Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Januari 9, 2013

bumi @Rp650-680 … 09012013

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 10:00 am

… JELANG RUPSLB BUMI.PLC, para RAKSASA DUIT sedang BERTARUNG DI BALIK LAYAR, gw mah LIAT AJA GERAK GERIK HARGA SAHAM bumi yang gw INVES: PER TGL 09/01/2013 s/d sekira jam 10 pagi:
berburu BUMI 09012013blog+20% @bumi potential gain%

Ambisi Rothschild Merampas BUMI

Oleh: Latihono, Vinsensius, Mahbub J
ekonomi – Senin, 1 Oktober 2012 | 06:00 WIB

AWALNYA adalah sebuah surat yang dikirim manajemen Bumi Plc kepada Bursa Efek London. Isinya, Bumi Plc akan melakukan investigasi atas anak usahanya, PT Bumi Resources Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk.

Bumi Plc akan mengusut dugaan penyimpangan keuangan yang dilakukan Bumi Resources. “Kami akan menghubungi otoritas yang relevan di Inggris dan Indonesia untuk kepentingan itu,” demikian dikutip dari keterbukaan informasi Bumi Plc.

Surat Bumi Plc kepada Bursa Efek London itu akhirnya bikin heboh di Inggris dan Indonesia. Sampai-sampai CEO Bumi Plc, Ari S Hudaya mundur pada Senin pekan lalu. Ari, kabarnya, ingin lebih berkonsentrasi untuk mengembangkan Bumi Resources sebagai Presiden Direktur.

Kehebohan makin menjadi-jadi setelah Bumi Plc melaporkan bahwa salah satu penyimpangan itu adalah soal perubahan nilai dana pembangunan (development funds) di Bumi Resources sebesar US$ 247 juta dan nilai satu aset PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) sebesar US$ 390 juta. .

Nilai kedua aset itu diubah menjadi nol pada laporan keuangan Bumi Plc pada 31 Desember 2011 lalu. Hanya satu investasi senilai US$ 39 juta yang tidak diubah.

Informasi yang kemudian beredar luas ini, tentu saja mengejutkan otoritas dan investor pasar modal di Indonesia. Maklum, Bumi Resources adalah bagian dari kerajaan bisnis Grup Bakrie dan disebut-sebut sebagai produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Hanya saja yang agak aneh dan mengundang pertanyaan banyak kalangan, kenapa Bumi Plc tak mengirim surat serupa ke PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK)?

Sejatinya, Bumi Plc melakukan langkah yang sama, seperti yang mereka tempuh ke Bursa Efek London. Sebab, Bumi Resources adalah perusahaan publik yang tercatat di BEI. “Belum ada surat dari Bumi Plc terkait masalah ini,” kata Urip Budi Prasetyo, Direktur Pemeriksaan dan Pengawasan BEI kepada InilahREVIEW, Jumat pekan lalu.

Setali tiga uang, Bumi Resources. “Kami tidak menerima notice atau keterangan apapun yang menyebutkan akan dilakukannya investigasi,” ujar Dileep Srivastaya, Direktur & Corporate Secretary Bumi Resources.

Dileep bilang, perusahaannya patuh pada aturan pasar modal Indonesia. “Kami juga sudah melakukan komunikasi dengan Bapepam-LK dan BEI terkait masalah ini,” katanya. “Kami akan berusaha menuntaskan masalah ini secepatnya.”

Menurut Pjs Ketua Bapepam-LK, Ngalim Sawega, dalam laporan keuangan Bumi Resources tidak ditemukan adanya dana pengembangan yang diselewengkan. “Kami minta Bumi Plc, sebagai induk usaha Bumi Resources, memberikan penjelasan,” ujar Ngalim.

Permainan Rothschild

Kalau benar begitu, lantas ada apa di balik informasi yang disebarkan beberapa eksekutif di Bumi Plc? Manajemen PT Borneo Lumbung Energy, pemilik 23,8% saham Bumi Plc, belum tahu mengenai rencana investigasi tersebut. “Kami belum mengetahui persis. Tetapi kelihatannya ada kaitannya dengan Nat Rothschild,” ujar Kenneth Allan, Direktur PT Borneo Lumbung Energy.

Yang dimaksud Allan adalah Nathaniel Philip Victor James Rothschild. Asal tahu saja, Rothschild adalah pemegang 11% saham Bumi Plc. Banyak kalangan menduga, pemberitaan negatif terkait Bumi Plc dan Bumi Resources adalah upaya Rothschild untuk merampas perusahaan tersebut. “Transaksi terjadi awal tahun, tapi kenapa baru diperiksa sekarang?” ujar Reza Priyambada, analis PT Trust Securities.

Dengan menyebar isu negatif, kata Reza, Rothschild berharap saham Bumi Plc dan Bumi Resources akan turun. Nah, di saat itulah Rothschild akan menyuruh orang-orangnya untuk memborong saham kedua perusahaan tersebut.

Masuk akal. Bahkan, seorang sumber yang tahu persis soal ini mengatakan, penyelewengan dana yang dilakukan Bumi Resources sangat susah dicerna akal. Sebab, setiap perusahaan publik yang akan memakai dananya harus melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). “Jadi ini agak janggal. Apalagi masalah ini justru dibahas di luar dan ramai dikutip media massa. Pasti ada tujuan terselubung di balik ini,” ujar sumber kepada InilahREVIEW.

Memang, saham Bumi Resources yang berkode BUMI terus merosot. Pada penutupan pasar sesi I Jumat pekan lalu, saham BUMI tak berubah posisi di level Rp 730. Sepanjang tahun ini, harga saham BUMI sudah terhempas 66%. Sedangkan saham Bumi Plc mencatatkan penurunan 5,7% menjadi 147,1 sen poundsterling pada penutupan di London Stock Exchange, Kamis pekan lalu.

Manajemen Bumi Resources juga menyesalkan cara-cara yang ditempuh Bumi Plc dengan membocorkan masalah ini ke ruang publik. Menurut Dileep Srivastaya, Direktur & Corporate Secretary Bumi Resources, cara ini adalah upaya menghancurkan perusahaan tambang batubara itu di Indonesia.

“Situasi saat ini sangat disayangkan dan ini merupakan isu internal antarbeberapa pemegang saham yang akhirnya memilih untuk mempublikasikannya melalui media dengan motif yang dipertanyakan hingga saat ini,” jelas Dileep melalui email kepada Bloomberg.

Apa motifnya? Ya itu tadi, seperti dugaan Reza, upaya Rothschild untuk mengambil alih perusahaan tersebut. Maklum, Bumi Resources bukan perusahaan main-main. Saat ini, total cadangan batu bara Bumi Resources sebesar 2,8 miliar. Cadangan sebanyak itu, dimiliki anak usahanya, PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia (Arutmin). Tahun ini, Bumi Resources menargetkan produksi batu bara mencapai 75 juta ton, naik 13,6% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Ini Upaya Kedua

Kekayaan itu, tentu saja membuat banyak asing ngiler, tak terkecuali—mungkin—Rosthchild. Apalagi, bila ingin menghubungkan aksi salah satu keluarga bankir terkaya di dunia ini di awal berkongsi dengan Grup Bakrie.

Ceritanya begini. Pada November 2010, Rothschild lewat Vallar Plc meneken perjanjian jual beli saham dengan PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dan beberapa perusahaan dalam kelompok usaha Bakrie.

Dalam transaksi yang, dikenal dengan tukar guling saham PT Bumi Resources Tbk itu, Grup Bakrie melepaskan 5,2 miliar (25%) saham Bumi Resources di harga Rp 2.500 per saham, senilai Rp 13 triliun kepada Vallar Plc. Vallar barter dengan 90,1 juta saham baru Vallar seharga GBP 10 per saham kepada Bakrie. Kala itu, Bakrie menguasai 43% saham Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc memiliki 25% saham Bumi Resources.

Tak lama setelah transaksi tersebut, Vallar Plc berganti nama menjadi Bumi Plc. Kala itu, keduanya masih mesra di Bumi Plc, bahkan sempat menambah kepemilikan sahamnya. di Bumi Resources sebanyak 3,3% menjadi 32,1%.

Bumi Plc menukar 11,73 juta sahamnya dengan saham Bumi Resources sebanyak 676,65 juta saham milik Grup Bakrie. Penambahan saham di Bumi Resources secara bertahap itu diumumkan di keterbukaan informasi London Stock Exchange.

Waktu pun terus berjalan, niatan Bumi Plc menambah saham semakin mulus. Kini giliran saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) yang akan dilego. Nilainya mencapai Rp 17,52 triliun.

Jika transaksi tersebut terlaksana, maka Bumi Plc akan menguasai 75,1% saham di BRMS. Bumi Plc pun sudah siap untuk menerbitkan convertible bonds (CB) sebagai alat pembayaran.

Nilai dari surat utang itu sendiri diperkirakan US$ 2 miliar atau setara Rp 17 triliun jika memakai kurs Rp 8.500 per dolar AS. Surat utang itu juga bisa dikonversikan menjadi sebanyak-banyaknya 107,70 juta saham Bumi Plc.

Setelah melalui titik ini, Rothschild mulai melancarkan serangannya untuk merebut Bumi Plc dari Grup Bakrie. Pria yang biasa disapa Nat itu mulai menyebar isu mengenai potensi gagal bayar alias default Grup akibat krisis Eropa.

Dengan menyalahkan krisis Eropa, harga saham Bumi Plc di London Stock Exchange terus tergerus sehingga berpengaruh pada nilai saham yang sedang dijadikan jaminan atas pinjaman ke Credit Suisse. Emiten berkode BNBR itu pun mengambil langkah-langkah yang diperlukan, antara lain mengupayakan fasilitas pinjaman baru.

Saat itulah, Rothschild mulai mengintensifkan rencananya untuk mengambil alih Bumi Plc dari Grup Bakrie. Dikabarkan, Nat mengincar kursi Direktur Utama Bumi Plc dari tangan Grup Bakrie.

Grup Bakrie mencium rencana ini. Mereka lalu melakukan perlawanan dengan cara membatalkan rencana divestasi 75% saham BMRS. Waktu itu, Grup Bakrie beralasan kondisi pasar masih belum kondusif. Mendengar penjelasan itu, Rothschild marah besar.

Akhirnya, Grup Bakrie memilih menjual sekitar 23,8% sahamnya di Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN). Nilai transaksinya mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 8,5 triliun.

Setelah transaksi tersebut rampung, Grup Bakrie bersama Borneo akan menguasai 47,6% saham di Bumi Plc. Kembali, Rothschild mencoba berbagai cara untuk menggagalkan rencana ini supaya niatan menguasai Bumi Plc makin mulus.

Rothschild yang memiliki 11% saham di Bumi Plc itu mengkritik ketika Bumi Resources membayar utang ke China Investment Corporation (CIC) sebesar US$ 600 juta atau sekitar Rp 5,1 triliun.

Aksi protes itu dianggap sebagai salah satu rencana kudeta Bumi Plc yang baru oleh Rothschild. Tujuan utama dari protesnya ini adalah supaya kerjasama Grup Bakrie dan Borneo batal terlaksana. Bila batal, maka ini memudahkan bagi Rothschild masuk.

Lantas, benarkah ribut-ribut kali ini terkait dengan aksi Rothschild? Bisa jadi. Dugaan ini makin menguat setelah Carley Barker, analis dari Numis Securities, mengatakan, rencana investigasi oleh Bumi Plc terhadap Bumi Resources berhubungan dengan kisruh sebelumnya yang melibatkan Rothschild.

Kini, banyak orang sedang menonton, seorang pengusaha asing yang luar biasa kayanya sedang mencoba merampas salah satu aset paling berharga milik kelompok usaha asal Indonesia.
Kamis, 04 Oktober 2012 | 19:50 WIB
BEI Belum Puas Atas Paparan BUMI

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen memaparkan akan mengkaji laporan tertulis paparan publik insidentil yang diserahkan oleh PT Berau Coal Energy Tbk dan PT Bumi Resources Tbk yang diserahkan pada hari ini.

Menurut Hoesen, BEI meminta lima jawaban permasalahan untuk dijawab perusahaan tersebut mulai dari soal kewajiban utang perusahaan, audit investigasi Bumi Plc, performa keuangan perusahaan, pemberitaan terkait penurunan utang, serta penjualan saham kepada PT Mitratama Perkasa.

“Dari permintaan tersebut ada yang belum jelas,” kata Hoesen ketika dijumpai di kantornya, Kamis, 04 Oktober 2012.

Hal yang belum jelas tersebut adalah soal adanya investigasi independen yang dilakukan oleh Bumi Plc kepada kedua perusahaan tersebut. Sebab, Bumi Plc telah melaporkan akses tersebut dalam keterbukaan di London Stock Exchanges. Tetapi, berdasar paparan kemarin baik Bumi maupun Berau belum bisa menjawab pertanyaan tersebut.

“Jawabannya itu antara belum atau tidak ada investigasi tersebut, ini yang perlu diklarifikasi,” kata Hoesen. Memang, ia menyadari kemungkinan terdapatnya perbedaan sistem antara di London dan di sini. Tetapi, tetap saja untuk kepentingan publik semuanya harus dipublikasikan secara jelas.

Hoesen belum bisa memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menganalisa laporan tertulis tersebut. Ia tidak menutup kemungkinan BEI akan meminta BUMI untuk melakukan paparan publik kembali jika hasil analisis tidak sesuai dengan harapan.

GUSTIDHA BUDIARTIE
Jurus-Jurus Nathaniel Rothschild
Oleh Asih Kirana Wardani, Anastasia Lilin Y, Teddy Gumilar, Yuwono Triatmodjo – Rabu, 03 Oktober 2012 | 12:55 WIB

Kebesaran nama taipan perbankan Rothschild tecermin dari sepak terjang Nathaniel Rothschild, generasi keempat dinasti asal Inggris tersebut. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini saja, dia sudah membuat atraksi bisnis yang cukup spektakuler.

Pertama, tentu terkait pembentukan Vallar Plc, yang kelak berubah nama menjadi Bumi Plc. Perusahaan investasi yang tercatat di London Stock Exchange (LSE) 9 Juni 2010 lalu itu berdiri dengan tujuan untuk mengakuisisi perusahaan tambang batubara dan bijih besi.

Lewat pelepasan saham tersebut, Nathaniel sukses meraih dana segar hingga US$ 1,1 miliar. Dana itu sangat besar, mengingat Vallar Plc sebenarnya cuma perusahaan kerang alias tidak memiliki aset.

November 2011, Vallar Plc mengumumkan akan membeli saham dua perusahaan tambang batubara asal Indonesia, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Bumi Resources adalah perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia. Sementara, Berau Coal berada di urutan kelima terbesar.

Vallar pun berganti nama menjadi Bumi Plc, dengan kepemilikan saham 29% di Bumi Resources dan 85% di Berau Coal. Dus, Rothschild bisa mencetak US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27 triliun dalam bentuk kepemilikan saham di BUMI dan BRAU.
Juni 2011, Nat, begitu ia biasa disapa, membikin aksi serupa. Kali ini nama perusahannya, Vallares Plc. Nilai IPO kali ini bahkan mencapai US$ 2,2 miliar.

Sama seperti Vallar Plc, Vallares dilepas sahamnya kepada publik tanpa memiliki aset. Jika Vallar Plc berkutat pada sektor batubara, Vallares fokus pada bisnis minyak dan gas.

Pada September 2011, Vallares melakukan tukar guling saham dengan perusahaan migas asal Turki yang bernama Genel Energy. Selanjutnya, Vallares berubah nama menjadi Genel Energy Plc pada November dan Nathaniel menjadi pemilik 50% sahamnya. Tapi, agaknya Nat tak selamanya beruntung. Kejatuhan harga komoditas telah merontokkan nilai investasi di Bumi.

***Sumber : KONTAN MINGGUAN 52 XVI 2012, Laporan Utama
Kucurkan US$547,52 Untuk Eksplorasi, BUMI Bergerak Turun
Rabu, 03 Oktober 2012 10.30 WIB

(Vibiznews – Stock) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melaluis anak usahanya telah melakukan kegiatan eksplorasi. Dimana pada bulan Agustus, anak usahanya PT Kaltim Prima Coal melakukan pengeboran di Tania Dump, Elang North, Inul East dan Inul K West. Kegiatan eksplorasi itu sendiri telah menelan dana sebesar US$574,52 dari total anggaran eksplorasi sebesar US$737,81.

Sedangkan pada bulan September ini , pengeboran oleh Kaltim Prima Coal juga dilakukan di North Bengalon dan Tamara Pit serta Tania PN1. Namun untuk anak usaha lainnya seperti Gallo Oil Ltd di Blok R2 hanya melakukan kegiatan rutin sehingga belum mengeluarkan biaya eksplorasi. Begitu juga dengan blok Y3 di Yaman.

Mengalami konsolidasi dalam tiga hari terakhir, saat ini BUMI berada pada level 690 (3/10). Indikator stochastic memberikan sinyal konsolidasi di kisaran 40%. Begitu juga dengan indikator MACD, trend cedenrung bergerak flat dengan histogram positif yang tipis. Untuk trend tahunannya, BUMI berada pada kondisi bearish.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting berpendapat bahwa dalam beberapa hari kedepan trend cenderung masih bergerak menurun ke level terendahnya. Sedangkan dalam jangka panjang diperkirakan BUMI cenderung bergerak di dalam trend bearish. Dengan support pada level 610 dan resistance di level 770, disarankan untuk wait and see.

(Gani Prasetyo Aji/GPA/VBN)
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merasa dirugikan dengan adanya pemberitaan dari sejumlah
media internasional dan nasional mengenai tindakan penyidikan Bumi Plc atas perseroan.
Hal tersebut dikatakan Direktur Utama BUMI, Ari S. Hudaya dalam paparan publik (public expose)
di Jakarta, Selasa Sore (2/10).

Ari S. Hudaya mengatakan hingga saat ini, tidak ada penyidikan yang dilakukan oleh Bumi Plc
terhadap perseroan. Ia menilai, berbagai spekulasi yang berkembang belakangan ini terlihat
sangat sistematis dan ditujukan untuk menguasai aset BUMI. Oleh karena itu, pihaknya akan
tetap mempertahankan aset batubara terbaik dan terbesar di Indonesia ini. (warta ekonomi/dk)
BUMI akan Jual Aset Non Inti

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Selasa, 2 Oktober 2012 | 19:48 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan memonetisasi aset-aset non inti untuk memperkuat arus dana dan proses penurunan utang.

Langkah memonetisasi tersebut juga menjadi salah satu strategis perusahaan terkait penurunan peringkat utang dari B+ menjadi BB- oleh S&P dan Moody’s. Direktur PT Bumi Resources, Dileep Srivastava mengatakan, BUMI masih tetap akan bergerak di bidang batu bara.

Pihaknya berencana memonetisasi aset yang bukan bisnis inti perseroan. Hal itu dikarenakan pendapatan perseroan dari batu bara. Dengan memonetisasi aset non inti tersebut diharapkan dapat mengurangi utang perseroan.Kabar yang beredar adalah penjualan saham PT Fajar Bumi Sakti.

“PT Fajar Bumi Sakti belum dapat diumumkan tetapi ada opsi untuk jual. Ada diskusinya untuk ini,” tutur Dileep, dalam paparan publik PT Bumi Resources Tbk Selasa (2/10/2012).

Selain itu, perseroan menjual PT Mitratama Perkasa pada 24 Agustus 2012. Penjualan saham PT Mitratama Perkasa dilakukan dalam dua tahap. Perseroan menjual saham PT Mitratama Perkasa sekitar 30% dengan nilai US$1 pada 2012. Penjualan hanya US$1 tersebut karena untuk pengakhiran technical service agreement.

“Dengan penjualan tersebut kami dapat mengurangi beban usaha sekitar US$990 ribu per bulan yang seharus kita bayar selama-lamanya itu tidak lagi payable,” kata Dileep.

Selain melakukan memonetisasi aset non inti, perseroan juga memiliki strategis untuk meningkatkan kinerja perseroan antara lain menggenjot produksi batu bara 100 juta ton pada 2014. Dengan produksi yang digenjot dapat mampu meningkatkan EBITDA dalam rangka proses penurunan utang.

Penurunan utang hingga mencapai tingkat EBITDA sekitar 1x selama dua tahun ke depan. Perseroan juga diharapkan dapat mengurangi beban bunga atas pinjaman secara cepat.

Adapun total utang BUMI mencapai US$3,789.63 M pada 30 Juni 2012. Jumlah pinjaman entitas anak mencapai US$323.41 M. Total utang perseroan mencapai US$4,113.04M. Utang jatuh tempo pada 2012-2013 diperkirakan US$474,57 juta. [hid]

Strategi utang menjadi obat kuat saham BUMI
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 02 Oktober 2012 | 11:57 WIB

kontan

JAKARTA. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pagi ini melesat di zona hijau. Pada transaksi pagi, saham perusahaan batubara ini sempat bertengger di level Rp 770. Itu artinya, saham BUMI melonjak 5,5% dari level pembukaan di posisi Rp 730. Pada pukul 11.50, saham BUMI tercatat naik 2,74% menjadi Rp 750.

Data Bloomberg menunjukkan, tiga sekuritas yang paling banyak memborong saham ini di antaranya: eTrading Securities senilai Rp 8,538 miliar, Mandiri Sekuritas senilai Rp 5,323 miliar, dan Panin Sekuritas senilai Rp 3,499 miliar.

Pergerakan positif saham BUMI disinyalir terkait dengan pernyataan perusahaan mengenai strategi untuk menurunkan tingkat utangnya pada Keterbukaan Informasi di Bursa Efek Indonesia kemarin.

Berikut strategi yang akan dilakukan BUMI:

– Mencapai produksi batubara 100 juta ton pada tahun 2014 yang diharapkan mampu meningkatkan EBITDA dalam rangka proses penurunan utang.

– Penurunan utang (deleveraging) hingga mencapai tingkat EBITDA sekitar 1x selama 2 tahun ke depan.

– Memonetisasi aset-aset non-core untuk memperkuat arus dana dan mempercepat perkembangan aset-aset tersebut dan proses
penurunan utang (deleveraging).

– Mengurangi beban bunga atas pinjaman secara cepat.
DUGAAN PENYELEWENGAN KEUANGAN BUMI
Dileep: Lihat fakta dan jauhi rumor tentang BUMI
Oleh Astri Kharina Bangun – Selasa, 02 Oktober 2012 | 15:12 WIB

kontan

JAKARTA. Public expose PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya dimulai. Tema utama penyelenggaraan public expose ini adalah tanggapan perusahaan mengenai tudingan Bumi Plc atas dugaan penyelewengan keuangan terhadap BUMI.

Presiden Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava tampak kecewa dengan adanya tudingan itu. “Kami tidak tahu siapa yang mendalangi hal ini. Kami menyesalkan hal ini terjadi. Sebagai pemimpin perusahaan tambang terbesar di dalam negeri, kami harus bersikap profesional. Kami memenuhi permintaan regulator. Stick to the fact stay away from rumor,” jelas Dileep di hadapan awak media dalam dan luar negeri, Selasa (2/10).

Pada kesempatan itu, Dileep juga menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada investigasi yang dilakukan terhadap BUMI hingga saat ini. “Kami juga sama dengan Anda yang hadir di ruangan ini mengenai pengumuman Bumi Plc. Karena itu kami minta klarifikasi dari Bumi Plc. Kami tidak mau berspekulasi dengan rumor,” paparnya.

Dia berharap, publik atau pelaku pasar dapat objektif dengan performance BUMI. Dileep juga menegaskan, saham BUMI termasuk saham yang paling likuid dan sangat transparan dalam keuangan.
Ruangan Tempat Paparan BUMI Soal Penyimpangan Dana Penuh Sesak
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Selasa, 02/10/2012 14:56 WIB
Jakarta – Paparan publik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) hari ini di Hotel Four Season berlangsung ramai. Ruangan Prada yang menjadi tempat pertemuan sangat sesak oleh peserta yang hadir.

Pantauan detikFinance, mereka yang datang lebih banyak berasal dari investor, meski beberapa di antaranya analis pasar modal.

Salah seorang investor mengatakan, tempat penyelenggaraan paparan publik sangat kecil. Tidak mampu menampung jumlah peserta yang penasaran atas penjelasan perusahaan tambang grup Bakrie tersebut.

“Ruangannya kecil nih, tidak bisa menampung. Pindah saja ke tempat yang lebih besar,” ujar investor tersebut kepada detikFinance, Selasa (2/10/2012).

“Masak BUMI saham sejuta umat, begini,” tambahnya.

Seperti diketahui, BUMI berniat membeberkan isu mengenai tudingan penyelewengan dana oleh induk usahanya yang terdaftar di bursa London, Bumi Plc.

(wep/ang)
BUMI punya strategi khusus untuk menurunkan utang
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 02 Oktober 2012 | 07:07 WIB
kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menghadapi banyak masalah dalam beberapa pekan terakhir. Setelah dituding melakukan penyelewengan dana oleh Bumi Plc, outlook peringkat utang BUMI diturunkan oleh sejumlah perusahaan pemeringkat internasional. Mereka adalah Moody’s Investor Service dan Standard & Poor’s.

Pemangkasan outlook peringkat utang tentunya akan berdampak pada upaya BUMI untuk mendapatkan akses ke pasar modal. Di mana investor mempertanyakan kemampuan perusahaan batubara ini dalam mengembalikan pinjamannya.

Terkait hal itu, manajemen BUMI sudah menyiapkan serangkaian strategi. Dalam Keterbukaan Informasi di Bursa Efek Indonesia, berikut strategi yang akan dilakukan BUMI:

– Mencapai produksi batubara 100 juta ton pada tahun 2014 yang diharapkan mampu meningkatkan EBITDA dalam rangka proses penurunan utang.

– Penurunan utang (deleveraging) hingga mencapai tingkat EBITDA sekitar 1x selama 2 tahun ke depan.

– Memonetisasi aset-aset non-core untuk memperkuat arus dana dan mempercepat perkembangan aset-aset tersebut dan proses
penurunan utang (deleveraging).

– Mengurangi beban bunga atas pinjaman secara cepat.
Samin Tan: Hubungan Saya dan Bakrie Baik-Baik Saja
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Senin, 01/10/2012 18:17 WIB
Jakarta – Pemilik PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN), Samin Tan menyatakan hubungannya dengan keluarga Bakrie baik-baik saja dan tidak berubah. Menurutnya, kabar yang mengatakan bahwa dirinya pecah kongsi dengan grup Bakrie hanyalah rumor.

“Hubungan kami (dengan keluarga Bakrie) baik-baik saja dan tidak ada yang berubah. Tidak benar kami pecah kongsi,” ujar Samin Tan saat dihubungi wartawan, Senin (01/10/2012).

Kabar retaknya hubungan antara Samin Tan dengan keluarga Bakrie bermula dari kisruh Bumi Plc yang mendadak mengeluarkan pengumuman rencana investigasi internal PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada 24 September 2012.

Media ramai membicarakan asal muasal kisruh Bumi Plc versus BUMI tersebut. Sebagian mengatakan, publikasi besar-besaran rencana investigasi internal tersebut, merupakan upaya Nathaniel Rothschild untuk menurunkan harga saham Bumi Plc di London dan BUMI di Jakarta.

Sasarannya, mendorong persepsi sentimen negatif BUMI ke level terendah, kemudian mengajukan rencana penjualan seluruh kepemilikan Bumi Plc di BUMI sebesar 29%.

Pekan lalu, Bumi Plc memang mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan tengah mengkaji penjualan 29% saham BUMI milik Bumi Plc karena alasan beban utang. Sejumlah analis menilai, rencana penjualan BUMI di tengah sentimen negatif merupakan sebuah langkah tidak wajar.

Sebab, dengan sentimen negatif dan penurunan harga BUMI yang cukup dalam akibat rencana investigasi tersebut, tentu membuat Bumi Plc tidak akan mendapatkan harga jual yang bagus dalam rencana penjualan BUMI.

“Alasan Nat Rothschild mendorong publikasi sentimen negatif itu adalah untuk mendorong harga saham Bumi Plc dan BUMI ke titik terendah. Dengan demikian, Nat mendapatkan 2 bargaining position yang kuat. Pertama, Nat bisa membeli BUMI melalui perusahaannya yang lain di harga murah. Kedua, mendesak Samin Tan bergabung dengan Nat untuk mendesak penjualan saham BUMI milik Bumi Plc,” ujar seorang eksekutif di lantai bursa.

Eksekutif tersebut menjelaskan, saat ini pemegang saham Bumi Plc sebagai berikut :

Bakrie Brothers (BNBR) 23,8%.
Recapital 9,8%.
Samin Tan (BORN) 23,8%.
Nat Rothschild 11%.
Publik 31,6%.

Eksekutif itu menjelaskan, bahwa pada dasarnya grup Bakrie (BNBR) dan Recapital satu suara, sehingga memiliki kekuatan dalam RUPS Bumi Plc sebesar 33,6%.

“Jika Nat berhasil menggandeng Samin Tan, maka duet Nat dan Samin Tan akan memperoleh suara sebesar 34,8% dalam RUPS Bumi Plc, sehingga upaya Nat menggolkan penjualan BUMI dari Bumi Plc untuk dipindahtangankan ke perusahaannya yang lain bisa berhasil,” ungkap sumber tersebut.

Menurutnya, Samin Tan memang sempat galau dan mempertimbangkan tawaran Nat. Apalagi, penurunan saham Bumi Plc dan BUMI yang begitu tajam telah memangkas investasi Samin Tan di Bumi Plc dari sebesar US$ 1 miliar menjadi US$ 140 juta saja.

“Namun kelihatannya Samin Tan membatalkan niatnya bergabung bersama Nat,” jelas Eksekutif tersebut.

Komisaris BUMI Nalinkant Rathod ketika dikonfirmasi juga mengatakan bahwa hubungan antara grup Bakrie dengan Samin Tan baik-baik saja.

“Kami ini orang Timur. Kami memandang bahwa hubungan pertemanan jauh lebih penting ketimbang uang. Grup Bakrie dengan Samin Tan telah berkawan selama lebih dari satu dekade, kabar pecah kongsi itu hanyalah kabar miring saja,” jelas Nalinkant.

Sementara mengenai dugaan rencana Hostile Takeover BUMI oleh Nat Rothschild, pengamat Ekonomi Universitas Pancasila Agus S Irfani menduga ada permainan dari Bumi Plc sendiri untuk mendapatkan saham BUMI di harga rendah.

“Logikanya begini, kalau pemilik perusahaan melihat adanya penyelewengan, umumnya dilakukan peneguran secara tertutup, karena memang selayaknya pemilik menjaga citra perusahaannya. Dalam kasus ini, kenapa malah di-blow up ke publik melalui media massa? Saya mencurigai ada permainan Bumi Plc sendiri disini, untuk menurunkan harga saham BUMI lalu membelinya dari bawah,” jelas Agus saat dihubungi.

Menurut Agus, kemunduran CEO Bumi Plc Ari Saptari Hudaya menunjukkan bahwa benar sedang terjadi perselisihan kembali antara kelompok usaha Bakrie dengan Rothschild di Bumi Plc. “Ini mengingatkan kita Nathaniel Rothschild, pendiri Bumi Plc, sempat berupaya take over posisi CEO beberapa waktu lalu. Rothschild ingin mendepak orang-orang Bakrie dari Bumi Plc,” papar Agus.

Sayangnya, mantan Presiden Direktur Bumi Plc Ari Saptari Hudaya menolak berkomentar ketika dikonfirmasi. “Saya sudah bukan direksi Bumi Plc, bukan wewenang saya menjawab pertanyaan itu,” ujar Ari.

Selama periode 19 – 24 September 2012, harga saham Bumi Plc anjlok tajam 30,53% dari 282 pence menjadi 195,9 pence. Penurunan tajam ini jauh lebih besar dari penurunan harga-harga saham serupa di bursa London. Saham Xstrata, Rio Tinto, Anglo American dan Glencore, masing-masing hanya turun 5,37%, 3,82%, 4,72% dan 3,02% pada periode yang sama.

“Kelihatannya isu ini dihembuskan untuk mendapatkan harga murah. Itu terlihat dari pemberitaan terkini dari Bumi Plc yang berencana menjual kepemilikannya di BUMI,” jelas Agus.

(wep/ang)

Orang Terkaya RI Labil, Bela Bakrie atau Rothschild
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Senin, 01/10/2012 13:37 WIB
Jakarta – Samin Tan, partner lokal grup Bakrie dalam kepemilikannya di perusahaan investasi asal Inggris Bumi Plc, tengah labil. Niat Samin Tan, atas permintaan Rothschild, untuk melakukan audit investigasi ke PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ternyata berdampak luas. Nilai aset investasi Samin Tan melalui PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN) juga merosot.

Kejatuhan saham Bumi Plc otomatis menjatuhkan nilai aset BORN menjadi US$ 140 juta dari sebelumnya US$ 1 miliar. Hal ini semakin dilematis karena investasi US$ 1 miliar BORN di Bumi Plc didapat dari hasil utangan dari Standard Chartered Bank. Kini nilai saham Bumi Plc hasil pembelian Samin Tan tersisa US 1,3 pound dari sebelumnya US 10,9 pound.

“Samin Tan tidak memperhitungkan kekuatan grup Bakrie. Kini ia makn terpojok dan bingung,” kata sumber detikFinance yang ada di lingkaran Bakrie, Senin (1/10/2012).

Kabar terakhir, Samin Tan mencoba mendekat kembali ke partner lamanya tersebut. Samin Tan mencoba berkomunikasi dengan Nirwan Bakrie namun belum diketahui hasil pembicaraan antara executive tersebut.

Persetujuan audit investigasi di BUMI oleh Samin Tan, yang mulai tersiar awal pekan lalu, ternyata membuat grup Bakrie marah. Bahkan Ari Hudaya, Presiden Direktur BUMI menyatakan mundur dari jajaran direksi Bumi Plc, meski dalam keterangan resminya tidak menyebut alasan ini.

Kini kunci pertarungan ada di tangan Samin Tan. Jika ia memilih kembali setia bermitra kepada Bakrie, maka Nathanael Rothschild harus menghadapi kekuatan dua pengusaha tambang batu bara terbesar di Indonesia ini.

Pertarungan Rothschild dengan Bakrie memang bukan pertama kali terjadi. Perselisihan awal terjadi diantara keduanya di awal 2012. Ujungnya Bakrie memenangkan perterungan ronde awal dan Rothschild ditendang dari Co-Chairman Bumi Plc.

Ronde kedua pertarungan pun dimulai. Rothschild yang menguasai 12% saham Bumi Plc kini berniat mengusai aset batubara milik Bakrie dengan mengajak koalisi Samin Tan. Cara yang ditempuh Rothschild adalah menurunkan harga saham perusahaan dan menahan kucuran dana segar yang sudah disiapkan atau yang sering disebut hostile takeover.

Usai harga berada di level rendah, Rothschild akan membeli saham Bumi Plc di pasar sekunder dengan menggunakan nominee bayangan. Jadi, siapakah yang memenangi pertarungan ronde dua ini?

(wep/ang)
Besok, BUMI akan gelar public expose insidentil
Oleh Barratut Taqiyyah – Senin, 01 Oktober 2012 | 13:26 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan segera menggelar public expose. Berdasarkan Keterbukaan Informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), public expose ini akan diselenggarakan besok, 2 Oktober 2012.

“Penyelenggaraan public expose akan berlangsung di Four Season Hotel Jakarta pukul 14.30,” jelas manajemen BUMI.

Adapun pelaksanaan public expose ini dalam rangka insidentil sebagai pelaksanaan surat Bursa dengan nomor surat S-06559. Kabarnya, materi pblic expose akan disampaikan pada hari ini.
Minggu, 30 September 2012 | 05:28 WIB
Motif ”Serangan” ke Bumi Resources Dipertanyakan

TEMPO.CO, Jakarta – Juru bicara Bumi Resources, Dileep Srivastava, mengungkapkan, pihaknya sama sekali tak paham motivasi Bumi Plc mengumumkan dugaan penyimpangan di anak usahanya, Bumi Resources, melalui media massa. “Khususnya mekanisme publik yang digunakannya untuk menghadapi masalah internal beberapa pemegang saham,” kata Dileep kepada Tempo, Sabtu, 29 September 2012.

Pada 24 September lalu, Bumi Plc mengumumkan penyelewengan dana di dua anak usahanya, Bumi Resources dan Berau Coal Energy. Perusahaan investasi yang tercatat di bursa efek London itu melihat kemungkinan penyimpangan dana senilai lebih dari US$ 500 juta di Bumi Resources. Perusahaan itu juga meminta kantor hukum di London menginvestigasi secara independen terhadap dugaan tersebut.

Setelah Bumi Plc mengumumkan penyelewengan tersebut, harga saham Bumi Plc di Bursa Efek London dan Bumi Resources di Bursa Efek Indonesia jungkir balik. Jatuhnya kedua saham itu secara tidak langsung menyeret jatuh saham-saham emiten kelompok Bakrie lainnya.

“Mengapa sebuah perusahaan mau memberikan keterangan kepada media yang justru merusak nilainya sendiri dan perusahaan di mana ia berinvestasi?” kata Dileep.

Menurut dia, persoalan Bumi Resources tak beda jauh dengan kondisi pada Oktober 2011 ketika surat “rahasia” sampai ke redaksi koran di Inggris. “Bedanya hanya mediumnya. Sebelumnya, aktivis investor menggunakan FT sebagai medium untuk menyerang Bumi, sekarang yang digunakan kantor hukum,” ucapnya.

Dileep menegaskan, Bumi selalu mengikuti prosedur dan regulasi. Ia pun menolak bereaksi terhadap informasi yang tidak jelas, apalagi rumor. “Kami tak akan berspekulasi,” katanya. Saat ditanya tentang respons Bumi Resources terhadap “serangan” dan investigasi internal yang berencana dilakukan Bumi Plc, Dileep kembali berujar, “Mari tidak berspekulasi.”

Setelah pengumuman yang mengejutkan pekan ini, pendiri Bumi Plc, Nathaniel Rothschild, berjanji pihaknya akan segera menyelesaikan persoalan di internalnya tersebut. Pada perdagangan Jumat, saham Bumi Resouces tercatat tetap 2017s di posisi 77/79 and Berau Coal Energy 2017s di posisi 93.5/94.5.

Sebelumnya, Bapepam-LK menyatakan tak menemukan indikasi penyimpangan dana di Bumi Resources. Ketua Bapepam-LK Ngalim Sagewa menginginkan Bumi Plc memperjelas dugaan penyelewengan dana yang dimaksud.

REUTERS | MARTHA THERTINA
Bapepam: Dugaan Sementara, Laporan Keuangan BUMI Sesuai PSAK
Jumat, 28 September 2012 | 18:49

Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) belum menemukan kesalahan dalam penyelidikan sementara terkait pencatatan di laporan keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang disinyalir melanggar ketentuan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

“Disinyalir itu pencatatan benar atau tidak. Tapi, setelah kami periksa akuntansinya benar sesuai dengan PSAK,” kata Plt Ketua Bapepam-LK Ngalim Sawega di Jakarta, hari ini.

Ngalim mengatakan, bila terdapat perbedaan metode dalam pencatatan laporan keuangan yang meragukan, dapat ditanyakan langsung kepada Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

“IAI yang menjelaskan pencatatan yang benar seperti apa. Bagi kami, saat ini pemeriksaan sementara benar,” ujarnya.

Sebagai informasi, Bumi Plc yang menguasai 29 persen kepemilikan Bumi Resources, akan menyelidiki dugaan penyimpangan laporan keuangan.

Bumi Plc telah menyewa pengacara untuk memeriksa penghapusan dana pengembangan dan eksplorasi aset senilai US$637 juta.

Penulis: Ivan Dasa Saputra/ Whisnu Bagus
Manajemen BUMI akan Lakukan Paparan Publik

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Minggu, 30 September 2012 | 12:15 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Manajemen PT Bumi Resources Tbk mengaku akan mematuhi semua kewajiban sesuai peraturan pasar modal dan memenuhi permintaan regulator termasuk paparan publik.

Hal itu disampaikan Direktur PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava, saat dihubungi akhir pekan ini. “Kami akan mematuhi semua kewajiban peraturan pasar modal Indonesia dan permintaan dari regulator kami termasuk paparan publik insisdental,” tutur Dileep.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya tetap fokus pada rencana bisnisnya. Perseroan berencana untuk meningkatkan kemampuan produksi mencapai 100 juta ton pada 2014. Selain itu, pihaknya akan membayar utang dengan menjual aset, dan mengurangi biaya bunga sehingga dapat mencatatkan keuntungan secepat mungkin.

Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen mengatakan, pihaknya telah meminta manajemen PT Bumi Resources Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk untuk melakukan paparan publik.Hoesen mengharapkan, paparan publik tersebut dapat memberikan informasi jelas dan mengklarifikasikan kabar yang sekarang beredar. “Kami telah meminta BUMI untuk melakukan public expose untuk menjelaskan kepada publik. Kami akan melihat secara keseluruhan,” kata Hoesen.

Adapun kabar audit investigasi yang dilakukan oleh Bumi Plc kepada anak usahanya yaitu PT Bumi Resources Tbk telah membuat harga saham BUMI melemah pada awal pekan lalu.

Pada perdagangan saham Jumat (28/9/2012), saham BUMI ditutup ke level Rp730 per saham dengan volume perdagangan saham 104,52 juta lembar saham.

Kisruh BUMI, Samin Tan dan Bakrie Pecah Kongsi?
Jumat, 28 September 2012 | 06:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kantor berita Reuters melaporkan, satu kemungkinan skenario lagi bagi kemelut yang melanda Bumi Plc. Skenario itu adalah: Samin Tan akan pecah kongsi dengan Grup Bakrie.

Menurut setengah lusin sumber anonim Reuters yang mengetahui masalah ini, ketegangan antara Grup Bakrie dan Tan yang sama-sama memiliki saham di Bumi Plc makin terasa sejak Bumi Plc menyelidiki keanehan finansial di anak usahanya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Samin Tan merupakan pembeli 23,8 persen saham Bumi Plc senilai 1 miliar dollar AS. Sembilan bulan setelah pembelian itu, investasi Tan tinggal 140 juta dollar AS. Sebab, saham Bumi Plc anjlok 80 persen.

“Ia sangat marah pada Bakrie, seperti Anda juga akan marah jika Anda meminjam 1 miliar dollar AS untuk berinvestasi di sebuah perusahaan, dan menemukan bahwa Anda berada di dalam kekacauan,” kata seorang sumber.

Sumber lain di Jakarta membisikkan bahwa upaya mendamaikan Tan dan Bakrie ditempuh sejak Rabu malam. Namun, belum jelas apakah upaya itu bisa berhasil.

Reuters mengontak Bakrie dan Tan, tetapi keduanya tak merespons. Sumber-sumber di London dan Jakarta menolak diidentifikasi karena mengaku masalah ini sensitif atau mereka tak dalam tempatnya bicara pada media.

Sumber-sumber itu mengatakan, masih belum jelas bagaimana Bakrie dan Tan memecahkan sengketa mereka. Sumber-sumber di Jakarta mengatakan, kemungkinannya lebih pada negosiasi ketimbang mengambil jalur hukum.

Jika upaya mendamaikan hubungan keduanya gagal, mereka akan berjalan sendiri-sendiri, memecah kemitraan di Bumi Plc yang dimiliki melalui dua perusahaan patungan, kata dua orang sumber Reuters. Bakrie dan Tan masing-masing mengantongi separuh dari 47,6 persen saham di Bumi Plc.

“Akan ada pertarungan pahit sampai akhir,” ujar salah satu sumber.

Sumber itu mengatakan, Bakrie juga khawatir Tan akan bergabung dengan Nat Rothschild yang kini memiliki 12 persen saham Bumi Plc.

“Ini Rothschild yang akan menyerang kembali,” kata sumber kedua yang dekat dengan perusahaan. Namun, sumber-sumber di London menyangkal adanya keterlibatan dari Rothschild.

Sekadar menyegarkan ingatan, Rothschild yang juga rekan pendiri Bumi Plc pernah berseteru dengan keluarga Bakrie. Maret lalu, Tan dan Bakrie mencopot Rothschild dari posisi co-chairman setelah surat Rothschild yang meminta pembersihan radikal terhadap Bumi Plc bocor. Tan kemudian naik menjadi chairman Bumi Plc.

Prahara Bumi Resources

Merebaknya sengketa Bakrie dan Tan tak lain berakar pada angka-angka, kata sumber Reuters lagi. Perusahaan Tan, PT Borneo Lumbung Energi Tbk (BORN), tidak punya utang, sebelum tahun lalu meminjam dana 1 miliar dollar AS dari Standard Chartered untuk mengakuisisi saham Bumi Plc.

Tan kini berusaha menjual 20 persen saham BORN untuk mencari dana tunai.

Tetapi, sumber-sumber Reuters mengatakan bahwa friksi apa pun tak mungkin memaksa Bumi Plc mengakhiri hubungannya dengan Bumi Resources.

“Spin off saat ini tidak dalam pertimbangan,” ujar sumber yang dekat dengan Bumi Plc.

Sebelumnya, muncul kabar bahwa Bumi Plc bakal menjual saham di Bumi Resources dan berfokus mengelola anak usahanya yang lain, yaitu PT Berau Coal Tbk (BRAU).

Di saat yang sama, berita penyelidikan keuangan BUMI tentu akan memotong akses Grup Bakrie mencari dana lewat pasar modal. Seorang bankir mengatakan, masalah ini akan memaksa Bakrie menjual aset-asetnya untuk memangkas level utangnya.

James Kallman, Managing Partner Mazars Indonesia, yang menjadi auditor Bumi Resources, menyatakan keyakinannya bahwa Bumi Resources telah mengungkapkan data yang benar.

“Tak ada keraguan lagi bahwa ada sejumlah aset berisiko. Kami harus membuka apa pun yang harus dibuka…. Kami percaya itu sudah dilakukan,” ujarnya.

Saat ini Bumi Resources memiliki total utang senilai 3,95 miliar dollar AS. Sebesar 400 juta dollar AS akan jatuh tempo pada tahun 2013. (Rika Theo/Kontan)

Editor :
Erlangga Djumena

BEI Tak Ingin Perselisihan Rothschild-Bakrie Dimanfaatkan Pihak Tertentu
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Jumat, 28/09/2012 15:20 WIB
Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) akan hati-hati mengawal audit investigasi yang dilakukan Bumi Plc kepada anak usahanya, perusahaan batubara di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Yang bisa dilakukan otoritas pasar modal adalah menunggu hasil audit dari Bumi Plc dan terselenggaranya paparan publik manajemen BUMI paling lambat Selasa (2/10/2012) pekan depan.

Bursa tidak ingin informasi liar yang kini beredar, bertambah keruh dan dimanfaatkan oleh sekelompok. “Kita memang minta BUMI untuk PE untuk menjelaskan pertanyaan publik. Kita tunggu minggu depan,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen di kantornya, Jakarta, Jumat (28/9/2012).

“Kita melihat secara keseluruhan. Ada yang memanfaatkan nggak situasi ini, untuk membeli di harga yang rendah? Kita lihat harus hati-hati,” tambahnya.

Bursa mengaku belum menemukan motif di balik informasinya yang bergerak liar. Penjelasan secara resmi oleh manajemen BUMI diharapkan mengklarifikasi rumor-rumor tersebut.

“Kita ngggak tahu motifnya apa, maka kita kasih waktu. Jangan digiring menjadi tidak objektif. Dipaksa harga sahamnya diturunkan ke bawah oleh kita,” ucapnya.

“Isu Bumi Plc melakukan audit investigasi boleh saja, domainnya mereka. Malah dia sudah melakukan tindakan bagus untuk klarifikasi dan unjuk auditor. BUMI juga minta klarifikasi ke Bumi Plc,” paparnya.

Kabar audit investigasi yang dilakukan Bumi Plc ramai dibicarakan pelaku pasar sejak awal pekan lalu. Saham Bumi Plc dan BUMI dalam beberapa hari terakhir pun langsung merosot, terkena sentimen negatif.

Informasi terkini menyebut Rothschild berusaha memecah kongsi grup Bakrie dengan pemilik PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN), Samin Tan. Tan merasa investasinya di Bumi Plc merugi, karena uang ditanamkan sebelumnya US$ 1 miliar kini menurun hingga US$ 140.

Samin Tan dan Bakrie tengah bernegosiasi satu sama lain untuk menyelesaikan pertengkaran kecil ini. Belum diketahui hasil dari pertemuan keduanya.

(wep/ang)

JAKARTA | Wed Sep 26, 2012 5:46am EDT

(Reuters) – The Indonesian coal miner accused of financial irregularities by London-listed Bumi Plc (BUMIP.L), a coal venture founded by financier Nathaniel Rothschild, promised on Wednesday to act rapidly to resolve the matter as its credit rating was cut.

Bumi Plc launched a probe into potential irregularities in more than $500 million of funds at its Indonesian subsidiaries, including its 29-percent owned Bumi Resources (BUMI.JK).

The investigation will weaken Bumi Resources’ position in capital markets in the next year, Standard & Poor’s Ratings Services said, adding the firm had to refinance $400 million in 2013. It cut the rating one notch to B plus from BB minus.

Bumi Resources is Asia’s biggest exporter of thermal coal and the flagship company of the influential Indonesian Bakrie family. The Bakries, with other Indonesian investors, in turn control Bumi Plc.

“The management of PT Bumi Resources Tbk will be acting to resolve these matters as expeditiously as possible for benefit of all stakeholders and will make further announcements as appropriate in due course,” it said in a statement.

The company would comply with all its obligations under Indonesian law, the statement said. Bumi Resources had received no advance notice of the investigation, it said.

Bumi Resources shares have fallen just over 1 percent this week, while Bumi Plc has dropped 7.8 percent. The London-listed firm had fallen close to 25 percent on Monday.

Bumi Plc has highlighted irregularities of more than $500 million following allegations from a whistleblower. It has commissioned London law firm Macfarlanes to investigate.

But if the probe extends to loans to related parties as well as development funds, the sum in question could total $1.1 billion, said a source familiar with the investigation.

Bumi Resources had long-term debts of $3.9 billion at the end of June, Thomson Reuters data shows.

S&P said it would keep Bumi Resources ratings on negative watch pending the outcome of the investigation. On Tuesday, another ratings agency, Moody’s Investors Service, revised the outlook on the company’s credit status to negative from stable.

Bumi Plc was listed in London last year via a reverse takeover engineered by Rothschild, the 41-year-old scion of the centuries-old European banking dynasty, in a $3 billion deal with the Bakrie family.

They aimed to create an international coal-mining titan with mines in Indonesian Borneo, and one of the biggest listed companies on the London exchange.

But the partnership has steadily unraveled. Rothschild’s influence has waned since his role as co-chairman ended in March following public rancor with the Bakries and Bumi’s new co-chairman, Samin Tan. The Bakries and Tan now own 47 percent.

In November, Rothschild called for a “radical cleaning up” of the balance sheet and corporate culture at the heavily indebted Bumi Resources.

In a letter written to Ari Hudaya, then-CEO of both Bumi Plc and Jakarta-listed Bumi Resources, Rothschild expressed concern his Indonesian partners remained “over-leveraged”.

Hudaya resigned on Monday from Bumi Plc’s board after the firm launched its investigation into Bumi Resources’ so-called business development assets. Sources familiar with the investigation estimate those assets’ value at $293 million.

(Writing by Matthew Bigg; Editing by Clarence Fernandez and Neil Fullick)
Bumi Plc Niat Lepas BUMI Karena Banyak Utang
Angga Aliya – detikfinance
Rabu, 26/09/2012 14:30 WIB
Jakarta – Dewan Komisaris dan Direksi Bumi Plc sedang mengkaji berbagai cara untuk meningkatkan harga sahamnya sekaligus kepercayaan investor menyusul investigasi dan tuduhan adanya penyimpangan dana di salah satu anak usahanya, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Salah satu caranya adalah dengan melakukan merger antara BUMI yang kepemilikan sahamnya sebanyak 29,2%, dengan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) yang saat ini dipegang 85%.

Akan tetapi, masih ada satu cara lagi yaitu melepas seluruh kepemilikan di BUMI dan fokus untuk mengembangkan BRAU. Demikian hal itu dikemukakan oleh sumber yang dikutip Financial Times, Rabu (26/9/2012).

Investigasi yang dilakukan oleh penyelidik independen itu benar-benar menjadi pukulan yang telak bagi Bumi Plc yang tercatat di bursa London. Nama baik Nat Rothschild juga dipertaruhkan, pasalnya ia yang pertama kali mengajak grup Bakrie untuk berkongsi dan mengubah Vallar Plc menjadi Bumi Plc.

Jajaran Komisaris dan Direksi Bumi berharap bisa mendapatkan laporan hasil penyelidikan independen itu dalam beberapa pekan ke depan. Salah satu tujuan penyelidikan adalah apakah dana pinjaman Bumi yang didapat dari pihak asing benar-benar digunakan untuk beberapa proyek yang sedang berjalan.

“Pada dasarnya, kami punya aset tambang batubara berkalori tinggi di Indonesia dan kami juga sudah berniat untuk memberikan tata kelola perusahaan yang baik dan berstandar tinggi,” kata Kepala Hubungan Masyarakat Bumi Plc Nick von Schirnding.

“Memang ada beberapa masalah yang harus dihadapi, tapi struktur kepemilikan tetap menjadi isu utama, ini merupakan hal yang harus kami selesaikan dalam beberapa bulan ke depan sebelum memberikan strategi jangka panjang,” ujarnya.

Jika memang, Bumi Plc berniat melepas BUMI, maka hal ini tidak akan mudah dilakukan. Pasalnya, struktur kepemilikan di BUMI sangat rumit dan melibatkan beberapa kepemilikan saham silang di antara beberapa perusahaan.

Opsi lain yang bisa dilakukan adalah menjual BUMI kepada pihak ketiga dan hasilnya dibagi rata di antara pemegang saham, yaitu Rothschild, Grup Bakrie dan Grup Samin Tan.

Samin Tan bergabung di perusahaan kongsi Bakrie-Rothschild itu setelah membeli 23,8% saham Grup Bakrie di Bumi Plc senilai US$ 1 miliar pada Oktober 2011 silam. Kini, Bakrie-Samin Tan menguasai kepemilikan mayoritas Bumi Plc sebanyak 47,6%.

Kemarin, Saham Bumi Plc di bursa London terkena koreksi tajam setelah diterpa isu penyimpangan dana di anak usahanya, yaitu BUMI. Sahamnya anjlok 48,3 pence sterling (Rp 7.500) hanya dalam sehari.

(ang/dnl)
KEMELUT BUMI: Bapepam-LK Melihat Ada Perselisihan Internal Dengan Induk Usaha

Dewi Andriani, Hanum KD

Rabu, 26 September 2012 | 15:08 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA : Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK)
melihat ada indikasi perselisihan antara PT Bumi Resources Tbk dan induk
usahanya terkait investigasi oleh Bumi Plc.

Pjs Ketua Bapepam-LK Ngalim Sawega mengatakan telah menghubungi pihak Bumi
Resource. Menurutnya, audit tersebut wajar dilakukan oleh induk usaha.
Selain itu, harga saham Bumi yang sebagian dipegang oleh Grup Bakrie juga
tengah mengalami penurunan sehingga menimbulkan sejumlah indikasi.

“Ada indikasi bahwa dia cekcok sama induknya. Tapi yang penting buat kita
adalah silakan you di dalam rumah cekcok, asal tidak merugikan masyarakat,”
ujarnya di depan wartawan Rabu (26/9/2012).

Terkait dengan fokus yang tengah diperiksa oleh Bumi Plc yang berbasis di
London tersebut, Ngalim mengatakan itu hanya masalah istilah dalam
pencatatan laporan keuangan.

“Jadi kita menduga, apakah yang dia maksud itu adalah yang ini? Belum tentu,
kan. Makanya nanti kita lihat penjelasannya seperti apa setelah si BUMI itu
ketemu dengan Bumi Plc,” tuturnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Bumi Plc, pemegang 29% saham PT Bumi
Resources Tbk, mengumumkan tengah melakukan investigasi terhadap dugaan
laporan keuangan tidak normal pada anak usahanya tersebut.

Pengumuman itu menyebutkan penyelidikan berfokus pada dana pengembangan di
Bumi Resources dan aset di PT Berau Coal Energi Tbk, yang semuanya
dihapuskan nilainya menjadi nol dalam akun Bumi Plc per 31 Desember 2011.
Terkecuali sebuah investasi bernilai US$39 juta dalam laporan keuangan
konsolidasi.

Namun, Bumi Resources dalam keterbukaan Rabu (27/9) mengatakan tidak
mengetahui investigasi yang dilakukan oleh induk usahanya tersebut.

“Kami tidak menerima pemberitahuan sebelumnya perihal penyelidikan atau
siaran pers tersebut,” ujar Direktur-Corporate Secretary Bumi Resources
Dileep Srivastava. (if)
BUMI Seret Saham Axis Bank

Oleh: Vina Ramitha
pasarmodal – Selasa, 25 September 2012 | 16:24 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham Axis Bank di India terkoreksi setelah investigasi penyelewengan dana Bumi Plc. Axis Bank diketahui memberi pinjaman ke anak usaha Bumi Plc, PT. Bumi Resources.

Axis Bank, berdasarkan laporan tahunan PT. Bumi Resources (BUMI), pada 4 Agustus 2011, meneken kesepakatan kredit untuk menyediakan US$200 juta.

Fasilitas kredit itu digunakan untuk belanja modal (capital expenditure) dan membayar fasilitas lama yang mahal.

Menurut Barclays, utang itu tampaknya tidak berada di perusahaan operasional atau level Special Purpose Vehicle.

“Pinjaman itu tampaknya ke perusahaan induk dan anak-anak usahanya, yang tidak bertanggung jawab atas tambang-tambang penting,” demikian Barclays, Selasa (25/9/2012).

Pada sesi perdagangan siang ini di bursa saham India, saham Axis Bank turun 3,7% ke 1.091,50 rupee. [ast]

Inilah Pernyataan BUMI Atas Investigasi Bumi PLC

pasarmodal – Rabu, 26 September 2012 | 13:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources (BUMI) mengeluarkan pernyataan, menanggapi investigasi yang dilakukan Bumi PLC, selaku induk usaha dengan kepemilikan saham sebesar 29%.

Disebutkan, pada tanggal 24 September 2012, Bumi PLC mengeluarkan siaran pers yang menyatakan ‘investigasi independen telah ditugaskan oleh Bumi PLC untuk menyelidiki tuduhan tertentu secara mendesak, dan melaporkannya kepada dewan.’

“Namun, kami tidak menerima pemberitahuan awal dari penyelidikan atau siaran pers tersebut,”ungkap Dileep Srivastava Director, Corporate Secretary BUMI dalam Corporate Information yang diterima INILAH.COM, Rabu (26/9/2012).

Lebih lanjut disebutkan, PT Bumi Resources Tbk adalah perusahaan Indonesia terdaftar yang diatur oleh hukum pasar modal Indonesia. “Ini berarti, terkait hal ini, kita terhubung dengan Bapepam-LK dan Bursa Efek Indonesia dan akan mematuhi semua kewajiban kami di bawah hukum Indonesia,”ujarnya.

Dileep menambahkan bawha manajemen BUMI akan bertindak untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, untuk kepentingan semua pemangku kepentingan, dan akan membuat pengumuman lebih lanjut, tepat pada waktunya. [ast]

Rekomendasi Hold Untuk BUMI

pasarmodal – Rabu, 26 September 2012 | 11:37 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Analis memberi rekomendasi hold untuk saham PT Bumi Resources (BUMI), sambil menunggu penjelasan dari pihak manajeman terkait tuduhan penyimpangan laporan keuangannya.

PT Bursa Efek Indonesia telah meminta penjelasan kepada manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) mengenai kecurigaan kemungkinan adanya penyimpangan laporan keuangan pada hari Senin malam, namun belum mendapatkan penjelasannya hingga Selasa kemarin.

Kini bursa mengawasi pergerakan harga saham BUMI dan BRAU, dan akan memasukkannya ke dalam kategori Unusual Market Activity (UMA) atau dihentikan perdagangannya, jika pergerakan harga sahamnya sudah melebihi batas kewajaran.

Saat ini, BUMI diperdagangkan dengan PE 2012 sebesar 8,8 kali dan EV/EBITDA sebesar 3,1 kali.”Rekomendasi hold untuk saham BUMI,”ujar Adrianus Bias, analis dari Samuel Sekuritas. [ast]

Maksud Terselubung di Balik Rontoknya Saham BUMI?

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Selasa, 25 September 2012 | 12:55 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Tuduhan penyimpangan dana atas PT Bumi Resources (BUMI) jadi pemicu utama kerontokan harga sahamnya. Padahal, tuduhan tersebut dinilai tidak masuk akal. Ada maksud terselubung?

Pada sesi pertama perdagangan Selasa (25/9/2012), saham PT Bumi Resources (BUMI) ditransaksikan melemah 10 poin (1,47%) ke angka Rp670 dengan intraday tertinggi Rp680 dan terendah Rp590.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, kalau perusahaan Tbk adalah terbuka, siapa pun bisa melakukan audit. “Melihat dari kasus Bumi Plc mau mengaudit atau investigasi ke dalam silahkan saja selama perusahaan Tbk tersebut tidak masalah,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (25/9/2012).

Melihat dari kasus Bumi Plc yang menurut Willy ‘dihancurkan’ harganya, dengan alasan tuduhan penyelewengan dana, sungguh tidak masuk akal. “Sebab, setiap perusahan Tbk kalau mau menggunakan dananya harus lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),” paparnya.

Willy mempertanyakan, mengapa saat RUPS para pemegang saham menyetujuinya. “Dan andaikata ada kecurigaan kenapa mereka tidak meminta diadakan RUPS Luar Biasa (RUPSLB). Tujuannya, untuk meminta pertanggungjawaban dan bukannya menyanyikannya di media massa,” tutur Willy.

Tentang auditor, lanjut dia, tentunya mereka telah menelaah dengan kemampuan regulasi-nya. “Juga, kenapa saham Bumi plc sudah jatuh sehari (Jumat) sebelum press release tentang investigasi pada Senin (24/9/2012)?” kata dia mempertanyakan.

Menurutnya, Vallar plc, banker dan pengacara, tentu telah melakukan due dilligence menyeluruh saat mau aksi korporasi reverse take over PT BumiResources Tbk. “Kenapabaru dipermasalahkan sekarang?” timpal dia.

Willy menengarai adanya tujuan terselubung di balik upaya menghancurkan harga dan menghembuskan issu. “Untuk mendapatkan harga murah. Wahai investor cerdiklah. Masalah seperti ini sudah sering terjadi di bursa kita,” tandas dia.

Dia mencontohkan saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) yang harganya rontok tapi isunya tidak terbukti dan pada akhirnya PGAS pun rebound balik.

Begitu juga dengan BUMI. Menurut dia, isu ini tidak akan mempengaruhi kinerja maupun produktivitas perusahaan. “Dan, masalah yang di-blow up sekarang adalah masalah tahun berapa? Dia mempertanyakan, apakah kinerja PT Energi Mega Persada (ENRG), PT Bakrieland Development (ELTY), PT Bumi Resouces Mineral (BRMS), PT Borneo Lumbung Energi (BORN) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) juga harus ikut terpengaruh,” lagi Willy mempertanyakan.

Sebelumnya, Direktur Bumi Plc Ari Hudaya mengundurkan diri dari jabatannya menyusul adanya tuduhan penyimpangan dana di PT Bumi Resources (BUMI). Ari sebelumnya pernah menjabat sebagai CEO Bumi Plc sampai Maret 2012 silam.

“Bapak Ari Hudaya sudah mengundurkan diri dari jabatan direktur non eksekutifnya di Bumi Plc, efektif 24 September 2012,” kata Direktur dan Sekretaris Korporasi BUMI, Dileep Srivastava.

Menurut Dileep, Ari sengaja melepas jabatan tersebut untuk lebih fokus membangun bisnis di BUMI, perusahaan tambang grup Bakrie. Saat ini, Ari masih menjabat sebagai Presiden Direktur BUMI, perusahaan yang 29% sahamnya dikuasi Bumi Plc.

BUMI Harus Jelaskan Perselisihannya Dengan BUMI Plc Dalam Tempo 2×24 Jam
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Selasa, 25/09/2012 17:21 WIB
Jakarta – Perselisihan pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yakni Bumi Plc mendapat perhatian otoritas pasar modal. Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta manajemen BUMI menjelaskan perkara tersebut.

“Kami minta perusahaan segera memberikan penjelasan kepada otoritas bursa. Secepatnya! Harusnya dalam pekan ini,” ujar Direktur Pengawasan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo di kantornya, Jakarta, Selasa (25/9/2012).

Otoritas Bursa hanya menjelaskan aturan terkait informasi atau fakta material yang harus diketahui publik sebagai salah satu pemegang saham. Waktu yang diberikan BEI kepada manajemen BUMI adalah 2×24 jam sejak surat dikirim.

Investor harus mengetahui persilisihan ini. Surat jawaban diharapkan mewakili apa yang diharapkan BEI. Saat surat jawab belum cukup, BEI kembali mengirimkan surat.

Jika dirasa belum cukup, BEI siap memanggil manajemen BEI. “Kalau belum memuaskan juga, baru kami bisa panggil direksi, jika dibutuhkan,” ucapnya.

Sebelumnya, perusahaan investasi yang tercatat di Bursa London yaitu Bumi Plc menyatakan telah menemukan penyimpangan atas kinerja keuangan dan operasi anak usahanya di Indonesia yaitu Bumi Resources (BUMI).

Bumi Plc dalam keterangan tertulisnya melalui Head of Group Communications and Investor Relations Nick von Schirnding menjelaskan, penyimpangan atas kinerja di anak usahanya telah diselidiki oleh penyidik independen. Bumi Plc yang memiliki 29% dari total saham BUMI juga telah melaporkan indikasi penyimpangan tersebut kepada Dewan Komisaris.

(wep/dnl)

Indonesia Regulator Sees No Reason to Examine Bumi Resources
By Yoga Rusmana and Berni Moestafa – Sep 25, 2012 6:07 PM GMT+0700

bloomberg

Indonesia’s capital markets regulator said it has no grounds to investigate PT Bumi Resources, the company at the center of a London-based probe into alleged “irregularities” involving a $637 million writedown.

Bumi Plc, the London-listed coal venture that owns 29 percent of Bumi Resources and was founded by Nathaniel Rothschild, yesterday announced the investigation into the Indonesian operations and said former Chief Executive Officer Ari Hudaya, 53, had resigned from the board.

“We have spoken to Bumi Resources for clarification on the news developments,” Anis Baridwan, a head of corporate financial assessment at Indonesia’s Capital Market and Financial Institution Supervisory Agency or Bapepam-LK, said by phone in Jakarta. “We don’t have any reason” to investigate the company and have had no contact with Bumi Plc yet, he said.

The London probe is linked to a writedown of so-called development funds and exploration assets in the Dec. 31, 2011, year-end financial statement of Bumi Plc. The dispute pits Rothschild, 41, against Indonesia’s Bakrie family, the part- owners of Bumi Resources, which includes billionaire Aburizal Bakrie, the 2014 presidential candidate for the nation’s second- biggest political party.

Dileep Srivastava, director at Bumi Resources, said by phone that it’s possible the controversy over the writedown is a matter of differing accounting treatments “under two accounting standards in different countries.”

James Kallman, president of PT Mazars, which audits Bumi Resources in Indonesia, said by phone that the auditor believes the company “has disclosed in a proper way anything that needs to be disclosed in Indonesia.”
Soured Ties

It’s the latest turn in an acrimonious partnership that began with a $3 billion deal in 2010 that married the centuries- old British banking dynasty with a family-owned palm oil-to- property-empire started in Sumatra in 1942.

The investigation was sparked when auditor PricewaterhouseCoopers LLP slashed the value of the development funds and exploration assets after it was unable to verify the underlying assets, according to a person familiar with the situation, who asked not to be identified as the matter is confidential.

A London-based law firm has been appointed to handle the independent probe, which is likely to take weeks, the person said.

“We haven’t seen what these allegations are,” said Kenneth Allan, a director at Borneo Lumbung Energi, which owns 30 percent of Bumi Plc. “It’s just a broad brush in the press release that said there were some allegations of some impropriety.”
Market Reaction

Bumi Plc and Bumi Resources shares recovered from heavy losses prompted by the probe. Bumi Plc was up 2.3 percent at 151.1 pence, having dropped to its lowest on record yesterday, while Bumi Resources closed 1.5 percent higher in Jakarta at 690 rupiah.

Bumi Resources stock had fallen as much as 13 percent earlier in the day and is still down 68 percent on the year so far, hurt by falling coal prices and concerns it may struggle to repay debt. Bumi Resources owes $1.3 billion to China Investment Corp.

The probe comes almost 11 months after Rothschild, whose ancestor helped bankroll Britain’s war against Napoleonic France, made public a letter to then-Bumi Plc CEO Hudaya calling for a “radical cleaning up” of the company and a timetable for the “repatriation of funds deposited with connected parties.”
Letter

The Nov. 8 letter cited $394 million of business development funds under non-current assets on the balance sheet of Bumi Resources as at June 20, 2011.

“The existence of these assets are well known to the investment community and certain of these assets are invested with connected parties,” wrote Rothschild, the son of financier Jacob Rothschild. “This is one of the principal reasons why PT Bumi Resources’ shares trade at a significant ‘corporate governance’ discount to the broader Indonesian coal sector.”
Probe Focus

The probe will focus on “extensive” development funds at Bumi Resources and an asset in PT Berau Coal Energy, which were marked down to zero in the accounts of Bumi Plc as of Dec. 31, the company said. It gave no figures for the writedown.

According to its 2011 annual report published in April, Bumi Plc wrote down the value of exploration assets by $390 million to zero. It also cut the value of business development funds by $247 million.

The London-listed firm said it planned to contact authorities in the U.K. and Indonesia over the claims, without giving the source of the allegations.

PT Bakrie & Brothers — controlled by Aburizal Bakrie, who is the brother of Bumi Plc (BUMI) Co-Chairman Indra Bakrie — sold half of their 47.6 percent stake in London-listed Bumi in November to help pay $1.35 billion in debts owed to Credit Suisse Group AG. Aburizal is the chairman of the Golkar Party of Indonesia, which was founded by former dictator Suharto.
Public Offering

Rothschild raised 707.2 million pounds ($1.1 billion) in the 2010 initial public offering of Vallar Plc, selling stock at 1,000 pence apiece. It later struck the deal giving it the stake in Bumi Resources and 85 percent of PT Berau Coal Energy, and led to Vallar being renamed Bumi.

That made Bumi the first major Indonesian business to tap the U.K. equity market. Bumi Resources is the largest Indonesian coal producer and owns a 65 percent stake in Kaltim Prima Coal operation, or KPC, and 70 percent of the Arutmin mine.

Bumi Resources purchased coal miner PT Arutmin Indonesia from BHP Billiton Ltd. in 2001. Since then, the company has borrowed to expand its production.

PT Recapital Asset Management missed a deadline to repay a $231 million investment due to Bumi Resources, Bumi said Aug. 28. Bumi board member Rosan Roeslani is the president director of Recapital and the funds were part of the dispute between Rothschild and Bakrie.

Bumi CEO Nalin Rathod said in a May interview the company was in talks to repay debt owed to CIC early as part of a wider plan to reduce financing costs.

The London-listed company will make a further announcement on the investigation in due course, it said yesterday.
Selasa, 25 September 2012 | 11:32 WIB
Bumi Resources Diperiksa Gara-gara Whistleblower

TEMPO.CO, Jakarta – Keputusan Bumi Plc untuk memeriksa kejanggalan keuangan di Bumi Resources kabarnya dipicu oleh laporan orang dalam (whistleblower). Selasa, 25 September 2012 ini, sejumlah media memberitakan bahwa Bumi Plc–perusahaan berbasis di London, Inggris, yang memegang saham 29,2 persen Bumi Resources–mengambil langkah drastis tersebut setelah mendapat laporan soal kejanggalan keuangan (financial irregularities) di Bumi Resources.

Bumi Resources sendiri adalah bagian dari kerajaan bisnis Bakrie dan disebut-sebut sebagai produsen batubara terbesar di Indonesia. Salah satu kejanggalan yang dilaporkan adalah soal perubahan nilai dana pembangunan (development funds) di PT Bumi Resources Tbk dan nilai satu aset PT Berau Coal Energy Tbk.

Wall Street Journal dalam laporannya Selasa, 25 September 2012 menduga aset yang diubah nilainya menjadi nol adalah aset Gallo Oil Ltd dari New Jersey, Amerika Serikat. Gallo mempunyai dua konsesi pengeboran minyak dan gas bumi di Yaman dan sebuah pabrik pengolahan batubara di Indonesia.

Penyelidikan independen ini juga akan menelusuri penggunaan dana sebesar US$ 300 juta yang diklaim dipakai perusahaan-perusahaan Bumi untuk memulai proyek baru. Otoritas Jasa Keuangan dan Kantor Penanganan Pelanggaran Serius (Serious Fraud Office) di bursa saham Inggris kabarnya sudah mengetahui rencana penyelidikan ini.

Nilai kedua aset itu diubah menjadi nol pada laporan keuangan Bumi Plc pada 31 Desember 2011 lalu. Hanya satu investasi senilai US$ 39 juta yang tidak diubah.

Wall Street Journal dalam laporannya Selasa, 25 September 2012 menduga aset yang diubah nilainya menjadi nol adalah aset Gallo Oil Ltd dari New Jersey, Amerika Serikat. Gallo mempunyai dua konsesi pengeboran minyak dan gas bumi di Yaman dan sebuah pabrik pengolahan batubara di Indonesia.

Penyelidikan independen ini juga akan menelusuri penggunaan dana sebesar US$ 300 juta yang diklaim dipakai perusahaan-perusahaan Bumi untuk memulai proyek baru. Otoritas Jasa Keuangan dan Kantor Penanganan Pelanggaran Serius (Serious Fraud Office) di bursa saham Inggris kabarnya sudah mengetahui rencana penyelidikan ini.

Dihubungi pada Senin, 24 September 2012, manajemen Borneo, pemegang saham lain di Bumi Plc, mengaku belum tahu soal rencana pemeriksaan ini. “Kami belum mengetahui persis. Tetapi kelihatannya ada kaitannya dengan Nat Rotschild,” ujar Direktur Borneo, Kenneth Allan.

SUTJI DECILYA | BERBAGAI SUMBER
Dituding menyelewengkan dana, ini tanggapan BUMI
Oleh Astri Kharina Bangun, Barratut Taqiyyah – Senin, 24 September 2012 | 17:03 WIB

JAKARTA. Pernyataan manajemen Bumi Plc untuk menyelidiki kemungkinan penyelewengan keuangan pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ditanggapi dingin oleh manajemen BUMI.

Ketika dihubungi oleh KONTAN, Direktur BUMI Dileep Srivastava tak mau memberikan komentar banyak mengenai hal tersebut, dia hanya bilang, “Kami tidak memiliki informasi mengenai pengumuman Bumi Plc dan akan menunggu informasi selanjutnya sebelum memberikan komentar lebih jauh,” tegas Dileep.

Sekadar mengingatkan, Bumi Plc merupakan pemegang saham mayoritas BUMI dengan mengempit 29% saham.

Dalam pernyataannya, Bumi Plc menyatakan sudah membentuk tim investigasi independen untuk menyelidiki keuangan BUMI. “Tim ini akan langsung melaporkannya ke jajaran direksi Bumi Plc,” jelas manajemen Bumi Plc pada hari ini (24/9).

Selain itu, perusahaan juga akan meminta bantuan pihak berwenang di Inggris dan Indonesia terkait penyelidikan tersebut.

Manajemen Bumi Plc juga menegaskan, penyelidikan akan fokus pada dana pengembangan BUMI dan aset di PT Berau Energy Coal.

Salah satu fokus penyelidikan adalah dana pengembangan BUMI. Dana pengembangan di Bumi Resources dan satu aset pengembangan di Berau Coal Energy turun ke angka nol dalam neraca Bumi Plc per tanggal 31 Desember 2011, kecuali satu investasi dengan nilai US$ 39 juta yang tercantum dalam laporan keuangan konsolidasi perusahaan.

Hari ini, saham-saham grup Bakrie menjadi penggerus indeks. Beberapa di antaranya yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang anjlok 19,05% menjadi Rp 680, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) turun 16,85% menjadi Rp 74, dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turun 12,5% menjadi Rp 84.

Selain itu, penurunan juga terjadi pada saham PT Bumi Resources Minerals (BRMS) sebesar 12,28% menjadi Rp 500, PT Bakrieland Development (ELTY) turun 11,86% menjadi Rp 52, dan PT Borneo Lumbung Energy (BORN) yang turun 10,34% menjadi Rp 520.
Analis: Tingkat leverage saham Bakrie 10 kali IHSG
Oleh Astri Kharina Bangun – Senin, 24 September 2012 | 18:43 WIB

kontan

JAKARTA. Analis menilai tekanan jual terhadap saham-saham grup Bakrie masih akan berlanjut. Pemicunya, tingkat leverage (meminjam) perusahaan konglomerasi ini sudah terlalu tinggi dibandingkan emiten-emiten lain di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Satu-satunya konglomerat grup di Indonesia yang punya tingkat leverage tinggi ya Bakrie. Kalau satu bagian perusahaan Bakrie kena, semua pasti kena imbas,” ungkap Analis AM Capital Janson Nasrial , Senin (24/9).

Ia memberikan gambaran, dalam sepuluh tahun terakhir tingkat leverage emiten-emiten BEI cenderung turun. Sebaliknya, Bakrie justru terus menanjak.

Janson memberikan perbandingan rasio utang terhadap EBITDA (Earning Before Income Tax and Amortization) antara Grup Bakrie dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“IHSG angkanya 0,6 kali sedangkan Bakrie di atas 6 kali. Tingkat leverage Bakrie hampir 10 kali lipat dari IHSG. Kalau tingkat leverage terlalu tinggi EBITDA-nya kurang cukup untuk bisa melunasi utang dalam jangka waktu tertentu,” jelas Janson.

Oleh karena itu, ia menilai wajar Bumi Plc melakukan penyelidikan terkait dugaan penyelewengan keuangan di PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Namun, bagaimanapun juga Bumi Plc masih bagian internal dari Bumi Resources. Ia mengimbau agar penyelidikan ini dilakukan dengan jelas dan transparan, terutama menyangkut transaksi yang melibatkan pihak-pihak ketiga.

“Apakah sudah sesuai dengan norma akuntansi di Indonesia atau tidak,” ungkap Janson.

Ia menambahkan, belajar dari krisis Eropa harusnya Bakrie menjaga tingkat leverage seminimal mungkin, bukan malah terus menaikkannya.
Ketahuan pasca auditor sulit verifikasi aset BUMI
Oleh Barratut Taqiyyah, Bloomberg – Selasa, 25 September 2012 | 07:40 WIB

Kontan

LONDON. Isu dugaan penyelewengan keuangan yang dituduhkan Bumi Plc kepada Bumi resources santer terdengar sejak kemarin (24/9).

Dalam pernyataan pada situs resminya kemarin, Bumi Plc menegaskan akan melakukan investigasi yang berfokus pada dana pengembangan yang besar di BUMI dan aset di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), yang semua dihapuskan nilainya menjadi nol dalam akun Bumi Plc per 31 Desember 2011, kecuali investasi US$ 39 juta di laporan keuangan konsolidasi.

Pelaku pasar mulai bertanya-tanya mengenai hal ini. Salah seorang sumber Bloomberg yang namanya tidak mau disebut membisikkan, Bumi Plc mengetahui penyunatan nilai aset tersebut setelah auditor PwC tidak dapat melakukan verifikasi aset.

Sang sumber juga bilang, Bumi Plc juga sudah menunjuk sebuah firma hukum yang berbasis di London untuk menangani penyelidikan independen mengenai masalah ini. “Kemungkinan, dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menyelidiki kasus ini,” jelasnya.

Sejumlah analis menilai, kasus ini berdampak besar bagi pergerakan saham Bumi Plc. “Hasil penyelidikan ini nantinya akan memangkas harga saham dalam jangka pendek,” jelas Richard Knights, analis Liberum Capital Ltd di London. Namun, investigasi yang dilakukan akan berdampak positif bagi perusahaan untuk jangka panjang.
BUMI masih menunggu informasi dari induk usaha
Oleh Astri Kharina Bangun – Selasa, 25 September 2012 | 10:57 WIB

Kontan

JAKARTA. Meski pengumumuman resmi Bumi Plc mengenai rencana menginvestigasi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah keluar sejak kemarin, namun manajemen masih menunggu informasi lebih lanjut dari Bumi Plc.

Direktur BUMI Dileep Srivatstava menjelaskan, pihaknya belum dapat berkomentar apa-apa terkait rencana induk usahanya tersebut. Termasuk mengenai waktu pelaksanaan investigasi terhadap BUMI dilakukan.

“Saya tidak tahu. Kami menunggu informasi baru bisa berkomentar,” ungkap Dileep dalam pesan singkat kepada KONTAN, Selasa (25/9).

Sementara itu, terkait pengunduran diri Ari Hudaya sebagai Direktur non-executive Bumi Plc secara efektif per Senin (24/9), Dileep mengungkapkan alasannya adalah Ari ingin fokus melakukan pengembangan di Bumi Resources sebagai Presiden Direktur.
BORN mengaku belum dapat info dari Bumi Plc
Oleh Astri Kharina Bangun – Selasa, 25 September 2012 | 11:13 WIB
kontan

JAKARTA. PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN) mengaku belum mendapatkan surat resmi dari Bumi Plc mengenai rencana investigasi Bumi Plc terhadap PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Direktur Borneo Lumbung Kenneth Allan mengatakan sejak kemarin sampai saat ini belum ada perkembangan baru menyangkut rencana anak usahanya tersebut.

“Kami masih menunggu,” tukas Kenneth ketika dihubungi KONTAN, Selasa (25/9).

Borneo bersama dengan Bakrie Group memiliki saham masing-masing sebesar 47,6% di Bumi Plc.

Seperti yang telah diberitakan, Selasa (24/9/2012) Bumi Plc mengeluarkan pernyataan telah membentuk tim investigasi independen untuk menyelidiki keuangan BUMI. Tim tersebut bakal melaporkan hasilnya ke jajaran direksi Bumi Plc.

Salah satu fokus penyelidikan adalah dana pengembangan BUMI. Penambahan dana pengembangan di Bumi Resources dan satu aset pengembangan di Berau Coal Energy turun ke angka nol dalam neraca Bumi Plc per tanggal 31 Desember 2011, kecuali satu investasi dengan nilai US$ 39 juta yang tercantum dalam laporan keuangan konsolidasi perusahaan.
Khawatir, investor juga melepas saham BRAU
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 25 September 2012 | 11:26 WIB

kontan

JAKARTA. Saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) turut dilanda aksi jual pada transaksi hari ini (25/9). Pada pukul 11.18, saham BRAU tercatat merosot 3,76% menjadi Rp 179.

Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, tiga sekuritas yang paling banyak melepas saham ini yaitu: CIMB Securities Indonesia senilai Rp 2,673 miliar, eTrading Securities senilai Rp 1,029 miliar, dan Millenium Danatama Securities senilai Rp 823,145 juta.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, dalam pernyataan pada situs resminya kemarin, Bumi Plc menegaskan akan melakukan investigasi yang berfokus pada pengembangan dana yang besar di BUMI dan aset di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), yang semua dihapuskan nilainya menjadi nol dalam akun Bumi Plc per 31 Desember 2011, kecuali investasi US$ 39 juta di laporan keuangan konsolidasi.

Pelaku pasar mulai bertanya-tanya mengenai hal ini. Salah seorang sumber Bloomberg yang namanya tidak mau disebut membisikkan, Bumi Plc mengetahui penyunatan nilai aset tersebut setelah auditor PwC tidak dapat melakukan verifikasi aset.
Bumi Plc selidiki dapur sendiri
Oleh Amailia Putri Hasniawati, Ruisa Khoiriyah – Selasa, 25 September 2012 | 06:54 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA. Suhu Bumi Plc sedang panas. Kemarin, pemegang 29% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ini, mengumumkan telah membentuk tim investigasi independen untuk menyelidiki dugaan penyelewengan keuangan di tubuh BUMI.

Tim itu akan melaporkan hasil investigasinya keQ direksi Bumi Plc. Mereka akan menghubungi otoritas pasar modal di Indonesia dan Inggris.

Entah ada kaitannya atau tidak dengan pengumuman pertama, tak lama kemudian, terbit pengumuman kedua. Isinya, Ari Saptari Hudaya mundur dari posisi Non-Executive Director Bumi Plc. Tak ada penjelasan alasan pengunduran diri mantan Chief Executive Officer (CEO) Bumi Plc ini.

Nick von Schirnding, Juru Bicara Bumi Plc, menjelaskan, investigasi berfokus pada pengembangan dana yang besar di BUMI dan aset di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). “Yang semua dihapuskan nilainya menjadi nol dalam akun Bumi Plc per 31 Desember 2011, kecuali investasi US$ 39 juta di laporan keuangan konsolidasi,” kata dia dalam pernyataan resmi, Senin (24/9).

Mengutip kabar dari Reuters, Samin Tan, Chairman Bumi Plc, tak senang dengan masalah keuangan BUMI. Dialah yang kabarnya memerintahkan agar digelar investigasi khusus menelaah kondisi Bumi Resources.

Benarkah? Sayang, baik Ari maupun Samin Tan tak bisa dikonfirmasi.

Kegerahan Rothschild

Kabar itu sontak melongsorkan harga saham Bumi Plc hingga mendekati 20%. Kenneth R. Farrel, Direktur BUMI, mengaku belum mengetahui maksud dari investigasi itu. “Kami akan cari tahu,” kata dia kepada KONTAN, kemarin. Dia menduga, bisa jadi, investigasi itu karena ada beberapa direksi Bumi Plc yang tak puas dengan kinerja BUMI.

Ken Allan, Direktur PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN), juga mengaku baru tahu aksi Bumi Plc itu. Dia menengarai, upaya Bumi Plc itu terkait surat Nathaniel Rothschild, Direktur Non-Eksekutif Bumi Plc, beberapa waktu lalu kepada Ari Hudaya (waktu itu CEO Bumi Plc).

Isinya, Rothschild mempertanyakan tata kelola perusahaan BUMI. Dia meminta manajemen BUMI melakukan “pembersihan radikal” organisasi maupun utang. Rothschild juga sempat memprotes penjualan 23,8% saham Bumi Plc ke BORN senilai US$ 1 miliar.

Aksi Rothschild ini berbuntut reshuffle susunan direksi Bumi Plc. Dia termasuk yang terlempar dari jabatan co-chairman Bumi Plc. Kemudian, Samin Tan masuk menjadi Chairman Bumi Plc.

Toh, konflik internal tak reda. Apalagi, semester I-2012, BUMI rugi US$ 117 juta.

Beban utang masih jadi kendala perusahaan ini. Hingga dua tahun ke depan, BUMI harus melunasi utang jatuh tempo sekitar US$ 3 miliar (sekitar Rp 30 triliun).

Salah satu sumbernya adalah utang kepada China Investment Corp (CIC), senilai US$ 1,9 miliar yang berbunga 19% per tahun. Utang ini dijamin saham beberapa anak usahanya, di antaranya PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, IndoCoal Resources (Cayman) Ltd, PT IndoCoal Kalsel Resources, serta PT IndoCoal Kaltim Resources.

Tahun lalu, BUMI sudah membayar US$ 600 juta sehingga tersisa US$ 1,3 miliar. Oktober 2012, BUMI harus mencicil lagi US$ 638 juta.

Langkah Bumi Plc memeriksa anaknya sendiri ini menuai tanda tanya dari pasar. “Otoritas harus jeli melihat, jangan isu itu dihembuskan untuk kepentingan segelintir pihak,” kata Yanuar Rizky, pengamat pasar modal.
Bumi Plc Investigates Alleged Financial Irregularities

Bastanul Siregar, Hanum KD, Reviana Rahmania Surya, Hadijah Alaydrus

September 24, 2012 21:35
bisnis indonesia
JAKARTA-Bumi Plc, giant coal miner which now significantly controlled by British’s Nathaniel Rothschild, is investigating the alleged irregularities financial statement of its subsidiary, PT Bumi Resources Tbk.

“An independent investigation has been conducted to investigate emergency allegation and will be reported to Board of Directors,” Bumi stated in the official announcement on its website.

The company listed in London Stock Exchange will also contact the UK and Indonesia authorities related to the allegations.

The announcement stated the investigation is focused on fund development in Bumi Resources and PT Berau Coal Energy Tbk assets, in which the value are written off to zero in Bumi Plc account by December 31, 2011 with the exception of an investment worth US$39 million in the consolidated financial statements.

Bumi Plc shares fell 22% to 195.9 pence on the London stock exchange on Sept 21 and have tumbled 78% so far this year. The stock performance was the worst in the FTSE 350 Mining Index which consists of 21 stocks. Bumi Plc owns 29% share in Bumi Resources.

As reported in August 28, PT Recapital Asset Management cancelled to disburse its investments worth US$231 million to Bumi Resources.

Roeslani Rosan, the BOD member of Bumi Resources who is also acting as President Director of Recapital stated that funds in Recapital has became central dispute issue between Nathaniel Rothschild and Indra Bakrie, co-chairman of Bumi Plc.

Rothschild experienced a radical purge in November from Bumi Resources, without being given any the assets return schedule. According to the disclosure, there will be further announcements.

Bumi Resources share instantly fell by 14.29% to IDR720 per share during lunch break yesterday, shortly after that shocking announcement of Bumi Plc regarding the investigation of the company.

With that price, BUMI’s the market capitalization was only IDR14.95 trillion, and throughout the year, the stock price has eroded to 66.9%.

Bumi Plc’s financial statement on December 2011, 31, recorded a development fund assets of Bumi Resources and assets of PT Bumi Plc, including PT Berau Coal Energy Tbk, is zero. Market is waiting for PT Bumi Resources Tbk’s anticipation to avoid potential financial bankruptcy although management is optimistic with the company’s performance.

Previous report stated the mining company booked some US$334.11 million net loss in the first half of 2012 drove by derivative loss and higher operating expenses.

A study run by Panin Sekuritas indicated this coal exporter is heading towards financial bankruptcy due to poor financial performance and its failure to settle debts.
“The profit was cut by 9.2% due to the rise in production cost,” said Fajar Indra, an analyst with Panin Sekuritas.

Derivative transaction added up to BUMI financial loss. The Company plans to restructure its US$231 million worth debt of PT Recapital Asset Management.

According to Fajar, such action wiped out BUMI-coded company ability to propose debt refinancing at least within 2 years.

BUMI has to settle its US$600 million worth debt to China Investment Corporation (CIC) and to be continued by settling its second installment of US$700 million by next year.

The estimation of the bankruptcy is calculated based on Altman Z method that uses a number of financial ratios in the first 6 months of 2012 to test BUMI financial solvency. Based on the method, Bumi scored at 0.982, approaching to the top of 1.0 point which then indicated the company was in financial breakdown.

BUMI once experienced a worse condition in 2003 when it was noted a negative Z of score. However, it still could survive until today since coal price was improving from time to time. Unfortunately, current condition is unfavorable as coal price is slumping down. (T03/T05/T07/aph)

Bumi Plc Temukan Indikasi Penyimpangan Dana, Saham Bumi Resources Anjlok
Whery Enggo Prayogi – detikfinance
Senin, 24/09/2012 16:33 WIB
Jakarta – Perusahaan investasi yang tercatat di Bursa London, Bumi Plc menyatakan telah menemukan penyimpangan atas kinerja keuangan dan operasi anak usahanya di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Atas kabar tersebut, saham BUMI di pasar modal Indonesia pun terkoreksi 160 poin menjadi Rp 680 per lembar jelang saat penutupan perdagangan, Senin (24/9/2012).

Bumi Plc dalam keterangan tertulisnya melalui Head of Group Communications and Investor Relations Nick von Schirnding menjelaskan, penyimpangan atas kinerja di anak usahanya telah diselidiki oleh penyidik independen. Bumi Plc yang memiliki 29% dari total saham BUMI juga telah melaporkan indikasi penyimpangan tersebut kepada Dewan Komisaris.

“Perusahaan juga telah menghubungi otoritas (pasar modal) di Inggris dan Indonesia,” kata Bumi Plc.

Penyidik independen telah masuk pada dana pengembangan yang dikelola Bumi Resources dan satu pengembangan aset di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Kedua pengembagan yang dilakuan tercatat mencatat nihil di Bumi Plc per 31 Desember 2011, kecuali nilai investasi bawaan US$ 39 juta.

Saham BUMI atas kabar ini pun langsung terkoreksi cukup dalam. Saham BUMI dibuka di Rp 800 per lembar saham atau turun dibanding penutupan akhir pekan lalu yang mencapai Rp 840 per lembar saham. Jelang penutupan sesi II perdagangan hari ini, BUMI setia di level Rp 690 atau turun 150 poin (17,68%) dari posisi sebelumnya. Akhirnya saham BUMI ditutup di 680 atau minus 19,05% atau turun 160 poin.

Saham Bumi Plc pun setali dua uang dengan BUMI. Saham perseroan kembali turun 64 poin (32,98%) menjadi 131,3.

(wep/dru)
Bumi investigates alleged financial irregularities
Bumi shares tumbled after the thermal coal producer said it had started an urgent investigation into allegations of potential financial and other irregularities at its Indonesian operations.

8:22AM BST 24 Sep 2012

The company, which financier Nat Rothschild brought to London, said in a statement on Monday that the allegations related to PT Bumi Resources, Asia’s biggest thermal coal exporter, in which Bumi owns a 29pc stake.

Bumi

Bumi said: “An area of focus of the investigation will be the development funds of PT Bumi Resources”.

Extensive development funds in PT Bumi Resources and the one development asset in PT Berau Coal Energy were marked down to zero in Bumi accounts as of December 31, 2011, except for one investment with a carrying value of $39m in the consolidated financial statements.

The independent investigation will report to the board and Bumi said it would contact “relevant authorities in the UK and Indonesia … in respect of some of the allegations”.

The miner, one of the world’s largest thermal coal exporters, listed in London over a year ago but its share price has dragged, hit by boardroom scuffles, worries over debts at its subsidiaries, and its complex structure.

Mr Rothschild stepped down as co-chairman of the FTSE 250 coal business in March after falling out with his Indonesian partners in the venture.

Bumi tumbles as market slips lower
The coal group dropped 31pc after revealing allegations in Indonesia

By Ben Martin

10:07AM BST 24 Sep 2012

Investors in coal producer Bumi sent shares in the company tumbling 31pc this morning as the group revealed allegations of “irregularities” in Indonesia.

The FTSE 250 listed group said it had “become aware of allegations concerning, among other matters, potential financial and other irregularities in the company’s Indonesian operations, especially in relation to PT Bumi Resources Tbk”.

Bumi, which financier Nat Rothschild brought to London, has started an independent investigation into the allegations “on an urgent basis”.

Shares in Bumi, which were valued at more than 900p in January, are now trading at about 135p. They have fallen amid investor concern about the financial position of its Indonesian subsidiary, in which it holds a 29pc stake.

Overall, the wider market also started the week in negative territory, with the FTSE 100 down 27 points and the mid-cap FTSE 250 67 points lower as traders turned their attention to the eurozone.
Senin, 24 September 2012 | 17:23 WIB
Saham Kelompok Bakrie Benamkan IHSG

TEMPO.CO, Jakarta – Tekanan jual di bursa regional ditambah koreksi yang dialami saham-saham kelompok usaha Bakrie mendorong indeks jatuh cukup dalam.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini ditutup melemah 43,70 poin (1,03 persen) ke level 4.200,91. Indeks bergerak melemah sejak awal perdagangan yang dipicu pelemahan yang terjadi di bursa Asia.

Analis dari PT Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, mengatakan, pelemahan IHSG didorong tekanan jual dari bursa regional yang dipengaruhi sentimen Eropa. “Investor masih diliputi ketidakpastian skema penyelesaian krisis utang Eropa yang tak kunjung jelas.”

Jatuhnya harga saham Bumi Plc di bursa London hingga di atas 30 persen pada pembukaan perdagangan hari ini turut mendorong jatuhnya harga saham-saham kelompok usaha Bakrie di bursa domestik. “Pasar dipengaruhi oleh tekanan jual yang signifikan pada saham-saham kelompok Bakrie,” ujar Purwoko.

Saham Bumi Resources (BUMI) turun 19 persen ke Rp 680 per lembar saham, disusul Energi Mega Persada (ENRG) turun 12,5 persen ke Rp 84 per lembar, serta Bakrieland Development (ELTY) turun 11,9 persen ke Rp 52 per lembar.

Selanjutnya, saham Bumi Resources Mineral (BRMS) menyusut 12,2 persen ke Rp 500 per lembar dan Berau Coal (BRAU) turun 9,2 persen ke Rp 186 per lembar. Sementara saham Borneo Lumbung Energi (BORN) sebagai pemegang saham Bumi Plc jatuh 10,3 persen ke Rp 520 per lembar.

Saham yang berpindah tangan hari ini sebanyak 5,8 miliar lembar saham senilai Rp 3,99 triliun dengan frekuensi 146,9 ribu kali transaksi. Sebanyak 78 saham menguat, 160 saham turun, serta 86 lainnya stagnan. Asing mencetak penjualan bersih Rp 235,3 miliar.

Bursa regional cenderung melemah hingga 17.10 WIB. Nikkei 225 melemah 0,45 persen ke 9.069,29, indeks Hang Seng melemah 0,19 persen ke 20.694,70, dan indeks Strait Times turun 0,33 persen ke 3.067,93. Sementara indeks Shanghai menguat 0,32 persen ke 2.033,19.

M. AZHAR | PDAT

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: