Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Mei 6, 2013

Bakries’ GAME (7) (0605/2013)

Filed under: Terkait BUMI&GRUP — bumi2009fans @ 12:00 am

MINGGU, 05 MEI 2013 | 14:12 WIB
Bakrie Telecom Merugi Rp 97,47 Miliar

TEMPO.CO, Jakarta – Bakrie Telecom Tbk (BTE) mencatatkan rugi bersih pada kuartal pertama 2013 sebesar Rp 97,47 miliar. Angka itu turun dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 355,62 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama perseroan yang belum diaudit, penurunan rugi BTEL didapat dari ditekannya beban usaha menjadi Rp 532,117 miliar dari Rp 696,96 miliar pada tahun sebelumnya. Beban bersih lain-lain juga turun dari Rp 266,365 miliar menjadi Rp 170,91 miliar.

Walau masih merugi, perusahaan yang dipegang oleh Anindya Bakrie ini mencatat kenaikan pendapatan tipis selama Januari-Maret 2013 sebesar Rp 582,49 miliar dari Rp 525,59 miliar pada tahun sebelumnya. Sumbangan terbesar datang dari pendapatan jasa telekomunikasi sebesar Rp 615,98 miliar. Sedangkan sumbangan kedua didapat dari sektor pendapatan jasa interkoneksi Rp 67,96 miliar, sebelum dipotong beban dan potongan harga.

RIRIN AGUSTIA
Laba Perusahaan Media Bakrie Naik 180 Persen
Penulis : Didik Purwanto | Jumat, 3 Mei 2013 | 16:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Laba bersih PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) di kuartal I-2013 naik 180 persen dari Rp 200 juta menjadi Rp 3,6 miliar, yang salah satunya disumbang oleh efisiensi biaya pembuatan program dan penyiaran.

Presiden Direktur VIVA Erick Thohir mengatakan sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, pendapatan perseroan tercatat naik 27,5 persen dari Rp 244,8 miliar menjadi Rp 312,2 miliar.

“Kenaikan kinerja yang positif ini menunjukkan bahwa VIVA sudah berada pada arah yang benar,” kata Erick dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (3/5/2013).

Dalam hal pendapatan sebelum bunga, pajak dan amortisasi (Ebitda), perusahaan ini juga mengalami kenaikan 61,4 persen dari Rp 54,6 miliar menjadiRp 88,1 miliar. Sementara itu, lonjakan marjin Ebitda dipicu oleh stabilnya biaya program dan penyiaran (broadcast) yang hanya meningkat Rp 500 juta menjadi Rp 87,3 miliar, dengan demikian rasio beban pos tersebut menurun dari 35,5 persen menjadi 28 persen.

“Stabilnya biaya program dan broadcast merupakan hasil dari upaya mengkontrol struktur biaya dan sinergi antar entitas anak perusahaan yang semakin solid namun tetap menghasilkan pendapatan yang optimal,” tambahnya.

Ke depannya, Erick menambahkan, VIVA akan terus menerapkan strategi melalui penayangan konten-konten yang berkualitas sehingga dapat menghibur para pemirsa di seluruh tanah air. Pada perdagangan saham VIVA hari ini turun 30 poin (5,36 persen) ke Rp 530 per saham.

Editor :Bambang Priyo Jatmiko

Rapor BRMS kuartal I jeblok
Oleh Dea Chadiza Syafina – Rabu, 01 Mei 2013 | 11:45 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatatkan kerugian pada kuartal I 2013. Rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas (induk) atau rugi bersih BRMS adalah sebesar US$ 7,94 juta. Berbeda dari periode sebelumnya yang untung US$ 62.871.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja negatif BRMS adalah akibat berkurangnya pendapatan dan beban usaha. Pendapatan BRMS mengalami penurunan 10,15% menjadi US$ 6,32 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 7,03 juta.

Padahal, beban usaha turun 26,23% menjadi US$ 2,46 juta dari US$ 3,33 juta. Dengan begitu, laba usaha BRMS hanya naik tipis 5,2% menjadi US$ 3,88 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 3,69 juta.

Dalam laporan keuangan tahun buku kuartal I, BRMS mendapatkan pendapatan bunga signifikan 226,73% menjadi US$ 3,82 juta dari US$ 1,17 juta. Lalu, entitas dengan kode saham BRMS ini justru memperoleh rugi kurs sebesar US$ 1,21 juta dari sebelumnya memperoleh laba kurs US$ 3 juta.

Kinerja anak usaha grup Bakrie ini secara signifikan ditekan oleh beban lain-lain yang melonjak menjadi US$ 19,69 juta dari US$ 9,03 juta.

Hitungan tersebut membuat BRMS rugi konsolidasi sebesar US$ 16,10 juta dari sebelumnya rugi US$ 4,08 juta. Kerugian bersih yang dicatatkan perseroan juga turut mempengaruhi rugi per 1.000 saham dasar US$ 0,31 dari rugi US$ 0,0025.

Sementara itu, ekuitas perseroan juga berkurang 1,12% menjadi US$ 1,44 miliar dari US$ 1,45 miliar di akhir 2012. Aset perusahaan tambang ini meningkat tipis 0,04% menjadi US$ 1,98 miliar di kuartal pertama 2013 dari US$ 1,98 miliar di akhir tahun lalu, namun hal tersebut lebih diakibatkan oleh bertambahnya kewajiban sebesar 3,25% menjadi US$ 546,86 juta dari US$ 529,64 juta.

Energi Mega Tambah Kepemilikan di Blok Tonga
Kepemilikan participating interest menjadi 94,28 persen.
ddd
Jum’at, 19 April 2013, 19:12 Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – PT Energi Mega Persada Tbk menambah kepemilikan participating interest secara tidak langsung sebesar 41 persen di blok Tonga PSC.

Dalam keterangan tertulisnya, Jumat 19 April 2013, manajemen Energi Mega mengatakan, penambahan itu dilakukan melalui pembelian saham milik PT Capitalinc Investment Tbk dan PT Capital Petroline senilai US$41,7 juta.

“Untuk itu, Energi Mega telah efektif menambah kepemilikan participating interest-nya di Blok Tonga PSC dari sebelumnya 53,43 persen menjadi 94,28 persen,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada, Imam Agustino.

Imam menjelaskan, banyak prospek yang dapat dikembangkan dari blok Tonga PSC itu. “Kami berharap dapat memproduksi cadangan dan sumber daya minyaknya dalam waktu dekat,” ujarnya.

Tonga PSC adalah blok minyak yang telah berproduksi dan terletak di Sumatera Utara. Blok tersebut memiliki cadangan minyak terbukti dan terukur (2P) sebanyak 3,54 juta barel dan sumber daya prospektif 61 juta barel.

VIVA Raup Laba Rp 72,9 Miliar
Tribunnews.com – Senin, 8 April 2013 12:30 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) membukukan laba bersih sebesar Rp 72,92 miliar sepanjang 2012. Angka tersebut diketahui naik 177 persen dibandingkan dengan laba bersih 2011 sebesar Rp 26,26 miliar.

Dalam laporan keuangan perseroan, kenaikan laba bersih dipicu kenaikan pendapatan menjadi Rp 1,24 triliun dari sebelumnya pada 2011 sebesar Rp 992,63 miliar.

Sementara, total aset perseroan sepanjang 2012 menyentuh angka Rp 2,99 triliun naik 23 persen dibandingkan total aset 2011 sebesar Rp 2,42 triliun.

Penulis: arif wicaksono | Editor: sanusi
Ada 52 emiten yang belum serahkan lapkeu 2012
Oleh Dea Chadiza Syafina – Senin, 08 April 2013 | 12:32 WIB

kontan

JAKARTA. Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menginformasikan, terdapat 52 emiten yang hingga 1 April 2013 belum juga menyampaikan laporan keuangan audit yang berakhir 31 Desember 2012. Dari daftar nama ke 52 emiten tersebut, tujuh di antaranya berasal dari emiten grup Bakrie.

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Riil BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, dari mereka yang belum menyerahkan laporan keuangannya, baru ada tiga emiten yang menyampaikan informasi penyebab keterlambatan penyampaian laporan keuangan. Sedangkan 49 emiten belum menyampaikan informasi apapun.

Terkait hal tersebut, BEI akan menerapkan sejumlah sanksi kepada emiten tersebut. Sanksi akan mengacu pada ketentuan II.6.1. Peraturan BEI I-H. Berdasarkan peraturan I-H, sanksi peringatan tertulis I tidak menyertakan detil denda yang harus dibayarkan emiten jika terlambat menyampaikan laporan keunagan. Denda hanya diberikan untuk sanksi peringatan tertulis II dan III dengan besaran masing-masing Rp 50 juta dan Rp 150 juta.

“Kami telah memberikan peringatan tertulis I kepada perusahaan tercatat yang tidak memenuhi kewajiban penyampaian laporan keuangan auditan 2012 secara tepat waktu,” kata Nyoman Yetna seperti dikutip dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (8/4).

Selain itu, Yetna juga mengungkapkan, untuk tujuh emiten yang belum wajib menyampaikan laporan keuangan, satu emiten mengikuti aturan Bapepam-LK no X.K.7. tentang Jangka Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Berkala Dan Laporan Tahunan Bagi Emiten dan Perusahaan Publik Yang Efeknya Tercatat Di BEI dan Bursa Efek Negara lain. Di mana dalam aturan tersebut tercantum poin bahwa batas waktu penyampaian laporan keuangan berkala kepada regulator dan otoritas mengikuti ketentuan di negara lain tersebut. Emiten tersebut adalah PT Indosat (Persero) Tbk (ISAT).

Adapun untuk enam emiten lainnya, alasan belum diwajibkannya menyampaikan laporan keuangan 2012 oleh BEI adalah karena adanya perbedaan tahun buku dimana pada PT Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI), PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI), PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) dan PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), tahun buku berakhir pada Maret.

Untuk dua emiten lainnya, PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk (SOBI), tahun buku berakhir pada Mei dan PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) berakhir pada September.

Aburizal Bakrie: Semua Dijual di Harga yang Tepat

Angga Aliya – detikfinance
Rabu, 03/04/2013 11:36 WIB

Jakarta – Pemilik Kelompok Usaha Bakrie sekaligus kandidat calon presiden Republik Indonesia 2014, Aburizal Bakrie, memberi sinyal perusahaan-perusahaannya siap dijual. Penjualan akan dilakukan jika ada harga yang sesuai.

Hal ini terungkap dalam artikel Financial Times yang mewawancarai Aburizal Bakrie soal pencapresan dan situasi bisnisnya. Financial Times membeberkan, Grup Bakrie sedang berencana membeli kembali saham perusahaan tambangnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Bumi Plc, namun masih kekurangan uang.

Sehingga, beberapa analis menilai, Grup Bakrie harus menjual salah satu perusahan medianya demi mendapatkan uang, seperti tertulis dalam artikel Financial Times tersebut.

“Semuanya dijual di harga yang tepat,” katanya seperti dikutip detikFinance dari Financial Times, Rabu (3/4/2013).

Seperti diketahui, beredar kabar Grup Bakrie berniat menjual kepemilikan sahamnya di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), anak usahanya yang bergerak di bidang media massa. Beberapa yang kabarnya melakukan penawaran adalah pengusaha lokal Chairul Tanjung (CT) dan Pemilik Grup MNC Hary Tanoesoedibjo.

Rumor yang beredar, kesepakatan jual beli sudah terjadi dengan CT di harga Rp 1.200 per lembar, jauh lebih tinggi dari harga di pasar yang hanya Rp 650 pada perdagangan kemarin.

Beberapa pelaku pasar menilai rumor itu sengaja disebarkan demi menggenjot harga saham VIVA, karena belum ada kesepakatan atas perjanjian jual beli saham itu.

Untuk melihat aset-aset Bakrie yang sudah dan akan dijual, klik di sini.

(ang/dnl)

Kontribusi Laba Newmont ke Bumi Minerals Turun
Perseroan mencatat pendapatan sebesar US$22,21 juta pada 2012.
ddd
Selasa, 2 April 2013, 17:13 Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – Seperti telah diantisipasi sebelumnya, kontribusi laba bersih dari PT Newmont Nusa Tenggara terhadap PT Bumi Resources Minerals Tbk mengalami penurunan. Kondisi tersebut karena penurunan produksi yang bersifat sementara di lokasi tambang Batu Hijau, akibat pengembangan fase 6 yang tengah berlangsung.

Produksi emas NNT turun dari 308 ribu oz pada 2011 menjadi 68 ribu oz selama 2012.

“Setelah pengembangan fase 6 dapat diselesaikan, NNT diharapkan dapat meningkatkan produksinya secara signifikan pada 2013,” kata Vice President Investor Relations, Bumi Resources Minerals, Herwin W. Hidayat, dalam keterangan tertulis, Selasa 2 April 2013.

Herwin menjelaskan, terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi pada 2012, Bumi Resources Minerals masih dapat mempertahankan rasio pinjaman bersih terhadap modal yang cukup baik, yaitu di bawah 0,3 kali.

Selain itu, dia menambahkan, perusahaan mampu mencapai beberapa kemajuan dalam kinerja operasinya. Pada Juli 2012, perseroan mendapatkan izin eksploitasi melalui penambangan bawah tanah untuk konsesi tambang seng dan timah hitamnya di Sumatera Utara (Dairi Prima Mineral) dari pemerintah.

Selanjutnya, pada Agustus 2012, pimpinan operasi Newmont Asia Pasifik, dalam acara konferensi tambang di Australia, menyampaikan kepada publik bahwa lokasi tambang Elang di NNT memiliki prospek jumlah deposit yang lebih besar dari tambang emas Boddington, yang saat ini memiliki cadangan emas 19,5 juta oz dan tembaga 2,2 miliar lb.

“Pada September 2012, Bumi Resources Minerals juga melaporkan estimasi sumber daya berdasarkan standar JORC sebesar 292 juta ton bijih dari konsesi tambang dan emas di Gorontalo Minerals, Sulawesi,” tuturnya.

Selama 2012, perseroan mencatat pendapatan sebesar US$22,21 juta, atau meningkat dibanding tahun sebelumnya US$20,83 juta. (eh)

Melejit 20,3%, saham VIVA menjadi mover IHSG
Oleh Barratut Taqiyyah – Senin, 01 April 2013 | 09:39 WIB

kontan

JAKARTA. Saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) menjadi masuk salah satu saham mover pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini (1/4). Data RTI menunjukkan, pada pukul 09.32, saham anak usaha Grup Bakrie ini melejit 14,81% menjadi Rp 620. Bahkan, pada transaksi sebelumnya, saham VIVA sempat bertengger di level Rp 650 atau melambung 20,3%.

Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, sejumlah sekuritas yang paling banyak memborong saham ini di antaranya: Indo Premier Securities senilai Rp 10,220 miliar, Waterfront Securities Indonesia senilai Rp 3,642 miliar, dan Phillip Securities senilai Rp 2,161 miliar.

Aksi beli terhadap saham VIVA masih berkaitan dengan rumor akuisisi yang berkembang di market. Dikabarkan, banyak pihak yang berminat untuk mengakuisisi saham VIVA. Salah satunya adalah Chairul Tanjung.

Kepada Reuters, pengusaha yang sedang naik daun itu mengaku memang hendak membeli VIVA dengan dana cash. CT berkata bahwa CT Corp hendak mengakuisisi saham pengendali VIVA seorang diri, tanpa partner manapun.

BNBR kurangi 40% utang, laba bersih masih turun
Oleh Dea Chadiza Syafina – Minggu, 31 Maret 2013 | 21:24 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengklaim dapat terus menekan beban utang di tahun 2013. Direktur Utama & CEO BNBR Bobby Gafur Umar mengatakan bahwa BNBR sudah berhasil mengurangi utang Rp 4,27 triliun di tahun 2012.

Menurut Bobby, posisi akhir utang PT Bakrie & Brothers Tbk sepanjang 2012 sebesar Rp 6,44 triliun. Nilai utang tersebut sudah berkurang dibandingkan 2011 yang mencapai Rp 10,71 triliun. Artinya, utang BNBR berkurang 39,87% dalam setahun.

Bersamaan dengan itu, kata Bobby, beban bunga juga otomatis menyusut. Dari Rp 2 triliun pada 2011, menjadi sebesar Rp 1,19 triliun pada 2012.

“Penurunan beban utang dan bunga pinjaman ini meringankan beban keuangan perseroan sepanjang tahun 2012,” kata Bobby melalui pernyataan tertulis yang diterima KONTAN pada Minggu (31/3).

Laba dan pendapatan merosot

Walaupun begitu, kinerja BNBR sepanjang 2012 tak secepat itu membaik. Bobby mengatakan, BNBR meraup pendapatan Rp 15,48 triliun di 2012. Berdasarkan data keuangan BNBR di Reuters, pendapatannya tahun 2011 mencapai Rp 16,14 triliun. Artinya, pendapatan BNBR tahun lalu merosot 4,09%.

Sedangkan laba bersih BNBR di 2012 mencapai Rp 354,87 miliar, turun 21,47% dari laba bersih Rp 451,89 miliar di 2011.

Namun dalam rilisnya, Bobby tetap mengatakan bahwa unit-unit usaha BNBR dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kinerja yang semakin baik sehingga mendukung pendapatan BNBR. Tahun 2012, unit-unit usaha perseroan menyumbang 66% dari total pendapatan BNBR dengan nilai mencapai Rp 10,11 triliun.

Hary Tanoe pastikan ELTY sudah terima pembayaran
Oleh Issa Almawadi – Rabu, 13 Maret 2013 | 10:30 WIB

kontan

JAKARTA. Hary Tanoesoedibjo menyatakan proses penjualan PT Bakrie Toll Road (BTR) oleh PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) kepada Grup MNC sudah kelar di akhir tahun lalu. ELTY juga sudah menerima pembayaran dari MNC.

Itulah pernyataan Hary Tanoesoedibjo selaku CEO Grup MNC melalui pesan singkat kepada KONTAN, Selasa (12/3). “Sudah selesai,” tulis Hary.

Ia menambahkan, divestasi BTR rampung pada Desember 2012 dan pihak ELTY sudah menerima dananya. Dengan begitu, transaksi tersebut sudah sesuai dengan target yang ditetapkan ELTY pada tahun lalu.

Pada awal Desember 2012, Presiden Direktur ELTY Ambono Janurianto membenarkan bahwa Hary Tanoe akan mengambilalih BTR. Namun saat itu, Ambono bilang, transaksi belum selesai meski keduanya sudah sepakat.

“Masih ada syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti concern dari kreditur sindikasi BRI. Idealnya transaksi bisa selesai tahun 2012 agar utang dari jalan tol tidak terbawa ke tahun depan,” terang Ambono pada saat itu.

Masih pada tahun lalu, Ambono menjelaskan, nilai penjualan BTR melebihi Rp 2 triliun. Ambono yakin pelepasan BTR akan menguntungkan bagi ELTY, karena beban menjadi lebih ringan.

Namun beberapa hari lalu, manajemen ELTY terpaksa menunggak sebagian pokok dan bunga obligasi senilai Rp 280 miliar, yang jatuh tempo pada 11 Maret 2013. Anehnya, manajemen ELTY beralasan, penunggakan pembayaran surat utang yang diterbitkan pada 2008 tersebut karena proses divestasi aset tol belum tuntas.

Tapi tepat di hari jatuh tempo obligasi. Chief Corporate Affairs ELTY Yudy Rizard Hakim mengatakan ELTY telah membayar pokok dan bunga obligasi senilai Rp 280 miliar plus bunga obligasi terakhir sebesar Rp 8,995 miliar.

“Pembayaran dilakukan tepat pada saat jatuh tempo melalui rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI),” papar Yudy.

Bakrieland Bayar Utang Obligasi Rp288,9 Miliar

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Senin, 11 Maret 2013 | 20:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) membayar pokok serta Bunga Obligasi I PT Bakrieland Development Tbk Tahun 2008 Seri B terakhir senilai Rp288,9 miliar.

Demikian mengutip keterangan resmi perseroan, Senin (11/3/2013). Untuk pembayaran pokok Obligasi I PT Bakrieland Development Tbk Tahun 2008 Seri B sebesar Rp280 miliar. Sedangkan Bunga Obligasi I PT Bakrieland Development Tbk Tahun 2008 Seri B sebesar Rp8,9 miliar.

Pembayaran melalui rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Pembayaran tepat dilakukan pada hari ini saat jatuh tempo obligasi, Senin (11/3/2013).
BEI akhirnya suspensi obligasi I ELTY
Oleh Rika Theo – Senin, 11 Maret 2013 | 09:39 WIB

kontan

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara obligasi milik PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Ini lantaran ELTY tak sanggup melunasi bunga dan pokok Obligasi I Bakrieland Development yang harusnya dibayar pada hari ini (11/3).

Namun, BEI tetap mempertahankan pencatatan obligasi berkode ELTY01B dengan nilai nominal Rp 280 miliar itu. “Perpanjangan obligasi dilakukan sampai ada penjelasan lebih lebih lanjut dari emiten,” tulis rilis BEI yang diteken oleh Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Surat Utang BEI Saptono Adi Junarso dan P.H Kepala Divisi Perdagangan Surat Utang & Derivatif BEI Andi Priatnakusumah.

Sedangkan suspensi bursa atas obligasi I ELTY seri B itu dilakukan pada sistem Fixed Income Trading System (FITS) mulai hari ini.

Dalam keterbukaan informasi Jumat lalu, ELTY telah meminta penundaan pembayaran obligasi itu. ELTY beralasan, program divestasi jalan tol yang sedang diupayakan ternyata meleset dari perkiraan.

Samin Tan hengkang dari BRMS
Oleh Yuwono Triatmodjo – Kamis, 07 Maret 2013 | 12:59 WIB

kontan

JAKARTA. Presiden Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), Samin Tan, beserta dua Direktur BRMS lainnya, secara mengejutkan mengajukan pengunduran diri dari perusahaan milik PT Bumi Resources Tbk tersebut (BUMI). Hal ini terungkap dalam rilis yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditandatangani oleh Muhammad Sulthon, Sekretaris Perusahaan BRMS, Kamis (7/3).

Selain BRMS terdapat dua nama menjabat BRMS lainnya yang ikut mundur. Mereka adalah Kenneth Raymond Allan dan Hardianto. Surat pengunduran ketiga petinggi BRMS itu disampaikan kepada Dewan Komisaris BRMS pada tanggal 28 Februari 2013.

M. Sulthon mengatakan, atas surat pengunduran diri ketiga petinggi BRMS, pihaknya akan melaksanakan proses sebagaimana yang diatur dalam Anggaran Dasar Perseroan dan peraturan perundang-undangan.
Jual banyak aset, ada apa dengan Grup Bakrie?
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 19 Februari 2013 | 09:34 WIB

kontan

JAKARTA. Perusahaan keluarga Bakrie saat ini dikabarkan sedang menjual beberapa aset unggulnya. Apakah ini mengindikasikan bisnis keluarga Bakrie terpuruk?

Pakar pengelolaan perusahaan keluarga AB Susanto menyayangkan apa yang telah dilakukan keluarga Bakrie selama ini. Padahal bisnis keluarga Bakrie ini sudah menggurita di semua lini bisnis.

“Ada mismatch manajemen di perusahaan keluarga Bakrie, khususnya dalam hal pengelolaan keuangan. Ini yang seharusnya tidak perlu terjadi,” kata Susanto kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (19/2).

Menurut Susanto, pengelolaan keuangan yang dinilai tidak tepat ini disebabkan karena perusahaan memakai utang jangka panjang untuk membiayai usaha yang memiliki jangka pendek. Begitu pula sebaliknya.

Susanto menganggap, hal tersebut lumrah dijalankan oleh perusahaan-perusahaan keluarga Bakrie, khususnya di zaman Orde Baru. Di zaman itu, model-model bisnis seperti ini berkembang pesat. Namun bila diterapkan di zaman demokrasi seperti saat ini, kondisi tersebut sudah kurang tepat.

“Mereka juga terlalu berspekulasi tinggi. Ini yang berbahaya,” tambahnya.

Solusinya, keluarga Bakrie harus segera merevitalisasi keuangannya agar bisnis secara sehat.

Seperti diberitakan, Grup Bakrie telah menetapkan niat hengkang dari Bumi Plc. Namun, ada masalah lagi yang melanda, sebab Grup Bakrie harus menyediakan dana US$ 278 juta untuk membeli kembali saham (buyback) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik Bumi Plc.

Pembayaran buyback harus sudah selesai sebelum Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bumi Plc pada 21 Februari. Karena alasan tersebut, Grup Bakrie gencar mencari dana.

PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melalui PT Bakrie Swastika Utama dikabarkan menjual lahan di Rasuna Epicentrum. Total nilainya Rp 2,5 triliun. Selain itu, ELTY juga telah menjual Bakrie Toll Road (BTR) dan Lido senilai Rp 3 triliun. Kemudian PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) telah menjual lahan sawit seluas 16.000 hektar. UNSP juga ingin menjual perusahaan olekimia Grup Domba Mas 470 juta dollar AS. Bakrie juga dikabarkan ingin menjual 51 persen saham di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). (Didik Purwanto/Kompas.com)

Laba Perusahaan Migas Bakrie Melonjak Drastis
Penulis : Didik Purwanto | Jumat, 15 Februari 2013 | 17:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perusahaan minyak bumi dan gas (migas) milik keluarga Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), mencatatkan kenaikan laba bersih hingga kuartal III-2012 sebesar 105 persen dari 6,9 juta dollar AS menjadi 14,15 juta dollar AS. Kenaikan laba ini memang ditopang oleh kenaikan harga jual migas.

“Harga jual migas secara internasional memang naik. Apalagi, kami juga mencatatkan kenaikan rata-rata produksi harian,” kata Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (15/2/2013).

Dari sisi penjualan, perseroan mengalami kenaikan 187,07 persen dari 151,39 juta dollar AS menjadi 434,59 juta dollar AS. Namun, beban pokok penjualan perseroan mengalami kenaikan signifikan, yaitu dari 92,8 juta dollar AS menjadi 289,4 juta dollar AS. Dengan demikian, laba bruto perseroan hanya naik dari 58,5 juta dollar AS menjadi 145,1 juta dollar AS.

Sementara laba usaha perseroan masih naik drastis dari 46,9 juta dollar AS menjadi 126,1 juta dollar AS. Padahal, di semester I-2012, laba perseroan mengalami penurunan tipis menjadi 1,25 juta dollar AS dari 1,523 juta dollar AS. Hal itu disebabkan penjualan migas perseroan hanya 242 juta dollar AS.
Editor :
Ana Shofiana Syatiri

Masa Sulit Bisnis Grup Bakrie
Rani Hardjanti – Okezone
Sabtu, 9 Februari 2013 14:53 wib

JAKARTA – Rencana Grup Bakrie yang akan melepas kepemilikannya di sektor media, menjadi topik pembicaraan yang hangat di lantai bursa akhir pekan ini. Apa sebab Bakrie melepas salah satu sektor andalannya? Benarkah Grup Bakrie akan melepas roda bisnisnya?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini Bakrie tengah bersitegang dengan pemegang saham asal London, Nat Rothschild, atas kepemilikannya pada PT Bumi Resources Tbk melalui Bumi Plc. Untuk bisa memperebutkan kembali perusahaan batu bara terbesar di Asia tersebut, Bakrie membutuhkan dana yang sangat besar.

Seperti dikutip Reuters, Sabtu (9/2/2013), salah satu cara yang ditempuh Bakrie dalam mendapatkan uang adalah melepas sebagian kepemilikan mayoritasnya (51 persen) di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA).

Emiten ini menaungi sejumlah media, yakni TVOne, ANTV dan portal berita Vivanews.com. Asumsinya, dengan aksi korporasi ini, perseroan ditaksir akan mendapatkan dana segar sekira USD1,2 miliar – USD2 miliar.

Dengan adanya dana tunai, maka Bakrie akan menukarkan kepemilikan saham Bumi Plc sekira 23,8 persen di Bumi Resources.

“Ini merupakan keputusan yang sulit bagi perusahaan Bakrie. Tetapi grup Bakrie diisi oleh pebisnis yang rasional. Situasi seperti ini bisa menjadi jalan untuk mendapatkan uang dengan meningkatkan pinjaman,” ujar salah satu sumber yang mengetahui rencana penjualan VIVA, demikian diberitakan Reuters.

Seperti diketahui, Bakrie menjalin kerja sama untuk membuat Bumi Plc dengan pebisnis kenamaan asal Inggris, Nat Rothschild, pada 2010. Namun, jalinan bisnis tersebut retak.

Perseteruan terjadi lantaran Nat meminta Macfarlanes, sebuah firma hukum di London, untuk melakukan audit investigasi terhadap Bumi Resources terkait dana pengembangan dan dana operasional. Selain itu, investigasi juga dilakukan pada salah satu aset investasi di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Dalam laporan keuangan Bumi Plc 2011, salah satu aset yang dimiliki Berau tercatat mengalami penurunan nilai hingga mencapai angka nol, kecuali untuk satu investasi yang memiliki nilai sebesar USD39 juta dalam laporan keuangan konsolidasi.

Keluarga Bakrie pun tidak terima, dan menyatakan akan keluar dari Bumi Plc. Bakrie menawarkan akan membeli saham BUMI dan BRAU dari Bumi Plc, dan tidak lagi memiliki hubungan dengan Bumi Plc.

(rhs)
Saham ELTY Kini Layak Untuk Trading

Oleh: Jagad Ananda
pasarmodal – Jumat, 25 Januari 2013 | 05:01 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Properti, memang merupakan sektor yang saham-sahamnya menguat secara nengagumkan di tahun lalu. Tapi, tidak demikain ELTY. Kendati bergerak di bisnis yang sama, saham terbitan Bakrieland Development ini belakangan cenderung terus melemah.

Setelah mencapai puncaknya di Rp147 pada Januari tahun lalu, harga saham ini bermain tak jauh dfari kisaran Rp50–60 per lembar. Kendati demikian, akhir-akhir ini, ada sejumlah analis yang getol merekomendasikan ELTY.

“Untuk trading efek itu cukup menarik,” katanya. Saat ini, paling tidak, ada empat analis dari sekuritas berbeda yang menyarankan hal serupa itu. Pertimbangannya, beban utang perseroan akan menurun seiring tuntasnya penjualan dua aset besar kepada MNC Group.

“Ini merupakan sentimen positif yang akan mendorong harga ELTY ke level Rp63,” kata satu kepala riset sebuah sekuritas asing. Dibanding harga yang terbentuk saat ini (Rp57 pada 23/1/2013), kenaikannya memang cuma Rp6. Tapi itu setara dengan 10,5%.

Seperti diketahui, ELTY kini tengah menuntaskan penjualan PT Bakrie Tol Road) yang memiliki hak kelola atas lima ruas jalan tol yakni Ciawi-Sukabumi, Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Batang-Semarang dan Pasuruan- Probolinggo. Lima konsesi itu dijual kepada MNCD dengan harga Rp2 triliun. Sementara, kepada pembeli yang sama, ELBY melego Lido Resort di Sukabumi dengan harga Rp1 triliun.

Nah, kalau benar uang Rp3 triliun itu akan dipakai untuk membayar utang, maka Debt Equity Ratio (DER) ELTY akan turun dari 0,71 menjadi 0,42 kali. [mdr]
Bayar obligasi, ELTY akan gunakan hasil jual tol
Oleh Issa Almawadi – Jumat, 25 Januari 2013 | 09:29 WIB

kontan

GALI LUBANG tutup lubang, itu keahliannya

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) telah menyiapkan dana sebesar Rp 160 miliar guna melunasi pokok dan bunga obligasi I tahun 2008 seri B. Obligasi yang merupakan bagian dari emisi senilai Rp 500 miliar itu akan jatuh tempo pada 11 Maret 2013.

Dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (23/1), Direktur ELTY Feb Sumandar menjelaskan, dana tersebut akan berasal dari hasil divestasi unit jalan tol. “Penyelesaiannya diharapkan bisa pada Februari mendatang,” kata Feb.

Sampai saat ini ELTY masih menantikan penyelesaian transaksi penjualan jalan tol dan Lido kepada Grup MNC. Kedua pihak sudah sepakat pada November silam, namun masih ada beberapa hal yang mengganjal seperti pengalihan corporate guarantee jalan tol itu dari ELTY ke MNC.

Informasi saja, obligasi senilai Rp 500 miliar diterbitkan ELTY pada 2008 lalu dengan dua seri yakni A dan B. Obligasi seri A ELTY senilai Rp 220 miliar berjangka waktu 3 tahun dengan bunga 11,9% per tahun. Sementara, obligasi seri B senilai Rp 280 miliar dengan jangka waktu 5 tahun mematok bunga 12,5% per tahun.

ENRG Mulai Kembangkan Blok Masela

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Kamis, 24 Januari 2013 | 04:12 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menerangkan Inpex Masela Ltd telah memberikan kontrak untuk Front and Engineering and Design untuk mengembangkan lapangan gas abadi.

Demikian mengutip keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Rabu (23/1/2013). Inpex Masela Ltd yang mengoperasikan dan memiliki 60% di Blok Masela PSC merupakan perusahaan terafiliasi dengan ENRG.

FLNG Feed meliputi desain fasilitas produksi terapung untuk memproses gas dicairkan, disimpan dan didistribusikan. Kontrak tersebut diberikan kepada JGC Corporation dari Jepang. Selain itu juga kepada Saipem SpA, salah satu perusahaan jasa petroleum terkemuka di Italia.

Selain Inpex Masela Ltd, blok tersebut dimiliki Shell Upstream Overseas Services Litmited 30% dan 10% dimiliki PT EMP Energi Indonesia, atau anak usaha ENRG. Blok Masela PSC memiliki cadangan hidrokarbon mencapai 2,5 juta ton LNG untuk 30 tahun lebih. Blok ini juga berpotensi menghasilkan 8.000 barel kondensat per hari.

Ingin ubah Bali Nirwana, Bakrieland cari investor
Oleh Rika Theo – Selasa, 22 Januari 2013 | 19:24 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) punya rencana baru untuk propertinya di pulau Dewata. ELTY hendak mengundang investor baru untuk mengubah konsep Pullman Bali Legian Nirwana dan Pan Pacific Nirwana Bali Resort.

“Kami sedang meninjau ulang model bisnisnya,” kata Ambono Januarianto, Presiden Direktur Bakrieland Development kepada KONTAN hari ini (22/1).

Ia menjelaskan, ketika dibangun, kompleks Bali Nirwana Resort di Tabanan menyasar pasar menengah ke atas. Namun kini, berbagai kawasan di Bali seperti Kuta, Pecatu, dan Nusa Dua, beranjak naik menjadi kelas menengah atas juga. “Kita akan kehilangan pasar karena crowd lari ke sana. Pilihannya adalah kita berubah ke atas atau ke bawah? Menurut kami yang paling bagus adalah naik ke atas,” tuturnya.

Oleh karena itu, ELTY memutuskan akan menjadikan Bali Pullman Bali dan Pan Pacific Nirwana Bali Resort sebagai resort eksklusif.

Sebelumnya, muncul kabar bahwa ELTY akan menjual kedua properti ini. Bahkan sempat muncul kabar kalau Grup Djarum pun mengincarnya. Namun, dengan tegas Ambono membantah kabar tersebut.

“Bali Pullman enggak dijual. Bali Pacific kemungkinan dijual juga kecil sekali. Kami sekarang mau mengajak investor untuk membangun kawasan eksklusif,” ungkapnya.

Sayangnya, ia belum mau mengungkap siapa saja calon investor yang bakal dirangkulnya. “Saat ini pun kami juga sedang sounding,” imbuhnya
Energi Mega Menincar Pendapatan US$ 900 Juta
Oleh Diemas Kresna Duta, Issa Almawadi – Kamis, 03 Januari 2013 | 08:00 WIB

kontan

JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berupaya menggenjot pendapatannya. Itulah sebabnya, tahun ini, Energi Mega menargetkan pendapatan terkonsolidasi perseroan di tahun ini bisa tembus US$ 900 juta atau sekitar Rp 8,64 triliun. Jumlah ini naik dibandingkan dengan proyeksi pendapatan tahun lalu yang diperkirakan bisa mencapai US$ 600 juta .

Investor Relation Energi Mega, Herwin Hidayat, mengatakan, ENRG berani menaikkan target pendapatan hingga 50% ketimbang tahun lalu. Alasannya, target produksi minyak dan gas naik menjadi 50.000 barel oil equivalen per day (boepd).

Tahun lalu, menurut Herwin, produksi migas perusahaan Grup Bakrie tersebut masih sebesar 35.000 boepd. Dia menyatakan, dalam dua tahun terakhir ini, produksi migas Energi Mega menunjukkan tren yang positif. “Terjadi peningkatan lebih dari 100% dari produksi migas tahun 2011 yang cuma sebesar 17.000 boepd menjadi sebesar 35.000 boepd di tahun lalu,” ungkap dia kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Peningkatan produksi migas tersebut, menurut Herwin, berasal dari peningkatan produksi sembilan blok migas yang mulai berproduksi. Blok migas itu adalah Blok Selat Malaka PSC, TAC Gelam di Jambi, Bentu PSC di Riau, Korinci Baru PSC Sumatera, Gebang JOB PSC di Sumatera Utara, dan Tonga PSC di Riau.

Di Kalimantan, Energi Mega juga menguasai Semberah TAC Kalimantan Timur. Selain itu, ENRG juga memiliki Off shore North West Java (ONJW). Untuk Blok ONJW, Energi Mega berbagi kepemilikan dengan Pertamina Hulu Energi ONWJ. Di sekitar Madura, Energi Mega juga menjadi kontraktor untuk Blok Kangean PSC, Jawa Timur.

Tidak hanya itu, Energi Mega juga masih mempunyai tiga blok yang belum berproduksi. Yakni, dua coal bed methane (CBM), yaitu blok Sangatta 2 CBM di Kalimantan Timur dan Tabulako CBM PSC di Kalimantan Selatan, serta Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku.

Sebelumnya, Presiden Direktur ENRG Imam P. Agustino, mengatakan, dari sembilan blok yang telah berproduksi tersebut, sebagian besar target produksi yang akan dicapai pada tahun ini datang dari Blok Kangean PSC. Kontribusi Kangean PSC diperkirakan mencapai 40%.

Blok Kangean PSC memiliki jumlah cadangan terbukti dan terukur sebanyak 9,6 juta barrel minyak dan 1,3 triliun kaki kubik gas. Seperti diketahui, Blok Kangean PSC saat ini dioperasikan oleh Kangean Energy Indonesia Limited. Kepemilikan di Blok Kangean, sebesar 50% milik Energi Mega, 25% oleh grup Mitsubishi (Jepang), dan 25% milik grup Japex (Jepang).

Imam juga mengungkapkan, Energi Mega akan mencari blok migas untuk menyokong pertumbuhan kinerja. “Kami terus terapkan strategy plan melalui akuisisi blok baru dengan kriteria kami yang cukup ketat,” tuturnya.

Untuk itu, Energi Mega menyiapkan dana sebesar US$ 233 juta sebagai anggaran belanja modal (capital expenditure) di tahun ini. Dana tersebut akan digunakan perusahaan untuk pengembangan 12 blok migas. “Sumber pendanaan seluruhnya berasal dari kas internal perseroan,” kata Imam.

Yang jelas, belanja modal Energi Mega di tahun ini lebih besar dibanding tahun lalu. Pada 2012 itu, Energi Mega hanya menyiapkan belanja modal US$ 118 juta.

Imam menyatakan, belanja modal yang disediakan tahun ini di luar dana untuk melakukan akuisisi blok migas. Sebagai informasi, akuisisi blok migas merupakan salah satu strategi dari Energi Mega di tahun 2013. Hanya saja, Imam menolak memberi penjelasan detil mengenai rencana akuisisi maupun jumlah dana yang disiapkan.

Biayai proyek eksplorasi, BRMS akan jual saham

Dana Aditiasari – Sindonews
Kamis, 20 Desember 2012 − 13:44 WIB

Sindonews.com – Guna membiayai tiga proyek eksplorasinya, PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) berencana melepas sebagian dari saham mereka agar bisa melanjutkan proyek tersebut.

Sekretaris Korporat BRMS, Herwin Hidayat menerangkan, salah satu opsi yang akan ditempuh perseroan untuk membiayai tiga proyek eksplorasi mereka yang diproyeksi membutuhkan dana sangat besar, perseroan akan bermitra dengan partner strategis.

“Opsinya adalah kami bakal bermitra dengan beberapa partner strategis untuk tambang-tambang yang sahamnya kami masih mayoritas,” ujarnya di Hotel 4 Season, Kamis (20/12/2012).

Setidaknya, kata dia, ada tiga usaha pertambangan dimana BRMS menjadi pemegang saham mayoritas dan kemungkinan akan dilepas untuk membiayai proyek itu sendiri. Tiga perusahaan itu yakni PT Dairi Prima, PT Gorontalo Mineral dan PT Citra Palu.

“Untuk Dairi Prima dan Gorontalo, BRMS memiliki saham sekitar 80 persen di masing-masing usaha. Sementara di Citra Palu, BRMS memiliki saham sebanyak 96,97 persen,” sambung dia.

Kendati belum mau megungkapkan berapa besaran porsi saham yang akan dilepas, dijelaskan Herwin, saham-saham inilah yang sedianya akan dilepas perseroan. “Yang pasti kami usahakan untuk tetap jadi mayoritas,” tandasnya.

(gpr)

Akhirnya, RUPS Energi Mega Penuhi Kuorum
Rizkie Fauzian – Okezone
Kamis, 20 Desember 2012 16:38 wib

JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dinyatakan korum. Dalam rapat tersebut para pemegang saham menyetujui pembatalan syarat dan ketentuan pelaksanaan penerbitan sahaam baru (NON-HMETD).

Presiden Direktur ENRG Imam P Agustino menjelaskan bahwa pembatalan syarat dan ketentuan tersebut karena sebelumnya harga nominal saham Rp186 per saham, namun dengan adanya peraturan Bapepam minimal 25 hari kerja, maka diputuskan harganya Rp100 per saham.

“Rata-rata harga penutupan saham perseroan selama 25 hari bursa sebelum pengumuman non-HMETD adalah Rp90 per saham. Namun, mengingat harga nominal saham perseroan Rp100, maka harga pelaksanaan sekurang-kurangnya Rp100 itu saja sih,” katanya, dalam konferensi pers di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (20/12/2012).

Selain itu, dalam RUPS-LB tersebut juga mengagendakaan peningkatan modal dasar perseroan. Penambahan modal sebesar Rp100 per saham dengan melepas 4,05 miliar atau 10 persen saham, perseroan akan memperoleh dana Rp405,8 miliar.

“Paling lambat akan direalisasikan dua tahun sejak persetujuan pemegang saham, standarnya dua tahun terhitung Juni,” jelasnya.

Sebelumnya, target dana perseroan tersebut lebih rendah dari rencana semula sebesar Rp754 miliar atau pada harga Rp186 per saham. Penurunan target itu disebabkan oleh kondisi pasar dan penurunan harga saham perseroan. (wdi)
Perusahaan Migas Bakrie Terbitkan Surat Utang USD600 Jt
Rizkie Fauzian – Okezone
Kamis, 20 Desember 2012 16:47 wib

JAKARTA – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana melakukan re-financing dengan menerbitkan global bond. Adapun besaran global bond tersebut USD600 juta.

Menurut Direktur Keuangan ENRG Didit A Ratam saat ini pihaknya telah melakukan roadshow ke Singapura, Hong Kong, London, dan LA. Hal tersebut karena sudah banyaknya peminat.

“Kami akan menerbitkan bond global namun tidak akan lebih dari USD600 juta, untuk investornya kita belum ada, karena kan kita baru minta persetujuan pemegang saham, baru nanti kita melihat potensial investor,” katanya, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (20/12/2012).

Sementara itu total sales revenue anak usaha Grup Bakrie untuk 2012 adalah USD660 juta dan untuk 2013 sebesar USD900 juta, jumlah tersebut setelah menkonsolidasikan 36,7 persen saham di Blok ONWJ dan sesuai peraturan akuntansi PSAK dan yang akan dipublikasikan di laporan keuangan perusahaan nanti. (wdi)
Pasrah, BRMS ikut tersangkut investigasi BUMI
Oleh Issa Almawadi – Kamis, 20 Desember 2012 | 12:17 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) ternyata ikut menjadi obyek yang diperiksa tim audit independen PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pasalnya, BRMS merupakan anak usaha BUMI dengan kepemilikan 87,09%.

“Dari pengadilan negeri Jakarta Selatan, pemeriksaan terhadap BUMI juga terkena kepada kami,” kata Sekretaris Perusahaan BRMS, Muhammad Sulthon di Jakarta, Kamis (20/12).

Namun Sulthon tidak bisa menjelaskan, subyek dari pemeriksaan yang dilakukan tim independen yang diajukan BUMI. Menurut Sulthon, hal tersebut sepenuhnya diserahkan kepada yang berwenang.

“Jika kami diperiksa, ya silahkan diperiksa. Soal subyeknya apa, itu urusan tim independen tersebut,” tegas Sulthon.

Asal tahu saja, 15 Oktober 2012, Komite Audit telah mengajukan permohonan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk meminta penetapan guna melakukan pemeriksaan terhadap perseroan.

Upaya itu dilakukan sesuai ketentuan dalam Pasal 138 Undang-Undang Perseroan Terbatas, agar ditunjuk tim pemeriksa independen untuk melakukan pemeriksaan terhadap BUMI. Penunjukan tim audit independen itu seiring berbagai pemberitaan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik terkait BUMI.

Terakhir, Sulthon menyatakan, selain pemeriksaan itu, tidak ada lagi pemeriksaan yang dilakukan pihak lain kepada BRMS.

Saham Bakrie-Konsumer Berpotensi ‘Rebound’
Selasa, 18 Desember 2012 | 11:27
investor daily

JAKARTA-Beberapa saham grup Bakrie serta sektor konsumer berpotensi mengalami “technical rebound” pada perdagangan Selasa (18/12).

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Yualdo Yudoprawiro, mengatakan “rebound” saham-saham kelompok Bakrie ini didorong oleh kondisi telah mengalami pelemahan pada perdagangan sesi sebelumnya.

“Hal ini juga seiring dengan IHSG yang dibuka pada teritori positif yang dipacu sentimen positif dari bursa global dan regional,” katanya.

Untuk “resistance” indeks pada perdagangan kali ini, lanjutnya, akan berada pada level 4.325.

Pada pembukaan perdagangan sesi I, Rabu, IHSG menguat 4,26 poin (0,10 persen) menjadi 4.320,08, sedangkan indeks saham unggulan LQ45 menguat 0,96 poin (0,13 persen) ke level 738,51.

Untuk kondisi bursa global, setelah melemah dalam tiga hari berturut-turut bursa AS, Senin (17/12), berhasil ditutup menguat sekitar 1 persen, seiring kembali munculnya optimisme kompromi solusi “fiscal cliff” pasca pernyataan Ketua Kongres John Boehner, yang akan menerima kenaikan pajak bagi masyarakat berpenghasilan di atas 1 juta dolar AS per tahun dan menaikkan pagu utang AS selama satu tahun.

Optimisme ini mampu mengompensasi sentimen negatif dari rilis data indeks manufaktur New York yang semakin melemah ke level negatif 8,1 pada Desember 2012.

Sementara bursa Asia pada perdagangan Selasa ini dibuka menguat seiring sentimen positif dari optimisme kompromi “fiscal cliff” (jurang fiskal) serta ekspektasi bank sentral Jepang akan meluncurkan paket stimulus baru pasca kemenangan partai LDP dalam pemilu yang menempatkan kembali Shinzo Abe sebagai perdana menteri Jepang untuk masa jabatan kedua.(ant/hrb)

VIVA bakal menjual obligasi Rp 800 miliar
Oleh Narita Indrastiti, Agung Jatmiko – Rabu, 12 Desember 2012 | 06:40 WIB

kontan

JAKARTA. Emiten sektor media, PT Visi Media Asia Tbk mencari pendanaan yang lebih murah di tahun depan untuk membayar utang. Emiten berkode saham VIVA ini akan menerbitkan obligasi Rp 800 miliar bertenor tiga tahun pada kuartal kedua 2013.
Presiden Direktur VIVA Erick Thohir mengatakan, tingkat bunga yang masih rendah membuat pihaknya memastikan pembayaran utang dari hasil penerbitan obligasi. VIVA berutang US$ 80 juta dari Deutsche Bank AG pada 10 Agustus 2012. Utang ini berbunga 9% per tahun.
Saat ini, VIVA sudah mencari dua penjamin emisi lokal dan satu penjamin emisi dari luar negeri. Erick yakin, pertumbuhan kinerja keuangan yang tinggi dan posisi utang yang rendah akan membuat rating obligasi VIVA menarik. “Kami yakin obligasi menjadi pendanaan paling menguntungkan dan akan diterbitkan dengan denominasi rupiah,” kata Erick, Senin (10/12).
Dari laporan keuangan hingga kuartal III 2012, nilai utang bank dan lembaga keuangan jangka panjang VIVA tercatat Rp 743,42 miliar.
Tahun depan, VIVA yakin masih akan bisa bertumbuh pesat seiring dengan pertumbuhan industri media. Erick bilang, pertumbuhan rata-rata media mencapai 12%, dengan pertumbuhan televisi 16%, internet 36%, serta surat kabar dan radio 5%-9%. Erick yakin pertumbuhan VIVA bisa melampaui pertumbuhan industri media. Dia menargetkan, pendapatan VIVA bisa tumbuh 30% dari target tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun.
Apalagi, tingkat kebutuhan iklan masih sangat tinggi. Makanya, tahun depan, VIVA akan menggelontorkan dana US$ 150 juta untuk produk baru televisi berbayar.
Pengamat pasar obligasi Agus Salim mengatakan, investor harus mencermati peruntukan dana obligasi ini. Selain itu, calon investor harus membaca terlebih dahulu laporan lembaga pemeringkat soal rating VIVA. Agus mengatakan, banyaknya potensi penerbitan obligasi di semester pertama tahun depan belum tentu menjadi saingan penerbitan obligasi VIVA.
Agus menambahkan, VIVA punya peluang besar untuk menarik minat investor. “Industri media masih sangat menjanjikan. Hanya saja, calon investor tetap harus berpedoman pada laporan lembaga pemeringkat mengenai kualitas kredit dan memperhitungkan apakah return sepadan dengan risiko yang bakal dihadapi,” kata Agus.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: