Saham Bumi : blog saham SEJUTA INVESTOR THE BAKRIES

Mei 14, 2013

fortune @BUMI … 201213_140514

Filed under: BURSA bumi — bumi2009fans @ 12:03 am

Bisnis.com, JAKARTA–PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) mencatatkan kinerja positif sepanjang kuartal I/2014. Laba bersihnya mencapai US$349,34 juta.

Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya BUMI masih menanggung rugi hingga US$62,91 juta. Namun, dalam laporan keuangan perseroan yang diterbitkan, Rabu (14/5/2014) pendapatan BUMI justru merosot sekitar 11% dari US$942,53 juta menjadi US$839,39 juta tahun ini.

Peningkatan laba bersih itu diperoleh perseroan dari penjualan 19% kepemilikan BUMI atas PT Kaltim Prima Coal pada Country Forest Limited (CFL) senilai US$746,94 juta.

Berdasakan catatan dalam laporan tersebut selisih antara nilai buku dan hasil penjualan diakui sebagai laba atas pelepasan investasi pada entitas anak.

Selanjutnya, penjualan tersebut mengurangi kepemlikan BUMI dari 65% menjadi 51%. Sebagai informasi CFL adalah bagian dari China Investment Corporation (CIC). Divestasi kepemilikan di KPC tersebut adalah salah satu langka untuk melunasi utang perseroan pada CIC sekitar US$1,3 miliar.

Editor : Ismail Fahmi
Kenapa Lo Kheng Hong Masih Pegang Saham Tambang Grup Bakrie?
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 20/12/2013 16:54 WIB

Jakarta -Kinerja perusahaan tambang milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus mencatatkan kerugian. Saham-sahamnya pun terus rontok.

Namun, apa yang membuat investor pasar modal Lo Kheng Hong yang dikenal sebagai ‘Warren Buffet’-nya Indonesia, tetap mau berinvestasi di perusahaan milik Grup Bakrie tersebut?

“Perusahaan ini masih berproduksi. Masih 80 juta ton produksinya. Cadangan batubaranya juga banyak, terbesar,” kata pria asli Betawi ini saat ditemui usai batalnya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BUMI, di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (20/12/2013).

Menurut pria yang sudah 24 tahun ‘bermain’ di pasar modal ini investasi di pasar saham memang untuk jangka panjang sehingga tidak hanya melihat kondisi saham saat ini saja.

“Dulu harga saham BUMI Rp 8.750 per saham, sekarang kira-kira sudah Rp 300-310 per saham. Ya memang lagi begitu,” ujar dia.

Perlu diketahui, hari ini manajemen BUMI batal menggelar RUPSLB karena tidak kuorum. Sebagian besar pemegang saham merasa kecewa atas pembatalan ini. Bahkan, ada beberapa pemegang saham yang mengamuk karena merasa ‘dipermainkan’.

Hingga kuartal III-2013, perseroan mencatatkan kerugian sebesar US$ 377,5 juta. Angka ini turun 40% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 632,5 juta.

Kerugian tersebut disebabkan oleh masih rendahnya harga batu bara dunia yang bertengger di bawah US$ 70 per ton sehingga belum mampu menutup kerugian di tahun sebelumnya.

Namun, perseroan mencatat kenaikan volume penjualan batu bara sebesar 22,9% dari 47,7 metrik ton pada kuartal III-2013 menjadi 58,6 metrik ton pada kuartal III-2013.
(drk/ang)
Perusahaan Tambang Bakrie Kebingungan Cari Utang untuk Bayar Utang
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 20/12/2013 16:29 WIB

Jakarta -PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengaku harus memeras otak untuk mengurangi utang-utangnya. Saat ini opsi untuk mencari utang baru sudah terbatas.

Hal itu dikemukakan oleh Direktur Utama BUMI Ari Hudaya setelah perseroan gagal menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) karena tidak kuorum.

Ari menjelaskan hal tersebut ke para pemegang saham yang mengelilingi dirinya setelah rapat dinyatakan batal. Para investor itu banyak melempar pertanyaan, seperti mengapa rapat batal, mengapa BUMI masih rugi, langkah-langkah apa yang dilakukan manajemen untuk atasi utang dan lain-lain.

“Beban utang kita tinggi. Ini challenge buat saya, bagaimana caranya mengurangi utang,” katanya memberi penjelasan kepada investor di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (20/12/2013).

“Ke mana saya harus cari utang? Sekarang dolar naik terus. (Pinjam) ke bank, ke dana syariah susah. Bank sudah tidak mungkin,” ujarnya.

Menurutnya, yang paling mudah adalah menerbitkan saham baru atau melepas lebih banyak lagi saham ke pasar modal. “Kalau saya mau mudah, saya mau maunya issue equities,” katanya.

Beberapa investor juga bertanya-tanya mengapa perusahaan tambang Grup Bakrie itu masih rugi, padahal produksinya masih tinggi
Menurut Ari, harga jual batubara di dunia masih loyo. Apalagi harganya diperkirakan masih akan turun di tahun 2014 mendatang. Belum lagi dolar yang menguat jadi membuat beban operasional perusahaan membengkak.

Seperti diketahui, BUMI akan melunasi utang-utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) US$ 1,787 miliar atau sekitar Rp 17,8 triliun pada akhir Desember ini. Namun BUMI kekurangan uang US$ 430 juta atau sekitar Rp 4,3 triliun.

Rencananya, perusahaan tambang Bakrie Group ini akan membayar utang-utangnya lewat penjualan saham anak perusahaannya. BUMI akan menjual saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19% atau setara US$ 950 juta (Rp 9,5 triliun), menjual saham BRMS sebesar 42% atau setara US$ 257 juta (Rp 2,57 triliun), dan melakukan penerbitan saham baru atau Rights Issue BUMI yang mencapai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun).

Untuk memuluskan rencana penjualan itu, BUMI menggelar RUPSLB hari ini. Sayangnya, RUPSLB ini harus batal digelar karena tidak kuorum.
Pesta sudah usai bagi Asia Tenggara
Oleh Karim Raslan – Selasa, 27 Agustus 2013 | 12:59 WIB

kontan

PADA 19 Agustus 2013, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 5,6%. Ini merupakan penurunan terbesar sejak Oktober 2011 saat investor asing menjual sahamnya sebesar US$ 169 juta. Penurunan semakin besar pada Selasa (20/8), yakni sebesar 3,2%, atau tergelincir selama empat hari sebesar 11%.

Rupiah juga turun, diperdagangkan di Rp 10.490 per dollar AS, angka terendah sejak rupiah jatuh pada Mei 2009. Selasa (20/8), rupiah malah mencapai sekitar Rp 10.685 per dollar AS. Nilai tukar rupiah turun sebesar 8,2% tahun ini.

Namun bukan hanya Indonesia yang sedang terguncang. Seluruh ASEAN 5 memiliki hari yang buruk di pasar saham. Bursa di Thailand, Singapura, dan Malaysia juga mengalami kerugian. Di Manila, bursa saham diliburkan karena badai hujan dan musibah banjir.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Nah, coba ingat apa yang saya tulis mengenai reaksi ekonomi stimulus Quantitative Easing (QE) dari US Federal Reserve . Kini, sentimen negatif investor mengenai hal tersebut terus berlanjut.

Masih belum jelas bagaimana Federal Reserve begitu cepat menarik hot money yang membanjiri pasar-pasar negara berkembang–termasuk Asia Tenggara– sebagai akibat dari QE. Namun, prospek ini sangat membuat investor ketakutan.

Di sisi lain, penarikan hot money tidak baik, sebab–sebagaimana peringatan dari Moody’s Analytics– hal itu memperlambat pembelian utang jangka panjang dan akan mendongkrak pendapatan (yield) obligasi pemerintah, termasuk Eropa. Dengan kata lain, AS mendapatkan uangnya dan negara lain menyisakan utangnya.

Selain itu, penarikan QE juga berarti penguatan dollar AS. Ini adalah kabar buruk bagi negara dengan kondisi transaksi yang rentan, termasuk Indonesia dan India. India termasuk mengalami dampak lebih berat. Meski Bank Sentral India berusaha mempertahankan mata uangnya dan menghentikan capital outflow, pada 19 Agustus, mata uang Rupee runtuh di INR 63,13 per dollar AS. Ini menjadi kejatuhan Rupee yang terbesar sejak September 2011. Pada saat yang sama, pendapatan obligasi India telah naik ke level tertingginya dalam lima tahun terakhir.

Ada hal penting yang menjadi poin utama yang ingin saya sampaikan, yaitu bahwa masalah dalam ekonomi jarang terjadi secara langsung. Tetapi, itu terjadi karena pertemuan berbagai faktor-faktor yang menyebabkan ekonomi jatuh.

Penarikan QE adalah pemicu utama terjadinya turbulensi yang sedang berlangsung di perekonomian kita. Tapi, kita juga menuai buah pahit dari penolakan kita untuk mengubah model ekonomi yang digunakan.

Krisis Keuangan Asia di 1997, seharusnya, menjadi alarm bagi perekonomian kita, baik untuk mengurai kesulitan, tapi juga perlu reformasi struktural seperti memotong pengeluaran yang tidak perlu, mengurangi ketergantungan pada ekspor, dan bergerak sesuai dengan value chain.

Meski begitu, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memilih tetap terlelap, dibuai oleh lonjakan harga komoditas sejak 2000-an dan kemudian oleh hot money yang berulang-ulang hingga QE yang menghampiri kita.

Sayangnya, uang yang mengalir keluar dan booming komoditas tampaknya lebih karena ekonomi China. Meski disebut-sebut sebagai negara super power berikutnya, kini, China menghadapi potensi krisis keuangan karena tidak terkendalinya shadow banking dan beratnya beban utang pemerintah daerah.

Batubara yang telah menggerakkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak dekade terakhir, sekarang menjadi semakin kurang diminati, karena revolusi shale gas AS telah mengubah skenario energi global mereka. Gas alam yang lebih bersih dan lebih murah menjadi pembunuh pasar batubara.

Bukanlah kebetulan jika penambang batubara besar seperti PT Arutmin Indonesia milik Bumi Resources harus menghadapi kenyataan bahwa tambang mereka di Senakin dan Satui, Kalimantan, ditutup karena sengketa pembayaran.

Hal ini tidak terpikirkan pada masa-masa gemilang sebelumnya, apalagi saat produsen batubara berjuang. Mungkinkah perpaduan dari kekurangan likuiditas secara tiba-tiba, penurunan harga komoditas, dan melemahnya China menjadi badai besar berikutnya yang menyerang Asia Tenggara? Seperti yang saya katakan di awal: pesta sudah usai.
BUMI Gaet Utang US$ 150 Juta
Oleh Yuwono Triatmodjo – Senin, 12 Agustus 2013 | 22:59 WIB

kontan

JAKARTA. Riset harian yang dipublikasikan PT Ciptadana Securities Senin (12/8) menyebutkan, PT Bumi Resources dikabarkan memperoleh dana segar berupa pinjaman baru senilai US$ 150 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun. Dana tersebut disebutkan akan digunakan untuk melunasi utang yang akan jatuh tempo bulan Agustus ini.

Dalam laporannya, Ciptadana menyebutkan BUMI telah menandatangani kesepakatan dengan 10 hingga 12 kreditur. Pinjaman tersebut difasilitasi oleh Credit Suisse.

Sayang, mahar pinjaman ini mahal. Ciptadana menyebut bunga pinjaman ini mencapai 18% per tahun, lebih tinggi dari bunga pinjaman sebelumnya yang segede 11%.

Ini Daftar Perusahaan Terbesar di Indonesia Versi Fortune

  • Senin, 15 Juli 2013 | 16:30 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com —
 Fortune Indonesia kembali merilis 100 perusahaan terbesar di Indonesia pada tahun 2012 yang terangkum dalam Fortune 100.

Peringkat Fortune 100 antara lain berdasarkan pendapatan perusahaan di sepanjang tahun 2012. Obyek Fortune 100 adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI hingga 18 April 2013 dan memiliki data kinerja keuangan lengkap.

Astra International (ASII) masih tetap menjadi perusahaan terbesar di Indonesia dengan pendapatan tahun 2012 mencapai Rp 188,053 triliun. Sementara PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) berada di posisi kedua dengan pendapatan Rp 77,143 triliun

Posisi ketiga adalah HM Sampoerna (HMSP) yang meraup Rp 66,143 triliun, meloncat dari posisi 6 dengan menggeser United Tractor (UNTR) yang harus puas tertendang di posisi 6 dengan pendapatan Rp 55,953 triliun.

Adapun posisi keempat ialah Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang meraih Rp 58 triliun. Posisi tersebut bertukar tempat dengan Bank Mandiri (BMRI) yang harus puas di posisi lima dengan pendapatan Rp 56,917 triliun.

Di tahun keempat Fortune 100 ini, kinerja emiten di sektor properti dan real estat serta sektor perdagangan dan jasa cukup bersinar.

Vice President Head of Equity Research Danareksa Sekuritas, Chandra Pasaribu, mengatakan, salah satu cemerlangnya kedua sektor tersebut adalah suku bunga yang rendah selama 2012.

Sepanjang tahun lalu, Bank Indonesia memang menahan BI Rate di posisi terendah sepanjang sejarah, yakni 5,75 persen. Ini membuat bunga kredit murah dan memicu rumah tangga untuk terus lebih banyak membelanjakan uangnya, sedangkan untuk pelaku usaha ini merupakan kesempatan melakukan ekspansi dengan bunga murah.

“Yang paling dekat dengan rumah tangga tentunya sektor retail, otomotif, dan perumahan. Sektor ini terdongkrak sehubungan dengan suku bunga rendah,” ujarnya.

Hal tersebut membuat Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) berhasil menyodok dari peringkat 27 ke peringkat 19. Begitu pula dengan Erajaya Swasembada  (ERAA) yang berhasil melompat tinggi dari posisi 68 ke 39. Erajaya juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan tertinggi di antara 100 perusahaan terbesar di Indonesia dengan pertumbuhan sebesar 87 persen.

Namun, tahun lalu memang kurang bersahabat bagi sektor pertambangan dan pertanian karena turunnya harga komoditas. Di sektor pertanian dari empat emiten yang masuk dalam daftar Fortune 100, hanya dua perusahaan yang tumbuh, yakni Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) (no 37) dan Astra Agro Lestari Tbk  (AALI) (no 45).

Pada tahun 2013 ini, perusahaan harus menghadapi tantangan di dalam negeri karena perekonomian Tanah Air diprediksi melemah. “Jika ingin tetap berkibar, perusahaan-perusahaan harus mampu meramu strategi yang mumpuni,” demikian Fortune Indonesia.

Berikut daftar 25 perusahaan terbesar (daftar lengkap silakan simak di Majalah Fortune edisi Khusus pada bulan Juli ini)
2012        Perusahaan                                         Pendapatan
1         ASTRA INTERNATIONAL                            Rp 188,053 triliun
2         TELEKOMUNIKASI INDONESIA (PERSERO)   Rp  77,143 triliun
3         HM. SAMPOERNA                                      Rp  66,626 triliun
4         BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO)        Rp  58 triliun
5         BANK MANDIRI (PERSERO)                         Rp  56,917 triliun
6         UNITED TRACTORS                                   Rp  55,953 triliun
7         INDOFOOD SUKSES MAKMUR                    Rp  50,059 triliun
8         GUDANG GARAM                                      Rp  49,028 triliun
9         BUMI RESOURCES                                      Rp  35,416 triliun
10       BANK CENTRAL ASIA                                 Rp  35,188 triliun
11       ADARO ENERGY                                        Rp  34,918 triliun
12       GARUDA INDONESIA  (PERSERO)                Rp  32,573 triliun
13       BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO)        Rp  31,150 triliun
14       SMART                                                      Rp  27,526 triliun
15       UNILEVER INDONESIA                                Rp  27,303 triliun
16       PERUSAHAAN GAS NEGARA (PERSERO)       Rp  24,168 triliun
17       BANK DANAMON INDONESIA                     Rp  23,971 triliun
18       INDAH KIAT PULP & PAPER                         Rp  23,621 triliun
19       SUMBER ALFARIA TRIJAYA                          Rp  23,366 triliun
20       INDO TAMBANGRAYA MEGAH                    Rp  22,878 triliun
21       INDOSAT                                                   Rp  22,420 triliun
22       AKR CORPORINDO                                     Rp  21,673 triliun
23       INDOFOOD CBP SUKSES MAKMUR              Rp  21,574 triliun
24       BARITO PACIFIC                                         Rp  21,528 triliun
25       CHANDRA ASRI PETROCHEMICAL               Rp  21,436 triliun

Editor : Erlangga Djumena

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: