Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Oktober 30, 2012

bumi GEMP4, gw SANT3 (2) : 301012

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 6:00 am

Bakrie’s Bumi exit could cost $1.6 billion
Oleh Edy Can – Senin, 29 Oktober 2012 | 10:17 WIB

kontan

JAKARTA. The Bakrie Group’s plan to take over all of Bumi Plc’s Indonesian assets could prove to be “a tough nut to crack”, according to analysts, as a major partner has demanded a break-up fee — in cash — that could push the value of the proposed transactions to at least US$1.6 billion.

Jakarta-listed PT Borneo Lumbung Energi & Metal says the group’s proposal would require the dissolution of two special purpose vehicles (SPVs) they created together in 2011.

For the dissolution to happen, compensation is being sought as the company vows to recoup the $1 billion invested when it purchased half of the Bakrie Group’s stake in Bumi Plc through the creation of the SPVs.

The SPVs — Borneo Bumi Lumbung Energi Pte Ltd and Bumi Borneo Resources Pte Ltd — each controls a 23.8 percent stake in Bumi Plc.

In less than one year of partnership, Borneo saw its investment, which was backed by loans from Standard Chartered Bank, tumble as Bumi Plc’s share price dropped significantly due to a bearish coal market and an internal dispute involving the Bakrie Group and the company’s founder Nathaniel Rothschild.

Borneo has stated that it would unlikely accept compensation in the form of share ownership, a practice Bakrie Group has frequently performed. “We prefer in cash,” Borneo president director Alexander Ramlie said last week.

Alexander said a negotiation was currently underway on the compensation, separate from the negotiation between Bumi Plc’s shareholders on the Bakrie Group’s proposal for a share swap and $1.2 billion cash for all of the London-listed company’s assets in Indonesia.

Bumi Plc currently controls a 29.2 percent stake in PT Bumi Resources — Asia’s largest thermal coal exporter — and a 84.7 percent stake in PT Berau Coal Energy.

“In principal, I think they agreed on financial compensations. It’s crucial that we’re in agreement with them on the dissolution of the SPVs,” Alexander said.

Bumi Plc said that it had appointed the Rothschild Group to review the proposal and made a recommendation to independent directors as well as the board. However, the board issued a statement that it would not review the proposal until an investigation into alleged financial and other irregularities in Bumi Resources and Berau was completed. London-based law firm Macfarlanes is expected to conclude its investigation this month.

Alexander, who is also a non-executive director in Bumi Plc, said that all shareholders expected the board’s recommendation and did not want to become “stuck” in the current situation.

“I don’t believe the independent directors will reject [the Bakrie Group’s] offer without a counter offer,” he said.

Alexander played down doubts that the Bakrie Group could not afford the transaction and compensation for his company.

“We saw them bankrupted in 1997, but then they rose again. In 2005 and 2008, they almost went bankrupt but then rose again. If we look at the history, I’m sure they can rise again,” Alexander said.

Bakrie Group’s spokesperson Fong said recently that “all funds were in place and everything was prepared to meet the offer to the Bumi Plc board. Fong also said that Credit Suisse was representing the group in the offer.

Capital market analyst Yanuar Rizky told The Jakarta Post over the weekend that the compensation sought by Borneo could reach $400 million.

“Borneo’s position is 50/50 and not affiliated with Bakrie Group. Therefore, given that Bumi Resources and Berau will be pulled out from Bumi Plc, Borneo must receive the compensation.”

“It’s unlikely that Borneo will get its $1 billion back [from the transaction alone] because Bumi Resources and Berau’s market price and book value have been declining due to lower coal prices. [The compensation] won’t be too far from $400 million,” Yanuar said. (Raras Cahyafitri/ The Jakarta Post)
Inilah Posisi BORN dalam Kasus Bumi Plc

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Kamis, 18 Oktober 2012 | 19:48 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN) menyatakan, akan memberikan keterbukaan informasi setelah memperoleh persetujuan dari Bumi Plc atas proposal grup Bakrie.

Sebelumnya Bumi Plc masih mempertimbangkan proposal grup Bakrie untuk membeli kembali sisa sekitar 18,9% saham yang dimiliki Bumi Plc di PT Bumi Resources Tbk dan membeli kembali secara tunai sekitar 84,7% saham yang dimiliki Bumi Plc di PT Berau Coal Energy Tbk.

Direktur Utama PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk, Alexander Ramli menuturkan, hal itu sesuai dengan siaran pers Bumi Plc pada 17 Oktober 2012. Dalam siaran pers itu, Bumi Plc menyatakan, setelah diterimanya proposal pada 11 Oktober 2012, dewan meminta agar non-eksekutif independen direksi Bumi meninjau proposal dan melaporkan kepada Dewan.

Non-eksekutif independen direksi akan mempertimbangkan setiap proposal untuk kepentingan mereka sendiri, dan Dewan telah menunjuk grup Rothschild untuk mengevaluasi masing-masing dari tiga proposal atas dasar. Proposal tersebut, antara lain penilaian mereka atas pemegang saham, dan pengiriman, serta pelaporan kepada independen direksi dan selanjutnya kepada Dewan.

“Setelah kami memperoleh persetujuan dari Bumi Plc atas proposal grup Bakrie itu, maka kami akan memberikan keterbukaan informasi serta memenuhi persyaratan yang diatur dalam perundangan yang berlaku terkait dengan pelaksanaan kesepekatan tersebut,” ujar Alexander alam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (18/10/2012).

Sebelumnya manajemen Bumi Plc menerima proposal dari Long Haul Holdings Limited. Proposal itu antara lain grup Bakrie membatalkan kepemilikan tidak langsung sebesar 23,8% saham di Bumi Plc, yang akan ditukar dengan sekitar 10,3% saham yang dimiliki oleh Bumi Plc di PT Bumi Resources Tbk, grup Bakrie membeli kembali secara tunai sisa sekitar 18,9% saham yang dimiliki Bumi Plc di PT Bumi Resources Tbk, dan grup Bakrie membeli kembali secara tunai sekitar 84,7% saham yang dimiliki Bumi Plc di PT Berau Coal Energy Tbk. [hid]

Urusan dengan Bakrie, Rothschild Terlalu Naif?

Oleh:
pasarmodal – Kamis, 18 Oktober 2012 | 18:10 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saling tuding di tengah investigas Bumi Plc membuat mantan direksinya, Nat Rothschild, ungkapkan penyesalan. Benarkah ia terlalu naif?

Rothschild mundur dari direksi Bumi Plc karena tekanan dari Direkturnya, Samin Tan, yang mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya jika Rothschild bertahan. Samin Tan didukung seorang direksi non-eksekutif yang menyatakan hal sama.

Setelah mundur, Rothschild yang ikut mendirikan Bumi Plc pun mengungkapkan penyesalannya telah membawa Bumi Plc melantai di bursa saham London. Hal ini disampaikan oleh seorang konsultan di Jakarta, dilansir FT.

“Rothschild melihat aset pertambangan hebat ini dan berpikir jika ia bisa mengubah manajemennya, investor bisa menggandakan uangnya. Tapi ia naif jika berpikir bisa membersihkannya,” ujar si konsultan yang tak disebut namanya ini.

Kevin O’Rourke yang menjalankan perusahaan politik dan risiko bisnis Reformasi Information Service menyatakan, model investasi ala Bakrie yang terkadang disebut kompleks, sudah dijalankan di Indonesia selama lebih dari dua dekade.

Berdasarkan konteks praktik bisnis yang telah dijalankan di Indonesia, lanjutnya, keputusan Rothschild untuk menjadi partner minor tidak konvensional. Hasil yang suram, kata O’Rourke, tidak bisa diprediksikan.

Ia merujuk pada upaya Vallar mengambil alih 29% kepemilikan Bakrie di Bumi Resources. Bagi Bakrie, lanjut O’Rourke, kontrak dengan Vallar merupakan salah satu kesepakatan restrukturisasi dan refinansial yang sulit.

“Tujuannya, untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk meminjam. Meski memang ada sedikit cacat di strateginya,” katanya. [ast]

BORN Harap Investasi $1 M di Bumi Plc, Kembali

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Kamis, 25 Oktober 2012 | 15:04 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Manajemen PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN) berharap, investasi sekitar US$1 miliar di Bumi Plc dapat kembali ke perseroan.

Direktur Utama PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk Alexander Ramlie menuturkan, pihaknya ingin bertahan di Bumi Plc, melihat kemungkinan Bumi Plc dapat berkembang jauh lebih besar ke depan.

“Hingga kini belum ada resolusi. Kalau jual saham di pasar tidak bisa. Kedua, value Bumi Plc jauh lebih besar kenapa harus keluar,” ujar Alexander, saat ditemui wartawan di acara paparan publik insidentil PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk, Kamis (25/10/2012).

Alexander mengatakan, pihaknya mengharapkan investasi yang ditanamkan sekitar US$1 miliar dapat kembali meski pun ada risiko. “Saya harapkan bisa balik investasi yang telah ditanamkan,” tuturnya.

Ia pun menuturkan, bila pihaknya ingin tetap berinvestasi di Bumi Plc sedangkan grup Bakrie berniat ‘cerai’ dari Bumi Plc, maka dua special purpose vehicle (SPV) yaitu Borneo Bumi dan Bumi Borneo yang berinvestasi di Bumi Plc harus dibubarkan. Oleh karena itu, pihaknya pun turut berbicara dengan grup Bakrie.

“Ini dua deal yang berbeda. Cara kita pegang saham di Bumi Plc itu tidak secara langsung tetapi untuk Nat dan pemegang saham lainnya, mereka secara langsung. Mereka secara langsung akan menerima manfaatnya dari tawaran Long Haul. Termasuk dua SPV itu akan dapat benefit, tetapi karena kita juga harus bicara dengan mereka. Long Haul punya tawaran seperti ini berarti kita harus pecahing dong. Joint venture kalau dipecahkan gimana? kalau dipecahkan ada kompensasi ke kita tidak. Ada financial consideration tidak, ini pembicaraan berbeda,” kata Alexander.

Ia pun menambahkan, pihaknya saat ini juga masih menunggu rekomendasi dari direktur independen Bumi Plc terkait proposal grup Bakrie. Saat ini direktur independen Bumi Plc sedang melakukan evaluasi terhadap proposal itu.

Seperti diketahui, Borneo Bumi Energi & Metal Pte Ltd (Borneo Bumi) dan Bumi Borneo Resources Pte Ltd (Bumi Borneo) sebagai kedua perusahaan yang didirikan di Singapura ini merupakan kendaraan bagi BORN dan kelompok Bakrie untuk memegang saham di Bumi Plc masing-masing 23,8%.

Grup Bakrie memiliki 51% di Bumi Borneo dan 49% di Borneo Bumi, sedangkan sisanya dimiliki oleh Borneo.

kelompok Bakrie akan menukar seluruh kepemilikannya di Bumi Plc dengan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang dikuasai Bumi Plc. Hal ini terjadi jika penawaran penukaran saham BUMI oleh Grup Bakrie diterima oleh Bumi Plc. [ast]
Divestasi Aset, BNBR Masih Jajaki Calon Investor

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Rabu, 24 Oktober 2012 | 04:31 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) belum mencapai kesepakatan dengan sejumlah calon pembeli atau mitra usaha dalam investasi maupun divestasi aset-aset yang dimiliki perseroan.

Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Selasa (23/10/2012). Dalam rencana divestasi aset milik perseroan, saat in masih dalam tahap penjajakan dengan sejumlah calon pembeli atau mitra.

Sebagai perusahaan investasi, perseroan mempertimbangkan setiap peluang yang ada baik dalam investasi maupun divestasi aset-aset perseroan. “Informasi detail mengenai divestasi asetakan kami samaikan setelah negosiasi selesai. Saat ini proses tersebut masih berlangsung dan perseoran terikat dengan perjanjian kerahasiaan antar pihak,” kata Direktur & Corporate Secretary BNBR, RA Sri Dharmayanti.

Perseroan telah beberapa kali melakukan pertemuan dengna para calon pembeli atau mitra usaha yang berminat mengadakan kerja sama. Beberapa diantaranya para calon pembeli atau mitra usaha dari investor dalam dan luar negeri. Namun perseroan memastikan rencana divestasi terebut tidak termasuk dalam transaksi material.

Belum lama ini, Grup Bakrie mengajukan proposal untuk melakukan tukar guling sahamnya di Bumi Plc dengan 29% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Grup Bakrie kini menguasai 23,8% saham Bumi Plc akan menukarnya dengan sekitar 10,3% saham BUMI. Selanjutnya sisa saham BUMI yaitu sekitar 18,7% akan dilunasi grup Bakrie dengan pembayaran tunai.

Rotchschild Evaluasi Proposal Bakrie
Widi Agustian – Okezone
Kamis, 18 Oktober 2012 16:12 wib

JAKARTA – PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk (BORN) menuturkan, Bumi Plc telah menunjuk Rotchschild Group untuk mengevaluasi proposal dari Grup Bakrie.

Demikian disampaikan oleh Presiden Direktur BORN Alexander Ramli dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (18/10/2012).

“Dewan telah menunjuk Rotchschild Group untuk mengevaluasi masing-masing dari tiga proposal atas dasar, antara lain penilaian mereka atas pemegang saham dan pengiriman serta pelaporan kepada direksi independen dan selanjutnya kepada dewan,” kata dia.

Sebelumnya, dalam proposal yang diungkapkannya, Grup Bakrie akan melepas kepemilikan di Bumi PLC sebesar 23,8 persen untuk ditukar dengan 10 persen kepemilikan di Bumi Resources.

Pada proposal tahap kedua, Grup Bakrie akan membeli 18,9 persen sisa saham Bumi PLC di unit usaha Indonesia senilai USD278 juta (Rp2,6 triliun). Bakrie kemudian dapat mengendalikan 29 persen saham Bumi Resources dan tidak perlu berhubungan dengan Bumi PLC.

Dalam proposal tahap ketiga, Bakrie akan membeli aset tambang lain milik Bumi PLC, yakni 85 persen saham di PT Berau Coal Energy senilai USD950 juta (Rp9,1 triliun).

Tapi, tampaknya aksi tukar guling saham ini tak akan semulus yang Bakrie bayangkan. Bumi Plc menegaskan, investigasi independen atas penyimpangan keuangan di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tetap akan dilanjutkan kendati Grup Bakrie telah mengajukan proposal tukar guling saham.

“Manajemen tidak akan membuat keputusan apa-apa atas proposal Bakrie sampai investigasi membuahkan hasil,” kata Bumi dalam pernyataannya. (wdi)
Samin Tan Bantah Tekan Rothschild
Widi Agustian – Okezone
Rabu, 17 Oktober 2012 08:38 wib

JAKARTA – Samin Tan, chairman Bumi Plc membantah tudingan dari Nat Rothschild. Taipan batu bara itu menegaskan tidak pernah menekan Rothschild.

Rothschild, yang merupakan pendiri Bumi Plc sebelumnya telah mengundurkan diri dari jajaran eksekutif Bumi Plc. Dalam surat pengunduran dirinya, Rothschild juga mengkritik langkah Samin Tan yang dia nilai memarjinalkan dirinya sebagai pemegang saham minoritas. Akibatnya, Rothschild pun kehilangan kepercayaan kepada manajemen Bumi Plc.

“Saya yakin saya telah melakukan hal yang benar. Saya juga menyakini telah melindungi semua pemegang saham,” kata Samin Tan seperti dilansir dari The Wall Street Journal, Rabu (17/10/2012).

Pekan lalu, Grup Bakrie Group menyatakan keinginannya hengkang dari Bumi PLC, eksportir batu bara thermal terbesar di Indonesia yang salah satu pendirinya adalah Nat Rothschild.

Grup Bakrie menawarkan kepemilikannya di Bumi Plc serta membeli kembali saham Bumi Resources dan Berau Coal Energy dengan nilai total USD1,2 miliar. Pengajuan pecah kongsi itu akan membuat Bumi Plc kehilangan aset.

Menurut Samin Tan, tahun lalu sejumlah petinggi Bumi sempat berdiskusi dengannya demi menemukan solusi atas kemelut yang menerpa keluarga Bakrie dan Rothschild. Samin mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa dia menjadi pihak perantara yang membantu keluarga Bakrie meredakan ketegangan dengan Nat Rothschild yang ketika itu membuat harga saham Bumi Plc jatuh hingga lebih dari 70 persen dari harga yang dipatok ketika listing.

Dalam proposal yang diungkapkan Kamis pekan lalu, Bakrie Group akan melepas kepemilikan di Bumi PLC sebesar 23,8 persen untuk ditukar dengan 10 persen kepemilikan di Bumi Resources. Pada proposal tahap kedua, Grup Bakrie akan membeli 18,9 persen sisa saham Bumi PLC di unit usaha Indonesia senilai USD278 juta (Rp2,6 triliun). Bakrie kemudian dapat mengendalikan 29 persen saham Bumi Resources dan tidak perlu berhubungan dengan Bumi PLC.

Dalam proposal tahap ketiga, Bakrie akan membeli aset tambang lain milik Bumi PLC, yakni 85 persen saham di PT Berau Coal Energy senilai USD950 juta (Rp9,1 triliun).

“Kesepakatan itu akan merugikan sejumlah besar investor Bumi Plc. Namun, angka itu akan lebih kecil ketimbang jumlah kerugian yang mesti mereka pikul sekarang,” ujar Samin Tan. (wdi)
Bos Stanchart Pemberi Utang Rp 9 T ke Bumi Plc Mengundurkan Diri
Angga Aliya – detikfinance
Kamis, 18/10/2012 14:27 WIB
Hong Kong – Kepala Sindikasi Pinjaman Standard Chartered, Peter Kay, mengundurkan diri dari jabatannya demi alasan pribadi. Peter terlibat dalam pemberian pinjaman kepada taipan batubara Samin Tan, komisaris Bumi Plc.

Samin Tang menggunakan utang US$ 1 miliar (Rp 9 triliun) itu untuk membeli saham di perusahaan batubara tersebut. Sayangnya, investasi tersebut gagal karena harga saham Bumi Plc yang terus merosot.

Menurut Juru Bicara Stanchart Valerie Tay, Kay resmi mengajukan pengunduran diri akhir September lalu setelah berkarir selama 3 tahun di perusahaan tersebut. Kay sendiri punya pengalaman di bidang kredit selama lebih 20 tahun di berbagai belahan dunia, seperti Eropa, AS dan Asia.

Sejak menjabat di Stanchart, Kay bertanggung jawab untuk memberi pinjaman kepada korporasi yang membutuhkan. Salah satu yang sudah diberi pinjaman adalah pemilik PT Borneo Lumbung Energi Tbk (BORN), Samin Tan, untuk membeli 23,8% saham Bumi Plc dari Grup Bakrie

Pinjaman yang diberikan kepada Borneo itu merupakan salah satu yang terbesar di Asia tahun lalu. Standard Chartered sudah bisa menerima US$ 230 juta dari pinjaman itu, meninggalkan US$ 770 juta sisanya dalam risiko.

Saham Bumi Plc, yang dibeli Samin Tan melalui uang pinjaman itu, sudah anjlok 72% tahun ini saja akibat perseturuan antara dua pemegang sahamnya, yaitu Nathaniel Rothschild dan Grup Bakrie.

September lalu, sahamnya makin jatuh setelah Bumi Plc, yang didorong Rothschild, berencana melakukan investigasi terhadap dana senilai US$ 500 juta milik anak usahanya di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Grup Bakrie yang sebelumnya menguasai perusahaan tambang berkode BUMI itu menyambut langkah Rothschild dengan menawarkan pembelian kembali saham BUMI supaya lepas dari perusahaan yang dulunya bernama Vallar Plc itu.

Nat Rothschild, yang punya 12% daham Bumi Plc, memilih untuk turun dari posisinya sebagai direktur di Bumi Plc awal pekan ini.

(ang/dru)
Dugaan Penyimpangan I Rothschild Teruskan Perlawanan di Bumi Plc
Kasus Bakrie Rusak Reputasi Indonesia
koran jakarta

LONDON – Rencana terbaru Grup Bakrie untuk membeli kembali saham PT Bumi Resources Tbk bakal merugikan kepentingan investor publik di Bumi Plc. Rencana tukar guling saham yang akan membuat Grup Bakrie menguasai kembali 29,18 persen saham Bumi Resources dari Bumi Plc ini bahkan dituding bakal merusak reputasi Indonesia di dunia internasional.

Tudingan ini datang dari Nathaniel Rothschild selaku pemilik 12 persen saham di Bumi Plc. Rothschil yang berasal dari dinasti keuangan paling berpengaruh di Inggris itu menilai investor publik di Bumi Plc akan dirugikan dengan penjualan saham Bumi Resources yang jauh di bawah harga pembeliannya pada 2011 lalu.

Dalam proposalnya, Grup Bakrie berencana melakukan penawaran tukar guling saham Bumi Resources dan PT Berau Coal Energy Tbk senilai 1,2 miliar dollar AS. Grup Bakrie berencana menukar 23,8 persen saham Bumi Plc dengan 10,3 persen saham Bumi Resources. Selanjutnya, Grup Bakrie akan membeli kembali (buyback) 18,9 persen saham Bumi Resources dan 84,7 persen saham Berau Coal Energy dari Bumi Plc.

“Proposal itu hanya akan menindas pemegang saham minoritas, dan Samin Tan setuju dengan proposal tersebut. Itu merupakan kabar buruk bagi reputasi Indonesia di internasional,” kata dia dalam surat pengunduran dirinya kepada Bumi Plc, Senin (15/10).

Dia juga membeberkan sebagian besar pelaku bisnis di Indonesia merasa terkejut dengan tindakan Bumi Plc yang telah memberikan peluang bagi investor asing di Indonesia. Indonesia membutuhkan banyak penawaran investasi asing secara langsung untuk menjaga pertumbuhan ekonominya.

“Cerita Bumi Plc memang kecil tapi cukup berpengaruh besar bagi pemegang saham minoritas ketika penambangan nasional tengah lesu,” jelas dia. Analis saham dari Trust Securities, Reza Priyambada, menyayangkan beberapa kasus yang melanda Bumi Plc dan Grup Bakrie tentu akan menimbulkan stigma negatif bagi citra Indonesia pada khususnya dan perusahaan tambang lain pada umumnya.

“Investor luar negeri bisa saja beranggapan perusahaan tambang Indonesia punya track record buruk, walaupun nggak semua perusahaan seperti itu sehingga otomatis reputasi Indonesia ikut tercoreng,” kata dia. Kondisi ini, lanjut dia, dapat menjadi pelajaran bagi perusahaan tambang lain dalam menjalin kerja sama dengan pihak lain.

Apabila terjadi konflik internal, hendaknya diselesaikan secara kekeluargaan agar tidak menjadi konsumsi publik. Dia menyarankan agar Bumi Plc bisa mengembalikan kepercayaan publik sehingga tidak menjadi sentimen negatif di pasar. “Sayang sekali jika Bumi Plc yang punya sisi fundamental sebagai perusahaan batu bara kelas dunia dengan cadangan cukup besar, ternyata hanya gara-gara konflik internal bisa merusak kredibilitas perseroan,” ungkap dia.

Pengunduran Diri
Rotschild resmi mengundurkan diri pada tanggal 15 Oktober 2012, seiring dengan pengajuan surat permohonan hengkang sebagai salah satu jajaran direksi di Bumi Plc. Keputusan ini menindaklanjuti persetujuan Samin Tan atas penawaran tukar guling Grup Bakrie.

“Proposal yang ditawarkan Bakrie tidak membela kepentingan investor minoritas. Saya tidak mungkin berada dalam jajaran direksi lagi karena saya telah kehilangan percaya diri dalam hal kemampuan untuk membangun Bumi Plc kepada investor,” beber dia dalam surat pengunduran dirinya kepada Bumi Plc, Selasa (16/10).

Dia melanjutkan apabila proposal tersebut diterima, itu hanya akan membuka aib bagi Bumi Plc dan Bakrie sendiri, mengingat dugaan penyimpangan dana serta faktafakta lain akan terungkap ke publik. “Saya akan tetap melawan untuk kepentingan investor lainnya, dan hal ini akan lebih efektif jika saya berada di luar,” jelas dia.

Ketegangan semakin berlanjut kala Rothschild melihat adanya potensi penyelewengan dana lebih dari 500 juta dollar AS di anak perusahaan Bumi Plc di Indonesia sehingga perusahaan batu bara yang tercatat di bursa London ini tengah melakukan investigasi terkait adanya penyimpangan dana oleh dua sayap usahanya PT Bumi Resources Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk. fik/E-11

Rotschild Mundur, Saham Grup Bakrie Tersungkur
Penulis : Didik Purwanto | Selasa, 16 Oktober 2012 | 13:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Keputusan Nathaniel Rotschild untuk mundur dari jajaran direksi Bumi Plc ditanggapi negatif oleh pelaku pasar. Saham-saham yang terafiliasi dengan saham Bumi Plc langsung turun.

Berdasarkan penutupan perdagangan saham pukul 12.00 WIB, saham-saham terafiliasi Bumi Plc pun anjlok, seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Saham BUMI turun 10 poin atau 1,41 persen menjadi Rp 700 per lembar saham. Tiga broker yang paling gencar melepas kepemilikannya atas saham ini adalah CIMB Securities senilai Rp 10,069 miliar, Lautandhana Securindo senilai Rp 2,951 miliar, dan AmCapital Indonesia senilai Rp 2,086 miliar.

Sementara saham BRAU juga turun 10 poin atau 4,17 persen menjadi Rp 230 per lembar saham. Sejumlah broker yang paling banyak melepas saham ini yaitu Indo Premier Securities senilai Rp 1,110 miliar, Phillip Securities Indonesia senilai Rp 1,020 miliar, dan Victoria Sekuritas senilai Rp 589,702 juta.

Saham Grup Bakrie yang turut anjlok lainnya adalah PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) yang anjlok 20 poin (3,28 persen) menjadi Rp 590 per saham. Saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) juga anjlok 1,41 persen menjadi Rp 70 per saham dan saham PT Bakrie Development Tbk (ELTY) anjlok 1,92 persen menjadi Rp 51.

Namun, saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tetap bertahan di harga Rp 500 per saham. Begitu juga dengan saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang bertahan di harga Rp 87 dan PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) yang bertahan di harga Rp 126, serta saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) bertahan Rp 50.

Sekadar catatan, Nathaniel Rotschild akhirnya memilih untuk mundur dari jajaran direksi Bumi Plc. Dia melepas jabatan sebagai independet non executive director Bumi Plc. Surat keputusan pengunduran diri Rotschild telah diajukan ke perusahaan pada Senin, 15 Oktober kemarin. Rotschild langsung mengajukan pengunduran dirinya ke Chairman Bumi Plc Samin Tan, yang memilih bertahan di Bumi Plc.

“Saya khawatir bahwa saya telah kehilangan kepercayaan pada kemampuan jajaran direksi Bumi Plc. Para pemegang saham sudah diperlakukan tidak adil pada proposal senilai 1,2 miliar dollar AS yang diajukan oleh Bakrie untuk membatalkan perjanjian antara perusahaan yang tercatat di London terhadap dua perusahaan batubara Indonesia,” jelas Rothschild.

Rotschild menganggap bahwa keputusan mundur itu dianggap benar karena dia tidak sepakat jika BUMI Plc menerima proposal penawaran Bakrie, khususnya yang ingin mengambil kembali seluruh aset batubara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di Bumi Plc sebesar 23 persen.

Apalagi, Bumi Plc tengah melakukan investigasi mengenai dugaan penyelewengan dana yang dilakukan dua anak usahanya di Indonesia, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI) serta PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Rotschild juga yakin bahwa proposal yang ditawarkan keluarga Bakrie ini tidak akan diminati oleh investor minoritas. “Saya tidak mungkin bertahan sebagai direktur. Saya takut saya akan kehilangan percaya diri untuk membangun Bumi Plc kepada investor,” katanya.
Editor :
Erlangga Djumena

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: