Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Juli 5, 2012

Q1 2012 bumi @10% …050712

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:36 am

VIVAnews – Produsen dan eksportir batu bara terbesar di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), mampu mempertahankan marjin penjualan yang lebih tinggi, di tengah fluktuasi harga komoditas karena kekhawatiran krisis zona euro.

Spekulasi pertumbuhan jangka pendek yang melambat di China dan India, juga mampu diantisipasi perseroan dengan perolehan penjualan yang membaik selama kuartal I-2012.

Selama periode itu, produksi dan penjualan Bumi Resources mencapai 15,9 juta ton, atau meningkat 11,5 persen dibanding 14,3 juta ton dan 13,9 juta ton pada periode sama tahun lalu. Pendapatan dari penjualan batu bara Bumi selama Januari-Maret mencapai lebih dari US$1 miliar, atau naik 18,6 persen dibandingkan US$849,9 juta pada periode sama tahun lalu.

“Pendapatan ini tidak termasuk 30 persen dari penjualan batu bara KPC dan Arutmin kepada Tata Power,” kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews di Jakarta, Kamis 5 Juli 2012.

Dileep menambahkan, harga jual rata-rata batu bara perseroan mencapai US$92,8 per ton selama kuartal I- 2012 dibandingkan US$87,7 per ton pada periode sama tahun lalu. “Harga jual ini lebih tinggi sekitar 5,8 persen. Bumi telah mendapatkan banyak manfaat dengan kontrak jangka panjang dengan pelanggan blue chip,” ujarnya.

Pada akhir tahun ini, Bumi Resources berharap dapat mencapai produksi batu bara sebanyak 75 juta ton, atau meningkat dibandingkan 2011 65,9 juta ton. Sekitar 80 persen produksi batu bara perseroan sudah dikontrak dengan harga di atas US$85 per ton FOB (free on board).

Namun, peningkatan pendapatan dari penjualan batu bara selama kuartal I-2012 itu tidak diimbangi dengan perolehan laba bersih. Selama periode itu, Bumi Resources membukukan kerugian US$100,4 juta dibanding keuntungan yang diperoleh pada kuartal I-2011 sebesar US$108,2 juta.

Padahal, perseroan masih mampu membukukan laba operasi sebesar US$149,1 juta, meski turun 13,1 persen dibanding tiga bulan pertama tahun lalu US$171,7 juta.

Dileep mengatakan, penurunan laba di antaranya dipengaruhi kondisi global, situasi zona euro yang memburuk, rupiah melemah, dan penurunan aktivitas pada operasional Newmont Nusa Tenggara. Beberapa faktor ini telah memicu pembalikan laba bersih perseroan dari positif ke negatif pada kuartal I-2012.

“Tapi, sebagai pemain global kami yakin situasi akan kembali pulih,” ujarnya.

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/332834-produksi-batu-bara-bumi-resources-melonjak

Sumber : VIVA.CO.ID
Kuartal I, BUMI Rugi Rp107,1 Miliar

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Kamis, 5 Juli 2012 | 04:26 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada kuartal I 2012 mengalami kerugian Rp107,1 miliar dari laba bersih Rp111,2 miliar.

Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Rabu (4/7/2012). Padahal perseroan mengalami kenaikan pendapatan menjadi Rp1,007 triliun dari Rp849,9 miliar pada periode yang sama tahun 2011. Namun beban pokok penjualan juga naik menjadi Rp686,5 miliar dari Rp578,9 miliar. Dengan demikian laba bruto mencapai Rp321,3 miliar dari Rp270,9 miliar.

Perseroan masih harus menanggung beban usaha mencapai Rp172,2 miliar dari Rp99,3 miliar di 2011. Jadi laba usaha yang tercatat menjadi Rp149,1 miliar dari Rp171,6 miliar di 2011. Namun dengan beban mencapai Rp173,8 miliar maka rugi neto mencapai Rp107,1 miliar dari laba Rp111,2 miliar di periode yang sama 2011.

Untuk per saham mengalami rugi sebesar Rp4,9 dari Rp5,3 per saham. Untuk total aset perseroan turun tipis menjadi Rp7,3 triliun dari Rp7,4 triliun per Desember 2011.

Pada perdagangan Rabu (4/7/2012) saham BUMI menguat Rp30 ke Rp1.210 dengan volume 273,888 saham senilai Rp165,01 miliar sebanyak 3.948 kali transaksi.

Saham BUMI Sudah di Harga Dasar

Oleh: Jagad Ananda
pasarmodal – Selasa, 19 Juni 2012 | 08:13 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham sejuta umat PT Bumi Resources (BUMI), kembali mendapat sorotan. Terutama setelah harganya sempat terperosok di bawah Rp1.000. Tepatnya, Jumat (15/6/2012) pekan lalu, ketika BUMI diperdagangkan di level Rp970.

Tapi, kejadian itu hanya berlangsung beberapa saat. Sebab, di hari itu juga, BUMI akhirnya ditutup di harga Rp1.080 atau naik 4,85% dibanding penutupan di hari sebelumnya. Jika dilihat tren-nya, sejak awal April saham ini memang mengalami penurunan yang sangat tajam, dari Rp2.400 (2/2/2012) ke level Rp 1.000-an.

Tapi, menurut pandangan sejumlah analis, Rp1.000 adalah merupakan harga yang paling dasar. “Makanya, jika sudah berada di level itu, jangan ragu untuk mengoleksi,” kata seorang kepala riset. Sebab, ia yakin, demi menjaga kepentingan emiten harga saham ini akan tetap ‘dijaga’.

“Jangan sebut identitas saya, nanti disangka promosi. Kalau perlu bukti, lihat saja historical price, harga yang tercipta saat ini merupakan yang terendah dalam tiga tahun terakhir,” ujarnya.

Ia begitu yakin, kendati harga batubara sedang tertekan, harga BUMI masih akan terus mengeliat. Paling tidak, menurut perhitungannya, dalam jangka menenagah saham ini bisa mencapai Rp1.540. Dana akan semakin menguat setelah emitennya merealisasikan percepatan pembayaran utang kepada China Investment Corp (CIC) sebesar US$600 juta.

Memang, banyak pihak yang menganggap rencana itu hanya sebagai pemanis yang belum tentu direalisasikan. Namun, tak sedikit yang percaya bahwa rencana manajemen akan direalisasikan pada waktunya yakni Oktober 2012.

Pertimbangannya, dana yang dibutuhkan sangat mungkin terpenuhi. Sesuai rencana, BUMI akan menjual 20% saham miliknya di Bumi Resources Mineral (BRMS) dengan harga antara US$400–500 juta.

Lantas perusahaan ini juga masih memiliki tagihan yang bisa dicairkan di dua debitur. Di PT Bukit Mutiara misalnya, BUMI memiliki tagihan US$200 juta dan di Recapital Asset Management US$350 juta. Jadi, rencana percepatan pembayaran utang kepada CIC itu bukan omong kosong.

Kelak, jika rencana pembayaran sudah terealisasi, kata sang sumber, di akhir tahun harga BUMI akan kembali mendekati level Rp2.000. Percaya? [mdr]
Kreditur Bakrie Brother Resah Harga Saham BUMI Turun Terus
Zulfi Suhendra – detikfinance
Rabu, 20/06/2012 15:48 WIB
Jakarta – Kreditur PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) yang difasilitasi oleh Credit Suisse resah. Pasalnya, saham Bumi Plc yang selama ini jadi jaminan utang terus turun.

Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno mengatakan, penyelesaian pinjaman sebanyak US$ 437 juta itu sampai saat ini masih dibicarakan dengan para kreditur.

“Memang kita harus akui, harga saham itu turun. Investor khawatirlah, pinjaman itu kan jaminannya dengan saham,” katanya usai acara RUPS tahunan PT Bakrie and Brothers di Hotel Gran Melia, Jakarta, Rabu (20/6/2012).

“Jadi mereka menanyakan tolong dong kita diberi arahan untuk prospek ke depannya, apakah nanti ada tambahan saham, atau tambahan jaminan lainnya, itu yang ingin ditanyakan oleh para kreditur,” tambahnya.

Maka dari itu, salah satu perusahaan Grup Bakrie itu akhirnya melakukan diskusinya dengan para krediturnya yang sebanyak 20 perusahaan tersebut. Apalagi, sejak awal tahun ini, saham Bumi Plc yang dulunya bernama Vallar itu sudah jatuh sekitar 60%.

Namun sayang, Eddy enggan merinci detil dari diskusi tersebut, apalagi cara-cara yang ditawarkan BNBR untuk menyelesaikan pinjaman tersebut.

“Saya enggak bisa bicara secara detilnya, tetapi kepada para kreditur, kita sudah tawarkan beberapa opsi untuk memperkuat struktur pinjaman yang ada. Sejauh ini mereka memandangnya positif,” ujarnya.

(ang/dnl)

Saham BUMI Rontok, Pasar Terbayang 2008

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Minggu, 17 Juni 2012 | 15:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Meski tutup di zona positif, saham BUMI sempat rontok ke bawah Rp1.000. Kondisi ini telah membawa ingatan pasar pada 2008 sehingga jadi tekanan jual pada IHSG.

Pada perdagangan Jumat (15/6/2012) saham PT Bumi Resources (BUMI) ditutup menguat Rp50 (4,85%) ke angka Rp1.080 dengan intraday tertinggi Rp1.090 dan terendah Rp970 per saham. Volume transaksi mencapai 234,3 juta unit saham senilai Rp244,2 miliar dan frekuensi 5.907 kali.

Pengamat pasar modal Irwan Ariston Napitupulu mengatakan, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat akhir pekan ini sebesar 26,49 poin (0,70%) ke posisi 3.818,109, indeks sempat melemah dengang intraday terlemah 3.774,693. “Sebab, pasar khawatir atas pelemahan saham PT Bumi Resources (BUMI) yang melemah hingga di bawah level psikologisnya Rp1.000 per saham ke Rp970,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan ini.

Kondisi ini, lanjut Irwan, membuat khawatir para pelaku pasar karena terbayang kasus 2008 di mana saat saham BUMI rontok ke Rp400-an per saham, IHSG pun anjlok ke 2.167,713.“Tapi, pada saat IHSG zeda perdagangan sesi siangJumat (15/6/2012), beredar kabar di antara Blackberry Masangger (BBM) para trader dan analis, yang menyatakan, manajemen BUMI menyangkal persoalan kasus repo sahamnya,” ujarn Irwan.

Akibatnya,lanjut dia, saham BUMI berbalik arah dan saham-saham lain juga berbalik arah menguat. Lalu, beberapa saham yang secara grafik sudah berada di bottom juga mulai rebound. Antara lain saham PT Aneka Tambang (ANTM) yang mengalami pemborongan hebat di menit-menit terakhir.

Begitu juga dengan saham PT Bank Tabungan Negara (BBTN) dengan kode broker ZT. Artinya, di pasar tampak terjadi bargain hunting.“Bargain hunting, sepertinya terjadi pada saham-saham yang berfundamental bagus dan valuasinya sudah murah. Kebetulan, posisi grafiknya pun, jadi positif,” imbuh Irwan.

Chairman Bumi Plc, Samin Tan yang untuk pertama kalinya memimpin rapat umum
pemegang saham di London mengatakan, jika fokus utama perusahaannya saat ini
adalah untuk mengurangi beban utang.

Perusahaan berusaha memangkas beban utangnya kepada salah satu kreditur
sebanyak US$600 juta, dan akan mengumumkan detilnya lebih lanjut pada Agustus
atau September 2012.(beritastau/hla)
Rabu, 30 Mei 2012 | 07:41 WIB
Bakrie Delano Investasi US$ 500 Juta di Nigeria

TEMPO.CO, Jakarta – Grup Bakrie bekerja sama dengan Grup Delano membentuk perusahaan patungan bernama Bakrie Delano Africa Ltd. Perusahaan patungan ini segera menggelontorkan dana investasi sebesar US$ 500 juta dalam beberapa bulan mendatang di Nigeria.

Presiden Direktur Capitalinc Investment, Seng Hoo Ong, mengatakan tahap pertama investasi untuk mengelola perkebunan karet dan minyak sawit mentah (crude palm oil). Perseroan mengirim tim ke Nigeria untuk melakukan uji kelayakan dari PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. “Perusahaan itu memiliki area perkebunan yang luas tapi produksinya masih sedikit,” kata Seng dalam pertemuan pers di Jakarta, Selasa 29 Mei 2012 malam.

Meski patungan, dia mengatakan, belum menentukan perusahaan di bawah bendera Grup Bakrie yang akan berkolaborasi dengan Grup Delano itu.

Dalam kurun lima tahun mendatang, Bakrie Delano Africa akan mengalokasikan nilai investasi sebesar US$ 1 miliar. Seng tidak menyebutkan berapa biaya akuisisi yang akan dikeluarkan untuk perusahaan patungan tersebut. Yang jelas, kepemilikan saham bakal dibagi rata, Bakrie memiliki 50 persen saham di perusahaan patungan. Begitu pun dengan Delano.

CEO Bakrie Delano Africa Ltd, Ladi Delano, menjelaskan, perusahaannya mengincar tiga sektor untuk berinvestasi di Nigeria antara lain minyak dan gas, kelapa sawit, dan pertambangan.

Menurut Ladi, Nigeria dapat menjadi pintu masuk bagi Bakrie Delano untuk mulai menjajaki kawasan Afrika. Dengan itu, perusahaan dapat membidik usaha di negara lainnya di Benua Hitam tersebut. “Kami memilih Grup Bakrie karena kompetensi perusahaan,” ujarnya.

Sebelumnya, perusahaan tambang milik Bakrie, PT Bumi Resources Tbk, telah menyatakan ekspansi ke Republik Islam Mauritania. Bumi Resources telah mendapatkan izin eksploitasi bijih besi seluas 990 kilometer persegi di Tamagot, Mauritania.

Untuk memperlancar bisnis di negara itu, anak usaha Bumi, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mendirikan anak usaha, Tamagot Bumi SA.

Sebelum memulai produksi bijih besi secara komersial, 10 persen saham Tamagot Bumi wajib dialihkan ke pemerintah Mauritania, sesuai ketentuan perundangan yang berlaku di negara itu. Adapun pemerintah Mauritania memiliki hak menambah kepemilikannya sebesar 10 persen. Dengan itu, porsi kepemilikan negara itu di dalam Tamagot Bumi berpotensi hingga 20 persen.

SUTJI DECILYA
Bakrie Brothers Minta Perpanjangan Waktu Bayar Utang?
| Erlangga Djumena | Minggu, 3 Juni 2012 | 10:39 WIB

LONDON, KOMPAS.com – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dikabarkan sudah meminta penambahan waktu untuk memutuskan langkah terkait utang perusahaan senilai 437 juta dollar AS dari sejumlah kreditur internasional. Pasalnya, saat ini, waktu yang diberikan kreditur kepada BNBR untuk menyelesaikan masalah utangnya sudah lewat sebulan lebih.

Sekadar mengingatkan, sejumlah kreditur yang digawangi Credit Suisse memberikan ancaman gagal bayar alias default atas pinjaman sebesar 437 juta dollar AS itu. Untuk menghindari default, BNBR wajib menambah agunan yang nilainya mencapai 100 juta dollar AS dan harus terpenuhi dalam waktu lima hari kerja.

Dalam perjanjian pinjaman utang ini, saham Bumi Plc menjadi agunan atau collateral. Masalah lantas muncul ketika saham Bumi Plc di Bursa saham London, tempat perusahaan ini mencatatkan saham, terus melorot.

Menurut salah seorang sumber Wall Street Journal (WSJ) yang mengetahui detil masalah ini, BNBR diminta untuk segera menyelesaikan penambahan agunannya pada April lalu. Namun, hingga saat ini, BNBR belum juga menambah agunan dan masih mempertimbangkan apa yang dilakukan selanjutnya mengenai utang tersebut.

Sang sumber juga bilang, BNBR menargetkan keputusan mengenai utang tersebut bisa segera diketahui pada akhir Juni atau Juli mendatang. Sementara, pihak kreditur berharap BNBR bisa segera merilis rencana utangnya pada akhir Mei.

Meski terancam default, namun, pihak kreditur masih rela memberikan penambahan waktu bagi BNBR untuk mencari dana atau mengajukan cara pembayaran dengan pilihan lain. Ada beberapa sebab yang memicu hal tersebut. Menurut sejumlah analis, keluarga Bakrie masih menjadi salah satu keluarga terkaya dan berpengaruh di Indonesia. Selain itu, para kreditur sudah menjalin kerjasama yang cukup panjang dengan keluarga Bakrie di masa lalu. (Barratut Taqiyyah/Kontan)
Permintaan batubara lemah, asing lego BUMI & ITMG
Oleh Dupla Kartini – Senin, 28 Mei 2012 | 11:24 WIB

kontan

JAKARTA. Saham-saham produsen batubara melorot pada perdagangan sesi pagi. Aksi jual menerpa saham eksportir batubara, lantaran permintaan untuk pembangkit listrik diperkirakan surut.

Salah satunya yang terjadi pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saham eksportir batubara pembangkit listrik terbesar di Asia ini terpapas 2,3% ke level Rp 1.730 per saham pada pukul 11.18 di Jakarta.

Bloomberg mencatat, asing mendominasi aksi jual saham ini. Saat ini, Kim Eng Securities tercatat paling banyak melego saham ini, yaitu mencapai Rp 6,316 miliar. Diikuti, Credit Suisse Securities Indonesia sejumlah Rp 1,158 miliar.

Selain itu, saham Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga melorot 1,6% ke level Rp 34.000 per saham. Aksi jual didominasi UBS Securities Indonesia yaitu mencapai Rp 5,001 miliar. Diikuti, Credit Suisse Securities Indonesia dengan nilai jual mencapai Rp 3,549 miliar.

Hari ini, kepala riset komoditas dari Australia & New Zealand Banking Group Ltd. Mark Pervan menyebut, permintaan batubara untuk pembangkit listrik akan melemah, hingga adanya peningkatan permintaan musiman di China pada kuartal berikutnya. Saat ini, stok domestik masih cukup tinggi, sehingga impor ditangguhkan.

PT Arutmin Indonesia, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), merupakan
pemasok batu bara terbesar ke sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU)
dalam proyek 10 ribu megawatt tahap I. Nur Pamuji, Direktur Utama PLN menyatakan
perusahaan milik keluarga Bakrie tersebut memasok batu sepertiga dari total
kebutuhan batu bara proyek 10 ribu sebesar 30 juta ton atau sekitar 10 juta ton. (ift/uth)
BUMI Agendakan RUPS Lagi 21 Mei 2012

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Senin, 14 Mei 2012 | 12:44 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadwalkan lagi pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 21 Mei 2012 mendatang.

Demikian keterangan resmi perseroan, Senin (14/5/2012). Perseroan gagal melakukan RUPS Tahunan pada 8 Mei 2012 karena tidak kuorum.

Untuk agenda dalam RUPS Tahunan tersebut tidak mengalami perubahan. Perseroan akan mempertanggungjawabkan kinerja tahun 2011. Rencana penggunaan laba tahun buku 2011. Selain itu tentang penunjukan akuntan publik untuk mengakudit laporan keuangan tahun 2012.

Untuk agenda RUPS Luas Biasa, perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham tentang penjaminan sebagian aset dengan kepemilikan langsugn maupun tidak langsung. Langkah itu untuk mendapatkan pembiayaan dari pihak ketiga untuk perseroan ataupun anak usaha perseroan.

Pada awal Mei, Standard & Poor’s Ratings Services memangkas prospek peringkat Bumi dari stabil menjadi negatif. S&P menilai perseroan tidak bisa melunasi utang US$480 juta yang jatuh tempo tahun depan.

Saham Batu Bara Menanti Giliran Terapresiasi

Oleh:
pasarmodal – Senin, 14 Mei 2012 | 13:24 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Situasi bursa saham saat ini kurang mendukung adanya penguatan yang signifikan. Namun, saham tambang batu bara masih menyimpan potensi apresiasi.

Yuganur Wijanarko dari HD Capital menjagokan saham TB Bukit Asam (PTBA). Menurutnya, koreksi selama tiga hari di emiten batu bara BUMN, terlalu tajam dan banyak dalam waktu terlalu singkat.

Posisi emiten dengan end user domestik, yakni PLN dan BUMN lainnya, pada perdagangan Senin (14/5/2012) siang ini berada di level Rp16.550, atau mencatatkan kenaikan Rp300.

Yuga menilai, memang seharusnya PTBA mengalami technical rebound. Apalagi dengan PER 14 kali, emiten ini punya tenaga untuk terus menguat. “Rekomendasi akumulasi PTBA dengan target harga Rp16.800,”katanya.

Saham Indo Tambangraya Mega (ITMG) juga menjadi pilihannya, karena secara valuasi masih murah. “Di sektor batu batu bara, ITMG dan PTBA jagoan saya,” ucapnya.

Menurut Yuga, Price Earnings Ratio (PER) ITMG 2012, masih di angka 11-12 kali dibandingkan saham Bumi Resources (BUMI) yang sudah mencapai 16 kali. Posisi saham ITMG siang ini berada di level Rp36.950 per lembarnya, “ITMG bisa menguat ke level Rp43.000,” katanya.

ITMG selama kuartal pertama 2012 mencatat pendapatan sebesar US$578 juta, naik 23% YoY. Sementara laba bersih tercatat US$124 juta, tumbuh 31% YoY. Kinerja perseroan selama 1Q12 didukung oleh pertumbuhan volume sebesar 9.6% YoY yang mencapai 5.7 juta ton dengan harga ASP pad US$101.1/ton (+16% YoY).

Menurut Yualdo Yudoprawiro dari Samuel Sekuritas, kinerja ITMG selama kuartal ini sesuai estimasi, “Dimana pendapatan dan laba bersih masing-masing mencatat 22% dan 24% dari estimasi kami,”ujarnya.

Secara historikal, volume produksi di kuartal pertama lebih rendah terkait curah hujan yang deras (seasonal effect). Namun perseroan masih yakin, target produksi 27 juta pada tahun ini dapat tercapai.

Perseroan memiliki sejumlah agenda untuk ekspansi atau menambah jumlah kapasitas produksi untuk tambang Indominco. Salah satunya dengan penerapan sistem IPCC yang ditargetkan selesai dan dapat beroperasi mulai tahun depan.

Tambang Bharinto juga telah beroperasi dan ditargetkan berproduksi sebanyak 100 ribu ton pada 2Q12 atau 700 ribu ton di tahun ini. Begitu pula dengan tambang Tandung Mayang yang telah berproduksi 500 ribu ton pada 1Q12 dan target 2.7 juta ton pada tahun ini.

Tahun ini perseroan menganggarkan capex sebesar US$209 juta, sebagian besar akan digunakan untuk pengembangan tambang Indominco dan Trubaindo. Selain itu, perseroan juga berencana untuk mengakuisisi 2 lahan pertambangan di Kalimantan Timur yang memiliki cadangan sekitar 30 juta ton dengan kalori 5,500 kcal/kg.

Saham BUMI juga disarankan karena memberikan indikasi operasi selama kuartal pertama 2012. Seperti volume produksi tumbuh 11,6% YoY menjadi 15.8 juta ton, volume penjualan sebanyak 15,8 juta ton, naik 14,1% YoY.

Sementara harga FOB price diperkirakan sebesar US$92.6/ton (+5.7% YoY). Dengan demikian penjualan selama 1Q12 diperkirakan mencapai US$1.46 miliar (+20% YoY).

Hingga kini, laporan keuangan BUMI masih dalam proses audit. Tahun ini, perseroan menargetkan produksi mencapai 75 juta ton. Sekitar 40 juta ton telah dikontrak dengan harga US$91/ton, sekitar 25 juta ton telah dikontrak, namun harga belum ditentukan. Sementara sekitar 10 juta ton belum terkontrak. “Rekomendasi beli untuk BUMI,”ucapnya. [ast]

BUMI RESOURCES dinilai tak sanggup lunasi utang Rp4,41 triliun

Oleh M. Munir Haikal

Jum’at, 04 Mei 2012 | 19:05 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: Standard & Poor’s Ratings Services menilai arus kas operasional PT Bumi Resources Tbk tidak bisa memenuhi kewajiban perseroan yang jatuh tempo pada tahun depan senilai US$480 juta (Rp4,41 triliun).

Seiring dengan penilaian tersebut, lembaga pemeringkat tersebut merevisi prospek Bumi Resources menjadi negatif dari semula stabil.

Analis Standard & Poor’s (S&P) Vishal Kulkarni mengungkapkan pada saat yang sama lembaga pemeringkat itu menetapkan peringkat korporasi BB terhadap Bumi Resources dan surat utang senior berjaminan yang diterbitkan perseroan.

“Kami juga menurunkan peringkat skala Asean terhadap Bumi menjadi axBB+ dari semula axBBB- seiring dengan revisi prospek perseroan,” ujarnya melalui riset yang dikirim ke Bisnis Jumat sore ini 4 Mei 2012.

Dia memaparkan prospek negatif mencerminkan utang Bumi Resources yang lebih tinggi dari antisipasi S&P. “Prospek negatif tersebut juga mencerminkan ekepektasi kinerja operasional Bumi Resources akan melemah pada tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini berdampak terhadap pertumbuhan arus kas perseroan yang tumbuh moderat.”

Menurutnya, dua faktor ini akan membatasi kemampuan Bumi Resources untuk mengurangi beban utang dalam setahun ke depan.

Bumi Resources saat ini berupaya melepas 20% sahamnya di PT Bumi Mineral Tbk untuk meraih dana minimal senilai US$400 juta yang akan digunakan untuk membayar utang dari China Investment Corporation (CIC).

Pada 2009, Bumi Resources meraih utang dari CIC senilai US$1,9 miliar yang jatuh tempo selama 4 tahun senilai US$600 juta, bertenor 5 tahun sebesar US$600 juta, dan jatuh tempo setelah 6 tahun senilai US$700 juta.

“Kami menilai risiko finansial Bumi Resources pada level agresif. Kami perkirakan rasio dana dari operasional terhadap total utang mencapai level sekitar 10% dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan sehingga membatasi upaya pembayaran maupun pembiayaan kembali utang, ” tutur Vishal.

Lembaga pemeringkat itu memprediksi Bumi Resources akan memenuhi kewajiban membayar utang dengan bunga tinggi tersebut melalui arus kas dari pihak terkait dan monetisasi aset akan tertunda.

Meski, dia memaparkan S&P memiliki penilaian likuiditas Bumi memadai berdasarkan kritera lembaga pemeringkat itu.
“Kami melihat ada kewajiban Bumi Resources senilai US$480 juta yang jatuh tempo pada tahun depan dan review terhadap penilaian perseroan akan dilakukan apabila gagal menggalang dana untuk memenuhi kewajiban tersebut.” (sut)

S&P turunkan peringkat BUMI RESOURCES jadi negatif

Oleh Raydion

Jum’at, 04 Mei 2012 | 22:27 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: Lembaga pemeringkat Standard & Poor’s menurunkan peringkat kinerja emiten tambang PT Bumi Resources Tbk dari stabil menjadi negatif.

Perusahaan asal Amerika Serikat itu juga menurunkan rating perseroan di Asean menjadi axBB+ dari axBBB- menyusul turunnya peringkat proyeksi.

S&P juga mengonfirmasi rating hutang dan senior secured noted Bumi Resources adalah BB.

“Proyeksi negatif merefleksikan pendapat kami kalau utang Bumi tetap tinggi dibandingkan dengan apa yang kami perkirakan,” jelas analis Standard $ Poor’s Vishal Kulkarni.

Dia memperkirakan pertumbuhan arus kas Bumi Resources pada tahun ini moderat.

Berdasarkan catatan Bisnis, pada 2009 Bumi Resources meraih utang dari CIC sebesar US$1,9 miliar, berjatuh tempo US$600 juta selama 4 tahun, US$600 juta selama 5 tahun, dan US$700 juta selama 6 tahun. (faa)

Kinerja Emiten Bagus, IHSG Naik
Anastasia Joice | Marcus Suprihadi | Selasa, 1 Mei 2012 | 16:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia mendukung penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada akhir perdagangan, IHSG naik 15 poin karena para investor memborong saham-saham berbasis konsumer. Kenaikan laju inflasi tampaknya diabaikan oleh para investor.

Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (1/5/2012), mengumumkan, tingkat inflasi tahunan pada bulan April sebesar 4,5 persen secara tahunan. Inflasi bulanan sebesar 0,21 persen. Angka ini sedikit di atas ekspektasi pasar masing-masing sebesar 4,46 persen dan 0,20 persen.

Menutup perdagangan hari ini, IHSG naik 15,252 poin atau 0,36 persen menjadi 4.195,984. Sementara Indeks LQ45 menguat 3,045 poin atau 0,42 persen menjadi 714,420. Indeks Kompas100 naik 1,82 poin menjadi 933,96.

Investor asing Asing tercatat melakukan membelian bersih (net buy) di pasar regular sebesar Rp 18 miliar dengan saham yang paling banyak di beli antara lain adalah Bank Mandiri (BMRI), Bank Danamon (BDMN), Gudang Garam (GGRM) dan Bumi (BUMI). Total nilai perdagangan sebesar Rp 4,3 triliun.

Beberapa bursa utama di Asia tutup pada hari ini. Bursa saham China, Hongkong, India, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan dan Thailand hari ini tutup karena libur nasional. Sementara bursa yang buka bergerak beragam. Indeks Nikkei 225 anjlok 169,94 poin atau 1,78 persen menjadi 9.350,95. Indeks Selandia Baru naik 21,45 poin atau 0,60 persen menjadi 3.577,32.
Inilah Saham Tambang Kebal dari Pajak Ekspor

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Rabu, 25 April 2012 | 08:15 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Wacana penaikan bertahap pajak ekspor barang tambang tertentu guna melindungi pasokan dalam negeri terus bergulir.Tapi, beberapa emiten tambang justru kebal.

Pada perdagangan Selasa (24/4/2012), saham PT Indo Tambang Raya (ITMG) ditutup menguat Rp1.250 (3%) ke angka Rp42.900, PT Bukit Asam (PTBA) turun Rp350 (1,83%) ke posisi Rp18.700 dan PT Vale Indonesia (INCO) stagnan Rp3.125.

Kepala Riset HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan, kalaupun pajak ekspor batu bara dinaikkan, emiten PT Adaro Energy (ADRO), PT Bumi Resources (BUMI), ITMG dan PTBA, tidak akan terkena kenaikan pajak ini. “Sebab, emiten-emiten itu sudah mendapatkan perlindungan dari kontrak renegosiasi PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu bara) tahun 2005,” katanya kepada INILAH.COM.

Saat ini, lanjut Yuga, mereka sudah dikenai Pph 25%. Angka ini, merupakan negosiasi ulang kontrak karya dengan perusahaan-perusahaan batu bara generasi pertama, dari Pph 45% diturunkan menjadi 25%.

Begitu juga dengan pemberlakuan pajak ekspor tambang mentah. Antara lain, INCO dan PT Aneka Tambang (ANTM) sudah memiliki smelter (pabrik pengolahan dan pemurnian). “Meskipun ANTM mungkin baru 50%. Karena itu, kenaikan pajak tersebut, kalaupun direalisasikan, tidak akan berpengaruh pada saham-saham teresbut,” paparnya.

Sebab, komoditas tambang yang diekspor oleh emiten-emiten itu merupakan tambang jadi dan bukan hasil tambang mentah. “Karena itu, saya justru optimistis, harga saham-saham pertambangan justru bakal mengalami kenaikan,” ujarnya.

Yuga mengakui, sejak wacana penaikan pajak ekspor berhembes pada awal April, pergerakan saham sektor ini terbilang letoy. Betapa tidak, pasar cemas dengan wacana itu yakni penaikan pajak ekspor 25% tahun ini hingga maksimal 50% tahun depan. “Tapi, ini tidak bisa diberlakukan karena bertentangan dengan kontrak renegosiasi,” tandasnya.

Sekarang, kata Yuga, pasar tinggal menunggu hasil laporan keuangan untuk kuartal pertama 2012. “Sebab, kalau soal pajak itu, sebagian besar emiten sudah memenuhi syarat ekspor hasil tambang karena sudah memiliki smelter untuk semua hasil tambang,” paparnya.

Yuga menegaskan, soal wacana penaikan pajak ekspor, emiten batu bara terlindung oleh renegosiasi kontrak PKP2B. Sedangkan tambang logam seperti INCO, ANTM, dan TINS sudah terlindungi oleh kepemilikan mereka atas smelter. “Karena itu, naik tidak naik pajak ekspor, tak lagi berpengaruh,” tuturnya.

Menurutnya, wacana penaikan pajak ekspor hasil tambang, bertentangan dengan peraturan yang sudah dibuat sebelumnya sehingga tidak bisa diberlakukan. “Karena itu, harga saham-saham di sektor batu bara seharusnya menguat,” timpalnya.

Lebih jauh Yuga menjelaskan, secara valuasi, saham ITMG dalam posisi sangat murah saat ini. Price Earnings Ratio (PER) 2012, masih di angka 11-12 kali dibandingkan saham BUMI yang sudah mencapai 16 kali. “ITMG bisa menguat ke Rp43.000 hingga akhir pekan,” ujarnya.

Yuga juga menyukai saham PTBA. Menurutnya, dengan PER 14 kali, PTBA punya tenaga untuk naik ke Rp21.000 hingga akhir pekan ini. “Di sektor batu batu bara, ITMG dan PTBA jagoan saya,” paparnya.

Sementara itu, di sektor pertambangan logam, Yuga menjagokan saham PT Vale Indonesia (INCO) dengan target harga Rp3.400. “Sebab, emiten ini sudah membangun smelter dan sudah jadi sehingga kalaupun pajak ekspor dinaikkan, INCO tidak terkena,” timpalnya. “Saya rekomendasikan buy untuk ITMG, PTBA dan INCO.”

Sesi II, asing kembali koleksi TLKM, BMRI, & BUMI
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 24 April 2012 | 16:14 WIB
kontan

JAKARTA. Meski sempat beberapa kali keluar masuk zona merah, indeks sesi II berhasil ditutup dengan penambahan 14,86 poin. Alhasil, posisi indeks saat ini berada di level 4.170,35.

Aksi borong investor terhadap sejumlah saham bluechips menjadi salah satu pemicunya. Tiga di antaranya yakni:

– PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)

Saham TLKM naik 1,92% menjadi Rp 7.950 di sesi II. Sejumlah broker yang paling banyak mengoleksi saham ini adalah Credit Suisse Securities senilai Rp 59,54 miliar, Deutsche Securities senilai Rp 31,79 miliar, dan UBS Securities senilai Rp 28,96 miliar.

– PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

Saham BMRI naik 1,44% menjadi Rp 7.050 di sesi II. Sejumlah broker yang paling banyak mengoleksi saham ini adalah Credit Suisse Securities senilai Rp 32,28 miliar, Macquarie Capital senilai Rp 18,88 miliar, dan CLSA Indonesia senilai Rp 14,84 miliar.

– PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

Saham BUMI naik 4,27% menjadi Rp 2.075 di sesi II. Sejumlah broker yang paling banyak mengoleksi saham ini adalah Credit Suisse Securities senilai Rp 13,82 miliar, OSK Nusadana Securities senilai Rp 5,74 miliar, dan Victoria Sekuritas senilai Rp 5,15 miliar.

Dikabarkan Terancam “Default”, Saham Grup Bakrie Terjungkal
| Erlangga Djumena | Senin, 23 April 2012 | 11:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Saham-saham anak usaha Bakrie Group pagi ini dilanda aksi jual. Ambil contoh, saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) yang turun 3,2 persen menjadi Rp 121 pada pukul 11.08. Pada transaksi sebelumnya, saham ELTY sempat tergerus 4 persen.

Selain itu, aksi jual juga terjadi pada saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang merosot 2,4 persen menjadi Rp 200 dan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang turun 3,5 persen menjadi Rp 2.075.

Saham grup Bakrie banyak dilepas seiring isu yang beredar di pasar. Dikabarkan, sejumlah kreditor yang digawangi Credit Suisse memberikan ancaman gagal bayar alias default atas pinjaman sebesar 437 juta dollar AS.

Menurut seorang sumber yang dikutip Financial Times edisi Jumat (20/4/2012), untuk menghindari default, Bakrie & Brothers wajib menambah agunan. Total tambahan agunan yang diminta para kreditor tersebut mencapai sekitar 150 juta dollar AS dan harus terpenuhi dalam waktu lima hari kerja. Dengan tambahan agunan senilai itu, total nilai agunan akan menjadi 1,54 kali dari nilai pokok utang. (Barratut Taqiyyah/Kontan)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan mengadakan RUPS Tahunan dan RUPSLB. Perseroan akan mengesahkan kinerja 2011 dan soal rencana untuk menggadaikan saham di anak usaha. Demikian mengutip keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Sabtu (21/4/2012).
… well, ngutang lage tuh … :<
Perseroan akan menggelar acara tersebut pada Senin (7/5/2012) mendatang. Dalam agenda RUPS Luar Biasa, perseroan akan meminta persetujuan untuk menjaminkan sebagian atau seluruh aset kepada kreditur baik yang langsung maupun tidak langsung.

Langkah itu untuk menggadaikan sebagian atau seluruh saham perseroan di anak usaha baik secara langsung maupun tidak langsung. Langkah kedua tentang fidusia atas tagihan rekening bank, klaim asuransi maupun persediaan, rekening escrow perseroan atau anak usaha. Ketiga, untuk menjaminkan harta perseroan milik perseroan atau anak usaha untuk mendapatkan pembiyaan dari pihak ketiga.

Sedangkan agenda RUPS LB lainnya adalah perubahan pengurus perseroan. Sementara untuk agenda RUPS Tahunan, perseroan akan meminta pengesahan laporan keuangan per 31 Desember 2011.

Perseroan juga akan meminta persetujuan penggunaan laba tahun 2011. Dalam acara tersebut, perseroan akan menggunakan data pemegang saham per 19 April 2012 kemarin.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1853529/inilah-agenda-rupslb-bumi-resources

Sumber : INILAH.COM
Q1 2012, Pertumbuhan Pendapatan BUMI Tembus 10%

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
pasarmodal – Sabtu, 21 April 2012 | 14:09 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pertumbuhan pendapatan kuartal I-2012 PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menembus angka 10%, bila dibandingkan dengan pendapatan kuartal I-2011.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Bumi Resources Dileep Shrivastava kepada INILAH.COM, ketika dikonfirmasi mengenai pencapaian kinerja kuartal I-2012 di Jakarta, Sabtu (21/4/2012). "Lebih dari 10 persen," tuturnya.

Namun untuk angka pastinya ia masih enggan mengungkap. "Setiap kuartal I tiap tahunnya, selalu terhalang curah hujan. Untuk tahun ini, kami berharap produksi bisa mencapai 75 metrik ton melebihi produksi 2011 sebanyak 66 metrik ton," paparnya.

Naiknya produksi tersebut, sehubungan dengan mulai beroperasinya overland conveyor di KPC bulan ini. "Kapasitas produksi di Sangatta saat ini naik menjadi 64 metrik ton per tahun, dari 32 metrik ton per tahun," ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, kapasitas pengirimin batu bara juga meningkat dari 4.500 ton per jam menjadi 7.500 ton per jam saat ini. "Jadi kami yakin akan mampu memproduksi dan menjual 75 metrik ton tahun ini, sesuai target 100 metrik ton pada 2014," pungkasnya.

Sebagai informasi, pada kuartal I-2012, perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar US$112 juta atau turun US$1 juta dibanding periode yang sama tahun 2010.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: