Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Desember 11, 2012

bakrie’s GAME (6) … 111212 (Formula AUTO REJECTION)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP, Utang Bumi & Grup — bumi2009fans @ 1:30 am

Bakrie & Brother Investasi 175 Juta Dollar AS Bangun Pipa Gas KALIJA
Tribunnews.com – Senin, 10 Desember 2012 15:10 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Bakrie & Brother mengeluarkan investasi 175 juta dollar AS untuk membangun pipa gas transmisi KALIJA yang menghubungkan dari Kepodang menuju Tambak Lorok.

“Investasi bervariasi. Hitungan terakhir kami yang kami invest 175 juta dollar AS,” ujar Direktur Utama PT Bakrie & Brother Gafur Sulistyo Umar di kantor BPH Migas, Senin (10/12/2012).

Proyek pipa gas yang dikelola PT Bakrie & Brother merupakan pelaksanaan kinerja tahap awal dalam mengalokasikan gas dari Kalimantan Timur menuju pulau Jawa. Rencananya panjang dari pipa gas KALIJA sebesar 210 kilometer dari total 1200 kilometer yang akan dialokasikan dari Kalimantan Timur.

“Kita buat pipanya dulu nanti di layout, panjangnya 210 kilometer, bagian dari kalimantan menuju pulau Jawa totalnya 1200 kilometer,”jelas Gafur.

Menurut dia, pembangunan pipa gas ini akan mengurangi beban subsidi listrik yang harus ditanggung pemerintah akibat mahalnya bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit listrik, terutama di pulau Jawa yang 70 persen membutuhkan energi gas untuk pembangkit listrik.

“Nantinya mengalir akhir 2014, maka akan mengurangi beban subsidi pemerintah dan memperkuat infrastruktur jaringan gas,” jelas Gaffur. (*)
JALAN TOL: MNC kuasai Saham Bakrie Toll Road

Dewi Andriani & Ringkang Gumiwang

Selasa, 11 Desember 2012 | 19:59 WIB

bisnis indonesia
JAKARTA—PT Bakrieland Development Tbk sepakat untuk menjual 100% kepemilikan saham anak usahanya yang bergerak di bidang jalan tol, PT Bakrie Toll Road kepada Grup MNC dengan nilai transkasi sekitar Rp2,1 triliun.

Dengan demikian, MNC Grup melalui anak usahanya PT MNC Infrastruktur Utama tidak hanya mengakuisisi konsesi 5 ruas jalan tol yang dimiliki Bakrie Toll Road, tetapi juga termasuk seluruh aset, utang, dan karyawan kecuali dua direksi yang masih dipertahankan di Bakrieland.

Kelima ruas jalan tol tersebut ialah Kanci-Pejagan, ruas Pejagan-Pemalang, ruas Pasuruan-Probolinggo, ruas Cimanggis-Cibitung dan ruas Ciawi-Sukabumi,

Presiden Direktur Bakrieland Development Ambono Janurianto mengatakan pihaknya berharap kesepakatan final bisa terealisasi pada bulan ini, sehingga pembukuan dari penjualan tersebut bisa tercatat pada tahun ini.

“Kami harap bisa tahun ini, sehingga episode terkait jalan tol tidak ada lagi pada tahun depan,” katanya saat paparan publik, Selasa (11/12/2012).

Dari penjualan anak usaha tersebut, lanjutnya, akan digunakan untuk membayar utang perseroan dan sisanya untuk pengembangan industri properti pada tahun mendatang. Adapun nilai utang yang jatuh tempo pada Desember ini sebesar Rp60 miliar.

“Untuk tahun depan yakni Maret 2013, kami juga ada utang jatuh tempo untuk bond sebesar Rp260 miliar dan pada 2015 ada utang sebesar Rp1,5 triliun,” tuturnya.

Ambono mengatakan pertimbangan perseroan melepas kepemilikan anak usaha dengan nilai Rp2,1 triliun merupakan strategi perseroan untuk mendivestasi usaha non properti, sehingga tidak perlu ada recurring lost yang harus ditanggung perseroan setiap tahunnya.

Pasalnya, proyek jalan tol tersebut telah banyak mempengaruhi anggaran perseroan. Dia menambahkan proyek jalan tol tersebut menyumbang sekitar 40% terhadap debt equity ratio (DER) perseroan saat ini sebesar 60%.

“Dari beban bunga yang saja harus dibayar mencapai Rp158 miliar per tahun, padahal pendapatan dari jalan tol tersebut hanya 5% dari Rp2 trilun atau sekitar Rp100 miliar, sehingga kami harus menanggung beban Rp58 miliar,” tuturnya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap DER perseroan setidaknya menjadi 40% usai divestasi tersebut, dan neraca keuangan pada tahun mendatang bisa lebih baik.

Selain jalan tol, MNC Group pun mencaplok 50% kepemilikan saham Bakrieland terhadap Lido Resort dengan nilai kisaran Rp900 miliar-Rp1 triliun.

Resort yang memiliki lahan seluas 1.037 hektare tersebut, katanya, sedang dalam tahap finalisasi, dan diperkirakan akan selesai pada tahun ini.

Dia menjelaskan pihaknya akan fokus pada pengembangan proyek kawasan hunian pada masa mendatang, yang terbukti memiliki pasar dan margin yang signifikan.

Oleh karena itu, perseroan menyiapkan rencana strategis pada masa mendatang a.l pertama, perseroan akan fokus kembali terhadap core bisnisnya industri properti. Salah satu langkah tersebut yakni mendivestasikan aset-aset non properti. (bakrieland.com) (msb)

Tahun Ini, Bakrieland Sudah Siap Rugi

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Selasa, 11 Desember 2012 | 17:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) memperkirakan tahun ini akan mengalami kerugian dari tahun 2011 yang masih untung Rp74,74 miliar.

“Kerugian kemungkinan akan lebih besar pada 2012 dari tahun sebelumnya. Hingga kuartal ketiga 2012 saja, sudah rugi Rp133 miliar. Meski begitu, pendapatan diharapkan sama seperti tahun lalu,” ujar Direktur Utama PT Bakrieland Development Tbk, Ambono Janurianto saat paparan publik perseroan, Selasa (11/12/2012).

Lebih lanjut ia menuturkan, kinerja perseroan tergantung dari penjualan PT Bakrie Toll Road. Bila penjualan Bakrie Toll Road tidak terjadi pada 2012, Ambono menambahkan, kerugian akan lebih sedikit namun ada beban yang akan dibawa pada 2013.

Oleh karena itu manajemen perseroan mengharapkan penjualan Bakrie Toll Road dapat selesai pada 2012. “Kami mengusahakan beban tidak terbawa pada 2013. Penjualan Bakrie Toll Road ini bukan recurring loss tetapi one time loss,” kata Ambono.

Hingga September 2012, perseroan membukukan kerugian Rp133 miliar dari periode sama sebelumnya untung Rp129,2 miliar. Pendapatan perseroan turun menjadi Rp1,31 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp1,44 triliun. [hid]

Energi Mega Terbitkan Obligasi Global Rp 5,7 Triliun
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Selasa, 04/12/2012 16:31 WIB
Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), perusahaan energi kelompok usaha Bakrie, berencana menerbitkan surat utang (obligasi) berdenominasi dolar AS sekitar US$ 600. Perseroan menargetkan obligasi ini meluncur di 2013.

“Global bonds masih, mudah-mudahan (tahun 2013) bisa,” ucap Investor Relation ENRG, Herwin Hidayat di Jakarta, Selasa (4/12/2012).

Ia menjelaskan, penerbitan surat utang dalam dolar AS adalah upaya perseroan menekan biaya bunga dari utang sebelumnya. Refinancing akan dilakukan untuk menutup dua pinjaman dari perbankan, yaitu US$ 222 juta atau setara Rp 2,01 triliun dari ND Owen Holdings Limited, dan US$ 200 juta (Rp 1,813 triliun) dari Credit Suisse Singapura.

Bunga pinjaman kedua bank ini tergolong tinggi. Hingga dengan penerbitan global bonds diharapkan beban perusahaan sedikit berkurang, dan pada akhirnya menguntungkan bagi pemegang saham.

“Bunga bank sekitar 13% dan 18%. Kalau ini diterbitkan refinancing menjadi lebih baik,” tambahnya.

Sebagai catatan, Credit Suisse dan Owen menjadi dua bank yang mengutangi ENRG paling besar. Lebih dari 50% utang jangka panjang perseroan berasal dari mereka, dari total sekitar Rp 5,034 triliun.

Selain itu, perseroan tercatat memiliki pinjaman dari tiga pihak diantaranya Japan Petroleum Exploration Co., Ltd. Rp 1,51 triliun, Kangean Finance Company, Jepang Rp 1,39 triliun dan Mitsubishi Corporation Rp 118,44 miliar.

Menurut Herwin, rencana perseroan untuk menambah modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement belum terlaksana, karena penyelenggaraan RUPS hari ini, tidak tercapai kuorum. Padahal salah satu agenda rapat adalah persetujuan non-HMETD.

Sebelumnya manajemen berencana menerbitkan saham baru sekitar 4,058 miliar lembar, dengan target harga Rp 186 per lembar. Dana hasil penerbitan saham baru ini akan dipakai untuk memperbaiki posisi keuangan perusahaan.

Namun dalam beberapa bulan terakhir saham ENRG terus merosot dan kini terkapar pada level Rp 73 turun 1,35% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Jika aksi ini berjalan lancar maka pemegang saham publik terdilusi 9,09% dari sebelumnya 67,64% menjadi 61,49%.

Herwin juga tak lupa menyampaikan, paska akusisi CNOOC ONWJ Ltd. yang menguasai 36,7% kepemilìkan di blok Offshore Northwest Java PSC (ONWJ), kinerja perseroan terus melaju. Perseroan bahkan percaya diri total pendapatan di 2012 bisa melebihi US$ 350 juta, atau naik dari pencapaian tahun sebelumnya US$ 245 juta.

Pendapatan ENRG juga tahun depan tumbuh menjadi US$ 600 juta. Kenapa bisa demikian? Tidak lain karena peningkatan produksi pada ONWJ.

Di saat perseroan mengakuisisi kepemilikan blok dari CNOOC jatah produksi yang menjadi haknya 23.000 barel ekuivalen per hari (berdasarkan 36,72% kepemilikan). Sedangkan tahun depan, seiring produksi yang meningkat, hak ENRG juga berlipat.

Total jatah yang menjadi hak anak usaha grup Bakrie ini mencapai 55.000 barel ekuivalen per hari.

(wep/ang)
Siarkan Piala Dunia 2014, TV Bakrie Dapat Garansi Bank Rp 102,6 Miliar
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Minggu, 02/12/2012 14:31 WIB

Jakarta – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), perusahaan media holding yang membawahi stasiun televisi ANTV, TV One dan portal Viva telah menandatangani facility agreement pada 23 November 2012, dan diubah berdasarkan amandment pada 27 November 2012 senilai US$ 10,8 juta atau setara Rp 102,6 miliar.

Fasilitas ini merupakan kesepakatan antara perseroan dengan Deutsche Bank AG, Frankfurt a.M., Zweigniederlassung Zurich, Switzerland (DB ZH), yang bertindak sebagai issuing bank (facility agreement). Atas dasar kesepakatan ini VIVA memperoleh fasiltas garansi bank dengan total US$ 10,8 juta.

Chief Counsel & Corporate Secretary VIA, Neil R. Tobing dalam keterangan tertulisnya, seperti dikutip Minggu (2/12/2012) menjelaskan, bank guarantee ini merupakan syarat yang harus penuhi perseroan dalam kapasitasnya sebagai sub-licensee dan atau official broadcasters dari media rights atas XXth Edition of the FIFA World Cup Football Tournament and Certain other FIFA Event.

Ini juga didasarkan atas licence agreement yang disepakati oleh dan antara FIFA dengan PT Inter Sports Marketing (ISM) di 23 Maret 2012 dan sub-license agreement yang ditandatangani ISM dengan ANTY melalui PT Carkrawala Andalas Televisi, dan TV One melalui PT Lativi Mediakarya.

“Transaksi tersebut merupakan kegiatan usaha perseroan dan entitas anak usaha, selaku perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa konten dalam berbagai paltform, termasuk penyiaran televisi swasta,” jelas Neil.

Perusahaan media grup Bakrie ini memang telah membeli hak siar ekslusif siaran Piala Dunia (World Cup) 2014 senilai US$ 61,54 juta atau setara Rp 553,86 miliar.
Atas hak yang diterima tersebut, tiga anak usaha VIVA tersebut harus membayar biaya hak siar US$ 54,1 juta kepada FIFA (Federation Internationale de Football Association), lalu mengganti biaya-biaya yang dikeluarkan oleh ISM sehubungan dengan proses persiapan, negoisasi dan eksekusi licence agreement sebesar US$ 4,44 juta dan membayar biaya konsultasi sebesar US$ 3 juta.

(wep/hen)
Selasa, 20 November 2012 | 05:56 WIB
Bakrie Segera Lepas Proyek Tol

TEMPO.CO , Jakarta:PT Bakrieland Development Tbk menegaskan rencananya untuk melepas saham di beberapa perusahaan mereka. Aset yang akan dilepas adalah antara lain adalah proyek di bidang jalan tol, yang bukan merupakan bisnis utama Bakrieland. Bisnis utama Bakrieland adalahreal estate dan apartemen.

“Kami berencana dan berharap seluruh proses divestasi bisa selesai akhir tahun ini. Kami sih berharap seluruh proyek jalan tol yang kami miliki dapat diivestasi,” kata Head of Investor Relations Bakrieland Nuzirman Nurdin saat dihubungi kemarin.

Menurut Nuzirman, divestasi proyek tol itu dilakukan karena para pemegang saham mayoritas Bakrieland ingin mengembalikan jalur bisnis mereka ke bidang properti seperti real estate, apartemen, hotel, dan perkantoran. “Dari semula fitrah kami adalah bisnis properti real estate. Pemegang saham sebagai pemilik modal kami, ingin agar perusahaan konsentrasi ke unit usaha itu saja,” katanya.

Namun, Nuzirman menambahkan, jika penawaran harga dari perusahaan pembeli dinilai tidak cukup menguntungkan Bakrieland, maka tidak semua proyek tol akan dilepas. “Nilai saham yang akan didivestasi sangat tergantung pada penawaran dari pihak yang berminat. Belum tentu juga 100 persen saham di proyek tol akan dilepas,” katanya.

Hal ini berbeda dengan kabar diterima Direktur Utama PT Jasa Marga Adityawarman yang mendapat informasi dari Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum bahwa Bakrieland Development masih ingin melanjutkan pembangunan tol sendiri.

Saat ini Bakrieland melalui anak usahanya PT Bakrie Toll Road telah mengoperasikan satu ruas jalan tol, yakni Kanci-Pejagan. Selain itu, PT Bakrie Toll Road juga telah tercatat sebagai konsorsium pembangunan enam ruas jalan tol yaitu, Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang (Jawa Tengah), Pasuruan-Probolinggo (Jawa Timur), Batang-Semarang (Jawa Tengah), Cimanggis-Cibitung (Jawa Barat), dan Ciawi-Sukabumi (Jawa Barat). Lima ruas yang disebut terakhir mangkrak.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto berharap, pembangunan lima ruas jalan tol milik Grup Bakrie yang sempat mangkrak kembali diteruskan. Sebab, lima ruas tol itu penting untuk menghubungkan ruas tol lain di Pulau Jawa. “Harus segera ada investor yang melanjutkan pembangunan ini agar penyelesaiannya tidak berlarut-larut,” katanya saat dihubungi.

Catatan Kementerian Pekerjaan Umum, pada September 2012 tol, ruas tol Pejagan-Pemalang baru membebaskan 29 persen lahan. Sedangkan tol Batang-Semarang baru berhasil membebaskan 3,34 persen lahan yang diperlukan untuk konstruksi jalan tol. Ruas tol sepanjang 75 kilometer itu berhenti pengerjaannya sejak Juni 2011 karena ketiadaan dana.

Bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo pekan lalu telah menyatakan siap mengambil alih ruas tol milik Grup Bakrie. Grup MNC siap mengambil alih kepemilikan ruas tol, baik yang sudah maupun belum beroperasi.

RAFIKA AULIA | RAHMA TW
Deal, Hary Tanoe Telah Caplok Tol Milik Bakrie
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Selasa, 13/11/2012 10:32 WIB
Jakarta – Aksi Bos MNC Grup Hary Tanoesoedibjo mengambilalih kepemilikan atas ruas tol milik grup Bakrie, melalui anak usahanya PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sudah mencapai kata sepakat.

Salah seorang sumber yang mengetahui transaksi ini memastikan Hary melalui grup MNC telah menjadi pemilik baru ruas tol Kanci-Pejagan (telah beroperasi), ataupun Pejagan-Pemalang, Pasuruan-Probolinggo, Batang-Semarang, Cimanggis-Cibitung, serta Ciawi-Sukabumi.

“Sudah deal. Transaksinya sudah disepakati. Nggak mungkin Hary Tanoe ngomong, kalau belum deal,” kata sumber yang mengetahui transaksi tersebut kepada detikFinance, Selasa (13/11/2012).

Ia menerangkan, nilai kesepakatan pengalihan aset tol dari Grup Bakrie ke grup MNC akan diumumkan secara resmi dalam waktu dekat.

Sebelumnya Hary Tanoe mengakui berminat mengambilalih seluruh tol milik Bakrie. “Iya (mengambilalih tol milik Bakrie). Seluruhnya. Tapi dananya belumlah,” katanya kemarin.

Manajemen ELTY, melalui Direktur Utama Ambono Janurianto hingga saat ini belum bisa dikonfirmasi terkait telah dilepasnya seluruh aset tol Bakrie. Namun beberapa waktu lalu Ambono Janurianto menegaskan akan menjual anak usaha PT Bakrie Toll Road (BTR) yang bertujuan untuk mengurangi utang yang menumpuk.

“Transaksi ini membuat Bakrie senang, karena Grup MNC merespons dengan cepat. Tentu ini menutup utang Bakrie yang mencapai US$ 1,2 miliar,” imbuh sumber tersebut.

(wep/hen)
Bakrie Life Jadi “PR” Berat Bapepam-LK
Penulis : Didik Purwanto | Kamis, 8 November 2012 | 12:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memiliki sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang cukup berat, yakni menangani lembaga keuangan nonbank yang bermasalah. Targetnya, PR tersebut harus bisa kelar sebelum Bapepam-LK resmi bergabung dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun depan.

“Saat ini, kami sedang menyelesaikan kasus-kasus tersebut, khususnya di Komite Pengenaan Sanksi,” kata Ketua Bapepam-LK Ngalim Sawega di Jakarta, Rabu (7/11/2012).

Menurut Ngalim, saat ini pihaknya tengah menangani sekitar 15 kasus di lembaga yang dibawahkannya. Salah satu yang paling besar adalah kasus penyelesaian gagal bayar di perusahaan asuransi PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life). Hingga saat ini, sekitar 250 nasabah yang menanamkan dana investasi di produk Diamond Investa belum sepenuhnya kembali. Pihak nasabah terus menuntut skema pengembalian dana nasabah secepatnya.

“Untuk masalah ini, kami belum bisa memastikan apakah kasus Bakrie Life ini akan selesai akhir tahun ini,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Bakrie Life belum mengembalikan dana investasi nasabah sebesar Rp 360 miliar pada 2008. Hingga saat ini, Bakrie Life baru melunasi sekitar Rp 90 miliar. Kabar terakhir, Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata menjelaskan, hingga saat ini Bakrie Life dan perwakilan nasabah terus berdiskusi terkait penyelesaian masalah pengembalian dana nasabah.

“Namun, Bakrie Life sempat bilang ada aset yang sudah disediakannya untuk memenuhi kewajiban kepada nasabahnya,” kata Isa di Jakarta, Rabu (17/10/2012).

Menurut Isa, konflik penyelesaian pembayaran dana nasabah ini hingga saat ini belum tuntas. Setiap dua minggu sekali, kedua pihak ini selalu melakukan rapat. Kebetulan Bapepam-LK memfasilitasi tempat rapat di antara kedua pihak tersebut, baik dari Bakrie Life maupun perwakilan nasabah. Namun, belum ada keputusan sepihak dari Bapepam-LK terkait penyelesaian dana nasabah yang belum kunjung usai tersebut.

“Kita tidak pernah bilang akan memutus (Bakrie Life). Mereka masih berdiskusi dan negosiasi,” ujarnya.

Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto menjelaskan, hingga saat ini skema untuk pengembalian dana nasabah belum tuntas. Namun, dia berjanji mengembalikan dana nasabah secepatnya. Dalam pertemuan akhir September lalu, pihak Bakrie Life berjanji memberikan jaminan berupa aset tanah sebesar 77,4 hektar di Makassar untuk membayar kerugian dana nasabah.

Salah satu perwakilan nasabah, Freddy, mengaku hingga saat ini belum mendapat ganti rugi atas dananya yang ditaruh di produk Diamond Investa tersebut. “Jika masalahnya terus berlarut-larut, kami akan mengajukannya ke Pengadilan Niaga,” kata Freddy.

Bakrie Life mengalami gagal bayar dana nasabah senilai Rp 360 miliar pada 2008 dan itu merupakan premi sekaligus investasi yang dihimpun dari ratusan nasabah pembeli produk Diamond Investa. Dari jumlah itu, Bakrie Life sudah mengembalikan dana nasabah sebesar Rp 90 miliar. Bakrie Life masih ada kewajiban pengembalian dana sisa sebesar Rp 270 miliar yang wajib dibayarkan secara dicicil dalam tiga tahun berturut-turut.
Editor :
A. Wisnubrata

Kamis, 01 November 2012 | 16:39 WIB
Tiga Perusahaan Bakrie Merugi di Kuartal III 2012

TEMPO.CO, Jakarta – Tiga perusahaan milik Grup Bakrie mencatatkan kerugian di kuartal III tahun ini. Perusahaan tersebut adalah PT Berau Coal Energy Tbk, PT Bakrieland Development Tbk, dan PT Bakrie Telecom, dengan total kerugian netto yang dapat diatribusikan pada pemilik entitas induk mencapai hingga Rp 1,4 triliun.

Kerugian pertama dialami oleh PT Berau Coal Energy dengan total keugian sebesar US$ 32,65 juta atau setara dengan Rp 300,3 miliar. Ini sangat anjlok jika dibandingkan dengan periode serupa pada tahun lalu yang bahkan bisa mencetak laba hingga US$ 111,51 juta.

Direktur Utama PT Berau Coal Energy, Roslan Perkasa Roeslani, dalam keterangan tertulisnya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, menyatakan laporan keuangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. “Semua informasi dalam laporan keuangan telah dimuat secara lengkap dan benar,” kata dia, Kamis , 1 November 2012.

Dalam laporan, perusahaan merugi karena turunnya penjualan, naiknya beban perseroan, rugi selisih kurs, serta turunnya nilai aset perseroan pada periode tersebut. Belum lagi akibat dari turunnya penjualan selama sembilan bulan berjalan sebanyak 7,13 persen dibandingkan dengan angka penjualan di periode serupa tahun lalu, dari US$ 1,207 miliar menjadi US$ 1,121 miliar.

Kerugian juga tercatat dalam laporan keuangan PT Bakrieland Development (ELTY). ELTY tercatat membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 133,01 miliar hingga kuartal III tahun ini. Merosot jauh ketimbang periode serupa tahun lalu yang sempat mencetak laba hingga sebanyak Rp 129,23 miliar.

Meruginya usaha properti Bakrie tersebut tak lepas dari turunnya pendapatan usaha dari yang semula bisa mencapai hingga Rp 1,4 triliun pada periode serupa di tahun lalu. Tahun ini ELTY hanya bisa membukukan pendapatan sebesar Rp 1,31 triliun. Belum lagi beban pajak perusahaan yang pada tahun ini membubung tinggi dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu, dari Rp 2,8 miliar menjadi Rp 50,24 miliar pada saat ini.

Terakhir, kerugian tercatat pada usaha telekomunikasi PT Bakrie Telecom dengan total mencapai Rp 988,24 miliar. Kerugian ini melonjak 53 persen ketimbang kerugian pada periode serupa tahun lalu yang sebanyak Rp 524,96 miliar.

Ruginya usaha Grup Bakrie di bidang telekomunikasi tersebut tak lepas dari unsur turunnya pendapatan perusahaan dari Rp 1,97 triliun pada periode serupa tahun lalu menjadi hanya Rp 1,77 triliun pada periode kali ini. Sementara itu, beban usahanya melonjak menjadi Rp 2,1 triliun dari sebelumnya hanya sebanyak Rp 2,09 triliun.

GUSTIDHA BUDIARTIE
Rugi Rp 133 M, ELTY anjlok 9% hari ini
Oleh Rika Theo – Kamis, 01 November 2012 | 16:57 WIB | Sumber Reuters

kontan
JAKARTA. Saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sempat anjlok 9,2% hari Kamis (1/11). Perusahaan properti itu melaporkan rugi selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Rugi bersih ELTY mencapai Rp 133,01 miliar sepanjang Januari 2012-September 2012. Padahal di periode yang sama setahun lalu, ELTY masih bisa untung Rp 129,23 miliar.

Kerugian ELTY itu akibat rugi valas yang melonjak, beban bunga, dan beban finansial.

Di akhir perdagangan hari ini, ELTY ditutup terpapas 6,15% ke Rp 61. Namun, ELTY mencatatkan volume transaksi tertinggi yang berjumlah 645,75 juta saham yang berpindah tangan.

Catatan saja, pekan lalu, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengatakan siap untuk mengakuisisi 60% saham PT Bakrie Toll Road, abak usaha Bakrieland.

Tak Lagi Merugi, Bakrie & Brothers Catat Laba Bersih Rp 252 Miliar
Herdaru Purnomo – detikfinance
Rabu, 31/10/2012 17:15 WIB

Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berhasil mencatatkan keuntungan di triwulan III-2012 setelah pada periode yang sama tahun 2011 mengalami kerugian. BNBR mencatat laba bersih Rp 252,7 miliar pada periode triwulan III-2012, sedangkan pada triwulan III-2011 BNBR mencatat kerugian Rp 650 miliar.

Sementara laba bersih per saham juga tercatat positif Rp 0,39. Per triwulan III-2011 perseroan mencatat rugi bersih per saham BNBR Rp 4,95.

Dikutip detikFinance, Rabu (31/10/2012) dari laporan keuangan triwulan III-2012 BNBR, laba bersih perseroan ditopang dari pendapatan bersih yang tumbuh menjadi Rp 13,84 triliun. Sedangkan Laba usaha tercatat Rp 1,6 triliun.

Total aset BNBR pada triwulan III-2012 tercatat Rp 16,96 triliun atau lebih rendah dari triwulan III-2011 yang sebesar Rp 25,21 triliun.

Sampai dengan triwulan III-2012 ini perseroan telah mengalami rugi kurs hingga Rp 151 miliar. Hal ini mengakibatkan membengkaknya beban perseroan yang tercatat Rp 1,2 triliun pada triwulan III-2012.

Bagian usaha dari Grup Bakrie ini belakangan ramai diberitakan. Grup Bakrie menyatakan melalui BNBR siap melepas kepemilikan sahamnya di Bumi Plc dan menawarkan opsi tukar saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

(dru/ang)

Grup Bakrie Siapkan 11 Tower Apartemen di Sentra Timur
Herdaru Purnomo – detikfinance
Minggu, 28/10/2012 13:22 WIB
Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk berencana menambah 11 tower atau sebanyak 5.500 unit di Apartemen Sentra Timur Residence. Perusahaan milik Grup Bakrie ini juga akan menyiapkan infrastruktur pendukung seperti rumah sakit dan pusat belanja di kawasan tersebut.

Dirut unit usaha City Property PT Bakrieland Development Tbk untuk Sentra Timur, Dicky Setiawan menyatakan infrastruktur memang akan menjadi fokus pengembangan Sentra Timur sebagai upaya menyediakan hunian bagi segmen menengah di Jakarta.

“Saat ini tengah diselesaikan pembangunan akses tol Lingkar Luar Jakarta. Pembangunannya sudah 80 persen ditargetkan akhir tahun 2012 sudah dapat dipergunakan,” kata Dicky dalam penjelasannya seperti dikutip detikFinance, Minggu (28/10/2012).

Menurut Dicky saat ini juga tengah dipersiapkan pembangunan terminal terpadu yang dirancang sebagai terbesar di Asia Tenggara, stasiun kereta api, dan membuka busway koridor 11 sampai di kawasan Sentra Timur.

“Rencananya, di lahan seluas 23 hektar di Sentra Timur akan dibangun apartemen, hotel, rumah sakit, pusat belanja, serta hunian tapak (landed house) bagi segmen menengah ke atas. Apartemen Sentra Timur Residence rencananya akan dibangun 11 tower atau 5.500 unit, dan yang telah direalisasikan sebanyak tiga tower sejumlah 1400 unit, serta sudah dihuni 950 unit,” ungkap Dicky.

Dicky mengatakan, Sentra Timur telah menyiapkan pembangunan 3 tower sebanyak 1000 unit lagi yang saat ini memulai tahap konstruksi. Sentra Timur saat ini juga tengah membangun rumah tapak untuk kelas atas Mutiara Platinum.

Hunian mewah ini akan dibangun di lahan seluas 17 hektare (ha), memiliki beberapa tipe yaitu tipe 130m2/160 m2, 130 m2/238 m2 dan 130 m2/259 m2. Pemasaran hunian tapak menengah atas ini akan dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama akan dipasarkan 11 rumah, dan tahap kedua sebanyak 26 unit.

Dengan berbagai jenis properti tersebut, kawasan Sentra Timur dirancang khusus sebagai hunian menengah atas dengan lokasi yang dekat kantor Walikota Jakarta Timur dan beberapa kantor pemerintahan yang bisa dijangkau dalam radius dua kilometer. “Lokasi ini juga sangat dekat dengan kawasan berikat Nusantara dan kawasan industri Bekasi sehingga memang tepat bagi pekerja swasta, BUMN, maupun pegawai negeri,” tegas dia.

(dru/nia)
Rabu, 24 Oktober 2012 | 14:53 WIB
Kurangi Beban Utang
Divestasi Aset Perseroan, Bakrie Brother Jajaki Calon Investor Baru

NERACA

Jakarta – Rencana PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melakukan divestasi terhadap aset-aset perseroan belum bisa dilakukan. Pasalnya, perseroan belum mencapai kesepakatan dengan sejumlah calon pembeli atau mitra usaha dalam investasi.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (24/10). Kata Direktur & Corporate Secretary BNBR, RA Sri Dharmayanti, saat ini perseroan masih dalam tahap penjajakan dengan sejumlah calon pembeli atau mitra, “Informasi detail mengenai divestasi asetakan kami samaikan setelah negosiasi selesai. Saat ini proses tersebut masih berlangsung dan perseoran terikat dengan perjanjian kerahasiaan antar pihak,”ujarnya.

Menurutnya, sebagai perusahaan investasi, perseroan mempertimbangkan setiap peluang yang ada baik dalam investasi maupun divestasi aset-aset perseroan. Perseroan telah beberapa kali melakukan pertemuan dengna para calon pembeli atau mitra usaha yang berminat mengadakan kerja sama. Beberapa diantaranya para calon pembeli atau mitra usaha dari investor dalam dan luar negeri.

Namun perseroan memastikan rencana divestasi terebut tidak termasuk dalam transaksi material. Belum lama ini, Grup Bakrie mengajukan proposal untuk melakukan tukar guling sahamnya di Bumi Plc dengan 29% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Grup Bakrie kini menguasai 23,8% saham Bumi Plc akan menukarnya dengan sekitar 10,3% saham BUMI. Selanjutnya sisa saham BUMI yaitu sekitar 18,7% akan dilunasi grup Bakrie dengan pembayaran tunai.

Sebelumnya, PT Bakrie Land Development juga menyampaikan rencana melepas kepemilikan saham sebagian atau seluruhnya di perusahaan pengelola jalan tol PT Bakrie Toll Road (BTR). Direktur Utama ELTY, Ambono Janurianto pernah bilang, hasil divestasi saham BTR digunakan untuk mengurangi utang perseroan. Pasalnya, pengurangan utang menjadi target manajemen agar tidak membebani kinerja keuangan. “Kami divestasi BTR untuk kurangi utang,”katanya.

Dia menambahkan, manajemen terus bernegosiasi dengan beberapa investor yang meminati saham BTR. Besaran pelepasan saham pengelola Kanci-Pejagan milik ELTY juga masih dibicarakan oleh kedua belah pihak.

Manajemen ELTY dapat menjual seluruh kepemilikan tidak langsung atau melepas sebagian dengan tetap mempertahankan sebagian kepemilikannya.”Kita belum tahu berapa yang dilepas, karena diskusinya masih berlangsung,” paparnya.

Di ELTY, kepemilikan grup Bakrie sudah tidak mayoritas paska masuknya Limitless Limitless World International Services Ltd. Kini, saham Bakrie di perusahaan properti itu hanya tersisa 8%. ELTY yang merupakan salah satu anak usaha group Bakrie bidang properti dan infrastruktur ini, menguasai 69,99% saham di BTR melalui anak usahanya yaitu PT Bakrie Infrastructure. Sementara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai tulang punggung bisnis Bakrie di sektor tambang mencatatkan rugi bersih US$ 334,111 juta atau setara Rp 3,14 Triliun sepanjang semester I-2012. Penyebab utamanya, karena dua hal yakni rugi kurs dan transaksi derivatif.

Mengutip lapora keuangan BUMI 2011, perseroan mencatatkan utang jatuh tempo tahun 2012 mencapai US$638 juta (Rp6,38 triliun). Sementara di tahun 2013 sebesar US$1,1 miliar, 2014 sebesar US$635 juta, 2015 sebesar US$313 juta, 2016 sebesar US$450 juta dan di 2017 sebesar US$700 juta. Maka jika disederhanakan, hingga 2014 BUMI harus melunasi utang jatuh tempo sebesar US$3 miliar (Rp30 triliun). Bani

(Bani)

Bakrie mulai jual aset untuk bayar utang
Reporter: Ririn Radiawati
Jumat, 19 Oktober 2012 08:44:00
Bakrie mulai jual aset untuk bayar utang
merdeka.com

Menumpuknya utang di tubuh perusahaan Bakrie yang berada di bawah Bakrie & Brothers harus direstrukturisasi maupun dilunasi. Hingga semester pertama tahun ini, perusahaan yang mempunyai kode emiten BNBR itu telah mencatat total utang yaitu Rp 10 triliun.

Presiden Direktur BNBR Bobby Gofur Umar mengatakan bahwa salah satu solusi untuk melunasi utang-utang yang menjadi beban perusahaan adalah dengan melepas kepemilikan saham di beberapa perusahaan Bakrie.

“Ada beberapa unit yang sedang dalam taraf pembicaraan dengan calon partner tersebut untuk kepemilikan 40-75 persen di unit manufaktur kami,” ujar Bobby kepada merdeka.com, Jumat (19/10).

Bobby mengatakan bahwa proses divestasi ini sejalan dengan rencana perseroan dengan pola kerja sama rekanan dengan pemain global yaitu Korea, Jepang dan China.

Dia mengatakan, beberapa aset dan unit perusahaan pengolahan yang akan dilepas sahamnya antara lain adalah Seamless Pipe Indonesia Jaya, Bakrie Pipe Indonesia, South East Asian Pipe Indonesia, South East Asian Pipe, Bakrie Construction, Bakrie Building Industries dan lainnya.

“Selain memperkuat lini manufakturnya, juga BNBR bisa mendapatkan dana segar untuk pembayaran utang dan investasi ke depannya di bidang infrastruktur,” ujar dia.

Sayangnya, Bobby enggan menyebutkan berapa total dana yang didapatkan melalui pelepasan saham tersebut. “Saya tidak bisa disclose angkanya karena terkait dengan kontrak kerahasiaan,” kata dia.

Bobby mengatakan, selain akan mendapat dana segar, divestasi ini juga akan menguntungkan pihak perusahaan. “Pola divestasi kepemilikan di unit-unit manufaktur tersebut adalah pola kerjasama strategis untuk pengembangan ke depannya dengan alih teknologi dan penetrasi pasar ekspor di mana calon-calon partnernya adalah pemain kelas dunia dari Korea, Jepang, China,” jelas dia.

Meski begitu, lanjut Bobby, BNBR masih memiliki fokus usaha yang masih ditekuni, yaitu sumber daya alam dan infrastruktur. Kegiatan divestasi tersebut rencananya akan selesai akhir tahun ini hingga kuartal pertama tahun depan.
[rin]

Cadangan BRMS tak sebanding dengan kas perusahaan
Oleh Muhammad Khairul – Selasa, 16 Oktober 2012 | 06:46 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) melaporkan, jumlah cadangan tambang milik PT Gorontalo Minerals lebih besar dari estimasi awal.

Analis Samuel Sekuritas Yualdo T. Prawiro mengatakan, angka cadangan mineral yang dilaporkan Joint Ore Reserve Committe Resources (JORC Resources) ini lebih tinggi 133,6% dari perkiraan awal 125 juta ton. “Ini menghilangkan keraguan terkait deposit mineral di Gorontalo yang selama ini hanya dapat diperkirakan,” kata dia.

Hanya saja, BRMS masih sangat terkendala dalam realisasi produksi dari portofolio aset yang ada. “Karena posisi kas terbatas,” ujar dia. Posisi kas dan setara kas BRMS per Juni hanya US$ 67,24 juta.

BRMS memiliki dua aset terbesar, yakni di Dairi (Sumatera Utara) dan Gorontalo. Dairi membutuhkan sekitar US$ 100 juta per tahun hingga 2014. Sementara proyek Gorontalo telah menghabiskan US$ 75 juta dan masih membutuhkan lebih dari US$ 100 juta sampai produksi di 2015.

Hitungan Yualdo, kas BRMS akan negatif di 2013 dan 2014 apabila harus membiayai kedua proyek. Alternatifnya, emiten harus mencari project financing untuk tiap proyek setidaknya hingga tiga tahun ke depan.

Alternatif lain dengan menjual saham BRMS. Sebelumnya, Presiden Direktur BRMS Samin Tan pernah menyatakan akan menjual 20% saham BRMS dengan target perolehan dana sebesar US$ 400 juta.

Meleset

Anak usaha BRMS yang bisa berproduksi dalam waktu dekat adalah tambang biji besi di Mauritania, Afrika Selatan. “Mauritania baru dapat berkontribusi tahun depan karena belum dapat surat izin ekspor dari pemerintah Mauritania,” ujar Yualdo.

Padahal, rencana awal, tambang ini bisa kontribusi pada pertengahan tahun ini dengan 600.000 ton. Namun, Yualdo menduga, kontribusinya baru terasa di 2013 dengan volume produksi 200.000 ton. Itu berarti, senilai US$ 21,6 juta dengan asumsi harga jual rata-rata US$ 120 per ton.

Akibat penundaan tersebut, Yualdo menurunkan estimasi pendapatan 2012 menjadi US$ 23 juta dari proyeksi sebelumnya US$ 90 juta. Dia juga memperkirakan BRMS masih akan merugi hingga tahun depan akibat beban bunga.

Selain itu, setoran laba dari PT Newmont Nusa Tenggara berkurang menjadi US$ 38 juta di tahun ini dari US$ 112 juta di tahun lalu. Ini karena, produksi emas 2012 turun menjadi 70.000 ons dari sebelumnya 318.000 ons. Produksi tembaga juga turun dari 283 juta pon jadi 170 juta pon.

Reza Priyambada, Head of Research Trust Securities, menilai, secara teknikal harga BRMS di Rp 445 merupakan level menarik untuk akumulasi beli.
Para analis yang dihubungi KONTAN pun masih merekomendasikan beli pada saham BRMS. Reza memasang target di Rp 600 – Rp 650 hingga akhir tahun 2012.

Sementara Yualdo menargetkan Rp 790. “Kami melihat potensi pertumbuhan BRMS dari prospek asetnya,” kata ia. Target tersebut mencerminkan price to book value (PBV) 0,99 kali di 2012.

Hariyanto Wijaya, analis Mandiri Sekuritas, menargetkan Rp 830. Sementara Isnaputra Iskandar dari Nomura proyeksi di Rp 810. Senin (15/10), saham BRMS ditutup turun 2,2% di Rp 445.
Saham-saham Grup Bakrie Bakal Dorong IHSG Naik

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Jumat, 12 Oktober 2012 | 03:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pengamat pasar modal Willy Sanjaya meyakini potensi kenaikan saham-saham grup Bakrie bakal mendorong penguatan IHSG Jumat (12/10/2012). Seperti apa?

Pada perdagangan Kamis (11/10/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat tipis 4,957 poin (0,12%) ke angka 4.284,967. Intraday tertinggi mencapai 4.284,967 dan terendah 4.260,859. Di sisi lain, indeks saham unggulan LQ45 yang justru melemah 0,28 poin (0,04%) ke angka 741,802. Berikut ini wawancara lengkapnya:

IHSG akhirnya mendarat di teritori positif. Apa yang terjadi?

Penguatan IHSG kemarin karena adanya kabar gembira dari pertemuan grup Bakrie dengan BUMI Plc di Singapura yang mendorong kenaikan pesat pada saham-saham di grup ini. Jumat ini pun, saham-saham grup Bakrie bakal mendorong penguatan indeks.

Apa hasil pertemuan itu sehingga bisa membawa IHSG ke zona positif?

Salah satu kesimpulannya adalah BNBR akan mengembalikan kepemilikan BUMI Plc-nya, dan BUMI Plc akan mengembalikan kepemilikan PT BRAU dan BUMI. Tapi, kesepakatan itu masih berjalan di Singapura dan skema seperti apa, pasar belum tahu jelas.

Tapi, sejauh ini, pasar melihat hubungan grup Bakrie dengan Rothschild akhirnya benar-benar kandas setelah BNBR dan Long Haul Holding Limited mengajukan proposal melepas kepemilikan saham di Bumi Plc. Dalam proposal itu disebutkan, BNBR dan Long Haul berniat membatalkan kepemilikan 23,8% saham Bumi Plc.

Kedua perusahaan Group Bakrie ini akan melepas saham Bumi Plc dengan cara menukarnya dengan 10,3% saham BUMI yang dipegang oleh Bumi Plc. Selain itu, Group Bakrie akan membeli secara tunai sisa saham BUMI yang dipegang oleh Bumi Plc paling lambat Natal 2012. Sisa saham yang akan dibeli tunai sebesar 18,9%. Catatan saja, Bumi Plc menguasai 29,18% saham BUMI.

Pasar sudah menyambut positif sehingga saham BRAU mengalami autoreject. Begitu juga dengan BRMS dan BORN yang naik signifikan. Bahkan, hampir semua saham grup Bakrie mengalami kenaikan. Pasar melihat Rothschild ditendang dari BUMI yang sejauh ini memicu segala masalah pada emiten sejuta umat itu. Jika memang skenarionya seperti ini, cukup menggembirakan bagi pemegang saham grup Bakrie.

Kalau begitu, bagaimana Anda melihat arah pergerakan IHSG Jumat (12/10/2012) ini?

Saya melihat terbukanya peluang penguatan indeks akhir pekan ini. IHSG memiliki support 4.244 dan resistance 4.315. Penguatan pada saham-saham grup Bakrie juga akan memicu penguatan pada saham-saham di sektor pertambangan.

Saham-saham pilihan Anda?

Saya rekomendasikan positif 9 sembilan saham sekaligus target harganya untuk jangka pendek. Saham-saham pilihan saya adalah PT Berau Coal Energy (BRAU) dengan target jangka pendek Rp250; PT Bumi Resources (BUMI) Rp750; PT Bumi Resouces Mineral (BRMS) Rp550; PT Vale Indonesia (INCO) yang sudah turun cukup dalam dnegan target Rp3.100;

PT Timah (TINS) yang sudah turun cukup dalam dengan target jangka pendek Rp1.650; Begitu juga dengan PT Aneka Tambang (ANTM) Rp1.400; PT Telkom (TLKM) Rp10.000; PT Indosat (ISAT) dengan target jangka pendek Rp6.500; dan PT Borneo Lumbung Energi (BORN) juga sudah sangat menarik.

Potensi sederet aset itu baru tercantum di kertas
Oleh Yuwono Triatmodjo – Kamis, 11 Oktober 2012 | 16:19 WIB

kontan

Bagai macan ompong, PT Bumi Resources Minerals Tbk punya banyak aset namun belum berproduksi. Sementara penghasilan dari perusahaan asosiasi seperti Newmont Nusa Tenggara merosot tajam. Bagaimana nasib emiten ini di masa depan?

Tahun ini, tampaknya, emiten-emiten yang terafiliasi Grup Bakrie memang menghadapi tantangan berat. Tak terkecuali PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Kinerjanya di semester pertama 2012 anjlok lantaran kontribusi dari perusahaan asosiasi merosot drastis. Di saat yang bersamaan, aset-aset utama emiten bersandi BRMS ini belum juga mulai menghasilkan alias berproduksi.

Cerita kurang manis Bumi Resources Minerals datang saat PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), anak usaha yang dimi-liki secara tidak langsung melalui PT Multi Daerah Bersaing (MBD), mencetak kinerja buruk. Multi Daerah Bersaing adalah pemilik 24% saham Newmont. Lewat kepemilikannya di Multi Daerah Bersaing, Bumi Resources menggenggam secara tak langsung saham Newmont sebesar 18%.

Pada semester I–2012, produksi emas dan tembaga Newmont turun drastis. Produksi emas mereka hanya sebesar 38.000 ons dari 143.000 ons alias turun 73,42% dari periode yang sama tahun 2011. Sementara produksi tembaga mereka susut 39,71% menjadi 85 juta pon dari sebelumnya 141 juta pon.

Kondisi ini jelas memukul kinerja Bumi Resources Minerals yang pada 2011 lalu memperoleh bagian atas laba Newmont senilai US$ 112 juta. Asal tahu saja, pendapatan operasional Bumi Resources Minerals kala itu hanya US$ 3 juta. Karena kontribusi dari Newmont, akhirnya, mereka bisa mencetak laba bersih US$ 76 juta. Terbayang, betapa signifikan kontribusi Newmont pada Bumi Resources. Namun, per Juni 2012, kondisi berbalik. Bumi Resources Minerals justru membukukan kerugian pada anak usahanya itu senilai US$ 4,18 juta.

Analis Samuel Sekuritas Yualdo T. Yudoprawiro memperkirakan, sampai akhir 2012, total produksi emas Newmont cuma 70.000 ons, turun dari produksi 2011 sebanyak 318.000 ons. Sementara, produksi tembaga susut menjadi 170 juta pon, dari sebelumnya 283 pon.

Alhasil, lanjut Yualdo, kontribusi Newmont bagi laporan kinerja keuangan Bumi Resources Minerals tahun ini pun akan susut menjadi US$ 38 juta dari tahun sebelumnya US$ 112 juta. Bumi Resources Minerals pun, menurut hitungan Yualdo, terancam mencatatkan rugi bersih senilai US$ 30 juta.

Anak usaha masih belum berproduksi

Sebenarnya di medio 2012, ada angin segar dari Joint Ore Reserve Committe Resources (JORC Resources), sebuah lembaga standardisasi pelaporan hasil eksplorasi asal Australia. Mereka melaporkan, sumber daya mineral di konsesi Sungai Mak, Gorontalo, milik Bumi Resources Minerals melalui PT Gorontalo Minerals, mencapai 292 juta ton dengan kadar tembaga 0,5% dan emas 0,47 gram per ton. Angka cadangan mineral itu 133,6% lebih tinggi dari perkiraan awal 125 juta ton.
Tak hanya itu, Newmont Mining Corporation juga merilis indikasi cadangan mineral di konsesi Elang sebesar 1.430 juta ton, lebih tinggi 45% dari cadangan Batu Hijau.

Jika kita bongkar laporan keuangan Bumi Resources Minerals medio 2012, pendapatan operasional mereka hanya bergantung pada anak usahanya, Bumi Resources Japan Company Limited, yang memasarkan batubara PT Kaltim Prima Coal (KPC). Bersyukur, kontribusi laba dari entitas asosiasi (Newmont) mampu mengerek kinerja keuangannya.

Yualdo melihat, meski Bumi Resources Minerals punya banyak aset, kebanyakan aset itu masih green field alias belum berproduksi. Dana kas yang terbatas untuk membiayai belanja modal atau capital expenditure (capex) jadi kendalanya.

Posisi kas dan setara kas Bumi Resources Minerals Juni lalu hanya US$ 67,24 juta. Padahal, proyek tambang timah dan seng Dairi, Sumatra Utara, membutuhkan dana US$ 100 juta per tahun, hingga ia berproduksi di tahun 2014. Proyek tambang tembaga dan emas Gorontalo, yang sudah menelan dana US$ 75 juta, juga masih membutuhkan dana segar lebih dari US$ 100 juta hingga bisa berproduksi di tahun 2015.

Anak usaha Bumi Resources Minerals yang bisa berproduksi dalam waktu dekat, kata Yualdo, adalah aset biji besi di Mauritania, Afrika Selatan. Mereka menguasai lewat Bumi Mauritania SA dan Tamagot Bumi SA.

Sebelumnya, Bumi Resources Mineral memprediksi tambang Mauritania berproduksi di medio 2012 sebanyak 600.000 ton. “Namun, kami berasumsi, produksi baru mulai di semester pertama 2013 sebanyak 200.000 ton,” tutur Yualdo.

Dengan asumsi harga jual rata-rata (ASP) bijih besi di 2013 senilai US$ 120 per ton, Bumi Resources Minerals berpotensi meraih pendapatan dari tambang di Mauritania sekitar US$ 21,6 juta.

Masih layak beli

Analis JP Morgan Stevanus Juanda, dalam risetnya akhir Agustus lalu, menyebut, produksi tambang Mauritania akan menjadi kunci penting pengubah persepsi investor. Bumi Resources Minerals akan dinilai mampu mengubah aset green field-nya menjadi berproduksi (monetization).

Setidaknya ada tiga risiko, lanjut Stevanus, yang kini dihadapi investor pemegang saham Bumi Resources Minerals. Pertama adalah potensi penundaan jadwal pengerjaan proyek di anak usaha. Kedua, risiko penurunan laba dan dividen dari Newmont. Dan, ketiga adalah beban obligasi.

Dalam laporan keuangan semester I–2012 Bumi Resources Minerals tercatat, 14 Juni lalu mereka mendapat pinjaman Credit Suisse senilai US$ 100 juta, dengan bunga LIBOR + 6% yang jatuh tempo hingga 19 September 2013. Total utang mereka pun naik menjadi sekitar US$ 476,40 juta. Akibatnya, bunga utang yang harus dibayar BRMS naik 20,23% dari US$ 23,48 juta menjadi US$ 28,23 juta. JP Morgan pun lantas menurunkan target harga saham BRMS dari sebelumnya Rp 710 menjadi Rp 600 per saham hingga 12 bulan mendatang.

Sementara, Yualdo menilai, keluarnya laporan JORC Resources seharusnya membuka peluang Bumi Reources Minerals memperoleh pendanaan eksternal lagi. Salah satu cara yang juga bisa mereka tempuh adalah mencari strategic partner project financing. Jika dihitung, rasio utang terhadap ekuitas (DER) Bumi Resources Minerals saat ini baru 0,3 kali.

Yulado memasang target harga saham BRMS Rp 790 per saham hingga 12 bulan mendatang. Valuasi itu merefleksikan nilai buku per saham (PBV) BRMS tahun 2012 sebesar 1,37 kali. Dia pun merekomendasikan beli saham ini.

Hingga penutupan pasar Kamis (4/10) pekan lalu, harga saham BRMS berakhir di level Rp 510 per saham.

***Sumber : KONTAN MINGGUAN 02 – XVII, 2012 Saham
Senin, 10 September 2012 | 12:59 WIB
Kerugian Bumi Perberat Utang Grup Bakrie

TEMPO.CO, Jakarta – Dunia pasar modal Jakarta mendadak heboh pada akhir Agustus 2012. Sebabnya, sebuah pesan pendek telepon seluler mengabarkan bila grup Bakrie terlilit utang. Awalnya, berita itu bagai sebuah gosip.

Nyatanya, sepekan kemudian, rumor itu seketika menjadi kenyataan. Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian sementara alias suspensi perdagangan saham dan obligasi BTEL, kode untuk Bakrie Telecom.

Penyebabnya, perusahaan operator telepon seluler Esia yang berbasis CDMA itu gagal melunasi utang obligasi BTEL I 2007 yang jatuh tempo.

Tapi apa sebab Grup Bakrie berutang? Kata sumber Tempo, belitan utang terjadi akibat Bumi merugi serta buah dari praktek gadai saham yang ditengarai menjadi modus pencarian dana Grup Bakrie.

Bumi, yang paling “berdaging” dibandingkan dengan perusahaan lainnya, kini kosong kantongnya. “Likuiditas perusahaan Bakrie sudah akut,” kata si sumber dalam laporan majalah Tempo edisi 10 September 2012 berjudul Tsunami Utang Bakrie.

Likuiditas ini sendiri merupakan kunci Bakrie menghadapi utang yang jatuh tempo akibat gadai saham. Dan kata si sumber, semuanya adalah soal momen. Bila pada saat jatuh tempo Bakrie tak punya uang, semua perusahaan bakal kena imbasnya.

Karena itu Bakrie mencari dana dari pelbagai lembaga keuangan dengan cara gadai saham meski dibebani bunga tinggi. Cara ini ditempuh karena tak ada akses ke perbankan. “Gadai saham bisa bikin Grup Bakrie kehilangan Bumi,” katanya.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Bumi, Dileep Srivastava, menolak perusahaannya disebut berada di ambang kebangkrutan. “Bagaimana bisa bangkrut jika dalam setiap kuartal kinerjanya meningkat?” kata Dileep.

Utang Bakrie yang jatuh tempo itu memang tak segelintir. Sekitar Rp 650 miliar, sedangkan Bakrie Telecom hanya memiliki dana Rp 250 miliar. Tak cuma itu. Sepekan sebelum suspensi, Bumi Resources Tbk mengumumkan rugi US$ 322 juta pada semester pertama 2012. Kata Bumi, mereka merugi akibat transaksi derivatif US$ 145,83 juta karena kejatuhan harga saham dan kemerosotan nilai opsi prepayment pinjamannya ke China Investment Corp (CIC) sebesar US$ 1,3 miliar.

Kerugian kemudian membengkak setelah nilai tukar rupiah melemah. Bumi tekor US$ 50,28 juta. Kepercayaan terhadap kinerja Bumi bertambah anjlok lantaran kegagalan mencairkan investasinya di PT Recapital Asset Management sebesar US$ 231 juta. Rencananya, duit itu akan dipakai buat membayar utang tahap kedua sebesar US$ 600 juta ke CIC pada Oktober mendatang. Rentetan kejadian itu sontak direspons dengan rontoknya nilai saham Bumi hingga Rp 630 per lembar

Total utang sepuluh perusahaan yang jatuh tempo pada 2012 mencapai Rp 9,67 triliun. Mereka adalah PT Bakrie & Brothers Tbk, Bumi, Bakrieland Development, Energi Mega Persada, Bakrie Sumatera Plantations, Bakrie Telecom, Berau Coal, Visi Media, serta Darma Henwa. Bumi, contohnya, mesti membayar utang sekitar Rp 573 miliar. Tahun depan, perusahaan-perusahaan itu masih harus melunasi tagihan belasan triliun.

SATWIKA MOVEMENTI | JOBPIE SUGIHARTO | TOMY ARYANTO | CORNILA DESYANA
Bakrie & Brothers Akan Bayar Utang ke Credit Suisse
Pinjaman US$437 juta itu berasal dari Credit Suisse AG, Singapura.
Selasa, 2 Oktober 2012, 09:45 Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – PT Bakrie & Brothers Tbk, Long Haul Holdings Ltd, dan para kreditor menyepakati rencana pembayaran pinjaman senilai US$437 juta. Pinjaman itu berasal dari Credit Suisse AG, cabang Singapura.

“Kami juga sudah membahas status pinjaman Bakrie & Brothers dan Long Haul Holdings itu dengan Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK pada 26 September 2012,” kata Direktur Bakrie & Brothers, RA. Sri Dharmayanti, dalam penjelasan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia di Jakarta.

Menurut Sri Dharmayanti, penjelasan keterbukaan informasi atas pinjaman itu telah disampaikan sebelumnya pada surat perseroan pada 16 Januari 2012.

Seperti diketahui, Bakrie & Brothers dan Long Haul Holdings Ltd menandatangani perjanjian kredit untuk menerima fasilitas pinjaman (term loan facility) sebesar US$437 juta dari Credit Suisse AG, cabang Singapura sebagai structuring agent. Long Haul Holdings adalah perusahaan yang berkedudukan di Nevis, West Indies di Kepulauan Karibia.

Dikutip dari keterangan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia, Selasa, 17 Januari 2012, manajemen Bakrie & Brothers mengungkapkan, dari jumlah pinjaman tersebut, bagian dari fasilitas pinjaman yang tersedia untuk perseroan adalah US$193,9 juta.

“Berdasarkan perjanjian pinjaman, kewajiban perseroan terpisah dari kewajiban Long Haul Holdings,” ujar RA. Sri Dharmayanti.

Manajemen Bakrie & Brothers tidak menjelaskan detail penggunaan fasilitas pinjaman yang disepakati pada 12 Januari 2012 tersebut. Namun, perusahaan memastikan bahwa fasilitas pinjaman tersebut bukan merupakan transaksi terafiliasi seperti diatur dalam ketentuan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Dalam transaksi tersebut, manajemen Bakrie & Brothers menyatakan tidak masuk dalam kategori transaksi material sebagaimana diatur dalam Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.E.2 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.

Ini rincian utang BUMI & anak usaha per Juni 2012
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 02 Oktober 2012 | 06:54 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana menggelar public expose perusahaan pada hari ini (2/10). Salah satu agendanya adalah membahas mengenai posisi keuangan BUMI untuk membantah tudingan penyelewengan keuangan yang dituduhkan Bumi Plc.

Dalam Keterbukaan Informasi di Bursa Efek Indonesia tadi malam, BUMI menjelaskan posisi utang perusahaan per Juni 2012. Ini rinciannya:

PINJAMAN BUMI

– Obligasi Konversi I senilai US$ 364,71 juta yang jatuh tempo Agustus 2014
– Fasilitas UBS AG senilai US$ 25 juta yang jatuh tempo Juli 2012
– Fasilitas Country Forest Limited 2009 senilai US$ 1.281,47 yang jatuh tempo Oktober 2014, 2015
– Guaranteed Senior Secured Notes senilai US$ 296,53 juta yang jatuh tempo November 2016
– Fasilitas Credit Suisse 2010 senilai US$ 147,25 juta yang jatuh tempo Agustus 2013
– Guaranteed Senior Secured Note II senilai US$ 679,60 juta yang jatuh tempo Oktober 2017
– Fasilitas UBS AG senilai US$ 75 juta yang jatuh tempo April 2015
– Fasilitas Axis Bank Limited 2011 senilai US$ 178,95 juta yang jatuh tempo Agustus 2016
– Fasilitas Deutsche Bank 2011 senilai US$ 146,60 juta yang jatuh tempo Oktober 2014
– Fasilitas China Development Bank senilai US$ 594,52 yang jatuh tempo Februari 2016

Dengan demikian, total pinjaman BUMI per Juni 2012 adalah US$ 3.789,63 juta

PINJAMAN ENTITAS ANAK

– Fasilitas Credit Suisse 2012 senilai US$ 97,24 juta yang jatuh tempo Juni 2013
– Fasilitas Credit Suisse 2010 senilai US$ 202,85 juta yang jatuh tempo September 2013
– Fasilitas Pinjaman Nomura senilai US$ 18,46 juta yang jatuh tempo Januari 2016
– Fasilitas PT Bank CIMB Niaga Tbk senilai US$ 2,23 juta yang jatuh tempo Desember 2012
– Fasilitas Bank Bukopin senilai US$ 0,91 juta yang jatuh tempo Juli 2016
– Fasilitas Bank Mualamat senilai US$ 1,72 juta yang jatuh tempo April 2016

Jika ditotal, nilai pinjaman entitas anak usaha senilai US$ 323,41 juta

Bakrie Life Menyatakan akan Mengembalikan Dana Nasabah
AntaraAntara – 17 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) – PT Bakrie Life menyatakan akan mengembalikan dana nasabahnya yang raib di produk Diamond Investa dengan mencairkan aset perusahaan sebagai jaminan.

“Status aset perusahaan bebas dan milik group, dalam bulan ini akan diselesaikan jaminannya dan segera akan dijadikan uang dengan cara apapun. Sekarang bagaimana aset dan kewajiban itu dituntaskan,” ujar Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto di Jakarta, Rabu.

Meski demikian, Timoer belum mengungkapkan skema apa yang dilakukan untuk mencairkan aset perusahaan untuk mengembalikan dana nasabah, pihaknya juga masih akan bertemu dengan nasabah dalam dua minggu ke depan.

“Setiap dua Minggu kita ketemu, semoga dalam pertemuan berikutnya masalah aset bisa diselesaikan,” katanya.

Salah satu nasabah Bakrie Life yang mengatasnamakan Bakrie Life Crisis Center, Freddy mengatakan, jika pihak nasabah belum mendapat ganti rugi atas raibnya dana yang ditaruh di produk Diamond Investa milik Bakrie Life itu, maka pihaknya akan mengajukan gugatan ke pengadilan niaga.

“Peluang untuk ke Pengadilan Niaga itu ada jika masalahnya masih berlarut-larut, sebagian nasabah dari Bandung sudah ada tujuan ke sana,” kata Freddy.

Ia mengatakan, dalam pertemuan dengan manajemen Bakrie Life hari ini (26/9) pihak Bakrie Life menjanjikan jaminan berupa aset tanah sebesar 77,4 hektare di Makasar untuk membayar kerugian dana nasabah.

Sementara, lanjut dia, dari pihak Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dinilai tidak memberikan kontribusinya terhadap kasus yang menimpa nasabah Bakrie Life.

“Asosiasi sudah dihubungi beberapa kali, tapi sepertinya mereka enggan ikut campur tangan, sebenarnya asosiasi cukup mempunyai peran,” katanya.

Ia juga mengatakan, sejauh ini pihak Bapepam-LK juga hanya sebagai “pencatat” saja dalam memediasi kasus ini.

“Bapepam-LK tidak bisa jadi wasit, dan hanya pencatat saja,” kata Freddy saat ditemui di Bapepam-LK, Rabu ini.

Seperti diketahui, Bakrie Life mengalami gagal bayar dana nasabah senilai Rp360 miliar pada 2008 dan itu merupakan premi sekaligus investasi yang dihimpun dari ratusan nasabah pembeli produk Diamond Investa.

Dari jumlah itu, Bakrie Life sudah mengembalikan dana nasabah sebesar Rp90 miliar sehingga ada kewajiban pengembalian dana sisa sebesar Rp270 miliar yang wajib dibayarkan secara dicicil dalam tiga tahun berturut-turut.

Sementara, Kepala Biro Asuransi Bapepam-LK Isa RachmatarwataIsa Rachmatarwata ketika ditanya mengenai kasus Bakrie Life dengan nasabahnya, sama sekali tidak memberikan berkomentar.(rr)

Tak Ada Biaya, 6 Proyek Tol Bakrie Mangkrak
Zulfi Suhendra – detikfinance
Selasa, 25/09/2012 14:59 WIB

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) mencatat proyek-proyek jalan tol yang digarap oleh Grup Bakrie tak berjalan alias mangkrak. Penyebabnya selain pembebasan lahan juga masalah finansial.

“Pokoknya mayoritas tol Bakrie itu sedang istirahat,” ungkap Kasubdit Pengadaan Tanah Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Heri Marzuki saat ditemui di Kantor Kementerian PU, Jakarta, Selasa (25/9/12).

Heri menjelaskan antaralain jalan tol Pejagan-Pemalang yang saat ini proses pembebasan lahannya terhenti. Padahal, menurut Heri, saat ini proses pembebasan lahan untuk rencana pembangunan ruas tol ini sudah mencapai 29%.

“Progres terakhir itu 29%, tapi itu terhenti awal tahun, nggak ada pendanaannya. Mandek dipembiayaan,” jelasnya.

Selain itu, ruas tol Ciawi-Sukabumi yang juga terhenti sejak Agustus kemarin. Harry mengatakan, hanya 6% dari lahan seluas 572 hektar yang telah terbebaskan.

“Ciawi Sukabumi juga terhenti kasusnya sama dengan Pejagan Pemalang, masalah pendanaan, nggak banyak kok cuma Rp 700 miliar. Sejak Puasa dan Lebaran kemarin, tapi sejak Januari dia tidak ada BOP (Biaya Operasional),” tambahnya.

Heri mengatakan, sedikitnya ada 6 ruas tol milik Bakrie yang terhenti proses pengerjaannya karena masalah pendanaan. “Ciawi-Sukabumi, Pejagan- Pemalang, Batang-Semarang 1 dan 2, Pasuruan-Probolinggo, Cimanggis- Cibitung,” tutupnya.

(zul/hen)
Rabu, 12/09/2012 17:48 WIB
KPK Geledah Kantor Bogor Nirwarna Residence Terkait Korupsi Alquran
Danu Mahardika – detikNews
Jakarta KPK hari ini menggeledah kantor PT Bogor Nirwana Residence (BNR) di Bogor, Jawa Barat. Penggeledahan diduga terkait kasus pengadaan Alquran dengan tersangka Zulkarnaen Djabbar.

“Iya benar, pada hari ini KPK melakukan penggeledahan di PT BNR Bogor terkait kasus di Kemenag,” kata Kabag Pemberitaan KPK Priharsa Nugraha, saat dikonfirmasi, Rabu (12/9/2012).

Informasi yang dihimpun, penggeledahan ini digelar sejak siang tadi. Hingga sore ini, tim belum kembali ke KPK.

Saat ditanya lebih jauh soal kaitan PT BNR dengan kasus Alquran, Priharsa belum memberi penjelasan. “Saya harus cek dulu,” imbuhnya.

KPK telah menetapkan dua orang tersangka dalam penyidikan kasus dugaan korupsi proses pembahasan anggaran pengadaan Alquran di Kemenag. Dua tersangka itu ternyata memiliki hubungan ayah dan anak. Kedua tersangka itu adalah anggota Komisi VIII DPR Fraksi Partai Golkar, Zulkarnaen Djabar dan anaknya, Dendi Prasetya yang tercatat sebagai Sekjen Gerakan Muda MKGR. KPK sudah menahan Zulkarnaen. Dia ditahan dalam pemeriksaan perdananya sebagai tersangka.

(mad/ndr)
BRMS ungkapkan potensi tambang miliknya
Oleh Astri Kharina Bangun – Rabu, 12 September 2012 | 15:24 WIB

kontan

JAKARTA. Konsesi tembaga dan emas PT Bumi Resources Tbk (BRMS) di Gorontalo, Sulawesi, diprediksi mengandung sumber daya mineral yang cukup besar. Demikian laporan BRMS atas hasil kajian yang dilakukan SRK Consulting (Australasia) Pty Ltd, Australia (SRK).

SRK melakukan kajian pada 27 Juli 2012 dan 8 Agustus 2012 di Cabang Kiri dan Sungai Mak. Keduanya merupakan bagian dari konsesi tambang yang dioperasikan oleh PT Gorontalo Minerals (GM). BRMS menguasai 80% saham GM, sementara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki 20% sisanya.

Berdasarkan laporan SRK, di tambang Cabang Kiri dan Sungai Mak terdapat total sumber daya bijih sebesar 292 juta ton dengan rata-rata kadar kualitas 0,5% (tembaga) dan 0,47 g/t (emas).

VP Investor Relations Bumi Resources Minerals Herwin Hidayat mengungkapkan, laporan SRK yang sesuai standar Joint Ore Reserve Commitee ini diharapkan dapat menambah nilai terhadap konsesi tambang tembaga dan emas yang dikelola oleh BRMS di Gorontalo.

“Estimasi sumber daya mineral tersebut telah meningkatkan nilai komersial dari tambang tembaga dan emas tersebut,” kata Herwin dalam siaran pers, Rabu (12/9).

Ia menambahkan, selain di Sungai Mak dan Cabang Kiri, ada beberapa potensi sumber daya mineral di beberapa lokasi tambang yang dioperasikan GM. Namun GM masih belum mengekspllorasinya lebih lanjut, yaitu Kayu Bulan, Tubalolo, dan Cabang Kanan.
Senin, 10 September 2012 | 11:24 WIB
Lin Chi Wei: Grup Bakrie Punya 9 Nyawa

TEMPO.CO, Jakarta – Lin Che Wei dari PT Independent Research & Advisory Indonesia juga tak yakin Grup Bakrie bakal ambruk walau mengakui ini krisis terparah yang pernah mereka alami. Demikian terungkap dalam laporan majalah Tempo edisi 10 September 2012 berjudul “Tsunami Utang Bakrie”.

Ia mencatat Bakrie pernah bermasalah dengan Bank Nusa Nasional miliknya pada 1999, lalu luapan lumpur Lapindo pada 2006, dan dua tahun kemudian terjadi persoalan suspensi perdagangan saham Bumi yang menyeret Menteri Keuangan waktu itu, Sri Mulyani Indrawati. “Ibaratnya, kucing bernyawa sembilan, baru mati lima,” ujarnya sambil tertawa Kamis pekan lalu.

Che Wei menuturkan, ketangguhan Bakrie ditopang beberapa hal. Keberuntungan Bakrie tak bisa dilepaskan dari siklus bisnis batu bara. Grup Bakrie juga memiliki daya tawar yang tinggi dalam merestrukturisasi utang karena aset tambang batu bara yang begitu bernilai.

Ia menyebutkan tambang anak usaha Bumi, PT Kaltim Prima Coal, seluas 90.938 hektare merupakan yang terbaik di dunia. Dukungan beberapa partai politik di parlemen pun sangat efektif menyokong bisnisnya. Lewat jejaring politik serta bisnis itu, Bakrie bisa menggerakkan pemerintah daerah. Kemampuan perusahaan Bakrie merawat pasar modal juga mesti diacungi jempol. “Mereka murah hati kepada bro­ker,” tuturnya.

Tapi petinggi Grup Bakrie mungkin harus waspada. Setidaknya diperlukan dana US$ 4 miliar agar keluarga Bakrie tetap memegang kendali perusahaan-perusahaannya. “Kalau tak ada talangan itu, keluarga Bakrie bisa jatuh miskin dalam satu-dua tahun ini,” kata seorang politikus Partai Golkar yang dekat dengan keluarga Bakrie, Rabu pekan lalu.

Sebagai nakhoda utama bisnis keluarga, Nirwan Bakrie kabarnya sudah mendekati banyak pemilik modal besar, baik di dalam maupun luar negeri. Produsen rokok Djarum asal Kudus termasuk yang dilobi, mengingat kelompok usaha itu juga merambah bisnis perbankan dan properti. Djarum disebut-sebut sempat kepincut pada tawaran Nirwan, adik kandung Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. “Keluarga Djarum hanya percaya kepada Nirwan. Mereka tak percaya kepada anak-anak Pak Aburizal.” Toh, pendekatan itu berakhir tanpa hasil.

Seorang analis di perusahaan ekuitas membisikkan bahwa Grup Sinar Mas juga diincar. “Kalau Sinar Mas mau, ini saatnya mereka makan habis Bakrie,” ucapnya. Bahkan kabarnya BTEL sudah ditawarkan kepada perusahaan operator jaringan seharga Rp 500 miliar. Sayangnya, Nirwan dan Indra Bakrie tak bisa memberi penjelasan karena sedang di luar negeri. “Enaknya nanti saya jelaskan secara tatap muka,” tulis Indra Bakrie dalam pesan pendek melalui telepon seluler. Adapun Presiden Komisaris Bumi Samin Tan, ketika ditemui Tempo, tak mau memberi komentar.

JOBPIE SUGIHARTO | TOMI ARYANTO

Senin, 10 September 2012 | 11:59 WIB
Gelombang Badai Utang Bakrie

TEMPO.CO, Jakarta – Gosip panas itu menyebar cepat melalui pesan pendek telepon seluler di kalangan pelaku pasar modal sejak dua pekan lalu. Dalam pesan itu tertera daftar utang sepuluh perusahaan Grup Bakrie yang jatuh tempo tahun ini. Jumlahnya fantastis dan membuat mata mendelik. Demikian terungkap dalam laporan majalah Tempo edisi 10 September 2012 berjudul “Tsunami Utang Bakrie”.

Tak dinyana, awal pekan lalu, Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian sementara alias suspensi perdagangan saham dan obligasi BTEL, kode untuk Bakrie Telecom. Penyebabnya, perusahaan operator telepon seluler Esia yang berbasis CDMA itu gagal melunasi utang obligasi BTEL I 2007 yang jatuh tempo.

“Penghentian sementara akan dilakukan mulai awal perdagangan efek pada Selasa ini hingga penjelasan lebih lanjut,” kata Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Surat Utang Bursa Efek Indonesia Saptono Adi Junarso, Selasa pekan lalu. Utang yang jatuh tempo itu Rp 650 miliar, sedangkan Bakrie Telecom hanya memiliki dana Rp 250 miliar. Esok harinya, suspensi dicabut setelah perusahaan membayar utang pokok berikut bunganya.

Pekan sebelumnya, lantai bursa juga berguncang keras setelah Bumi ­Resources Tbk, perusahaan batu bara andalan Grup Bakrie, mengumumkan rugi US$ 322 juta pada semester pertama 2012. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, mereka masih menangguk untung US$ 232 juta.

Pengumuman itu membuat nilai saham Bumi rontok hingga Rp 630 per lembar. Bumi mengaku rugi akibat transaksi derivatif US$ 145,83 juta karena kejatuhan harga saham dan kemerosotan nilai opsi prepayment pinjamannya ke China Investment Corp (CIC) sebesar US$ 1,3 miliar.

Gagal bayar BTEL dan kerugian Bumi bak membuka kotak pandora. Gelombang tsunami utang yang jatuh tempo terbukti mengintai perusahaan-perusahaan Grup Bakrie. Kendati jumlahnya tak seperti disebut dalam pesan pendek yang beredar di kalangan pelaku bursa, tetap saja nilainya membuat lutut gemetar.

Total utang sepuluh perusahaan yang jatuh tempo pada 2012 mencapai Rp 9,67 triliun. Mereka adalah PT Bakrie & Brothers Tbk, Bumi ­Resources Tbk, Bumi ­Resources Minerals, Bakrieland Development, Energi Mega Persada, Bakrie Sumatera Plantations, Bakrie Telecom, Berau Coal, Visi Media, serta Darma Henwa. Bumi ­Resources Tbk, contohnya, mesti membayar utang sekitar Rp 573 miliar. Tahun depan, perusahaan-perusahaan itu masih harus melunasi tagihan belasan triliun.

Seorang sumber Tempo menyebutkan belitan utang terjadi akibat Bumi merugi serta buah dari praktek gadai saham yang ditengarai menjadi modus pencarian dana Grup Bakrie. Bumi, yang paling “berdaging” dibandingkan dengan perusahaan lainnya, kini kosong kantongnya. “Likuiditas perusahaan Bakrie sudah akut,” ucapnya.

Padahal likuiditas menjadi kunci menghadapi utang yang jatuh tempo akibat gadai saham. “Ini soal momen. Kalau jatuh tempo tak ada uang, ya, semua perusahaan kena.” Menurut dia, Grup Bakrie mencari dana dari berbagai lembaga keuangan dengan cara gadai saham meski dibe­bani bunga tinggi. Cara ini ditempuh karena tak ada akses ke perbankan. “Gadai saham bisa bikin Grup Bakrie kehilangan Bumi,” katanya.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Bumi, Dileep Srivastava, menolak perusahaannya disebut berada di ambang kebangkrutan. “Bagaimana bisa bangkrut jika dalam setiap kuartal kinerjanya meningkat?” ujarnya kepada Satwika Movementi dari Tempo akhir Agustus lalu.

Dileep juga mengklaim pemasukan perusahaan meningkat 9-10 persen dibanding tahun lalu. Dia menjelaskan pula, “Kami masih memiliki aset cadangan sekitar tiga miliar ton batu bara dan nonbatu bara.” Namun profesional berkewarganegaraan India ini mengiyakan soal adanya kemungkinan penjualan aset untuk membayar utang. “Jika harganya tepat,” katanya.

JOBPIE SUGIHARTO | TOMI ARYANTO
Bakrie Makin Getol Garap Bisnis Bahan Bangunan
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Senin, 10/09/2012 14:52 WIB

Jakarta – PT Bakrie Building Industries, anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) terus mengembangkan bisnis bahan bangunan seiring pesatnya industri properti dan konstruksi di Indonesia.

Setelah menyelesaikan ekspansi sarana produksi di Jakarta Barat, perseroan akan mengembangkan sentra produksi baru di beberapa wilayah.

“Industri properti dan konstruksi kita maju pesat. Didukung juga dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kami sangat optimis industri bahan bangunan di dalam negeri akan terus melaju,” ucap CEO BNBR Bobby Gafur Umar dalam keterangan tertulisnya, Senin (10/9/2012).

CEO Bakrie Building Industries, Yogi Pratomo Widhiarto menambahkan, manajemen tengah merancang skema penetrasi pasar bahan bangunan. Namun Yogi belum mau menyebutkan secara rinci.

“Kami perkirakan tahun 2012 ini revenue BBI bisa meningkat 45%,” tambahnya. BBI pun siap menjadi pemain terdepan dalam kualitas, kapasitas dan harga.

“Potensi pasar bahan bangunan masih sangat besar. Kita sedang serius mengadakan mapping pasar agar kami dapat memastikan bahwa pengembangan sentra produksi baru bisa sedekat mungkin dengan daerah yang permintaannya paling tinggi,” katanya.

Ke depan, Bakrie Building Industries membuka diri melakukan akuisisi dalam rangka pengembangan kapasitas. Perseroan pun terus mengembangkan teknologi baru mesin-mesin dan peralatan produksi dalam rangka penumbuhan bisnis bahan bangunan.

Versaboard adalah salah satu varian produk perusahaan yang telah sangat dikenal masyarakat. Ke depan Yogi siap menghadirkan produk turunan Versaboard sebagai solusi total pengganti bahan bangunan berbasis kayu seperti lantai dinding dekoratif, dan beberapa produk lainnya.

Pabrik bahan bangunan BBI di Jakarta Barat kini memiliki kapasitas produksi 300 ribu ton berbagai jenis bahan bangunan per tahun.

(wep/ang)
Willy Sanjaya
Dua Saham Grup Bakrie Sudah Bisa Diakumulasi

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Kamis, 6 September 2012 | 03:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Energi Mega Persada (ENRG) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) dinilai sudah turun cukup dalam. Karena itu, sudah saatnya diakumulasi.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, pelemahan pada saham-saham di grup Bakrie terutama saham ENRG dan BTEL turut berkontribusi pada pelemahan indeks kemarin. Menurutnya, pelemahan saham-saham grup ini dipicu kekhawatiran pasar atas utang-utang grup ini yang akan jatuh tempo.

Banyak investor yang meragukan cara pembayaran utang-utang grup Bakrie. Meski begitu, saham ENRG dan UNSP sudah bisa diakumulasi karena sudah turun cukup dalam. “Meski ada kekhawatiran soal utang yang jatuh tempo, tapi sebenarnya itu tak perlu dikhawatirkan karena kinerja keuangan terutama ENRG masih positif,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Rabu (5/9/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 29,90 poin (0,73%) ke angka 4.075,352 dengan intraday tertinggi 4.105,732 dan terendah 4.065,698. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45 yang turun 6,58 poin (0,93%) ke angka 697,781. Berikut ini wawancara lengkapnya:

IHSG melemah 0,73%. Apa yang terjadi?

Pelemahan IHSG kemarin seiring koreksi yang terjadi di bursa regional yang dimotori oleh penurunan bursa Dow Jones Industrial Average (DJIA). Penurunan tersebut, semata faktor profit taking teknikal dan bukan faktor fundamental.

Sebab, pasar masih tetap wait and see atas pengumuman Quantitative Easing (QE) tahap ketiga dari The Fed pekan depan. Jadi, masa ini merupakan fase konsolidasi bagi indeks domestik.

Selain faktor The Fed?

Selain itu, pelemahan indeks juga seiring pelemahan pada saham-saham di grup Bakrie terutama saham ENRG dan PT Bakrie Telecom (BTEL). Kekhawatiran pasar muncul dipicu oleh utang-utang grup ini yang akan jatuh tempo. Banyak investor yang meragukan cara pembayaran utang-utang grup Bakrie. Penurunan saham-saham di grup Bakrie juga berpengaruh pada penurunan IHSG. Tapi, penurunan IHSG tidak terlalu besar karena saham-saham berkapitalisasi besar masih terjaga seperti ASII danTLKM.

Kalau begitu, bagaimana Anda melihat arahnya Kamis (6/9/2012) ini?

Saya perkirakan, pergerakan IHSG Kamis (6/9/2012) akan konsolidasi dengan kisaran yang tidak terlalu jauh. Naik atau turun dalam kisaran 35 poin dari level 4.070. Jika Dow Jones menguat, IHSG bisa positif. Potensi konsolidasi indeks sudah terbatas.

Adakah sentimen ke pasar terkait kunjungan Hillary Clinton ke Jakarta?

Sentimen dari kunjungan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, pasar masih menunggu komitmen apa yang disepakati secara ekonomi. Pasar belum mendapatkan informasi jelasnya.

Saham-saham pilihan Anda?

Saham PT Telkom (TLKM) yang secara teknikal akan terjaga pada level support-nya di Rp9.200. Begitu juga dengan PT Astra Internasional (ASII) yang akan terjaga di level support Rp6.800. Kedua saham ini telah menjaga posisi indeks dengan baik.

Saya juga rekomendasikan positif saham PT Bank Jabar Banten (BJBR) yang kemarin mengalami penguatan signifikan pada sesi terakhir perdagangan. Saham-saham bank lain pun sudah mulai bisa dilirik karena sudah memasuki kuartal III-2012 yang mungkin akan dirilis dalam sebulan ke depan. Selain BJBR, saya menjagokan saham PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

Bisa dicermati juga saham PT Energi Mega Persada (ENRG) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP). Kedua saham Bakrie bisa diakumulasi karena sudah turun cukup dalam. Meski ada kekhawatiran soal utang yang jatuh tempo, tapi sebenarnya itu tak perlu dikhawatirkan karena kinerja keuangan ENRG masih positif.

Bagaimana strategi trading pada saham-saham tersebut?

Secara umum saya rekomendasikan buy on weakness saham-saham tersebut.

Gandeng China, Bakrie Bangun Pabrik Pipa U$ 25 juta
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Kamis, 06/09/2012 12:41 WIB
Jakarta – Anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Pipe Industries (BPI) menjalin kerja sama dengan China Petroleum Pipeline Coating Engineering Co. Ltd (CPPCE) dalam rencana pembangunan pabrik pelapisan pipa (Coated Pipes) di Lampung. Adapun nilai investasinya sekitar US$ 15-25 juta.

Chief Executive Operation BPI, Mas Wigrantoro mengatakan rencana pembangunan pabrik baru ini seiring dengan tingginya permintaan coated pipes oleh sektor migas di Indonesia, bahkan kawasan Asia Pasifik.

Bagi CPPCE, kerja sama dengan grup Bakrie ini menjadi langkah nyata perusahaan dalam rangka penetrasi ke pasar ASEAN, Timor Timur, Papua New Guinea dan Australia. Penandatanganan kerja sama investasi coating plant juga terselenggaran hari ini, Kamis (6/9/2012) antara BPI dengan CPPCE.

Setelah Letter of Intent ini, keduanya siap membentuk tim dalam tugasnya melakukan kajian lebih rinci baik secara teknologi, legal keuangan, organisasi, dan operasional.

“Dalam waktu enam bulan sejak ditandatanganinya kerja sama ini, perusahaan patungan sudah dapat didirikan,” katanya di Bakrie Tower, Jakarta, Kamis (6/9/2012).

Lampung menjadi pilihan dari alternatif lain yang diajukan BPI di Bekasi. Selatan Sumatera ini merupakan lokasi yang paling ideal dalam rangka pembangunan coating plant.

“Lokasi ini strategis karena langsung persis laut dan ada di kawasan industri pipa lainnya, hingga memudahkan dalam perdagangan,” tambah CEO BNBR Bobby Gafur Umar.

Dengan hadirnya pabrik hasil patungan ini diyakini akan direspon positif oleh pelaku industri migas. Permintaan coated pipes diperkirakan tumbuh lebih 12%.

“Pertumbuhan ini diharapakan akan terus terkadi hingga tiga sampai lima tahun ke depan, seiring meningkatnya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumur-sumur minyak dan gas baru, maupun rencana pembangunan jasa distribusi minyak bumi dan gas nasional,” tutur Mas Wigrantoro.

Pabrik diperkirakan selesai dibangun dan siap beroperasi pada tahun 2013.

(wep/dru)
Bayar Utang, Standard & Poor’s Naikan Peringkat BTEL
Tribunnews.com – Rabu, 5 September 2012 17:59 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Arif Wicaksono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pelunasan obligasi senilai Rp 650 miliar pada 4 September 2012 kemarin, berdampak positif bagi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Hari ini (05/09/2012), lembaga pemeringkat global, Standard & Poor’s (S & P) telah menaikkan peringkat utang perseroan dari semula CCC – menjadi B – dengan outlook stabil. Standard & Poor’s juga menaikkan peringkat Senior Notes BTEL yang jatuh tempo di tahun 2015 dari CCC- menjadi B – dengan outlook stabil.

Dalam penjelasannya S & P menilai bahwa dengan pelunasan obligasi tahun 2007 tersebut, maka selama 12 bulan ke depan kondisi finansial BTEL cukup kuat.

“Dalam 9 – 12 bulan ke depan, BTEL tidak memiliki utang jatuh tempo yang signifikan. Kami percaya bahwa perusahaan memiliki arus kas yang memadai untuk menutupi pembayaran bunga,” jelas Paul Draffin, Primary Credit Analyst Standard & Poors dalam keterangan tertulis yang diterima Tribun, di Jakarta (05/09/2012).

Kebijakan S & P menaikkan peringkat utang BTEL tersebut mendapat sambutan positif dari manajemen BTEL.

“Kita sangat senang karena langkah-langkah strategis dan komitmen yang dilakukan BTEL langsung mendapat respon dan apresiasi dari pelaku pasar,” tambah Anidya N. Bakrie, Presiden Direktur Bakrie Telecom Tbk dalam keterangan tertulisnya. (*)
SUSPENSI SAHAM & OBLIGASI: Bakrie Telecom Klaim Tindakan BEJ Untuk Jaga Spekulasi

Irvin Avriano A.

Selasa, 04 September 2012 | 18:55 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: Hadapi suspensi saham dan obligasi oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bakrie Telecom Tbk mengklaim suspensi dilakukan untuk mencegah spekulasi.

“Kami bisa mengerti kenapa regulator mensuspen perdagangan saham BTEL untuk mencegah spekulasi sambil menunggu sisa pembayaran utang obligasi yang total nilainya Rp 650 miliar,” Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi dalam siaran pers, Selasa (4/9/2012).

Menurutnya, nilai sebesar Rp 250 miliar sudah dibayarkan hari Jumat lalu, dan sisanya ditransfer oleh kreditur langsung ke rekening KSEI sore ini. Dari KSEI baru didistribusikan ke rekening pemegang obligasi.

Dia mengaku sampai 3 September kemarin, sayap telekomunikasi Grup Bakrie itu belum melakukan pembayaran pokok dan bunga obligasi ke-20 untuk obligasi BTEL I tahun 2007 yang jatuh tempo pada hari ini 4 September 2012.

Menurutnya, pada Jumat 31 Agustus perseroan sudah membayar Rp250 miliar kepada pemegang obligasi perseroan beserta bunganya senilai Rp19,3 miliar melalui rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Sementara sisanya sebesar Rp400 miliar lagi akan disetorkan oleh kreditur perseroan langsung kepada pemegang obligasi melalui rekening KSEI pada saat jatuh tempo, Selasa, 4 September 2012.

Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie mengatakan perusahaan juga menampik spekulasi bahwa obligasi itu telah gagal bayar.

“Kami menyayangkan pihak-pihak yang berspekulasi dan tidak didukung data. Oleh karena itulah langkah BEI mensuspensi saham untuk menghindari spekulasi sangat tepat. Manajemen BTEL tetap berkomitmen terhadap semua kewajiban sesuai jadwal,” tuturnya. (if)
Tunda bayar kupon, BTEL kena suspen
Oleh Edy Can – Selasa, 04 September 2012 | 10:12 WIB

kontan

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan sementara saham dan obligasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Keputusan ini karena BTTEL menunda pembayaran pelunasan dan bunga ke-20 obligasi Bakrie Telecom I Tahun 2007.

Suspensi ini berlaku mulai Selasa (4/9) dan berlaku di seluruh pasar. Dalam keterbukaan informasi, PH Kepala Divisi Perdagangan Surat Utang dan Derivatif BEI mengatakan, penghentian ini akan berakhir sampai ada penjelasan lebih lanjut.

Catatan saja, berdasarkan Peraturan Pencatatan Efek Nomor I.A.3 tentang Kewajiban Pelaporan Emiten huruf B angka 10 maka bursa tetap mencatatkan Obligasi Bakrie Telecom I Tahun 2007 sampai dapat melaksanakan kewajiban obligasi.
INILAH.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan efek (suspensi) atas saham dan obligasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) pada perdagangan saham Selasa (4/9/2012).

Hal itu disampaikan Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Surat Utang BEI Saptono Adi Junarso dan P.H. Kepala Divisi Perdagangan Surat Utang dan Derivatif BEI, di keterbukaan informasi BEI, Selasa (4/9/2012). Suspensi tersebut dilakukan dengan pertimbangan surat PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 3 September 2012 mengenai penundaan pembayaran pelunasan dan bunga ke-20 obligasi PT Bakrie Telecom I tahun 2007.

Oleh karena itu BEI melakukan suspensi atas saham dan obligasi dari emiten BTEL. Penghentian sementara perdagangan efek perseroan di seluruh pasar akan dilakukan mulai awal perdagangan efek pada Selasa (4/9/2012) hingga penjelasan lebih lanjut.

Sesuai dengan peraturan pencatatan efek Nomor I.A.3 tentang kewajiban pelaporan emiten huruf B angka 10 maka bursa tetap mencatatkan obligasi BTEL I tahun 2007 hingga emiten dapat melaksanakan kewajiban pelunasan obligasi.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1900890/bei-suspensi-saham-dan-obligasi-btel

Sumber : INILAH.COM
JAKARTA – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengumumkan bagian tunai dari transaksi non-preemptive rights (NPR) senilai Rp557 miliar tuntas dibayarkan.

Bakrie Global Ventura menjadi pembeli utama, sehingga kepemilikan sahamnya di BTEL menjadi 6,8%. Sebelumnya BTEL memperoleh pinjaman konsorsium senilai USD 50 juta dengan bunga 11,5% dan tenor 18 bulan yang difasilitasi Credit Suisse pada akhir bulan lalu. Keseluruhan dana tunai yang terkumpul dari NPR dan pinjaman langsung digunakan untuk pembayaran obligasi perseroan Rp650 miliar dan untuk pengembangan usaha khususnya meningkatkan pangsa pasar di layanan data.

”Ini hari besar untuk BTEL karena di tengah-tengah situasi pasar yang begitu sulit, pasar terbukti percaya dengan model bisnis BTEL khususnya setelah kami fokus mengembalikan BTEL kepada kekuatan dan kelebihan utamanya yaitu operator telekomunikasi dan data paling murah dan inovatif di Indonesia,” kata Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie dalam siaran persnya kemarin.

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/523035

/Sumber : SEPUTAR INDONESIA
Saham Bakrie Jeblok, Bursa Ikutan Goyang
Nilai Kapitalisasinya Merosot Rp 40 Triliun, BUMI Diisukan Bangkrut
Jum’at, 31 Agustus 2012 , 08:26:00 WIB

RMOL.Anjloknya sebagian saham-saham Bakrie Group langsung menggoyang lantai bursa. Bahkan Bumi Resources diisukan bangkrut. Benarkah?

Indeks Harga Saham Ga­bu­ngan (IHSG) terlihat masih le­mah. IHSG dibuka turun 1,07 persen ke posisi 4.052,49 pada pu­­kul 09.31 WIB, kemarin.

Se­banyak 121 saham yang ja­tuh menggerus kinerja bursa dan ter­lihat hanya 26 saham yang ma­sih bisa berhasil naik, sedangkan 44 saham lainnya masih stagnan. 10 sektor terjungkal di zona me­rah dengan sektor konstruksi jatuh di urutan terdepan sebesar 1,46 persen dan ada sektor ba­rang konsumsi yang juga ter­ko­reksi 1,43 persen.

Terlihat saham PT Bumi Re­sources Tbk (BUMI) masih men­duduki jawara penurunan dengan anjlok 4,48 persen ke Rp 640, di­susul saham PT Indocement Tungal Praksa Tbk (INTP) se­besar 2,97 persen ke Rp 19.600 dan saham PT Bank Rakyat In­donesia Tbk (BBRI) yang turun 2,11 persen ke Rp 6.950.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menunjukkan, nilai kapitalisasi pasar BUMI di BEI tersisa Rp 13,9 triliun pada per­dagangan Rabu (29/8). Nilai kapitalisasi itu tergerus Rp 40 triliun atau 74 per­sen dibanding­kan posisi tertinggi tahun ini se­besar Rp 54 triliun.

Saham BUMI sempat men­capai harga tertinggi pada 3 Feb­ruari 2012 sebesar Rp 2.600. Na­mun, harga BUMI sempat turun Rp 90 (11,8 persen) menjadi Rp 670. Saham BUMI terus tertekan se­lama pekan ini, terutama se­telah perseroan melaporkan ke­rugian 322 juta dolar AS pada semester pertama 2012. Namun pada per­dagangan sesi I kemarin, saham BUMI menguat Rp 10 (1,49 per­sen) mencapai Rp 680.

Dalam riset Panin Sekuritas di­sebutkan, perusahaan milik Aburi­zal Bakrie itu diambang ke­bang­krutan karena performa ke­uang­annya memburuk dan ke­mam­puan rasio kemampuan membayar utang (solvabilitas) rendah.

Analis Panin Sekuritas Fajar Indra me­nuturkan, beban keua­ng­­an yang tinggi membuat sol­va­bilitas BUMI cukup rendah. Apa­lagi, perseroan tidak jadi men­cairkan investasi sebesar 231 juta dolar AS pada PT Reca­pital Asset Management. Imbas­nya, BUMI gagal memperoleh dana untuk membayar utang.

Padahal, kata dia, salah satu lum­bung duit bisnis Bakrie Group ini berencana membayar utang sebesar 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 11,7 triliun ke­pa­da China Investment Corpora­tion (CIC) selama 2012-2013. Perin­ciannya, sebanyak 600 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,4 tri­liun di­bayar tahun ini dan sisa­nya tahun depan.

Namun, Direktur Bumi Re­sour­ces Dileep Srivastava mene­pis anggapan BUMI bakal bang­krut. Soalnya, per Juni 2012 ki­nerja operasional BUMI masih cukup kuat. Ini ter­lihat dari pen­jualan dan produksi yang tumbuh 10 persen dan 8,6 persen. Pen­dapatan juga naik 8,6 persen menjadi 1,9 miliar dolar AS.

“Produksi BUMI on track un­tuk mencapai 100 juta ton pada 2014. Pembayaran utang juga ti­dak ada yang default,” ujar Dileep.

Presi­den Direktur Bumi Re­sour­ces Ari Hudaya yang meya­kinkan kinerja ope­rasional BUMI makin kuat dan efisien. Aset BUMI juga belum banyak yang dimaksimal­kan. Perseroan mem­­buka diri untuk melepas aset po­tensial, seperti saham anak usa­hanya, PT Bumi Minerals Re­sources Tbk (BMRS).

Diakui analis saham David Cornelis, isu soal bangkrutnya BUMI memang menjadi senti­men negatif yang menghantam harga saham perusahaan tambang ini. Sejak keluarnya isu bang­krut ini, harga saham BUMI terus melorot.

Pada Senin 27 Agustus, harga saham BUMI ini ditutup melemah Rp 50 ke Rp 890. Lalu pada Selasa 28 Agustus kembali melemah Rp 130 ke Rp 760. Dan pada Rabu 29 Agustus, saham ini turun lagi Rp 90 ke Rp 670.

Selain itu, kata David, faktor yang menekan harga saham ini datang dari sisi internal, yakni struktur balance sheet-nya serta faktor eksogen berupa pergera­kan harga batubara dunia yang memang sedang lesu. [Harian Rakyat Merdeka]
Bumi Terancam Auto Rejection
Jika Terus Melemah, Transaksi Saham Bisa Distop
Sabtu, 01 September 2012 , 08:27:00 WIB

RMOL.Jatuhnya harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus jadi sorotan investor. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengancam akan menghentikan perdagangan saham andalan Grup Bakrie.

Menurunnya saham BUMI dalam sepekan menimbulkan be­berapa spekulasi yang ber­kem­­bang. Bursa Efek Indonesia (BEI) pun menyatakan siap me­nyetop perdagangan saham an­dalan Bakrie Group ini jika pe­­­nuru­nan­nya sudah drastis.

Direktur Utama BEI Ito War­sito menutur­kan, penurunan har­ga saham BUMI saat ini masih wajar. Ito menegaskan, suspensi akan dilakukan apabila perda­gangan saham turun drastis.

Ito menegaskan, saham terse­but bisa terkena penghentian per­­dagangan otomatis (auto rejec­tion) batas bawah jika terus me­ng­alami pelemahan.

Menurut Ito, bila nantinya me­mang terjadi pe­nurunan har­ga yang sangat sig­nifikan, BEI su­dah memiliki fitur auto rejec­tion dalam sistem per­da­gangan. “Nanti juga kena auto rejec­tion kalau penu­ru­nan­nya terus tajam,” jelas Ito.

Auto rejection adalah peng­hen­­tian otomatis harga saham akibat kenaiakan atau penurunan yang signi­fikan. Harga saham Rp 50-Rp 200 terkena auto rejec­tion se­besar 35 persen, harga saham Rp 200-Rp 5.000 terkena auto rejec­tion 25 persen dan har­ga sa­ham Rp 5.000 terkena auto rejec­tion 20 persen. Sementara saat IPO auto rejec­tion ditetap­kan dua kali dari persentase nor­mal.

Terus melemahnya saham BUMI, lanjut Ito, seiring mele­mahnya bursa saham regional maupun global. “Kondisi harga jual ba­tubara kan terpengaruh oleh faktor eksternal sehingga mem­berikan dampak negatif kepada perus­ahaan,” katanya.

Dengan kon­disi seperti itu, dia meng­anggap penurunan harga saham masih dalam batas wajar dan bukan suatu hal yang tidak biasa. “Jadi, penurunan harga sa­ham BUMI itu normal,” kata Ito.

Ito menam­bah­kan, diumum­kannya tentang kinerja keuangan yang tidak baik membuat saham BUMI terus turun. Bahkan, kini saham ter­sebut juga memberikan efek pele­mahan pada saham di luar kelompok Bakrie.

“BUMI secara kapitalisasi re­latif tidak pengaruh dalam me­nekan IHSG seperti halnya di 2008. Hanya sentimen negatif­nya saja yang menyebar ke sa­ham-saham lain,” jelas penga­mat pasar modal David Cornelis.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 30 Agustus, harga sa­ham BUMI turun ke Rp 630. Se­men­tara, pada 8 Agustus lalu, sa­ham BUMI masih berada di harga Rp 1.140 per saham. Tapi sema­kin melemah tiap hari. Pada 15 Agus­­tus, saham ini su­dah berada di bawah Rp 1.000, yakni Rp 960.

Sejak keluarnya isu ‘bang­krut’ ini, harga saham BUMI terus melorot. Pada Senin, 27 Agus­tus, harga saham BUMI ditutup me­lemah Rp 50 ke Rp 890. Lalu pada Selasa, 28 Agustus kembali me­lemah Rp 130 ke Rp 760. Serta pada Rabu, 29 Agustus, sa­ham ini tu­run lagi Rp 90 ke Rp 670.

Sebelumnya, performa ke­uangan semester I-2012 BUMI sangat buruk dan solvabilitas sangat lemah. Bahkan, berda­sar­­kan metode altman score, ter­lihat bahwa koefisien Z BUMI sangat kecil, yakni 0,0982 saja. Maka da­pat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial.

Di sisi lain, David mengakui, terpuruknya IHSG tidak bisa di­lepaskan dari sentimen negatif dari bebe­rapa saham primadona yang turun akibat internal peru­sahaan, termasuk BUMI, pele­ma­han rupiah, serta naiknya de­fisit perdagangan Indonesia.

Menurut David, volatilitas di re­gional dan vulnerabilitas di global terlihat jelas relatif sudah sebagian terfaktorkan di bursa saham pada Agustus ini. Adapun bursa Eropa telah turun ke level terendah da­lam tiga minggu ter­akhir.

Direktur PT Bumi Resources Dileep Srivastava menepis ang­ga­pan BUMI bakal bangkrut. Menurut dia, per Juni 2012, ki­nerja operasional BUMI masih cukup kuat. Ini terlihat dari pen­jualan dan pro­duksi yang tumbuh 10 persen dan 8,6 persen. Pen­dapatan juga naik 8,6 persen menjadi 1,9 miliar dolar AS.

“Produksi BUMI on track untuk mencapai 100 juta ton pada 2014. Pembayaran utang juga tidak ada yang default,” ujar Dileep. [Harian Rakyay Merdeka]
Bakrie Telecom Bayar Obligasi Rp 650 Miliar
Penulis : Robertus Benny Dwi Koestanto | Minggu, 2 September 2012 | 14:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bakrie Telecom Tbk mengumumkan bahwa bagian tunai dari transaksi non preemptive rights senilai Rp 557 miliar, tuntas dibayarkan.

Bakrie Global Ventura menjadi pembeli utama, sehingga kepemilikan sahamnya di BTEL menjadi 6,8 persen.

“Ini hari besar untuk BTEL, karena di tengah-tengah situasi pasar yang begitu sulit, pasar terbukti percaya dengan model bisnis BTEL. Khususnya setelah kami fokus mengembalikan BTEL kepada kekuatan dan kelebihan utamanya yaitu operator telekomunikasi, dan data paling murah dan inovatif di Indonesia,” kata Presiden Direktur BTEL, Anindya Bakrie, di Jakarta, Minggu (2/9/2012) ini.

Sebelumnya diberitakan, BTEL juga memperoleh pinjaman konsorsium senilai 50 juta dollar AS, dengan bunga 11,5 persen dan tenor 18 bulan yang difasilitasi Credit Suisse pada akhir bulan lalu.

Keseluruhan dana tunai yang terkumpul dari NPR dan pinjaman langsung, digunakan untuk pembayaran obligasi perseroan senilai Rp 650 miliar. Selain itu, untuk pengembangan usaha khususnya meningkatkan pangsa pasar di layanan data.

Pada Jumat (31/8/2012) lalu, BTEL telah membayar Rp 250 miliar kepada pemegang obligasi BTEL berserta bunganya senilai Rp 19,3 miliar, melalui rekening Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

“Sisanya Rp 400 miliar lagi akan disetorkan oleh kreditur perseroanl, langsung kepada pemegang obligasi melalui rekening KSEI pada saat jatuh tempo,” tambah Direktur Keuangan BTEL, Jastiro Abi.

Selesainya proses tunai NPR, menunjukkan komitmen pemegang saham utama BTEL, dalam hal ini Grup Bakrie, terhadap pengembangan BTEL. Harga right issue yang disepakati adalah Rp 265 atau hampir dua kali lipat dari harga saham BTEL saat ini.
Editor :
Agus Mulyadi

BTEL Tambah Modal Tanpa HMETD

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Jumat, 31 Agustus 2012 | 14:08 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebesar 1.536.135.340 saham dengan harga pelaksanaan Rp265 per saham.

Hal itu disampaikan Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk Jastiro Abi, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (31/8/2012). Penerbitan saham dalam rangka penambahan modal tanpa HMETD tersebut dilakukan pada 29 Agustus 2012. PT Bakrie Global Ventura bertindak sebagai pihak pembeli. Total transaksi tersebut mencapai Rp407,07 miliar.

Adapun jumlah penambahan modal disetor dan ditempatkan perseroan tanpa HMETD sebesar 1.536.135.340 saham menjadi 30.584.590.654 saham dengan nilai nominal Rp100 per saham. [ast]

Harga saham melandai, ini tanggapan BUMI
Oleh Astri Kharina Bangun – Rabu, 29 Agustus 2012 | 17:53 WIB

kontan

JAKARTA. Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus melandai dalam beberapa bulan terakhir. Kendati demikian, perseroan masih optimistis dengan kinerja ke depan.

Direktur BUMI Dileep Srivastava mengakui tahun ini merupakan saat yang berat bagi pasar global. Khususnya, di sektor batubara yang mengalami tren penurunan harga jual.

“Namun, kami masih memperoleh harga yang lebih baik dibandingkan yang lain. Selain itu, penjualan kami meningkat lebih dari 10% dibandingkan tahun lalu,” ujar Dileep kepada KONTAN, Rabu (29/8).

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2012, BUMI mencatat kenaikan pendapatan 14,12% menjadi US$ 1,94 miliar dibandingkan periode serupa tahun lalu. Volume penjualan perseroan naik 10,4% menjadi 32,3 juta ton dari 29,3 juta ton pada semester pertama 2011.

Meski demikian, anak usaha Grup Bakrie ini membukukan rugi bersih sebesar US$ 231,68 juta dibandingkan laba bersih semester I 2011 sebesar US$ 231,68 juta. Pemicunya adalah kerugian transaksi derivatif senilai US$ 145,82 juta pada semester I 2012 sementara di periode yang sama tahun lalu perseroan justru meraup laba senilai US$ 212,26 juta.

Dileep menyatakan perseroan akan tetap transparan, tanggap, dan bertahan menghadapi tantangan eksternal. Kuncinya adalah mengupayakan pendapatan dan produksi semakin besar. “Selain itu, mengusahakan turunnya komisi penjualan dan operasional yang lebih kuat,” kata Dileep.

Ia menambahkan, biaya masa lalu telah dicatat sepenuhnya pada semester pertama dengan standar akuntansi yang baru, sejalan dengan praktik internasional. Ini menunjukkan BUMI fokus dan siap mengambil keuntungan penuh dari peluang yang akan datang.

Hari ini saham-saham Bakrie berguguran

Oleh Rika Theo, Dyah Ayu Kusumaningtyas – Rabu, 29 Agustus 2012 | 17:41 WIB
kontan

JAKARTA. Saham-saham yang terkait Grup Bakrie berguguran. Mereka mengikuti saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang rontok 11,48% hari ini (29/8).

Saham-saham tersebut sempat amblas dalam perdagangan sepanjang hari ini. Saham BRMS sempat terjun 17%, saham VIVA juga ikut terpangkas terdalam 14%, dan saham BTEL juga sempat turun 9%.

“Kinerja mereka belakangan ini mengecewakan, membuat investor melepas saham-saham tersebut,” kata Analis First Asia Capital David Nathanael Sutyanto kepada KONTAN, Rabu (29/8).

Secara teknikal, saham-saham Bakrie masih dalam tren turun. “Dalam beberapa waktu ke depan, mungkin ada sedikit technical reboundnamun belum ada tren pembalikan arah untuk naik,” jelas David.

Kita bisa melihatnya menjelang penutupan bursa. Saham-saham tersebut mulai tampak naik sehingga di akhri perdagangan harga mereka tampak turun tidak terlalu banyak.

Contohnya seperti saham BRMS yang ditutup turun 3,09%. “Padahal tadi sempat turun 17%,” kata David. Begitu juga dengan saham BTEL yang ditutup hanya turun 5%-an, bahkan VIVA malah hanya turun 1,39%.

Berikut harga saham-saham terkait Grup Bakrie di akhir perdagangan:

Saham Persentase penurunan Harga penutupan (Rp)
BUMI -11,48 670
BTEL -5,56 139
BRMS -3,09 470
VIVA -1,39 710
BRAU -14,29 240
UNSP -3,68 131
ENRG -8,91 92

Sedangkan tiga lainnya, yaitu saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) tak bergerak, PT Dharma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sudah tak bisa turun lagi dari level terendahnya sehingga bertengger di Rp 50.

Apa pelaku pasar masih bisa masuk?

Kata David, momen sentimen negatif fundamental grup ini bisa dijadikan trader sebagai ajang spekulasi. Namun, spekulasi ini akan berisiko besar mengingat kinerja BUMI yang buruk.

Bahkan David sama sekali tidak memberikan rekomendasi untuk semua saham terkait Bakrie ini, walaupun besok ada kemungkinan naik.

Tapi, David bilang, untuk investor yang berani masuk ke saham-saham ini, bisa menunggu harga di bawah. Misalnya BRMS yang support terdekatnya di Rp 445, tapi bila tembus akan menuju level Rp 390. Lalu VIVA dengan support terdekat di Rp 640 dan selanjutnya di Rp 580. Adapun support terdekat ENRG di Rp 88.

“Jika kinerjanya membaik di akhir tahun, maka harga saham berpotensi reversal. Tapi ini tergantung kinerja mereka ke depan. Apakah bisa mengelola utang dan memperbaiki kinerja mereka,” ulas David.

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk, emiten sawit di bawah kendali Grup Bakrie,
telah melunasi utang obligasi US$150 juta yang jatuh tempo pada 15 Juli 2012.

Sekretaris Perusahaan Bakrie Sumatera Fitri Barnas mengatakan pada 11 Juli 2012
perseroan telah menandatangani fasilitas pinjaman maksimum senilai US$199,6 juta
dari beberapa institusi keuangan. (bisnis/uth)
JAKARTA. Saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) pagi ini bergerak positif. Pada pukul 10.12, saham ELTY menanjak 1% menjadi Rp 175.

Minat investor terhadap saham ini terkait dengan kinerja perusahaan. Asal tahu saja, hingga paruh pertama tahun 2012, marketing sales unit usaha city property Bakrieland Development, yakni PT Bakrie Swasakti Utama (BSU) diperkirakan sudah tumbuh dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 300 miliar.

Dengan marketing sales Rp 50 miliar-Rp 60 miliar setiap bulannya, perusahaan belum merasa perlu merevisi target Rp 600 miliar hingga akhir tahun.

Menurut Betrand Reynaldi, Kepala Riset eTrading Securities, ELTY memiliki sejumlah proyek besar. Sebut saja proyek-proyek yang berada di CBD Jakarta (Kuningan) seperti Rasuna Epicentrum, atau Bakrie Tower dan beberapa Gedung Perkantoran lainnya.

“Investor mengharapkan penjualan The Grove dan Wave Condominium dapat memicu kenaikan penerimaan (revenue) perusahaan lebih tinggi lagi di tahun
2012 ini,” jelasnya. Berdasarkan konsensus Bloomberg, tiga analis merekomendasikan buy, satu analis merekomendasikan hold, dan satu analis merekomendasikan sell.

http://investasi.kontan.co.id/news/outlook-kinerja-positif-saham-elty-diburu/2012/07/03

Sumber : KONTAN.CO.ID
Kontribusi Newmont ke Laba BRMS Turun

Oleh: Charles Maruli Siahaan
pasarmodal – Senin, 2 Juli 2012 | 15:44 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kontribusi laba bersih dari PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) ke PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terus mengalami penurunan.

Dalam keterangan tertulis manajemen perseroan di Jakarta, Senin (2/7/2012) disebutkan ini disebabkan terjadinya penurunan produksi tembaga dan emas dari wilayah tambang Batu Hijau di konsesi NNT. Pada kuartal pertama 2012, produksi tembaga dan emas dari lokasi tambang Batu Hijau mengalami penurunan masing-masing sebesar 49% dan 76%.

Penurunan produksi yang bersifat sementara ini telah diantisipasi sebelumnya yang disebabkan oleh pengembangan fase 6 di wilayah tambang Batu Hijau yang sedang berjalan. Setelah pengembangan fase 6 dapat diselesaikan pada akhir tahun ini, NNT diharapkan dapat meningkatkan produksi tembaga dan emasnya secara signifikan di tahun 2013.

BRMS juga berharap dapat menyelesaikan kegiatan pemboran eksplorasi pada 2 lokasi di konsesi Gorontalo Minerals (Sungai Mak dan Cabang Kiri) dan 1 lokasi di konsesi Citra Palu Minerals (Poboya) sebelum akhir tahun ini. Oleh karenanya estimasi sumber daya berdasarkan standar JORC dari lokasi-lokasi tersebut diharapkan dapat segera di selesaikan.

Sementara, konsesi seng dan timah hitam yang dioperasikan oleh Dairi Prima Mineral juga diharapkan dapat segera mengonversikan Izin Prinsip Penambangan Bawah Tanahnya menjadi Izin Pinjam Pakai Kegiatan Eksploitasi melalui penambangan bawah tanah dalam waktu dekat ini. [hid]

Perusahaan keluarga Bakrie melalui kendaraannya PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dikenal licin melakukan bongkar pasang portofolio usaha

Bak pendekar dalam laga silat yang memilki 10 nyawa, dalam kondisi keuangan yang sulit grup Bakrie tetap mampu bertahan melakukan aksi korporasi.

Perusahaan keluarga Bakrie melalui kendaraannya PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dikenal licin melakukan bongkar pasang portofolio usaha.

Meski Bakrie & Brothers terus menjual anak usaha untuk melunasi utangnya, namun perusahaan investasi ini selalu menemukan cara mengganti kontribusi anak usaha yang menjadi andalan utama perusahaan.

“Penjualan anak usaha yang memiliki kinerja bagus, merupakan salah satu strategi Bakrie & Brothers sebagai investment holding company,” kata analis Horizon Research, Vicky Pranadjaya, dalam risetnya yang dikirim Beritasatu.com.

Pada periode 2008-2010, perkebunan menjadi segmen yang memberi kontribusi besar terhadap laba usaha perusahaan dengan menyumbangkan laba usaha tertinggi dibandingkan segmen lainnya. Namun Sejak tahun 2010, Bakrie & Brothers melakukan shifting portofolio usaha dari sektor perkebunan pada segmen perdagangan, jasa, dan investasi.

Pada 2008, kontributor pendapatan terbesar berasal dari segmen perkebunan dengan menyumbang 34,88 persen, berikutnya insfratruktur sebesar 34,55 persen dan sektor telekomunikasi 30,57 persen.

Pada 2009, komposisi pendapatan sedikit berubah. Kontribusi terbesar berasal dari sektor telekomunikasi 40,33 persen, disusul sektor perkebunan 30,47 persen, dan infrastruktur 29,2 persen.

Di 2010, terdapat segmen baru yaitu segmen perdagangan, jasa, dan investasi. Di dalamnya terdapat penjualan dari sektor komoditas seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan perusahaan patungan Bumi Borneo dengan kontribusi sebesar 50,82 persen terhadap pendapatan konsolidasi perusahaan.

Pada 2011, segmen perdagangan, jasa, dan investasi kembali menjadi kontributor terbesar dengan presentase sebesar 65,17 persen, dan segmen perkebunan menjadi tidak ada. Pasalnya, Bakrie & Brothers melakukan penjualan saham Bakrie Sumatera Plantations untuk melunasi sebagian utangnya sehingga kepemilikannya hanya menjadi 29,80 persen.

“Dengan demikian pendapatan Bakrie Sumatera Plantations tidak lagi dikonsolidasikan ke Bakrie & Brothres, karena sudah kehilangan kepemilikan mayoritas pada saham tersebut,” kata Vicky.

Adapun Bakrie Telecom kata Vicky, memiliki utang besar dengan kinerja yang tidak terlalu baik. Tak heran, Bakrie & Brothers mulai mengurangi portofolio investasinya karena dinlai memberatkan. Ketidakikutsertaan BNBR dalam riggt issue tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) Bakrie Telecom beberapa wakjtu lalu, mengisyaratkan Bakrie & Brothers tidak mau investasi lagi di perusahaan telekomunikasi milik grup Bakrie tersebut.

“Ssegmen perdagangan, jasa, dan investasi baru berkontribusi terhitung mulai 2010 dengan cakupan pendapatan dari penjualan sumber daya alam (resources), serta investasi atas perusahaan asosiasi ataupun perdagangan surat berharga lainnya,” kaat Vicky.

Dia menjelaskan, shifting portolfolio bukan karena UNSP dan sektor perkebunan memiliki kinerja buruk. Namun, manajemen menilai Bakrie sudah tidak cocok lagi dengan target return perusahaan investasi karena permintaan dan pasokannya sudah terbatas. Selain itu, target price yang dinginkan sudah tercapai.

Pendapat berbeda diungkapkan Kepala riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo yang menilai, Bakrie Sumatera Plantations tidak terlalu bagus sekali. Apalagi mengacu pada laporan kekuangan 2011, tanaman menghasilkan perseroan mengalami penurunan menjadi hanya Rp117,157 miliar turun dari 2010 sebesar Rp293,429 miliar. Padahal, jumah lahan yang menghasilkan meningkat menjadi 96.865 ha (hektar) dari 2010 sebesar 90.178 ha

Di sisi lain, pendapatan dari tanaman belum menghasilkan Bakrie Sumatera Plantations meningkat Rp175 miliar di 2011 dari Rp127 miliar pada 2010. Sementara dari sisi jumlah lahan adalah 25.694 ha (2011) dari 33.885 ha (2010) dan 19.961 ha (2009).

Namun Bakrie memang cerdik. Saat melepas perusahaan di sektor perkebunan, perusahaan mampu menemukan penggantinya dari segmen lainnya, yakni perdagangan, jasa, dan investasi.

Penjualan anak usaha tidak membuat kinerja Bakrie & Brothers menjadi turun, terbukti perusahaan dengan cepat mampu menemukan penggantinya melalui BUMI Plc. Ke depan, Bakrie Brothers akan fokus ke energi dan infrastruktur melalui PT Bakrie Energy International dan PT Bakrie Indo Infrastructure. Meski demikian, perseroan masih mempertahankan kepemilikannya di Energi Mega Persada, Bumi Plc, dan Bakrieland Development.

Kontribusi pendapatan per sektor terhadap total pendapatan Bakrie & Brothers periode 2008-2011:

2008:Infrastruktur (34,55 persen), Perkebunan (34,88 persen), Telekomunikasi (30,57 persen)

2009: Infrastruktur merugi Rp73 miliar, Perkebunan (30,47 persen), Telekomunikasi (40,33 persen)

2010:Perdagangan, jasa dan investasi, (50,82 persen), Infrastruktur (11,87 persen), Perkebunan (18,16 persen), Telekomunikasi (19,15 persen)

2011:Perdagangan, jasa dan investasi, (65,17 persen), Infrastruktur (15,98 persen), Telekomunikasi (18,85 persen)

Kontribusi laba usaha per sektor terhadap total pendapatan Bakrie & Brothers periode 2008-2011:

2008:Infrastruktur Rp100 miliar, Perkebunan Rp759 miliar, Telekomunikasi Rp390 miliar

2009: Infrastruktur merugi Rp73 miliar, Perkebunan Rp470 miliar, Telekomunikasi Rp303 miliar

2010:Perdagangan, jasa dan investasi merugi Rp5 triliun, Infrastruktur Rp16 miliar, Perkebunan Rp849 miliar, Telekomunikasi Rp208 miliar

2011:Perdagangan, jasa dan investasi Rp1,698 triliun, Infrastruktur merugi Rp50 miliar, Telekomunikasi merugi Rp95 miliar

Investasi Bakrie & Brothers pada anak usaha dan perusahaan asosiasi periode 2008-2011:

2008: Bakrie Telecom (49,13 persen), Energi Mega Persada (43,20 persen), Bakrieland Development (14,85 persen), Bumi Resources (16,46 persen), Bakrie Sumatera (65,28 persen).

2009: Bakrie Telecom (45,58 persen), Energi Mega Persada (43,20 persen), Bakrieland Development (20,95 persen), Bumi Resources (19,15 persen), Bakrie Sumatera (41,78 persen).

2010: Bakrie Telecom (45,58 persen), Energi Mega Persada (8,75 persen), Bakrieland Development (8,14 persen), Bumi Resources (20,50 persen), Bakrie Sumatera (27,42 persen).

2011: Bakrie Telecom (29,95 persen), Energi Mega Persada (8,75 persen), Bakrieland Development (8,14 persen), Bumi Resources (10,23 persen), Bakrie Sumatera (27,42 persen), dan Borneo Lumbung Energy (27,42 persen).

http://www.beritasatu.com/ekonomi/57590-bakrie-dikenal-licin-bongkar-pasang-portofolio.html

Sumber : BERITASATU.COM

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: