Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Oktober 11, 2012

batubara @INDONESIA … 111012

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 1:49 am

Alarm Batu Bara Waspada

Oleh: Vinsensius Segu
ekonomi – Senin, 8 Oktober 2012 | 10:00 WIB

SETELAH menikmati keuntungan berlimpah dari booming permintaan, kini pengusaha batu bara harus lebih pintar lagi membelanjakan duitnya. Sebab, sampai tahun depan, harga batu bara diperkirakan masih terus menurun. Ini akibat berkurangnya permintaan karena krisis global yang belum mereda.

Maklum, krisis Eropa sudah menyebar ke mana-mana. Memang, produk Indonesia yang diekspor ke negara-negara Uni Eropa terbilang kecil, yakni hanya 12,6%. Tapi, yang dikhawatirkan adalah Eropa selama ini menjadi andalan bagi ekspor produk China, India, AS, dan Jepang. Padahal, negara-negara raksasa tersebut, merupakan pasar yang sangat diandalkan oleh produk ekspor Indonesia.

Tak ada yang bisa menebak, kapan krisis di Benua Biru itu akan berakhir. Tapi, banyak analis ekonomi bilang, masih butuh waktu yang cukup panjang untuk memulihkan keadaan menjadi normal. Soalnya, krisis keuangan yang membelit Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan Spanyol, sudah sangat dalam. Bahkan, Jerman yang ekonominya begitu kuat, kini mulai merasakan dampak krisis.

Kondisi inilah yang dikhawatirkan pengusaha batu bara Indonesia. Bob Kamandanu, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, mengaku terus mencermati pengaruh krisis tersebut terhadap perekonomian China. Soalnya, China menjadi pasar terbesar ekspor batu bara Indonesia.

Kalau kondisi ini berlanjut terus, sudah bisa ditebak permintaan akan terus menurun. “Kalau permintaan turun, tentu terjadi keseimbangan harga baru. Mungkin harganya akan menurun dibanding sekarang,” ujar Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Thamrin Sihite.

Seperti halnya Thamrin, Ade Renaldi Satari, Corporate Secretary PT ABM Investama Tbk memprediksi, harga batu bara berkalori rendah akan kembali turun dari yang saat ini US$ 45 per ton menjadi US$ 37,5 per ton. Itulah sebabnya, ABM akan menurunkan panduan target poduksi. Semula ABM menargetkan mampu memproduksi 5,5 juta ton per tahun.

Penurunan harga juga bakal melanda jenis batu bara berkalori tinggi, lebih dari 6.000 kilokalori per kilogram atau kkal/kg. Batu bara kualitas tinggi itu, umumnya digunakan untuk industri pembuat baja dan tembaga. Saat ini harga batu bara berkalori tinggi masih berkisar US$ 90 per ton. Jika permintaan batu bara terus melemah, harga batu bara jenis ini bisa terus melandai hingga US$ 87 per ton.

Perkiraan itu, tentu saja mencemaskan. Karena itu, tak salah kalau Thamrin minta pengusaha batu bara menerapkan status waspada. Tujuannya, supaya pengusaha batu bara tidak mengalami goncangan ketika sesuatu yang buruk terjadi. Pasalnya, pertambangan batu bara merupakan salah satu penyokong perekonomian nasional. “Harapannya pertambangan batu bara tetap berjalan baik. Semua pihak harus waspada pada harga batu bara tahun depan,” katanya.

Peringatan itu bukannya tanpa alasan. Sebab, Kementerian ESDM mencatat total rencana produksi batubara tahun 2013 akan mencapai 450 juta ton. Itu sangat riskan karena permintaan batu bara di luar negeri sedang melemah, “Tahun depan, kalau melampaui rencana produksi mereka bisa mendekati 500 juta ton,” tambah Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Edi Prasodjo.

Kalau permintaan dari luar negeri terus melemah, bisa jadi pasar batu bara akan digeser ke pasar domestik. Sebab, kebutuhan di dalam negeri juga besar. Misalnya, untuk sektor kelistrikan atau tekstil. “Porsi penjualan batu bara ke dalam negeri masih terbilang kecil. Saat ini yang didistribusikan ke pasar domestik baru 25%, kita berharap semakin meningkat,” ujar Thamrin.

Ya, mudah-mudahan saja.

  • 6. October 2012, 14:25:36 SGT

Bisakah Indonesia Bertahan Tanpa Cina?

oleh James Hookway

BALIKPAPAN – Maskur, seorang awak kapal, sedang duduk-duduk di dermaga pelabuhan Semayang, Balikpapan, di pantai timur Kalimantan. Sambil mengupas mangga, ia merenungkan sebuah pertanyaan pelik. Berapa lama lagi Cina bisa pulih dari kelesuan ekonomi, dan kembali memborong batu bara Indonesia?

Sejak industri batu bara Indonesia melonjak tahun 2007, Maskur sudah beberapa kali keliling dunia sambil bekerja di kapal-kapal dagang. “Saya pernah ke Spanyol, Italia, Amerika,” kenangnya. “Paling sering sih ke Cina,” tambahnya. Tapi sekarang, ia tak lagi sering ke sana.

Indonesia adalah eksportir batu bara termal terbesar di dunia. Batu bara jenis ini adalah varietas low-grade yang dipakai sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga batu bara. Namun, seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina, daerah tambang batu bara di Kalimantan Timur dan lainnya mulai merasakan dampaknya.

Pertanyaan timbul: apakah booming belanja konsumen dalam beberapa tahun terakhir ini bisa mengimbangi kemerosotan permintaan batu bara, minyak sawit, dan komoditas ekspor lain? Bisakah kita terus-menerus menikmati booming ekonomi?

Sementara harga batu bara dunia telah jatuh sekitar 20% tahun ini. Dalam bisnis bermargin tipis ini, penurunan itu kian menambah tekanan. Pertambangan besi di Australia sudah memangkas anggaran belanja, karena harga bijih besi merosot seiring dengan penurunan permintaan dari Cina. Wilayah pertambangan batu bara Appalachia di Amerika Serikat (AS) juga menderita, karena harga batu bara top gradeyang ditambang di sana sudah terpapas separuhnya. Dari angka rekor $330 per ton pada awal 2011, ke sekitar $170 per ton saat ini. Oleh karena itu, perusahaan pertambangan terpaksa merumahkan ribuan pekerja. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan menyatakan pailit.

Di Indonesia, sebagai salah satu indikator utama bagaimana pengaruh kelesuan di Cina terhadap negara lain, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia menurunkan proyeksi produksi 2012 sebesar 13%. Akibatnya, pengiriman batu bara dari Balikpapan menurun tajam dalam beberapa bulan terakhir. Maskur dan rekan-rekannya sesama awak kapal Andhika terpaksa mengangkut semen. Kali ini, mereka hanya berlayar sampai Surabaya.

Kembali ke Kalimantan, Slamet Brotosiswoyo, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Timur, merasa khawatir akan nasib 30.000 buruh yang berpotensi kehilangan pekerjaan akhir tahun ini. Perusahaan pertambangan kecil harus menutup sebagian operasional. Hal itu bisa meredam laju belanja konsumen, dan memaksa perusahaan pertambangan lain berpikir ulang tentang bagaimana mereka bisa mengolah batu bara dan menjual dengan harga lebih tinggi.

“Krisis finansial global 2008 itu bukan apa-apa. Bagi kami, yang penting adalah Cina,” kata Ferry Juliantono, Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Indonesia.

Para ekonom juga mulai menyuarakan peringatan. Kejatuhan nilai ekspor komoditas telah membuat defisit transaksi berjalan yang parah semakin parah. Hal ini bisa menambah beban pada rupiah, dan memicu inflasi. “Indonesia terlalu tergantung kepada siklus komoditas global dan pertumbuhan ekonomi Cina,” kata Prakriti Sofat, ekonom Barclays Capital di Singapura.

Sofat juga mencatat bahwa angka impor pun menurun, walaupun data terbaru itu bisa jadi terpengaruh oleh dampak bulan puasa Agustus lalu, saat impor merosot 24% dibanding setahun sebelumnya. Bagaimanapun, tren itu menandakan para pengusaha mulai bertindak hati-hati, dengan meredam impor barang-barang modal. Ini bisa menjadi peringatan awal bagi belanja konsumen, yang menggerakkan sekitar 60% ekonomi Indonesia.

Sementara itu, di jalanan ibu kota Jakarta, buruh berunjuk rasa memprotes upah minimum yang rendah serta menjamurnya tren pekerja kontrak untuk menggantikan karyawan tetap. Hal ini bisa mengakibatkan kesenjangan sosial yang semakin lebar—satu lagi isu hangat menjelang pemilihan presiden 2014.

Pemilu akan menjadi titik balik yang sangat penting. Setelah memikat investor dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia kini kembali disorot. Masih banyak pihak yang melihat Nusantara sebagai negara yang akan menjadi kekuatan ekonomi baru. Mereka memandang Indonesia sebagai negara demokratis yang pro-bisnis. Negara berpenduduk 240 juta ini juga dipandang memiliki pasar dalam negeri yang kuat. Selain ikatan dagang yang erat dengan Cina, pasar dalam negeri ini membantu menangkal dampak krisis ekonomi global 2008.

Banyak bukti mendukung sudut pandang itu. Kota-kota kaya komoditas sumber daya alam seperti Balikpapan adalah salah satunya. Pusat perbelanjaan dan hotel berkualitas internasional menjamur di Balikpapan dan Samarinda. Semuanya adalah jawaban dari dahaga Cina akan komoditas mentah. Di Jakarta, jalanan penuh dengan mobil-mobil baru yang diborong kelas menengah. Indeks Harga Saham Gabungan melonjak 30% dalam setahun terakhir, sementara ekonomi menanjak mendekati batas $1 triliun per tahun dengan sektor jasa yang besar. Tahun 2011, ekspor komoditas termasuk bahan makanan menyumbangkan 68% dari total ekspor. Tapi, menurut McKinsey & Co, sektor itu hanya berkontribusi 19% terhadap total nilai ekonomi.

Luke Rowe, penasihat teknis di Jones Lang LaSalle, berkata tidak ada tanda-tanda gelembung atau bubble di pasar properti. Permintaan dari sektor komersial dan perumahan tetap tinggi, walaupun beberapa proyek terkesan terlalu ambisius, seperti rencana pencakar langit 101 lantai di Jakarta. Yang paling penting, tak seperti booming properti sebelumnya tahun 1990-an, bank lebih hati-hati memberikan kredit. “Mereka sudah jera,” ujar Rowe.

Di pertemuan regional di Phnom Penh, Kamboja, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan beberapa bulan lalu merangkum suasana ini dengan menggambarkan Indonesia sebagai “indescribably sexy story.

Tapi, agar kisah seksi itu bisa terus berlanjut, kalangan pebisnis harus bisa mencari cara tetap tumbuh saat Cina melemah. Menurut sebagian ekonom, generasi baru pemimpin Cina yang akan mulai berkuasa sebentar lagi – rapat-rapat soal transisi Cina ini akan dimulai 8 November – tidak terlalu memperhatikan angka pertumbuhan yang tinggi. Mereka lebih menyoroti kualitas pertumbuhan Cina. Ini bisa mendatangkan perubahan struktural di Negara Tembok Besar itu. Seperti halnya jumlah proyek listrik tenaga air dan gas di negara itu yang terus meningkat, perubahan tersebut bisa semakin menurunkan permintaan akan batu bara Indonesia.

Jadi untuk saat ini, sektor pertambangan Indonesia tengah mencari cara meningkatkan nilai batu bara yang diekspor. Pemerintah juga berperan dalam hal ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menerapkan peraturan baru yang melarang perusahaan batu bara mengekspor batu bara mentah pada 2014. Untuk bisa tetap mengekspor, pertambangan harus mengolah batu bara terlebih dulu, sehingga membantu meningkatkan nilai produksi batu bara Indonesia. Para pengusaha setempat melirik kilang minyak canggih milik PT Pertamina di Balikpapan sebagai contoh apa yang bisa dicapai industri batu bara.

“Industri batu bara harus mengikuti contoh itu,” kata Slamet Brotosiswoyo dari Apindo Kaltim, di sela-sela konferensi pertambangan di gedung hotel Novotel Balikpapan yang baru.

Sementara itu, bursa memperhatikan dengan seksama. Seiring dengan kemunduran potensi pemasukan, masalah-masalah baru bisa terungkap. Standard & Poor’s atau S&P telah menurunkan peringkat kredit perusahaan batu bara Bumi Resources, dari BB- ke B+ pada 26 September lalu. Beberapa hari sebelumnya, pemegang saham utama Bumi PLC mengumumkan investigasi tentang dugaan penyimpangan keuangan di anak usaha mereka di Indonesia. S&P mencatat bahwa pada saat yang sama, “laju pertumbuhan produksi dalam 12 bulan ke depan lebih lambat dari perkiraan kami sebelumnya.”

S&P juga menurunkan outlook Berau Coal Energy dari positif ke negatif, sementara Moody’s Investor Service pun menurunkan outlook Bumi Resources ke negatif.

Para analis batu bara global berkata penurunan harga batu bara dunia bisa membuat perusahaan asing yang ingin berinvestasi di Indonesia kehilangan minat. “Banyak kekhawatiran soal perubahan peraturan dan risiko regulasi lain di Indonesia,” kata Rohan Kendall dari konsultan energi Wood Mackenzie di Australia. “Pemerintah berusaha tampil nasionalis dengan mensyaratkan pengolahan batu bara di dalam negeri sebelum diekspor. Harga batu bara yang lemah juga kian memberatkan kecemasan itu.”

Di Samarinda, beberapa perusahaan pertambangan melihat keuntungan dari upaya meningkatkan nilai batu bara—kalau mereka bisa melakukannya.

Ayub Sudarsono adalah salah satu bos pertambangan setempat yang sedang menimbang pemakaian sistem pengolahan baru. Mesin-mesin baru itu dapat membuat batu bara setempat lebih padat, sehingga meningkatkan kandungan energinya sampai 20% atau bahkan lebih. Ayub, pria berjanggut berusia 52 tahun yang selalu tampak santai, berpikir bahwa pengolahan ini bisa meningkatkan kualitas batu bara Indonesia. Hasil olahannya bisa dipakai sebagai bahan bakar pabrik baja dan logam lain. Pabrik seperti itu memerlukan suhu lebih tinggi dari yang bisa dipasok oleh batu bara termal, yang lebih muda warnanya.

“Itu bisa membuka pasar lain bagi kami,” ujarnya.

Sebenarnya, kata Ayub, ia sempat berpeluang memakai sistem baru itu dua tahun lalu. Seorang pengusaha asal Inggris datang berkunjung, menawarkan mesin-mesin pengolah itu dengan harga $4 juta atau sekitar Rp 38 miliar lebih.

“Waktu itu, kami bisa saja membelinya, tapi kami kira itu belum perlu,” kata Ayub sambil tertawa. “Kalau Anda ketemu orang Inggris itu, bilang padanya kami tertarik sekarang.”

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: