kreditur lain seperti Deutsche Bank AG cabang Singapura, dan WestLB cabang Singapura.

JAKARTA. Dua pemilik saham utama Bumi Plc yang masuk dalam perdagangan London memecat miliuner Inggris, Nathaniel Rothschild dari jabatan ketua bersama di perusahaan batubara terbesar di Indonesia tersebut.

Di bawah proposal baru, Samin Tan, seorang pemegang saham besar lainnya dan dikenal sebagai sekutu terdekat keluarga Bakrie, akan ditunjuk sebagai pengganti untuk duduk bersama ketua saat ini, Indra Bakrie.

Tan dan Bakrie usai pertemuan Jumat lalu sudah mengindikasikan bahwa mereka secara resmi akan mengajukan pergantian pimpinan di perusahaan tambang tersebut dalam dua bulan mendatang.

Tan dan Bakrie yang memiliki 30% hak suara di perusahaan juga mengatakan akan mengganti kepala eksekutif Bumi, Ari Hudaya dan kepala keuangan Andrew Beckham.

Mereka menyebut pergantian ini sebagai hal yang biasa dan tidak terkait dengan masalah pribadi. “Hubungan dengan Nat Rothschild tetap profesional, kami melihatnya sebagai seorang rekan yang memiliki ketertarikan yang luas di Bumi Plc, yang merupakan satu satunya fokus dan prioritas kami,” kata juru bicara Bakrie Grup Chris Fong.

“Proposal perubahan ini bukan tentang Nat, ini murni untuk membuat jajaran manajemen lebih kuat dan bisa merealisasikan aset alam kelas dunia ini,” tambahnya.

Mengundang pertanyaan

Rothschild, keturunan keluarga pemilik bank terkemuka di Eropa, belum memberikan tanggapan atas pemecatan tersebut.

Pemecatan ini keluar setelah sebuah pertengkaran antara Rothschild dengan Bakrie terungkap di media pada bulan November silam, dimana Rothschild meminta adanya ”pembersihan radikal” terhadap unit usaha Bumi Resources yang dimiliki keluarga Bakrie.

“Keluarga Bakrie dan Samin Tan mencoba menggulingkan Nat Rothschild menimbulkan beberapa pertanyaan,” kata Lanang Trihardian, analis Syailendra Capital di Jakarta.

Ia bilang, investor akan mempertanyakan komitmen pemegang saham utama Bumi dalam menegakkan standar tertinggi dalam mengelola perusahaan.

Perusahaan Bakrie dikuasai oleh keluarga Aburizal Bakrie, salah satu orang terkaya di Indonesia dan tokoh penting dalam pemerintahan koalisi di Indonesia.

Saham Bumi Plc, yang memiliki sejumlah tambang di Indonesia, merosot US$12,58, atau turun 11 persen sebelum pengumuman pergantian manajemen dilakukan.

http://industri.kontan.co.id/news/bakrie-pecat-miliuner-inggris-dari-bumi-plc

Sumber : KONTAN.CO.ID
Nat Rotschild Keluar, Untung atau Rugi ?

Oleh: Ahmad Munjin & Asteria
Pasar Modal – Selasa, 7 Februari 2012 | 15:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Penggantian direksi Bumi Plc, termasuk miliarder pendiri Nathaniel Rothschild, menimbulkan banyak spekulasi tentang masa depan perseroan. Bagaimana tanggapan analis?

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, tidak adanya Nathaniel Rothschild di dewan direksi BUMI Plc itu disebabkan kepemilikan sahamnya yang sudah minoritas. “Namun, bisa jadi keluarnya Rothschild juga disebabkan adanya perbedaan pendapat soal aksi korporasi,” katanya kepada INILAH.COM.

Sementara Bernardus Irawan, manajer dana di Lautandhana Securities menilai penggantian Rotschild sebagai salah satu hal yang positif, “Saya pikir perombakan manajemen dan dewan direksi di Bumi Plc mungkin positif bagi masa depan perusahaan, karena dikelola orang yang memiliki pengetahuan baik dari bisnis batubara,” katanya di Jakarta.

Sedangkan Lanang Trihardian, analis pasar modal di Syailendra Capital mengatakan, masalah penggulingan Nat Rothschild ini memicu kebingungan di kalangan pelaku pasar modal, “Investor mempertanyakan komitmen pemegang saham utama Bumi untuk meningkatkan standar tata kelola perusahaan,” ujarnya terpisah.

Seperti diketahui, Samin Tan dan Keluarga Bakrie mengusulkan pergantian Nathaniel Rothschild dari posisi co-chairman di Bumi Plc. Perusahaan yang dulunya bernama Vallar Plc itu menerima usulan dari Borneo Bumi Energi & Metal Pte. Ltd selaku pemilik 5% saham dengan hak suara di Bumi Plc. Adapun rencana perombakan direksi ini akan dibahas dalam rapat umum pemegang saham Bumi Plc berikutnya.

Samin Tan, pemilik Renaissance Capital and PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk, diusulkan menjadi chairman, menggeser posisi Indra Bakrie. Adapun Indra Bakrie akan mengisi posisi co-chairman. Empat kursi direksi lain juga akan digusur.

Tommy menilai, banyak pihak yang melihat bahwa masuknya BUMI ke Vallar PLc, hanyalah merupakan kendaraan Bakrie untuk mendapatkan pendanaan dari Eropa. “Ahasil, saat orang Eropa sudah menjadi pemegang saham minoritas, Rothschild digeser,”katanya.

Ia mengakui, Rothschild merupakan daya tarik bagi investor asing untuk masuk ke Bumi Plc. Namun, ia optimistis, dengan lengsernya Rothschild ini, Bumi Plc masih berkesempatan mendapatkan pendanaan luar negeri. “Terutama karena keluarga Bakrie sudah punya hitung-hitungannya dengan cermat,” imbuhnya.

Tommy menambahkan, Bakrie adalah pengusaha Indonesia sekaligus tokoh nasional Indonesia, sehingga sepak terjangnya diharapkan dapat sesuai jalur,”Semoga Bumi Plc tidak melakukan aksi korporasi yang ‘macam-macam’. Bakrie akan melakukan yang terbaik agar nama Indonesia tidak tercemar di luar negeri,”ujarnya.

Selain itu, sebenarnya apakah orang membeli BUMI Plc dengan melihat nama besar Rothchild, Tommy menuturkan bahwa pemodal membeli saham karena faktor fundamental bukan nama besar. “Jika fundamental emiten memang buruk, ada tidak adanya Rothschild juga tidak berpengaruh,”katanya.

Ia pun menilai masalah ini pengaruhnya ke harga saham tidak dapat dipastikan, karena setiap investor punya perilaku yang berbeda-beda. Sebaiknya investor melihat arah pergerakan saham BUMI Plc dan grup Bakrie secara umum. “Jika ternyata turun, menandakan pasar tidak menyukai dengan keputusan tersebut. Tapi, saya tidak bisa menjamin saham grup Bakrie bakal turun.”tuturnya.

Saat ini, lanjut Tommy, saham-saham grup Bakrie berada dalam tren turun. Jika tren ini terus berlanjut, maka potensi penurunannya cukup signifikan.

“Tapi, koreksi ini juga harus dilihat dari dua sisi, apakah karena faktor digesernya Rothschild atau karena faktor market secara umum. Yang jelas, pergerakan pasar saat ini sedang jelek,”tutupnya. [ast]

Olive branch from Nat Rothschild in Bumi feud
Nat Rothschild is to extend an olive branch to Bumi chairman Indra Bakrie this weekend in an attempt to end the feud which threatens to oust the scion of the European banking dynasty from the Indonesian mining company’s board.

By James Quinn8:56PM GMT 04 Feb 2012
Mr Rothschild, who created the original Vallar cash shell into which Bumi reversed last year, is believed to be wanting to stay on the company’s board despite a shareholder meeting being called to oust him, along with chief executive Ari Hudya and finance director Andrew Beckham.
Mr Bakrie, whose family, with businessman Samin Tan, own 47pc of Bumi’s shares, has called for the removal of the trio in addition to three non-executive directors, including James Campbell, who set up the Vallar cash shell with Mr Rothschild in June 2010.
Advisers to the Bakrie family and Mr Tan’s Borneo Lumbung Energi venture are due in London at the end of this week to begin the process of persuading institutional shareholders to back their proposal.
The two groups are restricted to 29.9pc of the voting shares, due to an agreement signed at the point of Bumi’s reversal, and so must win the support of other investors to succeed.
One source indicated that Mr Tan has strong views on how Bumi should be run, and that he had driven the changes.

The shareholders’ demands would see Mr Tan becoming chairman of the company, with Mr Bakrie stepping back to become co-chairman, the role currently held by Mr Rothschild.
Another source suggested the board proposal was the natural next step in Bumi’s development on the London market, with Mr Tan keen to develop the company’s mining assets for the benefit of all shareholders.
“There’s certainly no issue with Nat. He’s a [10pc] shareholder and we want to maintain a professional relationship with him,” said a source close to the Bakrie family.
However, the requisition for the extraordinary shareholder meeting – a date for which has yet to be set – is understood to have caught Mr Rothschild by surprise.
In November, he hit the headlines when he said that PT Bumi Resources, Bumi’s main subsidiary, needed “cleaning up”.
But the following month it is understood he met Mr Bakrie in Singapore, a meeting from which he is understood to have come away with the impression that the air had been cleared.
The independent directors who are unaffected by the Indonesian billionaires’ demands – led by senior director Sir Julian Horn-Smith – have yet to make a statement on the situation.
It is expected the six independent directors, including Lord Renwick and Sir Graham Hearne, may create an independent committee in order to mediate between the two sides.
Spokesmen for Bumi and the Bakrie family declined to comment.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: