Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Desember 11, 2012

gempa BUMI, the “ayu tong-tong” (111212)

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 1:10 am

Nirwan Bakrie Kaget Samin Tan Sempat Ancam Mundur

pasarmodal – Senin, 10 Desember 2012 | 08:17 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Perilaku Nat Rothschild yang merusak kenyamanan di Bumi Plc membuat Chairman Bumi Plc, Samin Tan merasa tak nyaman. Karenanya ia sempat mengancam mundur dari jabatannya sebagai Senior Independent Director of Bumi Plc.

Samin Tan pernah berkirim surat kepada Senior Independent Director Bumi Plc Lord Robin Renwick dan Sir Julian Horn-Smith dan menyatakan niatnya mengundurkan diri. Kecuali manajemen Bumi Plc memecat Nat. Alasannya, Nat—yang bernama lengkap Nathaniel Philip Victor James Rothschild itu –melakukan perilaku yang merugikan perusahaan.

Hal itu terungkap dalam surat Samin Tan kepada Nirwan Bakrie yang salinannya diterima INILAH.COM, belum lama ini. Dalam surat itu tergambar Grup Bakrie sebagai pemilik 23,8% saham Bumi Plc sempat kaget dengan niat Samin Tan untuk mundur.

Karenanya, Nirwan Bakrie sebagai perwakilan keluarga Bakrie di grup itu sempat mempertanyakannya langsung kepada Samin Tan. “Apakah benar Anda berniat mengundurkan diri pada akhir Oktober menyusul adanya pertemuan direksi Bumi Plc di Singapura?” tanya Nirwan kepada Samin Tan.

Menjawab pertanyaan itu, Samin membenarkannya. “Benar, saya berniat mundur sebagai Senior Independent Director of Bumi Plc. Sebab, saya diancam dan tak nyaman dengan pernyataan-pernyataan Nat Nat Rothschild dalam pertemuan direksi,” jawab Nat dalam suratnya kepada Nirwan.

Ancaman yang dimaksud adalah Nat mengancam Samin Tan bahwa dia bisa menyeret Samin Tan ke penjara di London, mencekalnya bepergian ke Inggris, atau mencekal dirinya supaya tidak bisa menjadi direktur di semua perusahaan di Inggris.

Menurut Samin Tan, dalam pertemuan direksi di Singpura, Nat memperlihatkan sebundel email milik Samin Tan yang dikirim kepada bankir di Singapura. Bankir itu kemudian melaporkan kepada Samin.

“Saya tahu Nat membocorkan email yang kirim maupun yang menyangkut saya kepada sejumlah non-eksekutif direktur independen di Bumi Plc. Termasuk juga email kepada pihak lain. Saya tahu, dokumen inilah yang dijadikan acuan oleh seseorang yang mengaku whistleblower untuk membocorkan dokumen mengenai Bumi Plc. Kebocoran dokumen inilah yang mendorong adanya investigasi independen oleh Macfarlanes terhadap sejumlah hal di Bumi Resources Tbk dan Berau Tbk,” jela Samin dalam suratnya kepada Nirwan.

Belakangan diketahui bahwa dokumen tersebut bocor setelah email dan kopmuter pribadi milik Samin Tan disusupi dan dijebol pihak lain. Hal itu diketahui dari penyelidikan oleh perusahaan kemanan IT, G3 Context.

Hasil penyelidikan itu menyimpulkan bahwa selama Maret dan Agustus 2012, email dan komputer milik Samin Tan dibobol. Akibatnya dokumen yang ada dalam komputer miliknya dicuri. “Akibat perbuatan itu, saya mempertimbangkan untuk melakukan tindakan hukum terhadap masalah ini,” tegas Samin Tan.

Belakangan, Lord Robin Renwick ternyata mendukung sikap Samin Tan tersebut. Bahkan, ia bersama Sir Julian juga akan mundur dari Bumi Plc jika nama Nat masih tetap tercantum di susunan direksi perusahaan investasi itu.

Sebelumnya, INILAH.COM juga memberitakan, upaya mengobrak-abrik Bumi Plc terungkap lewat penyelidikan oleh Context. Email milik Chairman Bumi Plc, Samin Tan dijebol dan komputernya disusupi pihak lain. Pelakunya diketahui memakai nama Steve. Nat Rothschild diduga berada di balik ini. [tjs]

Senin, 10 Desember 2012 | 08:13 WIB
Indra Bakrie Mundur dari Bumi Plc

TEMPO.CO, Jakarta – Indra Bakrie mendadak mengundurkan diri dari kursi direksi di Bumi Plc. Menurut juru bicara Grup Bakrie, Christopher Fong, pengunduran diri Indra sudah direncanakan sebelumnya. “Ini sesuai dengan strategi kami untuk melepas segala kepentingan kami di Bumi Plc,” ujar Fong dalam pesan tertulisnya kepada Tempo, Ahad, 9 Desember 2012.

Menurut Fong, secara perlahan Grup Bakrie bakal melepas kepentingannya satu per satu di Bumi Plc dan akan fokus dengan tujuan utama mereka saat ini, yaitu menjadikan PT Bumi Resources sebagai perusahaan nasional murni tanpa ada campur tangan atau investasi asing di dalamnya.

Ia meyakinkan pengunduran diri Indra Bakrie ini tidak ada kaitannya dengan aktivitas Bumi Plc sebagai perusahaan induk dan tidak berdampak pada penawaran Grup Bakrie. Grup Bakrie, kata dia, belum mundur dari proposal yang diajukannya pada Bumi Plc. “Dan kami harap putusan Bumi Plc bisa segera keluar dalam enam pekan mendatang,” dia menegaskan.

Bakrie Grup telah mengajukan tiga tawaran yang saat ini masih dievaluasi oleh Rothschild Grup serta The Takeover Panel. Tiga tawaran tersebut, yakni Bakrie berniat menukar sahamnya sebesar 23,8 persen yang ada di Bumi Plc dengan 10 persen kepemilikan Bumi Plc di Bumi Resources. Proposal berikutnya Bakrie hendak membeli 18,9 persen sisa saham Bumi PLC di Bumi Resources senilai US$ 278 juta atau setara Rp 2,6 triliun. Terakhir adalah Bakrie berniat membeli tunai aset tambang milik Bumi PLC yangg sebesar 85 persen dan berada di PT Berau Coal Energy dengan nilai tawaran mencapai US$ 950 juta.

GUSTIDHA BUDIARTIE
Tawaran ‘Cerai’ Tak Digubris Bumi Plc, Indra Bakrie Mundur Jadi Komisaris
Angga Aliya – detikfinance
Sabtu, 08/12/2012 09:54 WIB
London – Direktur sekaligus wakil komisaris utama Bumi Plc, Indra Bakrie, mengundurkan diri dari jabatannya menyusul tawaran ‘cerai’ yang ditawarkan grup Bakrie yang dua bulan lalu. Sampai saat ini, perusahaan tambang yang terdaftar di bursa London itu belum juga memberikan jawaban.

“Dalam surat pengunduran dirinya ke dewan direksi Bumi, Bapak (Indra) Bakrie menyatakan karena tujuan utama Grup Bakrie terhadap perusahaan yang terdaftar di bursa London itu belum tercapai, maka Grup Bakrie menawarkan proposal untuk keluar dari Bumi,” dalam siaran pers Bumi Plc di situs resminya, Sabtu (8/12/2012).

Grup Bakrie sudah menawarkan pembelian kembali saham anak usahanya di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai US$ 1,4 miliar (Rp 12,6 triliun) dari Bumi Plc.

Tawaran yang diberikan Bakrie itu jika disetujui maka akan dilakukan dalam tiga tahap. Pertama menukar guling saham Bumi Plc dengan 29% saham BUMI yang dimilikinya. Kedua, membeli sisa saham BUMI secara tunai, dan terakhir membeli 85% saham Berau milik Bumi Plc.

Proposal yang dilayangkan bulan lalu itu menyusul tuduhan adanya penyimpangan dana di BUMI dan permintaan Rothschild untuk melakukan audit investigasi di perusahaan tambang tersebut.

Rothschild merespons tawaran itu dengan menyatakan mundur dari jabatan direksi di Bumi Plc, yang dibentuk dua tahun lalu bersama Grup Bakrie. Pengunduran diri ini dilakukan setelah beredar kabar hubungan Rothschild-Bakrie tidak lagi mesra seperti dulu.

(ang/ang)
Dusta Ical soal Lumpur Lapindo
Wednesday, 05 December 2012 09:37 Achsin

itoday – Pemimpin Grup Bakrie, Aburizal Bakrie atau Ical yang menguasai saham mayoritas PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) belum sepenuhnya membayar korban lumpur Lapindo.

“Kalau Ical sudah bayar itu bohong, faktanya, empat desa yang menjadi tanggungjawab PT Minarak Lapindo Jaya yaitu Kedungbendo, Jatirejo, Reno Kenongo, Siring, belum mendapat ganti rugi dari Ical,” kata Ketua Forum Aspirasi Korban Lapindo, Rahmat kepada itoday, Selasa (5/12).

Menurut Rahmat, faktanya 4000 berkas belum terbayar lunas yang menjadi tanggung jawab dari pihak PT Minarak Lapindo Jaya. “Baru 9000 berkas lunas, 4000 berkas belum terbayar lunas,” papar Rahmat.

Ia juga menuturkan, informasi di salah satu televisi milik Ical bahwa korban lumpur Lapindo sudah dibayar lunas adalah bentuk kebohongan. “Telah telah berbohong di media miliknya bahwa korban Lapindo telah dibayar, padahal faktanya masih banyak yang belum dibayar,” jelasnya.

Selain itu, kata Rahmat, yang diinginkan para korban lumpur Lapindo agar Ical memenuhi kewajibannya memberikan ganti rugi. “Kami ini tidak peduli dengan politik, tapi yang kami inginkan, korban lumpur Lapindo mendapat ganti rugi, kami juga tidak mau dituduh digerakkan lawan politik Ical. Gerakan kami murni,” pungkasnya.

Read more about Korban by http://www.itoday.co.id
Bakrie & Brothers Fokus Melunasi Utang
Selasa, 4 Desember 2012 | 10:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Manajemen PT Bakrie & Brothers Tbk tetap fokus pada upaya pelunasan atau pengurangan beban utang pada tahun depan. Selain menjalankan strategi pembiayaan kembali utang berjangka pendek, berbiaya tinggi, dan memiliki jaminan besar, perseroan juga mempertimbangkan penjualan aset mereka.

”Sejak awal tahun 2012 sebenarnya kami telah memaksimalkan upaya pengurangan beban utang karena kami sadar utang yang besar akan punya implikasi tidak baik bagi kinerja perseroan,” jelas Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/Chief Executive Officer PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), seusai paparan publik di Jakarta, Senin (3/12/2012).

BNBR berharap dapat merampungkan divestasi salah satu anak usahanya, PT Bakrie Pipe Industries, pada triwulan I-2013. Divestasi itu, kata Bobby, akan dilakukan dengan bentuk mitra strategis (strategic partner). Saat ini BNBR sedang dalam tahap uji tuntas (due diligence) dengan tiga pihak.

Hingga akhir September 2012, BNBR telah berhasil mengurangi beban utang konsolidasi 34,5 persen atau setara dengan Rp 3,7 triliun. Sepanjang tahun 2010 dan 2011 utang BNBR telah membengkak akibat transaksi Vallar Plc atau Bumi Plc mencapai Rp 9,559 triliun.

Akhir tahun ini Bobby optimistis BNBR akan mencatatkan kinerja finansial yang positif. Ini setelah hingga September BNBR membukukan laba bersih Rp 253 miliar atau naik 138,8 persen dari periode yang sama tahun 2011.

Menurut Bobby, momentum pertumbuhan anak-anak usaha nonpublik yang meningkat sangat signifikan sepanjang tahun ini akan terus dijaga. Ini sebagai salah satu strategi untuk mempertajam fundamen bisnis secara keseluruhan. Investasi yang diincar adalah investasi di pengembangan proyek yang berbasis sumbar daya alam dan infrastruktur serta meningkatkan nilai aset nonpublik.

”Prinsipnya strategi pertumbuhan BNBR akan terfokus pada sektor energi, infrastruktur, dan perkebunan,” kata Bobby.

Ia menjelaskan, kinerja sejumlah anak usaha BNBR nonpublik tahun ini tumbuh sangat baik. Di sektor manufaktur saja sejumlah anak usaha nonpublik sepanjang Januari-September 2012 berhasil mencatatkan pendapatan Rp 2,5 triliun. Jumlah ini meningkat signifikan jika dibandingkan dengan perolehan pendapatan anak usaha nonpublik sektor manufaktur pada periode yang sama tahun 2011 senilai Rp 1,6 triliun.

Beberapa unit usaha di sektor manufaktur adalah PT Bakrie Building Industries (BBI), PT Bakrie Pipe Industries (BPI), dan PT Bakrie Tosanjaya.

”BBI punya potensi pertumbuhan. Demikian juga BPI dengan penetrasi lebih dalam pada pasar nonmigas dengan ledakan sektor infrastruktur,” kata dia. (BEN)
Bumi Siap Jual Tiga Anak Usaha
Kamis, 29 November 2012

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berniat menjual saham tiga anak usahanya, yaitu PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Fajar Bumi Sakti (FBS), dan PT Pendopo Energi Batubara (PEB). Dana hasil penjualan tiga perusahaan itu akan digunakan untuk membayar utang. Ada beberapa pihak yang tertarik membeli tiga perusahaan itu. Perseroan akan membayar seluruh utang yang jatuh tempo. Selain dari penjualan asset, sumber dana pelunasan utang berasal dari kas internal, pencairan investasi di Grup Recapital, dan pembayaran piutang PT Bukit Mutiara. Bila empat sumber dana itu belum cukup, perseroan akan merefinancing utang dengan bunga yang lebih murah. (ditya18.Investor)
Kisruh Bumi, Bakrie & Brothers Hanya Ingin Tukar Guling
Jumat, 30 November 2012 | 13:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membuat pernyataan terbaru terkait proposalnya kepada pihak Bumi Plc. Proposal itu menyangkut tiga permintaan BNBR, yang salah satu poinnya adalah tukar guling 23,8 persen saham Bumi Plc yang dimilikinya dengan 10,3 persen saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik Bumi Plc.

Sikap BNBR itu dirilis dalam situs Bursa Efek Indonesia pada 28 November, dalam bentuk materi paparan publik BNBR yang akan dilaksanakan pada 3 Desember 2012. BNBR menyatakan tidak akan terlibat dalam pembelian sisa 18,9 persen saham BUMI di Bumi Plc yang masuk dalam poin kedua proposal yang diajukannya bersama dengan Long Haul Holding (afiliasi) kepada Bumi Plc.

Begitu pula terhadap poin ketiga yang menawarkan pembelian atas 84,7 persen saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) milik Bumi Plc. “Keterlibatan BNBR akan terbatas hanya pada poin pertama dan BNBR tengah mempertimbangkan untuk tidak berpartisipasi pada langkah transaksi lainnya,” ungkap manajemen BNBR dalam materi paparan publiknya. Ini artinya, BNBR tidak akan keluar duit tunai sepeser pun atas proposal Grup Bakrie kepada Bumi Plc.

Eddy Soeparno, Direktur Keuangan BNBR, tidak merespons permintaan konfirmasi dari Kontan. Begitu pula dengan Bobby Gafur Sulistyo Umar, Direktur Utama BNBR, yang tetap membungkam terkait persoalan ini.

Boleh jadi, kondisi keuangan BNBR yang tidak mendukung untuk menunjang transaksi tunai tersebut. Maklum, nilai transaksi tersebut (poin dua dan tiga) diperkirakan bernilai 1,2 miliar dollar AS.

Nyatanya, kondisi keuangan BNBR sendiri masih sangat terbebani oleh persoalan utang. Berdasarkan laporan keuangan mereka akhir pada September 2012, total kewajiban BNBR tercatat Rp 8,47 triliun. Beban bunga dan keuangannya mencapai Rp 956,10 miliar. Sedangkan posisi laba ditahannya hanya Rp 406,3 miliar.

Di sisi lain, kemampuan pihak Long Haul Holding belum diketahui secara pasti. Chris Fong, juru bicara Grup Bakrie, pernah mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan dana awal untuk membeli sisa saham BUMI yang sebanyak 18,9 persen.

Untuk pembelian 84,7 persen saham BRAU, masih ada waktu enam bulan lagi. Ada beberapa pilihan pendanaan yang tersedia, yaitu menjual beberapa aset serta meminjam dana dari institusi keuangan.

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities, berpendapat, sikap BNBR itu lebih bijak. Kalau BNBR sampai meminjam uang lagi, bunganya pasti besar. “Sedangkan jika menjual aset, maka akan memakan waktu yang cukup lama,” tutur Reza.

BUMI masih rahasiakan auditor

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) beberapa waktu lalu sudah meminta Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) untuk menetapkan tim audit independen guna memeriksa laporan keuangannya beserta anak usaha sejak periode 2010 hingga kini. Termasuk, meminta keterangan dari manajemen BUMI dan anak usahanya. PN Jaksel pun sudah mengabulkan permintaan yang diajukan oleh komite audit internal BUMI.

Namun, saat ditemui Kontan seusai paparan publik dalam rangka investor summit yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia, Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI, menolak memberitahukannya. Termasuk apakah tim audit tersebut sudah mulai bekerja dengan meminta keterangan dari manajemen BUMI.

Sekadar mengingatkan, tim audit independen tersebut memiliki masa kerja selama 90 hari sejak ditetapkan oleh PN Jaksel. Tim ini dibentuk sebagai upaya untuk membuktikan ada atau tidaknya ketidakberesan di tubuh BUMI dan anak usahanya. (Amailia Putri Hasniawati, Veri Nurhansyah Tragistina/Kontan)
Bumi Resources Percepat Pembayaran Utang CIC
“Untuk CIC, kami tak mau tunggu karena ingin melunasinya lebih cepat.”
Rabu, 28 November 2012, 17:10 Antique, Alfin Tofler

VIVAnews – PT Bumi Resources Tbk akan mempercepat pembayaran utang kepada China Investment Corporation (CIC). Utang Bumi Resources kepada CIC yang jatuh tempo pada kuartal keempat 2014 senilai US$600 juta.

“Untuk CIC, kami tidak mau tunggu, karena ingin melunasinya lebih cepat,” kata Direktur Bumi Resources, Dileep Srivastava, pada acara Investor Summit 2012 di Jakarta, Rabu 28 November 2012.

Dileep mengungkapkan, pada 2014, perseroan mempunyai total utang yang harus dibayarkan sebesar US$1,2 miliar. Di antaranya, sebesar US$600 juta untuk CIC pada kuartal keempat 2014 dan obligasi senilai US$375 juta pada Agustus 2014.

“Untuk itu, perseroan dalam dua tahun ke depan akan menurunkan utang menjadi satu kali EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) dari saat ini 2,8 kali,” ujar Dileep.

Sementara itu, untuk kuartal keempat tahun ini, Dileep menjelaskan, Bumi mempunyai utang jatuh tempo senilai US$17 juta. Sementara itu, tahun depan, utang jatuh tempo mencapai US$274 juta.

Untuk pelunasan utang-utang tersebut, dia mengatakan, perusahaan mengandalkan tiga hal. Pertama, menaikkan harga jual batu bara dan perbaikan penjualan untuk menguatkan kas internal perusahaan.

Kedua, pencairan dana di Recapital Asset Management, karena perusahaan mempunyai investasi yang akan jatuh tempo pada 2013. Rencananya, perusahaan akan me-recover sebanyak mungkin yang bisa dilakukan hingga 2014.

Selanjutnya, yang ketiga adalah penjualan aset-aset non bisnis inti yang ada. “Kami mungkin akan menjual aset non core, aset grup Bumi Resources, dan aset yang ada di Afrika,” katanya. (art)

KINERJA EMITEN: Utang Bumi Resources masih US$3,79 miliar

Hanum KD

Selasa, 27 November 2012 | 19:38 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA — Produsen batu bara PT Bumi Resources Tbk, yang terafiliasi dengan Grup Bakrie, mencatat total pinjaman US$3,79 miliar yang jatuh tempo hingga 2017 dan merencanakan sejumlah strategi untuk menurunkannya.

Emiten berkode BUMI tersebut mencatat hanya US$17 juta yang akan jatuh tempo pada kuartal keempat tahun ini. Kemudian, US$245,5 juta akan jatuh tempo pada tahun depan.

Sementara itu, US$1,23 miliar jatuh tempo pada tahun 2014 dan US$1,06 miliar pada 2015. Pada 2016, jumlah yang harus dibayar adalah US$530 juta dan sisanya US$700 juta pada 2017.

Jumlah tersebut belum termasuk yang dimiliki anak usahanya. Lembaga pemeringkat internasional Moody’s dan S&P telah menurunkan outlook utang Bumi menjadi B+ dari BB-.

Perseroan dalam materi presentasinya menyebutkan sejumlah strategi untuk mengurangi utang termasuk mencapai produksi batu bara sebanyak 100 juta ton pada 2014.

Selain itu, emiten yang tengah menghadapi investigasi keuangan oleh auditor independen dan induk usahanya di London, berencana memonetisasi aset-aset di luar bisnis intinya.

Sepanjang 2012, BUMI memproyeksikan produksi sebanyak 73 juta ton hingga 75 juta ton, naik dari realisasi 66 juta ton tahun lalu.

Produsen batu bara thermal ini memprediksi 45 juta ton dikontribusikan oleh Kaltim Prima Coal (KPC) dan 30 juta ton dari Arutmin.

Pada 2014, estimasi produksi KPC sebanyak 65 juta ton dan Arutmin 35 juta ton. Produksi tersebut akan mendapat tambahan dari Pendopo Energi sebanyak 4 juta ton yang saat ini masih dalam tahap eksplorasi.

Di samping batu bara, emiten ini juga memiliki aset migas Gallo Oil yang masih dalam tahap eksplorasi. Aset mineral non-batu bara juga dimiliki melalui PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang sebagian besar masih dalam tahap eksplorasi.

Sebagai catatan, BRMS juga memiliki sekitar 18% tambang emas Newmont Nusa Tenggara.

Proposal Bakrie

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Grup Bakrie menawarkan proposal tukar guling saham dan tunai senilai US$1,2 miliar untuk keluar dari Bumi Plc, induk usaha pemegang 23,8% saham Bumi Resources.

Bumi Plc sendiri saat ini masih mengendalikan 29,2% Bumi Resources dan 84,7% saham PT Berau Coal Energy Tbk.

Proposal itu saat ini masih dibahas oleh direksi Bumi Plc dan menunggu hasil audit independen terhadap dugaan penyimpangan keuangan oleh kedua asetnya di Indonesia itu.

“Tidak mau berkomentar,” ujar Bobby Gafur, Presiden Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), pada Selasa (27/11). Grup Bakrie merupakan bentukan antara BNBR dan Long Haul Holdings yang berbasis di Singapura.

Grup Bakrie juga terpaksa harus membubarkan perusahaan patungannya dengan PT Borneo Lumbung Energi and Metal Tbk yang dimiliki Samin Tan terkait proposal tersebut.

Sementara itu, Direksi Independen Bumi Plc telah menerima proposal dari NR Investment, yaitu perusahaan investasi milik Nathaniel Rothschild. Rothschild adalah pendiri Bumi Plc yang telah mundur dari direksi dan diberitakan telah mengumpulkan US$270 juta terkait proposal itu.

Sepanjang tahun ini saham BUMI terus tertekan hingga 70% dan pada Selasa (27/11) ditutup di level Rp550. (faa)

Rothschild Pastikan Raih US$2,7 Juta Singkirkan Bakrie dari Bumi Plc
Sabtu, 24 November 2012 | 08:37
berita satu

Nathaniel Rothschild memastikan telah berhasil menghimpun dana sebesar US$270 juta untuk mempermulus proposal tandingannya di Bumi Plc melalui perusahaannya, NR Investments yang membentuk konsorsium dengan beberapa investor dan pemegang saham Bumi Plc.

Proposal tersebut bertujuan guna mengeluarkan Grup Bakrie, Samin Tan, dan Recapital dari Bumi Plc.

Salah seorang eksekutif yang mengetahui transaksi tersebut menyatakan, pemegang saham Bumi Plc yang bergabung dalam konsorsium itu antara lain Standard Life Investments, Artemis Investment Management LLP and Abu Dhabi Investment Co.

Selain itu, NR Investment didukung pengusaha tambang Robert Friedland. Robert dikabarkan bersedia menggelontorkan dana sebesar US$50 juta ke dalam konsorsium. Saat ini, Robert tengah menggarap proyek tambang emas dan tembaga di Mongolia.

Sementara Hashim Djojohadikusumo, pengusaha asal Indonesia sekaligus adik calon presiden Pemilu 2014 Prabowo Subianto, dikabarkan turut bergabung dalam konsorsium. Dana yang dikucurkan Hashim sekitar US$50 juta.

“Jajaran direksi independen perlu mengevaluasi proposal kami, karena menawarkan jalan keluar terbaik,” ujar Nathaniel, Jumat (23/11).

Nathaniel mengungkapkan, proprosal tersebut diharapkan dapat menyelesaikan konflik yang bekerpanjangan antar pemegang saham.

Konflik antarpemegang saham Bumi Plc telah terjadi sejak tahun lalu. Puncaknya adalah saat Bumi Plc mengumumkan audit investigasi terhadap dua anak usahanya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Bumi Plc menduga telah terjadi penyelewengan dana di dua perusahaan itu.

Tak lama berselang, Grup Bakrie berniat hengkang dari Bumi Plc, dengan mengirimkan proposal ke perusahaan itu. Selanjutnya, Nathaniel membuat proposal tandingan.

Dalam proposalnya ke Bumi Plc, Grup Bakrie menawarkan dana sebesar US$1,2 miliar untuk keluar dari perusahaan itu sekaligus membeli BUMI dan BRAU. Bumi Plc yang tercatat di Bursa Efek London memiliki 29 persen saham BUMI dan 85 persen saham BRAU.

Ada tiga transaksi yang ditawarkan Grup Bakrie. Pertama, Grup Bakrie menawarkan penukaran 23,8 persen saham Bumi Plc dengan 10,8 persen saham BUMI. Selanjutnya, Grup Bakrie membeli kembali (buyback) sisa saham BUMI sebesar 18,9 persen secara tunai senilai US$278 juta.

Grup Bakrie juga mengajukan penawaran tunai untuk membeli 85 persen saham BRAU senilai US$950 juta. Buyback saham BUMI ditargetkan tuntas tahun ini. Sedangkan akuisisi saham BRAU diproyeksikan tuntas tahun depan.

Nathaniel atau yang akrab disapa Nat tidak setuju dengan proposal itu. Dia pun mengundurkan diri dari posisi direktur non-eksekutif Bumi Plc. Dia kecewa dengan sikap Samin Tan yang menyetujui proposal Grup Bakrie. Samin Tan saat ini menjabat sebagai komisaris utama Bumi Plc.

Skema Rothschild
Sementara itu, Nat dalam proposalnya menyetujui tawaran pertama Grup Bakrie, yakni mengambil seluruh saham BUMI. Setelah transaksi itu tuntas, Nat bersama konsorsiumnya akan menyuntikkan dana tunai ke Bumi Plc untuk membeli saham Bumi Plc milik Samin Tan dan Rosan Roeslani, pendiri Recapital.

“NR Investments yakin keterkaitan antara Grup Bakrie dan Samin Tan menjadi keprihatinan para pemegang saham minoritas Bumi Plc. Untuk itu, kami komit menyuntikkan dana US$270 juta untuk mengeluarkan dua pihak itu dari Bumi Plc,” kata Nathaniel.

Samin Tan melalui perusahaannya, PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), memiliki 23,8 persen saham Bumi Plc. Adapun porsi saham Grup Recapital mencapai 13 persen, Nathaniel Rothschild 11 persen, dan sisanya dimiliki publik.

Sebelumnya, Head of Investor Relations Bumi Plc Nick von Schirnding menyatakan, keputusan proposal mana yang akan disetujui manajemen diperkirakan keluar pada 2013. Itu ar tinya, Grup Bakrie tidak dapat menguasai BUMI sebelum Natal tahun ini.

“Ada beberapa proses yang harus kami tempuh, seperti menuntaskan audit investigasi, menunggu hasil evaluasi Rothschild Group terhadap proposal Grup Bakrie, dan menunggu keputusan panel Bursa Efek London,” kata dia.
Penulis: ID/ Harso Kurniawan/ WBP
Rothschild Berani Bayar Rp 2,5 Triliun Depak Bakrie dari Bumi
Angga Aliya – detikfinance
Jumat, 23/11/2012 17:39 WIB
New York – Taipan asal Eropa, Nathaniel Rothschild, menyatakan konsorsium yang ia pimpin akan menyuntikkan dana hingga sebesar US$ 270 juta (Rp 2,5 triliun) kepada Bumi Plc jika dewan komisarisnya berani memutus hubungan dengan Grup Bakrie.

Perusahaan yang dulu bernama Vallar Plc itu sudah menerima dua proposal, satu lagi Rothschild, satu dari lagi Grup Bakrie yang menguasai 23,8% di perusahaan tersebut.

Grup Bakrie menawarkan untuk melepas hubungan dengan Bumi Plc melalui pembelian kembali saham-saham yang dipegang Bumi Plc di aset-asetnya di Indonesia senilai US$ 1,2 miliar.

Yaitu melalui pembelian kembali 29% saham BUMI juga 85% kepemilikan di PT Berau Coal Tbk (BRAU) yang keduanya merupakan anak usaha Bumi Plc. Pembelian akan dilakukan secara bertahap. Masing-masing nilainya US$ 278 juta dan US$ 950 juta.

Rothschild, yang juga salah satu pemegang saham Mayoritas di Bumi Plc merespons proposal ini dengan cara mengundurkan diri dari jabatannya sebagai direksi. Ia menilai langkah yang dilakukan Grup Bakrie ini tidak memihak pada kepentingan investor minoritas.

Apalagi, salah satu orang terkaya di Indonesia yang menjadi komisaris Bumi Plc juga punya hubungan dekat dengan Grup Bakrie.

Rothschild pun lalu mengirimkan proposal tambahan yang isinya menyarankan alternatif tawaran Grup Bakrie tersebut. Ia menawarkan pembelian kembali 29% saham BUMI milik Bumi Plc senilai US$ 278 juta secara tunai dengan catatan Grup Bakrie hengkang dari perusahan yang tercatat di bursa London tersebut.

Rothschild, melalui NR Investment, memimpin konsorsium untuk menambah modal di Bumi Plc dalam rangka membeli saham-saham milik Samin Tan dan Rosan Perkasa Roeslani dari Bumi Plc. Sehingga Bumi Plc bebas dari tangan Indonesia dan sepenuhnya berada di tangan Rothschild.

Roeslani dan Tan punya saham di Bumi Plc lewat perusahaan investasi Recapital Advisors dan PT Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN). Recapital menguasai 13% saham Bumi Plc, sementara Borneo 23,8%.

“NR Investments percaya Bapak Tan dan Keluarga Bakrie sudah tidak lagi tertarik untuk berada di Bumi Plc. Oleh karena itu, bersama dengan investor lain, NR Investments sudah berkomitmen untuk menyuntikkan dana US$ 270 juta ke Bumi Plc untuk menyingkirkan kelompok tersebut,” kata Rothschild dalam keterangan tertulis yang dikutip Wall Street Journal, Jumat (23/11/2012).

Taipan pertambangan Robert Friedland sudah setuju ambil bagian dalam konsorsiumnya Rothschild, kata dua sumber yang mengetahui rencana tersebut. Friedland selama ini sudah punya jam terbang tinggi di dunia pertambangan.

Ia terlibat dalam penemuan beberapa tambang besar dunia, termasuk tambang emas Oyu Tolgoi dan proyek tembaga di Mongolia. Friedland menyatakan siap membantu setoran dana hingga sebesar US$ 50 juta kata sumber tadi.

Selain itu saudara Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, dikabarkan juga telah sepakat membantu kucuran dana US$ 50 juta kepada konsorsium asing tersebut. Namun, pihak Hashim tidak mau memberikan komentar dalam kabar ini.

(ang/dnl)
Rothschild sudah siapkan US$ 270 juta untuk Bumi
Oleh Rika Theo – Kamis, 22 November 2012 | 22:47 WIB | Sumber Bloomberg

kontan

LONDON. Nathaniel Rothschild berkata ia telah mengumpulkan US$ 270 juta untuk mendanai proposal yang ia masukkan ke Bumi Plc. Persaingan dengan Grup Bakrie yang lebih dulu mengirimkan proposal berlangsung makin seru.

Dalam email yang dikirim ke Bloomberg hari ini, Rothschild berkata bahwa NR Investment telah menyediakan dana bersama dengan investor-investor yang lain.

“Anggota direksi yang independen perlu mengevaluasi proposal kami yang saat ini tampak sebagai satu-satunya solusi yang dapat berjalan,” ujarnya.

Rothschild mengirimkan proposalnya bulan lalu. Ia hendak menandingi proposal Grup Bakrie yang bernilai US$ 1,2 miliar.

Jurubicara Grup Bakrie Chris Fong mengatakan Bakrie bersedia mempertimbangkan proposal Rothschild. “Mereka terbuka ke apapun yang masuk akal dan bisa bekerja untuk semua pihak,” ujarnya melalui telepon dari Sydney hari ini.

Rothschild, keturunan dinasti bankir Inggris, meminta Samin Tan untuk mundur dari direksi Bumi Plc. “Direksi baru akan mengembalikan kepercayaan,” ujar dia.

Pekan lalu, Tan berkata bahwa ia mendukung penawaran Bakrie. Menurutnya, tawaran Bakris setara dengan £5-£6 per saham. “Jika ada tawaran yang dapat membawa harga saham ke £5-£6 per saham, mengapa tidak kita dukung?” ujarnya dalam wawancara pada 15 November lalu.

Tapi kemudian ia melanjutkan ucapannya, “Jika ada cara lain dan dengan tawaran yang sama atau lebih baik, saya juga akan mendukung. Jika proposal Nat sama atau leih baik, saya tanpa ragu akan mendukungnya.”

Siapa saja yang bersama Rothschild?

Sumber Bloomberg mengatakan bahwa para investor Bumi seperti Schroders Plc, Standard Life Investments, Artemis Investment Management LLP and Abu Dhabi Investment Co. telah setuju untuk mendukung proposal Rothschild.

Selain mereka, miliuner pendiri perusahaan tambang Ivanplats Ltd Robert Friedland juga telah setuju untuk menanamkan US$ 50 juta dalam usaha patungan bersama Rothschild. Financial Times juga telah menulis hal ini, namun sampai sekarang Friedland menolak berkomentar.

Rothschild juga mendapat dukungan dari Hashim Djojohadikusumo, anak begawan ekonomi Indonesia Sumitro Djojohadikusumo.

Friedland backs Nat Rothschild over Bumi -sources
5:30am EST

LONDON, Nov 22 (Reuters) – Mining sector entrepreneur Robert Friedland is lending his support to Nat Rothschild’s move to keep alive the London-listed Bumi Plc coal-mining venture, sources familiar with the matter said.

Rothschild founded Bumi two years ago with Indonesia’s politically connected Bakrie family, which reversed Indonesian operating assets into a shell company set up by Rothschild.

The relationship has soured, and, in October, the Bakries bid $1.4 billion to reacquire operating assets that underpin Bumi, a move that would dismantle the group.

Earlier this month, Bumi said Rothschild had proposed an alternative. Sources familiar with the matter said that proposal would see Bakrie-supporting shareholders bought out, while Bumi would keep some coal assets, namely majority-owned Berau Coal.

Friedland – a billionaire famous for spotting the potential of some of the world’s top deposits from Voisey’s Bay nickel deposit in Canada to Mongolia’s Oyu Tolgoi – has agreed to invest $50 million, one of the sources said on Thursday.

Bumi and Rothschild both declined to comment. Friedland was not available for comment.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: