Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

November 22, 2012

bumi GEMPA, gw mah sante AJA … 221112

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 8:05 pm

Kabarnya, Rothschild menggandeng Friedland
Oleh Edy Can – Kamis, 22 November 2012 | 15:03 WIB | Sumber The Financial Times

kontan

LONDON. Langkah Nat Rothschild membeli Bumi Plc makin nyata. Seorang sumber membisikkan, Rothschild telah mengaet Robert Friedland untuk menandingi proposal penawaran dari Grup Bakrie.

Friedland adalah konglomerat yang mendirikan Ivanhoe Mines. Perusahaan ini memiliki tambang tembaga di Mongolia. Seorang sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan, Friendland sudah setuju membenamkan investasi sebesar US$ 50 juta. Ivanhoe sendiri dikuasai oleh Rio Tinto, perusahaan tambang Australia.

Menurut sumber itu, anggota konsorsium ini juga kemungkinan termasuk Hashim Djojohadikusumo. Hashim adalah adik kandung Prabowo Subianto. Dia adalah pendiri Grup Arsari. Sebelumnya, Direktur Corporate Communication Arsari Group Ida Sudoyo membenarkan ada pendekatan yang dilakukan Rothschild terhadap keluarga Prabowo.

Sumber itu juga mengatakan, Rothschild juga memperoleh komitmen dari berbagai investor. Menurutnya, Rothschild sedang bicara dengan sebuah pengelola dana pensiun besar di Amerika Utara.

Friedland, Rothschild serta Bumi Plc menolak berkomentar. Sementara, KONTAN belum berhasil mendapat jawaban dari Ida Sudoyo.

Seperti diketahui, awal bulan ini, Rothschild telah mengajukan proposal penawaran untuk menandingi proposal Grup Bakrie menguasai PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Tbk (BRAU). Total komitmennya mencapai US$ 270 juta.

Pada 5 November lalu, Rothschild telah mengajukan penawaran melalui NR Investment. Penawaran ini untuk menandingi proposal Grup Bakrie yang diajukan pada 11 Oktober lalu.

Dalam proposal itu disebutkan, Grup Bakrie melalui PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan Long Haul berniat membatalkan kepemilikan 23,8% saham Bumi Plc. Kedua perusahaan Group Bakrie ini akan melepas saham Bumi Plc dengan cara menukarnya dengan 10,3% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang dipegang oleh Bumi Plc.

Selain itu, Grup Bakrie akan membeli secara tunai sisa saham BUMI yang dipegang oleh Bumi Plc paling lambat Natal 2012. Sisa saham yang akan dibeli tunai sebesar 18,9%. Catatan saja, Bumi Plc mengempit 29,18% saham BUMI.

Bukan hanya itu saja. Grup Bakrie ini juga menawarkan pembelian secara tunai saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) yang dipegang oleh Bumi Plc. Pembelian ini akan dilakukan dalam jangka enam bulan ke depan. Bumi Plc yang dulunya bernama Vallar Plc. memegang sekitar 84,7% saham BRAU.
Berau Bonds covenant may hamper Bakrie’s Proposal to exit Bumi Plc

Hanum KD, Christin Franciska

November 22, 2012 08:52
bisnis indonesia

JAKARTA: Bakrie’s Group proposal to exit Bumi Plc potentially hampered by PT Berau Coal Energy Tbk bonds covenant worth US$500 million which is the share swap object.

Moody’s Simon Vice President & Senior Analyst Simon Wong said Bakrie Group action over Berau Coal will be hampered by clause related to displacement control in Berau bonds.

“Based on today’s outstanding bond prices, Berau Coal Energy will be required to pay US$505 million when the displacement occurred,” he said, Sunday (11/18).

As of June 2012 Berau cash only reached US$522 million and fell to US$459.44 million in three months later, BRAU-Coded Company would difficult to collect enough cash to pay off the bonds.

Based on Bisnis data, earlier this year Berau issued bonds which is listed on the Singapore Stock Exchange and is offered to local and foreign investors.

The bonds will mature in 2017 and secured by Berau assets and its subsidiaries.

Moody’s assigned B1 stable rating to Berau which is reflected large cash position, so it can survive the weakened operating conditions.

On the other hand Berau President Director Rosan P. Roeslani said he will review the legal aspect of the bonds.

While Bumi Plc Head of Investor Relations Nick Von Schirnding admitted knew about Berau Coal bonds worth US$500 million were issued in Singapore Stock Exchange but did not know the rules. (t08/msw)

BUMI PLC: Pecah Kongsi Borneo Lumbung Energi & Bakrie Diumumkan Pekan Ini

Hanum KD

Senin, 19 November 2012 | 21:25 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: PT Borneo Lumbung Energi and Metal Tbk dan Grup Bakrie pekan ini akan memutuskan untuk mengakhiri usaha patungan mereka yang memegang saham di Bumi Plc.

Samin Tan, pendiri dan pemegang saham terbesar Borneo, mengatakan pihaknya akan mendapat pembayaran dari Grup Bakrie setelah pembubaran usaha patungan mereka sehingga Borneo dapat kembali menutup ‘kerugian’ dalam investasi US$1 miliar di Bumi Plc yang sudah berlangsung hampir setahun.

“Kami membuat kemajuan bagus. Kesepakatan diharapkan selesai dan diteken pekan ini,” ujar Samin Tan, yang juga menjabat Chairman di Bumi Plc, seperti dikutip Bloomberg.

Borneo dan Grup Bakrie bersama-sama mengendalikan 47,6% saham Bumi Plc yang tercatat di London melalui 2 perusahaan investasi (special purpose vehicles).

Tan mengatakan pemisahan itu berarti masing-masing mengambil satu perusahaan dan kepemilikan 23,8% di Bumi Plc.

Kesepakatan itu mengijinkan Grup Bakrie untuk melanjutkan penawaran US$1,2 miliar pada Oktober untuk keluar dari Bumi Plc yang ditukar dengan kepemilikan di PT Bumi Resources Indonesia Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk yang berbasis di Indonesia.

“Tidak ada mekanisme legal lain, karena saham Bumi Plc yang kami pegang terikat dalam SPV itu. Bakrie tidak dapat menyerahkan 23,8% saham efektifnya ke Bumi Plc, karena secara teknis itu dimiliki oleh SPV milik kami berdua,” ujar Tan.

Sementara itu, pembayaran dari Grup Bakrie dapat digunakan untuk membayar sebagian pinjaman ke Standard Chartered Plc yang dahulu digunakan untuk mengambil saham Bumi Plc. “Kecuali ada penggunaan yang lebih baik dan lebih produktif untuk dana itu. Niatnya adalah untuk menutup kerugian abstrak kami,” ujar Tan.

Tan mendukung tawaran Bakrie yang senilai sekitar 5 poundsterling per saham, dibandingkan dengan penutupan terakhir Bumi 264,2 pence di London.

“Jika ada penawaran yang dapat membawa harga saham ke 5 hingga 6 pounds, mengapa tidak kita dukung? Jika ada jalan lain dan cara untuk meraih yang sama tau lebih baik, saya pasti akan mengejarnya. Jika proposal Nat hasilnya sama atau lebih baik, saya pasti akan mendukungnya.”

Tan mengatakan dia belum melihat proposal dari Nathaniel Rothschild karena itu diserahkan kepada direksi independen Bumi Plc.

Bumi Plc mengatakan pada 5 November bahwa Nathaniel Rothschild, sang pendiri telah menyerahkan proposal alternatif terhadap tawaran US$1,2 juta Bakrie.

Manajemen Bumi Plc enggan mengungkap rincian proposal itu, meski mengatakan tidak ada tawaran pembelian aset.

“Dia tidak menawarkan pembelian aset, hanya sejumlah saran dan masukan mengenai tindakan apa yang harus diambil,” kata Head of Investor Relations Bumi Plc Nick Von Schirnding pada 13 November. (bas)(Foto: ft.com)
Bumi Minority Shareholders at Risk in Dispute, PT Schroder Says
November 12, 2012
jakarta globe

Minority shareholders of PT Bumi Resources are at risk as the coal miner faces two probes into its finances and is part of a dispute between Nathaniel Rothschild and Indonesia’s Bakrie family, said PT Schroder Investment Management Indonesia.

Bumi Resources, Indonesia’s top producer of power-station coal, said a court on Nov. 9 approved an independent investigation into its accounts dating back to 2010.

Bumi Resources is part-owned by the Bakrie family, while London- listed Bumi Plc has 29 percent.

The probe was prompted by the company’s audit committee “in view of the public notifications by a shareholder, Bumi Plc, and various reports, both in international and local media,” Jakarta-based Bumi Resources said that day.

The dispute between Rothschild, who co-founded Bumi Plc in 2010, and the Bakries, intensified this year after the London- listed company started an inquiry into “potential financial and other irregularities” at its Indonesian operations, Bumi Resources and PT Berau Coal Energy Tbk.

Rothschild has since quit the board of Bumi Plc and is leading a proposal to buy the assets of the London-listed company that rivals an offer from the Bakries.

“This dispute is probably going to drag on for a while,” Michael Tjoajadi, president director PT Schroder, which holds shares in Bumi Resources, said from Jakarta. “A dispute like this, involving the majority shareholders, could distract the company and hurt its performance.”

Bumi Resources fell 1.5 percent to Rp 640 at 11:38 a.m. in Jakarta. The stock is down 71 percent this year. Bumi Plc added 1.2 percent to 276.90 pence in London on Nov. 9 and is down 69 percent this year.

Forensic Audit

The so-called forensic audit will focus on the accounts for the financial years of 2010 through 2012, Bumi Resources said. Reports from the probe are due to the Chief Justice of the District Court of South Jakarta within 90 days of the appointment of an auditor.

London-based Bumi said in a statement on Nov. 9 that it noted the announcement and “has no further information on the matter at this time.”

Bumi Plc said on Nov. 5 it had received a proposal for its assets from Rothschild. It was contained in a letter from Rothchild’s NR Investments that gave no details of the proposal.

The Bakries have offered $1.2 billion for Bumi Plc’s stake in Bumi Resources and the 85 percent it has in PT Berau Coal Energy.

Irreconcilable Differences

The Bakries made their offer last month to help resolve “irreconcilable differences” with Rothschild. The financier has described the Bakries’ offer as not being in the interests of investors.

The probe instigated by Bumi Plc on Sept. 24 is linked to a $637 million writedown of development funds and exploration assets in Bumi Plc’s Dec. 31, 2011, year-end financial statement.

London-listed Bumi won’t make a recommendation on any possible transaction until the investigation is “appropriately advanced,” the company said Nov. 5.

Bloomberg
Bakrie-Rothschild Tak Ganggu Kinerja Bumi
Senin, 12 November 2012 | 14:33
investor daily

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengharapkan, perselisihan antara grup Bakrie dan Nathaniel Rothschild tidak mengganggu kinerja operasional PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan emiten grup lainnya.

“Kisruh yang terjadi diharapkan tidak mengganggu operasional emitennya, yang menjadi perhatian Bursa adalah jika berdampak terhadap kinerja operasional perusahaan, apakah nantinya memberikan keuntungan bagi investor atau tidak. Bursa juga concern terhadap perlindungan investor,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan, biasanya perselisihan antar pemegang saham dalam suatu perusahaan tidak sampai mengganggu kinerja operasional perusahaan. Investor juga tidak perlu berspekulasi atas isu yang terjadi antara grup Bakrie dan Nat Rothschild. “Karena hal itu akan membingungkan semua pihak,” kata dia.

Hoesen juga menilai, isu yang berkembang di perusahaan yang besar memiliki modus yang hampir sama hingga membuat investor tidak memperhatikan kinerja operasional perusahaannya.

Analis PT Trust Securities, Reza Priyambada menambahkan, kisruh yang ada di suatu perusahaan memang diperhatikan investor selain kinerja operasionalnya.

“Perhatian investor tidak hanya sekadar fundamental perusahaan namun sentimen yang ada di saham itu karena akan ikut juga mempengaruhi pergerakan harga sahamnya,” kata dia. (ant/gor)

BUMI bentuk tim audit tandingan
Oleh Surtan PH Siahaan – Minggu, 11 November 2012 | 13:52 WIB

kontan

JAKARTA. Kisah perseteruan antara Grup Bakrie dengan Nathaniel Rothschild memasuki babak baru. Setelah beberapa waktu lalu pihak Bumi Plc, pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) hasil kongsi Grup Bakrie dan Nathaniel, membentuk tim independen guna memeriksa dugaan penyelewengan di BUMI serta anak usahanya, kini giliran Grup Bakrie unjuk gigi.

Berdasarkan rilis yang diterima KONTAN, Jumat (9/11), manajemen BUMI mengungkapkan, telah mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 15 Oktober 2012 lalu. Mereka meminta PN Jakarta Selatan untuk menunjuk dan mengesahkan pembentukan tim audit independen guna mengaudit BUMI beserta anak usahanya. Permohonan itu diajukan komite audit internal BUMI.

Nah, kemarin (8/11), PN Jakarta Selatan mengeluarkan penetapan. Beberapa isi penetapan pengadilan itu adalah pertama, menyatakan bahwa si pemohon kedudukannya sah sesuai hukum.

Kedua, pengadilan menyatakan BUMI dan anak usahanya berada dalam investigasi berdasarkan ketentuan Undang Undang Perseroan Terbatas (UU PT) pasal 138. Pasal itu sendiri menyebutkan bahwa pemeriksaan terhadap perseroan dapat dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data atau keterangan mengenai dugaan bahwa mereka (BUMI dan anak usaha) telah melakukan perbuatan hukum yang merugikan kepentingan pemegang saham dan pihak ketiga. Pemeriksaan ini juga berlaku bagi direksi maupun dewan komisaris yang diduga merugikan perusahaan, pemegang saham dan pihak ketiga.

Isi penetapan PN Jakarta Selatan yang ketiga adalah menunjuk ahli untuk mengaudit audit perusahaan. Keempat, memerintahkan BUMI dan anak usahanya untuk memberikan informasi dan data yang dibutuhkan dalam rangka audit forensik khususnya yang berhubungan dengan aktivitas keuangan, transaksi investasi, dan transaksi keuangan lain yang dilakukan termohon atau seluruh anak perusahaan yang terkonsolidasi pada tahun anggaran 2010, 2011 dan berakhir pada 30 Juni 2012.

Selain itu, pengadilan memerintahkan tim ahli (tim audit independen) untuk menyerahkan laporan hasil pemeriksaannya kepada Ketua PN Jakarta Selatan selambat lambatnya 90 hari sejak mereka diangkat.

Aksi tandingan

Serangkaian tindakan tersebut dilakukan secara independen oleh tim audit internal BUMI dengan memberitahukan kepada pemegang sahamnya, BUMI Plc. “Langkah ini merupakan komitmen perseroan untuk mematuhi peraturan pasar modal Indonesia,” kata Dileep Srivastava, Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk dalam rilisnya.

Analis Trust Securities, Reza Priyambada menilai, tindakan BUMI melakukan audit terhadap perusahaannya sebagai langkah tepat. Upaya BUMI pun dapat disebut sebagai tindakan pembelaan. Sebab, ada pandangan yang menilai tindakan audit yang dilakukan Bumi Plc juga memiliki kepentingan tersendiri.

Hanya saja, Reza mempertanyakan, apakah persetujuan permohonan audit oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memiliki dampak hukum bagi Bumi Plc.

Meski demikian, Reza mengusulkan, agar audit dilakukan oleh lembaga independen yang netral dan tidak memiliki keterkaitan dengan dua pihak yang bersengketa.

Perseteruan Nathaniel dan Bakrie memang kian memanas setelah tim audit dibentuk Bumi Plc guna menyelidiki dugaan penyelewengan dana pengembangan serta aset di BUMI dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).
Pemeriksaan independen BUMI disetujui PN Jakarta Selatan
Reporter : Ririn Radiawati
Jumat, 9 November 2012 22:21:11
merdeka

Permintaan auditor independen untuk melakukan pemeriksaan independen kepada PT Bumi Resources (BUMI) telah dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Audit independen tersebut telah disampaikan kepada publik oleh salah satu pemegang saham BUMI yaitu Bumi Plc.

Direktur Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan pada tanggal 15 Oktober lalu Komite Audit telah mengajukan permohonan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk meminta penetapan melakukan pemeriksaan terhadap perseroan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 138 UU Perseroan Terbatas agar ditunjuk tim pemeriksa independen untuk melakukan pemeriksaan terhadap perseroan.

Pada tanggal 8 November lalu, lanjut Dileep, pihak pengadilan telah mengabulkan permohonan yang diajukan oleh komite audit untuk melakukan pemeriksaan.

“Dengan inisiatif ini, Perseroan menegaskan kembali komitmennya terhadap penegakanhukum di Indonesia, dengan menaati secara penuh Peraturan Pasar Modal Indonesia. Kamimemiliki keyakinan bahwa langkah-langkah proaktif di atas diambil untuk melindungikepentingan terbaik pemangku kepentingan Perseroan dan juga untuk menyikapi secara wajar hal-hal yang menjadi perhatian dari Bumi Plc,” kata Direktur PT Bumi Resources, Tbk Dileep Srivastava dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/11).

Dengan begitu, Komite Audit Perseroan telah meminta BUMI untuk melakukan audit secara keseluruhan atas Laporan Keuangan Perseroan periode Januari-September 2012.

Dileep juga mengatakan bahwa perseroan telah menyampaikan pemberitahuan tersebut kepada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 25 Oktober lalu. Laporan keuangan yang telah diaudit untuk periode hingga September sebelum atau pada tanggal 31 Desember 2012 sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sebelumnya Bumi Plc yang memiliki 29,2 persen saham BUMI mengumumkan akan melakukan audit investigasi seiring dengan adanya dugaan penyimpangan pada laporan keuangan BUMI.
[rin]

Grup Bakrie ragukan proposal alternatif Rothschild
Reporter : Ririn Radiawati
Selasa, 6 November 2012 17:10:56

Setelah mengundurkan diri dari Bumi Plc, mantan direktur non eksekutif Nathaniel Rothschild kembali terlibat dalam mereview proposal Grup Bakrie untuk membatalkan transaksi tukar guling antara Grup Bakrie dan Bumi Plc.

Pihak Bumi Plc pada Senin (5/11) mengumumkan bahwa pihaknya telah menerima proposal alternatif yang diajukan oleh Nat Rothschild. Sebelumnya proposal Bakrie dikaji oleh Rothschild Group.

“Dewan direksi belum akan membuat rekomendasi (dari kedua ajuan proposal tersebut) mengingat bahwa masih terdapat kemungkinan transaksi hingga hasil investigasi diumumkan,” ujar juru bicara Bumi Plc, Nick von Schirnding dalam keterangannya.

Meski begitu, Grup Bakrie mengaku belum menerima keterangan mengenai proposal alternatif yang diajukan oleh Nat tersebut. “Kami belum tahu tentang proposal alternatif tersebut. Tapi kami tidak percaya jika Nat memiliki kemampuan untuk memberikan penawaran yang bisa mengubah proposal kami,” ujar Senior Vice President Bakrie Group Christopher Fong kepada merdeka.com, Selasa (6/11).

Meski begitu, Fong tetap percaya dengan dewan direksi mengenai keputusan transaksi yang diperkirakan sebesar USD 1,6 miliar itu. “Kami percaya bahwa direksi senior independen dapat mengelola proses ini sehingga menghasilkan keuntungan bagi semua pemegang saham,” kata dia.
[rin]

Samin Tan Jadi Kunci Polemik Bumi Plc

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Senin, 5 November 2012 | 19:03 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Samin Tan dinilai masih menjadi kunci meski NR Investments juga mengajukan proposal untuk Bumi Plc.

Analis PT Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, saat ini Bumi Plc baru menerima proposal dari NR Investments. Hingga kini belum diketahui bagaimana proposal NR Investment tersebut.

Meski begitu bila proposal tersebut disinyalir untuk menangkal tawaran Bakrie senilai US$1.4 miliar, Reza menuturkan, Samin Tan masih menjadi kunci apakah akan mengikuti proposal grup Bakrie atau Rotschilds. “Hal ini masih tergantung dari Samin Tan, apakah mengikuti proposal Bakrie atau condong ke Rothchild,” ujar Reza saat dihubungi, Senin (5/11/2012).

Bumi Plc mengumumkan telah menerima surat dari NR Investments mengenai proposal alternatif usulan Long Haul pada 11 Oktober 2012. Demikian seperti dikutip dari situs Bumi Plc, Senin (5/11/2012). Seperti diumumkan sebelumnya, Dewan menunjuk grup Rothschild untuk mengevaluasi usulan Long Haul yang diterima pada 11 Oktober 2012. Alternatif NR investments juga akan dievaluasi oleh grup Rothschild dan dianggap oleh Direktur independen non-eksekutif Bumi.

Sebelumnya grup Bakrie ingin membeli saham PT Bumi Resources Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) yang dikuasai Bumi Plc. Pada proposal penawaran itu, grup Bakrie ingin menawarkan dua cara untuk membeli BUMI.

Pertama, Bakrie yang memiliki 23,8% saham Bumi Plc akan menukar dengan 10,3% saham Bumi milik Bumi Plc. Kedua, grup Bakrie akan membeli tunai 18,9% saham BUMI. Selain itu, grup Bakrie juga ingin menguasai 84,7% saham BRAU milik Bumi Plc senilai US$937 juta atau setara Rp8,9 triliun.

Tetapi proposal NR Investments tersebut belum diketahui untuk penawarannya. Bila NR Investment mengajukan penawaran juga tidak mudah karena kepemilikan grup Bakrie bersama PT Borneo Lumbung Energi Tbk cukup besar di Bumi Plc. Kepemilikan grup Bakrie bersama PT Borneo Lumbung Energi and Metal Tbk di Bumi Plc senilai 47,6%, Recapital sebesar 9,8%, Nat Rothschild sebesar 11%, dan publik sebesar 31,6%. [hid]

Proposal tandingan Rothschild mendarat di Bumi Plc
Oleh Rika Theo – Senin, 05 November 2012 | 15:22 WIB

kontan

JAKARTA. Genderang perang perebutan saham Bumi Plc sudah ditabuh. Kini, proposal tandingan dari Nat Rothschild sudah berada di meja Bumi Plc.

Dalam situs perusahaan Senin (5/11), Bumi Plc mengumumkan telah menerima surat penawaran dari NR Investments. Ini bakal menjadi alternatif dari proposal Long Haul atau Grup Bakrie yang diajukan pada 11 Oktober 2012 lalu.

NR Investments Ltd merupakan salah satu kendaraan investasi milik Nat Rothschild yang bermarkas di London, Inggris. Sayangnya, Bumi Plc tidak mengungkapkan rincian penawaran dari NR Investment.

Perusahaan hanya menyatakan bahwa baik proposal Long Haul maupun proposal NR Investments akan dievaluasi oleh Rothschild Group. Para direktur independen non-eksekutif Bumi Plc pun akan ikut mempertimbangkan kedua tawaran tersebut.

Meski demikian, direksi Bumi Plc menegaskan takkan melakukan transaksi apa pun sebelum hasil investigasi atas Bumi Resources dan Berau Coal diumumkan
Rothschild-Prabowo Sudah Bertemu Bahas Konsorsium
Gina Nur Maftuhah – Okezone
Sabtu, 3 November 2012 14:49 wib
okezone
JAKARTA – Adik Kandung Prabowo, Hasyim Djojohadikusumo, membenarkan kabar yang menyebutkan adanya pertemuan mengenai tawaran Nat Rothschild untuk membentuk sebuah konsorsium.

“Berita itu benar,” jawab Hasyim dalam pesan singkatnya menjawab pertanyaan Okezone mengenai adanya pertemuan dengan Rothschild, Sabtu (3/11/2012).

Tawaran itu diketahui publik setelah isu tersebut diberitakan Reuters. Tawaran itu digulirkan Nat Rothschild di tengah hubungan bisnisnya dengan Bakrie memanas. Penyebabnya adalah aset tambang batu bara milik pebisnis yang berpengaruh di Inggris itu, terancam lepas. Rothschild pun tengah mengkaji untuk membentuk konsorsium guna mempertahankan kepemilikannya di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Di mana keduanya milik Aburizal Bakrie.

Namun, Hasyim enggan berkomentar lebih detail mengenai kabar tersebut. “Jawaban tadi sudah cukup,” dia menutup pembicaraan.

Nat Rothschild tengah mencari rekan bisnis dalam bentuk konsorsium guna ‘melawan’ Grup Bakrie.

Dalam proposal yang diajukan grup Bakrie, mereka akan melepas kepemilikan di Bumi PLC sebesar 23,8 persen untuk ditukar dengan 10 persen kepemilikan di Bumi Resources.

Pada proposal tahap kedua, Grup Bakrie akan membeli 18,9 persen sisa saham Bumi PLC di unit usaha Indonesia senilai USD278 juta atau setara Rp2,6 triliun (Rp9.600 per USD). Bakrie kemudian dapat mengendalikan 29 persen saham Bumi Resources dan tidak perlu berhubungan dengan Bumi PLC.

Dalam proposal tahap ketiga, Bakrie akan membeli aset tambang lain milik Bumi PLC, yakni 85 persen saham di PT Berau Coal Energy senilai USD950 juta (Rp9,1 triliun).

Rothschild bahkan dikabarkan telah mengandeng Morgan Stanley sebagai penasihat keuangan terkait dengan langkah yang akan ditempuhnya.

Pembentukan konsorsium Rothschild ini, diberitakan untuk menggagalkan rencana Grup Bakrie untuk menguasai kembali aset-aset tambang batu bara di Indonesia. Grup Bakrie ini dipimpin oleh Aburizal Bakrie, yang merupakan salah satu kandidat presiden dalam Pemilu 2014. Aburizal Bakrie juga merupakan Ketua Umum Partai Golkar. Sementara Prabowo, digadang-gadang akan kembali maju dalam Pemilu 2014, setelah gagal melaju sebagai presiden dalam Pemilu 2009. Saat ini Prabowo menjabat sebagai Dewan Pembina Partai Gerindra. (gna)
(ade)
Keluarga Prabowo membenarkan didekati Rothschild
Oleh Edy Can – Jumat, 02 November 2012 | 17:57 WIB

kontan

JAKARTA. Keluarga Prabowo Subianto membenarkan kabar didekati oleh Nat Rothschild untuk membentuk konsorsium tandingan melawan proposal pembelian saham Bumi Plc oleh Bakrie Group.

“Iya benar, keluarga Prabowo didekati Rothschild beberapa waktu lalu,” kata Direktur Corporate Communication Arsari Group Ida Sudoyo kepada KONTAN, Jumat (2/11). Arsari Group merupakan perusahaan milik Hashim Djojohadikusumo yang juga adik Prabowo Subianto.

Namun, Ida belum bisa memastikan apa tanggapan Prabowo atas penawaran Rothschild tersebut. Sebab, dia mengatakan pengusaha asal Inggris itu juga mendekati beberapa pengusaha lainnya selain Prabowo.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Rothschild sedang berdiskusi dengan sejumlah calon rekan termasuk Prabowo. Dia ingin mengalahkan rencana Bakrie dan mengambil alih kekuasan di kerajaan batubara Indonesia itu.

Pada awal bulan lalu, Bakrie Group telah mengajukan proposal kepada para pemegang saham Bumi Plc. Bakrie Group ingin mengambil kembali seluruh saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Proposal ini diajukan setelah Bakrie Group pecah kongsi dengan Rothschild. Ini gara-gara Rothschild memerintahkan penyelidikan internal di tubuh BUMI dan BRAU atas dugaan penyelewengan keuangan.

Bila Prabowo ternyata sepakat dengan penawaran Rothschild kemungkinan situasi politik bakal semakin panas. Asal tahu saja, Prabowo yang juga Ketua Umum Partai Gerindra ini sudah menyatakan maju sebagai calon presiden pada pemilihan umum 2014.

Begitupula dengan Aburizal Bakrie. Pengusaha Bakrie Group ini sudah mencalonkan diri sebagai calon presiden pada 2014 mendatang sebagai kandidat dari Partai Golkar.

HARGA SAHAM
Harga saham Bumi Plc melejit 12,77%
Oleh Edy Can – Jumat, 02 November 2012 | 18:46 WIB

kontan

JAKARTA. Harga saham Bumi Plc yang diperdagangan di bursa London melejit 12,77% menjadi 280 pence poundsterling pada pukul 12.05 waktu London, Jumat (2/11). Kenaikan harga saham Bumi Plc ini setelah Rothschild berniat membentuk konsorsium melawan proposal pembelian saham Bumi Plc oleh Bakrie Group.

Namun, bila dihitung sejak awal tahun ini, harga saham Bumi Plc yang dulunya bernama Vallar ini masih terjerembab 68,4%. Seperti diberitakan sebelumnya, Rothschild telah mendekati beberapa pengusaha untuk menandingi proposal Bakrie Group. Salah satunya Prabowo Subianto.

Pada awal bulan lalu, Bakrie Group telah mengajukan proposal kepada para pemegang saham Bumi Plc. Bakrie Group ingin mengambil kembali seluruh saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Proposal ini diajukan setelah Bakrie Group pecah kongsi dengan Rothschild. Ini gara-gara Rothschild memerintahkan penyelidikan internal di tubuh BUMI dan BRAU atas dugaan penyelewengan keuangan.
Aset apa yang akan dijual Bakrie demi BUMI & BRAU?
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 16 Oktober 2012 | 13:56 WIB | Sumber Reuters

kontan

SINGAPURA. Proposal yang diajukan Grup Bakrie kepada Bumi Plc menyisakan tanda tanya. Yakni, aset apa yang akan dijual oleh Grup Bakrie agar dapat membeli sisa saham Bumi Plc di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

KONTAN menghitung, untuk menjalankan niatannya tersebut, Grup Bakrie setidaknya harus menyediakan dana tunai sebesar Rp 7,7 triliun. Lantas, dari mana Grup Bakrie akan mendapatkan dana sebesar itu?

Salah seorang sumber Reuters membisikkan, saat ini, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tengah melakukan perundingan untuk menjual anak usahanya yang bergerak di bidang pembuatan pipa dengan nilai mencapai US$ 100 juta.

“Grup Bakrie menyadari bahwa mereka harus melunasi sebagian utang sebelum mendapatkan dana yang lebih besar. Namun, mereka bisa bertahan, mereka itu veteran tentara di dunia finansial. Mereka akan membayar utang yang ada dengan menual aset sebelum mengajukan utang yang baru,” ujar sumber yang mengetahui detil masalah ini.

Dia menambahkan, BNBR akan mendapatkan dana senilai US$ 100 juta dari penjualan Bakrie Pipe dan menargetkan mampu melakukan refinancing utang lainnya senilai US$ 94 juta.

Asal tahu saja, Bakrie Pipe memproduksi pipa baja untuk perusahaan minyak dan gas. Saat ini, Bakrie Pipe menguasai 60% market share pasar domestik dengan kapasitas produksi 200.000 metrik ton.

“Grup Bakrie tidak akan menjual aset yang tercatat di Bursa Efek Indonesia untuk membayar utang, karena jika mereka membayarnya saat ini, mereka akan rugi besar,” jelas sumber lainnya kepada Reuters.

Sekadar mengingatkan saja, dalam proposal yang diajukannya, dua anggota Bakrie Group yakni PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dan Long Haul Holdings Limited, ingin melepas seluruh sahamnya di Bumi Plc yang mencapai 23,8% dari total saham Bumi Plc. Bakrie ingin menukarnya dengan saham BUMI yang dimiliki Bumi Plc. Saat ini, Bumi Plc tercatat memiliki 29,2% saham BUMI.

Pelepasan saham akan ditempuh dalam dua bagian. Pertama, Bakrie menukarnya dengan 10,3% saham BUMI yang dikuasai Bumi Plc. Kedua, Bakrie akan membeli kembali sisa saham Bumi Plc di BUMI sebanyak 18,9% atau sekitar US$ 278,3 juta, secara tunai, sebelum Natal 2012.
Ini jawaban Bakrie atas pertanyaan BEI
Oleh Barratut Taqiyyah – Senin, 15 Oktober 2012 | 10:01 WIB

kont
JAKARTA. Pada pekan kemarin, Bursa Efek Indonesia (BEI) melayangkan surat kepada PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR). Isi surat tersebut sebagian besar berisi tentang pertanyaan terkait proposal BNBR terhadap penjualan saham Bumi Plc.

Menjawab hal tersebut, dalam Keterbukaan Informasi di BEI pada Jumat (13/10) lalu, pihak BNBR tidak menjelaskan secara rinci pertanyaan bursa. BNBR hanya menjawab: “Perseroan mengajukan proposal kepada Bumi Plc sehubungan dengan kedudukan perseroan sebagai pemegang saham dan rencana perseroan atas kepemilikan saham di Bumi Plc pada masa mendatang.”

Namun, BNBR menolak memberikan informasi detil mengenai proposal tersebut hingga dicapainya kesepakatan definitif antara kedua belah pihak.
Rothschild memutuskan perang melawan Bakrie!
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 16 Oktober 2012 | 05:23 WIB | Sumber Bloomberg

LONDON. Persengketaan antara Nathaniel Rothschild dengan Keluarga Bakrie sepertinya belum akan usai dalam waktu dekat. Bahkan, dapat dikatakan perseteruan kedua pihak semakin meruncing.

Kondisi ini tergambar dari langkah Rothschild yang memutuskan untuk keluar dari jajaran direksi Bumi Plc. Selain itu, Rotschild bersumpah akan terus “melawan dari luar tenda”.

Dia pun melayangkan surat pengunduran dirinya kemarin (15/10) kepada Samin Tan, Chairman Bumi Plc. Apa isi surat itu?

“Saya khawatir bahwa saya telah kehilangan kepercayaan pada kemampuan jajaran direksi Bumi Plc. Para pemegang saham sudah diperlakukan tidak adil pada proposal senilai US$ 1,2 miliar yang diajukan oleh Bakrie untuk membatalkan perjanjian antara perusahaan yang tercatat di London terhadap dua perusahaan batubara Indonesia,” jelas Rothschild.

Menyesal membawa Bakrie ke London

Dia menegaskan, merupakan langkah yang tidak bijaksana jika Bumi Plc memproses penawaran tersebut atau bahkan mempertimbangkannya, mengingat saat ini tengah dilakukan investigasi mengenai dugaan penyelewengan keuangan yang dilakukan dua perusahaan yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI) serta PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) di Indonesia. Oleh sebab itu, dirinya berjanji untuk menolak proposal Bakrie.

“Saya sangat menyesal mengakui bahwa saya adalah pihak yang membawa Bakrie ke London,” tulis Rothschild. Itu sebabnya, Rothschild bersumpah akan memperjuangkan nasib rekan investor lainnya dan akan berperang dari luar tenda.

Terkait hal ini, Samin Tan belum dapat dihubungi seiring perbedaan waktu kerja di Indonesia.

Sementara, Chris Fong, Juru Bicara Grup Bakrie dalam pernyataannya menyayangkan langkah Rothschild. “Kami sungguh kecewa dengan sikap yang diambil Nat Rothschild. Kami berharap dia dapat mengembalikan seluruh saham dan benefit lain yang sudah dia dapatkan dari perjanjian ini,” jelas Fong.

Sekadar mengingatkan, para investor Bumi Plc telah mengalami kerugian yang tidak sedikit seiring anjloknya harga saham Bumi Plc senilai 88% pada bulan lalu. Aksi jual saham ini terjadi pasca Bumi Plc mengumumkan tengah memeriksa adanya dugaan penyelewengan financial dan pelanggaran peraturan lainnya pada anak usahanya di Indonesia.

Dua minggu kemudian, Grup Bakrie menawarkan untuk membeli kembali seluruh aset kerjasama antara kedua pihak. “Kerja sama ini ditujukan untuk menyelesaikan perbedaan yang tidak dapat diatukan dengan Baron Rothschild ke 5 dan pendiri lainnya,” jelas Grup Bakrie pada surat yang ditulis pada 10 Oktober lalu.
Investor Sebaiknya Waspadai Utang Baru BUMI

Oleh: Restu A Putra
pasarmodal – Sabtu, 13 Oktober 2012 | 08:46 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Aksi korporasi terbaru yang dilakukan Grup Bakrie dinilai akan menjatuhkan kredibilitas perusahaan Bumi Resources (BUMI) dan membuat investor jatuh dalam ketidakpastian.

Analis Indosurya Securities Tonny W Setiadi menyatakan, dalam perkembangan terakhir disebutkan, grup

Bakrie akan membeli semua saham BUMI yang dimiliki oleh Bumi Plc, kemudian menyusul akan membeli juga saham Berau (BRAU).

“Rencana Bakrie ini akan membuat mereka memiliki utang baru. Dengan tingkat utang yang telah tinggi dan jatuh tempo yang cukup besar dalam waktu dekat maka pihak BUMI harus memperjelas rencana ini, sumber pendanaan, jatuh tempo dan sebagainya,” ujarnya kepada INILAH.COM, Jumat (12/10/2012).

Tonny pun menyarankan agar investor menunggu dulu hasil pertemuan dan penjelasan resmi dari pihak perusahaan.

Pada perdagangan Jumat (12/10/2012) kemarin, BUMI ditutup stagnan di level Rp720, setelah ditransaksikan di level tertinggi Rp760 dan terendah Rp710 per lembarnya. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp275 miliar.

Meskipun kebanyakan investor memilih untuk mengambil keuntungan dari kenaikan BUMI di hari-hari sebelumnya, namun saham BUMI tetap menguat. “Ini karena sebagian investor memilih untuk wait and see terhadap hasil pertemuan antara manajemen BUMI Resources dan Bumi Plc,” ungkapnya.

Adapun secara teknikal, grafik saham BUMI masih cukup menarik, dengan akumulasi dan aktifitas transaksi terlihat cukup banyak. “Jika saham ini berhasil bergerak terus naik, maka target terdekat dari saham ini untuk jangka menengah di sekitar 1000an potensi keuntungannya cukup besar,” ucapnya. [ast]

Bumi Resources director says split proposal is a “win-win'”
Thu, Oct 11 2012

JAKARTA (Reuters) – Bumi Resources sees a proposal to part ways with London-listed coal conglomerate Bumi Plc as a positive development for both sides, a company director said on Thursday.

“The development appears positive and a likely all round win-win,” said Bumi Resources director and corporate secretary Dileep Srivastava.

“We are focused on operational excellence: to reach 100 million tons production in 2014, deleverage and cut interest charges, look to monetize assets expeditiously at fair prices and thereby unlock our intrinsic value – without distractions,” he said.

(Reporting by Fergus Jensen; Writing by Matthew Bigg; Editing by Ken Wills)

Rothschild: Bakrie keluar, permasalahan tetap ada
Oleh Barratut Taqiyyah – Jumat, 12 Oktober 2012 | 11:23 WIB | Sumber Bloomberg

kontan

LONDON. Perceraian antara Bumi Plc dan Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah di depan mata. Perpecahan kongsi dua perusahaan besar ini dipicu oleh tudingan Bumi Plc atas tuduhan penyelewengan dana oleh BUMI.

Terkait hal itu, Bumi Plc menegaskan akan melakukan investigasi yang berfokus pada dana pengembangan yang besar di BUMI dan aset di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), yang semua dihapuskan nilainya menjadi nol dalam akun Bumi Plc per 31 Desember 2011, kecuali investasi US$ 39 juta di laporan keuangan konsolidasi. Bumi Plc juga mempertanyakan tata kelola perusahaan BUMI.

Namun, dalam email yang dikirim kepada Bloomberg, Nathaniel Rothschild bilang, meskipun pihaknya berpisah dengan Grup Bakrie, Bumi Plc masih akan tetap menghadapi permasalahan yang sama.

“Selama 12 bulan terakhir, ada hambatan dalam mengimplementasikan tata kelola perusahaan yang sesuai dan saat ini terjadi perbedaan pendapat di antara jajaran direksi dan pemegang saham,” jelas Rothschild.

Dia menambahkan, “Meskipun Bakrie sudah keluar dari kongsi, satu kecemasan utama yang saya utarakan kepada investor minoritas adalah Bumi Plc akan tetap menghadapi hal yang sama.”

Rothschild juga bilang, saat ini pihaknya tengah mempelajari proposal Bakrie dan akan menunggu hasil investigasi pengacara di London sebelum memberikan komentar lebih jauh.
Beli BUMI dan BRAU, Group Bakrie bisa untung
Oleh Astri Kharina Bangun – Kamis, 11 Oktober 2012 | 18:40 WIB

kontan

JAKARTA. Analis menilai rencana Grup Bakrie membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dari Bumi Plc bakal memberi keuntungan bagi Grup Bakrie.

“Secara jangka panjang Grup Bakrie akan lebih diuntungkan karena konsolidasi kepemilikan mereka di BUMI dan BRAU bertambah. Setiap kali ada keuntungan atau pembagian dividen di kedua perusahaan tersebut, Grup Bakrie akan dapat lebih,” kata Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada, Kamis (11/10).

Ia menuturkan, dengan menggenggam lebih banyak saham di BUMI dan BRAU konsolidasi Grup Bakrie atas bisnis-bisnis yang dimilikinya akan lebih mudah. Mulai dari manajemen, bisnis, hingga pengawasan akan jauh lebih terintegrasi.

“Cuma kalau lihat pendanaan perlu dilihat lagi dari mana sumbernya. Tapi mereka akan menyiapkan cara,” kata Reza.

Senada dengan Reza, analis Jimmy Dimas Wahyu menilai Grup Bakrie akan menyiapkan berbagai mekanisme dan strategi untuk melancarkan niat tersebut.

“Bisa menjual aset atau anak usaha. Atau kalau dana siap bisa cash tanpa penjualan. Bisa juga bekerja sama dengan perusahaan lain. Bakrie kan punya jaringan. Dulu bisa dengan CIC dan Rothschild,” papar Jimmy.

Ia menambahkan, pengumuman rencana pembelian saham Bumi Plc di BUMI dan BRAU oleh Grup Bakrie bakal memberi sentimen positif bagi investor-investor pengoleksi saham Grup Bakrie.

“Ini bisa memberi kejelasan kepada investor setelah adanya kisruh berapa waktu lalu. Investor bisa lebih nyaman berinvestasi,” tukas Jimmy.
Saham BUMI melambung, saham BRAU membumbung
Oleh Barratut Taqiyyah – Kamis, 11 Oktober 2012 | 14:33 WIB
kontan

JAKARTA. Rencana Grup Bakrie untuk angkat kaki dari Bumi Plc sepertinya mendapat sambutan hangat pelaku pasar tanah air. Terbukti, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan saham PT Berau Coal Energy Tbk melambung pasca pengumuman pengajuan proposal Grup Bakrie kepada Bumi Plc.

Pada pukul 14.21, saham BUMI tercatat melambung 5,88% menjadi Rp 720. Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, tiga sekuritas yang paling gencar memborong saham ini adalah OSK Nusadana Securities Indonesia senilai Rp 11,454 miliar, Indo Premier Securities senilai Rp 8,122 miliar, dan Waterfront Securities senilai Rp 4,105 miliar.

Aksi beli juga terjadi pada saham BRAU. Pada pukul 14.24, saham BRAU meroket 14,09% menjadi Rp 170. Berdasarkan data Bloomberg, sejumlah sekuritas yang paling banyak memburu saham ini antara lain Indo Premier Securities senilai Rp 4,144 miliar, Kim Eng Securities senilai Rp 3,855 miliar, dan Bahana Securities senilai Rp 2,048 miliar.

Seperti yang diketahui, PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dan Long Haul Holding Limited mengajukan proposal melepas kepemilikan saham di Bumi Plc.

Dalam proposal itu disebutkan, BNBR dan Long Haul berniat membatalkan kepemilikan 23,8% saham Bumi Plc. Kedua perusahaan Group Bakrie ini akan melepas saham Bumi Plc dengan cara menukarnya dengan 10,3% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang dipegang oleh Bumi Plc.

Selain itu, Group Bakrie akan membeli secara tunai sisa saham BUMI yang dipegang oleh Bumi Plc paling lambat Natal 2012. Sisa saham yang akan dibeli tunai sebesar 18,9%. Catatan saja, Bumi Plc mengempit 29,18% saham BUMI.

Bukan hanya itu saja. Group Bakrie ini juga menawarkan pembelian secara tunai saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) yang dipegang oleh Bumi Plc. Pembelian ini akan dilakukan dalam jangka enam bulan ke depan. Bumi Plc yang dulunya bernama Vallar Plc. memegang sekitar 84,7% saham BRAU.
Beli BUMI dan BRAU, Bakrie harus siapkan Rp 7,7 T
Oleh Edy Can – Kamis, 11 Oktober 2012 | 15:12 WIB

kontan

JAKARTA. Grup Bakrie ingin membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) yang dipegang oleh Bumi Plc. Untuk menunaikan hajat ini, Grup Bakrie setidaknya harus menyediakan dana tunai sebesar Rp 7,7 triliun.

Grup Bakrie sudah menyampaikan proposal kepada Bumi Plc. Dalam proposal penawaran itu, Grup Bakrie menawarkan dua cara untuk membeli saham BUMI yang dipegang Bumi Plc,

Pertama, tukar guling saham Bumi Plc dengan BUMI. Grup Bakrie yang mengempit 23,8% saham Bumi Plc akan menukarnya dengan 10,3% saham BUMI yang dipegang oleh Bumi Plc.

Kedua, Grup Bakrie akan membeli sisa saham BUMI sebesar 18,9% yang dipegang Bumi Plc. Catatan saja, Bumi Plc sendiri mempunyai sekitar 29,2% saham BUMI.

Nah, 18,9% saham BUMI yang dipegang Bumi Plc akan dibeli melalui PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan Long Haul Holdings Limited secara tunai. Transaksi pembelian itu paling lambat Desember 2012 mendatang. Bila dihitung berdasarkan harga saham BUMI pada pukul 14.31 WIB yang sebesar Rp 700 per saham, Grup Bakrie harus menyediakan setidaknya dana tunai sebesar Rp 2,74 triliun.

Grup Bakrie juga menawar saham BRAU yang dipegang oleh Bumi Plc. Saat ini Bumi Plc memegang sekitar 84,7% saham perusahaan tambang batubara tersebut. Bila dihitung berdasarkan harga saham BRAU pada pukul 14.31 WIB yang sebesar Rp 168, maka Grup Bakrie harus menyediakan dana setidaknya Rp 4,96 triliun.

Yang menjadi pertanyaan darimana grup Bakrie akan memperoleh dana tersebut. Sebab, hingga saat ini, utang Grup Bakrie sendiri segudang. Berdasarkan laporan keuangan kuartal kedua 2012 lalu, BNBR sendiri hanya mempunyai dana kas dan setara kas sebesar Rp 438,711 miliar.
Kesempatan Keluar bagi ‘Nyangkuters’ BUMI

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Senin, 8 Oktober 2012 | 03:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Untuk jangka pendek, saham BUMI diprediksi bergerak menguat untuk memasuki fase corrective rally dalam skala yang lebih besar. Jadi kesempatan keluar bagi trader yang terjebak di harga atas.

Pada perdagangan Jumat (12/10/2012) saham PT Bumi Resources (BUMI) ditutup menguat Rp40 (5,97%) ke angka Rp710 dengan intraday tertinggi Rp720 dan terendah Rp670. Volume transaksi mencapai 223,5 juta unit saham senilai Rp156,2 miliar dan frekuensi 2.629 kali.

Presiden dan pendiri PT Astronacci Internasional Gema Goeyardi mengatakan, bagi Anda yang memiiliki saham BUMI diantarahargarata-rata Rp900 hingga Rp1.200, inilah saatnya berjuang untuk menurunkan harga rata rata saham Anda ke area Rp850 hingga Rp900 dan dapat menjual impas.

Sekali lagi, dia menegaskan, strategi trading ini berlaku dua mingguan dan dikhususkan untuk trader dan bukan investor. Tetap perhatikan faktor risiko yang sudahdisiapkandanjadikan ini misi untuk menyelamatkan posisi di harga atas. “Kesempatan keluar bagi ‘nyangkuters’ BUMI,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (7/10/2012). Berikut ini wawancara lengkapnya:

Saham BUMI kembali bangkit ke Rp710 akhir pekan lalu. Apa yang terjadi?

Saham BUMI yang sejak dua bulan terakhir terpukul sangat signifikan, telah terlihat kehilangan momentum pelemahannya. Seperti biasa bahwa saham ini sangat sensitif terhadap berita aksi korporasi dan selalu berkorelasi negatif dengan berita buruk.Karena itu, apabila Anda melihat berita jelek di Bumi seringkali hal itu adalah sebuah kesempatan untuk melakukan pembelian begitu juga sebaliknya.

Bagaimana Anda melihat fundamental dari emiten grup Bakrie ini?

Secara Fundamental saham ini tidak lagi sebaik tahun2008-2009.Kita menyadari bahwa permasalahan kerugian usaha, dan utang besar sedang menghantui saham sejuta umat ini. Untuk itu tema rekomendasi pada hari ini dikhususkan untuk trader jangka pendek dengan time frame dua mingguan dan sudah terbiasa dengan pergerakan saham yang memiliki volatilitas tinggi.

Bagaimana dengan isu preemptive issue?

Mengenai isu preemptive issue yang sempat dihembuskan, saya rasa tidak semudah itu dan tentunya harus melalui beberapa tahapan sebelum pelaksanaan hal tersebut. Karena itu, terlihat dengan jelas market merespons dengan positif bantahan dari perseroan terkait hal itu dan hal ini akan menyebabkan demand BUMI untuk jangka pendek masuk kembali ke pasar.

Kalau begitu, bagaimana proyeksi Anda atas pergerakan saham sejuta umat ini?

Berdasarkan teori cycle Astronacci, saham BUMI dibagi menjadi dua fase yakni, bullish untuk jangka pendek, dan bearish untuk jangka menengah. Untuk jangka pendek dengan rentang waktu maksimal sebulan, saham BUMI akan bergerak menguat dalam rangka memasuki fase corrective rally dalam skala yang lebih besar.

Dari time analysis siklus Mars Square Neptune telah membuat saham ini menemukan bottomnya dan hal ini akan mendukung penguatan BUMI hingga Rp859-900.

Bagaimana strategi trading-nya?

Strategi jangka pendek yang dapat dilakukan adalah trading buy pada Rp690-710 dengan resiko pertrading sebesar 4%.Bagi Anda yang memiiliki saham ini diantarahargarata-rata Rp900 hingga Rp1.200, inilah saatnya Anda berjuang untuk menurunkan harga rata rata saham Anda ke area Rp850 hingga Rp900 dan dapat menjual impas.

Bagaimanadengan horizon jangka menengah?

Saya belum melihat fase transisi dari bearish ke bullish untukjangka menengah. Oleh karenae itu Astronacci masih mematok resiko terbesar pada Rp450. Namunkita menyadari bahwa tren tidak bergeraklurus. Pasti ada riak riak yang dapat kitamanfaatkan untuk menyelamatkan posisi diatas ataupun melakukan speculative trading dengan asumsi saham ini dapat naik terlebih dahulu ke level Rp850.

Sekali lagi strategi trading ini berlaku dua mingguan dan dikhususkan untuk trader dan bukan investor. Tetap perhatikan faktor risiko yang sudahdisiapkandanjadikan ini misi untuk menyelamatkan posisi di harga atas. Kesempatan keluar bagi ‘nyangkuters’ BUMI.

Bumi Plc Terima Usulan Grup Bakrie Terkait BUMI

Oleh: Th. Asteria
pasarmodal – Kamis, 11 Oktober 2012 | 14:14 WIB

INILAH.COM, Singapura – Bumi Plc, perusahaan batu bara Indonesia yang didirikan Nathaniel Rothschild dan diperdagangkan di London, menerima usulan PT Bakrie & Brothers Tbk untuk pertukaran saham dalam afiliasinya dengan PT Bumi Resources.

Grup Bakrie, bersama dengan Long Haul Holdings Ltd, menawarkan untuk menukar 23,8% saham di Bumi Plc untuk 10,3% saham Bumi Resources (BUMI) yang berbasis di Jakarta. Demikian pernyataan Bumi Plc, Kamis (11/10/2012).

Grup ini juga membuat proposal bersyarat untuk membeli kembali 18,9% saham yang tersisa di Bumi Resources secara tunai sebelum Natal 2012.

Terkait hal ini, dewan direksi Plc akan mempertimbangkan tawaran pertukaran saham dan membuat rekomendasi kepada pemegang saham.

Bila dihitung, 23,8% saham di Bumi Plc bernilai 106,5 juta pounds (US$ 170 juta) berdasarkan harga penutupan kemarin di London. Sedangkan 10,3% saham di Bumi Resources bernilai sekitar Rp1,48 miliar (US$ 155 juta).

Dewan direksi Bumi Plc, termasuk Rothschild, bertemu di Singapura hari ini di lantai delapan Hotel Orchard Mandarin. Bumi Plc memiliki 29% saham di Bumi Resources, eksportir batu bara thermal terbesar di Indonesia, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Penyelidikan yang diumumkan 24 September lalu oleh Bumi Plc, merupakan episode terbaru dalam sengketa yang melibatkan Rothschild dan keluarga Bakrie di Indonesia, sejak mereka menyepakati US$ 3 miliar pada 2010 untuk memberikan Bumi Plc saham dua produsen batu bara.

Hubungan antara Rothschild dan Co-Chairman Bumi, Indra Bakrie memburuk tahun lalu setelah pemodal mempublikasikan surat yang mendesak pembersihan radikal terhadap Bumi Resources, hingga masalah mundurnya Chief Executive Officer Ari Hudaya.

Grup Bakrie juga mengajukan proposal bersyarat untuk membuat penawaran tunai bagi 84,7% saham Bumi Plc di PT Berau Coal Energy Tbk dalam enam bulan ke depan. [ast]

Grup Bakrie Ucapkan

Bye-bye

ke Bumi Plc
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Kamis, 11/10/2012 16:57 WIB
Jakarta – Grup Bakrie tetap berpendirian untuk melepas kepemilikan atas saham Bumi Plc melalui PT Bakrie Brothers (BNBR), dan menukarnya kembali dengan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Jalan cerai ini diputuskan grup Bakrie karena Nat Rothschild dianggap semena-mena.

“Proposal kami meminta kembali saham BUMI dan kami juga akan mengembalikan seluruh saham Bumi, Plc dengan harga pasar. Kalaupun ada perbedaan nilai kami siap untuk membayar asal struktur BUMI kembali seperti awalnya,” kata Christopher Fong, Senior Vice President Bakrie Group, saat dihubungi Kamis (11/10/2012).

Aksi semena-mena Nat terjadi sejak tahun 2009. Menurut sumber, yang mengikuti jalannya rapat, Nat agak terkejut dengan proposal ini. Nat awalnya menyangka saham Bumi Plc milik Grup Bakrie, masih tertahan dan dijaminkan di pihak kreditur.

“Agak mengejutkan memang. Pihak Bakrie menyatakan bahwa kerjasama di Bumi Plc justru merugikan pemegang saham BUMI yang lain. Argumennya adalah faktor-faktor yang membuat saham Bumi Plc jatuh adalah faktor ekternal di luar kendali Grup Bakrie,” ujar sumber.

Selain itu, faktor lain yang menjadi pemicu keputusan cerai ini diantaranya krisis Eropa yang belum pulih, lalu indikasi Nat Rotschild sengaja mengerek turun saham Bumi Plc dengan mengirimkan surat ke Financial Times, kemudian keterbukaan Bumi Plc akhir-akhir ini mengenai investigasi terhadap BUMI

Sumber yang sama mengatakan, Nat Rothschild diminta mengembalikan “founders bonus” senilai ratusan juta poundsterling yang pernah ia dapatkan di awal kerjasama kepada Bumi Plc.

Nick von Schirnding perwakilan Bumi Plc dalam keterangan tertulisnya menyebut, proposal grup Bakrie perihal aksi tukar saham tersebut. Bakrie kemudian berencana menarik diri Bumi Plc.

“Dewan Komisaris Bumi Plc akan mempertimbangkan pengajuan pertukaran saham tersebut dan akan membuat rekomendasi kepada pemegang saham,” ucapnya.

(wep/dru)
Utang Menumpuk, Bakrie Harus Jual Aset?
Penulis : Didik Purwanto | Rabu, 10 Oktober 2012 | 10:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Lembaga analis independen Kata Data mencatat, utang 10 perusahaan terafiliasi dengan Bakrie Brothers menumpuk. Solusinya, perseroan diminta untuk menjual asetnya untuk melunasi utang-utangnya.

Direktur Eksekutif Kata Data, Metta Dharmasaputra, menjelaskan, utang rupiah 10 perusahaan grup Bakrie hingga kuartal I-2012 mencapai Rp 21,4 triliun dengan utang jatuh tempo pada tahun ini sebesar Rp 7,1 triliun. Adapun utang dalam dollar AS mencapai 5,7 miliar dollar AS dan jatuh tempo tahun ini sebesar 275 juta dollar AS.

“Kalau mau melunasi utang-utangnya, grup Bakrie hanya memiliki satu cara, yaitu menjual aset-asetnya,” kata Metta kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (9/10/2012).

Namun, Metta menyangsikan grup Bakrie mau melepas aset-aset yang digenggamnya selama ini. Alasannya, selama ini aset-aset tersebut menjadi jaminan untuk mendapatkan utang dari kreditor lain.

Metta menjelaskan, menurut laporan keuangan kuartal I-2012, ada tiga perusahaan Bakrie dengan utang terbesar, yakni Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) yang memiliki total utang Rp 8,6 triliun dengan total jatuh tempo 2012 Rp 2,3 triliun. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat berutang 3,69 miliar dollar AS dengan total jatuh tempo pada 2012 62 juta dollar AS. PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) berutang 295 juta dollar AS dengan total jatuh tempo 12 juta dollar AS.

Tingginya rasio utang grup Bakrie tersebut membuat harga saham sejumlah perusahaan Grup Bakrie di bursa Jakarta dan London terus tertekan sejak awal 2011. Kata Data mencatat saham BUMI turun sebanyak 77 persen dan saham BNBR turun 29 persen. Sementara itu, harga saham Bumi Plc di London merosot 74 persen dan saham BRMS anjlok sebesar 36 persen.

Menurut Metta, Bakrie telah beberapa kali menghadapi ancaman default. Pada 2011, Bakrie melakukan pembayaran sebagian dari total utang senilai 1,35 miliar dollar AS. Bakrie menjual separuh kepemilikan Bumi ke Borneo Lumbung Energi dan Metal. Pada 2012, Credit Suisse Group meminta Bakrie Group membayar 100 juta dollar AS.

“Tambahan jaminan (top up) setelah nilai saham Bumi Plc yang dijadikan jaminan untuk pinjaman Bakrie anjlok di bursa London,” ucapnya.

Sementara total utang ke Credit Suisse yang tersisa sebesar 440 juta dollar AS. “Anehnya, bagaimanapun kondisi Bakrie sejak dulu hingga kini bahkan sampai anjlok sekalipun, grup Bakrie selalu mendapat kreditor dari pihak lain. Itu dilakukan sepanjang asetnya masih bagus. Jadi, isinya refinancing saja,” katanya.
Editor :
Erlangga Djumena

Indonesia may be unfairly tarred by Bumi’s brush

October 4, 2012 @ 5:11 am

By Wayne Arnold

The author is a Reuters Breakingviews columnist. The opinions expressed are his own.

Bumi Resources is not a metaphor for Indonesia. The heavily indebted coal miner, currently at the centre of a financial probe and corporate governance spat, has said it may have to sell assets or shares. With coal prices weak, the drama at Bumi Resources spells more trouble for creditors and shareholders, including those of its London-listed parent. Indonesia must hope it is not unfairly tarred by the association.

Bumi Resources is famous in Indonesia as the company with the richest coal mines, but whose former controlling shareholders, the powerful Bakrie family, left it buried in debt. The latest twist in the saga comes from an unidentified whistleblower who has flagged at least $500 million in questionable assets. With coal prices already falling, that’s cast a further pall over the company’s prospects.

On paper, Bumi Resources seems to have enough cash coming in to stay solvent. But with net debt at 8 times equity and doubts swirling about its other assets, refinancing the roughly $1 billion of debt Standard & Poor’s estimates will mature over the next year could be a tall order. Bond markets suggest Bumi would currently have to pay an interest rate of at least 20 percent a year for 5-year money.

That isn’t good news for shareholders of Bumi Resources or those of Bumi PLC, the London-listed company that owns a 29 percent stake. The more than 80 percent drop in Bumi PLC’s shares in the past year has already forced the Bakrie family to renegotiate a $437 million loan backed by its stake in the company. It’s also likely to frustrate Bumi PLC chairman Samin Tan, who bought his 23.8 percent stake in the London-listed company from the Bakries in January — as well as Standard Chartered, which lent him the $1 billion to buy it.

The danger for Indonesia is that the Bumi saga may be seen as a cautionary tale for prospective investors in the country. Yet such white-knuckle debt levels are rare: if anything, Indonesian companies are borrowing too little. The average net debt to equity at Indonesian companies covered by Citigroup is just 12.7 percent. Indonesia has no shortage of investment perils, including poor corporate governance. But investors should avoid tarring it with Bumi’s brush.
BUMI RESOURCES: Mencari Pembeli Aset

Hanum Kusuma Dewi

Selasa, 09 Oktober 2012 | 20:04 WIB
bisnis indonesia

JAKARTA: PT Bumi Resources masih mencari pihak strategis yang ingin membeli salah satu asetnya meski kabar mengatakan Grup Sampoerna tertarik untuk mengakuisisi aset tambang tersebut.

Sumber yang dikutip oleh Reuters mengatakan perusahaan tambang batu bara tersebut mengadakan pembicaraan dengan calon pembeli yang dipimpin Grup Sampoerna untuk mengambil alih kepemilikan Fajar Bumi Sakti senilai US$200 juta.

Menanggapi berita tersebut, Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan berita tersebut spekulatif.

“Bila ada kesepakatan terkait monetisasi aset-aset, akan kami umumkan sesuai dengan peraturan yang berlaku,” ujarnya melalui pesan singkat (9/10/2012).

Seperti yang diberitakan sebelumnya, emiten tambang terafiliasi dengan Grup Bakrie ini berencana menjual aset non-inti mereka termasuk 50% saham di Fajar Bumi Sakti.

Penjualan aset tersebut ditujukan untuk membayar sebagian dari utangnya senilai US$3,8 miliar.

Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker Indonesia, mengatakan berita yang tersebar itu berdampak positif bagi harga saham berkode BUMI tetapi masih spekulatif.

“Dampaknya bagus untuk menahan harga saham BUMI agar tidak anjlok tetapi sangat meragukan,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis (9/10/2012).

Menurutnya, ada 2 hal yang perlu diperhatikan terkait keinginan Sampoerna untuk membeli aset Bumi Resources.

Pertama, aset Sampoerna mengalami penyusutan akibat investasi di luar negeri terpengaruh penurunan subprime mortgage.

“Kedua, bila Sampoerna memiliki aset yang cukup untuk transaksi tersebut, apakah dia akan bermain di sektor tambang?,” tuturnya.

Selama ini, lanjutnya, lini usaha Sampoerna adalah perkebunan, keuangan, properti, dan telekomunikasi. Selain itu, Grup Sampoerna juga tidak lagi mengendalikan produsen rokok yang tercatat di bursa PT HM Sampoerna Tbk karena sudah diakuisisi oleh Phillip Morris.

Pihak Sampoerna belum dapat dihubungi oleh Bisnis untuk konfirmasi terhadap hal itu.

Sementara itu, pihak bursa juga belum menerima keterangan dari manajemen Bumi Resources terkait penjualan tersebut.

“Rumor itu biasanya kami follow up,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen di depan wartawan (9/10).

Saham BUMI pada perdagangan Selasa (9/10) ditutup turun 1,47% menjadi Rp670 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp13,9 triliun. (msb) (Foto: bakrie-brothers.com)

Bombed-out Bumi meets for update on financial scandal
Directors of Bumi, the bombed-out coal miner created by Nat Rothschild, will this week receive their first update on a scandal that is expected to lead to a radical overhaul of the company.
Bumi is investigating ‘potential financial irregularities’ at Bumi Resources

By Alistair Osborne, Business Editor

8:03PM BST 07 Oct 2012

At what is shaping up to be a stormy meeting, the 17-strong board will convene for the first time since Bumi disclosed a fortnight ago that it had found “financial and other irregularities” at its 29pc Indonesian associate Bumi Resources. The business is controlled by Indonesia’s Bakrie family.

The findings, being investigated by law firm Macfarlanes, have already led to the exit of one non-executive director, Bumi Resources president Ari Hudaya.

At Thursday’s meeting in Singapore, the board will receive an update from Macfarlanes on its initial findings on allegations raised by a whistleblower.

They turn on at least $500m (£310m) of so-called “development assets” in Bumi Resources’ books, including a $363m stake in two Yemeni oil fields, held by a subsidiary Gallo Oil. That stake has already been written down to zero in Bumi’s books amid concerns that money allegedly spent on such projects may have been diverted elsewhere.

The investigation, instigated by deputy chairman Sir Julian Horn-Smith, is expected to lead to the “radical cleaning up” of the group now being called for by Mr Rothschild. Options include a cull of non-executives linked to the Bakries, including co-chairman Indra Bakrie, and the withdrawal of the family’s powers to appoint Bumi’s senior directors.

Tensions between Bumi and its Indonesian associate were made clear last week when Dileep Srivastava, a director at Bumi Resources complained: “Bumi Resources has undergone a reasonably unclear, and it seems to be, a motivated attack. We don’t know who is behind it and what is the motivation.”

Mr Rothschild raised £707m at £10 a share via cash-shell Vallar in July 2011 before doing a $3bn deal with the Bakries. The shares are now worth 170.8p.

Indonesia Consortium in Talks to Buy Half of Bumi Resources Unit
Janeman Latul | October 09, 2012

jakarta globe

Sampoerna group, one of Indonesia’s leading conglomerates, is leading a consortium of local investors that is in talks to buy a 50 percent stake in Fajar Bumi Sakti, a coal unit of Bumi Resources, for around $200 million, sources said.

The move is part of a plan by Bumi Resources to pay down some of its $3.9 billion debt, which includes $1.5 billion owed to sovereign wealth fund China Investment Corp.

The deal may still fail if the parties involved can’t agree on the valuation, the sources, who had direct knowledge of the matter, said on Tuesday. The sources did not want to be identified due to the sensitivity of the matter.

Dileep Srivastava, a Bumi Resources director, declined to comment.

“It is in our nature to look for opportunities for prospective investments in Indonesia,” said A. Putranto, an executive at Sampoerna Strategic, the investment holding firm of the group, in an emailed statement.

“We are open to possibilities to expand our business in other industries such as, but not limited to, mining. In relation to the above topic, we have not made any commitment with any company or group of companies on investment in coal mining industry,” Putranto said.

Bumi Resources is an affiliate company of London-listed Bumi, created in a partnership between Indonesia’s powerful Bakrie Group and financier Nathaniel Rothschild.

In late September, Bumi launched a probe into potential financial irregularities of over $500 million at its Indonesian affiliates, driving down the firms’ share prices.

It has a 29 percent stake in Bumi Resources.

Bakrie Group firms have already been under heavy investor selling pressure this year because of high debt costs, and the plan to sell assets is the latest effort to show the group’s ability to raise cash to shore up confidence.

Fajar Bumi Sakti forecasts 2012 coal production at 1 million tonnes. Bumi Resources says it will produce 75 million tons of coal this year.

Reuters
09 Oct 2012 | Others
Petinggi Bumi Plc Gelar Pertemuan di Singapura

BY Monalisa & Novan Dwi Putranto

JAKARTA (IFT) – Jajaran Direksi Bumi Plc, perusahaan yang terdaftar di Bursa London dan pemilik 29% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), dikabarkan menggelar pertemuan di Singapura pekan ini. Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas rencana audit investigasi yang akan dilakukan terhadap Bumi Resources dan Berau Coal.

Kenneth Allan, Direktur Pemasaran PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), mengakui ada pertemuan tersebut. Borneo merupakan pemegang 30% saham Bumi Plc. “Orang kami pergi ke sana. Dan itu memang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya,” kata dia, seperti dikutip Bloomberg. Kenneth tidak menyebutkan agenda pertemuan tersebut.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: